• Tidak ada hasil yang ditemukan

RPJMD KABUPATEN LINGGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RPJMD KABUPATEN LINGGA"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

II.1

I BAB 2 I

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Gambaran Umum kondisi daerah Kabupaten Lingga memberikan gambaran awal tentang kondisi daerah dan capaian pembangunan Kabupaten Lingga secara umum.

Gambaran umum tersebut menjadi pijakan awal penyusunan rencana pembangunan 5 (lima) tahun kedepan melalui pemetaan secara objektif kondisi daerah dari aspek geografi dan demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah.

Sebagaimana kita ketahui bersama, Kabupaten Lingga telah dikenal beberapa abad silam sebagai Kerajaan Melayu Lingga dan mendapat julukan “Negeri Bunda Tanah Melayu”.

Pada kurun waktu 1722-1911, terdapat dua Kerajaan Melayu yang berkuasa dan berdaulat yaitu Kerajaan Riau Lingga yang pusat kerajaan dan Kerajaan Melayu Riau di Pulau Bintan.

Sebelum ditandatanganinya Treaty of London, maka kedua Kerajaan Melayu tersebut dilebur menjadi satu sehingga kerajaan tersebut menjadi semakin kuat. Wilayah kekuasaannya pun tidak hanya terbatas di Kepulauan Riau saja, tetapi telah meliputi daerah Johor dan Malaka (Malaysia), Singapura, dan sebagian kecil wilayah Indragiri Hilir. Pusat kerajaan terletak di wilayah Pulau Penyengat dan menjadi terkenal di seluruh wilayah nusantara dan juga kawasan Sepenanjung Malaka. Setelah Sultan Riau meninggal pada tahun 1911, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan amir-amirnya sebagai Districh Thoarden untuk daerah yang besar dan Onder Districh Thoarden untuk daerah yang agak kecil. Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyatukan wilayah Riau Lingga dengan Indragiri untuk dijadikan sebuah karesidenan yaitu: Afdelling Tanjungpinang yang meliputi Kepulauan Riau-Lingga, Indragiri Hilir, dan Kateman yang kedudukannya berada di wilayah Tanjungpinang dan sebagai penguasanya ditunjuk seorang Residen.

Berdasarkan Surat Keputusan dari delegasi Republik Indonesia (RI) maka Provinsi Sumatera Tengah pada tanggal 18 Mei 1950 menggabungkan diri ke dalam Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status daerah Otonom Tingkat II yang dikepalai oleh Bupati sebagai kepala daerah dengan membawahi empat daerah kewedanan sebagai berikut:

(2)

II.2

1. Kewedanan Tanjungpinang meliputi wilayah Kecamatan Bintan Selatan (termasuk Kecamatan Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat, dan Tanjungpinang Timur sekarang).

2. Kewedanan Karimun meliputi wilayah Kecamatan Karimun, Kundur, dan Moro.

3. Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Kecamatan Singkep, dan Kecamatan Senayang.

4. Kewedanan Pulau Tujuh meliputi wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi 3 kabupaten yang terdiri dari:

Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna. Wilayah Kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi 9 kecamatan saja,meliputi: Kecamatan Singkep, Kecamatan Lingga, Kecamatan Senayang, Kecamatan Teluk Bintan, Kecamatan Bintan Utara, Kecamatan Bintan Timur, Kecamatan Tambelan, Kecamatan Tanjungpinang Barat, dan Kecamatan Tanjungpinang Timur. Kemudian dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 5 tahun 2001, maka Kota Administratif Tanjungpinang berubah menjadi Kota Tanjungpinang yang mana statusnya sama dengan kabupaten yang membawahi Kecamatan Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur. Dengan demikian, maka Kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi Kecamatan Singkep, Lingga, Senayang, Teluk Bintan, Bintan Utara, Bintan Timur dan Tambelan.Pada akhir tahun 2003 dibentuklah Kabupaten Lingga sesuai dengan Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003, yang mana memiliki wilayah Kecamatan Singkep, Singkep Barat, Lingga, Lingga Utara dan Senayang.

2.1. Aspek Geografis dan Demografi

Aspek geografi dan demografi merupakan salah satu aspek kondisi kewilayahan yang mutlak diperhatikan sebagai ruang dan subyek pembangunan. Aspek geografi memberikan gambaran mengenai karakteristik lokasi dan wilayah, potensi pengembangan wilayah.

Sedangkan gambaran kondisi demografi, antara lain mencakup perubahan penduduk, komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu. Dari uraian ini diharapkan dapat terpetakan potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan Kabupaten Lingga lima tahun kedepan.

(3)

II.3 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Karateristik lokasi dan wilayah pada sub bab ini menjelaskan tentang luas dan batas wilayah serta letak dan kondisi geografis Kabupaten Lingga.

2.1.1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga mempunyai luas wilayah daratan dan lautan mencapai 211,772 km2 dengan luas daratan 2.117,72 km2 (1

%) dan lautan 209,654 km2 (99%).

Kabupaten Lingga secara administrasi berbatasan dengan:

Sebelah Utara : Kota Batam dan laut Cina Selatan.

Sebelah Selatan : Laut Bangka dan Selat Berhala.

Sebelah Barat : Laut Indragiri Hilir.

Sebelah Timur : Laut Cina Selatan.

Gambar. G-II.1

Peta Wilayah Kabupaten Lingga

(4)

II.4 Tabel. T-II.1.

Pembagian Dan Luas Wilayah Kabupaten Lingga

No Kecamatan Banyaknya Luas Daratan

Km2 Kelurahan Desa

1 Singkep Barat 1 11 337,10

2 Singkep 3 3 242,80

3 Singkep Selatan 0 3 138,80

4 Singkep Pesisir 0 6 110,30

5 Lingga 1 10 383,45

6 Selayar 0 4 84,86

7 Lingga Timur 0 6 141,20

8 Lingga Utara 1 11 283,21

9 Senayang 1 18 396,00

10 Posek 0 3 *

Jumlah 7 75 2.177,72

Sumber : Lingga Dalam Angka 2015, Hasil Analisis ket :* data belum tersedia

Gambar. G-II.2

Luas Daratan Menurut Kecamatan di Kabupaten Lingga

Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2015

Singkep Barat, Posek Singkep

Singkep Selatan Singkep Pesisir Lingga

Selayar Lingga Timur Lingga Utara Senayang

(5)

II.5

Dari Kecamatan yang ada di Kabupaten Lingga, terluas adalah Kecamatan Senayang yaitu 396,00 km2 (18.7 % dari total luas daratan) yang terdiri dari 18 Desa dan 1 Kelurahan, kemudian Kecamatan Lingga yaitu 383,45 km2 (23% dari total luas daratan) yang terdiri dari 10 Desa dan 1 Kelurahan. Tabel. T-II.2. berikut ini menunjukkan jumlah Desa/Kelurahan yang ada dimasing-masing Kecamatan.

Tabel. T-II.2.

Desa/Kelurahan Yang Ada di Kabupaten Lingga

No Kecamatan Desa/Kelurahan

1 Singkep Barat Marok Tua Sungai Buluh

Kuala Raya Bakong

Tinjul Sungai Harapan

Jagoh Sungai Raya

Kel. Raya Bukit Belah

Tanjung Irat Langkap

2 Singkep Dabo Batu Berdaun

Dabo Lama Batu Kacang

Tanjung Harapan Kel. Sungai Lumpur

3 Singkep Selatan Marok Kecil Berhala

Resang

4 Singkep Pesisir Berindat Persing

Sedamai Lanjut

Kote Pelakak

5 Lingga Pekajang Kelumu

Mepar Kelombok

Merawang Daik

Panggak Darat Panggak Laut

Musai Mentuda

Nerekeh

6 Selayar Selayar Penuba

Pantai Harapan Penuba Timur

7 Lingga Timur Bukit Langkap Kerandin

(6)

II.6

No Kecamatan Desa/Kelurahan

Pekaka Keton

8 Lingga Utara Sekanah Duara

Resun Limbung

Bukit Harapan Teluk

Linau Pancur

Rantau Panjang Sungai Besar Rusun Pesisir Belungkur

9 Senayang Mamut Senayang

Rejai Pasir Panjang

Temiang Pulau Medang

Tanjung Kelit Batu Belubang

Pulau Batang Mensanak

Benan Tanjung Lipat

Pena’ah Laboh

Baran Cempa

Tajur Biru Pulau Duyung

Pulau Bukit

10 Kepulauan Posek Busung Panjang Suak Buaya Posek

Sumber: Bag. Pemerintahan, 2016

2.1.1.2. Letak dan Kondisi Geografis

Secara Geografis Kabupaten Lingga terletak di antara 0° 00’ - 1° 00’ Lintang Selatan dan 103° 30’ - 105°00’ Bujur Timur.

Berdasarkan RTRW Kabupaten Lingga 2011-2031, luas wilayah daratan dan lautan mencapai 45.667,56 km persegi dengan luas daratan 2.235,48 km persegi dan lautan 43.432,08 km persegi. Wilayahnya terdiri dari 604 buah pulau besar dan kecil. Tidak kurang dari 86 buah diantaranya sudah dihuni, sedangkan sisanya 518 buah walaupun belum berpenghuni sebagiannya sudah dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas kegiatan pertanian, khususnya pada usaha perkebunan.

(7)

II.7 2.1.1.3. Topografi

Jika dilihat dari topografinya, sebagian besar daerah di Kabupaten Lingga adalah berbukit-bukit. Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), terdapat 73.947 ha yang berupa daerah berbukit-bukit, sementara daerah datarnya hanya sekitar 11.015 ha.

Pada dasarnya, wilayah Kebupaten Lingga memiliki kemiringan yang ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan perkotaan, karena hampir mencapai 65 %, wilayah Kabupaten Lingga berada dalam kemiringan 0-2 %, disusul oleh wilayah dengan kemiringan di atas 40 % yaitu mencapai hampir 17 %.

Tabel. T-II.3.

Tinggi Rata-Rata Dari Permukaan Laut Menurut Kecamatan Induk

No Kecamatan Tinggi (m dpl)

1. Singkep Barat 0-415

2. Singkep 0-519

3. Lingga 0-1.272

4. Lingga Utara 0-800

5. Senayang 0-200

Sumber: Lingga Dalam Angka Tahun 2015.

Berdasarkan bentuk bentang alam dan sudut lerengnya, daerah penyelidikan dapat dibagi menjadi 6 (enam) satuan morfologi, yaitu:

1) Dataran

Merupakan daerah dataran aluvial sungai dengan kemiringan lereng medan antara 0-5%

(0-30), ketinggian wilayah antara 18-45 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi sangat rendah.

Penyebaran satuan ini adalah di bagian timur daerah pemetaan, yaitu sekitar Kecamatan Senayang, Kecamatan Lingga Utara, dan sebagian di Kecamatan Singkep Barat.

2) Perbukitan berelief halus

Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang halus dengan kemiringan lereng medan 5-15% (3-80), ketinggian wilayah antara 45-144 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk ke dalam satuan morfologi ini mempunyai

(8)

II.8

tingkat erosi rendah. Penyebaran satuan ini antara lain menempati daerah sebagian di Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan Singkep.

3) Perbukitan berelief sedang

Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng medan 15-30% (8-170) dengan ketinggian wilayah 150-400 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi rendah sampai menengah. Penyebaran satuan ini antara lain di daerah sekitar sebagian di Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan Singkep serta sebagian di Kecamatan Lingga.

4) Perbukitan berelief agak kasar

Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang agak kasar dengan kemiringan lereng 30-50% (17-270), dengan ketinggian wilayah 200-550 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi menengah. Penyebaran satuan ini antara lain di daerah sekitar Kecamatan Singkep, dan sebagian kesil terdapat di Kecamatan Singkep Barat, Kecamatan Lingga dan Kecamatan Lingga Utara.

5) Perbukitan berelief kasar

Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang kasar dengan kemiringan lereng 50-70% (27-360), dengan ketinggian wilayah 225-644 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi tinggi. Penyebaran satuan ini antara lain sebagian besar di Kecamatan Lingga dan sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta sebagian kecil di sekitar Kecamatan Singkep.

6) Perbukitan berelief sangat kasar sampai hampir tegak

Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang sangat kasar dengan kemiringan lereng lebih besar dari 70% (>360), dengan ketinggian wilayah 262-815 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi sangat tinggi, terutama erosi vertikalnya. Penyebaran satuan ini antara lain terdapat di sekitar di Kecamatan Lingga dan sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta sebagian kecil di sekitar Kecamatan Singkep.

(9)

II.9 Tabel. T-II.4.

Kelas Lereng Dengan Luas Penyebaran Di Kabupaten Lingga

No Kecamatan 0 - 2% 2 - 15% 15 - 40% > 40% Jumlah (Ha)

Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % 1 Singkep Barat 13,810.34 40.97 4,790.96 14.20 11,203.17 33.18 3,905.53 11.56 33,798.34 100 2 Singkep 31,250.60 63.53 13,696.30 27.81 3,726.88 7.56 516.22 1.05 49,288.90 100 3 Lingga 35,281.80 57.89 1,421.89 2.33 3,354.13 5.50 20,893.18 34.24 61,016.71 100 4 Lingga Utara 16,571.13 58.51 - - 1,478.35 5.21 10,271.52 36.19 28,384.72 100

5 Senayang 39,247.41 99.11 - - 352.59 0.89 - - 39,700.00 100

Jumlah 136,161.28 64.30 19,909.15 9.39 20,115.12 9.48 35,586.45 16.77 212,188.68 100 Sumber: Bakosurtanal dan Hasil Analisis, 2014

2.1.1.4. Geologi

Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Lingga pada umumnya adalah podsolik merah kuning, litosol, dan organosol. Adapun lapisan tanahnya berstruktur remah sampai gumpal.

Sedangkan lapisan bawahnya berselaput liat dan teguh. Sementara untuk jenis batu- batuannya, batuan Pluton Asam (Acid Pluton) yang berupa batuan sejenis granit tersebar pada kawasan Gunung Daik di bagian barat Pulau Lingga, selain itu terdapat juga batuan endapan dari Zaman Prateseiser yang tersebar di seluruh Pulau Lingga.

2.1.1.5. Hidrologi

Pada umumnya sungai–sungai yang terdapat di Kabupaten Lingga yang berbukit- bukit, sehingga sangat banyak ditutupi oleh vegetasi hutan. Kedalaman dari permukaan air pada kawasan datar berkisar 2-3 meter. Sedangkan pada tempat yang berbukit-bukit antara 3 - 7 meter.

2.1.1.6. Klimatologi

Kabupaten Lingga mempunyai iklim tropis dan basah dengan variasi curah hujan rata- rata 146,4 mm sepanjang tahun 2014. Setiap bulannya curah hujan cenderung bervariasi.

Sementara pada bulan desember merupakan bulan dengan curah hujan paling banyak.

Berdasarkan data-data yang ada maka dapat diketahui bahwa iklim di daerah Lingga mempunyai sifat-sifat yaitu suhu rata-rata 26,8 ⁰C; kelembaban relatif rata-rata 84%;

Kecepatan angin rata-rata 5 knot; tekanan udara rata-rata 1009,4 millibar; jumlah curah hujan rata-rata 13,5 mm/hari. Kabupaten Lingga dialiri oleh sungai-sungai yang menjadi

(10)

II.10

potensi sumber air bagi pemenuhan kebutuhan air baik bagi pertanian ataupun kegiatan yang lainnnya. Kabupaten Lingga mempunyai potensi air yang surplus sepanjang tahun, dengan jumlah curah hujan yang berkisar antara 2000-3500 mm/thn dengan kondisi air surplus maka potensi sumber daya air cukup besar yang dapat dimanfaatkan, berikut merupakan uraian potensi ketersediaan air lahan.

Tabel. T-II.5.

Potensi Ketersediaan Air Lahan Di Pulau Kabupaten Lingga

Nama Pulau Curah Hujan (mm/th)

Air Tersedia (mm)

Kondisi Air (mm/th) Defisit Surplus

Lingga 2600,7 64 0 968

Singkep 2600,7 82,2 0 968

Senayang 2600,7 62,7 0 968

Sumber: Hasil Analisis, 2014

2.1.1.7. Penggunaan Lahan

Faktor-faktor yang merupakan daya dukung Kabupaten Lingga, dan yang menjadi potensi bagi pengembangannya telah diakomodasi kedalam dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031. Dokumen tersebut menjadi landasan bagi pengembangan wilayah Kabupaten Lingga, dimana, pengembangan daerah diarahkan untuk bisa lebih merata kesemua wilayah kabupaten.

Potensi Pengembangan Kabupaten Lingga sebagaimana terdapat dalam Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Lingga, pada bagian rencana pola ruang di Kabupaten Lingga terdiri dari rencana pola ruang darat dan pola ruang laut. Dengan memperhatikan ketentuan penyusunan pola ruang, kebijakan pola ruang nasional dan provinsi, kebijakan pembangunan daerah, kondisi objektif wilayah, daya tampung dan kebutuhan ruang untuk masa mendatang serta, perkembangan tata guna lahan dan kesesuaian lahan, maka dapat dirumuskan rencana pola ruang untuk Kabupaten Lingga sebagaimana diuraikan berikut ini:

1) Rencana Pola Ruang Darat a. Kawasan Lindung

Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya manusia,

(11)

II.11

dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.

Kawasan lindung yang akan dimantapkan di wilayah Kabupaten Lingga yang dinyatakan sebagai kawasan non-budidaya adalah kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, yaitu daerah-daerah yang memiliki kendala fisik tertentu seperti lereng curam, rawan banjir, rawan longsor dan erosi, kawasan bergambut, dan kedalaman efektif agak dangkal hingga dangkal.

1. Kawasan Hutan Lindung

Kawasan hutan lindung adalah kawasan yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah .

Kawasan hutan lindung di Kabupaten Lingga ditetapkan di:

 kawasan hutan lindung Gunung Daik terletak di Kecamatan Lingga dengan luas kurang lebih 18.640 Ha

 kawasan hutan lindung Gunung Muncung terletak di Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 2.120 Ha.

 kawasan hutan lindung sebagian Gunung Lanjut terletak di Kecamatan Singkep Pesisir dengan luas kurang lebih 3.190 Ha.

 kawasan hutan lindung di Kecamatan Singkep Selatan dengan luas kurang lebih 430 Ha.

 kawasan hutan lindung di Kecamatan Lingga Utara dengan luas kurang lebih 220 Ha.

Total keseluruhan kawasan hutan lindung Kabupaten Lingga adalah kurang lebih 28.950 Ha.

2. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya

Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya di Kabupaten Lingga berupa kawasan resapan air. Berdasarkan hasil analisis lahan maka rencana pengembangan kawasan resapan air kurang lebih seluas 5.520 Ha, dengan rincian sebagai berikut:

 Kawasan resapan air di Kecamatan Lingga seluas kurang lebih 1.540 Ha.

(12)

II.12

 Kawasan resapan air di Kecamatan Lingga Utara seluas kurang lebih 250 Ha meliputi kawasan resapan air Bukit Raja dan Bukit Meninjau.

 Kawasan resapan air Gunung Muncung di Kecamatan Singkep seluas kurang lebih 1.300 Ha.

 Kawasan resapan air sebagian Gunung Lanjut seluas kurang lebih 890 Ha.

 Kawasan resapan air di Kecamatan Singkep Selatan seluas kurang lebih 100 Ha.

dan

 Kawasan resapan air di Kecamatan Singkep Barat seluas kurang lebih 1.330 Ha meliputi kawasan resapan air Gunung Lanjut, Gunung Dadelang, dan Gunung Maninjang.

 Kawasan resapan air di Kecamatan Selayar seluas kurang lebih 110.

3. Kawasan Perlindungan Setempat

Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Lingga meliputi kawasan sempadan pantai, kawasan sempadan sungai, kawasan sepadan kolong, kawasan sekitar mata air, kawasan hutan kota, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan perkotaan.

Kawasan sempadan pantai :

Kabupaten Lingga terdiri dari pulau-pulau kecil dan pantai. Garis pantai yang ada harus dipertahankan kondisinya terutama pada daerah-daerah rawan abrasi yang berhadapan langsung ke laut lepas atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan manusia sehingga penetapan sempadan pantai menjadi sangat penting bagi kelestarian ekonsistem pantai dan laut. Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proposional dengan bentuk dan kondisi pantai, memiliki kriteria tertentu.

Kawasan sempadan sungai :

Kabupaten Lingga memiliki 25 sungai yang tersebar di 2 pulau yakni di Lingga dan Singkep. Sungai-sungai pada pulau-pulau tersebut perlu dilindungi dengan pembentukan sempadan sungai yang sesuai dengan kondisi fisiknya masing-masing.

Berdasarkan Sistem DAS, Kabupaten Lingga terbagi menjadi DAS Daik, DAS Nerekeh, DAS Panggak, DAS Tanda, DAS Keton, DAS Sungai Pinang.

(13)

II.13 Kawasan sepadan kolong :

Penetapan kawasan sempadan kolong bertujuan untuk melindungi sumber air baku dari kegiatan manusia yang mengganggu dan merusak kualitas air, kondisi fisik pinggir kolong dan dasar kolong. Di Pulau Singkep terdapat banyak kolong yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber air baku bagi pelayanan kebutuhan air minum.

Kawasan sekitar mata air :

Tujuan penetapan ruang sempadan mata air adalah untuk melindungi mata air atau sumber air baku dari kegiatan manusia yang mengganggu dan merusak kualitas air, kondisi fisik mata air di Kabupaten Lingga terdapat sumber mata air yang menjadi air baku bagi kebutuhan air bersih yang terdapat di:

 Kecamatan Singkep Pesisir di Desa Kote.

 Kecamatan Singkep Selatan di Desa Marok Kecil.

 Kecamatan Lingga di Desa Merawang.

 Kecamatan Lingga Barat di Desa Penuba.

 Kecamatan Lingga Timur di Desa Keton, Desa Sungai Pinang, dan Desa Kudung.

 Kecamatan Lingga Utara di Desa Bukit Harapan, Desa Resun, Desa Limbung, dan Desa Teluk.

Kawasan hutan kota :

Kawasan hutan Kota di Kabupaten Lingga akan dikembangkan sebagai Kebun Raya Kabupaten Lingga. Kebun Raya ini akan dikembangkan di Kecamatan Lingga di sekitar kawasan pusat pemerintahan Kabupetan Lingga dan Hutan Lindung Gunung Daik dengan luas 1.010 Ha. Selain itu, hutan kota juga akan dikembangkan di Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 80 Ha dan Kecamatan Singkep Pesisir dengan luas kurang lebih 230 Ha. Total luas kawasan Hutan kota yang akan dikembangkan di Kabupaten Lingga direncanakan seluas 1.320 Ha.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan perkotaan:

Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan dikembangkan sebagaimana tertuang dalam amanat Undang-undang penataan ruang bahwa 30 % dari luas kawasan permukiman perkotaan akan dikembangkan sebagai RTH yang terdiri dari 20 % RTH Publik dan 10% RTH privat.

(14)

II.14

4. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya

Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Lingga meliputi Kawasan Pantai Berhutan Bakau dan Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan.

Kawasan Pantai Berhutan Bakau:

Ekosistem hutan bakau merupakan salah satu ekosistem yang dominan dan memiliki peranan yang penting mengingat fungsinya sebagai penjaga kestabilan sumberdaya hayati di wilayah peisisir. Kawasan ini berperan dalam pengasuhan dan pemijahan aneka biota laut, melindungi pantai dari sedimentasi, dan penyerap bahan tercemar. Sebagian dari hutan bakau di Kabupaten Lingga tersebut diarahkan untuk dimasukkan dalam kategori Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas dan fungsi pariwisata alam.

Alokasi hutan bakau yang ada di Kabupaten Lingga adalah:

 Pulau Lingga: (a) Pesisir Barat Tanjung Menagun Kecamatan Lingga. Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi dan pariwisata, (b) Teluk Pancur, Kecamatan Lingga Utara. Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi, perlindungan setempat lokasi bendungan, dan pariwisata, dan (c) Teluk Tengkis, Kecamatan Lingga dan Lingga Utara. Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi dan pariwisata.

 Pulau Singkep: (a) Pesisir Barat Selat Sebayur Kecamatan Singkep Barat. Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi, perlindungan setempat lokasi bendungan, dan pariwisata, (b) Pesisir Barat Genting-Panggak-Ponok Kecamatan Singkep Barat. Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi, perlindungan setempat lokasi bendungan, dan pariwisata, (c) Pesisir Teluk Baruk Kecamatan Singkep Barat.

Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi, perlindungan setempat lokasi bendungan, dan pariwisata, dan (d) Hutan bakau yang terdapat di Pulau Singkep merupakan Hutan Tanaman Rakyat.

 Pulau-pulau lainnya: (a) Pulau Bakung Kecamatan Senayang. Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi, perlindungan setempat lokasi bendungan, dan pariwisata, (b) Pesisir Pulau Sebangka Kecamatan Senayang. Fungsi dan pemanfaatan: hutan konservasi, perlindungan setempat lokasi bendungan dan pariwisata, dan (c) Pulau-Pulau kecil lainnya fungsi dan pemanfaatan hutan konservasi, perlindungan setempat lokasi bendungan dan pariwisata.

(15)

II.15 Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Kawasan cagar alam budaya dan ilmu pengetahuan adalah kawasan dimana lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas. Tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Termasuk dalam kawasan ini adalah kawasan peninggalan sejarah dan budaya serta perkampungan tua, antara lain kawasan sejarah Melayu di Daik Lingga.

Berdasarkan kondisi eksisting terdapat situs peninggalan sejarah yang ditetapkan sebagai kawasan lindung cagar budaya adalah: (1) Kawasan Damnah Kecamatan Lingga seluas kurang lebih 126 Ha dan (2) Kawasan Pulau Mepar Kecamatan Lingga seluas kurang lebih 7 Ha.

Selain itu juga, di Kabupaten Lingga terdapat kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang lainnya, yaitu kawasan lindung budaya Komunitas Adat Terpencil (KAT).

Komunitas Adat Terpencil (KAT) ini terdapat di: (a) KAT di Kecamatan Senayang meliputi Kelurahan Senayang (Pulau Akat, Pulau Kongki, Pulau Buluh, Dusun Ponggok, Pulau Mensemut, dan Ujung Beting) Desa Temiang (Dusun Lemoi, Pulau Senang, dan Pasir Gajah), Desa Tanjung Kelit (Dusun Linau, Dusun Air Batu, Pulau Mengkuang, dan Dusun Kerakap), Desa Pulau Medang (Dusun Terikeh), Desa Pasir Panjang. (b) KAT di Kecamatan Lingga Utara di Kelurahan Pancur, Desa Teluk, dan Desa Limbung, (c) KAT di Kecamatan Selayar terdapat di Desa Penuba (Pulau Lipan), (d) KAT di Kecamatan Lingga terdapat di Desa Kelumu dan Desa Mentuda dan (e) KAT di Kecamatan Singkep Barat terdapat di Desa Sungai Buluh.

5. Kawasan Rawan Bencana

Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi geoligi dan morfologi ruang, kawasan rawan bencana di Kabupaten Lingga meliputi:

 Kawasan Rawan Bencana Gerakan Tanah dan Tanah Longsor.

Kawasan rawan bencana gerakan tanah dan longsor yang teridentifikasi di Kabupaten Lingga adalah : (a) Kecamatan Lingga di sekitar Desa Kelumu, Desa Mentuda, Desa Panggak Darat, Desa Mepar, Desa Merawang, dan Kelurahan

(16)

II.16

Daik, (b) Kecamatan Lingga Timur di sekitar Desa Pekaka, (c) Kecamatan Lingga Utara di sekitar Desa Bukit Harapan, Desa Resun, Desa Linau, dan Desa Limbung, dan (d) Kecamatan Senayang di sekitar Desa Cempa, Desa Laboh, dan Kelurahan Senayang.

 Kawasan Rawan Bencana Banjir

Kawasan rawan bencana banjir yang teridentifikasi di Kabupaten Lingga adalah (a) Kawasan rawan bencana banjir Kelurahan Daik, Desa Merawang, Desa Nerekeh, Desa Panggak Laut, dan Desa Musai terletak di Kecamatan Lingga, (b) Kawasan rawan bencana banjir Kelurahan Dabo dan Kelurahan Dabo Lama terletak di Kecamatan Singkep, (c) Kawasan rawan bencana banjir Resun, Sungai Besar dan sekitarnya terletak di Kecamatan Lingga Utara, dan (d) Kawasan rawan bencana banjir Desa Sungai Raya terletak di Kecamatan Singkep Barat.

 Kawasan Rawan Bencana Gelombang Pasang dan Abrasi

Kawasan rawan gelombang pasang dan abrasi pantai yang teridentifikasi di Kabupaten Lingga adalah (a) Kawasan pesisir dan sepanjang pantai Desa Tanjung Harapan – Dabo Lama – Desa Batu Berdaun, (b) Kawasan pesisir dan sepanjang pantai Desa Berindat – Desa Persing - Desa Lanjut – Desa Sedamai – Desa Kote – Desa Pelakak terletak di Kecamatan Singkep Pesisir , (c) Kawasan pesisir dan sepanjang pantai di Kecamatan Senayang dan (d) Kawasan pesisir dan sepanjang pantai di kecamatan Lingga Utara ( pesisir dan sepanjang pantai desa Teregeh, Sasah, Tanjung Awak dan Sungai Nona).

6. Kawasan Lindung Lainnya

Kawasan lindung lainnya sebagaimana arahan dalam RTRW Provinsi Kepulauan Riau, antara lain kawasan terumbu karang dan pulau-pulau yang memiliki luas sangat kecil. Kawasan lindung pulau-pulau kecil direncanakan di Kabupaten Lingga seluas lebih kurang 950 Ha.

(17)

II.17 b. Kawasan Budidaya

1. Kawasan Hutan Produksi

Kawasan hutan produksi adalah kawasan hutan memiliki fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Kawasan ini di Kabupaten Lingga terdiri dari Hutan produksi terbatas dan Hutan produksi terbatas yang dapat dikonversi.

Areal hutan produksi terbatas di Kabupaten Lingga direncanakan seluas kurang lebih 18.340 Ha dengan rincian sebagai berikut:

 Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 1.130 ha,

 Kecamatan Singkep Pesisir dengan luas + 580 ha,

 Kecamatan Singkep Selatan dengan luas + 250 ha,

 Kecamatan Lingga dengan luas + 1.770 ha,

 Kecamatan Lingga Timur dengan luas + 20 ha,

 Kecamatan Selayar dengan luas + 20 ha,

 Kecamatan Lingga Utara dengan luas + 4.690 ha,

 Kecamatan Senayang dengan luas + 8.880 ha.

 Kecamatan Singkep Barat dengan luas + 1.000 ha.

Sedangkan areal hutan produksi yang dapat dikonversi di Kabupaten Lingga, direncanakan seluas kurang lebih 4.120 Ha dengan rincian sebagai berikut:

 Kecamatan Lingga Timur dengan luas + 860 Ha

 Kecamatan Lingga Utara dengan luas + 2.830 Ha,

 Kecamatan Senayang dengan luas + 430 Ha.

2. Kawasan Hutan Rakyat

Kawasan hutan rakyat berfungsi dalam menanggulangi lahan kritis, konservasi lahan, perlindungan hutan, juga sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan dengan memperdayakan masyarakat setempat.

Berdasarkan usulan paduserasi Provinsi Kepulauan Riau dan hasil analisis kesesuaian lahan, Hutan Rakyat (HTR) di Kabupaten Lingga akan dikembangkan dengan luas kurang lebih 9.320 Ha dengan rincian penyebaran sebagai berikut:

 Kecamatan Lingga dengan luas + 1.420 Ha;

 Kecamatan Lingga Timur dengan luas + 1.120 Ha;

(18)

II.18

 Kecamatan Selayar dengan luas + 50 Ha;

 Kecamatan Lingga Utara dengan luas + 390 Ha;

 Kecamatan Senayang dengan luas + 2.500 Ha;

 Kecamatan Singkep Selatan dengan luas + 160 Ha;

 Kecamatan Singkep Barat dengan luas + 3.680 Ha.

3. Kawasan Peruntukan Pertanian

(a) Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan

Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Lingga direncanakan seluas 6.250 Ha, meliputi:

 Kecamatan Lingga seluas + 1.390 Ha.

 Kecamatan Lingga Timur seluas + 1.790 Ha

 Kecamatan Lingga Utara seluas + 710 Ha

 Kecamatan Singkep Barat seluas + 2.360 Ha (b) Kawasan Peruntukan Hortikultura

Pengembangan kawasan pertanian hortikultura di Kabupaten Lingga direncanakan seluas kurang lebih 1.680 Ha dengan rincian sebagai berikut:

 Kecamatan Lingga Utara di Belungkur – Tebing – Sambau – Sungai Nona – Tengkis seluas + 640 Ha.

 Kecamatan Lingga seluas + 90 Ha.

 Kecamatan Lingga Timur di Kudung- Sungai Pinang seluas + 210 Ha.

 Singkep Barat seluas + 740 Ha.

(c) Kawasan Peruntukan Perkebunan

Rencana pengembangan kawasan perkebunan di Kabupaten Lingga meliputi areal seluas kurang lebih 121.720 Ha yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan. Prioritas pengembangan kawasan perkebunan di masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut:

 Kecamatan Singkep Barat dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama adalah Karet, Kelapa, Lada, dan Gaharu dengan luas lahan + 30.390 Ha.

(19)

II.19

 Kecamatan Singkep dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama adalah karet dan kelapa, dengan luas lahan + 5.910 Ha.

 Kecamatan Singkep Pesisir dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama adalah karet, dengan laus lahan + 3.900 Ha.

 Kecamatan Singkep Selatan dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama adalah karet dan kelapa seluas + 12.220 Ha.

 Kecamatan Lingga dikembangkan untuk perkebunan dengan luas + 9.270 Ha.

 Kecamatan Lingga Timur (Kudung – Sungai Pinang) dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama adalah karet dan sagu seluas + 6.190 Ha.

 Kecamatan Lingga Utara dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama adalah karet seluas + 23.170 Ha.

 Kecamatan Selayar dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama karet seluas + 3.350 Ha.

 Kecamatan Senayang (Pulau Sebangka - Pulau Bakung – Pulau Temiang) dikembangkan untuk perkebunan dengan komoditas utama adalah karet dan kelapa dengan luas lahan + 27.320 Ha.

(d) Kawasan Peruntukan Peternakan

Pengembangan Kawasan peternakan dibagi berdasarkan peruntukan skala agribisnis dan skala peternakan rakyat (backyard farming).

Rencana pengembangan kawasan peternakan berskala agribisnis di Kecamatan Senayang (Pulau Buaya dan Pulau Mabong) yang akan didorong sebagai kawasan peternakan terpadu (KUNAK) dan akan dilengkapi dengan sarana- prasarana pendukung pengembangan peternakan. Kawasan peternakan yang dialokasikan di Kabupaten Lingga secara keseluruhan adalah seluas kurang lebih 2.990 Ha dengan pola penyebaran sebagai berikut:

 Kecamatan Lingga Utara dikembangkan untuk peternakan seluas + 30 Ha, dengan komoditas ternak sapi dan kambing.

 Kecamatan Senayang dikembangkan untuk peternakan seluas + 1.960 Ha, dengan komoditas ternak sapi dan kambing.

(20)

II.20

 Kecamatan Singkep Barat dikembangkan untuk peternakan seluas + 370 Ha, dengan komoditas sapi, kambing, ayam kampung, dan ayam ras.

 Kecamatan Singkep Selatan dikembangkan untuk peternakan seluas + 630 Ha, dengan komoditas sapi, ayam ras, dan kambing.

4. Kawasan Peruntukan Perikanan

Kawasan peruntukan perikanan darat di Kabupaten Lingga berupa kawasan peruntukan perikanan budidaya (tambak/air tawar) dan kawasan peruntukan pengembangan pelabuhan perikanan berupa Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).

(a) Kawasan Peruntukan Perikanan Budidaya Tambak/Air Tawar

Rencana pengembangan kawasan perikanan budidaya tambak/air tawar di Kabupaten Lingga direncanakan seluas kurang lebih 3.130 Ha dengan rincian sebagai berikut:

 Kecamatan Lingga Timur seluas + 620 Ha.

 Kecamatan Selayar seluas + 170 Ha

 Kecamatan Lingga Utara seluas + 90 Ha

 Kecamatan Senayang seluas + 50 Ha

 Kecamatan Singkep Barat seluas + 1.590 Ha

 Kecamatan Singkep Selatan seluas + 610 Ha

(b) Kawasan Peruntukan Pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan ( PPI )

Rencana pengembangan pelabuhan perikanan di Kabupaten Lingga berdasarkan arahan dari RTRW Provinsi Kepulauan Riau adalah Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) melayani kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 3 GT dan menampung 20 buah kapal atau 60 GT kapal perikanan sekaligus. Sesuai dengan arahan Kementerian Kelautan, rencana pengembangan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) terletak di:

 Tajur Biru Kecamatan Senayang

 Rejai Kecamatan Senayang

 Senayang Kecamatan Senayang

 Singkep Kecamatan Singkep

 Penuba Kecamatan Selayar

(21)

II.21

 Pulau Mas Kecamatan Singkep Barat

 Desa Teluk Kecamatan Lingga Utara

5. Kawasan Peruntukan Industri

Pengembangan kawasan industri di Kabupaten Lingga diintegrasikan dengan rencana pengembangan pelabuhan serta mempertimbangkan ketersediaan bahan baku yang ada di Kabupaten Lingga. Rencana pengembangan kawasan industri di Kabupaten Lingga meliputi kawasan industri besar, kawasan industri kecil dan kawasan industri mikro seluas kurang lebih 460 Ha dengan penyebaran sebagai berikut.

(a) Kawasan industri besar meliputi :

 Kawasan industri Sungai Tenam di Kecamatan Lingga seluas kurang lebih 160 Ha yang terintegrasi dengan pergudangan dan pelabuhan Sungai Tenam.

 Kawasan industri Marok Tua Kecamatan Singkep Barat seluas kurang lebih 300 Ha yang terintegrasi dengan pergudangan dan pelabuhan Marok Tua sebagai pintu/gate sumatera (Jambi).

(b) Kawasan industri kecil berupa industri sagu di Kecamatan Lingga, Kecamatan Lingga Timur, dan Kecamatan Lingga Utara.

(c) Kawasan industri mikro berupa industri rumah tangga yang tersebar di lingkungan permukiman di Kecamatan Lingga, Kecamatan Lingga Timur, Kecamatan Selayar, Kecamatan Lingga Utara, Kecamatan Singkep, Kecamatan Singkep Pesisir, Kecamatan Singkep Selatan, Kecamatan Singkep Barat, dan Kecamatan Senayang.

6. Kawasan Peruntukan Pariwisata

Luas kawasan pariwisata yang akan dikembangkan untuk mendukung struktur perekonomian Kabupaten Lingga pada masa yang akan datang kurang lebih seluas 3.050 Ha dengan rincian sebagai berikut:

 Kecamatan Singkep seluas + 270 Ha

 Kecamatan Singkep Pesisir seluas + 220 Ha.

 Kecamatan Singkep Barat seluas + 50 Ha

(22)

II.22

 Kecamatan Singkep Selatan seluas + 30 Ha

 Kecamatan Lingga seluas + 750 Ha

 Kecamatan Lingga Timur seluas + 50 Ha.

 Kecamatan Lingga Utara seluas + 270 Ha

 Kecamatan Selayar seluas + 40 Ha

 Kecamatan Senayang seluas + 1370 Ha

7. Kawasan Peruntukan Permukiman

Kawasan Permukiman merupakan kawasan yang diperuntukan bagi permukiman penduduk diluar kawasan lindung yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal masyarakat yang berada di wilayah perkotaan dan perdesaan.

Pengembangan kawasan permukiman direncanakan seluas kurang lebih 14.320 Ha, meliputi:

(a) Kawasan Permukiman Perkotaan

Pengembangan kawasan permukiman perkotaan di wilayah Kabupaten Lingga sampai dengan akhir tahun perencanaan seluas kurang lebih 7.790 Ha yang tersebar di wilayah Kecamatan Lingga, Lingga Timur, Kecamatan Lingga Utara, Kecamatan Singkep, Kecamatan Singkep Pesisir, Kecamatan Singkep Barat, dan Kecamatan Senayang, dengan rincian sebagai berikut:

 Rencana permukiman perkotaan Daik dan Kota Baru Sungai Tenam terletak di Kecamatan Lingga seluas + 3.330 Ha.

 Rencana permukiman perkotaan Sungai Pinang terletak di Kecamatan Lingga Timur seluas + 290 Ha.

 Rencana permukiman perkotaan Dabo terletak di Kecamatan Singkep seluas + 2.730 Ha.

 Rencana permukiman perkotaan Lanjut di Kecamatan Singkep Pesisir seluas + 140 Ha.

 Rencana permukiman perkotaan Pancur terletak di Kecamatan Lingga Utara seluas + 410 Ha.

 Rencana permukiman perkotaan Senayang dan Rejai terletak di Kecamatan Senayang seluas + 760 Ha.

(23)

II.23

 Rencana permukiman perkotaan Marok Tua terletak di Kecamatan Singkep Barat seluas + 130 Ha.

(b) Kawasan Permukiman Pedesaan

Pengembangan permukiman pedesaan di Kabupaten Lingga sampai dengan akhir tahun perencanaan dikembangkan seluas kurang lebih 6.530 Ha yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan. Penyebaran permukiman pedesaan direncanakan sebagai berikut:

 Kecamatan Lingga: Desa Pekajang, Desa Kelumu, Desa Mepar, Desa Mentuda, Desa Kelombok, dan Desa Musai dengan luas + 300 Ha.

 Kecamatan Lingga Timur: Desa Kerandin, Desa Pekaka, Desa Keton, Desa Bukit Langkap dan Desa Kudung dengan luas + 640 Ha.

 Kecamatan Lingga Utara: Desa Sekanah, Desa Limbung, Desa Resun, Desa Bukit Harapan, Desa Linau dan Desa Teluk dengan luas + 1.270 Ha.

 Kecamatan Selayar: Desa Penuba, Desa Selayar, Desa Pantai Harapan dan Desa Penuba Timur dengan luas + 420 Ha.

 Kecamatan Singkep: Desa Batu Berdaun dengan luas + 110 Ha.

 Kecamatan Singkep Pesisir: Desa Berindat, Desa Persing, Desa Lanjut, Desa Kote, dan Desa Sedamai dengan luas + 490 Ha.

 Kecamatan Singkep Selatan: Desa Marok Kecil dan Desa Berhala dengan luas + 400 Ha.

 Kecamatan Singkep Barat: Desa Marok Tua, Desa Sungai Buluh, Desa Kuala Raya, Desa Bakong, Desa Posek, Desa Jagoh dan Desa Sungai Raya dengan luas + 1.680 Ha.

 Kecamatan Senayang: Desa Mamut, Desa Rejai, Desa Pasir Panjang, Desa Temiang, Desa Pulau Medang, Desa Tanjung Kelit, Desa Batu Belubang, Desa Pulau Batang, Desa Mesanak, dan Desa Benan dengan luas kurang lebih 1.220 Ha.

8. Kawasan Peruntukan Lainnya

Kawasan lainnya adalah kawasan yang peruntukan dan pemanfaatan ruangnya disebutkan dalam Permen Nomor 11/PRT/M/2009 tentang Pedoman Persetujuan

(24)

II.24

Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah berupa: Kawasan Pertahanan dan Kawasan Pusat Pemerintahan.

(a) Kawasan Pusat Pemerintahan

Pengembangan perkantoran pemerintah di Kabupaten Lingga dikembangkan di Daik dengan luas lahan kurang lebih 121 Ha.

Kantor-kantor pemerintah yang saat ini berada tersebar di berbagai lokasi, secara bertahap akan dipindahkan ke Kawasan Perkantoran Pemerintah di bukit Kanti dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat secara terintegrasi, efektif dan efisien. Kantor-kantor pada lokasi di luar Kawasan Perkantoran Pemerintahan masih dimungkinkan karena pertimbangan tertentu, misalnya terkait dengan bidang kelautan dan perikanan, atau bidang- bidang lainnya, sejauh tidak berada pada kawasan yang ditetapkan sebagai Kawasan Lindung dan/atau kawasan rawan bencana.

(b) Kawasan Pertahanan dan Keamanan

Kawasan militer Lanal merupakan kawasan khusus untuk kepentingan pertahanan dan keamanan karena didalamnya terdapat berbagai instalasi penting. Dengan demikian, maka kawasan ini perlu ditetapkan sebagai kawasan khusus. Adapun kawasan pertahanan negara di Kabupaten Lingga meliputi:

 Lanal terletak di Kecamatan Singkep dengan luas lahan kurang lebih 3 Ha;

 Polres terletak di Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 2 Ha; dan

 Kodim terletak di Kecamatan Lingga dengan luas kurang lebih 2 Ha.

(c) Kawasan Potensi Pertambangan

Kawasan potensi tambang merupakan lahan yang diindikasikan memiliki kandungan sumber daya tambang migas, mineral logam , mineral bukan logam dan batuan.

Kabupaten Lingga memiliki potensi sumber daya tambang mineral bukan logam dan batuan yang tersebar di setiap kecamatan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan di Kabupaten.

2) Rencana Pola Ruang Laut

Pengelolaan wilayah laut tidak disajikan pada bagian ini sebab masih berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lingga Nomor 2 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang

(25)

II.25

Wilayah Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031, dimana pengelolaan kawasan 0 (nol) sampai dengan 4 (empat) mil laut merupakan wewenang kabupaten/kota, 4 (empat) sampai dengan 12 (dua belas) mil laut menjadi kewenangan provinsi dan diatas 12 (dua belas) mil laut merupakan kewenangan pemerintah pusat. Dengan demikian belum berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa pengelolaan kawasan laut mulai dari 0 sampai 12 mil merupakan kewenangan provinsi dan diatas 12 mil merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Berikut ini disajikan peta pola dan struktur ruang Kabupaten Lingga berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lingga Nomor 2 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031 untuk melengkapi penjelasan rencana pemanfaatan ruang.

Gambar. G-II.3

Peta Pola Ruang Kabupaten Lingga

Sumber : RTRW Kab. Lingga, 2011-2031

(26)

II.26

Sedangkan Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Lingga meliputi rencana sistem pusat kegiatan, dan rencana sistem jaringan prasarana wilayah. Rencana pusat kegiatan terdiri dari sistem perkotaan dan sistem perdesaan. Sedangkan sistem jaringan prasarana wilayah terdiri dari (i) Sistem prasarana utama yang meliputi jaringan transportasi darat, laut dan udara; (ii) Sistem prasarana lainnya yang meliputi rencana sistem jaringan energi, rencana sistem jaringan telekomunikasi, rencana sistem jaringan sumber daya air, dan rencana sistem jaringan prasarana lainnya. Adapun peta struktur ruang Kabupaten Lingga terlihat sebagai berikut:

Gambar. G-II.4

Peta Struktur Ruang Kabupaten Lingga

Sumber : RTRW Kab. Lingga 2011-2031

1) Rencana Sistem Pusat Kegiatan Wilayah Kabupaten Lingga

1.1) Rencana Sistem Perkotaan

A. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)

(27)

II.27

Pengembangan Pusat Kegiatan Wilayah di Kabupaten Lingga dilakukan dengan merujuk pada rencana sistem perkotaan nasional yang tertuang didalam RTRWN.

Dalam sistem perkotaan nasional Daik Lingga dan Dabo Pulau Singkep ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) tahap pengembangan ke II dengan mendorong pengembangan kota-kota sentra produksi. Berkaitan dengan hal tersebut maka peran kedua kawasan perkotaan tersebut diharapkan dapat berperan:

 Sebagai simpul kedua kegiatan ekspor–impor yang mendukung PKN di Batam;

 Sebagai pusat kegiatan industri dan jasa serta pusat pengolahan/

pengumpulan barang di wilayahkabupaten dan sekitarnya dan/ atau melayani skala Provinsi Kepulauan Riau;

 Sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten di sekitarnya.

B. Pusat Kegiatan Lokal (PKL)

Pengembangan Pusat Kegiatan Lokal merujuk pada sistem perkotaan yang ditetapkan dalam RTRW Provinsi Kepulauan Riau.Dalam sistem perkotaan wilayah Provinsi Kepulauan Riau, Senayang dan Pancur (Lingga Utara) ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL).Dengan demikian diharapkan kedua kawasan perkotaan tersebut dapat berperan sebagai:

 Pusat pelayanan keuangan beberapa kecamatandi wilayah Kabupaten Lingga.

 Pusat pengolahan/pengumpulan barang beberapa kecamatandi wilayah Kabupaten Lingga.

 Simpul transportasi beberapa kecamatandi wilayah Kabupaten Lingga.

 Jasa pemerintahan beberapa kecamatandi wilayah Kabupaten Lingga.

C. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)

Untuk menetapkan Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) diKabupaten Lingga, hal-hal yang mendasari antara lain Mempertimbangkan arahan PKW dan PKL sebagaimana tersebut diatas, sehingga penetapan PPK dapat mendukung pengembangan PKL maupun PKW yang sudah ditetapkan dalam rencana sistem perkotaan Nasional maupun sistem perkotaan di tingkat Provinsi.

Dengan memperhatikan arahan PKW dan PKL sebagaimana tertuang didalam RTRWN dan RTRW Provinsi Kepulauan Riau, maka pengembangan Pusat Pelayanan Kawasan

(28)

II.28

diharapkan dapat mendukung pengembangan PKL di Senayang dan Pancur.Selain itu, pengembangan PPK khususnya di Pulau Singkep dan Pulau Lingga, diharapkan dapat menjadi pendukung pengembangan PKW di Dabo dan Daik.

Berkaitan dengan beberapa hal tersebut diatas, maka Pusat Pelayanan Kawasanmerupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa dan juga mendukung pengembangan Pusat Kegiatan Lokal direncanakan sebagai berikut:

1. PPK Pulau Rejai (Kecamatan Senayang)

Pengembangan Pulau Rejai diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan di bagian utara wilayah Kabupaten Lingga khususnya pada pusat pengembangan pulau-pulau kecil yang berbasis pada kelautan (wisata bahari, perikanan, pertanian).

2. PPK Sungai Tenam (Kecamatan Lingga)

Keberadaan pelabuhan Sungai Tenam diharapkan dapat menjadi simpul transportasi yang menghubungkan pulau-pulau kecil di bagian utara wilayah Kabupaten Lingga dengan Pulau Lingga maupun Pulau Singkep. Dengan demikian, diharapkan pada simpul transportasi tersebut tumbuh perkotaan yang dapat menjadi Pusat Pelayanan Kawasan di wilayah sekitarnya yang berbasis pada pengembangan perdagangan jasa, pergudangan industri maritim, dan pemukiman baru.

3. PPK Marok Tua (Kecamatan Singkep Barat)

Pengembangan Marok Tua sebagai Pusat Pelayanan Kawasan diharapkan dapat memperkecil kesenjangan pengembangan wilayah barat dan wilayah timur Pulau Singkep. Pengembangan Marok Tua diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kawasan dengan basis pengembangan sektor perkebunan, pertambangan, dan perikanan. Selain itu, pengembangan MarokTua juga dipersiapkan untuk mendorong pengembangan transportasi ke Provinsi Jambi.

4. PPK Sungai Pinang (Kecamatan Lingga Timur)

Pengembangan Sungai Pinang sebagai Pusat Pelayanan Kawasan diharapkan dapat memperkecil kesenjangan pengembangan wilayah timur Pulau Lingga.

Pengembangan Sungai Pinang diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kawasan dengan basis pengembangan sektor perkebunan dan perikanan.

(29)

II.29 1.2) Rencana Sistem Perdesaan

Rencana sistem perdesaan di wilayah Kabupaten Lingga merupakan penetapan Pusat Pelayanan Lingkungan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) dikembangkan untuk mendukung pengembangan PPK yang ada di Kabupaten Lingga.

1) Pusat Pelayanan Lingkungan yang mendukung pengembangan PPK Pulau Rejai adalah sebagai berikut:

a. PPL Cempaterletak di Kecamatan Senayang.

b. PPL Tajur Biru (PulauTemiang) terletak diKecamatan Senayang.

c. PPL Pulau Benan (pendukung pelayanan wisata) terletak di Kecamatan Senayang.

2) Pusat Pelayanan Lingkungan yang akan dikembangkan untuk mendukung pengembangan PPK Sungai Tenam adalah:

a. PPL Penarik terletak di Kecamatan Lingga.

b. PPL Centeng (pelayanan wisata,agropolitan) terletak di Kecamatan Lingga Utara.

c. PPL Penuba (pelayanan perikanan)terletak di KecamatanSelayar.

3) Pusat Pelayanan Lingkungan yang akan dikembangkan untuk mendukung pengembangan PPK Marok Tua adalah:

a. PPL Kuala Rayaterletak di Kecamatan Singkep Barat.

b. PPL Jagoh terletak di Kecamatan Singkep Barat.

c. PPL Resang terletak di Kecamatan Singkep Selatan.

d. PPL Pulau Mas terletak di Kecamatan Singkep Barat.

e. PPL Lanjut terletak di Kecamatan Singkep Pesisir.

4) Pusat Pelayanan Lingkungan yang akan dikembangkan untuk mendukung pengembangan PPK Sungai Pinang adalah PPL Centeng di Kecamatan Lingga Utara.

2) Rencana Sistem Pusat Kegiatan Wilayah Kabupaten Lingga 2.1) Rencana Sistem Jaringan Prasarana Utama

Sistem jaringan prasarana utama merupakan pengembangan jaringan transportasiyeng meliputi sistem jaringan transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara.

Pengembangan jaringan transportasi di Kabupaten Lingga menjadi sangat penting dalam

(30)

II.30

upaya untuk mengembangkan wilayah kepulauan yang terdiri dari lautan dan daratan berupa pulau-pulau kecil dengan daya dukung terbatas. Faktor yang memegang peranan penting dalam perencanaan transportasi adalah unsur yang mempengaruhi pola pergerakan penduduk yaitu sistem kegiatan penduduk. Pengembangan sistem jaringan transportasi diarahkan untuk meningkatkan aksesibilitas penduduk, pelaku pembangunan dan pelaku ekonomi terhadap pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat pelayanan, baik yang berada di dalam maupun di luar wilayah Kabupaten Lingga yang dilakukan dengan cara meningkatkan dan mengembangkan prasarana dan sarana transportasi darat, laut, dan udara.

Sistem jaringan transportasi Kabupaten Lingga yang direncanakan mencakup Sistem Jaringan Transportasi Darat, Sistem Jaringan Transportasi Udara dan Sistem Jaringan Transportasi Laut. Ketiga sistem jaringan tersebut akan menentukan struktur ruang wilayah Kabupaten Lingga sampai tahun 2030, karena faktor yang paling menentukan dalam pembentukan struktur wilayah Kabupaten Lingga yang berupa kepulauan adalah jaringan transportasi, khususnya jaringan transportasi laut dan transportasi darat. Secara mendetail sistem jaringan transportasi dapat dilihat pada bab 3 RTRW Kabupaten Lingga pada Struktur Ruang.

2.2) Rencana Sistem Prasarana Lainnya A. Rencana Sistem Jaringan Energi

Pengembangan sistem penyediaan energi di Kabupaten Lingga meliputi jaringan minyak bumi dan gas; jaringan transmisi tenaga listrik; dan pembangkit tenaga listrik.

Pengembangan sistem penyediaan energi di Kabupaten Lingga bertujuan :

1. Menyediakan tenaga listrik yang terjamin keandalan dan kesinambungan penyediaannya dalan rangka penunjang kegiatan di seluruh wilayah kabupaten Lingga.

2. Melaksanakan pemanfaatan energi gas maupun minyak untuk kebutuhan rumah tangga, industri,dan transportasi.

I. Rencana Jaringan Minyak Bumi dan Gas

Rencana fasilitas stasiun pengisian bahan bakar gas untuk kebutuhan rumah tangga akan dikembangkan di Sungai Tenam (Kecamatan Lingga) dan Dabo (Kecamatan Singkep). Sedangkan Rencana pengisian bahan bakar untuk transportasi akan

(31)

II.31

dikembangkan di Dusun Penarik Desa Kelumu (Kecamatan Lingga), Desa Sungai Buluh (Kecamatan Singkep Barat), dan Pulau Sebangka (Kecamatan Senayang).

II. Rencana Jaringan Transmisi Tenaga Listrik

Kebutuhan listrik di Kabupaten Lingga diperhitungkan berdasarkan kebutuhan listrik untuk rumah tangga, sarana pelayanan umum, dan penerangan jalan. Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan listrik sampai dengan tahun perencanaan 2031 adalah 162.368 kw yang meliputi listrik untuk rumah tangga sebesar 116,170 KW, listrik untuk sarana pelayanan umum sebesar 29,043 KW dan listrik untuk penerangan jalan sebesar 17,426 KW.

Kondisi geografis Kabupaten Lingga yang berupa kepulauan menuntut perencanaan sistem pembangkit listrik yang efisien. Kebutuhan listrik di pulau-pulau kecil untuk menunjang pengembangan kegiatan yang direncanakan pada pulau tersebut akan dipenuhi dengan pola pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel(PLTD).

Berdasarkan perhitungan kebutuhan listrik sebagaimanatersebut diatas, maka untuk pembangkit listrik direncanakan sebagai berikut:

1. Pulau Lingga akan menggunakan PLTD dengan kapasitas 10 MW sejumlah 7 unit yang akan ditempatkan di Desa Sungai Pinang, Kelurahan Daik, Desa Limbung, Sungai TenamDesa Mentuda, Desa Penuba, Desa Kerandin, dan Kelurahan Pancur.

Di Pulau Lingga terdapat potensi sumber airyang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem Pembangkit Tenaga Listrik Min Hidro (PLMNH) di Sungai Jelutung dengan kapasitas 1,5 Mw.

2. Pulau Singkep diperlukan 10 unit PLTD dengan kapasitas masing-masing pembangkit 10 MW. yang akan ditempatkan di Kelurahan Dabo, Desa Marok tua, Desa Marok Kecil, dan Desa Bakong. Selain itu, di Pulau Singkep (Desa Jagoh-Kecamatan Singkep Barat) juga akan dikembangkan Pembangit Listrik Tenaga Gasifikasi Batubara (PLTGB) dengan kapasitas 2 x 3 Mw.

3. Pulau Sebangka diperlukan 3 unit PLTD dengan kapasitas masing-masing pembangkit 10 Mw yang akan ditempatkan di Pulau Senayang.

4. Pada pulau-pulau kecil yang akan dikembangkan untuk kawasan permukiman dan wisata yang meliputi Pulau Benan, Pulau Bakung, dan Pulau Cempa masing-masing akan dilayani oleh 2 unit PLTD dengan kapasitas 5 Mw. Selain itu juga akan dikembangkan pembangkit listrik alternatif tenaga surya dengan skala kecil untuk

(32)

II.32

kebutuhan penerangan rumah tangga, penerangan jalan, dan energi untuk menara telekomunikasi serta kebutuhan kebutuhan skala kecil lainnya.

B. Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi 1. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Kabel

Pengembangan jaringan telepon kabel, harus dikembangkan secara bertahap dan ekonomis sesuai dengan kebutuhan serta arah pengembangan wilayah terutama kawasan yang di tetapkan sebagai pusat kegiatan wilayah (PKW) dan pusat kegiatan lokal (PKL) serta pusat pelayanan kawasan (PPK). Pada tahun akhir perencanaan (tahun 2031) kebutuhan mencapai 6.936 sambungan dengan kebutuhan 116 Rumah Kabel dan 9 unit STO.

2. Pengembangan Sistem Jaringan Nirkabel

Pengembangan jaringan telekomunikasi di pulau-pulau kecil akan dikembangkan dengan jaringan telepon nirkabel melalui pengembangan menara BTS yang tersebar dan menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Lingga.Rencana pengembangan BTS di Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut:

a. Pengembangan BTS di Kecamatan Lingga meliputi Daik sebanyak 3 (tiga) BTS, Musai sebanyak 2 (dua) BTS, Panggak Darat sebanyak 2 (dua) BTS, Mepar sebanyak 2 (dua) BTS, Mentuda sebanyak 2 (dua) BTS), Pekajang, dan Kelumu.

b. Pengembangan BTS di Kecamatan Lingga Utara meliputi Bukit Harapan sebanyak 2 (dua) BTS, Pancur sebanyak 3 (tiga) BTS, Resun, Sungai Besar, Teluk, dan Limbung.

c. Pengembangan BTS di Kecamatan Lingga Timur berada di Sungai Pinang dan Kudung.

d. Pengembangan BTS di Kecamatan Selayar berada di Pulau Selayar.

e. Pengembangan BTS di Kecamatan Singkep meliputi Dabo sebanyak 4 (empat) BTS dan Batu Berdaun sebanyak 3 (tiga) BTS.

f. Pengembangan BTS di Kecamatan Singkep Barat meliputi Jagoh sebanyak 3 (tiga) BTS, Raya sebanyak 3 (tiga) BTS, Marok Tua sebanyak 3 (tiga) BTS, Sungai Harapan sebanyak 2 (dua) BTS, Sungai Buluh, Tinjul, dan Posek.

g. Pengembangan BTS di Kecamatan Singkep Pesisir meliputi Persing sebanyak 2 (dua) BTS dan Kote.

h. Pengembangan BTS di Kecamatan Singkep Selatan berada di Berhala dan Marok Kecil (Resang).

(33)

II.33

i. Pengembangan BTS di Kecamatan Senayang meliputi Pulau Senayang sebanyak 2 (dua) BTS, Penaah sebanyak 2 (dua) BTS berada di Pulau Buluh dan Pulau Kongki Besar, Cempa, Rejai, Benan, Mensanak, Pulau Bukit, Tajur Biru, Pulau Kentar, Pasir Panjang, Mamut, Batu Berlobang, Baran, Pulau Batang, dan Temiang.

C. Rencana Sistem Jaringan Sumber Daya Air

Rencana sistem jaringan sumber daya air dikembangkan yang terdiri atas: Daerah Aliran Sungai (DAS), Prasarana Air Baku untuk Air Bersih, dan Sistem Pengendalian B.

I. Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah aliran sungai yang terdapat di wilayah Kabupaten Lingga terdiri dari DAS Bakung, DAS Cikasim, DAS Daik, DAS Jelutung, DAS Kelumu, DAS Keton, DAS Langkap, DAS Limas, DAS Marok Tua, DAS Mengkuding, DAS Mentuda, DAS Nerekeh, DAS Pancur, DAS Panggak Darat, DAS Petengah, DAS Resun, DAS Selayar, DAS Senayang, DAS Serak, DAS Sergang, DAS Sungai Besar, DAS Sungai Pinang, DAS Tanda, dan DAS Temiang.

II. Prasarana Air Baku Untuk Air Bersih

Pada saat ini pelayanan kebutuhan air minum perpipaan didapat dari sumber mata air yang terdapat di Pulau Lingga dan Pulau Singkep. Untuk memenuhi kebutuhan air minum yang lebih besar sampai dengan akhir tahun perencanaan maka akan di kembangkan sistem pengolahan air bersih dengan memanfaatkan air sungai Daik dan sumber air baku dari kolong yang banyak terdapat di Pulau Singkep.

Berdasarkan hasil inventarisasi di lapangan, sumber mata air yang terdapat di Wilayah Kabupaten Lingga umumnya dijumpai di sekitar kaki, lereng dan bagian atas perbukitan dan mempunyai penyebaran tidak merata. Sumber mata air di wilayah Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut: Gunung Muncung Kecamatan Singkep; Cenot Kecamatan Lingga; Bukit Raja Kecamatan Lingga Utara; Limbung Kecamatan Lingga Utara; Sungai Kerandin Kecamatan Lingga Timur; Kudung Kecamatan Lingga Timur; Sungai Pinang Kecamatan Lingga Timur;

Tebing Kecamatan Lingga Utara; Sumber Mata Air Gunung Lanjut Kecamatan Singkep Pesisir;

Gunung Daik Kecamatan Lingga; mata air terjun Ciklatip Kecamatan Singkep Barat; mata air terjun Resun Kecamatan Lingga Utara; Tanjung Keriting Kecamatan Lingga Timur; Gunung Tunggal Kecamatan Singkep Barat; Gemuruh Kecamatan Singkep; Sungai Lanjut Kecamatan Singkep Pesisir; Sungai Ulu Medap Kecamatan Lingga Utara; Sungai Tanjung Gantung

(34)

II.34

Kecamatan Senayang; Tanah Tinggi Kecamatan Selayar; dan Bukit Selayar Kecamatan Selayar;

kolong Berindat di Kecamatan Singkep Pesisir; kolong Pasir Kuning di Kecamatan Singkep;

kolong Serayak di Kecamatan Singkep Selatan; kolong Sungai Kerekel di Kecamatan Singkep Selatan; kolong Marok Tua di Kecamatan Singkep Barat; dan kolong Tanah Sejuk terletak di Kecamatan Singkep.

2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Kabupaten Lingga memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat serta kemajuan pembangunan Kabupaten Lingga itu sendiri, salah satunya adalah potensi sektor pertanian. Luas wilayah daratan Kab. Lingga yang mencapai 2.117,72 KM² (211.772 Ha) meskipun hanya sekitar 1% dari total luas Kab. Lingga, namun merupakan lahan yang cukup subur dan potensial yang sangat prospektif untuk dikembangkan menjadi wilayah sentra produksi bagi produk pangan dan pertanian.

Dari data yang ada diketahui bahwa lahan yang dapat digunakan sebagai area pertanian, perkebunan dan penggembalaan ternak tidak kurang dari 80.000 – 100.000 Ha, sedangkan yang telah dimanfaatkan (tradisional) kurang dari 25 % (21.610 Ha). Potensi lahan pertanian terdiri potensi lahan sawah seluas 2.250 ha, potensi lahan bukan sawah (lahan kering) perkebunan seluas 46.112 ha dan potensi lahan pertanian seluas 29.870 ha.

Untuk pertanian tanaman pangan yang terdiri dari tanaman palawija dan hortikultura, telah dikembangkan oleh masyarakat untuk keperluan pasar lokal maupun dipasarkan keluar daerah Kabupaten Lingga. Untuk tanaman pangan jenis komoditi ubi kayu merupakan unggulan daerah dengan luas tanam 200,50 ha dan produksi sebanyak 4.253,69 ton. Kemudian diikuti oleh jagung seluas 150,5 ha dengan produksi sebanyak 743,96 ton dan ubi jalar seluas 82,6 ha dengan produksi sebanyak 779,73 ton.

Pada sektor komoditas sayur-sayuran, luas tanam sayur-sayuran pada tahun 2015 seluas 160 ha dengan rata-rata produksi sebanyak 1.615,3 ton/ha. Rata-rata produksi sayur- sayuran terbesar adalah Kangkung dengan luas tanam 39 ha dan rata-rata produksi sebanyak 510,3 ton/ha. Kedua adalah Bayam dengan luas tanam 39 ha dan rata-rata produksi sebanyak 304,9 ton/ha. Dan ketiga adalah Petai/Sawi dengan luas tanam 20 ha dan rata-rata produksi sebanyak 240,9 ton/ha. Sebaliknya produksi terendah adalah terung yaitu 22 ton.

Beberapa kendala yang dihadapi para petani selain disebabkan kendala produksi adalah

(35)

II.35

karena sulitnya pemasaran produk hasil pertanian. Meskipun demikian upaya peningkatan dan pengembangan produktivitas sayur-mayur di Kabupaten Lingga terus dilaksanakan.

Beberapa produksi buah-buahan di Kabupaten Lingga mempunyai potensi untuk dikembangkan di masa mendatang yaitu Pada tahun 2015, produksi buah pisang mencapai 1.216 ton/tahun. Komoditas buah-buahan yang cukup berkembang adalah buah Durian, Pisang dan Nenas. Buah Durian mampu menghasilkan 1108 ton/tahun dan Pisang mampu menghasilkan 324 ton/tahun.

Potensi perkebunan di Kabupaten Lingga didominasi oleh komoditas karet yang luas lahannya mencapai 10.199,50 Ha dengan produksi yang dihasilkan seluruhnya adalah 4.127 Ton pada tahun 2015. Potensi perkebunan lainnya yang menjadi unggulan yaitu Sagu dengan luas lahan perkebunan mencapai 3.449 Ha dengan hasil produksi perkebunan seluruhnya sebanyak 2.618 Ton/ Tahun. Kemudian Kelapa dengan luas lahan perkebunan mencapai 2.694 Ha dengan hasil produksi perkebunan kelapa sebanyak 1.290,6 Ton.. Pada tahun 2013 pemerintah Kabupaten Lingga juga mulai mengembangkan tanaman Lada. Luas lahan yang telah digunakan sampai tahun 2015 seluas 148,5 Ha dan telah berproduksi sebesar 43,8 ton/

tahun. Tanaman lada terutama lada hitam saat ini menjadi primadona di Kabupaten Lingga mengingat nilai jual nya yang tinggi beriksar antara Rp. 150.000 – Rp. 190.000/ Kg. Dan saampai sekarang kebanyakan lahan milik masyarakat telah berubah fungsi menjadi perkebunan lada hitam (sahang).

Potensi peternakan juga memiliki peluang pengembangan yang cukup besar di Kabupaten Lingga. Pada tahun 2015, populasi ternak sapi dan kambing telah dihasilkan 1.958 ekor sapi dan 896 ekor kambing dan telah tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Lingga. Untuk jenis ternak kecil/unggas yaitu ayam kampung, ayam buras dan itik, populasinya menyebar diseluruh kecamatan dengan rincian populasi ayam kampung sebanyak 116.682 ekor, ayam buras dan itik sebanyak 1.548 ekor itik, sedangkan ayam ras pedaging populasinya sebanyak 35.850 ekor, ayam ras petelur sebanyak 6.500 ekor.

Untuk potensi Potensi perikanan di Kabupaten Lingga didominasi oleh perikanan laut, baik itu penangkapan maupun budidaya laut (keramba jaring apung). Sektor perikanan laut merupakan sektor andalan di Kabupaten Lingga. Pada tahun 2012 sebesar 32.100 ton meningkat lagi pada tahun 2013 menjadi 33.214. Tahun 2014, produksi Penangkapan sebanyak 33.396 ton. Nilai produksi pada tahun 2011 sebesar Rp 466.846.708 dan meningkat pada tahun 2012 menjadi Rp 963.000.000 meningkat lagi pada tahun 2013

Gambar

Tabel T.II-6
Tabel diatas menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peranan yang sangat besar  dalam  penciptaan  nilai  tambah  pada  perekonomian  Kabupaten  Lingga  dalam  kurun  waktu  empat  tahun  terakhir,  dengan  kontribusi  diatas  2%,  namun  memiliki  kec
Grafik Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Lingga dan  Provinsi Kepulauan Riau, 2010-2014 (Tahun)
Grafik Harapan Lama Sekolah Kabupaten Lingga dan  Provinsi Kepulauan Riau, 2010-2014 (Tahun)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pada analisis ini akan dibahas bagaimana menentukan banyaknya produksi kemasan dalam satu contoh kategori “Food and Drink” oleh perusahaan Berlina Tbk. Produksi

Hasil perhitungan level sinyal penginterferensi yang diperbolehkan serta jarak proteksi antara kedua sistem diberikan pada Tabel 4, untuk daya pemancar BTS WSD sebesar 58

Biasanya obyek yang diamati dalam suatu penelitian sangat banyak. Setelah melakukan Biasanya obyek yang diamati dalam suatu penelitian sangat banyak. Setelah melakukan  pengamatan,

Hubungan Good Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan Dengan Kinerja keuangan (Studi Kasus pada Perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta).. Corporate

Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis penggunaan yang menjadi prioritas dalam perencanaan dan pengadaannya di Apotek “D” Badung pada penyakit

Pendugaan area dengan domain yang lebih kecil secara langsung relati memiliki ketelitian yang cukup buruk bila sampel yang digunakan relatif kecil, sehingga

Bagi kapal yang belum memiliki tank table yang telah disahkan oleh fungsi Planning & Ship Performance (PSP) Pertamina, maka peserta pengadaan wajib untuk mendapatkan

permohonan diajukan kepada Kepala SKPD atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja setelah SKPDKB atau SKPDKBT BPHTB sebagaimana