TOPIK
Konsepsi
SISTEM PEMILU
By
Andri Rusta
Mata Kuliah Sistem Perwakilan Politik
Semester Genap 2010/2011
Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Andalas
7 April 2011 1
DEMOKRASI
Dalam khasanah ilmu politik, secara umum dapat kita katakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana formulasi kebijakan, secara langsung atau tidak langsung, amat ditentukan oleh suara terbanyak dari warga masyarakat yang memiliki hak memilih dan dipilih, melalui wadah pembentukan suaranya dalam keadaan bebas dan tanpa paksaan. Dalam rangka mewujudkan demokrasi tersebut, Henry B. Mayo mengemukakan nilai-nilai sebagai berikut:
1. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga
(institutionalized peaceful settlement of conflict)
2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu
masyarakat yang sedang berubah (peaceful change in a changing
society)
3. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur (orderly
succession of rulers)
4. Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum (minimum of
coercion)
Menurut Affan Gaffar, sejumlah ilmuwan politik merumuskan parameter atau indikator-indikator terlaksananya demokrasi pada sebuah negara jika memenuhi beberapa unsur antara lain:
1. Akuntabilitas
2. Rotasi Kekuasaan
3. Rekruitmen politik yang terbuka
4. Pemilihan umum
5. Menikmati hak-hak dasar
Dalam suatu negara demokratis pemilihan umum biasanya dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan. Setiap warga negara yang sudah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih serta mempunyai kebebasan untuk menggunakan haknya tersebut sesuai dengan kehendak hati nuraninya. Dalam hal ini mereka mempunyai kebebasan untuk menentukan partai dan atau calon mana yang akan didukungnya tanpa ada rasa takut atau paksaan dari orang lain.Para pemilih juga bebas mengikuti segala macam aktivitas pemilihan umum, seperti kegiatan kampanye dan menyaksikan penghitungan suara.
PENGERTIAN PEMILIHAN UMUM (PEMILU)
• Secara universal pemilihan umum adalah lembaga sekaligus proses politik yang memungkinkan terbentuknya pemerintahan
perwakilan.
• Pemilu adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politiktertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyatdi berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa.
• Menurut Dahl merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern.
• Pemilu merupakan salah satu usaha untuk mempengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan
retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan kegiatan lain-lain. Meskipun agitasi dan propagandadi Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik.
• Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga
disebut
konstituen
, dan kepada merekalah para
peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan
program-programnya pada masa
kampanye
. Kampanye
dilakukan selama waktu yang telah ditentukan,
menjelang hari pemungutan suara.
• Setelah
pemungutan suara
dilakukan, proses
penghitungan dimulai.Pemenang Pemilu ditentukan
oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang
yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh
para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.
ALASAN PENTINGNYA DEMOKRASI DALAM BAGI KEHIDUPAN
DEMOKRASI
• Melalui pemilu memungkinkan suatu
komunitas politik melakukan transfer
kekuasaan secara damai.
• Melalui pemilu akan tercipta pelembagaan
konflik. Przeworski mencatat bahwa
demokrasi merupakan hasil kontingen dari
konflik.
TUJUAN PEMILU
Menurut Ramlan Surbakti:
1. Sebagai mekanisme untuk menyeleksi para
pemimpin pemerintahan dan alternatif kebijakan
umum
2. Pemilihan umum merupakan mekanisme untuk
memindahkan konflik kepentingan dari masyarakat
kepada badan-badan perwakilan rakyat agar
integrasi masyarakat tetap terjamin
3. Sebagai sarana mobilisasi dan atau/menggalang
dukungan rakyat terhadap negara dan
pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses
politik.
FUNGSI PEMILIHAN UMUM
•
Pemilu adalah sebuah mekanisme politik
untuk mengartikulasi aspirasi dan
kepentingan warga negara. Setidaknya ada
empat fungsi pemilu yang terpenting;
1. Legitimasi politik,
2. Terciptanya perwakilan politik
3. Sirkulasi elit politik
FUNGSI LEGITIMASI
Ada tiga alasan mengapa pemilu bisa menjadi sarana legitimasi politik: • Melalui pemilu pemerintah bisa meyakinkan atau setidaknya
memperbaharui kesepakatan-kesepakatan politik dengan rakyat • Melalui pemilu pemerintah dapat mempengaruhi perilaku rakyat atau
warganegara (pemilu bisa jadi alat kooptasi pemerintah untuk
meningkatkan respon rakyat terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuatnya • Pemerintah dapat mengandalkan kesepakatan dengan rakyat
dibandingkan dengan paksaan (Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat, dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah dan program serta kebijakan yang dihasilkan
Hanna F. Pitkin membagi dua tipe perwakilan:
• Tipe delegasi atau utusan yaitu wakil yang memperoleh mandat dari rakyat, sehingga merasa terikat dengan aspirasi dan kepentingan rakyat • Tipe independen, yaitu wakil yang tidak terikat pada aspirasi dan
kepentingan rakyat pemilih.
FUNGSI PERWAKILAN POLITIK
• Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat,
dalam rangka mengevaluasi maupun
mengontrol perilaku pemerintah dan program
serta kebijakan yang dihasilkan .
• Pemilu merupakan mekanisme demokratis
bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakil
yang dapat dipercaya dalam pemerintahan
dan lembaga legislatif
FUNGSI SIRKULASI ELIT
• Keterkaitan pemilu dengan sirkulasi elit didasarkan pada
asumsi bahwa elit berasal dari dan bertugas mewakili rakyat
luas.
• Pemilu merupakan jalur dan sarana langsung untuk
mendapatkan posisi sebagai elit penguasa
Kolabinska mengembangkan tiga tipologi sirkulasi elit:
• Elit yang berasal dari segmen elit penguasa itu sendiri- jadi
hanya berganti kedudukan sebagai penguasa.
• Elit yang berasal dari warga non elit yang direkrut atau
mendapatkan posisi sebagai elit penguasa
• Elit baru yang memenangkan pertarungan dengan elit
penguasa, kemudian menggantikan yang kalah
FUNGSI PENDIDIKAN POLITIK
• Pemilihan umum merupakan salah satu
bentuk pendidikan politik rakyat yang bersifat
langsung, terbuka dan massal.
• Pemilu diharapkan dapat mencerdaskan
pemahaman politik dan meningkatkan
Pengertian
•
Sistem Pemilu
adalah suatu prosedur
yang diatur dalam organisasi (negara)
yang dengannya seluruh atau sebagain
anggota organisasi tersebut memilih
sejumlah orang untuk menduduki jabatan
dalam organisasi itu sendiri;
•
Sistem Pemilu
adalah
metode
yang
mengatur dan memungkinkan warga
negara untuk memilih para wakil rakyat
diantara
mereka sendiri
;
7 April 2011 13
Catatan :
•
Metode
, artinya berhubungan dg
prosedur dan aturan mengubah
(mentransformasi) suara menjadi kursi di
lembaga perwakilan;
•
Mereka sendiri
; maksudnya pihak yang
memilih maupun yg hendak dipilih
merupakan bagian dari satu entitas yang
sama;
Elemen Sistem Pemilu :
•
Electoral Law
, yakni aturan main
berdasarkan prinsip2 demokrasi yang
harus ditaati setiap kontestan pemilu;
apakah Plural Mayority, Proporsional
Representation;
•
Electoral Process;
metode atau aturan
untuk mentransfer suara pemilih menjadi
kursi di lembaga perwakilan;
7 April 2011 15
Fungsi Pemilihan
•
Sebagai prosedur untuk
memberikan legitimasi
atau
mengabsahkan penugasan seseorang pada jabatan
tertentu dalam pemerintahan;
•
Sebagai
sarana partisipasi individu
untuk
memberikan otoritas absah (legitimate authority)
kepada mereka yg terpilih;
•
Bagi sebagian negara, pemilu dilakukan penguasa dg
tujuan untuk melakukan
kontrol atas perbedaan
pendapat;
•
Bagi sebagian negara lain, pemilu
hanya ritual
utk
memobilisasi massa untuk mengabsahkan strategi
persatuan nasional;
Indikator Menilai Sistem Pemilu
•
Akuntabilitas (accountability)
•
Keterwakilan (representativeness)
•
Keadilan (fairness)
•
Persamaan hak tiap pemilih (equality)
•
Lokalitas (locality)
•
Dapat dilaksanakan (Reliable)
•
Mudah dihitung (Numerikal)
7 April 2011 17
Kriteria Memilih Sistem Pemilu
•
Mengandung Elemen Demokrasi;
•
Ada keseimbangan;
Pemilu yang kompetitif bisa dibangun atas tiga
komponen Berikut
•
Adanya hak pilih universal bagi orang dewasa tanpa
membedakan jenis kelamin, ras, suku, agama, etnis, faham,
keturunan, kekayaan dll.
•
Adanya proses pemilihan yang adil. Seperti adanya jaminan
kerahasiaan, jaminan penghitungan suara yang terbuka,
tidak ada kecurangan dalam proses pemilihan, tidak adanya
kekerasan, tidak adanya intimidasi khususnya pada proses
pemilihan atau pencoblosan.
•
Adanya hak – khususnya bagi partai politik – untuk
mengorganisasi dan mengajukan kandidat sehingga para
pemilih mempunyai banyak pilihan untuk memilih di antara
para calo yang berbeda secara kelompok maupun
programnya.
Elemen Demokrasi :
• Menjamin terbentuknya parlemen yang representatif;
• Terbentuknya pemilu yang mudah diaskses dan bermakna;
• Tersedianya ruang utk konsiliasi;
• Memfasilitasi terbentuknya pemerintahan yang stabil dan
efisien;
• Menjaga akuntabilitas dan representasi pemerintahan;
• Memperbesar “cross-cutting” diantara partai politik;
• Mendorong adanya sebuah oposisi di parlemen;
• Adanya dukungan kapasitas biaya dan administrasi;
Elemen Demokrasi :
• Ensuring a representative parliament;
• Making elections accesible and meaningful;
• Providing incentives for conciliation;
• Facilitating stable and efficiency government;
• Holding the government and representatives
accountable
• Encouraging “cross-cutting” political parties;
• Promoting a parliamentary opposition;
• Cost and administrative capacity;
7 April 2011 21
Keseimbangan :
• Pengaruh pemilih untuk perkokoh parpol;
• Kesederhanaan sistem dg peluang
berinovasi;
• Solusi jangka pendek dg stabilitas jangka
panjang;
• Bangun sistem pemilu berdasarkan sistem
yg pernah ada tanpa terpenjara dimensi
historis sistem tsb;
• Sistem pemilu bukan solusi untuk semua
permasalahan politik;
Dampak ke Sistem Politik
• Tingkat proporsionalitas (hubungan antara
rakyat dg wakil terpilih)
• Format kabinet yg akan dibentuk;
• Bentuk sistem kepartaian;
• Akuntabilitas pemerintahan (yg menyangkut
konsensus/konfrontasi dlm legislatif dan
eksekutif)
• Tingkat partisipasi warga masyarakat;
• Mengubah tampilan atau wajah demokrasi
7 April 2011 23
Jenis-jenis Sistem Pemilu
•
Ben Reilly dan Andres Reynolds (2001) mengelompokkan
ratusan jenis sistem pemilu (dari 212 negara) menjadi tiga
kategori :
1. Sistem Mayoritas-pluralitas(Sistem Non-Proporsional), dengan varian2 :
a. First Past the Post (FPTP) b. Block Vote (BV)
c. Alternative Vote (AV) d. Two-Round System (TRS)
2. Sistem Semi Proporsional, dengan varian : a. Sistem Paralel;
b. Limited Vote (LV);
c. Single Non-Transferable (SNTV);
3. Sistem Proporsional;
Tiga Kubu Utama dalam
Sistem Pemilu
7 April 2011 25
PLURAL
MAYORITY SEMI POPORSIONAL REPRESENTATION REPRESENTATIONPROPORSIONAL
Pilih Langsung Pilih Lewat Wakil Rakyat
KELUARGA BESAR SISTEM PEMILU
PLURALITY
-MAJORITY PROPORTIONALSEMI REPRESENTATION PROPORTIONAL REPRESENTATION FIRST PAST THE POST (FPTP) ALTERNATIVE VOTE (AV) BLOCK VOTE (BV) TWO ROUND SYSTEM (TRS) PARALLEL SYSTEM (PS) SINGLE NON-TRANSFERABLE VOTE (SNTV) LIST PR MIXED MEMBER PROPORTIONAL (MMP) SINGLE TRANSFERABLE VOTE (STV)
46%
14% 36%
4%
Jumlah dan Persentase Pengguna Sistem Pemilu
Distrik (88 negara) Mixed (27 negara) Proporsional (68 negara) Lainnya (7 negara)
Dua Bentuk Sistem Pemilu yang
Dominan
•
Single Member
Constituency/Sistem Distrik;
•
Multi Member Constituency/
Sistem Proporsional
Representation;
Single-Member Constituency (Sistem
Distrik)
• Satu daerah pemilihan disebut distrik
(kesatuan geografis yg kecil)
• Satu distrik memilih satu wakil;
• Jumlah wakil ditentukan oleh jumlah distrik
• Calon yg menang dalam satu distrik
merupakan calon yg mendapat suara
terbanyak
• Suara yg diberikan kepada calon lain dianggap
hilang
7 April 2011 29
Keuntungan Sistem Distrik
• Wakil lebih dikenal dan mempunyai hubungan yg
erat dg penduduk;
• Calon lebih terdorong memperjuangkan kepentingan
distrik;
• Mendorong terciptanya integrasi dan kerjasama
antar partai politik;
• Mengurangi terbentuknya partai baru;
• Mempermudah terciptanya pemerintahan yg stabil;
• Sistem sangat sederhana dan mudah dilaksanakan;
Kelemahan sistem distrik
• Kurang memperhitungkan adanya partai kecil
dan golongan minoritas;
• Jumlah suara yg kalah tidak diperhitungkan;
• Kurang representatif, karena calon yg kalah
kehilangan suara para pendukungnya;
7 April 2011 31
Multi-member Constituency
(Sistem Proporsional)
• Negara dibagi atas beberapa daerah pemilihan yang lebih
besar daripada distrik;
• Jumlah wakil dalam setiap daerah pemilihan ditentukan
oleh jumlah penduduk dibagi 400.000 (1: 400.000)
• Wakil terpilih ditentukan oleh jumlah suara yg diperoleh
masing2 parpol setelah dibagi bilangan pembagi (BPP);
• Setiap suara yg diperoleh parpol selalu dihitung dan dapat
ditambahkan untuk menggenapkan suara parpol yg sama
di daerah pemilihan lainnya;
• Sistem ini sering dikombinasikan dg Sistem Daftar (List
System) yg berisi daftar calon yg diajukan partai;
Sistem Proporsional
Kelebihan Kekurangan
Sistem Distrik
First Past The Post (FPTP)
• Sistem tipe ini secara menonjol diterapkan di
Inggris dan daerah-daerah bekas jajahannya.
• Sistem ini didasarkan pada ‘distrik-distrik wakil
tunggal’ – satu wakil dipilih dari setiap daerah
pemilihan.
• Pemenang di setiap daerah pemilihan
merupakan kandidat yang mendapatkan suara
terbanyak.
Block Vote dan Party Block Vote
• Sistem-sistem Block Vote diterapkan di Bermuda, Maldives,
Kuwait, Mauritius dan Palestina, sementara sistem Party Block
Vote diterapkan di Djibouti, Lebanon, Tunisia dan Senegal, dan
untuk sebagian besar distrik di Singapura.
• Block Vote merupakan bentuk FPTP dalam distrik wakil
majemuk. Biasanya,pemilih dapat memilih sebanyak kandidat
yang ada. Maka, apabila ada 5 wakil yang harus dipilih,
tiap-tiap pemilih dapat memilih sampai lima kandidat.
• Kandidat pemenang di setiap distrik adalah pemenang suara
tertinggi n, dimana n adalah jumlah kursi untuk dipilih.
Alternative Vote (Preferential Voting atau
AV)
• Diterapkan di Australia, dan di Nauru dalam bentuk
yang telah dimodifikasi.Sistem ini juga pernah
diterapkan di Fiji, hanya sekali, pada tahun 1999,
danjuga di Papua Nugini dari tahun 1964 sampai
1975, ketika masih berada dibawah administrasi
Australia.
• Pada sistem full preferential voting, para pemilih
harus mengurutkan semua kandidat sesuai urutan
preferensi mereka (1,2,3,4, dan seterusnya).
• Pada sistem optional preferential voting, para pemilih
memiliki pilihan untuk menandai hanya satu kandidat atau
memilih mengurutkan beberapa atau semua kandidat.
• Pada sistem ‘ticket voting’ pemilih memilih sebuah partai
politik, dan preferensi pemilih akan sama dengan urutan
preferensi yang telah ditentukan partai yangbersangkutan,
yang diumumkan oleh semua partai politik kepada pelaksana
pemilu sebelum hari pemilihan.
• Pemenangnya adalah kandidat dengan perolehan 50% + 1 dari
suara sah yang ada di distrik yang bersangkutan. Apabila
ketentuan ini tidak tercapai dari preferensi pertama para
pemilih, maka kandidat dengan jumlah pilihan pertama yang
terendah akan disingkirkan, dan pilihan kedua yang ditandai di
kertas suara kandidat tersebut dibagikan ke kandidat lainnya.
Proses eliminasi kandidat dengan jumlah suara terendah dan
membagikan kertas suaranya kepada kandidat lain yang
tertinggal, dimana kepada mereka pemilih telah menentukan
pilihan berikutnya, berlanjut sampai seorang kandidat
Sistem Representasi Proporsional (RP)
• Sistem ini meliputi:
• Representasi Proporsional Daftar (List
Proportional Representation)
• Mixed Member Proportional (MMP)
• Single Transferable Vote (STV)
Representasi Proporsional Daftar (RP
Daftar)
•
Sejumlah bentuk RP Daftar diterapkan di sekitar 70
negara. Semua bentuk RP
•
Karakteristik umum sebagai berikut:
1. Partai memberikan daftar kandidat yang sama
jumlahnya dengan kursi yang tersedia di daerah
pemilihan
2. Para pemilih memilih untuk satu partai. Jumlah
kursi yang diperoleh tiap-tiap partai ditentukan
oleh dan secara langsung berkaitan dengan
proporsi jumlah suara yang diperolehnya di daerah
pemilihan yang bersangkutan.
Mixed Member Proportional (MMP)
• Diterapkan di Jerman, Selandia Baru, Mexico, Bolivia, Italia, dan lain-lain.
• Pemilih mendapatkan dua surat suara yang berbeda, atau satu surat
suara yang terdiri dari dua sistem pemilihan: satu untuk pilihan partai (biasanya secara nasional), yang lain untuk kandidat di daerah pemilihan mereka (distrik lokal).
• Dimungkinkan adanya rasio yang berbeda-beda dari kursi representasi
proporsional terhadap kursi daerah pemilihan – biasanya, antara 25 % -50 % kursi merupakan kursi representasi proporsional.
• Bagian tiap-tiap partai dari keseluruhan jumlah kursi dalam badan legislatif secara langsung ditentukan berdasarkan proporsi suara pemilihan RP.
• Ketentuan khusus mungkin dibutuhkan, termasuk jumlah parlemen
yang fleksibel, untuk menangani situasi dimana kursi yang dimenangkan sebuah partai dari distrik melebihi jumlah kursi yang diperolehnya dari persentase suara RP.
Keuntungan Sistem Proporsional
• Setiap suara yg diperoleh parpol selalu
dihitung dan tidak ada yg hilang;
• Golongan/parpol yang mendapat suara kecil
tetap dapat menemptkan wakilnya di
parlemen;
Kelemahan Sistem Proporsional
• Karena calon diajukan oleh parpol maka mereka
lebih terikat kepada partai;
• Kurang loyal terhadap para pemilihnya di daerah;
• Peranan partai lebih menonjol;
• Mempermudah fragmentasi partai dan
menimbulkan banyak partai baru;
• Cenderung mempertajam perbedaan dalam
masyarakat;
• Mempersulit terbentuknya pemerintahan yang
stabil;
7 April 2011 43
Isu yang sering menimbulkan
perdebatan dalam Sistem Distrik :
• Terjadi fenomena over and under representation;
• Membagi daerah pemilihan/distrik pemilihan secara tepat;
• Terjadinya penyesuaian distrik secara periodik apabila
terjadi perpindahan penduduk (yang mengakibatkan
ketidakmerataan penduduk);
• Partai berkuasa cenderung menggambar kembali peta
politik yg menguntungkan distribusi suara partainya (atau
diistilahkan sbg “Gerry mandering”)
ket.: Istilah ini diciptakan Asosiasi Press di USA utk
menyebut Gubernur Massachusett ,1812, Elbridge Gerry yg
punya kebiasaan mengatur kembali peta distrik pemilihan
agar menang kembali dalam pemilu berikutnya. Perilaku ini
Fenomena Over & Under Representation
dalam Sistem Distrik
Distrik
Perolehan Suara
Perolehan Kursi
Partai X
Partai Y
Partai X
Partai Y
A
50.000
40.000
1
-B
30.000
70.000
-
1
C
40.000
30.000
1
-D
20.000
40.000
-
1
E
20.000
10.000
1
-Jumlah
160.000
190.000
3
2
7 April 2011 45penentuan partai politik untuk Pemilu
2009
1. partai yang berbadan hukum langsung mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melakukan verifikasi partai. Jika lolos verifikasi, maka partai tersebut dapat maju dalam Pemilu 2009.
2. partai yang memiliki kursi di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) secara otomatis menjadi kontestan Pemilu 2009. Artinya, 16 partai yang saat ini memiliki kursi di DPR otomatis menjadi peserta Pemilu 2009.
3. partai yang tidak memiliki kursi di DPR (jumlahnya ada 8 partai) langsung mendaftar ke KPU untuk melakukan verifikasi partai dan jika lolos, maka berhak maju ke Pemilu 2009.
Pengaturan demikian sebenarnya hanya menguntungkan partai partai politik (parpol) besar saja.
Penetapan perolehan kursi
Penentuan perolehan suara ditentukan berdasar partai politik yang memenuhi ambang batas 2,5 % dari jumlah suara sah secara nasional. Kemudian, ditentukan bilangan pembagi pemilih (BPP) dengan cara membagi jumlah suara sah Parpol Peserta Pemilu dengan jumlah kursi di suatu daerah pemilihan.
1. Tahap pertama, membagi jumlah suara sah yang diperoleh parpol dengan BPP.
2. Tahap kedua, jika masih ada sisa kursi, maka diberikan kepada parpol yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 50 %.
3. Tahap ketiga, jika masih terdapat sisa kursi dari tahap kedua, maka seluruh sisa suara dikumpulkan di provinsi untuk menentukan BPP DPR yang baru di provinsi yang bersangkutan.
penetapan calon anggota legislatif
• Ditentukan berdasarkan perolehan suara 30 % dari BPP, jika tidak
terpenuhi, akan ditentukan oleh jumlah suara terbanyak yang didapatkan kandidat.
• Dalam penentuan calon terpilih ini menunjukkan bahwa sebenarnya sistem pemilu yang ditawarkan UU Pemilu yang baru ini merupakan kombinasi sistem proporsional setengah terbuka dan proporsional terbuka, dan mungkin yang lebih dominan adalah proporsional setengah terbuka. Hal ini berarti tidak berbeda dengan UU Pemilu sebelumnya yang menggunakan sistem proporsional setengah terbuka.