• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK WILAYAH DAN KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARAKTERISTIK WILAYAH DAN KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

1

KARAKTERISTIK WILAYAH DAN KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

I Wayan Rusastra 1) dan Togar A. Napitupulu 2)

1) Peneliti PSEKP/Kepala Program R&D, UNESCAP-CAPSA

2) Peneliti Senior Ekonomi Pertanian, UNESCAP-CAPSA

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(2)

A. PENDAHULUAN

1. Faktor Penting Kemiskinan Indonesia

(World Bank, 2006)

Melemahnya laju penurunan kemiskinan

Peningkatan penduduk miskin 2005-2006:

- Pedesaan 19.5 %  21.9 % - Perkotaan 11.4 %  13.4 %

Proporsi penduduk berpendapatan , 2 USD/hari, relatif tinggi (49.0 %)

Eksistensi permasalahan indikator kemiskinan

“non-income” (pendidikan, kesehatan, mortalitas bayi, dan lain-lain)

Indikasi peningkatan disparitas

pertumbuhan/pendapatan antar wilayah/group

individu

(3)

3

A. PENDAHULUAN

2. Urgensi Karakteristik Profil Kemiskinan

Pemahaman permasalahan teknis, ekonomi dan sosial penduduk miskin

Perumusan pendekatan dan strategi pengentasan kemiskinan

Penetapan target sasaran secara spasial dan kelompok miskin

Basis diagnosis dalam perumusan pengentasan kemiskinan kedepan

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(4)

A. PENDAHULUAN

3. Tujuan Penulisan Paper

Mengidentifikasi karakteristik umum kemiskinan

Mengidentifikasi karakteristik wilayah dan akses infrastruktur/sumberdaya penduduk miskin

Mengidentifikasi profile rumah tangga dan penduduk miskin di pedesaan

Melakukan diagnosis dan upaya pengentasan

kemiskinan masyarakat pedesaan

(5)

5

B. KARAKTERISTIK UMUM PENDUDUK MISKIN

1. Aspek Spasial/Sektoral dan Kedalaman/

Keparahan Kemiskinan

(BPS, 2004 dan World Bank, 2006)

Sekitar 69 % tinggal di pedesaan dan 64 % bekerja di sektor pertanian

Ketergantungan pada sektor pertanian: Jawa versus luar Jawa: 42.3 % vs 75.4 %

Sekitar 75 % bekerja di sektor informal

Sekitar 22 % sebagai pekerja keluarga tidak dibayar

Indeks kedalaman kemiskinan (P

1

) = 2.35 (Jawa) – 3.43 (luar Jawa)

Indeks keparahan kemiskinan (P

2

) = 0.62 (Jawa) – 0.94 (luar Jawa)

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(6)

B. KARAKTERISTIK UMUM PENDUDUK MISKIN

2. Dimensi Non-Ekonomi penduduk Miskin

(Sudaryanto dan Rusastra, 2006)

Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar (papan, sandang, perumahan)

Aksesibilitas ekonomi yang rendah terhadap pendidikan, kesehatan, sanitasi, dan lain-lain

Kemampuan akumulasi kapital rendah

Rentan terhadap goncangan faktor eksternal

Kwalitas SDM dan penguasaan sumberdaya alam rendah

Terbatasnya keterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan

Terbatasnya akses terhadap kesempatan kerja secara berkelanjutan

Ketidakmampuan berusaha karena cacat fisik/mental

(7)

7

B. KARAKTERISTIK UMUM PENDUDUK MISKIN

3. Konsekwensi dan Antisipasi Pendekatan

Pengentasan Kemiskinan

(Mubiyarto, 2002; Adiyoga dan Hermiati, 2003)

Penanggulangan kemiskinan mengacu kepada

karakteristik dan permasalahan riil masyarakat miskin

Pengakuaan terhadap potensi partisipatif dan

pemberdayaan serta modal sosial kaum miskin untuk keluar dari kemiskinan

Fokus pada pemenuhan dasar, revitalisasi pertanian, dan transformasi struktural sektor pertanian ke sektor non- pertanian

Perencanaa, pelaksanaan, dan penumbuhan prinsip transparansi serta akuntabilitas program

penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat desa sendiri

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(8)

C. KARAKTERISTIK WILAYAH

DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

1. Karakteristik dan Peluang Wilayah Penduduk Miskin

(Dar dan Bantilan, 2005)

Daerah lahan kering dengan faktor pembatas:

Degradasi lahan dan keterbatasan air

Keterbatasan infrastruktur dan ketersediaan/akses teknologi

Malnutrisi dan migrasi karena faktor kekeringan

Marginalisasi sosial-budaya dan keterbatasan

peluang ekonomi (pertanian, off-farm, kesempatan kerja perkotaan)

Dampak negatif kebijakan dan liberalisasi terhadap

daya saing komoditas lahan kering

(9)

9

C. KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

1. Karakteristik dan Peluang Wilayah Penduduk Miskin

(Dar dan Bantilan, 2005)(Continued)

Peluang pertanian lahan kering

Diversifikasi pertanian melalui pengembangan peternakan

Pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi dengan orientasi ekspor/substitusi

impor

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(10)

C. KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

1. Strategi Pengembangan Lahan Kering

(Dar dan

Bantilan, 2005)

Pembagunan dan pertumbuhan berkelanjutan multi- dimensi (pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan bagi semua pihak)

Sinergi pelaksanaan pembangunan dengan prioritas instrumen kebijakan:

Air sebagai katalis pembangunan

Reorientasi kebijakan publik dan target dengan sasaran peningkatan produtivitas/pengentasan kemiskinan

Diversifikasi dengan fokus integrasi ternak-tanaman

Perbaikan pengelolaan DAS dan sumberdaya publik dengan pendekatan berbasis masyarakat

Orientasi pasar dan pemasaran komoditas lahan kering

Pengembangan kapasitas dan jaringan kerjasama serta

inovasi kelembagaan pengembangan lahan kering

(11)

11

C. KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

3. Kondisi Perumahan dan Akses Infrastruktur Publik

(SUSENAS 2004, BPS Jakarta; World Bank, 2006)

Kondisi perumahan (miskin versus tidak miskin)

Rumah berlantai tanah: 28.8 % versus 23.0 %

Jamban sendiri/bersama: 55.6 % versus 75.3 %

Kondisi luar Jawa lebih buruk daripada di Jawa

Akses infrastruktur publik (miskin versus tidak miskin)

Air bersih: 42.6 % versus 59.2 %

Listrik: 78.9 % versus 90.6 %

Kondisi luar Jawa lebih buruk daripada di Jawa

Akses infrastruktur publik lainnya (miskin versus penduduk Indonesia)

Sanitasi yang baik: 27 % versus 51 %

Tinggal di desa dengan SLTP: 50 % versus 58 %

Tinggal di desa dengan telepon:51 % versus 64 %

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(12)

C. KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

4. Kinerja dan Antisipasi Kedepan

Kondisi perumahan yang kurang kondusif akan berdampak terhadap kesehatan dan produktivitas

Akses infrastruktur publik akan berdampak pada pengembangan SDM dan kesempatan/kinerja

berusaha

Pencapaian saat ini relatif memadai, perlu

ditingkatkan, dan dikomplemen dengan perbaikan kinerja penbangunan sektor riil

Perlu fokus pada daerah seperti Banten, luar Jawa

dan daerah tertinggal

(13)

13

C. KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

5. Penguasaan dan Akses Sumberdaya Lahan Penduduk Miskin

(Rusastra et.al. 2007)

a) Distribusi penguasaan lahan pertanian

Gini rasio distribusi penguasaan lahan 1973-2003:

0,5481  0,7171

Ketimpangan ini dinilai sangat tinggi: Gini rasio > 0.50

(Oshima, 1976)

Ketimpangan di Jawa > daripada di Luar Jawa: Gini rasio 2003 = 0,7227 versus 0,5816

Penguasaan lahan < 0,10 Hektar adalah sumber ketimpangan penguasaan lahan

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(14)

C. KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

5. Penguasaan dan Akses Sumberdaya Lahan Penduduk Miskin

(Rusastra et.al. 2007) (Continued)

b) Dinamika petani kecil dan luas penguasaan lahan

Rumah tangga petani kecil (< 0,50 hektar) 1993-2003:

Proporsi meningkat dari 52.66 % menjadi 56.20 %

Laju peningkatan: 2.39 % per tahun

Luas penguasaan lahan 1993-2003:

Kategori penguasaan < 0.50 hektar: 0.09  0.07 hektar

Kategori penguasaan > 2.00 hektar: 2.80  3.26 hektar

Fakta dinamika distribusi dan luas penguasaan lahan:

Indikasi polarisasi penguasaan lahan

Lemahnya akses petani kecil dalam penguasaan lahan

Kecilnya penguasaan lahan adalah sumber kemiskinan

(15)

15

C. KARAKTERISTIK WILAYAH DAN AKSES INFRASTRUKTUR/

SUMBERDAYA

6. Antisipasi Kebijakan Ekonomi Lahan bagi Kelompok Miskin

(diadopsi dari Janvry dan Sadoulet, 2001; Rusastra, 2007)

Pengembangan penguasaan lahan komunal bagi masyarakat dengan modal sosial tinggi

Penguasaan dan registrasi formal bagi daerah dengan tingkat kelangkaan lahan tinggi dan modal sosial

masyarakat rendah

Pengembangan sistem kontrak/bagi hasil dalam kondisi adanya kegagalan pasar dan kelembagaan

Pengembangan pasar lahan informal bila ketersediaan lahan melimpah dan modal sosial memadai

Distribusi lahan (dibandingkan dengan redistribusi)

nampak lebih fisible dan praktis bagi tunakisma dan petani kecil

Reformasi lahan perlu didukung oleh reformasi agraria, pedesaan dan ekonomi, serta dikoordinasi dalam

implementasinya oleh institusi dengan tingkat otoritas yang tinggi

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(16)

D. KARAKTERISTIK KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

1. Struktur Keluarga dan Kesempatan Kerja Penduduk Miskin, 2004

Ukuran keluarga > 5 orang = 48 %

Proporsi penduduk miskin (terhadap total penduduk):

Laki-laki 16.6 % dan Perempuan 16.7 %

Proporsi kepala rumah tangga miskin (terhadap jumlah penduduk miskin): Laki-laki 91.6 % dan Perempuan 8.4 %.

Tidak ada perbedaan berarti antar Jawa dan luar Jawa

Proporsi penduduk miskin yang bekerja di sektor pertanian: Jawa = 42.3 % dan luar Jawa = 75.4 %

Status pekerja Kepala Keluarga miskin (%)

24.4 35.5

• Karyawan/buruh

67.6 48.8

• Berusaha sendiri

Luar Jawa Jawa

Status Pekerjaan

(17)

17

D. KARAKTERISTIK KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

2. Kinerja Pendidikan Penduduk Miskin, 2004

Pendidikan kepala keluarga penduduk miskin

Tidak/bukan tamat SD: 41.7 %

Sekolah Dasar: 38.4 %

SLTP dan SLTA: 19.2 %

Diatas SLTA: 0.8 %

Penduduk miskin umur 7-12 tahun

Partisipasi sekolah: 94.0 %

Putus sekolah: 1.2 %

Penduduk miskin umur 13-15 tahun

Partisipasi sekolah: 71.8 %

Putus sekolah: 9.5 %

Keragaan pendidikan Jawa versus luar Jawa relatif sama

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(18)

D. KARAKTERISTIK KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

1. Kinerja Kesehatan Penduduk Miskin, 2004

Proporsi balita diimunisasi (5 penyakit utama):

Keluarga miskin: 67.0 % (hepatitis B) – 82.9 % (polio)

Keluarga tidak miskin: 75.9 % (hepatitis B) – 90.0 % (BCG)

Penggunaan alat Keluarga Berencana

Keluarga miskin versus tidak miskin: 74.7 % versus 72.8 %

Persalinan dengan tenaga kesehatan

Keluarga miskin versus tidak miskin: 55.6 % versus 75.5 %

Keragaan kesehatan Jawa lebih baik dibandingkan luar Jawa

(19)

19

D. KARAKTERISTIK KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

4. Proporsi Pengeluaran Keluarga Penduduk Miskin (%)

Sumber: SUSENAS 2002, Biro Pusat Statistik, Jakarta (World Bank, 2006)

100 100

TOTAL

25.9 3. BARANG, SANDANG, JASA, DAN 14.8

LAIN-LAIN

18.8 14.7

2. PERUMAHAN DAN FASILITASNYA

55.3 70.5

Sub-Total

6.6 6.3

Sirih/tembakau

21.3 24.3

Pangan lainnya

18.0 15.8

Hewani/sayur/pangan jadi

9.4 24.1

Beras 1. PANGAN

TIDAK MISKIN MISKIN

JENIS PENGELUARAN

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(20)

D. KARAKTERISTIK KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

5. Kinerja dan Antisipasi Kedepan

(diadaptasi dari World Bank, 2006)

Perbaikan investasi sumberdaya manusia (SDM): Pendidikan dasar, bantuan kelahiran, immunisasi dan motalitas bayi

Indikator SDM yang tertinggal: Transisi pendidikan lanjutan, kematian ibu saat melahirkan, malnutrisi anak, akses air bersih dan sanitasi

Antisipasi pendidikan terkait dengan kemiskinan:

Perbaikan kwalitas pendidikan: sistem pengajaran,

kwalitas dan gaji guru, insentif guru didaerah tertinggal dan investasi materi/buku pelajaran

Keterjangkauan pendidikan: pemantapan program BOS, BLT bersyarat pendidikan, minimasi biaya tidak resmi (diluar tuition fee)

Ketersediaan infrastruktur pendidikan: akses pendidikan dasar, kwalitas kehadiran guru di daerah terpencil,

perbaikan manajemen dan insentif guru, peningkatan

(21)

21

D. KARAKTERISTIK KELUARGA MISKIN DI PEDESAAN

5. Kinerja dan Antisipasi Kedepan

(diadaptasi dari World Bank, 2006) (Continued)

Antisipasi kesehatan terkait dengan kemiskinan

Perbaikan kwalitas pelayanan kesehatan di Puskesmas

Investasi pelatihan tenaga paramedik terkait dengan peningkatan pelayanan bagi penduduk miskin di

pedesaan

Peningkatan kemampuan penduduk miskin untuk akses pada pelayan kesehatan (program transfer tunai, sistem voucher, program kartu sehat, dan lain-lain)

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(22)

E. KESIMPULAN

1. Pengembangan SDM Penduduk Miskin

Transisi pendidikan dasar kependidikan lanjutan:

Perbaikan kwalitas, keterjangkauan dan ketersediaan infrastruktur pendidikan

Investasi pelatihan paramedik, peningkatan akses kesehatan, dan perbaikan kwalitas pelayanan

ditingkat Puskesmas

Perbaikan pendidikan dan kesehatan dari sisi

supply and demand sides ” dengan keberpihakan

penduduk miskin

(23)

23

E. KESIMPULAN

2. Pengembangan Wilayah/Infrastruktur dan Akses Sumberdaya Alam

Pengembangan wilayah lahan kering dan lahan marginal

Penduduk miskin adalah agen dan korban kerusakan lingkungan

Perbaikan akses air bersih dan perbaikan sanitasi bagi penduduk miskin

Lahan adalah aset terpenting, sehingga ketersediaan dan akses lahan bagi penduduk miskin adalah suatu keharusan

Reformasi lahan yang dikomplemen dengan reformasi pertanian dan ekonomi pedesaan, dengan

keberpihakan penduduk miskin

Rusastra dan Napitupulu. 2007. Seminar Nasional. PSEKP. 21 Agustus 2007, Bogor

(24)

E. KESIMPULAN

3. Reorientasi pendekatan dan program Pengentasan Kemiskinan

Basis reorientasi adalah kompleksitas karakteristik dan permasalahan penduduk miskin

Reorientasi ke pendekatan holistik multisektoral berbasis komunitas dan bersifat partisipatif

Pemantapan pembangunan pedesaan dan integrasi desa-kota melalui strategi pembangunan dan

pertumbuhan ekonomi pro-kelompok miskin

Fokus pada revitalisasi pertanian, UMKM, kesempatan kerja informal, dan kesetaraan gender

Pemantapan dan perluasan Program Keluarga Harapan (PKH/ Conditional Direct Cash Transfer ) di daerah

Program Pengembangan Kecamatan (PPK/ multisectoral

community based development program )

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga, IDBM dan E. Hermiati, 2003. Pola Nafkah Lokal: Acuan

Pengkajian Kemiskinan di Era Otonomi Daerah (Kasus Provinsi Nusa Tenggara Timur). Jurnal Ekonomi Rakyat. Artikel Tahun I No. 12.

Februari 2003, Jakarta. www.ekonomirakyat.org

Bourgeois, R. 2006. Secondary Crops, Rural Poverty and Policy Bias.

Farming a Way Out of Poverty: Forgotten Crops and Marginal

populations in Asia and Pacific. (Ed. Robin Bourgeois, et.al. 2006) CAPSA Monograph No. 48, UNESCAP-CAPSA, Bogor, Indonesia

Dar, D.W. and C. Bantilan. 2005,. Asian Dryland Agriculture: Ideas, Paradigns and Policies. International Conference on Agricultural and Rural Development in Asia: Ideas, Paradigms, and Policies Three

Decades After. 10-11 November 2005. Mandarin Oriental Hotel, Makati, Philippines. SEARCA, Los Baños, The Philippines

Jakarta Post. 30 July 2007. Attach on Poverty Escalated. Editorial.

Jakarta Post, Monday Edition, 30 July 2007, Jakarta

Janvry, A. and E. Sadoulet. 2001. Access to Land and Land Policy

Reforms. Policy Brief No. 3. World Institute for Development Economic Research. The United Nation University, Helsinki, Finland

Mubiyarto. 2002. Penanggulangan Kemiskinan di Jawa Tengah dalam Era Otonomi Daerah. Jurnal Ekonomi Rakyat. Artikel Tahun I No. 7, November 2002, Jakarta. www.ekonomirakyat.org

25

(26)

DAFTAR PUSTAKA

(Continued)

Rusastra, I W. 2007. Land and Household Economy: Policies for Poverty Reduction. CAPSA Flash Volume 5 No. 7, July 2007. UNESCAP-CAPSA, Bogor, Indonesia

Rusastra, I W., E.M. Lokollo, and S. Priyatno. 2007. Land and Household Economy: Analysis of Agricultural Census 1983-2003. National Seminar on “Land and Household Economy 1970-2007: Changing Roads for

Poverty Reduction” jointly organized by the Indonesian Center for Agricultural Socio Economic and Policy Studies (ICASEPS) and UN CAPSA on 25 June 2007, in Bogor, Indonesia

Rusastra, I W., M. Ariani, dan H.P.S. Rachman. 2007. Kesejahteraan dan pemikiran Penanggulangan Kemiskinan Petani. Kinerja dan Prospektif Pembangunan Pertanian Indonesia (Ed. Kedi Suradisastra, et.al. 2007).

Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor

Sudaryanto, T. dan I W. Rusastra. 2006. Kebijakan Strategis Usaha Pertanian dalam Rangka Peningkatan Produksi dan Pengentasan

Kemiskinan. Seminar International Multifungsi Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 27-28 Juni 2006. Lido Lake Resort and Conference, Bogor

World Bank. 2006. Making the New Indonesia Work for the Poor. The

(27)

27

Terima Kasih

(28)

LAMPIRAN:

Tabel

(29)

2

Tabel 1. Dinamika Proporsi Penduduk Miskin di Pedesaan Indonesia, 2000-2006

Sumber: Irawan dan Ramdiati, 2000; Santoso, 2005; Biro Pusat Statistik (2003, 2004);

Kompas, 2 September 2006

39.05 17.75

13.36 21.90

2006

35.10 15.97

11.37 19.51

2005

36.20 16.66

12.13 20.11

2004

37.34 17.42

13.57 20.23

2003

38.40 18.20

14.46 21.10

2002

37.10 18.41

9.76 24.95

2001

38.74 19.14

14.60 22.38

2000

TOTAL KOTA

DESA TOTAL (JUTA)

PROPORSI PENDUDUK MISKIN (%) TAHUN

2

(30)

Tabel 2. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P

1

) dan Indeks

Keparahan Kemiskinan (P

2

) di Indonesia, 2002-2004

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

0.78 0.85

0.79

• Indonesia

0.94 1.00

1.08

• Luar Jawa

0.62 0.70

0.50

• Jawa

2. INDEKS KEPARAHAN KEMISKINAN (P2)

2.89 3.13

3.01

• Indonesia

3.43 3.62

3.43

• Luar Jawa

2.35 2.64

2.59

• Jawa

1. INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN (P1)

2004 2003

2002 URAIAN

(31)

4

Tabel 3. Proporsi Penduduk Miskin Berdasarkan Bidang Pekerjaan di Indonesia, 2000-2004

Sumber: Biro Pusat Statistik, Jakarta, 2003, 2004

36.147 35.681

38.873 TOTAL (1000 JIWA)

27.08 21.22

25.17 4. Jasa

5.60 12.53

13.84 3. Industri

58.83 57.75

51.73 2. Pertanian

8.49 8.61

9.26 1. Tidak bekerja

2004 2002

2000

PROPORSI PENDUDUK MISKIN (%) JENIS PEKERJAAN

(32)

Tabel 4. Proporsi Rumah Tangga menurut Kondisi

Perumahan dan Akses Infrastruktur Publik di Indonesia, 2004 (%)

• Listrik

• Air bersih

• Jamban sendiri/bersama

• Lantai tanah

• Listrik

• Air bersih

• Jamban sendiri/bersama

• Lantai Tanah

90.55 83.23

97.87

59.24 49.42

69.06

75.25 70.42

80.01

13.03 13.26

12.80 2. TIDAK MISKIN

78.87 65.33

92.44

42.55 30.52

54.58

55.60 52.47

58.73

28.75 31.17

26.33 1. KELUARGA MISKIN

INDONESIA LUAR

JAWA JAWA URAIAN

(33)

6

Tabel 5. Proporsi Penduduk Miskin Menurut Jenis Kelamin Penduduk dan Kepala Rumah Tangga di Indonesia, 2000-2004

1) Persentase terhadap total penduduk wilayah bersangkutan

2) Persentase terhadap total penduduk miskin wilayah bersangkutan

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

100.00 8.38

91.62

• Indonesia

100.00 7.21

92.79

• Luar Jawa

100.00 9.55

90.45

• Jawa

2. KEPALA RUMAH TANGGA2)

16.66 16.72

16.61

• Indonesia

19.29 19.44

19.16

• Luar Jawa

14.03 14.00

14.06

• Jawa

1. PENDUDUK MISKIN1)

TOTAL PEREMPUAN

LAKI URAIAN

(34)

Tabel 6. Proporsi Penduduk Miskin Menurut Lapangan Pekerjaan Rumah Tangga di Indonesia, 2004

1)

1) Presentase terhadap total penduduk miskin wilayah bersangkutan

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

36.147 15.664

20.483 TOTAL (1000 KK)

27.08 16.89

37.27 4. Lainnya

5.60 3.27

7.93 3. Industri

58.83 75.37

42.29 2. Pertanian

8.49 4.47

12.51 1. Tidak bekerja

INDONESIA LUAR

JAWA JAWA LAPANGAN PEKERJAAN

(35)

8

Tabel 7. Proporsi Penduduk Miskin Menurut Status

Pekerjaan Kepala Rumah Tangga di Indonesia, 2004

1)

0.66 0.73

0.59 5. Pekerja keluarga

1) Presentase terhadap total penduduk miskin wilayah bersangkutan

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

36.147 15.664

20.483 TOTAL (1000 KK)

29.90 24.35

35.45 4. Karyawan/buruh

2.72 2.81

2.63 3. Berusaha dibantu

58.23 67.64

48.82 2. Berusaha sendiri

8.49 4.47

12.51 1. Tidak bekerja

INDONESIA LUAR

JAWA JAWA STATUS PEKERJAAN

(36)

Tabel 8. Proporsi Penduduk Miskin Menurut Pendidikan Kepala Rumah Tangga di Indonesia, 2004

1)

0.75 1.11

0.39 5. Diatas SLTA

1) Presentase terhadap total penduduk miskin wilayah bersangkutan

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

36.147 15.664

20.483 TOTAL (1000 KK)

7.72 6.88

8.56 4. SLTA

11.50 12.03

10.97 3. SLTP

38.36 39.88

36.84 2. Sekolah Dasar

41.67 40.10

43.24 1. Tidak belum tamat SD

INDONESIA LUAR

JAWA JAWA PENDIDIKAN

(37)

10

Tabel 9. Angka Partisipasi sekolah dan Putus Sekolah

kelompok Usia 7-12 Tahun di Indonesia, 2004 (%)

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

0.99 1.23

0.75

• Total

0.79 1.00

0.58

• Tidak miskin

1.72 1.98

1.46

• Miskin

2. PUTUS SEKOLAH

96.77 95.87

97.67

• Total

97.52 96.86

98.18

• Tidak miskin

93.96 92.81

95.11

• Miskin

1. PARTISIPASI SEKOLAH

INDONESIA LUAR

JAWA JAWA URAIAN

(38)

Tabel 10. Angka Partisipasi Sekolah dan Putus Sekolah

kelompok Usia 13-15 Tahun di Indonesia, 2004 (%)

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

4.67 6.32

3.02

• Total

3.54 4.92

2.16

• Tidak miskin

9.45 10.08

8.82

• Miskin

2. PUTUS SEKOLAH

83.49 80.88

86.10

• Total

86.37 84.10

88.64

• Tidak miskin

71.81 71.00

72.62

• Miskin

1. PARTISIPASI SEKOLAH

INDONESIA LUAR

JAWA JAWA URAIAN

(39)

12

Tabel 11. Proporsi Balita Keluarga Miskin yang telah Imunisasi di Indonesia, 2004 (%)

75.88 78.77 89.44 88.08 89.96 66.95 70.99 82.89 80.45 82.14 INDONESIA

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

72.01 79.75

• Hepatitis B

76.59 80.95

• Campak

87.04 91.84

• Polio

85.00 91.16

• DPT

87.32 92.60

• BCG

2. KELUARGA TIDAK MISKIN

64.34 69.56

• Hepatitis B

70.50 71.48

• Campak

81.62 84.16

• Polio

77.76 83.14

• DPT

80.29 83.99

• BCG

1. KELUARGA MISKIN

LUAR JAWA JAWA

URAIAN

(40)

Tabel 12. Proporsi Pengguna Alat Keluarga Berencana dan

Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan bagi

Keluarga Miskin dan Tidak Miskin di Indonesia, 2004 (%)

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, 2004 (Biro Pusat Statistik, Jakarta)

2. PERSALINAN DENGAN TENAGA KESEHATAN

INDONESIA LUAR

JAWA JAWA URAIAN

71.52 65.71

77.33

• Total

75.54 70.25

80.83

• Tidak miskin

55.64 50.60

60.68

• Miskin

73.07 72.98

73.16

• Total

72.80 72.80

72.80

• Tidak miskin

74.72 72.44

77.00

• Miskin

1. PENGGUNAAN ALAT KELUARGA BERENCANA

(41)

14

Tabel 13. Proporsi Pengeluaran Keluarga Miskin Menurut Jenis Komoditas dan kebutuhan di Indonesia, 2002 (%)

100 100

100 TOTAL

Sumber: SUSENAS, 2002, Biro Pusat Statistik, Jakarta (World Bank 2006)

1.6 1.8

0.7 12. Perayaan dan hari raya/seremonial

0.8 0.9

0.3 11. Pajak dan asuransi

4.1 4.8

1.0 10. Barang tahan lama

5.2 5.1

5.4 9. Pakaian dan sejenisnya

12.2 13.3

7.3 8. Barang dan jasa

18.0 18.8

14.7 7. Perumahan dan fasilitasnya

21.9 21.3

24.3 6. Pangan lainnya

9.8 10.3

6.7 5. Makanan dan minuman jadi

3.3 3.4

2.5 4. Telur dan susu

4.7 4.3

6.6 3. Sayur-sayuran

6.8 6.6

6.3 2. Sirih & Tembakau

11.8 9.4

24.1 1. Beras

TOTAL TIDAK

MISKIN MISKIN

KOMODITAS/KEBUTUHAN

(42)

Tabel 14. Profil Penduduk Miskin Indonesia, 2004

47 32

• Kelahiran dibantu dukun

MISKIN INDONESIA

28 25

12. Anak Balita: • Malnutrisi

49 36

11. Tinggal di desa tanpa akses telepon

50 42

10. Tinggal di desa tanpa SLTP

22 16

9. Pekerja keluarga tidak di bayar

75 60

8. Bekerja di sektor informal

64 44

7. Bekerja di pertanian

16 11

6. Buta aksara

55 43

5. Pendidikan < SD

48 28

4. Ukuran keluarga lebih dari 5 orang

73 49

3. Tidak akses sanitasi yang memadai

52 44

2. Tidak akses air bersih

69 57

1. Tinggal di pedesaan

KONDIDSI SETIAP 100 ORANG KOMODITAS

Gambar

Tabel 1. Dinamika Proporsi Penduduk Miskin di Pedesaan  Indonesia, 2000-2006
Tabel 2. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) dan Indeks
Tabel 3. Proporsi Penduduk Miskin Berdasarkan Bidang  Pekerjaan di Indonesia, 2000-2004
Tabel 4. Proporsi Rumah Tangga menurut Kondisi
+7

Referensi

Dokumen terkait

JURUSAN/PRODI : EKONOMI DAN BISNIS ISLAM IAIN SURAKARTA Terkait penelitian skripsi saya yang berjudul “PENGARUH FINANCIAL DISTRESS, PENERBITAN OPINI GOING CONCERN, DAN

Hanya saja apakah gaya kepemimpinan transformasional manajer keperawatan dan dalam pemberlakuan sistem kompensasi tersebut telah dinilai adil oleh karyawan pada RSU

1) Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dilakukan kepada mahasiswa UNSRAT, bahwa sebagian mahasiswa.. UNSRAT belum mengenal semua lokasi di UNSRAT yaitu 79,8% dan

Untuk menentukan beda potensial antara C 1 dan C 2 (Gambar 5) prinsipnya sama dengan pada probe 2 titik di bagian kedalaman bahan bulk, hanya saja untuk probe yang

Kandungan Nitrogen yang dibutuhkan pada semua tanaman Tomat ini adalah tinggi, sedangkan unsur Nitrogen yang terdapat pada tanah dan abu batubara adalah sedang, diperkirakan

Tugas akhir ini akan membahas mengenai simulasi sistem dinamik terhadap faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan industri UKM pada sektor pertanian di Jawa Timur dan

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan (menghitung dan menetapkan) sendiri besarnya pajak yang terutang dan

Solusi dari permasalahan diatas adalah membuat sebuah aplikasi lowongan kerja berbasis web dimana nantinya pelamar dapat langsung membuat lamaran pekerjaan yang