• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOPIK. Konsepsi SISTEM PEMILU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TOPIK. Konsepsi SISTEM PEMILU"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

TOPIK

Konsepsi

SISTEM PEMILU

By

Andri Rusta

Mata Kuliah Sistem Perwakilan Politik

Semester Genap 2010/2011

Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Andalas

7 April 2011 1

DEMOKRASI

Dalam khasanah ilmu politik, secara umum dapat kita katakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana formulasi kebijakan, secara langsung atau tidak langsung, amat ditentukan oleh suara terbanyak dari warga masyarakat yang memiliki hak memilih dan dipilih, melalui wadah pembentukan suaranya dalam keadaan bebas dan tanpa paksaan. Dalam rangka mewujudkan demokrasi tersebut, Henry B. Mayo mengemukakan nilai-nilai sebagai berikut:

1. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga

(institutionalized peaceful settlement of conflict)

2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu

masyarakat yang sedang berubah (peaceful change in a changing

society)

3. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur (orderly

succession of rulers)

4. Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum (minimum of

coercion)

(2)

Menurut Affan Gaffar, sejumlah ilmuwan politik merumuskan parameter atau indikator-indikator terlaksananya demokrasi pada sebuah negara jika memenuhi beberapa unsur antara lain:

1. Akuntabilitas

2. Rotasi Kekuasaan

3. Rekruitmen politik yang terbuka

4. Pemilihan umum

5. Menikmati hak-hak dasar

Dalam suatu negara demokratis pemilihan umum biasanya dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan. Setiap warga negara yang sudah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih serta mempunyai kebebasan untuk menggunakan haknya tersebut sesuai dengan kehendak hati nuraninya. Dalam hal ini mereka mempunyai kebebasan untuk menentukan partai dan atau calon mana yang akan didukungnya tanpa ada rasa takut atau paksaan dari orang lain.Para pemilih juga bebas mengikuti segala macam aktivitas pemilihan umum, seperti kegiatan kampanye dan menyaksikan penghitungan suara.

PENGERTIAN PEMILIHAN UMUM (PEMILU)

• Secara universal pemilihan umum adalah lembaga sekaligus proses politik yang memungkinkan terbentuknya pemerintahan

perwakilan.

• Pemilu adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politiktertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyatdi berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa.

• Menurut Dahl merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern.

• Pemilu merupakan salah satu usaha untuk mempengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan

retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan kegiatan lain-lain. Meskipun agitasi dan propagandadi Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik.

(3)

• Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga

disebut

konstituen

, dan kepada merekalah para

peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan

program-programnya pada masa

kampanye

. Kampanye

dilakukan selama waktu yang telah ditentukan,

menjelang hari pemungutan suara.

• Setelah

pemungutan suara

dilakukan, proses

penghitungan dimulai.Pemenang Pemilu ditentukan

oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang

yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh

para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.

ALASAN PENTINGNYA DEMOKRASI DALAM BAGI KEHIDUPAN

DEMOKRASI

• Melalui pemilu memungkinkan suatu

komunitas politik melakukan transfer

kekuasaan secara damai.

• Melalui pemilu akan tercipta pelembagaan

konflik. Przeworski mencatat bahwa

demokrasi merupakan hasil kontingen dari

konflik.

(4)

TUJUAN PEMILU

Menurut Ramlan Surbakti:

1. Sebagai mekanisme untuk menyeleksi para

pemimpin pemerintahan dan alternatif kebijakan

umum

2. Pemilihan umum merupakan mekanisme untuk

memindahkan konflik kepentingan dari masyarakat

kepada badan-badan perwakilan rakyat agar

integrasi masyarakat tetap terjamin

3. Sebagai sarana mobilisasi dan atau/menggalang

dukungan rakyat terhadap negara dan

pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses

politik.

FUNGSI PEMILIHAN UMUM

Pemilu adalah sebuah mekanisme politik

untuk mengartikulasi aspirasi dan

kepentingan warga negara. Setidaknya ada

empat fungsi pemilu yang terpenting;

1. Legitimasi politik,

2. Terciptanya perwakilan politik

3. Sirkulasi elit politik

(5)

FUNGSI LEGITIMASI

Ada tiga alasan mengapa pemilu bisa menjadi sarana legitimasi politik: • Melalui pemilu pemerintah bisa meyakinkan atau setidaknya

memperbaharui kesepakatan-kesepakatan politik dengan rakyat • Melalui pemilu pemerintah dapat mempengaruhi perilaku rakyat atau

warganegara (pemilu bisa jadi alat kooptasi pemerintah untuk

meningkatkan respon rakyat terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuatnya • Pemerintah dapat mengandalkan kesepakatan dengan rakyat

dibandingkan dengan paksaan (Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat, dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah dan program serta kebijakan yang dihasilkan

Hanna F. Pitkin membagi dua tipe perwakilan:

• Tipe delegasi atau utusan yaitu wakil yang memperoleh mandat dari rakyat, sehingga merasa terikat dengan aspirasi dan kepentingan rakyat • Tipe independen, yaitu wakil yang tidak terikat pada aspirasi dan

kepentingan rakyat pemilih.

FUNGSI PERWAKILAN POLITIK

• Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat,

dalam rangka mengevaluasi maupun

mengontrol perilaku pemerintah dan program

serta kebijakan yang dihasilkan .

• Pemilu merupakan mekanisme demokratis

bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakil

yang dapat dipercaya dalam pemerintahan

dan lembaga legislatif

(6)

FUNGSI SIRKULASI ELIT

• Keterkaitan pemilu dengan sirkulasi elit didasarkan pada

asumsi bahwa elit berasal dari dan bertugas mewakili rakyat

luas.

• Pemilu merupakan jalur dan sarana langsung untuk

mendapatkan posisi sebagai elit penguasa

Kolabinska mengembangkan tiga tipologi sirkulasi elit:

• Elit yang berasal dari segmen elit penguasa itu sendiri- jadi

hanya berganti kedudukan sebagai penguasa.

• Elit yang berasal dari warga non elit yang direkrut atau

mendapatkan posisi sebagai elit penguasa

• Elit baru yang memenangkan pertarungan dengan elit

penguasa, kemudian menggantikan yang kalah

FUNGSI PENDIDIKAN POLITIK

• Pemilihan umum merupakan salah satu

bentuk pendidikan politik rakyat yang bersifat

langsung, terbuka dan massal.

• Pemilu diharapkan dapat mencerdaskan

pemahaman politik dan meningkatkan

(7)

Pengertian

Sistem Pemilu

adalah suatu prosedur

yang diatur dalam organisasi (negara)

yang dengannya seluruh atau sebagain

anggota organisasi tersebut memilih

sejumlah orang untuk menduduki jabatan

dalam organisasi itu sendiri;

Sistem Pemilu

adalah

metode

yang

mengatur dan memungkinkan warga

negara untuk memilih para wakil rakyat

diantara

mereka sendiri

;

7 April 2011 13

Catatan :

Metode

, artinya berhubungan dg

prosedur dan aturan mengubah

(mentransformasi) suara menjadi kursi di

lembaga perwakilan;

Mereka sendiri

; maksudnya pihak yang

memilih maupun yg hendak dipilih

merupakan bagian dari satu entitas yang

sama;

(8)

Elemen Sistem Pemilu :

Electoral Law

, yakni aturan main

berdasarkan prinsip2 demokrasi yang

harus ditaati setiap kontestan pemilu;

apakah Plural Mayority, Proporsional

Representation;

Electoral Process;

metode atau aturan

untuk mentransfer suara pemilih menjadi

kursi di lembaga perwakilan;

7 April 2011 15

Fungsi Pemilihan

Sebagai prosedur untuk

memberikan legitimasi

atau

mengabsahkan penugasan seseorang pada jabatan

tertentu dalam pemerintahan;

Sebagai

sarana partisipasi individu

untuk

memberikan otoritas absah (legitimate authority)

kepada mereka yg terpilih;

Bagi sebagian negara, pemilu dilakukan penguasa dg

tujuan untuk melakukan

kontrol atas perbedaan

pendapat;

Bagi sebagian negara lain, pemilu

hanya ritual

utk

memobilisasi massa untuk mengabsahkan strategi

persatuan nasional;

(9)

Indikator Menilai Sistem Pemilu

Akuntabilitas (accountability)

Keterwakilan (representativeness)

Keadilan (fairness)

Persamaan hak tiap pemilih (equality)

Lokalitas (locality)

Dapat dilaksanakan (Reliable)

Mudah dihitung (Numerikal)

7 April 2011 17

Kriteria Memilih Sistem Pemilu

Mengandung Elemen Demokrasi;

Ada keseimbangan;

(10)

Pemilu yang kompetitif bisa dibangun atas tiga

komponen Berikut

Adanya hak pilih universal bagi orang dewasa tanpa

membedakan jenis kelamin, ras, suku, agama, etnis, faham,

keturunan, kekayaan dll.

Adanya proses pemilihan yang adil. Seperti adanya jaminan

kerahasiaan, jaminan penghitungan suara yang terbuka,

tidak ada kecurangan dalam proses pemilihan, tidak adanya

kekerasan, tidak adanya intimidasi khususnya pada proses

pemilihan atau pencoblosan.

Adanya hak – khususnya bagi partai politik – untuk

mengorganisasi dan mengajukan kandidat sehingga para

pemilih mempunyai banyak pilihan untuk memilih di antara

para calo yang berbeda secara kelompok maupun

programnya.

Elemen Demokrasi :

• Menjamin terbentuknya parlemen yang representatif;

• Terbentuknya pemilu yang mudah diaskses dan bermakna;

• Tersedianya ruang utk konsiliasi;

• Memfasilitasi terbentuknya pemerintahan yang stabil dan

efisien;

• Menjaga akuntabilitas dan representasi pemerintahan;

• Memperbesar “cross-cutting” diantara partai politik;

• Mendorong adanya sebuah oposisi di parlemen;

• Adanya dukungan kapasitas biaya dan administrasi;

(11)

Elemen Demokrasi :

• Ensuring a representative parliament;

• Making elections accesible and meaningful;

• Providing incentives for conciliation;

• Facilitating stable and efficiency government;

• Holding the government and representatives

accountable

• Encouraging “cross-cutting” political parties;

• Promoting a parliamentary opposition;

• Cost and administrative capacity;

7 April 2011 21

Keseimbangan :

• Pengaruh pemilih untuk perkokoh parpol;

• Kesederhanaan sistem dg peluang

berinovasi;

• Solusi jangka pendek dg stabilitas jangka

panjang;

• Bangun sistem pemilu berdasarkan sistem

yg pernah ada tanpa terpenjara dimensi

historis sistem tsb;

• Sistem pemilu bukan solusi untuk semua

permasalahan politik;

(12)

Dampak ke Sistem Politik

• Tingkat proporsionalitas (hubungan antara

rakyat dg wakil terpilih)

• Format kabinet yg akan dibentuk;

• Bentuk sistem kepartaian;

• Akuntabilitas pemerintahan (yg menyangkut

konsensus/konfrontasi dlm legislatif dan

eksekutif)

• Tingkat partisipasi warga masyarakat;

• Mengubah tampilan atau wajah demokrasi

7 April 2011 23

Jenis-jenis Sistem Pemilu

Ben Reilly dan Andres Reynolds (2001) mengelompokkan

ratusan jenis sistem pemilu (dari 212 negara) menjadi tiga

kategori :

1. Sistem Mayoritas-pluralitas(Sistem Non-Proporsional), dengan varian2 :

a. First Past the Post (FPTP) b. Block Vote (BV)

c. Alternative Vote (AV) d. Two-Round System (TRS)

2. Sistem Semi Proporsional, dengan varian : a. Sistem Paralel;

b. Limited Vote (LV);

c. Single Non-Transferable (SNTV);

3. Sistem Proporsional;

(13)

Tiga Kubu Utama dalam

Sistem Pemilu

7 April 2011 25

PLURAL

MAYORITY SEMI POPORSIONAL REPRESENTATION REPRESENTATIONPROPORSIONAL

Pilih Langsung Pilih Lewat Wakil Rakyat

KELUARGA BESAR SISTEM PEMILU

PLURALITY

-MAJORITY PROPORTIONALSEMI REPRESENTATION PROPORTIONAL REPRESENTATION FIRST PAST THE POST (FPTP) ALTERNATIVE VOTE (AV) BLOCK VOTE (BV) TWO ROUND SYSTEM (TRS) PARALLEL SYSTEM (PS) SINGLE NON-TRANSFERABLE VOTE (SNTV) LIST PR MIXED MEMBER PROPORTIONAL (MMP) SINGLE TRANSFERABLE VOTE (STV)

(14)

46%

14% 36%

4%

Jumlah dan Persentase Pengguna Sistem Pemilu

Distrik (88 negara) Mixed (27 negara) Proporsional (68 negara) Lainnya (7 negara)

Dua Bentuk Sistem Pemilu yang

Dominan

Single Member

Constituency/Sistem Distrik;

Multi Member Constituency/

Sistem Proporsional

Representation;

(15)

Single-Member Constituency (Sistem

Distrik)

• Satu daerah pemilihan disebut distrik

(kesatuan geografis yg kecil)

• Satu distrik memilih satu wakil;

• Jumlah wakil ditentukan oleh jumlah distrik

• Calon yg menang dalam satu distrik

merupakan calon yg mendapat suara

terbanyak

• Suara yg diberikan kepada calon lain dianggap

hilang

7 April 2011 29

Keuntungan Sistem Distrik

• Wakil lebih dikenal dan mempunyai hubungan yg

erat dg penduduk;

• Calon lebih terdorong memperjuangkan kepentingan

distrik;

• Mendorong terciptanya integrasi dan kerjasama

antar partai politik;

• Mengurangi terbentuknya partai baru;

• Mempermudah terciptanya pemerintahan yg stabil;

• Sistem sangat sederhana dan mudah dilaksanakan;

(16)

Kelemahan sistem distrik

• Kurang memperhitungkan adanya partai kecil

dan golongan minoritas;

• Jumlah suara yg kalah tidak diperhitungkan;

• Kurang representatif, karena calon yg kalah

kehilangan suara para pendukungnya;

7 April 2011 31

Multi-member Constituency

(Sistem Proporsional)

• Negara dibagi atas beberapa daerah pemilihan yang lebih

besar daripada distrik;

• Jumlah wakil dalam setiap daerah pemilihan ditentukan

oleh jumlah penduduk dibagi 400.000 (1: 400.000)

• Wakil terpilih ditentukan oleh jumlah suara yg diperoleh

masing2 parpol setelah dibagi bilangan pembagi (BPP);

• Setiap suara yg diperoleh parpol selalu dihitung dan dapat

ditambahkan untuk menggenapkan suara parpol yg sama

di daerah pemilihan lainnya;

• Sistem ini sering dikombinasikan dg Sistem Daftar (List

System) yg berisi daftar calon yg diajukan partai;

(17)

Sistem Proporsional

Kelebihan Kekurangan

Sistem Distrik

(18)

First Past The Post (FPTP)

• Sistem tipe ini secara menonjol diterapkan di

Inggris dan daerah-daerah bekas jajahannya.

• Sistem ini didasarkan pada ‘distrik-distrik wakil

tunggal’ – satu wakil dipilih dari setiap daerah

pemilihan.

• Pemenang di setiap daerah pemilihan

merupakan kandidat yang mendapatkan suara

terbanyak.

Block Vote dan Party Block Vote

• Sistem-sistem Block Vote diterapkan di Bermuda, Maldives,

Kuwait, Mauritius dan Palestina, sementara sistem Party Block

Vote diterapkan di Djibouti, Lebanon, Tunisia dan Senegal, dan

untuk sebagian besar distrik di Singapura.

• Block Vote merupakan bentuk FPTP dalam distrik wakil

majemuk. Biasanya,pemilih dapat memilih sebanyak kandidat

yang ada. Maka, apabila ada 5 wakil yang harus dipilih,

tiap-tiap pemilih dapat memilih sampai lima kandidat.

• Kandidat pemenang di setiap distrik adalah pemenang suara

tertinggi n, dimana n adalah jumlah kursi untuk dipilih.

(19)

Alternative Vote (Preferential Voting atau

AV)

• Diterapkan di Australia, dan di Nauru dalam bentuk

yang telah dimodifikasi.Sistem ini juga pernah

diterapkan di Fiji, hanya sekali, pada tahun 1999,

danjuga di Papua Nugini dari tahun 1964 sampai

1975, ketika masih berada dibawah administrasi

Australia.

• Pada sistem full preferential voting, para pemilih

harus mengurutkan semua kandidat sesuai urutan

preferensi mereka (1,2,3,4, dan seterusnya).

• Pada sistem optional preferential voting, para pemilih

memiliki pilihan untuk menandai hanya satu kandidat atau

memilih mengurutkan beberapa atau semua kandidat.

• Pada sistem ‘ticket voting’ pemilih memilih sebuah partai

politik, dan preferensi pemilih akan sama dengan urutan

preferensi yang telah ditentukan partai yangbersangkutan,

yang diumumkan oleh semua partai politik kepada pelaksana

pemilu sebelum hari pemilihan.

• Pemenangnya adalah kandidat dengan perolehan 50% + 1 dari

suara sah yang ada di distrik yang bersangkutan. Apabila

ketentuan ini tidak tercapai dari preferensi pertama para

pemilih, maka kandidat dengan jumlah pilihan pertama yang

terendah akan disingkirkan, dan pilihan kedua yang ditandai di

kertas suara kandidat tersebut dibagikan ke kandidat lainnya.

Proses eliminasi kandidat dengan jumlah suara terendah dan

membagikan kertas suaranya kepada kandidat lain yang

tertinggal, dimana kepada mereka pemilih telah menentukan

pilihan berikutnya, berlanjut sampai seorang kandidat

(20)

Sistem Representasi Proporsional (RP)

• Sistem ini meliputi:

• Representasi Proporsional Daftar (List

Proportional Representation)

• Mixed Member Proportional (MMP)

• Single Transferable Vote (STV)

Representasi Proporsional Daftar (RP

Daftar)

Sejumlah bentuk RP Daftar diterapkan di sekitar 70

negara. Semua bentuk RP

Karakteristik umum sebagai berikut:

1. Partai memberikan daftar kandidat yang sama

jumlahnya dengan kursi yang tersedia di daerah

pemilihan

2. Para pemilih memilih untuk satu partai. Jumlah

kursi yang diperoleh tiap-tiap partai ditentukan

oleh dan secara langsung berkaitan dengan

proporsi jumlah suara yang diperolehnya di daerah

pemilihan yang bersangkutan.

(21)

Mixed Member Proportional (MMP)

• Diterapkan di Jerman, Selandia Baru, Mexico, Bolivia, Italia, dan lain-lain.

• Pemilih mendapatkan dua surat suara yang berbeda, atau satu surat

suara yang terdiri dari dua sistem pemilihan: satu untuk pilihan partai (biasanya secara nasional), yang lain untuk kandidat di daerah pemilihan mereka (distrik lokal).

• Dimungkinkan adanya rasio yang berbeda-beda dari kursi representasi

proporsional terhadap kursi daerah pemilihan – biasanya, antara 25 % -50 % kursi merupakan kursi representasi proporsional.

• Bagian tiap-tiap partai dari keseluruhan jumlah kursi dalam badan legislatif secara langsung ditentukan berdasarkan proporsi suara pemilihan RP.

• Ketentuan khusus mungkin dibutuhkan, termasuk jumlah parlemen

yang fleksibel, untuk menangani situasi dimana kursi yang dimenangkan sebuah partai dari distrik melebihi jumlah kursi yang diperolehnya dari persentase suara RP.

Keuntungan Sistem Proporsional

• Setiap suara yg diperoleh parpol selalu

dihitung dan tidak ada yg hilang;

• Golongan/parpol yang mendapat suara kecil

tetap dapat menemptkan wakilnya di

parlemen;

(22)

Kelemahan Sistem Proporsional

• Karena calon diajukan oleh parpol maka mereka

lebih terikat kepada partai;

• Kurang loyal terhadap para pemilihnya di daerah;

• Peranan partai lebih menonjol;

• Mempermudah fragmentasi partai dan

menimbulkan banyak partai baru;

• Cenderung mempertajam perbedaan dalam

masyarakat;

• Mempersulit terbentuknya pemerintahan yang

stabil;

7 April 2011 43

Isu yang sering menimbulkan

perdebatan dalam Sistem Distrik :

• Terjadi fenomena over and under representation;

• Membagi daerah pemilihan/distrik pemilihan secara tepat;

• Terjadinya penyesuaian distrik secara periodik apabila

terjadi perpindahan penduduk (yang mengakibatkan

ketidakmerataan penduduk);

• Partai berkuasa cenderung menggambar kembali peta

politik yg menguntungkan distribusi suara partainya (atau

diistilahkan sbg “Gerry mandering”)

ket.: Istilah ini diciptakan Asosiasi Press di USA utk

menyebut Gubernur Massachusett ,1812, Elbridge Gerry yg

punya kebiasaan mengatur kembali peta distrik pemilihan

agar menang kembali dalam pemilu berikutnya. Perilaku ini

(23)

Fenomena Over & Under Representation

dalam Sistem Distrik

Distrik

Perolehan Suara

Perolehan Kursi

Partai X

Partai Y

Partai X

Partai Y

A

50.000

40.000

1

-B

30.000

70.000

-

1

C

40.000

30.000

1

-D

20.000

40.000

-

1

E

20.000

10.000

1

-Jumlah

160.000

190.000

3

2

7 April 2011 45

penentuan partai politik untuk Pemilu

2009

1. partai yang berbadan hukum langsung mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melakukan verifikasi partai. Jika lolos verifikasi, maka partai tersebut dapat maju dalam Pemilu 2009.

2. partai yang memiliki kursi di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) secara otomatis menjadi kontestan Pemilu 2009. Artinya, 16 partai yang saat ini memiliki kursi di DPR otomatis menjadi peserta Pemilu 2009.

3. partai yang tidak memiliki kursi di DPR (jumlahnya ada 8 partai) langsung mendaftar ke KPU untuk melakukan verifikasi partai dan jika lolos, maka berhak maju ke Pemilu 2009.

Pengaturan demikian sebenarnya hanya menguntungkan partai partai politik (parpol) besar saja.

(24)

Penetapan perolehan kursi

Penentuan perolehan suara ditentukan berdasar partai politik yang memenuhi ambang batas 2,5 % dari jumlah suara sah secara nasional. Kemudian, ditentukan bilangan pembagi pemilih (BPP) dengan cara membagi jumlah suara sah Parpol Peserta Pemilu dengan jumlah kursi di suatu daerah pemilihan.

1. Tahap pertama, membagi jumlah suara sah yang diperoleh parpol dengan BPP.

2. Tahap kedua, jika masih ada sisa kursi, maka diberikan kepada parpol yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 50 %.

3. Tahap ketiga, jika masih terdapat sisa kursi dari tahap kedua, maka seluruh sisa suara dikumpulkan di provinsi untuk menentukan BPP DPR yang baru di provinsi yang bersangkutan.

penetapan calon anggota legislatif

• Ditentukan berdasarkan perolehan suara 30 % dari BPP, jika tidak

terpenuhi, akan ditentukan oleh jumlah suara terbanyak yang didapatkan kandidat.

• Dalam penentuan calon terpilih ini menunjukkan bahwa sebenarnya sistem pemilu yang ditawarkan UU Pemilu yang baru ini merupakan kombinasi sistem proporsional setengah terbuka dan proporsional terbuka, dan mungkin yang lebih dominan adalah proporsional setengah terbuka. Hal ini berarti tidak berbeda dengan UU Pemilu sebelumnya yang menggunakan sistem proporsional setengah terbuka.

(25)

Sumber :

Amal, Ichlasul (ed), Teori-Teori Mutakhir Partai

Politik, (edisi revisi), PT. Tiara Wacana, Yogyakarta,

1996.

Riswanda Imawan, Koalisi Partai dan Kebijakan

Publik, Handout Kuliah, S2 Program Magister Ilmu

Politik, Pascasarjana UGM, Yogyakarta, 2005.

Referensi

Dokumen terkait

MatriksP adalah matriks peluang transisi yang berisi berukuran n berisi peluang-peluang transisi seorang pelanggan yang berpindah dari satu status ke status lainnya

 Bertanyadengan kalimat sendiri, menyatakan kalimat matematika, dan memilih kalimat matematika yang tepat dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan konsep

Setelah pelaksanaan dan observasi tindakan, tahap selanjutnya adalah melakukan refleksi, berikut adalah beberapa hasil refleksi yang dilakukan bersama kolaborator: (1)

akan dianalisis dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan (kata, frasa, kalimat naratif, maupun dialog), yang berkaitan dengan tubuh dan penubuhan yang digambarkan

Tipe ini banyak digunakan sebagai rele bantu, karena dapat mempunyai kontak yang banyak dan kontaknya mempunyai kapasitas pemutusan arus yang lebih besar, untuk lebih jelasnya

    Dalam melihat perkaitan antara salah laku pelajar dengan gaya keibubapaan yang diamalkan hasil kajian menunjukkan bahawa faktor gaya keibubapaan yang diamalkan oleh para ibu

Infeksi yang sering terjadi di rumah sakit adalah phlebitis, ILO dan decubitus bahkan 9,8% pasien rawat inap menderita infeksi nosocomial sementara standar indikator infeksi

• Pelaksanaan otonomi daerah menyebabkan banyaknya kebijakan pembangunan yang diambil hanya didasarkan pada pertimbangan kepentingan daerah dan bersifat jangka pendek. •