• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan akhir Penelitian Unggulan Pergur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan akhir Penelitian Unggulan Pergur"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

Representasi Ruang Urban Kota Jakarta Periode 1970an

dalam Komik Karya Zaldy

Tahun Pertama dari Rencana Penelitian Dua Tahun

Tahun ke-1 dari rencana dua tahun

Dr. Lilawati Kurnia M.A (Ketua) 0002075805

Manneke Budiman S.S., M.A., Ph.D (Anggota) 0017116504

Irsyad Ridho S.Pd., M.Hum (Anggota) 0031127104

UNIVERSITAS INDONESIA

(2)
(3)
(4)

Ringkasan

Komik pernah menjadi bacaan popular di kalangan tua dan muda. Dari jaman ke jaman, perkembangan penulisan komik Indonesia tidak selalu konstan. Ada masa-masa ketika komik, oleh para peneliti komik dikatakan mati suri karena produksi komik oleh penulis Indonesia mengalami penurunan tajam. Namun, itu terjadi bukan saja karena jumlah pembacanya berkurang seiring dengan masuknya komik-komik terjemahan dari Amerika maupun Jepang. Perjalanan komik Indonesia tidak lepas dari politik yang berlaku pada masa-masa yang diarunginya. Pada masa Orde Baru, komik bahkan kerap dibredel dan dianggap sebagai bacaan yang berpotensi merusak akhlak generasi muda. Akan tetapi, komik tetap diproduksi dan bahkan berkembang sesuai dengan kecenderungan utama yang ada. Banyak hal sudah ditulis mengenai komik secara umum, akan tetapi penelitian mengenai komik Indonesia dimulai pertama kali oleh peneliti asing Michel Bonef, yang membuat suatu penjabaran konprehensif mengenai bidang ini, dan kemudian disusul oleh disertasi Seno Gumira Ajidarma tentang Panji Tengkorak, yang memperkaya khasanah penelitian komik Indonesia.

(5)

Sekilas, visualisasi kota urban sebagai kota metropolitan dalam komik Zaldy menimbulkan suatu kesan akan adanya kecenderungan kebarat-baratan (tulisan Hikmat Darmawan dalam Karbon Jurnal, April, 2009). Akan tetapi, melalui pembacaan yang lebih rinci didapatkan suatu kesimpulan bahwa imaji “barat“ di dalam komik-komik Zaldy ternyata menyimpan adanya suatu “kegelisahan“ mendalam terkait dengan peralihan dari masa Sukarno, yang berhaluan kekiri-kirian, ke jaman Suharto, yang membuka pintu seluas-luasnya bagi pengaruh dan investasi Barat. Namun, posisi komik Zaldy yang terungkap di dalam 16 judul komik (lihat lampiran 1 judul dengan tinta biru, jumlah komik seluruhnya 31 buku) untuk dianalisis dari akhir 1960an sampai 1970an memperlihatkan adanya suatu upaya apropriasi terhadap perubahan jaman dan ideologi. Dengan demikian, representasi generasi muda yang tinggal di kota, dalam kontras dengan mereka yang berada di desa, terlihat melalui adegan-adegan dan fesyen, sedangkan konteks kesejarahan yang terkait dengan identitas Zaldy sebagai warga Indonesia keturunan Tionghoa pun merupakan elemen yang tak dapat dikesampingkan begitu saja dari upaya pemahaman terhadap representasi urbanitas dalam komik-komiknya.

(6)

Prakata

Penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk mengetengahkan telaah komik di luar bingkai konvesional, seperti pada aspek strukturalnya atau pun dari segi genre-nya sebagai bagian dari kesuastraan. Penelitian ini akan mengangkat hal-hal yang tidak secara tersurat terungkapkan melalui gambar-gambar, serta bagaimana visualisasi kota urban Jakarta dikaitkan dengan kesejarahan Jakarta dan politik kebudayaan pada masanya.

Kami sangat berterimakasih atas kesempatan yang diberikan untuk melaksanakan penelitian ini melalui dana hibah BOTPN yang di kelola oleh DRPM-UI. Komik-komik dari periode 1960an hingga 1970an sudah langka dan hanya dapat ditemukan di kolektor-kolektor pribadi, yang tentu saja tidak akan memberikannya dengan cuma-cuma. Oleh karena itu, dana hibah ini akan sangat menolong kami untuk mendokumentasikan komik Zaldy sekaligus membuat telaah terhadapnya.

(7)

Daftar Isi

1.3 Komik dalam Kajian Budaya……… 11

2. Tinjauan Pustaka ... 13

5.3 Cinta (di) Jakarta: Analisis Tujuh Judul Komik... 24

5.3.1 Tipologi Cinta: Ware Liebe atau Wahre Liebe? Cinta yang terbeli atau cinta sejati?... 24

5.3.2 Sinopsis cerita ………. 25

5.3.2.1 Mega ...……… 25

5.3.2.2 Puing-Puing Kenangan………... 26

5.3.2.3 Tragedi Musim Bunga... 28

5.3.2.4 Berpisah Menjelang Fajar... 29

5.3.2.5. Rembulan dan Mawar...……… 30

5.3.2.6 Awan Kelabu ... 32

5.3.2.7 Setitik Air Mata Buat Peter……….... 33

5.3.2.8 Deru Kehancuran... 36

5.3.2.9 Di Ujung Pelangi... 38

5.3.2.10 Gerimis Dalam Kemarau... 38

5.3.2.11 Air Mata Rembulan... 38

5.3.2.12 Jangan Ucapkan Selamat Tinggal... 41

5.3.2.13 Esok Nan Jauh ... 41

5.3.2.14 Cinta Pertama ... 44

(8)

5.3.3 Visualisasi “kegelisahan” dalam Cinta……….. 48

5.3.3.1 Mega ...……… 48

5.3.3.2Puing-Puing Kenangan……… 49

5.3.3.3 Tragedi Musim Bunga……….. 51

5.3.3.4 Berpisah Menjelang Fajar...……….. 53

5.3.3.5 Rembulan dan Mawar………. 55

5.3.3.6 Awan Kelabu...………. 56

5.3.3.7 Setitik Air Mata Buat Peter………. 58

5.3.3.8 Deru Kehancuran... 59

5.3.3.9 Di Ujung Pelangi... 61

5.3.3.10 Gerimis Dalam Kemarau... 63

5.3.3.11 Air Mata Rembulan ... 65

5.3.3.12 Jangan Ucapkan Selamat Tinggal ... 66

5.3..3.13 Esok Nan Jauh ... 68

5.3.3.14 Cinta Pertama... 70

5.3.3.15 Sonata Di Malam Sunyi... 72

5.4 Visualisasi Kota dalam Komik ………. 73

6. Rencana Dan Tahapan Berikutnya………... 77

7. Kesimpulan ...………... 79

Daftar Pustaka………... 82

Lampiran 1 Daftar Komik Roman Zaldy Armendaris…………... 85

Lampiran 2 Daftar Karya Zaldy Yang Dianalisis………... 89

Lampiran 3 Gambar Sampul ………... 91

(9)

Daftar Lampiran

Lampiran 1 DAFTAR KOMIK ROMAN KARYA ZALDY ARMENDARIS

(10)

Bab 1

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Dalam sejarah kebudayaan Indonesia, era 1970-an adalah era penting merebaknya budaya pop, namun sayangnya era ini masih diabaikan dalam penelitian-penelitian yang telah dilaakukan. Padahal, pengaruhnya penting dalam membangun memori kolektif suatu generasi akan jamannya. Dalam konteks tersebut, fenomena komik Indonesia era 1960an hingga akhir 1970an menjadi penting untuk dikaji pada arena tekstual untuk memahami hubungannya dengan konteks sosio-politik jaman itu. Terlebih lagi hal ini terkait dengan mulai berkembangnya kapitalisme pada masa awal Orde Baru, yang dipicu oleh masuknya investasi asing secara besar-besaran ke Indonesia.

Pada awal-awal masa Orde Baru inilah impian orang-orang Indonesia akan modernitas terpusat di Jakarta. Kota ini menjadi titik pusat perkembangan kemajuan ekonomi yang menarik minat orang banyak untuk datang dan mengadu nasib di kota ini. Kesempatan untuk mengaktualisasikan seni populer, yang sebelumnya sangat dibatasi pada masa Orde Lama, memberi kesempatan bagi para komikus untuk mengambil posisi untuk menangkap perubahan jaman melalui goresan-goresan dalam komik.

(11)

Secara khusus, riset ini akan melihat karya-karya Zaldy yang bergerak di genre komik roman remaja. Ada kurang lebih sekitar 60 judul roman remaja karya Zaldy sejak 1965 hingga awal 1980an yang dapat diketahui dan ditemukan. Untuk penelitian ini, kami memilih komik-komik yang berasal dari 1969 sampai 1970an, yang seluruhnya berjumlah 26 buku atau 15 judul.

1.2 Permasalahan

Masih kurangnya kajian tentang budaya pop Indonesia, terutama mengenai komik, menimbulkan kebutuhan untuk melacak dan mengumpulkan kembali sejumlah komik roman remaja, dalam hal ini karya Zaldy. Hal ini diperlukan untuk memahami perkembangan masyarakat Indonesia dalam konteks sosio-politik terutama pada periode 1960an hingga awal 1980an. Kajian yang sudah ada tentang komik Zaldy belum dilakukan secara komprehensif. Seno Gumira Ajidarma menggunakan sekitar dua puluhan komik, sedangkah Hikmat Darmawan hanya satu buah dalam penelitian mereka. Karena itu, menurut hemat kami, hal-hal penting dari komik yang ditangkap masih baru parsial saja. Sebuah komik Zaldy kira-kira berisi enam puluhan halaman, sehingga mengungkapkan kandungan 60 buah komik memang bukan sesuatu yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Apa yang ditangkap dari karya Zaldy secara mendasar adalah romantika kehidupan anak muda pada jaman tersebut, namun lebih dari itu ternyata terdapat sebuah ruang yang mengungkapkan semangat jaman serta ideologi di balik kebijakan ruang yang diambil oleh Gubernur Ali Sadikin. Misalnya, kebijakan menjadikan Jakarta sebagai kota Metropolitan, seperti dapat ditemui gambarannya di dalam “Di Ujung Pelangi“, yang memuat gambar latar night club “Blue Ocean“, sebuah night club terkenal pada masa itu. Gaya hidup yang sepintas tampak kebarat-baratan ini tidak mengacu pada Amerika, seperti dalam komik-komik Jan Mintaraga, yang sangat terpengaruh oleh komik Amerika1 . Hal-hal ini kami baca sebagai awal masuknya budaya Barat atau kapitalisme yang disebut sebagai modernitas pada era tersebut, dan modernitas inilah yang diinginkan oleh presiden ke-2 RI dengan dibukanya kran-kran masuknya modal asing, terutama yang berasal dari Barat, sehingga tersebar pula segala macam unsur

      

1

(12)

budaya Barat. Oleh karena itu, penelitian ini akan menyoal bagaimana Zaldy memroses perubahan ini dan mengapropriasinya dalam narasi serta gambar.

Selain itu, ruang urban yang tertangkap melalui berbagai cara dalam karya Zaldy tidak saja menjadi latar melainkan menjadi kesatuan dalam narasi dan seni visual karena panel-panelnya seakan-akan dapat diikuti seperti menonton yang dilengkapi efek suara dan gambar yang menyatu di dalam narasi. Oleh karena itu, penelitian ini juga akan meperhatikan elemen-elemen fesyen, musik populer dan gaya hidup pada masa komik ini dibuat sebagai suatu indikator adanya upaya apropriasi terhadap perubahan ideologis yang sedang terjadi. Dengan demikian, komik menjadi genre yang dapat membuka ruang-ruang yang mungkin tak tertangkap di dalam sastra maupun film karena komik merekam secara visual dan naratif berbagai proses yang sifatnya lebih subtildan kompleks di dalam kebudayaan.

1.3 Komik dalam Kajian Budaya

Penelitian mengenai komik tentu mengundang kontroversi karena selama ini komik dimarjinalkan sebagai bacaan anak-anak atau pun bacaan yang tak bermutu. Pandangan yang peyoratif ini sesungguhnya sudah tidak sesuai dengan kemajuan jaman dan kemajuan dalam ilmu-ilmu humaniora yang membuka sekaligus mendobrak batasan-batasan antara teks yang mainstream atau dianggap utama karena dianggap baik dan patut dibaca, dan kebudayaan popular seperti komik, yang mengalami keterbatasan karena seringkali dipojokkan. Perkembangan dunia komik dimulai di Amerika, terutama periode setelah Perang Dunia ke-2, yaitu ketika komik superhero bermunculan, seperti Superman, yang dibuat oleh dua orang keturunan Yahudi Amerika, Jerry Siegel dan John Shuster, pada 1933 dan diterbitkan oleh DC comics pada 1938. Komik ini menjadi tren yang luar biasa sehingga dianggap sebagai cikal bakal genre komik superhero. Selain itu, komik ini telah dibuat film sejak 1978 sebanyak empat sekuel, dan kemudian ditambah dengan dua film terakhir, Superman Return, dan tahun ini Man of Steel, yang tak luput pula dibuat dalam bentuk film serial teve. Hal ini menunjukkan bahwa komik sebagai genre berkembang ke film dan media lainnya dan mendapatkan publik yang lebih luas jangkauannya.

(13)

ber-genre superhero melainkan lebih pada biografi ayah pengarangnya. Ayah Art Spiegelman adalah saksi hidup yang berhasil lolos dari kamp konsentrasi Nazi dan, melalui cerita-cerita ayahandanya, Art kemudian membuat komik yang bergaya pascamodern yang pada 1986 pertama kali diterbitkan. Maus mendapatkan sambutan yang luar biasa dari media massa dengan ratusan ulasan yang positif, sehingga komik ini menjadi topik pembahasan serius dan bahkan dianggap sebagai graphic novel atau roman grafis pertama, sekaligus menjadi komik pertama yang mendapatkan hadiah Pulitzer. Oleh karena itu, Maus menjadi pemicu pertama masuknya telaah komik ke dunia akademik, dan dengan demikian telaah atas komik pun masuk ke mainstream.

(14)

Bab 2

Tinjauan Pustaka

Seperti yang telah diuraikan pada bab Pendahuluan, sudah ada buku-buku yang membahas teori komik. Sejak awal, sudah terdeteksi adanya perbincangan mengenai definisi komik itu sendiri. Apakah komik itu harus selalu mengandung unsur humor, mengingat kata comic dalam bahasa Inggris juga berarti humor. Scott McCloud sudah menepis anggapan sempit ini dengan menawarkan definisinya yang mempunyai cakupan luas, yaitu komik adalah seni sekuensial, dalam bukunya yang berbentuk sebuah buku komik berjudul, Understanding Comic: The Invicible Art (1993). Dalam bukunya, McCloud membahas struktur komik secara luas dan menghubungkannya dengan narasi yang terbangun oleh seni visual. Selain itu, ia juga menghubungkan pembaca komik yang dapat berpartisipasi di dalam proses pembacaan karena segi visual komik membuat pembaca langsung dapat bereaksi. Buku McCloud mengambil beberapa dasar dari buku yang juga sering dianggap sebagai buku acuan untuk teori komik, yaitu buku karya Will Eisner berjudul Comic and Sequential Art (1985) yang merupakan hasil dari kegiatan Eisner mengajar di New York dan lebih menekankan unsur yang jauh lebih mendasar mengenai bagaimana komik itu terbentuk dan menjadi sebuah cerita.

(15)

bahwa ia juga memberikan masukan, yaitu bahwa pembaca dapat berinteraksi dengan komik melalui dialog yang terjadi antara panel-panel komik, serta menyambungkan visual panel-panel2 dengan narasi yang dibentuk oleh pembaca melalui pengalaman dan pengetahuannya. Oleh seorang peneliti komik, Neil Cohn (2008), hal ini disebut sebagai ruang publik karena pembaca dapat bereaksi langsung terhadap panel-panel visual tersebut. McCloud menerbitkan buku keduanya di bidang teori, yaitu Reinventing Comic (2000), yang memasukkan unsur baru ke dalam seni pembuatan komik, yaitu penggunaan komputer dan internet.

Di Indonesia, masih belum terlihat adanya buku-buku mengenai komik yang membahas dengan saksama berbagai elemen yang terkandung di dalamnya. Uraian mengenai komik Indonesia yang sampai saat ini merupakan uraian terlengkap dibuat oleh Michel Boneff, meskipun berakhir hanya sampai awal 1970an. Buku yang diterjemahkan ini berasal dari disertasi Boneff yang didasari oleh risetnya di Indonesia selama lima tahun. Tidak heran bahwa ia lebih menekankan pada kesejarahan atau perjalanan komik Indonesia, yang dijelajahinya mulai dari panel-panel di Candi Borobudur dan wayang sampai pada komik berbagai genre pada awal 1970an. Salah satu sumbangan Boneff adalah pembagian genre komik Indonesia menjadi komik silat, wayang dan roman, yang tersebar dalam berbagai karya setelah kemerdekaan RI. Selain itu, ia juga memperlihatkan tingginya interaksi budaya di dalam komik Indonesia. Misalnya, interaksi dengan budaya Tionghoa seperti tampak dalam komik-komik silat maupun kepahlawanan dan pengaruh budaya India yang mewarnai wayang. Sementara itu, komik Indonesia bergenre superhero hanya disinggung saja, seperti Gundala Putra Petir karya Hasmi, padahal cukup banyak bermunculan komik sejenis ini pada 1970an. Oleh karena itu, Bonneff terkesan juga membuat batasan yang agak sempit dan masih mengikuti mainstream. Padahal, seperti diperlihatkan oleh Seno Gumira Ajidarma, seorang peneliti dan penggemar komik, tokoh Si Put On, yang awalnya merupakan seri kartun di koran, dapat menunjukkan adanya pergeseran budaya dalam lingkungan masyarakat Indonesia-Tionghoa (pengaruh Hindia-Belanda), di samping tentu saja menunjukan bagaimana budaya Tionghoa berinteraksi dengan budaya

      

2

Panel-panel yang dimaksudkan masih dalam bentuk komik dari Barat dan biasanya terdiri dari dua panel saja, berbeda dari komik ala Jepang, yaitu manga, yang terdiri dari beberapa panel-panel dan menggambarkan dari detik ke detik perubahan ataupun perkembangan cerita, sehingga apabila komik Barat hanya terdiri atas dua panel, maka adegan yang sama bisa mencapai 6-8 panel dalam manga. Membaca manga seperti membaca dengan cara browsing

(16)

setempat, yaitu kota Jakarta pada 1930an, serta pengaruh dalam bahasa dan budaya yang terekam di dalamnya.

Selain itu, Seno Gumira Ajidarma mengadakan penelitian atas komik silat karya Hans Jaladara, salah seorang komikus yang dianggap satu dari lima besar penulis komik dari 1960an sampai 1980an, yang sekarang masih berkarya dalam seni lukis kanvas. Dengan fokus pada Panji Tengkorak, penelitian Seno menjadi disertasi dan sudah terbit dalam bentuk buku pada 2011. Seno juga menerbitkan sebuah buku yang merupakan kumpulan tulisannya di berbagai majalah Indonesia mengenai kartun Indonesia yang berjudul “Tawa dan Bahaya. Kartun Dalam Politik Humor“. Seno memulai pemaparannya dengan sebuah insiden yang terjadi akibat penerbitan kartun Nabi Muhammad S.A.W di Denmark pada 2005, yang dipicu oleh protes dan diiringi demonstrasi yang berakibat fatal. Kasus hampir serupa ternyata terjadi pula di tanah air ketika kartun berjudul Nasib Si Suar Siar diterbitkan dalam harian Sinar Indonesia Baru edisi Minggu 25 Oktober 2004, di Medan.3 Kartun yang humoris ini menjadi bumerang baik pada pembuatnya, Selwyn Sitanggang, yang sempat ditahan selama satu bulan maupun pada koran tersebut. Seno lantas menyebutkan bahwa dua peristiwa yang mirip walau berbeda efeknya (yang di Denmark justru mendunia karena kemudian media massa di luar Denmark justru memuat kartun tersebut sebagai solidaritas dan pembelaan terhadap kebebasan beropini) membuktikan bahwa humor tidak selalu bersifat netral atau pun tidak berbahaya. Apa yang dapat ditarik dari buku Seno mengenai pembahasan humor dalam politik adalah bahwa seni visual dan narasi bukanlah sesuatu yang sifatnya ringan dan tak serius, melainkan di dalam penampilannya yang terlihat sepintas tak serius dan lucu itulah letak pointe atau titik balik kelucuan tersebut.

Tidak banyak buku-buku ataupun esei mengenai komik Indonesia, walaupun khasanah komik Indonesia masih sangat luas dan banyak sekali. Beberapa esei yang sudah kami sebutkan di atas, seperti esei dalam majalah Kalam karya Seno Gumira Ajidarma, „Dunia Komik Zaldy“ maupun oleh Hikmat Darmawan “Kota yang Naif: Sketsa Jakarta 1960-1970-an dalam Komik Roman“, yang dipublikasikan lewat daring, atau tulisan Arswendo Atmowiloto, “Koran Medan, serta Cinta Jakarta,” diharian Kompas yang terbit 20 tahun sebelum terbitnya esei kedua dan pertama.

      

3

(17)

Bab 3

(18)

Bahwa komik sudah bukan lagi bacaan ringan bersifat hiburan telah banyak dibuktikan dan ditulis oleh peneliti dmancanegara. Sehubungan dengan itu, tujuan penelitian ini dalam jangka pendek adalah melakukan pembacaan terhadap komik sebagai teks yang mengandung makna dan sekaligus membuka ideologi yang mendasarinya. Dengan demikian, komik merupakan suatu medan atau ajang kontestasi ideologi-ideologi di dalam lingkaran budaya di Indonesia. Sementara itu, tujuan jangka panjang yang akan dilakukan adalah menyambung penelitian yang telah dilakukan Michel Bonnef tentang komik Indonesia ke era-era berikutnya, serta membuka khasanah komik-komik yang belum tersentuh atau masih terabaikan dalam riset Bonnef.

Komik Zaldy kami tengarai merupakan wakil dari genre komik roman yang menonjol baik dari segi narasi maupun seni visualnya. Ketelitian Zaldy dalam menggambar komik-komiknya menyebabkan ia terlihat seakan-akan lebih lamban daripada kawan-kawan penulis komik lainnya. Akan tetapi, ternyata bahwa kelambanan ini memberikan hikmah, terutama kepada penelitian kami. Detil-detil yang terlihat pada penggambaran fesyen dapat memberikan informasi tentang kurun waktu ksejarahan komik tersebut, yang dibuat sedemikian detil pada latar komik untuk memberikan penggambaran akan kota Jakarta (latar yang dipakai pada komik Zaldy secara umum, walaupun ada juga kota-kota lainnya). Dengan demikian, tujuan kami adalah memaknai dan memberikan interpretasi kepada komik Zaldy, khususnya dalam kaitan dengan ruang urban Jakarta yang terekam di dalamnya, serta bagaimana ruang urban ini menjadi ajang kontestasi ideologi pada masa itu.

(19)

dari penelitian ini adalah membuka dan memperlihatkan kemungkinan yang dapat dibuktikan melalui kajian terhadap komik Zaldy ini, khususnya ruang-ruang yang selama ini tertutup rapat dan dilupakan.

(20)

Metode Penelitian

Riset ini dilakukan dengan menempuh sebuah prosedur yang terdiri dari beberapa langkah. Pertama, dilakukan pengumpulan komik roman karya Zaldy dan juga majalah Eres (terbitan periode 1969 sampai 1970an). Pengumpulan komik dan majalah tersebut dilakukan dengan menghubungi seorang narasumber kunci yang juga seorang kolektor komik dan majalah Eres. Beberapa kolektor komik telah dihubungi, namun sebagaimana kolektor benda-benda antik misalnya, dunia mereka agak tertutup terhadap orang luar apalagi yang bukan kolektor. Namun, kami berhasil menghubungi seorang kolektor yang bernama Handi, ia bersedia memperlihatkan koleksinya dan kami sudah menyewa kumpulan komik Zaldy nya untuk discan.

Handi, kira-kira 40an umurnya, memulai koleksi komik di tahun 2004, awalnya ia mengumpulkan perangko dan kartu pos berperangko dari manca negara, lalu mulai tertarik pada komik karena ia sendiri juga penggemar komik. Ketika masih remaja Handi membaca komik-komik terutama komik-komik silat seperti „Si Buta Dari Gua Hantu“, „Panji Tengkorak“, „Api Di Bukit Menoreh“ dan lain-lainnya. Meskipun demikian, dalam mengoleksi berbagai genre komik, ia juga membacanya dan hampir hapal semua cerita-cerita termasuk komik Zaldy yang dikatakannya sebagai komik yang paling bagus gambar-gambarnya. Handi pernah studi di kota Aachen dan kembali ke Jakarta, koleksinya tersimpan di dalam sebuah rumah yang sudah tua di daerah Pekojaan, Jakarta Barat. Dari Handi kami juga memperoleh berbagai informasi seputar pasaran komik-komik dan juga bagaimana para kolektor memandang berbagai genre komik.

Lalu, dilakukan dokumentasi atas komik-komik dan majalah yang terkumpul tersebut dengan cara difoto dan juga scanning, dengan seizin pemiliknya. Agar tidak merusak koleksi Handi, kami akhirnya diijinkan untuk membeli koleksi komik romannya yang bukan terbitan perdana, sehingga tahap selanjutnya kami dapat dengan leluasa melakukan scan atas komik-komik Zaldy lainnya. Selanjutnya, sesudah penelitian selesai, dokumentasi tersebut akan disimpan di perpustakaan UI agar para peneliti lainnya juga dapat memanfaatkannya sebagai sumber data.

(21)

sekaligus kolektor komik akan menjadi narasumber kami, demikian pula dengan Handi kami akan melanjutkan wawancara mengenai dunia komik dari mata kolektornya. Seno Gumira Ajidarma telah memberikan masukan-masukan mengenai teori komik dan juga khasanah komik Indonesia yang telah memperluas horison penelitian ini. Sedangkan Handi sebagai kolektor memberikan informasi dan masukan bagi resepsi terhadap komik-komik roman.

Telaah awal dilakukan dengan metode pembacaan dekat (close reading) yang berfokus pada berbagai sarana verbal (bahasa) dan visual, serta strategi retorika (dialog, monolog, silences, dll) dan positioning (gap, juxtaposisi, kontras, kontiguitas, kontinuitas, dll) dalam komik, dan tak ketinggalan sedikit tentang struktur/naratologi komik (yang menyangkut relasi antartokoh, pengembangan dan pencabangan alur dll). Pada tahap ini, diharapkan sudah ditemukan beberapa jawaban bagi sejumlah pertanyaan kunci tentang peran dan dampak sosial komik pada zamannya.

Output yang diharapkan adalah pengetahuan tentang berbagai strategi yang ditempuh komik untuk menyajikan representasi kritis atas urbanisme pada periode awal Orde Baru, khususnya di ibukota Jakarta. Bila diasumsikan bahwa komik-komik Zaldy mengandung kritik sosial atas kehidupan urban, bagaimana komik-komik tersebut dapat lolos dari sensor ketat negara pada waktu itu juga diharapkan dapat terungkap lewat penelitian ini. Di samping itu, penelitian juga diharapkan dapat memberikan pemahaman awal yang cukup memadai tentang resepsi khalayak pembaca yang diasumsikan merupakan warga masyarakat ibukota yang oleh Zaldy direpresentasikan dalam komik-komiknya.

Kami juga sedang menggodok suatu kluster riset Kajian Komik di FIB mengingat selama ini belum terbentuk suatu kluster riste khusus komik, pada umumnya komik hanya dimasukkan ke dalam Budaya Populer. Kami juga berencana untuk memberikan pelatihan mengenai struktur narasi bagi pembuat atau penggambar komik dan akan menerbitkan komik yang bertemakan kebhinekaan budaya Nusantara.

Bab 5

(22)

5.1 Komik Remaja?

Komik adalah bacaan yang dianggap sebagai bacaan remaja. Meskipun demikian, istilah remaja pada masa 1970an tidaklah sama dengan konotasinya pada masa kini. Remaja di kala itu merupakan istilah yang dipakai untuk menghindari pemakaian kata pemuda, yang berkonotasi progresif dan revolusioner, serta merupakan konotasi yang terpatri di benak masyarakat Indonesia dari sejak masa revolusi kemerdekaan sampai era Sukarno. Namun, pada masa Suharto ideologi yang ditanamkan adalah ideologi pembangunan, dan semua hal diarahkan ke pembangunan fisik, yang dianggap sebagai wahana bagi bangsa Indonesia untuk memasuki modernitas abad ke-20. Wacana yang diusung oleh Orde Baru ini adalah pembangunan fisik, dan konstruksi hubungan antara pemimpin politik dengan rakyat bagaikan hubungan antara bapak dan anak di dalam sebuah keluarga yang harmonis dan sejahtera, yang terjamin sandang pangan dan papannya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau simbol-simbol yang berlaku di kota-kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta sebagai ibu kota, adalah simbol kultural yang terkandung di dalam barang-barang konsumsi yang baru dan berasal dari luar negeri. Tidak mengherankan pula kalau segala sesuatu yang berasal dari luar negeri dianggap sebagai lebih baik daripada produk dalam negeri, demikian pula dengan bersekolah di luar negeri. Berlomba-lomba keluarga yang menjadi OKB atau Orang Kaya Baru mengirimkan anak-anak mereka untuk melanjutkan kuliah di negara-negara yang dianggap jauh lebih maju baik di bidang teknik maupun bidang lainnya, terutama negara Eropa seperti Jerman, yang tidak menerapkan uang kuliah pada waktu itu. Hal-hal inilah yang dapat ditemui di dalam komik-komik karya Zaldy yang akan dianalisis dan dibahas selanjutnya. Gambaran ini bukan hanya merekam suasana dan wacana yang berlaku pada masa itu, tetapi dapat juga diinterpretasikan secara ideologis melalui pembacaan yang teliti baik dari segi visual maupun narasinya. Dengan demikian, kami memosisikan komik Zaldy sebagai oposisi terhadap label yang dilekatkan pada komik, yaitu roman remaja. Komik Zaldy, yang oleh Arswendo Atmowiloto (2007) disebut sebagai “Komik Cinta Jakarta”, ternyata menyimpan kompleksitas lebih daripada itu.

(23)

Seperti teks-teks lainnya di dalam khasanah sastra, komik Zaldy juga dapat dipilah menurut tema-tema yang diusung didalamnya. Komik ber-genre roman tentu saja membuat atau mendasarkan alur ceritanya pada hubungan antara pria dan wanita dan menyusun atau mengkonstruksi konflik di seputar hubungan ini. Melodrama, salah satu ciri khas yang terbangun dalam cerita, ditengarai lebih merupakan ciri produk budaya popular Asia atau film-film Hongkong, mengingat bahwa pada masa Suharto kebudayaan Tionghoa dipasung dengan diberlakukannya sederetan larangan terhadap praktik kebudayaan Tionghoa, termasuk paksaan bagi para warga etnik Tionghoa untuk mengubah nama Tionghoa mereka dengan nama Indonesia. Meskipun di dalam komik isu ini tidak secara eksplisit dikedepankan, hal ini dapat dilihat sebagai sebuah konteks tempat Zaldy membangun narasi dan menorehkan seni visualnya.

Romansa yang dibangun dalam komik Zaldy sebanyak 35 buah yang telah kami telaah mempunyai motif yang bisa dianggap sebagai motif utama, yaitu cinta segitiga. Namun, cinta segitiga ini pun dibangun di atas konflik antargenerasi yang berbeda. Misalnya, adanya seorang pria atau wanita yang lebih tua daripada tokoh utamanya atau konflik dibangun di atas adanya perbedaan usia antara pria dan wanita, perbedaan ini juga dibarengi dengan adanya perbedaan kapital budaya dan kapital ekonomi. Leitmotif atau motif utama ini dapat ditemui dalam setiap komik roman dan tentu saja dalam karya Zaldy. Oleh karena itu, akhir dari komik Zaldy jarang yang bercorak “happy ending.” Berbeda, misalnya, dari komik Amerika yang sejaman yang menampilkan dua sejoli berkasih mesra dan akhirnya menikah sebagai ending-nya (Wright,2001). Meskipun demikian, akhir yang melodramatis dan dapat membuat pembaca ikut menangis ini dapat memperlihatkan ideologi yang berbeda dari ideologi yang dominan pada waktu itu, yaitu ending ini justru lebih condong pada ending gaya Asia dan bukan gaya Amerika ataupun Eropa, seperti yang ditunjukkan oleh Seno Gumira Ajidarma (2000,100), sebagai antitesis komik roman Jan Mintaraga yang ditengarainya sebagai komik ala Amerika.

(24)

perempuan selama ia menjadi presiden RI. Akhir cerita yang menunjukkan kegelisahan akan kehidupan yang glamor dan materialistis itu memperlihatkan belum berbiasanya masyarakat dengan kehidupan materialis, serta masih kuatnya ikatan mereka dengan tradisi. Secara eksplisit, terlihat komik Zaldy juga masih memasukkan ajaran moral, dan ini memperlihatkan adanya kegamangan terhadap perubahan tatasosial dan tatamoral yang mengiringi masuknya kapitalisme.

(25)

5.3 Cinta (di) Jakarta: Analisis Limabelas Judul Komik (lihat lampiran 2)

5.3.1 Tipologi Cinta: Ware Liebe atau Wahre Liebe? Cinta yang terbeli atau cinta sejati?

Bertolt Brecht4, seorang sastrawan Jerman yang dikenal sebagai sastrawan berhaluan kiri, menggunakan drama sebagai wahana untuk menyoal berbagai permasalahan sosial. Salah satu karyanya berjudul Der gute Mensch von Sezuan, yang bercerita mengenai dilema yang dihadapi tokoh utama Shen Te, yang berprofesi sebagai pelacur, untuk bertahan hidup. Shen Te berbaik hati menampung tiga tamu tak diundang yang mencari penginapan di tengah malam. Ternyata, tamu-tamu tersebut adalah dewa-dewa yang turun untuk mencari seseorang yang berhati mulia dan baik. Mereka menentukan Shen Te sebagai der gute Mensch atau orang baik, dan lalu memberikan hadiah uang yang banyak kepadanya. Berbekal uang ini, Shen Te yang sedang kasmaran dengan seorang calon pilot Yang Shun, berniat meninggalkan profesinya dan membuka kedai tembakau. Namun, karena kebaikan hatinya, ia terpaksa menolong banyak kerabat yang datang meminta uang dan memberikan hutang kepada mereka yang memintanya. Akibatnya, kedai tembakaunya terancam bangkrut. Demi menjaga stabilitas kedainya sekaligus keberadaannya, Shen Te kemudian menyamar menjadi Shui Ta, seorang pria yang pandai berdagang dan sangat kapitalis, dan di tangan Shui Ta yang mengaku sebagai sepupu Shen Te, kedai tersebut menjadi besar.

Di dalam drama ini, Brecht menyoal mengenai cinta. Judul awal drama ini adalah Ware Liebe, yang berarti cinta sebagai komoditi, tentunya mengacu pada profesi Shen Te sebagai pelacur, tetapi dipertentangkan kemudian dengan wahre Liebe, yang pelafalannya hampir sama namun berarti cinta sejati. Kedua istilah ini merupakan gambaran bagaimana ideologi komunis yang mengidolakan cinta sejati dan pengorbanan biasanya datang dari pihak wanita, terutama untuk kemajuan negara. Sementara itu, di dalam dunia kapitalis, cinta dapat dibeli karena gaya hidup yang konsumtif, sehingga cinta pun menjadi komoditi. Di dalam konstelasi cinta pada komik-komik Zaldy, ditemukan pola-pola konstelasi cinta semacam ini, yaitu kegalauan para tokoh dalam menyikapi adanya perubahan ideologi, dari ideologi yang menabukan hubungan-hubungan cinta bebas ke ideologi yang bersikap liberal di segala bidang, dan semua hubungan-hubungan antarmanusia didasarkan pada uang dan barang. Cinta seperti ini menyebabkan para tokoh yang

      

4

(26)

berada dalam kegalauan menjadi melankolis dan cenderung pada akhir cerita mengalami nasib menyedihkan. Berdasarkan tipologi ini, tujuh judul komik (lihat lampiran 3) dianalisis dengan menunjukkan kegalauan yang ditemui di dalamnya.

5.3.2 Sinopsis cerita

5.3.2.1 MEGA

Dua Jilid, 1969

Masayu, seorang putri dari keluarga kaya, memiliki dua sahabat pria dari masa kecilnya, yaitu Amran dan Tiar. Di pinggir telaga yang dekat dengan vila keluarganya dan tempat mereka sering bermain-main, Masayu mengenang masa tiga tahun yang lalu ketika mereka baru lulus dari perguruan tinggi dan membicarakan rencana masa depan masing-masing. Pembicaraan itu membawa Masayu pada kesadaran yang selama ini tak pernah dipikirkannya, yaitu bahwa ternyata dia jatuh cinta pada Amran. Amran pun rupanya demikian. Di pinggir telaga itulah mereka saling menyatakan cinta dan berjanji untuk menikah tiga tahun lagi setelah Amran kembali dari merintis usahanya di Kalimantan. Amran, yang berasal dari keluarga kurang mampu, bersikeras untuk membuktikan diri lebih dulu sebagai calon suami yang mandiri secara ekonomi.

Sejak itu, hubungan mereka hanya berlangsung melalui surat. Namun, setelah dua tahun ternyata tidak ada lagi surat dari Amran. Masayu sangat sedih tetapi tidak berdaya. Sementara itu, ketika kemudian bisnis ayahnya mengalami kemunduran yang membuat ayahnya akhirnya meninggal, keluarga Tiarlah yang banyak membantu melunasi utang-piutang ayahnya. Orang tua Tiar, yang sama sekali tidak mengetahui keadaan hubungan Masayu dan Amran, menginginkan Tiar menikahi Masayu untuk mempererat hubungan kekeluargaan mereka yang selama ini memang sudah berjalan baik.

(27)

Di tengah persiapan pernikahan mereka, Tiar—yang sudah bekerja sebagai pengacara—

harus mengurus sebuah kasus pembunuhan lebih dulu. Tanpa disangka, terdakwanya adalah Amran. Kasus ini sebenarnya sudah diputuskan di Kalimantan, tetapi dia naik banding sehingga kasusnya dibawa ke Jakarta. Pertemuan dengan Amran di penjara telah membuat Masayu sangat terpukul, apalagi pada saat itu Amran memintanya untuk melupakannya dan lebih baik hidup berbahagia dengan Tiar. Amran juga mengirim surat dari penjara kepada Masayu menjelaskan duduk perkara kasusnya. Masayu menjadi tahu bahwa Amran hanya membunuh untuk

mempertahankan haknya yang hendak direbut oleh kawan bisnisnya. Uang hasil jerih payahnya untuk persiapan berumah tangga dengan Masayu selama dua tahun itu hendak diambil oleh orang yang dibunuhnya itu.

Meskipun Tiar sudah berusaha menolong Amran di pengadilan, Amran tetap dikenai hukuman penjara. Pernikahan Masayu dan Tiar dilangsungkan dengan kesedihan. Setelah

menikah, Masayu akan ikut bersama Tiar ke luar negeri menemaninya melanjutkan studi hukum. Sebelum berangkat, Masayu menyempatkan diri merenung di pinggir telaga tempat dia dan Amran dulu saling menyatakan cinta mereka, cinta yang kini seperti mega yang telah dihembuskan angin.

5.3.2.2 Puing-puing Kenangan

Dua Jilid, 1970

Di usianya yang kedua puluh satu, Dino—seorang anak direktur kaya—berkenalan secara kebetulan dengan seorang perempuan yang mabuk dalam sebuah pesta. Dino penasaran dan iba dengan perempuan itu sehingga dia berkeras untuk mengantarnya pulang. Sejak pertemuan pertama itu, Dino merasa jatuh hati pada perempuan itu.

Pertemuan mereka berikutnya mengantarkan Dino masuk ke rumah perempuan itu.

Keintimanpun terjadi meski dia belum tahu nama perempuan itu. Sampai suatu hari Dino tahu bahwa ternyata perempuan itu, Carla namanya, adalah sekretaris pribadi ayahnya sendiri. Carla mulai menghindari Dino, namun Dino makin jatuh hati dan berjanji pada Carla untuk

(28)

bagi kedudukan Dino, dia akhirnya tetap tak dapat memungkiri perasaan cintanya sendiri terhadap Dino. Sejak itu, Carla merasakan kebahagiaan hidup kembali dan menghentikan kebiasaannya bermabuk-mabukan.

Namun, kebahagiaannya hanya sebentar. Carla kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya tidak sesuai untuk Dino karena dia adalah seorang wanita jalang yang berpindah-pindah dari lelaki kaya yang satu ke lelaki kaya yang lain. Seluruh rahasia hidupnya akhirnya dia buka di hadapan Dino. Diajaknya Dino untuk mampir ke rumah kecil di pinggir kota tempat dia menitipkan anaknya kepada seorang pembantu setianya, Bu Minah, selama ini. Anak itu adalah hasil hubungannya dengan seorang pemuda yang dicintainya yang tega menipunya dengan membawa kabur semua uang simpanannya. Sebelumnya, bahkan Carla juga pernah terpaksa menjadi istri seseorang dari keluarga kaya yang menginginkannya. Itu dia lakukan demi melunasi biaya berobat ayahnya karena kecelakaan kerja di pabrik meskipun akhirnya tidak terselamatkan. Untuk semua itu, dia terpaksa meninggalkan kekasih pertamanya, seorang pekerja pabrik. Namun, ternyata suami kaya itupun akhirnya menceraikannya juga karena sudah punya istri yang baru. Dengan seluruh pengalaman pahit itu, Carla menjadi pembenci laki-laki. Dia pergi ke kota dan memangsa direktur-direktur kaya.

Setelah membuka rahasia hidupnya, Carla berusaha menjauhi Dino dan kembali pada kehidupan lamanya sebagai perempuan simpanan. Ayah Dino juga sudah memecatnya sebagai sekretaris untuk menghindarkannya dari Dino. Sementara itu, Dino diminta ayahnya menjauhi Carla dengan secepatnya pergi ke luar negeri melanjutkan studi. Di tengah perasaan kecewa dan putus asa ditambah dengan perasaan marah karena ternyata ayahnya pun pernah menjadikan Carla sebagai simpanannya, Dino mendapat kabar bahwa Carla masuk rumah sakit karena kecelakaan. Jiwanya tak bisa diselamatkan lagi. Sebelum meninggal, Carla menyatakan bahwa apapun yang telah terjadi cintanya pada Dino tetap tulus. Sepeninggal Carla, Dino meminta ayahnya untuk menerima anak Carla sebagai bagian dari keluarga mereka demi menebus kesalahan mereka selama ini kepada Carla. Dengan hati yang lapang, Dino pergi ke luar negeri melanjutkan studi sebagai pemenuhan janjinya kepada Carla.

5.3.2.3TRAGEDI MUSIM BUNGA

(29)

Hampir setiap minggu Nila mengunjungi pusara sahabatya semasa sekolah. Dia merasa punya kewajiban untuk tetap datang menemani sahabatnya ini dengan menaburkan bunga anyelir dadu, bunga kesayangan sahabatnya semasa hidup. Warna bunga ini memang sesuai dengan nama sahabatnya, yaitu Pinky. Dengan datang ke pusara itu, dia ingin mengenang penderitaan hidup sahabatnya.

Dalam kenangan Nila, Pinky adalah gadis yang supel dalam pergaulan. Dia sering pergi dengan kawan-kawan prianya seusai sekolah atau di hari libur. Meski demikian, hasil pelajarannya tak pernah buruk. Hidupnya seolah-olah terlihat selalu menyenangkan, apalagi dengan tunjangan biaya dari orang tuanya yang memang kaya. Sayang, orang tuanya hanya memberikan uang, bukan perhatian dan kasih sayang. Selama Pinky tinggal di rumah kos bersama Nila di Jakarta, jarang sekali orang tuanya datang mengunjungi. Nila turut prihatin dengan keadaan Pinky yang merasa sebagai anak yang diabaikan oleh ayah dan ibunya yang selalu tidak rukun.

Berbeda dengan Pinky, Nila berasal dari keluarga yang tidak berada. Orang tuanya yang tinggal di kampung pinggiran kota itu hidup sederhana dalam keharmonisan. Karena itu, Nila ingin belajar dengan baik dan tidak ingin membuang waktu dengan pergaulan bersama kawan-kawan pria. Berbeda dengan Pinky yang punya banyak kawan-kawan pria dan mungkin juga pacar-pacarnya, Nila hanya punya satu kawan pria, Adnan, yang dianggapnya dekat. Itupun adalah kawannya semasa kecil di kampung. Adnan tidak melanjutkan sekolah, tetapi bekerja sebagai pelayan toko di Jakarta.

(30)

Sejak itu, Nila dan Pinky sudah tidak pernah bertemu lagi. Sampai suatu saat, tanpa di sangka-sangka, Nila bertemu dengan Pinky di sebuah bioskop sedang digandeng oleh seorang lelaki tua yang kaya. Rupanya sekarang dia sudah bercerai dengan Adnan dan kini bekerja di sebuah bar, berpindah dari pelukan pengunjung yang satu ke pengunjung yang lain. Nila tak sampai hati mengetahui keadaan Pinky dari pengakuannya sendiri. Beberapa tahun kemudian, Nila makin sedih melihat keadaan Pinky ketika secara kebetulan ada urusan di kantor polisi, dia melihat Pinky sedang diturunkan dari mobil polisi bersama para pelacur jalanan. Saat itu, Pinky sudah tidak mengenali Nila lagi dan tingkahnya sudah seperti orang kurang waras. Nila tak mampu menolang Pinky dan ketika akhirnya dia menerima kabar bahwa Pinky bunuh diri, dia makin sedih dan berharap suatu hari dapat merawat anak Pinky bersama Adnan. Kini dia hanya bisa mengenang nasib sahabatnya itu di pusaranya.

5.3.2.4 BERPISAH MENJELANG FAJAR

Dua Jilid, 1970

Irina, seorang anak desa putri penjaga perkebunan teh milik keluarga Pak Burhan, telah jatuh dalam rayuan dan cinta dari Ardyan, putra Pak Burhan sendiri. Cinta Ardyan tulus

padanya. Pada suatu malam, mereka membuktikan cinta mereka melalui hubungan intim di villa perkebunan yang sedang kosong.

Tanpa sepengetahuan Ardyan, orang tuanya sudah merencanakan akan mengawinkannya dengan Florinda, putri Pak Fajar yang sudah lama menjadi rekanan bisnis yang dekat bagi keluarga Burhan. Ardyan menolaknya dan mengaku bahwa dia sudah punya calon istri pilihannya sendiri, yaitu Irina. Ibu Ardyan sangat marah. Dia mendatangi orang tua Irina dan menyuruh mereka untuk memutuskan hubungan Irina dengan Ardyan. Tapi, semuanya telah terlambat. Irina mengaku bahwa dia sudah berhubungan intim dengan Ardyan. Ardyan pun mendesak orang tuanya agar mau menerima Irina menjadi istrinya sebagai bukti

pertanggungjawaban Ardyan atas Irina. Dengan berat hati, orang tua Ardyan mengabulkan permintaannya. Maka, perkawinan Irina dan Ardyanpun dilangsungkan.

(31)

menghiburnya dan mengajarinya cara bersikap dalam lingkungan baru itu. Apalagi ketika Irina hamil, Ardyan sangat gembira. Sampai pada suatu saat, Ardyan harus pergi untuk urusan bisnis ke Kuala Lumpur untuk waktu yang lama.

Sepeninggal Ardyan, penderitaan beruntun menimpa Irina. Ibunya sakit di perkebunan dan kemudian meninggal. Bersamaan dengan itu, dia sendiri melahirkan, Selanjutnya, dia tinggal di perkebunan merawat bayinya. Tanpa sepengathuan Irina, ayahnya yang pemalas dan suka mabuk-mabukan ternyata disogok oleh ibu mertuanya untuk menculik bayinya dan

menyerahkannya ke keluarga Burhan di Jakarta dengan bayaran yang besar.

Ketika mengetahui bayinya telah diculik dan dijual oleh ayahnya sendiri, Irina panik dan berlari ke jalan raya. Di situ dia tertabrak mobil dan dilarikan ke rumah sakit oleh Tarmidi, teman masa kecilnya di perkebunan yang dulu pernah jatuh cinta padanya. Tarmidi mencoba minta bantuan kepada Bu Burhan untuk biaya rumah sakit, tetapi ditolak. Akhirnya, dia terpaksa berhutang dalam jumlah besar kepada kenalannya.

Sementara itu, Ardyan yang sudah kembali dari Kuala Lumpur mendapatkan informasi palsu dari ibunya bahwa Irina telah pergi begitu saja dari rumah dan meninggalkan bayinya. Ardyan berusaha mencari-carinya, tetapi tidak berhasil. Florinda mengambil kesempatan ini untuk menghibur Ardyan dan menyarankan Ardyan untuk melupakan Irina. Orang tua mereka juga menganjurkan keduanya untuk menikah.

Berita pernikahan Ardyan dan Florinda akhirnya sampai juga kepada Irina. Dia sangat terpukul. Namun, kebaikan Tarmidi mulai mampu mengangkatnya dari kesedihan. Dia pun kini untuk sementara ditampung di rumah orang tua Tarmidi. Ketika Irina akhirnya mengetahui bahwa Tarmidi sedang terlilit utang untuk membiayai ongkos rumah sakitnya dulu, diapun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dengan mengandalkan bakat menyanyinya yang bagus, Irina kemudian melamar menjadi penyanyi bar.

Kariernya sebagai penyanyi lama-lama makin sukses. Dia kini mengubah namanya menjadi Dyana Melati: Dyana diambil dari nama suaminya, Ardyan, sedangkan Melati adalah lambang kesucian hatinya. Sementara itu, Ardyan yang sudah menikah dengan Florinda tetap tidak mampu melupakan Irina. Apalagi anaknya bersama Irina, yaitu Veronica, yang kini sudah makin besar makin mengingatkannya pada Irina.

Sampai pada suatu malam, ketika dia mengunjungi sebuah bar, dia melihat Irina

(32)

berkelahi dan Irina jatuh pingsan tak mampu menanggung pertemuannya yang pahit dengan Ardyan. Kembali dia masuk rumah sakit dan kali ini lebih parah. Dia kehilangan kesadarannya.

Kejadian itu kemudian membongkar semua informasi palsu yang selama ini dibuat oleh ibu Ardyan. Ardyan sangat menyesal. Ketika Irina akhirnya pulih karena pertemuan dengan Veronica, anaknya yang kini sudah besar, dia makin menyadari bahwa kehadirannya hanya akan menghancurkan keutuhan rumah tangga Ardyan sehinga diapun memutuskan pergi dari

kehidupan Ardyan. Maka, kini tinggallah Ardyan mengenang Irina dengan sayu.

5.3.2.5 Rembulan dan Mawar (Moonlight and Roses)

3 Jilid, 1970

Rossi adalah gadis cantik molek yang menjadi primadona di sekolahnya. Salah seorang yang menyukainya adalah Ferdi, putra pengusaha kaya raya yang menyetir mobil mercy ke sekolah. Rossi mau berpacaran dengan Ferdi yang kaya raya, dan hampir saja Ferdi melakukan hubungan seks dengan Rossi karena menyangka Rossi adalah gadis kota yang suka akan kehidupan seks bebas. Ferdi jatuh cinta pada Rossi setelah mengetahui bahwa Rossi masih naif di dalam kehidupan kota yang serba glamor. Ayah tiri Rossi menaruh perhatian besar pada Rossi yang tumbuh menjadi gadis cantik, dan suatu malam pria itu mencoba memerkosanya. Rossi melawan dan berhasil memukul kepala ayah tirinya dengan sebuah lampu, sehingga ayahnya meninggal dunia. Rossi harus masuk penjara, namun di pengadilan ia dibela oleh seorang pengacara. Rossi bingung karena ia tak mempunyai uang untuk membayar seorang pengacara dan tak tahu siapa yang mengirim pengacara tersebut. Berkat adanya pengacara itu, Rossi dihukum ringan. Di dalam penjara, ia menebak-nebak bahwa Ferdilah yang mengirim pengacara itu. Ferdi juga sering mengirim surat kepada Rossi, namun rossi hanya merasa sangat berhutang budi saja.

(33)

pada Raymond karena ia tahu bahwa hanya Raymond yang dapat mengisi hatinya. Ferdi juga tahu bahwa Rossi menikah dengannya hanya karena merasa hutang budi. Tetapi, suatu hari Ferdi didatangi oleh beberapa preman yang menagih hutang. Rupanya Ferdi telah berhutang pada kelompok mafia yang menjual narkoba. Untuk melunasi hutangnya, Ferdi harus menjadi kurir. Karena tidak berhasil mengumpulkan dana yang cukup dan tidak menyetujui menjadi kurir, Ferdi ditembak mati. Rossi kaget sekali dan, karena hutang-hutang Ferdi, ia terpaksa menjadi kurir menggantikan suaminya. Ketika akan mengantar tas berisi narkoba, ternyata polisi sudah mengepungnya, sehingga kembali Rossi masuk penjara. Kali ini, pengacara yang pernah membela Rossi menganjurkan ia memakai Raymond yang baru kembali dari Leiden. Rossi dibela Raymond dan menceritakan bahwa anaknya itu adalah anak Raymond juga. Raymond berhasil membebaskan Rossi dari hukuman dan membawa Rossi pulang menemui anak mereka berdua.

5.3.2.6. Awan Kelabu

Satu Jilid, 1971

Letty, seorang guru SD, bersahabat sejak kecil dengan Dario, seorang karyawan sebuah perusahaan. Orang tua mereka sudah lama ingin menjodohkan keduanya. Namun, di sebuah pesta pertunangan temannya, Letty didekati oleh Hilman—seorang co-pilot dan anak seorang pengusaha kaya—yang kemudian mengantarkannya pulang. Sejak itu, hubungan mereka makin dekat sampai akhirnya saling jatuh cinta. Sementara itu, pernyataan cinta Dario ditolak dengan halus oleh Letty. Hubungan Hilman dan Letty semakin intim. Bahkan, ketika pada akhirnya mereka melakukan hubungan seks, Hilman berjanji akan melamar Letty secepatnya. Letty mengatakan pada ibunya dan juga Dario tentang rencana lamaran Hilman itu.

(34)

Selama keadaan yang tidak menentu itu, Hilman harus pergi bertugas ke Eropa. Sepeninggal Hilman, Letty mengetahui dari berita surat kabar bahwa Hilman telah tertangkap menyelundupkan emas. Hilman diadili dan dipenjara. Letty tetap setia menunggu Hilman, namun upaya Letty untuk menjenguk Hilman selalu dihalangi oleh ibu Hilman tanpa sepengetahuan Letty sendiri. Atas suruhan Ibu Hilman, petugas penjara berbohong pada Letty bahwa Hilman sudah tidak mau bertemu lagi dengan Letty.

Dalam masa kesedihan Letty yang panjang, Daryolah yang datang menghibur. Namun, Letty tetap berupaya menunggu Hilman. Sampai pada akhirnya Letty sangat terpukul ketika mengetahui pernikahan Hilman dan Sonya melalui iklan surat kabar. Sejak itu, sikap Letty berubah, dia berhenti menjadi guru dan mulai menjalani hidup sebagai hostes melalui teman-teman barunya sampai dia menjadi hostes favorit di sebuah nite club.

Namun, ketika Dario—yang akan punya pekerjaan baru di Makassar—mendatanginya dan mengajaknya menikah, Letty baru menyadari betapa besar dan tulusnya cinta Dario selama ini. Dia malah merasa rendah dan sudah tidak cocok lagi untuk Dario. Namun, kini dia dihadapkan pada pilihan: apakah akan tetap menjadi hostes ataukah pergi bersama Daryo ke Makassar menjalani hidup yang baru. Akhirnya, Letty memilih yang kedua.

5.3.2.7 Setitik Air Mata Buat Peter

Satu Jilid, 1971

(35)

Dari adiknya, Regina, Natalia mengetahui alamat Peter yang sekarang dan mendatanginya. Ini adalah rumah Wanda, istri seorang dokter. Peter tinggal di sini dan melatih Wanda bermain musik. Dalam pertemuan di rumah ini, Natalia menyatakan penyesalannya atas peristiwa tiga tahun yang lalu. Hubungan Natalia dan Peter kembali baik meskipun Peter tampaknya menyimpan satu rahasia tentang keadaannya.

Natalia penasaran dengan hubungan Peter dan Wanda. Untuk menghilangkan kecemburuan Natalia, Wanda membuka rahasia hubungannya dengan Peter. Menurutnya, dulu dia pernah mencintai Peter, tapi kemudian berubah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Karena kesulitan ekonomi keluarga Peter, Wanda kemudian memutuskan untuk membantu membiayai sekolah Peter. Namun, ketersinggungan Peter tiga tahun yang lalu itu telah memaksa Peter meninggalkan sekolah. Meski demikian, Wanda tetap mendorong Peter untuk menyelesaikan sekolahnya dan melanjutkan ke akademi musik sampai sekarang. Wanda berpesan pada Natalia agar dapat memahami keadaan Peter karena Peter sedang mengalami masalah berat meskipun dia menolak menyatakan apa masalahnya.

Mendengar cerita Wanda, Natalia makin merasa kasihan pada Peter. Dia berjanji untuk mencintai Peter setulusnya. Namun, ketika Peter mengajak Natalia berhubungan seks, Natalia terpaksa menolak. Peter tersinggung dan pergi menghilang. Dalam kegelisahannya, Natalia pergi ke nite club dan melihat Peter di sana dengan Rosa, seorang hostes. Peter tetap menolak kembali pada Natalia. Menurutnya, hubungan mereka tidak mungkin dilanjutkan karena Peter merasa perbedaan kelas ekonomi mereka akan menjadi penghalang.

(36)

Natalia mencoba membujuk ayahnya untuk membantu pengobatan Peter sekaligus memperjelas bahwa ternyata Peter bukanlah anak gelap ayahnya. Meskipun pada akhirnya ayah Natalia tergerak mau membantu, Peter sudah minggat lebih dulu dari rumah Wanda. Wanda dan Natalia berusaha mencarinya ke kos Rosa, tapi yang ada hanya secarik surat dari Peter yang dititipkan pada ibu kos. Dalam surat itu, Peter meminta maaf dan mengucapkan terima kasih karena dia akan pergi untuk selamanya.

5.3.2.8Deru Kehancuran

Empat Jilid, 1972

Jasmine, seorang gadis dari keluarga yang cukup berada yang baru lulus SMA, merasa tidak nyaman karena selalu dikekang oleh orang tuanya untuk pergi bergaul. Dia tidak ingin seperti kakak perempuannya yang di rumah saja dan kurang pergaulan. Karena itu, ketika ada undangan pesta dari Lucy, temannya, Jasmine berkeras pergi meskipun dilarang oleh ibu dan kakaknya. Apalagi Lucy sudah mengirimkan Randy untuk menjemput Jasmine. Itulah untuk pertama kalinya Jasmine mengenal Randy, seorang pemuda dari keluarga berada yang punya kesukaan balap mobil. Belum ada yang mampu mengalahkannya. Meski Randy dikenal sebagai seorang playboy yang suka bersikap acuh tak acuh dan kasar, Jasmine pelan-pelan dapat

mengetahui bahwa sikap semacam itu lahir dari perasaan diabaikan oleh ibu Randy sendiri yang suka berfoya-foya dan tenggelam dalam minuman keras. Pengertian dan kepedulian Jasmine membuat Randy jatuh cinta padanya.

(37)

Sementara itu, Randy—yang telah dibakar cemburu atas kedekatan Jasmine dengan Yuzo—merencanakan ingin merebut kembali gelar juara balapnya. Dia mengajukan tantangan maut, yaitu adu balap mobil dengan garis finish di pinggir jurang, yang paling dekat dengan bibir jurang adalah pemenangnya. Meskipun Jasmine berusaha untuk mencegah pertandingan maut itu, Randy dan Yuzo tetap bertanding. Randy tewas dalam pertandingan ini, mobilnya masuk jurang. Sepeninggal Randy, Jasmine memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke Australia seperti yang diinginkan orang tuanya. Jasmine tetap mengenang Randy dalam kesedihan.

5.3.2.9Di Ujung Pelangi

Satu Jilid, 1972

Franky, pemuda Menado berdarah Belanda, sedang kuliah di Jakarta atas biaya dari kakaknya, seorang pengusaha biasa. Franky berpacaran dengan adik kelasnya, Siska, anak seorang pengusaha kaya di Jakarta. Pada suatu pesta yang diadakan oleh ayah Siska, Pak Brata, Franky berkenalan dengan Camellia, sekretaris pribadi Pak Brata. Perkenalan itu kemudian mengubah hidupnya.

Dalam pesta itu, Camellia dan Franky berdansa sambil saling memperkenalkan diri. Perlahan-lahan asmara mulai tumbuh. Dalam kesempatan lain, secara kebetulan Camellia bertemu dengan Franky yang sedang terluka karena keributan dalam pertandingan sepak bola. Dia mengajak Franky ke rumahnya dan merawat lukanya di sana. Malam itu Franky menginap di rumah Camellia. Keduanya menyatakan cinta dan keintiman berlangsung.

Sejak itu, hubungan Franky dan Siska mulai renggang. Rudy, sahabat Franky, mengingatkan Franky agar menjauhi Camellia dan kembali pada Siska, tetapi Franky menolak. Sementara itu, kakak Franky mengingatkan Franky untuk segera menikahi Siska setelah lulus kuliah nanti, tetapi Franky juga menolak. Siska pun pada akhirnya mengetahui hubungan Franky dengan Camellia. Di tengah pertengkaran mereka, Siska memberitahu bahwa Camellia sebenarnya adalah perempuan simpanan ayahnya. Franky tidak mampu menerima kenyataan itu. Dengan marah dia mendatangi Camellia dan memutuskan hubungan mereka.

(38)

terus-terang, Franky mengatakan pada Siska bahwa dia kasihan dan masih mencintai Camellia. Ketika Franky tahu bahwa Camellia sudah memutuskan berhenti sebagai sekretaris Pak Brata, diapun kembali pada Camellia. Franky berjanji tidak akan meninggalkan Camellia lagi dan Camellia berjanji tidak akan kembali pada Pak Brata.

Meskipun hubungannya dengan Franky kembali baik, Camellia mulai mengalami kesulitan keuangan. Penghasilan dari pekerjaaan barunya sebagai penerjemah tidak mencukupi. Camellia menceritakan kesulitan keuangannya pada Rudy, tapi melarang Rudy menceritakannya pada Franky. Rudy menawarkan bantuan keuangan, tetapi Camellia menolaknya. Kemudian, Camellia mengunjungi teman lamanya, Rosa, untuk meminta bantuan. Rosa membantu dengan meminta Camellia untuk memenuhi pesanan seks seorang lelaki kenalannya. Meski berat hati, Camellia akhirnya menyetujui.

Pada malam yang dijanjikan, Camellia menemui lelaki itu yang ternyata adalah kakak Franky yang sengaja ingin “menjebak” Camellia. Dengan kata-kata yang menghina, kakak Franky mendesak Camellia untuk menjauhi Franky. Camellia merasa terpukul karena dihina sebagai perempuan rendah yang tidak sepadan dengan status Franky. Dalam keputusasaannya, Camellia menelepon Pak Brata untuk menjalankan rencana yang fatal, yaitu membuat Franky menjauhinya dengan cara sengaja membiarkan Franky menyaksikan Camellia kembali ke pelukan Pak Brata. Franky merasa terluka hatinya dan bertekad tidak akan kembali lagi kepada Camellia.

(39)

5.3.2.10Gerimis dalam Kemarau

Dua Jilid, 1972

Aster, seorang penyanyi yang digemari di sebuah nite club milik Pak Handoko,

mengalami penderitaan hidup yang bertubi-tubi. Berasal dari keluarga kelas bawah, dia menjadi tulang punggung keluarganya. Uang hasil kerjanya selalu diambil dengan paksa oleh ayah tirinya hanya untuk dihabiskan di meja judi dan minuman keras. Sementara itu, Wimpie—seorang mahasiswa musik kekasih Aster—menyambi kerja sebagai pencipta lagu di nite club yang sama. Meskipun akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah musik di Wiena, Wimpie membatalkannya karena tidak punya cukup uang untuk biaya persiapan keberangkatan,

sedangkan biaya pengobatan ibunya yang sudah lama sakit-sakitan lebih penting baginya. Aster, yang sangat prihatin dengan keadaan Wimpie, memutuskan untuk meminjam uang kepada Pak Handoko untuk membantu biaya keberangkatan Wimpie. Meskipun pada mulanya Wimpie menolak bantuan itu, akhirnya dia menerimanya karena ingin menghargai pengorbanan Aster dan berjanji akan belajar dengan tekun di Wiena untuk nanti kembali menikahi Aster.

Sepeninggal Wimpie, Aster menyanyi dengan lebih giat untuk melunasi hutangnya kepada Pak Handoko. Sayangnya, dia segera dipecat dari nite club karena ketahuan hamil, hasil hubungannya dengan Wimpie. Setelah Aster melahirkan, kelakuan ayah tirinya semakin

(40)

Dari penghasilannya sebagai call girl beberapa lama, dia bisa melunasi utangnya pada Pak Handoko dan menyewa sebuah rumah sederhana serta menyekolahkan anaknya.

Selanjutnya, dia berhenti menjadi call girl dan kini bekerja menerima pesanan jahitan kecil-kecilan untuk biaya hidup sehari-hari bersama anaknya. Beberapa tahun kemudian, Wimpie kembali ke tanah air dielu-elukan sebagai musikus terkenal. Ronnie, anak Aster yang menyambi membantu ibunya sebagai penjual koran, mengetahui kepulangan ayahnya dari berita koran. Pertemuan mereka kembali sangat menggembirakan Wimpe meskipun Aster merasa rendah diri karena telah menyimpan noda. Aster akhirnya tak bisa menyembunyikan noda itu lagi ketika pada sebuah pesta yang diadakan Wimpie untuk merayakan pertemuan mereka, para tamu mempergunjingkan masa lalu Aster sebagai call girl. Mengetahui hal itu, Wimpie merasa terpukul dan sangat kecewa pada Aster. Karena tidak dapat menanggung malu dan patah hati, Aster lari meninggalkan pesta dan tertabrak mobil. Menjelang kematiannya, Aster sempat mengatakan bahwa cintanya hanyalah untuk Wimpie apapun yang telah terjadi.

5.3.2.11 AIR MATA REMBULAN (A FEMALE’S TEARS)

Satu Jilid, 1973

Dengan pilu Eva menatap televisi di etalase toko yang sedang menayangkan acara konser musik klasik. Dia mengenal dirigen konser itu, yaitu Albert. Kenangan tentang masa lalunya dengan Albert kini terbayang kembali.

(41)

Benar saja, di Jakarta Eva memang lebih banyak bergaul tidak karuan bersama banyak teman lelaki cross boy. Sampai suatu saat, Eva ada kesempatan bertemu dan berbincang-bincang dengan Albert. Pada pertemuan itu, Albert mulai terpesona pada keriangan dan kesupelan Eva. Merekapun kemudian makin dekat dan akhirnya hidup bersama seperti sepasang suami-istri. Dia pindah ke rumah Albert, tidak lagi tinggal satu kos dengan Freda. Albert pun benar-benar sudah melupakan pacar lamanya, Freda.

Gaya hidup Eva yang cenderung bersenang-senang ikut melenakan Albert dan dia mulai kehilangan daya kreatifnya sebagai seniman musik (komposer). Kehidupan ekonominya

melemah dan kondisi itu tidak disukai oleh Eva. Merekapun mulai sering tidak sejalan dan dalam puncak pertengkaran mereka, Eva pergi meninggalkan Albert. Dia kembali ke dunia lamanya, bersenang-senang dengan para cross boy. Sampai akhirnya diapun menjadi pelacur jalanan.

Ketika pada suatu malam Eva melihat melalui televisi di etalase sebuah toko betapa Albert kembali menjadi komponis yang berhasil, diapun merasa menyesal meninggalkan Albert. Dia merasa malu dan bersalah atas perlakuannya terhadap Albert dulu. Rasa putus asanya pun makin bertambah. Dia mencoba mendatangi rumah Albert dan merekapun melepas rindu. Namun, Albert menemukan kembali kesadarannya dan memutuskan untuk tidak menerima Eva kembali dalam hidupnya. Eva makin putus asa. Dalam keputusasaan itu, dengan nekat dia merayu salah satu teman lelakinya agar bisa dipinjamkan sebuah pistol. Kemudian, dengan membawa pistol di tasnya, Eva mendatangi rumah Albert lagi dan memohon padanya untuk diterima kembali. Albert tetap pada keputusannya. Eva menjadi kalap. Dia mengeluarkan pistol dan mengancam akan bunuh diri. Albert berusaha mencegahnya. Mereka berebut pistol dan tanpa disengaja pistol meletus mengenai Albert. Melihat Albert tewas, Eva mencoba bunuh diri dengan gas di dapur. Kedatangan Freda mampu menyelamatkan Eva.

(42)

5.3.2.12 JANGAN UCAPKAN SELAMAT TINGGAL

(DONT EVER SAY GOODBYE)

Dua Jilid, 1974

Ingrid, seorang wartawati majalah hiburan di Jakarta, memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan untuk sementara menumpang tinggal di rumah temannya di Bandung demi menenangkan diri. Masih sulit baginya untuk melupakan kenangan manis sekaligus pahit beberapa bulan belakangan ini dengan Sebastian, seorang bintang film terkenal yang sudah beristri.

Pertemuannya dengan Sebastian untuk pertama kali terjadi dalam sebuah wawancara umum. Pada pertemuan itu, Ingrid sudah merasa jatuh hati sehingga dia tidak terlalu

berkonsentrasi dengan wawancaranya sendiri. Dia merasa tidak enak sendiri. Ketika ada tugas untuk membuat karangan khusus tentang Sebastian, Ingrid menguatkan diri meneleponnya untuk membuat janji dan mencoba melupakan perasaan jatuh hati yang membuatnya salah tingkah. Namun, pada saat waktu yang disepakati tiba, Ingrid malah membatalkan janji.

Beberapa hari setelah itu, Sebastianlah yang kemudian menelepon Ingrid, mengajak bertemu. Meski sempat benar-benar bingung untuk mengiyakan, Ingrid akhirnya setuju untuk menemui Sebastian di hotelnya. Sesampainya di lobi hotel, Ingrid diajak Sebastian ke kamar hotelnya dengan alasan harus menyimpan barang-barang dan menunggu telepon teman yang akan mengajak menonton konser musik sesuai dengan janji pertemuannya dengan Ingrid. Meski serba salah, akhirnya Ingrid ikut ke kamar Sebastian. Di kamar itulah terjadi perbincangan yang manis di antara keduanya. Rencana menonton konser mereka batalkan dan mereka

menghabiskan waktu berbincang ke sana-ke mari di kamar hotel itu.

Sejak itulah hubungan Ingrid dan Sebastian makin dekat. Beberapa kali mereka menghabiskan waktu berbincang di kamar hotel Sebastian. Asmara telah mengikat mereka berdua hanya melalui percakapan, dansa, makan bersama, dan alunan musik. Tapi, mereka berdua sadar bahwa kemesraan itu hanya akan terjadi sekejap karena tidak berapa lama lagi istri Sebastian akan tiba di Jakarta sehabis liburannya di Jepang.

(43)

tidak menerima telepon dari Sebastian lagi. Apalagi dia terpaksa menahan kesedihannya setiap kali ada tugas dari kantor untuk meliput kehidupan Sebastian dan istrinya. Sebastian akan berpura-pura tidak mengenalnya dan diapun demikian. Ingrid makin tidak tahan dengan keadaan ini. Sampai akhirnya dia mendesak Sebastian untuk bertemu. Dalam pertemuan itu, Ingrid dan Sebastian makin dihadapkan pada kenyataan bahwa cinta mereka tidak mungkin bersatu. Masing-masing harus menanggung kesepian mereka sendiri-sendiri meski mereka saling mencintai.

Setelah itu, Ingrid pergi ke Bandung dengan kesadaran bahwa tidak seharusnya bercinta,

karena cinta adalah risau, risau adalah penderitaan, penderitaan adalah musnah, musnah adalah

kematian…

5.3.2.13 ESOK NAN JAUH (BEYOND TOMORROW)

Dua Jilid, 1974

Rafael Rinaldi, seorang mahasiswa arsitektur di Universitas Trisakti dan putra seorang pengusaha kaya, terpesona setengah mati pada dosen barunya yang masih muda dan cantik, Miss Sheila, yang mengajar mata kuliah bahasa Inggris, menggantikan dosen seniornya untuk

sementara. Pada suatu kesempatan yang tak terduga di sebuah komplek perbelanjaan, Rafael nekat mendekati Miss Sheila dan berterus-terang padanya bahwa dia menyukainya. Dengan tetap menjaga kewibawaannya sebagai dosen, Miss Sheila mengingatkan Rafael dengan halus dan tegas bahwa itu tidak pantas karena dia adalah dosennya.

Rafael malah makin penasaran dan tidak bisa melepaskan rasa terpesonanya. Pada

kesempatan lain, ketika dia diminta untuk menemani ayahnya menonton konser musik klasik, dia bertemu lagi dengan Miss Sheila. Di tempat itu, terbukalah sedikit masa lalu Miss Sheila. Pianis pada konser itu rupanya adalah mantan pacar Miss Sheila. Arthur namanya. Miss Sheila

(44)

Sejak kejadian itu, Miss Sheila memperlihatkan sikap tidak acuh pada Rafael. Rafael membalasnya dengan memanfaatkan Nancy, teman kuliahnya, untuk membuat cemburu Miss Sheila. Rafael berhasil, Miss Sheila memang pada akhirnya cemburu. Dia mengatakan terus-terang perasaan cemburunya pada Rafael dan pada suatu malam dia mengajak Rafael ke sebuah undangan pesta di rumah seorang Nyonya kaya. Di pesta itu, sambil berdasansa, Miss Sheila menceritakan penderitaannya pada Rafael. Dia sebenarnya sudah lama berpacaran dengan Arthur, tetapi ketika Arthur memintanya untuk menikah, Miss Sheila tidak segera bersedia. Dia lebih mendahulukan kesempatan mendapatkan kerja di sebuah perusahaan travel agent. Arthur kecewa dan pergi ke luar negeri. Miss Sheila menyesal dan berusaha mencari-cari Arthur mulai dari Canada, Amerika, sampai Jepang. Di Jepang barulah dia menemukan Arthur, tetapi ternyata dia sudah menikah. Cintanyapun patah, harapannya hancur. Sejak itu dia menenggelamkan diri dalam minuman keras. Ketika kemudian dia bisa keluar dari kecanduan minuman dan kembali ke Jakarta untuk mengajar, dia malah bertemu dengan Rafael yang di dalam bayangannya adalah bayangan Arthur. Itulah yang membuatnya kemudian seperti dikembalikan pada penderitaan masa lalunya.

Sepulang dari pesta, Rafael menginap di rumah Miss Sheila dan dalam pengaruh

minuman keras keduanya terjatuh dalam hubungan intim yang memang sudah mereka inginkan bersama. Namun, setelah kejadian itu, kembali Miss Sheila tak bisa ditemui. Dia berhenti mengajar dan menghilang entah di mana. Rafael sangat terpukul dan sejak itu tidak punya

motivasi lagi untuk apapun. Sampai suatu hari, setelah sekian lama, datang surat dari Sheila yang berisi permintaan maafnya telah meninggalkan Rafael dan mengatakan bahwa cintanya pada dasarnya telah hilang sejak dia kehilangan Arthur, dan Rafael hanyalah bayangan Arthur. Karena itu, dia tidak mungkin menerima cinta Rafael dan memohon pada Rafael untuk merelakannya pergi.

(45)

dengan Nancy sekarang, ada anaknya bersama Miss Sheila. Di dalam perkawinannya yang berbahagia bersama Nancy, Rafael tetap merasakan ada sesuatu yang hilang.

5.3.2.14CINTA PERTAMA (THE FIRST LOVE)

Empat Jilid, 1977

Fanny, seorang pelayan toko piringan hitam di Jakarta, harus berhenti untuk sementara dari pekerjaannya demi membawa neneknya ke daerah yang udaranya bersih agar penyakit asma neneknya tidak makin parah. Tinggallah mereka di daerah pegunungan yang masih tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Selain merawat neneknya, Fanny banyak menghabiskan waktu sambil membaca buku di bawah pohon di pinggir danau tidak jauh dari rumahnya dan menikmati rombongan belibis yang sering melintas dan bermain di danau itu. Dari danau itu, dia dapat melihat sebuah vila mewah di atas bukit yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Vila itu tampak selalu sunyi, hanya beberapa kali Fenny melihat pemiliknya yang sudah tua melintas dengan mobilnya di jalan raya yang melewati rumahnya.

Kehidupan Fanny yang meskipun sunyi tetapi tenang dan damai di daerah yang asri itu baru terasa hangat dan lebih bergairah ketika datang Felix, seorang pemuda putra pemilik villa itu yang baru datang dari studinya di London. Perkenalan mereka berdua terjadi dengan amat perlahan di tepi telaga. Pembicaraan mereka berlangsung dengan efektif, tetapi penuh upaya untuk meraih kedalaman hati. Cinta di antara mereka perlahan hadir di sela-sela perbincangan itu disaksikan oleh pemandangan alam yang indah.

(46)

dengan risiko sebesar itu bagi keluarga Felix. Maka, pada detik terakhir di stasiun kereta menuju Jakarta , dia mengurungkan niatnya menerima tawaran Felix untuk kabur ke Jakarta bersamanya. Dia kembali kepada neneknya, namun neneknya telah meninggal karena terpukul dengan

rencana kepergian Fanny.

Setelah beberapa bulan tanpa pertemuan dan kabar, Fanny kemudian tahu bahwa Felix akhirnya telah menikah dengan gadis jodohnya itu. Dia pun meninggalkan tempat penuh kenangan dengan telaganya itu dan bekerja kembali sebagai pelayan toko piringan hitam di Jakarta. Tiga tahun kemudian menjelang Natal, seorang pria mencari sebuah piringan hitam di tokonya. Pria itu adalah Felix. Mereka sempat berbincang di kamar putar pringan hitam. Betapapun mereka masih saling mencinta, keadaan sudah jauh berbeda. Mereka hanya bisa mengatakan, “Ini penghidupan manusia, selalu diawali dengan yang indah dan akhirnya semua akan luntur.”

5.3.2.15Sonata di Malam Sunyi

Tiga Jilid, 1978

Irma, seorang gadis yang baru saja lulus SMEA, tinggal untuk sementara di sebuah villa tempat ibunya bekerja bertahun-tahun sebagai pembantu rumah tangga dari pemilik villa, yaitu pasangan suami istri Charlie dan Silvie. Irma tidak menyangka bahwa kehadirannya akan mengubah kehidupan villa ini untuk selamanya. Pada pesta ulang tahun Charlie yang ke-31 semuanya bermula.

Charlie, seorang pengusaha muda yang sukses, mengundang rekan-rekannya dalam pesta ulang tahun di villanya yang bernama “Blue Moon”, sebuah villa di pinggir pantai. Irma, yang malam itu membantu ibunya, mulai menyadari bahwa di balik keriangan pesta itu rupanya tersembunyi kesedihan. Silvie, istri Charlie, hanya mengurung diri di kamar. Sudah lama dia menderita penyakit paru-paru. Dari ibunya, Irma juga mengetahui bahwa Charlie sebenarnya tidak mencintai istrinya.

(47)

Saat itu Irma tidak tahu bahwa si pemain biola adalah Charlie dan Charlie pun menyembunyikan identitasnya. Namun, pengakuan Charlie tentang kesedihan dirinya sudah diungkapkan dan Irma mulai terpikat, prihatin, dan simpati terhadap pemain biola yang melankolis ini.

Pertemuan di pantai itu menggelisahkan Irma. Apalagi ketika dia kemudian mengetahui dari foto di kamar Silvie bahwa si pemain biola itu tidak lain adalah Charlie sendiri. Irma tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sebenarnya telah jatuh cinta pada Charlie. Kegelisahannya makin bertambah ketika pada kesempatan bermain-main di pantai, Alex—pacar Jolanda, adik Charlie—justru menyatakan cintanya pada Irma. Alex mengaku pada Irma bahwa dia sebenarnya selama ini tidak mencintai Jolanda.

Irma makin tidak nyaman berada di villa itu dan ingin menginap di rumah temannya di kota untuk mencari pekerjaan. Ibunya melarang karena ternyata Charlie sudah memberikan lowongan pekerjaan untuk Irma sebagai sekretaris di perusahaannya. Irma tidak kuasa menolak. Hubungannya dengan Charlie pun makin dekat sampai akhirnya keduanya memang menyatakan cintanya. Sejak itu, Irma dan Charlie selalu bertemu secara sembunyi-sembunyi di pantai pada malam hari. Irma sudah menyadari bahwa dia memang tidak mungkin menikah dengan Charlie dan menerima saja kedudukannya sebagai kekasih gelap.

Hubungan gelap mereka perlahan-lahan terkuak. Jolanda mulai curiga, apalagi

(48)

5.3.3 Visualisasi “kegelisahan” dalam Cinta di Kota Urban

5.3.3.1 Mega

Persahabatan antara Masayu, Tiar dan Amran di desa (gambar a) ketika mereka masih remaja merupakan kenangan sekaligus mimpi bagi mereka bertiga (gambar d). Tiar, yang keluarganya kaya, tidak mempunyai kesulitan melanjutkan studi sampai ke universita,s bahkan keluar negeri, sedangkan Amran, yang tidak mempunyai orang tua dan hidup pas-pasan, mempunyai hasrat untuk menjadi orang kaya dan terpandang (gambar b). Ia juga ingin menyunting Masayu dengan menyediakan kehidupan yang nyaman. Masayu mencintai Amran, suatu cinta sejati mengingat Masayu harus menunggu Amran yang merantau ke Kalimantan untuk mencari uang. Orang tua Masayu menghadapi kesulitan uang, dan ayahnya juga meninggal dunia, sehingga Tiar dan orangtuanya membantu mereka membayar hutang-hutang keluarga. Meskipun Masayu tahu harus membalas budi, ia tetap menunggu Amran pulang. Karena itu, hubungannya dengan Tiar menjadi dingin (gambar c). Ketika ia mengetahui bahwa Amran pulang karena harus dihukum, maka Masayu melepas impian cinta sejatinya dan menikah dengan Tiar.

Gambar

Gambar a                                                          Gambar b
Gambar a                                                                 Gambar b

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas berkaitan dengan peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan

Hasil analisis kesesuaian indikator terhadap kriteria SMART-C pada Renstra Deputi SATN menunjukkan 13 dari 17 (76,47%) indikator telah memenuhi seluruh kriteria SMART-C

Berdasarkan hasil uji statistik chi- square didapatkan nilai p value = 0,842 lebih besar dari nilai α=0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara riwayat

Maka dari hal tersebut untuk membantu penentuan pemberian kredit dan menentukan calon nasabah maka di perlukan satu Sistem Pendukung Keputusan SPPK yang dapat melakukan

Dalam bab ini peneliti memberikan simpulan serta saran-saran yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan, yang nantinya saran tersebut diharapkan dapat

kontekstual peserta didik dapat menunjukkan sikap cermat dan teliti dalam menjelaskan konsep barisan aritmatika dan mampu menentukan nilai suku ke-n suatu

KESIMPULAN DAN SARAN Konsep sistem antrian yang dibangun adalah multi channel single server yaitu dalam satu multimedia queueing system akan diberikan 2 layanan yaitu

Lebih jauh lagi seorang bulonggo keluarga bukan hanya menjadi seorang yang bertugas membagi harta warisan saja, melainkan juga berfungsi sebagai penyelesaian