• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SUPERSTRUKTUR PADA WACANA JURNAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS SUPERSTRUKTUR PADA WACANA JURNAL"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SUPERSTRUKTUR PADA WACANA JURNAL

《华文教学写研究》 ( huáwén jiàoxué xi ě yánjiū)

学报《华文教学写研究》话语的上层建筑分析

(xuébào “huáwén jiàoxué xi ě yánjiū” huàyǔ de shàngcéng jiànzhú fēnxī)

SKRIPSI

OLEH

SILMA PRIYANTI 130710090

PROGRAM STUDI SASTRA CINA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

ABSTRACT

This thesis is entitled "Analisis Supertruktur Pada Wacana Jurnal 华文教学写研 究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū)". The purpose of this study was to describe the superstructure discourse contained in the discourse of the journal 华文教学写研 究 (Huawen jiàoxué Xie yánjiū). Discourse taken from each preliminary to the journal 华文教学写研究 (Huawen jiàoxué Xie yánjiū) is the data used in this study. Reading and writing techniques are two techniques used to obtain data where descriptive method qualitative is a method used to analyze data. Van Dijk theory is used in this research and this technique has three structures namely micro structure, super structures, and macro structure. The result of this study is a journal 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū) which uses the correct superstructure and conforms to Chinese language rules. Meanwhile, the discourse of the journal 华文教学写研究 (Huawen jiàoxué Xie yánjiū) do not have much comment due not including any critical discourse and discourse using different structures. Thus, the conclusion of this study is to provide clues to the reader in understanding Mandarin grammar more easily with an attractive appearance and without changing the meaning.

Keywords: Discourse; structure; superstructure; journal Huawen jiàoxué Xie yánjiū; mandarin language

(3)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Analisis Supertruktur Pada Wacana Jurnal 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan superstruktur wacana yang terdapat pada wacana jurnal 华 文 教 学 写 研 究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū ). Wacana yang diambil dari setiap pendahuluan pada jurnal 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū ) yaitu adalah data yang digunakan dalam penelitian ini. Teknik baca dan tulis adalah dua teknik yang digunakan untuk memperoleh data dimana metode deskriptif kaulitatif adalah metode yang digunakan untuk menganalisa data. Teori Van Dijk digunakan dalam penelitian ini dan teknik ini memiliki tiga struktur yiaitu mikro struktur, supertruktur, dan makro struktur. Hasil penelitian ini adalah jurnal 华文教学写研 究(huáwén jiàoxué xiě yánjiū ) yang menggunakan supertruktur yang sudah benar dan sesuai dengan tata aturan Bahasa Mandarin. Adapun, wacana pada jurnal 华 文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū ) tidak memiliki banyak komentar disebabkan tidak termasuk wacana kritis dan setiap wacana menggunakan struktur yang berbeda-beda. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian ini adalah memberikan petunjuk kepada si pembaca dalam memahami tata bahasa Mandarin lebih mudah dengan tampilan yang menarik dan tanpa mengubah makna.

Kata kunci: Wacana; struktur; superstruktur, jurnal huáwén jiàoxué xiě yánjiū ; Bahasa Mandarin

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT oleh karena berkat dan kasih karunia yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripis yang berjudul “ Analisis supertruktur pada wacana jurnal 《华文教学写研究》 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū )” sebagai salah satu syarat kelulusan dalam menyelesaikan studi di Program Studi Sastra Cina, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menghadapi banyak rintangan dan hambatan, Namun berkat bimbingan dan arahan dari seluruh pihak, kesulitan yang ada dapat diatasi dan skripsi ini pun dapat diselesaikan.

Oleh karena itu dengan penuh keikhlasan hati penulis mengucapkan terima kasih terutama kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya dan Wakil Dekan I, II, III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Mhd. Pujiono, M.Hum, Ph.D selaku ketua Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Niza Ayuningtias, S.S., MTCSOL selaku sekretaris Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan selaku dosen pembimbing II yang telah banyak menyediakan waktu

(5)

untuk membimbing saya dalam menulis skripsi ini ke dalam Bahasa Mandarin.

4. Ibu Dr. Deliana, M.Hum, selaku dosen pembimbing I, yang telah dengan sabar membimbing, memeriksa, memberi masukan dan memeriksa lembar demi lembar skrispi ini.

5. Bapak/Ibu Dosen Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah bersusah payah memberikan ilmu yang dimiliki kepada penulis selaku mahasiswi Satra Cina (S1) selama masa perkuliahan.

6. Teristimewa penulis ucapkan untuk orang tua tersayang, yaitu Ibu Dr.

Erma Yulia MT. Bapak Abdi Hanra Sebayang, MT., Ph.D dan Mama Arridina Susanti Silitonga, M.Eng., Ph.D. Papa Ir. Sahidin Mursal Sitanggang yang telah memberikan banyak dukungan kepada penulis, baik dukungan moral, kasih sayang, doa dan bentuk materil.

7. Adik – adik penulis yang tersayang Ghina Amelia, Qayla Inayah, Adri Rakha, Adri Radya yang selalu mendukung.

8. Sahabat – sahabat penulis Fitria Sirait, Mukhtar Siregar, Incha Monicha, dan Michelle Cataliza, Terima kasih telah selalu memberikan masukan, serta sahabat terkasih Aditya Ananda Pratama yang selalu menemani kemanapun dan mendengarkan keluhkesa selama penulisan skripsi ini.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kelemahan dan tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik kepada peneliti sangat diharapkan. Akhirnya, dengan

(6)

segala kerendahan hati, diharapkan skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti secara pribadi, Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, dan pembaca pada umumnya.

Medan, Agustus 2017 Penulis,

Silma Priyanti 130710090

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang ... 1

1.2. Batasan Masalah ... 4

1.3. Rumusan Masalah ... 5

1.4. Tujuan Penelitian ... 5

1.5. Manfaat Penelitian ... 5

1.5.1. Manfaat Teoritis ... 6

1.5.2. Manfaat Praktis ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1. Konsep ... 7

2.1.1. Analisis Wacana ... 7

2.1.2. Struktur Wacana ... 9

2.1.2.1. Struktur Makro ... 13

2.1.2.2. Superstruktur ... 13

2.1.2.2.1. Pendahuluan ... 14

2.1.2.2.2. Isi ... 14

2.1.2.2.3. Penutup ... 15

2.1.2.3. Struktur Mikro ... 15

2.1.3. Skema Superstruktur ... 16

2.1.3.1. Summary ... 16

2.1.3.1.1. Judul ... 17

2.1.3.1.2. Lead ... 17

(8)

2.1.3.2. Story ... 18

2.1.3.2.1. Situai ... 18

2.1.3.2.2. Komentar ... 18

2.1.4. Jurnal ... 19

2.2. Tinjauan Pustaka ... 21

2.3. Landasan Teori ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

3.1. Metode Penelitian ... 24

3.2. Data dan Sumber Data ... 25

3.2.1. Data ... 25

3.2.2. Sumber Data ... 25

3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 26

3.4. Teknik Analisis Data ... 27

BAB IV PEMBAHASAN ... 28

4.1. Superstruktur pada wacana jurnal 华 文 教 学 写 研 究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū). ... 28

4.2. Skema yang terdapat pada wacana jurnal 华文教学写研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū). ... 46

BAB V KESIMPULAN ... 60

5.1. Kesimpulan ... 60

5.2. Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62

LAMPIRAN ... 64

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Struktur Wacana ... 11 Tabel 2.2. Elemen Struktur Wacana ... 12

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa adalah sebuah media komunikasi yang digunakan manusia dalam berinteraksi. Bahasa sebagai lambang bunyi yang arbitrer digunakan oleh masyarakat untuk berhubungan dan bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana, 2008:94). Bahasa sangat berkaitan dengan cara berpikir seseorang. Pola pikir seseorang terlihat dari cara ia membahasakan segala sesuatu hal.

Untuk dapat memahami bahasa, kita dapat melakukannya melalui kajian teks. Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011: 225) teks sama dengan discourse, yaitu kesatuan dari beberapa kalimat yang satu dengan yang lain saling terikat erat. Pengertian satu kalimat harus dihubungkan dengan kalimat yang lain dan tidak dapat ditafsirkan satu-satu kalimat. Dengan kata lain, teks adalah satu kesatuan semantik bukan kesatuan gramatikal. Kesatuan yang bukan dikarenakan bentuknya tetapi kesatuan artinya. Teks adalah suatu contoh proses dan hasil dari makna dalam konteks situasi tertentu. Pemahaman terhadap teks tidak terlepas dari konteks yang menyertai teks tersebut. Teks dan konteks merupakan aspek dari proses yang sama. Pengertian mengenai konteks tidak hanya meliputi hal-hal tertulis melainkan juga hal-hal yang tanpa kata atau nonverbal.

Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan.

(11)

Penggunaan bahasa secara alamiah tersebut berarti penggunaan bahasa seperti bahasa sehari-hari. Eriyanto (2011:5) menyatakan analisis wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut).

Setiap wacana pasti mempunyai struktur agar memenuhi sebagai sebuah wacana yang kohesif dan koheren. Struktur wacana adalah cara atau bagaimana sebuah wacana disusun atau dibangun. Wacana memiliki elemen-elemen yang membangun wacana tersebut. Sebuah wacana akan mudah dipahami tidak hanya dari makna yang dibangunnya saja, tetapi juga dari elemen-elemen yang menyertainya. van Dijk (dalam Eriyanto, 2011: 226) membagi struktur wacana menjadi tiga bagian. Bagian pertama dari struktur wacana adalah struktur makro, Ini merupakan makna global atau umum dari suatu wacana yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu wacana. Kedua, superstruktur merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu wacana, bagaimana bagian-bagian wacana tersusun ke dalam wacana secara utuh. Bagian ketiga, adalah struktur mikro bagian ini merupakan makna wacana, yakni kata, frase, anak kalimat, kalimat, proposisi, dan gambar.

Analisis superstruktur pada wacana mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga membentuk kesatuan arti. Meskipun mempunyai bentuk dan skema yang beragam, wacana umumnya mempunyai dua kategori skema besar. Pertama, summary yang biasanya di tandai dengan dua

(12)

elemen yakni judul dan lead. Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang paling penting. Judul umumnya menunjukan tema yang ingin ditampilkan oleh penulis dalam tulisannya. Lead umumnya sebagai pengantar ringkasan apa yang ingin dikatakan sebelum masuk dalam isi berita secara lengkap. Kedua, story yang biasanya juga di tandai dengan dua elemen yaitu situasi dan komentar.

Jurnal ilmiah adalah majalah publikasi yang memuat KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang secara nyata mengandung data dan informasi yang mengajukan iptek dan ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan ilmiah serta diterbitkan secara berkala. (Rifai 1995:57). Jurnal merupakan hasil penelitian yang hanya diambil bagian – bagian pentingnya saja. Jurnal penelitiannya bisa dilakukan lebih dari satu orang. Terdapat skema pada jurnal meliputi judul, abstraksi, latar belakang, tujuan, hipotesis, isi, dan kesimpulan.

Jurnal ilmiah tidak hanya jurnal 华文教学写研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū) saja, tetapi banyak sekali jurnal ilmiah yang diterbitkan. Peneliti memilih jurnal ini karena tidak hanya menampilkan satu latar belakang saja, tetapi ada beberapa latar belakang dalam satu kali terbitan. Jurnal 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū) ini juga lebih terperinci menjelaskan bagaimana menggunakan bahasa mandarin, bagaimana pembaca bisa memahami bahasa Mandarin secara rinci.

Penelitian Jurnal 华文教学写研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū) ini perlu diteliti karena mempunyai ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan jurnal ilmiah yang lainnya. Jurnal 华 文 教 学 写 研 究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū)

(13)

memaparkan dengan jelas dan lengkap mulai dari pendahuluan atau latar belakang dari permasalahan, sampai menjelaskan dan mendeskripsikan bagaimana berbahasa Mandarin. Penulisan jurnal 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū) ini teratur dan sesuai dengan kaidah pembuatan penulisan jurnal. Jurnal menyertakan daftar pustaka dan menampilkan gambar gambar rinci sehingga terlihat jelas.

Jurnal yang menggunakan bahasa Mandarin haruslah menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, terutama sekali pada bagian latar bekalang jurnal tersebut. Hal ini berkaitan erat dengan alur skema yang terdapat pada jurnal, agar pembaca dapat mengetahui dengan jelas dan dapat membuat para pembaca tertarik untuk membaca jurnal tersebut. Dengan menggunakan superstruktur secara skematik, jurnal dapat tertata dengan baik. Oleh karena itu, peneliti menyadari akan pentingnya struktur pada latar belakang dalam jurnal untuk lebih memperjelas apa saja yang terkandung dalam jurnal tersebut.

Peneliti ingin meneliti lebih dalam tentang jurnal 华 文 教 学 写 研 究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū) yang menggunakan Bahasa Mandarin dan memfokuskan superstruktur pada latar belakang jurnal tersebut.

.

1.2 Batasan Masalah

Agar penulisan skripsi ini dapat terarah dan pembahasannya juga tidak mengambang, maka pembahansan tentang struktur wacana dibatasi hanya pada di setiap pendahuluan jurnal 华文教学写研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū) dan

(14)

memfokuskan pada superstruktur saja, karena struktur mikro dan makro terlalu luas pembahasannya.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan dan diuraikan, maka rumusan masalah penelitian adalah :

1. Bagaimana Superstruktur pada wacana jurnal 华 文 教 学 写 研 究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū) ?

2. Skema superstruktur apakah yang terdapat pada wacana jurnal 华文教 学写研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū) ?

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan superstruktur pada wacana jurnal 华文教学写研 究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū).

2. Menjelaskan skema yang terdapat pada wacana jurnal 华文教学写 研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū).

(15)

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang dapat diambil dari hasil penelitian adalah sebagai berikut :

1.5.1 Manfaat Teoritis

Memberikan gambaran terhadap pembaca tentang sebuah analisis struktur wacana khususnya secara skematik yang ada di dalam jurnal 华文教学写 研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū),bahwa teori analisis wacana tidak bisa lepas dari sebuah wacana, baik wacana tulisan maupun lisan.

1.5.2 Manfaat Praktis

Agar pembaca mengerti tentang pemahan dan keteraturan yang ada di dalam bahasa itu sendiri serta untuk menambah pengetahuan tentang analisis struktur wacana pada jurnal, khusus nya wacana tulisan yang ada di dalam jurnal.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Singarimbun dan Effendi (2011:33) menyatakan konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan barbagai fenomena yang sama.” Konsep merupakan suatu kesatuan pengertian tentang suatu hal atau persoalan yang dirumuskan. Dalam merumuskan kita harus dapat menjelaskannya sesuai dengan maksud kita memakainya.

Adapun konsep dari penelitian ini adalah mengenai:

2.1.1 Analisis Wacana

Stubbs (dalam Rani, 2006: 9-10), analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah tersebut berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari. Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antarpenutur. Data dalam analisis wacana selalu berupa teks, baik teks lisan maupun tulis. Teks disini mengacu pada bentuk transkripsi rangkaian kalimat atau ujaran. Analisis wacana pada umumnya bertujuan untuk mencari keteraturan, bukan kaidah. Keteraturan itu berkaitan dengan keberterimaan di masyarakat.

(17)

Wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar yang digunakan dalam komunikasi. Dalam situasi komunikasi, apapun bentuk wacananya, diasumsikan adanya penyapa (addressor) dan pesapa (addressee). Dalam wacana lisan, penyapa adalah pembicara sedangkan pesapa adalah pendengar. Dalam wacana tulis, penyapa adalah penulis sedangkan pembaca adalah pesapa. Tanpa adanya kedua unsur itu, tidak akan terbentuk suatu wacana. Dalam komunikasi tulis, proses komunikasi penyapa atau pesapa tidak berhadapan langsung. Penyapa menuangkan ide tau gagasannya dalam kode-kode kebahasaan yang biasanya berupa rangkaian kalimat. Rangkaian kalimat tersebut yang nantinya ditafsirkan maknanya oleh pembaca (pesapa). Di sini pembaca mencari mencari makna berdasarkan untaian kata yang tercetak dalam teks. Dalam kondisi seperti itu, wujud wacana adalah teks yang berupa rangkaian proposisi sebagai hasil pengungkapan ide atau gagasan. Dengan kata lain, wacana dalam komunikasi tulis berupa teks yang dihasilkan oleh seorang penulis (Rani, dkk, 2006: 3-4).

Wacana tulis adalah teks yang berupa rangkaian kalimat yang menggunakan ragam bahasa tulis. Wacana tulis dapat kita temukan dalam bentuk buku, berita koran, artikel, majalah, dan sebagainya (Rani, dkk, 2006: 26).

Wacana tulis banyak menggunakan bentuk-bentuk baku, kecuali wacana yang memang disengaja oleh penulisnya untuk menonjolkan makna wacana yang ingin disampaikan kepada para pembacanya.

Fairclough (1992:63) memperlakukan wacana sama halnya dengan

‘language use’, ‘parole’ atau ‘performance’ dalam konsep tradisional. Baginya, wacana merupakan suatu bentuk praktek sosial, yang pada kenyataannya dapat

(18)

berupa ujaran, respon, atau aksi dari masyarakat terhadap lingkungan sosialnya.

Dengan demikian, bentuk nyata atau realisasi dari wacana inilah ujaran, respon, atau aksi lebih lanjut disebutnya sebagai sebuah teks.

Sejalan dengan Fairclough, Syamsuddin (1992:2), berpendapat bahwa wacana pada dasarnya merupakan pembahasan terhadap hubungan antara konteks-konteks yang terdapat di dalam teks. Pembahasan hubungan tersebut bertujuan menjelaskan hubungan antara kalimat atau antara ujaran yang membentuk wacana. Syamsuddin juga membedaan antara wacana dan teks.

Baginya teks adalah sebuah untaian kalimat atau ujaran dan wacana merupakan hubungan kontekstual yang diperlihatkan oleh kalimat dan ujaran dalam teks tersebut.

Dengan demikian, analisis teks merupakan analisis hubungan antara struktur pembentuk teks secara tekstual tanpa memperhitungkan aspek kontekstualnya, sedangkan analisis wacana adalah analisis hubungan antara struktur pembentuk teks secara tekstual dengan aspek kontekstualnya (lingkungan sekitarnya / praktek sosial masyarakat).

2.1.2 Struktur Wacana

Halliday dan Hasan (1994: 72) menyatakan bahwa struktur sebuah wacana menunjuk pada struktur yang menyeluruh, struktur global bentuk pesannya.

Dalam setiap struktur wacana, akan ditemukan beberapa unsur, baik itu unsur wajib, unsure tidak wajib (pilihan), dan pengulangan. Muncul tidaknya sebuah unsure dipengaruhi oleh konteks situasi yang melatar belakanginya.

(19)

Melalui berbagai karyanya, Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011:227-229) mencetuskan kerangka analisis wacana yang terdiri atas tiga struktur utama yaitu : struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro.struktur wacana sangat kompleks, terdiri dari beberapa kategori beserta elemen-elemennya. Melihat suatu wacana terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung.

Selanjutnya, Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011: 226) membagi struktur wacana menjadi tiga bagian. Bagian pertama dari struktrur wacana adalah struktur makro. Ini merupakan makna global atau umum dari suatu wacana yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang di kedepankan dalam suatu wacana.

Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu wacana, bagaimana bagian-bagian wacana tersusun ke dalam wacana secara utuh. Bagian ketiga, adalah struktur mikro. Bagian ini merupakan makna wacana, yakni kata, frase, anak kalimat, kalimat, proposisi, dan gambar.

(20)

Tabel 2.1. Struktur Wacana

Struktur Makro

Makna global dari suatu wacana yang dapat diamati dari topik/tema yang diangkat oleh suatu wacana. Tema/topik ini tidak hanya isi dari wacana, tetapi juga sisi

tertentu dari suatu peristiwa.

Superstruktur

Kerangka suatu wacana: bagaimana struktur dan elemen wacana itu disusun dalam wacana secara utuh. Kerangka suatu wacana berisi seperti bagian

pendahuluan, isi, dan penutup.

Struktur Mikro

Makna lokal dari suatu wacana yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat, dan gaya yang dipakai oleh suatu wacana. Makna wacana yang dapat diamati dari

bagian kecil dari suatu wacana yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar.

Struktur wacana adalah cara efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan. Kata-kata tertentu mungkin dipilih untuk mempertegas pilihan dan sikap, membentuk kesadaran,dan sebagainya. Berikut akan di uraikan satu persatu elemen wacana Van Dijk.

(21)

Tabel 2.2. Elemen Struktur Wacana STRUKTUR

WACANA

PENGERTIAN HAL YANG

DIAMATI

ELEMEN Struktur

Makro

Makna global dari suatu teks yang dapat

diamati dari topok/tema yang diangkat oleh suatu teks

TEMATIK

Tema/topik yang dikedepankan dalam suatu berita

Topik

Superstruktur Kerangka suatu teks,

seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan

SKEMATIK

Bagaimana bagian dan urutan berita diskemakan dalan teks berita utuh

Skema (struktur tiga babak yaitu:

awal, konflik dan resolusi) Struktur

Mikro

Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks

SEMANTIK

Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita. Misal dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat eksplisit satu sisi dan mengurangi detil sisi lain

Latar, Detil, Maksud, Pra- anggapan, Nominalisasi

SINTAKSIS

Bagaimana kalimat (bentuk susunan) yang dipilih

Bentuk Kalimat, Koherensi, Kata Ganti STILISTIK

Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks berita

Leksikon

RETORIS

Bagaimana dan dengan apa cara penekanan dilakukan

Grafis, Metafora, Ekspresi

(22)

Setiap wacana, baik lisan maupun tulis, mempunyai struktur wacana yaitu struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Sebuah wacana pasti mempunyai struktur wacana tersebut agar bisa menjadi wacana yang utuh.

2.1.2.1 Struktur Makro

Struktur makro menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011: 229) adalah makna global dari suatu wacana yang dapat diamati dari topik/tema yang diangkat oleh suatu wacana. Tema/topik ini tidak hanya isi dari wacana, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.

Element tematik menunjukan pada gambaran umum dari suatu teks. Bisa juga di sebut sebagai gagasan inti, ringkasan, atau yang utama dari suatu teks. Van Dijk (dalam Eriyanto: 229).

2.1.2.2 Superstruktur

Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011: 227) superstruktur adalah skema konvensional yang menyajikan bentuk keseluruhan dari isi wacana yang merupakan konten atau isi makrostruktur sehingga dapat dikatakan suprastruktur merupakan kerangka dan alur teks serta struktur skematik. Suatu wacana tidak hanya mengandungstruktur makna, tetapi juga sejenis struktur cetak untuk memperlihatkan konten yang terstruktur atau dengan kata lain, makrostruktur menguraikan isinya dan superstruktur menguraikan bentuknya. Bentuk superstruktur itu sendiri dapat berbeda-beda dalam setiap wacana.

(23)

Superstruktur merupakan kerangka dasar sebuah teks yang meliputi susunan atau rangkaian struktur atau elemen sebuah teks dalam membentuk satu kesatuan bentuk yang koheren. Dengan kata lain, analisis superstruktur merupakan analisis skema atau alur sebuah teks. Seperti halnya sebuah bangunan, sebuah teks juga tersusun atas berbagai elemen seperti pendahuluan, isi dan penutup yang harus dirangkai sedemikian rupa, guna membentuk sebuah teks yang utuh dan menarik.

2.1.2.2.1 Pendahuluan

Arikunto (1993:17) menyebutkan tentang pendahuluan ini dengan eksploratoris sebagai dua langkah, dan perbedaan antara langkah pertama dengan langkah kedua ini adalah penemuan dan pendalaman. Memilih masalah adalah menemukan masalah sedang pendahuluan bermaksud mendalami masalah itu, sehingga harus dilaksanakan secara lebih sistematis dan intensif.

Pendahuluan merupakan studi yang dilakukan untuk mempertajam arah studi utama. Studi pendahuluan dilakukan karena kelayakan penelitian berkenaan dengan prosedur penelitian dan hal lainnya yang masih belum jelas.

Cirri –ciri pendahuluan terlihat pada bagian awal wacana adalah gambaran umum tentang masalah yang akan di angkat. Dengan model piramid terbalik buat gambaran umum tentang masalah mulai dari hal global sampai mengerucut fokus pada masalah inti, objek serta ruang lingkup yang akan di teliti.

(24)

2.1.2.2.2 Isi

Althieide (1996:2) mengatakan isi (content) atau situasi sosial seputar dokumen (pesan/teks) yang diriset. Misalnya, periset harus mempertimbangkan faktor ideologi institusi media, latar belakang wartawan & bisnis, karena faktor – factor ini menentukan isi berita dari media tersebut.

Ciri – ciri isi adalah sebagai berikut:

1. menggambarkan atau melukiskan sesuatu.

2. Penggambaran di dalam paragraf tersebut dilakukan dengan sangat jelas dan terperinci dan turut melibatkan kesan indera.

3. Saat pembaca membaca paragraf tersebut, pembaca seolah-olah merasakan, melihat, atau mengalami sendiri apa yang sedang dibicarakan di dalam paragraf tersebut.

2.1.2.2.3 Penutup

Penutup adalah bagian yang berisi kesimpulan. Arikunto (1993:24) menyatakan kesimpulan adalah pernyataan singkat, jelas, dan sistematis dari keseluruhan hasil analisis, pembahasan, dan pengujian hipotesis dalam sebuah penelitian. Saran adalah usul atau pendapat dari seorang peneliti yang berkaitan dengan pemecahan masalah yang menjadi objek penelitian ataupun kemungkinan penelitian lanjutan.

Pada bagian kesimpulan dan saran, peneliti berusaha memperlihatkan benang merah antara keseluruhan bagian dalam penelitian, terutama antara masalah penelitian, hipotesis, dan analisis data. Sebuah kesimpulan ilmiah harus

(25)

didasarkan pada hasil penelitian, karena pada bagian ini peneliti berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan masalah penelitian. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang peneliti untuk mengetahui cara atau teknik menarik kesimpulan atas data-data yang diperolehnya.

Berikut ciri-ciri kalimat penutup dalam sebuah wacana:

1. menggunakan bahasa sendiri 2. berdasarkan ide pokok

3. memiliki kesamaan dengan kalimat utama 4. memuat kata kunci dari kalimat penjelas

2.1.2.3 Struktur Mikro

Struktur mikro adalah urutan paling rendah setelah struktur makro dan superstruktur. Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011: 226), struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar.

Struktur mikro merupakan suatu bagian dari struktur wacana yang mengamati bagaimana suatu wacana terbangun melalui elemen-elemen yang lebih kecil. Pemahaman terhadap sebuah wacana tidak hanya dilihat dari segi isinya saja, tetapi juga elemen-elemen yang menyusun wacana tersebut.

Struktur mikro merupakan bagian kecil dari struktur wacana yang mempunyai peran untuk mengetahui makna lokal dari suatu wacana yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, gambar, dan

(26)

gaya yang dipakai oleh suatu wacana. Hal yang diamati yang dari struktur mikro ini adalah semantik, sintaksis, leksikon, dan retorika.

2.1.3 Skema Superstruktur

Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto 2001:225) Teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga membentuk kesatuan arti. Meskipun mempunyai bentuk dan skema yang beragam, berita umumnya mempunyai dua kategori skema besar yaitu:

2.1.3.1 Summary

Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto 2001:225) Summary yang biasanya ditandai dengan dua elemen yakni judul dan lead. Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang paling penting.

2.1.3.1.1 Judul

Judul umumnya menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh wartawan dalam pemberitaannya.

2.1.3.1.2 Lead

Lead umumnya sebagai pengantar ringkasan apa yang ingin dikatakan sebelum masuk dalam isi berita secara lengkap.

(27)

2.1.3.2 Story

Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto 2001:225) Story yakni isi berita secara keseluruhan. Isi berita ini juga mempunyai dua subkategori. Yang pertama berupa situasi yakni proses atau jalannya peristiwa, sedang yang kedua komentar yang ditampilkan dalam teks.

2.1.3.2.1 Situasi

Subkategori situasi yang menggambarkan kisah suatu peristiwa umumnya terdiri atas dua bagian. Yang pertama mengenai episode atau kisah utama dari peristiwa tersebut, dan yang kedua latar untuk mendukung episode yang disajikan kepada khalayak. Misalnya berita tentang konser Dewi Persik yang batal diselenggarakan karena mendapat protes dan kecaman keras dari masyarakat.

Episode ini umumnya juga akan didukung oleh latar, misalnya, dengan mengatakan ini pembatalan konser Dewi Persik yang kesekian kali. Dengan demikian, latar umumnya dipakai untuk memberi konteks agar suatu peristiwa lebih jelas ketika disampaikan kepada khalayak.

2.1.3.2.2 Komentar

Sedangkan subkategori komentar yang menggambarkan bagaimana pihak- pihak yang terlibat memberikan komentar atas suatu peristiwa terdiri atas dua bagian. Pertama, reaksi atau komentar verbal dari tokoh yang dikutip wartawan.

Kedua, kesimpulan yang diambil oleh wartawan dari komentar beberapa tokoh.

Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011: 227), arti penting dari skematik adalah

(28)

strategi wartawan untuk mendukung topik tertentu yang ingin disampaikan dengan menyusun bagian-bagian dengan urutan-urutan tertentu. Skematik memberikan tekanan mana yang didahulukan, dan bagian mana yang disembunyikan. Upaya penyembunyian itu dilakukan dengan menempatkan di bagian akhir agar terkesan kurang menonjol.

2.1.4 Jurnal

Jurnal ilmiah adalah majalah publikasi yang memuat KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang secara nyata mengandung data dan informasi yang mengajukan iptek dan ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan ilmiah serta diterbitkan secara berkala. (Rifai 1995:57).

Ada beberapa jenis penerbitan berkala, selain jurnal , yaitu Majalah, Bulletin, Warkat Warta.

• Majalah adalah terbitan berkala yang bukan harian, setiap keluar diberi halaman terpisah, biasanya diidentifikasi dengan tanggal dan bukan nomor berseri.

• Bulletin adalah berkala resmi yang dikeluarkan lembaga atau organisasi profesi ilmiah serta memuat berita, hasil dan laporan kegiatan dalam satu bidang.

• Warkat Warta, adalah terbitan pendek berisi berita, termasuk kemejuan keilmuan yang berisi catatan singkat yang mengutarakan materi secara umum dan tidak mendalam. (Rifai 1995:57-59).

(29)

Selain itu jurnal pun mempunyai skema, adapun skema dalam jurnal sebagai berikut:

• Judul, setiap jurnal ilmiah harus memiliki judul yang jelas. Dengan membaca judul, akan memudahkan pembaca mengetahui inti jurnal tanpa harus membaca keseluruhan dari jurnal tersebut.

• Abstrak, abstrak berbeda dengaan ringkasan. Bagian abstrak dalam jurnal ilmiah berfungsi untuk mencerna secara singkat isi jurnal.

Abstrak di sini dimaksudkan untuk menjadi penjelas tanpa mengacu pada jurnal.

• Latar belakang, adalah pernyataan dari kasus peneliti yang ada diselidiki, yang memberikan informasi kepada pembaca untuk memahami tujuan spesifik peneliti dalam kerangka teoritis yang lebih besar.

• Tujuan, merupakan misi sasaran yang ingin dicapai oleh suatu organisasi di masa yang akan datang dan menajer bertugas mengarahkan jalannya organisasi untuk mencapai tujuan tersebut.

• Hipotesis, adalah jawaban sementara terhdap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

• Isi, bagian ini merupakan inti dari jrunal. Menguraikan secara komplek.

• Kesimpulan, bagian ini hanya menyatakan bahwa peneliti berpikir mengenai setiap data yang disajikan berhubungan kembali pada pertanyaan yang dinyatakan dalam latar belakang.

(30)

Berdasarkan pengertian, macam dan jenis tersebut diatas, didalam pedoman ini dimaksudkan dengan jurnal ilmiah adalah terbitan berkala yang berisi kajian-kajian ilmiah yang spesifik dan dalam bidang tertentu.

2.2 Tinjauan Pustaka

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1731) tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, pendapat (sesudah menyelidiki, mempelajari, dsb).

Sedangkan pustaka adalah kitab, buku, primbon (KBBI, 2008:1253).Dalam menyelesaikan penelitian ini dibutuhkan kepustakaan yang relevan karena hasil dari suatu karya ilmiah harus bisa dipertanggungjawabkan dan harus memiliki data-data yang kuat dan memiliki hubungan dengan yang diteliti.

Di dalam penelitian ini, penulis telah membaca beberapa penelitian- penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai bahan referensi di dalam penulisan skripsi ini, yakni :

Halim (2013) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Struktur dan Makna Teks Iklan Pada Brosur Kursus Bahasa Mandarin” menjelaskan tentang bagaimana struktur dari sebuah iklan brosur kursus bahasa Mandarin dan apa makna dari sebuah iklan brosur kursus bahasa Mandarin tersebut. Penelitian ini hanya berfokus pada struktur dan makna saja. Skripsi ini memberikan kontribusi kepada penulis karena membahas tentang struktur wacana.

Pratiwi (2015) menyampaikan dalam tesisnya yang berjudul “Wacana Persaingan Dalam Tayangan Reality Show (Analisis Wacana Kritis Tentang Wacana Persaingan Dalam Tayangan Reality Show Master Chef Indonesia

(31)

Session 3 Di RCTI)” menjelaskan bagaimana makna persaingan yang terdapat dalam struktur makro, superstruktur dan struktur mikro yang disampaikan dalam tayangan reality show Master Chef Indonesia Session 3 di RCTI dalam segmen ke-6 (enam) episode top three. Penelitian ini memeberikan kontribusi kepada penulis karena adanya bahasan tentang struktur wacana dan menjadi bahan refernsi penulis dalam skripsi ini.

Syahputra (2015) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Wacana Kritis Pada Pemberitaan Arab Spring di Media Online Arab” skripsi ini membahas tentang struktur makro dan superstruktur wacana teks media online. Penulis melihat adanya kesamaan pendapat superstruktur wacana yang ada di dalam skripsi tersebut.

Harahap (2015) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Wacana Kritis Terhadap Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada Tanggal 17 Agustus 1966” Penelitian ini mencoba menjelaskan tentang wacana yang terdapat dalam pidato kenegaraan Presiden Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1966.

Pidato kenegaraan menarik untuk diteliti karena pidato kenegaraan itu disampaikan secara luas dan merupakan keterangan resmi Presiden yang memuat berbagai tanggapan masalah yang muncul. Kontribusi untuk peneliti adalah dengan mengambil dari teori yang sama yaitu teori Van dijk.

Dù ping (2013) dalam jurnal nya yang berjudul Analisis Struktur Wacana Pada Pesta Tahun Baru Jerman , membahas tentang pidato dalam pesta tahun baru Jerman. Penulis melihat adanya kesamaan teori menurut Van Dijk, Itulah salah satu kontrubisu untuk penelitian ini.

(32)

2.3 Landasan Teori

Teori yang dipakai untuk menganalisis rumusan masalah dalam penelitian ini adalah teori analisis wacana Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011:225).

Van Dijk (dalam Eriyanto, 2011:225) yang mengatakan superstruktur adalah kerangka dasar sebuah teks yang meliputi susunan atau rangkaian struktur atau elemen sebuah teks dalam membentuk satu kesatuan bentuk yang koheren.

Setelah mengetahui penjelasan superstruktur dari wacana jurnal tersebut maka akan mudah untuk menganalisis penggunaan superstruktur yang terkandung di dalamnya. Meskipun mempunyai bentuk dan skema yang beragam, wacana umumnya mempunyai dua kategori skema besar yaitu:

Pertama, summary yang biasanya ditandai dengan dua elemen yakni judul dan lead. Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang paling penting.

Judul umumnya menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh wartawan dalam pemberitaannya. Lead umumnya sebagai pengantar ringkasan apa yang ingin dikatakan sebelum masuk dalam isi berita secara lengkap. Kedua, story yakni isi berita secara keseluruhan. Isi berita ini juga mempunyai dua subkategori. Yang pertama berupa situasi yakni proses atau jalannya peristiwa, sedang yang kedua komentar yang ditampilkan dalam teks.

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bertahap di mulai dengan penemuan topik, pengumpulan data, dan menganalisis data, sehingga diperoleh suatu pemahaman dan pengertian dan isu tertentu. Menurut Semiawan (2007:5), “metode penelitian didefenisikan sebagai suatu kegiatan ilmiah yang terencana, terstruktur, sistematis dan memiliki tujuan tertentu baik praktis maupun teoritis”.

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif.

Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Moleong, 2004: 138).

Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Whitney dalam Moh. Nazir (2003:16) bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi- situasi tertentu, termasuk tentang hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap- sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena (Nazir, 2003: 16).

(34)

3.2 Data dan Sumber Data 3.2.1 Data

Arikunto (2002: 23), data merupakan segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi, sedangkan informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendahuluan isi dan penutup pada latar belakang jurnal 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū).

3.2.2 Sumber Data

Sumber Data ini diperoleh dengan menggunakan studi literatur yang dilakukan terhadap banyak buku dan diperoleh berdasarkan catatan – catatan yang berhubungan dengan penelitian ini. Sumber data dalam penelitian ini adalah:

Judul : 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū) Editing : 华文教学与研究华志华华部 (huáwén jiàoxué yǔ

yánjiū zázhì biānjí bù) Terbitan ulang : 季刊 (

Tempat Publikasi : 广华省广州市 ( Jìkān)

Bahasa : 中文 (

Guǎngdōng shěng guǎngzhōu shì)

Edisi : 2015 年第 02 期

Zhōngwén)

(35)

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Rahmawan (2009 : 15) pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan . Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik baca dan teknik catat. Teknik baca dilakukan dengan membaca setiap pendahuluan pada jurnal 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū). Teknik catat dilakukan dengan pencatatan pada setiap apa yang termasuk dalam supertruktur.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti di dalam pengumpulan data ini adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan buku-buku yang diharapkan dapat mendukung tulisan ini. Kemudian memilih data yang dianggap paling penting dan menyusunnya secara sistematis.

2. Membaca wacana pendahuluan yang terdapat pada jurnal bahasa mandarin 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū).

3. Memberikan tanda pada setiap awalan, isi dan penutup wacana pendahuluan yang terdapat pada jurnal bahasa mandarin 华文教学写 研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū).

4. Menuliskan struktur setiap wacana pendahuluan yang terdapat pada jurnal bahasa mandarin 华文教学写研究 (huáwén jiàoxué xiě yánjiū).

(36)

Hasil olahan data dan analisis tersebut akan dijadikan sebagai bahan tulisan yang nantinya dapat ditemukan tema yang akan dirumuskan.

Selanjutnya hasil pengolahan data analisis tersebut disusun secara sistematis dengan teknis deskriptif kualitatif, sehingga hasilnya dapat dilihat dalam suatu bentuk laporan karya ilmiah atau skripsi.

3.4 Teknik Analisis Data

Setelah pengolahan data, langkah selanjutnya adalah analisis data, Menurut Spradley (2007:24) analisis data adalah pengujian sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian-bagiannya, hubungan diantara bagian-bagian dan hubungan bagian-bagian itu dengan keseluruhan. Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti akan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang telah diperoleh akan disusun dan dianalisa untuk selanjutnya diolah sehingga diperoleh hasil yang objektif mengenai objek penelitian penulis.

Dalam penelitian ini, peneliti mengikuti langkah - langkah seperti yang dianjurkan oleh Miles dan Huberman (Sugiono, 2008: 21) yaitu :

(1) Reduksi data (2) Display data

(3) Pengambilan kesimpulan dan verifikasi

(37)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Superstruktur pada wacana jurnal 华文教学写研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū).

Berdasarkan penjabaran mengenai latar belakang di atas, maka penulis akan memaparkan mengenai superstruktur pada wacana jurnal 华文教学写研究 ( huáwén jiàoxué xiě yánjiū). Berikut analisisnya:

1. Data Pertama Pendahuluan:

重叠是华华中的重要华法手段 。 作华一种句法重叠 ( 参华石毓智, 1996) , 华华的量华唾叠可以表达不同的华法意华。 根据以往的研究 (宋玉柱 , 1981 , 郭华懋 , 1999 , 李文浩 , 2010 等 ) , 量华重叠的意华主要有三华 , 即 : 1 ) 啁遍 ,, 华 ; 2 ) “ 多 ” 华 ; 3 ) “ 华华 ” 华 。

Penyusunan merupakan hal yang paling utama di dalam tata bahasa Mandarin sebagai penyusunan sintaksis(di lihat dari Shi Yuzhi,1996), penyusunan

Chóngdié shì hànyǔ zhòng de zhòngyào yǔfǎ shǒuduàn. Zuòwéi yī zhǒng jùfǎ chóngdié (cānjiàn shíyùzhì, 1996), hànyǔ de liàngcí tuò dié kěyǐ biǎodá bùtóng de yǔfǎ yìyì. Gēnjù yǐwǎng de yánjiū (sòngyùzhù, 1981, guōjìmào, 1999, lǐwénhào, 2010 děng), liàngcí chóngdié de yìyì zhǔyào yǒusān lèi, jí: 1) Zhāo biàn,, yì; 2) “duō” yì; 3) “liánxù” yì.

(38)

berbeda.berdasarkan penelitian sebelumnya (Song Yuzhu,1981, Guo Jimao 1999, Li Wenhao,2010,dll),penyusunan memiliki 3 makna yaitu: 1) setiap, 2) berlebihan 3) berturut-turut.

Isi :

华里的华华是 , 华三种意华之华到底有什么华的关华 ? 有没有可能从 一种基本意华出 华 , 将三种意华分华推华出来 ? 面华华华的华 华,有“分化

” 和 “合并”两种思路。前者以华玉明 ( 1994 ) 华代表 , 华华 “ 量华重叠是一 种同形异华的复合体 ” ( 华引自李文浩 , 2010 , 与之相华 , 郭华懋 ( 1999 ) 和 李文浩 ( 2010 ) 都采取了 “ 合并 ” 的方法 , 主华量华重叠有一种概括的华法 意华 。

Masalahnya disini adalah,antara 3 jenis makna ini memiliki hubungan seperti apa? Apakah ada kemungkinan ada makna dasar,ketiga makna tersebut muncul? Menghadapi masalah seperti ini, ”terpecah” dan ”tergabung” merupakan dua arti yang sejalan.

Zhèlǐ de wèntí shì, zhè sān zhǒng yìyì zhī jiān dàodǐ yǒu shé me yàng de guānlián? Yǒu méiyǒu kěnéng cóng yī zhǒng jīběn yìyì chūfā, jiāng sān zhǒng yìyì fēnbié tuīdǎo chūlái? Miàn duì zhèyàng de wèntí, yǒu “fēnhuà” hé “hébìng”

liǎng zhǒng sīlù. Qiánzhě yǐ huá yù míng (1994) wèi dàibiǎo, rènwéi “liàngcí chóngdié shì yī zhǒng tóngxíng yìyì de fùhé tǐ” (zhuǎn yǐn zì lǐwénhào, 2010, yǔ zhī xiāngduì, guōjìmào (1999) hé lǐwénhào (2010) dōu cǎiqǔle “hébìng” de fāngfǎ, zhǔzhāng liàngcí chóngdié yǒuyī zhǒng gàikuò de yǔfǎ yì yì.

(39)

Penutup :

本文从华知华法的角度出华,借华 Van Huyssteen (2004) 华 afrikaans 华言重叠华象的分析,把华华重叠看做是象征华位合成 (composition) 的一 个特例。也就是华,量华重叠是两个相同量华在华华和华音两个华面上的复 合 。 然而 , 华种复合只是华量华重叠提供了一个概念上的基华 , 其具体的意 华或者华影 ( profile ) 要华句法构式而定 。

Penelitian ini berasal dari perspektif tata bahasa Cina, Van Hussteem (2004) yang berasal dari Afrika, analisis pengulangan kata penggolong bahasa Mandarin dapat dilihat sebagai simbol sintaksis untuk pada pengulangan (komposisi) dan menyusun sesuatu yang khusus. Dan juga dapat dilihat, klasifikasi penggulangan memiliki dua perbedaan antara semantik dan suara.

Konsep ini hanya sebagai penggolongan secara konseptual, makna tertentu atau sintaksis trgantung pada pengembangan formula.

Běnwén cóng rèn zhī yǔfǎ de jiǎodù chūfā, jièjiàn van huyssteen (2004) duì afrikaans yǔyán chóngdié xiànxiàng de fēnxī, bǎ hànyǔ chóngdié kàn zuò shì xiàngzhēng dānwèi héchéng (composition) de yī gè tèlì. Yě jiùshì shuō, liàngcí chóngdié shì liǎng gè xiāngtóng liàngcí zài yǔyì hé yǔyīn liǎng gè céngmiàn shàng de fùhé. Rán'ér, zhè zhǒng fùhé zhǐshì wèi liàngcí chóngdié tígōngle yīgè gàiniàn shàng de jīchǔ, qí jùtǐ de yìyì huòzhě xiǎnyǐng (profile) y ào shì jùfǎ gòu shì ér dìng.

(40)

Analisis:

Wacana pertama yang dijadikan sebagai sumber data untuk bahan analisis terdiri atas empat paragraf. Di dalam wacana tersebut terdapat pendahuluan, isi dan penutup. Pada paragraf pertama terdapat pendahuluan yang menjelaskan bagaimana pentingnya penyusunan dalam tata Bahasa Mandarin, terutama penyusunan sintaksis. Di dalam isi menjelaskan bagaimana masalah yang terdapat pada tata bahasa tersebut. Dan di dalam penutup menjelaskan bagaimana pandangan menurut Van Huyssteen.

Penggunaan supertruktur yang digunakan pada wacana pertama sudah benar karena sudah sesuai dengan aturan Tata Bahasa Mandarin

2. Data Kedua Pendahuluan:

华期以来, 如何华华华的 “华” 做出界定一直是困华华华学界的一大华 华。朱德熙 (1982: 11) 华 “华” 的定华是 “最小的能华独立活华的有意华的华 言成分” , 但在华 “能华独立活华” 做出华一步华明华, 他又华感棘手, “就华华 来华, 华华根据华言成分活华能力的华弱来确定华的界限也是有困华的, 因华 活华能力的华弱是相华的, 我华没有华法华定自由替华达到什么程度才算取 得了华的华格” (朱德熙, 1982: 12)。华言研究华入生成华法华代后, 出于明确 句法华构上占据华端华点的句法成分 (X°) 的需要, 华华 “华” 的界定华华更 华迫切。

(41)

Untuk waktu yang lama, “kata” dalam bahasa Mandarin menjadi permasalahan yang besar. Zhu Dexi (1982: 11) memberi pengertian “kata” adalah hal paling terkecil adalah mampu digunakan secara independen dan cukup rumit”, di dalam bahasa Mandarin, sederhananya adalah untuk menentukan batas-batas kata yang sulit sesuai dengan bahasa, karena kekuatan dalam aktifitas bahasa adalah relative, kita tidak memiliki cara untuk menentukan pengganti yang tepat untuk memiliki syarat berbagai kata (Zhu Dexi, 1982: 12). Setelah melakukan penelitian dalam era tata bahasa generatif, struktur kalimat diduduki oleh sintaksis yang jelas (x) -- misi untuk dapat didefinisikan dan dipecahkan.

Chángqí yǐlái, rúhé gěi hànyǔ de “cí” zuò chū jièdìng yīzhí shì kùnrǎo hànyǔ xuéjiè de yī dà nàn tí. Zhūdé xī (1982: 11) Gěi “cí” de dìngyì shì “zuìxiǎo de nénggòu dúlì huódòng de yǒu yìyì de yǔyán chéngfèn”, dàn zài duì “nénggòu dúlì huódòng” zuò chū jìnyībù shuōmíng shí, tā yòu pǒ gǎn jíshǒu, “jiù hànyǔ lái shuō, dānchún gēnjù yǔyán chéng fèn huódòng nénglì de qiáng ruò lái quèdìng cí de jièxiàn yěshì yǒu kùnnán de, yīnwèi huódòng nénglì de qiáng ruò shì xiāngduì de, wǒmen méiyǒu bànfǎ guīdìng zìyóu tìhuàn dádào shénme chéngdù cái suàn qǔdéle cí de zīgé” (zhūdé xī, 1982: 12). Yǔyán yánjiū jìnrù shēngchéng yǔfǎ shídài hòu, chū yú míngquè jùfǎ jiégòu shàng zhànjù zhōngduān jiédiǎn de jùfǎ chéngfèn (X°) de xūyào, hànyǔ “cí” de jièdìng wèntí gèng xiǎn pòqiè.

Isi :

然而, 几十年华去, 华华 “华” 的界定华华却没有大的华展, 华是局限在 尚不明晰的 “最小的能华独立活华的有意华的华言成分” 华一华述之上。上 世华末, 华华韵律华法登台亮相。华华利 (1996) 等从 “韵律华” 的角度华华华

(42)

华, 华华华 “华” 的研究开辟了一个新的思路。于是, 如何从韵律华法的角度 来华 “华” — “最小的能华独立活华的有意华的华言成分”, 或者华, 句法华构 上占据华端华点的句法成分 (X°) ——做出界定便成华了一个华史华留的任 华, 亟待解决。迄今, 华华利先生等在华一华华上已做了不懈的探华 (如华华 利, 1996、2001a、2001b、2009; 黄梅、华华利, 2009; 黄梅, 2012 等)。

Namun beberapa puluh tahun yang lalu defenisi “kata” bahasa Mandarin belum banyak perkembangan, atau detail nya tidak terbatas “komponen ucapan paling kecil yang bisa aktif secara independen” Pada akhir abad yang lalu, tata bahasa Mandarin muncul di atas panggung. Feng Sheng (1996) meneliti bahasa Mandarin dari perspektif kata-kata , yang membuka jalan baru untuk mempelajari kata-kata bahasa Mandarin. Lalu, bagaimana kita bisa memberi "kata" dari

Rán'ér, jǐ shí nián guòqù, hànyǔ “cí” de jièdìng wèntí què méiyǒu dà de jìnzhǎn, háishì júxiàn zài shàng bù míngxī de “zuìxiǎo de nénggòu dúlì huódòng de yǒu yìyì de yǔyán chéngfèn” zhè yī chénshù zhī shàng. Shàng shìjìmò, hànyǔ yùnlǜ yǔfǎ dēngtái liàngxiàng. Féng shènglì (1996) děng cóng “yùnlǜ cí” de jiǎodù shěnshì hànyǔ, wèi hànyǔ “cí” de yánjiū kāipìle yīgè xīn de sīlù. Yúshì, rúhé cóng yùnlǜ yǔfǎ de jiǎodù lái gěi “cí” — “zuìxiǎo de nénggòu dúlì huódòng de yǒu yìyì de yǔyán chéngfèn”, huòzhě shuō, jùfǎ jiégòu shàng zhànjù zhōngduān jiédiǎn de jùfǎ chéngfèn (X°) ——zuò chū jièdìng biàn chéngwéile yīgè lìshǐ yíliú de rènwù, jídài jiějué. Qìjīn, féng shènglì xiānshēng děng zài zhè yī wèntí shàng yǐ zuò liǎo bùxiè de tàntǎo (rú féng shènglì, 1996,2001a,2001b,2009; huángméi, féng shènglì, 2009; huángméi, 2012 děng).

(43)

bermakna yang dapat bergerak secara independen”. Dengan kata lain, struktur sintaksis menempati komponen sintesa node terminal (x) - untuk membuat definisi telah menjadi tugas yang ditinggalkan oleh sejarah, yang perlu dipecahkan dengan segera. Sejauh ini, Bapak Fang Shenglu telah membahas masalah ini tanpa henti. Feng Shengli, 1996, 2001 a, 2001 b, 2009 ; Huang Mei, 2012, dan lainnya).

Penutup :

第二 部分华一步探华 “华” 与韵律华的不同之华, 即韵律华最大只能 是三个音华, 而华可能超 华三个音华; “华” 内部可以有停华或华歇, 而韵律华 内部不可以。第三部分华从韵律华华华构的角度华 “华” 以定位 ( “华” 在韵 律 等华上是一个跨华华位, 但最大只能是一个黏附华), 并华华内部的停华做 了华一步界定 (只能是音步运作所致的停华, 而不能是黏附华华的停华, 后者 只会华致多个华 )。至此, “华” 的韵律华法特点华然而出。

Bagian kedua pembahasan “kata” yang merupakan perbedannya kata Dì èr bùfèn jìnyībù tàntǎo “cí” yǔ yùnlǜ cí de bùtóng zhī chù, jí yùnlǜ cí zuìdà zhǐ néng shì sān gè yīnjié, ér cí kěnéng chāoguò sān gè yīnjié; “cí” nèibù kěyǐ yǒu tíngdùn huò jiànxiē, ér yùnlǜ cí nèibù bù kěyǐ. Dì sān bùfèn zé cóng yùnlǜ céngjí jiégòu de jiǎodù gěi “cí” yǐ dìngwèi ( “cí” zài yùnlǜ děngjí shàng shì yīgè kuà jí dānwèi, dàn zuìdà zhǐ néng shì yīgè niánfù zǔ), bìng duì cí nèibù de tíngdùn zuòle jìnyībù jièdìng (zhǐ néng shì yīn bù yùnzuò suǒ zhì de tíngdùn, ér bùnéng shì niánfù zǔ jiān de tíngdùn, hòu zhě zhǐ huì dǎozhì duō gè cí). Zhìcǐ, “cí” de yùnlǜ yǔfǎ tèdiǎn yuèrán ér chū.

(44)

atau jeda, tetapi bukan irama dalam kata. Bagian ketiga, “kata” digunakan irama (“kata”) untuk beberapa tingkatan atau beberapa tingkatan atau kelompok saja.

Jumlah kata dan jeda ditetapkan lebih lanjut (suara hanya disebabkan oleh jeda), hanya saja tidak bisa jeda dalam beberapa hal, atau hanya akan menimbulkan lebih banyak kata-kata. Pada hal ini, “kata” merupakan fitur jeda secara gramatikal.

Analisis :

Wacana kedua yang dijadikan sebagai sumber data untuk bahan analisis terdiri atas dua paragraf. Di dalam wacana tersebut terdapat pendahuluan, isi dan penutup. Pada pendahuluan di jelaskan Penggunaan kata “ 华 ” dalam penyesuaiyan bunyi tata bahasa Mandarin. Pada isi menceritakan sejarah kata “华

Penggunaan supertruktur yang digunakan pada wacana kedua sudah benar karena sudah sesuai dengan aturan Tata Bahasa Mandarin.

menurut para ahli. Pada penutup meneruskan sejarah yang terdapat pada isi, lalu di rangkum.

(45)

3. Data Ketiga Pendahuluan:

自从华叔湘 (1963) 指出三音华华音段落的韵律模式 2+1 式和 1+2 式 与定中华构和述华华构有华华关系以后, 韵律与华法的关系就引起了人华的 持华关注。

Sejak dari Lu Shuxiang (1963) 3 suku kata dalam ritme 2+1 atau 1+2 merupakan formula dengan hubungan yang sesuai antar sruktur objek yang akan diberikan, dikhawatirkan antara ritme dan sintaksis itu disebabkan hal yang konstan.

Zìcóng lǚshūxiāng (1963) zhǐchū sān yīnjié yǔyīn duànluò de yùnlǜ móshì 2+1 shì hé 1+2 shì yǔ dìng zhōng jiégòu hé shù bīn jiégòu yǒu duìyìng guānxì yǐhòu, yùnlǜ yǔ yǔfǎ de guānxì jiù yǐnqǐle rénmen de chíxù guānzhù.

Isi :

述华、定中华构与 1+2、2+1 华华又不完全华华的关系引起了众多学 者的持华关注, 华些研究可以分华 3 华:1、韵律华法华角的解华,主要有华丙 甫、端木三 (Lu& Duanmu19912002)、华华利(1997、1998、2000、2004)2、

句法、华华与华知华角的解华, 主要有王洪君(2001)、王华华(2002)、周华 (2006、2011);3、韵律与句法、华华互华华角,主要有吴华善(1986、1989)、

柯航(2007)、沈家煊(2012)。

Shù bīn, dìng zhōng jiégòu yǔ 1+2,2+1 duìyìng yòu bù wánquán duìyìng de guānxì yǐnqǐle zhòngduō xuézhě de chíxù guānzhù, zhèxiē yánjiū kěyǐ fēn wéi 3

(46)

lèi:1, Yùnlǜ yǔfǎ shìjiǎo de jiěshì, zhǔyào yǒu lùbǐngfǔ, duānmù sān (Lu&

Duanmu19912002), féng shènglì (1997,1998,2000,2004)2, jùfǎ, yǔyì yǔ rèn zhī shìjiǎo de jiěshì, zhǔyào yǒu wánghóngjūn (2001), wángcànlóng (2002), zhōu rèn (2006,2011);3, yùnlǜ yǔ jùfǎ, yǔyì hùdòng shìjiǎo, zhǔyào yǒu wúwéishà n (1986,1989), kē háng (2007), chénjiāxuān (2012).

Bin mengatakan, mengingat struktur 1+2, hubungannya tidak sesuai persis disebabkan karena perhatian dari pendidikan yang kurang. Studi-studi ini dapat dibagi menjadi 3 kategori : 1) menjelaskan ritme perspektif tata bahasa, terutama Lu Bingfu, Duan Musan (Lu dan Duanmu 1991, 2002), Feng Shengli (1997, 1998, 2000, 2004). 2) Sintaksis, semantik dan interpretasi perspektif kognitif terutama ada Wang Hongjun (2001), Wang Canlong (2002), Zhouren (2006,2011). 3) Ritme, sintaksis dan makna perspektif interaksi, ada Wu Weishan (1986, 1989), Ke Hang (2007), Chen Jiaxuan (2012).

Penutup :

华 3 华研究思路 8 种研究方案解决了什么华华, 尚存在什么反例, 华从 哪个方面华华深入研究? 本文华华相关研究成果华行华述, 通华比华分析华 华已有研究成果, 并提出自己的一些看法。

Zhè 3 lèi yánjiū sīlù 8 zhǒng yánjiū fāng'àn jiějuéle shénme wèntí, shàng cúnzài shénme fǎnlì, yìngcóng nǎge fāngmiàn jìxù shēnrù yánjiū? Běnwén nǐ duì xiāngguān yánjiū chéngguǒ jìnxíng zòngshù, tōngguò bǐjiào fēnxī zǒngjié yǐ yǒu yánjiū chéngguǒ, bìng tíchū zìjǐ de yīxiē kànfǎ.

(47)

Ketiga ide penelitian dan 8 program penelitian untuk memecahkan masalah, apakah masih ada perubahan mana yang harus terus menerut diteliti secara mendalam? Penelitian ini mengkaji hasil penelitian yang relevan, melalui analisis komparatif penelitian yang ada, kemudian mengusulkan beberapa idenya sendiri.

Analisis :

Wacana ketiga yang dijadikan sebagai sumber data untuk bahan analisis terdiri atas satu paragraf. Di dalam wacana tersebut terdapat pendahuluan, isi dan penutup. Dalam wacana ketiga ini sedikit berbeda dari wacana lain nya. Karena memiliki satu paragraph yang menjelaskan pendahuluan, isi dan penutup secara langsung. Pada pendahuluan menjelaskan bagaimana dalam satu arti meliliki tiga suku kata. Di lanjutkan dengan isi menjelaskan bagaimana tata bahasa tersebut, dan menjelaskan sesuai menurut para ahli. Di bagian penutup menjelaskan bagaimana penelitian dalam jurnal tersebut meneliti dengan relevan.

Penggunaan supertruktur yang digunakan pada wacana ketiga sudah benar karena sudah sesuai dengan aturan Tata Bahasa Mandarin.

4. Data Keempat Pendahuluan:

从华体范畴的研究华状看, 华华体是世界各种华言华体华型研究中相 华 薄 弱 、 华 少 涉 及 的 华 域 ( 曹 茜 蕾 ,2009) 。 Comrie (1976) 华 华 华 体 ( experiential perfect) 下的定华是: “一个特定的状华在华展至今的华去的某一

(48)

华华至少华生华一次” Dahl (1985) 也提出华华似的定华: “华华体的基本用法 是在句子中明确指出某种华型的事件在某一特定的华华点之前的特定华期里 至少华生华一次。” 但迄今系华华华华华体的文献并不多华。

Dari perkembangan penelitian saat ini, dunia melihat bahwa suara adalah jenis – jenis bahasa di dunia relative rendah (Cao Qianlei, 2009). Comrie (1979) mendefinisikan bahwa pengalaman : “sebuah kondisi tertentu terjadi setidaknya melalui pengembangan waktu yang sudah dilewati”. Dahl (1985) juga membuat definisi yang sama : “penggunaan dasar dari pengalaman dalam kalimat jelas bahwa terjadinya setidaknya sekali, pada waktu tertentu antara titik waktu”.

Namun tidak banyak ditemukan pembahasan megenai hal ini. Morfologi bahasa Mandarin mengenai pengalaman “guo”.

Cóng shí tǐ fànchóu de yánjiū xiànzhuàng kàn, jīnglì tǐ shì shìjiè gè zhǒng yǔyán shí tǐ lèixíng yánjiū zhōng xiāngduì bóruò, jiào shǎo shèjí de lǐngyù (cáoqiànlěi,2009). Comrie (1976) duì jīnglì tǐ (experiential perfect) xià de dìngyì shì: “Yīgè tèdìng de zhuàngtài zài fāzhǎn zhìjīn de guòqù de mǒu yī shíjiān zhìshǎo fāshēngguò yīcì” Dahl (1985) yě tíchūguò lèisì de dìngyì: “Jīnglì tǐ de jīběn yòngfǎ shì zài jùzi zhōng míngquè zhǐchū mǒu zhǒng lèixíng de shìjiàn zài mǒu yī tèdìng de shíjiān diǎn zhīqián de tèdìng shíqí lǐ zhìshǎo fāshēngguò yīcì.”

Dàn qìjīn xìtǒng tǎolùn jīnglì tǐ de wénxiàn bìng bù duō jiàn.

(49)

Isi :

华华华华体的形华华华是 “华” , 但根据戴耀晶 (1997) 的考察,作华华 体华华的 “华” 在上个世华四十年代几部重要的华法华著里都未曾华及,直至 五十年代以后, 将 “华” 看成与 “了” “着” 一华的华体华华并从华体意华上展 开华华的华著才逐华多起来。就华法意华而言,王力 (1980) 华华, “华” 表示行 华成华华去, 且所表示的华去的意念比完成貌所表示的更华华烈, 往往表示一 种华华。

Morfologi dalam bahasa Mandarin mengenai pengalaman adalah “guo”, namun menurut penelitian Dai Yaojing (1997), dunia telah memakai kata “guo”

selama 40 tahun dan sekarang hingga 50 tahun, kata “lewat” kemudian “sudah”

sama-sama memiliki arti yaitu telah dilewati/ sudah berlalu. Dalam hal makna gramatikal, Wangli (1980) berpikir, “guo” merupakan hal yang sudah terlewatkan.

Hànyǔ jīnglì tǐ de xíngtài biāojì shì “guò”, dàn gēnjù dàiyàojīng (1997) de kǎochá, zuòwéi shí tǐ biāojì de “guò” zài shàng gè shìjì sìshí niándài jǐ bù zhòngyào de yǔfǎ lùnzhù lǐ dōu wèicéng tán jí, zhízhì wǔshí niándài yǐhòu, jiāng

“guò” kàn chéng yǔ “le” “zhe” yīyàng de shí tǐ biāojì bìng cóng shí tǐ yìyì shàng zhǎnkāi tǎolùn dì lùnzhù cái zhújiàn duō qǐlái. Jiù yǔfǎ yìyì ér yán, wáng lì (1980) rènwéi, “guò” biǎoshì xíngwéi chéngwéi guòqù, qiě suǒ biǎoshì de guòqù de yìniàn bǐ wánchéng mào suǒ biǎoshì de gèng wéi qiángliè, wǎngwǎng biǎoshì yī zhǒng jīnglì.

(50)

Penutup :

本文在前人华华研究的基华上着重华华三 个华华。其并不是所有的 华华都可以跟 “华” 共华,能跟 “华” 共华的华华需要具有怎华的华华特征? 其 二, 按照华华华点, “华” 可以 “表示华作完华” , 也可以 “表示华去曾华有华华 华的事情” , 华两种看似有华的华法意华之华存在怎华的华系? 其三, “华” 在 事件的华华展开华程中具有怎华的事华华示功能?

Sampai saat ini, penelitian masyarat Cina tentang “guo” terfokus pada tata bahasanya (Cao Guangshun,1995 ; Yang Yonglong, 2001 ; Peng Rui, 2009; Xuan Yue, 2011, dan lainnya), Dai Yaojing (1997) dam Kong Lingda (1985, 1986 a, 1986 b, 1995, 2005) membahas makalah tentang “guo” melalui sintaksis dan isu yang relevan. Perlu disebutkan bahwa Chen Zhenyu, Li Yuhu (2013) pada

“pengalaman” membuat definisi yang lebih ketat, bahwa arti dasar dari

“pengalaman” dari beberapa jenis peristiwa terjadi setidaknya sekalo-sekali di beberapa titik dalam waktu sebelumnya, dan hal ini terulang lagi. Yang terakhir ini juga dapat diartikan sebagai kalimat yang harus diperhatikan secara khusus. Ini Běnwén zài qián rén shí xián yánjiū de jīchǔ shàng zhuózhòng tǎolùn sān gè wèntí. Qí bìng bùshì suǒyǒu de dòngcí dōu kěyǐ gēn “guò” gòng xiàn, néng gēn “guò” gòng xiàn de dòngcí xūyào jùyǒu zěnyàng de yǔyì tèzhēng? Qí èr, ànzhào chuántǒng guāndiǎn, “gu ò” kěyǐ “biǎoshì dòngzuò wánbì”, yě kěyǐ

“biǎoshì guòqù céngjīng yǒuguò zhèyàng de shìqíng”, zhè liǎng zhǒng kàn shì yǒu bié de yǔfǎ yìyì zhī jiān cúnzài zěnyàng de liánxì? Qí sān, “guò” zài shìjiàn de dòngtài zhǎnkāi guòchéng zhōng jùyǒu zěnyàng de shìtài biāoshì gōngnéng?

(51)

positif pemahaman yang akurat dari hal ini. Ini berfokus pada tiga isu dasar dalam penelitian Yin sebelumnnya. Tidak semua kata kerja dapat ditambah dengan

“guo” menunjukkan bahwa tindakannya telah selesai”, juga menunjukkan bahwa di masa lalu telah ada hal seperti itu, yang kedua adalah hubungan, yaitu bagaimana hubungan antara makna gramatikal lainnya?

Analisis :

Wacana keempat yang dijadikan sebagai sumber data untuk bahan analisis terdiri atas empat paragraf. Di dalam wacana tersebut terdapat pendahuluan, isi dan penutup. Pada pendahuluan menjelaskan bagaimana studi bahasa di mata dunia. Pada isi menjelaskan bagaimana penggunaan dan fungsi “华”

Penggunaan supertruktur yang digunakan pada wacana keempat sudah benar karena sudah sesuai dengan aturan Tata Bahasa Mandarin.

tersebut. Dan pada penutup menjelaskan pada penelitian tersebut membahas tiga masalah yang terdapat pada penelitian terdahulu.

5. Data Kelima Pendahuluan:

在日常学华和生活中, “看来” 与 “可 华” 的出华华率很高, 但在华有的 华外华华教材中却没有华其华行有效区分, 华致留学生常常华用和混用华两 个华。例如, 李梅华麦克和王芳吃华, 华华华李梅在包里翻了半天都没翻出华 西, 于是王芳华麦克华: “看来, 她没华华包。” 在此情境下就不能华 “可华, 她 没华华包”。那么, “看来” 和 “可华” 的区华究 竟在哪儿?

(52)

Dalam studi dan kehidupan sehari-hari. “tampaknya” dan “terlihat”

frekuensi terjadinya sangat tinggi, tetapi tidak memiliki perbedaan yang valid dalam buku teks bahasa asing, pelajar sering menyebabkan penyalahgunaan dan mencampur dua jata ini. Contohnya : Li Mei mentraktir Wang Feng makan, ternyata pada saat Li Mei memeriksa kantongnya hingga lama tak ditemukan barang yang dia cari, kemudian Wang Feng mengatakan kepada Mike :

“tampaknya dia tidak bawa dompet”, kita tidak dapat mengatakan, “terlihatnya dia tidak bawa dompet”. Jadi, perbedaan “tampaknya” dan “terlihat” ada di mana?

Zài rìcháng xuéxí hé shēnghuó zhōng, “kàn lái” yǔ “kějiàn” de chūxiàn pínlǜ hěn gāo, dàn zài xiàn yǒu de duìwài hànyǔ jiàocái zhōng què méiyǒu duì qí jìnxíng yǒuxiào qūfēn, dǎozhì liúxuéshēng chángcháng wù yòng hé hùnyòng zhè liǎng gè cí. Lìrú, lǐ méi qǐng màikè hé wáng fāng chīfàn, jiézhàng shí lǐ méi zài bāo lǐ fānle bàntiān dū méi fān chū dōngxī, yúshì wáng fāng duì màikè shuō:

“Kàn lái, tā mò d ài qiánbāo.” Zài cǐ qíngjìng xià jiù bùnéng shuō “kějiàn, tā mò dài qiánbāo”. Nàme, “kàn lái” hé “kějiàn” de qūbié jiùjìng zài nǎ'er?

Isi :

已有的相关研究主要有从主华化或华华化等方面华 “看来” 及其相关 格式的研究 (方一新等, 2006; 华华玲, 2007), 从华华性差异、华向短华的华法 化等方面辨析 “看来” 与 “看起来” “看上去” “看似” “看华子” 等华构的异同(

刘楚群, 2009; 刘琉, 2011), 也有从情华化与关华化等角度探华 “可华” 华与 “ 看华” 华华华华演化差异的研究 (刘华华等, 2011)等, 但华没有将 “看来” 与 “ 可华” 华行比华分析的文章。

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi penelitian yang

Microsoft .NET framework adalah perantara agar aplikasi dengan bahasa pemrograman yang didukung dapat berkomunikasi dengan sistem operasi yang digunakan oleh

Ketika memiliki waktu luang maka saya akan membaca buku yang dapat.. memberikan

Oleh karena itu, ditarik kesimpulan bahwa sampel batulempung Nnk-21 dan Nnk-26 dominan berasal dari rombakan hasil pelapukan sampel gunung api berkomposisi basal, dan hanya

*) Kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, yang ditentukan oleh satuan pendidikan (madrasah). **)

Dalam dunia pendidikan istilah metode pengajaran secara sederhana berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tujuan pembelajaran

penelitian yang berjudul ”Pengaruh Entrepreneurial NetworkingTerhadap Kinerja Usaha UMKM Melalui Keunggulan Bersaing (Studi Kasus Pada UMKM di Bidang Kuliner di Kecamatan

Dari tabel 1 diatas dapat dilihat banyaknya Ide yang muncul pada guru senior hanya tujuh konsep yaitu ; transpor pasif, osmosis, difusi, difusi berfasilitaas, transpor