BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Pada bab ini akan diuraikan tinjauan pustaka yang merupakan landasan berfikir

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Pada bab ini akan diuraikan tinjauan pustaka yang merupakan landasan berfikir dalam penulisan skripsi yang berjudul “Dampak Reformasi Gereja Terhadap Kehidupan Sosial dan agama Masyarakat Inggris Pada Masa Pemerintahan Ratu Elizabeth I (1558-1603)”. Kajian pustaka ini bertujuan untuk mempermudah penulis dalam mengkaji permasalahan yang di dalamnya berisi tentang pendapat-pendapat dan analisis-analisis dari berbagai kepustakaan melalui sebuah proses penelaahan yang berkaitan dengan masalah utama penelitian yaitu bagaimana kebijakan yang diambil Ratu Elizabeth I untuk mengatasi masalah yang timbul akibat reformasi gereja.

Sumber-sumber literatur tentang dampak reformasi gereja terhadap kehidupan sosial dan agama masyarakat Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I yang penulis pergunakan sebagai rujukan ini dikategorikan berdasarkan latar belakang agama penulis, apakah beragama Katolik atau Protestan. Pengkategorian ini merupakan hal yang penting, karena sudut pandang pengarang yang beragama Katolik akan berbeda dengan pengarang yang beragama Protestan dalam mengkaji masalah dampak reformasi gereja terhadap kondisi sosial dan agama masyarakat Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth. Dalam skripsi ini penulis juga mempergunakan artikel baik itu internet serta jurnal yang berkaitan dengan masalah yang penulis kaji. Pembagian tersebut

(2)

dipergunakan untuk mempermudah dalam proses pengkajian serta analisis sumber pustaka.

Buku pertama yang penulis pilih sebagai bahan studi kepustakaan adalah buku karya Richard L. Graves yang berjudul Elizabeth I, Queen of England. Dalam buku ini terdapat beberapa artikel yang ini membahas tentang kehidupan Ratu Elizabeth I secara keseluruhan, dari mulai kelahiran sampai kematiannya. Selain itu, buku ini juga membahas masa pemerintahan Ratu Elizabeth I yang selama 45 tahun di Inggris, termasuk berbagai kebijakan yang diambil serta situasi politik, ekonomi, sosial, keagamaan, dan kebudayaan saat itu. Artikel-artikel yang terdapat dalam buku ini ditulis oleh penulis-penulis yang memiliki latar belakang agama berbeda, seperti William Camden; Robert Naunton; serta Elizabeth Jenkins; yang beragama Protestan, dan juga William Allen, Edward Rishton, John Lingard, serta James Anthohy Froude yang beragama Katolik.

Buku ini, penulis pergunakan sebagai gambaran umum masa pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris. Penulis hanya mengambil sumber-sumber yang berkaitan dengan biografi Elizabeth I, sistem pemerintahan, serta berbagai kebijakan yang diambil selama masa pemerintahannya, yang terdapat dari Bab I sampai dengan Bab IV dalam buku Elizabeth I, Queen of England.

Menurut penulis, buku yang ditulis oleh L.Graves cukup informatif karena di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai perjalanan Elizabeth I dari awal pemerintahannya yang penuh konflik hingga bisa menjadikan Inggris sebagi negara yang besar saat itu, yang kemudian bisa membuka pemahaman kita mengenai Inggris

(3)

pada masa Elizabeth. Kelebihan dari buku tersebut yaitu, secara umum dapat memberikan gambaran mengenai masa pemerintahan ratu Elizabeth secara keseluruhan.

Kelemahan yang terdapat dalam buku Elizabeth I, Queen of England, yang berkaitan dengan skripsi yang penulis bahas yaitu, lebih banyak membahas kebijakan Ratu Elizabeth I dalam bidang politik, sedangkan masalah sosial dan keagamaan yang menjadi fokus penulis tidak terlalu banyak dibahas. Namun terdapat keterhubungan antara buku tersebut dengan kajian penulis dalam membahas dampak reformasi gereja terhadap kehidupan masyarakat Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth.

Buku kedua yang penulis jadikan bahan acuan penulisan adalah buku Itiel Berenson yang berjudul England: Yesterday and Today. Berenson merupakan seorang penulis yang memiliki latar belakang agama Kristen Protestan. Dalam bukunya ini ia menjelaskan kondisi masyarakat Inggris secara keseluruhan mulai dari abad ke enam belas sampai abad ke dua puluh yang di dalammnya mengkaji berbagai aspek kehidupan masyarakat Inggris mulai dari agama, sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang penulis butuhkan sebagai acuan penulisan skripsi yang mencakup dampak reformasi gereja terhadap kondisi sosial dan agama masyarakat Inggris. Dalam buku tersebut, Berenson menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan dinasti Tudor terjadi suatu peristiwa penting yang memberikan dampak besar bagi Inggris. Peristiwa tersebut adalah perpecahan Inggris dengan Gereja Katolik Roma. Peristiwa ini memberikan dampak yang berkepanjangan dan memuncak pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I.

(4)

Berenson menjelaskan bahwa setelah Henry VIII mensahkan agama baru yang disebut Anglikan, Inggris menjadi kaya karena tanah-tanah yang semula dikuasai gereja kini menjadi milik raja. Tanah tersebut kemudian dijual kepada para bangsawan. Raja mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari semua itu dan tentu saja mereka yang membeli tanah dari raja menjadi sangat kaya karena mereka bisa menggunakan sebagaian besar dari lahan tersebut untuk membiakan dan menggembalakan kambing yang menghasilkan wol. Saat itu wol merupakan barang berharga di Inggris, karena pakaian yang tebuat dari bahan wol memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Pendapatan yang di dapat Inggris dari export wol ini sangat besar. Akan tetapi disamping memberikan dampak yang positif, kebijakan tersebut juga mengakibatkan hal-hal negatif, yaitu banyaknya petani yang kehilangan mata pencahariaannya. Jumlah penganggur yang menggelandang semakin meningkat sehingga pemerintah kerajaan harus turun tangan mengambil alih masalah pengurusan orang-orang miskin dari tangan pemerintah kota yang kewalahan. Sesungguhnya sebelum reformasi terjadi masalah pengurusan orang-orang miskin merupakan kewajiban gereja, hanya saja setelah reformasi gereja-gereja tersebut dibubarkan sehingga masalah pemeliharaan sosial menjadi tanggungjawab kerajaan. Masalah kemiskinan ini tidak bisa diatasi dengan cepat dan masih terasa sampai pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I, apalagi pada masa pemerintahan Elizabeth pendapatan Inggris sebagian besar digunkan untuk membiayai peperangan melawan Spanyol.

Hal ini berbeda dengan kondisi intelektualiatas dan artistik masyarakat Inggris. Renaissance dan reformasi memberikan rangsangan bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan.

(5)

Dalam bidang kesusastraan kita dapat menemukan tokoh drama terbesar dalam bidang dunia sastra, yaitu William Shakespeare. Memang kesusastraan mengalami zaman keemasan dengan tokoh sastra yang jumlahnya ratusan, begitu pula seni musik dan seni arsitektur. Akan tetapi pada masa itu yang berpengaruh penting di kalangan masyarakat adalah Kitab Injil dalam bahasa Inggris, karena saat itu kitab injil merupakan satu-satunya bahan bacaan bagi sebagian besar masyarakat.

Berenson juga menyatakan pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I konflik keagamaan merupakan masalah utama yang paling diperhatikan. Reformasi gereja yang dilakukan Inggris menyebabkan pertentangan Protestan Inggris dengan Katolik Roma berujung pada perang Inggris dan Spanyol. Raja Phillip II dari Spanyol memiliki alasan tepat untuk membenci Inggris. Ia merupakan pengikut setia Gereja Katolik Roma sedangkan Inggris memisahkan diri dari Roma. Selain itu, warga negaranya yang di Nederland melakukan pemberontakan dan sang Ratu mengirimkan bantuan 6000 pasukan di bawah pimpinan Earl of Leicester untuk membantu mereka. Belum lagi pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Puritan yang menginginkan reformasi dilakukan lebih ekstrim dari yang dilakukan ratu.

Buku tersebut penulis gunakan untuk menggambarkan secara umum mengenai reformasi gereja di Inggris, latar belakang reformasi gereja, serta dampak reformasi gereja tersebut. Buku karangan Berenson penulis pergunakan sebagai bahan penulisan pada bab IV, khususunya yang membahas mengenai dampak reformasi gereja terhadap kondisi sosial dan agama masyarakat Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I.

(6)

Kelebihan dari buku karangan Berenson tersebut yaitu memuat informasi mengenai kondisi Inggris setelah reformasi gereja mulai dari aspek pemerintahan, sosial, agama, ekonomi, hukum, politik, dan kebudayaan. Adapun kelemahan dari buku karangan Berenson tersebut yaitu tidak menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan Elizabeth untuk mengatasi konflik keagamaan yang terjadi selama masa pemerintahannya.

Sumber ketiga yang penulis gunakan dalam skripsi ini adalah artikel yang ditulis oleh seorang Katolik bernama Thomas Heather yang berjudul Elizabeth I and The Curch. Dalam artikel ini dijelaskan bahwa ketika menjadi Ratu pada November 1558, Elizabeth sangat yakin bahwa ia akan mengembalikan iman Protestan di Inggris. Meskipun selama pemerintahan Ratu Mary Elizabeth memeluk agama Katolik, Elizabeth bangkit menjadi seorang Protestan yang berkomitmen. Kebijakan keagamaan Elizabeth dapat dikatakan sangat toleran untuk saat itu. Dia sungguh-sunguh mempercayai imannya, akan tetapi ia juga yakin akan perlunya toleransi agama, dan menganggap bahwa Katolik dan Protestan merupakan dua agama yang sama. Elizabeth memandang bahwa selama ini orang-orang yang berselisih karena agama hanyalah berselisih karena hal yang sepele.

Selama masa pemerintahannya, Elizabeth mengutamakan perdamaian dan stabilitas di dunia, hanya saja Elizabeth kurang beruntung karena saat itu begitu banyak orang sejamannya yang tidak setuju akan adanya toleransi agama, sehingga ia dipaksa oleh keadaan untuk melakukan sebuah tindakan keras terhadap Katolik. Sikap toleransi terhadap Katolik, dan juga penolakan untuk melakukan perubahan pada Gereja ia

(7)

tetapkan pada tahun 1559 dalam "The Elizabeth Religious Settlemen". Peraturan ini terdiri dari dua undang-undang, yaitu The Act Of Supremacy (undang-undang kekuasaan tertinggi), dan The Act Of Uniformity (undang-undang persamaan).

The Act Of Supremacy (undang-undang kekuasaan tertinggi), merupakan undang-undang yang memberi Elizabeth dasar untuk melakukan kontrol terhadap Gereja Inggris. Selama masa pemerintahan Henry VIII dan Edward, raja merupakan"Kepala Gereja” di Inggris, tetapi di bawah Elizabeth hal ini diubah, Raja kini menjadi "Gubernur Agung Gereja” di Inggris. Undang-undang ini juga mengharuskan para pendeta melakukan sumpah setia terhadap ratu, dan jika mereka tidak lakukan, maka mereka akan kehilangan jabatannya. Didirikan sebuah Komisi Tinggi yang bertugas mengatur jalannya sumpah tersebut.

The Act Of Uniformity (Undang-Undang Persamaan), merupakan undang-undang yang mengatur peribadatan di Gereja Elizabeth. Aturan tersebut antara lain, buku doa dari Edward VI disusun menjadi satu, dan digunakan di setiap gereja di muka bumi. Gereja wajib hadir pada hari Minggu dan hari kudus, jika ada yang berhalangan hadir maka wajib membayar denda sebesar 12 pence. Uang yang dikumpulkan dari hasil denda tersebut akan diberikan kepada masyarakat miskin. Doa-doa dalam perjamuan menjadi samar-samar sehingga baik umat Katolik maupun Protestan dapat ikut serta dalam perjamuan, selain itu perhiasan dan jubah gereja tetap dipertahankan karena hal tersebut telah sebelum reformasi pada tahun kedua masa pemerintahan Raja Edward.

Untuk meloloskan The Act Of Uniformity di parlemen nampaknya lebih sulit dari pada meloloskan The Act Of Supremacy. Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah

(8)

parlemen, yang masih Katolik dan menentang rancangan undang-undang tersebut,walaupun pada akhirnya berhasil lolos melalui proses voting dengan selisih hasil tiga angka, yang mana setuju jumlah setuju ada 21 angka dan tidak setuju 18 angka. Peraturan keagamaan ini mulai dilaksanakan pada musim panas 1559.

Dalam artikelnya Thomas Heather juga mengemukaan bahwa, umat Katolik mengalami masa-masa sulit selama pemerintahan Elizabeth, banyak dari mereka setuju bahwa saat itu situasi menjadi semakin parah. Katolik secara resmi dinyatakan ilegal, kecuali untuk Gereja Katolik yang membayar denda. Pada tahun 1559, ditetapkan denda sebesar 12 pence bagi mereka yang tidak hadir di gereja, dan hilangnya jabatan bagi pendeta Katolik yang menolak untuk melakukan sumpah kesetiaan terhadap ratu.

Artikel yang ditulis oleh Thomas Heater ini sangat informatif. Penulis menemukan fakta-fakta tentang kondisi keagamaan masyarakat Inggris terutama pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I. Selain itu dalam artikel yang berjudul Elizabeth I and The Curch ini penulis juga memuat informasi lengkap tentang kebijakan dalam bidang keagamaan yang diambil Ratu Elizabeth I untuk mengatasi konflik agama yang timbul akibat reformasi gereja yang dilakukan oleh ayahnya, Raja Henry VIII. Adapun yang menjadi kelemahan dari artikel yang ditulis Thomas Heater ini dalam kaitannya dengan kondisi keagamaan masyarakat Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth, yaitu hanya menjelaskan kondisi kegamaan umat Katolik saja tanpa memaparkan kondisi keagamaan umat Protestan dan hubungan diantara keduanya.

Sumber selanjutnya yang penulis gunakan adalah buku Ikhtisar Sejarah Bangsa Inggris yang ditulis oleh Samekto, menjelaskan sejarah panjang bangsa Inggris dari

(9)

mulai dari zaman purba hingga awal abad ke-19. Buku ini penulis gunakan untuk mengkaji dampak kebijakan Ratu Elizabeth I dalam bidang sosial dan agama. Dalam bukunya Samekto menjelaskan bahwa Elizabeth telah menyaksikan sendiri kegagalan Mary dalam usahanya untuk memulihkan Gereja Katolik di Inggris, dan ia pun selalu ingat bahwa ia lahir dari suatu pernikahan yang tidak diakui sah oleh Gereja Roma. Maka dapat difahami bahwa ia tidak melanjutkan usaha-usaha Mary, melainkan mencoba mencapai kompromi antara Katolisisme dan Protestanisme, yang sesungguhnya merupakan cara pemecahan satu-satunya pada masa itu. Baginya tidak sulit untuk menerima kompromi macam apapun asal keserasian di antara hamba-hambanya dapat dipulihkan. Elizabeth bukan seorang fanatik dalam soal-soal agama.

Dalam mengusahakan pemecahan masalah keagamaan ini Elizabeth selalu mengikutsertakan parlemen. Maka pada tahun 1559, parlemen mensahkan undang-undang yang meniadakan kekuasaan paus di Inggris, membentuk Gereja Nasional atau juga disebut Gereja Anglikan dengan monarki Inggris sebagai pimpinan tertinggi dan dengan hirarki pejabat-pejabat gereja yang bertanggung jawab kepada monark, mewajibkan “ Book of Common Prayer” sebagai satu-satunya penuntun kebaktian yang sah, dan memberikan monopoli kepada para rokhaniawan Gereja Anglikan untuk mengadakan upacara-upacara keagamaan. Undang-undang ini meripakan perwujudan kehendak Elizabeth dan parlemen, terutama Majelis Rendah.

Dalam Majelis Tinggi, para uskup menentang segala rencana keputusan parlemen itu, tetapi kalah suara. Di luar Parlemen, Dewan Kegerejaan di Canterbury menegaskan supremasi paus dan doktrin transubstansiasi. Namun keputusan dan protes

(10)

mereka tidak dihiraukan parlemen. Memang pada awal pemerintahan Elizabeth terdapat perlawanan yang lebih keras daripada yang sudah-sudah dari pihak kaum rokhaniawan. Hal ini disebabkan karena Gereja Katolik telah mulai melancarkan gerakan kontra reformasi yang bertujuan memperkuat serta mempertegas doktrin-doktrin dan praktek-praktek Katolik, dan merebut kembali umat yang telah menjadi Protestan. Sebab lain ialah bahwa di bawah pemerintahan Mary sebagaian besar kaum rokhaniawan yang condong kepada Protestanisme telah dibunuh. Namun kemudian tidak ada pilihan lain bagi kaum rokhaniawan Inggris kecuali tunduk pada keputusan-keputusan parlemen, dan hanya sebagaian kecil saja yang menentang. Sebabnya ialah karena hampir semua umat Kristen Inggris menyetujui keputusan-keputusan parlemen itu, walaupun dewan ini suatu lembaga awam. Doktrin-doktrin Gereja Anglikan itu dibuat begitu luas sehingga dapat baik orang-orang yang condong ke katolisisme maupun yang cenderung ke Protestanisme. Tetapi justru luasnya doktrin-doktrin ini, yang bahkan sebagaian sengaja dibuat samar-samar sehingga dapat menimbulkan berbagai interpretasi, kemudian menyebabkan rasa tidak puas di kalangan Katolik militan dan kalangan Protestan radikal.

Di kalangan Katolik militan, rasa tidak puas berubah menjadi kejengkelan sesudah ternyata bahwa Elizabeth tidak mengambil tindakan-tindakan keras terhadap umat Katolik selama mereka tidak mengganggu keamanaan. Tidak adanya tindakan-tindakan keras ini menyulitkan mereka dalam mencari alasan untuk memberontak. Keadaan ini berubah tatkala pada tahun 1570 paus menyatakan membuang Elizabeth dari Gereja Katolik dan membebaskan orang-orang imgrasi dari dari kewajiban untuk

(11)

setia pada ratu. Pada waktu itu dua seminari khusus untuk orang-orang Katolik Inggris didirikan di daratan Eropa, dan pada tahun 1580 lebih dari 100 rokhaniawan Inggris keluaran seminari itu kembali ke negerinya dan mencoba mengobarkan perlawanan terhadap Elizabeth. Pemerintahan bereaksi dengan mengadakan tekanan-tekanan keras terhadap kaum Katolik. Selama pemerintahan Elizabeth kurang lebih 200 orang Katolik dihukum mati atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara, walaupun motivasi perlawanan terhadap ratu itu sesungguhnya bersifat keagamaan.

Sementara kaum Katolik berusaha menumbangkan Gereja Anglikan dari luar, sekelompok kaum Protestan ekstrim mencoba merongrongnya dari dalam. Kelompok ini dinamakan kaum Puritan karena mereka bertujuan memurnikan (purify) Gereja Anglikan dari sisa-sisa kebiasaan Gereja Katolik. Misalnya mereka tidak menyukai hirarki keuskupan yang merupakan warisan gereja lama, dan menghendaki sistem “presbyter” seperti yang lazim di kalangan pengikut Calvin. Dalam sistem ini pengelolaan gereja terletak di tangan dewan-dewan yang masing-masing beranggotakan para pendeta dan para tetua (presbyter) yang dipilih oleh umat. Banyak di antara anggota Majelis Rendah semakin bersimpati kepada gerakan Puritan ini, mereka mencoba memperjuangkan perobahan doktrin serta organisasi Gereja Anglikan melalui parlemen. Tetapi dengan tegas Elizabeth menghalang-halangi maksud mereka atas alasan bahwa masalah agama, seperti juga politik luar negeri dan penunjukan pengganti, adalah hak ekslusif monark. Karena gagal di parlemen, kaum Puritan kemudian merubah cara perjuangannya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umat, perang

(12)

pamplet, dan membentuk organisasi-organisasi presbyter pada tingkat parish yang diharapkan dapat mengarah ke tingkat nasional.

Selain kaum Puritan, masih terdapat kelompok-kelompok radikal lainnya yang membentuk organisasi-organisasi keagamaan di luar Gereja Anglikan, dan karenanya disebut kaum “Separatis”. Mereka menginginkan otonomi bagi kelompok umat dan pemisahan Gereja dari negara. Pemerintah Elizabeth menindak tegas kaum Separatis ini karena mereka menolak Gereja Nasional. Ratu berpendirian bahwa kesatuan gereja mutlak bagi kesatuan nasional. Banyak di antara kaum Separatis yang melarikan diri ke luar negeri.

Pemecahan masalah keagamaan yang diprakarsai oleh Elizabeth I terbukti merupakan kebijaksanaan tepat, karena akhirnya pertentangan kegamaan menjadi reda karena Gereja Anglikan yang dihasilkannya ternyata tepat, karena akhirnya pertentangan keagamaan menjadi reda dan karena Gereja Anglikan yang dihasilkannya ternyata dapat bertahan bertahan hingga saat ini, walaupun telah jauh lebih toleran, dan merupakan salah satu dari sejumlah lembaga hasil kompromi khas Inggris yang telah memberikan sahamnya bagi pembentukan jiwa Inggris modern.

Buku Ikhtisar Sejarah Bangsa Inggris ini merupakan sebuah buku yang cukup objektif, karena penulisnya sendiri memiliki latar belakang agama Islam. Buku ini menggambarkan sejarah perkembangan Inggris secara lengkap dengan analisis yang tajam. Buku ini memberikan informasi yang sangat membantu penulis dalam menyusun skripsi ini. Hanya saja masih terdapat beberapa kesalahan dari segi redaksinya dan gaya bahasa yang digunakan pun masih kurang baik.

(13)

Buku keempat yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ialah buku Zaman Reformasi karangan Edith Simon yang merupakan seorang yang beragama Kristen Protestan. Buku ini mencoba menjelaskan keadaan Eropa saat terjadinya reformasi gereja yang dipelopori oleh Martin Luther. Simon memaparkan fenomena reformasi gereja secara lengkap, mulai dari latar belakang reformasi gereja di Jerman yang nantinya meluas ke seluruh Eropa sampai pada munculnya gerakan kontra reformasi yang merupakan bentuk perlawanan terhadap gerakan reformasi gereja. Buku ini penulis gunakan untuk mengkaji dampak kebijakan Ratu Elizabeth I terhadap kehidupan sosial masyarakat Inggris

Simon memaparkan dalam bab IV bahwa pada waktu Eropa teraniaya oleh pertikaian keagamaan dan perselisihan yang penuh pemberontakan, Ratu Elizabeth I berhasil mendirikan Gereja Nasional dan monarki yang aman di Inggris. Dengan kecerdikan maupun daya tariknya sebagai wanita ia berhasil menjaga agar perhatian rakyat tetap terarah pada istananya yang gemilang serta kemakmuran bangsa dan bukannya pada perbedaan tajam antara mereka. Istana Elizabeth menarik banyak cendekiawan bukan bangsawan yang dengan bakat serta mengelola pemerintahan, menuntut hak atas banyak wilayah Dunia Baru dan mengembangkan kesenian.

Pada masa Elizabeth, sedikit saja kota di dunia ini yang dapat menandingi ukuran, pengaruh atau kegairahan kota London. Menurut peta tahun 1574, London dipenuhi oleh jaringan jalan yang berkelok-kelok dan rumah setengah kayu. Di sana sini tampak menara gereja, puri dan rumah baru orang kaya. Bagaikan magnet, London menyedot pendatang: orang Inggris yang berambisi dari pedesaan, pelarian Protestan

(14)

dari daratan Eropa, pedagang yang mencari pusat perdagangan yang bebas dari peperangan Eropa. Selama pemerintahan Elizabeth, penduduk berkembang menjadi seperempat juta. Kota amat padat sehingga pada tahun 1598 seorang pengunjung dari kota kecil mengeluh tentang kacaunya gedung yang “amat banyak, merepotkan dan semerawut seperti kota Babil”. Di tengah segala pertumbuhan dan gejolak ini mekarlah suatu semangat baru, yakni semangat ingin tahu. Penduduk kota London yang dapat membaca memadati kios buku di halaman Gereja St. Paul untuk mencari soneta mesra Italia, novel Perancis serta kisah Raleigh tentang koloni Roanoke yang bernasib sial.

Buku karangan Edith Simon, penulis pergunakan sebagai bahan untuk mengkaji keberhasilan-keberhasilan yang dicapai Elizabeth selama masa pemerintahannya sehingga bisa membawa Inggris pada zaman keemasan. Pada salah satu bab dalam buku tersebut penulis menemukan sebuah fakta bahwa pada masa Elizabeth, sedikit saja kota di dunia ini yang dapat menandingi ukuran, pengaruh, dan kegairahan London. Bila dilihat keseluruhannya, kota Elizabeth termasuk ibu kota paling berbudaya di dunia.

Kelebihan buku Zaman Reformasi karangan Edith Simon yaitu bisa menggambarkan dampak kebijakan Ratu Elizabeth I terhadap kondisi sosial masyarakat Inggris pada masa pemerintahannya. Adapun yang menjadi kekurangan dalam buku ini adalah kurang banyak menjelaskan dampak kebijakan Ratu Elizabeth terhadap kondisi keagamaan masyarakat Inggris.

Buku Kelima yang penulis gunakan adalah buku karya seorang Protestan bernama Lacey B. Smith, yang berjudul This Realm of England 1399 to 1688. Buku ini menjelaskan sejarah kerajaan Inggris sejak tahun 1399 sampai tahun 1688. Smith

(15)

memaparkan bahwa pada masa pemerintahan pada masa pemerintahan Elizabeth magnetisme dan keberanian manusia tampak tak terbatas, dimana kemiskinan dan penderitaan hidup bukan menyebabkan kesedihan tetapi menumbuhkan ketetapan hati untuk mencapai semua hal yang ada dalam ilmu pengetahuan, ilmu pelayaran dan daya tahan, filosofi, dan bahkan dalam kesucian dan kebaikan.

Kegairahan dan keberanian manusia pada zaman Elizabeth telah membawa Inggris ke abad penjelajahan dan penemuan. Pelaut-pelaut besar seperti Hawkin, Drake, dan Raleigh melakukan penjelajahan ke dunia-dunia baru. Mereka melakukan eksplorasi di kawasan Amerika untuk mendirikan koloni-koloni baru. Diantaranya adalah koloni-koloni yang didirikan oleh Sir Walter Raleigh di bagian timur Amerika Serikat. Raleigh menamakan koloni itu “Virginia” sebagai bentuk penghormatan kepada Ratu Elizabeth yang memiliki sebutan “Queen of Virgin” atau “Ratu Perawan”. Selain itu terdapat juga penemuan-penemuan yang tak kalah penting, seperti yaitu John Cabot yang menemukan Newfoundland yang memberikan dasar bagi tuntutan Inggris atas Amerika Utara, dan Martin Frobisher yang mengeksplorasi Kanada timur-laut.

Smith juga mengatakan Toleransi yang Elizabeth berikan telah membuat umat Katolik mencaintainya sebagi ratu. Ketika tahun 1570 Paus Pius V mengucilkan dan memerintahkannya turun tahta; dan di tahun 1580 Paus Gregory XIII mengeluarkan pengumuman bahwa tidaklah berdosa membunuh Elizabeth, umat Katolik merasakan kebimbangan yang luar biasa. Di satu sisi mereka mencintai Elizabeth sebagai ratu dan di sisi lain mereka tidak bisa menolak perintah Paus yang mereka percayai sebagai wakil Allah di muka bumi. Banyak diantara kaum Katolik Inggris yang mungkin tidak

(16)

pernah berhenti dilema, mengabaikan, atau tetap setia kepada keduanya, memisahkan kesetiaan rohani dan sekuler mereka.

Buku karangan Smith ini penulis gunakan untuk mengkaji dampak kebijakan Ratu Elizabeth I terhadap kehidupan masyarakat Inggris. Kelebihan dari buku ini adalah memuat secara lengkap informasi mengenai kondisi sosial dan keagamaan masyarakat Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I. Hanya saja secara redaksi masih banyak terdapat kata-kata kiasan atau ungkapan yang sulit diartikan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :