29
BATU AKIK: ANTARA MISTIK, GENDER, DAN PERGESERAN CITRA
Oleh:
Buyung Pambudi, M.Si3 Surel: [email protected]
Abstrak
Merebaknya batu akik terjadi hampir di seluruh pelosok Tanah Air sejak beberapa bulan terakhir. Batu akik yang memang memiliki akar budaya yang kuat di masyarakat membuat fenomena batu akik berlangsung lebih lama dibandingkan dengan fenomena lain semisal ikan louhan dan tanaman hias gelombang cinta.
Batu akik yang semula digambarkan sebagai perhiasan kaum pinggiran, terkesan murahan dan mistik, mulai bergeser masuk ke kelas sosial ekonomi yang lebih tinggi. Bahkan, pemimpin tertinggi negeri ini juga ikut mengukuhkan legitimasi batu akik yang fenomenal saat ini.
Pencitraan batu akik yang biasanya erat dengan perhiasan kaum laki-laki juga mulai bergeser sebagai perhiasan kaum perempuan. Kaum perempuan penggemar batu akik yang digambarkan di koran harian Surya merupakan perempuan yang masuk dalam kelas sosialita. Yakni perempuan yang mapan secara ekonomi, status sosial maupun mapan di bidang politik.
Kata kunci: Batu akik, mistik, gender, citra.
Abstract
Rampant agate occurs in almost all corners of the country in recent months. Agate which does have strong cultural roots in the community make agate phenomenon lasts longer compared to other phenomena such as fish and ornamental plants louhan wave of love. Agate jewelry which was originally described as a fringe, seem cheap and mystic, began to shift into the socio-economic class higher. In fact, the country's supreme leader also confirmed the legitimacy of agate were phenomenal today.
Imaging agate jewelry which is usually closely with men also began to shift as women's jewelry. Agate women fans are described in the daily newspaper Surya is a woman who entered the class socialite. Namely women who are economically established, well-established social status in the political field.
Keywords : Agate, mystical, gender, image.
3
1. Pendahuluan
Berawal dari sekadar pemanis jemari kaum pinggiran, batu akik tiba-tiba naik kelas. Tidak hanya satu tingkat, tetapi naik bertingkat-tingkat hingga tingkat tertinggi di Indonesia. Dahulu, batu akik dianggap sebagai perhiasan kaum pinggiran, batu akik dinilai sebagai perhiasan kelas rendahan, kelas rakyat jelata, bukan kelas ningrat. Kelas ningrat identik dengan batu mulia baik berupa perhiasan dari emas, berlian, maupun mutiara. Karena tidak mampu membeli emas, berlian maupun mutiara, rakyat jelata memilih memakai batu akik sebagai perhiasan. Bahkan muncul pencitraan bahwa rakyat jelata dengan batu akiknya dikaitkan dengan dunia mistik. Muncullah kepercayaan ada batu akik yang bisa membuat kebal pemakainya, memudahkan jodoh, hingga dipercaya bisa membantu melancarkan rejeki. Ditambah lagi, pemakai batu akik pada umumnya adalah kaum laki-laki.
Rakyat jelata, laki-laki, batu akik dan mistik kemudian seolah-olah menjadi satu kesatuan yang dicitrakan secara bersamaan lalu diwariskan hingga turun-temurun.
Tetapi, dalam kajian komunikasi tidak citra yang berlaku ajek, konstan dan abadi. Citra selalu berubah dinamis sesuai konteksnya (konteks yang dimaksud bisa berupa keadaan sosial, jaman, pendapat umum). Saat ini, di jaman dengan
kecepatan penyebaran informasi yang begitu masif dan serentak, citra tentang baku akik pun ikut bergeser. Demam batu akik yang terjadi hampir di seluruh pelosok negeri ini tersiar luas melalui berbagai jenis media massa mulai dari tv, radio, koran hingga media online. Belum lagi persebaran melalui pesan berantai dengan menggunakan media sosial mulai dari blackberry messenger, facebook maupun twitter. Demam batu akik pun masuk ke kelas sosial yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Batu akik yang semula dicitrakan sebagai selera kaum pinggiran, kaum rendahan, ternyata juga mulai digemari oleh kaum ningrat. Batu akik kini masuk ke ruang-ruang yang awalnya dianggap tidak ramah pada batu akik. Batu akik merambah hingga kaum di kasta tertinggi bangsa Indonesia. Konferensi negara Asia-Afrika yang digelar beberapa waktu lalu membuktikan bahwa batu akik sudah sah naik kasta. Presiden memberikan cinderamata berupa batu akik kepada para pemimpin negara yang hadir dalam konferensi tersebut. Batu akik tidak bisa lagi dicitrakan hanya sebagai perhiasan
kaum pinggiran, mistik dan ‗murahan‘.
terhadap batu akik. Mulai dari kajian sosiologi, ekonomi, antropologi maupun kajian lain yang mengkaji mengenai teks berita yang berkaitan dengan batu akik. Di sini peneliti membatasi diri dengan berusaha melakukan analisis wacana terhadap pemberitaan batu akik di koran harian Surya. Yakni koran harian yang wilayah terbitannya mencakup Jawa Timur.
2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang berkaitan analisis wacana (terutama analisis wacana kritis) termasuk bagian dari penelitian kualitatif. Karena, penelitian tentang pergeseran pemaknaan batu akik di dalam naskah berita memerlukan upaya penafsiran terhadap naskah berita yang berisi tetang batu akik. Upaya penafsiran terhadap realitas yang dihadirkan dalam sebuah berita akan menjadi lebih menarik jika peneliti menggunakan penelitian kualitatif. Menurut pandangan para pemikir kritis di bidang linguistik, realitas sosial yang dihadirkan dalam teks berita bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Ada konteks yang membarengi selama proses penggalian, pengolahan dan penyampaian suatu berita kepada khalayak.
Karena penelitian ini merupakan penelitian interpretif, maka diperlukan landasan teori yang memadai. Karena penelitian ini mencoba menggunakan
landasan teori semiotik, maka tipe penelitian yang digunakan adalah interpretatif. Analisis dalam semiotik juga bersifat kualitatif sehingga memberi peluang yang besar bagi dibuatnya interpretasi-interpretasi alternatif (Burhan Bungin: Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana: 2009) terutama pada halaman 173.
Interpretasi menjadi perantara pesan yang termuat dalam realitas. Peneliti yang sekaligus sebagai interpretator hanya menyampaikan dan merumuskan makna yang terkandung dalam realitas. Interpretator juga berupaya mengungkap hal yang terselubung dalam bahasa atau simbol lainnya. Sehingga, makna dari bahasa dan simbol yang semula sulit untuk dipahami menjadi mudah ditangkap dan dipahami.
ditampilkan dalam pemberitaan mengenai batu akik menjadi salah satu bukti bahwa teori Sara Mills memiliki relevansi dengan pembahasan batu akik di koran harian Surya.
Pemunculan subjek tertentu dan meminggirkan subjek lain dalam pemberitaan batu akik menjadi pembahasan menarik. Pemilihan judul maupun foto berukuran besar di halaman utama juga menjadi bahasan dalam analisis wacana dengan kerangka analisis milik Sara Mills.
Penelitian kualitatif yang bersifat interpretif lazim digunakan untuk meneliti dengan objek penelitian berupa naskah. Naskah yang akan diteliti berupa naskah berita di koran harian Surya tanggal 3 hingga tanggal 6 Juli 2015 berisi pemberitaan khusus dengan tanda pagar (#) gila akik. Data penelitian berupa naskah berita tersebut dikumpulkan dengan cara membaca lalu mencatat kata maupun kalimat yang akan ditelaah.
3. Kerangka Pikir/Landasan Teori 3.1. Batu Akik
Secara umum, ada tiga kategori
batu. Yakni, batu mulia, batu akik, dan
batu biasa. Pertama adalah batu mulia
yang memiliki nilai jual tinggi, seperti
intan/berlian dan mutiara. Kedua, jenis
batu akik yang sebetulnya biasa saja,
namun dapat diubah menjadi perhiasan
dalam bentuk cincin dengan harga tinggi,
jenis batu ini sangat beragam dan
berkasta. Ketiga adalah batu-batuan yang
umum dikenal dan dimanfaatkan dalam
kehidupan sehari-hari, seperti batu sungai,
batu gunung, batu kapur, dan sejenisnya.
Bahasan dalam penelitian ini adalah jenis
batu yang kedua, yakni batu akik.
3.2. Mistik
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, mistik merupakan hal gaib yang tidak terjangkau akal manusia biasa. Mistik berkaitan erat dengan kebudayaan tradisional bangsa Indonesia. Sulit memisahkan hal-hal berbau mistik dalam ritual budaya yang ada di Indonesia karena sudah mengakar sejak ratusan tahun silam. Dunia mistik menjadi bagian tak terpisahkan bangsa Indonesia. Beberapa kekuatan gaib juga dipercaya tersimpan dalam batu akik. Sehingga akan menimbulkan pengaruh bagi si pemakai batu akik. Kekuatan gaib dalam batu akik diantaranya, membantu melancarkan rejeki, membantu menjaga kewibawaan, menjaga kesehatan, mendekatkan jodoh, kebal dan lain-lain.
3.3. Gender
dilekatkan pada laki-laki, kemudian bergeser menjadi pemaknaan baru bahwa batu akik juga bisa dilekatkan dengan perempuan. Batu akik yang awalnya
‗berjenis kelamin laki-laki‘, kemudian
muncul batu akik dengan ‗jenis kelamin perempuan‘.
Dalam buku terjemahan berjudul Teori Komunikasi, Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Moss menjelaskan bahwa penelitian bertahun-tahun tentang gender telah mengalami pergeseran. Pergeseran dari ketertarikan dalam mengkritisi stereotip gender, beralih kepada bagaimana penggambaran perempuan dalam media dipahami oleh khalayak, Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Moss (433:2009).
3.4. Pencitraan
Secara sederhana, citra atau pencitraan merupakan pemakna-an/penggambaran tentang sesuatu. Se-dangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, citra dalam kajian liguistik merupakan kesan mental atau bayangan visual yg ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat. Batu akik yang semula dicitrakan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan mistik, laki-laki dan rakyat jelata mulai bergeser dengan munculnya pencitraan di media massa. Dalam hal ini koran harian Surya yang selama empat hari mengulas secara khusus fenomena
‗gila akik‘ di Indonesia.
4. Pembahasan
4.1. Posisi subjek-objek
Pada hari pertama pemberitaan
mengenai ‗gila akik‘ koran harian Surya tanggal 3 Juli 2015 memilih judul ―Sosialita
Gila Akik‖ dalam headline (berita utama) di
halaman depannya. Kata Sosialita merujuk pada kaum perempuan yang termasuk dalam kelas atas di bidang ekonomi, politik, maupun pergaulan. Sosialita biasa disandang oleh
perempuan-perempuan yang
berkecimpung di dunia keartisan, dunia usaha, maupun dunia politik.
Sosialita menjadi subyek utama dalam pemberitaan tersebut. Terdapat enam narasumber yang berasal dari kalangan sosialita. Satu dari enam narasumber bernama Reny Widya Lestari, ketua Ikatan Wanita Pengusa Indonesia (IWAPI) Surabaya. Selain memilih nama-nama narasumber dari kalangan sosialita, koran harian Surya juga memasang empat gambar (foto) perempuan cantik dari kalangan sosialita tersebut di halaman depan dengan ukuran cukup mencolok. Empat foto perempuan cantik nampak memamerkan aneka koleksi perhiasan dari batu akik yang dipadukan dengan busana yang mereka kenakan.
Wartawan menulis kutipan langsung hasil wawancara dengan Sudjarwati.
―Dulu, hampir tidak ada perempuan
yang tanya akik. Tapi, sekarang, seminggu bisa sampai 50 orang yang
ambil (beli),‖ terang Sudjarwati alias
Wati. Lihat halaman satu kolom lima koran harian Surya tanggal 3 Juli 2015.
Petikan wawancara tersebut menunjukkan bahwa dulu batu akik hanya dipakai sebagai perhiasan oleh kaum laki-laki. Dahulu, batu akik bukanlah perhiasan yang bisa dengan leluasa dikenakan oleh perempuan. Selain mengalami pergeseran pencitraan dari perhiasan kaum laki-laki menjadi perhiasan yang juga bisa dikenakan kaum perempuan, batu akik juga tidak lagi hanya berkaitan dengan mistik.
Berikut petikan wawancara yang juga dikutip langsung oleh wartawan dari narasumber yang sama yang menggambarkan bahwa batu akik saat ini dicitrakan sebagai gaya hidup, tidak lagi mistik.
―Dulu, mana ada akik untuk cincin kawin. Akik biasanya disamakan dengan mistik. Tapi, sekarang akik
sudah menjadi gaya hidup,‖ jelasnya
(Sudjarwati).
Juga petikan wawancara dengan narasumber bernama Mimien Prasetyo yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia mistik dalam urusan batu akik.
Mimien sama sekali tidak percaya dengan tuah batuan mulia dan akik. Mimien mengaku memakainya demi
fashion. ―Saya tidak tertarik urusan
mistis. Ini murni aksesoris dan investasi, untuk kesenangan dan
kepuasan,‖ terangnya.
Subjek yang ditampilkan dalam pemberitaan tersebut dipertegas dengan adanya selera para sosialita yang lebih tinggi dibandingkan dengan selera penyuka batu akik dari kalangan laki-laki pada umumnya. Sosialita dipilih sebagai narasumber utama pada pemberitaan hari pertama menampilkan bahwa batu akik yang mereka koleksi tetap berkelas dan dikesankan eksklusif (orang awam belum tentu bisa memiliki koleksi batu akik milik sosialita). Hal itu nampak dalam penulisan dua sub-judul dari judul berita ―Sosialita Gila Akik‖. Sub-judul yang dipilih adalah; Berburu ke Belanda hingga Timur Tengah. Koleksi Sebanyak Warna Baju.
Dua sub-judul tersebut menjelaskan bahwa subjek yang ditonjolkan dalam pemberitaan merupakan subjek dengan kelas ekonomi yang tinggi. Di sini, terdapat pemarjinalan objek lain yang semula dicitrakan sangat lekat dengan batu akik. Yakni, objek masyarakat awam, objek laki-laki dan objek penyuka batu akik yang berbau mistik.
di buku cetakan ke-lima yang memuat pemikiran Sara Mills tentang analisis wacana kritis.
Eriyanto juga menjelaskan bahwa pekerjaan wartawan pada dasaranya adalah pewarta dari berbagai peristiwa dan melaporkan pendapat aktor (subjek) yang terlibat dalam suatu pemberitaan. Di sini, setiap aktor pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama untuk menggambarkan dirinya, tindakannya dan memandang atau menilai dunia. Akan tetapi, yang terjadi tidaklah demikian. Setiap orang tidak memiliki kesempatan yang sama—dengan berbagai sebab. Akibatnya, ada pihak yang bisa berposisi sebagai subjek, menceritakan dirinya sendiri, juga ada pihak yang hanya sebagai objek. Objek bukan hanya tidak bisa menampilkan dirinya dalam naskah berita, tetapi kehadiran dan representasi mereka dihadirkan oleh aktor lain (subjek). Subjek berupa sosialita yang menyukai batu akik berusaha menghadirkan dan merepresentasikan penyuka batu akik lainnya (yang bukan sosialita) sebagai objek yang masih menyukai batu akik berbau mistik. Objek yang bukan sosialita juga digambarkan memiliki selera lebih rendah dibandingkan dengan selera subjek.
4.2. Posisi Pembaca
Selain menganalisis bagaimana wartawan menampilkan subjek tertentu
dalam pemberitaan, pemikiran Sara Mills juga bisa digunakan untuk menjelaskan bagaimana posisi pembaca berusaha ditampilkan dalam naskah berita, Eriyanto (203:2006). Sara Mills berpandangan bahwa dalam suatu naskah berita (teks), posisi pembaca juga harus diperhitungkan. Mempelajari konteks dalam suatu naskah berita tidak hanya cukup konteks dari sisi penulis (wartawan), tetapi juga perlu memperhatikan konteks dari sisi pembaca.
Proses komunikasi antara penulis dengan pembaca berita terjadi secara tidak linier. Artinya, pembaca bukanlah sosok penerima pesan (komunikan) yang pasif, sedangkan penulis berita adalah pengirim pesan (komunikator) yang aktif. Sara Mills beranggapan bahwa penulis berita dan pembaca berita merupakan dua sosok yang sama-sama aktif dalam komunikasi. Wartawan secara tidak langsung memperhitungkan keberadaan pembaca. Bagaimana wartawan berusaha meyakinkan maupun menarik simpati dari pembaca. Hal itu merupakan proses negosiasi antara wartawan sebagai penulis dengan khalayak sebagai pembaca, Eriyanto (204:2006).
(wartawan) ketika melakukan peliputan maupun penulisan berita. Dan, pembaca bukanlah khalayak yang putih bersih dan masih kosong dari konteks. Pembaca juga diliputi oleh konteks tertentu yang membuatnya memiliki kewenangan untuk menafsirkan sebuah naskah berita (teks).
Menghadirkan sosok-sosok sosilita dalam pemberitaan menganai batu akik tersebut terlihat jelas bahwa koran harian Surya berusaha menarik simpati pembaca di kalangan sosialita. Koran harian Surya juga ingin menegaskan bahwa koran harian Surya merupakan koran yang dibaca (disukai) oleh kalangan sosialita.
5. Simpulan
Pergeseran pemaknaan batu akik dalam pemberitaan di koran harian Surya memunculkan subjek dan objek baru. Subjek dari kalangan sosialita yang mulai gemar memakai perhiasan batu akik sejak ramainya pemberitaan batu akik dari berbagai pelosok Tanah Air. Objek yang kehadiran dan representasinya diwakili oleh subjek juga nampak dalam pemberitaan tersebut. Objek yang digambarkan ini berupa orang yang memiliki selera di bawah selera subjek, bisa juga objek berupa laki-laki, atau juga objek yang menyukai batu akik yang berbau mistik.
Dengan menampilkan subjek dari kalangan sosialita yang dilengkapi dengan tampilan visual, koran harian Surya ingin mengaskan bahwa pembaca (khalayak) yang ingin dibidik adalah pembaca di kalangan sosialita.
Daftar Pustaka
Burhan Bungin. 2009. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana
Eriyanto. 2006. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Kaelan M.S. 2005. Metode Penelitian
Kualitatif bidang Filsafat.
Paradigma Bagi Pengembangan Penelitian Interdisipliner Bidang Filsafat, Budaya, Sosial, Semiotika,
Sastra, Hukum dan Senin.
Yogyakarta: Paradgima.
LAMPIRAN
Sosialita Gila Akik
Berburu ke Belanda Hingga Timur Tengah
Koleksi Sebanyak Warna Baju
SURABAYA, SURYA – Tak hanya pria yang gandrung akik. Perempuan juga mulai berburu batuan alam yang disebutnya sebagai bagian dari fashion. Lilik (40), sosialita Surabaya, misalnya, tengah asyik berburu akik, saat bertemu Suraya di mal City of Tomorrow (Cito), Rabu (1/7).
Siang kemarin, perempuan cantik itu memilih memakai cincin bermata akik
hijau mencorong. ―Kebetulan saya pakai baju hijau. Jadi, cincinnya ikut hijau juga,‖
tuturnya sembari menunjukkan ring di jari manisnya.
Lilik mengaku selalu menyesuaikan warna dan corak batu dengan baju yang dikenakannya. Semua baju milik Alumnus Universitas Brawijaya (UB) Malang ini punya pasangan akik yang pas.
Seakan mempertegas jawaban, Lilik menunjukkan foto-foto koleksi batu
akiknya. ―Ini loh koleksi batu akik saya,‖
katanya sembari menunjukkan layar ponsel, yang menampilkan semua koleksinya.
Lilik tidak keberatan disebut telah tergila-gila perhiasan batu akik. Ia menyebut fenomena akik semakin hari semakin kuat di kalangan perempuan.
―Perempuan bisa dibilang lebih ‗gila‘
dari lelaki. Ini bukan klenik, tapi lebih ke fashion. Kalau perempuan sudah senang,
gilanya luar biasa,‖ tandanya.
Demi berburu akik, Lilik terkadang harus merelakan akik lama miliknya ditukar-tambah atau dijual. Tapi, hanya koleksi yang dirasakan sudah bosan atau kurang menarik saja yang dilego.
Sebaliknya, akik dengan warna dan nilai artistik tinggi tidak akan pernah
dilepas. ―Bagaimana ya? Batu akik
sungguh luar biasa. Diciptakan Tuhan lewat proses alam hingga membentuk macam-macam motif, yang tidak bisa
dibuat tangan manusia,‖ tegasnya.
Lilik sendiri sering mendatangi toko-toko penjual batu akik. Dia juga mengaku
sering datang ke pameran batu akik. Itu ia lakukan tak sekadar untuk melihat-lihat keindahan batu. Kalau ada yang disukai, permata juga dialami Mimien Prasetyo. Saking banyaknya, Mimien sampai tidak ingat lagi berapa jumlah persis koleksinya.
―Ada black safir, blue safir, king safir,
troumaline, hingga giok. Batu akik juga
banyak, tapi kebanyakan milik suami,‖
tuturnya.
Mimien tidak mau disebut ikut-ikutan demam akik. Sebab, sebelum demam akik melanda masyarakat akhir-akhir ini, ia
sudah lebih dulu rajin mengoleksi. ―Saya
mengoleksi batu mulai ini untuk investasi, sehingga saya simpan dan pergunakan
seperlunya saja,‖ jelasnya.
Bisanya, Mimien baru memakainya pada acara khusus, seperti pada pesta pernikahan atau undangan-undangan
resmi lainnya. ―Sebisa mungkin baju dan aksesoris batu mulia ini matching,‖
lanjutnya.
Sama dengan lilik, Mimien sama sekali tidak percaya dengan tuah batuan mulia dan akik. Mimien mengaku memakainya
demi fashion. ―Saya tidak tertarik urusan mistis. Ini murni aksesoris dan investasi,
untuk kesenangan dan kepuasan,‖
terangnya.
Satu-satunya batu koleksi yang dianggapnya punya manfaat tambahan
adalah giok. ―Kalau batu giok, semakin
tajam warnanya, aura yang timbul semakin kuat, dan itu baik untuk
kesehatan,‖ paparnya.
besar koleksinya berbentuk unik dan aneh, bahkan tidak beraturan.
Beberapa batu koleksinya didapat
ketika travelling ke luar negeri. ―Yang ini
dari Paris, ini Belanda, Dubai, kalau ini
dari Bali, dan ini Jakarta,‖ terang Lia
menunjukkan koleksinya. Untuk model yan unik, Lia masih suka dengan batu mulai dari Bali.
Senada dengan Lia, Olla Moetaryoga mengaku sering memakai koleksinya
untuk kegiatan semiresmi. ―Batu mulia ini
membantu saya sebagai wanita untuk tampil lebih elegan dan anggun, asalkan
sesuai dengan busananya,‖ katanya.
Selain berlian, safir, rubi, Olla juga mengoleksi mutiara. Di antara koleksinya
ada yang sangat ia kagumi, karena untuk mendapatkannya butuh perjuangan ekstrakeras. Termasuk turmalin merah, yang memancarkan cahaya ungu dan pink miliknya.
―Untuk mendapatkan batu ini, saya
harus berjuang hingga ke
Singapura,‖katanya. Sebenarnya,
tuturnya, banyak batu turmalin merah di Tanah Air. Tapi, Selama ini belum bisa mendapatkan warna dan corak yang pas di hati. (bni/wit/ben/day)