Ch. 9 pp. 1694-1703, ISBN: 979-95721-2-19
1694
infrastructures
Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi
ANALISA INFRASTRUKTUR JEMBATAN
PENYEBERANGAN ORANG (JPO) BERDASARKAN KEBUTUHAN PEJALAN KAKI (STUDI KASUS:
JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) JALAN AHMAD YANI, BEKASI)
Sheila Aryntha Department of Civil Engineering
Faculty of Engineering
Universitas Indonesia, Kampus Baru UI Depok Depok 16424, Indonesia
R. Jachrizal Sumabrata Department of Civil Engineering
Faculty of Engineering
Universitas Indonesia, Kampus Baru UI Depok Depok 16424, Indonesia
Abstract
Pedestrian crossing bridge (JPO) planning ideally should meet the standards and needs of its users. The purpose of this study is to evaluate the physical condition of the JPO with the standards, analyzes level of service (LOS) of the bridge, and analyzing pedestrian bridge based on JPO’s user needs. Observations and measurements have been done in JPO components on Ahmad Yani Street, Bekasi. The results of this study show that the JPO on Ahmad Yani Street, Bekasi used in accordance with its function, is as much as 41.47% of users use the JPO to cross from Metropolitan Mall to Mega Bekasi Hypermall or otherwise. JPO’s level of service is E based on the speed of the pedestrian, while the level of service is worth C to E based on modules and pedestrian traffic volume. Most of the JPO components on Ahmad Yani Street, Bekasi does not conform to the standards although it has been fulfilling the needs of its users. JPO users on Ahmad Yani Street, Bekasi wanted a roof on a bridge ladder and also controlling beggars and traders around the JPO. The pedestrians’ level of obedience against JPO on Ahmad Yani Street, Bekasi is equal to 79.045%.
Keywords: Pedestrian Crossing Bridge; Standards; Level of Service; Pedestrian Needs; Obedience
Abstrak
Perencanaan JPO idealnya harus memenuhi standar dan juga kebutuhan penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi fisik JPO dengan standar, menganalisa tingkat pelayanan jembatan, serta menganalisa jembatan penyeberangan berdasarkan kebutuhan pengguna JPO. Komponen JPO di Jalan Ahmad Yani, Bekasi dilakukan pengukuran dan pengamatan kondisi fisik eksistingnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 41,47% pengguna menggunakan JPO untuk menyeberang dari Mall Metropolitan ke Mega Bekasi Hypermall atau sebaliknya. Tingkat pelayanan JPO berdasarkan kecepatan pejalan kaki bernilai E, sedangkan tingkat pelayanan berdasarkan modul dan volume arus pejalan kaki bernilai C hingga E. Sebagian besar komponen JPO di Jalan Ahmad Yani, Bekasi belum memenuhi standar walaupun telah memenuhi kebutuhan penggunanya. Pengguna JPO Jalan Ahmad Yani, Bekasi menginginkan adanya atap pada tangga jembatan dan juga penertiban pengemis dan pedagang disekitar JPO. Tingkat kepatuhan pejalan kaki terhadap JPO Jalan Ahmad Yani, Bekasi yaitu sebesar 79,045%.
Kata-kata kunci: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO); Standar; Tingkat Pelayanan; Kebutuhan Pejalan Kaki, Kepatuhan
PENDAHULUAN
Meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk berjalan kaki atau bersepeda untuk bermobilitas menjadi semakin mendesak karena transportasi merupakan sumber terbesar ketiga emisi CO2 di Indonesia, yaitu sebesar 89% dan 91% dalam hal konsumsi energi (Kemenhub & GIZ, 2014). Untuk mewujudkan target Indonesia menurunkan emisi gas
1695
rumah kaca dan meningkatkan efisiensi energi di sektor transportasi sebesar 30% di tahun 2020, pemerintah mengemukakan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas rumah Kaca (RAN GRK) dalam Peraturan Presiden Nomor. 61 tahun 2011, salah satunya yaitu pengembangan sistem transportasi yang ramah lingkungan dengan meningkatkan jalur serta fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda. Jembatan penyeberangan orang (JPO) merupakan salah satu fasilitas pejalan kaki yang berfungsi sebagai penghubung antar jalan dengan moda transportasi serta untuk melindungi pejalan kaki dan menghindari kecelakaan akibat menyeberang. Kebutuhan pejalan kaki terhadap fasilitas penyeberangan umumnya meningkat akibat faktor peningkatan volume lalu lintas di jalan raya. Salah satu dasar perencanaan jembatan peyeberangan untuk pejalan kaki yang dibangun melintas di jalan raya harus memenuhi kriteria keselamatan dan kenyamanan para pemakai jembatan serta keamanan bagi pemakai jalan yang melintas di bawahnya (Departemen Pekerjaan Umum, 1995). Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa perencanaan jembatan penyeberangan telah memenuhi standar apabila kriteria yang diharapkan terpenuhi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi fisik JPO dengan standar, menganalisa tingkat pelayanan JPO, dan menganalisa kebutuhan pejalan kaki yang dihubungkan dengan kondisi fisik dari jembatan penyeberangan, yang menghasilkan output analisa infrastruktur jembatan penyeberangan yang sebenarnya dibutuhkan oleh pejalan kaki.
METODOLOGI PENELITIAN
Perencanaan untuk menyediakan suatu fasilitas untuk pejalan kaki, khususnya jembatan penyeberangan perlu memperhatikan ketentuan atau kriteria dalam pembangunannya. Standar perencanaan jembatan penyeberangan orang tercantum dalam Pedoman Tata Cara Perencanaan Jembatan Penyeberangan untuk Pejalan Kaki di Perkotaan tahun 1995 Departemen Pekerjaan Umum dan Pedoman Persyaratan Umum Perencanaan Jembatan Nomor: 07/SE/M/2015 tanggal 23 April 2015 Kementerian Pekerjaan Umum.
Perencanaan fasilitas pejalan kaki mempunyai tingkat pelayanan yang menunjukkan tingkat kebebasan pejalan kaki. Tingkat pelayanan (Level of Service / LOS) dari jembatan penyeberangan dapat ditentukan berdasarkan perhitungan modul pedestrian (m2/orang), kecepatan pejalan kaki (m/menit), dan volume arus (orang/m/menit) dari pejalan kaki pengguna jembatan penyeberangan (Greenshields, Khisty, & TRB, 2006). Tingkat pelayanan tersebut dapat bernilai A sampai dengan F, nilai A menunjukkan bahwa fasilitas memungkinkan kebebasan bergerak pada pejalan kaki, sedangkan LOS nilai F menunjukkan kondisi ruang gerak yang terbatas (Peraturan Kementerian Pekerjaan Umum, 2014).
Kegiatan survei pengamatan dan pengukuran fisik jembatan dilakukan pada hari Rabu, 20 Januari 2016 untuk mendapatkan data teknis mengenai kondisi fisik jembatan penyeberangan di lokasi penelitian. Survei untuk pengambilan data volume, waktu perjalanan pejalan kaki, dan kuesioner kebutuhan pengguna jembatan penyeberangan dilakukan selama 5 (lima) hari kerja, hari Senin sampai dengan Jumat terhitung dari tanggal 1 – 5 Februari 2016. Survei dilakukan selama 8 (delapan) jam dalam satu hari survei, pukul 08.00 hingga 19.00. Survei penelitian ini dilakukan oleh 5 (lima) orang surveyor yang dibagi tugas berdasarkan kebutuhan survei.
Pertanyaan dalam kuesioner kebutuhan pejalan kaki akan jembatan penyeberangan ini terdiri dari 18 (delapan belas) pertanyaan, yang mencakup karakteristik responden,
1696
tanggapan kebutuhan akan jembatan penyeberangan, pendapat mengenai kondisi keseluruhan jembatan, serta kritik dan saran terhadap kondisi fisik jembatan penyeberangan.
Alternatif jawaban yang digunakan adalah pilihan ganda dan isian.
HASIL DAN ANALISA DATA
Jembatan penyeberangan ini menghubungkan dua pusat perbelanjaan besar di Bekasi yaitu Metropolitan Mall dan Mega Bekasi Hypermall. Jembatan ini digunakan sesuai dengan fungsinya yaitu untuk menyeberangi Metropolitan Mall menuju Mega Bekasi Hypermall atau sebaliknya, karena desire line (gambar 1) menunjukkan asal tujuan terbanyak pengguna jembatan penyeberangan dari tempat asal D (Metropolitan Mall) menuju tempat tujuan F (Mega Bekasi Hypermall) atau sebaliknya, sebanyak total 107 responden atau 41,47%.
Gambar 1 Pola Perjalanan (desire line) responden
Analisa Fisik Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)
Data hasil pengamatan dan pengukuran terhadap fisik JPO Jalan Ahmad Yani, Bekasi kemudian disesuaikan dengan standar perencanaan, seperti terlihat pada tabel 1:
Tabel 1 Kesesuaian Kondisi Fisik Eksisting JPO terhadap Standar Data Fisik Jembatan
Penyeberangan Orang (JPO)
Hasil Pengukuran Lapangan Standar (SNI tahun 1995 dan
2015)
Kesesuaian Fisik JPO terhadap Standar Tinggi (h) tanjakan
tangga
22 cm 15 – 21,5 cm Tidak
Memenuhi Lebar (w) injakan
tangga
32 cm (kiri); 40 cm (kanan) 21,5 – 30,5 cm Tidak Memenuhi Level istirahat (bordes)
tangga
1 x 2,3 m 5 x 2 m Tidak
Memenuhi
Lebar (w) tangga 1 m ≥ 2 m Tidak
Memenuhi
Kecuraman tangga 28,8°(kanan); 34,5°(kiri) ≤ 20° Tidak
Memenuhi Jumlah anak tangga 17 dan 12 anak tangga ≥ 18 per
pemberhentian
Tidak Memenuhi
Lebar (w) ramp Tidak terdapat ramp ≥ 95 cm Tidak
Memenuhi
Tinggi (h) jembatan 5,2 m ≥ 5 m Memenuhi
1697
Lanjutan Tabel 2 Kesesuaian Kondisi Fisik Eksisting JPO terhadap Standar Data Fisik Jembatan
Penyeberangan Orang (JPO)
Hasil Pengukuran Lapangan Standar (SNI tahun 1995 dan
2015)
Kesesuaian Fisik JPO terhadap Standar Lebar (w) jalur berjalan
diatas jembatan
1,62 m 2 m Tidak
Memenuhi Kondisi lantai jembatan Kondisi cukup baik meskipun ada
beberapa bagian lantai yang bolong dan juga cukup licin saat terjadi
hujan.
Lantai jembatan berkondisi baik
(tidak bolong)
Tidak Memenuhi
Tinggi (h) sandaran jembatan
1,5 m ≥ 1,35 m Memenuhi
Lebar bersih antar sandaran
1,62 m ≥ 1,8 m Tidak
Memenuhi Posisi atap Atap hanya berada di jalur berjalan
jembatan penyeberangan orang (JPO) dan tidak terdapat atap di
tangga jembatan
Atap berada di seluruh tangga dan
jalur berjalan JPO
Tidak Memenuhi
Kondisi atap Masih terdapat lubang yang menyebabkan kebocoran, atap kurang dapat melindungi pengguna
jembatan dari percikan air saat hujan
Atap tidak boleh terdapat kebocoran
dan dapat melindungi pejalan kaki yang melintas dari hujan dan panas
Tidak Memenuhi
Kondisi lampu Lampu berada di satu sisi atap jembatan sebanyak 6 lampu dengan kondisi baik (tidak ada yang putus) namun belum memenuhi kebutuhan penerangan saat malam hari, tidak
terdapat lampu pada tangga jembatan
Tangga dan jalur berjalan di jembatan
harus dilengkapi dengan lampu penerangan dalam
kondisi baik seluruhnya
Tidak Memenuhi
Jarak terdekat tangga jembatan 1 menuju tempat asal – tujuan
terbanyak (menuju pintu masuk Metropolitan Mall)
41,5 m ≤ 50 m Memenuhi
Jarak terdekat tangga jembatan 2 menuju tempat asal – tujuan
terbanyak (menuju pintu masuk Mega
Bekasi)
95 m ≤ 50 m Tidak
Memenuhi
Analisa Tingkat Pelayanan (Level of Service / LOS) Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)
Tingkat pelayanan JPO Jalan Ahmad Yani, Bekasi ditinjau berdasarkan kecepatan, modul, dan volume arus pejalan kaki dari perhitungan data hasil survei yaitu volume dan waktu perjalanan pejalan kaki, panjang jalur perjalanan, serta luasan jalur perjalanan pengguna JPO.
1698
Gambar 2 Tingkat Pelayanan JPO berdasarkan Kecepatan Pejalan Kaki Pengguna JPO
Kecepatan berjalan pejalan kaki rata-rata setiap jam tidak berpengaruh terhadap tingkat pelayanan jembatan, terlihat dari hasil pengamatan selama tujuh jam (pukul 08.00 – 19.00) dengan mengambil waktu perjalanan rata-rata pejalan kaki setiap satu jam, kecepatan berjalan dari pejalan kaki tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dan menunjukkan tingkat pelayanan yang sama yaitu E di setiap jamnya. Kecepatan berjalan pejalan kaki pada jembatan penyeberangan orang di Jalan Ahmad Yani, Bekasi ini berada pada rentang 50 – 68 meter/menit, dengan nilai representatif 57,80 meter/menit dan tergolong dalam tingkat pelayanan E.
Gambar 3 Tingkat Pelayanan JPO berdasarkan Modul Pejalan Kaki Pengguna JPO
Pada grafik terlihat tingkat pelayanan JPO berdasarkan modul pejalan kaki menunjukkan nilai tingkat pelayanan semakin menurun seiring dengan waktu (semakin sore JPO semakin padat oleh pejalan kaki). Nilai modul pejalan kaki rata-rata dan representatif yaitu sebesar 1,14 m2/ped dengan tingkat pelayanan E. Tingkat pelayanan E menunjukkan nilai modul pedestrian yang kecil, yang berarti ruang gerak pedestrian yang tersedia untuk pejalan kaki di jembatan penyeberangan semakin sedikit. Hal tersebut menyebabkan pergerakan pejalan kaki menjadi relatif lambat dan tidak teratur ketika ada banyak pejalan kaki yang berbalik arah atau berhenti walaupun mereka dapat berjalan dengan kecepatan yang sama.
1699
Gambar 4 Tingkat Pelayanan berdasarkan Volume Arus Pejalan Kaki Pengguna JPO
Nilai tingkat pelayanan JPO berdasarkan volume arus pejalan kaki menunjukkan LOS B pada pagi hari kemudian terus menurun hingga LOS F di sore dan malam hari. Nilai volume arus yang representatif untuk jembatan ini adalah 58,72 orang/meter/menit dengan tingkat pelayanan D. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin sore hari, jumlah pejalan kaki yang melintas semakin bertambah sehingga ruang gerak yang tersedia di jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki semakin berkurang, namun pejalan kaki masih dapat berjalan dengan normal walaupun harus sering berganti posisi dan merubah kecepatan agar tidak bersinggungan saat melintasi jembatan.
Analisa Statistik Kuesioner
Analisa statistik kuesioner ini berupa data kuesioner merupakan uji data non parametrik (data tidak tersebar secara merata) dengan menggunakan chi square, kemudian pengujian validitas dan reliabilitas data dengan data kuesioner penelitian ini seluruhnya dinyatakan valid.
Analisa Kuesioner
Karakteristik responden dalam penelitian ini terdiri atas 56,83% responden laki-laki, 38,82% berusia 21-30 tahun, 59,63% responden menggunakan kendaraan umum, 65,94%
responden melintasi jembatan penyeberangan sebanyak kurang dari 4 kali dalam satu minggu, dan 89,44% responden menggunakan jembatan penyeberangan untuk keselamatan diri mereka.
Terdapat 10 (sepuluh) variabel kuesioner dalam penelitian ini, seperti yang terlihat pada grafik. Pilihan jawaban dalam kuesioner ini ada 4 yaitu kurang (1), sudah cukup (2), lebih (3), dan disesuaikan standar. Namun, dalam analisa ini pilihan “disesuaikan standar”
disesuaikan dengan kondisi eksisting jembatan penyeberangan, jika kondisi eksisting lebih dari standar maka pilihan digabungkan dengan (3), sedangkan jika kondisi eksisting kurang dari standar maka pilihan digabungkan dengan (1).
1700
Gambar 5 Grafik Analisa Variabel Kuesioner Kebutuhan Pengguna JPO
Hasil kuesioner dalam tiap variabel pertanyaan menunjukkan bahwa seluruh komponen jembatan sudah memenuhi kebutuhan penggunanya, kecuali pada atap, ruang gerak tangga, dan level istirahat tangga yang perlu dilebarkan sekurang-kurangnya hingga mencapai ukuran yang terdapat pada standar. Untuk tipe pagar pengaman, 56,7% responden membutuhkan pagar pengaman yang terbuka dengan sekat yang dirapatkan, dan 57,19%
responden membutuhkan tipe lampu yang menerus di tengah jembatan.
Analisa Open Kuesioner
Dalam kuesioner penelitian, terdapat satu pertanyaan terbuka dimana pengguna dapat menuliskan pendapat, kritik, maupun saran terhadap kondisi fisik JPO. Jawaban dari pengguna ini kemudian dikategorikan berdasarkan indikator kebutuhan seorang pejalan kaki untuk penyediaan jembatan penyeberangan (Pinkan & Zulkaidi, 2012). Hasil untuk indikator lainnya tergambar pada grafik berikut:
Gambar 6 Analisa Open Kuesioner Kebutuhan Pengguna JPO
Responden memperhatikan kenyamanan saat melintasi JPO (32,68%), terkait dengan lebar jembatan penyeberangan atau kebutuhan ruang gerak yang perlu untuk dilebarkan, penambahan atap di tangga jembatan, perlunya diberikan jalur difabel, dan penertiban pengemis dan pedagang di atas jembatan penyeberangan.
Analisa Perbandingan antara Kondisi Fisik Eksisting, Standar, dan Kebutuhan Pengguna JPO
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kondisi fisik eksisting JPO di Jalan Ahmad Yani, Bekasi dengan kebutuhan penggunanya, seperti terlihat pada tabel 2:
1701
Tabel 3 Perbandingan Kondisi Fisik Eksisting, Standar, dan Kebutuhan Pengguna JPO Variabel Kondisi Fisik
Jembatan
Kondisi Fisik Eksisting Standar (SNI tahun 1995
dan 2015)
Kesesuaian Fisik JPO
terhadap standar
Kebutuhan pengguna JPO
Ruang gerak tangga
1 m 2 m Tidak
Memenuhi
Dilebarkan dari kondisi
eksisting Kecuraman
tangga
24,43° (kanan) dan 30,05° (kiri)
20° Tidak
Memenuhi
Sesuai kondisi eksisting
Level istirahat (bordes) tangga
1 x 2,3 m 5 x 2 m Tidak
Memenuhi
Dilebarkan dari kondisi
eksisting Ketinggian
Pagar pengaman
1,5 meter Min 1,35 m Memenuhi Sesuai kondisi eksisting
Kekokohan Pagar pengaman
Cukup Kokoh Kokoh Memenuhi Sesuai kondisi
eksisting
Tipe pagar pengaman
Terbuka, dengan sekat horizontal
Terbuka, dengan sekat
dirapatkan
Atap Jembatan Penyeberang
an
Tidak terdapat atap di tangga jembatan, terdapat lubang dan
belum terjaga dari percikan air saat hujan
Atap berada di seluruh tangga jembatan dan jalur berjalan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO, tidak terdapat kebocoran
dan dapat melindungi pejalan kaki dari hujan dan
panas
Tidak Memenuhi
Dilebarkan dari kondisi
eksisting
1702
Tabel 4 Perbandingan Kondisi Fisik Eksisting, Standar, dan Kebutuhan Pengguna JPO Variabel Kondisi Fisik
Jembatan
Kondisi Fisik Eksisting Standar (SNI tahun 1995
dan 2015)
Kesesuaian Fisik JPO
terhadap standar
Kebutuhan pengguna
JPO Ruang
Gerak diatas Jembatan
1,62 meter 2 m Tidak
Memenuhi
Sesuai kondisi eksisting
Penerangan / Lampu Jembatan Penyeberang
an
Lampu berada di satu sisi atap jembatan sebanyak 6 lampu dengan kondisi baik
(tidak ada yang putus) namun belum memenuhi kebutuhan penerangan saat
malam hari, tidak terdapat lampu pada tangga jembatan
Tangga dan jalur berjalan harus dilengkapi
dengan lampu penerangan dalam kondisi baik seluruhnya
Tidak Memenuhi
Lampu menerus di tengah atap jembatan
Analisa Tingkat Kepatuhan
Pejalan kaki yang menyeberang dengan menggunakan JPO yaitu sebanyak 12677 orang dari total penyeberang 15965 orang. Sehingga diperoleh hasil persen kepatuhan pejalan kaki terhadap JPO Jalan Ahmad Yani, Bekasi setiap jam yang ditunjukkan pada grafik berikut:
Gambar 7 Grafik Persen Kepatuhan Pejalan Kaki terhadap JPO Jalan Ahmad Yani, Bekasi
Adanya total pejalan kaki yang tidak menggunakan JPO dalam menyeberang, yaitu sebesar 20,595% dapat dikaitkan dengan hasil kuesioner yang menginginkan indikator kenyamanan untuk ditingkatkan dalam pelayanan jembatan penyeberangan, kemudahan atau akses JPO menuju tempat asal-tujuan, serta waktu perjalanan rata-rata yang relatif lebih singkat jika tidak menggunakan JPO untuk menyeberang (51,34 detik).
KESIMPULAN
1. Jembatan penyeberangan orang (JPO) yang dijadikan lokasi penelitian merupakan jembatan penyeberangan yang berada diantara dua pusat perbelanjaan yaitu Metropolitan Mall dan Mega Bekasi Hypermall pada Jalan Ahmad Yani, Bekasi. Asal
1703
dan tujuan responden terbanyak tergambar pada desire line, yaitu dari Mega Bekasi Hypermall menuju Metropolitan Mall dengan jarak perjalanan 211,25 meter.
2. Hasil perbandingan antara kondisi fisik JPO dengan standar perencanaan JPO menunjukkan bahwa seluruh komponen jembatan tidak memenuhi standar, kecuali pada tinggi (H) sandaran jembatan dan kebebasan vertikal (H) jembatan dari permukaan jalan.
3. Tingkat pelayanan (LOS) JPO berdasarkan kecepatan berjalan pejalan kaki bernilai E, sedangkan LOS berdasarkan modul dan arus pejalan kaki bernilai C hingga E.
4. Pengguna JPO merasa cukup puas pada kecuraman tangga, ketinggian dan kekokohan pagar pengaman, serta ruang gerak diatas jembatan; perlu dilebarkan dari kondisi eksisting pada ruang gerak tangga, level istirahat tangga, dan atap jembatan;
membutuhkan pagar pengaman dengan tipe terbuka dan sekat dirapatkan, dan membutuhkan lampu dengan tipe menerus ditengah jembatan.
5. Kritik dan saran dari responden menunjukkan perhatian khusus pada kenyamanan saat melintasi JPO, terkait dengan penambahan atap di tangga jembatan serta penertiban pengemis dan pedagang di atas jembatan (32,68%).
6. Tingkat kepatuhan dari pejalan kaki terhadap JPO ini adalah sebesar 79,4%.
SARAN
1. Perlu dilakukan kajian tambahan mengenai standar perencanaan JPO maupun tingkat pelayanan jembatan untuk menyamakan parameter penelitian dan menggambarkan hasil yang lebih akurat.
2. Parameter kebutuhan pengguna JPO yang lebih terikat sehingga dapat mewakili kebutuhan pengguna JPO untuk seluruh lokasi penelitian JPO.
3. Penelitian perlu dilakukan pada banyak lokasi JPO untuk mendapatkan hasil kebutuhan pengguna yang lebih luas terkait fasilitas JPO.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum. (1995). Tata Cara Perencanaan Jembatan Penyeberangan untuk Pejalan Kaki di Perkotaan. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Marga.
Greenshields, 1., Khisty, 1., & TRB, 2. (2006). Dalam C. J. Khisty, & B. K. Lall, Dasar- dasar Rekayasa Transportasi (hal. 220-221). Jakarta: Erlangga.
Kemenhub, & GIZ. (2014). Indonesian Climate Change Sectoral Roadmap, 2010. Program Transportasi Perkotaan Berkelanjutan.
Kementerian Pekerjaan Umum. (23 April 2015). Pedoman Persyaratan Umum Perencanaan Jembatan Nomor: 07/SE/M/2015.
Peraturan Kementerian Pekerjaan Umum. (2014). Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan Nomor 03/PRT/M/2014. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 61. (2011). Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. Jakarta.
Pinkan, A. K., & Zulkaidi, D. (2012). Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Kota Bandung. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1 , 99-100.