• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Secara geofrafis, Indonesia merupakan Negara yang terletak pada rangkaian cincin api yang membentang sepanjang lempeng pasifik yang merupakan lempeng tektonik paling aktif sepanjang dunia (zona the pacific ring of fire) dalam artikel Yogyakarta and ring of fire (Surojaya:2019) yang dikutip dari Kramer (1996). Letak Indonesia ini, menjadikannya salah satu negara yang rentan akan bencana. Chester Hartman dan Gregory D Squires (2006) berpendapat bahwa “in cities seem like natural disaster forces and nature. The flooding of the city was a result of the poorly designed levels, a result of inadequate funding of public works. They argued that effect of hurricane Katrina were socially and racially determine : flooding disproportionately affected foorest neighborhoods of the city, and the hardes hit neighboords where nonwhite.

Disaster perceived to be natural seem to be easier for victims to comprehend, they are often seen as act of god”. Definisi bencana menurut Chester Hartman dan Gregory D Squires digunakan sebagai definisi bencana yang paling relevan dalam manajemen bencana modern ini. Menurut Chester Hartman dan Gregory D Squires ini, belajar dari badai Katrina yang terjadi di Amerika Serikat merupakan bencana yang memandang ras, dan status social karena badai hanya terjadi pada daerah dengan golongan nonkulit putih. Bencana yang dimaksudkan ini oleh karena buruknya infrastruktur yang ada sehingga ketika badai datang semuanya rusak dan merugikan, tetapi tidak disadari oleh para korban yang menganggap bahwa bencana yang ada itu karena alam yang bergejolak dan juga act of god. Menurut Coburn, A. W. (1994) di dalam UNDP mengemukakan bahwa: bencana adalah suatu kejadian atau serangkaian kejadian yang meningkatkan jumlah korban dan kerusakan, kerugian harta benda, infrastruktur, pelayanan-pelayanan penting, atau sarana kehidupan pada satu skala yang berada diluar kapasitas norma.

Pada 28 September 2018, Indonesia dikejutkan dengan terjadinya gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi dalam waktu yang hanya berbeda beberapa menit di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa Bumi dan Tsunami bukanlah hal yang baru terjadi di Indonesia, beberapa daerah seperti Aceh pada tahun 2004, gempa bumi di Lombok pada 2018 dan masih banyak daerah di Indonesia yang telah mengalami bencana membenarkan bahwa Indonesia merupkan zone the

(2)

2

pacific ring of fire. Bencana yang terjadi di Kota Palu merupakan bencana beruntut yang diawali dengan gempa bumi dengan kekuatan 7,5 Skala Richter, kemudian Tsunami yang menerjang Pantai Talise dan Donggala dengan ketinggian 0,5-3 meter, lalu Likuifaksi terjadi di daerah Petobo (CNN Indonesia:2019). BBC Indonesia (2018) dalam laporannya mengungkapkan tiga jenis bencana yang terjadi secara bersamaan tentunya menelan banyak korban jiwa dan kerugian dalam tingkat yang besar, tercatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 10 Oktober 2018 korban meninggal dunia 2.256 jiwa, hilang 843 jiwa, dan luka-luka 10.679 jiwa.

Badan Pusat Statistik (BPS) menggambarkan Kota Palu sebagai wilayah lima dimensi, terdiri atas lembah, pegunungan, sungai, lautan, dan teluk. Masyarakat Kota Palu sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan, petani, dan juga pedagang hasil alam. Dengan bermatapencaharian seperti ini, masyarakat tentunya bergantung pada hasil tani, kebun, dan hasil alam yang ada. Kota Palu dijadikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di, dan juga merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, dimana segala kegiatan administrasi dan pemerintahan terpusat di Kota Palu. Mata pencaharian tentunya sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat, bagaimana masyarakat dapat memenuhi kebutuhan tergantung matapencaharian.

Dengan terjadinya bencana (gempa bumi, tsunami, dan juga likuifaksi) di Kota Palu, tentunya selain memakan korban jiwa, ada banyak aspek yang akan merasakan dampaknya, salah satunya aspek ekonomi. Hal ini juga dijelaskan oleh Mushed (2004) dan Sholuf (2007) dalam jurnal Evaluasi Kebijakan Pemerintah Pasca Bencana (2020) bahwa bencana dapat menjadi ancaman yang serius terhadap fungsi sebuah komunitas masyarakat dan akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Kerusakan infrastruktur, bangunan perumahan dan kerugian besar- besaran yang sebelumnya sangat memabantu pertumbuhan ekonomi merupakan dampak yang langsung terlihat dan dirasakan oleh masyarakat. BNPB Indonesia (2019) melaporkan kerusakan akibat bencana di Palu mencapai USD 95 Juta (Rp 13.82 Triliun). Masyarakat kehilangan tempat tinggal, dan juga alam yang rusak menjadikan tidak dapat berpenghasilan bagi mereka yang bergantung pada hasil alam dan tidak dapat langsung dipulihkan bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat kembali berproduksi. Kerugian dan kerusakan yang disebabkan oleh bencana mencakup lima sektor pembangunan, perumahan, infrastruktur, ekonomi, sector sosial, dan lintas sektor. Sedangkan kerugian terbesar yang didapatkan ada pada sektor kerusakan bangunan dan korban jiwa. Selain kerugian ekonomi, tentunya dampak sosial juga menjadi perhatian tentang

(3)

3

bagaimana persepsi manusia atau masyarakat atas apa yang mereka rasakan dan pengalaman emosional pada kejadian yang telah mengancam keberlangsungan hidup mereka.

Peran pemerintah tentunya sangat dibutuhkan untuk recovery pasca bencana, namun dengan terjadinya bencana pada beberapa titik sentral Kota Palu secara bersamaan, pemerintah membutuhkan bantuan dari organisasi kemanusiaan, organisasi internasional, atau bahkan negara- negara yang menjalin kerjasama dengan pemerintah Indonesia. Ekonomi kemudian menjadi hal sentral yang perlu menjadi perhatian, karena ekonomi merupakan salah satu kunci masyarakat dapat bertahan hidup dalam kondisi pasca bencana. Pemerintah Indonesia mendapatkan bantuan dari 17 negara yang berkontribusi dalam proses evakuasi dan recovery Kota Palu, antara lain Amerika Serikat, Perancis, Ceko, Swiss, Norwegia, Hungarian Turki, Uni Eropa, Australia, Korea Selatan, Arab Saudi, Qatar, Selandia Baru, Singapura, Thailand, Jepang, India, dan China. Bantuan yang disalurkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI) sebesar 220 miliar yang ditransferkan langsung kepada pemerintah, dalam hal ini (BNPB) (BBC:2018). Bantuan berupa dana ini setidaknya dapat digunakan untuk menanggulangi kehidupan masyarakat yang terkena dampak bencana dan harus berada dalam pengungsian dalam jangka pendek. Namun, untuk perbaikan gedung, infrastruktur, dan lain-lain membutuhkan waktu yang panjang dan menajemen dana khusus. Hal ini menjadi penting untuk dapat menata dan menjamin masyarakat agar dapat bertahan hidup dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi juga menjadi langkah awal untuk membangun kembali pertumbuhan ekonomi. Bagaimanapun, Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut menandatangani Sustainable Development Goal’s (SDG’s) yang merupakan rencana aksi global untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan juga melindungi lingkungan secara merata dan dalam kondisi apapun (Sustainable Development Goal’s:2021). SDG’s merupakan salah satu gagasan program dari United Nation Development Programme (UNDP) yang tujuan utamanya adalah untuk mensejahterahkan dunia. Telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai wujud komitmen akan pelaksanaan SDG’s.

United Nation Development Programme (UNDP) sebagai pengagas pembangunan berkelanjutan dan salah satu fungsinya adalah pemulihan wilayah atas bencana alam maupun bencana social (https://berkas.dpr.go.id/) (diakses pada 30 Juli 2021) hadir untuk mendukung pemulihan dan memprioritaskan pada pembangunan infrastruktur yang dianggap paling penting

(4)

4

untuk mendukung pemulihan sepenuhnya pasca bencana di Kota Palu (UNDP:2020). Pada penelitian terdahulu dalam penelitian ini, UNDP berperan untuk membantu tidak hanya bencana social tetapi juga aktif dalam melihat isu-isu lingkungan seperti perubahan iklim, dan juga bencana alam. UNDP selalu hadir dengan menawarkan program-program jangka panjang untuk dijalankan.

Begitupula UNDP hadir di Kota Palu pasca bencana alam, Program yang dibuat tentunya merupakan proyek jangka panjang, karena proses pemulihan ekonomi pasca bencana membutuhkan waktu. Selain UNDP, United Nations International Children Emergency Fund (UNICEF) juga hadir dalam membantu pemulihan pada bidang pendidikan dan psikologis anak- anak pasca bencana ini. Dalam penelitian ini akan berfokus pada UNDP, tentang bagaimana perannya dalam menjalankan fungsinya sebagai garis depan dialog pembangunan dan pendukung pemulihan wilayah bencana alam yang befokus pada negara-negara anggotanya dan negara berkembang.

1.2.Rumusan Masalah

Bagaimana peranan United Nation Development Programme (UNDP) terkait Economic Growth atau Pertumbuhan Ekonomi pasca bencana di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2018-2021?

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peranan United Nation Development Programme (UNDP) terkait Economic Growth atau Pertumbuhan Ekonomi pasca bencana di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2018-2021.

1.4.Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian sejatinya adalah bentuk kontribusi yang diberikan penelitian pada beberapa bidang tertentu yang dituju. Terkait hal itu, peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berarti pada studi bidang keilmuan Hubungan Internasional baik secara praktis maupun teoretis.

1. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini ialah agar dapat menjadi referensi dan pengetahuan baru bagi masyarakat Kota Palu mengenai peran United Nation Development Programme (UNDP) dan

(5)

5

juga realisasi pemerintah dalam memulihkan dan membangun kembali perekonomian daerah bencana Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

2. Manfaat Teoretis

Adapun manfaat teoretis penelitian ini adalah, peneliti berharap dapat menambah sudut pandang baru bagi mahasiswa studi Hubungan Internasional mengenai peran atau posisi non-state actor dalam membantu atau mengisi ‘lubang-lubang’ pemerintah ketika terjadi bencana seperti di gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Juga melalui penelitian ini, diharapkan dapat memperkaya gaya pemikiran dan analisis mahasiswa studi Hubungan Internasional dengan melihat penerapan teori pada kasus yang diangkat dalam penelitian ini.

1.5.Batasan Penelitian

Adapun titik-titik batasan tertentu yang ditarik peneliti dalam penulisan penelitian ini dengan maksud tujuan agar tidak meluasnya pembahasan ke topik yang tidak relevan dan mengurangi hilangnya fokus ke topik utama. Titik batasan yang dimaksud peneliti, yaitu:

1. Penelitian ini hanya akan menyoroti dinamika ekonomi Kota Palu sebelum sampai dengan pasca bencana yaitu pada tahun 2018-2021. Kota Palu dipilih sebagai Kota yang akan diteliti karena bencana yang terjadi pada titik titik wilayah yang berbeda dan dalam waktu sama.

2. Rentang waktu penelitian hanya akan melihat pada pasca bencana (2018-2021), dengan mempertimbangkan ketersediaan kelengkapan data yang akan dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu sampai tahun 2021, dan juga memperhatikan proses rekonsiliasi dan rehabilitasi pasca bencana di Indonesia berada pada kisaran tiga hingga lima tahun.

3. Penelitian ini hanya akan mendeskripsikan peran UNDP beserta program yang dilakukan pada kehadirannya untuk membantu pemerintah dalam merehabilitasi dan merekonstruksi Kota Palu pasca bencana, dan juga memberikan analisis peran UNDP terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan pasca bencana melalui program- program yang dijalankan oleh UNDP di Kota Palu.

(6)

6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Setelah itu teller akan memanggil dan nasabah akan memberikan sejumlah uang dan buku tabungan untuk meminta pencetakan transaksi setor tunai ke bank..

1 M.. Hal ini me nunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Pertukaran keanggotaan kelompok belajar

[r]

Mayoritas warga kampung nelayan pesisir Muara Angke memiliki keberanian menjadi wirausahawan karena tekanan ekonomi yang mendesak. Selain itu, mereka memiliki minat