• Tidak ada hasil yang ditemukan

Liberalisasi dan Komersialisasi Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Liberalisasi dan Komersialisasi Pendidikan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

© 2022 FAI UIM | This work is licensed under a CC BY 4.0

Liberalisasi dan Komersialisasi Pendidikan

___________________________________________________________________________

Iskandar Fellang

Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Makassar, Indonesia

*e-mail: [email protected]

Naskah diterima: 14-12-2021, direvisi: 25-02-2022; disetujui: 01-04-2022

_____________________________________________________________________

Abstract:

Liberalization of education is an attempt to adapt education to the flow of globalization. This has an impact on the commercialization of education, where education is sold and turned into a commodity to make a profit. This study aims to analyze (1) liberalization and commercialization of education in Indonesia, (2) various impacts of liberalization and commercialization of education, and (3) alternative solutions to overcome liberalization and commercialization of education. This type of research is a literature review, in which the authors browse documents in the form of journals, books, and research reports as data sources. The data that has been collected was analyzed using content analysis techniques. This study finds that educational liberalization is a system that is deliberately created by investors to extract as much profit as possible from educational institutions regardless of the achievement of educational goals. The commercialization of education is to make education a commodity. However, the commercialization of education has both positive and negative impacts.

The solution to overcome the commercialization of education is the establishment of non- governmental institutions that are given the authority to oversee the operation of the education system, provide scholarships, routinely evaluate financial transactions of educational institutions, and use educational operational funds in a targeted manner.

Keywords: liberalization, commercialization, education Abstrak:

Liberalisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyesuaikan pendidikan dengan arus globalisasi.

Hal ini berdampak pada komersialisasi pendidikan, yakni pendidikan dijual dan dijadikan sebuah komoditas untuk meraup keuntungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) liberalisasi dan komersialisasi pendidikan yang terjadi di Indonesia, (2) berbagai dampak liberalisasi dan komersialisasi pendidikan, serta (3) solusi alternatif penanggulangan liberalisasi dan komersialisasi pendidikan. Jenis penelitian ini adalah kajian pustaka, yakni penulis menelusuri dokumen berupa jurnal, buku, dan laporan hasil penelitian sebagai sumber data. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Penelitian ini menemukan bahwa liberalisasi pendidikan merupakan sebuah sistem yang sengaja diciptakan oleh kalangan pemodal untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari institusi pendidikan tanpa melihat ketercapaian tujuan pendidikan.

Komersialisasi pendidikan adalah menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan. Meski demikian, komersialisasi pendidikan memiliki dampak positif dan negatif. Solusi penanggulangan komersialisasi pendidikan adalah pembentukan lembaga non pemerintah yang diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya sistem pendidikan, pemberian beasiswa, evaluasi rutin transaksi keuangan lembaga pendidikan, penggunaan dana operasional pendidikan dengan tepat sasaran.

Kata Kunci: liberalisasi, komersialisasi, pendidikan

(2)

14 | Dirasat Islamiah: Jurnal Kajian Keislaman PENDAHULUAN

Pendidikan sangat berperan penting dalam kehidupan manusia dan bahkan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses kehidupan manusia. Dengan kata lain kebutuhan manusia terhadap pendidikan bersifat mutlak dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, bangsa dan Negara (Burga, 2019).

Pengoptimalan sistem pendidikan akan berdampak pada kemajuan pendidikan yang telah dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Namun sebaliknya, bila proses pendidikan yang dijalankan tidak berjalan secara baik, maka kemajuan tersebut tidak akan terealisasikan.

Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap pendidikan atau tepatnya terhadap praktek pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontribusi pendidikan.

Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Namun di dalam dunia pendidikan sendiri banyak masalah yang bersifat internal maupun eksternal.

Selama ini sering dikemukakan bahwa pendidikan merupakan hak asasi yang dimiliki oleh setiap warga Negara. Tidak kurang konstitusi, undang-undang bahkan doktrin agama mengakui hal tersebut (Burga, 2021). Akan tetapi, kenyataan yang dihadapi sekarang ini menunjukkan hal sebaliknya. Untuk mencapai program wajib belajar yang dicanangkan oleh pemerintah saja, yaitu sembilan tahun, masih banyak masyarakat yang sangat kesulitan untuk merealisasikan hal tersebut. Bukan tanpa alasan atas ketidakmampuan mereka akan hal itu. Ketidakmampuan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan, terutama lembaga pendidikan negeri yang masih mahal dalam menerapkan biaya pendidikannya (Musayyidi, 2020). Ditambah pungutan-pungutan liar yang belakangan semakin marak di instansi- instansi pendidikan yang ada sekarang ini (Firhansyah, 2021). Hal ini harus segera diperhatikan secara khusus oleh pemerintah dan ada penyelesaian yang jelas, terutama kementrian pendidikan dan kebudayaan. Mengingat pentingnya akan hal tersebut demi menjadikan bangsa ini bangsa yang maju dalam hal pendidikannya.

Ditambah lagi dengan liberalisasi pendidikan yang menyebabkan pendidikan ini memiliki kemampuan untuk bergerak sesuai apa yang dikehendakinya. Ketika pendidikan ini memiliki kemampuan untuk bergerak sesuai apa yang dikehendakinya. Ketika pendidikan ini sudah diliberalisasikan, maka juga banyak hal lain yang akan muncul, salah satunya adalah komersialisasi pendidikan, atau dalam arti lain, pendidikan dijual dan dijadikan sebuah

(3)

Vol 3, No 1 (2022) | 15 komoditas untuk meraup keuntungan (Musayyidi, 2020; Afrizal, 2018). Hal ini sangat bertentangan dengan tujuan Negara Republik Indonesia yang berusaha menjadikan rakyatnya sejahtera dan makmur, dan salah satu caranya ialah dengan menciptakan pendidikan yang dapat dinikmati oleh semua golongan dan semuanya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.

Berdasarkan masalah yang dipaparkan tersebut, penting untuk melakukan kajian yang membahas tentang liberalisasi dan komersialisasi pendidikan. Tujuan kajian ini untuk menganalisis (1) liberalisasi dan komersialisasi pendidikan yang terjadi di Indonesia, (2) berbagai dampak liberalisasi dan komersialisasi pendidikan, serta (3) solusi alternatif penanggulangan liberalisasi dan komersialisasi pendidikan.

LIBERALISASI DAN KOMERSIALISASI PENDIDIKAN Liberalisasi Pendidikan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah usaha perjuangan menuju kebebasan.

Liberalisasi Pendidikan adalah sebuah sistem yang sengaja diciptakan oleh kalangan pemodal untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari institusi pendidikan tersebut, tanpa melihat tercapai atau tidak tujuan Negara republik Indonesia seperti yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang dasar 1945. Akibat dari liberalisasi pendidikan mengakibatkan terjadinya komersialisasi dalam pendidikan.

Liberalisasi pendidikan merupakan salah satu aliran dalam pendidikan dewasa ini yang mulai menjadi mindset berpikir dalam memahami makna dari pendidikan itu sendiri baik dikaji dan makna filosofinya maupun makna normatifnya (Afrizal, 2018).

Ciri utama pendidikan yang berideologi liberal adalah selalu berusaha menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan. Hal ini terlihat pada benang merah kebijakan Mendiknas beberapa tahun terakhir. Oleh karenanya kompetensi yang harus dikuasai peserta didik merupakan upaya untuk memenuhi dan menyesuaikan tuntutan dunia kerja sebagaimana dikemukakan dalam setiap pergantian kurikulum baru kita (Fakih, 2002).

Kenyataan lainnya dan liberalism ini adalah mahalnya sekolah dan kuliah. Rencana menjadikan universitas negeri sebagai PTBHP sebagai langkah awal privatisasi pendidikan juga nyata sebagai langkah liberalisasi. Di level sekolah, elitisme pendidikan mengancam kesempatan rakyat miskin untuk mengenyam pendidikan memadai (Prasetyo, 2020).

(4)

16 | Dirasat Islamiah: Jurnal Kajian Keislaman

Materialisme yang melingkupi liberalisme menjadikan reformasi yang dilakukan pun sebatas fisik saja seperti pemenuhan fasilitas baru dan gedung baru; kapitalisme pun mengarahkan bagaimana agar pembelajaran dapat lebih efektif-efisien, dan dihitung dalam bentuk untung rugi serta balikan investasinya karena mengandaikan education as human investment (Suban, Fellang, & Ilham, 2021).

Komersialisasi Pendidikan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komersialisasi diartikan sebagai perbuatan menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan. Merujuk pada arti itu, komersialisasi pendidikan dapat diartikan menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan. Komersialisasi pendidikan atau mengomersialisasikan pendidikan kerap ditimpakan kepada kebijakan atau langkah-langkah yang menempatkan pendidikan sebagai sector jasa yang diperdagangkan.

Dikemukakan oleh Friedman dan Van Hayek (dalam Rumapea, 2017) bahwa komersialisasi pendidikan merupakan keadaan pendidikan yang berpegang pada masyarakat industry dan selera pasar (market society). Selain itu, juga diungkapkan oleh Sulfasyah dan Arifin (2016), bahwa komersialisasi pendidikan telah mengantarkan pendidikan sebagai instrument untuk melahirkan buruh-buruh bagi sector industry, bukan sebagai proses pencerdasan dan pendewasaan masyarakat. Adanya komersialisasi pendidikan telah menggambarkan keadaan pendidikan saat ini bahwa pendidikan lebih mengarah kepada praktik pendidikan layaknya lembaga penghasil mesin yang siap menyuplai pasar industry dan diukur secara ekonomis (Hartini, 2011).

Sedangkan menurut pendapat Giroux (2008), adanya komersialisasi pendidikan telah mengubah intitusi pendidikan yang berbasis efisiensi ekonomis menjadi perusahaan penyedia elite masyarakat dan kuli kerja. Akibat komersialisasi pendidikan inilah, banyak lembaga pendidikan yang kemudian menganut paradigm pendidikan yang bersifat ekonomis. Banyak lembaga pendidikan yang akhirnya gagal mengimplikasikan bahwa proses pembelajaran menjadi salah satu pilar utama dalam humanisasi hidup manusia (Hartini, 2011).

Komersialisasi pendidikan secara tidak langsung juga telah menciptakan jurang pemisah antara pihak yang mempunyai modal dan pihak yang mempunyai sedikit modal (Sinaga, 2012). Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ilich (2006), komersialisasi pendidikan dianggap sebagai misi lembaga pendidikan modern yang mengabdi kepada kepentingan pemilik modal dan bukan sebagai sarana pembebasan bagi kaum tertindas. Akibatnya pendidikan yang humanisasi tidak tercapai dalam proses pendidikan karena adanya

(5)

Vol 3, No 1 (2022) | 17 komersialisasi pendidikan. Imbasnya, pendidikan hanya mampu dinikmati oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki modal untuk mengakses pendidikan (Hartini, 2011).

Adapun istilah “komersialisasi pendidikan” menurut Wibowo (dalam Hartini, 2011) mengacu pada dua pengertian yang berbeda, yaitu:

1. Komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program serta perlengkapan mahal. Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat, sehingga lembaga seperti ini tidak dapat dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan.

Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealism pendidikan nasional atau idealism Pancasila, akan tetapi perlu dicermati juga karena dapat menimbulkan pendiskriminasian dalam pendidikan nasional.

2. Komersialisasi pendidikan yang mengacu kepada lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang gedung saja, tetapi mengabaikan kewajiban- kewajiban pendidikan. Komersialisasi pendidikan ini biasanya dilakukan oleh lembaga atau sekolah-sekolah yang menjanjikan pelayanan pendidikan tetapi tidak sepadan dengan uang yang mereka pungut dan lebih mementingkan laba. Itu hal yang lebih berbahaya lagi, komersialisasi jenis kedua ini dapat pula melaksanakan praktik pendidikan untuk maksud memburu gelar akademik tanpa melalui proses serta mutu yang telah ditentukan sehingga dapat membunuh idealism pendidikan Pancasila. Komersialisasi ini pun telah berdampak pada tingginya biaya pendidikan. Secara gambling, masyarakat “disuguhi sesuatu” yang (seolah-olah) mengamini kondisi tersebut. Contoh sederhana dapat dilihat ketika memasuki tahun ajaran baru. Tak terbayangkan betapa banyaknya orang tua yang mengeluh akibat buku pelajaran yang digunakan tahun ajaran sebelumnya tidak lagi dapat digunakan ditahun ajaran berikutnya. Kondisi ini tentu sangat memberatkan masyarakat yang sebagian yang sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Siswa dipaksa menggunakan buku pelajaran baru sebagai pengganti buku lama yang konon “tidak layak”

dipakai acuan lagi dengan harga yang relative tinggi. Padahal jika dicermati, materi atau pokok bahasan di dalamnya sama persis, tanpa ada “ilmu” baru yang dicantumkan (Hartini, 2011).

Dengan demikian, dari pengertian komersialisasi pendidikan menurut para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komersialisasi pendidikan merupakan suatu keadaaan atau situasi di dunia pendidikan yang lebih mengutamakan paradigm pendidikan dalam hal ekonomis (keuntungan) sehingga pengukuran keberhasilan pendidikan dalam

(6)

18 | Dirasat Islamiah: Jurnal Kajian Keislaman

proses humanisasi tidak tercapai. Akibatnya individu yang berasal dari kelas social rendah tidak mempunyai kesempatan untuk memperoleh akses pendidikan yang layak dan berkualitas seperti individu yang berasal dari kelas social atas.

Penyebab Terjadinya Komersialisasi Pendidikan

Berikut beberapa alasan penyebab terjadinya komersialisasi pendidikan yaitu:

1. Swastanisasi pendidikan sebagai bagian dari liberalism yang semakin menglobal dan menyentuh berbagai bidang pendidikan. Menurut Ritzer (2005), privatisasi pendidikan adalah konsekuensi logis dari “McDonalisasi Masyarakat” yang menjunjung prinsip kuantifikasi, efisiensi, terprediksi, dan teknologisasi dalam setiap sendi kehidupan.

Seperti halnya barang-barang konsumsi, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai public good, yang tidak lagi harus disediakan oleh pemerintah secara massal untuk menjamin harga murah.

2. Pemerintah kurang atau tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai sector pendidikan. Sebagai contoh mengalami kesulitan dana akibat krisis ekonomi. Keadaan tersebut dapat menjadi sebuah kebenaran, tetapi dapat juga menjadi sebuah kebohongan.

Artinya, pemerintah bukan dikatakan tidak mampu, tetapi tidak memiliki visi untuk berinvestasi di bidang pendidikan.

3. Pemerintah tidak mampu mengelola pendidikan sebagai sector public dengan baik.

Sehingga lembaga pendidikan menjadi tidak efisien (mahal dan tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan), tidak kompetitif (tidak termotivasi untuk bersaing meningkatkan mutu) dan tidak berkembang sebab swastanisasi merupakan mutu) dan tidak berkembang sebab swastanisasi merupakan cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

4. Lembaga pendidikan kurang memiliki kreativitas dan inovasi dalam melakukan “find raising”, sehingga hanya mengandalkan siswa dan orang tua sebagai target utama perolehan dana.

Berikut beberapa aspek yang memunculkan komersialisasi pendidikan (Hamka, 2015), yaitu:

Aspek Politik

Pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar manusia dan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia juga memiliki aspek politik karena dalam pengelolaan harus berdasarkan ideology yang dianut Negara. Adapun ideology pendidikan di Indonesia adalah ideology demokrasi Pancasila, yaitu setiap warga Negara mendapat kebebasan dan hak yang sama

(7)

Vol 3, No 1 (2022) | 19 dalam mendapat pendidikan. Dalam Pembukaan UUD 45 pada alinea ke-4, hal ini pun tercermin ada kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas dasar itu sudah seharusnya pemerintah dalam menetapkan setiap kebijakan pendidikan yang merujuk pada ideology Negara. Akan tetapi dalam kenyataannya melalui pemerintah mengeluarkan peraturan (PP) No. 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum, pemerintah telah memberikan otonomi pada perguruan tinggi dalam mengelola pendidikan lembaganya, termasuk pencairan dana bagi biaya operasionalnya. Apabila pendidikan tetap mahal dan dikomersialisasikan, masyarakat yang kurang mampu tidak akan dapat meningkatkan status social mereka, dan ironisnya komersialisasi pendidikan ini didukung oleh tatanan social dan diterima oleh masyarakat (Hamka, 2015).

Aspek Budaya

Bangsa Indonesia mengagungkan gelar akademis dan sebagai contoh dihampir setiap dinding rumah yang keluarganya berpendidikan selalu terpajang foto wisuda anggota keluarga lulusan dari universitas manapun. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih menganut budaya yang degree minded. Budaya berburu gelar ini berkembang pada lembaga pemerintah yang mengangkat atau mempromosikan pegawai yang memiliki gelar sarjana tanpa terlebih dahulu diteliti dan dites kemampuan akademik mereka. Ironisnya program pendidikan seperti ini banyak diminati oleh pejabat-pejabat (Hamka, 2015).

Aspek Ekonomi

Ekonomi sudah pasti kita akan membicarakan aspek ekonomi terkait dengan masalah biaya. Biaya pendidikan nasional seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, akan tetapi dengan keluarnya UU No. 20 Tahun 2003 pada bab XIV pasal 50 ayat 6, dinyatakan bahwa perguruan tinggi menentukan kebijakan. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan pemerintah membiayai pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi yang dulu mendapat subsidi dari pemerintah sebanyak 75% dan 25% lagi berasal dari biaya masyarakat termasuk dana SPP (Hamka, 2015).

Aspek Sosial

Pendidikan sangat menentukan perubahan strata sosial seseorang, yaitu semakin tinggi pendidikan seseorang, akan semakin meningkat pula strata sosialnya, begitu juga sebaliknya (Burga & Damopolii, 2021). Seusai dengan pendapat Kartono (1997) yang menyatakan bahwa tingginya tingkat pendidikan dan tingginya taraf kebudayaan rakyat akan menjadi barometer bagi pertumbuhan bangsa dan Negara yang bersangkutan. Akan tetapi,

(8)

20 | Dirasat Islamiah: Jurnal Kajian Keislaman

bagaimana orang dapat mencapai pendidikan tinggi apabila biaya pendidikan tersebut mahal dan hanya dapat dinikmati oleh masyarakat golongan ekonomi mapan saja. Lantas bagaimana dengan masyarakat golongan ekonomi lemah (Hamka, 2015).

Aspek Teknologi

Berkembang pesatnya teknologi maka semakin menuntut sekolah-sekolah untuk menunjang berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar (Fellang, Arismunandar, & Bunyamin, 2021). Tapi, tak jarang lembaga pendidikan menjadikannya sebagai tameng untuk melakukan komersialisasi pendidikan. Oleh karena, uang masuk ataupun SPP di sekolah ataupun perguruan tinggi semakin mahal, implikasinya peserta didik yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah tidak bisa menyanggupinya. Ujung-ujungnya, mereka ketinggalan dalam hal teknologi. Padahal dengan perkembangan teknologi bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan dan kehidupan bangsa (Burga &

Damopolii, 2021).

Dampak Liberalisasi dan Komersialisasi Pendidikan

Secara teoritis, liberalisasi dan komersialisasi pendidikan yang terjadi telah memberi pengaruh atau dampak terhadap proses pendidikan di Indonesia, baik yang bersifat positif maupun negatif. Beberapa kebaikan dari adanya komersialisasi pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Beban pemerintah dalam membiayai pendidikan semakin berkurang sehingga anggaran yang tersedia dapat digunakan untuk membiayai aspek lain yang lebih mendesak.

2. Memberi peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam mencerdaskan bangsa

3. Lembaga pendidikan menjadi semakin kompetitif sehingga terjadi peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan.

4. Gaji para pendidik (guru maupun dosen) dapat lebih ditingkatkan. Kesejahteraan yang lebih baik diharapkan dapat memacu kepuasan kerja dan kinerja mereka dalam mencerahkan anak didik (Hartini, 2011).

Lemahnya kebijakan pemerintah dan penegakan hokum dapat mendistorsi swastanisasi pendidikan yang sebelumnya bertujuan mulia. Komersialisasi pendidikan juga dapat membawa dampak sosial yang tidak dapat diharapkan jika tidak disertai aturan dan etika social yang benar serta jelas. Berikut dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya liberalisasi dan komersialisasi pendidikan di Indonesia yaitu:

(9)

Vol 3, No 1 (2022) | 21 1. Pendidikan menjadi mahal. Pendidikan menjadi “barang mewah” yang sulit dijangkau

oleh masyarakat luas, khususnya bagi yang kurang mampu. Hal ini dapat meningkatkan angka putus sekolah pada masyarakat kurang mampu yang akhirnya berdampak pada peningkatan pengangguran, anak jalanan, pekerja anak, dan kriminalitas.

2. Gap dalam kualitas pendidikan. Privatisasi pendidikan dapat meningkatkan kompetisi yang mampu menciptakan polarisasi lembaga pendidikan. Lembaga yang menang dalam persaingan dan perburuan dana akan menjadi sekolah unggulan. Lembaga pendidikan yang kalah akan semakin terpuruk menjadi sekolah yang kurang dana.

3. Diskriminasi. Kesempatan memperoleh pendidikan semakin sempit dan diskriminatif.

Masyarakat dari kelas social tinggi dapat memperoleh pendidkan relative mudah, sedangkan masyarakat yang berasal dari kelas social rendah semakin sulit sehingga cenderung mendapatkan pendidikan yang seadanya.

4. Stigmatisasi. Adanya segregasi kelas social antara kaya dan miskin. Konsekuensinya terjadi pelabelan social bahwa sekolah ternama adalah sekolah milik orang dari kelas social tinggi. Sebaliknya sekolah sederhana adalah sekolah bagi masyarakat kelas social rendah. Masyarakat biasa yang bersusah payah menyekolahkan anaknya, harus menerima kenyataan menjadi warga kelas dua karena “sumbangan dana pendidikannya” rendah.

5. Perubahan misi pendidikan. Komersialisasi dapat menggeser “budaya akademik” menjadi

"budaya ekonomis” sehingga mengubah tujuan pendidikan yaitu untuk mencerdaskan masyarakat. Para pendidik kemudian berubah menjadi pribadi yang memiliki mentalitas

“pedagang” daripada mentalitas pendidik. Mencari pendapatan tambahan lebih menarik daripada mengembangkan pengetahuan.

6. Memperburuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kepemimpinan masa depan.

Adanya dorongan misi untuk meningkatkan akumulasi capital sebesar-besarnya, lembaga pendidikan kemudian lebih banyak menerima pelajar-pelajar yang berasal dari kelas social atas walaupun memiliki kecerdasan yang sedang. Pelajar yang berprestasi tetapi kurang mampu, tidak dapat sekolah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Keadaan ini dapat mengancam kepemimpinan masa depan. Sehingga mobilitas social vertical hanya akan menjadi milik masyarakat yang mampu sekolah tinggi, meskipun secara intelektual diragukan.

7. Rantai kemiskinan semakin mustahil diputuskan oleh pendidikan. Secara sederhana, rantai kemiskinan dapat digambarkan karena miskin orang tidak dapat sekolah, karena tidak sekolah, seseorang tidak dapat pekerjaan yang baik, karena tidak dapat memutus

(10)

22 | Dirasat Islamiah: Jurnal Kajian Keislaman

rantai kemiskinan (vicious circle of power) semakin kehilangan fungsinya. Dalam konteks ini, komersialisasi pendidikan dapat mengarah pada pelanggengan “poverty trap” jebakan kemiskinan (Hartini, 2011).

Dizaman era globalisasi saat ini telah mengancam kemurnian dalam pendidikan sebagai contoh banyaknya sekolah yang didirikan dengan tujuan sebagai media bisnis. Selain itu, munculnya sekolah-sekolah swasta elit yang bersaing menawarkan terobosan-terobosan baru dalam dunia pendidikan juga tidak jauh berbeda dalam memungut biaya pendidikan yang tinggi. Sehingga banyak yang menawarkan terobosan-terobosan baru dalam dunia pendidikan dengan imbalan uang yang tidak sedikit jumlahnya. Ideology kapitalisme menjadi sumber ketimpangan sehingga terdapat pandangan bahwa orang yang berkualitas adalah orang yang memiliki banyak kelimpahan material.

Solusi Alternatif Penanggulangan Liberalisasi dan Komersialisasi Pendidikan

Perlu diketahui banyak dari para pebisnis menjadikan dunia pendidikan sebagai salah satu tonggak utama usaha mereka dengan membuka yayasan-yayasan pendidikan tentu saja dengan tujuan “mendapatkan keuntungan” bukan lagi “mencerdaskan kehidupan bangsa”

seperti tertera pada UUD 1945. Prinsip nirlaba mestinya menjadi roh dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Sehingga diharapkan bisa mencegah terjadinya praktek komersialisasi dan kapitalisasi dunia pendidikan. Karena prinsip nirlaba dalam penyelenggaraan pendidikan, menekankan bahwa kegiatan pendidikan tujuan utamanya tidak mencari laba, melainkan sepenuhnya untuk kegiatan meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan pendidikan (Sinaga, 2012).

Dewasa ini seperti yang sudah diketahui dana APBN sebesar 20% tidak dapat mencegah makin maraknya komersialisasi pendidikan di Indonesia, belum lagi pendidikan yang seyogyanya dijadikan jasa yang dapat dinikmati setiap orang seolah-olah menjadi komoditas utama yang dapat bahkan harus dijual dengan harga tinggi. Berikut solusi alternatif penanggulangan liberalisasi dan komersialisasi pendidikan (Musayyidi, 2020;

Sirojul, 2013).

1. Pembentukan lembaga non pemerintah yang diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya sistem pendidikan. Alasan mengapa lembaga ini tidak terpengaruh dan tidak tertekan oleh pihak manapun. Lembaga ini nantinya diharapkan mampu bersikap mandiri dan independen, sehingga ketika terjadi tanpa takut akan ancaman apapun dan dari siapapun. Lembaga ini berhak melakukan evaluasi terkait kebijakan-kebijakan pemerintah

(11)

Vol 3, No 1 (2022) | 23 dibidang pendidikan, seperti dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sekolah dengan status RSBI, agar dapat berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun bersifat nonpemerintah dalam melaksanakan tugasnya, lembaga ini tetap harus berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan untuk mencapai tujuan mulia bersama.

2. Pemberian beasiswa yang lebih gencar kepada para pelajar yang berpretasi dan tidak mampu dalam hal biaya. Upaya ini sebagai antisipasi agar para pelajar yang berprestasi dan tidak mampu dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa harus terbebani biaya dan termotivasi untuk belajar lebih baik. Pencanangan program “Wajib Belajar 12 Tahun”.

Pada program ini, nantinya SMA/sederajat memperoleh aliran dana BOS, sehingga biaya pendidikan dapat ditanggung oleh pemerintah dan tidak begitu memberatkan bagi orang tua/wali murid. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi komersialisasi dan komoditasi pendidikan di jenjang SMA, dan biaya tinggi tak lagi menjadi alas an bagi mereka yang tidak mampu untuk berhenti belajar disekolah.

3. Pemeriksaan rutin transaksi keuangan di seluruh lembaga pendidikan (tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi), baik negeri maupun swasta, oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah. Dari lembaga pemerintah dapat diwakilkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sedangkan dari lembaga non pemerintah dapat diwakilkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli dengan dunia pendidikan.

4. Penarikan uang untuk biaya sekolah seharusnya disampaikan dengan jelas dan terinci.

Biasanya modus penarikan untuk pendidikan yang bermacam-macam. Di antaranya pembayaran ekstrakulikuler, dana untuk keselamtan, dana untuk membeli gorden kelas, biaya wisuda, seta biayanya untuk membeli LKS dan seragam (Albiy & Yahya, 2021).

Penggunaan dana BOS dengan sasaran yang tepat. Adanya dana BOS dari Dinas Pendidikan seharusnya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk menunjang sarana prasarana lembaga pendidikan. Tak hanya biaya sekolah yang mahal tetapi fasilitas yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Biaya yang besar dikeluarkan juga mempengaruhi kualitas dari peserta didik (Albiy & Yahya, 2021).

PENUTUP

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, liberalisasi pendidikan adalah sebuah sistem yang sengaja diciptakan oleh kalangan pemodal untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari institusi

(12)

24 | Dirasat Islamiah: Jurnal Kajian Keislaman

pendidikan tersebut, tanpa melihat tercapai atau tidak tujuan pendidikan. Sementa itu, komersialisasi pendidikan adalah menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan.

Komersialisasi pendidikan atau mengomersialisasikan pendidikan kerap ditimpakan kepada kebijakan atau langkah-langkah yang menempatkan pendidikan sebagai sektor jasa yang diperdagangkan.

Kedua, Dampak adanya komersialisasi pendidikan di era globalisasi bagi masyarakat dibagi menjadi dampak positif dan negatif yaitu: (1) Dampak positif, yaitu (a) beban pemerintah membiayai pendidikan semakin berkurang, (b) menambah keuntungan, dan pemasukan kas lembaga pendidikan, dan (c) lembaga pendidikan semakin kompetitif meningkatkan fasilitas dan mutu pendidikan untuk menarik peminat yang banyak sehingga biaya pendidikan semakin mahal. (2) Dampak negatif, yaitu (a) biaya pendidikan semakin mahal, (b) pendidikan sebagai lading bisnis menjadi trend di dunia pendidikan, (c) gejala stigmatisasi dan diskriminasi antara kaya dan miskin berdampak bagi yang kurang mampu untuk memperoleh pendidikan layak, (d) rantai kemiskinan sulit diputuskan melalui pendidikan, (e) tercipta privatisasi pendidikan, (f) sistem suap atau politik uang (money politics) semakin banyak ditemukan di lembaga-lembaga pendidikan, dan (g) perubahan misi pendidikan dari budaya akademik menjadi budaya ekonomi.

Ketiga, Solusi penanggulangan komersialisasi pendidikan adalah pembentukan lembaga non pemerintah yang diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya sistem pendidikan, pemberian beasiswa yang lebih gencar kepada para pelajar yang berprestasi dan tidak mampu dalam hal biaya, pemeriksaan rutin transaksi keuangan di seluruh lembaga pendidikan (tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi), baik negeri maupun swasta, oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah, penggunaan dana BOS dengan sasaran yang tepat.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, disampaikan saran perlu adanya badan pengawas intensif yang benar-benar mengawasi jalannya dana untuk lembaga pendidikan. Tentu diikuti oleh anggota badan pengawas sendiri yang tidak memiliki kredibilitas dan professional. Jika mengimpikan sebuah proses pendidikan yang murah di dalam kondisi saat ini, maka salah satu jalan adalah dengan membuat sebuah model pendidikan baru, yaitu model pendidikan alternative. Model pendidikan yang berpihak kepada kaum menengah ke bawah. Model pendidikan yang bertujuan untuk membebaskan dari segala bentuk ketertindasan. Impian hanya menjadi khayalan jika kita berharap bisa mengubah sistem pendidikan formal sekarang ini, tanpa membentuk sebuah sistem pendidikan alternative sebagai bentuk perlawanan terhadap liberalisasi dan komersialisasi pendidikan.

(13)

Vol 3, No 1 (2022) | 25 DAFTAR PUSTAKA

Afrizal, (2018). Liberalisasi Pendidikan: Pelecehan terhadap Martabat Bangsa.

JIAGANIS, 3(1).

Albiy, R., & Yahya, Y. (2021). Efektifitas Penggunaan Dana BOS di MTs Swasta pada Masa Pandemi Covid 19. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(5), 2277-2286.

Burga, M. A. (2019). Hakikat Manusia sebagai Makhluk Pedagogik. Al-Musannif, 1(1), 19- 31.

Burga, M. A. (2021). Islamic Education Contribution in Social Interactions of the Bugis Society: The Study of Social Change in the Bugis Soppeng Society. Dirasat Islamiah:

Jurnal Kajian Keislaman, 2(1), 11-22.

Burga, M. A., & Damopolii, M. (2021). Eksistensi Pondok Pesantren DDI Mangkoso sebagai Lembaga Pendidikan Islam Tradisional: Studi pada Masa Pandemi Covid- 19. TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, 16(2), 317-336.

Fakih, M. (2002). Runtuhnya teori pembangunan dan globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fellang, I., Arismunandar, B. S., & Bunyamin, A. (2021). The Supervision Role of Madrasah Heads in Supporting Teacher Competency Improvement. International Journal of Innovative Science and Research Technology, 6(6), 652-634.

Firhansyah, M. (2021). “Waspada Pungli Pendidikan.”

https://ombudsman.go.id/artikel/r/pwkinternal--waspada-pungli-pendidikan. Diakses 01 Januari 2022.

Giroux, H. A. (2008). Education and the Crisis of Youth: Schooling and the Promise of Democracy. The Educational Forum, 73(1), 8-18. Taylor & Francis Group.

Hamka, H. (2015). Sekolah Negeri dan Sekolah Swasta: Monopoli dalam Pendidikan. El- Idare: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(2), 217-230.

Hartini, Dwi. (2011). “Problematika Pendidikan di Era Globalisasi.”

http://core.ac.uk/download.pdf/16509053.pdf. Diakses 18 Oktober 2021,

Illich, I. (2006). Deschooling society. EF Provenzo, Critical Issues in Education: An Anthology of Readings, 120-126.

Musayyidi, M. (2020). Menyoal Komersialisasi Pendidikan di Indonesia. Jurnal Kariman, 8(1), 125-140.

Prasetyo, P. E. (2020). Human Capital as the Main Determinant of Regional Economic Growth. International Journal of Advanced Science and Technology, 29(03), 6261- 6267.

Ritzer, G. (2005). Enchanting a Disenchanted World: Revolutionizing the Means of Consumption. Thousand Oaks, California: Pine Forge Press.

Rumapea, M. E. (2017). Pendidikan Komersial dan Gaya Hidup. JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA (Journal of Governance and Political Social UMA), 5(2), 139-148.

Sinaga, A. P. (2012), “Komersialisasi Pendidikan: Pendidikan sebagai Komoditas

(Memperingati Hari Pendidikan Nasional).”

http://www.kompasiana.com/armensius/komersialisasi-pendidikan-pendidikan-

(14)

26 | Dirasat Islamiah: Jurnal Kajian Keislaman

sebagai-komoditas-memperingati-hari-pendidikan-

nasional_5512348da33311f256ba7f23. Diakses 20 Oktober 2021.

Sirojul, M. (2013). Komersialisasi Pendidikan di Indonesia. http://20319708.siap- sekolah.com/2013/09/06/komersialisasi-pendidikan-di-indonesia/#.Vh4qgPntwuY.

Diakses 11 Oktober 2021.

Suban, A., I. Fellang, & Ilham. (2021). Management of Changein Scientific Integration Statusof Study Transfer of IAIN to UIN Alauddin Makassar. Nveo-Natural Volatiles

& Essential Oils Journal, 8(4), 10074-10088.

Sulfasyah, S., & Arifin, J. (2016). Komersialisasi Pendidikan. Equilibrium: Jurnal Pendidikan, 4(2).

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penilaian dengan menggunakan Jurnal perlu ditindaklanjuti dengan pemberian umpan balik dan pelaporan. Berikut ini acuan terkait dengan pemberian umpan balik dan pelaporan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel gaya kepemimpinan dan disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat

Untuk menghitung waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan perlu diketahui volume atau jumlah dan satuan dari jenis pekerjaan tersebut, baik yang

Peneliti tersebut di atas adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui hubungan antara

Atribut yang paling penting menurut responden dalam memilih suatu produk jasa biro perjalanan wisata dalam penelitian ini adalah atribut makan dengan nilai

kompulsif secara retrospektif melaporkan perubahan suasana hati yang lebih besar dari sebelumnya menjadi segera setelah pembelian daripada kontrol (Dittmar 2005).

[r]

Ekolabel hasil hutan (Forest Product Labelling), yang bertujuan untuk memberikan informasi bahwa selain telah memenuhi syarat sertifikasi PHL dan Lacak Balak,