280 280
SEBAGAI
SEBAGAI
REPELLENT
REPELLENT
TERHADAP NYAMUK
TERHADAP NYAMUK A
Ae
ed
de
es
s a
ae
egyp
gypttii
Ayu Selvi Lestari, HajimiAyu Selvi Lestari, Hajimi dan Susilawatidan Susilawati Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes
Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes KemenkeKemenkes s PontianakPontianak E-mail
E-mail : : ayuselvi.lestaayuselvi.lestari@[email protected]
Abstrak: Pengaruh Ekstrak Daun Salam (
Abstrak: Pengaruh Ekstrak Daun Salam (
Syz
Syzygium
ygium Po
Poly
lya
ant
nthu
hum
m))
sebagaisebagaiR
Rep
epellent
ellent
terhadap Nyamukterhadap Nyamuk Aed
Aede
es
s A
Ae
egyp
gyptti
i
. Jenis . Jenis penelitian ini bersifat eksperimen semu. Sampelpenelitian ini bersifat eksperimen semu. Sampel penelitian inipenelitian ini adalah nyamukadalah nyamuk Aedes aegypti Aedes aegypti yang diambil dari tempat penampungan airyang diambil dari tempat penampungan air bersih dan dikembangbiakkan di laboratorium. Metode peneiitian dimuai dari
bersih dan dikembangbiakkan di laboratorium. Metode peneiitian dimuai dari pembuatapembuatann ekstrak Daun Salam, pembuatan berbagai variasi konsentrasi dosis, persiapan sampei uji ekstrak Daun Salam, pembuatan berbagai variasi konsentrasi dosis, persiapan sampei uji dan perlakuan peneilitian. Analisis data secara univariat dan bivariat
dan perlakuan peneilitian. Analisis data secara univariat dan bivariat diiakukan dengan ujidiiakukan dengan uji statistic
statistic Anova Anova dan diianjutkan dengan uji LSDdan diianjutkan dengan uji LSD (Least Significance Different).(Least Significance Different). Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh nilai p=0,000 yang menunjukkan bahwa ada Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh nilai p=0,000 yang menunjukkan bahwa ada pengaruh ekstrak
pengaruh ekstrak Daun Daun Salam sebagaiSalam sebagai repellentrepellent terhadap jumlah nyamukterhadap jumlah nyamuk Aedes aegypti Aedes aegypti yang hinggap antara variasi konsentrasi 35%, 40%, 45%, 50% dan 55%. Uji
yang hinggap antara variasi konsentrasi 35%, 40%, 45%, 50% dan 55%. Uji post-hoc post-hoc dengan LSD diketahui pada konsentrasi 35%
dengan LSD diketahui pada konsentrasi 35% dengan 40% tidak dengan 40% tidak berbeda secara signifikanberbeda secara signifikan p=
p= 0.283 0.283 > > 0,05. 0,05. Kesimpulan dari Kesimpulan dari penelitian ipenelitian ini ni adalah adalah bahwa bahwa ada ada perbedaaperbedaan n pengaruhpengaruh jumlah
jumlah nyamuk nyamuk yang yang hinggap hinggap setelah setelah diberi diberi perlakuan perlakuan ekstrak ekstrak Daun Daun Salam Salam dengandengan berbagai variasi
berbagai variasi konsentrasi dosis. konsentrasi dosis. Efektivitas tEfektivitas tertinggi ertinggi konsentrasi konsentrasi ekstrak ekstrak Daun Daun SalamSalam (Syzygium polyanthum)
(Syzygium polyanthum) sebagaisebagai repellent repellent nyamuk nyamuk Aedes Aedes aegyptiaegypti terdapat padaterdapat pada konsentrasi dos
konsentrasi dosis 55% dengan is 55% dengan rata-rata eferata-rata efektivitas ktivitas 89,91%.89,91%. Kata Kunci:
Kata Kunci:Ekstrak Daun SalamEkstrak Daun Salam , Repellent , Repellent Abstract: T
Abstract: The Effect he Effect of of Salam Leaf Salam Leaf ExtractExtract
(Syzygium Polyanthum)
(Syzygium Polyanthum)
as aas aR
Rep
epellent
ellent
Against The Number ofAgainst The Number of
Aed
Aede
es
s Aegy
Aegyp
ptti
i
Mosquitoes. Mosquitoes. This research is quasi- This research is quasi-experimental. Sample isexperimental. Sample is Aedes aegypti taken from clean water reservoir and bred in the Aedes aegypti taken from clean water reservoir and bred in the Iaboratorium.
Iaboratorium. The research methods started from making Salam Leaf extract,The research methods started from making Salam Leaf extract, manufactu
manufacture of re of various concentrarions of the dose, tvarious concentrarions of the dose, the preparation of test he preparation of test samples and thesamples and the study treatment. Data analysis was performed using univariat and bivariate statistical test study treatment. Data analysis was performed using univariat and bivariate statistical test Anova
Anovafollowes by LSDfollowes by LSD (Least Significance Different).(Least Significance Different). Based on research results,Based on research results, obtained by value p= 0,000 which shows that there influence Salam Leaf extract obtained by value p= 0,000 which shows that there influence Salam Leaf extract (Syzygium polyanthum)
(Syzygium polyanthum) as aas a repellentrepellent against the number ofagainst the number of Aedes Aedes aegyptiaegypti mosquitoes mosquitoes that landed between variations in the concentration of 35%, 40%, 45%, 50% and 55%. that landed between variations in the concentration of 35%, 40%, 45%, 50% and 55%. Test
Test post-hoc post-hocLSD known at concentrations of 35% to 40% LSD known at concentrations of 35% to 40% did not differ significantly p=did not differ significantly p= 0,283 > 0,5.
0,283 > 0,5. Conclusion from this study is that there are differences the number ofConclusion from this study is that there are differences the number of mosquitoes that land after Salam Leaf extract treated with various concentrations of the mosquitoes that land after Salam Leaf extract treated with various concentrations of the dose. The highest effectiveness Leaf extract concentration Salam (
dose. The highest effectiveness Leaf extract concentration Salam (Syzygium polyanthum)Syzygium polyanthum) as the
as the Aedes aegy Aedes aegyptipti mosquito mosquitorepellent repellent contained in a dose concentra contained in a dose concentration of 55% with tion of 55% with anan average of 89.91% effectiveness.
average of 89.91% effectiveness. Keywords:
Keywords:Salam Leaf ExtractSalam Leaf Extract , Repellent , Repellent
Penyakit Demam Berdarah
Penyakit Demam Berdarah Dengue Dengue (DBD)(DBD) sampai saat ini masih merupakan salah satu sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di dunia, karena masalah kesehatan yang ada di dunia, karena prevalensinya
prevalensinya yang yang cenderung cenderung meningkat meningkat sertaserta penyebarann
penyebarannya yang semakin luas. Diperkirakya yang semakin luas. Diperkirakanan
2,5 milyar penduduk atau sekitar 2/5 populasi 2,5 milyar penduduk atau sekitar 2/5 populasi penduduk
penduduk dunia dunia di di negara negara tropis tropis dan dan subtropissubtropis sangat beresiko terinfeksi DBD (WHO, 2012). sangat beresiko terinfeksi DBD (WHO, 2012). Dimusim hujan, penyakit demam berdarah Dimusim hujan, penyakit demam berdarah
dengue kerap meningkat kejadiannya dan tidak jarang menelan korban jiwa (Satari, 2004).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Virus dengue penyebab DBD memerlukan bantuan nyamuk untuk berpindah ke tubuh manusia. Nyamuknya sendiri mempunyai ciri belang-belang hitam putih Aedes dan bukan oleh jenis nyamuk lainnya (Nadesul, 2004). Penyakit dari nyamuk ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak-anak, serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah (Rezeki, 2005).
Indonesia menempati urutan tertinggi kasus DBD di Asean dengan jumlah kasus 156.086 dan kematian 1.358 orang pada tahun 2010. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL Kemkes RI), melaporkan kasus DBD tahun 2011 di Indonesia menurun dengan jumlah kasus 49.486 dan jumlah kematian 403
orang (Kemkes RI, 2011).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, diketahui pada tahun 2014 menyatakan bahwa dari 14 Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, sebanyak 5 Kabupaten diantaranya berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu, Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Mempawah, Sintang dan Kabupaten Sekadau. Pada rentang Januari hingga Desember, dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kalimantan Barat tercatat 68 orang meninggal akibat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) (Dinkes Prov.KalBar, 2014).
Mengingat besarnya angka kasus penyakit akibat vektor nyamuk (vector born disease) tersebut, maka harus diperlukan suatu upaya pengendalian yang tepat sasaran. Pemberantasan vektor DBD dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : modifikasi lingkungan, manipulasi lingkungan, perubahan habitat atau perilaku manusia, pengendalian biologis dan pengendalian dengan bahan kimia
(WHO, 2002).
Salah satu cara untuk mengatasi penyakit demam berdarah yang sering digunakan masyarakat adalah dengan cara kimia seperti menggunakan insektisida sintetis. Penggunaan insektisida sintetis ini pada kurun waktu 40 tahun terakhir semakin meningkat baik dari kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini
disebabkan insektisida sintetis tersebut mudah digunakan, lebih efektif dan dari segi ekonomi lebih menguntungkan (Yoshida dalam Nursal, 2005).
Indonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang merupakan bahan insektisida untuk pengendalian vektor penyakit (Amalia, 2015). Dewasa ini, penelitian tentang tumbuhan berpotensi sebagai insektisida nabati telah banyak dilaporkan. Manaf (2014), meneliti tentang uji efektivitas dari daun kacapiring yang mengandung minyak atsiri, linallol dan styrolyl dapat menjadi bahan aktif sebagai repellent elektrik cair terhadap nyamuk Aedes aegypti.
Tanaman Salam merupakan jenis bumbu yang banyak digunakan dalam berbagai jenis masakan tradisional Indonesia, baik dalam bentuk segar maupun kering (Arintawati, 2000). Untuk mendapatkan daun Salam sangatlah mudah dan terjangkau dari segi ekonomis. Anggota family Myrtaceae ini memiliki sifat rasa kelat, wangi, astrigen dan memperbaiki sirkulasi (Hariana, 2006). Daun Salam (Syzygium polyanthum) mengandung beberapa komponen seperti minyak atsiri ( sitral, eugenol), tannindan flavonoid (Dalimartha, 2000).
Berdasarkan uji pendahuluan yang telah dilakukan bahwa dari ekstrak daun Salam dengan variasi konsentrasi dosis 10% dapat menolak 4 ekor nyamuk dari 20 ekor nyamuk dengan persentase 20%, konsentrasi dosis 30% mendapatkan hasil dapat menolak 11 ekor nyamuk dengan persentase 55% dan konsentrasi dosis 50% dapat menolak 19 ekor nyamuk dari 20 ekor nyamuk yang di uji dengan persentase 95%. Dari variasi dosis tersebut dosis yang memiliki daya tolak tertinggi yaitu pada konsentrasi dosis 50% yang mampu menolak daya hinggap nyamuk sebanyak 19 ekor nyamuk dalam kandang uji.
METODE PENELITIAN
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak daun Salam dengan berbagai variasi konsentrasi yaitu 35%, 40%, 45%, 50%, 55%. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah jumlah nyamuk yang hinggap di tangan.
Penelitian ini bersifat eksperimen semu (quasi experimen) yaitu penelitian yang mendekati percobaan sungguhan, tetapi tidak
mungkin mengadakan control
(memanipulasikan) semua variabel yang relevan (Notoatmodjo, 2005).
Populasi dalam penelitian ini adalah nyamuk Aedes aegypti yang sengaja dibiakkan. Satu kandang berisi 20 ekor nyamuk. Dan penelitian ini dilakukan pada siang hari yaitu pada jam 08.30 – 10.30 WIB. Penentuan banyaknya nyamuk adalah 20 ekor setiap kandangnya, nyamuk yang digunakan adalah nyamuk Aedes aegypti betina berdasarkan Modul Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nyamuk Aedes aegypti yang dikembangbiakkan dari jentik Aedes aegypti
yang diambil dari tempat penampungan air bersih atau air hujan dan diberi berbagai perlakuan. Adapun besarnya sampel dapat dihitung dengan rumus di bawah ini (Supranto J, 2005 dalam Rasid, 2014) :
(t-1)(r-1) ≥ 15
Dimana: r = Jumlah pengulangan t = Jumlah perlakuan (t-1)(r-1) ≥ 15 (5-1)(r-1) ≥ 15 4(r-1) ≥ 15 4r-4≥ 15 4r = 15+4 = 19 r = 19/4 = 4,75 = 5
Dalam perhitungan rumus di atas yaitu dengan menggunakan 5 perlakuan, maka hasil r = 4,75 dibulatkan menjadi 5. Sampel nyamuk yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 20 ekor untuk setiap kandang. Pengujian ini dilakukan 5 kali pengulangan untuk mengetahui perilaku menghindar nyamuk dengan 5 variasi konsentrasi ekstrak Daun Salam. Jadi, jumlah total keseluruhan nyamuk yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
5 x 5 x 20 ekor = 500 nyamuk
Teknik dan instrumen pengumpulan data antara lain :
Prosedur Penelitian : (a) Pembiakan nyamuk. (b) Pembuatan ekstrak Daun Salam (c) Pembuatan Ekstrak Daun Salam adalah dengan cara pengeringan, penghalusan, perendaman dan menggunakan alat vacuum rotary evaporator
untuk mendapatkan ekstrak pekat. Ekstrak Daun Salam yang sudah jadi tersebut diencerkan menggunakan aquadest untuk mendapatkan konsentrasi 35%, 40%, 45%, 50% dan 55%, dengan menggunakan rumus (Laboratorium MIPA Universitas Tanjung Pura, 2015):
V1 x N2 = V2 x N2
Ket :
V1 = Volume dari awal yang dibutuhkan N2 = Konsentrasi awal
V2 = Volume yang diinginkan N1 = Konsentrasi yang diinginkan
HASIL
Ekstrak Daun Salam 35%
Tabel 1. Distribusi Jumlah dan Rata-rata
Nyamuk
Aedes aegypti
yang hinggappada ekstrak daun salam 35% Selama 5 menit
Sumber : Data Primer 2016
Berdasarkan tabel di atas, persentase perbedaan efektivitas repellent ekstrak Daun Salam tertinggi terjadi pada pengulangan ketiga, yaitu 63,15% dan terendah terjadi pada pengulangan kelima, yaitu 46,66%.
Ekstrak Daun Salam 40%
Tabel 2. Distribusi Jumlah dan Rata-rata
Nyamuk
Aedes aegypti
yang hinggappada ekstrak daun salam 40% Selama 5 menit
Sumber : Data Primer 2016
No Pe ng ul an ga n Jumlah Nyamuk yang Hinggap Pe rb ed aa n E fe kt iv ita s (% ) Kontrol Ekstrak Daun Salam 35 % 1 I 19 8 11 57,89 2 II 18 9 9 50 3 III 19 7 12 63,15 4 IV 17 9 8 47,05 5 V 15 8 7 46,66 Rata-rata 17,6 8,2 9,4 52,95 No Pe ng ul an ga n Jumlah Nyamuk yang Hinggap Pe rb ed aa n E fe kt iv ita s (% ) Kontrol Ekstrak Daun Salam 40% 1 I 17 7 10 58,82 2 II 19 8 11 57,89 3 III 18 6 12 66,66 4 IV 19 8 11 57,89 5 V 17 9 8 47,05 Rata-rata 18 7,6 10,4 57,66
Berdasarkan tabel di atas, persentase perbedaan efektivitas repellent ekstrak Daun Salam tertinggi terjadi pada pengulangan ketiga, yaitu 66,66% dan terendah terjadi pada pengulangan kelima, yaitu 47,05%.
Ekstrak Daun Salam 45%
Tabel 3. Distribusi Jumlah dan Rata-rata Nyamuk
Aedes aegypti
yang hinggap pada ekstrak daun salam 45% Selama 5 menit No Pe ng ul an ga n Jumlah Nyamuk yang Hinggap Pe rb ed aa n E fe kt iv ita s (% ) Kontrol Ekstrak Daun Salam 45% 1 I 18 5 13 72,22 2 II 18 5 13 72,22 3 III 17 4 13 76,47 4 IV 19 6 13 68,42 5 V 19 5 14 73,68 Rata-rata 18,2 5 13,2 72,60Sumber : Data Primer 2016
Berdasarkan tabel di atas, persentase perbedaan efektivitas repellent ekstrak Daun Salam tertinggi terjadi pada pengulangan ketiga, yaitu 76,47% dan terendah terjadi pada pengulangan keempat, yaitu 68,42%.
Ekstrak Daun Salam 50%
Tabel 4. Distribusi Jumlah dan Rata-rata Nyamuk
Aedes aegypti
yang hinggap pada ekstrak daun salam 50% Selama 5 menitSumber : Data Primer 2016
Berdasarkan tabel di atas, persentase perbedaan efektivitas repellent ekstrak Daun
Salam tertinggi terjadi pada pengulangan ketiga, yaitu 83,33% dan terendah terjadi pada pengulangan pertama, yaitu 78,94%.
Ekstrak Daun Salam 55%
Tabel 5. Distribusi Jumlah dan Rata-rata Nyamuk
Aedes aegypti
yang hinggap pada ekstrak daun salam 55% Selama 5 menitSumber : Data Primer 2016
Berdasarkan tabel di atas, persentase perbedaan efektivitas repellent ekstrak Daun Salam tertinggi terjadi pada pengulangan kedua, yaitu 94,73% dan terendah terjadi pada pengulangan ketiga, yaitu 83,33%.
Hasil Uji Perbedaan Jumlah Nyamuk yang Hinggap Di Tangan dengan Menggunakan Berbagai Variasi Konsentrasi Dosis
Repellent
Ekstrak Daun Salam Tabel 7. Hasil Uji
Anova
Jumlah nyamuk hinggap Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups 155.840 4 38.960 52.6 49 .000 Within Groups 14.800 20 .740 Total 170.640 24
Sumber : SPSS Uji Anova, 2016
Diperoleh nilai p=0,000 sehingga ada perbedaan antara konsentrasi dosis ekstrak Daun Salam sebagai repellent terhadap jumlah nyamuk Aedes aegypti yang hinggap.
No Pe ng ul an ga n Jumlah Nyamuk yang Hinggap Pe rb ed aa n E fe kt iv ita s (% ) Kontrol Ekstrak Daun Salam 50% 1 I 19 4 15 78,94 2 II 18 3 15 83,33 3 III 19 2 17 89,47 4 IV 16 3 13 81,25 5 V 15 3 12 80 Rata-rata 17,4 3 14,4 82,60 No Pe ng ul an ga n Jumlah Nyamuk yang Hinggap Pe rb ed aa n E fe kt iv ita s (% ) Kontrol Ekstrak Daun Salam 55% 1 I 18 2 16 88,88 2 II 19 1 18 94,73 3 III 18 3 15 83,33 4 IV 18 2 16 88,88 5 V 16 1 15 93,75 Rata-rata 17,8 1,8 16 89,91
Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa konsentrasi repellent ekstrak Daun Salam yang tidak berbeda secara signifikan dengan jumlah nyamuk Aedes aegypti yang hinggap yaitu terdapat pada konsentrasi 35% dengan 40%, sedangkan pada konsentrasi lainnya berbeda secara signifikan p ≤ 0,05.
PEMBAHASAN
Perbedaan jumlah nyamuk yang hinggap dengan variasi konsentrasi pengaruh ekstrak Daun Salam
Berdasarkan hasil uji statistik, diperoleh nilai p=0,000 yang menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nyamuk yang hinggap di tangan dengan variasi konsentrasi ekstrak Daun Salam sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti. Pada Tabel 4.1 sampai dengan Tabel 4.5, menunjukan bahwa nyamuk yang hinggap di tangan pada kondisi kontrol berbeda dengan semua variasi konsentrasi ekstrak Daun Salam yang diujikan. Hal ini menunjukan bahwa terdapat kecendrungan nyamuk untuk menghindar dan tidak hinggap pada tangan yang telah diberi ekstrak Daun Salam.Variasi konsentrasi dosis yang digunakan pada penelitian adalah sebesar 35%, 40%, 45%,
50% dan 55%.
Tabel 4.9 hasil uji post-hoc LSD ( Least Significance Different) menunjukan terdapat perbedaan masing-masing konsentrasi ekstrak Daun Salam 35%, 40%, 45%, 50% dan 55%. Terlihat bahwa konsentrasi repellent ekstrak Daun Salam yang tidak berbeda secara signifikan dengan jumlah nyamuk Aedes aegypti yang hinggap yaitu terdapat pada konsentrasi 35% dengan 40%, sedangkan pada konsentrasi lainnya berbeda secara signifikan p ≤ 0,05. Berdasarkan hasil uji efektivitas didapati hasil konsentrasi ekstrak Daun Salam yang lebih efektif yaitu pada konsentrasi 55% dengan rata-rata sebesar 16 nyamuk atau 89,91%.
Tabel hasil pengamatan dari jumlah nyamuk yang hinggap, menunjukan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak Daun Salam yang diujikan, maka semakin sedikit jumlah nyamuk yang hinggap di tangan. Hal tersebut menunjukan bahwa terdapat peningkatan efektivitas daya tolak pada ekstrak Daun Salam terhadap nyamuk Aedes aegypti. Adanya perbedaan efektivitas konsentrasi dosis dapat diihat pada rata-rata jumlah nyamuk yang hinggap.
Diketahui, ekstrak daun Salam memiliki daya tolak terhadap nyamuk Aedes aegypti, namun terdapat perbedaan efektivitas yang nyata antara konsentrasi dosis yang ada. Ini membuktikan ekstrak daun Salam memiliki efektivitassebagai repellent nyamuk Aedes aegypti yang digunakan peneliti sebagai sampel. Konsentrasi perlakuan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah nyamuk Aedes aegyptiyang menolak. Pada penelitian ini, semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun Salam yang digunakan, maka semakin tinggi jumlah nyamuk Aedes aegyptiyang menolak.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2013), menyatakan bahwa semakin rendah konsentrasi air perasan serai wangi (Cymbopogon nardus) yang digunakan masih ada nyamuk Aedes aegypti yang menusuk, sebaliknya semakin tinggi konsentrasi air perasan serai wangi (Cymbopogon nardus) yang digunakan maka semakin tidak ada nyamuk Aedes aegypti yang menusuk.
Proses penolakan terhadap nyamuk karena penggunaan repellent dapat diterangkan sebagai berikut : minyak atsiri yang disemprotkan merata di tangan pengguna akan meresap ke pori-pori kulit, lalu karena panas tubuh, minyak atsiri akan menguap ke udara. Bau ini akan terdeteksi oleh reseptor kimia (chemoreceptor) yang terdapat pada antena nyamuk dan diteruskan ke impuls saraf. Bau dari minyak atsiri ini tidak disukai nyamuk. Hal itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam otak nyamuk sehingga nyamuk akan mengekspresikan untuk menghindar dari sumber bau. Nyamuk memilih menghindar dan membatalkan arah dari lengan/bagian tubuh penggunarepellent , mencari sumber makanan di tempat lain. Oleh sebab itu pengguna repellent akan terhindar dari gigitan nyamuk. Semakin banyak kandungan bahan aktif minyak atsiri yang terdapat dalam suatu tanaman, maka semakin besar kemampuan minyak atsiri tersebut menolak nyamuk (Shinta, 2010). Senyawa yang mudah menguap adalah senyawa golonganterpenoid.
Terpenoid merupakan senyawa yang diduga bersifat sebagai penolak nyamuk. Menurut Djatmiko (2011), bahwa terpenoid merupakan komponen tumbuhan yang mempunyai bau karena mudah menguap. Zat yang terkandung dalam golongan terpenoid , yaitu seperti minyak atsiri, tannin, flavonoid, eugenol, sitral, polifenol dan lain-lain.
Terpenoid dapat mempertahankan kestabilannya hingga temperature 100°C. Proses ekstraksi Daun Salam pada penelitian ini menggunakan suhu ± 40°C. Jadi, senyawa terpenoid pada ekstrak daun Salam diperkirakan tidak rusak dalam proses ekstraksi sehingga dapat berperan sebagai penolak nyamuk Aedes aegypti.
Daun Salam mengandung minyak atsiri, tanin dan flavonoid(Dalimartha, 2000). Minyak atsiri yang terdapat pada Daun Salam menjadi petunjuk kuat, bahwa Daun Salam dapat berperan sebagai Repellent nyamuk. Semua zat yang terkandung di dalam minyak atsiri merupakan zat-zat yang berfungsi sebagai repellent (Maia et.al., 2001 dalam Rilianti, 2015). Selain itu, zat lain yang medukukung Daun Salam dapat berperan sebagai repellent nyamuk adalah tanin dan flavonoid. Senyawa tanin dapat menurunkan kemampuan serangga mencerna makananan dengan cara menurunkan aktivitas enzim pencernaan sedangkan flavonoid merupakan senyawa pertahanan tumbuhan yang dapat bersifat menghambat makan serangga dan juga bersifat toksik (Dinata, 2008 dalam
Haditomo, 2010).
Efektivitas tertinggi konsentrasi ekstrak Daun Salam
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terlihat adanya kecenderungan semakin tinggi konsentrasi ekstrak Daun Salam, maka semakin meningkat efektivitas daya tolak terhadap nyamuk Aedes. Pada Tabel 4.6 menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak Daun Salam yang paling efektif digunakan sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti adalah konsentrasi 55% dimana dengan rata-rata persentase efektivitas sebesar 89,91%.
Merujuk pada Tabel 4.9 yaitu mengenai konsentrasi dosis yang signifikan, terlihat bahwa terdapat hasil yang tidak signifikan antara
variasi konsentrasi dosis 35% dengan konsentrasi dosis 40%. Adanya hasil yang tidak signifikan tersebut dapat terjadi karena rentang dosis yang terlalu dekat sehingga perbedaan daya tolak tidak berbeda secara signifikan.
Penggunan repellent secara semprot merupakan salah satu upaya untuk mencegah gigitan nyamuk yang dapat menimbulkan penyakit akibat nyamuk. Repellent lebih efektif digunakan dikarenakan dengan cara perlindungan secara individu, sehingga hasilnya akan lebih maksimal. Kelemahan dalam penelitian ini yaitu, pada konsentrasi 55% belum bisa menolak nyamuk sebanyak 100% dan pada penelitian ini tidak melakukan perbandingan
dengan jenis ekstrak daun lainnya yang terbukti efektif menurunkan gigitan nyamuk seperti daun serai dan kulit buah jeruk.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Ada perbedaan jumlah nyamuk Aedes aegypti yang hinggap antara variasi konsentrasi pengaruh ekstrak Daun Salam 35%, 40%, 45%, 50% dan 55% dimana diperoleh nilai signifikan sebesar p=0,000≤ 0,05.
Efektivitas tertinggi konsentrasi pengaruh ekstrak daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai repellent nyamuk Aedes aegypti terdapat pada konsentrasi dosis 55% dengan rata-rata
efektivitas 89,91%.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan konsentrasi dosis di atas 55% agar didapat penolakan nyamuk sebesar 100%, serta membandingkan ekstrak Daun Salam dengan daun yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Rizqi, 2015. Daya Bunuh Air Perasan Daun Mengkudu (Morinda Citrifolia) Terhadap Kematian Larva Aedes Aegypti. Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Universitas Negeri Semarang Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang. Arintawati, Muti, 2000. Identifikasi dan
Karakterisasi Komponen Aroma Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight)
Walp. Tesis. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas IPB. Bogor.
Dalimartha, Setiawan, 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jiid 2. Trubus Agriwidya. Jakarta.
Dinkes Provinsi KalBar, 2014. Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. Pontianak. Kementrian, Kesehatan, 2011. Informasi Umum
Demam Berdarah Dengue. Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Dit PPBB dan
Diten PP dan PL Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.
Nadesul, H, 2007. Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah. Kompas. Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2005. Metodelogi Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Cipta:
Jakarta
Rasid, Al Ghazaly, 2014. Perbedaan Efektivitas Daya Tolak Repellent Ekstrak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C) dengan Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) terhadap Daya Hinggap Nyamuk Aedes aegypti Di Kota Pontianak . Skripsi. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak.
Rejeki, S, 2011, Bunga Kamboja Pengusir Nyamuk . John Wiley and Sons, inc.
Journal. New York
Satari, Hindra, 2004. Demam Berdarah. PuspaSwara. Jakarta.
Supartha, I Wayan, 2008. Pengendalian Terpadu Vektor Virus Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti (Linn.) dan Aedes albopictus (Skuse)(Diptera: Culicidae) dalam Makalah Pertemuan Ilmiah Dies Natalis 2008. Fakultas Udayana Fakultas
Pertanian: Bali.
WHO, 2012. Dengue and Severe Dengue. Fact sheet N117.
WHO, 2002. Paduan Lengkap Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Buku Kedokteran