• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Farida, 2011) Beban kerja berat dari segi jam kerja yang panjang dan jenis-jenis tugas keperawatan yang harus dilakukan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "(Farida, 2011) Beban kerja berat dari segi jam kerja yang panjang dan jenis-jenis tugas keperawatan yang harus dilakukan."

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

“Perawat merupakan salah satu tenaga

medis yang berperan penting dalam

memberikan pelayanan kesehatan

terhadap pasien di rumah sakit,

dikarenakan tim keperawatan

melakukan pelayanan keperawatan

selama 24 jam secara terus menerus

terhadap pasien”

(5)

Beban kerja berat dari segi jam kerja

yang panjang dan jenis-jenis tugas

keperawatan yang harus dilakukan.

Selain tugas pokok, perawat melakukan tugas tambahan lainnya seperti administrasi pasien,

tugas sebagai tim ambulance 118 dll

Salah satu beban kerja perawat yang

berat dialami oleh perawat Unit Gawat

Darurat

(Farida, 2011)

(6)

UGD adalah ujung

tombak dalam

pelayanan

keperawatan rumah

sakit.

Hardianti (dalam Syaer, 2011)

Perawat UGD dituntut mempunyai

kemampuan lebih dibandingkan unit lain

Bekerja di UGD

membutuhkan

kecekatan,

keterampilan, dan

kesiagaan setiap saat

(7)

Beban kerja fluktuatif

Shift

kerja panjang

Waktu istirahat kurang

Tuntutan pimpinan rumah

sakit

Tuntutan keluarga terhadap

keselamatan pasien

Karakteristik pasien

Kelelahan, tekanan dan stres akibat beban kerja

Keandalan menurun dan menimbulkan

human

error

Menurunnya produktivitas kerja perawat

Stres berkepanjangan berujung kelelahan fisik,

mental, dan emosional (

BURNOUT)

(8)

Pekerja kesehatan (khususnya perawat) adalah

peringkat pertama pekerjaan yang mudah

mengalami burnout (43 %) dibanding dokter

dan apoteker

(Schaufelli, dalam Eviaty 2005

)

Rating tertinggi ditemukan pada perawat-perawat

dalam lingkungan kerja yang penuh dengan stres,

seperti intensive care unit

(ICU), emergency

(UGD), atau

terminal care

(Mallet, price, Jurs & Slenker,1991; Moos & Schaefer

dalam Taylor, 1999)

(9)

25 tenaga perawat (10 orang perempuan, 15 orang

laki-laki)

3

shift

kerja (4-6 orang per

shift)

Total hari kerja 287 hari/tahun

± 2.500 pasien per bulan

Keluhan fisik

Nyeri punggung dan nyeri otot

Insomnia

Pusing, kaku pada leher

Keluhan non fisik

Mudah panik

Susah mengontrol emosi

Merasakan kejenuhan

(10)

No. Jenis Beban Kerja Jenis Pekerjaan

Menyeleksi pasien yang datang ke UGD sesuai triase Melakukan asuhan keperawatan (memasang infus, memasang oksigen, melakukan injeksi dll)

Melaksanakan transportasi pasien ke ruangan lain (mendorong, mengangkat dan memindahkan pasien) Membuat diagnosa keperawatan

Melaksanakan tugas sebagai tim ambulance 118

Memelihara dan menyiapkan peralatan kesehatan untuk pasien

Melengkapi pencatatan dan pelaporan perawat setiap hari

Memasukkan data pasien ke billing

Melaksanakan rujukan ke RS lain (membuat surat rujukan)

Membuat rencana asuhan keperawatan

Mengecek pengisian kelengkapan blangko pasien Melaksanakan tugas lain dari atasan

Beban Kerja Fisik (berhubungan langsung dengan usaha fisik yang diberikan untuk pasien)

Beban Kerja Non Fisik 2

1

(11)

Bagaimana cara melakukan perbaikan sistem kerja

terhadap perawat UGD Rumah Sakit Umum Haji

Surabaya agar dapat mengurangi

burnout

pada

perawat dan meningkatkan produktivitas kerja

ditinjau dari segi

human reliability

dan pendekatan

ergonomi

(12)

TUJUAN PENELITIAN

Mengukur beban kerja perawat ditinjau dari segi beban kerja fisik dan non fisik

Mengukur kondisi burnout perawat UGD Rumah Sakit Haji Surabaya yang

bertugas pada masing-masing shift

Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh perawat yang

berpotensi menimbulkan human error sehingga dapat mengakibatkan

terjadinya kelelahan (burnout) dan penurunan produktivitas

(13)

Pihak rumah sakit dapat mengetahui faktor-faktor

penyebab

terjadinya

burnout

dan

penurunan

produktivitas pada perawat dengan melakukan analisa

terhadap

task

dan kondisi lingkungan kerja perawat

yang bertugas

Memberikan

saran

dan

rekomendasi

perbaikan

terhadap rumah sakit mengenai aturan metode kerja

yang lebih baik sehingga produktivitas karyawan dapat

meningkat.

Pihak rumah sakit dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh perawat dan dapat menciptakan susana kerja yang lebih baik bagi perawat dibanding sebelumnya sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien.

(14)

RUANG LINGKUP PENELITIAN

Batasan :

1. Penelitian dilakukan pada Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Haji Surabaya

2. Objek penelitian adalah perawat yang bertugas pada Unit Gawat Darurat RSU Haji yang

merepresentasikan perawat yang bertugas pada shift pagi, sore dan malam hari (penelitian hanya berpatokan pada shift)

Asumsi :

1. Tidak ada perbedaan karakter individu perawat yang bertugas dari hari ke hari. Perbedaan hanya diamati berdasarkan jadwal shift jaga

2. Tidak terdapat perubahan jumlah perawat yang bertugas serta perubahan job description

serta kebijakan kerja selama dilakukan penelitian.

(15)
(16)

Ergonomi dan

Produktivitas Produktivitas Dalam Keperawatan Burnout Pada Perawat

Human Reliability Maslach Burnout Inventory Pengukuran Beban

Kerja Fisik

(17)

PENELITIAN TERDAHULU

Ratih Ardia Sari (2009) Ria Fatmawati (2012 Liam Chadwick dan Enda F. Fallon (2009) Sofia Rahma Yunita (2008) Pengukuran Human Reliability dengan

Metode HEART pada

perawat radiotherapy Pengukuran Burnout

dengan Maslach Burnout Inventory (MBI)

Perbaikan sistem kerja operator dengan

konsumsi energi, NASA-TLX dan metode HEART

Analisis beban kerja mental dengan NASA-TLX

Erys Handini (2013)

Perbaikan Sistem Kerja Perawat UGD untuk mengurangi burnout

dengan metode konsumsi energi, NASA-TLX, Maslach

Burnout Inventory dan pengukuran keandalan dengan metode HEART

(18)
(19)

TAHAP PERSIAPAN

TAHAP PENGUMPULAN

DAN PENGOLAHAN DATA

ANALISIS DATA,

PENARIKAN SIMPULAN

DAN SARAN

Tahap identifikasi

permasalahan dan

perumusan masalah

Studi Literatur

Studi Lapangan

Penentuan Tujuan

Penelitian

(20)

TAHAP PERSIAPAN

TAHAP PENGUMPULAN

DAN PENGOLAHAN DATA

ANALISIS DATA,

PENARIKAN SIMPULAN

DAN SARAN

Pengumpulan Data :

Profil Objek amatan

Kondisi kerja eksisting

perawat UGD (task analysis perawat)

Penyebaran kuisioner

NASA-TLX & MBI

Pengukuran denyut nadi perawat Pengolahan Data:Persamaan konsumsi energiNASA-TLXPengolahan Maslach Burnout InventoryMetode HEARTRekomendasi Perbaikan

(21)

TAHAP PERSIAPAN

TAHAP PENGUMPULAN

DAN PENGOLAHAN DATA

ANALISIS DATA,

PENARIKAN SIMPULAN

DAN SARAN

Analisa Beban Kerja

Mental Perawat

Analisa Tingkat Burnout

Perawat

Analisa Human Reliability

Perawat

Analisa Beban Kerja Fisik

Perawat

Analisa Rekomendasi

Perbaikan

Penarikan Simpulan dan

Saran

(22)

Pengumpulan dan

Pengolahan Data

(23)

Rata-rata pasien yang ditangani oleh IGD Rumah Sakit Haji

cukup tinggi setiap bulannya

Kondisi gawat darurat semu Kondisi gawat darurat ringan Kondisi gawat darurat berat

Kondisi gawat darurat mengancam jiwa

(24)

PENGOLAHAN DATA BEBAN KERJA

FISIK

Persamaan konsumsi

energi :

Y= 0,014 HR + 0,017 BB –

1,706

Keterangan :

Y = Konsumsi Oksigen

(liter/menit)

HR =

Heart Rate

(Denyut

Jantung) (denyut/menit)

BB = Berat Badan (kg)

(25)

Kategori Beban Kerja Fisik

No. Kategori Beban Kerja

Denyut Nadi Kerja (per menit) Kcal/menit 1 Ringan 60-100 <2,5-5,0 2 Sedang 100-125 5,0-7,5 3 Berat 125-150 7,5-10,0 4 Sangat berat 150-175 10,0-12,5 5 Ekstrim >175 >12,5 (Sari,2009)

Perawat masuk kategori beban kerja ringan, sedang

dan berat

(26)

PERHITUNGAN ECPT DAN ECPM

Dimana :

P0 adalah denyut nadi

istirahat

P1,P2,P3,P4,P5 adalah

denyut nadi

pemulihan menit ke-1, 2, 3, 4, dan 5

Nilai ECPT > ECPM maka faktor lingkungan

berpengaruh dominan dalam memberikan beban kerja

fisik pada perawat

Nilai ECPT < ECPM maka faktor beban kerja utama

memang sudah berat

(27)

Pengolahan Data Beban Kerja Mental

Deskriptor tingkat usaha dan tingkat stres merupakan

deskriptor yang mempengaruhi beban kerja mental

perawat

(28)

Perbedaan Perawat shift- Mean t-value df P-value Keterangan 1 Shift Pagi 3,38 -0,47 8 0,651 Shift Sore 4,04 2 Shift Pagi 3,38 -1,42 8 0,194 Shift Malam 4,92 3 Shift Sore 4,04 -0,91 8 0,389 Shift Malam 4,92

Tidak ada perbedaan signifikan Tidak ada perbedaan

signifikan Tidak ada perbedaan

signifikan

Pengukuran Tingkat

Burnout

Perawat pada shift malam, jenis kelamin perempuan

dan perawat dengan usia muda lebih rentan terkena

burnout

(29)

Task Analysis

dan

possible error

No Tasks Stopping Rule Possible Error Akibat Awal Akibat Lanjut

Perawat menerima registrasi pasien

Perawat terlambat menerima registrasi

pasien

Pasien gawat darurat terlalu lama menunggu

Kondisi pasien bertambah parah

Perawat Menyeleksi pasien yang datang ke UGD sesuai

Triase

Perawat mengabaikan proses triase

Dapat berakibat salah dalam pemberian label

kegawatan

Kondisi pasien bertambah parah

Perawat memberikan label kegawatan pasien (seleksi

pasien)

Perawat salah memberikan label

kegawatan

Kesalahan dalam diagnosa dan pengobatan

Kondisi pasien bertambah parah

Perawat mengarahkan pasien ke ruang pemeriksaan

Perawat tidak mengarahkan pasien ke

ruang pemeriksaan

Pasien terlantar Kondisi pasien bertambah parah

Perawat melakukan pemeriksaan fisik seperti mengukur tekanan darah, mengukur suhu badan dll

Perawat tidak melakukan proses pemeriksaan fisik awal

Tidak mengetahui kondisi tekanan darah, suhu tubuh

pasien

Kondisi pasien bertambah parah

Membuat diagnosa keperawatan

Perawat salah membuat diagnosa terhadap

pasien

Salah dalam pemberian pertolongan dan pengobatan selanjutnya

Kondisi pasien bertambah parah

Perawat menyiapkan pasien untuk pemeriksaan dokter

Perawat tidak menyiapkan pasien untuk pemeriksaan

dokter

Pasien menunggu lama untuk diperiksa dokter

Kondisi pasien bertambah parah

Perawat memberikan pertolongan pertama pada pasien (injeksi, pemberian obat, pasang infus, pasang

oksigen dll)

Perawat terlambat dalam proses pemberian

pertolongan pertama

Pasien terus kesakitan selama proses pemberian

pertolongan pertama

Kondisi pasien bertambah parah

Perawat melakukan pemeriksaan lab terhadap

pasien

Perawat mengabaikan proses pemeriksaan lab

Tidak mengetahui hasil pemeriksaan medis dari

laboratorium

Kesalahan dalam melakukan proses asuhan keperawatan

selanjutnya Perawat mengevaluasi

tindakan keperawatan (mengecek kondisi pasien) secara berkala (maks.3 jam)

Perawat tidak mengevaluasi dan mengontrol kondisi

pasien

Pasien tidak mengetahui progress kesembuhannya

Kondisi pasien bertambah parah

Perawat membuat rekam medik pasien

Perawat tidak membuat rekam medik

Riwayat kesehatan pasien tidak terecord dengan baik

Rumah Sakit tidak mempunyai data rekam medik pasien Perawat memasukkan data

pasien ke billing (rekap data per hari)

Perawat tidak memasukkan data

pasien

Tidak diketahui data kunjungan pasien per shift

dan per hari

Proses Administrasi tidak berjalan lancar Proses penerimaan pasien 1 Proses evaluasi tindakan keperawatan Proses pengadministrasian 3 4 Proses melakukan asuhan keperawatan 2

(30)

Contoh perhitungan HEP

Assessed Effect = ((Total Heart Effect-1) x Assesed proportion)+1 = ((1-1) x 0,1) + 1= 1

Probability of failure = Nominal Human Unreliability x Assessed Effect(i)

(31)

Maka keandalan sistem secara keseluruhan adalah :

= 0,9590 x 0,5592 x 0,9794 x 0,9596 = 0,503974

Rekap Perhitungan untuk Semua AKtivitas

No Tasks Possible Error HEP F R

HEP perawat terlambat menerima registrasi pasien 0,02 HEP Perawat mengabaikan proses triase 0,0004 HEP Perawat salah memberikan label kegawatan 0,000404 HEP Perawat tidak mengarahkan pasien ke ruang pemeriksaan 0,0202 HEP Perawat tidak melakukan proses pemeriksaan fisik awal 0,000416 HEP Perawat salah membuat diagnosa terhadap pasien 0,2288 HEP Perawat tidak menyiapkan pasien untuk pemeriksaan dokter 0,0202 HEP Perawat terlambat dalam proses pemberian pertolongan pertama 0,191415 HEP Perawat mengabaikan proses pemeriksaan lab 0,0202 HEP Perawat tidak mengevaluasi dan mengontrol kondisi pasien 0,000404 HEP Perawat tidak membuat rekam medik 0,02 HEP Perawat tidak memasukkan data pasien 0,0204 4 Proses pengadministrasian

0,0410 0,9590

0,4408 0,5592

0,0206 0,9794 0,0404 0,9596 1 Proses penerimaan pasien

2 Proses melakukan asuhan keperawatan

(32)

Rekomendasi Perbaikan

Rekomendasi Perbaikan Waktu Istirahat

Dimana

R = waktu istirahat yang diperlukan

(menit)

T = total waktu yang digunakan untuk

bekerja (menit)

K = rata-rata energi yang dikonsumsikan

untuk kerja (kCal/menit)

S = Standar beban kerja normal yang

diaplikasikan (kCal/menit)

Perawat dengan beban kerja fisik berat disarankan untuk beristirahat selama 3,79 menit setelah melakukan periode

pekerjaan selama 8,1 menit

(33)
(34)
(35)

Analisa Beban Kerja

Fisik Perawat

Hasil pengolahan data beban kerja fisik terhadap 15 perawat yang bertugas

pada

shift

pagi, sore dan malam hari menunjukkan :

Kategori Berat

:1 perawat

Kategori sedang

:12 perawat

Kategori Ringan

:2 perawat

Disebabkan beban pekerjaan yang ditangani fluktuatif

Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan ECPT dan ECPM

didapatkan nilai perhitungan ECPT selalu lebih tinggi dibandingkan nilai

ECPM untuk perawat pada

shift

pagi, sore dan malam hari, kecuali

terdapat satu kondisi pada seorang perawat yang bekerja pada sore hari

(perawat ke-8)

Hal ini dapat diakibatkan karena fluktuatifnya beban pekerjaan yang

dirasakan oleh perawat

Contoh kondisi perawat dengan beban kerja kategori berat adalah kasus

pasien dengan

label merah (serangan jantung,

stroke,

kecelakaan parah

dll)

Untuk kondisi seperti ini maka perawat tersebut harus diberikan

penjadwalan waktu istirahat dan penurunan beban kerja untuk periode

jam kerja berikutnya

Faktor lingkungan kerja dan beban fisik kerja mempengaruhi dalam

memberikan beban kerja tambahan kepada perawat.

(36)

Analisa Beban Kerja

Mental Perawat

Deskriptor paling berpengaruh

adalah tingkat usaha

Dapat disebabkan karena pada

pagi hari kondisi lingkungan kerja lebih sibuk dan lebih banyak pekerjaan administrasi yang harus diselesaikan selain tugas asuhan keperawatan

PAGI

MALAM

SOREDeskriptor paling berpengaruhadalah tingginya tingkat stres

Dapat disebabkan karena shift

kerja lebih panjang, waktu kerja di luar jam kerja efektif, kondisi sepi, menjenuhkan dan harus

selalu bersiaga sehingga

menimbulkan tekanan stres mental di tempat kerja

(37)

Analisa Tingkat

Burnout

Perawat

Tingkat burnout yang dialami perawat

tidaklah terlalu tinggi, yaitu berkisar pada level 2 (rentang nilai 3-5).

Pada tingkatan ini menunjukkan bahwa

perawat mulai perlu memonitor situasi yang dihadapi dan pengambilan tindakan preventif sehingga kondisi burnout yang dialami tidak bertambah parah (Hariyadi, 2006)

Tingkat burnout yang dialami perawat pria

lebih kecil dibanding perawat wanita

Pria lebih dapat mengatasi tekanan emosional

dan stress di tempat kerja dengan lebih tegas dan tegar karena perbedaan cara pria wanita tumbuh dan dibesarkan. Sehingga

mempengaruhi kondisi psikis seseorang (Mizmir, 2011)

Tingkat burnout yang dialami perawat

dengan usia muda lebih tinggi dibanding perawat dengan usia lebih matang

Perawat dengan pengalaman hidup dan

kematangan usia yang lebih akan

mempunyai kemampuan lebih baik untuk mengatasai tekanan dalam melaksanakan pekerjaan di UGD, sehingga dapat menekan tingginya resiko burnout. (Mizmir,2011)

Hal yang dapat dilakukan oleh individu perawat untuk mengatasi

burnout di tempat kerja misalnya dengan pengaturan waktu istirahat yang cukup

Bagi pihak manajemen rumah sakit dalam mengatasi burnout :

Progam development orientation pada perawat baru

Mengadakan job rotation agar perawat tidak merasa jenuh

Mengadakan stress management training bagi perawat

(38)

Analisa

Human

Reliability

Perawat

Nilai keandalan sistem secara keseluruhan adalah 0,503974.

Probability of failure yang paling tinggi terjadi pada proses melakukan

asuhan keperawatan

Jenis pekerjaan menuntut skill dan ketelitian yang tinggi

Upaya mereduksi error harus dilakukan untuk meningkatkan keandalan

(39)

Analisa Rekomendasi

Perbaikan

Perawat dengan kategori beban kerja berat disarankan untuk beristirahat

selama

3,79 menit

setelah periode waktu

8,1 menit

(Setara dengan

28,13 menit selama periode waktu kerja 1 jam)

Perawat dengan kategori beban kerja fisik ringan dan sedang akan

membutuhkan waktu istirahat sekitar

10-15 menit

yang dijadwalkan di

luar jam istirahat (Wignjoesoebroto, 2008)

• Melakukan job rotation sehingga perawat tidak merasa jenuh dan monoton

dengan siklus kerja di UGD

• Mengadakan training kepribadian dan stress management training bagi perawat

baru maupun perawat yang sudah lama

• Mengembangkan dan menjalankan secara kontinyu program transfer

pengetahuan

• Membekali setiap perawat dengan checklist urutan pekerjaan setiap melayani

(40)
(41)

Simpulan

Beban kerja fisik yang dialami oleh perawat

UGD RSU Haji Surabaya rata-rata masuk kategori sedang. Ada pula yang masuk kategori berat dan ringan.

Nilai perbandingan ECPT (extra calorie due to

peripheal temperature) dan ECPM (extra calorie due toperipheal metabolism)

menunjukkan nilai ECPT > ECPM. Hal ini

berarti faktor lingkungan lebih dominan dalam memberikan beban kerja fisik

Nilai ECPT < ECPM, dimana hal ini

menunjukkan bahwa kerja fisik yang dilakukan memang sudah berat.

(42)

Berdasarkan perhitungan dengan

NASA-TLX, deskriptor yang mempengaruhi

tingginya beban kerja mental perawat

adalah :

Faktor usaha

untuk perawat pada

shift

pagi dengan nilai rata-rata total

product

290

Tingkat stres

untuk perawat pada

shift

sore dan malam hari. Dengan nilai

rata-rata total

product

untuk perawat pada

shift

sore sebesar 787 dan untuk

perawat pada

shift

malam sebesar

774,2

(43)

Rata-rata burnout yang dialami oleh perawat

UGD RSU Haji Surabaya belumlah terlalu tinggi berkisar pada level 2 (skor 3-5). Nilai rata-rata untuk shift pagi adalah 3,38, pada

shift sore hari 4,04 dan pada shift malam hari 4,92.

Faktor usia dan jenis kelamin menjadi salah

satu faktor penyebab burnout dimana

perawat dengan usia muda dan jenis kelamin perempuan cenderung lebih rentan terkenan

burout.

Walaupun belum terlalu tinggi namun perlu

dilakukan langkah monitoring dan antisipasi

agar tingkat burnout tidak berlanjut semakin

(44)

Dengan metode HEART, didapatkan

hasil

keandalan

sistem

secara

keseluruhan

yang

dilakukan

oleh

perawat bernilai 0,503974.

Aktivitas

probability of failure

tertinggi

ditemukan pada proses melakukan

asuhan keperawatan

Pada aktivitas ini banyak dilakukan tipe

pekerjaan yang membutuhkan

skill

kerja yang lebih rumit dan kompleks

sehingga menyebabkan nilai

human

unreliability

bernilai besar.

(45)

Berdasarkan perhitungan rata-rata konsumsi

energi untuk melaksanakan pekerjaan kategori

berat maka waktu istirahat yang disarankan bagi

perawat adalah beristirahat selama 3,79 menit setelah melakukan periode pekerjaan selama 8,1 menit.

Rancangan rekomendasi perbaikan untuk

mereduksihuman error:

Melakukan job rotation agar perawat tidak

merasa jenuh dan monoton dengan siklus kerja di UGD

Mengadakan training seperti training

kepribadian dan stress management training

bagi perawat baru maupun perawat lama

Mengembangkan dan menjalankan secara

kontinyu program transfer pengetahuan antara dokter dan perawat maupun antara sesama perawat

Membekali setiap perawat dengan checklist

urutan pekerjaan setiap melayani pasien yang datang

(46)

Saran

Pada penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan faktor-faktor yang

berpotensi menyebabkan burnout pada perawat seperti faktor lingkungan

kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia dan lamanya waktu bekerja. Faktor-faktor tersebut dicari korelasi dan hubungannya dengan uji statistik yang lebih detail untuk mengetahui faktor mana yang lebih signifikan berpengaruh sehingga dapat lebih fokus dalam memberikan perbaikan

(47)

DAFTAR PUSTAKA (1)

Andarika, R. (2004). Burnout Pada Perawat Puteri RS St. Elizabeth Semarang Ditinjau Dari Dukungan Sosial.

Journal psyche,Vol I, h.1-8.

Andryan, B. (2010, December 22). Introduction to Human Reliability. Retrieved January 13, 2013, from

Excellent Personal Development Center:

http://excellent-personal-development-center.blogspot.com/2010/11/introduction-to-human-reliability.html

Devi, L. M. (2011). Evaluasi Faktor Lingkungan Fisik dan K3 Dengan Ergonomic Assessment Pada Pembuatan

Waterwall Panel (Studi Kasus : PT. Alstom Power ESI). Surabaya: Tugas Akhir Jurusan Teknik

Industri ITS.

Ergonomi-fit. (2011, November). Ergonomi Tingkatkan Produktivitas. Retrieved October 20, 2012, from

Ergonomi Fit:

http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/11/ergonomi-tingkatkan-produktivitas.html

Eviaty. (2005). Persepsi terhadap Dukungan Rekan Sekerja dan Gejala Burnout (Studi pada Perawat Unit

Perawatan Intensif). Jurnal Phronesis program magister S2 Universitas Tarumanegara, Vol VII, h.103.

Fallon, L. C. (2009). Human Reliability Assessment Of A Critical Nursing Task In A Radiotherapy Treatment

Process.Applied Ergonomics journal, Vol I, h.1-6.

Farida, N. L. (2011). Peranan Pelatihan Keperawatan Terhadap Produktivitas Perawat di Rumah Sakit Islam

Sultan Agung Semarang. Semarang: Skripsi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas

Muhammadiyah Semarang .

Fatmawati, R. (2012). Burnout Staf Perpustakaan Bagian Layanan di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah

(BPAD) Provinsi DKI Jakarta.Depok: Thesis Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia.

(48)

Khotimah, K. (2010). Hubungan Antara Persepsi terhadap Lingkungan Kerja Psikologis dengan Burnout pada

perawat Rumah Sakit Umum Budi Rahayu Pekalongan. Semarang: Skripsi Fakultas Psikologi

Universitas Diponegoro.

Kirwan, B. (1994).A Guide to Practical Human Reliability Assessment. London: CRC Press.

Martin, C. (2009, december). Library Burnout : causes, symptoms,solutions. Retrieved january 7, 2013, from

Library worklife: http://ala-apa.org/newsletter/2009/12/01/spotlight-2/

Maslach, C., & P.Letter, M. (2012). The Areas of Worklife and Maslach Burnout Inventory Report. Mind

Garden Inc.

Mendenhall, S. (1986). Elementary Survey Sampling(3nd ed.). USA: Wadsworth Inc.

Mizmir. (2011). Hubungan Burnout dengan Kepuasan Kerja Pustakawan di Pusat Jasa Perpustakaan dan

Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Depok: Skripsi Jurusan Ilmu Perpustakaan

Universitas Indonesia.

Pangastiti, N. K. (2011). Analisis pengaruh Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Burnout Pada perawat

kesehatan di Rumah Sakit Jiwa.Semarang: Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi.

Polikandrioti. (2009). Burnout Syndrome (Editorial Article).Health Science Journal,Vol III, h.195-196.

Reza, M. (2010). Mengatasi Burnout Teller Bank Dengan Rekayasa ergonomi. Padang: Makalah Psikologi

Industri Universitas Negeri Padang.

Sari, L. N. (2012, March 30). Lima alasan Utama yang Melandasi Pentingnya Profesionalitas Manajemen

Keperawatan di Rumah Sakit untuk Meningkatkan Mutu Layanan Kesehatan. Retrieved

November 10, 2012, from kompasiana website:

http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/03/30/%E2%80%9Clima-alasan-utama- yang-melandasi-pentingnya-profesionalitas-manajemen-keperawatan-di-rumah-sakit-untuk-meningkatkan-mutu-layanan-kesehatan%E2%80%9D-450980.html

(49)

DAFTAR PUSTAKA (3)

Sari, R. A. (2009). Perbaikan Sistem Kerja dengan pendekatan Ergonomi dan Human Reliability Assessment

(Studi Kasus PT Industri Sandang Nusantara Unit Patal Lawang). Surabaya: Tugas Akhir Jurusan

Teknik Industri ITS .

Sihotang, I. N. (2004, Juli). Burnout Pada Karyawan Ditinjau dari Persepsi Terhadap Lingkungan kerja

Psikologis dan Jenis Kelamin.Journal Psyche, Vol I, h.10-16.

Situmeang, C. A. (2011). Analisa Tingkat Keandalan dengan Metode HEART (Studi Kasus di Stasiun Kereta Api

Poncol Semarang).Semarang: Tugas Akhir Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro.

Syaer, S. (2011, March 5). Beban Kerja Perawat Unit Gawat Darurat di Rumah Saikit Umum Lasinrang

Kabupaten Pinrang Tahun 2010 . Dipetik November 12, 2012, dari Syafruddin Syaer:

http://syafruddinsyaer.blogspot.com/2011/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Tarwaka. (2004).Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta: Uniba Press.

Wibisono, A. (2009, October 2009). Apa itu Ergonomi. Retrieved January 11, 2013, from AgusWibisono.com:

http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/

Wignjosoebroto, S. (2008). Ergonomi Studi Gerak dan Waktu.Surabaya: Guna Widya.

Wijaya, T. (1998). Perancangan Fasilitas di Peternakan Ayam Petelur X dengan Memperhatikan Aspek

Ergonomi.Surabaya: Tugas Akhir Teknik Industri Universitas Surabaya.

Windayanti, & prawastii, C. Y. (2010). Burnout Pada perawat Rumah sakit Pemerintah dan perawat Rumah

sakit swasta. Jakarta: Seminar Psikologi Terapan Universitas Mercubuana.

Young, & L, Z. (2008). Assessment of workload using NASA Task Load Index in perianesthesia nursing.

Georgia: US National Library of Medicine National Institutes of Health.

Yunita, S. R. (2008). Analisa Beban Kerja Petugas Pemadam Kebakaran dengan Metode NASA-TLX (Studi

Kasus di Dinas Kebakaran Kota Semarang). Semarang: Tugas Akhir Jurusan teknik Industri

(50)

Referensi

Dokumen terkait

Metode ini membagi data menjadi dua kelompok yang sama besar.. Dalam pemberian score X untuk metode Semi Average ini, yang menjadi acuan adalah kelompok pertama.. Dalam

UH: Natašine lepinjice Proteini: Svinjsko meso suvo Proteini: Pečurke  Skuvati kiseo kupus sa suvim mesom za 3 puta  Juneći gulas 3x (750g mesa)  Napraviti ćušpajz od

Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 4 orang adalah orang tua yang memiliki anak usia 3 sampai 6 tahun. Pada penelitian ini semua partisipan memiliki

• Sistem Pakar merupakan kumpulan pengetahuan (basis pengetahuan) dari beberapa pakan yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah • Pada sistem pakar digunakan

 hubungan pertukaran pula lebih berbau perniagaan di mana satu pihak yang memberi manfaat kepada pihak lain adalah disebabkan mereka telah diberi manfaat pada masa lalu

Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yaitu penerjemahan, pengadaptasian,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri degan penyesuaian diri mahasiswa baru fakultas psikologi universitas Bhyangkara Jakarta Raya

Tujuan lain dari program ini diharapkan bisa memperkecil gap antara perawat dan dokter sehingga perawat tidak lagi menjadi perpanjangan tangan dokter (Prolonged physicians