BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Perkembangan masyarakat di Indonesia secara umum yang hidup dan menggantungkan pada mata pencaharian dalam sektor agraria menafsirkan tanah adalah ruang hidup untuk memenuhi kebutuhan (subsisten), sementara dalam UUPA no. 5 tahun 1960 menjelaskan Agraria dalam dasar ketentuan pokok berarti “kesatuan tanah-air, seluruh bumi, ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya merupakan kekayaan nasional”. Lebih tandas dalam konstitusi UUD 1945 pada pasal 33 ayat (3) yang menyebutkan: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Sudut pandang lain dikemukakan Eric Wolf (1955) dengan merujuk pada konteks masyarakat pertanian peasant yang melakukan proses produksi yang memiliki tujuan subsistensi, yaitu melakukan produksi pertanian yang memiliki orientasi bertahan hidup
dan mempertahankan status sosial (Muhtar Habibi, ‘Petani’ dalam Lintasan Kapitalisme – Indoprogress, 2018). A.K. Ghose (1983) menyatakan bahwa, agraria secara umum adalah masalah kekuasaan, masalah kesejahteraan ekonomi, dan masalah hirarki sosial (Wiradi, 2009:1). Sedangkan tanah sendiri merupakan awal teciptanya kebutuhan primer yang ada dalam lingkup manusia dan penting halnya harus dipenuhi seperti sandang, pangan, dan papan. Sangat menjadi penting keberadaan tanah dalam wilayah Indonesia karena sudah identik dengan sebutan negri agraris. Menurut Alvin Toffler dalam (Murdianto, 2008:91) menjelaskan tipologi masyarakat agraris ‘dari gelombang pertama menuju kedua’ pada tahapan pola adaptasi awal hingga modern memiliki pola adaptasi karakteristik khas masing-masing pada pemanfaatan sumber agraria seperti, tanah dan air
1
yang pada hakikatnya memiliki keterkaitan pada kedudukan sosial masyarakat sebagai manusia untuk melakukan usaha yang bersifat subsisten (keluarga) sebagai wujud
keberlangsungan masyarakat agraris. Melihat kondisi lapangan, tanah merupakan
“langkah” awal bagi aktivitas keberlanjutan dalam kehidupan manusia, dengan adanya tanah berarti langkah untuk hidup lebih lanjut telah tercapai. Ketimpangan struktur agraria dalam realita kehidupan sehari-hari pun terjadi, persolan ketimpangan struktur didominasi pada persoalan penguasaan. Kondisi tersebut bukanlah hanya menjadi persoalan yang sepele dan mudah diuraikan akar persoalannya, bahkan dalam realitas peruntukannya tanah merupakan alat produksi untuk memenuhi kebutuhan pokok primer.
Sehingga, apabila masyarakat agraris tidak mempunyai tanah pilihan terakhirnya hanyalah menjual tenaga kerja menjadi buruh untuk memenuhi kebutuhan subsisten, dan pada kondisi keadaan tertentu masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap sumber agraria akan mengalami berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Realitas tersebut merupakan konsekuensi dari relasi timpangnya penguasaan agraria.
Ulasan fenomena di atas seolah menggugah ide pertanyaan kepada pemerintah Indonesia perihal ayat konstitusi yang ada dalam pasal 33 UUD 1945 apakah benar,
“penguasaan dari negara terjadi seutuhnya untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat Indonesia?”. Perkembangan dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini, pasca reformasi Indonesia pada tahun 1998, visi pemerintah maupun elite politik DPR sebagai representasi perwakilan rakyat Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya menjadi trend jargon dan bualan untuk mencari simpati masyarakat dalam mendulang suara untuk posisi kuasa saat pesta demokrasi politik belaka tanpa memihak dan mengusahakan kepentingan rakyat baik ekonomi, politik, dan kesejahteraan. Konstitusi negara Indonesia UUPA (1960) menyebutkan dalam pasal 9 ayat 2 yang tertulis: “Tiap-tiap warga Negara Indonesia, baik laki-laki maupun
2
perempuan, mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh hak atas tanah serta untuk mendapatkan manfaat dan hasilnya, baik bagi diri sendiri maupun keluarganya”.
Jelas yang dimaksud bahwa dalam konstitusi tersebut memiliki prinsip keadilan dan berperikemanusiaan. Realitas yang tertuang dalam konstitusi tersebut sangatlah jelas bahwa para elite DPR dipilih melalui mandat langsung dari rakyat haruslah mengupayakan kepentingan rakyat terkait hajat hidup seperti akses dan jaminan seperti, menyelesaikan persoalan ketimpangan struktural penguasaan agraria yang mayoritas terjadi di pedesaan maupun perkotaan. Namun, persoalan struktural yang sering dihadapi dari pergantian rezim ke rezim pun hampir sama dan menyerupai, seperti: kemiskinan, pengangguran, konsentrasi aset penguasaan yang di kuasai oleh sekelompok kecil orang, konflik agraria, krisis pangan, krisis energi, krisis finansial global, hingga penurunan kualitas hidup masyarakat akan berdampak pada melemahnya akses terhadap masyarakat pada hak-hak dasar.
Data kemiskinan dari BPS pada September 2018 menunjukkan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 25,67 juta jiwa. Di kawasan perkotaan, percepatan kemiskinan mencapai 10,13 juta jiwa, sedangkan di kawasan perdesaan mencapai 15,54 juta jiwa. Ini menunjukkan bahwa kemiskinan paling banyak dialami oleh penduduk pedesaan (Online; BPS 2019). Total penduduk miskin di Indonesia, sekitar 56 persen berada di pedesaan dan 46 persen di antarannya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, ironisnya yang sebagian menggantungkan pada sektor pertanian banyak terdapat persoalan terkait ketimpangan sumber agraria yang dikuasai oleh segelintir individu atau korporasi baik swasta maupun negri. Penguasaan atas tanah dalam kurun waktu 1973-2003 dapat menunjukkan bukti terkait dinamika perubahan rumah tangga petani yang pengguna lahan berdasarkan luas tanah yang dikuasai dalam (Wiradi dan Bachriadi, 2011:34) sebagai berikut:
Tabel 1.1 Prosentase Jumlah Rumah Tangga Petani Berdasarkan Kategori Penguasaan Lahan, 1973-2003
Kategori Luas
1973 1983 1993
Lahan(ha)
< 0.10 3.4 7.3 8.1
0.01 – 0.19 12.5 10.4 12.3
0.20 – 0.49 29.8 26.8 28.2
0.50 – 0.99 24.7 23.4 22.2
1.00 – 1.99 18.1 18.6 16.8
2.0 – 5.00 9.4 11.2 11.0
2003
10.9
12.4
27.9
19.7
16.1
11.4
5.00 2.1 2.3 1.4 1.6
Total jumlah (juta) 14.4 18.8 21.2 24.3
Dihitung berdasarkan hasil sensus pertanian tahun 1973, 1983 ,1993, dan 2003 (Biro Pusat Statistik 2003 di dapat dari buku Wiradi (2011) Enam Dekade
Ketimpangan, diakses pada 26 September 2019).
Dampak penurunan signifikan pada rata-rata lahan kepemilikan masyarakat terjadi, hal tersebut senada dengan pernyataan yang dikutip dari buku Wiradi Enam Dekade Ketimpangan (2011) yang menyebutkan bahwa kontribusi kemiskinan di pedesaan adalah ketimpangan distribusi lahan. Data tersebut juga diperkuat oleh data terakhir pada senseus pertanian (BPS, 2013) yang dimunculkan dalam jurnal tesis Suprastyo (2018) yang menyebutkan trend penurunan jumlah rumah tangga petani
4
dengan luas lahan yang dikuasai dari tahun 2003 yang jumlah penguasaan 24.3 juta menjadi 20.1 juta pada 2013. Perkembangan distribusi sumber agraria apabila tidak diimbangi dengan difasilitasi oleh pemerintah berikut lembaga yang berfokus pada persoalan terkait, yang ada hanyalah menimbulkan persoalan yang terus berulang.
Karena, akses terhadap tanah sebagai alat produksi bagi petani minim atau bahkan tidak ada akibat penguasaan oleh segelintir pihak, hal ini apabila dibiarkan terus akan berimplikasi pada jaminan kelangsungan hidup masyarakat, bisa saja yang terjadi adalah krisis yang dihadapi di pedesaan terkait akses sumber agraria yang erat kaitannya dengan kepentingan ekonomi, sosial, maupun politik yang faktanya kian hari kian redup keadilan yang didapat oleh masyarakat akibat kebijakan dari pemerintah terdahulu.
Prinsip “Hak Menguasai Negara”, yang pada masa rezim orde baru pemerintah pusat maupun daerah memberikan izin pada penguasaan hingga pemanfaatan smber agraria yang ada di Indonesia (Sumardjono (1998), dalam Wiradi dan Bachriadi 2011:3).
Kondisi tersebut menyeret pada sebuah komodifikasi pada lahirnya Undang-Undang Kehutanan dan Undang-Undang Pertambangan pada tahun yang sama 1967. Hingga pada hasil ratifikasi undang-undang tersebut menjadi legitimasi untuk melakukan eksploitasi alam atau sumber agraria Indonesia dengan dalih pengusahaan yang dikelola skala besar industri melalui BUMN maupun BUMS melalui berbagai konsesi seperti Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hak Pengusahaan Hutan untuk Tanaman Industri (HPHTI). Menurut Wiradi, prinsip Hak Menguasai Negara (HMN) sesungguhnya merupakan legitimasi bagi tindakan negara untuk melanggar hak rakyat atas tanah dan sumber daya alam lainnya (Wiradi dan Bachriadi 2011:4). Faktor pemicu dari persoalan ketimpangan distribusi tanah, yang mengakibatkan di sebagian pedesaan yang utamanya berada dalam tanah wilayah konsesi penguasaan agraria atas dasar pengusahaan seperti Hak Guna Usaha (HGU) dan lain-lain, menjadikan pengelolaan tanah rakyat khususnya
pedesaan sebagai hak milik untuk kemudian dikelola sebagai alat produksi pada sektor agraria menjadi terbatas bahkan sama sekali tidak memiliki kepastian hukum atas tanah sebagai sumber penghidupan.
Kondisi riil masayarakat pada umumnya di pedesaan yang tidak memiliki tanah sama sekali namun mempunyai tanah garapan dengan menyewa baik dari individu atau bahkan melalui perusaahaan yang melalui makelar untuk mendapatkan tanah garapan disebut petani penyakap , sedangkan yang beruntung memiliki garapan hanyalah sebagai petani kecil dengan garapan paling banyak 3 ha, sebagian juga ada sebagai petani gurem dengan lahan kurang dari 0,5 ha, dan yang paling tidak beruntung adalah hanya menjadi buruh tani atau perkebunan menjual tenaga kerja sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan subsisten keluarga. Suatu kesempatan saat penulis melakukan observasi di kawasan PTPN XII Ngrangkah Pawon Kabupaten Kediri, salah satu tokoh masyarakat mengungkapkan bahwa “notabenenya masyarakat desa yang tinggal di wilayah tanah HGU PTPN XII merupakan tanah dari nenek moyang ataupun leluhur dari warga masyarakat kampung setempat yang sudah tinggal puluhan tahun sebelum negara Indonesia merdeka dan juga pernah menggarap tanah bekas pengelolaan penjajah pada saat ketika penjajah keluar dari negara Indonesia ” hingga serentetan peristiwa terjadi mulai wacana nasionalisasi aset pada akhir 1950-an dengan tujuan pengamanan aset negara ketika orde lama hingga, muncul peristiwa perampasan bukti kepemilikan aset tanah yang dilakukan oleh negara di masa rezim orde baru yang disukseskan oleh militer pada kala itu, hingga sampai pada rakyat yang berusaha memperjuangkan tanah sebagai hajat hidup, yang dituduh dan mendapat stigma sebagai bagian dari BTI(organisasi petani yang berafiliasi dengan PKI) pada sekitar tahun 1965.
Isyarat kondisi ketimpangan struktur penguasaan kepemilikan agraria tidak terjadi begitu saja tanpa ada sisi history yang pernah terjadi, hal ini menjadi catatan bagi penulis
6
bahwasannya kondisi ketimpangan penguasaan pada sektor agraria harus diurai apa yang menjadi sumber persoalan melalui perspektif dengan mengaitkan kondisi obyektif masyarakat dengan melihat kondisi kesejahteraan masyarakat terutama keluarga sebagai dasar untuk menentukan determinasi ketimpangan agraria yang terjadi melalui penelitian, dengan mengaitkan sudut pandang konsep disiplin kesejahteraan sosial berikut dengan perspektif teori ekonomi politik untuk mengurai persoalan dengan mengkaji kondisi obyektif masyarakat berdasarkan relasi ketimpangan kepemilikan sarana produksi sumber agraria, apakah memilik keterkaitan dengan pemenuhan subsisten masyarakat terutama keluarga dan pada konteks praktisnya. Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk melakukan berbagai upaya advokasi, pemberdayaan kepada masyarakat yang memiliki problem serupa pada permasalahan ketimpangan agraria maupun persoalan yang memiliki situasi kerentanan pada konteks pengabaian, ketidakadialan sosial, diskriminasi dan penindasan. Upaya peneliti dalam mengangkat fenomena ini, juga tidak terlepas dari perspektif pekerja sosial yang dalam setiap upaya peningkatan kapasitas keprofesian selalu memberikan intervensi sosial yang meliputi tindakan dan upaya yang dirancang agar dapat membantu terpenuhinnya kebutuhan dan akses terhadap kebutuhan dasar masyarakat (makan, tempat tinggal, perlindungan dari bahaya dan sebagainya) (Fahrudin, 2014:44).
Betapa pun banyaknya aspek ketimpangan agraria dan persoalan kemiskinan yang terjadi erat kaitannya dengan persoalan struktural sistem, menurut Wiradi (2011) hal yang menjadi fundamen dalam persoalan untuk menyelasaikannya adalah politik dan ekonomi. Lebih tandas Bernstein menjelaskan dalam mengurai masalah agraria pada hakikatnya adalah masalah politik, masalah kekuasaan, hal ini juga berimbas dalam pola relasi ekonomi dan corak produksi kapitalisme pada perspektif makro, yang mensyaratkan pada proses akumulasi, monopoli hingga pemusatan penguasaan alat
produksi (Bernstein, 2019:12-15). Kerumitan persoalan bertambah ketika aspek pada lingkup persoalan agraria seperti, ijin dari tata kelola dan distribusi keadilan atas ruang hidup untuk dikelola oleh masyarakat setempat, tidak ada tranparansi serta kepastian hukum bagi masyarakat yang berada dalam wilayah konsesi negara yang ekspektasi penguasaanya untuk kemakmuran rakyat malah berbalik dari fakta realitanya, yang di korbankan adalah kepentingan ekonomi politik rakyat atas akses tanah dari pada sumber agraria yang ada.
Ketimpangan struktur penguasaan agraria sering dipahami seperti lingkaran setan yang selalu melibatkan beberapa elmen lapisan sosial (pemodal, pemerintah, masyarakat) dan dalam realitasnya persoalan ini seperti hukum rimba “yang terkuat akan menjadi pemenang” yang kuat memiliki tujuan penguasaan dan mendominasi bahkan memungkinkan untuk memonopoli segala peluang untuk menciptakan kekuasaan dan dominasi dalam lingkup sosial. Kompleksitas dari persoalan agraria secara umum dapat menjadi persoalan yang dapat menyulut konflik dalam lingkup sosial, baik konflik warga dengan warga, konflik warga dengan perusahaan swasta, atau bahkan warga dengan pemerintah. Pada tahun 2017, ada 659 konflik agraria yang terjadi dengan persebaran kasus konflik agraria 5 besar, per-provinsi sepanjang tahun 2017, tertinggi adalah Jawa Timur dengan 60 kasus, Sumatera Utara 59 kasus, Jawa Barat 55 kasus, Riau 47 kasus, dan Lampung 35 kasus, sisanya konflik agraria yang terjadi tersebar di provinsi lain di wilayah negara Indonesia (Sumber; Laporan Akhr Tahun 2017 Konsorsium Pembaharuan Agraria).
Data diatas mencoba mengurai persoalan seperti kondisi masalah kesejahteraan sosial seperti kemiskinan, krisis peedesaan, hingga konflik horizontal maupun vertikal yang memungkinkan akar persoalannya terjadi dan mengarah pada persoalan ketimpangan agraria yang sering kali terjadi, pada lingkup pedesaan maupun perkotaan.
8
Hal ini apabila tidak diseslesaikan dari fundamen persoalannya akan menjadi bahaya laten yang dapat merugikan dari berbagai aspek dalam lingkup sosial maupun masyarakat. Desa Sepawon yang berada dalam wilayah kabupaten Kediri merupakan tanah yang berada dalam wilayah tanah konsesi negara yaitu tanah HGU, singkat cerita saat penulis observasi lapang, desa tersebut memiliki lima wilayah dusun dan empat diantaranya terletak dalam wilayah tanah konsesi HGU negara yaitu PTP Nusantara XII.
Perusahaan tersebut mendapat ijin mengelola tanah HGU seluas 2.549,91 Hektar, disisi lain tanah yang mejadi hak milik dalam luasan desa tersebut hanya berada dalam satu dusun dengan luas 154 Hektar. Melihat kondisi tersebut konsentrasi kepemilikan antara tanah konsesi negara HGU sangatlah timpang dengan hak milik warga yaitu sekitar 6 persen dari luas total keseluruhan tanah konsesi tersebut. Tanah hak milik hanya berada pada satu dusun dengan jumlah 1776 jiwa dari jumlah penduduk desa total 6.139 jiwa (sumber: arsip desa sepawon 2019). Beberapa catatan saat observasi kondisi tersebut sangatlah timpang apalagi dalam kondisi faktualnya masyarakat yang berada dalam wilayah tanah HGU dahulu meminta tanah untuk pemukiman dengan luasan 62,12 Hektar, dalam observasi tersebut Kepala Desa juga menyebutkan bahwasanya “sebelum tahun 1965 warga mempunyai lahan garapan pertanian setlah itu ada pengamanan aset negara yang berimbas pada relokasi beberapa wilayah desa dan pelokalisiran warga.”
seiring bergulirnya waktu dengan adanya pertambahan jumlah penduduk hingga sekarang, tanah hasil pemberian dari wilayah HGU tersebut dirasa tidak layak karena, selain berdampak pada kondisi pemukiman warga yang menjadi padat akibat pertambahan jumlah penduduk, serta masyarakat yang berada dalam wilayah HGU sebagian besar bermata pencaharian sebagai buruh harian lepas dari PTPN XII dan juga sebagai peternak.
Melihat kondisi tersebut tentu menimbulkan berbagai persoalan terkait mungkin krisis pertanian yang saat ini terjadi bukan hanya mandeknya generasi yang tidak menggeluti usha tani namun, hal ini lebih bersumber pada akses masyarakat dan jaminan pada akses sumber daya alam seperti tanah sebagai sumber agraria sangatlah terbatas atau bahkan kesulitan dalam mengaksesnya karena sumber daya tersebut dikuasai oleh perusahaan konsesi negara. Hingga persoalan tersebut memicu dampak pada masalah kesejahteraan sosial seperti krisis terhadap pemenuhan kebutuhan subsisten keluarga dan pada umumnya masyarakat. Sehingga urbanisasi, migrasi, dan deruralisasi tidak dapat terelakan pada kondisi ini. Kasus inilah yang melatarbelakangi penelitian untuk dilakukan penelitian dengan judul, “Pemenuhan Subsisten Keluarga Dalam Ketimpangan Struktur Penguasaan Agraria” (Studi Masyarakat Kawasan PTPN XII Ngrangkah Pawon Kabupaten Kediri).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang uraian di atas, maka permasalahan yang akan dikaji oleh peneliti adalah:
1. Bagaimana pemenuhan subsisten keluarga dalam ketimpangan struktur penguasaan agraria?
2. Bagaimana upaya masyarakat dalam mencari alternatif guna pemenuhan subsisten keluarga dalam fenomena ketimpangan struktur penguasaan agraria?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah:
10
1. Untuk mengetahui pemenuhan subsisten keluarga dalam ketimpangan struktur penguasaan agraria yang terjadi.
2. Untuk mengetahui upaya keluarga dalam mencari alternatif guna pemenuhan subsisten dalam fenomena ketimpangan struktur penguasaan agraria yang terjadi.
D. Manfaat penelitian 1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk memperkaya perbendaharaan pengetahuan tentang prespektif perubahan ekonomi, sosial, politik dalam lingkup kajian kesejahteraan sosial sebagai disiplin ilmu, yang nantinya akan berguna dalam menambah wacana dan diskursus ilmiah dalam Ilmu Kesejahteraan Sosial.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis hasil/rekomendasi penelitian ini diharapkan berguna bagi pembaca dan civitas akademik khususnya dengan latar belakang pendidikan dari disiplin keilmuan kesejahteraan sosial serta untuk memahami bagaimana perubahan ekonomi, sosial, politik yang terjadi tentang suatu kondisi individu, kelompok, maupun lingkungan tentang bagaimana kondisi dikatakan tidak/belum sejahtera secara sosial.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa poin yang menjadi batasan dari peneliti agar dalam pelaksanaan penelitian yang dilakukan tidak melebar dari tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran “Pemenuhan Subsisten Masyarakat Dalam Ketimpangan
Struktur Penguasaan Agraria” (Studi Masyarakat Kawasan PTPN XII Ngrangkah Pawon Kabupaten Kediri). Adapun ruang lingkup penelitian yang dimaksud meliputi:
1. Sejarah pemilikan lahan masyarakat desa baik dalam lingkup HGU maupun luar HGU sebagai hak milik yang di dasarkan pada status kepemilikan aset tanah;
2. Mata pencahariaan masyarakat desa dan pendapatan murni untuk pemenuhan kebutuhan subsisten keluarga;
3. Kondisi kehidupan warga yang di dasarkan pada wilayah yang ditempati;
4. Data mata pencaharian masyarakat yang di dasarkan pada data desa yang menjadi awal mula ketimpangan agraria terjadi.
12