PERAN DUTA WISATA DALAM PEMBENTUKAN CITRA KOTA
PALU PASCA BENCANA ALAM MELALUI INSTAGRAM
Sumarni Zaenuddin, Donal Adrian
Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Tadulako
Korespondensi: Jl. Soekarno Hatta No.KM. 9, Tondo, Mantikulore, Kota Palu Surel: [email protected]
ABSTRAK
Peran Duta Wisata dalam Pembentukan Citra Kota Palu Pascabencana Alam Melalui Instagram. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui peran
duta wisata dalam pembentukan citra Kota Palu pasca bencana alam melalui
instagram. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Penarikan informan menggunakan purposive sampling. Hasil temuan penelitian menunjukan bahwa dalam upaya pembentukan citra melalui
instagram, hal utama yang dilakukan oleh duta wisata (randa’a ante kabilasa)
ialah dengan cara mengubah persepsi masyarakat sebagai followers melalui publikasi berbagai macam informasi/konten baik berupa gambar, teks, dan video tentang Kota Palu yang terkena dampak bencana alam namun mampu bangkit menuju ke perubahan yang lebih baik, yaitu adanya aktivitas masyarakat yang kembali normal baik di bidang ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan budaya. Selanjutnya perbaikan infrastruktur jalan darat, udara (bandara) dan laut (pelabuhan) merupakan fokus utama pemerintah.
Kata Kunci: Instagram, Citra, Bencana Alam Kota Palu ABSTRACT
The Role of Tourist Ambassadors in the Image Establishment of Palu City After the Natural Disasters through Instagram. The purpose of research
is to know the role of tourist ambassadors in the formation of the image of Palu City after the natural disasters through Instagram. The method used is qualitative with a case study approach withdrawal of informant using purposive sampling. Research findings show that in the effort to build imagery through Instagram, the main thing that is done by tourist ambassadors (Randa’a ante Kabilasa) is by changing the perception of society as a follower through the publication of various kinds of information/content both in the form of images, texts, and videos about the city of Palu affected by natural disasters but able to rise to a better change, i.e. the activity of public that return to normal in the field of economics and culture. Furthermore, the improvement of land road infrastructure, air (airport) and the sea (port) is the main focus of the government.
Keywords: Instagram, Imagery, Natural Disasters, Palu City PENDAHULUAN
Internet merupakan salah satu terobosan baru dalam perkembangan teknologi komunikasi. Internet dapat membantu setiap individu untuk melakukan berbagai aktivitas di manapun dan kapanpun. Pada era globalisasi saat ini, internet bias dijadikan sebagai kebutuhan primer oleh siapapun, khususnya
bagi masyarakat perkotaan yang memiliki mobilisasi padat. Berdasarkan data yang ada bahwa pengguna internet di Indonesia mengalahkan para pengguna internet di negara lain, hampir semua individu memiliki media sosial. Jumlah pengguna instagram di seluruh dunia semakin meningkat, di mana saat ini penggunanya mencapai 300 juta orang dan mengalahkan pengguna twitter sejumlah 284 juta orang. (Puspitorini, 2016:1)
Pengguna internet yang semakin meningkat, ini membuktikan bahwa internet begitu dibutuhkan baik untuk kebutuhan pekerjaan, hiburan, melakukan sosialisasi bermedia dan salah satu hal yang juga lebih bermanfaat ialah digunakan untuk promosi pariwisata suatu negara sehingga bisa menghasilkan pemasukan profit yang tentunya dapat memberdayakan masyarakat di Negara tersebut. Dalam hal ini, promosi wisata yang sering kita jumpai ialah Indonesia.
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak potensi alam baik di daratan maupun di lautan. Berdasarkan kondisi tanah yang subur menjadikan Indonesia sebagai pusat perhatian kelompok manusia untuk menetap dan mengembangkan usahanya masing-masing, sedangkan potensi perairan yang berupa lautan dan pantai merupakan salah satu obyek wisata yang banyak digemari oleh wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki air laut yang jernih yang dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan di bidang pariwisata, baik wisata alam maupun wisata budaya karena Indonesia memiliki bermacam-macam suku, adat istiadat, dan kebudayaan serta karena letak geografis negara Indonesia sebagai negara tropis yang menghasilkan keindahan alam dan satwa.
Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan didukung sumber daya alam yang beraneka ragam yang berpotensi untuk diolah dan dimanfaatkan. Selain itu negara Indonesia juga kaya akan seni budaya daerah, adat istiadat, peninggalan sejarah terdahulu dan yang tidak kalah menarik adalah keindahan panorama alamnya yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan baik. Ternyata pariwisata dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan nasional (Yoeti, 2008:4). Banyak juga objek wisata yang ada di Indonesia yang telah terkenal tidak hanya di dalam negeri maupun ke luar negeri. Oleh sebab itu pengembangan pariwisata di Indonesia dilakukan oleh seluruh wilayah di Indonesia maka dibentuklah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di tingkat nasional dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah di tingkat daerah.
Pariwisata Indonesia memiliki pertumbuhan sektor wisata tercepat dan menjadi sektor ekonomi terbesar karena kontribusi terhadap devisa negara terbesar kedua setelah industri kelapa sawit yang mencapai USD 15.965 Miliar pada tahun 2016 sedangkan pariwisata menduduki kedua mencapai USD 13.568 Miliar pada tahun 2016, sedangkan pada tahun 2015 sektor pariwisata berada di posisi keempat yang memberikan kontribusi terhadap devisa dengan capaian USD 12.225 Miliar di bawah Minyak dan Gas (USD 18.574 Miliar), Kelapa Sawit (USD 16.427 Miliar), Batu Bara (USD 14.717 Miliar) (Chandra & Damarjati, 2017). Hal ini juga menjadikannya sektor unggulan karena beberapa hal, yaitu: jumlah destinasi dan investasi pariwisata yang meningkat menjadikannya faktor kunci dalam menciptakan lapangan kerja, infrastruktur, pengembangan
usaha, hingga pendapatan dari ekspor. Indonesia memproyeksikan pada tahun 2019 sektor ini dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 15 persen, dengan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara, 275 juta perjalanan yang dilakukan wisatawan nusantara, dan diharapkan mampu menyerap tenaga kerja hingga 13 juta, (Susanti, 2017).
Berdasarkan pernyataan di atas terkait dengan harapan yang ingin dicapai pada tahun 2019 untuk pariwisata Indonesia, pada dasarnya memiliki hambatan khususnya pada daerah-daerah tertentu di Indonesia yang terkena dampak bencana alam yang tentunya tidak hanya menyebabkan korban meninggal namun dari segi infrastruktur dan destinasi wisata juga mengalami kerusakan baik wisata alam maupun wisata buatan. Daerah di Indonesia yang saat ini jelas terlihat kerusakan karena dampak dari bencana alam yaitu di Kota Palu, Sigi dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.
Pada tanggal 28 September 2018, bencana alam seperti gempa bumi, tsunami dan likuifaksi terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah dan tentunya menyebabkan banyak kerugian seperti korban luka ringan, luka parah dan korban meninggal. Tidak hanya itu, kerugian selanjutnya yaitu terdapat pada kondisi daerah mulai dari rumah-rumah, gedung-gedung, pusat perbelanjaan, pusat pendidikan dan daerah pariwisata yang hancur dan meninggalkan sejuta trauma bagi masyarakat di Kota Palu. Menurut Sutopo bahwa jumlah korban meninggal tersebar di beberapa lokasi. Di Palu korban tewas tercatat 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Sedangkan korban luka-luka akibat gempa dan tsunami Palu mencapai 4.612 orang. Selain itu masih ada sebanyak 1.309 orang hilang sampai saat ini. “223.751 orang juga masih mengungsi di 122 titik,” katanya. ( https://nasional.tempo.co/read/1138400/jumlah-korban-tewas-terkini-gempa-dan-tsunami-palu-2-113-orang/full&view=ok/)
Masalah korban meninggal dan kerusakan infrastruktur dari segi destinasi wisata yang teradi di Kota Palu tentunya harus bisa diselesaikan dengan baik oleh pemerintah mulai dari memberikan trauma healing hingga pada perbaikan infrastruktur destinasi wisata tersebut sehingga dapat berdampak positif pada wajah Kota Palu itu sendiri. Namun, upaya yang dilakukan oleh pemerintah tentunya juga arus didiukung oleh masyarakat seperti kegiatan yang dilakukan oleh duta wisata Kota Palu dalam promosi wisata pasca bencana dengan memanfaatkan media sosial seperti instagram dan facebook.
Duta wisata Kota Palu atau yang juga disebut dengan Randa’a Ante
Kabilasa merupakan duta-duta yang mewakili ibu kota Sulawesi Tengah
tersebut dengan tugas utama ialah membantu pemerintah kota dalam memperkenalkan pariwisata di Kota Palu. Saat ini, upaya memperkenalkan tersebut harus bisa lebih genjar lagi untuk dilakukan pasca bencana alam yang terjadi pada tanggal 28 September 2018. Dalam hal ini, peneliti hanya akan melihat upaya duta wisata (Randa’a Ante Kabilasa) Kota Palu berupaya untuk membantu pemerintah untuk melakukan pembentukan citra daerah kembali. Citra menjadi alasan terpenting bagi setiap daerah untuk bisa dikenal dengan lebih baik, citra yang ditampilkan dalam penelitian ini terkait Kota Palu ialah citra yang sesungguhnya, yang diusahakan oleh para duta wisata dan pemerintah dengan bantuan media sosial seperti instagram sebagi alat
penyalur pesan secara cepat dan ditujukan pada khalayak yang heterogen. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peran duta wisata dalam pembentukan citra Kota Palu pasca bencana alam melalui media sosial.
TINJAUAN PUSTAKA Media Sosial
Media sosial dan media siber memiliki karakter yang tidak jauh berbeda, meskipun tidak jauh berbeda namun media sosial mempunyai karakteristik khusus yang tidak dimiliki oleh media siber lainnya, Karakteristik khusus yang dimiliki media sosial salah satunya media sosial beranjak dari pemahaman bagaimana media tersebut digunakan sebagai sarana di dunia virtual (Nasrullah, 2015: 15).
Media sosial merupakan media online yang terkoneksi dengan internet yang mempublikasikan konten, seperti profil, data, dan aktifitas-aktifitas pengguna serta sebagai media berkomunikasi dan berinteraksi tanpa batas geografis ruang dan waktu. Internet adalah simbol dari media baru. Internet mempermudah manusia dalam mendapatkan informasi dari belahan dunia dengan cepat dan dapat menghubungkan, mempertemukan banyak orang dari berbagai negara. Tentunya, ini terwujud karena adanya jaringan komputer. Manfaat internet diantaranya untuk media informasi dan komunikasi, tidak hanya itu internet juga bermanfaat dalam bidang bisnis, ekonomi, organisasi, pendidikan dan lain-lain, (Puspitorini, 2016:1-2)
Media sosial adalah media online yang mendukung interaksi sosial. Social media menggunakan teknologi berbasisweb yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif. Beberapa situs media sosial yang populer sekarang ini antara lain: Blog, Twitter, Facebook, Instagram dan Wikipedia. Definisi lain dari social media juga di jelaskan oleh Antony Mayfield (2008). Menurutnya
social media adalah media dimana penggunanya dengan mudah berpartisipasi
di dalamnya, berbagi dan menciptakan pesan, termasuk blog, jejaring sosial, wiki/ensiklopedia online, forum-forum maya, termasuk virtual worlds (dengan avatar/karakter 3D). (Wicaksono, 2017:7)
Instagram adalah media yang memberi kemudahan cara berbagi secara
online oleh foto-foto, video dan juga layanan jejaring sosial yang dapat digunakan
pengguna untuk mengambil dan membagi ke teman mereka (Budiargo, 2015: 48). Menurut situs Instagram, aplikasi Instagram didirikan oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger. Aplikasi ini dirilis pada Oktober 2010. Instagram merupakan aplikasi yang untuk berbagi foto atau gambar kepada teman-teman sesama
pengguna instagram. Foto-foto di Instagram dapat dijadikan kenangan untuk bisa dilihat untuk kedepannya, dapat mengekspresikan keadaan yang sedang terjadi dan telah terjadi. Pengguna media sosial Instagram menginginkan reaksi dari teman-teman mereka dan saling memberikan komentar dan like dari foto maupun video yang diunggah, (Puspitorini, 2016:7)
Boyd dan Ellison (2008:11) mendefinisikan situs jejaring sosial sebagai layanan berbasis web yang memungkinkan perorangan untuk membangun profil umum atau semi-umum dalam satu sistem yang terbatas, menampilkan pengguna lainnya yang berkaitan dengan mereka, dan melihatlihat dan mengamati daftar koneksi yang mereka miliki maupun daftar yang dibuat oleh pengguna lainnya dalam sistem tersebut. Situs jejaring sosial dianggap sebagai ekstensi diri di dunia maya dan hubungan-hubungan yang ada di dalamnya juga merupakan ekstensi dari hubungan-hubungan yang benar-benar ada. Instagram adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk membagi-bagikan foto dan video. Instagram sendiri masih merupakan bagian dari Facebook yang memungkinkan teman Facebook kita mengikuti akun Instagram kita. Makin populernya Instagram sebagai aplikasi yang digunakan untuk membagi foto membuat banyak pengguna yang terjun ke bisnis online turut mempromosikan produk- produknya lewat Instagram (M Nisrina, 2015: 137).
Komunikasi Public Relations
Komunikasi Public Relations merupakan komunikasi dua arah, antara perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan sebagai publiknya. Khalayak atau publik yang juga di sebut sebagai stakeholder. Stakeholder adalah setiap kelompok berbeda di dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Teknik dasar yang di gunakan Public Relations adalah mengidentifikasi khalayak sasaran, dan menyesuaikan setiap pesan yang sesuai dengan publik sasaran. Publik sasaran bisa merupakan penduduk sebuah negara atau seluruh masyarakat dunia. Bisa juga konsumen yang membeli produk kita atau bahkan perusahaan pesaing. (Firsan, 2011: 11-12).
Dalam pelaksanaanya Public Relations menggunakan komunikasi untuk memberitahu, mempengaruhi dan mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku publik sasaranya. Hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan Public
Relations pada intinya adalah good image (citra baik), goodwill (itikad baik), mutual understanding (saling percaya), mutual apprection (saling menghargai),
dan tolerance (toleransi).
Orang tidak harus mengingat definisi yang manapun. kata-kata kunci yang perlu diingat untuk mendefinisikan Public Relations adalah sebagai
berikut:
a. Sengaja. Kegiatan Public Relations adalah sesuatu yang disengaja, dirancang, untuk mempengaruhi, mendapatkan pengertian, memberikan informasi, dan memperoleh umpan balik (reaksi dari mereka yang terkena dampak kegiatan).
b. Terencana. Kegiatan Public Relations adalah sesuatu yang terorganisasi. Solusi masalah diketahui dan logistik dipikirkan, dengan kegiatan yang memerlukan jangka waktu. Kegiatan ini sistematis, membutuhkan riset dan analisis.
c. Kinerja Public Relations yang efektif didasarkan pada kebijakan dan penampilan nyata dari seseorang atau sebuah organisasi. Tidak ada Publik Relations yang dapat menciptakan simpati serta dukungan jika organisasi bersangkutan merupakan “pemilik usaha yang payah atau tidak tanggap terhadap kepentingan masyarakat. Pepatah kuno mengatakan, “anda tidak dapat membuat dompet sutera dari kuping induk babi.”
d. Kepentingan Masyarakat. Dasar dari setiap kegiatan Publik Relations adalah melayani kepentingan masyarakat, dan bukan sekedar memperoleh keuntungan bagi organisasi. Idealnya, kegiatan Publik Relations saling menguntungkan bagi organisasi dalam masyarakat. Ini adalah benang yang menjalin kepentingan diri organisasi dengan kepentingan dan urusan masyarakat.
e. Komunikasi Dua Arah. Kamu sering kali memberikan kesan bahwa Publik Relations terdiri hanya dari penyebaran materi dan informasi. Namun penting juga bahwa definisi itu termasuk umpan balik dari khalayak. Kemampuan mendengarkan adalah bagian dari keahlian komunikasi yang pokok.
f. Fungsi Manajemen. Publik Relations berfungsi paling efektif apabila menjadi bagian dari pengambilan keputusan oleh manajemen puncak. Publik Relations melibatkan konsultasi dan pengatasan masalah tingkat tinggi, tidak hanya mengeluarkan informasi setelah keputusan dibuat. Publik Relations didefinisikan oleh Denny Griswold, pendiri dan pemilik PR News sebagai “fungsi manajemen yang mengevaluasi sikap masyarakat, mengidentifikasi kebijakan dan prosedur sebuah organisasi dengan kepentingan masyarakat, dan melaksanakan suatu program tindakan (dan komunikasi) untuk mendapatkan pengertiam masyarakat dan dapat diterima oleh masyarakat (Wilox, Ault, Agee, 2006 :17)
Citra
yang mereka ketahui. Terkadang, persepsi diyakini sebagai realitas karena persepsi menimbulkan citra. Selanjutnya dijelaskan bahwa citra menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan, dan disimpan individu. Seperti diungkapkan Robets (Rahmat, 2005:223), tentang citra yaitu “representing the totally of all information about the world any individual
has processed, organized and stored”. Pernyataan dari Robert melengkapi
penjelasan dari Schramm (Rakhmat, 2005:223), yang mendefinisikan informasi sebagai segala sesuatu “yang mengurangi ketidakpastian atau mengurangi jumlah kemungkinan alternatif dalam situasi”. Informasi yang diperoleh telah menstruktur atau mengorganisasikan realitas. Kemudian, realitas tersebut tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Gambaran tersebut lazim disebut sebagai citra.
Secara sederhana dijelaskan bahwa citra adalah kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan atau organisasi; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang, atau organisasi (Canton, seperti dikutip Sukatendel, dalam Soemirat dan Ardianto. 2002: 111-112).
Menurut Sumirat dan Ardianto (2010:116) dalam bukunya, Dasar-Dasar
Public Realtions, terdapat empat komponen pembentukan citra antara lain:
1. Persepsi, diartikan sebagai hasil pengamatan unsur lingkungan yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan dengan kata lain. Individu akan memberikan makna terhadap rangsang berdasarkan pengalamannya mengenai rangsang. Kemampuan mempersepsi inilah yang dapat melanjutkan proses pembentukan citra. Persepsi atau pandangan individu akan positif apabila informasi yang diberikan oleh rangsang dapat memenuhi kognisi individu.
2. Kognisi, yaitu suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus keyakinan ini akan timbul apabila individu harus diberikan informasi-informasi yang cukup dapat mempengaruhi perkembangan kognisinya.
3. Motivasi dan sikap yang ada akan menggerakan respon seperti yang diinginkan oleh pemberi rangsang. Motif adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
4. Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir, dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan prilaku tetapi merupakan kecenderungan untuk berprilaku dengan prilaku tetapi merupakan kecendrungan untuk berprilaku dengan cara-cara tertentu, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi sikap menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang
disukai, diharapkan dan diinginkan, sikap mengandung aspek evaluatif artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan, sikap juga diperhitungkan atau diubah.
Model Pembentukan Citra menunjukan bahwa struktur yang berasal dari luar diorganisasikan dan mempengaruhi respons. Stimulus (rangsang) yang diberikan individu dapat diterima atau ditolak. Jika stimulus yang yang diberikan ditolak, maka proses selanjutnya tidak akan berjalan. Hal ini menunjukan bahwa stimulus terssebut tidak efektif dalam mempenagaruhi individu atau publik, karena tidak adanya respon atau perhatian dari sasaran yang hendak dituju.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu sebagai daerah yang terkena dampak bencana alam pada tanggal 28 September 2018 dan memiliki jumlah korban jiwa yang lebih banyak. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Tujuan utama dalam menggunakan deskriptif kualitatif adalah untuk menggambarkan sifat dari suatu keadaan yang ada pada wakti penelitian dilakukan dan menjelajahi penyebab dari gejala-gejala tertentu (Sevilla, 1993: 91).
Analisis data menurut pandangan Miles dan Huberman (1992: 1-2) bahwa terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Berikut penjelasan analisis data menurut Miles dan Huberman (a) Data Reduksi (Reduksi Data) diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis selama di lapangan. Reduksi data berjalan terus menerus selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung, (b) Data
Display (Penyajian Data). Alur penting yang kedua dalam penelitian adalah
penyajian data. Miles dan Huberman membatasi suatu “penyajian” sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk tabel, grafik, matriks, jaringan dan bagan. Dan (c) Conlusion Drawing
/ Verifikasi. Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan
dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti benda-benda dan mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, alur sebab akibat, dan proposisi.
Kota Palu merupakan ibu kota dari Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki keindahan panorama wisata mulai dari pantai, danau hingga pegunungan. Tidak hanya itu, wisata lainnya yang juga layak untuk dikunjungi ialah Sou Raja, Museum Sulawesi Tengah, tempat kerajinan batik bomba, wisata belanja, kuliner dan lain sebagainya. Tempat-tempat wisata ini bisa memberikan kenyamanan dan ilmu pengetahuan bagi para wisatawan yang berkunjung di Kota Palu yang tentunya akan menambah pemasukan bagi daerah setiap tahunnya. Namun, sejak terjadinya bencana alam yang maha dahsyat pada tanggal 28 September 2018, wajah cantik Kota Palu berubah menjadi kesedihan disebabkan hamper disetiap sudut Kota Palu menjadi rusak, banyak bangunan yang rubuh karena gempa bumi yang disusul oleh tsunami, selanjutnya adanya patahan-patahan tanah atau disebut dengan likuefaksi yang bisa menghisap segala benda dan makhluk hidup di atas tanah tersebut.
Terjadinya bencana alam di Kota Palu, tentunya tidak hanya berimbas pada keadaan infrastruktur seperti kerusakan bangunan atau hilangnya sebuah kelurahan seperti di daerah Petobo dan Balaroa yang terhisap oleh tanah likuefaksi. Dilihat dari korban jiwa, begitu banyak warga yang kehilangan sanak keluarga karena telah meninggal dikarenakan tidak bisa menyelamatkan diri saat bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi terjadi. Dampak dari kejadian ini ialah sikap trauma yang amat mendalam dan tentunya berpengaruh terjadi kunjungan wisatawan baik lokal ataupun manca Negara. Oleh sebab itu, untuk bisa menunmbuhkan kembali semangat hidup masyarakat dan mkembali Kota Palu, banyak hal positif yang dilakukan oleh para penerus bangsa yang juga dinobatkan sebagai duta wisata Kota Palu atau dalam bahasa Kailinya disebut dengan randa’a ante kabilasa (Puteri dan Putera).
Berbagai macam hal positif yang dilakukan oleh duta wisata Kota Palu salah satunya ialah dengan cara membuat konten-konten yang bersifat mendukung terjadinya perubahan daerah yang nantinya akan dipublikasikan diinstagram dengan tujuan untuk membangun citra ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah tersebut. Pada dasarnya bahwa citra sangat penting untuk dimiliki oleh setiap daerah, karena dengan adanya citra orang bisa mengetahui informasi dari suatu daerah sehingga mampu menghasilkan sebuah persepsi. Secara sederhana dijelaskan bahwa citra adalah kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan atau organisasi; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang, atau organisasi (Canton, seperti dikutip Sukatendel, dalam Soemirat dan Ardianto. 2002: 111-112).
Lebih lanjut dijelaskan lagi bahwa citra menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan, dan disimpan
individu. Seperti diungkapkan Robets (Rahmat, 2005:223), tentang citra yaitu
“representing the totally of all information about the world any individual has processed, organized and stored”. Pernyataan dari Robert melengkapi
penjelasan dari Schramm (Rakhmat, 2005:223), yang mendefinisikan informasi sebagai segala sesuatu “yang mengurangi ketidakpastian atau mengurangi jumlah kemungkinan alternatif dalam situasi”. Informasi yang diperoleh telah menstruktur atau mengorganisasikan realitas. Kemudian, realitas tersebut tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Gambaran tersebut lazim disebut sebagai citra.
Konten-konten positif yang dibuat oleh duta wisata Kota Palu untuk dipublikasikan dalam media sosial instagram bertujuan untuk membangun citra. Konten tersebut seperti mempublikasikan gambar-gambar sudut Kota Palu yang terkena bencana alam namun sudah menuju ke perubahan yang lebih baik, adanya aktivitas masyarakat yang kembali normal baik di bidang ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan lain sebagainya. Selanjutnya, para duta juga membagikan gambar yang berkaitan dengan adanya pergerakan yang cukup baik untuk masyarakat yang bertindak sebagai wisatawan baik di daerah pegunungan dan lautan. Ini menandakan bahwa masyarakat sudah cukup berani untuk berkunjung ke bagian pantai meskipun saat terjadinya bencana alam setahun yang lalu, mereka dan keluarganya sempat terhempas oleh tsunami namun selamat.
Konten yang dibagikan untuk membangun citra secara teoritis terbagi atas beberapa bagian seperti yang disampaikan oleh Sumirat dan Ardianto (2010:116) dalam bukunya, Dasar-Dasar Public Realtions, terdapat empat komponen pembentukan citra antara lain:
a. Persepsi, diartikan sebagai hasil pengamatan unsur lingkungan yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan dengan kata lain individu akan memberikan makna terhadap rangsang berdasarkan pengalamannya mengenai rangsang.
b. Kognisi, yaitu suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus keyakinan ini akan timbul apabila individu harus diberikan informasi-informasi yang cukup dapat mempengaruhi perkembangan kognisinya.
c. Motivasi dan sikap yang ada akan menggerakan resspon seperti yang diinginkan oleh pemberi rangsang. Motif adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
d. Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir, dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan prilaku
tetapi merupakan kecenderungan untuk berprilaku dengan prilaku tetapi merupakan kecendrungan untuk berprilaku dengan cara-cara tertentu.
Untuk bisa menyalurkan informasi dengan lebih cepat dan tepat kepada masyarakat yang heterogen, duta wisata Kota Palu (randa’a ante kabilasa) memanfaatkan media sosial seperti instagram. Media ini dianggap mampu mempersuasif masyarakat baik dilevel nasional dan internasional terkait dengan kondisi yang sudah kondusif di Kota Palu. Informasi yang dibagikan tidak hanya berbentuk gambar dan tulisan, namun terdapat juga video yang bisa dinikmati oleh pengikut akun instagram duta wisata Kota Palu. Inilah alas an mengapa instagram dijadikan sebagai media penyalur informasi dalam membangun citra Kota Palu kembali. Berdasarkan konsepnya dijelaskan bahwa
instagram adalah media yang memberi kemudahan cara berbagi secara online
oleh foto-foto, video dan juga layanan jejaring sosial yang dapat digunakan pengguna untuk mengambil dan membagi ke teman mereka (Budiargo, 2015: 48).
Menurut Boyd dan Ellison (2008:11) mendefinisikan situs jejaring sosial sebagai layanan berbasis web yang memungkinkan perorangan untuk membangun profil umum atau semi-umum dalam satu sistem yang terbatas, menampilkan pengguna lainnya yang berkaitan dengan mereka, dan melihatlihat dan mengamati daftar koneksi yang mereka miliki maupun daftar yang dibuat oleh pengguna lainnya dalam sistem tersebut. Situs jejaring sosial dianggap sebagai ekstensi diri di dunia maya dan hubungan-hubungan yang ada di dalamnya juga merupakan ekstensi dari hubungan-hubungan yang benar-benar ada.
SIMPULAN
Hasil temuan penelitian menunjukan bahwa dalam upaya pembentukan citra melalui instagram, hal utama yang harus dilakukan oleh duta wisata (randa’a ante kabilasa) ialah dengan cara mengubah persepsi masyarakat sebagai followers melalui publikasi berbagai macam informasi/konten baik gambar, teks, dan video tentang Kota Palu yang terkena dampak bencana alam namun mampu bangkit menuju ke perubahan yang lebih baik, yaitu adanya aktivitas masyarakat yang kembali normal baik di bidang ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan budaya. Selanjutnya perbaikan infrastruktur jalan darat, udara (bandara) dan laut (pelabuhan) merupakan fokus utama pemerintah.
DAFTAR RUJUKAN
Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Budiargo, Dian. 2015. Berkomunikasi ala Net Generation. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia
Ellison & Boyd. 2008. Journal Computer Mediated Communication. Amertika: Tarleton State University
Firsan, Nova. 2011. Crisis Public Relation. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Liliweri, Alo. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Kencana Prenada
Media Group : Jakarta.
M. Nisrina. 2015. Bisnis OnLine, Manfaat Media Sosial Dalam Meraup Uang. Yogyakarta; Kobis
Miles, Matthew B, dan Huberman, A. Michael. 1992. Qualitative Data Analysis. (Terjemahan: Tjetjep Rohendi dengan judul: Analisis Data Kualitatif), UI-Press: Jakarta
Nasrullah, Rulli. Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi (Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2015)
Puspitorini, Dyah Ayu. 2016. MOTIF DAN KEPUASAN PENGGUNAAN INSTAGRAM (Studi Kesenjangan antara Motif dan Kepuasan Penggunaan Media Sosial Instagram pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Angkatan 2013). Universitas Muhammadiyah Surakarta
Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Metode penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Sevilla, Consuelo G., Jesus A., Punsala., Twila G., Regala., Bella P., Uriarte, Gabriel G. 1993. An Introduction To Research Methods (1998) edisi Terjemahan oleh Alimuddin Syah dengan judul Pengantar Metode Penelitian. UI-Press. Jakarta
Simamora, Bilson. 2003. “Memenangkan Pasar Dengan Pemasaran Efektif & Profitabel”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Susanti, I. (2017, Agustus 17). Kontribusi Pertumbuhan Pariwisata di Sektor Ekonomi Terbesar dan Tercepat. Retrieved from Sindonews.com: https://ekbis.sindonews.com/read/1231216/34/ kontribusipertumbuhan-pariwisata-di-sektor-ekonomi-terbesar-dan-tercepat1502940648
Wicaksono, A. 2017. Pengaruh Media Sosial Instagram @wisatadakwahokura Terhadap Minat Berkunjung Followers. JOM FISIP Vol. 4 No.2. Riau Wilcox Dennis L, Ault Philip H, Agee Warren K. 2006. Public Relations Strategi
dan Taktik , Jakarta : interaksara.
Yoeti, Oka, A. (2008) Perencanaaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta, Pradaya Pratama.
https://nasional.tempo.co/read/1138400/jumlah-korban-tewas-terkini-gempa-dan-tsunami-palu-2-113-orang/full&view=ok/