• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi Penelitian"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Bagian awal bab ini menjelaskan tentang lokasi penelitian dilanjutkan dengan uraian tentang karakteristik responden, pengukuran pengetahuan awal (pre-test), pengetahuan akhir (post-test) dan peningkatan pengetahuan responden. Pengukuran dianalisis dengan prosedur statistik, menggunakan analisis ragam untuk mengetahui apakah di antara kelompok perlakuan terdapat perbedaan pada pre-test, post-test dan peningkatan pengetahuan responden. Untuk melihat perbedaan data pre-test dengan post-test sebagai akibat adanya perlakuan dilakukan uji t – dua sampel berpasangan (Paired Sample t – Test).

Pengukuran pengaruh perlakuan pada peningkatan pengetahuan responden dilakukan dengan menguji perbedaan skor post-test dan pre-test, yaitu selisih antara skor pengetahuan responden sesudah dan sebelum menyaksikan presentasi video. Untuk mengukur perbedaan pengaruh perlakuan media terhadap peningkatan pengetahuan responden digunakan analisis sidik ragam.

Lokasi Penelitian

Kota Banjarmasin merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, dengan luas wilayah 72 Km2 atau 0,19 persen dari luas total Provinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin terletak di ujung selatan Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu di sepanjang Sungai Barito dan dibelah oleh Sungai Martapura.

Kota Banjarmasin terdiri atas 5 (lima) kecamatan, yaitu Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kecamatan Banjarmasin Tengah dan Kecamatan Banjarmasin Utara. Wilayah Kota Banjarmasin yang dikelilingi air sungai secara geografis terletak pada garis 03o15’ - 03o22’ LS dan 114o52’ - 114o98’ BT serta berada pada ketinggian 0,16 m di bawah permukaan laut, berbatasan dengan Kabupaten Barito Kuala di sebelah utara dan barat, serta berbatasan dengan Kabupaten Banjar di bagian selatan dan timur (BPS Kota Banjarmasin, 2006).

(2)

Kota Banjarmasin dipengaruhi dua aliran sungai besar, yaitu Sungai Barito dan Sungai Martapura dengan jarak dari laut ± 23 km. Permukaan air sungai sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Sungai Martapura mempunyai anak sungai, yaitu Sungai Kuin (Pangeran), Sungai Awang yang menyatu dengan Sungai Alalak dan merupakan anak Sungai Barito bagian utara. Sedangkan anak sungai yang mengalir di bagian selatan adalah Sungai Basirih, Bagau, Kelayan, Pekapuran dan Gardu. Semua sungai ini berhubungan dengan Sungai Barito dan merupakan bagian dari sistem drainase Kota Banjarmasin.

Mayoritas kehidupan masyarakat Banjarmasin secara sosial dan ekonomi dipengaruhi oleh keberadaan air sungai. Sungai yang mengelilingi Kota Banjarmasin selain dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air keluarga, juga menjadi modal utama dalam pembangunan Kota Banjarmasin. Selain merupakan bagian dari sistem drainase, air sungai juga menjadi modal utama PDAM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap air bersih.

Gambar 2. Pemanfaatan air sungai bagi aktifitas kehidupan masyarakat Banjarmasin

Gambar 2 menggambarkan aktivitas kehidupan masyarakat Banjarmasin yang masih sangat bergantung pada air sungai. Aliran dua sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Martapura merupakan penggerak roda perekonomian masyarakat di Banjarmasin. Transportasi air hingga saat ini masih menjadi pilihan utama sebagian masyarakat, karena dapat menempuh tempat tujuan dengan waktu yang relatif lebih singkat dan biaya yang lebih murah dibanding menggunakan transportasi

(3)

darat. Selain itu transportasi air juga digunakan untuk pendistribusian serta pemasaran barang dan jasa.

Karakteristik Responden

Data karakteristik diperoleh melalui kuesioner yang diberikan kepada responden pada saat pengukuran pengetahuan awal. Karakteristik responden yang diamati meliputi : (1) jenis kelamin, (2) umur, (3) tingkat pendidikan, (4) keterlibatan dalam penggunaan air sungai, (5) akses terhadap informasi air bersih, (6) kebutuhan informasi air bersih, dan (7) kepemilikan media massa.

Jenis Kelamin

Jumlah responden yang diteliti sebanyak 80 orang pegawai Kecamatan di Kota Banjarmasin, terdiri dari 40 orang pegawai laki-laki dan 40 orang pegawai perempuan. Perbandingan pegawai laki-laki dan pegawai perempuan yang dijadikan sebagai unit penelitian ini seimbang dan memiliki proporsi yang sama pada masing-masing kelompok, yaitu jenis kelamin laki-laki 12,5 persen dan jenis kelamin perempuan 12,5 persen. Hal ini sengaja dilakukan agar unit penelitian pada masing-masing kelompok tidak berbeda, untuk mengendalikan ragam yang timbul karena variabel luar yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.

Umur

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 80 responden yang dilibatkan, responden paling muda berumur 20 tahun dan paling tua berumur 55 tahun. Pada kelompok MPSL, sebagian besar berumur kurang dari 40 tahun yaitu sebesar 20 persen dan sebanyak 5 persen berusia lebih dari 40 tahun. Sedangkan pada kelompok MPSP dan MLSP sebagian besar berumur lebih dari 40 tahun, yaitu 23,75 persen pada kelompok MPSP dan 13,75 persen pada kelompok MLSP. Pada kelompok MLSL umur responden memiliki proporsi yang sama pada dua kategori, yaitu masing-masing sebesar 12,5 persen pada kategori umur kurang dari 40 tahun dan umur lebih dari 40 tahun.

(4)

Distribusi responden menurut umur pada masing-masing kelompok adalah 56,25 persen berumur 40 tahun ke atas dan 43,75 persen berumur kurang dari 40 tahun. Dengan demikian sebagian besar responden berumur lebih dari 40 tahun, dimana umur ini masuk dalam kategori tua.

Pendidikan

Tingkat pendidikan responden menyebar relatif merata pada lima kategori tingkat pendidikan. Sebagian besar responden pada masing-masing kelompok perlakuan menyebar pada lulusan SMA, yaitu sebesar 62,5 persen. Responden yang memiliki gelar sarjana sebanyak 26,25 persen, lulusan diploma 6,25 persen, lulusan SMP 3,75 persen dan lulusan SD 1,25 persen.

Keterlibatan dalam Penggunaan Air Sungai

Hasil penelitian tentang keterlibatan responden dalam penggunaan air sungai menunjukkan bahwa masing-masing responden pada kelompok perlakuan yaitu sebanyak 67,5 persen responden masih menggunakan air sungai untuk kebutuhan hidupnya dan 32,5 persen responden lainnya sudah tidak lagi menggunakan air sungai. Responden kelompok MPSP dan MLSP memiliki ketergantungan yang tinggi pada keberadaan air sungai dibandingkan responden kelompok MPSL dan MLSL, yaitu sebesar 21,25 persen pada kelompok MPSP dan 22,50 persen pada kelompok MLSP. Dengan demikian kondisi tersebut menunjukkan bahwa air sungai masih menjadi alternatif responden untuk memenuhi kebutuhan air bagi kehidupan keluarganya.

Akses dan Kebutuhan Informasi tentang Air Bersih

Hasil penelitian tentang akses terhadap informasi tentang air bersih menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 60 persen responden ternyata belum pernah menerima informasi tentang air bersih, khususnya pada responden kelompok MPSL, MLSP dan MLSL yaitu masing-masing sebesar 16,50 persen sedangkan responden kelompok MPSP sebagian besar responden sudah pernah menerima informasi tentang air bersih yaitu sebesar 11,25 persen.

(5)

Responden yang sudah pernah menerima informasi tentang air bersih sebanyak 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap informasi tentang air bersih masih kurang, sehingga seluruh responden atau 100 persen responden mengatakan mereka sangat membutuhkan informasi tentang air bersih.

Kepemilikan Media Massa

Hasil penelitian tentang kepemilikan media massa menunjukkan bahwa hampir seluruh responden dalam penelitian ini memiliki lebih dari satu media massa untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka (lihat Tabel 3 dan Lampiran 3). Media televisi dimiliki seluruh responden kelompok penelitian, hal ini berarti bahwa responden menyukai dan tertarik dengan pesan-pesan yang mengandung unsur audio dan visual. Akan tetapi unsur visual lebih memiliki daya tarik yang dipilih responden untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Media cetak seperti surat kabar, brosur dan leaflet dipilih 73,75 persen responden sebagai sumber informasinya setelah media televisi. Selanjutnya sumber informasi diperoleh melalui media VCD dan DVD yaitu sebesar 55 persen, media radio 31,25 persen dan internet 7,5 persen.

Berkaitan dengan penjelasan di atas, data karakteristik responden menunjukkan bahwa umur responden cenderung menyebar pada kisaran 40 tahun keatas, tingkat pendidikan didominasi tamatan SMA, air sungai masih banyak digunakan responden untuk memenuhi kebutuhan air keluarganya. Akses terhadap informasi air bersih masih kurang, sehingga informasi tentang air bersih dinilai sangat diperlukan. Sumber informasi responden diperoleh melalui media massa yang dimiliki, khususnya televisi merupakan sumber informasi utama, kemudian media cetak (surat kabar,brosur,leaflet), vcd dan dvd, radio dan internet.

(6)

Tabel 3 Sebaran karakteristik responden

Responden kelompok perlakuan (%)

No Karakteristik responden MPSL MPSP MLSP MLSL 1. Jenis kelamin a. Laki – laki b. Perempuan 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 2. Umur a. Muda (=40 tahun) b. Tua (< 40 tahun) 20,00 5,00 1,25 23,75 11,25 13,75 12,50 12,50 3. Pendidikan a. SD b. SMP c. SMA d. Diploma e. Sarjana -2,50 17,50 2,50 2,50 -18,75 -6,25 -1,25 16,25 -7,50 1,25 -10,00 3,75 10,00 4. Keterlibatan dalam

Penggunaan air sungai a. Menggunakan b. Tidak menggunakan 11,25 13,75 21,25 3,75 22,50 2,50 12,50 12,50 5. Akses pada penerimaan

Informasi air bersih a. Pernah b. Belum pernah 8,75 16,25 13,75 11,25 8,75 16,25 8,75 16,25 6. Kebutuhan informasi

tentang air bersih a. Sangat diperlukan b. Cukup diperlukan 25,00 -25,00 -25,00 -25,00 -Kepemilikan media massa :

Radio a. memiliki b. tidak memiliki 15,00 10,00 -25,00 6,25 18,75 10,00 15,00 Televisi a. memiliki b. tidak memiliki 25,00 -25,00 -25,00 -25,00 -VCD / DVD a. memiliki b. tidak memiliki 10,00 15,00 13,75 11,25 12,50 12,50 18,75 6,25 Media cetak a. memiliki b. tidak memiliki 18,75 6,25 20,00 5,00 15,00 10,00 20,00 5,00 7. Internet a. memiliki b. tidak memiliki 2,50 22,50 1,25 23,75 -25,00 3,75 21,25

(7)

Karakteristik Responden dan Hubungannya dengan Peningkatan Pengetahuan

Hasil yang diperoleh dari penelitian eksperimen diharapkan terjadi bila semua hasil pengamatan pada peubah tak bebas disebabkan oleh peubah bebas. Dengan demikian pada penelitian ini, untuk mengetahui apakah ada peubah lain di luar peubah perlakuan yang berkorelasi dengan skor peningkatan pengetahuan, maka dilakukan uji korelasi dengan menggunakan analisis korelasi Pearson.

Karakteristik responden yang diperkirakan dapat mempengaruhi peningkatan pengetahuan responden meliputi: jenis kelamin, umur, pendidikan dan penerimaan informasi air bersih. Hasil analisis korelasi Pearson dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil analisis korelasi Pearson peningkatan pengetahuan responden kelompok dengan karakteristik responden

Karakteristik p

Jenis kelamin 0.253 tn

Umur 0.610 tn

Pendidikan 0.372 tn

Penerimaan informasi air bersih 0.092 tn

Keterangan : tn tidak nyata pada p = 0,05

Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa karakteristik responden yang meliputi: jenis kelamin, umur, pendidikan dan penerimaan informasi air bersih tidak ada hubungannya dengan peningkatan pengetahuan. Pada faktor umur diperoleh nilai p = 0,61, tingkat pendidikan p = 0,372 dan informasi tentang air bersih menghasilkan nilai p = 0,092. Sehingga faktor karakteristik responden tidak menunjukkan hubungan nyata dengan peningkatan pengetahuan responden pada p = 0,05. Hal ini berarti bahwa karakteristik responden pada faktor jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan dan informasi tentang air bersih berada pada keadaan yang sama atau homogen pada masing-masing kelompok perlakuan. Dengan demikian pada penelitian ini, hasil peningkatan pengetahuan yang terjadi benar-benar akibat perlakuan yang diberikan.

(8)

Pengetahuan Awal dan Pengetahuan Akhir Responden

Pengukuran pengetahuan awal responden tentang air bersih, dilakukan sebelum diberikan perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pengetahuan awal responden relatif sedang, yaitu rata-rata memperoleh skor 5,90 dibanding skor tertinggi yang mungkin tercapai yaitu 12. Gambaran tentang pengetahuan awal responden masing-masing kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Rataan skor pengetahuan awal responden menurut kelompok perlakuan

Faktor Perlakuan Model Laki-Laki

(ML)

Model Perempuan

(MP) Total

Suara Narator Perempuan (SP) Suara Narator Laki-Laki (SL)

5,90 6,15 5,75 5,80 11,65 11,95 Total 12,05 11,55 23,60

Tabel 5 memperlihatkan bahwa ada perbedaan rataan skor pengetahuan awal pada tiap kelompok responden. Untuk mengetahui apakah perbedaan pengetahuan awal responden tersebut signifikan atau tidak, dilakukan analisis ragam seperti tertera pada Tabel 6.

Tabel 6 Hasil analisis ragam terhadap skor pengetahuan awal kelompok perlakuan

SK df JK KT F-Hitung p

Antar Kelompok 3 1.900 0.6333 0.218tn 0.884

Dalam Kelompok 76 221.300 2.912

Total 79 223.200

Keterangan : tn tidak berbeda nyata pada p = 0,05

Hasil analisis ragam pada Tabel 6 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata terhadap rataan skor pengetahuan awal responden pada empat kelompok perlakuan. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat pengetahuan awal responden sama pada tiap perlakuan. Artinya secara umum tingkat pengetahuan awal

(9)

responden tentang air bersih adalah homogen. Informasi tentang pengolahan air bersih sederhana pada empat kelompok perlakuan merupakan suatu hal yang baru, meskipun responden pernah mendengar tentang cara membedakan air yang bersih dan air yang tidak bersih (Gambar 3), serta bahaya mengkonsumsi air yang tidak bersih, namun secara teknis mereka belum mengetahui cara pengujian dan pengolahan air bersih sederhana. Pengukuran pengetahuan akhir responden (post-test) dilakukan setelah memberikan perlakuan per kelompok responden berupa presentasi video instruksional tentang pengolahan air bersih sederhana.

Tabel 7 Rataan skor pengetahuan akhir responden menurut kelompok perlakuan

Faktor Perlakuan Model Laki-Laki

(ML)

Model Perempuan

(MP) Total

Suara Narator Perempuan (SP) Suara Narator Laki-Laki (SL)

9,20 10,00 8,50 8,80 17,70 18,80 Total 19,20 17,30 36,50

Tabel 7 menggambarkan rataan skor post-test responden pada tiap kelompok perlakuan berbeda. Kelompok perlakuan MLSL memperoleh rataan skor tertinggi dibandingkan dengan perlakuan MLSP, MPSL dan MPSP. Untuk mengetahui signifikansi beda pengetahuan akhir (post-test) responden pada tiap kelompok perlakuan, dilakukan analisis ragam seperti yang terlihat pada Tabel 8.

Gambar 3 Perbedaan air yang bersih dan air yang tidak bersih

(10)

Tabel 8 Hasil analisis ragam terhadap skor pengetahuan akhir kelompok perlakuan SK df JK KT F-Hitung p Antar Kelompok 3 25.350 8.450 3.540* 0.019 Dalam Kelompok 76 181.400 2.387 Total 79 206.750

Keterangan : * berbeda nyata pada p = 0,05

Hasil analisis ragam pada Tabel 8 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada skor pengetahuan akhir (post-test) responden. Artinya pemberian perlakuan video instruksional pada tiap kelompok perlakuan memberikan skor pengetahuan yang berbeda. Dimana penyajian pesan melalui medium video instruksional dengan empat kelompok perlakuan dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh yang berbeda pada p = 0,05. Pemberian perlakuan yang berbeda memberikan pengaruh kepada responden untuk menangkap pesan yang disampaikan.

Pengujian Hipotesis

Penelitian ini menguji sejauh mana pengaruh masing-masing faktor perlakuan pada medium video mempengaruhi peningkatan pengetahuan tentang informasi air bersih. Hasil pengujian terhadap empat hipotesis yang telah dirumuskan dengan menggunakan perhitungan statistik yaitu analisis uji t dua sampel berpasangan dan analisis sidik ragam dua arah dapat dilihat pada penjelasan berikut ini.

1. Hipotesis pertama (H1) penelitian ini adalah ”media video mampu meningkatkan

pengetahuan tentang air bersih.” Berdasarkan hasil uji t dua sampel berpasangan (Paired Sample t test), dimana t-hitung sebesar 13,476 (p < 0,05 dan p < 0,01) menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata antara rataan skor pre-test dan post-tes. Dengan demikian hipotesis pertama (H1) penelitian ini diterima.

Tabel 9 Hasil uji-t rataan skor pre-test dan post-test kelompok perlakuan Nilai Rata-rata T-tabel T-tabel Postest Pretest Thit p = 0.05 p = 0.01

9,125 5,900 13,476** 1,96 2,576

(11)

2. Hipotesis kedua (H2) penelitian ini adalah ”skor peningkatan pengetahuan

kelompok yang menyaksikan video dengan model perempuan tentang air bersih berbeda nyata dengan kelompok yang menyaksikan dengan model laki-laki.” Hasil analisis ragam pada faktor model menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata skor peningkatan pengetahuan responden kelompok (p > 0,05). Dengan demikian hipotesis kedua (H2) penelitian ini ditolak.

Tabel 10 Hasil analisis ragam dua arah skor peningkatan pengetahuan kelompok perlakuan SK df JK KT F-Hitung p Faktor Model 1 9.800 9.800 2.137 tn 0.148 Suara Narator 1 3.200 3.200 0.698 tn 0.406 Interaksi Model + Suara 1 0.450 0.450 0.098 tn 0.755 Galat 76 348.500 4.586

Keterangan : tn tidak nyata pada p = 0,05

3. Hipotesis ketiga (H3) penelitian ini adalah ” skor peningkatan pengetahuan

kelompok yang menyaksikan video dengan menggunakan penjelasan suara narator laki-laki tentang air bersih berbeda nyata dengan kelompok yang menyaksikan dengan penjelasan suara narator perempuan.” Hasil analisis ragam pada faktor suara narator menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata skor peningkatan pengetahuan responden kelompok (p > 0,05). Dengan demikian hipotesis ketiga (H3) penelitian ini ditolak.

4. Hipotesis keempat (H4) penelitian ini adalah ” jenis model laki-laki dan model

perempuan berinteraksi secara nyata dengan jenis suara narator laki-laki dan suara narator perempuan dalam mempengaruhi skor peningkatan pengetahuan tentang air bersih.” Hasil analisis ragam pada interaksi dua faktor model dan suara narator menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata skor peningkatan pengetahuan responden kelompok (p > 0,05). Dengan demikian hipotesis keempat (H4)

(12)

Peningkatan Pengetahuan Responden

Pengaruh penyajian pesan melalui video pada peningkatan pengetahuan responden dapat diketahui dengan melakukan perbandingan hasil pengukuran pre-test dan post-test. Nilai pre-test, post-test dan peningkatan pengetahuan yang diperoleh responden dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Skor pre-test, post-test dan peningkatan pengetahuan responden per kelompok perlakuan

No. Responden Pre-Test Post - Test Peningkatan Pengetahuan

1 2 3 4 5 . . . 78 79 80 0 4 2 5 7 . . . 5 6 6 12 8 10 7 10 . . . 9 11 8 12 4 8 2 3 . . . 4 5 2 Rataan 5,900 9,125 3,225

Tabel 11 menunjukkan bahwa rataan skor post-test setelah menyaksikan video adalah 9,125. Skor tersebut lebih tinggi daripada skor rataan pre-test sebesar 5,900. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan rataan skor setelah menyaksikan video. Untuk mengetahui apakah skor pre-test dan post-test tersebut berbeda nyata maka dilakukan uji dua sampel berpasangan (Paired Sample t-test).

Uji t-Test menunjukkan t-hitung sebesar 13,476 dengan nilai p = 0.000 lebih kecil dari p = 0,05 dan p = 0,01. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata antara rataan skor pre-test dan post-test (p < 0,01). Ini berarti terdapat peningkatan pengetahuan responden yang sangat nyata tentang pengolahan air bersih sederhana setelah mereka menyaksikan tayangan video. Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa video dapat meningkatkan pengetahuan responden berarti dapat diterima.

(13)

Pesan tentang pengolahan air bersih sederhana yang disampaikan melalui medium video, ternyata mampu meningkatkan pengetahuan responden. Hal ini menunjukkan penelitian ini sejalan dengan pendapat yang diutarakan oleh Tiffon dan Combes dalam Schramn (1984), yang menyatakan bahwa video mampu menyampaikan pesan dengan cara-cara yang lebih konkrit dan jelas daripada pesan yang disampaikan melalui kata-kata yang terucap atau kata-kata yang tercetak.

Lebih lanjut sebuah tulisan Fardiaz dalam Jahi (1988) memperkuat pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya, dimana video telah banyak dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi di bidang pendidikan dan kesehatan di negara-negara dunia ketiga. Medium ini juga digunakan secara efektif untuk merangsang motivasi masyarakat agar berpartipasi aktif dalam proses pembangunan.

Pembuatan video yang didesain semudah mungkin untuk dicerna merupakan salah satu faktor yang membuat masyarakat mudah dalam penerimaan pesan. Perpaduan unsur audio dan visual, juga memudahkan perancang media video untuk mendesain bentuk pesan yang dapat diterima dengan jelas oleh masyarakat. Penggunaan model sebagai salah satu kekuatan visual pada video instruksional, diiringi penjelasan narator dalam bentuk audio dengan intonasi suara dan bahasa yang mudah dipahami, menimbulkan daya tarik yang menjadi faktor penentu dalam proses penerimaan pesan informasi tentang pengolahan air bersih sederhana. Penelitian Iskandar (2005) membuktikan bahwa medium video yang mengandung unsur suara dan pesan visual dapat meningkatkan pengetahuan petani tentang pupuk agrodyke di Kecamatan Mandonga Kota Kendari. Keefektivan medium video juga dibuktikan oleh Alif (2007) yang menunjukkan medium video dengan unsur bahasa dan pesan visual dapat meningkatkan pengetahuan siswa SMA tentang Chikungunya*. Demikian pula dengan penelitian yang dilakukan Benunur (2006) terhadap petani Kakao di kecamatan Amahi, Maluku Tengah.

* Chikungunya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya, ditularkan melalui

gigitan nyamuk Aedes aegypti, Aedes albapictus dengan gejala utama demam mendadak, bintik-bintik kemerahan, nyeri sendi terutama sendi lutut dan pergelangan kaki sehingga orang tersebut tidak dapat berjalan untuk sementara waktu.

(14)

Penelitian ini dirancang dengan empat kombinasi perlakuan penyajian pesan melalui video, yaitu model perempuan suara perempuan (MPSP), model perempuan suara laki-laki (MPSL), model laki-laki suara laki-laki (MLSL), dan model laki-laki suara perempuan (MLSP). Dari hasil penelitian diketahui bahwa setiap perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap peningkatan pengetahuan responden ( Tabel 12).

Tabel 12 Hasil rataan skor peningkatan pengetahuan responden menurut kelompok perlakuan

Faktor Perlakuan Model Laki-Laki

(ML) Model Perempuan(MP) Total

Suara Narator Perempuan (SP) Suara Narator Laki-Laki (SL)

3,20 3,85 2,75 3,00 5,95 6,85 Total 7,05 5,75 12,80

Tabel 12 menunjukkan bahwa tiap perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda pada peningkatan pengetahuan. Pada kelompok perlakuan yang menggunakan penjelasan model laki-laki, baik dengan suara narator perempuan maupun suara narator laki-laki memberikan rataan skor lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok perlakuan model perempuan. Berarti penjelasan pesan dengan menggunakan model laki-laki lebih dapat diterima responden dalam meningkatkan

pengetahuan. Sedangkan penggunaan suara narator laki-laki lebih mudah diterima dibandingkan dengan menggunakan suara narator perempuan yang ditunjukkan

dengan adanya perbedaan rataan skor dalam peningkatan pengetahuan responden. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor model, suara narator dan interaksi kedua faktor tidak berbeda nyata pada peningkatan pengetahuan responden. Artinya pengaruh model dan suara narator memberikan skor peningkatan pengetahuan yang tidak berbeda nyata pada responden.

(15)

5.75 5.8 6.15 5.9 8.5 8.8 10 9.2 0 2 4 6 8 10 12 MPSP MPSL MLSL MLSP PRE POST

Gambar 4 Diagram batang rataan skor peningkatan pengetahuan responden berdasarkan kelompok perlakuan

Gambar 4 menunjukkan bahwa hasil rataan skor empat kombinasi perlakuan menunjukkan bahwa penggunaan model laki-laki dan suara narator laki-laki memperoleh skor peningkatan pengetahuan yang lebih tinggi daripada perlakuan lainnya. Berikut ini akan diuraikan bagaimana pengaruh model, suara narator dan interaksi antara dua faktor tersebut.

Pengaruh Model

Tampilan visual medium video melalui model mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyajian pesan yang bersifat instruksional, dimana model berfungsi menjelaskan tahapan pesan yang kurang tepat jika hanya menggunakan sejumlah kata. Karena itu dalam penelitian ini dibandingkan pengaruh penjelasan pesan dari model laki-laki dan model perempuan untuk melengkapi tampilan visual video dalam menyampaikan pesan tentang air bersih.

Tabel 13 Rataan skor peningkatan pengetahuan kelompok perlakuan model

Faktor Perlakuan Rataan Skor

Model Laki – Laki (ML) Model Perempuan (MP)

7,05 5,75

(16)

Data penelitian menunjukkan adanya pengaruh penyajian pesan terhadap peningkatan pengetahuan responden, baik dalam penjelasan yang menggunakan model laki-laki maupun model perempuan. Kelompok responden yang menyaksikan video dengan penjelasan model laki-laki memperoleh rataan skor peningkatan pengetahuan lebih tinggi (7,05) dibandingkan . penjelasan model perempuan (5,75).

Tabel 14 Hasil analisis ragam dua arah skor peningkatan pengetahuan kelompok perlakuan model

SK df JK KT F-Hitung p

Faktor

Model 1 9,800 9,800 2,137 tn 0,148

Keterangan : tn tidak nyata pada p = 0,05

Hasil analisis ragam pada faktor model menunjukkan tidak adanya perbedaan skor peningkatan pengetahuan responden yang nyata akibat adanya perbedaan model pada tampilan visual video. Ini berarti bahwa rataan skor peningkatan pengetahuan responden yang menyaksikan video dengan penjelasan model perempuan tidak berbeda nyata dengan responden yang menyaksikan video dengan penjelasan model laki-laki. Dengan demikian hipotesis kedua yang menyatakan bahwa ”skor peningkatan pengetahuan kelompok yang menyaksikan video dengan model perempuan tentang air bersih berbeda nyata dengan kelompok yang menyaksikan model laki-laki” ditolak.

Hasil dari pengujian tersebut membuktikan bahwa penyajian pesan video tentang air bersih yang disampaikan dengan menggunakan model laki-laki dan model perempuan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap peningkatan pengetahuan. Dugaan awal model perempuan lebih efektif dalam menyampaikan informasi yang berkaitan dengan air bersih ternyata tidak terbukti.

Model perempuan dan model laki-laki yang digunakan pada tayangan pesan air bersih ini merupakan model yang belum dikenal oleh responden kelompok. Model perempuan dalam tayangan video ditampilkan lebih sederhana atau tidak menampilkan kesan sensual yang selama ini identik dengan daya tarik visual yang

(17)

melekat pada diri kaum perempuan. Gerakan-gerakan tubuh dan mimik wajah yang ditampilkan model, terbatas untuk mengikuti instruksi alur pesan yang disampaikan.

Model perempuan pada penelitian ini sangatlah berbeda dengan model perempuan yang digunakan pada tayangan-tayangan iklan yang bersifat komersil atau menjual suatu produk, dimana model perempuan pada jenis pesan iklan lebih bersifat sebagai simbol yang mewakili produk yang ditawarkan. Sehingga model perempuan biasanya merupakan model yang sudah dikenal masyarakat dan dituntut untuk mengoptimalkan tampilan sensual yang ada pada dirinya seperti gerakan-gerakan tubuh dan mimik wajah yang dapat menarik perhatian khalayak. Seperti yang diungkapkan Arifin (2001), model perempuan pada media visual seringkali menjadi daya tarik bagi penontonnya, baik kaum laki-laki maupun perempuan yang akhirnya menjadi tindakan eksploitasi bagi para pelaku bisnis.

Pendapat tersebut di atas sesuai pada kondisi penggunaan model perempuan untuk sebuah tayangan yang bersifat komersil. Akan tetapi pada pesan yang menjadi kebutuhan informasi masyarakat khususnya pesan instruksional, penelitian ini mengungkapkan model perempuan memiliki kekuatan yang sama dengan model laki-laki.

Hal utama yang menyebabkan model perempuan tidak berbeda nyata dengan model laki-laki dalam mempengaruhi peningkatan pengetahuan responden pada hasil penelitian ini adalah materi pesan yang disampaikan. Materi pesan pada penelitian ini bersifat instruksional dan merupakan informasi baru yang belum pernah diperoleh responden kelompok yang erat kaitannya dengan kebutuhan hidup masyarakat. Sehingga pada saat perlakuan diberikan, responden kelompok lebih tertarik untuk mengetahui isi pesan yang disampaikan. Kondisi ini terlihat saat penelitian dilaksanakan, dimana responden kelompok sangat antusias ketika mengetahui informasi yang akan disampaikan mengenai air bersih dan saat perlakuan diberikan responden kelompok benar-benar berkonsentrasi menyimak alur pesan yang disampaikan. Dengan kata lain, pada penelitian ini kekuatan pesan terletak pada materi pesan yang disampaikan sehingga penggunaan model, baik model laki-laki maupun model perempuan pada medium video lebih berperan untuk mempermudah

(18)

responden kelompok mengikuti dan memahami tahapan-tahapan pesan yang disampaikan.

Pesan tentang air bersih identik dengan kegiatan domestik yang biasa dilakukan kaum perempuan, sehingga dugaan awal model perempuan akan lebih mampu mempengaruhi peningkatan pengetahuan responden dibandingkan model laki-laki. Akan tetapi, dugaan tersebut tidak terbukti. Hasil analisis ragam menunjukkan tidak ada perbedaan nyata antara model laki-laki dan model perempuan dalam mempengaruhi peningkatan pengetahuan responden tentang air bersih, bahkan rataan skor kelompok perlakuan model laki-laki lebih tinggi dibandingkan rataan skor kelompok perlakuan model perempuan.

Pada penelitian ini ada kecenderungan terdapat daya tarik pada saat pesan disampaikan dengan menggunakan model laki-laki, yang akhirnya mempengaruhi peningkatan pengetahuan responden kelompok. Hal ini ditunjukkan oleh pengamatan pada saat penelitian dilaksanakan pada dua kelompok yang menggunakan perlakuan model laki-laki, responden dalam kelompok tersebut membicarakan dan memberikan tanggapan positif terhadap kehadiran model laki-laki yang memperagakan pesan tentang air bersih. Sedangkan pada dua kelompok yang menggunakan perlakuan model perempuan, kondisi seperti yang terjadi pada kelompok perlakuan model laki-laki tidak terjadi. Pembicaraan responden pada kelompok perlakuan model perempuan hanya terbatas pada isi pesan yang disampaikan.

Penelitian ini mengungkapkan tidak ada perbedaan yang nyata antara model laki-laki dan model perempuan dalam mempengaruhi peningkatan pengetahuan responden tentang air bersih. Hal ini berarti bahwa penggunaan model pada medium video, baik model laki-laki dan model perempuan mempunyai kekuatan yang sama dalam mempengaruhi keefektivan suatu pesan, khususnya pesan yang bersifat instruksional dan berkaitan dengan kebutuhan informasi masyarakat.

Namun demikian, hasil evaluasi media menunjukkan bahwa hampir seluruh responden menyatakan setuju model yang memperagakan pesan menarik perhatian dan sangat mendukung isi pesan yang ingin disampaikan, serta memudahkan pemahaman makna pesan. Hal ini sejalan dengan pendapat McQuail (1987) yang

(19)

mengemukakan bahwa model dalam tayangan komunikasi massa merupakan aspek penting dalam membantu khalayak untuk memahami ragam isi pesan yang disampaikan melalui peran yang diberikan, yang diarahkan untuk memperoleh perhatian dari penonton melalui penampilan dan unsur gerakan tubuh sehingga menciptakan perhatian dan persamaan persepsi penontonnya terhadap isi pesan yang disampaikan.

Pengaruh Suara Narator

Unsur audio sangat penting dalam penyajian pesan terutama dalam mendukung penjelasan pesan visual. Suara narator pada medium video merupakan unsur audio yang berfungsi merangsang indera pendengar, berisi tahapan pesan yang disesuaikan dengan tampilan visualnya. Dalam penelitian ini dibandingkan pengaruh penjelasan suara narator laki-laki dan suara narator perempuan untuk melengkapi tampilan visual video dalam menyampaikan pesan tentang air bersih.

Tabel 15 Rataan skor peningkatan pengetahuan kelompok faktor perlakuan suara narator

Faktor Perlakuan Rataan Skor

Suara Narator Laki – Laki (SL) Suara Narator Perempuan (MP)

6,85 5,95

Data penelitian menunjukkan adanya pengaruh penyajian pesan terhadap peningkatan pengetahuan responden, baik dalam penjelasan yang menggunakan suara narator laki-laki maupun suara narator perempuan. Kelompok responden yang menyaksikan video dengan penjelasan suara narator laki-laki memperoleh rataan skor peningkatan pengetahuan lebih tinggi (6,85) dibandingkan penjelasan suara narator perempuan (5,95).

(20)

Tabel 16 Hasil analisis ragam dua arah skor peningkatan pengetahuan kelompok faktor perlakuan suara narator

SK df JK KT F-Hitung p

Faktor

Suara Narator 1 3,200 3,200 0,698 tn 0,406

Keterangan : tn tidak nyata pada p = 0,05

Hasil analisis ragam menunjukkan tidak adanya perbedaan skor peningkatan pengetahuan responden yang nyata akibat adanya perbedaan suara narator pada unsur audio video. Ini berarti bahwa rataan skor peningkatan pengetahuan responden yang menyaksikan video dengan penjelasan suara narator perempuan tidak berbeda nyata dengan responden yang menyaksikan video dengan penjelasan suara narator laki-laki. Dengan demikian hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa ”skor peningkatan pengetahuan kelompok yang menyaksikan video dengan menggunakan penjelasan suara narator laki-laki tentang air bersih berbeda nyata dengan kelompok yang menyaksikan dengan suara narator perempuan” ditolak.

Seluruh responden kelompok pada hasil evaluasi media menyatakan sangat setuju bahwa suara narator cukup jelas terdengar, sehingga apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Hal ini berarti bahwa persyaratan telah dipenuhi oleh dua suara narator yang diuji. Seperti diungkapkan Maloney (1979) yang menyatakan bahwa narator hendaknya mampu berbicara dalam keadaan normal atau biasa, serta dalam situasi alami. Artinya narator dapat menekankan sesuatu yang penting dalam pesannya dengan lebih mempertegas atau memperlembut ucapannya daripada tingkat suara yang wajar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan skor peningkatan pengetahuan pada penggunaan suara narator laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan suara narator perempuan, meskipun perbedaan tersebut secara statistik tidak berbeda nyata. Ada kecendrungan suara narator laki-laki lebih mempengaruhi pendengarnya dibandingkan suara narator perempuan, khususnya dalam pesan-pesan informatif pada konteks pesan audio. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Arliss dalam Aryati (2007) bahwa suara narator laki-laki lebih tegas, jelas dan rasional sehingga

(21)

pendengarnya akan mudah menerima tahapan pesan informatif yang disampaikan, sedangkan suara narator perempuan lebih halus dan lebih emosional.

Materi pesan yang disampaikan berkaitan dengan kebutuhan informasi yang benar-benar diperlukan masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada hasil evaluasi media dimana hampir seluruh responden menyatakan sangat setuju terhadap informasi yang disajikan karena merupakan sesuatu yang baru dan menarik, serta isi informasi yang diberikan sangat bermanfaat. Sehingga suara narator pada medium video dalam penelitian ini berfungsi untuk membantu reponden kelompok untuk lebih jelas memahami isi informasi yang disampaikan.

Unsur visual juga turut mempengaruhi tidak adanya perbedaan nyata dari dua jenis suara narator ini, dimana responden menerima pesan dengan dua saluran komunikasi, yaitu melihat dan mendengar. Flemming dan Levie (1978) mengatakan lebih 80 persen dari seluruh informasi kita peroleh melalui mata, karena kita hidup dalam masyarakat yang visually oriented. Akan tetapi informasi yang diterima melalui lebih dari satu saluran akan lebih efektif daripada yang melalui satu saluran saja, dimana informasi akan lebih mudah disimpan dan dipanggil (retrieved) kembali. Dari pendapat tersebut dapat diasumsikan bahwa unsur audio seperti suara narator lebih berfungsi untuk mendukung penjelasan visual agar pesan yang disampaikan lebih efektif diterima khalayaknya.

. Penelitian ini mengungkapkan bahwa penggunaan suara narator laki-laki cenderung lebih mempengaruhi peningkatan pengetahuan daripada suara narator perempuan dalam menyampaikan pesan, meskipun tidak terdapat perbedaan yang nyata. Hasil tersebut sejalan dengan pendapat Kemp (1988) yang mengatakan bahwa bila ingin menyampaikan pesan-pesan yang bersifat informatif ada baiknya menggunakan suara pria karena suara narator pria umumnya sangat jelas dan mudah diterima. Dengan demikian ada baiknya untuk menggunakan suara narator laki-laki untuk mendukung pesan visual pada medium video, khususnya pesan yang bersifat instruksional.

(22)

Pengaruh Interaksi Model dan Suara Narator

Interaksi faktor model dengan suara narator telah dapat menghasilkan empat kelompok perlakuan yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas medium video dalam meningkatkan pengetahuan responden.

Data penelitian menunjukkan adanya pengaruh penyajian pesan terhadap peningkatan pengetahuan pada masing-masing kelompok responden. Gambaran rataan skor empat kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 17, dan hasil analisis sidik ragam dua arah untuk melihat signifikansi peningkatan pengetahuan pada interaksi faktor model dan suara narator dalam empat kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 17 Rataan skor peningkatan pengetahuan responden kelompok perlakuan

Faktor Perlakuan Rataan Skor

Model Perempuan Suara Narator Perempuan (MPSP) Model Perempuan Suara Narator Laki-Laki (MPSL) Model Laki-Laki Suara Narator Perempuan (MLSP) Model Laki-Laki Suara Narator Laki-Laki (MLSL)

2,75 3,00 3,20 3,85

Tabel 18 Hasil analisis ragam dua arah skor peningkatan pengetahuan kelompok perlakuan pada interaksi faktor model dan suara narator

SK df JK KT F-Hitung p

Faktor Interaksi

Model + Suara 1 0,450 0,450 0,098 tn 0,755

Keterangan : tn tidak nyata pada p = 0,05

Hasil analisis ragam mengungkapkan bahwa secara statistik interaksi model dan suara narator tidak berbeda nyata (p > 0,05). Hal ini berarti pengaruh jenis model pada peningkatan pengetahuan tidak berkaitan dengan pengaruh jenis suara narator. Sebaliknya, pengaruh jenis suara narator tidak berkaitan dengan pengaruh jenis model. Dengan demikian hipotesis keempat yang menyatakan bahwa ” jenis model laki-laki dan model perempuan berinteraksi secara nyata dengan jenis suara

(23)

narator laki-laki dan suara narator perempuan dalam mempengaruhi skor peningkatan pengetahuan tentang air bersih” ditolak.

Rataan skor tertinggi dicapai oleh kelompok responden yang menyaksikan video dengan menggunakan model laki-laki, baik yang dikombinasikan dengan suara narator perempuan maupun suara narator laki-laki. Tetapi apakah nilai tersebut berbeda nyata atau tidak dengan rataan skor kelompok responden yang lain, maka perlu diuji secara statistik dengan menggunakan uji wilayah berganda Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Hasil uji wilayah berganda Duncan skor peningkatan pengetahuan responden P E R L A K UA N Model Perempuan Suara Perempuan (MPSP) Model Perempuan Suara Laki-Laki (MPSL) Model Laki-Laki Suara Perempuan (MLSP) Model Laki-Laki Suara Laki-Laki (MLSL) 2,75 3,00 3,20 3,85 _____________________ _____________________ Keterangan : _________ tidak berbeda nyata pada p = 0,05

Hasil uji wilayah berganda Duncan menunjukkan bahwa rataan skor peningkatan pengetahuan pada perlakuan model laki-laki dengan suara narator perempuan maupun suara narator laki-laki tidak berbeda nyata. Demikian pula dengan perlakuan pada model perempuan dengan suara narator perempuan, maupun suara narator laki-laki yang juga tidak berbeda nyata. Artinya perlakuan pada empat kombinasi memiliki kekuatan yang sama untuk meningkatkan pengetahuan responden, meskipun penggunaan model laki-laki yang dikombinasikan dengan suara narator perempuan maupun suara narator laki-laki memperoleh rataan skor yang lebih tinggi daripada menggunakan model perempuan dengan suara narator perempuan maupun suara narator laki-laki. Untuk melihat lebih jelas pengaruh tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.

(24)

3.85 3 3.3 (L) 2.75 (P) 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 SL SP Voice P en in g ka ta n P en g et ah u an Keterangan :

________________ = Perlakuan dengan model laki-laki (L) --- = Perlakuan dengan model perempuan (P)

Gambar 5 Pengaruh interaksi suara narator dengan model pada peningkatan pengetahuan responden kelompok perlakuan

Gambar 5 menunjukkan bahwa rataan skor peningkatan pengetahuan yang diberikan perlakuan model laki-laki lebih tinggi, baik dikombinasikan dengan suara narator laki-laki maupun suara narator perempuan. Sebaliknya, rataan skor peningkatan pengetahuan lebih rendah pada perlakuan model perempuan, baik yang dikombinasikan dengan suara narator laki-laki maupun suara narator perempuan. Adanya garis yang ”hampir sejajar” menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis model dan jenis suara narator. Artinya hasil penelitian ini dapat dibuktikan, karena ditelusuri melalui landasan teori yang mendukung kelompok perlakuan dengan jenis model dan kelompok perlakuan dengan jenis suara narator yang tidak saling mempengaruhi tapi saling membantu untuk menjelaskan maksud pesan.

Faktor yang menyebabkan masing-masing kelompok perlakuan memiliki kemampuan yang sama terhadap peningkatan pengetahuan adalah faktor narator. Penjelasan pesan oleh narator sangat mendukung presentasi pesan yang disampaikan oleh model laki-laki dan model perempuan, penuturan pesan oleh kedua narator

(25)

adalah sama terutama dari kecepatan, irama dan kejelasan bersuara narator, maupun waktu penjelasan materi.

Penggunaan model dan suara narator melalui medium video dengan sajian materi pesan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pada penelitian ini, saling menunjang untuk mengefektifkan pesan yang disampaikan. Medium video dengan perpaduan unsur audio dan visual membuat sajian pesan menjadi lebih dinamis dan menarik untuk disimak, dimana terdapat unsur gerakan yang diperagakan seorang model, sehingga mempermudah responden kelompok untuk mengikuti alur pesan yang disampaikan.

Materi pesan mengenai pengolahan air bersih sederhana yang disampaikan merupakan suatu hal yang baru dan informasi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Penggunaan suara narator untuk menunjang keefektifan pesan memberikan variasi stimuli bagi responden, karena responden menerima informasi dengan menggunakan dua saluran komunikasi yaitu melihat sekaligus mendengar. Selain itu pesan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi kepada penerimaan suatu pesan dan menentukan tingkat pemahaman responden. Penjelasan dari hasil penelitian tersebut, sejalan dengan pendapat Rakhmat (2007) yang mengatakan bahwa faktor yang menentukan minat dan perhatian seseorang terhadap stimuli yang diterimanya adalah unsur gerakan, kebaharuan, perulangan, variasi pada suatu stimuli serta sesuatu yang melibatkan dirinya sendiri karena dianggap penting.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menghasilkan 1 Kg bahan kering kebutuhan air untuk Kg bahan kering kebutuhan air untuk sorgum, jagung , barley, gandum dan sorgum, jagung , barley, gandum dan  padi adalah

Untuk masuk ke halaman Penerimaan Siswa Baru (PSB), pada halaman utama SIMAKA, klik menu PSB yang berada di bagian atas (header), maka akan tampil halaman utamanya seperti

Hasil penelitian pada pada 6 MST menunjukkan bahwa tanaman kubis bunga dengan perlakuan menggunakan media tanam campuran pasir + arang sekam menunjukkan rata-rata tinggi tanaman

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus atas berkat dan kebaikanNya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul : “Analisis Pengaruh

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai

Proses kebudayaan yang ada di masyarakat tidak hanya terwujud dari aturan-aturan ataupun hukum- hukum yang ada pada suatu daerah, tetapi kebudayaan juga bisa

Te enje preko kamenog praga u periodu malih voda predstavlja specifi nu hidrauli ku pojavu, a ,,šablonski” obavljen prora un linije nivoa, ne tretiraju i prag kao

Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas V di SD Negeri 2 Alastuwo, sumber data yang diperoleh, yaitu hasil pembelajaran   membaca intensif melalui metode assessment search