• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK TER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK TER"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK

TERHADAP PRODUKSI KACANG HIJAU (Vigna radiata L)

Oleh: Meiyana Hikmawati

Fakultas Pertanian Universitas Soerjo Ngawi

A. ABSTRACT

The objectives of this research is the effect of range and fertilizer dosage on the yield of green pea’s (Vigna radiata L).

The method of the research use factorial design based on the Randomized Block Design with two factors of treatment. The first factor was range of green

pea’s (40x20 cm, 35x20 cm and 30x20 cm) and second factor was khalium

feltilizer dosage (non feltilizer, 100 kg and 200 kg) and each kombination of treatment three times replicated.

The result of the research : (1) There was interaction between range and fertilizer dosage (khalium). (2) The highest yield was treatment combination K3J3 for all parameter.

B. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Peranan Kacang Hijau

(Vigna radiata L) dalam

memenuhi permintaan kebutuhan masyarakat menduduki tempat ketiga dari tanaman kacang-kacangan di Indonesia, setelah kedelai dan kacang tanah. Tanaman ini dikenal sebagai salah satu tanaman leguminoceae yang cukup penting, tetapi sampai saat ini perhatian masyarakat terhadap budidaya tanaman kacang hijau masih kurang. Kurangnya perhatian ini diantaranya disebabkan oleh karena panen kacang hijau harus

dilakukan beberapa kali sehingga petani beranggapan menanam kacang hijau dianggap kurang efektif (Soeprapto, 2000).

(2)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) adalah masih sedikitnya petani

yang menggunakan pupuk anorganik dan seringkali petani menanam kacang hijau tanpa pengolahan tanah dan menabur benih secara acak. Disinyalir pada daerah bagian barat dari propinsi di Jawa Timur dimulai dari Ponorogo, Madiun, Magetan dan Ngawi banyak dipenuhi adanya serangan penyakit kuning pada tanaman kacang-kacangan. Penyakit tersebut diidentifikasi kekurangan kalium (Sumarno, 1986).

Pada umumnya daerah tersebut tingkat kesuburan tanahnya mulai menurun, sehingga pemberian pupuk organik sangat penting untuk meningkatkan kesuburan tanah. Usaha untuk meningkatkan produksi kacang hijau dapat ditempuh melalui perbaikan tehnik budidaya diantaranya melalui pengaturan jarak tanam dan pemupukan kalium. Seperti tanaman kacang-kacangan lain, tanaman kacang hijau dapat mengikat N dari udara sehingga kebutuhan akan hara nitrogen bagi tanaman dapat dipenuhi (Anonim, 1983). Pupuk yang sangat diperlukan adalah kalium (K2O) terutama pada fase pertumbuhan dan pembentukan biji, sedangkan untuk pengaturan jarak tanam supaya pertumbuhan tanaman lebih baik. Pemberian kalium (K2O) pada kacang hijau

dengan dosis yang tepat diharapkan mampu berperan dalam merangsang dan mempercepat pembentukan akar, pembungaan dan pemasakan biji, serta penyusunan lemak dan protein. Pemakaian kalium 120 kg/ha mampu menghasilkan 1,4 ton/ha biji kering atau meningkatkan produksi 35 % dibandingkan tanpa pupuk (Sujamto, dkk 1986). Disamping itu dengan pengaturan jarak tanam diharapkan berpengaruh terhadap peningkatan produksi kacang hijau. Pemakaian jarak tanam 30 cm x 20 cm dengan 2 biji per lubang menghasilkan produksi yang optimal/ha biji kering (Ir. Suprapto HS, Ir. Tatang Sutarman, 1986) Beberapa tipe jarak tanam yang dipakai antara lain : 40 cm x 20 cm, 35 cm x 20 cm, 30 cm x 20 cm dan sebagainya. Pada jarak tanam yang lebar pertumbuhan lebih cepat dibandingkan pada jarak tanam yang sempit. Hal ini disebabkan karena terjadi perebutan unsur hara dalam tanah dan sinar matahari dalam proses fotosintesis.

2. Tujuan Penelitian Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk terhadap produksi kacang hijau (Vigna radiata L).

(3)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) Hipotesa dalam penelitian

ini adalah :

Terdapat interaksi antara jarak tanam dan dosis pupuk terhadap produksi kacang hijau (Vigna radiata L).

C. TINJAUAN PUSTAKA 1. Botani Kacang Hijau

Kacang hijau termasuk tanaman satu musim, famili

Leguminosae, sub famili

Papilonaceae. Kacang hiaju

(Vigna radiata ) yang juga disebut Phaceolus vulgaris juga dikenal sebagai green gram, golden gram, mungo dan mung (Samuel, 1974 dalam Suprapto HS dan Tatang Sutarman, 1986). Tinggi tanaman dari varietas yang berbeda, bervariasi antara 30-110 cm. Umur kacang hijau berkisar 50-120 hari, tergantung dari lamanya penyinaran dan temperatur sekitar tanaman ini tumbuh.

Tanaman ini berbatang tegak dengan cabang menyebar. Daun bertangkai tiga, dengan bunga berwarna kuning. Polong mempunyai 6-16 biji yang berbentuk bulat agak memanjang. Umumnya lebih kecil dibanding dengan biji kacang-kacangan lainnya.

Warna biji pada beberapa varietas biasanya hijau, tetapi ada juga yang coklat atau kekuning-kuningan. Kacang hijau mempunyai akar dengan

cabang-cabang sempurna dan meluas. Umur varietas berbeda-beda antara satu dengan lainnya, daya produksinya juga berbeda-beda walaupun ditanam dalam lingkungan yang sama. Dalam lingkungan yang baik, produksi maksimum mencapai 2500-2800 kg/ha (Samuel 1974 dalam Suprapto HS dan Tatang Sutarman, 1986).

2. Peran Pupuk Kalium bagi Produksi Tanaman Kacang Hijau

Pupuk kalium dibutuhkan dalam jumlah cukup besar oleh tanaman selama masa vegetatif, kemudian agak menurun sesudah biji mulai terbentuk dan akhirnya penyerapan hampir tidak terjadi kira-kira dua sampai tiga minggu sebelum biji masak penuh (Soeprapto, 2000). Bila kandungan P dan K dalam tanah tinggi maka PH diatas 6, aktifitas bakteri ryzobium pada perakaran tanaman leguminoceae sangat bagus.

(4)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) berpengaruh terhadap produksi

tanaman pangan, baik kwantitas maupun kwalitas (Anonim, 1988).

Menurut Suriatna, (1987), fungsi kalium adalah memacu pertumbuhan tanaman tingkat permulaan, memperlancar proses fotosintesis, memperkuat ketegaran batang sehingga mengurangi resiko rebah, mengurangi membusuknya produksi selama dalam pengangkutan dan penyimpanan, memperbaiki mutu produksi yang berupa bunga dan buah, serta menambah daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit.

Kekurangan kalium akan menampakkan gejala-gejala seperti : bercak-bercak dan keriput daun. Bercak-bercak ini meliputi seluruh permukaan daun kecuali pada tulang daun dan selanjutnya daun berkeriput mengering (Syarif, 1986 dalam Tribowo, 1996). Selanjutnya Dwijo Saputro, (1989) berpendapat, gejala yang nampak pada tanaman yang mengalami defisit kalium adalah daun menjadi kuning, ada noda-noda jaringan yang mati di tengah-tengah lembaran atau sepanjang tepi daun, pertumbuhan terhambat dan batang kurang kuat, sehingga batang mudah terpatahkan oleh angin.

Kekurangan kalium ini juga dapat menyebabkan akar menjadi busuk dan menstimulasi absorbsi hara besi dalam jumlah yang terlalu banyak, sehingga tanaman menjadi sakit karena keracunan besi (Anonim, 1988). Lebih lanjut dinyatakan Buckman dan Brady 1969, dalam Tribowo 1996, bahwa kalium cenderung menghalangi efek rebah tanaman dan melawan efek buruk yang disebabkan oleh terlalu banyak nitrogen. Dengan tersendatnya pemasukan kalium bekerja berlawanan dengan pengaruh kematangan yang disebabkan oleh phosphor. Pupuk kalium berperan lebih besar dari pada N,P,K dan S dalam peningkatan produksi kacang hijau. Pemupukan 22,5 kg N ditambah 120 kg K2O mampu menghasilkan 1,4 ton/ha biji kering kacang hijau atau meningkatkan produksi 35 % dibanding perlakuan tanpa pupuk (Sujamto, dkk 1986).

3.Peranan Jarak Tanam bagi Pertumbuhan dan Produksi Kacang Hijau

(5)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) tiap satuan luas yang tinggi

tercapai dengan populasi yang tinggi pula, karena tercapainya penggunaan cahaya secara efisiensi menurun, karena persaingan untuk memperoleh cahaya dan faktor-faktor tumbuh lainnya. Tanaman memberi respon dengan mengurangi ukuran baik pada seluruh tanaman maupun bagian-bagian tanaman seperti cabang, umbi, atau polong. Jarak tanam optimal ditentukan oleh pertimbangan ekonomi dalam menentukan keuntungan

optimum (Setyati,

1979).Menurut Setyati, 1979, jarak tanam harus diusahakan teratur agar tanaman memperoleh ruang tumbuh yang baik. Pengaturan jarak tanam erat hubungannya dengan persaingan antar tanaman untuk mendapatkan unsur hara, air dan cahaya. Jarak tanam yang optimum dipengaruhi oleh faktor varietas dan musim tanam. Dari hasil percobaan jarak tanam 30 cm x 20 cm dengan 2 biji per lubang merupakan jarak tanam yang memberikan produksi tertinggi (Suprapto HS dan

Penelitian ini dilaksanakan di desa Paron, kecamatan Paron,

kabupaten Ngawi. Pelaksanaan dimulai pada bulan Agustus 2011 sampai dengan Oktober 2011.

2. Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang digunakan adalah : Benih kacang hijau (varietas Sampiong), pupuk KCl (52%-55% K2O) sebagai sumber kalium, pupuk urea (45% N) sebagai pupuk dasar dan jarak tanam yang digunakan yaitu : 40 cm x 20 cm, 35 cm x 20 cm dan 30 cm x 20 cm. Sebagai pencegahan terhadap serangan hama dan penyakit digunakan insektisida Kanon 400 EC untuk pengendalian hama, dosis yang digunakan 2-3 liter per hektar dengan volume semprot 400-500 liter per hektar.

Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : timbangan, hand sprayer, penggaris, alat pengukur kadar air biji (cera tester).

3.Metode Penelitian

(6)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) 2. Jarak tanam

J1 : 40 x 20 cm J2 : 35 x 20 cm J3 : 30 x 20 cm

Percobaan ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) diulang tiga kali. Kombinasi perlakuan yang diperoleh sebanyak Sembilan macam kombinasi yaitu :

K1J1 : Tanpa pupuk, Jarak dilakukan dengan mencangkul tanah sedalam 25-30 cm sebanyak dua kali agar diperoleh struktur tanah yang gembur. Kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 2 x 1 meter efektif dengan ketinggian 20 cm,

jarak antar petak 30 cm dan jarak antar ulangan 70 cm dengan jumlah petak keseluruhan sebanyak 27 petak.

Persiapan benih

Benih yang digunakan dalam penelitian dipilih yang seragam besarnya dan sebelum ditanam benih dicampur dahulu dengan pestisida Rendomil sebagai pencegahan terhadap serangan semut.

Penanaman

Benih ditanam dengan cara ditugal sedalam 2 cm dan setiap lubang ditanam dua benih, kemudian ditutup dengan tanah yang gembur dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, 35 cm x 20 cm, 30 cm x 20 cm. Pemberian pupuk KCl ditanam dicampur dahulu dengan pupuk dasar dan diberikan sesuai dengan perlakuan yang telah ditentukan tiap petak. Untuk menjaga tanah selalu dalam keadaan basah, maka petakan selalu diberi air secukupnya agar benih dapat berkecambah.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman terdiri dari beberapa tahap yaitu : Penyiraman diberikan dua kali, umur dua minggu setelah tanam dan dua minggu sebelum panen terutama saat pembungaan dan pembentukan biji tanaman.

(7)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) (45% N) dan TSP (46-48%

P2O5) masing-masing 50 kg/ha, serta pupuk KCl (52-55% K2O) sebagai sumber kalium sekaligus sebagai perlakuan.

Penyiangan tanaman dilakukan pada waktu tanaman umur 20 hari bersama dengan pembumbunan.

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan prinsip PHT dan memakai pestisida yang sesuai yaitu : Kanon 400 EC dengan dosis 10 liter air setiap 1 kali penyemprotan dan pelaksanaan pemberantasan hama dan penyakit dilakukan 3 kali.

Panen menghitung daun yang membuka sempurna.

3. Jumlah cabang, dengan menghitung cabang yang produktif.

Pengamatan produksi tanaman meliputi :

4. Jumlah polong pertanaman, dengan cara menghitung jumlah polong pertanaman sampel.

5. Jumlah polong isi pertanaman, dengan cara menghitung jumlah polong isi pertanaman sampel. 6. Panjang polong (cm), diukur

pada polong yang terpanjang tiap tanaman. dilakukan dengan cara menimbang biji (gr) dari sampel yang sudah kering. E. HASIL DAN

PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm)

(8)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) Hasil uji Duncan’s test 5%

menunjukkan pengaruh perlakuan dosis KCl terhadap rata-rata tinggi tanaman pada perlakuan K3 (200 kg KCl/ha) memberikan rata-rata tertinggi dan tidak beda nyata dibanding dengan K2 (100 kg KCl/ha) dan K1 (tanpa pemberian KCl) pada umur pengamatan 10 hari setelah tanam. Pada

perlakuan jarak tanam menunjukkan bahwa perlakuan J2 (jarak tanam 35 x 20 cm) memberikan rata – rata tertinggi (9,82 cm) dan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan J1 (jarak tanam 40 x 20 cm) yaitu (9,70) dan perlakuan J3 (jarak tanam 30 x 20 cm) yaitu

(9,80) (tabel 1).

Tabel 1. Pengaruh Dosis Pupuk dan Jarak Tanam terhadap rata-rata tinggi tanaman Kacang Hijau.

Perlakuan Rata – Rata Tinggi Tanaman 10 Hst

K1 9,70 a

K2 9,80 a

K3 9,81 a

Duncan’s test 5%

J1 9,73 a

J2 9,82 a

J3 9,80 a

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5% )

Hasil uji Duncan’s test 5% menunjukkan adanya beda nyata antara perlakuan dosis KCl dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman pada umur pengamatan 17, 24, 31, 38, dan 45 hari setelah tanam (tabel 2). Kombinasi perlakuan dosis 200 kg KCl/ha dan jarak tanam 30 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J3) mempunyai tinggi tanaman paling baik atau rata-rata tertinggi (15,88) pada umur 17

hari setelah tanam, (17,88) pada umur 24 hari setelah tanam, (21,90) pada umur 31 hari setelah tanam, (30,40) pada umur 38 hari setelah tanam, dan (40,70) pada umur 45 hari setelah tanam bila dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya(tabel 2).

(9)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) pemupukan dengan KCl.

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh auxin yang berada pada titik tumbuh tanaman, yang membutuhkan sinar matahari. Pada perlakuan jarak tanam yang lebih rapat, menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak kearah samping tetapi cenderung ke atas. Hal ini disebabkan karena kompetisi tanaman untuk mendapatkan cahaya matahari, terbukti tinggi tanaman pada perlakuan jarak

tanam yang rapat menunjukkan pertumbuhan paling tinggi. Pada fase vegetatif tanaman terjadi pada perkembangan akar, daun, dan batang. Sehingga pada fase ini sangat berhubungan dengan tiga proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan deferensiasi sel yang menyebabkan tinggi pada tanaman kacang hijau semakin meningkat (Soetiarti S. Hartono dkk. 1984).

Tabel 2. Pengaruh Dosis Pupuk dan Jarak Tanam terhadap rata – rata tinggi tanaman Kacang Hijau.

Perlakuan

Rata – Rata Tinggi Tanaman

17 Hst 24 Hst 31 Hst 38 Hst 45 Hst

K1J1 13,10 e 14,20 de 17,80 c 22,30 f 31,30 e

K1J2 13,14 e 14,50 c 17,83 c 23,80 e 33,70 d

K1J3 13,70 d 13,80 e 15,60 de 29,00 b 37,80 b

K2J1 11,54 g 13,34 f 16,30 d 26,20 d 33,50 d

K2J2 13,54 d 14,48 d 15,50 e 27,30 c 34,90 c

K2J3 12,30 f 12,80 f 15,90 de 29,20 b 40,60 a

K3J1 15,20 b 16,48 b 17,40 c 26,20 d 32,90 d

K3J2 14,57 c 16,34 b 21,10 b 26,50 cd 35,90 c

K3J3 15,88 a 17,88 a 21,90 a 30,40 a 40,70 a

Keterangan: Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata ( Duncan’s Test 5 % )

2. Jumlah Daun. Hasil sidik ragam

(10)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) jumlah daun kacang hijau

pertanaman pada umur pengamatan 24, 31, dan 38 hari setelah tanam tidak terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan dosis Pupuk dengan jarak tanam. Selanjutnya pada pengamatan umur 45 hari setelah tanam terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan dosis KCl dengan jarak tanam.

Berdasar hasil sidik ragam, menunjukkan bahwa jumlah

daun pertanaman di pengaruhi oleh perlakuan dosis Pupuk (faktor K) memberikan pengaruh beda sangat nyata pada umur pengamatan 24 dan 38 hari setelah tanam dan memberikan pengaruh tidak beda nyata pada umur pengamatan 31 hari setelah tanam. Selanjutnya perlakuan jarak tanam (faktor J) memberikan pengaruh tidak beda nyata pada umur pengamatan 24, 31, dan 38 hari setelah tanam.

Tabel 3. Pengaruh Dosis Pupuk dan Jarak Tanam terhadap rata – rata jumlah daun

Perlakuan Rata – Rata Jumlah Daun

24 Hst 31 Hst 38 Hst

K1 8,33 b 14,31 b 15,84 b

K2 9,00 b 14,42 b 16,58 a

K3 9,56 a 14,73 a 16,33 b

Duncan’s test 5 %

J1 8,80 a 14,38 a 16,07 a

J2 8,87 a 14,42 a 16,33 a

J3 9,22 a 14,67 a 16,36 a

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5% )

Hasil uji Duncan’s test 5% menunjukkan pengaruh perlakuan dosis KCl (faktor K) terhadap rata – rata jumlah daun pertanaman pada perlakuan K3 (200 kg KCl/ha) memberikan rata – rata tertinggi dan berbeda nyata dibanding perlakuan K1 (tanpa KCl) dan K2 (100 kg KCl/ha) pada pengamatan umur 24 dan 31 hari setelah tanam

(11)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) jarak tanam J3 (30cm x 20cm)

mempunyai jumlah daun rata-rata tertinggi dan tidak beda nyata bila dibandingkan dengan perlakuan J1 (40cm x 20cm) dan perlakuan J2 (35cm x 20cm) (tabel 3).

Hasil uji Duncan’s test 5% menunjukkan adanya beda nyata antara perlakuan dosis KCl dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan jumlah daun pertanaman pada umur

pengamatan 45 hari setelah tanam (table 4) .Kombinasi perlakuan dosis 200 kg KCl/ha dan jarak tanam 40 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J1) mempunyai jumlah daun paling banyak atau rata-rata tertinggi (23,4), pada kombinasi perlakuan dosis 0 kg KCl/ha dan jarak tanam 40 cm x 20 cm pada perlakuan (K1J1) mempunyai hasil rata-rata terendah (21,0) (tabel 4).

Tabel 4. Pengaruh Dosis Pupuk dan Jarak Tanam terhadap rata – rata jumlah daun pertanaman pada umur pengamatan 45 hst.

Perlakuan Rata – Rata Jumlah Daun 45 Hst

K1J1 21,0 c

K1J2 21,8 bc

K1J3 22,2 b

K2J1 21,4 bc

K2J2 21,6 bc

K2J3 21,6 bc

K3J1 23,4 a

K3J2 21,8 bc

K3J3 21,2 c

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5%)

Pengaruh jarak tanam dengan jumlah daun pertanaman adalah pada jarak tanam yang lebar, kompetisi tanaman untuk memperoleh cahaya, unsur hara dan air semakin kecil, artinya faktor tersebut diatas digunakan secara efektif oleh tanaman sehingga pertumbuhan tanaman

meningkat. Hal ini akan mendorong tanaman untuk tumbuh cabang lebih banyak atau dengan kata lain daun pun akan tumbuh lebih banyak.

3. Jumlah Cabang.

(12)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) pertanaman pada umur

pengamatan 52 dan 71 hari setelah tanam terjadi interaksi

antara kombinasi perlakuan dosis KCl dengan jarak tanam.

Tabel 5. Pengaruh Dosis Pupuk dan Jarak Tanam terhadap rata – rata jumlah cabang pertanaman.

Perlakuan Rata – Rata Jumlah Cabang

52 Hst 71 Hst

K1J1 7,07 bc 7,20 ab

K1J2 6,20 c 6,20 d

K1J3 6,20 c 6,27 cd

K2J1 6,67 bc 6,80 bc

K2J2 6,20 bc 6,40 cd

K2J3 7,00 bc 7,00 ab

K3J1 7,33 a 7,33 a

K3J2 6,80 bc 6,80 bc

K3J3 7,07 b 7,00 ab

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5%)

Hasil uji Duncan’s test 5% menunjukkan adanya beda nyata antara perlakuan dosis KCl dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan jumlah cabang pertanaman pada umur pengamatan 52 dan 71 hari setelah tanam (tabel 5). Kombinasi perlakuan dosis 200 kg KCl/ha dan jarak tanam 40 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J1) mempunyai jumlah cabang paling banyak atau rata-rata tertinggi (7,33) pada umur 52 hari setelah tanam dan (7,33) pada umur 71 hari setelah tanam bila dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya (tabel 5).

Berdasar hasil tabel diatas faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Kondisi demikian ini disebabkan karena pengaruh dari jarak tanam yang rapat dan dosis pemupukan, dimana peranan KCl lebih sangat nyata bila dibandingkan dengan tanpa dipupuk.

(13)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) Hasil uji Duncan’s test 5%

menunjukkan adanya beda nyata antara perlakuan dosis KCl dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan jumlah polong pertanaman pada umur pengamatan 71 hari setelah tanam (tabel 6). Kombinasi perlakuan dosis 200 kg KCl/ha dan jarak tanam 40 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J1) mempunyai jumlah polong

pertanaman paling banyak atau rata-rata tertinggi (40,0) pada umur 71 hari setelah tanam dan kombinasi perlakuan dosis 0 kg KCl/ha dan jarak tanam 35 cm x 20 cm pada perlakuan (K1J2) mempunyai jumlah polong pertanaman rata-rata terendah (28,0) pada umur 71 hari setelah tanam (tabel 6).

Tabel 6. Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata – rata jumlah polong pertanaman

Perlakuan Rata – Rata Jumlah Polong 71 Hst

K1J1 28,6 e

K1J2 28,0 f

K1J3 30,0 c

K2J1 30,1 c

K2J2 29,2 d

K2J3 34,4 b

K3J1 40,0 a

K3J2 30,0 c

K3J3 30,0 c

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5%).

Berdasar hasil tabel diatas, faktor lingkungan tumbuh suatu tanaman sangat berpengaruh dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Kondisi ini disebabkan karena pengaruh dari jarak tanam yang rapat dan dosis pemupukan, dimana peranan KCl lebih sangat nyata bila dibandingkan dengan tanpa dipupuk.

5.Jumlah Polong Isi Pertanaman

(14)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) Hasil uji Duncan’s test 5%

menunjukkan adanya beda nyata antara perlakuan dosis KCl dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan jumlah polong isi pertanaman pada umur pengamatan 71 hari setelah tanam (tabel 7). Kombinasi perlakuan dosis 200 kg KCl/ha dan jarak tanam 40 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J1)

mempunyai jumlah polong isi paling banyak atau rata-rata tertinggi (18,2) pada umur 71 hari setelah tanam dan kombinasi perlakuan dosis 200 kg KCl/ha dan jarak tanam 30 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J3) mempunyai jumlah polong isi rata-rata terendah (15,4) pada umur 71 hari setelah tanam (tabel 7) .

Tabel 7. Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata – rata jumlah polong isi pertanaman

Perlakuan Rata – Rata Jumlah Polong isi 71 Hst

K1J1 17,2 b

K1J2 17,0 b

K1J3 16,2 c

K2J1 17,8 a

K2J2 16,0 c

K2J3 16,0 c

K3J1 18,2 a

K3J2 16,4 c

K3J3 15,4 d

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5%).

Berdasar hasil tabel diatas pertumbuhan tanaman pada jarak tanam yang lebar akan memberikan ruang tumbuh yang baik.

6.Panjang Polong Pertanaman (cm)

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa rata-rata panjang polong pertanaman kacang hijau pada umur

pengamatan 78 hari setelah tanam terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan dosis KCl dengan jarak tanam.

(15)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) tanam (tabel 8). Kombinasi

perlakuan dosis 200 kg KCl/ha dan jarak tanam 40 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J1) mempunyai panjang polong

paling baik atau rata-rata tertinggi (9,4 cm) pada umur 78 hari setelah tanam dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya (tabel 8).

Tabel 8. Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata – rata panjang polong pertanaman

Perlakuan

Rata – Rata Panjang Polong (cm)

78Hst

K1J1 8,4 c

K1J2 8,8 bc

K1J3 8,6 c

K2J1 9,2 ab

K2J2 8,4 c

K2J3 8,4 c

K3J1 9,4 a

K3J2 8,8 bc

K3J3 8,4 c

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5%).

7.Berat Polong Basah Perpetak (gr)

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa rata-rata berat polong basah perpetak kacang hijau pada umur pengamatan 78 hari setelah tanam terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan dosis KCl dengan jarak tanam.

Hasil uji Duncan’s test 5% menunjukkan adanya beda nyata antara perlakuan dosis KCl dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan berat polong basah

(16)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) Tabel 9. Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata – rata berat

polong basah perpetak.

Perlakuan

Rata – Rata

Berat Polong Basah Perpetak 78 Hst

K1J1 573,70 f

K1J2 541,53 h

K1J3 523,43 i

K2J1 570,00 g

K2J2 597,27 d

K2J3 585,40 e

K3J1 804,17 b

K3J2 742,80 c

K3J3 811,03 a

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5%).

Berdasar tabel diatas berat polong basah pada perlakuan K3J3 lebih tinggi disebabkan pengaruh pemberian pupuk KCl , yang mana Kalium berperan dalam metabolisme air dalam tanah, mempertahankan turgor, membentuk batang yang lebih kuat dan berpengaruh terhadap produksi. Disamping itu Kalium dapat berpengaruh terhadap photosintesis dan pernafasan serta mempengaruhi metabolisme tanaman dalam

pembentukan karbohydrat dan aktivitas enzim , oleh karena itu Kalium sangat berpengaruh terhadap produksi tanaman pangan, baik kwantitas maupun kwalitas ( Anonim, 1988 ).

8.Berat Polong Kering Perpetak (gr)

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa rata-rata berat polong kering perpetak kacang hijau terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan dosis KCl dengan jarak tanam.

Tabel 10. Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata – rata berat polong kering perpetak.

Perlakuan Rata – Rata

Berat Polong Kering Perpetak (gr)

K1J1 516,40 c

(17)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l)

Perlakuan Rata – Rata

Berat Polong Kering Perpetak (gr)

K1J3 472,15 d

K2J1 513,20 c

K2J2 537,10 b

K2J3 526,87 c

K3J1 723,46 a

K3J2 651,42 b

K3J3 728,82 a

Keterangan : Angka – angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s test 5%).

Hasil uji Duncan’s test 5% menunjukkan adanya beda nyata antara perlakuan dosis KCl dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan berat polong kering perpetak (tabel 10). Kombinasi perlakuan dosis 200 kg KCL/ha dan jarak tanam 30 cm x 20 cm pada perlakuan (K3J3) mempunyai berat polong kering perpetak paling baik atau rata-rata tertinggi (728,82 gr) dan kombinasi perlakuan dosis 0 kg KCl/ha dan jarak tanam 30 cm x 20 cm pada perlakuan (K1J3) mempunyai berat polong kering perpetak rata-rata terendah (472,15 gr) (tabel 10).

Berdasar hasil analisa dari tabel 10, berat polong kering pada perlakuan K3J3 lebih tinggi hal ini disebabkan karena peranan dosis pupuk Kalium sangat berpengaruh nyata terhadap photosintesis dan pernapasan serta mempengaruhi metabolisme tanaman dalam

pembentukan kharbohidrat dan aktifitas enzim (Anonim. 1988). 9.Berat Kering 100 biji (gr)

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa rata-rata berat kering 100 biji kacang hijau terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan dosis KCl dengan jarak tanam.

(18)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) Tabel 11. Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata-rata berat

kering 100 biji.

Perlakuan Rata-rata berat kering 100 biji (gr)

K1J1 5,98 c K1J2 5,97 c K1J3 5,93 c K2J1 6,00 c K2J2 6,03 c K2J3 6,00 c K3J1 6,43 b K3J2 5,95 c K3J3 6,88 a

Keterangan : Angka-angka yang didampingi oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata (Duncan’s 5%).

F. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang berjudul Pengaruh Jarak Tanam dan Dosis Kalium terhadap pertumbuhan dan produksi Kacang Hijau (Vigna radiata L) Varietas Sampiong dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Ada interaksi antara perlakuan jarak tanam (J) dan pemberian dosis pupuk pada vase vegetatif maupun generatif, artinya jarak tanam berpengaruh terhadap peran pemupukan. 2. Produksi tertinggi dicapai pada perlakuan K3J3 , jarak tanam 30 x 20 cm dengan dosis 200 kg KCl/ha yaitu 728,82 gr / petak polong kering.

Sedangkan yang terendah pada perlakuan K1J3 , jarak tanam 30 x 20 cm tanpa pupuk KCl yaitu sebesar 472,15gr /petak polong kering.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Pengaruh Jarak Tanam dan Dosis Pemupukan KCl Terhadap Pertumbuhan dan Produksi tanaman Kacang Hijau, pada lahan dan musim yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1983. Bercocok Tanam

Palawija. Dinas

(19)

Meiyana Hikmawati, Pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk Terhadap produksi kacang hijau (vigna radiata l) Anonim. 1988. Kalium dan

Tanaman Pangan

Problem dan Prospek.

Lembaga Pusat Penelitian Bogor. Hal. 1 – 3.

Dwijo Saputro. 1989. Pengantar

Fhysiologie

Tumbuh-tumbuhan. PT. Gramedia Jakarta. Hal 29 – 33. Ismunadji. 1989. (Terjemahan)

1989. Kalium dan

penggunaannya dalam

Pertanian Moderen

Potash dan Phospate.

Canada p 33.

Sarwono. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogeneti. AKAPRES Jakarta. Hal 267.

Setyati. 1979. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Jakarta 169 hal.

Soeprapto HS dan Tatang Sutarman. 1986. Bertanam Kacang Hijau. PT. Penebar Swadaya Bandung. 38 hal.

Soeprapto. 2000. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Anggota IKAPI. 33P.

Soetiarti S Hartono dkk. 1984. Dasar-dasar Agronomi I. Departemen Pendidikan

Dan Kebudayaan RI. Universitas Surakarta. Hal 50 – 89.

Sudarto, Awaludin, M.Zaini, Sujudi dan Sasongko WR. 2003. Balai

Pengkajian Teknologi

Pertanian. Pringgabaya Lombok Timur.

Sujamto dkk. 1986. Hasil

Penelitian Balitan

Malang. Tahun

1988/1989. Departemen Pertanian Balitas Malang 1990. Hal 28.

Sumarno. 1986. Tehnik

Budidaya Kacang Tanah.

Sinar Baru Bandung. Hal 12 – 24.

Suriatana. 1987. Pupuk dan Pemupukan. Mediatama Sarana Perkasa. Jakarta hal 20 – 25.

Tribowo. 1996. Peranan Pupuk

Kalium dan Mulsa

terhadap Produktifitas

KacangHijau (Phaseolus

radiata L) di lahan

Gambar

Tabel 2. Pengaruh Dosis Pupuk dan Jarak Tanam terhadap rata – rata tinggi tanaman Kacang Hijau
Tabel 3.  Pengaruh Dosis Pupuk dan Jarak Tanam terhadap rata jumlah daun
Tabel 6. Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata jumlah      polong pertanaman  Rata
Tabel 8.  Interaksi Dosis KCl dan Jarak Tanam terhadap rata panjang polong pertanaman  Rata
+3

Referensi

Dokumen terkait

Baik WT Ill dan PRRBN dapat didudukkan sebagai sumber sekunder dalam "penulisan sejarah" (khususnya raja-raja Mataram Kuna), yakni ada keterpisahan antara

Halaman menu utama merupakan tampilan dengan extends canvas yang didalamnya terdapat proses untuk memilih diantara List Item yang merupakan text yang dijadikan sebagai

sedangkan menurut Balkis (2008) pertumbuhan jati di Provinsi Kalimantan Timur dengan sistem agroforestri lebih besar daripada di Pulau Jawa yang hanya memiliki basal

Bahwa penetapan Kota Surakarta menjadi bagian dari wilayah Jawa Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1950 tidak terlepas dari pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22

Objektif pertama penubuhan Pusat Pengumpulan Hasil Ladang PPK Kuala Langat ialah untuk menjadi ruang pasaran yang stabil kepada peladang, dengan menghantar hasil pertanian ke

Tabel 4.16 Distribusi Sikap Responden Mengenai Mengijikan Tindakan Pengasapan (fogging) di Rumah……….44 Tabel 4.17 Distribusi Sikap Responden Mengenai Persetujuan Penguburan Barang

Berkaitan dengan uraian di atas, kami Tim Pengabdian dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Veteran Bangun

Dalam penelitian Drake, Wong dan Salter (2007) tidak seluruh dimensi dalam empowerment dapat mempengaruhi motivasi, hanya impact yang berpengaruh positif terhadap