Kesejahteraan Subjektif pada Pasangan Suami Istri yang Belum Memiliki Keturunan Di Kota Banda Aceh

Teks penuh

(1)

1 Kesejahteraan Subjektif pada Pasangan

Suami Istri yang Belum Memiliki Keturunan Di Kota Banda Aceh

Junizar*, Abdul Murad, Nefi Darmayanti Program Studi Magister Psikologi,

Universitas Medan Area

*Corresponding author: E-mail:

Junizar257@gmail.com

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang Kesejahteraan subyektifpada pasangan suami istri yang belum memiliki keturunan di kota Banda Aceh. Desain penelitian ini adalah fenomenologis.

Responden dalam penelitian adalah tiga pasangan suami istri disertai dengan tiga Informan sebagai sumber triangulasi informasi.Teknik pengambilan responden menggunakan purposive sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui metode wawancara, dan observasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, display data dan verifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan: 1) Responden 1 meskipun sudah mengadopsi anak, namun belum belum merasakan kesejahteraan subjektif. Responden 2 tetap mampu merasaka kesejahteraan subjektif meskipun belum memiliki keturunan. Responden 3setelah mengadopsi anak, semakin dapat merasakan kesejahteraan subjektif. 2) Untuk aspek kesejahteraan subjektif responden 1 belum merasakan kepuasan hidup karena lebih banyak muncul afeksi negatif daripada afeksi positif. Responden 2 dan 3 memiliki kepuasan hidup dalam berumah tangga, karena banyak afeksi positif daripada afeksi negatif, sehingga responden 2 dan 3 dapat merasakan kesejahteraan subjektif. 3) Responden 1 Faktor internal dan faktor eksternal yaitu kesehatan, letak rahim istri yang jauh membuat istri sulit hamil dan kurangnya dukungan dari keluarga besar sehingga responden 1 belum merasakan kesejahteraan subjektif. Responden 2 dan 3 Faktor internal dan faktor eksternal mempengaruhi kesejahteraan subjektif, namun kedua responden mendapatkan dukungan dari keluarga besar, sehingga

responden 2 dan 3 dapat merasakan kesejahteraan subjektif.

Kata Kunci: Kesejahteraan Subjektif, Pasangan Suami Istri, Keturunan

Abstract

The purpose of this study is to find out about subjective well-being of married couples who do not have offspring in the city of Banda Aceh. The design of this study is phenomenological. Respondents in the study were three married couples accompanied by three informants as a source of triangulation of information. The technique of taking respondents using purposive sampling.

Research data were collected through interviews and observation. Data analysis technique is done by data reduction, data display and verification.

The results showed: 1) Respondent 1, although they have adopted children, they have not yet felt subjective well-being.

Respondent 2 is still able to feel subjective well-being even though they do not have children. Respondent 3 after adopting a child, can increasingly experience subjective well- being. 2) For the aspect of subjective well- being of respondent 1, they have not felt life satisfaction because more negative affections appear than positive affections. Respondents 2 and 3 have the satisfaction of living in a household, because there are many positive affections rather than negative affections, so respondents 2 and 3 can feel subjective well- being. 3) Respondents 1 Internal factors and external factors, namely health, the location of the wife's womb far away makes the wife difficult to get pregnant and the lack of support from large families so that respondent 1 has not felt subjective well-being.

Respondents 2 and 3 Internal factors and external factors influence subjective well- being, but both respondents get support from extended families, so respondents 2 and 3 can experience subjective well-being.

Keywords: Subjective well-being, married couples, offspring

PENDAHULUAN

(2)

2 PENDAHULUAN

Kesejahteraan subjektifmerupakan sebagai evaluasi individu mengenai kehidupannya, juga evaluasi afektif dan kognitif. Disamping itu menurut Diener (2009) menguraikan bahwa beberapa evaluasi dapat dilakukan melalui penilaian secara kognitif, seperti kepuasan dalam hidup, dan respon-respon emosional terhadap peristiwa- peristiwa, seperti merasakan emosi yang positif. Adanya pengalaman emosional juga termasuk sebagai komponen emosional dalam Kesejahteraan subjektifdan cara individu mengevaluasi kehidupannya serta terdiri dari beberapa variabel seperti kepuasan hidup dan kepuasan pernikahan, rendahnya tingkat depresi dan kecemasan, adanya emosi-emosi, dan suasana hati yang positif. Dengan demikian Kesejahteraan subjektifadalah evaluasi individu terhadap kualitas kehidupannya yang dilakukan melalui evaluasi kognitif (kepuasan hidup), evaluasi afeksi (hadirnya emosi-emosi positif dan rendahnya level kehadiran emosi-emosi negatif).

Menurut Diener (2009) Kesejahteraan subjektifmerupakan evaluasi seseorang tentang kehidupannya. Evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi kognitif yang meliputi kepuasan hidup serta evaluasi emosi yang berupa jumlah frekuensi yang dialami seseorang tentang afek positif (perasaan menyenangkan) dan afek negatif (perasaan tidak menyenangkan).

Kesejahteraan subjektif merupakan salah satu prediktor kualitas hidup individu karena kesejahteraan subjektif dapat mempengaruhi keberhasilan individu dalam berbagai domain kehidupan. Individu dengan tingkat kesejahteraan subjektifyang tinggi akan merasa lebih percaya diri, dapat menjalin hubungan sosial dengan lebih baik serta dapat menunjukkan performasi kerja yang lebih baik. Selain itu dalam keadaan yang penuh tekanan, individu dengan tingkat kesejahteraan subjektif yang tinggi dapat melakukan adaptasi dan koping yang lebih efektif terhadap keadaan tersebut sehingga merasakan kehidupan yang lebih baik (Tamir dalam Dewi, & Utami, 2008).

Menurut Diener (2009) kesejahteraan subjektifterbagi dalam tiga aspek utama, yaitu:

a. Komponen Kognitif (Kepuasan Hidup) Komponen kognitif adalah evaluasi terhadap kepuasan hidup. Kepuasan hidup adalah kondisi subjektif dari keadaan pribadi seseorang sehubungan rasa senang atau tidak senang sebagai akibat dari adanya dorongan atau kebutuhan yang ada dari dalam dirinya dan dihubungkan dengan kenyataan yang dirasakan seorang individu yang dapat menerima diri dan lingkungan secara positifakan merasa puas dengan hidupnya.

Komponen kognitif kesejahteraan subjektifini juga mencakup area kepuasan/domain satisfaction individu diberbagai bidang kehidupannya seperti bidang yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, kelompok teman sebaya, kesehatan, keuangan, pekerjaan, dan waktu luang.

b. Afeksi Positif

Individu dapat diaktakan memiliki kesejahteraan subjektifyang positf yang tinggi jika individu sering kali merasakan emosi yang positif seperti penuh perhatian, tertarik, waspada, bersemangat, antusias, terinspirasi, bangga, kuat dan aktif.

c. Afeksi Negatif

Individu dapat dikatakan memiliki kesejahteraan subjektif yang negatif jika individu sering sekalimengalami emosi negatif seperti sedih, bermusuhan, mudah marah-marah, takut, malu, bersalah, dan gelisah.

Berbagai penelitian lain telah

menemukan beberapa faktor-

faktorkesejahteraan subjektif yaitu menurut (Lucas & Schinmack, 2009) yaitu:

1. Kepribadian

Kepribadian merupakan salah satu faktor internal yang jelas memainkan peran penting dalam kesejahteraan subjektif.

Pengaruh positif, pengaruh negatif, dan kepuasan hidup yang cukup stabil dari waktu ke waktu sangat berkorelasi dengan indikator psikofisiologis dan ciri ciri kepribadian seperti sebagai extraversion dan neurotisisme. Hal ini di dukung oleh Diener (2009) beberapa variabel kepribadian menunjukkan hubungan yang konsisten dengan kesejahteraan subjektif.

Harga diri yang tinggi adalah salah satu prediktor terkuat padakesejahteraan subjektif.

2. Penerimaan diri

(3)

3 Studi yang dilakukan di akhir tahun 1940-

an sebagian besar di bawah pengaruh perspektif humanistik pada penerimaan diri, dan telah ditegaskan bahwa tingkat penerimaan diri yang tinggi terkait dengan emosi positif, memuaskan hubungan sosial, prestasi dan penyesuaian terhadap peristiwa kehidupan negatif. Penerimaan diri adalah faktor yang terkait dengan kesejahteraan subjektifApabila individu menerimanya dirinya maka dapat menyesuaikan diri dan merasa diri berharga sehingga merasakan emosi negatif yang sedikit, dan dapat merasakan emosi positif yang lebih banyak sehingga individu merasa puas dengan kehidupannya dalam mendukung kesejahteraan.

3. Status Pekerjaan

Status pekerjaan dikenal memiliki pengaruh besar pada kesejahteraan subjektif, pada pengangguran khusunya memiliki kaitan yang kuat dengan dampak negatif pada ukuran kepuasan hidup individu.

4. Status Kesehatan

Status kesehatan baik kesehatan fisik dan mental berkorelasi dengan ukuran kesejahteraan subjektif, dan ada bukti bahwa perubahan status kecacatan menyebabkan perubahan dalam kepuasan hidup individu.

5. Hubungan Sosial

Kontak sosial adalah salah satu pengendali yang paling penting untuk kesejahteraan subjektifkarena kontak sosial individu memiliki dampak yang besar baik pada evaluasi hidup maupun afek positif maupun afek negatif.

Berdasarkan latar belakang diatas, yaitu untuk mengetahui kesejahteraan subjektifpada pasangan yang belum memiliki keturunan, maka fokus penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1) Bagaimana gambaran kesejahteraan subjektif pada pasangan suami istri yang belum memiliki keturunan?

2) Aspek apa saja yang terkait dengan kesejahteraan subjektif pada pasangan suami istri yang belum memiliki keturunan?

3) Faktor apa saja yang mempengaruhi kesejahteraan subjektifpada pasangan

suami istri yang belum memiliki keturunan?

METODE PENELITIAN

Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, karena judul dari penelitian peneliti adalah Kesejahteraan subjektif pada pasangan suami istri yang belum memiliki keturunan di kota Banda Aceh. Penelitian yang bersifat kualitatif dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan data melalui wawancara berdasarkan pedoman wawancara dan observasi.

Peneliti juga memilih jenis penelitian fenomenologis. Fenomenologis yang berarti melihat perilaku yang tampak. Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian fenomenologi karena peneliti ingin melihat perilaku yang tampak dari responden mengenai kesejahateraan subjektif padapasangan suami istri, serta ingin mendeskripsikan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh individu tersebut, serta menggali struktur kesadaran dalam pengalaman-pengalaman responden, sehingga peneliti dapat menggambarkan, memahami, dan menginterpretasikan makna dari pengalaman- pengalaman responden.

Penelitian kualitatif digantikan dengan responden dan sumber data atau informan penelitian. Responden adalah semua orang baik secara individu maupun kolektif yang akan dimintai keterangan yang diperlukan oleh pencari data. Bagi seorang peneliti, proses pengumpulan data dari responden dilakukan melalui wawancara langsung yang betul-betul harus teliti.

Adapun teknik penentuan responden dan informan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive sampling, yang menurut Sugiyono (2013) yaitu pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang memiliki sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya yaitu pasangan suami istri yang sudah menikah lebih dari sepuluh (10 tahun), belum memiliki keturunan. Adapun dua pasangan suami istri tersebut berasal dari kecamatan Meuraxa dan satu pasangan suami istri dari Kecamatan Jaya Baru.

(4)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk dapat menjalin keakraban antara peneliti dengan responden1,2 dan 3 baik dengan istri maupun denga suami, maka perlu mengetahui terlebih dahulu identitas responden 1,2,3 serta informa masing-masing responden agar peneliti dengan mudah membangun raport sebelum melakukan wawancara. Adapun identitas responden 1,2 dan 3 dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1.

Gambaran Umum Responden 1

No Keterangan Responden I (Istri)

Responden I (Suami)

1 Nama (inisial) AS ST

2 Usia 34 tahun 43 tahun

3 Urutan Kelahiran Anak tunggal Anak 5 dari 5 bersaudara 4 Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki

5 Agama Islam Islam

6 Usia pernikahan 11 tahun 11 tahun 7 Pendidikan D3 Keperawatan SMA

8 Pekerjaan Perawat TNI

9 Memiliki mertua Ya Ya

10 Adopsi Anak:

ada/tidak

Adopsi (kembar laki-laki)

Adopsi (kembar laki-laki)

Tabel 2.

Gambaran Umum Informan 1

Keterangan Informan I

1 Nama Informan (inisial) YS

2 Usia 34

3 Urutan Kelahiran Anak 1 dari 5 bersaudara 4 Jenis Kelamin Perempuan

5 Agama Islam

6 Suku Aceh

7 Pendidikan D3 Keperawatan

8 Pekerjaan Perawat

9 Hubungan Dengan Responden

Sahabat

10 Alamat Desa Deunong Kec.Darul

imarah Aceh besar

Tabel 3

Gambaran Umum Responden 2

No Keterangan Responden 2 (Istri)

Responden 2 (Suami)

1 Nama (inisial) HZ AI

2 Usia 34 tahun 36 tahun

3

Urutan Kelahiran

Anak pertama

dari 4

bersaudara

Anak ke 2 dari 3 Bersaudara 4 Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki

5 Agama Islam Islam

6 Usia pernikahan

11 tahun 11 tahun

7 Pendidikan SMA SMA

8 Pekerjaan Ibu Rumah Tangga

TNI

9 Memiliki mertua

Ada Ada

10 Adopsi Anak: Tidak ada Tidak ada

Tabel 4.

Gambaran Umum Informan 2

No Keterangan Informan 2

1 Nama Informan (inisial) SF

2 Usia 60 Tahun

3 Urutan Kelahiran Anak 1 dari 3 bersaudara

4 Jenis Kelamin Perempuan

5 Agama Islam

6 Suku Aceh

7 Pendidikan SMA

8 Pekerjaan Ibu Rumah Tangga

9 Hubungan Dengan

Responden

Orang Tua Kandung (Ibu)

10 Alamat Kecamatan Meuraxa Banda

Aceh

Tabel 5.

Gambaran Umum Responden 3

No Keterangan Responden 3 (Istri)

Responden 3 (Suami)

1 Nama (inisial) DN BT

2 Usia 40 tahun 45 tahun

3 Urutan Kelahiran

Anak ke 3 dari 5 bersaudara

Anak ke 2 dari 4 bersaudara

4 Jenis Kelamin SMA laki-laki

5 Agama Islam Islam

6 Usia pernikahan

15 tahun 15 tahun

7 Pendidikan SMA S1

8 Pekerjaan Ibu Rumah Tangga PNS 9 Memiliki

mertua

Tidak ada Tidak ada

10 Adopsi Anak: Ya adopsi Ya adopsi

Tabel 6.

Gambaran Umum Informan 3

No Keterangan Informan 3

1 Nama Informan (inisial) LD

2 Usia 43 Th

3 Urutan Kelahiran Anak 2 dari 5 bersaudara

4 Jenis Kelamin Perempuan

5 Agama Islam

6 Suku Aceh

7 Pendidikan SMA

8 Pekerjaan Ibu Rumah Tangga

9 Hubungan Dengan

Responden

Adik kandung

10 Alamat Kecamatan Meuraxa Banda

Aceh

Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran kesejahteraan subjektif serta aspek dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif baik pada responden 1, responden 2 dan responden 3 pada istri maupun suami, ditemukan berbeda-beda.

Untuk keterangan lebih jelas maka peneliti menyusun dalam bentuk tabel analisis interpersonal, sehingga lebih mudah dipahami. Berikut penjelasan analisis interpersonal dalam tabel 13 di bawah ini.

(5)

5 Tabel. 13

Analisis Interpersonal Responden 1,2,3

N O

Fokus

Penelitian Responden 1 Responden 2 Responden 3 1. Gambaran

kesejahteraa n Subjektif

Pasangan responden satu (1) belum mampu menemukan kesejahteraan dalam rumah tangga meskipun sudah mengadopsi anak, justru sebaliknya rumah tangga mereka menjadi lebih terpuruk yang akhirnya mereka bercerai.

Disini ditemukan bahwa kesejahteraan subjektifnya belum dapat dirasakan pada responden 1

Pasangan responden kedua (2) tetap dapat menemukan kesejahteraan bagi mereka dalam rumah tangga, meskipun belum memiliki anak dan tidak mengadopsi anak orang lain juga, mereka masih mampu merasakan kesejahteraan dalam keluarga dengan cara yang lain.Pada responden ini kesejahteraan subjektifnya sudah dapat dirasakan oleh responden 2 meskipun belum memiliki keturunan

Pasangan responden ketiga (3) juga masih dapat merasakan kesejahteraa n dalam keluarga mereka, meskipun belum memiliki anak sendiri, namun berusaha untuk adopsi anak orang lain sehingga kesejahteraa n yang dulunya mulai berkurang menjadi lebih baik lagi dengan hadirnya anak yang diadopsi mereka.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden 3 sudah dapat merasakan kesejahteraa n subjektif bersama pasangan 2 Aspek kesejahteraan subjektif

Kepuasan hidup

Pada responden pasangan 1 tidak dapat menemukan kepuasan hidup ketika belum memiliki anak, dan kepuasan hidup juga belum mereka dapatkan ketika mereka sudah mengadopsi anak.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini belum menemukan kepuasan

Pada responden pasangan 2 mereka tetap merasakan kepuasan hidup ketika diawal pernikahan sampai saat ini, meskipun merasa ada yang kurang dalam keluarga yaitu belum memiliki anak kandung.

Mereka juga tidak ingin mengadopsi anak karena khawatir tidak mampu memberikan kebahagiaan pada anak dan belum

Pada responden pasangan 3 mereka merasa kesejahteraa n dalam keluarga tidak hanya diukur dengan kehadiran anak kandung, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa kekurangan tersebut juga dirasakan sedih, namun untuk menemukan kesehteraan bisa dengan cara yang lain sesuai

hidup bersama pasangan.

siap menerima anak adopsi sebagai anak sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kepuasan hidup.

dengan kebutuhan dan kesiapan dari pasangan.

Pasangan ini menemukan kesejahteraa n lebih baik lagi bagi mereka ketika mereka sudah mengadopsi anak.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kepuasan hidup bersama pasangan.

Afeksi positif

Pada responden pasangan 1suasana menyenangk

an dan

perasaaan bahagia hanya dirasakan pada awal pernikahan, namun setelah mereka belum mendapatkan anak sendiri, mereka juga kecewa, dan setelah melakukan adopsi anak mereka justru lebih banyak muncul perasaan negatif.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini belum dapat merasakan kesejahteraan subjektif bersama pasangan.

Pada responden pasangan 2 mereka lebih banyak muncul afeksi positif baik pada awal pernikahan dan ketika belum mendapatkan keturunan sampai sekarang juga masih bahagia, hal ini

dikarenakan suami lebih memahami istri dan dapat melakukan komunikasi yang baik dengan istri.

Mereka lebih sedikit muncul afeksi negatif.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kesejahteraan subjektif bersama pasangan.

Pada responden pasangan 3 mereka lebih sering muncul afeksi positif, meskipun belum memiliki keturunan dan setelah melakukan adopsi anak mereka tetap lebih banyak muncul afeksi positif.

Kondisi demikian karena suami dan istri mampu melakukan komunikasi yang baik dalam keluarga.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kesejahteraa n subjektif bersama pasangan.

Afeksi negatif

Pada responden pasangan 1 afeksi negatif muncul setelah usia

Pada responden pasangan 2 mereka hanya sedikit muncul

Pada responden pasangan 3 juga lebih sedikit muncul

(6)

6

perkawinan lebih dari sepuluh tahun dikarenakan belum memiliki anak. Namun setelah melakukan adopsi anak afeksi negatif tetap muncul dikarenakan tidak mampu menerima peran sebagai istri dan ibu, kemudian peran suami serta menjadi peran ayah bagi anak.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini belum dapat merasakan kesejahteraan subjektifnya.

afeksi negatif, hal ini

dikarenakan lebih mengutamak an komunikasi bersma pasangan.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasaka kesejahteraan subjektif bersama pasangan.

afeksi negatif karena mereka berdua dapat menyesuaik an sendiri ketika sudah melakukan adopsi anak orang lain.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kesejahteraa n subjektif bersama pasangan.

3 Faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif Faktor

Eksternal

Pada responden 1 istri memiliki kesehatan yang kurang mendukung untuk hamil yakni letak rahim yang jauh. Baik istri maupun suami kurang mendapatkan dukungan social yang baik dari kedua keluarga mereka.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini belum dapat merasakan kesejahteraan subjektif bersama pasangan.

Responden 2 yaitu istri yang sedang mengalami sakit DM pada saat berobat untuk dapat hamil.

Karena kondisi kesehatan yang mulai tidak mendukung maka baik responden suami maupun istri lebih fokus untuk berobat DM dulu, setelah itu baru nanti akan berusaha untuk fokus berobat untuk mendapatkan keturunan.

Faktor kesehatan sangat diperlukan dalam program hamil.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kesejahteraan subjektif

Responden 3 yaitu istri pernah melakukan operasi kista sehingga menyebabka n sulitnya hamil.

Sementara suami juga lebih sibuk dengan pekerjaan yang membuat responden sering kelelahan.

Terkait dengan dukungan dari keluarga kedua orang tua responden sudah almarhum, namun adik, kakak dari kedua responden yang selalu memberikan dukungan dalam segala persoalan terutama dalam mendapatka n keturunan.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan

bersama pasangan.

bahwa responden ini sudah dapat merasakan kesejahteraa n subjektif bersama pasangan.

Faktor Internal

Responden istri lebih sensitive ketika mendapatkan penilaian yang kurang baik dari orang lain terkait dengan keturunan.

Sementara suami responden lebih cepat memberikan kesimpulan ketika istri tidak mampu mengatasi segala persoalan.

Suami responden saat itu sudah mulai berubah dengan sikapnya dan sudah jauh dari nilai- nilai religisuitas.

Suami responden juga kurang optimis dalam mengatasi segala persoalan rumah tangga.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden dapat merasakan kesejahteraan subjektif bersama pasangan.

responden suami yang selalu optimis dalam memberikan semangat pada istrinya agar tetap berusaha untuk sembuh dari penyakit DM, sehingga kedepan akan lebi mudah berobat untuk dapat hamil.

Nilai religius yang dimiliki oleh responden memberikan kekuatan pada istrinya, sehingga istrinya menjadi lebih semangat hidup, lebih percaya diri meskpun banyak teman yang menanyakan tentang anak, sehingga kebahagiaan hidup selalu ada.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kesejahteraan subjektif bersama pasangan.

Namun sikap suami yang selalu optimis dan memiliki nilai religius yang baik sehingga kebahagiaan hidup selalu ada. Kedua responden tetap berpegang teguh pada hati nurani mereka meskipun mereka sering mendapatka n penilaian dari orang lain yang kurang mendukung kehidupan mereka.

Kedua responden tetap bisa bahagia tanpa anak, dan mereka juga hidup bukan dengan penilaian orang lain, tapi menjalani kehidupan sesuai dengan diri sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa responden ini sudah dapat merasakan kesejahteraa n subjektif bersama pasangan.

Untuk dapat merasakan kebahagiaan di dalam keluarga banyak hal yang mempengaruhinya. Menurut Maika (2009), faktor-faktor yang dapat memengaruhi kebahagiaan di antaranya adalah aspirasi dan harapan hidup serta bagaimana cara mereka mencapainya. Di dalam keluarga setiap individu perlu mendemonstrasikan relasi atau

(7)

7 komunikasi yang baik dalam keluarga.

Komunikasi dalam keluarga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain oleh kata-kata dan istilah yang dipakai, suasana hati, keadaan fisik, nada suara, mimic/gerak, dan kepribadian/temperamen serta yang terpenting adalah pola pikir seseorang.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ariati (2010) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif diantaranya adalah harga diri positif, kontrol diri, ekstraversi, optimis, relasi sosial yang positif serta memiliki arti dan tujuan dalam hidup. Sementara itu menurut (Diener e al., 2009 ) faktor demografi seperti kesehatan, penghasilan, dan latar belakang pendidikan juga mempengaruhi kesejahteraan subjektif seseorang.

Selanjutnya Walgito (2017) menjelaskan bahwa perkawinan adalah bersatunya seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk keluarga,pada umumnya masing-masing pihak telah mempunyai pribadi sendiri, pribadinya telah terbentuk. Karena itu untuk dapat menyatukan satu dengan yang lain perlu adanya penyesuaian, saling pengorbanan,saling pengertian, hal tersebut harus disadari benar-benar oleh kedua belah pihak yaitu suami istri. Dalam kaitan dengan hal tersebut maka peranan komunikasi dalam keluarga menjadi sangat penting. Antara suami dan istri harus saling berkomunikasi dengan baik untuk dapat mempertemukan satu dengan yang lain sehingga dengan demikian kesalahpahaman dapat dihindarkan. Hal ini dapat dicapai dengan komunikasi dua arah.

Pada dasarnya setiap individu menginginkan keluarga yang sejahtera.

Meskipun demikian, banyak faktor yang mempengaruhi pada tinggi rendahnya tingkat kesejahteraan seseorang. Dengan tercukupi kebutuhan material dan spiritual, seseorang dapat saja merasakan suatu kondisi sejahtera, dapat menikmati hidup secara wajar dan menyenangkan. Akan tetapi, kenyataannya tidak semuanya demikian. Pada suatu keluarga yang serba tercukupi kebutuhannya, sesungguhnya ada juga yang justru merasakan tidak sejahtera. Dalam hal ini, menentukan apa arti yang sebenarnya dari sejahtera merupakan hal yang sulit untuk dilakukan.

Kondisi ini terjadi karena setiap orang dalam

suatu keluarga memiliki cara tersendiri dalam memaknai kesejahteraannya. Karena sejahteraan itu bersifat subjektif, maka bisa jadi seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa walaupun tercukupi semua kebutuhan tetapi mungkin merasa tidak bahagia, dan sebaliknya walaupun dengan kondisi yang kurang mampu, tetapi justru merasa nyaman (Handayani, 2018).

Selain itu peneliti melihat bahwa aspek pendidikan memiliki pengaruh positif terhadap kesejahteraan subjektif. Hal ini terlihat pada suami dari pasangan responden ke 3 yang memiliki pendidikan yang tinggi dari pada suami dari pasangan responden 1 dan 2. Sehingga lebih mudah memahami kebutuhan istri dan memahami kebutuhan diri sendiri. Mampu memahami dan menyesuaikan diri terhadap segala persoalan dalam keluarga. Menurut OECD (2013) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif individu yang meliputi faktor demografis dan faktor lingkungan.

Adapun faktor tersebut yaitu perbedaan jenis kelamin, usia, pendidikan, pendapatan, perkawinan, kepuasan kerja, agama, kesehatan dan waktu luang.

Menurut Hasbalah (2007) bahwa salah satu kunci untuk mesukseskan keberhasilan dan kebahagiaan dalam keluarga yaitu dapat saling mengerti dan memahami antara suami isteri. Dalam hal ini saling isi dan saling ingat mengingat sangat diperlukan. Kemudian suami istri dapat saling menerima, artinya kekurangan atau kelebihan masing-masing dapat menjadi dorongan untuk saling nasehat menasehati, bantu membantu dan saling menerima menurut apa adanya, dan tidak menyalahkan satu sama lain.

Secara umum orang yang religius cenderung untuk memiliki kesejahteraan yang lebih tinggi, dan lebih spesifik. Partisipasi dalam pelayanan religius, afiliasi dan hubungan dengan Tuhan serta berdoa dikaitkan dengan tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi. Ada banyak penelitian yang menujukkan bahwa kesejahteraansubjektif berkorelasi signifikan dengan keyakinan agama (Eddington dan Shuman, 2008). Menurut Eddington dan Shuman (2008) menyatakan bahwa setelah mengontrol faktor usia, penghasilan dan status pernikahan, kesejahteraan subjektif berkaitan

(8)

8 dengan kekuatan yang berkorelasi dengan

yang maha kuasa, dengan pengalaman berdoa, dan dengan keikutsertaan dalam aspek agama.

Pengalaman keagamaan menawarkan kebermaknaan hidup, termasuk kebermaknaan hidup pada masa krisis.

Berdasarkan hasil penelitian dari ketiga responden di atas peneliti menemukan bahwa kesejahteraan subjektif pada seorang individu berkaitan dengan beberapa hal antara lain:

1. Usia, semakin matang usianya maka semakin matang pemikirannya dan ditambah lagi dengan pengalaman yang diperoleh individu. Seperti yang terlihat pada pasangan responden 1 bahwa mereka sama-sama masih muda, segala persoalan tidak disikapi dengan bijaksana. Ditambah riwayat kehidupan istri yang sejak kecil sudah berpisah dengan orang tua, sehingga istrinya kurang memiliki pengalaman kasih sayang dari ibunya. Usia yang masih kecil yang harusnya mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya, justru itu tidak dirasakannya. Sementara pada responden 2 meskipun usianya juga sama-sama masih muda, namun karena ada dukungan orang tua dari kedua pasangan yang selalu memberikan motivasi untuk menyelesaikan segala persoalan rumah tangga, akhirnya mereka dapat menemukan kesejahteraan hidup. Selanjutnya pada responden ke 3 usianya sudah lebih 40 tahun dan sudah semakin matang dalam pola pikirnya, ditambah berbagai pengalaman hidup dan nilai religius yang kuat membuat mereka dapat menemukan kebahagiaan hidup.

Dalam proses ini usia pernikahan dan usia individu yang masih muda sangat berpengaruh dalam mencapai kebahagiaan 2. Pendidikan, tingkat pendidikan yang

berbeda maka akan berbeda pula pengetahuan yang dimiliki oleh individu baik dari sikap maupun cara berpikir.

Seperti yang peneliti temukan pada responden 1 suami lulusan SMA dan istri lulusan diploma sehingga istri yang terkadang mencoba lebih memahami suami, sementara suami untuk berkomunikasi dengan istri belum tepat, suami terkadang tidak memahami ketika telah menjadi peran seorang ayah.

Sementara pada responden ke 2 suami istri

hanya lulusan SMA, namun keduanya dapat berpikir dengan lebih bijaksana, apalagi suami responden banyak memiliki pengalaman dan sudah memahami ketika menjadi seorang suami dan suami juga memahami bahwa dia belum siap untuk menjadi ayah dari anak adopsi. Responden yang ke 3 suaminya sudah berpendidikan tinggi dan istrinya hanya lulusan sekolah menengah, suami lebih dapat mengayomi istrinya ketika istri sedih maupun marah.

Suami resonden dapat membimbing istrinya dengan lebih baik.

3. Komunikasi, kemampuan menyampaikan pesan yang pada pasangan dan dapat dipahami isi atau tujuan dari pesan yang disampaikan. Setiap pasangan seharusnya saling memahami kondisi rumah tangga.

Mereka juga dapat saling mengenal lebih dalam lagi, baik secara fisik, emosi, kebiasaan, minat hobi dan lain sebagainya antar pasangan. Pada responden 1 baik istri maupun suami belum mampu melakukan komunikasi yang lancar antar mereka, suami berharap istri dapat mengerti dengan Bahasa symbol yang dibuatnya karena suami malu untuk menceritakan keinginannya seperti apa pada istri. Sementara istri juga berharap suami untuk dapat mengerti dengan kondisi rumah tangganya setelah memiliki anak adopsi. Selanjutnya baik pada responden 2 maupun responden 3 kedua pasangan tersebut dapat melakukan komunikasi bersama pasangan, hal itu terlihat dari suasana rumah tangga yang selalu dapat merasakan kebahagiaan meskipun pada responden 2 belum memiliki anak dan pada responden 3 sudah mengadopsi anak.

4. Keturunan. Bahagianya pasangan suami istri ternyata tidaklah semata-mata karena tidak memiliki keturunan. Hal tersebut dapat kita lihat pada responden 1 dimana mereka belum dapat memiliki keturunan mereka merasa belum bahagia dan mereka mencoba untuk mengadopsi anak dengan harapan agar kebahagiaan hidup dapat dirasakan dengan baik. Namun kenyataannya tidaklah demikian, ternyata setelah responden 1 pasangan suami istri melakukan adopsi anak yang juga masih dalam kategori anggota keluarga dari

(9)

9 suami, hasilnya kedua responden ini tetap

tidak dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasan hidup, justru sebaliknya rumah tangga mereka menjadi terpuruk sampai ke tahap perceraian. Lainnya halnya dengan responden ke 2 dimana mereka tetap mampu merasakan kebahagiaan dan kepuasan hidup bersama meskipun belum mendapatkan keturunan dan bahkan pasangan ini tidak mau melakukan adopsi anak, karena keduanya sadar bahwa mereka belum siap menjadi ayah dan ibu yang bukan dari darah dagingnya sendiri.

Artinya mereka belum siap merawat anak adopsi dari orang lain. Mereka mampu merasakan kebahagiaan selama ini dengan cara yang lain seperti mengisi aktivitas rumah tangga sehari-hari dengan bersama, mulai dari makan bersama, jalan-jalan bersama dan mengunjungi keluarga besar bersama dan ini merupakan suatu kebahagiaan yang luar biasa. Kemudian pada responden ke 3 mereka tetap merasa bahagia dan puas dalam hidup meskipun belum memiliki keturunan. Mengingat usia mereka yang tidak muda lagi dan beresiko untuk mempunyai keturunan sendiri, maka mereka melakukan adopsi anak ketika proses adopsi sudah sesuai dengan harapan mereka. Sehingga kebahagaiaan menjadi lebih terasa lagi yang dulu hampir kurang dirasakan, namun mereka dapat merasakan lebih bahagia lagi ketika mereka sudah mengadopsi anak. Kebahagaian ternyata masih dapat dirasakan meskipun belum memiliki keturunan sendiri. Artinya keturunan bukanlah salah satu faktor yang membuat pasangan merasa bahagia, masih banyak cara lain yang dapat ditemukan pasangan suami istri untuk merasakan kebahagiaan, seperti melakukan aktivitas rumah tangga bersama-sama, nongkrong di kafe bersama dan mencari aktivitas yang bermanfaat untuk mengisi kekosongan waktu. Semua pasangan dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasan hidup apabila sudah menemukan sesuai dengan harapan dan kecocokan masing-masing. Tidak semua pasangan sama dalam merasakan kebahagiaan, setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk dapat merasakan kebahagiaan, semua sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran kesejahteraan subjektif pada responden 1, meskipun sudah mengadopsi anak, dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi pertengkaran, mereka tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi seperti tidak dapat beradaptasi dengan peran baru dan komunikasi diantara keduanya tidak berjalan dengan baik, sehingga mereka tidak merasakan kebahagiaan dan keharmonisan dalam rumah tangganya, dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa responden 1 belum merasakan kesejahteraan subjektif.

Pada responden ke 2 meskipun belum memiliki keturunan, mereka masih dapat merasakan kebahagiaan . Hal ini disebabkan karena mereka masih menikmati hidup bersama, saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangan serta komunikasi berjalan dengan baik, dengan dekimikian maka dapat disimpulkan bahwa responden 2 dapat merasakan kesejahteraan subjektif dalam rumah tangga.Selanjutnya pada responden 3 setelah mengadopsi anak, kebahagiaan dan keharmonisan semakin bertambah dalam rumah tangganya. Hal tersebut karena baik suami maupun istri dapat beradaptasi dengan peran barunya, mereka sangat menikmati hari-hari yang dilalui bersama anak adopsinya, komunikasi diantara mereka juga berjalan dengan sangat baik, dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa responden 3 dapat merasakan kesejahteraan subjektif dalam rumah tangganya.

2. Berdasarkan hasil penelitian tentang aspek- aspek kesejahteraan subjektif ditemukan bahwa responden 1 sering muncul afeksi negatif seperti istri yang sering sedih dan kecewa atas pelakuan suami dansuami juga merasa kecewa karena istri yang kurang perhatian kepadanya. Sehingga menyebabkan rumah tangga mereka menjadi tidak bahagia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada responden 1 belum memiliki kepuasan hidup, hal ini

(10)

10 disebabkan karena lebih banyak muncul

afeksi negatif daripada afeksi positif. Maka responden 1 belum merasakan kesejahteraan subjektif. Sementara pada responden 2, Mereka dalam menjalani kehidupan selalu bersama-sama, saling memahami antara istri dan suami, mereka tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan meskipun belum memiliki keturunan bahkan disaat istri menderita penyakit DM, suami selalu memberi perhatian dan dukungannya serta mereka merasa bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden 2 memiliki kepuasan hidup dalam berumah tangga hal ini disebabkan karena banyaknya muncul afeksi positif daripada afeksi negatif. Maka responden 2 dapat merasakan kesejahteraan subjektif. Kemudian pada responden 3, kebersamaan mereka masih terjaga sampai saat ini, mereka selalu meyelesaikan pekerjaan rumah bersama, menonton, jalan-jalan dan beribadah sama- sama untuk menghilangkan rasa kesepian.

Suami sangat perhatian terhadap istrinya.

Setelah mengadopsi anak mereka lebih bahagia lagi, senang dan tambah bersemangat dalam menjalani hidup,karena mereka merasa sudah sesuai harapan hidup, artinya mereka sudah memiliki anggota keluarga yang lengkap meskipun bukan dari keturunan mereka sendiri.

Mengingat banyak afeksi positif yang muncul daripada afeksi negatif, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden 3 telah memiliki kepuasan hidup bersama pasangannya. Sehingga mereka dapat merasakan kesejahteraan subjektif dalam rumah tangga nya.

3. Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif bahwa pada responden 1 yaitu faktor internal seperti suami sudah mulai kurang tekun dan kurang memaknai secara baik tentang hakikat hidup berumah tangga. Artinya saat ini tingkat religiusitas responden 1 khususnya suami belum memadai, sikap optimis dan rasa harga diri tidak ada ketika mereka belum mampu memiliki keturunan.

Kemudian faktor eksternal seperti kesehatan istri juga belum mendukung

responden untuk dapat hamil dan kurangnya dukungan dari keluarga sehingga kesejahteraan subyektif pada responden 1 belum dapat dirasakan selama ini. Sementara pada responden 2 dilihat dari faktor internal responden sangat optimis tanpa kehadiran anak kandung juga bisa bahagia, mereka memiliki harga diri yang baik, bersemangat dalam menjalani kehidupannya walaupun istri menderita penyakit DM dan akan sulit untuk memperoleh keturunan, namun mereka tetap bersyukur atas apa yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Selain itu, mereka juga mendapatkan dukungan dari keluarga besar sehingga pasangan suami istri ini masih dapat merasakan kesejahteraan subjektif sampai saat ini.

Kemudian pada responden 3 faktor internal yaitu sikap optimis dari suami dan istri. mereka sangat yakin bahwa bahagia itu masih bisa dirasakan mereka dengan sepakat untuk mengadopsi anak. Karena dilihat dari segi kesehatan seperti usia istri yang sudah 40 tahun dan pernah menjalani operasi kista membuat mereka tidak terlalu berharap akan kehadiran keturunan mereka sendiri, mereka memiliki harga diri dan bersemangat dalam menjalani kehidupannya serta memiliki nilai-nilai religiusitas seperti tetap merasa bersyukur dengan semuanya. Mereka bersyukur masih bisa merawat dan menjaga anak dari hasil adopsi dengan sepenuh hati, layaknya seperti menjaga anak kandung sendiri.Mereka mampu merasakan kepuasan hidup dengan apa yang telah diberikan Allah kepada mereka saat ini dan semangat hidup mereka juga tidak luput dari dukungan dari keluarga besar.

Sehingga dengan demikian, responden 3 dapat merasakan kesejahteraan subjektif dalam rumah tangganya.

DAFTAR PUSTAKA

Ariati, J. 2010. Subjective well-being (kesejahteraan subjektif) dan kepuasan kerja pada staf pengajar (dosen) di lingkungan fakultas psikologi universitas diponegoro. Jurnal Psikologi Undip, 8, 2, 117-123.

(11)

11 Diener, E. 2009. The Science of Subjective

Well-Being: The Collected Works of Ed Diener. Illinois : Springer.

Dewi, P, S & Utami, M, S, 2008. Subjectitive Well Being Anak Dari Orang Tua Yang Bercerai. Jurnal Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Volume 35, No. 2, 194 – 212 Issn:

0215-8884.

Eddington, N. & Shuman, R. 2008. Subjective

well-being (happiness).

http://www.texcpe.Com/html/pdf/ca/ca- happiness.pdf

Handayani, Arif. 2018. Membina Keluarga Sejahtera Melalui Penerapan 8 Fungsi Keluarga. J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 2.

No. 1. 2018 ISSN : 2581-1320.

Hasbalah. 2007. Empat Puluh Cara Mencapai Keluarga Bahagia. Jakarta: Gema Insani

Lucas, R, E & Schinmmack, U. 2009. Income and Well Being: How Big is The Gap Between The Rich and The Poor?

Journal. Res. Pers. 43, 75-78.

Maika, A. 2009. Mengukur Kemiskinan Subjektif di Indonesia: Eksplorasi Faktor yang Membuat Seseorang Merasa Miskin. Center for Population and Policy Studies Gadjah Mada University.

OECD (Organization For Economic Co- Operation and Development) 2013.

OECD Guidelines on Measuring Kesejahteraan subyektif. Paris: OECD Publishing.

Sugiyono, (2013). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methodes).

Bandung:CV. Alfabeta.

Walgito, B. 2017. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :