1001 Kendala Tak Halangi Bernadette Raih Wisudawan Terbaik S-3 FK UNAIR
UNAIR NEWS – Dr. Bernadette Dian Novita, dr., M.Ked nyaris menyerah ketika harus menghadapi berbagai persoalan yang mendera. Di tengah perjalanannya menempuh studi S-3, mendadak sang anak sakit berat, serta harus merasakan duka karena ditinggal pergi selamanya sang ibunda.
”Bila ditilik selama perjalanan studi S-3, sebenarnya saya punya 1001 alasan untuk berhenti. Namun saya memiliki prinsip bahwa “failure is never an option” (kegagalan bukanlah pilihan) sehingga saya memutuskan tetap berjalan dan berkeyakinan bahwa Tuhan selalu membimbing saya,” kata peraih IPK 3,92.
Selain dirundung persoalan yang mengoyak batin, proses studi juga terganjal keterbatasan dana penelitian. “Anak saya sempat sakit berat, sehingga aktivitas penelitian terpaksa terhenti.
Saya juga tidak memiliki cukup uang untuk menyelesaikan penelitian. Padahal sudah dinyatakan lulus proposal pada pertengahan 2015,” ungkapnya.
Pilihan memang ada di tangannya. Andaikan pada saat itu Bernadette memilih berhenti, tentu kesempatan mengantongi gelar Doktor tak akan terwujud seperti saat ini. Ia sama sekali tak terpikir bakal menjadi wisudawan terbaik. “Ini hal yang tidak pernah saya impikan. Saat saya mendaftar S-3 Ilmu Kedokteran di FK UNAIR, saya hanya bertekad ingin lulus tepat waktu,” ungkapnya.
Bagi perempuan kelahiran Surabaya 11 November 1978 ini, pengalaman menempuh S3 tak lepas dari upaya mendisiplinkan d i r i , m e n e t a p k a n t a r g e t y a n g j e l a s , d a n s e g e r a merealisasikannya. “Bila ingin lulus tepat waktu saya harus
tahu timetable waktu untuk lulus proposal, rentang waktu mengerjakan penelitian dan menyelesaikan laporan,” kata perempuan kelahiran 11 November 1978.
Siapapun tentu tak pernah bebas dari masalah. Untuk itu disiplin diri sangat penting. Setelah target tercapai, Dian tak lupa untuk menghargai kerja kerasnya dengan memberi
‘penghargaan’ pada diri sendiri. “Bila target sudah tercapai, saya membeli novel di akhir pekan,” ungkapnya. (*)
Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha.
Editor : Bambang Bes.
Puteri Indonesia Jawa Timur Tertarik Jadi Dosen
UNAIR NEWS – Puteri Indonesia Jawa Timur (Jatim) tahun 2017 Fatma Ayu Husnasari mengaku tertarik menjadi dosen bila ditawari untuk mengajar di almamater kuliah Fakultas Hukum, Universitas Airlangga. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Fatma, sapaan akrabnya, usai dikukuhkan menjadi mahasiswa baru jenjang pascasarjana, Kamis (10/8), bersama 1.450 mahasiswa baru lainnya.
“Bisa. Saya juga kepikiran untuk jadi dosen. Sebenarnya sudah ada tawaran jadi dosen, tapi bukan di UNAIR. Saya merasa terlalu cinta UNAIR sehingga kalau ada tawaran jadi dosen di UNAIR saya akan tertarik di sini,” ujar Fatma seraya tertawa.
Fatma melanjutkan studi S-2 di FH UNAIR setelah melepas statusnya sebagai mahasiswa S-1 dari fakultas yang sama pada tanggal 17 Maret tahun 2017 lalu.
Hasratnya untuk menempuh pendidikan begitu besar. Bagi Fatma, melanjutkan studi merupakan sebuah kebutuhan untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas keilmuan. Terlebih ia kini masih menyandang predikat sebagai Puteri Indonesia Jatim 2017.
“Sebagai Puteri Indonesia, selain kita dituntut untuk fisiknya harus bagus, maka juga dituntut untuk jadi orang yang pintar, untuk nambah wawasan dan ilmu kita. Sehingga, ketika ada kesempatan untuk sekolah lagi, mengapa tidak,” terang Fatma.
Gadis bertubuh jenjang tersebut ingin meneruskan studinya pada peminatan yang sama dengan yang ditempuhnya pada saat kuliah S-1 dulu, yakni Hukum Bisnis. Peminatan ini juga selaras dengan keinginan presenter magang Metro TV untuk menjadi pengampu bidang hukum di suatu badan usaha.
Rencananya, saat kuliah S-2 nanti, Fatma juga ingin mengikuti konferensi internasional dan publikasi riset tentang keilmuan yang ia dalami. “Boleh. Jika ada kesempatan untuk mengikuti riset, penelitian baik dari UNAIR maupun yang saya lakukan sendiri, saya tertarik untuk mengikuti,” ungkap perempuan kelahiran Blitar itu.
Kuliah jenjang master juga menuntut kemampuan Fatma untuk multitasking. Ia harus bisa membagi tanggung jawab baik di bidang pekerjaan maupun pendidikan agar keduanya berjalan optimal. Belum lagi kegiatannya sebagai Puteri Indonesia Jatim 2017 yang mengharuskannya untuk hadir di berbagai acara.
“Saya harus siap dengan tanggung jawab. Saya sudah memilih dan kita harus menampilkan yang terbaik untuk tanggungjawab yang sudah kita pilih,” kata Fatma.
Ia lantas berharap agar studi masternya di FH UNAIR berjalan lancar, lulus tepat waktu, dan mendapatkan hasil yang terbaik.
Fatma juga berpesan agar kawan-kawannya di organisasi Puteri Indonesia tak pernah melupakan pentingnya pendidikan. (*)
Penulis : Defrina Sukma S
Editor : Binti Q. Masruroh
Pintar Berbisnis, Mahasiswa Jadi Penata Rias Hingga Kelola “Rawon Nguling”
UNAIR NEWS – Menyadari masih memiliki usia produktif, Raiza Aulia mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga gemar mengasah kemampuannya dengan belajar hal-hal baru. Saat ini, selain menjalankan bisnis Make-up Artist (MUA), Raiza ikut mengelola usaha rawon milik kedua orangtuanya.
Sejak duduk di bangku kuliah, Raiza sudah memiliki jiwa bisnis yang kuat. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang saku yang didapat untuk kursus make-up dan membeli beberapa peralatan make-up.
Dari belajar make-up itulah ia sering mengaplikasikan ilmu ke beberapa teman dekat. Hasilnya, ia jadikan portofolio dan dipamerkan di media sosial. Tak ayal, dari portofolio tersebut kini Raiza sering menerima job make-up untuk wisuda hingga prewedding.
Setelah beberapa kali mendapat upah dari jasa make-up, mahasiswa semester tujuh itu memutar otak untuk mencoba bisnis lain. Ia menggunakan upah dari hasil jasa make-up untuk menjajal peruntungan dengan berjualan kerudung dan kaos kaki.
“Awalnya kalau promosi ya dari mulut ke mulut, pokoknya teman dekat dulu, lalu media sosial. Yang paling penting adalah niat dan kemauan untuk usaha,” jelasnya.
Dari bisnis jasa make-up dan berjualan kerudung yang ia
rintis, Raiza mulai bisa mengatur keuangan sendiri tanpa bergantung pada orang tua.
“Meskipun hasilnya ngga banyak, tapi alhamdulillah bisa beli buat kebutuhan sendiri,” ujarnya.
Ikut kelola “Rawon Nguling”
Selain bisnis jasa MUA dan berjualan, cucu dari pendiri usaha kuliner ternama “Rawon Nguling” ini ikut menjalankan usaha yang kini dijalankan kedua orangtuanya. Meskipun ada kemungkinan ia bakal mewarisi bisnis orangtua, namun tak semata-mata bisnis itu ia jadikan sebagai “sandaran jati” akan kehidupannya mendatang.
“Saya tidak mau hanya karena saya cucu pemilik ‘Rawon Nguling’
lalu saya bisa bermalas-malasan nunggu warisan,” ujarnya sambil tertawa.
Ditanya mengenai keikutsertaan Raiza dalam mengelola bisnis
“Rawon Nguling”, ia mengaku bahwa kini dirinya sudah mulai menjajaki proses pengelolaan restoran untuk membuka cabang di Surabaya dan Jawa Timur. Kedua orang tuanya pun mulai mempercayakan beberapa kepentingan restoran kepadanya, mulai marketing, pembayaran pajak restoran, hingga urusan sumber daya manusia.
“Ibu dan ayah saya juga semakin tua, usaha ini pasti menurun untuk saya ataupun kakak saya. Jadi saya harus mulai belajar dari sekarang,” ujar gadis yang lahir di Surabaya 22 tahun yang lalu itu.
Kendati demikian, Raiza tidak menganggap kepercayaan yang diberikan orang tuanya sebagai “warisan”, tetapi lebih kepada bagaimana ia harus bekerja menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan restorannya.
“Saya di sini bukan sebagai cucu sang pemilik, tetapi di sini saya bekerja, saya pesuruh, saya pergi ke pasar membeli bahan-
bahan, saya juga ikut masak,” tuturnya.
Ilmu dari perkuliahan
Menjalankan usaha secara bersamaan tak lantas membuat Raiza meninggalkan perkuliahan. Menurut gadis yang juga memiliki hobi bermain piano dan menyanyi itu, ia banyak belajar dan mengaplikasikan ilmu psikologi yang ia dapat di bangku perkuliahan kepada pelanggan. Dari pelanggan inilah ia bisa mengerti karakter-karakter orang dan cara menghadapinya.
Kepada UNAIR News Raiza menuturkan, mengelola beberapa bisnis secara bersamaan tak selalu berjalan mulus. Dari bisnis yang ia jalani, Raiza juga sering mengalami hal-hal buruk seperti merugi dan ditipu oleh pelanggan. Namun hal tersebut tak membuatnya patah semangat untuk melanjutkan usahanya.
“Rugi pernah, ditipu orang juga pernah, dikomplain pelanggan juga sering. Namanya usaha nggak mungkin mulus terus. Tapi dari sana saya bisa belajar untuk lebih baik,” ungkapnya.
Raiza menyadari bahwa apa yang ia lakukan belum sepenuhnya sempurna. Ia masih terus belajar dari orang tua, saudara, dan lingkungan sekitarnya untuk merintis bisnis yang lebih baik.
Ia juga berpesan kepada teman-temannya untuk menggunakan waktu muda secara produktif dan mencoba hal baru yang sesuai minat.
Sebab menurutnya, passion yang ditekuni dapat menjadi bekal dikemudian hari.
“Meskipun nyoba jualan lalu hasilnya dikit, nggak apa-apa.
Selagi masih muda jangan takut gagal, coba aja terus. Gagal coba lagi, gagal coba lagi, pokoknya sampai banyak yang bisa dipelajari nanti dibuat bekal keberhasilan,” ujarnya. (*)
Penulis : Faridah hari Editor : Binti Q. Masruroh
Kesibukan Tak Halangi Prestasi Aisya Ramadhana Jadi Wisudawan Terbaik FKM
UNAIR NEWS – Keseharian Aisya Ramadhona adalah dokter di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah, Mojokerto. Ia sekaligus ibu bagi ketiga buah hatinya. Tetapi kesibukannya itu tak membuatnya patah semangat dalam menyelesaikan kuliahnya pada Program Studi S-2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Bahkan, ia berhasil lulus dan menjadi wisudawan terbaik S-2 FKM dalam wisuda September 2017, dengan meraih IPK 3,91.
Berbagai tantangan silih berganti ia hadapi. Aisya mengaku, perjalanan dari tempat kerja menuju kampus ditempuhnya cukup jauh. Dari Mojokerto sekitar 2-3 jam, belum lagi ditambah kemacetan di Surabaya.
Dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, ia mampu menjalaninya selama dua tahun. Bahkan di awal perkuliahannya, perempuan kelahiran Surabaya ini sedang hamil delapan bulan. ”Di tahun pertama saya kuliah harus membawa breast pump ke kampus untuk ASI bayi saya. Ketika sampai di rumah langsung disambut ketiga anak saya, dan tidak ada yang dapat mengambil hak anak saya,”
katanya.
Dalam memenuhi penelitian tesisnya, Aisya menceritakan bagaimana ia mengangkat topik di rumah sakit tempatnya bekerja, yaitu “Upaya Pencegahan Reaksi Kusta Berdasarkan Analisis Faktor Risiko”. Topik itu sesuai dengan pekerjaannya, sehingga saat penelitian tak perlu meninggalkan pekerjaannya.
Apalagi, rumah sakit khusus kusta itu perlu dikembangkan
secara optimal karena penderita dengan reaksi kusta banyak terjadi secara berulang.
Aisya berpesan, mahasiswa hendaknya memegang teguh beberapa prinsip untuk mencapai hasil memuaskan. Manajemen waktu sangat diperlukan, mulai dari membuat linimasa untuk diri kita sendiri. ”Dengan kuliah kita sudah mendapat ilmu, sehingga ke depan adalah kontribusi apa yang dapat kita berikan agar ilmu tersebut bermanfaat dan berguna bagi orang lain,” tutupnya.
(*)
Penulis : Siti Nur Umami
Editor : Defrina Sukma S, Bes.
Ajeng Tita Nawangsari, Wisudawan Terbaik S-2 FEB dengan Meraih IPK Sempurna
UNAIR NEWS – Kesehariannya sebagai seorang ibu sekaligus peran sebagai isteri, tak menyurutkan semangatnya dalam menempuh perkuliahan. Itulah Ajeng Tita Nawangsari. Wisudawan yang menempuh program studi S-2 Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga ini berhasil lulus dengan IPK sempurna: 4,00. Tentu saja, ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik FEB dalam wisuda, September 2017 lalu.
Perempuan asli Banyumas ini menuturkan, memang tidak mudah baginya menjalani masa kuliah di tanah rantau. Terlebih ia harus mengatur waktu menjadi ibu, istri, dan mahasiswa.
“Ketika dulu mengambil kuliah pagi, pagi hari harus mengurus anak dan mengantarnya ke penitipan anak di RSUD Dr. Soetomo.
Selepas kuliah pun saya tidak langsung pulang ke rumah. Waktu tersisa saya gunakan untuk mengerjakan tugas dan belajar sungguh-sungguh,” tutur Ajeng.
Itulah kiat Ajeng hingga lulus sempurna. Baginya, kuliah bukan hanya usaha untuk meraih selembar ijazah dan transkrip, tetapi proses mengubah pola pikir, sikap, dan tujuan hidup ke arah yang lebih baik. Secara tidak langsung, perkuliahan juga menjadi perjalanan menjadi seorang yang berilmu dan berintegritas.
“Tidak masalah bagi saya jika harus mendapat nilai C atau D.
Hal terpenting hasil kerja keras sendiri. Ketimbang mendapat nilai A, namun mencontek,” katanya.
Berbagai suka duka ia alami selama menempuh perkuliahan, termasuk saat mengerjakan tesis. Ia memilih topik sejarah Akuntansi dengan judul “Peran Akuntansi dalam Kehidupan Masyarakat Kerajaan Kediri Abad 12-13 M.”
Dengan penelitian tesis itu membuatnya banyak berkunjung ke museum, narasumber para arkeolog, sehingga harus bepergian meninggalkan anaknya. Sementara proyeksi ke depan, perempuan 30 tahun ini akan mengamalkan ilmunya di bidang pendidikan dan melanjutkan kuliah S-3. (*)
Penulis: Siti Nur Umami Editor: Defrina Sukma, bes
Hobi Bernyanyi, Mahasiswa
Komunikasi Torehkan Belasan Prestasi
UNAIR NEWS – Fadhilah Intan Pramita Sari, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, berhasil menembus posisi sembilan besar dalam ajang menyanyi bergengsi tingkat nasional, Rising Star, yang digelar salah satu stasiun televisi swasta. Meskipun tak menjadi pemenang, gadis kelahiran 20 April 1998 ini bisa membuktikan bahwa dirinya berani mencoba dan tak takut gagal dalam kompetisi.
Mengikuti ajang Rising Star membawa pengalaman tersendiri bagi Fadhilah. Selain dituntut untuk memiliki mental yang kuat dan pantang menyerah, ia mengaku, ajang Rising Star juga mengajarkan para kontestan untuk bersaing secara sehat.
Melalui UNAIR News gadis yang pernah tergabung menjadi guru pengajar Alquran Metode Ummi ini bertutur kisah tentang proses karantina di Jakarta.
“Harus menerima tantangan. Harus bisa ‘memakan’ semua lagu, karena tidak semua lagu yang diberikan itu yang kita mau. Saya juga harus bisa kontrol teknik vokal, nggak boleh nervous (gugup), harus jaga sikap juga karena selalu disorot media,”
ujar gadis yang ingin berkarir di industri hiburan ini.
Saat ini, Fadhilah telah dikontrak oleh salah satu manajemen artis. Untuk itu, ia berusaha membagi waktu kuliah di FISIP UNAIR, dan rutinitasnya yang lain.
Di samping itu, ia mengunggah video ke kanal YouTube miliknya saat menyanyikan ulang lagu-lagu musisi lain. Ia juga kerap menerima tawaran bernyanyi di berbagai acara, dan mengikuti beberapa audisi bintang iklan. Selain itu, mahasiswa semester dua ini juga sedang membuat sebuah lagu.
Gadis yang menyukai aliran musik pop semi klasik ini berharap, Rising Star dan berbagai kesibukan di bidang tarik suara yang
ia tekuni, menjadi pengalaman positif bagi proses perjalanan karirnya.
“Ingin bisa terus belajar untuk menjadi lebih baik lagi.
Berharap bisa menjadi penyanyi yang one and only dan memorable,” ungkap gadis yang memilih Lea Salonga dan Sarah Brightman sebagai penyanyi favorit.
Di luar aktivitas bernyanyi, Fadhillah juga gemar bermain piano, biola, dan menari balet. “Kalau suka nulis puisi enggak. Kalau bikin lagu, iya. Tapi iseng aja, sih,” ucapnya sambil tertawa.
Gadis berkerudung ini tak sepi dari prestasi. Alumnus SMA Al- Hikmah Surabaya ini pernah menang beberapa penghargaan seperti Graduate Beijing Dance Academy tahun 2014, Gold Award Advanced Vocal Performance in Star Quarto Music tahun 2014, juara I Winner Symphony of The World Music Competition tahun 2015, dan juara I Youth Music Competition from London College of Music tahun 2015. Tak berhenti di situ, pada tahun 2016, ia menjadi pemenang favorit Smesco Idol tahun 2016, dan Finalis Top 9 National Singing Competition Catharina W. Leimena (2016).
Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Defrina Sukma S
Totalitas Ni Kadek Dwi Kristiani ’Berbuah’ Prestasi Wisudawan Terbaik
UNAIR NEWS – Ni Kadek Dwi Kristiani, membuktikan totalitasnya selama kuliah di Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.
Pengalaman akademiknya diwarnai aktivitas yang menyenangkan dan penuh prestasi. Puncaknya, perempuan kelahiran Denpasar 22 tahun silam ini menyandang gelar sebagai wisudawan terbaik S-1 pada wisuda September 2017 ini.
”Saya nggak pernah nyangka kalau akhirnya jadi lulusan terbaik. Intinya, harus ada keyakinan dalam diri bahwa apapun bisa terjadi, bahkan hal yang awalnya tak mungkin sekali pun, karena keajaiban itu pasti ada,” tutur Kadek, sapaan akrabnya.
Di awal kuliah, ia bertekad secara total untuk serius. Lalu sering mengikuti berbagai kegiatan tingkat fakultas hingga level internasional. Duta Fakultas Keperawatan tahun 2016 ini pernah iseng mengirimkan abstrak ke The 2nd Asian Congress in Nursing Education di Taiwan tahun 2016. Tak disangka, abstraknya lolos dan mereka mengikuti konferensi di National Cheng Kung University di Taiwan. Selain konferensi, pengalaman atmosfer internasional lain yang pernah Kadek dapatkan adalah pertukaran mahasiswa ke Universitas Naresuan di Thailand tahun 2016. Pasca konferensi, ia kembali mengikuti dua lomba karya tulis ilmiah, dan keduanya berhasil meraih juara II di kompetisi berbeda.
Apa motivasinya untuk terus berprestasi? “Aku ingat banget, dulu akhir semester IV masih nggak pede (percaya diri) waktu diumumkan jadi peringkat pertama paralel. Aku ngerasa itu titik balik dan motivasiku muncul untuk terus berprestasi membanggakan orang tua, keluarga, dan almamater,” cerita anggota UKM Hindu Dharma UNAIR itu.
Pada penelitian skripsinya, ia membahas kejadian pneumonia yang menjangkiti anak-anak. Kadek mengatakan, semakin baik pengetahuan tentang pencegahan pneumonia yang dimiliki ibu, semakin baik pula perilaku pencegahan pneumonia yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya. (*)
Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Binti Q. Masruroh
Dr. Prihartini Widiyanti, Mendidik Tak Dapat Dinilai dengan Materi
UNAIR NEWS – Citra sebagai seorang dosen dan peneliti senior telah melekat pada sosok Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes. Berbagai prestasi dan jabatan telah disandang perempuan usia 40 tahun ini. Ia adalah seorang dokter gigi, peneliti, pengajar, pendidik. Bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk keluarga dan putra putrinya.
Berbagai kesibukan telah Yanti tekuni. Selain sebagai Ketua Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah (PPJI) Universitas Airlangga, Yanti merupakan staf pengajar pada program studi Teknobiomedik, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR.
Ia juga merupakan anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Perhimpunan Kesehatan Hiperbarik Indonesia (PKHI), Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), serta International Society of Clinical Densitometry.
Yanti merupakan peneliti senior di Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR. Di ITD UNAIR, Yanti mengabdikan dirinya sebagai peneliti senior bidang riset HIV/AIDS.
“Saya melihat pasien HIV/AIDS dengan wasting syndrome, tinggal tulang dan kulit. Tubuhnya dipenuhi penyakit kulit. Keluarga mereka tidak pernah datang. Mereka hanya dirawat orang-orang dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Saya terketuk. Kondisi
pasien yang terminal itulah yang membuat saya ingin mengabdikan diri kepada mereka,” ujar dokter gigi itu.
Yanti telah terbiasa multitasking sejak ia menjalani kuliah sarjana. Ketika menjalani studi S-1 pada Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR, Yanti bersama teman-temannya mendirikan biro penerjemah. Ia biasa membantu dosen-dosen untuk menerjemahkan naskah dengan tema yang beraneka ragam, dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.
Ketika melanjutkan program magister, Yanti telah menjalani kesibukan sebagai pegawai honorer di Lembaga Kesehatan Kelautan TNI AL (LAKESLA), dan RSAL Dr. Ramelan Surabaya. Di samping itu, ia juga menjabat sebagai pengasuh rubrik kesehatan di salah satu media massa di Surabaya. Ia membantu rekan-rekan jurnalis yang kesulitan dalam mengoreksi berita dengan istilah-istilah kedokteran.
Aktualisasi
Diakui Yanti, disela-sela kesibukan di dunia akademik ia selalu menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama anak dan keluarga.
“Disela-sela waktu saya harus sangat dekat dengan anak-anak.
Main monopoli, ke pasar, sambil ngasih nasihat-nasihat. Anak- anak tidak lepas dari pengawasan saya,” ujar ibu dua anak itu.
Yanti sadar, suatu negara yang besar akan menjadi kuat dari segala terjangan arus ketika para perempuan menempatkan edukasi dan penanaman akhlak yang baik terhadap anak didiknya.
Sebagai seorang pendidik, Yanti memiliki mimpi untuk mencetak generasi emas. Mimpi itu yang telah dirintis sejak ia memutuskan menjadi seorang dosen.
Emansipasi wanita dimaknai Yanti sebagai sebuah peluang bagi perempuan untuk menunjukkan aktualisasi diri, bahwa perempuan bisa mengubah dunia dengan pemikiran dan tindakannya. Namun walau bagaimanapun, baginya perempuan adalah seorang pendidik
bagi anak-anak dan keluarganya.
“Ketika perempuan diberi posisi hebat di luar, ketika kembali ke keluarga ia adalah seorang ibu. Yang mendidik anak, yang taat kepada suami,” kata perempuan yang sempat memiliki grup band saat SMA itu.
Sebagai peneliti, ia bercita-cita memiliki karya yang memiliki kebermanfaatan sosial yang luas. Bersama Universitas Teknologi Malaysia (UTM), ia telah merintis kerjasama penelitian dan kolaborasi. Yanti menjadi co-researcher tentang penelitian stent pembuluh darah.
“Akhirnya saya percaya bahwa pekerjaan kecil tidak akan terus menjadi kecil. Ia akan menggurita, kemudian akan banyak networking. Di situlah saya merasa bahwa saya berhasil memberikan banyak manfaat untuk semua orang. Itulah kebahagiaan buat saya. Tidak harus tentang uang atau reward,”
kata Yanti.
Yanti, dengan segala kesibukannya, ialah pendidik bagi mahasiswa dan anak-anaknya.
“Menjadi dosen, finansialnya memang tidak banyak. Namun, kebahagiaan yang didapat dari mendidik itu yang tidak bisa dibayar dengan apapun,” kata perempuan yang sedang berproses untuk menghafal Alquran itu. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Defrina Sukma S.
Prof. Nasronudin dan
Optimisme Membangun Keunggulan Riset
UNAIR NEWS – Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp.PD, K-PTI, FINASIM lahir di Ponorogo dan menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di kota reog tersebut. Selama ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) ini selama ini bergiat di spesialisisasi penyakit dalam dengan sub spesialis penyakit infeksi. Sosoknya menjadi rujukan dari banyak pertanyaan seputar penyakit populer belakangan ini antara lain Zika, demam berdarah dengue, HIV/AIDS, kaki gajah, malaria, tifoid, toksoplasma, dan lain sebagainya.
Sejak dulu, tamatan pendidikan dokter Universitas Brawijaya pada 1983 ini sudah moncer. Seusai resmi menjadi dokter, dia langsung mendaftar CPNS dan diterima di Departemen Kesehatan.
Dia ditempatkan di Rumah Sakit Umum Provinsi Riau, Pekanbaru, hingga 1984. Setahun kemudian, dia diangkat sebagai PNS Pusat dan mengabdi di RSU Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Enam bulan kemudian, dia didaulat menjadi kepala Puskesmas Sedanau Kecamatan Bunguran Barat. Lantas, pada 1987, dipindahkan ke Puskesmas Dabosingkep yang memiliki fasilitas rawat inap. Melihat perjalanan di awal pengabdiannya, bisa menjadi cermin betapa pengalaman pemilik 22 penghargaan ini tidak perlu diragukan. Bahkan, sejak usianya masih tergolong muda.
Pada 1991, Nasronudin melanjutkan pendidikan dokter spesialis di bagian ilmu penyakit dalam RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR dan lulus pada 1996. Pada 1997, dokter teladan provinisi Riau pada 1987 ini menjalankan tugas wajib kerja sarjana kedua di RSU Pembalah Batung Amuntai, Kalimantan Selatan. Pada 1999, bertolak ke Surabaya sebagai staf di Bagian-SMF Imu Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR dan berlangsung hingga saat ini.
Saat masih menjadi staf, Nasronudin menyempatkan diri untuk melanjutkan studi di program doktor di Pascasarjana UNAIR periode September tahun 2002. Dua tahun tujuh bulan setelahnya, dia dinyatakan lulus sebagai wisudawan terbaik dengan predikat cumlaude. Sementara gelar konsultan penyakit tropik dan infeksi diperoleh pada 2003. Pada tahun 2004, Nasronudin memenangkan Young Investigator Award di Kyoto Jepang.
Nasronudin memrakarsai dan menjadi kepala UPIPI (Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi) RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR pada periode 2004-2009. Penulis belasan buku di bidang penyakit dalam dan infeksi yang banyak dijadikan rujukan dunia kedokteran/kesehatan ini menjabat Ketua Institute Of Tropical Disease (ITD) pada 2008-2015. Saat ini, dia dipercaya sebagai Direktur RS Universitas Airlangga sekaligus Direktur Utama Institut Ilmu Kesehatan (Airlangga Health Science Institute).
“Indonesia memiliki kekayaan mikroorganisme, flora, fauna, dan aspek-aspek lain yang dapat menjadi modal pengembangan ilmu kedokteran. Semua itu merupakan media yang representatif untuk penelitian di bidang pencegahan penyakit, diagnosis penyakit, pengujian obat, pembuatan obat, dan sebagainya. Negeri ini harus optimistis kalau bisa unggul di level dunia,” ujar dia.
Pada beberapa tahun yang lalu, Nasronudin bersama dengan tim peneliti dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia berkolaborasi untuk membuat obat herbal antidengue. Pada tahun 2013, UNAIR meluncurkan informasi resmi mengenai hasil metode dan uji klinis fase III. Sampai awal tahun 2016, tim peneliti sudah mengajukan ijin edar terhadap obat tersebut ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (*)
Editor: Defrina Sukma Satiti
Prof. Coen, Guru Besar FKG yang Kaya Penelitian dan Prestasi
UNAIR NEWS – Prof. R.M Coen Pramono menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga, pada tahun 1978. Pada tahun 1984, Prof. Coen menuntaskan pendidikan magister kesehatan gigi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pendidikan spesialis bedah mulut dan maksilofasial juga ia tuntaskan di UGM.
Dia yang kini menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut UNAIR itu memiliki sejumlah penelitian yang terpublikasi pada jurnal internasional bereputasi dan puluhan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal nasional bereputasi.
Penelitian yang telah terpublikasikan secara internasional antara lain, “Mandibular reconstruction using non-vascularized autogenous bone graft applied in decorticated cortical bone”
pada tahun 2011, “The Osteogenic Capacity of Human Amniotic Membrane Mesenchymal Stem Cell (Hamsc) and Potential for Application in Maxillofacial Bone Regeneration in Vitro Study”
pada tahun 2014, dan “Healing Mechanism and Osteogenic Capacity of Bovine Bone Mineral – Human Amniotic Mesenchymal Stem Cell and Autogenous Bone Graft in Critical Size Mandibular Defect” pada tahun 2015.
Sedangkan, penelitian yang terpublikasi pada jurnal nasional bereputasi antara lain “Cytotoxicity difference of 316L stainless steel and titanium reconstruction plate” pada tahun 2011, “Effect of soybean extract after tooth extraction on osteoblast numbers” pada tahun 2011, dan “Degrees of chitosan
deacetylation from white shrimp shell waste as dental biomaterials” pada tahun 2012.
Prof. Coen memiliki dua paten alat operasi rahang. Yaitu, plat rekonstruksi rahang yang pemotongannya tanpa melibatkan sendi mandibula, dan plat rekonstruksi rahang yang pemotongannya melibatkan sendi mandibula.
Guru Besar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG itu sudah menerbitkan empat buku yaitu “Kista Odontogen dan Non Odontogen” pada tahun 2006, “Odontektomi dengan Metode Split Technique” pada tahun 2006, “Penuntun Praktik Kerja Profesi Dokter Gigi” pada tahun 2014, dan “Penuntun Kepaniteraan Klinik Pendidikan Profesi” pada tahun 2015. (*)
Editor: Nuri Hermawan