• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik Internasional RESPON DUNIA INT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Politik Internasional RESPON DUNIA INT"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

POLITIK INTERNASIONAL

Disusun Oleh :

Indra Aries Sandy (163112350740008)

RESPON DUNIA INTERNASIONAL TERHADAP KONFLIK ETNIS

ROHINGNYA

UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(2)

A. PENDAHULUAN

Penindasan yang dialami oleh etnis Rohingya telah berlangsung selama beberapa dekade, banyak faktor yang memicu adanya penindasan tersebut dan ada beberapa faktor juga yang membuat persoalan Rohingya sulit ditangani.

Rohingya merupakan nama sebuah etnis yang mendiami wilayah Arakan, sebelah barat Myanmar dan berbatasan langsung dengan Bangladesh. Etnis Rohingya merupakan satu dari 135 etnis yang ada di Myanmar. Etnis Rohingya mendapatkan predikat dari PBB sebagai the most persecuted minority dan mendapatkan julukan sebagai the Gypsies of Asia.1

Penindasan terhadap Rohingya di Myanmar 2016–2017 adalah tindakan kekerasan militer yang berlangsung oleh angkatan bersenjata dan kepolisian Myanmar terhadap Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine di wilayah barat laut negara itu.2

Tindakan keras militer terhadap orang Rohingya mengundang kecaman dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, kelompok hak asasi manusia Amnesty International, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dan pemerintah Indonesia dan Negara-negara lainnya. Kepala pemerintahan de facto Aung San Suu Kyi secara khusus telah dikritik karena tidak bertindak dan diam atas masalah ini dan melakukan sedikit tindakan untuk mencegah pelanggaran militer.

B. KAJIAN LITERATUR

Berikut beberapa literatur yang dapat menunjang makalah ini. Pertama, buku berjudul Protection of Refugees and Displaced Persons in the Asia Pacific Region :”perlindungan terhadap pengungsi dipengaruhi oleh pergeseran kekuatan global dan regional dalam menghadapi penegakan standar perlindungan pengungsi di wilayah Asia Pasifik”.3

Globalization and Human Rights : “masyarakat internasional harus menerima dan menghadapi situasi dimana negara banyak menjadi pelaku kekerasan terhadap hak keamanan warga negaranya sendiri serta terhadap hak sipil dan politik”.4

1 B. Philip, “The Most Persecuted Minority in the World: The Gypsies of Asia‟, The World Crunch (daring), 26 Juni 2012, dalam (http://www.worldcrunch.com/most-persecutedminority-world-gypsies-burma/world-affairs/the-most-persecuted-minority-in-the-world-thegypsies-of-burma/c1s5701/), diakses 24 Desember 2017 pukul 19:00. 2 https://id.wikipedia.org/wiki/Penindasan_terhadap_Rohingya_di_Myanmar_2016%E2%80%932017 diakses 24 Desember 2017 pukul 19:00

3 Angus Francis dan Rowena Maguire. 2013. Protection of Refugees and Displaced Persons in the Asia Pacific Region. Farnham: Ashgate Publishing

(3)

Responsibility to Protect – From Principle to Practice : “Dasar penanganan krisis kemanusiaan khususnya hak para pengungsi harus dihadapkan pada prinsip pertanggungjawaban negara yang tidak dijalankan secara maksimal. Selain negara, ASEAN sebagai organisasi regional juga memiliki tanggung jawab untuk menangani kasus pelanggaran HAM yang terjadi kawasan Asia Tenggara dengan mendasarkan pada prinsip Responsibility to Protect (R2P)”5

KERANGKA TEORI

Respon Internasional terhadap issue Hak Asasi Manusia (HAM) secara individu dan kelompok, PBB adalah pusat kegiatan dari gerakan hak asasi manusia (pace, 1998). dasar fokus atau perhatian adalah piagam PBB, yang menyentuh hak asasi manusia di beberapa tempat(elde,1998: Korey,1998), lebih spesifik adalah deklarasi universal tentang hak asasi manusia, yang diadopsi oleh majelis umum pada tahun 1984 dengan suara mendukung 48, 8 negara menentang dan 2 negara tidak hadir.

Women : sebagian besar perhatian hak asasi manusia dan beberapa upaya hak asasi manusia internasional yang paling kuat dalam beberapa tahun terakhir telah berfokus pada perempuan

Termasuk perlindungan terhadap : Anak-anak, Etnis, Ras, kelompok agama,penduduk asli(pribumi), pengungsi dan imigran.

C. POKOK MASALAH

Berdasarkan pendahuluan yang telah dipaparkan di atas oleh penulis, maka penelitian ini fokus pada pokok masalah, Apa reaksi atau respon dunia internasional dan organisasi negara kawasan Myanmar (ASEAN) dalam menghadapai krisis/konflik Etnis Rohingnya.

D. TUJUAN DAN URGENSI

Berdasarkan pada identifikasi masalah, maka tujuan yang dilakukan penulis sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui respon dunia internasional dan Negara kawasan terhadap Krisis HAM yang dihadapi Etnis Rohingnya di Myanmar.

E. PEMBAHASAN

Republik Persatuan Myanmar (juga dikenal sebagai Birma, disebut "Burma" di dunia Barat) adalah sebuah negara berdaulat di Asia Tenggara. Myanmar berbatasan dengan India dan Bangladesh di sebelah barat, Thailand dan Laos di sebelah timur dan

(4)

China di sebelah utara dan timur laut. Negara seluas 676.578 km² ini telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. Negara ini adalah negara berkembang dan memiliki populasi lebih dari 51 juta jiwa (sensus 2014). Ibu kota negara ini sebelumnya terletak di Yangon sebelum dipindahkan oleh pemerintahan junta militer ke Naypyidaw pada tanggal 7 November 2005. Myanmar telah bergabung sebagai anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sejak tahun 1997.6

Etnis Rohingya telah mendiami dua kota di utara negara bagian Rakhine , yang dulu dikenal dengan nama Arakan. Wilayah bagian barat Myanmar sejak abad ke-7 Masehi. Saat ini masih terdapat sekitar 600.000 orang Rohingya yang tinggal di Myanmar. Etnis Rohingya secara fisik, bahasa dan budaya lebih mendekati bangsa Asia Selatan, dan sebagian dari mereka adalah keturunan Arab, Persia, dan Pathan dan yang jelas mereka secara paras mirip dengan asia selatan pada umumnya7

Selama bertahun-tahun mereka mendapatkan perlakuan buruk dan diskriminatif dari Pemerintahan Myanmar, terlebih lagi paksa operasi Militer King Dragon, yang telah memaksa mereka mengungsi ke Bangladesh. Menurut data Amnesti Internasional pada periode 1991-1992, kurang lebih 250 ribu orang Rohingya mengungsi dan memasuki wilayah Bangladesh. Sedangkan menurut data UNHCR. Saat ini terdapat sekitar 28 ribu orang Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsi Bangladesh. Ironisnya etnis muslim Rohingya tersebut tidak diakui baik oleh Myanmar maupun Bangladesh sebagai warganya. Pemerintahan Myanmar menganggap orang Rohingya sebagai orang Bengali (Bangladesh) yang tinggal di Myanmar. Pemerintahan Junta Militer Myanmar menyatakan bahwa sekalipun mereka tinggal di Arakan, Myanmar, tetapi etnis Rohingya bukanlah rakyat Myanmar dan tidak termasuk dalam salah satu dari 135 kelompok etnis yang tergabung dalam Uni Myanmar. Pemerintahan Myanmar juga tidak mengakui kewarganegaraan mereka. Sehingga dapat dikatakan bahwa etnis Rohingya ini adalah orang-orang tanpa kewarganegaraan atau stateless8

Perhatian Dunia Internasional

6 https://id.wikipedia.org/wiki/Myanmar diakses 24 Desember 2017 pukul 19:00 7 https://id.wikipedia.org/wiki/Rohingya diakses 24 Desember 2017 pukul 19:00

(5)

Meskipun keadaan muslim Rohingya sudah sangat memprihatinkan sejak waktu yang lama, dunia Internasional selama ini terlambat memberikan respon, termasuk dunia Islam. Adapun jika mereka sudah memberikan pernyataan sikap, tetapi belum ada yang melakukan tindakan konkret dan sistematis untuk menyelesaikan akar persoalan.

Bangladesh sebagai negara terdekat dengan Rohingya merupakan negara yang mendapatkan banyak pengaruh dari kekerasan muslim Rohingya. Sejak tahun 1978, para pengungsi Rohingya sudah berdatangan ke negeri Bengali ini. Bahkan jumlah mereka sudah lebih dari 200.000 an. Adapun keadaanya adalah tinggal di tenda-tenda pengungsian dan keadaan mereka dalam keadaan yang sulit9

Adapun pada level organisasi Internasional, Organisasi Konferensi Islam (OKI) sudah menyikapi isu ini dengan mengeluarkan resolusi yang mengkritik junta militer Myanmar pada Juni 2000. Bahkan setiap tahun OKI sudah mengeluarkan statemen tentang isu Myanmar ini.

Salah satu upaya ASEAN adalah menggelar The ASEAN InterParliamentary Myanmar Caucus (AIPMC), komisi khusus yang dibentuk untuk menangani isu Myanmar. Pada pertemuan di Bali, AIPMC menghimbau Presiden Myanmar Thein Sein untuk melanjutkan tugasnya memajukan proses demokratisasi dan penegakan Hak Asasi Manusia di Myanmar

Kebijakan Luar Negeri Indonesia Pada Masa Jokowi

Pada Selasa 29 Agustus 2017 Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri. Menyatakan bahwa Indonesia mengecam serangan kelompok bersenjata kepada pos polisi dan fasilitas penampungan pengungsi di Maungtaw Rakhine State pada 25 Agustus 2017 yang telah mengharuskan ratusan orang mengungsi dan menyebabkan putaran kekerasan baru. Indonesia juga menyesalkan jatuhnya korban, baik korban jiwa maupun luka-luka. Indonesia mengharapkan Pemerintah Myanmar segera mengambil langkah-langkah untuk memulihkan keamanan dan memberikan perlindungan kemanusiaan secara inklusif. Indonesia akan melanjutkan kerja sama dengan Myanmar dalam proses rekonsiliasi, demokratisasi, dan pembangunan inklusif, termasuk upaya implementasi rekomendasi laporan Kofi Annan.

(6)

Selain itu salah satu kebijakan luar negeri Indonesia yang diterapkan Presiden Jokowi adalah dengan melepas 34 ton bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di perbatasan Myanmar Bangladesh dan itu dilakukan di Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur menggunakan empat pesawat Hercules. Bantuan ini bukanlah yang terakhir dan pemerintah terus menghimpun bantuan kemanusiaan untuk didistribusikan untuk ratusan ribu pengungsi Rohingya.10

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah bertemu dengan Aung San Suu Kyi untuk membicarakan upaya penyelesaian masalah Rohingya. Dalam pertemuan tersebut, Menlu menyerahkan Formula 4+1, yang isinya:11

1. Mengembalikan stabilitas dan keamanan

2. Menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan

3. Perlindungan kepada semua orang yang berada di negara bagian Rakhine, tanpa memandang suku dan agama

4. Pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan

F. PENUTUPAN

Persoalan Rohingnya merupakan isu serius dan merupakan salah satu tragedi kemanusiaan di era ini. Para penduduk muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga Negara di Myanmar, demikian juga di luar negeri, mereka menjadi masyarakat yang kehilangan identitas kewarganegaraannya. Padahal mereka tinggal di daerah Rakhine sudah sejak ribuan tahun yang lalu. Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai Negara baik secara individu maupun organisasi regional dan internasional sudah melakukan berbagai upaya intervensi yang terangkum dalam semangat Responsibility to Protect. Mereka mengklaim bahwa tragedi kemanusiaan Rohingya harus segera diselesaikan karena melukai nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan. Semangat ini pun sudah menjadi gerakan legal formal yang didukung oleh berbagai element Internasional. Hanya saja, langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah baik pada level bilateral, regional, maupun Internasional belum begitu terlihat. Berbagai upaya yang dilakukan masih lebih banyak bersifat normative.

10 Hendra Maujana Saragih, Indonesia dan Responsibility To Protect Etnis Muslim Rohingnya Myanmar, FOKUS : Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan vol. 2, no. 2, 2017 P3M Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup – Bengkulu Available online: http://journal.staincurup.ac.id/index.php/JF diakses pada tanggal 20 desember 2017 jam 19:18

(7)

G. DAFTAR PUSTAKA

Hendra Maujana Saragih, Indonesia dan Responsibility To Protect Etnis Muslim Rohingnya Myanmar, FOKUS : Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan vol. 2, no. 2, 2017 P3M Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup – Bengkulu Available online: http://journal.staincurup.ac.id/index.php/JF diakses pada tanggal 20 desember 2017 jam 19:18

B. Philip, “The Most Persecuted Minority in the World: The Gypsies of Asia , The World‟ Crunch (daring), 26 Juni 2012, dalam (http://www.worldcrunch.com/most- persecutedminority-world-gypsies-burma/world-affairs/the-most-persecuted-minority-in-the-world-thegypsies-of-burma/c1s5701/), diakses 24 Desember 2017 pukul 19:00. https://id.wikipedia.org/wiki/Penindasan_terhadap_Rohingya_di_Myanmar_2016%E2%8 0%932017 diakses 24 Desember 2017 pukul 19:00

https://id.wikipedia.org/wiki/Myanmar diakses 24 Desember 2017 pukul 19:00

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Setiap material sisa harus ditempatkan dilokasi yang ditentukan oleh PT PJB UP Gresik dan menjadi tanggung jawab pelaksana pekerjaan untuk proses merapikan atau

Budaya inovasi amat penting dalam usaha kerajaan memajukan negara, oleh itu beberapa pendekatan perlu dibuat untuk membina budaya inovatif bagi meningkatkan

Perkembangan zaman yang diiringi dengan perkembangan produk dan jasa di pasar membuat persaingan antar brand semakin ketat, terutama di industri gadget yang

Tingkat Pertumbuhan yang tinggi tersebut menunjukan bahwa Kota Bandung adalah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang penting di Jawa Barat maupun di

Bagi Guru Lembaga Sekolah Dasar Islam di Kota Banjarmasin yaitu sebagai sumbangsih dalam memahami masalah kepemimpinan di lembaga, budaya organisasi dan juga

Dikenal pula sebagai ordinary Portland Cement (OPC), merupakan semen hidrolis yang dipergunakan secara luas untuk  konstruksi umum, seperti konstruksi bangunan yang

Lalu pada Label B (blok kuning) muncul candle bullish dengan body yang kecil, dari bentuk candle tersebut B (blok kuning) muncul candle bullish dengan body yang