• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESIKO GAP PADA BANK BPR DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RESIKO GAP PADA BANK BPR DI INDONESIA"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

RESIKO GAP PADA BANK BPR DI INDONESIA

Fahmi, Yusfi Alfi

Universitas Trilogi

A. Latar Belakang

Gap Management adalah strategi untuk memaksimalkan net income margin (NIM) melalui siklus margin/bagi hasil. Strategi ini pada dasarnya meliputi komponen-komponen yang variable dan yang fixed sesuai dengan fase dan siklus margin/bagi hasil untuk mencapai profitabilitas yang optimal.

Terjadinya risiko atau diraihnya keuntungan dikaitkan langsung dengan terjadinya perubahanperubahan dinamis tingkat margin/bagi hasil. Keuntungan diperoleh jika bank berhasil meraih kinerja dan kondisi keuangan yang bagus, sehingga menghasilkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Sedangkan risiko yang dihadapi bank terjadi bila kurang berhati-hati, bank mengalami kondisi yang buruk sehingga menghadapi kemungkinan insolvensy.

Equity atau net aset merupakan selisih antara asets dan liabilities. Apabila harga pasar dari asets dan

liabilities berubah, perubahan itu dapat memengaruhi besaran modal. Bank dapat terlindung dari risiko tersebut bila dapat dicapai kombinasi dan komposisi yang paling tepat sesuai fluktuasi yang terjadi pada tingkat margin/bagi hasil antara asets dan liablities yang dalam perbankan konvensional dikenal dengan rate sensitive asets (RSA) dan rate sensitive liabilities (RSL).

B. Tujuan Penulisan

 Untuk mengetahui pengertian dari GAP/Mismatch

 Untuk Mengetahui Bagaimana pengukuran Gap Manajemen

(2)

C. Pembahasan

1. Pengertian GAP

Gap adalah perbedaan atau selisih antara asset yang sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Asset/RSA)

dengan Liability yang sensitif terhadap suku bunga (Rate Sensitive Liability/RSL).

Manajemen Gap adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (gap) antara asset dan

liability pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah dana, suku bunga, maturity atau

perpaduan ketiganya (mix mismatch).

2. Manajemen Gap

Bagi perbankan dewasa ini, manajemen gap adalah sangat penting, hal ini disebabkan oleh tingkat volatilitas

suku bunga yang sangat peka sekali terhadap perubahan. Dengan kondisi pekanya tingkat perubahan suku bunga ini,

dunia perbankan terutama dalam melakukan pengelolaan sumber dan penggunaan dananya atau Assets and Liability

Management sangat membutuhkan adanya suatu sistem yang dapat berfungsi dan berperan untuk melalukan monitoring

dan controlling pergerakan tingkat bunga yang sensitif.

3. Manajemen Gap Bertujuan Untuk :

- Menghindari kerugian akibat dari gejolak tingkat bunga,

- Mengusahakan pendapatan yang maksimal dalam batas risiko tertentu,

- Menunjang kebutuhan manajemen likuiditas,

- Mengelola resiko serendah mungkin,

- Menyusun struktur neraca yang dapat meningkatkan kinerja dengan tingkat suku bunga yang wajar.

4. Posisi Gap Terbagi Menjadi Tiga Dengan Kondisi Sebagai Berikut:

a. Posisi Zero Gap

Apabila jumlah (dalam uang) aktiva yang mengandung unsur-unsur sensitif terhadap perubahan tingkat bunga sama

dengan (equal) pasiva yang sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga.

Jadi : RSA = 1

RSL

Dengan demikian RSA : RSL sama dengan 1 (satu) akan menunjukan bahwa gap dalam kondisi zero (square).

b. Posisi Positive Gap

Apabila jumlah aktiva yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga lebih besar dari jumlah pasiva yang sensitif

terhadap perubahan tingkat suku bunga.

RSA > 1

RSL

Dengan demikian RSA : RSL akan lebih besar 1 (satu), ini berarti bahwa posisi gap dalam kondisi yang positif.

c. Posisi Negatif Gap

Apabila jumlah aktiva yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga lebih kecil dari pada jumlah pasiva yang

(3)

RSA < 1

RSL

Dengan demikian RSA : RSL akan lebih kecil dari 1 (satu), ini berarti posisi gap dalam kondisi yang negatif.

5. Pengukuran GAP

Pengukuran besarnya gap antara sisi aktiva dengan sisi pasiva diukur dengan menggunakan Interest maturity ladder,

yaitu berupa suatu tabel yang disusun dari aset dan liabilities yang dikelompokkan menurut periode peninjauan

bunganya. Besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari

perubahan tingkat bunga tersebut. Besarnya gap dapat berubah membesar atau mengecil karena transaksi-transaksi

yang dilakukan.

Contoh :

(dalam ribuan)

PROFIT

PERIOD

ASSET LIABILITIES GAP KUMULATIF

s.d 1 minggu 10.000 8.000 2.000 2.000

Berdasarkan contoh diatas , gap untuk periode s.d 1 minggu positif sebesar 2.000 juta, artinya RSA>RSL pada periode

ini. Dalam kondisi tingkat bagi hasil yang diterima bank menurun lebih cepat dari bagi hasil yang diterima bank

menurun lebih cepat dari bagi hasil yang diterima pada nasabah, sebaliknya apabila tingkat bagi hasil yang diterima

bank meningkat maka bank akan meraih keuntungan karena pendapatan meningkat lebih cepat dari bagian bagi hasil

yang diberikan pada nasabah. Dengan demikian, besarnya gap akan menetukan besarnya potensi keuntungan atau

kerugian yang akan timbul dari perubahan tingkat bagi hasil tersebut.

Besarnya gap dapat berubah membesar atau mengecil karena transaksi yang dilakukan, misalnya: jika bank menarik

dana berupa deposito berjangka 1 tahun kemidian ditanamkan pada pinjaman bagi hasil tetap dengan jangka waktu 30

hari, maka gap untuk periode 6-12 bulan akan berkurang dan gap untuk periode 8 hari-1 bulan akan bertambah.

6. Hambatan dalam Melakukan Gap Strategy

Dalam pelaksanaannya sangat sulit unutk matching (membuat seimbang) antara struktur interest sensitive asset

dengan interest sensitive liabilities, oleh karena kebijakan bank sulit untuk tidak memenuhi keinginan nasabah.

Bila kondisi suku bunga cenderung naik, maka bank akan menerapkan Positive Gap strategy, untuk langkah ini

dapat ditempuh dengan cara menigkatkan Rate Sensitive Assets dan mengurangi Rate Sensitive Liability atau melakukan

kombinasi keduanya. Sedangkan untuk menetapkan positive gap dapat dilakukan dengan cara menstimulir Borrower

atau Debitur untuk membayar bunga dengan cara Floating rate, sedangkan tingkat bunga Deposito Berjangka bunganya

(4)

cenderung naik tentu saja tidak akan mau melakukan pembayaran bunga pinjamannya secara floating rate dan menerima

hasil bunga deposito secara fixed rate.

7. Pengaruh Posisi Gap Terhadap Profitabilitas BANK

Menurut Veitzhal (2007:719) sebagai berikut :

Sensitivitas adalah kemampuan bank dalam mengantisipasi risiko pasar yaitu risiko kerugian yang mungkin

dihadapi bank karena adanya fluktuasi tingkat bunga atau fluktuasi nilai tukar. Bagi bank yang memiliki kemampuan

untuk mengantisipasi risiko maka bank tersebut mempunyai peluang untuk tetap bertahan dan memperoleh keuntungan

yang optimal.

Gap bisa dalam posisi nihil (zero), negatif, atau positif. Bila prediksi perubahan suku bunga tidak tepat, maka

posisi yang ditentukan bank akan menjadi sumber kerugian bagi bank, sebaliknya bila prediksi tepat maka bank dapat

menghindari kerugian bank akibat perubahan suku bunga pasar.

Pada posisi negative gap jika terjadi kenaikan suku bunga maka pendapatannya akan menurun, tetapi jika suku

bunga turun maka pendapatan bank akan naik. Pada posisi ini terjadi tolak belakang antara kenaikan suku bunga dengan

penurunan pendapatan.

D. Kesimpulan

Manajemen GAP adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (GAP) antara asset dan

liabilities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo

(maturity) atau perpaduan antara ketiganya (kesenjangan tercampur atau mix match). Atau dengan kata lain menejemen

GAP adalah upaya untuk mengatasi perbedaan (mismatch) antara asset sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Assets

/RSA) dan pasiva yang sensitive terhadap bunga (Rate Sensitive Liabilities/RSL).

Pengukuran besarnya gap antara sisi aktiva dengan sisi pasiva diukur dengan menggunakan Interest maturity

ladder, yaitu berupa suatu tabel yang disusun dari aset dan liabilities yang dikelompokkan menurut periode peninjauan

bunganya. Besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari perubahan

tingkat bunga tersebut.

E. Referensi

 Kizman, Z & Shintabelle Restiyanita, M. The Validity of Capital Assets Pricing Model (CAPM) and Arbitrage Pricing Theory (APT) in predicting the Return of Stocksnin Indonesia Stock Exchange. American

Journal of Economic, Finance and Management Vol. 1, No. 3, 2015, pp. 184 – 189

Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010),hal. 563.

 Ibid, hal. 564.

http//www.google.com. Dunia Manajemen: Manajemen Aset dan Liabilitas (ALMA). 1 Maret 2011.  Arviyan Arifin, Op. Cit, hal. 565.

Referensi

Dokumen terkait

The objective in dissolution is to find procedures which dissolve (as individual molecules) all of the starch in a sample (which might be, e.g., a whole cereal grain or a

Berdasarkan Berita Acara Hasil Pelelangan Nomor : 003/009/KLP-RSUD/BLUD/POKJA-I/2016 tanggal 22 Februari 2016, maka Pokja I Pengadaan Barang/Jasa Kantor Layanan Pengadaan Kabupaten

Dalam hal ini, untuk penggunaan secara offline pada aplikasi akan dibangun sebuah fitur Phrasebook yang berisi files kata umum yang sering digunakan pada

tanggal 22 Februari 2016., Maka Pokja II Pengadaan Barang/Jasa Kantor Layanan Pengadaan Kabupaten Musi Banyuasin Tahun Anggaran 2016 menyatakan PELELANGAN GAGAL dengan mengacu

No Indikator Kinerja Outcome Kondisi Awal Target 2017. Hasil

Jika remaja mampu menila menunjukkan motivasi belajar yan emosi dengan baik pula, begitu pu Berdasarkan hasil observasi, asuhan diperoleh keterangan bahw dalam bertanya

memperbaiki kualitas pembelajaran yang di lakukan di dalam kelas. 16) yang menyatakan bahwa “PTK merupakan suatu bentuk kajian reflektif oleh pelaku tindakan dan

i upaya yang dapat dilakukan siswa adalah berusaha untuk tid elakukan sesuatu yang tidak baik kepada orang tua atau ora ang diperoleh terungkap bahwa pada masalah ini sisw