• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGANTAR ANALISIS SPASIAL DENGAN ArcGIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENGANTAR ANALISIS SPASIAL DENGAN ArcGIS"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

PENGANTAR ANALISIS SPASIAL DENGAN ArcGIS

Oleh : Siti Latifah

Samsuri Rahmawaty

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas selesainya penulisan Buku Analisis spasial menggunakan ArcGIS. Buku ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan pembaca dalam mempelajari dan memahami analisis spasial. Buku ini membahas tentang Prinsip-prinsip analisis spasial dan penggunaan perangkat lunak ArcGIS dalam tahapan pembuatan peta-peta tematik serta aplikasinya.

Buku telah sesuai dan memenuhi persyaratan untuk menghasilkan kompetensi analisis spasial bagi yang memahami dan melaksanakan praktek kerja sebagaimana dituliskan dalam buku ini. Namun demikian buku ini akan diperkaya dengan perkembangan baru teknologi SIG.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku ini dan semoga buku ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan pihak-pihak yang membutuhkannya.

Medan, Pebruari 2018

(5)
(6)

BAB 1

KONSEP SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Definisi dan Ruang Lingkup

Sistem informasi geografis dapat didefinisikan sebagai sistem komputerisasi yang memfasilitasi fase entri data, analisis data dan presentasi data terutama ketika berkenaan dengan data yang memiliki georeferensi. Persiapan dan entri data merupakan tahapan awal dimana data tentang sesuatu dikumpulkan dan disiapkan untuk dimasukkan ke dalam sistem. Analisis data menjadi tahapan berikutnya dimana data yang dkumpulkan ditinjau dengan teliti. Tahapan akhir adalah tahapan dimana hasil analisis sebelumnya ditampilkan dengan cara yang tepat (de By, 2001).

Selanjutnya de By (2001) menyebutkan bahwa pengguna SIG membutuhan dukungan dari sistem untuk memasukkan data, melakukan analisis dengan berbagai cara dan menghasilkan presentasi (peta dan lainnya) dari data tersebut. Banyak fungsi untuk mendapatkannya seperti dukungan berbagai jenis sistem koordinat dan transformasi serta tentunya banyak pilihan parameter presentasi seperti skema warna, kumpulan simbol, media dan lain lain.

Data yang diolah dalam SIG adalah data yang memiliki nilai posisi yang dikatakan sebagai data spasial. Data spasial yang sudah memiliki georeferensi disebut sebagai data geospasial. Data yang sudah diolah dan diinterpretasi menghasilkan informasi yang bermanfaat sesuai kepentingan yang diinginkan. De By (2001) mengatakan bahwa geoinformation adalah tipe informasi yang melibatkan interpretasi dari data spasial.

Sistem mencakup manusia sebagai pengguna, komputer sebagai perangkat keras dan berbagai pilihan perangkat lunak. Beberapa perangkat lunak yang digunakan dalam sistem informasi geografis dan penginderaan jarak jauh yaitu Arcinfo, Arview, Er Mapper, dan Erdas. Analisis data penginderaan jarak jauh menjadi salah satu input bagi analisis SIG. Hasil akhir dari analisis SIG dipresentasikan dalam bentuk peta dan data tabular yang menjadi dasar analisis suatu fenomena atau masalah yang dikaji.

(7)

memberikan efisiensi waktu, biaya dan tenaga. SIG juga memungkinkan adanya kegiatan monitoring yang dapat diandalkan dengan adanya pengelolaan basis data yang berkesinambungan dan dapat diperbaharui.

Teknologi SIG telah digunakan di berbagai bidang seperti bidang kehutanan, pertanian, lingkungan hidup hingga pemerintahan. SIG diharapkan dapat membantu menelaah permasalahan yang dihadapi dan memberikan alternatif solusi bagi permasalahan tersebut. Beberapa kegiatan yang telah memanfaatkan teknologi SIG yaitu inventarisasi hutan, perencanaan hutan, analisis kesesuaian lahan, analisis bencana, perencanaan wilayah, tata ruang wilayah dan lain lain.

Pengantar Pemetaan

Pemetaan telah dilakukan manusia dari ribuan tahun yang lalu dengan maksud memberikan informasi mengenai dunia nyata. Konsep dan desain peta telah berkembang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan pada berbagai aplikasi. Kartografi sebagai ilmu dan seni pembuatan peta dimana penafsir menterjemahkan fenomena dunia nyata (data primer) kedalam representasi yang tepat.

Peta mewakili gambaran sebagian permukaan bumi yang disajikan pada bidang datar. Skala dan proyeksi menjadi dasar pembuatan peta. Hal ini terkait juga dengan bentuk permukaan bumi yang tidak datar. Peta yang ideal akan menampilkan jarak pada peta sesuai dengan jarak asli di permukaan bumi. Begitu pula dengan luas, sudut atau arah dan bentuk suatu unsur yang direpresentasikan di atas peta harus sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Proyeksi peta dilakukan agar bentuk permukaan bumi dapat didatarkan. Proyeksi dikelompokkan berdasarkan bidang proyeksi, luas permukaan yang tetap, bentuk yang tetap dan jarak yang tetap.

Sistem koordinat diperlukan dalam pemetaan dan kegiatan survei. Sistem koordinat mengacu kepada Sistem Koordinat Nasional. Indonesia menggunakan koordinat Universal Transverse Mercator (UTM). Seluruh permukaan bumi dibagi

(8)

Gambar 1.1. Pembagian permukaan bumi kedalam zona dan jalur

Wilayah Indonesia (90o 144o BT dan 11o LS 6o LU) terbagi dalam 9 zona UTM. Zona tersebut dimulai dari zona 46 sampai zona 54. Penentuan posisi di Indonesia menggunakan sistem koordinat Datum Geodesi Nasional 95 (DGN95). Penggunaan

DGN95 ini berdasarkan Surat Keputusan Ketua BAKOSURTANAL No.

HK.02.04/II/KA/96 tanggal 12 Februari 1996 yang menyatakan bahwa setiap kegiatan Survei dan Pemetaan di wilayah Republik Indonesia harus menggunakan Datum Geodesi Nasional 1995. Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-95) menggunakan ellipsoid referensi WGS84.

Perangkat Lunak ArcGIS

Tahun 1969 Environmental Systems Research Institute (ESRI) di California didirikan. Perusahaan ini bergerak di bidang perangkat lunak sistem informasi geografi. Produk yang dikeluarkan adalah ArcGIS Desktop. Pengguna ArcGIS tersebar di seluruh dunia dan digunakan di berbagai bidang yang berbeda.

ArcGIS adalah paket perangkat lunak yang terdiri dari produk perangkat lunak

sistem informasi geografis (SIG) yang meliputi ArcReader dan ArcGIS Desktop. ArcReader digunakan untuk menampilkan peta yang dibuat menggunakan produk ArcGIS lainnya.

(9)

ArcView dengan tambahan peralatan untuk memanipulasi berkas shapefile dan basis data. ArcInfo memiliki kemampuan seperti ArcEditor dengan tambahan fungsi manipulasi data, penyuntingan, dan analisis.

Berikut adalah spesifikasi komputer minimum untuk bisa menjalankan ArcGIS 10.1 For Desktop:

CPU 2.2 GHz minimum atau lebih tinggi; Rekomendasi : Hyper-threading (HHT) atau Multi-core

Processor Intel Pentium 4, Intel Core Duo, atau Xeon ; SSE2 (atau yang lebih tinggi)

Memory/RAM 2 GB atau yang lebih tinggi

Display 24 bit

Resolusi layar 1024 x 768 atau lebih tinggi pada ukuran normal (96dpi)

Swap Space Tergantung OS yang digunakan, minimum 500 MB.

Hard Disk

Untuk hasil instalasi dibuthkan ruang sebesar 2.4 GB. Pada Windows

System directory (biasanya ada di C:\Windows\System32), dibutuhkan tambahan 50 MB

Jika menggunakan ArcGlobe dibutuhkan ruang yang lebih besar karena ArcGlobe akan membuat file cache saat di jalankan.

Video/Graphics Adapter

Minimum 256 MB RAM atau lebih tinggi. Usahakan yang mendukung NVIDIA, ATI dan INTEL chipset.

Graphics accelerator 24-bit

dapat dimanfaatkan bagi siapa saja yang tertarik dengan sistem informasi geografi. Lakukan download dan install ArcDesktop dari website ESRI setelah terlebih dahulu memiliki account dan melakukan login.

Pengenalan Menu ArcGIS

(10)

1.

2. Memulai ArcGIS

Berikut ini adalah cara bagaimana memulai pekerjaan dengan ArcGis (Gambar 1. 2).

- Start menuProgramArcGISArcMap

Gambar 1.2. Memulai dengan Arc Gis

3. Menu ArcMap

Menu pada Arc MAP disajikan pada Gambar 1.3.

Memperkecil besar

Membuka Map yang telah ada

(11)

Gambar 1.3. Menu pada Arc MAP

4. Menu File

Menu File dalam Arc GIS dapat dilihat pada Gambar 1.4.

Gambar 1.4. Menu File dalam Arc GIS 5. Menu Edit

Memindahkan / memotong bagian peta Menggandakan bagian peta

Menyalin kembali bagian peta yang digandakan Menghapus bagian peta

Mencari suatu bagian dari peta

Memilih / tidak memilih seluruh bagian peta

Memperbesar pada bagian peta yang dipilih

Gambar 1.5. Menu Edit dalam Arc GIS

Membuka lembar baru

Melihat tampilan sebelum di cetak

(12)

6. Menu View

Tampilan peta dengan keseluruhan data Tampilan peta dalam layout

Gambar 1.6. Menu View dalam Arc GIS 7. Menu Insert

 Memasukkan data frame peta

 Memberi judul peta

 Menuliskan teks pada peta

 Memberi garis tepi pada peta

 Memberikan keterangan (legend)

peta

 Memasukkan arah mata angina

 Memasukkan skala batang

 Memasukkan skala nominal

 Memasukkan gambar lain ke peta

 Memasukkan objek lain ke pet

(13)

BAB 2

KOREKSI GEOMETRI

Data dalam SIG dapat berasal dari berbagai sumber data. Data tersebut harus dapat dibaca dan diolah dalam SIG. Salah satu data yang dapat digunakan adalah data raster. Data raster biasanya diperoleh dengan cara scanning peta, hasil foto udara dan citra satelit. Namun demikian, dataset peta hasil scan biasanya tidak berisi informasi referensi spasial. baik yang tersimpan di dalam file atau disimpan sebagai suatu file yang terpisah.

Untuk menggunakan beberapa dataset raster bersama dengan data spasial yang lain yang sudah ada, harus melakukan proses georeferencing kedalam sebuah sistem koordinat (koreksi geometrik). Suatu sistem koordinat peta adalah penggunaan sebuah proyeksi pada sebuah peta atau data (sebuah metoda dimana permukaan lengkung bumi digambarkan sebagai suatu permukaan datar).

Ketika melakukan georeference pada dataset raster, menggambarkan lokasi dengan menggunakan koordinat peta dan menempatkannya kedalam sebuah sistem koordinat. Georeferencing data raster menjadikan data raster tersebut mudah ditampilkan, ditelusuri dan dianalisa dengan data geografis yang lain.

Rektifikasi adalah sebuah proses transformasi data, dari data yang belum mempunyai koordinat geografis menjadi data yang akan mempunyai koordinat geografi (georeferensi). Data yang sudah direktifikasi selanjutnya dapat ditumpangsusunkan atau dioverlaykan dengan beberapa data lain yang sudah tereftifikasi lebih dulu seperti data raster/image (foto udara, citra satelit atau peta scan dengan data spasial) di dalam GIS. Georeferencing memberikan referensi geografis pada data grafik yang belum memiliki koordinat bumi. Praktek modul ini bertujuan agar peserta apat melakukan koreksi geometri atau memberi koordinat geografis pada peta tematik yang belum memiliki referensi keruangan. Beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk mengoreksi koordinat peta adalah sebagai berikut.

 Sebelum memulai koreksi geometris, data atau peta yang memiliki koordinat

geografis di “add” pada monitor display. Sebaiknya juga ditentukan sistem proyeksi apa yang akan digunakan sebelum koreksi geometris.

(14)

untuk memasukkan peta dalam bentuk JPEG atau hasil pemindaian yang akan

dikoreksi (Gambar 2.1).

 Klik kanan di bagian kosong Menu Bar  Pilih georeferencing

 Klik Add Control Point pada Menu Georeferencing

(15)

 Klik OK

Pemberian koordinat tersebut dilakukan paling sedikit di tiga titik yang mewakili area yang dikoreksi.

 Menyimpan hasil koreksi koordinat peta dengan Klik Rectify pada Menu Georefencing

(16)

 Jenis atau tipe data yang akan disimpan untuk Koreksi peta harus ditentukan, misalnya dalam bentuk ERDAS IMAGINE (*.img)  Klik Save.

(17)

Bab 3

Membuat Data Spasial

Data spasial dibuat dengan tujuan agar data-data dapat dibaca, dipanggil dan diolah secara otomatis. Data spasial dapat diperoleh dengan cara melakukan digitasi. Digitasi secara umum dapat didefinisikan sebagai proses konversi data analog kedalam format digital. Objek-objek tertentu seperti jalan, rumah, sawah, dan lain-lain yang sebelumnya dalam format raster Pada sebuah citra satelit resolusi tinggi dapat diubah kedlam format digital dengan proses digitasi.

Proses digitasi secara umum dibagi dalam dua macam yaitu (1) Digitasi menggunakan digitizer dan (2) Digitasi onscreen di layar monitor. Dalam proses

digitasi menggunakan digitizer memerlukan sebuah meja digitasi atau digitizer. Adapun digitasi onscreen paling sering dilakukan karena lebih mudah dilakukan, tidak

memerlukan tambahan peralatan lainnya, dan lebih mudah untuk dikoreksi apabila terjadi kesalahan. Peta yang dapat didigitasi onscreen adalah peta yang telah

direktifikasi. Oleh karena itu, peta yang sudah direktifikasi dipanggil ke dalam ArcMap dengan cara File> Add Data di toolbar menu. Peta dalam bentuk “img” dipanggil (Gambar 3.1 sampai dengan Gambar 3.16).

Gambar 3.1. Cara memanggil file rektifikai

Langkah – langkah untuk melakukan digitasi onscreen adalah sebagai berikut berikut

(18)

1. Mengidentifikasi terlebih dahulu objek-objek yang akan didigitasi, yaitu titik, garis dan polygon.

2. Setelah objek teridentifikasi, langkah selanjutnya membuat shapefile untuk

masing-masing kategori objek melalui ArcCatalog.

3. Membuka ArcCatalog melalui klik menu ArcCatalog di menu toolbar.

Gambar 3.2. Membuka ArcCatalog di menu toolbar

4. Jika ArcCatalog terbuka, pilih folder dimana shapefile yang akan dibuat ingin disimpan. Misalnya, data hasil digitasi akan disimpan di folder “data gis” di drive D.

5. Klik kanan jendela bagian kanan ArcCatalog sehingga muncul beberapa pilihan, kemudian klik New > pilih Shapefile.

Gambar 3.3. Beberapa pilihan pada ArcCatalog

Kemudian akan muncul jendela “Create New Shapefile”. Isikan nama shape file

(19)

dropdown list Feature Type.

Gambar 3.4. Memberi nama shapefile dan menentukan jenis feature

Misalkan, jika akan mendigitasi objek jalan, maka isikan “Jalan” dalam text boxName,

kemudian pilih Polyline di dropdown listFeature Type sebagai jenis feature-nya.

Feature Type atau jenis feature merupakan gambaran objek-objek pada dunia nyata ke

dalam bentuk geometri sederhana. Objek yang memanjang seperti jalan, pipa air, jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, dan lain-lain diilustrasikan dalam betuk garis (Line/Polyline), untuk objek-objek yang memiliki luasan dan berbentuk area seperti

sawah, kolam, rumah, batas desa, dan lain-lain direpresentasikan dalam bentuk

Polygon. Adapun untuk objek-objek yang berbentuk titik-titik seperti lokasi tower,

lokasi tiang listrik, lokasi sumur bor, dan lain lain dipresentasikan dalam bentuk Point.

Sebelum memulai digitasi sistem koordinat yang digunakan harus didefinisikan terlebih dahulu. Untuk menentukan sistem koordinat shapefile yang akan dibuat, klik

Edit, hingga muncul jendela “Spatial Reference Properties” seperti tampak pada Gambar

3.5.

Isikan nama shapefile

(20)

Gambar 3.5. Menentukan sistem koordinat shapefile yang akan dibuat

Klik tombol Select, sehingga muncul jendela “Browse for Coordinate System”.. Pilih

pilihan Projected Coordinate Systems misalnya untuk suatu daerah Sumatera Utara

menggunakan UTM (Universal Transverse Mercator) zone 47N, dengan datum WGS

1984. maka pilih Utm, kemudian pilih Wgs 1984, setelah itu pilih WGS 1984 UTM Zone

(21)

Gambar 3.6. Memilih Projected Coordinate Systemsuntuk suatu daerah menggunakan

UTM

Setelah shapefile berhasil dibuat, akan tampak di jendela display Arc Catalog.

Setelah identitas shapefile dibuat, selanjutnya dilaksanakan kegiatan digitasi. Kembali ke ArcMap, kemudian tambahkan atau panggil shapefile-shapefile yang akan digitasi,

mengunakan tombol Add Data.

Untuk memulai digitasi, pilih menu Editor > Start Editing

(22)

Kemudian akan muncul jendela seperti gambar di bawah ini. Dalam jendela tersebut akan muncul nama-nama layer yang akan di edit yang berada dalam satu folder yang sama. Klik tombol Start Editing untuk memulai digitasi.

Gambar 3.8. Klik tombol Start Editing untuk memulai digitasi

Dalam kegiatan digitasi penggunaan tool snapping akan sering dilakukan. Snapping

adalah suatu tool yang sangat berguna untuk mendeteksi titik (Vertex), ujung garis

(End), atau tepi(Edge) dari vektor shapefile. Tool ini sangat bermanfaat untuk

menghubungkan atau menghimpitkan antar garis atau titik dalam proses digitasi, sehingga bisa mereduksi kesalahan dalam digitasi berupa garis yang tidak nyambung atau berhimpit. Untuk mengaktifkan snapping pilih menu File> View >Toolbar > Editor

Snapping. Selanjutnya akan muncul jendela “Snapping Environment”. Berilah tanda check pada masing-masing layer sesuai pilihan-pilihan snapping yang diinginkan

Selanjutnya untuk memulai digitasi, pada Menu utama pilih View > Toolbars > Editor,

kemudian pilihlah layer yang akan didigitasi di dropdown list Target. Misalnya layer

jalan. Pada dropdown list Task pastikan memilih Create New Feature. Kemudian pilih

(23)

Gambar 3.9. Memulai digitasi

Untuk memulai digitasi arahkan mouse ke objek “medan” dalam gambar, klik pada

sebuah titik permulaan, kemudian ikuti sepanjang jalan tersebut dengan mouse, klik

pada tiap-tiap belokan (setiap klik akan menghasilkan vertex), sehingga tergambar

garis hasil digitasi tersebut.

Setelah selesai mendigitasi garis maka dilanjutkan dengan mendigitasi Polygon. Detail-detal yang berupa area dan memiliki luas didigitas satu per satu dan disimpan setelah selesai.

Demikian juga setelah selesai mendigitasi garis dan poligon maka dilanjutkan dengan mendigitasi titik-titik landmark. Detail-detal yang berupa lokasi atau titik didigitasi satu per satu dan disimpan setelah selesai.

Dropdown list Contruction tool

(24)

Gambar 3.10. Mendigitasi titik-titik landmark

Untuk mendigitasi layer-layer yang lain, ganti nama layer pada menu Target di toolbar menu Editor. Untuk menghentikan digitasi, cukup double click pada titik akhir digitasi..

Hasil digitasi harus disimpan sehingga memudahkan untuk memanggil lagi. Untuk menyimpan hasil digitasi, klikmenu Editor > Save Edits. Untuk menghentikan digitasi pilih Stop Editing.

(25)

Annotasi Sederhana

Jika akan memberikan annotasi dengan teks untuk memberikan tanda Kecamatan Jantho pada image dibawah ini.

Cara termudah menggambar obyek di ArcMap adalah menggunakan sistem annotasi dan toolbar drawing. Tombol Draw sama seperti yang terdapat di produk Microsoft dan memberikan pilihan dalam membuat bentuk, titik, garis dan teks di peta . Tombol ini terletak dibawah kiri tampilan ArcGIS.

Gambar 3.12. Menggunakan sistem annotasi dan toolbar drawing

Berlatih dengan beberapa annotasi dipeta, meskipun tidak terdapat layer sesungguhnya tetapi hanya bentuk obyek dasar di peta.

 Dari panel Draw, klik tombol teks. Ketik Kecamatan Jantho pada peta.

akan berlatih untuk memberikan annotasi pada beberapa nama kota dipeta.

 Untuk memperindah tampilan, dapat mengubah beberapa teks warna, ukuran maupun stylenya. Caranya: pertama, dengan memilih keterangan teks lalu ubahlah warna, style dan atau ukuran teks. Hal ini bisa dilakukan dengan bantuan drawing tools yang dibawah tampilan ArcGIS.

Gambar 3.13. Memperindah tampilan

 Untuk titik, dapat menandakan dengan memasukkan symbol. Untuk melakukannya, klik tombol Marker dan tambahkan point. dapat memilih point yang diinginkan dan

(26)

bagan tersebut, dapat merubah warna, ukuran maupun bentuk dari point yang ada.

Gambar 3.14. Merubah warna dan simbol

Apabila dirasa perlu bentuk yang lain dari yang telah ada pada bagan pilihan bentuk Symbol Selector, dapat mengklik More Symbols dan mendapatkan beberapa pilihan selain yang sudah tersaji sebelumnya di Symbol Selector.

(27)

 Pastikan tidak lupa untuk selalu menyimpan hasil latihan. Simpanlah map document latihan ini dengan mengklik Save pada File tools yang terletak dipojok kiri atas

tampilan ArcGIS. Setelah itu pilih folder penyimpanan di

c:\BasicArcGIS\Data\filename.mxd

Gambar 3.16. Menyimpan hasil latihan

(28)

BAB 4

PENGOLAHAN DAN PEMBUATAN DATA PETA

Prinsip GIS adalah mengolah dan menganalisa data-data yang tersimpan sebagai data digital dalam database sebuah sistem informasi geografis. Sistem informasi geografis, dunia nyata digambarkan berdasarkan posisi ruang (space) dan klasifikasi,

atibut data, dan hubungan antar item data. Tingkat ketelitian dan kedetailan peta digital bergantung pada skala dan dasar acuan geografis. Data yang validitasnya tinggi merupakan kunci kualitas output analisis dalam SIG.

Data yang digunakan berasal dari data skunder yang sudah dimiliki maupun data primer yang langsung diukur di lapangan. Data hasil pengukuran lapangan dapat digunakan untuk memperbarui (updating) ataupun menambah informasi baru.

(29)

Dari Menu File → klik Add Data atau klik , muncul dialogbox Add Data

Gambar 4.2. Menambahkan Data Frame

Pilih File data peta yang ingin dibuka (misal : tutupanlahan2011) → klik Add 3. Membuat shapefile baru

Data shapefile dikelola dalam ArcCatalog, oleh karenannya untuk memulai pembuatan

shapefile baru dimulai dari “Klik tools ArcCatalog

Gambar 4.3. Memulai pembuatan shapefile baru

(30)

Gambar 4.4. Menentukan direktori lokasi File yang ingin di simpan

 Klik Kanan pada Folder yang akan dibentuk Shapefile NewShapefile

Gambar 4.5. Membuat folder yang akan dibentuk Shapefile

(31)

Gambar 4.6. Memberi nama shapefile pada dialog Name

 Untuk menentukan proyeksi klik tab Edit.Klik select

Gambar 4.7. Menentukan proyeksi klik tab Edit

(32)

Gambar 4.8. Memilih Projected Coordinate System

 Pilih Utm

Gambar 4.9. Memilih Projected Coordinate System UTM

(33)

Gambar 4.10. Memilih WGS 1984

 Klik Ok

Gambar 4.11. Shapefile yang telah dibuat selesai

Klik Ok

 Shapefile yang telah dibuat Addkan pada ArcMap  klik Star Editingklik tool Pensil  Kerjakan Penambahan Shepefile  Stop Editing.

(34)

ArcGis ArcMap memiliki kemampuan Meng-Edit File-file berformat data vektor seperti Coverages, Shapefiles, dan Geodatabases. Semua fungsi-fungsi editing terdapat

dalam toolbar berikut:

Gambar 4.12. Fungsi-fungsi editing terdapat dalam toolbar

Edit Commands : Menu yang berisi perintah editing untuk memulai, mengakhiri, dan menyimpan hasil editing.

Edit Tool: Tool yang digunakan untuk memilih fitur yang akan di-edit

Sketsa Tool: Tool Utama ini untuk mengedit fitur spasial, yang memungkinkan kita untuk melakukan digitasi fitur yang baru, maupun memodifikasi shapefile

yang telah ada.

Task List: Tempat yang menunjukkan bagian dari fitur class yang sedang di-edit.

Layer Control: Bagian yang mengatur pilihan layer yang akan di-edit.

Kotak Attribute: Bagian yang memungkinkan untuk meng-edit nilai attribute dari fitur yang dipilih.

5. Proses Digitasi

(35)

Add Shapefile point yang telah dibuat dari ArcMAP

Klik FileAdd Data atau Klik

Gambar 4.13. Memulai proses digitasi Point (titik)

 Klik EditorStart Editing . Editor toolbar telah aktif dan siap untuk memulai editing.

 Klik tombol panah kebawah dari Menu Task List dan Klik Create New Feature.

 Klik tombol panah kebawah Target Layer Control dan Klik suatu layer Point.

 Klik Sketsa tool

 Klik pada peta untuk menghasilkan suatu titik.

Gambar 4.14. Proses digitasi Point (titik)

(36)

 Mengakhiri Editing : Klik Menu Editor dan Klik Stop Editing. Pilih Yes untuk mengakhiri dengan menyimpan hasil editing, atau Pilih No untuk mengakhiri tanpa menyimpan

Menambah Field pada Table atau membuat keterangan Point

 Klik kanan Field pada Table of Contents  Open Attribute Table

 Klik Option AddFile Isikan nama field pada NameTypeField Properties

 Klik OK

Gambar 4.15. Menambah Field pada Table atau membuat keterangan Point

 Mengisi keterangan pada Field yang telah dibuat:

(37)

Gambar 4.16. Mengisi keterangan pada Field yang telah dibuat  EditorStart Editing  Double click pada tempat yang akan di-isikan

recordnya.

Setelah diisi data atributnya Klik EditorStop Editing

 Lakukan langkah yang sama untuk mengisi keterangan pada baris berikutnya hingga selesai.

 Mengakhiri Klik Editor Menu dan Klik Stop Editing. Klik Yes untuk mengakhiri dengan menyimpan.

 Merubah/memodifikasi tampilan jenis point

 Klik kanan pada Field di dalam Table of Contents  Properties  Pilih menu Symbology pada layer Properties

(38)

Gambar 4.17. Merubah/memodifikasi tampilan jenis point

 Pilih model dan warna yang diinginkan Klik OK

Gambar 4.18. model dan warna yang dipilih

Membuat point atau vertex dengan Sistem Koordinat Peta (Absolute X, Y)

(39)

 Klik kanan dibagian mana saja dari peta dan Klik Absolute X, Y.

 Masukkan nilai koordinat yang diinginkan, kemudian tekan Enter

Proses Digitasi Polyline

Add Shapefile polyline yang telah dibuat dari ArcMAP, Kemudian ikuti langkah-langkah seperti Proses Digitasi pada Point

Klik FileAdd Data atau Klik lakukan proses digitasi  Klik pada peta untuk digitasi membentuk Line

 Setelah selesai, Klik kanan pada peta dan Klik Finish Sketch atau Double Klik pada titik terakhir dari Line

Gambar 4.19. Proses Digitasi Polyline

Edit Line

Membuat Line baru dengan

melanjutkan line yang telah ada

Klik Editor menu 

(40)

Gambar 4.20. Edit garis

Klik Sketsa tool Lanjutkan proses digitasi

Gambar 4.21. Penggunaan Sketsa tool

Proses Digitasi Polygon

 Add Shapefile polygon yang telah dibuat dari ArcMAP, Kemudian ikuti langkah-langkah seperti Proses Digitasi pada Point dan palyline

Klik FileAdd Data atau Klik , Lakukan Proses Digitasi  Klik pada peta untuk mendigitasi membentuk Poligon

(41)

Setelah selesai, Klik kanan pada peta dan Klik Finish Sketch atau double Klik pada titik terakhir dari Poligon

 Perluasan Polygon

 Aktifkan Polygon yang mau diperluas Area nya  Klik tombol Reshape Feature

Gambar 4.23. Perluasan Polygon

 Mulai digit dari dalam Polygon dan akhiri dengan double Klik di dalam Polygon juga

(42)

Gambar 4.24. Memulai dan mengakhiri perluasan Polygon

 Klik Editor Menu dan Klik Save Edits (kalau mau menyimpan)

 Memotong/membelah Polygon

 Aktifkan Polygon yang mau dipotong  Klik tombol Cut Polygon Feature

 Dimulai dari luar Polygon dan diakhiri dengan double Klik diluar Polygon yang dipotong

Gambar 4.25. Mengaktifkan Polygon yang mau dipotong

(43)

 Membuat Poligon baru bersebelahan dengan polygon yang sudah ada dengan batas dua polygon berimpit sama.

 Klik tombol panah ke bawah dari Menu Task List dan Klik Auto-Complete polygon

 Mulai digit dari dalam Polygon dan akhiri dengan double Klik didalam Polygon yang sama.

Gambar 4.27. Membuat Poligon baru bersebelahan dengan polygon yang sudah ada dengan batas dua polygon berimpit sama

(44)

Gambar 4.28. Mulai digit dari dalam Polygon dan akhiri dengan double Klik didalam Polygon yang sama

Pengabungan dua polygon atau lebih menjadi satu polygon

 Blok Polygon yang mau digabung  Klik Editor menu  Merge  Klik OK

Membuat Id/Keterangan Polygon pada Table sama dengan yang dilakukan pada Point dan Line

6. Proses Peng-Edit-an

 Memulai Editing: Klik Editor Menu and Klik Start Editing. Editor toolbar telah aktif dan siap untuk memulai editing.

 Menyimpan Hasil Editing: Klik the Editor Menu dan Klik Save Edits. Proses edit yang telah dilakukan telah tersimpan dalam database-nya.

 Mengakhiri Editing : Klik Editor Menu dan Klik Stop Editing. Klik Yes untuk mengakhiri dengan menyimpan hasil editing, atau Klik No untuk mengakhiri tanpa menyimpan

Mencari Record

Klik kanan File pada Table of ContentsOpen Attribute TableOptionSelect by Attributes

Gambar 4.29. Prosses mencari record

Mengkopi Layer

Klik kanan File dalam Table of Contents  Save As  Isi nama filenya  Save

Membuat dua label pada peta dapat kerjakan dengan menambah layer yang sama

Record pada Field dalam Table

Field dalam Table Logika Matematika

(45)

atau menimpakan layer dengan layer yang sama dan memberikan label yang berbeda, kemudian mentransparansikannya.

Mentransparansikan Layer

Gambar 4.30. Proses Mengkopi Layer

(46)

BAB 5

MEMASUKKAN DATA GPS

ArcGIS dapat menggunakan data yang berasal dari perekaman Geographics

Positioning System (GPS). Ini sangat bermanfaat bagi pembaharuan basis data dalam

Sistem Informasi Geografis. ArcGIS dapat membaca data yang berasal dari GPS dalam

format “txt”, maupun dbf. GPS merupakan alat untuk merekam posisi geografis suatu obyek di permukaan bumi. GPS yang umumnya digunakan dikelompokkan ke dalam GPS

navigasi, mapping dan geodetic. GPS yang digunakan dalam panduan ini adalah GPS

navigasi Garmin Type 60 CS. Adapun tahapan-tahapan yang dilalui untuk memasukkan

data GPS ke dalam sistem informasi geografis dengan ArcGIS sebagai berikut.

1. Instal DNR Garmin

Menjalankan pemasangan DNR Garmin dengan Klik dnrgarminsetup.exe dari CD

Gambar 5.1. Menjalankan pemasangan DNR Garmin

(47)

Gambar 5.2. Lisence Agriment pada DNR Garmin

Kemudian pilih I accept the terms in license agreement. Klik Next

(48)

Gambar 5.4. Proses instal pada DNR Garmin selesai

Untuk mendownload data koordinat dari Receiver Garmin GPS 60, klik toolbar DNR

Garmin Open Garmin GPS.

Akan muncul windows MN DNR Garmin / ArcView.

Gambar 5.5. Mendownload data koordinat dari Receiver Garmin

(49)

muncul tulisan Connected di kolom sebelah kiri pojok. Dan disitu tertulis tersambungnya ke

GPS 60i Software version 2.10 VERBMAP None beserta Lat dan Long-nya.

Gambar 5.6. Menyambungkan data koordinat dari Receiver Garmin ke ArvGIS/Arc view

Sebelum mendownload file koordinat dari GPS, system proyeksinya harus didefinisikan

terlebih dahulu dengan meng-klik File - Set Projection.

Gambar 5.7. Set Projection untuk mendefinikan system proyeksi

Setelah muncul DNR Garmin Properties, pada lembaran Projection tandai pilihan ESRI,

(50)

Gambar 5.8. Set Datum/Projections-nya dengan memilih GCS_WGS_1984

Setelah selesai mendefinisikan system proyeksi Garmin, maka untuk mengunduh (download)

(51)

Gambar 5.9. Mengunduh (download) titik koordinat

Secara default program ini akan memunculkan seluruh titik-titik yang tersimpan dalam GPS

Garmin.

(52)

Untuk menghapus titik yang tidak diperlukan, pilih satu baris pada tabel yang akan dihapus,

untuk menambah pilihan klik baris satunya lagi sambil menekan tombol shift.

 Setelah dipilih, simpan titik koordinatnya. Salah satunya dalam bentuk shapefile (shp)

atau dalam bentuk database (dbf).

 Klik toolbar File Arcview Shapefile

Gambar 5.11. Menyimpan titik koordinat

 Simpan shapefile-nya di folder kerja yang digunakan. Klik Save. Misalnya dengan nama

“titiklapangan”. Selain itu koordinat titik dari GPS juga dapat disimpan dalam bentuk “txt” misalnya “titiklapangan.txt”.

 Add data atau Klik ArcMAP, untuk memanggil data “titiklapangan.txt” atau

(53)

Gambar 5.12. memanggil data “titiklapangan.txt” atau “titiklapangan.dbf” dari data

folder

Klik kanan pada data yang telah “lia_jamanis” Add  Display XY Data

Gambar 5.13. Mendisplay XY Data

(54)

Gambar 5.14. Memilih Projected Coordinate System

 Pemilihan system koordinat akan muncul lagi pada display “Display XY Data”. Terdapat deskripsi system koordinat yang diinputkan, jika sudah sesuai maka klik Ok,

(55)

- - -

Gambar 5.14. Menampilkanseluruh titik lapangan akan tampil dalam satu display

- Layer “titiklapangan” selanjutnya disimpan dengan mengeksport event layer tersebut menjadi Shapefile.

 Klik kanan pada layer koordidat.txt events dan pilih Data  Export Data

Gambar 5.15. Export Data

- Simpan file (dokumen hasi kerja) tersebut ke dalam folder kerja. Misalnya beri

(56)

adalah titik titik lapangan hasil pengecekan di lapangan telah menjadi bentuk “ shapefile” dan disimpan dalam folder kerja.

(57)

BAB 6

TATA LETAK DAN DESAIN PETA

Tahapan terakhir dari pekerjaan pembuatan peta adalah penyajian data. Penyajian data dapat berbentuk peta, tabel atau grafik. Untuk mendapatkan tampilan yang menarik tentang penyajian peta, grafik dan tabel memerlukan tata letak yang proporsional dan sesuai dengan standar. Melalui fasilitas layout (tata letak) dapat diatur data yang akan digunakan sebagai output dari proses atau analisis GIS yang digunakan serta bagaimana data tersebut akan ditampilkan.

Tata letak peta merupakan teknik menampikan peta, bagan, tabel dan data grafis (asli maupun import) dalam sebuah tampilan dengan skala tertentu. Tata cara penyajian mengikuti aturan atau standar peta yang ditetapkan oleh Badan Informasi Geospasial dalam SNI Peta Tematik. Tata letak membatasi data yang akan digunakan serta bagaimana tampilannya. Sifat tata letak dalam Sistem Informasi Geografis adalah dinamis, karena bisa membuat grafis yang berhubungan langsung dengan data. Misalnya jika data pada peta berubah, maka layout secara otomatis ikut berubah. Tahapan-tahapan dalam mengatur tata letak penyajian peta sebagai berikut (Gambar 1 sd Gambar 6.35).

 Buka file view peta yang akan disajikan dan diatur tata letaknya. Tampilan view pulau Samosir dan sekitarnya akan diatur tata letaknya

(58)

 Berdasarkan data view di atas, ditampilkan dalam bentuk layout view. Menu View

 layout view

Gambar 6.2. Bentuk layout view

 Selanjutnya akan muncul tampilan seperti di bawah ini

(59)

Gambar 6.4. Icon pada layout view

Ukuran kertas ditentukan sesuai dengan keperluan pencetakan peta. Memilih ukuran kertas untuk layout peta

 Klik File  Klik Page and print setup

Gambar 6.5. Menu untuk memilih ukuran kertas untuk layout peta

 Selanjutnya Pilih Paper  pilih ukuran kertas yang diinginkan, Misalnya

ukuran A4

Memperbesar tampilan peta pada Layout

Memperkecil tampilan peta pada Lauout

Menggerakkan peta pada Layout

Tampilan Layout 100%

(60)

Gambar 6.6. Menu untuk memilih ukuran kertas seperti A4

Posisi kertas dapat dirubah sesuai dengan tata letak yang diinginkan. Merubah posisi kertas

- Klik Orientation pilih Portrait atau Landscape

- Klik OK

(61)

Langkah selanjutnya adalah menampilan Legenda Peta yang menjelaskan peta yang akan dicetak. Memunculkan Legenda

 Klik Insert  Klik Legend

 

Gambar 6.8. Memunculkan Legenda

Pada kotak dialog ”legend wizard” pilih Layer yang akan dimunculkan sebagai legend  Klik Next

Gambar 6.9. Kotak dialog ”legend wizard”

(62)

Gambar 6.10. Mengatur Format Penulisan Judul Legend

 Mengatur Frame (Bingkai) untuk Legend  Klik Next

(63)

 Mengatur Format Area Legend  Klik Next

 Klik Next

Gambar 6.12. Mengatur Format Area Legend

(64)

Gambar 6.13. Menampilkan hasil pengaturan / layout

Standar peta juga memuat arah mata angin. Selanjutnya menampilkan Mata Angin

Gambar 6.14. Menampilkan Mata Angin

- Pilih bentuk yang diinginkan  Klik OK

(65)

Gambar 6.15. Memilih bentuk mata angin

Untuk menunjukkan besarnya ukuran peta maka perlu menampilkan skala peta, melalui penampilan Skala Batang

- Klik Insert  Klik Scale Bar

(66)

- Pilih model Scale Bar  Klik OK

Gambar 6.17. Memilih model skala bar

Selain skala batang, dapat juga ditampilkan Skala Angka

- Klik Insert  Klik Scale Text

Gambar 6.18. Memilih model skala angka

(67)

Gambar 6.19. memilih model Scale Bar

Sangat penting untuk memberi nama /judul peta. Menampilkan Judul Peta

Gambar 6.20. Menampilkan Judul Peta

- Pilih Insert  pilih Title

(68)

kotak dialog. Pada kotak dialog ini dapat memilih jenis huruf, ukuran huruf dan tampilan huruf.

Gambar 6.21. Menulis judul peta

Sistem koordinat yang dimiliki oleh peta dapat ditampilkan dalam grid koordinat. Grid koordinat ditampilkan melalui.

- Pilih View  Klik Data Frame Properties

-

(69)

Selanjutnya Pilih Tab Grid  pilih New Grid  Next

Gambar 6.23. Menampilkan Grid koordinat melalui Tab Grid

(70)

Gambar 6.24. Memilih jenis grid

- Pilih Next

Gambar 6.25. Memilih axes dan label

(71)

Gambar 6.26. Pembuatan grid selesai

- Pilih Apply  Klik OK

Gambar 6.27. Membuat data frame

Mengubah Tampilan Skala Bar

(72)

Gambar 6.28. Mengubah Tampilan Skala Bar

Gambar 6.29. Menampilkan Skala Bar

Legend dapat diubah tampilannya

- Klik kanan pada kotak legend  Pilih Covert To Graphics

(73)

Gambar 6.30. Mengubah tampilan legend

Mengedit teks pada kotak legend  Ketik pada Tab Text  pilih OK

- Pilih teks yang akan di edit  pilih Properties

(74)

 Untuk membuat tampilan lebih menarik, peta dapat diberi tambahan bingkai pada layoutnya (Gambar 6.32).

- Pilih Insert  Pilih Neatline

(75)

 Pilih yang Anda suka  Pilih OK

 Sehingga muncul tampilan akhir seperti berikut:

Gambar 6.32. Membuat bingkai pada layout peta

 Memberi warna Background Peta dalam Grid

(76)

Gambar 6.33. Memberi warna Background Peta dalam Grid

Menampilkan Grafik

ToolsGraphCreate  Pilih modelnya  NextNextFinish

Membuka Report

ToolsReport  Pindahkan Available FieldReport FieldGenerate Report

Menambah Field pada tabel

Klik kanan File pada Table of ContentsOpen Attribute TableOptionAddFile

 Isikan nama field pada NameTypeField Properties

Menampilkan Table pada Layout Peta :

EditorStart Editing  Klik kanan pada Field di dalam Table of ContentsOpen Attribute TableOptionAdd Table to Layout

Export Layaot Peta ke bentuk PDF, JPEG,TIF,...

- Klik menu File  Export Map

Pengaturan mode Border

Pengaturan warna Background

(77)

Gambar 6.34. Export Layaot Peta

Buat nama File nya  Pilih jenis format data yang diinginkan  Atur Resolution yang diinginkan  Klik Save Untuk menyimpan data yang tela di Export

(78)

BAB 7

APLIKASI DI BIDANG KEHUTANAN DENGAN ARC GIS

Penggunaan Arc GIS sangat membantu pekerjaan. Beberapa contoh yang telah diaplikasikan oleh penulis, diantaranya :

1. Penggunaan Arc GIS dalam menentukan Indeks restorasi landscape hutan tropis terdegradasi DAS Batang ToruSumatera Utara

Tulisan ini merupakan bagian dari desertasi penulis yang didukung oleh PhD Grant SEAMEO-BIOTROP 2013 dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas Beasiswa Program Doktor di Institut Pertanian Bogor, sebagai berikut:

Pendahuluan

Degradasi hutan dan deforestasi berdampak pada kerusakan landscape hutan. Kerusakan landscape hutan tropis di Indonesia menyebabkan lahan terdegradasi. Degradasi lahan ini memunculkan lahan-lahan kritis. Pada tahun 2010, lahan kritis Indonesia meningkat menjadi 81.664.294,90 ha, lebih besar dibanding tahun 2006 sebesar 77.806.880,78 ha. Sebagian lahan kritis tersebut, seluas 2.753.596,70 ha berada di Sumatera Utara (Kementerian Kehutanan, 2010). DAS Batang Toru di Sumatera Utara memiliki lahan kritis seluas 13.000 ha pada tahun 2005, dan bertambah menjadi 17.000 ha pada tahun 2009. Kondisi ini menurunkan fungsi ekosistem hutan.

Peningkatan dan pengembalian fungsi ekosistem hutan dapat melalui rehabilitasi dan restorasi hutan. Restorasi hutan dapat dilaksanakan dengan pendekatan restorasi landscape hutan yaitu kegiatan restorasi hutan untuk mendapatkan keseimbangan fungsi konservasi dan kebutuhan masyarakat (McCraken

et al. 2007), integritas fungsi ekologis dan peningkatan kesejahteraan manusia

(Mansourian et al. 2005) di area yang terdeforestasi dan landscape terdegradasi.

Rehabilitasi hutan dan lahan yang telah dilakukan belum sepenuhnya berhasil dalam konteks fungsionalitas eksosistem hutan. Karena umumnya restorasi hanya sebagai persyaratan dalam kegiatan reklamasi pertambangan, sehingga pelaksanaannya hanya tapak per tapak (Ruiz et a.l 2005). Beberapa penelitian mengukur keberhasilan

(79)

keberhasilan restorasi. Pendekatan kesuburan tanah dapat digunakan untuk mengetahui indikator keberhasilan restorasi (Rohyani, 2012). Pada skala lebih luas diperlukan perubahan perencanaan dari restorasi tapak per tapak menjadi berbasis landscape (Lamb 2005). Restorasi diawali dari area dengan fragmentasi yang sangat merusak dan jumlah penduduk besar (Bright et al. 2011). Komponen penting dalam

restorasi landscape adalah identifikasi tapak potensial untuk restorasi dan aspeks restorasi dalam konteks spasial dan temporal. Penentuan prioritas tapak restorasi menjadi penting untuk menjamin keberhasilan restorasi serta efisiensi dan kesinambungan proyek restorasi. Oleh karena itu diperlukan suatu nilai yang menyatakan tingkat prioritas tapak yang harus direstorasi terlebih dahulu. Penelitian ini mendesain indeks restorasi yang menyatakan nilai yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu tapak hutan perlu direstorasi atau tidak dan dari mana restorasi harus dimulai dalam sebuah ekosistem hutan.

Metode

Bahan dan alat

Data-data yang digunakan dalam penelitian adalah citra satelit landsat tahun 1989, 2001 dan 2013 path/raw 128/059, peta unit lahan, peta kontur, data vegetasi, data sifat fisik dan kimia tanah, dan bentuk erosi di lapangan. Kegiatan survey lapangan menggunakan GPS, haga, phi band, bor tanah, dan ring tanah. Sedangkan alat yang digunakan untuk menganalisis data adalah ENVI 4.5 untuk interpretasi citra satelit, arc gis untuk analisis spasial, fragstat untuk membangkitkan metrik landscape, TAL (Texture AutoLookup) untuk menentukan tekstur tanah, serta excel dan SPSS untuk

analisis statistik.

Pengumpulan data lapangan

Pada kegiatan pengambilan data lapangan, setiap titik pengamatan dibuat plot contoh berbentuk segi empat dengan ukuran 50 m x 50 m terbagi ke dalam 4 kuadran ukuran 25 m x 25 m. Data vegetasi dikumpulkan dari plot contoh adalah pohon (plot 25 m x 25 m), tiang (plot 10 m x 10 m), pancang (5 m x 5 m) dan semai (plot 2 x 2 m). Pengambilan sampel tanah untuk pengukuran bobot isi (bulk density) dilakukan di 54

plot contoh (kedalaman 10 20 cm) dan untuk pengukuran sifat kimia dan fisika tanah dilakukan pada 70 plot contoh (kedalaman 10-40 cm).

(80)

a. Kerusakan hutan

Tingkat degradasi hutan ditentukan menggunakan nilai NDVI dan MSAVI. Persamaan regresi linear disusun dengan peubah bebas NDVI dan MSAVI dan peubah tak bebasnya kerapatan pohon (Wen et al. 2010.). Selanjutnya dugaan

kerapatan tegakan dikelaskan dan dikonversi menjadi indeks degradasi landscape hutan menggunakan persamaan [9] (Jaya et al. 2007). Skor total dihitung

menggunakan persamaan [1]. Bobot ditentukan berdasarkan koefisien regresi hubungan antara kerapatan vegetasi dan variabel bebas.

Peta tutupan lahan dianalisis menggunakan Fragstat 3.3 menghasilkan metrik landscape. Metric landscape yang digunakan adalah area, number of patch, patch

density, proximity dan contiguity (McGargical 1995; Fahrig 2003; Li et al. 2009; Sing et al. 2010). Masing-masing metrik landscape diberi skor berdasarkan skala Likert

(Tabel 1). Skor fragmentasi merupakan penjumlahan masing-masing skor metriks landscape (sub faktor fragmentasi) menggunakan persamaan [1]. Bobot ditentukan menggunakan analisis PCA

Adapun masing-masing metrik landscape dirumuskan sebagai berikut :

a.

(81)

d.

tepian patch, dihitung dari pusat sel ke pusat sel lainnya

c. Konektivity hutan

Konektivity ditentukan berdasarkan nilai metrik landscape. Metrik landscape yang digunakan adalah connectan dan radius of gyration (McGargical 1995, 1999, 2002;

Fahrig 2003; Li et al. 2009; Sing et al.2010). Skor konektivity merupakan

penjumlahan skor metrik landscape (sub faktor konektivity) menggunakan persamaan [1], sedangkan bobot ditentukan melalui analiis PCA.

Adapun masing-masing metrik dirumuskan sebagai berikut :

a.

(100)

tergabung/ joined) yang bersesuaian tipenya (i), berdasarkan pada ambang jarak yang diberikan

ni = jumlah patch dalam landscape yang bersesuian tipe patch nya rata), berbasis jarak pusat sel ke pusat sel

z = jumlah sel dalam patch ij

c. Degradasi lahan

Degradasi lahan ditentukan berdasarkan indikator tipe erosi yang terjadi dan karakteristik kimia dan fisika tanah (Riwandi dan Handayaningsih 2011; Puslit Tanah 2005). Masing-masing indikator diberi skor menggunakan skala Likert (Tabel 7.1). Total skor indeks degradasi lahan ditentukan menggunakan persamaan [1], sedangkan bobot ditentukan menggunakan analisis PCA.

(82)

Sub faktor Kode Kelas Skor Sub faktor Kode Kelas Skor

Proximity Proximity <554 555-1233

Contiguity Contig <0.2 0.2-0.4

Keterangan (remark) : a Bierman 2007dalam Riwandi et al. (2011), b Balitbang Tanah , (2005), c Handreck & Black (1984); Hunt & Gikes (1992) d Riwandi & Handayani (2012), dimodifikasi

Rescaling skor

Skor masing-masing indeks faktor distandarkan nilainya menggunakan persamaan [8] Jaya et al 2007. Hal ini dilakukan karena skala data yang digunakan berbeda-beda antara faktor.

[8]

Notes :

(83)

Scoretotal = skor total sebagai input

Indeks faktor merupakan hasil rescaling skor total faktor. Selanjutnya dilakukan analisis regresi dengan peubah tak bebas indeks faktor dan peubah bebasnya adalah variabel indeks. Persamaan regresi y = a + b x, dimana y adalah indeks faktor dan x adalah peubah tak bebas (variabel indeks faktor).

Model indeks restorasi

Indeks restorasi (z) dibangun menggunakan 4 indeks faktor yang diformulasikan sebagai berikut :

z = f (y1, y2, y3, y4), dimana :

z = indeks restorasi, y1 = indeks kerusakan hutan, y2 = indeks fragmentasi, y3 = indeks konektivity, dan y4 = indeks degradasi lahan

Analisis PCA dilakukan untuk menentukan bobot yang digunakan menyusun persamaan indeks restorasi. Beberapa model persamaan disusun berdasarkan eigent

value. Validasi model menggunakan uji beda nilai tengah (Z-mean test). Selanjutnya

model diuji akurasinya menggunakan Overall acuracy.

4. Hasil dan pembahasan

Indeks degradasi hutan

Degradasi hutan dinyatakan dengan indeks degradasi hutan. Kerapatan vegetasi merupakan indikator tingkat degradasi hutan. Degradasi hutan ditentukan menggunakan indeks vegetasi (Wen et al. 2010), karena adanya korelasi antara

(84)

1. Total skor kerapatan pohon dirumuskan w1 = 0.740 f1 + 0.260 f2. Sedangkan indeks degradasi hutan dirumuskan y2 = 0.938 - 0.600 x1 + 0.049 x2, dimana x1 adalah nilai NDVI dan x2 adalah nilai MSAVI. Jumlah atau kerapatan pohon sangat penting dalam konteks penyediaan habitat bagi hidupan liar, karena mempengaruhi kepadatan species (David et al. 2004). Kerapatan tegakan dan luas bidang dasar di daerah

penelitian relatif kecil jika dibandingkan dengan hutan di dataran rendah Sumatra yang mencapai 200 ind/ha (Whitten et al. 1987). Hutan mengalami kerusakan, yang

diindikasikan juga oleh nilai law frequency menunjukkan ekosistem hutan terganggu.

Indeks fragmentasi

Perbandingan nilai metrik landscape menunjukkan fragmentasi cenderung meningkat dari tahun 1989 ke tahun 2013. Sub DAS Sarula mengalami peningkatan fragmentasi signifikan dibandingkan dengan sub DAS lainnya. Peningkatkan fragmentasi diindikasikan oleh peningkatan jumlah patch serta penurunan contiguity

dan proximity (Gambar 7.1). Penurunan proximity dan contiguity menunjukkan adanya

peningkatan keterisolasian patch hutan. Faktor aktifitas manusia mempengaruhi fragmentasi landscape hutan (Gaspari dan Gran 2009). Adanya aksesibilitas berupa jalan menarik manusia membuka hutan untuk pertanian dan pemukiman sehingga menaikan fragmentasi (Simone 2010). Hutan yang tersisa umumnya mengelompok di bukit dan pegunungan (Zhang et al. 2010). Lokasi hutan yang sulit diakses dan berada

pada kelerengan tinggi menyebabkan potensi gangguannya kecil (Cabral et al. 2007).

Tingkat fragmentasi landscape hutan dinyatakan dengan indeks fragmentasi. Indeks fragmentasi hutan ditentukan berdasarkan skor area (f3), path density (f3),

proximity (f5) dan contiguity (f6). Skor total fragmentasi dirumuskan w2 = 0,283 f3 +

0,272 f4 + 0,222 f5 dan 0,248 f6,

sedangkan indeks fragmentasi

(85)

-DAFTAR PUSTAKA

Aeronoff, S. 1995 Geographic Information System: A Management Persepective. Wld. Publication.

Anderson B, Jenkins CN. 2006. Applying nature’s design: corridors as a strategy for

biodiversity conservation. Columbia University Press: New York USA.

Balai Penelitian dan Pengembangan Tanah. 2005. Petunjuk analisis tanah. air. pupuk dan tanaman. Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor

Bright, Christ, Mattom, Ashley. 2001. The restoration of a hotspot begins. Nord watch; Nov/Des 2001;14;ProQuest

Burrough, P.A., 1986. Principles Of Geographical Information Systems For Land Resources Assessment.

Cabral DC, Freitas SR, Fiszon JT. 2007. Combining sensors in landscape ecology: imagery based and farm level analysis in study human driven forest fragmentation. Sociedade & Natureza. 19: 69-87.

Collinge SK. 2000. Effects of grassland fragmentation on insect species loss, colonization, and movement patterns. Ecology. 81 (8): 2211–2226.

Crooks KR, Sanjayan M. 2006. Connectivity Conservation. Cambridge University Press:

New York.

Decout S, Manel S, Miaud C, Luque S. 2010. Connectivity and landscape patterns in human dominated landscape: a case study with the common frog Rana temporaria. www.symposcience.org [diunduh 2011 Desember 2]

Fahrig L. 2003. Effect of habitat fragmentation on biodiversity. Annual review of Ecology, Evolution, and Systematics. 34(1): 487-515. doi:

10.1146/annurev.ecolsys.34.011802.132419

Jaya, I N S, 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Kehutanan. IPB Press.

Jaya INS, Boer R, Samsuri. 2007. Developing fire risk index in Central Kalimantan.

International Research Institute and Bogor Agricultural University. A Project Reppor. Tidak diterbitkan.

Jaya INS. 2009. Analysis citra dijital: perspektif penginderaan jauh untuk pengelolaan sumberdaya alam. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Lamb D, Erskine PD, Parrota JA. 2005. Restoration of degraded tropical forest

landscapes. Science. 310 (5754):1628 –1632. doi:10.1126/science.1111.773

Li M, Huang C. Zhu Z, Shi H, Lu H. Peng S. 2009. Asessing rate of forest change and

fragmentation in Alabama, USA using the vegetation change tracker model. Forest Ecology and Management 257 (6): 1480-1488. doi:10.1016/j.foreco.2008.12.023.

Mansourian S, Vallauri D, Dudley N (eds.) 1986. Forest restoration in landscapes : beyond planting trees. Springeronline.com.

McCracken J, Maginnis S, Sarre A. 2007. The forest landscape restoration handbook

(Earthscan Forestry Library). UK: James and James.

(86)

quantifying landscape structure. Gen. Tech. Rep. PNW-GTR-351.

Prahasta, E. 2001. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Informatika, Bandung.

Puspaningsih, N. 2011. Pemodelan spasial dalam monitoring reforestasi Kawasan Pertambangan Nikel Pt. Inco di Sorowako Sulawesi Selatan. Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak diterbitkan

Rahmawaty., N. C. Siregar., dan A. Rauf. 2016. Kesesuaian lahan tanaman jati: studi kasus di Arboretum Kwala Bekala Universitas Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpal. 2(2):73-82.

Rahmawaty., P. Patana., dan S. Latifah. 2017. Spatial analysis on distribution of green belt to reduce impacts of climate change in Medan city, North Sumatera. Malay Applied Biology. 46(2):67-76.

Rahmawaty, T. R. Villanueva., and M. G Carandang. 2011. Participatory Land Use Allocation Case Study in Besitang Watershed, Langkat, North Sumatra, Indonesia. Lambert Academic Publishing. German. 200pg.

Riwandi, Handajaningsih M. 2011. Relationship between soil health assessment and the growth of lettuce. Journal of Tropical Soil. 16 (1):25-32. Doi:10.5400/jts.2011.16.1.25

Rohyani, IS. 2012. Pemodelan spasial kelimpahan collembola tanah pada area revegetasi tambang PT Newmont Nusa Tenggara. Pascasarjana IPB. Bogor. Tidak diterbitkan

Ruiz, M., Jaen, M. Aide. 2005. Restoration Success: How is it being measured?

Restoraton Ecology 13: pp 569-572. doi: 10.1111/j.1526-100x.2005.00072.x

Saura S, Pascual-Hortal L. 2006. Comparison and development of new graph-based landscape connectivity indices: towards the priorization of habitat patches and corridors for conservation. Landscape Ecology. 21 (7). 959-967.

Doi:10.1007/s10980-006-0013-z

Saura S, Torné J. 2009. Conefor Sensinode 2.2: A software package for quantifying the importance of habitat patches for landscape connectivity. Environmental Modelling & Software. 24 (1): 135-139. DOI:10.1016/j.envsoft.2008.05.00

Saura S, Vogt P, Velázquezc J, Hernandoa A, Tejeraa R. 2011. Key structural forest

connectors can be identified by combining landscape spatial pattern and network

analyses. Forest Ecology and Management. 262 : 150–160. doi:

10.1016/j.foreco.2011.03.017

Singh JS, Roy PS, Murthy MSR, Jha CS. 2010. Aplication of landscape ecology and remote sensing for assesment, monitoring and conservation of biodiversity.

Journal Society of Remote Sensing. 38 (3):365 – 385.

(87)

Taylor PD, Fahrig L, Henein K, Merriam G. 1993. Connectivity is a vital element of landscape structure. Oikos. 68: 571–573.

Van Looy K, Piffadya J, Cavillona C, Tormosa T, Landryc P, Souchona Y. 2014. Integrated modelling of functional and structural connectivity of river corridors for European otter recovery. Ecological Modelling. 273 : 228–235.

doi:10.1016/ecolmodel.2013.11.010

Wen L. 2010. The construction of grasslands degradation index for Alpine Meadow in Qinghai-Tibetan Plateau. Procedia Environmental Science. 2: 1966-1969. doi:

10.1016/j.proenv.2010.10.210

Whitten, Anthony J. Damanik, Sengli J, Anwar, Jazanul dan Hisyam, Nazaruddin. 1987.

The ecology of Sumatera. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Zhang L, Nurvianto S, Harrison S. 2010. Factors affecting the distribution and abundance of Asplenium nidus L. in a tropical lowland rain forest in Peninsular

(88)

Glossary

1. sistem informasi geografis (SIG) 2. Arc GIS

ArcGIS Desktop ArcView,

ArcEditor ArcInfo

3. GPS adalah alat untuk merekam posisi geografis suatu obyek di permukaan bumi. 4. Environmental Systems Research Institute (Esri)

Georeferencing Pemetaan

Kartografi sebagai ilmu dan seni pembuatan peta dimana penafsir menterjemahkan fenomena dunia nyata (data primer) kedalam representasi yang tepat.

Peta mewakili gambaran sebagian permukaan bumi yang disajikan pada bidang datar. Skala dan proyeksi menjadi dasar pembuatan peta.

koordinat Universal Transverse Mercator (UTM).

BAKOSURTANAL

(89)

DAFTAR INDEKS

contiguity, 77, 78, 81, 82 D

(90)

Mitigasi, 89 tahun 1995. Gelar Master diperoleh pada tahun 2000 di IPB pada program studi Ilmu pengetahuan Kehutanan. Gelar Doctor of Philosophy (PhD) pada tahun 2009 dari University of The Philippines Los Banos dalam bidang Forest Resources Management. Tahun 2011 - 2016 penulis sebagai Ketua Program Studi Kehutanan USU, dan sejak tahun 2016 sampai sekarang menjadi Dekan Fakultas Kehutanan dan anggota senat Akademik USU.

(91)
(92)

Gambar

Gambar 1.2. Memulai dengan Arc Gis
Gambar 1.4. Menu File dalam Arc GIS
Gambar 3.8.  Klik tombol Start Editing untuk memulai digitasi
Gambar 4.12. Fungsi-fungsi editing terdapat dalam toolbar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta dijelaskan pada bab IV, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kepuasan konsumen antara warga NU

Penelitian yang dilakukan ialah menerapkan algoritma klasifikasi naïve bayes yang didahului dengan pemilihan atribut menggunakan teknik korelasi atribut untuk mendeteksi

Det er mulig at en del av denne reduksjonen i resistiviteten kommer av tykkelsen på filmen, da det for tynne filmer vil være større overflateeffekter og effekter fra overgang

Tujuan penelitian ini adalah 1 untuk mendeskripsikan jenis dan penyebab miskonsepsi yang dialami siswa dalam materi bangun datar dengan gaya kognitif field dependent pada siswa

Rumusan hipotesis dalam penelitian skripsi ini sesuai dengan judul yang dipilih adalah : Diduga terdapat hubungan positif antara sistem pengembangan karir dengan kinerja pegawai

yang diangkat yaitu “ Pengaturan sirkulasi terminal untuk menciptakan kenyamanan baik pada pengguna maupun. kendaraan” pada projek Terminal Tipe A ini

ROLE OF ROCK MASS GHARACTERISTIC AND ROCK TOUGHNESS ON PREDICTING CUTTING PERFORMANCE OF RAISE BORING MACHINE. Suseno KRAMADIBRATA1 and

2)Biasanya, nilai dari koefisien DC lebih besar daripada nilai dari koefisien AC, karena itu koefisien DC dapat dengan mudah dikenali bahkan setelah permutasi. Dengan