• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kultur Strategis Metode Analisis dan Car

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kultur Strategis Metode Analisis dan Car"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Kultur Strategi: Metode Analisis dan Cara Penggunaannya

Kultur strategi digunakan untuk menganalisis atau meramalkan masalah dan kebijakan yang akan diambil oleh suatu negara dalam cakupan hubungan internasional. Hal ini berkaitan dengan definisi kultur strategis menurut Johnson (2006), bahwa kultur strategis adalah fenomena domestik yang merupakan kombinasi antara kultur nasional, proses kebijakan nasional, dan kultur organisasional. Kultur strategi mampu memberikan sudut pandang yang berbeda dibanding teori hubungan internasional yang klasik. Contohnya adalah meramalkan bahwa suatu negara akan mengambil keputusan yang rasional dalam kebijakannya. Namun kultur strategi menegaskan bahwa rasionalitas adalah culturally dependent atau tergantung pada nilai norma kultur masing-masing. Dalam hal ini, teori klasik dalam Hubungan Internasional tidak dapat digunakan untuk memahami apa yang mempengaruhi rasionalitas suatu negara. Salah satu poin penting dalam memahami kultur strategis menurut Johnston (1995) adalah menemukan preferensi suatu negara untuk mengambil suatu kebijakan. Momentum sejarah yang memunculkan urgensi atas pemahaman preferensi ini adalah era Perang Dingin, yang mana peneliti mencari kecenderungan Amerika Serikat maupun Uni Soviet yang kemudian lebih lanjut dilabeli sebagai kultur strategis negara.

(2)

banyak ditemukan kesesuaian dalam setiap periodesasi waktunya, maka semakin kuat sebuah kultur strategis suatu negara. Hal ini kemudian memunculkan perdebatan, bahwa sebuah kultur strategis merupakan pola yang secara langsung diturunkan, nilai atau pola lama yang digunakan kembali, perubahan dari pola sebelumnya, refleksi dari subkultur sebuah negara, atau non-existent atau kehampaan.

Lackman (t.t dalam Johnston 1995) mencontohkan beberapa objek pada suatu negara yang dapat dianalisis, diantaranya adalah dari segi hard power seperti ahli strategi, pemimpin militer, dan elit sekuritas nasional, hingga desain dan penyebaran senjata yang digunakan. Analisis konten secara mendalam harus bersifat eclectic atau berdasar dari berbagai sumber, karena metode yang berbeda dapat menghasilkan hasil yang berbeda. Perbedaan yang ada kemudian digunakan sebagai cross-check dalam menemukan kultur strategis suatu negara. Proses cross-check inilah yang kemudian disebut sebagai cognitive mapping dan analisis simbol (Johnston 1995). Metode kedua adalah cognitive mapping, yang mana cara kerjanya adalah bagaimana suatu kebiasaan dapat mendorong penentu kebijakan untuk mengambil suatu tindakan, kemudian menemukan keterkaitan antara bentuk kebijakan yang berbeda dan kepentingan yang ingin dicapai oleh suatu negara, baik dalam nilai positif atau negatif. Dapat dikatakan bahwa dalam metode inilah seorang peneliti dapat menerka tindakan atau kebijakan apa yang akan diambil suatu negara dalam sebuah isu.

(3)

Contohnya adalah analisis terhadap pernyataan "jika menginginkan perdamaian, maka bersiaplah untuk perang". Kedua, kata-kata kunci yang muncul untuk mewujudkan aksioma perilaku tertentu, atau yang digunakan untuk menggambarkan tindakan legal yang diarahkan pada pihak lawan. Contohnya adalah analisis terhadap terma "deterrence" atau pencegahan. Ketiga, analogi dan metafora yang berfungsi sebagai definisi singkat yang menggambarkan keadaan strategis. Contohnya adalah metafora Ratu Adil. Dapat dikatakan bahwa analisis simbol tidak dapat serta merta menentukan kultur strategis suatu negara. Johnston (1995) menekankan bahwa penggunaan simbol bisa jadi sama, namun makna terhadap simbol tersebut dapat berubah sesuai dengan konstelasi sosial-politik suatu negara. Oleh karena itu, dalam penggunaan metode analisis simbol dibuthkan pemetaan kognitif dan dikuatkan dengan metode analisis yang lain.

(4)

strategis yang berbeda, atau dalam masalah yang berbeda, dan tentunya dalam waktu yang berbeda. Kemudian langkah ketiga dalam mengkaji kesesuaian kultur strategis dengan preferensi kebijakan negara adalah membandingkannya dengan perilaku politik-militer. Diasumsikan bahwa isu keamanan dan stabilitas negara merupakan kepentingan utama suatu negara, sehingga penting untuk membandingkan antara kultur strategis dengan kebijakan politik-militer suatu negara.

Analisis kultur strategis telah digunakan oleh peneliti untuk membaca situasi hubungan internasional era kontemporer. Terdapat contoh penggunaan analisis kultur strategis yang sekaligus menunjukkan bagaimana praktik penggunaan analisis kultur strategis itu sendiri. Salah satunya adalah Willis Stanley yang telah melakukan analisis terhadap kultur strategis Iran dalam penelitiannya yang berjudul “The Strategic Culture of the Islamic Republic of Iran” pada tahun 2006. Dalam analisisnya, Stanley menunjukkan bagaimana sebuah analisis kultur strategis dilakukan. Pertama, Stanley menekankan gagasan bahwa luasnya analisis kultur strategis hanya dapat dikelola dan digunakan ketika diarahkan oleh pertanyaan tertentu. Hal ini penting untuk mempersempit analisis terhadap kultur strategis suatu negara. Stanley (2006 dalam Johnson 2006) menekankan analisisnya terhadap Weapons of Mass Desctruction (WMD) untuk menemukan kultur strategis Iran, sehingga analisis utamanya adalah bagian-bagian dari rezim yang secara langsung mengambil atau mempengaruhi keputusan WMD

(5)

percakapan pribadi, pelajaran di sekolah, karya seni dan simbol-simbol yang menghiasi tempat-tempat umum dan swasta, serta peristiwa sejarah traumatis yang dapat membentuk psikologi sosial suatu negara. Dapat dikatakan bahwa analisis kultur strategis merupakan analisis yang fokus dan mendalam terhadap suatu objek yang dipilih sebagai representasi kultur suatu negara.

Kultur strategis adalah mengenai konsistensi dan persistensi dalam masyarakat (Johnston 1995). Bagaimana kultur dapat mempengaruhi pola masyarakat, yang termasuk di dalamnya adalah bagaimana penentu kebijakan mengambil tindakan dengan konsisten dan persisten. Diasumsikan bahwa kultur strategis merupakan hal yang sulit dan lambat untuk berubah, maka kultur strategis dalam dilihat dalam suatu periode sejarah yang cukup panjang. Oleh karena itu, pendekatan komparatif menjadi penting untuk menemukan pola apa yang sebenarnya menjadi kultur strategis suatu negara. Analisis terhadap satu periode, isu, maupun konteks saja tidak dapat serta merta menentukan kultur strategis suatu negara. Dibutukan analisis dengan beberapa pilihan metode dan langkah untuk kemudian menemukan kultur strategis.

(6)

negara menyelesaikan suatu masalah. Terdapat satu perdebatan bahwa apakah kultur strategis memang benar-benar ada atau tidak. Dalam hal ini, penulis percaya bahwa kultur strategis ada yang berperan penting dalam arah kebijakan, serta bagaimana negara berinteraksi dengan negara lain, maupun dalam interaksi global.

Referensi:

Johnson, Jeannie (2006). “Strategic Culture: Refining the Theoretical Construct”, prepared for the Defense Threat Reduction Agency Advanced Systems and Concepts Office.

Referensi

Dokumen terkait

hidroxyapatit menggunakan Metode Hidrotermal suhu rendah mengatakan bahwa semakin lama waktu reaksi, maka semakin tinggi konsentrasi hidroxyapatit dengan batasan

Kondisi eksisting yang terletak di jalan Ahmad Yani Pontianak yang merupakan pusat Kota yang sudah digunakan untuk kawasan olahraga sebelumnya dirasa sangat

Gejala klinis serta pemeriksaan histopatologis berguna bila tidak ditemukan elemen jamur ataupun hasil kultur negatif seperti yang dijumpai pada kasus aktinomisetoma

memadukan antara unsur masyarakat pengguna (kelompok nelayan, pengusaha perikanan, dll) dan pemerintah yang dikenal dengan Co- management yang menghindari peran

Abdul, Majid, 2014, Pembelajaran Tematik Terpadu, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal.. Penggunaan metode inkuiri dalam pembelajaran IPA dapat membantu siswa dalam menemukan

Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring masukan dari unit kerja atas draf pola klasifikasi yang telah disusun oleh tim arsiparis di Arsip UGM, yang pada akhirnya para

Pengamatan pengendara dan pengguna jalan (penyeberang dan pengantar), pengadaan rambu dan marka ZoSS, evaluasi ZoSS project dan penyebaran kuesioner untuk mengetahui

 Luas area tangkapan air hujan (atap bangunan), intensitas curah hujan, dan ketersediaan lahan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan rainwater harvesting