• Tidak ada hasil yang ditemukan

- 4 - BAB II PELAKSANAAN PENGUKURAN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "- 4 - BAB II PELAKSANAAN PENGUKURAN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN

SEKRETARIS JENDERAL

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 2 TAHUN 2022

TENTANG

PENGUKURAN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN

DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

BAB I

KETENTUAN UMUM

A. Latar Belakang

Dalam rangka tercapainya kualitas kebijakan yang efektif dan berkualitas di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika diperlukan peningkatan tata kelola dalam penyusunan kebijakan publik secara berkelanjutan. Perubahan mendasar diperlukan terhadap proses pembentukan kebijakan publik dengan berbasis pada bukti (evidence- based policy making) sehingga meminimalisir problem kebijakan yang tumpang tindih, tidak implementatif, dan minim evidence based. Perbaikan kualitas kebijakan publik tentunya akan berdampak terhadap kemajuan reformasi birokrasi khususnya area perubahan penataan peraturan perundang-undangan/deregulasi kebijakan sebagaimana diatur berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2020 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2020-2024.

Dalam mendukung penguatan kualitas kebijakan yang baik di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika diperlukan instrumen untuk menilai kualitas kebijakan melalui Indeks Kualitas Kebijakan, yang dibuat dalam bentuk Pedoman untuk dapat dijadikan

(2)

acuan bagi unit kerja di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam melakukan pengukuran Indeks Kualitas Kebijakan secara tepat dan akurat. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan Pedoman Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang Pengukuran Indeks Kualitas Kebijakan di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

B. Dasar Hukum

Pedoman didasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

2. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025;

3. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2015 tentang Kementerian Komunikasi dan Informatika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 96);

4. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2020 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2020-2024 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 441);

5. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 12 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Komunikasi dan Informatika (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 1120);

6. Surat Edaran Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor:

22/K.1.HKM.02.2/2021 tentang Pedoman Pengukuran Kualitas Kebijakan.

C. Maksud dan Tujuan

1. Maksud penyusunan Pedoman ini untuk dijadikan panduan bagi Unit Kerja di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk:

a. melakukan pengukuran kualitas kebijakan; dan

b. menjadi instrumen pelaksanaan pengukuran Indeks Kualitas Kebijakan yang menjadi salah satu indikator dari program/area perubahan penataan peraturan perundang-undangan/deregulasi kebijakan.

(3)

2. Tujuan disusunnya Pedoman ini adalah untuk melakukan peningkatan tata kelola agenda, formulasi, implementasi dan proses evaluasi kebijakan secara lebih baik dan mendorong penguatan partisipasi publik dan prinsip-prinsip tata kelola yang baik dalam proses pembuatan kebijakan publik di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

D. Definisi

1. Indeks Kualitas Kebijakan yang selanjutnya disingkat IKK adalah instrumen untuk menilai kualitas kebijakan pemerintah dilihat dari proses pembuatan kebijakan dan bagaimana melakukan pengelolaan agenda, formulasi, implementasi, dan evaluasi kebijakan.

2. Pedoman Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika yang selanjutnya disebut Pedoman adalah pedoman tentang Pengukuran Indeks Kualitas Kebijakan di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

3. Agenda Setting Kebijakan adalah tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam proses perencanaan kebijakan.

4. Formulasi Kebijakan adalah kegiatan perumusan kebijakan yang dilakukan dalam proses perencanaan kebijakan.

5. Implementasi Kebijakan adalah pelaksanaan atau penerapan suatu kebijakan.

6. Evaluasi Kebijakan adalah kegiatan menilai tingkat kinerja (keberhasilan atau kegagalan) suatu kebijakan.

7. Sistem Informasi Indeks Kualitas Kebijakan yang selanjutnya disebut Sistem IKK adalah suatu sistem yang digunakan untuk mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan informasi kebijakan dalam pelaksanaan pengukuran IKK.

(4)

BAB II

PELAKSANAAN PENGUKURAN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN

A. Kriteria Pengukuran Kualitas Kebijakan

Berdasarkan Surat Edaran Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 22/K.1.HKM.02.2/2021 tentang Pedoman Pengukuran Kualitas Kebijakan, kriteria pengukuran IKK adalah sebagai berikut:

1. Pengukuran kualitas kebijakan dilakukan setiap 2 (dua) tahun sekali, yang dilakukan pertama kali mulai tahun 2021.

2. Kebijakan yang menjadi obyek pengukuran kualitas kebijakan merupakan kebijakan yang ditetapkan dalam kurun waktu 2 (dua) tahun sebelum tahun pengukuran;

3. Kebijakan yang dikecualikan sebagai obyek pengukuran kualitas kebijakan yaitu:

a. kebijakan yang sifatnya rutin ditetapkan berdasarkan periodisasi tertentu, misalnya Peraturan Menteri tentang Rencana Strategis, Peraturan Menteri tentang Indikator Kinerja Utama, dan peraturan perundang-undangan lain yang sejenis; dan

b. kebijakan yang sifatnya mengatur ke dalam/internal Kementerian Komunikasi dan Informatika, misalnya Peraturan Menteri tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja;

4. Pengukuran Kualitas Kebijakan dilakukan dengan metode yang disesuaikan dengan proses dan tahapan pengelolaan kebijakan, sebagai berikut:

a. proses perencanaan kebijakan, menggunakan metode sebagai berikut:

1) pengukuran pada tahap Agenda Setting Kebijakan; dan 2) pengukuran pada tahap Formulasi Kebijakan.

b. proses evaluasi kemanfaatan kebijakan, menggunakan metode sebagai berikut:

1) pengukuran pada tahap implementasi kebijakan; dan 2) pengukuran pada tahap evaluasi kebijakan.

B. Instrumen Pengukuran Kualitas Kebijakan

Pengukuran kualitas kebijakan dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan proses sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 4 yang terdiri atas:

(5)

1. instrumen perencanaan kebijakan; dan 2. instrumen evaluasi kemanfaatan kebijakan.

Tabel Instrumen dan Kunci Pengukuran Kualitas Kebijakan tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Pedoman Sekretaris Jenderal ini.

C. Metode Pengukuran Kualitas Kebijakan

Pengukuran Kualitas Kebijakan dilakukan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) dengan menggunakan metode sebagai berikut:

1. Menentukan jumlah kebijakan yang akan diukur dalam metode sampling, digunakan rumus sebagai berikut:

n = √𝑁 + 1 Keterangan:

N = jumlah kebijakan yang menjadi populasi pengukuran n = jumlah sampel kebijakan.

2. Menentukan obyek kebijakan yang akan diukur sebagaimana dimaksud pada angka 2, digunakan metode acak (random sampling).

3. Kerangka kerja (framework) pengukuran kualitas kebijakan dilakukan dengan memperhatikan proses kebijakan yang terdiri atas proses perencanaan kebijakan dan proses evaluasi kemanfaatan kebijakan, yang dapat digambarkan sebagai berikut:

a. proses perencanaan kebijakan

1) pengukuran pada tahap Agenda Setting Kebijakan merupakan proses identifikasi dan analisis masalah kebijakan, validasi masalah kebijakan, dan partisipasi publik dalam perumusan kebijakan.

2) pengukuran pada tahap Formulasi Kebijakan merupakan penilaian proses pengambilan keputusan kebijakan berdasarkan beberapa kriteria yang terukur.

PROSES PERENCANAAN KEBIJAKAN PROSES EVALUASI KEMANFAATAN KEBIJAKAN

(6)

b. proses evaluasi kemanfaatan kebijakan

1) pengukuran pada tahap pelaksanaan/implementasi kebijakan dilakukan dengan memperhatikan aspek sebagai berikut:

a) pengorganisasian;

b) komunikasi; dan

c) monitoring implementasi; dan

2) pengukuran pada tahap evaluasi kebijakan dilakukan dengan memperhatikan aspek sebagai berikut:

a) efektivitas;

b) efisiensi;

c) dampak dan kemanfaatan;

d) penerimaan stakeholders; dan e) responsivitas.

D. Tahapan Pengukuran Kualitas Kebijakan

Pengukuran kualitas kebijakan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Pengukuran mandiri (self asessment);

2. Pengecekan kelengkapan isian (desk analysis);

3. Penilaian tahap I;

4. Validasi penilaian;

5. Penilaian tahap II; dan

6. Diseminasi praktik baik hasil pengukuran IKK.

Pengukuran kualitas kebijakan di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika dilaksanakan secara mandiri (Self Asessment) dengan tahapan sebagai berikut:

1. proses pengukuran kebijakan oleh setiap Enumerator pada satuan kerja di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika berkoordinasi dengan Admin Instansi dan Koordinator Instansi (LAN) dengan menggunakan Sistem Informasi IKK yang dapat diakses melalui ikk.lan.go.id.

2. penunjukkan Admin Instansi dan Enumerator sebagai berikut:

a. penunjukkan admin instansi

1) Admin Instansi berkoordinasi dengan Koordinator Instansi di LAN; dan

2) dapat ditunjuk/ditugaskan 1 (satu) orang dari Eselon

(7)

2/Pejabat Fungsional yang bekerja di bidang penyusunan kebijakan di instansinya berasal dari Biro Hukum.

b. penunjukkan Enumerator

1) ditentukan oleh Admin Instansi dan bekerja di bawah koordinasi dan supervisi Admin Instansi di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika;

2) dapat ditunjuk/ditugaskan lebih dari 1 (satu) orang dari Pejabat Fungsional/Pelaksana yang bekerja di satuan /unit kerja kebijakan yang akan dinilai; dan

3) jumlah Enumerator yang ditunjuk oleh Admin Instansi dapat menyesuaikan jumlah kebijakan yang dinilai atau sesuai jumlah kebijakan yang telah diproses melalui random sampling dalam SI IKK.

3. Proses pengukuran kebijakan dilakukan oleh Enumerator pada satuan kerja di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan dikoordinasikan oleh Biro Hukum sebagai Admin Instansi.

a. berdasarkan hal tersebut di atas Admin Instansi bertugas:

1) menentukan daftar kebijakan yang akan diukur dan memasukkan daftar kebijakan yang akan menjadi populasi pengukuran IKK (sesuai kriteria populasi);

2) melakukan proses pengambilan sampel kebijakan secara random sampling;

3) membuat akun Enumerator di instansinya sesuai jumlah sampel kebijakan yang akan dinilai;

4) melihat daftar Enumerator dan detail profilnya yang di bawah supervisinya;

5) membagi sampel kebijakan terpilih ke masing-masing Enumerator yang telah aktif dalam SI IKK;

6) memantau progres pengisian data penilaian IKK dari seluruh Enumerator di instansinya;

7) melakukan konfirmasi pengiriman hasil pengisian IKK dari Enumerator ke Koordinator Instansi (LAN). Jika masih ada isian yang dianggap kurang lengkap, Admin Instansi dapat membuka isian kembali untuk diperbaiki kembali oleh Enumerator; dan

8) mengirim notifikasi/pesan ke Koordinator di LAN jika memerlukan bantuan/pertanyaan.

(8)

b. Enumerator bertugas:

1) berkomunikasi/koordinasi dengan unit-unit kerja yang terkait dengan kebijakan yang sedang dinilai;

2) melakukan input seluruh data teknis terkait kebijakan yang telah diberikan dari Admin Instansi untuk dinilai dengan IKK;

3) melihat progres pengisian IKK;

4) melakukan konfirmasi pengiriman hasil input IKK (mengunci jawaban) jika telah ‘selesai input’ kepada Admin Instansi;

5) jika memerlukan bantuan/pertanyaan, dapat mengirim notifikasi/pesan ke Koordinator di LAN; dan

6) jika memerlukan bantuan/pertanyaan, dapat mengirim notifikasi/pesan ke Koordinator di LAN dengan cc otomatis kepada Admin Instansi.

E. Proses Alur Pelaksanaan Pengukuran Kualitas Kebijakan

1. Koordinator Instansi aktivasi Admin Instansi melalui ikk.lan.go.id;

2. Admin Instansi mengirim usulan populasi (daftar kebijakan) ke Koordinator Instansi (Lihat Gambar 1):

Gambar 1.

(9)

3. Koordinator Instansi menerima usulan populasi (daftar kebijakan) dan melakukan verifikasi (Lihat Gambar 2):

Gambar 2.

4. Daftar kebijakan terverifikasi akan muncul di Admin Instansi sebagai sampel yang akan dinilai (Lihat Gambar 3):

Gambar 3.

(10)

5. Admin Instansi melakukan aktivasi Enumerator dan menyampaikan daftar kebijakan ke masing-masing enumerator (Lihat Gambar 4):

Gambar 4.

(11)

6. Enumerator melakukan koordinasi internal dengan unit kerja/pusat/perangkat daerah/stakeholder terkait yang berkaitan untuk pengisian dan melakukan input data kebijakan (Lihat Gambar 5):

Gambar 5.

7. Enumerator mengirimkan hasil input data kebijakan ke Admin Instansi;

(12)

8. Admin Intansi melakukan pengecekan hasil input data kebijakan, jika kurang tepat dikembalikan ke Enumerator (Lihat Gambar 6):

Gambar 6.

9. Apabila sudah tepat, Admin Instansi mengirimkan hasil input data kebijakan ke Koordinator Instansi;

10. Koordinator Instansi mengecek input data kebijakan:

a. jika belum lengkap/salah input akan menunda validasi dan menyampaikan kembali ke Admin Instansi untuk diteruskan ke Enumerator untuk perbaikan;

b. jika Lengkap kebijakan dinilai dan dilakukan validasi (validasi/desk analysis);

11. Hasil penilaian dan validasi sebagaimana dimaksud pada angka 10 huruf b merupakan nilai IKK yang akan disampaikan oleh Koordinator Instansi kepada Admin Instansi yang menyatakan bahwa kebijakan telah selesai dinilai melalui notifikasi pada Sistem Informasi IKK.

(13)

12. Gambar Diagram Alur Pelaksanaan Pengukuran Kualitas Kebijakan secara utuh sebagai berikut (Lihat Gambar 7):

Gambar 7.

(14)

BAB III

PENGISIAN INPUT DATA KEBIJAKAN

Pengisian input data kebijakan dilakukan oleh Enumerator dengan melakukan identifikasi dan validasi masalah dari kebijakan yang telah ditetapkan dan mengisi pertanyaan-pertanyaan serta mengunggah bukti berdasarkan pertanyaan tersebut melalui Tabel Instrumen IKK.

Identifikasi dan validasi masalah terhadap kebijakan yang telah ditetapkan dilakukan berdasarkan:

1. Agenda Setting Kebijakan;

2. Formulasi Kebijakan;

3. Implementasi Kebijakan; dan 4. Evaluasi Kebijakan.

Enumerator memilih jawaban yang sesuai dengan Kebijakan dan mengunggah bukti dukung yang diperlukan dan relevan dalam proses Self Assessment IKK. Tabel instrumen IKK sebagaimana terlampir.

Enumerator mengunggah sebuah file bukti dukung pada kolom bukti dukung di bawah setiap pertanyaan IKK karena progres pengisian akan dihitung oleh Sistem Informasi IKK berdasarkan pengisian jawaban dan unggah bukti jawaban pada kolom yang tersedia. Namun, Enumerator dapat menyediakan cloud storage di luar Sistem Informasi IKK misalnya Google Drive atau Drop Box untuk menambah bukti dukung.

Setiap pertanyaan diupayakan hanya diberikan 1 (satu) file bukti dukung dengan format portable document file (PDF) dengan ukuran tidak lebih dari 1 (satu) Megabyte (Mb). Jika Enumerator memiliki beberapa file bukti dukung, disarankan untuk mengambil/memotong file pada bagian yang spesifik yang menjelaskan jawaban pertanyaan dalam IKK dan digabungkan dalam satu file yang ukurannya tidak lebih dari 1 (satu) Mb. File yang lain jika diperlukan dapat diunggah ke cloud storage.

(15)
(16)

PEDOMAN SEKRETARIS JENDERAL

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 2 TAHUN 2022

TENTANG

PENGUKURAN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

TABEL INSTRUMEN DAN BOBOT PRESENTASE PENILAIAN PENGUKURAN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN

1. TABEL INSTRUMEN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN I PENILAIAN PERENCANAAN KEBIJAKAN (45%)

A. PENILAIAN AGENDA SETTING KEBIJAKAN (45%)

Tahapan/Pernyataan Kunci Jawaban Bukti Keterangan

A.1 Identifikasi dan Validasi Masalah (55%)

a

Sumber masalah kebijakan yang mendorong inisiatif tindak lanjut perumusan kebijakan.

Penentuan masalah berasal dari atas (top down) maupun dari bawah (bottom up), dengan melibatkan

Dokumen yang menunjukkan proses interaksi instansi dengan stakeholder dan/atau kelompok sasaran sebelum diterbitkannya kebijakan yang

Kelompok sasaran adalah pihak-pihak yang akan terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan atau terdampak dari pelaksanaan kebijakan

(17)

stakeholder eksternal dan partisipasi kelompok sasaran

membahas sumber masalah kebijakan misalnya surat undangan

rapat/pertemuan/FGD atau naskah analisis kebijakan atau naskah rekomendasi kebijakan terkait masalah kebijakan (yang sedang dinilai).

Penentuan masalah dari atas (top down) maupun dari bawah (bottom up) dengan

mempertimbangkan

masukan stakeholder eksternal

Penentuan masalah dari atas (top down), melibatkan stakeholder eksternal pemerintah, tanpa partisipasi kelompok sasaran

Penentuan masalah dari atas (top down), hanya ditentukan dari internal instansi pemerintah, tanpa partisipasi

(18)

stakeholder eksternal dan kelompok sasaran

b

Masalah kebijakan yang diidentifikasi merupakan isu kebijakan yang menjadi bagian dari program prioritas nasional.

Berkaitan secara langsung dengan prioritas nasional jangka pendek dan jangka menengah

Dokumen yang menunjukkan keterkaitan kebijakan dengan program prioritas nasional di periode tahun terbitnya kebijakan, misalnya tercantum dalam Perpres tentang Program Prioritas Nasional atau prolegnas atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dari ketetapan kebijakan (yang sedang dinilai) atau tercantum dalam RPJMN/RPJMD dan disertai penjelasan.

Pilih salah satu jawaban Berkaitan secara

langsung dengan prioritas nasional jangka pendek atau jangka menengah Berkaitan secara tidak langsung dengan prioritas nasional jangka pendek atau jangka menengah Tidak berkaitan dengan prioritas nasional dalam jangka pendek atau jangka menengah

c

Masalah kebijakan yang diidentifikasi memiliki keterkaitan dengan

Masalah kebijakan berkaitan langsung dengan kepentingan

Naskah analisis kebijakan atau rekomendasi kebijakan atau berita media massa atau berupa

Kelompok rentan adalah

kelompok tertentu dalam skala minoritas yang mungkin

(19)

masyarakat umum dan kelompok tertentu yang memiliki kerentanan di masyarakat atau di ranah publik sesuai sektor kebijakannya.

masyarakat umum dan kepentingan kelompok tertentu yang memiliki kerentanan

hasil tertulis dari pertemuan/diskusi/rapat/FGD yang melibatkan kelompok yang memiliki kebutuhan spesifik/khusus sebelum terbitnya kebijakan (yang sedang dinilai) atau pernyataan dari Instansi atau lembaga terkait, seperti Komnas Anak/Perempuan, Organisasi disabilitas, serikat buruh, kelompok atau stakeholder lain yang menunjukkan perlunya diterbitkan kebijakan (yang sedang dinilai) sebagai alternatif solusi dari masalah kebijakan yang dihadapi oleh kelompok rentan di

masyarakat, dan

penjelasannya.

kurang mendapatkan manfaat yang optimal dari pelaksanaan kebijakan (misalnya kelompok perempuan, disabilitas, lansia, masyarakat adat, kelompok usaha mikro, fakir miskin, penyintas penyakit tertentu) Masalah kebijakan

berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat umum atau kepentingan kelompok tertentu yang memiliki kerentanan

Masalah berkaitan secara tidak langsung dengan kepentingan masyarakat umum atau kepentingan kelompok tertentu yang memiliki kerentanan Masalah tidak berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum atau kepentingan kelompok

(20)

tertentu yang memiliki kerentanan

d

Situasi perhatian stakeholder/publik terhadap masalah kebijakan.

Perhatian

stakeholder/publik

sangat intensif terhadap masalah, menimbulkan konflik, dan mendesak instansi mengambil kebijakan

Naskah analisis kebijakan, hasil kajian/telaahan, rekomendasi kebijakan, berita media massa, surat pembaca, surat keluhan/protes tertulis, quick survey isu, dokumentasi

tertulis hasil

pertemuan/diskusi/rapat/FGD yang mendesak terbitnya kebijakan (yang sedang dinilai) untuk mengatasi masalah.

Intensitas dapat dilihat dari

situasi perhatian

publik/stakeholder baik di media massa, media sosial, atau media interaksi lainnya dalam lingkup kebijakannya.

Perhatian

stakeholder/publik

cukup intensif terhadap masalah, menimbulkan polemik tanpa konlfik, dan mendorong instansi mengambil kebijakan Perhatian

stakeholder/publik

kurang intensif terhadap masalah, polemik rendah, dan mengharapkan

(21)

instansi mengambil kebijakan

Perhatian

stakeholder/publik tidak ada terhadap masalah, tidak ada polemik, dan tidak urgen bagi instansi untuk mengambil kebijakan

A.2 Penyaringan dan Konsultasi publik terhadap masalah kebijakan (45%)

a

Proses penyaringan

masalah dilakukan secara demokratis dan ilmiah

Isu ditentukan dengan konsensus aspirasi seluruh stakeholder dan dilakukan analisis kebijakan terkait

Dokumen yang menunjukkan dokumentasi interaksi instansi dengan stakeholder dan/atau kelompok sasaran yang berkaitan dengan proses penyaringan masalah (dapat berupa dokumen antara lain naskah rekomendasi kebijakan atau rencana aksi atau Berita

Pilih salah satu jawaban Isu ditentukan dengan

konsensus aspirasi beberapa stakeholder dan dilakukan analisis kebijakan terkait

(22)

Isu ditentukan dengan konsensus aspirasi beberapa stakeholder namun tanpa dilakukan analisis kebijakan terkait

Acara; Notulensi dan daftar hadir pertemuan)

Isu ditentukan tanpa dengan konsensus aspirasi stakeholder dan tanpa dilakukan analisis kebijakan terkait

b

Agenda kebijakan mendesak untuk

mengatasi masalah dengan melihat kondisi saat itu

Belum ada kebijakan yang menjadi acuan untuk mengatasi masalah

Penjelasan/deskripsi adanya kesenjangan kondisi atau gap kebijakan saat itu dan lampiran pendukung dokumen kebijakan yang masih berlaku saat itu.

Pilih salah satu jawaban Ada kebijakan namun

masih bersifat umum dan belum mampu mengatasi masalah

Ada kebijakan yang masih berlaku, tetapi belum secara optimal diimplementasikan

(23)

Ada kebijakan yang masih berlaku, namun

tidak dapat

diimplementasikan

c

Faktor lain yang mendorong untuk mengangkat masalah menjadi agenda kebijakan.

Tekanan dari kelompok legislatif atau kelompok berpengaruh di luar

instansi Dokumen yang berkaitan

dengan tugas fungsi instansi, berita media massa, surat

pembaca, hasil

kajian/telaahan, surat keluhan/protes tertulis, quick survey isu, hasil pertemuan/diskusi/rapat/FGD yang relevan dengan jawaban yang dipilih.

Bisa memilih lebih dari satu jawaban Penilaian: lebih atau sama dengan 4, 3, 2, 1

Adanya temuan dari suatu kajian atau publikasi ilmiah terkait masalah

Terjadi berulang dalam kurun waktu tertentu

sebelum adanya

kebijakan

Muncul dalam arus utama di media massa saat wacana kebijakan berkembang

(24)

A.3

Informasi tambahan terkait Agenda Setting Kebijakan

Silahkan untuk menambahkan informasi penting terkait Agenda Setting Kebijakan dilihat dari aspek : 1. identifikasi dan validasi masalah, dan 2. penyaringan dan konsultasi publik terhadap masalah kebijakan

B. PENILAIAN FORMULASI KEBIJAKAN (55%)

Tahapan/Pernyataan Kunci Jawaban Bukti Keterangan

B.1 Karakteristik Mendasar (10%)

a Kebijakan memiliki tujuan yang jelas

Tujuan kebijakan dinyatakan secara eksplisit dan mudah dipahami

Naskah kebijakan

Terdapat pernyataan tujuan kebijakan: (1) apa saja yang diatur, (2) didefinisikan dengan jelas, (3) siapa saja yang terkait dalam pelaksanaan kebijakan, (4) tugas, fungsi, hak, kewajiban terdefinisi dengan jelas

Tujuan kebijakan dinyatakan secara eksplisit namun kurang dapat dipahami

Tujuan kebijakan dinyatakan secara eksplisit namun tidak dapat dipahami

Tidak terdapat tujuan kebijakan secara eksplisit

(25)

b

Kebijakan didasarkan pada opsi kebijakan yang

masing-masing opsi telah dikaji kemanfaatannya

Semua Opsi kebijakan

telah dikaji

kemanfaatannya

Background paper/ kajian kebijakan yang

melatarbelakangi Formulasi Kebijakan

Terdapat beberapa opsi kebijakan yang dikaji kemanfaatannya

Sebagian opsi kebijakan

telah dikaji

kemanfaatannya

hanya satu opsi kebijakan yang dikaji kemanfaatannya

tidak ada opsi yang dikaji kemanfaatannya

B.2 Berorientasi Kedepan (15%)

a

kebijakan yang dibuat dapat menjawab

permasalahan dan

tantangan saat ini dan ke depan

Seluruh isi kebijakan

dapat menjawab

permasalahan dan tantangan saat ini dan ke depan dengan baik

(1) Naskah kebijakan;

(2) background

paper/naskah akademik kebijakan

Terdapat pernyataan terhadap masalah yang akan

diselesaikan dan

mempertimbangkan proyeksi dinamika permasalahan kedepan dan terkait dengan mitigasi resikonya

Sebagian besar isi kebijakan dapat menjawab permasalahan

(26)

dan tantangan saat ini dan ke depan

Hanya sebagian kecil isi kebijakan dapat menjawab permasalahan dan tantangan saat ini dan kedepan

Kebijakan tidak dapat menjawab permasalahan saat ini maupun ke depan

b

muatan/substansi kebijakan telah

mempertimbangkan risiko dan penanganan risiko yang mungkin timbul

Terdapat strategi penangan terhadap semua resiko yang telah

dipetakan (1) Naskah kebijakan;

(2) background paper/kajian kebijakan yang mendasari Formulasi Kebijakan;

(3) peta risiko dan mitigasi risiko

Kajian/analisis kebijakan telah melakukan mitigasi risiko dari implementasi kebijakan yang meliputi pemetaaan risiko, pemetaan stakeholder, serta penetapan strategi penanganan risiko yang mungkin timbul Terdapat strategi

penanganan terhadap sebagian besar resiko yang telah dipetakan Terdapat strategi penanganan terhadap beberapa resiko yang telah dipetakan

(27)

Tidak terdapat analisis strategi penanganan resiko kebijakan

B.3 Outward looking (20%)

a

rumusan kebijakan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan stakeholder serta mempertimbangkan lingkungan eksternal kebijakan

rumusan kebijakan memenuhi seluruh kebutuhan stakeholder dan mempertimbangkan seluruh lingkungan eksternal kebijakan

(1) Naskah kebijakan;

(2) background paper/kajian

kebijakan yang

mendasari Formulasi Kebijakan

Perlu dilakukan pemetaan stakeholder untuk dapat menilai cakupan kebutuhan stakeholder dalam ruang

lingkup kebijakan yang sedang dinilai.

rumusan kebijakan memenuhi sebagian besar kebutuhan stakeholder dan mempertimbangkan

sebagian besar

lingkungan eksternal kebijakan

rumusan kebijakan memenuhi sebagian kecil kebutuhan stakeholder

(28)

dan mempertimbangkan sebagian kecil lingkungan eksternal kebijakan rumusan kebijakan tidak memenuhi kebutuhan stakeholder dan tidak mempertimbangkan

lingkungan eksternal kebijakan

b

rancangan kebijakan dikonsultasikan kepada stakeholder dan pihak yang akan terdampak

seluruh materi rancangan kebijakan dilakukan konsultasi kepada seluruh stakeholder dan pihak yang akan

terdampak Background paper/kajian kebijakan yang mendasari Formulasi Kebijakan

Terdapat analisis stakeholder;

terdapat laporan

perkonsultasian atau uji publik di fase Formulasi Kebijakan dan terdapat catatan masukan yang diakomodasikan

seluruh materi rancangan kebijakan dilakukan konsultasi kepada

sebagian besar

stakeholder dan pihak yang akan terdampak

(29)

dalam rancangan kebijakan

kebijakan (misalnya kelompok perempuan, disabilitas, lansia, masyarakat adat, kelompok usaha mikro, fakir miskin, penyintas penyakit tertentu) tidak mempertimbangkan

kelompok rentan dalam rancangan kebijakan B.4 Berbasis Bukti (40%)

a

perumusan kebijakan dilakukan berdasarkan kajian dan análisis yang memadai

Perumusan kebijakan didukung adanya kajian dan analisis yang sangat memadai

Background paper/kajian kebijakan yang mendasari Formulasi Kebijakan

Terdapat kajian/research yang khusus dilakukan untuk mendukung perumusan kebijakan ini dan tersusun secara sistematis dan

memenuhi aspek-aspek ilmiah yang meliputi:

(1) identifikasi masalah dan penetapan tujuan kebijakan;

(2) pengembangan kriteria pemecahan masalah;

(3) pengembangan alternatif- alternatif kebijakan;

(4) evaluasi alternatif kebijakan berdasarkan kriteria; dan Perumusan kebijakan

didukung adanya kajian dan analisis yang cukup memadai

Perumusan kebijakan didukung adanya kajian dan analisis yang kurang memadai

Perumusan kebijakan didukung adanya kajian

(30)

dan analisis yang kurang memadai

(5) rekomendasi kebijakan dan rencana aksi.

b

Kajian dan analisis untuk perumusan kebijakan didukung dengan bukti yang memadai

Kajian dan analisis untuk perumusan kebijakan didukung bukti yang sangat memadai

Background paper/kajian kebijakan yang mendasari Formulasi Kebijakan

Cakupan dari bukti meliputi data statistik dan administratif, bukti berbasis penelitian, bukti dari masyarakat dan

pemangku kepentingan, serta bukti dari evaluasi.

Kajian dan analisis untuk perumusan kebijakan didukung bukti yang cukup memadai

Kajian dan analisis untuk perumusan kebijakan didukung sedikit bukti

Kajian dan analisis untuk perumusan kebijakan tanpa ada dukungan bukti sama sekali

(31)

c

penyusunan kebijakan didukung oleh

dokumentasi yang lengkap dan memadahi untuk pembelajaran di masa mendatang?

semua terdokumentasi dengan baik

terdapat sistem/mekanisme yang mendukung dokumentasi kebijakan (meliputi dimensi perencanaan dan pelaksanaan kebijakan)

Sistem/mekanisme dalam hal ini dapat meliputi sistem informasi, proses bisnis, atau tata laksana dalam

pendokumentasian proses kebijakan.

sebagian besar

terdokumentasi dengan baik

sebagian kecil

terdokumentasi dengan baik

tidak ada dokumentasi B.5 Inovatif (15%)

a

kebijakan

menawarkan/memberikan alternatif solusi baru

terhadap permasalahan

>80% alternatif

merupakan solusi baru terhadap permasalahan

kebijakan Dokumen analisis alternatif kebijakan, dokumentasi proses dialog/diskusi dengan ahli/stakeholder yang relevan

Rancangan kebijakan memiliki kemungkinan untuk diterima apabila menawarkan pendekatan/solusi baru terhadap permasalahan publik yang dihadapi. Dalam hal ini, perumus kebijakan dituntut untuk dapat sejauh mungkin melakukan elaborasi opsi-opsi baru yang diperoleh baik

>40% - 80% alternatif merupakan solusi baru terhadap permasalahan kebijakan

< 40% alternatif

merupakan solusi baru

(32)

terhadap permasalahan kebijakan

melalui kajian/analisis, atau mendapatkan informasi dari berbagai pihak yang relevan Tidak ada alternatif

solusi baru terhadap permasalahan kebijakan

b

kebijakan memberikan nilai tambah/manfaat baru bagi stakeholder

>5 aspek yang memberikan nilai tambah/manfaat baru bagi stakeholder dari kebijakan yang ada

Dokumen analisis alternatif kebijakan, dokumentasi proses dialog/diskusi dengan ahli/stakeholder yang relevan

Aspek yang dimaksud dapat meliputi aspek ekonomi, sosial, lingkungan, kesehatan, budaya, keamanan, politik, dsb.

2-5 aspek yang memberikan nilai tambah/manfaat baru bagi stakeholder dari kebijakan yang ada hanya 1 aspek yang memberikan nilai tambah/manfaat baru bagi stakeholder dari kebijakan yang ada Tidak ada nilai

tambah/manfaat baru

(33)

bagi stakeholder dari kebijakan yang ada

c

kebijakan memberikan cara/metode baru untuk implementasinya

>80% Cara/metode implementasi kebijakan berbeda sama sekali dengan yang lainnya

(1) Naskah kebijakan;

(2) background paper/kajian kebijakan yang mendasari Formulasi Kebijakan

Terdapat kebaruan / inovasi metode pelaksanaan kebijakan

pada dokumen

disain/rancangan implementasi kebijakan

Terdapat cukup banyak unsur kebaruan dalam cara/metode

implementasi

Terdapat beberapa unsur kebaruan dalam

cara/metode implementasi Tidak ada unsur kebaruan dalam cara/metode implementasi

B.6 Informasi tambahan

terkait formulasi kebijakan

Silahkan untuk menambahkan informasi penting terkait formulasi kebijakan dilihat dari aspek : 1. karakteristik dasar, 2. berorientasi kedepan, 3. outward looking, 4. berbasis bukti, dan 5. inovatif

(34)

II PENILAIAN EVALUASI KEMANFAATAN KEBIJAKAN (55%) C. PENILAIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN (50%)

Tahapan/Pernyataan Kunci Jawaban Bukti Keterangan

C.1 Pengorganisasian (30%)

a

Dilakukan uji

coba/piloting terhadap kebijakan

Dilakukan uji

coba/piloting dengan lingkup relatif lebih luas dan waktu yang lama

1. turunan kebijakan yang ditetapkan, seperti SE, peraturan teknis

(bupati/walikota), SK, dll

2. TOR/KAK/RAB, dsb

Uji coba/piloting kebijakan merupakan kegiatan pra implementasi untuk mengetahui sejauh mana tingkat efektivitas keberhasilan program/kebijakan.

Dilakukan uji

coba/piloting dengan lingkup dan waktu yang cukup

Dilakukan uji

coba/piloting dengan lingkup dan waktu yang sempit/terbatas

Tidak dilakukan uji coba/piloting b Kejelasan unit

kerja/kelompok kerja/tim

terdapat kejelasan unit kerja/kelompok

Berisi deskripsi kelembagaan yang dibentuk dan lampiran

(35)

yang berwenang dan bertanggungjawab terhadap implementasi kebijakan

kerja/tim yang

berwenang dan

bertanggungjawab

terhadap implementasi kebijakan dan sesuai dengan kebutuhan

surat keputusan, peraturan, pedoman, atau bentuk

dokumen resmi lainnya

dokumen legal terkait kelembagaan.

Tahap ini merupakan upaya untuk melihat apakah implementasi kebijakan didukung oleh aspek kelembagaan yang baik

terdapat unit

kerja/kelompok

kerja/tim yang

berwenang dan

bertanggungjawab

terhadap implementasi kebijakan namun tidak sesuai dengan kebutuhan

terdapat unit

kerja/kelompok

kerja/tim yang

mengimplementasikan kebijakan namun tidak jelas kewenangan dan tanggungjawabnya

(36)

tidak terdapat unit kerja/kelompok

kerja/tim yang

berwenang dan

bertanggungjawab

terhadap implementasi kebijakan

c

Terdapat kejelasan strategi implementasi kebijakan yang dilengkapi dengan ukuran/indikator

keberhasilan tujuan kebijakan

Terdapat strategi implementasi kebijakan yang jelas dengan memuat indikator target keberhasilan

implementasi

Bentuk dokumen dapat berupa rencana kerja, pedoman/juknis dan atau timeline kegiatan (TOR, KAK, dsb)

Rencana kerja merupakan serangkaian tujuan dan proses yang bisa membantu tim dan/atau seseorang mencapai tujuan tersebut dan memuat rencana kerja, jadwal/road map/rencana aksi dan rencana alokasi sumber daya.

Terdapat strategi implementasi kebijakan yang jelas, namun belum memuat indikator target keberhasilan

implementasi

Terdapat strategi implementasi kebijakan namun tidak jelas dan

(37)

belum memuat indikator target keberhasilan implementasi

Tidak terdapat strategi implementasi kebijakan

d

Terdapat alokasi sumber daya manusia (SDM) dan anggaran sudah sesuai dengan kebutuhan

Rencana alokasi sumber daya manusia dan anggaran yang sangat sesuai dengan kebutuhan

lampiran notulen rapat dalam penentuan alokasi SDM atau telaahan staf , SK tim, peraturan, dokumen resmi RAB

Jumlah alokasi SDM dan anggaran harus sesuai dengan yang dibutuhkan agar efektif dan efisien.

tersedia rencana alokasi SDM dan anggaran yang cukup sesuai dengan kebutuhan

tersedia rencana alokasi sumber daya manusia dan anggaran namun hanya beberapa yang sesuai dengan kebutuhan tidak tersedia rencana alokasi sumber daya manusia dan anggaran

(38)

C.2 Komunikasi Kebijakan (35%)

a

Terdapat strategi komunikasi kebijakan yang baik

Terdapat strategi komunikasi kebijakan dengan

mempertimbangkan

seluruh target

audience/Pemangku kepentingan yang terkait

1. dokumen rencana komunikasi kebijakan (notulen, telaahan staf, dll) yang menyebutkan stakholder yang akan terlibat dalam proses komunikasi kebijakan dan perannya

2. dokumentasi kegiatan, SS medsos, dsb

Ada rencana komunikasi yang memuat target komunikan dan metode komunikasi. Dalam penentuan target itu dipastikan memasukkan kelompok yang mungkin terdampak oleh kebijakan, terutama kelompok rentan. Harus dicantumkan stakeholder apa saja yang ada dalam proses komunikasi kebijakan,

a. Internal;

b.Internal dan Eksternal (K/L/Pemda/SKPD lain terkait);

c. Internal dan Eksternal (K/L/Pemda/SKPD lain, dan masyarakat/stakeholder

Terdapat strategi komunikasi kebijakan dengan

mempertimbangkan

beberapa target audience/Pemangku kepentingan yang terkait Terdapat strategi komunikasi kebijakan

namun tidak

mempertimbangkan

(39)

target

audience/Pemangku kepentingan yang terkait Tidak terdapat strategi komunikasi kebijakan

b

Frekuensi sosialisasi kepada target

audience/pemangku

kepentingan dalam 1 (satu) tahun pertama

>9 kali

dokumentasi kegiatan, SS medsos, dsb

Melalui berbagai pertemuan, konsultasi, dan interaksi media sosial

7-9 kali 4-6 Kali 1-3 Kali

c

Variasi jenis media komunikasi kebijakan yang digunakan

Terdapat 6 atau lebih jenis media komunikasi

SS media, atau kliping media.

Pilihan media komunikasi yang beragam diharapkan dapat memenuhi kebutuhan interaksi dengan para pemangku kepentingan

Terdapat 4-5 jenis media komunikasi

Terdapat 2-3 jenis media komunikasi kebijakan Terdapat 1 (satu) jenis media komunikasi kebijakan

C.3 Monitoring Implementasi Kebijakan (35%)

(40)

a Intensitas pelaksanaan kegiatan monitoring

Setiap bulan

laporan hasil

pemantauan/monitoring kebijakan

Dilihat frekuensi pelaksanaan monitoring pada suatu kebijakan yang telah diimplementasikan

Setiap triwulan Setiap semester Setiap tahun

b Ruang lingkup kegiatan monitoring

kegiatan monitoring mencakup seluruh ruang lingkup dalam strategi implementasi yang disusun , termasuk alokasi SDM dan anggaran

laporan hasil

pemantauan/monitoring kebijakan

Melihat cakupan aspek dari monitoring yang dilaksanakan, yang terdiri dari anggaran, SDM, metode/cara, kelompok sasaran, dan sarana prasarana.

kegiatan monitoring mencakup sebagian besar ruang lingkup dalam strategi implementasi yang disusun

Kegiatan monitoring mencakup sebagaian kecil ruang lingkup strategi implementasi yang disusun

(41)

tidak dilakukan kegiatan monitoring implementasi kebijakan

c

Tindaklanjut hasil

monitoring implementasi kebijakan

>80% hasil monitoring implementasi kebijakan ditindaklanjuti

penjelasan tentang tindak lanjut dari monitoring dan lampirkan surat/dokumen resmi yang lain sebagai tindak lanjut hasil monitoring

Melihat apakah ada tindak lanjut dari kegiatan monitoring terhadap perbaikan implementasi kebijakan

>40% - 80% hasil monitoring implementasi kebijakan ditindaklanjuti

< 40% hasil monitoring implementasi kebijakan ditindaklanjuti

tidak ada tindak lanjut

C.4

Informasi tambahan terkait implementasi

kebijakan

Silahkan untuk menambahkan informasi penting terkait implementasi kebijakan dilihat dari aspek : 1. pengorganisasian, 2. komunikasi kebijakan, 3. monitoring implementasi kebijakan

D. PENILAIAN EVALUASI KEBIJAKAN (50%)

Tahapan/Pernyataan Kunci Jawaban Bukti Keterangan

D.1 Efektivitas (40%)

(42)

a

Dilakukan evaluasi terhadap pencapaian tujuan kebijakan

Evaluasi terhadap pencapaian seluruh tujuan kebijakan secara terukur

Laporan evaluasi ketercapaian tujuan kebijakan beserta success and failure factors

Kebijakan yang dibuat dapat mewujudkan tujuan yang ingin dicapai dari dibuatnya kebijakan tersebut misalnya menyelesaikan masalah publik tertentu. Tujuan kebijakan dapat dilihat dari ketercapaian tujuan jangka pendek, menengah dan panjang, mengingat umur kebijakan yang berbeda-beda.

Evaluasi terhadap pencapaian sebagian besar tujuan kebijakan secara terukur

Evaluasi terhadap pencapaian sebagian kecil tujuan kebijakan secara terukur

Belum dilakukan evaluasi terhadap pencapaian tujuan kebijakan

b

Dilakukan evaluasi atas metode/strategi

implementasi kebijakan dengan tujuan kebijakan

Telah dilakukan evaluasi terhadap seluruh metode/strategi

implementasi kebijakan dalam mencapai tujuan kebijakan

Laporan evaluasi kesesuaian metode implementasi dan tindak lanjutnya

Melihat secara objektif program-program kebijakan yang ditujukan untuk mengukur dampaknya bagi masyarakat dan sejauh mana

(43)

Telah dilakukan evaluasi terhadap sebagian besar metode/strategi

implementasi kebijakan dalam mencapai tujuan kebijakan

tujuan-tujuan yang ada telah dinyatakan telah tercapai.

Telah dilakukan evaluasi terhadap sebagian kecil metode/strategi

implementasi kebijakan dalam mencapai tujuan kebijakan

Tidak dilakukan evaluasi terhadap kesesuaian metode/strategi

implementasi kebijakan dengan tujuan kebijakan D.2 Efisiensi (15%)

a Dilakukan evaluasi atas efisiensi kebijakan

Evaluasi atas efisiensi kebijakan terukur disertai dengan kejelasan tindak lanjut yang

Laporan evaluasi penggunaan sumber daya kebijakan (yang telah diidentifikasi pada tahap

Dibandingkan antara pembiayaan dan output dari kegiatan penyusunan kebijakan. Realisasi anggaran

(44)

diperlukan untuk perbaikan

implementasi) dalam pencapaian output.

dan output (Anggaran >=80% - 100%).

Evaluasi atas efisiensi kebijakan terukur namun tidak disertai kejelasan tindaklanjut yang diperlukan untuk perbaikan

Evaluasi atas efisiensi kebijakan tidak terukur Belum dilakukan evaluasi atas efisiensi kebijakan

b

Dilakukan upaya-upaya efisiensi sumberdaya dalam pencapaian tujuan kebijakan

Dilakukan upaya efisiensi terhadap seluruh aspek sumber daya dalam pencapaian tujuan

Laporan evaluasi penggunaan sumber daya kebijakan (yang telah diidentifikasi pada tahap implementasi) dalam pencapaian output.

Dilakukan upaya efisiensi terhadap beberapa aspek sumber daya dalam pencapaian tujuan

(45)

Dilakukan upaya efisiensi terhadap salah satu aspek sumber daya dalam pencapaian tujuan

Tidak dilakukan upaya efisiensi sumberdaya dalam pencapaian tujuan kebijakan

D.3 Evaluasi atas Penerimaan, Responsivitas, Dampak dan Kemanfaatan Kebijakan (45%)

a

Kelompok sasaran

menerima atas keberadaan kebijakan

Seluruh atau sebagian besar kelompok sasaran, termasuk kelompok rentan, memiliki persepsi positif atas keberadaan kebijakan

Tindak lanjut atau hasil evaluasi penerimaan kebijakan oleh kelompok sasaran seperti yang telah diidentifiikasi pada tahap Agenda Setting Kebijakan (perception)

Kebijakan yang dibuat diharapkan juga dapat diterima oleh kelompok sasaran.

Sebagian besar kelompok sasaran memiliki persepsi positif atas keberadaan kebijakan

(46)

Hanya sebagian kecil kelompok sasaran yang memiliki persepsi positif atas keberadaan kebijakan

Belum dilakukan evaluasi terhadap penerimaan kelompok sasaran atas keberadaan kebijakan

b

Responsivitas kebijakan selaras dengan kebutuhan kelompok sasaran

Sebagian besar anggota kelompok sasaran menilai kebijakan telah

selaras dengan

kebutuhan mereka dan telah mendorong lahirnya nilai-nilai positif baru

Hasil evaluasi terhadap responsivitas kelompok sasaran (misal dilakukan melalui survei)

Kebijakan yang dibuat diharapkan juga mengakomodir kebutuhan kelompok sasaran.

Sebagian besar anggota kelompok sasaran menilai kebijakan telah

selaras dengan

kebutuhan mereka namun tidak mendorong

(47)

lahirnya nilai-nilai positif baru

Sebagian kecil anggota kelompok sasaran menilai kebijakan telah

selaras dengan

kebutuhan mereka

Belum dilakukan evaluasi terhadap responsivitas

kebijakan atas

kebutuhan kelompok sasaran

c

Hasil kebijakan memenuhi preferensi kelompok

sasaran

Hasil kebijakan telah memenuhi preferensi kelompok sasaran

dimana seluruh

kelompok sasaran mengalami peningkatan utilitas/welfare

Tindak lanjut atau hasil dari penjelasan dampak dan manfaat kebijakan yang telah dilakukan di tahapan implementasi

Kebijakan yang dibuat diharapkan juga dapat memenuhi preferensi kelompok sasaran.

Hasil kebijakan telah memenuhi preferensi kelompok sasaran

(48)

dimana sebagian besar kelompok sasaran mengalami peningkatan utilitas/welfare

Hasil kebijakan telah memenuhi preferensi kelompok sasaran dimana sebagian kecil kelompok sasaran mengalami peningkatan utilitas/welfare kelompok sasaran

Belum dilakukan

evaluasi atas pengaruh hasil kebijakan terhadap peningkatan

utilitas/welfare kelompok sasaran

d

Hasil kebijakan memberikan dampak terhadap kelompok rentan

Hasil kebijakan telah memberikan dampak terhadap seluruh kelompok rentan sesuai

Tindak lanjut atau hasil dari penjelasan dampak dan manfaat kebijakan yang telah

Tujuan kebijakan yang dibuat diharapkan juga dapat memberikan dampak kepada kelompok rentan

(49)

sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan

dengan tujuan yang telah ditetapkan

dilakukan di tahapan implementasi

Hasil kebijakan memberikan dampak terhadap sebagian kelompok rentan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan

Hasil kebijakan belum memberikan dampak terhadap kelompok rentan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan

Belum dilakukan evaluasi atas pengaruh hasil kebijakan terhadap kelompok rentan

e

Kebijakan meningkatkan kualitas penggunaan sumberdaya dan proses

Kebijakan telah meningkatkan seluruh kualitas penggunaan

Laporan evaluasi penggunaan sumber daya kebijakan

Sumber daya merupakan bahan - bahan yang digunakan dalam membuat ataupun

(50)

kerja penyelesaian masalah menjadi lebih efisien dibandingkan

dengan kebijakan yang ada sebelumnya

sumber daya dan proses kerja penyelesaian masalah menjadi lebih efisien

dibandingkan dengan proses kerja penyelesaian masalah

menjalankan kebijakan. Bahan - bahan tersebut seperti:

anggaran, SDM, peralatan penunjang kebijakan, waktu, dll.

Kebijakan telah meningkatkan sebagian

besar kualitas

penggunaan sumber daya dan proses kerja penyelesaian masalah menjadi lebih efisien Kebijakan telah meningkatkan sebagian

kecil kualitas

penggunaan sumber daya dan proses kerja penyelesaian masalah menjadi lebih efisien Belum dilakukan evaluasi atas pengaruh kebijakan terhadap peningkatan kualitas penggunaan

(51)

sumberdaya dan proses kerja

D.4 Informasi tambahan terkait evaluasi kebijakan

Silahkan untuk menambahkan informasi penting terkait evaluasi kebijakan dilihat dari aspek : 1. efektivitas, 2. efisiensi, 3. penerimaan, dampak, dan kemanfaatan

(52)

2. TABEL BOBOT PRESENTASE PENILAIAN PENGUKURAN INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

1) Perencanaan Kebijakan

45 Agenda Setting Kebijakan

45

a. Identifikasi, analisis

masalah dan validasi

masalah kebijakan

55

1. Sumber masalah kebijakan yang

mendorong inisiatif

tindak lanjut perumusan kebijakan

Dokumen yang

menunjukkan proses interaksi instansi dengan stakeholder dan/atau kelompok sasaran sebelum diterbitkannya

kebijakan yang

membahas sumber masalah kebijakan

misalnya surat

undangan

rapat/pertemuan/FGD

kelompok sasaran adalah pihak-pihak yang akan terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan atau

terdampak dari

pelaksanaan kebijakan

(53)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

atau naskah analisis kebijakan atau naskah rekomendasi kebijakan terkait masalah kebijakan (yang sedang dinilai).

2. Masalah kebijakan yang

diidentifikasi merupakan isu kebijakan yang menjadi bagian dari program

prioritas nasional

Dokumen yang

menunjukkan

keterkaitan kebijakan

dengan program

prioritas nasional di periode tahun terbitnya kebijakan, misalnya tercantum dalam Perpres tentang Program Prioritas Nasional atau prolegnas

atau peraturan

perundang-undangan

Pilih salah satu jawaban

(54)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

yang lebih tinggi dari ketetapan kebijakan (yang sedang dinilai) atau tercantum dalam RPJMN/RPJMD dan disertai penjelasan.

3. Masalah kebijakan yang

diidentifikasi memiliki keterkaitan dengan masyarakat umum dan kelompok tertentu yang memiliki kerentanan di

Naskah analisis

kebijakan atau

rekomendasi kebijakan atau berita media massa atau berupa hasil tertulis dari pertemuan/diskusi/rap

at/FGD yang

melibatkan kelompok

yang memiliki

kebutuhan

spesifik/khusus

sebelum terbitnya

kelompok rentan adalah kelompok tertentu dalam skala minoritas yang mungkin kurang mendapatkan manfaat yang optimal dari pelaksanaan

kebijakan (misalnya kelompok perempuan, disabilitas, lansia, masyarakat adat, kelompok usaha

(55)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

masyarakat atau di ranah publik sesuai sektor

kebijakannya.

kebijakan (yang sedang dinilai) atau pernyataan dari Instansi atau lembaga terkait, seperti Komnas

Anak/Perempuan,

Organisasi disabilitas,

serikat buruh,

kelompok atau

stakeholder slain yang menunjukkan perlunya diterbitkan kebijakan (yang sedang dinilai) sebagai alternatif solusi dari masalah kebijakan yang dihadapi oleh kelompok rentan di masyarakat, dan penjelasannya.

mikro, fakir miskin, penyintas penyakit tertentu)

(56)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

4. Situasi perhatian stakeholder/p ublik

terhadap masalah kebijakan.

Naskah analisis kebijakan, hasil kajian/telaahan,

rekomendasi kebijakan, berita media massa, surat pembaca, surat keluhan/protes tertulis, quick survey isu, dokumentasi tertulis hasil

pertemuan/diskusi/rap at/FGD yang mendesak terbitnya kebijakan (yang sedang dinilai) untuk mengatasi masalah.

intensitas dapat dilihat dari situasi perhatian publik/stakeholder baik di media massa, media sosial, atau media interaksi lainnya dalam lingkup kebijakannya.

b. Penyaringan dan

partisipasi

45

(57)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

publik terhadap masalah kebijakan

1. Proses

penyaringan masalah dilakukan secara demokratis dan ilmiah

Dokumen yang

menunjukkan

dokumentasi interaksi instansi dengan stakeholder dan/atau kelompok sasaran yang berkaitan dengan proses penyaringan masalah (dapat berupa dokumen antara lain naskah rekomendasi kebijakan atau rencana aksi atau Berita Acara; Notulensi dan daftar hadir pertemuan)

Pilih salah satu jawaban

(58)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

2. Agenda kebijakan mendesak untuk mengatasi masalah dengan melihat

kondisi saat itu

Penjelasan/deskripsi adanya kesenjangan kondisi atau gap kebijakan saat itu dan lampiran pendukung dokumen kebijakan yang masih berlaku saat itu.

Pilih salah satu jawaban

3. Faktor lain yang

mendorong untuk

mengangkat masalah menjadi

Dokumen yang berkaitan dengan tugas fungsi instansi, berita media massa, surat pembaca, hasil kajian/telaahan, surat keluhan/protes tertulis, quick survey isu,

Bisa memilih lebih dari satu jawaban Penilaian: lebih atau

sama dengan 4, 3, 2, 1

(59)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

agenda kebijakan.

hasil

pertemuan/diskusi/rap at/FGD yang relevan dengan jawaban yang dipilih

Informasi

tambahan terkait Agenda Setting Kebijakan

Silahkan untuk menambahkan informasi penting terkait Agenda Setting Kebijakan dilihat dari aspek : 1. identifikasi dan validasi masalah, dan 2. penyaringan dan konsultasi publik terhadap masalah kebijakan

Formulasi

Kebijakan 55

a. Karakter dasar kebijakan (kejelasan tujuan dan didasarkan pada pilihan kebijakan yang telah

10

(60)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

dinilai

kemanfaatan nya)

1. Kebijakan memiliki tujuan yang jelas

Naskah kebijakan terdapat pernyataan tujuan kebijakan: (1) apa saja yang diatur, (2) didefinisikan dengan jelas, (3) siapa saja yang terkait dalam pelaksanaan kebijakan, (4) tugas, fungsi, hak, kewajiban terdefinisi dengan jelas

2. Kebijakan didasarkan pada opsi kebijakan yang masing-

Background paper/ kajian kebijakan yang

melatarbelakangi formulasi kebijakan

Terdapat beberapa opsi kebijakan yang dikaji kemanfaatannya

(61)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

masing opsi telah dikaji kemanfaatan nya

b. Berorientasi ke depan (forward looking)

15

1. kebijakan yang dibuat dapat menjawab permasalahan dan tantangan saat ini dan ke depan

(1) Naskah kebijakan;

(2) background

paper/naskah akademik kebijakan

Terdapat pernyataan terhadap masalah

yang akan

diselesaikan dan mempertimbangkan proyeksi dinamika permasalahan

kedepan dan terkait dengan mitigasi resikonya

(62)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

2. muatan/subst ansi kebijakan telah

mempertimban gkan risiko dan

penanganan risiko yang mungkin timbul

(1) Naskah kebijakan (2) background paper/

kajian kebijakan yang mendasari formulasi kebijakan

(3) Peta resiko dan mitigasi resiko

kajian/analisis

kebijakan telah melakukan mitigasi

risiko dari

implementasi

kebijakan yang meliputi pemetaaan risiko, pemetaan stakeholder, serta penetapan strategi penanganan risiko yang mungkin timbul c. Berorientasi ke

luar (outward

looking) 20

1. rumusan kebijakan ditujukan untuk

(1) Naskah kebijakan;

(2) background

paper/naskah akademik kebijakan

perlu dilakukan pemetaan stakeholder untuk dapat menilai cakupan kebutuhan

(63)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

memenuhi kebutuhan stakeholder serta

mempertimban gkan

lingkungan eksternal kebijakan

stakeholder dalam

ruang lingkup

kebijakan yang sedang dinilai.

2. rancangan kebijakan dikonsultasika n kepada stakeholder dan pihak yang akan terdampak

Background paper/ kajian kebijakan yang mendasari formulasi kebijakan

Terdapat analisis stakeholder; terdapat laporan

perkonsultasian atau uji publik di fase formulasi kebijakan dan terdapat catatan

masukan yang

diakomodasikan 3. rancangan

kebijakan

Background paper/

kajian kebijakan yang

terdapat hasil

Identifikasi kelompok

(64)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

mempertimban gkan

kepentingan kelompok rentan yang berpotensi terdampak, baik langsung ataupun tidak langsung

mendasari formulasi kebijakan

rentan, pelibatan dan masukan dari kelompok rentan

kelompok rentan adalah kelompok tertentu dalam skala minoritas yang mungkin kurang mendapatkan manfaat yang optimal dari pelaksanaan kebijakan (misalnya kelompok perempuan, disabilitas, lansia, masyarakat adat, kelompok usaha mikro, fakir miskin, penyintas penyakit tertentu)

(65)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

d. Berbasis bukti (evidence

based) 40

1. perumusan kebijakan dilakukan berdasarkan kajian dan análisis yang memadai

Background paper/

kajian kebijakan yang mendasari formulasi kebijakan

Terdapat Kajian/

research yang khusus dilakukan untuk mendukung

perumusan kebijakan ini dan tersusun secara sistematis dan memenuhi aspek- aspek ilmiah yang meliputi:

(1) identifikasi masalah dan penetapan tujuan kebijakan;

(2) pengembangan kriteria pemecahan masalah;

(66)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

(3) pengembangan alternatif-alternatif kebijakan;

(4) evaluasi alternatif kebijakan

berdasarkan

kriteria; dan/atau (5) rekomendasi

kebijakan dan rencana aksi

2. Kajian dan analisis untuk perumusan kebijakan didukung dengan bukti yang memadai

Background paper/ kajian kebijakan yang mendasari formulasi kebijakan

cakupan dari bukti meliputi data statistik dan administratif, bukti berbasis penelitian, bukti dari masyarakat dan pemangku

kepentingan, serta bukti dari evaluasi.

(67)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

3. penyusunan kebijakan didukung oleh dokumentasi yang lengkap dan memadahi untuk

pembelajaran di masa

mendatang

terdapat

sistem/mekanisme yang mendukung

dokumentasi kebijakan (meliputi dimensi perencanaan dan pelaksanaan kebijakan)

sistem/mekanisme dalam hal ini dapat meliputi sistem

informasi, proses bisnis, atau tata laksana dalam pendokumentasian proses kebijakan.

e. Inovatif

15 1. kebijakan

menawarkan/

memberikan alternatif solusi baru

Dokumen analisis alternatif kebijakan, dokumentasi proses dialog/diskusi dengan ahli/stakeholder yang relevan

rancangan kebijakan memiliki kemungkinan untuk diterima apabila menawarkan

pendekatan/solusi

baru terhadap

(68)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

terhadap permasalahan

permasalahan publik yang dihadapi. Dalam hal ini, perumus kebijakan dituntut untuk dapat sejauh mungkin melakukan elaborasi opsi-opsi baru yang diperoleh

baik melalui

kajian/analisis, atau mendapatkan

informasi dari berbagai pihak yang relevan

2. kebijakan memberikan nilai

tambah/manfa at baru bagi stakeholder

Dokumen analisis alternatif kebijakan, dokumentasi proses dialog/diskusi dengan ahli/stakeholder yang relevan

aspek yang dimaksud dapat meliputi aspek ekonomi, sosial, lingkungan,

kesehatan, budaya, keamanan, politik,

(69)

No. Proses Bobot

(%) Tahapan Bobot

(%) Kriteria Kunci Bobot

(%) Bukti Dukung Keterangan

dsb.

3. kebijakan memberikan cara/metode baru untuk implementasin ya

(1) Naskah kebijakan (2) background

paper/kajian kebijakan yang mendasari

formulasi kebijakan

Terdapat kebaruan / inovasi metode pelaksanaan

kebijakan pada dokumen

disain/rancangan implementasi kebijakan Informasi

tambahan terkait formulasi

kebijakan

Silahkan untuk menambahkan informasi penting terkait formulasi kebijakan dilihat dari aspek : 1. karakteristik dasar, 2. berorientasi kedepan, 3. outward looking, 4.

berbasis bukti, dan 5. Inovatif

2)

Evaluasi Kemanfaatan

Kebijakan

55 Implementasi

Kebijakan 50

a. Pengorganisasi

an 30

1. Dilakukan uji coba/piloting terhadap kebijakan

1. turunan kebijakan yang ditetapkan, seperti SE, peraturan teknis

(bupati/walikota), SK, dll

Uji coba/piloting kebijakan merupakan

kegiatan pra

implementasi untuk

Referensi

Dokumen terkait

pelayanan publik serta penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dengan arah kebijakan peningkatan penggunaan Teknologi Informasi Komunikasi dalam pelayanan publik menuju

a) Agenda media itu sendiri harus diformat. Proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda setting media itu terjadi pada waktu pertama kali. b) Agenda publik

Bahwa kebijakan publik itu bisa bersifat positif dalam arti merupakan beberapa bentuk tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentu atau bersifat negatif dalam arti

Dari masalah publik yang sudah berusaha didefiniskan dan aktor kebijakan sepaham untuk memuat masalah tersebut ke dalam agenda kebijakan dan pada tahapan ini

Tipologi solusi formulasi kebijakan dalam penyelesaian masalah publik dan model formulasi kebijakan perencanaan pembangunan perdesan berbasis partisipasi publik

Wimmer dan Dominick (2003) menawarkan beberapa metode pengukuran agenda publik, yaitu: (1) Pada metode pertama, responden ditanya terbuka mengenai: berita yang

Hasil penelitian ini adalah: 1 Proses partisipasi publik mulai dari tahap desain kebijakan PSBB hingga perumusan dan proses validasi harus melibatkan masyarakat; 2 Memperkuat dan

Tahap pertama perumusan kebijakan adalah mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah