• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONTOH LAPORAN KASUS PEMINATAN ICU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CONTOH LAPORAN KASUS PEMINATAN ICU"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

CONTOH LAPORAN KASUS PEMINATAN ICU

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. Ch

DENGAN CVA HAEMORAGIK

DI RUANG ICU RS DR. MOEWARDI SURAKARTA

DISUSUN OLEH DODY SETYAWAN

PROGRAM PEMINATAN KEPERAWATAN KRITIS PROFESI NERS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2010

NB: Contoh Askep ini dibuat sejak masih kuliah dan saat peminatan jadi bentuk implementasi yang seharusnya setiap implementasi diikuti respon S dan O, pada contoh ini langsung dibuat SOAP karena hanya sebatas resume lampiran. Jadi ikuti format yang disediakan oleh institusi. Terimakasih...selamat belajar dan sukses

I. PENGKAJIAN

Tanggal masuk : 21 Juni 2010 Pukul 04.00 WIB Tanggal pengkajian : 21 Juni 2010 Pukul 10.00 WIB

A. Identitas Pasien

1. N a m a : Tn. Ch

2. U m u r : 53 Tahun

3. Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Agama : Islam

5. Pekerjaan : Swasta

6. Alamat : Cinderejo Kidul 6/9 Banjarsari, Surakarta

7. Diagnosa Medis : CVA Haemoragik

8. No. Register : 01014680

Identitas Penanggung Jawab

1. N a m a : Ny. S

2. U m u r : 50 Tahun

3. Alamat : Cinderejo Kidul 6/9 Banjarsari, Surakarta

(2)

B. Riwayat Kesehatan 1. Keluhan utama

Penurunan Kesadaran

2. Riwayat penyakit sekarang

2 hari sebelumnya pasien demam, kemudian dibawa berobat ke dokter umum dan dikatakan ISK. ± 2 jam yang lalu pasien tiba-tiba tidak sadar, tidak bisa dibangunkan saat tidur dalam kondisi ngorok. Sebelumnya tidak ada keluhan nyeri kepala, tidak ada muntah dan tidak ada kejang sebelumnya. Keluarga membawa pasien ke Rumah Sakit Kasih Ibu pukul 00.15 WIB. Kemudian dari RS Kasih Ibu klien dirujuk ke IGD RSU Dr Moewardi pukul 13.00 WIB. Klien datang di IGD RS Dr. Moewardi Surakarta dalam keadaan tidak sadar dengan GCS E1M2V1. Kemudian klien dirujuk ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif dengan ventilator. Saat pengkajian di ICU klien soporokoma dengan GCS E1M2VET, terpasang Ventilator dengan mode SIM V, FiO2 70%, PEEP + 5, VT 487, RR 38x/menit. Vital Sign : TD 140/90 mmHg, Heart rate 160x/menit, Suhu : 38,5⁰C, dan SaO2 100%. Kondisi pupil keduanya miosis, reflek cahaya +/- . Ada akumulasi secret di mulut dan di selang ET, tidak terpasang mayo dan lidah tidak turun. Terdapat retraksi otot interkosta dengan RR 38 x/menit dan terdengar ronkhi basah di basal paru kanan. CRT < 3 detik. Di ICU klien sudah mendapatkan Brainact /12 jam, Alinamin F/12 jam, Ranitidin /12 jam, dan infuse RL 20 tpm.

3. Riwayat penyakit dahulu

Klien mempunyai riwayat hipertensi kurang dari satu tahun.

4. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti klien

II. PENGKAJIAN PRIMER

a. Airway

Pada jalan napas terpasang ET, ada akumulasi sekret di mulut dan selang ET, lidah tidak jatuh ke dalam dan tidak terpasang OPA.

b. Breathing

RR : 38 kali/menit, tidak terdapat nafas cuping hidung, terdapat retraksi otot interkosta, tidak menggunakan otot bantu pernapasan, ada suara ronkhi basah di basal paru kanan dan tidak terdapat wheezing, terpasang Ventilator dengan mode SIM V, FiO2 70%, PEEP + 5, VT 487. Suara dasar vesikuler.

c. Circulation

TD 140/98 mmHg, MAP 112, HR 124x/menit, SaO2 100%, capillary refill < 3 detik, kulit tidak pucat, konjungtiva tidak anemis.

d. Disability

Kesadaran : soporokoma, GCS : E1M2VET, reaksi pupil +/-, pupil miosis, dan besar pupil 2 mm.

e. Exposure

Tidak ada luka di bagian tubuh klien dari kepala sampai kaki, suhu 38,5 ⁰C

III. PENGKAJIAN SEKUNDER A. Tanda-tanda Vital

Tanggal

TD

MAP

HR

SaO2

RR

Suhu

21/06/10 140/98

112

124

100

38

38,5

(3)

23/06/10 88/51

63,3

96

97

17

40,7

B. Pemeriksaan Fisik

1. Kepala

Bentuk Mesochepal, tidak ada luka dan jejas, rambut hitam, tidak ada oedem 2. Mata

Mata simetris kanan dan kiri, sclera tidak ikterik, konjungtiva anemis, kedua pupil miosis, reflek pupil +/-. 3. Telinga

Kedua telinga simetris, tidak ada jejas, bersih, dan tidak ada serumen

4. Hidung

Terpasang NGT warna keruh, tidak ada secret di hidung, tidak ada napas cuping hidung 5. Mulut

Bibir pucat dan kotor, terpasang ET 6. Leher

Tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe dan tiroid, tidak terjadi kaku kuduk.

7. Thoraks

a. Jantung

Inspkesi : Ictus Cordis tak tampak Palpasi : Ictus Cordis tak teraba Perkusi : Pekak

Auskultasi : Bunyi jantung I-II normal, tidak ada bunyi jantung tambahan

b. Paru-paru

Inspkesi : Paru kanan dan kiri simetris, terdapat retraksi interkosta, tidak ada penggunaan otot bantu napas, RR 38x/menit

Palpasi : Tidak dikaji

Perkusi : Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi : Suara dasar vesikuler, terdapat suara tambahan ronkhi basah di basal paru kanan

8. Abdomen

Inspeksi : Datar

Auskultasi : Bising Usus 13x/menit Perkusi : Timpani

Palpasi : Tidak terjadi distensi abdomen

9. Ekstremitas

Tidak ada jejas, tidak ada oedem, kekuatan otot 1/1 /1/1 10. Genitalia

Bentuk penis normal, skrotum bentuk dan ukuran normal, tidak ada jejas

C. Pola Eliminasi

a) Urin/shift

Tgl

Frek BAK

Warna

Retensi

Inkontinensia

Jumlah

21/06/1

0

(4)

22/06/1

0

DC

Kuning

-

-23/06/1

0

DC

Kuning

-

- Pemeriksaan lab urin : Tidak ada

b) Fekal

Tgl

Frek BAB

Warna

Konsistensi

21/06/1

0

1x

Kuning

kecoklatan

lunak

22/06/1

0

-

-

-23/06/1

0

1x

Kuning

kecoklatan

Lunak

 Pemeriksaan lab feses : Tidak ada

D. Tingkat Kesadaran

1. GCS

Tgl

Eye (e)

Motorik (m)

Verbal (v)

Total

21/06/10

1

2

ET

-22/06/10

1

1

ET

-23/06/10

1

1

ET

-2. Status Kesadaran

Tgl

Composmentis

Apatis

Somnolen

Sopor

Soporocoma

Coma

21/06/1

0

-

-

-

-

-22/06/1

0

-

-

-

-

-23/06/1

0

-

-

-

-

-

E. Tingkat ketergantungan

Tingkat Ketergantungan Klien Menurur Indeks KATZ

Tgl

Aktivitas

Hygiene Berpakaian

Eliminasi

Mobilisasi

Kontinen

Makan

Kategori

21/06 Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu G

22/06 Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu G

23/06 Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu

Dibantu G

F. Status Nutrisi dan Cairan

1. Asupan Nutrisi

Tgl

Hari

ke-Jumlah porsi

Jumlah

buah

Kalori

buah

Kalori

makanan

Total

(5)

-22/06/10 2

Spooling

-

-

-

-23/06/10 3

Spooling

-

-

-

-Status nutrisi perhari : F x A

( BB x 30 kkal ) x indeks aktivitas ( 60 x 30 kkal ) x 0,9

1620 kkal/hari Aminovel/comafusin hepar : 200 kkal/botol

Total nutrisi yang diterima : Sonde + 1 botol aminovel/comafusin hepar 1620 kkal/hari : sonde + 200 kkal

Jadi sonde/hari: 1420 kkal @ shift : 473.3 kkal

2. Cairan/24 jam

Tanggal

Intake

Output

Balance Cairan

21/06/10

Parenteral : 1500 cc

Enteral : 500 cc

Total : 2000 cc

Urine : 200 cc

IWL : 600

Feses : 200 cc

Muntah :

Drainase :

-Total : 1000 cc

+ 1000 cc

22/06/10

Parenteral : 1800 cc

Enteral : 600 cc

Total : 2400 cc

Urine :

-IWL : 600

Feses :

Muntah :

Drainase :

-Total : 600

+ 1800 cc

23/06/10

Parenteral : 500 cc

Enteral : 200 cc

Total : 700 cc

Urine :

-IWL : 600

Feses : 200

Muntah :

Drainase :

-Total : 800

100 cc

G. Pemeriksaan Penunjang

1) Laboratorium

Pemeriksaan

Nilai

Satuan

21/06/10

22/06/10

23/06/10

Nilai

Nilai

Nilai

Hb

13 - 16

%

13.8

12.3

Ht

40 - 54

%

44

38

Eritrosit

45 - 65

jt/ mmk

5.04

4.48

Leukosit

4 - 11

ribu/ mmk

8.4

7.4

Trombosit

150 - 400

ribu/mmk

84

37

Creatinin

0.6 - 1.3

mg/ dL

1.5

12.4

(6)

Gula Sewaktu

80 - 120

mg/ dL

118

482

Ureum

15 - 39

mg/ dL

28

319

Na

136 - 145

mmol/ L

139

132

K

3.5 - 5.1

mmol/ L

3.6

7

Cl

98 - 107

mmol/ L

106

Cholesterol

50 - 200

mg/ dL

Trigliserid

30 - 150

mg/ dL

Waktu

protrombin

10 - 15

dtk

PPT kontrol

12.8

Waktu

tromboplastin

23.4

-36.8

dtk

APPT kontrol

27.5

pH

7,35–3,45

7.334

7.312

7.315

pCO2

35 - 45

mmHg

27

27.6

30

pO2

83 - 103

mmHg

236.9

199.7

189.8

HCO3

18 - 23

Mmol/L

16.3

16.9

17.2

AADO2

<100

Laktat

0,4 - 2

Base Excess

-10.2

-8.8

-8.4

FiO2

70 %

60%

40 %

2) Hasil EKG

Kesan :

Ada gambaran ST depresi inferior

3) Hasil Rontgen

Kesan :

- Hasil Rontgen tanggal 23 Juni 2010 : Cor dan pulmo dalam batas normal, pulmo tidak menunjukkan adanya

infiltrate

4) Pemeriksaan fundoskopi

Kesan :

Tidak ada

5) Lain-lain.

(7)

H. Therapy

SNMC 1 amp/8 jam (drip dalam 100 cc NaCl)

RL/ 24 jam 20 tpm

NO TGL/JAM

DATA FOKUS

MASALAH

ETIOLOGI

(8)

WIB

RR 38x/menit, terdapat

retraksi intercosta, napas

cepat dan dangkal, terpasang

ventilator dengan mode P

SIMV dengan FiO2 70%,

PEEP + 5 dan SaO2 100%

serebri pada batang

otak

etcause

intracerebral

haemoragie)

3

21/06/10

10.30

WIB

DS :

-DO:

RR 38x/menit, terdapat

retraksi intercosta, napas

cepat dan dangkal, Hasil

BGA : PH 7,334; pCO2

27;pO2 236,9;HCO3 16,3;

BE -10,2 dengan interprestasi

Asidosis

Metabolik

terkompensasi sebagian

Gangguan

pertukaran gas

Kegagalan proses

difusi pada alveoli

4

21/06/10

10.35

WIB

DS :

-DO:

Kesadaran soporokoma, GCS

E1M2VET, pupil miosis

(2mm), reaksi pupil

+/-Gangguan perfusi

jaringan serebral

Perdarahan

intraserebal

5

21/06/10

10.40

WIB

DS :

-DO:

Keadaan umum soporokoma,

panas dengan suhu 38,5

C,

terpasang ET dan infus line,

bedrest total, reflek motorik

-/-Resiko

tinggi

infeksi

(9)

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama : Tn. Ch No CM : 01014680 Usia : 53 tahun DM : CVA Haemoragik

NO

DX. KEPERAWATAN

TTD

1

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan adanya akumulasi

secret di jalan napas, dapat ditandai dengan :

1.

Adanya sekret di ET dan mulut

2.

Terdengar bunyi ronkhi basah di basal paru kanan

Dody

2

Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernapasan

(infark serebri pada batang otak etcause intracerebral haemoragie), dapat

ditandai dengan :

1.

Frekuensi napas tinggi RR 38x/menit

2.

Terdapat retraksi intercosta

3.

Napas cepat dan dangkal

Dody

3

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kegagalan proses difusi

pada alveoli, dapat ditandai dengan :

1.

Napas cepat dan dangkal, RR 38x/menit

2.

Hasil BGA : Asidosis Metabolik terkompensasi sebagian

Dody

4

Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan adanya

perdarahan intraserebral, dapat ditandai dengan :

1.

Penurunan kesadaran : Soporocoma

2.

GCS E1M2VET

3.

Pupil miosis

Dody

5

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasif dan

bedrest total

(10)

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1

Bersihan jalan napas tidak efektif

berhubungan dengan adanya

akumulasi secret di jalan napas

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x 24 jam

diharapkan jalan napas klien

berhubungan dengan depresi

pusat pernapasan(infark serebri

pada batang otak etcause

intracerebral haemoragie)

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x 24 jam

diharapkan pola napas klien

6.

Pertahankan penggunaan ventilator dan observasi

setting ventilator dengan status pernapasan klien

3

Gangguan pertukaran gas

berhubungan dengan kegagalan

proses difusi pada alveoli

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x 24 jam

diharapkan pertukaran gas klien

6.

Pertahankan penggunaan ventilator dengan oksigenasi

yang adekuat

4

Gangguan perfusi jaringan

serebral berhubungan dengan

adanya perdarahan intraserebral

(11)

Pupil isokon

6.

Pertahankan oksigenasi adekuat melalui ventilator

7.

Berikan obat Brainact 1 amp/12 jam

5

Resiko

tinggi

infeksi

berhubungan dengan adanya

prosedur invasif dan bedrest total

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x 24 jam

diharapkan tidak terjadi infeksi

pada klien dengan kriteria hasil :

KU dan VS stabil

Suhu normal (36.5-37.5)

Leukosit normal

Mandiri :

1.

Monitor KU dan VS termasuk suhu klien/jam

2.

Pertahankan teknik aseptic setiap tindakan

3.

Pantau adanya tanda-tanda infeksi

Pasien baru nama Tn. Ch masuk

ICU pukul 04.00 WIB pindahan

dari RS. Kasih Ibu dengan CVA.

Saat datang KU lemah, keadaan

alinamin F 1 amp/12 jam. Cairan

infuse RL 20 tpm.

Implementasi yang dilakukan

hari ini:

soporocoma dengan vital sign : TD

140/88, HR 126x/menit, SaO2

100%, dan Suhu 38.2

C

GCS : E1M2VET, pupil miosis

2mm, reflek pupil terhadap cahaya

+/-dengan interprestasi Asidosis

Metabolik terkompensasi sebagian

Dx. 1 : Masalah teratasi sebagian

Dx. 2 : Masalah belum teratasi

(12)

akumulasi secret di mulut dan

ET, suara gargling serta

mengauskultasi bunyi napas

klien

inj. Ranitidin 1 amp, nexium 40

mg, alinamin F 1 amp, brainact 1

amp, dexamethason 1 amp/8

jam, methylprednison

Menganalisa hasil BGA

Melakukan alih baring miring

kanan, lateral dan miring kiri

Dx. 3 : Masalah belum teratasi

Dx. 4 : Masalah teratasi sebagian

P :

Lanjutkan dan optimalkan kembali

intervensi dengan tetap memantau

KU dan vital sign serta status

pernapasan klien serta kolaborasi

untuk rencana koreksi bicnat,

masih terpasang ventilator

dengan mode P SIMV, VT 450,

FiO2 60%, RR 12x/menit, PEEP

+5, Slym (+), suction (+), NGT

dialirkan masih bewarna

kecoklatan, spooling (+), vital

sign stabil termonitor, BAB(-),

BAK/DC produksi urin kurang.

Pukul 02.00 WIB loading 1 flash

RL dan pukul 06.00 WIB

Implementasi yang dilakukan

hari ini :

soporocoma dengan vital sign : TD

145/97, HR 130x/menit, SaO2

interprestasi Asidosis Metabolik

terkompensasi sebagian

Dx. 1 : Masalah teratasi sebagian

(13)

pernapasan klien

lasik 20 mg/jam via syring pump

Melakukan alih baring miring

kanan, lateral dan miring kiri

Mengambil sampel darah arteri

untuk cek BGA post koreksi

bicnat.

Dx. 2 : Masalah teratasi sebagian

Dx. 3 : Masalah belum teratasi

Dx. 4 : Masalah belum teratasi

Dx. 5 : Masalah teratasi sebagian

P :

Lanjutkan dan optimalkan kembali

intervensi, rencana kolaborasi cek

BGA lagi dan darah rutin, ureum

kreatinin, GDS, nebulizer masih

lanjut, dan lasik lanjut 20 mg/jam

23/06/10

napas masih menggunakan

ventilator dengan mode P SIMV,

FiO2 60%, RR 14, PEEP +5,

Slym (+), suction (+), Vital sign

stabil. NGT dialirkan masih

warna kecoklatan, spooling (+).

BAB (-), BAK/DC produksi

sangat kurang. Pagi ini rencana

cek BGA dan darah rutin, ureum

kreatinin, GDS, nebulizer masih

lanjut, dan lasik lanjut 20

mg/jam

Implementasi yang dilakukan

hari ini :

coma dengan vital sign : TD 88/51,

HR 96x/menit, SaO2 97%, dan Suhu

40.6

C

GCS E1M1VET, pupil miosis 2

mm, reflek pupil terhadap cahaya

Tidak nampak retraksi dada, RR

lekosit 7.4 ribu/mmk, GDS : 482

Urin masih tidak keluar, balance

cairan : - 100 cc

(14)

pernapasan klien dan sesuaikan

dengan setting ventilator

Melakukan oral care dengan

antiseptic

Mengambil specimen darah

untuk BGA, darah rutin, dan

ureum kreatinin

Melakukan suction di mulut dan

ET

Mengauskultasi bunyi napas

klien

Kolaborasi Memberikan terapi

sesuai program: nexium 40 mg,

dexamethason

1

amp,

dexamethason 1 amp, ecotrixon

2 gr, SNMC 1 amp (drip dalam

100 cc NaCl)

Kolaborasi

melanjutkan

pemberian extra lasik 20 mg/jam

via syring pump dan insulin 4

unit/jam via syring pump

Melakukan alih baring miring

kanan, lateral dan miring kiri

Melakukan skoring CPIS

A :

Dx. 1 : Masalah teratasi sebagian

Dx. 2 : Masalah teratasi sebagian

Dx. 3 : Masalah belum teratasi

Dx. 4 : Masalah belum teratasi

Dx. 5 : Tidak terjadi infeksi

P :

Lanjutkan dan optimalkan kembali

intervensi, nebulizer lanjut/8 jam,

lasik lanjut 20 mg/jam, insulin

syring pump 4 unit/jam. Pantau

haluaran urin

(15)

PEMBAHASAN

Cerebro Vascular Accident (CVA)merupakan defisit neurologi yang mempunyai sifat mendadak dan berlangsung dalam 24 jam sebagai akibat dari pecahnya pembuluh darah di otak yang di akibatkan oleh aneurisma atau malformasi arteriovenosa yang dapat menimbulkan iskemia atau infark pada jaringan fungsional otak (Purnawan Junadi, 1982). Klien datang dari IGD dengan diagnosa CVA haemoragik. Hal ini sesuai dengan teori bahwa CVA Haemoragik terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak. Dari hasil ST-Scan klien didapatkan bahwa klien terjadi perdarahan intraserebral. Banyak faktor yang memengaruhi terjadinya CVA yaitu hipertensi dan penggunaan obat-obat antikoagulan. Klien sudah menderita hipertensi kurang lebih sejak satu tahun yang lalu. Hipertensi yang kronis dapat mengakibatkan perubahan struktur dinding permbuluh darah berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid. Hal tersebut menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak sehingga darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa atau hematom yang menekan jaringan otak dan menimbulkan oedema di sekitar otak. Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan mengakibatkan peninggian tekanan intrakranial dan menyebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak. Sehingga aliran oksigen ke otak tidak adekuat mengakibatkan penurunan kesadaran. Hal ini terjadi pada klien, klien ketika masuk dengan kesadaran soporocoma dengan GCS E1M2VET. Soporocoma yaitu mata tetap tertutup walaupun dirangsang nyeri secara kuat, hanya dapat mengerang tanpa arti, motorik hanya gerakan primitive.

Masalah keperawatan yang ditemukan pada klien yaitu antara lain :

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret di jalan napas.

Diagnosa tersebut dijadikan masalah utama karena berdasarkan primary assesment dan terdapat tanda adanya sekret di ET dan mulut, selain itu terdengar bunyi ronkhi di basal paru kanan. Kepatenan jalan napas harus menjadi prioritas karena jika ada sumbatan berupa sekret ataupun benda yang lain akan menyebabkan oksigen tidak dapat masuk ke tubuh dan jaringan akan kekurangan oksigen. Klien dalam kondisi tidak sadar yaitu soporocoma sehingga tidak mempunyai reflek batuk untuk mengeluarkan sekret yang ada di jalan napas. Sehingga tindakan yang dilakukan antara lain tetap memantau adanya akumulasi sekret di ET dan mulut, kemudian lakukan suction sesuai kebutuhan. Suction perlu dilakukan untuk mengurangi sekret atau menghisap sekret supaya jalan napas dapat paten dan oksigen bisa sepenuhnya masuk dalam tubuh dan dapat dipakai oleh jaringan. Selain itupositioning klien miring kanan dan kiri selain untuk mencegah dekubitus, hal ini juga untuk memudahkan keluarnya sekret. Hal ini juga dibantu dengan kolaborasi pemberian nebulizer dengan kombinasi obat Berotec : Atroven : NaCl yaitu 18 tetes : 16 tetes : 1 cc. Kombinasi obat tersebut selain sebagai bronchodilator juga sebagai mukolitik sehingga secret yang masih tertempel dalam dinding paru dapat hancur dan keluar sehingga jalan napas dapat paten dan bersih.

2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernapasan (infark serebri pada batang otak etcause

intracerebral haemoragie)

(16)

karena jika klien terlihat hiperpnue dengan nampak retraksi intercosta menunjukkan klien sesak napas sehingga perlu dinaikkan setting ventilator misalnya FiO2 dinaikkan dari semula.

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kegagalan proses difusi pada alveoli

Diagnosa ini diambil karena ditemukan data pada klien bahwa setelah dilakukan BGA ternyata hasilnya asidosis metabolik terkompensasi sebagian. Selain itu klien juga menunjukkan peningkatan frekuensi napas yaitu RR 38 x/menit. Hal ini menunjukkan bahwa di alveoli klien terjadi gangguan pertukaran gas karena ketidakadekuatan ventilasi klien sehingga mempengaruhi proses difusi O2 dan CO2. Tindakan yang dilakukan hampir sama dengan diagnosa yang kedua karena pada prinsipnya saling mempengaruhi. Observasi status pernapasan tetap harus dilakukan karena untuk menentukan keefektifan penggunaan ventilator. Hasil BGA juga perlu dipantau juga untuk mengetahui keefektifan pemakaian ventilator dan terapi yang diberikan, jika hasil BGA normal, PH, PaO2, PCO2, dan BE dalam batas normal maka bisa menjadi pertimbangan untuk proses penyapihan dari ventilator. Jika BGA tidak normal maka akan dilakukan koreksi. Hasil BGA klien pada tanggal 21 juni 2010 menunjukkan asidosis metabolik terkompensasi sebagian sehingga memerlukan koreksi bicnat untuk mengatasi hal tersebut. Bicnat tujuannya untuk menetralkan kadar asam dalam darah karena bicnat mengandung basa.

4. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan adanya perdarahan intraserebral

Klien menderita CVA Haemoragik dengan berdasarkan hasil ST-Scan menunjukkan adanya perdarahan intraserebral sehingga mempengaruhi proses perfusi jaringan ke serebral. Oksigen yang dibawa ke otak menjadi berkurang, sehingga akan terjadi hipoksia dan hal ini menyebabkan klien terjadi penurunan kesadaran dan penurunan fungsi tubuh yang dipersarafi oleh otak. Tindakan yang bisa dilakukan antara lain adalah menaikkan posisi kepala klien 30-45⁰ dengan tujuan mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan drainage vena dari kepala dan memperbaiki sirkulasi serebral.Status neurologis klien juga perlu dimonitor setiap jam untuk mengetahui kemajuan terapi dan keadekuatan oksigenasi jaringan serebral. Sehingga oksigenasi tetap harus dipertahankan supaya kebutuhan oksigenasi serebral tercukupi.

5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasif dan bedrest total

Adanya prosedur invasif dapat memungkinkan terjadinya infeksi karena merupakan port de entri mikroorganisme sehingga dalam melakukan perawatan perlu memperhatikan teknik steril dan aseptik untuk mencegah mikroorganisme patogen dapat masuk ke tubuh melalui prosedur invasif tersebut seperti infus, ET, kateter dan NGT. Selain itu oral care, early mobilization dan head of bed juga berguna untuk mencegah infeksi. Jika infeksi berlanjut akan bisa menimbulkan sepsis yang sangat berbahaya bagi klien yang bisa menimbulkan kematian karena infeksi menyebar secara sistemik ke tubuh klien. Klien dengan bedrest total akan mengalami penurunan produksi fibronectin di mulutnya sehingga mengalami penurunan kemampuan mekanisme melawan kuman yang patogen sehingga perlu dibersihkan dengan oral care yang menggunakan antiseptic. Selain itu dengan adanya head of bed juga akan meminimalkan kontaminasi kuman patohen dengan mencegah terjadinya aspirasi isi lambung. Sedangkan early mobilzation dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi pertahanan tubuh. Klien yang diposisikan supine dan immobility akan menimbulkan fungsi normal paru seperti reflek batuk, otot mucosilliary, dan drainage tidak dapat bekerja dengan baik sehingga beresiko lebih tinggi terkena infeksi nosokomial pneumonia. Selain itu klien yang tidak dilakukan early mobilization akan terjadi kelemahan otot termasuk otot pernapasan sehingga proses weaning off of ventilation akan ditunda dan beresiko terjadi VAP.

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Gangguan pola napas tidak efektif b/d berhubung adanya penumpukan sekret di jalan napas, yang ditandai dengan: DS :. - Klien mengeluh

Masalah keperawatan yang ditegakkan yaitu: Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan adanya penumpukan secret, dan Nyeri kronis berhubungan dengan

Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai  berikut:.. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau

Untuk diagnosa keperawatan yang pertama bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret, intervensi menurut Moorhead (2013) dan Bulechek

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan napas Tujuan Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama proses diharapkan bersihan jalan nafas efektif2. NOC

Perencanaan diagnosa keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret , berfokus pada pemantauan pernapasan: bunyi napas, kecepatan, irama, dan

91 Diagnosa Keperawatan Tanggal/Jam Implementasi Respon Paraf Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret 22 Desember 2022 16.00-16.25

Diagnosa yang ditegakan dari hasil pengakjian yang telah dilakukan adalah bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan napas ditandai dengan sputum berlebih,