• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Status Sosial Ekonomi (SES) terhadap High Order Thinking Skills (HOTS) dalam Bidang Literasi Membaca pada Pelajar Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Peran Status Sosial Ekonomi (SES) terhadap High Order Thinking Skills (HOTS) dalam Bidang Literasi Membaca pada Pelajar Indonesia"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Status Sosial Ekonomi (SES) terhadap High Order Thinking Skills (HOTS) dalam Bidang Literasi Membaca pada Pelajar Indonesia

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

Dethasya Rebecca Uli Siagian 171301163

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

2022

(2)

i

(3)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:

Peran Status Sosial Ekonomi (SES) terhadap High Order Thinking Skills (HOTS) dalam Bidang Literasi Membaca pada Pelajar Indonesia

Adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dan sanksi- sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 12 Juli 2022

Dethasya Rebecca Uli Siagian NIM. 171301163

(4)

iii

PERAN STATUS SOSIAL EKONOMI (SES) TERHADAP HIGH ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA PELAJAR INDONESIA

Dethasya Rebecca Uli Siagian dan Dina Nazriani ABSTRAK

Indonesia merupakan negara yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak. Kondisi ini menjadi tantangan dalam pemerataan akses dan kualitas pendidikan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah adanya high order thinking skills (HOTS) pada siswa, yang sangat penting untuk dimiliki di abad ke-21 ini. Hal itu terlihat dari hasil capaian siswa Indonesia pada PISA 2018. Dibandingkan dengan ketiga bidang yang dinilai, literasi membaca siswa Indonesia memiliki nilai rata-rata terendah dari semua negara OECD. Apalagi dengan status sosial ekonomi (SES) masyarakat yang beragam, menambah tantangan dalam mencapai tujuan dalam meningkatkan pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat peran SES siswa Indonesia terhadap HOTS mereka dengan menggunakan nilai literasi membaca PISA. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada peran yang signifikan dari SES siswa pada HOTS.

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi, High Order Thinking Skills, OECD, PISA, Literasi Membaca

(5)

iv

THE ROLE OF SOCIAL ECONOMIC STATUS (SES) ON HIGH ORDER THINKING SKILLS (HOTS) IN INDONESIAN STUDENTS

Dethasya Rebecca Uli Siagian and Dina Nazriani ABSTRACT

Indonesia is a large country with large population. This condition brings challenges in evenly distribute education’s access and quality. One of the concerns is high order thinking skills (HOTS) in students, which is a very important skills to have in the 21st century. It can be shown in the results achieved by Indonesian student in PISA 2018. Compared to all three subjects assessed, Indonesia students’ reading literacy had the lowest average score form all OECD countries. Moreover, with its society’s various socioeconomic status (SES), adding more challenges in achieving the goals in improving the education. Therefore, this study is aiming to see the role of Indonesia students’ SES on their HOTS by using PISA reading literacy scores.

The result shows there is no significant role of students’ SES on HOTS.

Keywords: Socioeconomic Status, High Order Thinking Skills, OECD, PISA, Reading Literacy

(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas berkat dan rahmatNya, peneliti dapat mengerjakan proposal skripsi dengan judul “Peran Status Sosial Ekonomi (SES) terhadap High Order Thinking Skills (HOTS) dalam Bidang Literasi Membaca pada Pelajar Indonesia”. Proposal ini disusun untuk memenuhi syarat ujian sarjana psikologi di Departemen Umum dan Eksperimen Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, mama Delima Yunita Sianturi, A.Md., S.AB., M.M. dan papa Ir. Tony Hasudungan Siagian. Peneliti ingin berterima kasih atas kasih sayang yang diberikan dalam membesarkan peneliti hingga saat ini. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara peneliti, Martin Obedyto Siagian, Andrew Paul Denyto Siagian, Anggi Ester Herna Hutabarat, dan Gilbert Samuel Sotarduga Hutabarat, S.E. yang selalu mendukung peneliti dalam keadaan apapun, terutama dalam proses pengerjaan penelitian ini.

Peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak- pihak yang sudah banyak membantu peneliti dalam penyusunan proposal ini:

1. Bapak Zulkarnain, Ph.D., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

2. Kak Dina Nazriani, S.Psi., M.A., selaku dosen pembimbing akademik dan dosen pembimbing skripsi yang sudah membimbing peneliti sejak hari pertama kuliah.

Terima kasih atas ilmu, arahan, bantuan, waktu, motivasi, dan semua kebaikan yang sudah diberikan kepada peneliti selama peneliti berkuliah di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

(7)

vi

3. Sahabat-sahabat peneliti Ananthalia Salsabila dan Angeline Charlie, meskipun jauh tetap mendukung peneliti hingga saat ini.

4. Teman-teman baik peneliti Miyanda Tama Dominique Sagala, Cantika Vallery Josephine, S.Psi., Rossa Balqis Khairat, S.Psi., Angel Christine, S.Psi., Dayu Kamalena, Ignesia Saraswati, S.Psi., Sithi Amandha, S.Psi., Enida Brigita Silaen, S.Psi., Mastiur Imelda, S.Psi., dan Yulia Siska, S.Psi. yang selalu mendukung peneliti dan selalu berjuang bersama dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

5. Abang dan kakak alumni, Kak Shinta Purba, Kak Elsa Purba, Bang Rivaldo Siburian, Bang Iwan Sitorus, Kak Siska Sipahutar, serta teman-teman reguler satu angkatan Consolatio Choir Universitas Sumatera Utara yang selalu mendukung peneliti dalam menjalani kegiatan sebagai mahasiswa dan anggota organisasi.

6. Teman baik peneliti, Adelina Sucitra Sihombing, teman yang luar biasa, yang bersama- sama melalui semua suka dan duka dalam masa-masa terakhir perkuliahan.

7. Kak Ayu Fitria, F.Psi. dan kak Hanna yang bersama-sama berjuang mengerjakan skripsi bersama peneliti.

Proposal ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik, bimbingan, dan arahan dari Bapak/Ibu penguji sangat diharapkan. Peneliti berharap proposal ini dapat menjadi lebih baik dengan adanya kritik, saran, bimbingan, dan arahan dari Bapak/Ibu dosen penguji. Akhir kata, peneliti mengucapkan terima kasih kepada para pembaca proposal ini.

Medan, Maret 2022

Dethasya Rebecca Uli Siagian

171301163

(8)

vii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI... vii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 14

1.3. Tujuan Penelitian... 14

1.4. Manfaat Penelitian... 14

1.4.1. Manfaat Teoritis ... 14

1.4.2. Manfaat Praktis ... 14

BAB II ... 16

LANDASAN TEORI ... 16

2.1. High Order Thinking Skills (HOTS) ... 16

2.1.1. Definisi High Order Thinking Skills ... 16

2.2. Socioeconomic Status (SES) ... 19

2.2.1. Definisi Socio-Economic Status (SES) ... 19

2.2.2. Komponen Socio-Economic Status (SES) ... 22

2.3. Reading Literacy dalam PISA ... 24

2.3.1. Definisi Reading Literacy ... 24

2.3.2. Aspek-aspek reading literacy ... 27

2.4. Dinamika Penelitian ... 31

2.5. Hipotesis Penelitian ... 35

BAB III ... 36

METODE PENELITIAN ... 36

3.1. Jenis Penelitian ... 36

3.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 36

3.2.1. High Order Thinking Skills ... 36

3.2.2. Socio-Economic Status ... 37

3.3. Alat Ukur ... 38

3.3.1. Alat Ukur SES ... 38

3.3.2. Alat Ukur HOTS ... 38

3.4. Subjek Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel ... 38

3.4.1. Populasi ... 39

3.4.2. Sampel dan Teknik Sampling ... 39

(9)

viii

BAB IV ... 41

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 41

4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 41

4.1.1. Jenis Kelamin ... 41

4.1.2. Tingkat Pendidikan ... 41

4.1.3. Analisis Deskriptif ... 42

4.1.4. Kategorisasi Data Penelitian ... 43

4.2. Uji Hipotesis ... 44

4.3. Pembahasan ... 45

BAB V ... 50

KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

5.1. Kesimpulan... 50

5.2. Saran ... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 53

LAMPIRAN... 66

LAMPIRAN 1 ... 67

LAMPIRAN 2 ... 70

LAMPIRAN 3 ... 72

LAMPIRAN 4 ... 73

LAMPIRAN 5 ... 74

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara ke-4 dengan populasi terbesar di dunia. Ada 271 juta jiwa tersebar di sepanjang 17.000 pulau Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat dari 270 juta penduduk Indonesia, 45,21 juta di antaranya adalah siswa (Annur, 2021). Sejumlah 45,21 juta pelajar tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Sebanyak 15 juta dari total pelajar Indonesia merupakan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagai negara berkembang, luasnya negara Indonesia dan banyaknya jumlah penduduk adalah tantangan bagi pemerintah dalam mewujudkan pemerataan akses dan kualitas pendidikan.

Kondisi yang demikian, tidak menghalangi Indonesia dalam meningkatkan akses pendidikannya. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim melaporkan bahwa Indonesia meraih capaian luar biasa dalam memperluas akses pendidikan dalam 15 tahun terakhir (Kemdikbud, 2019). Sejak tahun 2011 hingga 2015, jumlah siswa usia 13 sampai 15 tahun meningkat dari 88% menjadi 95%. Pemerintah terus berupaya untuk membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Beberapa di antaranya adalah alokasi dana pendidikan sebanyak 20% dari APBN dan program wajib belajar 12 tahun (World Bank, 2020; Sembiring, 2022).

(11)

2

Pemerintah berupaya menyediakan fasilitas pendidikan, namun upaya ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu atau dua pihak. Menurut teori ekologikal oleh Bronfenbrenner (dalam Santrock, 2011), konteks sosial berperan dalam perkembangan anak. Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana aspek sosial mempengaruhi performa akademik anak dalam Psikologi Pendidikan (Santrock, 2011). Konteks-konteks sosial yang dimaksud dalam teori ini adalah sekumpulan sistem yang ada di dalam perjalanan kehidupan anak. Sistem yang terdekat, yaitu microsystem, hingga terjauh yang ada di dalam macrosystem.

Pemerintah adalah salah satu bagian yang penting dalam ekosistem ini. Pemerintah adalah pembuat kebijakan yang dapat menunjang keberhasilan sistem pendidikan, contohnya seperti penyusunan anggaran dan penyelenggaraan program-program yang dapat meningkatkan kualitas guru (Krisna, 2020). Peran pemerintah memang besar, akan tetapi terdapat sebuah sistem yang perannya jauh lebih penting, yaitu keluarga. Keluarga masuk ke dalam golongan microsystem. Dibandingkan dengan semua sistem yang masuk dalam golongan ini, keluarga adalah sistem yang paling berpengaruh dalam perkembangan anak, karena keluarga memiliki ikatan yang langsung dan khusus dengan anak. Anak menghabiskan waktu yang banyak di dalam microsystem, termasuk keluarga (Santrock, 2011; Rus, Lee, Salas, et al., 2020).

Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Maka, keadaan keluarga menentukan pencapaian pendidikan anak (Chotimah, 2017). Anggota keluarga hidup saling bergantung dengan satu sama lain (Newman & Newman,

(12)

3

2012). Ada banyak faktor yang mempengaruhi keterlibatan keluarga terhadap pendidikan anak. Keberagaman dan kualitas hubungan dalam microsystem mempengaruhi perkembangan individu. Lingkungan yang beragam dan responsif akan lebih mendukung perkembangan intelektual anak (Newman & Newman, 2012; Witherspoon, Schotland, Way, & Hughes dalam Newman & Newman, 2012).

Sejumlah penelitian, seperti Duncan dan Magnuson (2012), Wihbey (2012), Burneo-Garcés, dkk. (2018), telah membuktikan bahwa keterlibatan keluarga, terutama orang tua, penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak, yang berperan penting dalam keberlangsungan pendidikan anak. Oleh sebab itu, sumber daya yang datang dari orang tua menjadi modal yang penting dalam mendorong perkembangan kognitif anak, contohnya seperti tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, hingga benda-benda yang tersedia di dalam rumah, yang disediakan oleh orang tua. Pendidikan dan pekerjaan orang tua berhubungan dengan perkembangan otak anak. Secara khusus, pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua bertanggung jawab atas lebih dari 14% varians dalam skor anak-anak dalam tes fungsi eksekutif (Duncan & Magnuson, 2012; Wihbey, 2015;

Noble, Norman, & Farah dalam Wihbey, 2015). Orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak dan memberikan aktivitas yang menstimulasi dan mendorong anak untuk belajar hal baru (Duncan & Magnuson, 2012). Sumber-sumber yang anak dapatkan dari

(13)

4

keluarga, secara spesifik dari orang tua, tidak lepas dari status sosial ekonomi keluarga.

Status sosial ekonomi (SES) umumnya dijadikan variabel proksi dalam penelitian-penelitian yang ingin melihat hubungan antara beberapa komponen dalam keluarga dengan prestasi. Pengukuran SES umumnya mencakup komponen- komponen seperti pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan kepemilikan benda-benda di rumah (Duncan & Magnuson, 2012). Sejumlah penelitian dalam Hackman, Farah, & Meaney (2010) menunjukkan bahwa SES memiliki efek yang nyata pada kognisi, pencapaian akademik, dan kesehatan mental anak. Pendapatan rumah tangga, sumber daya materil, pendidikan, dan pekerjaan yang mendukung membentuk lingkungan yang baik, yang mendukung stimulasi kognitif (Hackman, Farah, & Meaney, 2010). Anak-anak yang berasal dari SES rendah, memiliki sumber daya yang rendah. Hal ini menyebabkan anak-anak dengan latar belakang SES yang rendah memiliki beban yang lebih besar untuk mengejar ketertinggalan mereka di sekolah, sebab ada perbedaan dalam perkembangan otak mereka (Wihbey, 2015). Sebuah studi oleh Harvard dan MIT menemukan bahwa remaja usia 12 hingga 13 tahun yang berasal dari keluarga SES rendah memiliki korteks otak yang lebih tipis pada area yang beperan dalam aspek intelektual (Wihbey, 2015). Sebagai contoh, orang tua yang memiliki pekerjaan dengan tingkat prestise rendah memiliki otonomi yang rendah dalam pekerjaan. Selain itu, pekerjaan dengan prestise rendah cenderung bersifat rutin dan tidak banyak mengasah keterampilan kognitif. Kondisi tersebut mempengaruhi bagaimana orang tua

(14)

5

membentuk interaksi dengan anak (Duncan & Magnuson, 2012). Lalu, penelitian Duan, dkk. (2018) di Tiongkok mengatakan bahwa SES memiliki hubungan yang positif dengan keterlibatan orang tua dan performa akademik 19,487 murid SMP yang menjadi sampel penelitian.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rumah tangga di Indonesia dengan tingkat pendidikan yang rendah cenderung mengalami kemiskinan. Jumlah kemiskinan tertinggi terdapat pada rumah tangga dengan lulusan tingkat SD (Annur, 2022), sedangkan tingkat kemiskinan terendah terdapat pada rumah tangga dengan lulusan perguruan tinggi. Pada tahun 2017, sebuah penelitian mengukur pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas 8 SMPN 1 Jember. Penelitian tersebut melibatkan 81 responden, yang mayoritas orang tuanya adalah wiraswasta dengan tingkat pendidikan yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SES orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi anak, yang dalam penelitian ini adalah sebesar 77.3%. Penelitian lainnya, yang dilakukan pada keluarga nelayan, menunjukkan bahwa SES yang rendah menyebabkan rendahnya keterbukaan akses pendidikan kepada anak (Chotimah, 2017; Annur, 2022; Riski & Hajad, 2021). Santrock (2011) menyebutkan bahwa keluarga yang berada dalam kondisi SES yang rendah, terutama dalam garis kemiskinan lebih cenderung untuk mengalami konflik, kekerasan, kekacauan, dan perpisahan dalam keluarga. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan cenderung sedikit, sehingga anak tidak mendapatkan stimulasi intelektual yang cukup.

(15)

6

Kondisi SES Indonesia masih memiliki berbagai masalah. Kondisi ini berdampak pada kualitas pendidikan yang diterima oleh pelajar Indonesia.

Kesenjangan performa dan kualitas siswa masih terjadi di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil (Dilas, dkk., 2019, Suastha, 2016). Infrastruktur yang tidak memadai, aksesibilitas, implementasi kurikulum yang tidak merata, kurangnya tenaga guru, dan lain sebagainya (Vito, Krisnani, & Resnawaty, 2015; Anas, Riana,

& Apsari, 2015). Pelajar Indonesia pun masih belum mampu memenuhi standar nasional. Berdasarkan data tahun ajaran 2018/2019, nilai rata-rata nasional Ujian Nasional (UN) tidak melewati batas skor minimal, yaitu 51.8 dari 55. DI Yogyakarta meraih rata-rata tertinggi, yaitu 64.6, sedangkan Provinsi Aceh meraih rata-rata terendah, yaitu 44.4. Tingkat internasional pun, pencapaian pelajar Indonesia belum mencapai standar (World Bank, 2020; Puspendik, 2018). PISA menunjukkan bahwa siswa Indonesia tergolong rendah dibandingkan beberapa negara lainnya.

Programme for International Student Assessment (PISA) adalah sebuah program yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Program ini membantu menyediakan data-data perkembangan pendidikan negara anggota melalui pengukuran yang diberikan kepada siswa usia 15 tahun di berbagai negara. Pengukurannya bersifat diagnostik, dan data-data yang disajikan diharapkan dapat membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan-kebijakan yang meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem pendidikan (Kemdikbud, 2022; Kemdikbud, 2019). PISA fokus pada

(16)

7

pengukuran kemampuan dan keterampilan dalam bidang membaca, matematika, sains, dan literasi keuangan. Selama 22 tahun penyelenggaraannya, PISA melibatkan lebih dari 90 negara anggota serta 3.000.000 pelajar seluruh dunia.

Indonesia merupakan salah satu negara OECD yang bergabung dalam PISA.

Indonesia berpartisipasi dalam PISA sejak tahun 2000. PISA melakukan pembaruan data setiap tiga tahun. Indonesia berpartisipasi sampai dengan pembaruan terakhir dilakukan pada tahun 2018. Berdasarkan hasil terkini, Indonesia masih menempati posisi rendah dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Skor total dari masing-masing bidang yang diukur masih di bawah rata-rata. Dalam bidang matematika, skor rata-rata Indonesia adalah 379 dari skor rata-rata OECD 379. Skor rata-rata bidang sains masih 93 poin di bawah rata-rata OECD, yaitu 396 dari 489. Bidang terakhir, yaitu literasi membaca, diperoleh skor rata-rata 371 dari rata-rata OECD, yaitu 487. Jika membandingkan ketiga bidang yang diukur, skor literasi membaca memiliki skor paling rendah dan memiliki jarak terbesar dari skor rata-rata OECD (Avvisati, Echazarra, Givord, &

Schwabe, 2019). Berdasarkan pengukuran dari 12.089 siswa, performa membaca Indonesia mendapatkan peringkat 71 dari 76 (OECD, 2018).

Bidang literasi membaca menjadi bidang utama dalam PISA 2018. Oleh sebab itu, aitem-aitemnya mendapat beberapa perbaikan dalam kerangkanya. Pada tahun 2018, penyusunan aitem-aitem literasi membaca adalah yang paling baru di antara bidang kognitif lainnya. PISA mengkategorikan skor pencapaian ke dalam skala proficiency yang terdiri dari tujuh level. Setiap level menggambarkan apa yang

(17)

8

diketahui dan yang dapat dilakukan oleh siswa. Kategorisasi literasi membaca terdiri atas level 1c, 1b, 1a, 2, 3, 4, 5, dan 6. Level 1c adalah paling rendah (lowest proficiency), dengan tingkat kesulitan soal yang rendah. Sedangkan level 6 adalah level tertinggi dengan tingkat kesulitan yang relatif tinggi (PISA, 2019; PISA, 2019).

Melihat rendahnya nilai rata-rata literasi membaca Indonesia, dapat dikatakan bahwa banyak siswa Indonesia yang belum mampu mengerjakan aitem-aitem hingga level tertinggi. Laporan PISA 2018 membuktikan bahwa hanya sebanyak 30% siswa mampu mencapai level 2 ke atas dalam membaca. Pada level atas, yaitu 5 dan 6, tidak ada pencapaian yang signifikan, yang artinya pencapaiannya kurang dari 10% siswa partisipan. Sedangkan beberapa negara lain mampu melewati 10%, sehingga mereka disebut sebagai top performer (Avvisati, Echazarra, & Schwabe, 2019). Rendahnya persentase pencapaian siswa dalam tingkat kesulitan yang tinggi dapat menggambarkan rendahnya kemampuan kemampuan kognitif pada kebanyakan pelajar Indonesia.

Secara umum, mengevaluasi kemampuan kognitif dapat dilakukan dengan membagi kemampuan kognitif menjadi dua level, yaitu low order thinking skills dan high order thinking skills. Pembagian ini berasal dari sebuah taksonomi kognitif, yang dicetuskan oleh Benjamin Bloom. Taksonomi ini dinamai Bloom’s Taxonomy (Wilson, 2016). Seiring berjalannya waktu, taksonomi ini mengalami revisi oleh Anderson dan Krathwohl. Hasil revisi tersebut menjadi susunan yang banyak dipakai pada saat ini. Susunan tersebut terdiri dari mengingat (remember),

(18)

9

memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create) (Krathwohl, 2002). LOTS dan HOTS sama pentingnya, karena satu tahap harus mampu dicapai untuk dapat naik ke tahap berikutnya. Dengan demikian, siswa harus mampu mencapai tahap-tahap LOTS untuk dapat mencapai HOTS, yang membutuhkan proses kognitif yang lebih besar (Adams, 2015).

Dengan memiliki HOTS, siswa mampu mengolah pengetahuan yang mereka punya menjadi sesuatu yang baru. Selain itu, siswa mampu menerapkan pengetahuan ke dalam kehidupan sehari-hari (Dinni, 2019). HOTS penting untuk dimiliki oleh siswa Indonesia, karena dengan kemampuan ini sekolah-sekolah di Indonesia dapat menghasilkan lulusan yang kompeten (Walid, dkk., 2019).

Susunan taksonomi Bloom membagi HOTS dalam tiga tingkat kemampuan, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Terdapat taksonomi lain yang juga menjelaskan mengenai HOTS yang dicetuskan oleh Marzano. Taksonomi Marzano mengidentifikasikan HOTS ke dalam 13 proses kognitif, yaitu membandingkan (comparing), mengklasifikasikan (classifying), penalaran induktif (inductive reasoning), penalaran deduktif (deductive reasoning), menganalisa kesalahan (analyzing error), membangun dukungan akan pernyataan (constructing support), menganalisa perspektif (analyzing perspective), mengabstraksi (abstracting), membuat keputusan (decision making), investigasi (investigation), memecahkan masalah (problem solving), penyelidikan eksperimental (experimental inquiry), dan penemuan (invention) (Heong, dkk., 2011). Indonesia

(19)

10

sendiri, masih cenderung menggunakan kategorisasi HOTS dalam taksonomi Bloom. Dalam menganalisa pencapaian pendidikan atau penyusunan dan hasil pencapaian UN, bahkan PISA, masih memakai taksonomi Bloom. (Gardini, 2019;

Hartini, dkk., 2018; Kurniati, dkk., 2016). Oleh sebab itu, penelitian ini fokus menggunakan HOTS menurut taksonomi Bloom.

Konsep HOTS sejalan dengan kategori level kemampuan yang tinggi dalam PISA. Sebagai contoh, pada level 5, pelajar dituntut untuk dapat menjelaskan fenomena yang tidak familiar. Selain itu siswa dianggap sudah mampu membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan, serta mengintegrasikan informasi yang berasal dari lebih dari 1 sumber. Pada level 6 siswa sudah mampu mengevaluasi teks secara kritis (PISA, 2019). Penelitian oleh Hikmaturrahman dkk. (2021) menguji HOTS 3 siswa menggunakan 3 sampel pertanyaan matematika PISA yang masuk dalam kategori HOTS, yaitu level 4, 5, dan 6. Berdasarkan tiga pertanyaan tersebut, peneliti menganalisa HOTS siswa dalam mengerjakan soal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga siswa masih belum memenuhi kemampuan untuk menganalisa. Lalu, ada penelitian oleh Rahmawati dkk. (2019) yang mencoba menganalisa kapabilitas siswa SMP dalam memecahkan soal mengenai materi listrik dinamis dalam level HOTS. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas siswa masih belum menggunakan HOTS sepenuhnya. Sebagian besar siswa menunjukkan kemampuan yang baik dalam menganalisa, akan tetapi masih banyak siswa yang tergolong rendah dalam kemampuan mengevaluasi.

(20)

11

Banyak penelitian sudah membahas HOTS pada siswa Indonesia. Hasil penelitannya beragam, namun kebanyakan menyimpulkan bahwa kapabilitas siswa dalam menggunakan HOTS masih sedang atau rendah. Sebagai contoh, Kurniati dkk. (2016) meneliti HOTS 30 siswa SMP Kabupaten Jember menggunakan soal matematika berstandar PISA. Pekerjaan siswa diberi nilai dan dikategorisasikan ke dalam tiga level, yaitu rendah, tinggi dan sedang. Hasil menunjukkan bahwa 18 siswa masuk dalam kategori sedang dan 12 siswa masuk ke dalam kategori rendah.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Kusaeri dkk. (2019) kepada 164 siswa kelas 8 di Sidoarjo. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa siswa masih belum siap untuk menghadapi tes matematika dengan aitem-aitem yang berada pada level HOTS.

Siswa masih kurang berpengalaman dalam mengerjakan soal-soal HOTS. Bahkan, siswa cenderung melewatkan soal-soal dalam bentuk narasi panjang, yang membutuhkan pemahaman yang dalam dan soal-soal dengan elemen gambar yang membutuhkan perhitungan cermat (Kusaeri, dkk. 2019).

Melihat keadaan ini, perlu diketahui faktor apa yang membuat performa kognitif siswa Indonesia, terkhusus dalam level HOTS masih bermasalah. Mengacu pada Education Effectiveness Research (EER) oleh Creemers dan Kyriakides (2008), terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi pencapaian siswa di sekolah.

Creemers dan Kyriakides menyajikan sebuah model multilevel yang dibagi menjadi empat, yaitu student-level factors, classroom-level factors, school-level factors, dan context-level factors. Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, microsystem memiliki peran yang cukup besar bagi pendidikan anak.

(21)

12

Berdasarkan empat level yang disampaikan, student-level factors adalah yang memiliki kaitan erat dengan microsystem. Dalam student-level factor terdapat dua kategori utama, yaitu variabel latar belakang sosial-ekonomi (SES) dan variabel yang muncul dari perspektif psikologis. Berkaitan dengan kondisi yang sudah dijelaskan, SES mungkin bisa menjelaskan keadaan HOTS siswa Indonesia. SES adalah faktor yang menetap dalam kehidupan setiap siswa. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya perbedaan respon perilaku dan gaya guru pada tingkat kemampuan dan SES yang berbeda. Siswa yang berasal dari latar belakang SES rendah membutuhkan lebih banyak struktur dan positive reinforcement dari guru.

Contohnya seperti instruksi yang baik dan aktif, berulang, dan mendorong siswa untuk tetap berusaha (Creemers & Kyriakides, 2008). Selain itu, sudah dijelaskan juga sebelumnya, bahwa SES berperan terhadap kognisi.

Yee (2021) menyatakan bahwa secara umum SES mempengaruhi HOTS. Yee (2021) sendiri menemukan bahwa SES mempengaruhi HOTS mahasiswa politeknik, secara spesifik pada aspek membuat keputusan dan menciptakan.

Adapun penelitian lainnya yang membahas HOTS dan SES, masih melibatkan variabel lain, seperti tingkat kemampuan siswa. Wahyuni (2019) menemukan bahwa siswa dengan SES tinggi yang didukung dengan tingkat kemampuan yang tinggi, mampu mencapai fluency, flexibility, dan originality dalam berpikir dan menganalisa soal matematika berbasis HOTS.

Keadaan keluarga yang kurang beruntung berdampak pada kognitif maupun perilaku anak. Oleh sebab itu, SES sangat berperan dalam pencapaian pendidikan

(22)

13

siswa (Ferguson, dkk., 2007). Ketika keadaan sosial ekonomi keluarga kurang mendukung, fokus utama keluarga adalah pemenuhan kebutuhan pokok. Sehingga pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pendidikan anak tidak menjadi fokus utama orang tua. Contohnya seperti pemenuhan kebutuhan alat tulis, buku teks, laptop, dan lain-lain (Chotimah, dkk. 2017; Mihai, dkk., 2015).

PISA sendiri mengukur SES menggunakan economic, cultural, and social status index (ESCS). ESCS adalah variabel yang sering dipakai dalam laporan PISA, setelah pencapaian siswa (Avvisati, 2020). SES disebut sebagai prediktor yang kuat dalam pengukuran performa matematika dan sains dalam pengukuran PISA. Dengan demikian, seharusnya SES mampu memprediksi HOTS siswa, terutama dalam bidang literasi membaca. Dampak terbesar dari SES terletak pada pengolahan bahasa (Hackman, Farah, & Meaney, 2010). Beberapa penelitian sebelumnya juga sudah membuktikan bahwa siswa yang berasal dari keluarga dengan SES yang tinggi memiliki kemampuan membaca yang lebih baik (Cheng

& Wu, 2017; Dolean, dkk., 2019; McCauley, 2020). PISA juga menyampaikan bahwa siswa dengan latar belakang SES yang lebih baik lebih unggul 37 poin dalam bidang membaca (PISA, 2019). Berdasarkan fenomena ini, peneliti tertarik untuk melihat apakah SES bisa memprediksi HOTS pelajar di Indonesia. Untuk memenuhi target itu makan teknik analisis yang akan digunakan adalah analisis regresi linear sederhana.

(23)

14 1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah status sosial ekonomi siswa di indonesia mampu menjadi prediktor terhadap high order thinking skills literasi membaca yang diukur oleh PISA?”.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, berikut tujuan penelitian yang hendak dicapai:

1. Melakukan analisis statistika deskriptif pada data SES dan HOTS.

2. Melakukan analisis statistika inferensial menggunakan uji regresi linear pada data SES dan HOTS.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi bukti empiris mengenai apakah SES mampu menjadi prediktor pada HOTS literasi membaca siswa Indonesia.

1.4.2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menyediakan dan menambah referensi mengenai penelitian yang menggunakan data sekunder, yang dalam penelitian ini menggunakan data PISA 2018.

1.5. Sistematika Penulisan BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

(24)

15 BAB II: LANDASAN TEORI

Bab ini berisikan kajian-kajian teoritis yang berkaitan dengan variabel penelitian.

BAB III: METODE PENELITIAN

Bab ini berisikan penjelasan mengenai metode yang digunakan dalam penelitian.

Bab ini terdiri dari identifikasi variabel, definisi operasional, subjek penelitian, jenis dan teknik penelitian, metode pengumpulan data, alat pengumpulan data, validitas, reliabilitas, daya diskriminasi aitem, serta prosedur penelitian.

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan uraian mengenai gambaran sampel, hasil penelitian, dan pembahasan hasil penelitian.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian dan saran terhadap penelitian.

(25)

16 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1. High Order Thinking Skills (HOTS)

2.1.1. Definisi High Order Thinking Skills

High order thinking skills (HOTS) berasal dari taksonomi oleh Benjamin Bloom, yang terdiri dari enam tingkat domain kognitif. Keenam kategori tersebut adalah knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis, dan evaluation (Huitt, 2011). Sekitar 40 tahun kemudian, Krathwohl dan Anderson merevisi taksonomi ini menjadi remember, understand, apply, analyze, evaluate, dan create (Krathwohl, 2002;

Forehand, 2005). Bukan hanya urutan, Anderson dan Krathwohl juga mengubah kata benda menjadi kata kerja (Huitt, 2011).

Keenam level ini dibagi ke dalam dua kategori, yaitu Low Order Thinking Skills (LOTS) dan High Order Thinking Skills (HOTS). Kategori LOTS yang terdiri dari remembering, understanding, dan applying.

Sedangkan HOTS terdiri dari analyzing, evaluating, creating (Walid, dkk., 2019). Krathwohl (2002) mendefinisikan ketiga level HOTS sebagai berikut:

1. Analyze

Kemampuan dalam memecahkan sebuah materi menjadi bagian-bagian penyusun dan mendeteksi bagaimana bagian-

(26)

17

bagian itu berhubungan satu sama lain dan dengan keseluruhan struktur atau tujuan.

2. Evaluate

Keterampilan dalam membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar.

3. Create

Keterampilan menyatukan elemen-elemen dan menghasilkan sesuatu yang baru dan dapat dimengerti atau membuat produk ciptaan sendiri.

Newman dalam Lewis dan Smith (1993) mengatakan bahwa HOTS menantang murid untuk dapat menginterpretasikan, menganalisa, dan memanipulasi informasi. Ennis dalam Barnett & Francis (2012) mengatakan bahwa pemikiran kritis adalah salah satu praktek daripada HOTS.

Mekanisme dasar daripada HOTS terletak pada penalaran relasional atau analogis. Dengan menggunakan HOTS, individu mampu merepresentasikan informasi dan objek di dunia nyata sebagai sistem hubungan, yang dapat dibandingkan, dikontraskan, digabungkan, dengan cara-cara baru, sesuai dengan konteks yang dituju (Richland dan Simms dalam Mitani. 2021).

Ketiga kategori HOTS tersebut disusun oleh proses-proses kognitif yang terjadi di dalam setiap domain, yaitu:

1. Analyse

(27)

18 i. Differentiating

Memisahkan atau membedakan informasi yang relevan dan yang tidak relevan, serta yang penting dari yang tidak penting dari materi yang disajikan.

ii. Organizing

Menentukan bagaimana elemen bisa sesuai dan berfungsi dalam sebuah struktur.

iii. Attributing

Menentukan sudut pandang, bias, atau maksud dasar dari materi yang disajikan.

2. Evaluate

i. Checking

Mendeteksi inkonsistensi atau kekeliruan dalam suatu proses atau produk; menentukan apakah suatu proses atau produk memiliki konsistensi internal; mendeteksi keefektifan suatu prosedur saat diimplementasikan.

ii. Critiquing

Mendeteksi inkonsistensi antara produk dan kriteria eksternal, menentukan apakah suatu produk memiliki konsistensi eksternal; mendeteksi kesesuaian prosedur untuk masalah yang diberikan.

3. Create

(28)

19 i. Generating

Memunculkan hipotesis alternatif yang sesuai dengan kriteria dan berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Kemampuan ini memperkenankan individu untuk memberikan solusi- solusi altrenatif untuk sebuah kondisi. Maka, kemampuan ini membutuhkan pemikiran kreatif.

ii. Planning

Merancang dan mengembangkan rencana atau prosedur untuk menyelesaikan masalah.

iii. Producing

Menciptakan produk baru sebagai solusi dari sebuah masalah dengan melaksanakan rencana yang sudah dirancang.

2.2. Socioeconomic Status (SES)

2.2.1. Definisi Socio-Economic Status (SES)

Status sosial ekonomi (SES) adalah sebuah konsep atau struktur yang kompleks (Hackman, Farah, & Meaney, 2010; Newman & Newman, 2012).

Sudah banyak penelitian yang menggunakan variabel SES, namun kebanyakan menggunakan definisi dan komponen atau indikator yang tidak jauh berbeda. Hackman, Farah, dan Meaney (2010) mengatakan bahwa SES

(29)

20

disusun berdasarkan indikator seperti penghasilan rumah tangga, sumber daya materil, pendidikan, dan pekerjaan yang disertai dengan karakteristik lingkungan sekitar dan keluarga. Tidak jauh berbeda dari penjelasan sebelumnya, Duncan dan Magnuson (2012) mengatakan bahwa SES adalah akses individu pada sumber daya ekonomi dan sosial. SES juga mencakup posisi sosial, hak istimewa, dan prestise yang diperoleh dari kepemilikan sumber daya tersebut. SES dapat diukur secara langsung atau dengan menggunakan proksi. Pengukuran secara langsung umumya menggunakan indikator pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan pendapatan orang tua. Sedangkan pengukuran dengan proksi, biasanya menggunakan variabel- variabel yang erat kaitannya dengan SES, contohnya kepemilikan rumah dan struktur keluarga. Newman dan Newman (2011) memaparkan definisi yang serupa, yaitu pangkat individu berdasarkan indikator sosial dan keuangan, yang juga mencakup durasi pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. Dengan demikian, dapat disimpulkan secara umum, bahwa SES adalah sebuah konsep mengenai kedudukan ekonomi dan sosial seseorang, yang diukur berdasarkan indikator-indikator seperti status pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan.

PISA menyusun sebuah kerangka tersendiri dalam mengukur SES siswa. Dalam penyusunan kerangka ini, tidak ada landasan teori yang tegas.

PISA mengutip beberapa definisi SES. Meskipun menggunakan pengukuran

(30)

21

tersendiri, referensi yang digunakan oleh PISA tidak jauh berbeda dengan definisi-definisi umum yang digunakan di luar pengukuran PISA. Secara luas, Cowan (dalam Avvisati 2019) menyatakan bahwa SES adalah gambaran ketersediaan sumber finansial, sumber sosial, sumber budaya dan sumber daya manusia bagi murid. Willms dan Tramonte dalam OECD (2019) mendefinisikan SES sebagai posisi relatif suatu keluarga atau individu dalam sebuah sistem sosial, yang dipangkatkan berdasarkan akses atau kontrol atas kekayaan, kekuasaan, dan status. Dengan demikian, PISA mendefinisikan SES sebagai pengukuran akses siswa ke sumber daya keluarga yang mencakup modal finansial, modal sosial, modal budaya dan modal manusia, serta posisi sosial keluarga/rumah tangga siswa.

PISA menggunakan indeks economic, cultural and social status (ESCS) dalam mengukur SES siswa. Indeks ESCS adalah alat ukur yang menggabungkan skor-skor komponen modal finansial, sosial, budaya, dan manusia yang tersedia bagi siswa ke dalam sebuah skor tersendiri (OECD, 2019). Pengukuran SES siswa menggunakan indeks ESCS bukan hanya menunjukkan angka kedudukan SES siswa. Terdapat sejumlah tujuan pelaporan yang hendak dicapai dalam pengukuran SES (Avvisati, 2020), yaitu (1) mendukung analisa hubungan SES siswa dengan prestasi siswa, (2) memungkinkan dilakukannya perbandingan yang valid antara SES siswa dan prestasi siswa, baik di seluruh negara maupun di dalam negara, dari

(31)

22

waktu ke waktu, (3) memungkinkan adanya klasifikasi status beberapa siswa yang “rentan” atau "tidak beruntung", untuk menganalisis konsentrasi siswa tersebut di sekolah tertentu dan membandingkan prevalensi, dan distribusi, dari waktu ke waktu, (4) dapat menjelaskan perbedaan individu dalam hal sokongan yang siswa dapatkan dan pencapaian siswa sebelumnya, khususnya ketika menganalisis hubungan antara prestasi dan variabel sekolah (jalur sekolah, jenis sekolah, praktik mengajar, praktik pembelajaran, dan lain-lain), (5) mencakup pengukuran keuntungan/kerugian yang siswa alami pada tingkat sekolah, yang memungkinkan mengklasifikasi sekolah “mampu” atau “tidak mampu”.

2.2.2. Komponen Socio-Economic Status (SES)

Pengukuran SES dalam PISA merupakan gabungan dari beberapa variabel yang berkaitan dengan latar belakang keluarga murid. Variabel- variabel tersebut disusun ke dalam tiga komponen (PISA, 2019), yaitu:

1. Level Pendidikan Orang Tua (PARED)

Komponen ini terdiri dari variabel level pendidikan ibu (MISCED), level pendidikan ayah (FISCED), dan indeks level pendidikan tertinggi orang tua (HISCED).

2. Status Tertinggi Pekerjaan Orang Tua (HISEI)

(32)

23

Komponen ini terdiri dari status pekerjaan ayah (BFMJ2), status pekerjaan ibu (BMMJ1) dan status tertinggi pekerjaan orang tua (HISEI).

3. Barang-barang Rumah Tangga (HOMEPOS)

Komponen ini terdiri dari ketersediaan 16 aitem rumah tangga, yang meliputi tiga aitem yang spesifik pada suatu negara (ST011). Tiga belas aitem umum yang ditanyakan adalah (1) meja belajar, (2) kamar pribadi, (3) tempat sunyi untuk belajar, (4) komputer untuk keperluan sekolah, (5) perangkat lunak edukasional, (6) jaringan internet, (7) literatur klasik (contohnya Shakespeare), (8) buku-buku puisi, (9) karya seni (contohnya lukisan), (10) buku-buku yang menunjang pengerjaan tugas sekolah, (11) buku-buku referensi teknis, (12) kamus, (13) buku- buku tentang seni, musik, atau desain. Sedangkan aitem spesifik yang ditanyakan kepada pelajar-pelajar Indonesia adalah (14) mesin cuci, (15) kulkas, dan (16) mobil.

Berikutnya pertanyaan mengenai jumlah kepemilikan yang ada di rumah (ST012) yang terdiri dari (1) televisi, (2) mobil, (3) kamar tidur dengan kamar mandi, (4) ponsel yang terhubung dengan akses internet (contohnya smartphone), (5) komputer (desktop computer, laptop, atau notebook), (6) komputer tablet (contohnya iPad, BlackBerry, atau PlayBook), (7) pembaca buku

(33)

24

elektronik (contohnya Kindle, Kobo, atau Bookeen), dan (8) alat musik (contohnya gitar dan piano). Pertanyaan terakhir adalah jumlah buku yang ada di rumah (ST013).

2.3. Reading Literacy dalam PISA 2.3.1. Definisi Reading Literacy

Reading literacy atau literasi membaca adalah sebuah kemampuan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik dalam kegiatan sehari- hari maupun dalam pendidikan (Banat & Pierewan, 2019). Literasi membaca menjelaskan bagaimana individu mampu mempersepsikan makna-makna dari simbol atau teks tertulis untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari, baik secara formal maupun informal (Banat & Pierewan, 2019). Kemampuan ini berbeda dengan sekedar membaca, karena tidak sekedar mengerahkan kemampuan membaca, menguraikan, dan memahami teks. Literasi membaca melibatkan pemahaman makna teks secara eksplisit dan implisit.

Selain itu, individu juga mampu untuk mengolah informasi yang didapat, bahkan mampu untuk memperbarui dan menciptakan pengetahuan baru (Delgadova, 2015).

Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) mendefinisikan literasi membaca sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan bentuk-bentuk dari bahasa tertulis yang dibutuhkan dan/atau diapresiasi oleh individu. Individu membaca dan mampu menyusun makna

(34)

25

teks dalam berbagai bentuk. Individu membaca untuk belajar. Dalam mengikuti perkembangan dunia, kemampuan ini dibutuhkan guna dapat berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, baik di sekolah, kehidupan sehari- hari, maupun untuk sekedar kesenangan. Beberapa penelitian seperti Banat dan Pierewan (2019) serta Damianti, Abidin, dan Rahma (2020) juga mengatakan bahwa literasi membaca yang baik merupakan salah satu bekal untuk masa dewasa yang sukses. Memiliki dan meningkatkan literasi membaca penting agar individu dapat terus mengikuti arus perkembangan teknologi dan sosial budaya pada abad 21 ini. Oleh sebab itu, seiring berjalannya waktu, definisi literasi membaca berubah, menyesuaikan dengan keadaan di masyarakat, yang mencakup ekonomi, budaya, dan pendidikan (Mullis & Martin, 2019; Banat & Pierewan, 2019; Damianti, Abidin, &

Rahma, 2020; Delgadova, 2015). Sama dengan definisi-definisi di atas, dalam penyusunan definisi dan alat ukur, PISA mempertimbangkan bahwa pembaca menggunakan kemampuan dan strategi dan kemampuannya untuk menemukan informasi, mengamati dan mempertahankan pemahaman, serta menilai relevansi dan validasi informasi secara kritis. Pembaca membutuhkan kemampuan metakognitif dalam memproses teks bacaan (OECD, 2019).

Menurut PISA, literasi membaca berisikan kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, serta terlibat

(35)

26

dengan teks. Artinya, pembaca mampu mengintegrasikan informasi dalam teks dengan memanfaatkan pengetahuan yang sudah dimiliki. Selain mengetahui, pembaca juga dapat mengaplikasikan isi dari bahan bacaan.

Pembaca juga harus mampu mempertimbangkan mengevaluasi apa yang telah dibaca. Contohnya mengevaluasi kebenaran teks, sudut pandang penulis, dan relevansinya dengan tujuan pembaca itu sendiri. Membaca adalah kegiatan interaktif. Oleh karena itu, pembaca melibatkan diri dengan teks bacaannya, yaitu dengan mengimajinasikan dan mengaitkan dengan pengalaman hidup pembaca. Hal ini disebut sebagai kemampuan untuk merefleksikan. Dengan adanya refleksi, pembaca dapat mengaitkan isi bacaan dengan informasi yang ada di luar teks (OECD, 2019).

Snow dan RAND dalam OECD (2019) mengatakan bahwa membaca dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pembaca (reader) yang mencakup motivasi, pengetahuan awal, dan kogintif individu. Faktor kedua yaitu teks (text) yang mencakup aktivitas membaca teks pada tempat dan waktu tertentu. Faktor ketiga adalah tugas (task), dengan maksud bahwa semua orang memiliki tujuan membaca yang berbeda. Beberapa orang melakukannya untuk kesenangan, ada yang membaca untuk mendalami pemahaman, atau untuk sekedar mendapat sekilas informasi.

Pengertian membaca tidak berhenti pada memahami teks.

Membaca memiliki peran yang luas, dalam berbagai kegiatan. Baik dari

(36)

27

pribadi hingga masyarakat, sekolah hingga kerja, pendidikan formal hingga pembelajaran seumur hidup dan sebagai warga negara yang aktif (OECD, 2019). Berdasarkan penjelasan di atas, maka PISA mendefinisikan reading literacy sebagai berikut

“Reading literacy is understanding, using, evaluating, reflecting on and engaging with texts in order to achieve one’s goals, to develop one’s knowledge and potential and to participate in society.”

Artinya, reading literacy adalah memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan dan melibatkan diri dengan teks dalam rangka mencapai tujuan, yaitu mengembangkan pengetahuan dan potensial, serta berpartisipasi dalam masyarakat.

2.3.2. Aspek-aspek reading literacy

Aitem-aitem literasi membaca PISA disusun berdasarkan domain kognitif yang menggambarkan proses membaca dan memahami teks, yang disusun sebagai berikut:

1. Reading Fluently

Kemampuan individu untuk membaca kata-kata dan teks secara akurat dan otomatis. Individu mampu memfrasekan dan memproseskan kata- kata dan teks untuk memahami teks secara keseluruhan (Kuhn dan Stahl dalam PISA, 2019).

2. Locating Information

(37)

28

Kemampuan pembaca untuk membaca seluruh bagian teks dengan cermat. Sehingga pembaca dapat memahami gagasan utama dan merefleksikan teks secara keseluruhan. Dalam penggunaan sehari-hari, pembaca biasanya menggunakan teks untuk mendapatkan informasi spesifik dengan sedikit atau tanpa mempertimbangkan teks lainnya (White, Chen, Forsyth dalam PISA, 2019). Proses ini terdiri dari:

i. Accessing and retrieving information within a piece of text Pembaca mampu menemukan informasi dari tabel, bab, atau suatu buku. Menemukan informasi membutuhkan kemampuan untuk memahami tuntutan tugas, dan mengakses relevansi sebuah teks.

Kemampuan ini membutuhkan kesadaran strategis akan kebutuhan informasi. Juga dibutuhkan kapasitas untuk memisahkan bagian-bagian yang tidak relevan. Begitu pula kemampuan untuk membaca sepintas (skimming) sejumlah paragraf untuk mendapatkan potongan informasi yang dibutuhkan.

ii. Searching for and selecting relevant

Kemampuan ini adalah komponen integral dalam literasi membaca. Karena pembaca dituntut untuk mampu mampu memilih dan memutuskan informasi yang paling penting, relevan dan akurat dari berbagai berbagai sumber teks.

3. Understanding

(38)

29

Memahami teks merupakan representasi mental mengenai isi teks.

Kintsch dalam PISA mendefinisikannya sebagai situation model. Model ini terdiri dari dua proses, yaitu konstruksi representasi memori makna literal sebuah teks and integrasi isi teks dengan pengetahuan sebelumnya melalui proses pemetaan dan inferensi.

i. Acquiring a representation of the literal meaning of a text

Kemampuan untuk memahami kalimat atau kutipan pendek.

Memahami secara harfiah melibatkan kecocokan langsung atau paraphrase antara pertanyaan dengan informasi yang ditargetkan dari kutipan pendek.

ii. Constructing an integrated text

Kemampuan menciptakan berbagai jenis kesimpulan dengan membaca dari tingkat kalimat secara individu hingga seluruh bagian. Maka pembaca harus membaca beragam potongan informasi dari teks-teks yang berbeda. Pembaca juga harus terlibat dalam mengevaluasi, sehingga informasi yang disajikan konsisten.

4. Evaluating and Reflecting

Kemampuan untuk bernalar di luar makna literal atau kesimpulan pada teks yang disajikan. Pembaca mampu merefleksikan isi dan bentuk teks, serta menilai kualitas dan validitas informasi teks secara kritis.

i. Assessing quality and credibility

(39)

30

Mengevaluasi kualitas dan kredibilitas informasi yang disajikan dalam teks. Selain itu juga mampu meninjau sumber informasi, yaitu dari sisi penulis. Baik dari segi kompetensi, wawasan, maupun kebajikan.

ii. Reflecting on content and form

Merefleksikan kualitas dan gaya penulisan. Refleksi melibatkan kemampuan mengevaluasi bagaimana konten dan dan bentuk saling berhubungan dan mengungkapkan tujuan penulisan dan sudut pandang penulis. Refleksi juga melibatkan penggunaan pengetahuan, pendapat, atau sikap di luar teks agar dapat menghubungkan informasi dalam teks dengan kerangka konseptual dan pengalaman individu. Maka, pembaca melihat pengalaman atau pengetahuan mereka sebagai pembanding atau untuk menghipotesiskan beragam perspektif. Evaluasi dan refleksi adalah bagian penting dalam literasi membaca, terutama di zaman sekarang yang dipenuhi dengan suguhan informasi yang beragam.

iii. Detecting and handling conflict

Pembaca berhati-hati dalam menerima suatu informasi. Ketika pembaca mendapatkan informasi yang berbeda-beda dari berbagai sumber, maka pembaca harus mampu menilai kebenaran klaim dan/atau kredibilitas sumber. Dalam konteks

(40)

31

PISA, pengukuran ini ingin melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami, membandingkan, dan mengintegrasikan beberapa kutipan teks.

2.4. Dinamika Penelitian

Status sosial ekonomi (SES) penting bagi perkembangan kognitif dalam pendidikan, karena SES adalah faktor yang menetap dalam kehidupan siswa (Creemers & Kyriakides, 2008). SES keluarga berinteraksi dengan pencapaian pendidikan anak dengan mempengaruhi perkembangan neurokognitif yang disebabkan karena berbagai faktor. Perkembangan saraf antara anak dengan SES rendah berbeda dengan anak dengan SES sedang atau tinggi. Penelitian oleh Burneo-Garces, dkk. (2018) pada 274 anak sekolah usia 7-11 tahun dengan SES rendah dans sedang menyimpulkan bahwa SES berpengaruh signifikan terhadap fungsi bahasa dan fungsi eksekutif anak. Secara psikologis, anak yang berasal dari keluarga SES rendah cenderung hidup dalam lingkungan negatif. Contohnya mengalami konflik keluarga, kekerasan, kurangnya stimulasi, dan lain-lain.

Sedangkan siswa yang hidup di dalam keluarga dengan SES yang tinggi akan cenderung hidup di dalam lingkungan yang positif. Keluarga dengan SES yang tinggi lebih tinggi kemungkinannya untuk menyekolahkan anak ke dalam institusi yang berupaya untuk meningkatkan keterampilan berpikir. Dengan demikian, anak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan dalam perkembangan kognitifnya (von Stumm, Cave, Wakeling, 2022; Burneo-Garces, et al., 2018; Santrock, 2011).

(41)

32

Pada umumnya, untuk pengukuran, SES dioperasionalkan ke dalam komponen- komponen seperti pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan pendapatan rumah tangga (von Stumm, Cave, Wakeling, 2022). PISA menggunakan 3 komponen dalam mengukur SES pelajar. Ketiga komponen itu ialah tingkat pendidikan orang tua (PARED), status pekerjaan orang tua (HISEI), dan harta benda yang ada di rumah (HOMEPOS). Ketiga komponen ini disatukan dan menjadi indeks ESCS sebagai indikator SES siswa Indonesia yang berpartisipasi dalam tes PISA 2018. Secara individu, komponen-komponen ini berperan terhadap kognitif siswa.

Pertama, komponen tingkat pendidikan orang tua menjadi prediktor yang penting dalam kesuksesan pendidikan anak (Dubow, 2009). Selain alasan ekonomi, orang tua dengan tingkat pendidikan yang baik akan lebih mendukung perkembangan kognitif anak. Mereka lebih sering berkomunikasi dengan anak menggunakan beragam kosakata, memberikan pertanyaan terbuka dan menstimulasi HOTS anak (The IRIS Center, 2012). Dengan demikian, pengetahuan morfologis dan kosa kata anak menjadi lebih kaya. Dengan memiliki kemampuan tersebut, pemahaman anak akan bahan bacaannya menjadi lebih baik (Cheng & Wu, 2017). Selain itu, orang tua dengan tingkat pendidikan yang tinggi, khususnya dengan latar belakang perguruan tinggi cenderung berorientasi pada pencapaian. Dengan demikian, mereka akan lebih berusaha melibatkan anak-anak dalam aktivitas yang menstimulasi anak, seperti berkunjung ke perpustakaan,

(42)

33

museum, dan kegiatan di luar sekolah lainnya (Schady, 2011; Clearinghouse for Military Family Readiness at Penn State, 2020). Dalam keadaan sebaliknya, orang tua dengan latar belakang pendidikan rendah, tidak didukung dengan pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk menstimulasi anak dengan kegiatan-kegiatan sederhana, seperti membaca bersama dan berdiskusi, yang bisa meningkatkan kemampuan membaca anak (McCauley, 2019).

Komponen berikutnya adalah pekerjaan orang tua. Pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi memungkinkan anak untuk bersekolah di institusi yang berkualitas baik. Lebih baik lagi jika institusi tersebut fokus dalam pengembangan kemampuan berpikir anak (Santrock, 2011). Sebaliknya jika orang tua memiliki pekerjaan dengan penghasilan rendah, cenderung tidak fokus pada edukasi anak, terlebih perkembangan kognitifnya. Selain itu, penghasilan orang tua yang rendah dapat menyebabkan anak mengalami kekurangan nutrisi, sehingga perekembangan saraf dan kognitif terhambat dibandingkan dengan anak dari keluarga dengan SES yang tinggi (Hackman, Farah, & Meaney, 2010; McCauley, 2020). Orang tua kurang meluangkan waktu dengan anak karena pekerjaan, sehingga anak kurang mendapatkan perhatian yang diperlukan. Akibatnya, anak kurang mendapatkan stimulasi dari orang tua. Hal ini akan berdampak pada perkembangan bahasa anak, yang mana, perkembangan bahasa akan terhambat karena kurangnya komunikasi dan stimulasi. Sebagai contoh, seorang anak usia 12 tahun yang hidup dalam SES rendah sering mengalami masalah seperti tidak

(43)

34

mengerjakan tugas dan tidur di kelas. Ketika ditelusuri, didapatkan fakta bahwa kedua orang tua banyak menghabiskan waktu bekerja. Ayah dan ibu memiliki banyak pekerjaan dan sering lembur. Sehingga anak tersebut tidak menerima banyak perhatian dan bantuan dalam pendidikannya (The IRIS Center, 2012).

Komponen terakhir adalah benda-benda yang ada di dalam rumah. Komponen ini mengukur ketersediaan fasilitas-fasilitas seperti buku, ruangan, gawai, dan benda lainnya yang dapat menunjang pendidikan anak. Materi-materi lainnya seperti komputer, meja belajar, kamar, karya seni, mobil, dan lainnya, tidak semua anak bisa mendapatkan fasilitas ini. Lingkungan material yang mendukung akan mendukung perkembangan anak (Chotimah, dkk., 2017). Keluarga dengan SES rendah cenderung tidak memiliki banyak sumber daya yang mendukung pendidikan, contohnya buku. Maka, anak jadi jarang membaca buku (The IRIS Center, 2012).

Pencapaian akademik didukung oleh kemampuan kognitif (Shi & Qu, 2021;

Tikhomivora, Malykh, & Malykh, 2020). Kemampuan kognitif dapat dibagi menjadi dua tingkat, yaitu low order thinking skills (LOTS) dan high order thinking skills (HOTS). Kedua kemampuan ini penting, namun dalam menghadapi abad 21, HOTS adalah sebuah kemampuan yang penting untuk dimiliki oleh siswa (Collins, 2014). Hasil pencapaian kognitif, khususnya pada tingkat HOTS siswa Indonesia yang rendah pada PISA 2018 menimbulkan keingintahuan akan faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Meskipun sudah terjadi peningkatan, masih

(44)

35

terjadi kesenjangan pada akses pendidikan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan SES dalam masyarakat. Oleh karena itu, dengan kondisi SES dan pencapaian siswa Indonesia pada masa sekarang, serta berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai SES dan pencapaian akademik, peneliti melihat adanya kemungkinan bahwa SES dapat memprediksi HOTS siswa.

2.5. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah Socioeconomic Status (SES) bisa menjadi prediktor High Order Thinking Skills (HOTS) pada pelajar Indonesia.

(45)

36 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Data akan dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana. Analisis regresi dilakukan karena penelitian ini ingin melihat hubungan antar variabel. Dengan demikian pada hasil analisis akan didapatkan hasil yang menjelaskan seberapa kuat variabel independen (SES) dapat memprediksi variabel dependen (HOTS) (Budiastuti &

Bandur, 2018).

3.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian 3.2.1. High Order Thinking Skills

High Order Thinking Skills (HOTS) adalah kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal atau aitem-aitem yang berada pada level HOTS pada PISA, yaitu level 4 hingga 6 dalam proficiency level bidang literasi membaca PISA. Kemampuan ini ditunjukkan dengan skor yang diperoleh dari aitem- aitem kognitif PISA. Setiap aitem diberi skor 1 atau 0. Jika jawaban aitem mendapat full credit, maka aitem tersebut diberi skor 1. Sedangkan jika aitem mendapat partial credit atau no credit, maka diberi skor 0. Skor-skor tersebut dijumlahkan, sehingga semakin tinggi skor, maka semakin tinggi pula HOTS siswa.

(46)

37 3.2.2. Socio-Economic Status

Socio-Economic Status (SES) adalah pengukuran daripada akses murid terhadap sumber daya dalam keluarga (finansial, sosial, budaya, manusia) dan kedudukan sosial daripada keluarga murid (PISA, 2019). SES direpresentasikan menggunakan indeks economic, cultural, and social status (ESCS), yang terdiri dari tiga komponen, yaitu level tertinggi pendidikan orang tua (PARED), yang terdiri dari status pendidikan tertinggi ibu, status pendidikan tertinggi ayah, dan indeks pendidikan tertinggi orang tua.

Komponen kedua adalah status pekerjaan tertinggi orang tua (HISEI).

Komponen ini terdiri dari tiga indikator, yaitu status pekerjaan ayah, status pekerjaan ibu, dan status pekerjaan tertinggi orang tua. Komponen ketiga adalah kepemilikan harta benda di rumah (HOMEPOS). Komponen ini terdiri dari 13 aitem rumah tangga yang umum, yaitu (1) meja belajar, (2) kamar pribadi, (3) tempat sunyi untuk belajar, (4) komputer untuk keperluan sekolah, (5) perangkat lunak edukasional, (6) jaringan internet, (7) literatur klasik (contohnya Shakespeare), (8) buku-buku puisi, (9) karya seni (contohnya lukisan), (10) buku-buku yang menunjang pengerjaan tugas sekolah, (11) buku-buku referensi teknis, (12) kamus, (13) buku-buku tentang seni, musik, atau desain serta 3 aitem rumah tangga yang dikhususkan untuk Indonesia, yaitu (14) mesin cuci, (15) kulkas, dan (16) mobil.

(47)

38 3.3. Alat Ukur

3.3.1. Alat Ukur SES

PISA mengukur SES menggunakan indeks economic, cultural and social status (ESCS).

3.3.2. Alat Ukur HOTS

PISA mengukur HOTS siswa menggunakan alat ukur kognitif literasi membaca PISA. Untuk penelitian ini, peneliti akan menggunakan data dari aitem-aitem level 4 hingga 6. Jumlah aitem yang digunakan adalah sebanyak 67 aitem. Secara keseluruhan, PISA melaporkan bahwa reliabilitas alat ukur kognitif literasi membaca di Indonesia adalah 0.94. Berdasarkan Alpha’s Cronbach, nilai tersebut menunjukkan bahwa alat ukur PISA literasi membaca memiliki reliabilitas yang sangat baik (Budiastuti & Bandur, 2018).

3.4. Subjek Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan data sekunder.

Data yang dipakai tersedia dalam situs PISA dalam tautan https://www.oecd.org/pisa/data/2018database/ dan dapat diunduh oleh siapa saja.

PISA menyediakan data-data dalam bentuk Excel dan SPSS for windows. Selain itu, PISA juga menyediakan sejumlah laporan dalam bentuk PDF yang berisikan penjelasan-penjelasan mengenai penyusunan kerangka alat ukur, hasil, dan pembahasan pengukuran PISA. Dalam laporan tersebut, PISA juga menyediakan

(48)

39

informasi-informasi mengenai kriteria subjek dan teknik sampling yang digunakan dalam mengumpulkan data.

3.4.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan unit yang diteliti, yang memiliki ciri-ciri yang ditetapkan oleh peneliti (Kurniawan, 2016). Dalam laporan Bab 4 PISA mengenai rancangan sampel (sample design), populasi penelitian ini harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Siswa berusia 15 tahun dan terdaftar sebagai murid full time dalam institusi pendidikan.

2. Siswa berusia 15 tahun yang terdaftar dalam institusi pendidikan dan hanya menghadiri sekolah paruh waktu.

3. Siswa program pelatihan vokasi, atau jenis program terkait lainnya.

4. Siswa yang bersekolah di sekolah asing di dalam sebuah negara/ekonomi (serta siswa dari negara/ekonomi lain yang menghadiri salah satu program dalam tiga kategori pertama).

3.4.2. Sampel dan Teknik Sampling

Sampel adalah sekelompok kecil individu-individu yang berpartisipasi dalam sebuah penelitian (Gravetter & Forzano, 2012). Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi representasi populasi, ketika populasi yang diukur relatif besar (Kurniawan, 2016). Sampel penelitian ini

(49)

40

adalah para siswa Indonesia yang berusia 15 tahun dari sekolah partisipan PISA dan yang memenuhi kriteria.

Dalam memilih sampel, PISA menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Teknik ini dilakukan dengan mengidentifikasi terlebih dahulu sub grup populasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Setelah itu menentukan proporsi populasi pada tiap subgrup (Gravetter & Forzano, 2012). Setiap sekolah terpilih membutuhkan tingkat respon sebanyak 85%.

Jika respon yang terkumpul berjumlah 65% - 85%, respon masih dapat diterima dengan menggunakan sekolah ganti. Total respon 25% - 50% tidak dianggap sebagai partisipan. Jumlah siswa Indonesia yang terlibat adalah sebanyak 12.098 siswa.

3.5. Metode Analisis Data

Data penelitian dianalisis menggunakan perangkat lunak analisis statistik, yaitu perangkat SPSS versi 24 for windows. Hubungan kedua variabel akan diukur menggunakan regresi linear.

(50)

41 BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN 4.1.Gambaran Umum Subjek Penelitian

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari OECD PISA, terdapat sebanyak 12,089 siswa Indonesia yang mengikuti tes PISA tahun 2018 dan memiliki data yang valid. Gambaran demografis siswa adalah sebagai berikut:

4.1.1. Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin, terdapat sebanyak 6,240 siswa dengan jenis kelamin perempuan, dengan persentase 51,58%.

Sedangkan siswa laki-laki adalah sebanyak 5858 orang, dengan persentase 48,42%.

Tabel 4.1. Jenis Kelamin Siswa Indonesia

Jenis Kelamin Keterangan Frekuensi %

1 Perempuan 6240 51,58%

2 Laki-laki 5858 48,42%

Total 12098 100%

4.1.2. Tingkat Pendidikan

Sampel pengukuran PISA adalah siswa kelas 7 atau di atas yang berusia 15 tahun. Dalam pengukuran secara umum, terdapat kategori kelas 7 hingga 13. Sampel Indonesia terdiri dari siswa kelas 7 hingga 12.

(51)

42

Tabel 4.2. Tingkat Pendidikan Siswa Indonesia

Kelas Frekuensi %

7 209 1,73%

8 921 7,61%

9 5178 42,80%

10 5382 44,49%

11 349 2,88%

12 59 0,49%

13 0 0,00%

Total 12098 100%

Berdasarkan informasi pada tabel, siswa kelas 12 mendapat partisipan terkecil, yaitu 59 siswa (0,49%). Kelas 7 terdapat sebanyak 209 orang (1,73%), kelas 11 sebanyak 349 orang (2,88%), dan kelas 8 sebanyak 921 orang (7,61%). Sedangkan jumlah besar terdapat pada kelas 9 dan 10, yaitu 5178 orang (42,80%) dan 5382 (44,49%) pada masing-masing kelas.

4.1.3. Analisis Deskriptif

Dalam analisis ini didapat bahwa terdapat sebanyak 90 siswa yang tidak memiliki data pada indeks ESCS. Maka, data yang digunakan untuk penghitungan SES pada penelitian ini adalah sebanyak 12008. Nilai terendah pada indeks ESCS siswa Indonesia adalah -5,87, sedangkan nilai tertinggi adalah 2,97. Mean SES pelajar Indonesia adalah -1,37 dengan standar deviasi 1,11.

(52)

43

Sedangkan untuk data HOTS, terhitung sebanyak 12098 data.

Meskipun demikian, siswa Indonesia tidak menjawab semua pertanyaan literasi membaca dalam level HOTS. Dalam menghitung data HOTS, peneliti menjumlahkan jawaban setiap siswa. Dengan demikian, didapat skor terendah 0 dan tertinggi 15, dengan mean 1,60 dan standar deviasi 1,99.

Tabel 4.3. Analisis Deskriptif

Variabel N Min. Max. Mean SD

SES 12008 -5,78 2,97 -1,37 1,11

HOTS 12098 0 15 1.60 1,99

4.1.4. Kategorisasi Data Penelitian

Tabel 4.4. Kategorisasi Stastus Sosial Ekonomi

Range Kategorisasi Frekuensi Persentase

𝑥 < −1.4 Rendah 6086 50.3%

x > -1.4 Tinggi 5922 49%

Missing 90 0.7%

Berdasarkan tabel di atas, terdapat 6086 siswa yang memiliki SES rendah. Sedangkan sisanya memiliki SES tinggi, dengan jumlah sebanyak 5922. Terdapat data missing dalam kategorisasi ini, karena sebanyak 90 siswa tidak mengisi data SES.

(53)

44

Tabel 4.5. Kategorisasi HOTS Liteasi Membaca

Range Kategorisasi Frekuensi Persentase

𝑥 < 1 Rendah 7386 61.1%

x > 1 Tinggi 4712 38.9%

Berdasarkan tabel di atas, terdapat sebanyak 7386 siswa dengan HOTS yang rendah dan 4712 siswa dengan HOTS yang tinggi.

4.2. Uji Hipotesis

Penelitian ini ingin melihat peran SES terhadap HOTS literasi membaca siswa Indonesia, dengan hipotesis adanya peran SES terhadap HOTS literasi membaca siswa Indonesia. Jika nilai signifikansi di bawah 0.05, maka SES memiliki peran terhadap HOTS. Setelah dilakukan analisa regresi linear, didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 4.6. Hasil Uji Regresi Linear Model Summary

Model R R

Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .011a 0,000 0,000 0,33175

a. Predictors: (Constant), ESCS_REC

ANOVAa

Model Sum of

Squares df Mean

Square F Sig.

1 Regression .098 1 .098 .894 .344b

Residual 798.677 7257 .110

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan air minum dan penyediaan air minum yaitu dengan menyebarkan kuisioner untuk mengetahui kebutuhan air

memungkinkan interkoneksi wireless pada jalur akses dalam jaringan IEEE 802.11. Hal ini memungkinkan jaringan wireless dikembangkan menggunakan beberapa AP

Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Kor Keterangan Perumahan Tahun 2014 Triwulan 1 wilayah Kabupaten Brebes yang

BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN,2010... 0 kilometers 250 500 * Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah

Gagasan di atas juga berarti bahwa HOTS dalam bidang bahasa dapat bertumbuh jika siswa tidak sekadar mampu membaca dan menulis satuan bahasa pada teks, tetapi

Policy Sector Reform • Encourage implementation of decentralization and devolution of HoB area management • Facilitation/promote the process of village empowerment regard-

Tim menekankan bahwa soal beraras tinggi atau yang lebih dikenal dengan high order thinking skills (HOTS) menjadi tipe-tipe soal yang diprioritaskan untuk dibuat.

Tujuan utama dari high order thinking skills adalah bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan