Penegakan Diagnosis Tuberkulosis Secara Klinis
Dr. Dwi Utomo Nusantara, SpPK
Materi Webinar PATELKI DKI JAKARTA, 17 April 2022
Investasi untuk Eliminasi TBC, Selamatkan Bangsa,
Bersinergi Menyehatkan Negeri
▪ LATAR BELAKANG
▪ TRANSMISI MTB
▪ PATOFISIOLOGI TB
▪ PERJALANAN PENYAKIT TB
▪ KLASIFIKASI TB
▪ ALUR DIAGNOSIS
▪ PENEGAKAN TB SECARA KLINIS
▪ TANTANGAN
Tuberkulosis (TB)
USAID, Indonesia Tuberculosis Roadmap Overview, Fiscal Year 2021
Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
❑ Studi genomik → Mycobacterium tuberculosis berasal dari benua Afrika, 70.000 tahun yang lalu.
❑ Semakin meluas ke benua lain, seiring dengan pertumbuhan manusia.
❑ WHO tahun 2022, mencanangkan program “Invest to End Tb. Save lives”.
❑ Pentingnya investasi pada semua sumber daya untuk akselerasi melawan TB dan mencapai komitmen para pemimpin global untuk mengakhiri TB.
❑ USAID, Indonesia menempati posisi ketiga dunia, ranking 5 pada kasus TB-MDR, penyebab kematian no 4.
❑ Perlu kolaborasi dan komitmen dari semua elemen, khususnya organisasi profesi.
MYCOBACTERIUM
MYCOBACTERIUM
Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice Mycobacterium
tuberculosis
Mycobacterium caprae Mycobacterium
bovis
Mycobacterium microti Mycobacterium
africanum
Mycobacterium pinnipedii Mycobacterium
mungi
Mycobacterium orygis Mycobacterium
carnetti MTB COMPLEX
Mycobacterium avium
NTM/MOTT
Mycobacterium kansasii Mycobacterium
abscessus Mycobacterium
malmoense Mycobacterium
xenopi Mycobacterium
simiae Mycobacterium
gordonae Mycobacterium musogenicum M. leprae
MYCOBACTERIACEAE
Mycobacterium Tuberculosis (MTB)
❑ Bakteri obligat aerob, berbentuk batang, panjang 1–10 µm, lebar 0,2-0,6 µm .
❑ Memiliki karakteristik unik, dinding berlapis lemak → bertahan lama di udara bebas.
❑ Struktur kimia di dinding sel bakteri resisten terhadap pewarnaan Gram → pewarnaan khusus (Ziehl Nielsen).
❑ Media khusus untuk biakan (LJ, Ogawa)
❑ Bakteri dengan pertumbuhan lambat, invitro waktu replikasi bakteri sekitar 15 jam.
❑ Tahan terhadap suhu rendah (-70 sampai 4 derajat C)
❑ Sangat peka terhadap panas dan sinar UV
❑ Kultur MTB membutuhkan waktu sekitar 2-4 minggu.
Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, Kemenkes, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
❑ Percikan dahak (droplet nuclei), yang keluar saat batuk, bersin atau berbicara.
❑ Batuk → 3000 droplet nuclei (1 droplet terdapat 0 – 3500 MTB), bersin → 4500 – 1.000.000 droplet nuclei.
❑ Droplet bermacam ukuran,
❑ Droplet berukuran ≤ 5 µm masuk ke saluran nafas bawah → infeksi.
❑ Infeksi dapat terjadi tergantung sistem imun, jauh dekat dan lamanya paparan, serta baik tidaknya ventilasi ruangan.
TRANSMISI MTB
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
Ukuran 5-10 µm, bertahan di udara
beberapa jam
TRANSMISI MTB
Studi menunjukkan individu dengan gejala klinis dan hasil BTA positif →
risiko transmisi MTB sangat besar
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M
Studi di US, BTA negatif + kultur positif →
risiko transmisi MTB sebesar 20%
TRIAD EPIDEMIOLOGI
HOST
AGENT ENVIRONMENT
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis Lienhardt et al, Investigation of Environmental and Host related Risk Factors For Tuberculosis in Africa, American Journal of Epidemiology, Turner et al, Tuberculous Infectiousness and Host Susceptibility, Journal of Infectious Disease
Usia
Kemampuan sistem imun Status gizi
Jenis kelamin
komorbid, seperti HIV, DM Perilaku
Merokok
Status vaksinasi
Konsentrasi MTB yang terhirup Lamanya paparan MTB
Jarak selama paparan
Ukuran droplet yang terhirup
Baik buruknya ventilasi
Lingkungan padat dan kumuh
Lembab, tanpa cahaya matahari
Tinggal bersama penderita TB
Volume ruangan
PATOFISIOLOGI TB
droplet
90% MTB, terperangkap di saluran nafas atas,
Dikeluarkan oleh mukosa silia
10% MTB, masuk ke dalam alveoli
1-10 basil MTB dapat menyebabkan
infeksi
PATOFISIOLOGI TB
Jika sistem imun berhasil mengatasi bakteri, tubuh bebas infeksi MTB.
LATEN
Miranda et al, Tuberculous Granuloma: An Unsuccessful Host Defense Mechanism Providing a Safety Shelter for the Bacteria?, Hindawi Publishing
Corporation Clinical and Developmental Immunology Volume 2012
Makrofag di alveolar memproduksi kemokin menarik sel-sel inflamasi neutrophil, monosit,sel NK, sel dendritik
dan sel T, yang kemudian memicu inflamasi dan perubahan jaringan
fibrosis dan kalsifikasi.
Terjadi pada 10%
individu dengan TB laten
Dipicu oleh sitokin TNF- α dan IFN-γ
TB PRIMER Sistem imun tidak dapat mengatasi MTB, granuloma
pecah dan menyebar keluar dari alveoli
TB SEKUNDER
MTB inaktif dan
tidak bergejala
PAPARAN MTB SELALU TERTULAR?
Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice
INFEKSI TB
TB PRIMER
TB SEKUNDER /PASKA PRIMER
▪ Terjadi pada individu yang terpapar MTB pertama kalinya dan langsung terjadi infeksi
▪ Umum terjadi pada anak-anak, individu imunokompromais (rentan TB)
▪ Bisa juga terjadi pada usia berapapun yang belum pernah terpapar MTB
▪ Terjadi pada orang dewasa yang sudah pernah terpapar MTB.
▪ Setelah periode laten, bisa bulanan atau tahunan.
▪ Karena reaktivasi kuman laten di dalam tubuh atau reinfeksi
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
FAKTOR RISIKO TB
▪ Individu dengan HIV positif atau penyakit imunokompromais lain
▪ Individu yang mengkonsumsi obat imunosupresan jangka panjang
▪ Perokok
▪ Konsumsi alkohol tinggi
▪ Anak usia <5 tahun dan lansia
▪ Kontak erat dengan individu TB aktif yang infeksius
▪ Bertugas di tempat risiko tinggi TB (fasilitas perawatan jangka panjang, LP)
▪ Petugas Kesehatan.
PERJALANAN PENYAKIT TB PRIMER
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine
PRIMER
PRIMER PROGRESIF
EKSTRA PARU
Pada beberapa kasus, sistem imun tidak cukup kuat, terbentuk kavitas di paru, MTB menyebar dari limfe ke aliran darah
SISTEM IMUN TUBUH
Gejala klinis Individu dengan TB primer memiliki gejala klinis dan infeksius
Dari aliran darah, MTB menyebar ke organ di luar
paru dan bermultiplikasi
PERJALANAN PENYAKIT TB SEKUNDER
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine
LATEN
SEKUNDER
SEKUNDER PROGRESIF
EKSTRA PARU
Seseorang dengan Tb laten, tidak memiliki gejala klinis (sama sekali tidak sakit), dan tidak infeksius
SISTEM IMUN TUBUH
Gejala klinis
Bila terjadi immunocompromised, Tb laten dapat menjadi Tb sekunder Suatu saat dapat menjadi sakit
Sistem imun tidak cukup kuat menghambat replikasi MTB
Dari aliran darah MTB menyebar ke organ di luar paru dan
bermultiplikasi
KLASIFIKASI TB
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kementerian Kesehatan RI, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran, Tata Laksana Tuberkulosis.
LOKASI ANATOMIS
TB PARU
TB EKSTRA PARU
TB PARU + EKSTRA PARU
1
2
3
Kasus TB yang melibatkan parenkim paru atau trakeobronkial
Kasus TB yang melibatkan organ di luar parenkim paru, pleura, kelenjar getah bening, abdomen, genitourinaria, kulit, sendi atau
tulang.
PENEGAKAN KLINIS TB
ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK
AUTOANAMNESIS ALLOANAMNESIS
STATUS GENERALISATA
TANDA-TANDA VITAL
INSPEKSI, PALPASI TUBUH (head to toe)
AUSKULTASI DAN PERKUSI
TANDA KAKU KUDUK DEFORMITAS TULANG
Suhu, tekanan darah, nadi, laju pernapasan
Inspeksi konjungtiva, limfadenopati, eritema nodusum
Ronki pada paru, saat inspirasi atau setelah batuk
Keadaan umum, tingkat kesadaran,
berat badan
ALUR DIAGNOSIS TB DEWASA
KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
ANAMNESIS TB PARU (DEWASA)
▪ Batuk ≥ 2 minggu
▪ Batuk berdahak
▪ Batuk berdahak bercampur darah
▪ Batuk darah (hemoptysis)
▪ Dapat disertai nyeri dada
▪ Sesak nafas
▪ Letih lesu
▪ Penurunan berat badan
▪ Penurunan nafsu makan
▪ Menggigil
▪ Demam
▪ Keringat malam hari
▪ Kemerahan pada kulit ekstremitas (jarang)
▪ Lesi putih pada mata (jarang)
▪ Finger clubbing (jarang)
Manifestasi klinis utama BISA disertai gejala lain
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
90% kasus
20-30% kasus
Awal perjalanan penyakit, gejala klinis sering TIDAK SPESIFIK dan RINGAN
ALUR DIAGNOSIS TB ANAK
KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
ANAMNESIS TB PARU (ANAK)
▪ Batuk ≥ 2 minggu
▪ Demam ≥ 2 minggu
▪ Berat badan turun atau tidak naik dalam dua bulan sebelumnya
▪ Letih lesu ≥ 2 minggu
Manifestasi klinis utama
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
Gejala klinis TB pada anak TIDAK KHAS karena gejala serupa juga dapat disebabkan berbagai penyakit
Perlunya anamnesis mendetail pada anak, autoanamnesis dan alloanamnesis
ANAMNESIS TB PARU (DEWASA & ANAK)
▪ Kontak erat dengan pasien TB
▪ Tinggal di daerah padat penduduk
▪ Wilayah kumuh
▪ Daerah pengungsian
▪ Orang yang bekerja dengan bahan kimia dengan risiko paparan infeksi paru
Perlunya PERTIMBANGAN
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
GEJALA KLINIS TB PARU
INFEKSI ASIMPTOMATIK SINDROM RESPON
INFLAMASI INFEKSI BAKTERIAL
Terbentuknya granuloma Limfadenopati
Demam Myalgia
Arthralgia Erythema nodusum Phlyctenular keratoconjunctivitis
MANIFESTASI GEJALA KLINIS
UTAMA : BATUK ≥ 2 MINGGU
KLINIS TB - BATUK
▪ Awalnya batuk non produktif, yang biasanya mulai di pagi hari
▪ Lama kelamaan menjadi batuk dengan sputum purulen
▪ Sputum dapat disertai dengan darah
▪ Pada beberapa kasus, terjadi batuk darah (pecahnya pembuluh di rongga dada)
▪ Durasi batuk ≥ 2 minggu
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice,, Field et al, Cough due TB and other Chronic Infections, CHEST journal
KLINIS TB - DEMAM
▪ Demam subfebris, suhu <38,5 o C
▪ Terjadi pada sekitar 60 – 85% kasus TB
▪ Muncul di sore atau malam hari
▪ Sifatnya intermiten (hilang timbul)
▪ Berlangsung lama ≥ 2 minggu
Tsao et al, Fever characteristics in Tuberculosis, Ogoina et al, Fever atterns and diseases called fever, Journal of Infection and Public Health,
KLINIS TB (RESPON INFLAMASI)
Laborada et al, Tuberculosis-Associated Erythema Nodosum
▪ Lesi kemerahan pada kulit
▪ Muncul tiba-tiba, nyeri bila diraba dan teraba hangat
▪ Biasanya timbul di ekstremitas, tangan, lutut, kaki
▪ Timbul karena reaksi hipersensitivitas tipe IV
▪ Prevalensi sekitar 5-21% pada kasus TB
▪ Dapat muncul pada anak (TB primer) atau dewasa (TB sekunder).
▪ Tidak spesifik untuk TB, muncul pada penyakit lainnya
Kasus eritema nodusum pada TB laten, hiperpigmentasi dengan nodul
berbentuk oval, disertai deskuamasi
PHYLCTENULAR KERATOKONJUNGTIVITIS
Singal et al, Cutaneus Tuberculosis and Phylctenular keratokonjungtivitis a forgotten association
▪ Lesi berwarna putih keabuan pada kornea disertai dengan injeksi konjungtiva
▪ Reaksi hipersensivitas kornea dan konjungtiva terhadap antigen TB (sel T helper, monosit)
▪ Umum terlihat pada kasus TB primer anak, dapat bertahan hitungan hari sampai 2 minggu
▪ Dapat disertai gejala photophobia
▪ Tidak spesifik untuk TB, bisa terlihat pada paparan antigen lain seperti S.aureus.
Kasus phylctenular keratokonjungtivitis pada anak, dengan lesi di kornea
FINGER CLUBBING
Spicknall et al, Clubbing : an update on diagnosis, differential diagnosis, pathophysiology and clinical relevance, J Am Acad
▪ Pembesaran pada phalanx terminal, sehingga ujung jari dan kuku menjadi membesar
▪ Sering disebut dengan drumstick
▪ The oldest clinical sign in medicine
▪ Terjadi penumpukan dan pemecahan megakariosit di sirkulasi perifer melepaskan PDGF →
pertumbuhan vaskular, sel otot polos dan fibroblast (Dickinson & Martin)
▪ Sering kali disertai dengan hemoptysis
▪ Tidak spesifik untuk TB, terjadi pada penyakit sistemik lain seperti keganasan, cystic fibrosis, empyema, Grave, dll.
Schamroth sign. Memposisikan permukaan dorsal kedua ujung jari akan
membentuk celah seperti intan, pada clubbing celah ini tidak terbentuk
PENEGAKAN KLINIS TB EKSTRA PARU
Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, 10-40% pasien
Kementerian Kesehatan RI, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran, Tata Laksana Tuberkulosis.
Kaku kuduk
Pembesaran kelenjar getah bening superfisial
MENINGITIS TB
LIMFADENITIS TB
Nyeri dada PLEURITIS TB
Deformitas tulang belakang SPONDILITIS TB
DIAGNOSIS PASTI → pemeriksaan klinis, bakteriologis, histopatologis dari organ tubuh yang terkena
Mikroskopik dahak tetap diambil untuk memastikan kemungkinan TB paru
Nyeri abdomen GASTROINTESTINAL
TB
TB + HIV
2/3 kasus HIV dengan diagnostik positif TB, memiliki TB paru dan ekstra paru
Individu dengan HIV → risiko 20 – 37 kali terkena TB dibanding individu sehat
T.R. Harrison, D.L. Kasper Mycobacterial Diseases, Harrison Principles of Internal Medicine, Kon O.M. Tuberculosis in Clinical Practice, KMK HK.01.07/MENKES/755/2019, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis, WHO Global Tuberculosis Report 2020, Takhar et al, HIV CO-infection and Clinical Presentation in Patients with TB
WHO Global Tuberculosis Report 2020 → 8% kasus TB + HIV
Gejala klinis TB tergantung dari seberapa besar tertekannya sistem imun oleh HIV
Semakin rendah kadar CD4, semakin besar kemungkinan terkena TB
ekstra paru
TB + HIV
GEJALA CD4 ≤100 CD4 101-200 CD4>200
Batuk 93,3% 89,4% 93,9%
Demam 76,7% 89,4$ 87,9%
Anoreksia 83,3% 78,7% 87,9%
Penurunan berat badan
63,3% 78,7% 81,8%
Sesak napas 60% 53,2% 48,.5%
Lesu 46,7% 48,9% 66,7%
Nyeri dada 23.3% 31,9% 27,3%
Takhar et al, HIV CO-infection and Clinical Presentation in Patients with TB
Penelitian di India
PENEGAKAN TB SECARA KLINIS?
Kementerian Kesehatan RI, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran, Tata Laksana Tuberkulosis.
Pasien yang tidak memenuhi kriteria diagnosis secara bakteriologis, secara klinis mendukung → Diagnosis TB
▪ Disertai dengan foto toraks yang mendukung
▪ Tidak menunjukkan perbaikan setelah diberi rejimen obat non OAT + memiliki risiko TB
▪ TB ekstra paru dengan hasil laboratorium dan histopatologi yang mendukung
▪ TB anak yang terdiagnosis dengan sistem skoring
TANTANGAN
1 Daar es Salaam, TANZANIA 2 INDIA
Field et al, Cough due TB and other Chronic Infections, CHEST journal
▪ Penelitian membandingkan batuk < 2 minggu vs ≥ 2 minggu
▪ Dari total 65.530 pasien yang datang ke klinik
▪ 2.274 peserta penelitian melaporkan gejala batuk
▪ 241 peserta memiliki gejala batuk < 2minggu, 21 orang (8.7%) dengan hasil BTA positif
▪ 1973 peserta memiliki gejala batuk ≥ 2minggu, hanya 250 (12.7%) dengan hasil BTA positif
▪ Penelitian membandingkan batuk ≥ 2 minggu vs ≥ 3 minggu
▪ Total peserta penelitian 55.561 orang
▪ Sebanyak 2.210 melaporkan gejala batuk ≥ 2 minggu, 267 orang (12%) dengan hasil BTA positif
▪ Sebanyak 1.370 melaporkan gejala batuk ≥ 3 minggu, hanya 182 orang (13%) dengan hasil BTA positif
Tidak ada perbedaan bermakna temuan TB antara batuk <2 minggu, ≥ 2minggu atau ≥ 3 minggu
TANTANGAN
DIAGNOSIS BANDING BATUK
Bronkitis akut (viral)
Bronkitis kronik
Gangguan respirasi karena rokok
Gangguan respirasi karena polusi udara
Asma
GERD ISPA
Batuk karena obat antihipertensi
Klinisi harus mempertimbangkan banyak hal, termasuk diagnosis banding untuk gejala TB lainnya
PENTINGNYA pemeriksaan DIAGNOSTIK BAKTERIOLOGIK
Field et al, Cough due TB and other Chronic Infections, CHEST journal