• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL SYSTEM DINAMICS DAMPAK PENAMBANGAN PASIR LAUT TERHADAP KUALITAS AIR LAUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODEL SYSTEM DINAMICS DAMPAK PENAMBANGAN PASIR LAUT TERHADAP KUALITAS AIR LAUT"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL SYSTEM DINAMICS DAMPAK PENAMBANGAN PASIR LAUT TERHADAP KUALITAS AIR LAUT

1. MASALAH PERMODELAN (PROBLEM FORMULATION)

Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan ekosistem yang memiliki potensi sumber daya yang sangat besar. Sumber daya yang terdapat di dalamnya antara lain adalah sumber daya hayati, sumber daya non hayati, sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan. Salah satu kabupaten yang mempunyai wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah Kabupaten Serang. Kabupaten Serang merupakan salah satu dari enam kabupaten/kota di Provinsi Banten, yang terletak di ujung barat bagian utara Pulau Jawa dan merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa dengan jarak 70 km dari ibu kota negara. Secara geografis, wilayah Kabupaten Serang terletak pada koordinat 5º 50'– 6º 2' LS dan 105º 7'– 106º 22' BT.

Wilayah pesisir Kabupaten Serang mempunyai panjang garis pantai 120 km. Perairan ini di sebelah utara berbatasan dengan perairan Laut Jawa dan di sebelah barat berbatasan dengan perairan Selat Sunda. Kekayaan alam laut dan sumber daya pesisir yang dimiliki wilayah ini antara lain berupa sumber daya perikanan, sumber daya hayati seperti mangrove (hutan bakau), terumbu karang, padang lamun, termasuk bahan tambang lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu bahan tambang yang memiliki nilai ekonomis dan saat ini dilakukan eksploitasi dalam jumlah yang cukup besar di perairan ini adalah pasir laut.

Menurut Prihantono et al. (2016) tingginya potensi pasir laut dikarenakan wilayah ini berada pada pertemuan Selat Karimata dan Selat Sunda yang membawa sedimen-sedimen dari daerah sekitar selat tersebut. Banyaknya sungai besar yang bermuara di pantai utara Kabupaten Serang juga menjadikan perairan di pesisir Kabupaten Serang memiliki sedimentasi yang tinggi. Oleh karena itu maka sebaran ketebalan pasir laut di Kabupaten Serang berkisar antara 0,5 –13,8 meter. Menurut Saraswati (2005), Kabupaten Serang memiliki potensi cadangan stok pasir laut layak tambang mencapai 3.7 miliar m3. Fauzi (2003) menyatakan deposit pasir laut di wilayah perairan laut utara Kabupaten Serang sebesar ± 2,5 milyar m3, potensi ini aman diambil maksimal 15 % (± 375 juta m3).

(2)

mencakup ~ 5000 ha dengan jarak minimum dari garis pantai adalah 2 Mil pada kedalaman air 10 m. Disebutkan juga dalam peraturan bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) harus dilakukan terlebih dahulu sebelum proyek penambangan. Karena nilai ekonomi pasir laut yang tinggi, maka pada tahun 2008 peraturan tersebut telah diperbarui melalui Peraturan Bupati No.8 tahun 2008 tentang Zonasi Wilayah Pesisir Untuk Penambangan Pasir Laut. Pada tahun 2013, peraturan ini kembali diperbarui dengan Peraturan Bupati No. 2 Tahun 2013 tentang Zonasi Wilayah Pesisir dan Laut Kabupaten Serang. Dalam aturan terbaru, areal penambangan pasir laut seluas 31.508,7 ha dengan ketebalan pasir 2 m diperbolehkan untuk ditambang. Wilayah penambangan pasir laut di Kabupaten Serang mencakup hampir seluruh perairan laut dalam di Serang Utara (Husrin, et al., 2014). Berikut ini adalah tabel jumlah IUP OP yang telah diterbitkan oleh Pemerintah Daerah kabupaten Serang dan Pemerintah Provinsi Banten di Teluk Banten pada tabel 1.1 :

Tabel 1.1 Jumlah Perusahaan yang telah memiliki IUP OP Tahun Perusahaan yang Memiliki IOP OP

2010 60

2011 63

2012 67

Sumber : Dinas ESDM Provinsi Banten

Penambangan pasir laut dapat meningkatkan kekeruhan perairan sering disebut berupa parameter Total Solid Suspended (TSS), akibat pengadukan sedimen dasar laut.

Peningkatan kekeruhan berpengaruh pada pada biota laut lainnya karena menyebabkan kematian telur dan larva karena hilangnya sedimen habitat mereka, serta ikan dan udang mengalami kesulitan untuk bernafas (Mukhtasor, 2007). Berikut ini data tingkat kekeruhan (TSS) di perairan Teluk Banten pada tabel 1.2 :

Tabel 1.2 Tingkat Kekeruhan di Teluk Banten

Tahun Jumlah Padatan Tersuspensi (TSS)

2010 82,3

2011 82,5

2012 83

Sumber : DLHK Provinsi Banten

(3)

Kekeruhan di perairan Teluk Banten yang telah melampaui baku mutu dapat menimbulkan pengaruh pada proses fotosintesis fitoplankton di perairan, sehingga dapat menghambat pertumbuhannya dan juga berpengaruh pada biota lainnya seperti diketahui bahwa fitoplankton adalah produktivitas primer suatu siklus kehidupan di lingkungan laut.

Kekeruhan juga berpengaruh pada biota di Perairan Teluk Banten lainnya karena menyebabkan kesulitan untuk bernafas. Kondisi tersebut menyebabkan ikan mati atau bermigrasi ke tempat lain. Berkurangnya ikan berpengaruh pada hasil tangkapan nelayan.

Aktivitas penambangan pasir laut dapat dipertimbangkan untuk dihentikan sementara karena telah meningkatkan TSS perairan Teluk Banten hingga melampaui ambang batas baku mutu lingkungan (Ernas et al. 2018).

2. TUJUAN PERMODELAN

Tujuan dari permodelan sistem dinamis ini untuk melihat pengaruh penambangan pasir laut terhadap penurunan kulitas air yang mempengaruhi produktivitas primer sehingga jumlah tangkapan nelayan di Perairan pulau Tunda.

3. DIAGRAM SIMPAL KAUSAL ATAU CAUSAL LOOP DIAGRAM (CLD) Berdasarkan permasalahan yang ada, maka ditentukan variabel-variabel utama dalam untuk pemodelan system dynamics atas IUP tambang pasir laut, produksi pasir laut, dan kualitas air laut di Pulau Tunda yaitu:

1. Populasi penduduk Pulau Tunda, 2. Nelayan Pulau Tunda,

3. IUP Tambang Pasir Laut, 4. Produksi Pasir Laut, 5. Kualitas Air Laut, 6. Produktivitas Primer, 7. Pendapatan Nelayan.

Pengendalian populasi penduduk adalah stok yang menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan jumlah nelayan di Pulau Tunda. Keberadaan nelayan di suatu wilayah akan berdampak pada volume produksi hasil tangkapan ikan di wilayah tersebut. Di samping profesi mayoritas masyarakatnya sebagai nelayan, Pulau Tunda yang termasuk dalam salah satu Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) di Provinsi Banten, menjadikan terdapat sebagian masyarakat Pulau Tunda yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Dengan

(4)

lingkungan seperti penurunan kualitas air laut yang bisa berdampak pada turunnya hasil tangkapa nelayan Pulau Tunda sehingga pada akhirnya berpotensi mereduksi mata pencaharian utama masyarakat Pulau Tunda sebagai nelayan.

Gambar 3.1 Causal Loop Diagram Penambangan Pasir Laut

Pada Gambar 3.1 menunjukkan pola mendasar yang dapat dilihat dari satu struktur wilayah pada kaitan antara jumlah penduduk dan kualitas air laut perairan Pulau Tunda memiliki peranan yang sangat penting dalam keberlanjutan aktivitas penangkapan ikan di wilayah tersebut. Dari permodelan di atas beberapa variabel disusun berdasarkan latar belakang dan tujuan permodelan. Variabel-variabel tersebut adalah: jumlah penduduk Pulau Tunda, jumlah nelayan, jumlah tangkapan nelayan, pendapatan nelayan, produktivitas primer, kualitas air laut, IUP pasir laut, dan produksi pasir laut. Pada subsistem jumlah nelayan dapat diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk akan meningkatkan pula jumlah nelayan di Pulau Tunda. Dengan meningkatnya jumlah nelayan di Pulau Tunda diasumsikan keberlanjutan volume produksi hasil tangkapan ikan akan terjaga, sehingga dapat meingkatkan nilai produksi perikanan ataupun pendapatan nelayan Pulau Tunda itu sendiri. Di sisi lain, jumlah tangkapan ikan juga dipengaruhi oleh produktivitas primer yang mana hal tersebut sangat bergantung pada kualitas air pada perairan sekitaran Pulau Tunda. Saat ini kualitas air di perairan Pulau Tunda masih tergolong baik, sehingga produktivitas primer perairan Pulau Tunda dapat mendukung keberlanjutan penangkapan ikan di wilayah tersebut. Dengan kualitas air yang tergolong baik, hal tersebut memungkinkan adanya pemanfaatan sumber daya lain yang terdapat di

Kualitas Air laut

Produktivitas Primer

Pendapatan Nelayan

IUP Tambang Pasir laut

Jumlah Tagkapan

Nelayan Produksi Pasir

+ Laut

-

+

B1

Penduduk Pulau Tunda

Jumlah Nelayan

Kematian Kelahiran

+

+ +

+

+ -

+

+ +

B2 R3

(5)

Pulau Tunda yaitu pasir laut. Aktivitas penambangan pasir laut di Pulau Tunda diatur dalam Izin Usaha Pertambangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah .

4. DIAGRAM ALIR ATAU STOCK FLOW DIAGRAM (SFD)

Berdasarkan dari CLD yang telah dibuat maka disusunlah SFD untuk mensimulasikan perkembangan jumlah penduduk dan kualitas air laut perairan Pulau Tunda pada peranannnya dalam keberlanjutan aktivitas penangkapan ikan di perairan Pulau Tunda.

Gambar 3.2 Stok Flow Diagram Penambangan Pasir Laut

Penduduk IUP OP

Laju Kelahiran Laju Kematian Angka Kelahiran Angka Kematian Laju Pemberian IUP

OP Laju Pencabutan IUP

OP

Presentase

Pemberian IUP OP Angka Pencabutan IUP OP

Jumlah Pasir laut Laju Penambangan

Rata-rata Penambangan

Konsentrasi TSS Laju Penambahan

Konsentrasi TSS

Fraksi Peningkatan Konsentrasi

Jumlah Nelayan

Tingkat pencemaran

Perubahan Tangkapan Nelayan

Harga Ikan Pendapatan Nelayan

Angka Pasir laut Perubahan Konsentarsi

Angka Produktivitas Primer

Baku Mutu Air Laut

Presentase nelayan Deposit pasir laut

Prensetase pasir yang boleh ditambang Angka Deposit pasir

laut

Status Mutu Air Persentase pencabutan

IUP OP

Daya Dukung

Indeks Kualitas Air

Laju Pengurangan Laju Pengurangan

Konsentrasi TSS

(6)

5. ASUMSI MODEL

Pada Causal Loop Diagram yang dijelaskan sebelumnya terdapat hubungan keterkaitan beberapa variable yang cukup kompleks. Untuk menganalisa fenomena tersebut, digunakan permodelan System Dynamics. Model disusun dengan menggunakan perangkat lunak Powersim Studio 10.

Adapun untuk menyusun model digunakan inisiasi data awal sebagai berikut:

1. Data awal penduduk digunakan tahun 2010 berjumlah 1.500 orang 2. Jumlah IUP OP tahun 2014 sebanyak 60 IUP

3. Konsentrasi TSS sebesar 100 mg/L

4. Jumlah deposit air laut adalah 37.000.000 ton dengan persentase yang boleh ditambang adalah 15%

5. Laju pertumbuhan penduduk pada angka kelahiran diasumsikan 44,74356295532 jiwa 6. Laju kematian penduduk diasumsikan 22,37178147766 jiwa

7. Prosentase nelayan pada jumlah penduduk sebesar 30%

8. Pendapatan nelayan sebesar Rp 1.342.306.888,66 9. Harga ikan diasumsikan Rp 10.000/kg

10. Baku mutu TSS air laut sebesar 80 mg/L 11. Angka produktivitas primer sebesar 150 12. Prosentase pemberian IUP 0,6 %/year 13. Presentase pencabutan IUP 0,9 %/year 14. Rata-rata penambangan 1.700.000 ton/IUP

Definisi operasional dari variabel yang digunakan dalam permodelana ini adalah:

Tabel 5.1 Definisi Operasional Variabel

No Nama Variabel Definisi Operasional Satuan 1 Penduduk Jumlah penduduk Pulau Tunda Orang 2 Jumlah IUP

OP Jumlah IUP OP yang telah

diterbitkan pemerintah IUP OP

3 Konsentrasi TSS Besaran material padatan, termasuk bahan organik dan anorganik yang tersuspensi di daerah perairan Pulau Tunda

Mg/L

(7)

4 Jumlah pasir laut Besaran pasir laut yang tersedia di wilayah Pulau Tunda

Ton

5 Laju pertumbuhan

penduduk Angka yang menunjukan tingkat pertumbuhan penduduk dalam jangka waktu tertentu.

Orang/tahun

6 Prosentase nelayan dari

jumlah penduduk Jumlah nelayan yang ada disbanding dengan jumlah penduduk di Pulau Tunda

%

7 Pendapatan nelayan Besaran pendapatan nelayan dari aktivitas penangkapan ikan

Rupiah

8 Baku mutu air laut Ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut

Mg/L

9 Angka produktivitas

primer Besaran nilai kelimpahan

fitoplankton dan klorofil-a di perairan Pulau Tunda 10 Prosentase pertumbuhan

IUP

Pertambahan penerbitan IUP

setiap tahunnya %/tahun

11 Angka deposit pasir laut Besaran sedimen pasir laut di

Pulau Tunda Ton

12 Prosentase pasir yang boleh ditambang

Perbandingan antara angka pasir laut yang boleh ditambang dengan jumlah keseluruhan pasir laut yang ada

%/tahun

12 Rata-rata penambangan Nilai rata-rata penambangan pasir

laut per IUP Ton/IUP

14 Izin penambangan Durasi pemberian izin untuk

melakukan penambangan tahun

(8)

6. HASIL SIMULASI

Berikut adalah hasil simulasi dengan time step 2 tahun untuk periode 2014-2033 atau 35 tahun sejak izin penambangan pasir laut dibuka.

Gambar 6.1 Simulasi Jumlah Pasir Laut

Potensi sumber daya pasir laut yang besar perlu dikelola secara bijaksana agar tetap terjaga keberlanjutannya. Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM menerbitkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi bagi pihak-pihak yang ingin melakukan penambangan pasir di wilayah Pulau Tunda. Dalam masa berlakunya setiap aktivitas penambangan pasir laut menjadi sebuah kegiatan yang legal. Dari Gambar 3 dapat dilihat adanya pertumbuhan eksponensial jumlah pasir laut di Pulau Tunda dengan syarat pemerintah perlu membatasi jumlah penerbitan IUP OP.

Pembatasan dilakukan dengan membatasi jumlah pasir laut yang ditambang yaitu hanya 15% dari total potensi pasir laut yang ada. Selain itu juga pemerintah akan mencabut izin penambangan apabila kualitas air laut tercemar yaitu dengan meningkatnya kekeruhan melebihi baku mutu kualitas air laut.

Gambar 6.2 Simulasi IUP OP

2.010 2.020 2.030 2.040 1.000.000

1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 3.500.000 ton

Jumlah Pasir laut

Non-commercial use only!

2.010 2.020 2.030 2.040 60

80 100 120 iup

IUP OP

Non-commercial use only!

(9)

Dengan dipengaruhi angka pemberian dan pencabutan IUP OP, maka didapat grafik seperti pada Gambar 6.2 Dari gambar tersebut diketahui pola pertumbuhan eksponensial penerbitan IUP OP hingga tahun 2035, hal ini berarti Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM dapat memaksimalkan usaha pengelolaan sumber daya pasir laut di Pulau Tunda dengan menambah jumlah penerbitan IUP OP. Namun setelah tahun 2035 pemerintah perlu berhati-hati dalam pemberian IUP OP, bahkan harus menurunkan jumlah penerbitannya. Hal ini mengingat dengan semakin banyaknya IUP OP yang diterbitkan, maka aktivitas penambangan akan meningkat dimana akan berpengaruh pula pada jumlah pasir laut di masa yang akan datang.

Gambar 6.3 Simulasi Status Mutu Air

Gambar 6.3 menunjukkan hasil simulasi status mutu air dengan baku mutu air laut yang ada. Dari grafik diatas dapat diketahui nilai stagnansi status mutu air dimana berkaitan erat dengan tingkat pencemaran yang disebabkan aktivitas penambangan pasir laut di Pulau Tunda. Adanya aktivitas penambangan ini tentu tidak lepas dari penerbitan IUP OP sebagai legalitas hukum bagi pihak- pihak yang ingin melakukan aktivitas penambangan pasir laut di Pulau Tunda. Pada setelah tahun 2035 ketika IUP OP telah dibatasi penerbitannya oleh pemerintah, dapat dilihat bahwa status mutu air dapat tumbuh dengan pola pertumbuhan eksponensial. Hal ini berarti pada masa itu penduduk Pulau Tunda perlu bersiap dengan alternatif profesi lain dengan menurunnya aktivitas penambangan di wilayah tersebut.

2.0100 2.020 2.030 2.040

50 100 150

Tingkat pencemaran Baku Mutu Air Laut (mg/L)

Non-commercial use only!

(10)

Gambar 6.4 Simulasi Pendapatan nelayan

Gambar 6.4 menunjukkan hasil simulasi pendapatan nelayan dengan jumlah nelayan sebanyak 671,1534443298 jiwa, harga ikan sebesar Rp 10.000, dan perubahan nelayan sebesar 200 ton. Dari grafik diatas dapat diketahui adanya pertumbuhan eksponensial pada pendapatan nelayan yang dimulai dari tahun 2016 hingga tahun 2100. Peningkatan nilai pendapatan nelayan tersebut dapat terwujud bila kawasan perairan Pulau Tunda mampu meningkatkan hasil tangkapan ikan nelayan dengan meminimalkan tingkat pencemaran yang ada. Dengan tingkat pencemaran yang rendah maka jumlah tangkapan nelayan dapat lebih stabil.

2.010 2.020 2.030 2.040

1.000.000.000 2.000.000.000 3.000.000.000 4.000.000.000 ton*jiwa*rupiah

Pendapatan Nelayan

Non-commercial use only!

(11)

Tabel 6.1menunjukkan hasil simulasi yang cukup signifikan pada pendapatan nelayan dengan dengan adanya penambahan jumlah nelayan, harga ikan, dan perubahan tangkapan ikan.

Tahun Tingkat pencemaran Baku Mutu Air Laut (mg/L Pencabutan IUP OP (iup/Ta 2.010

2.011 2.012 2.013 2.014 2.015 2.016 2.017 2.018 2.019 2.020 2.021 2.022 2.023 2.024 2.025 2.026 2.027 2.028 2.029 2.030 2.031 2.032 2.033 2.034 2.035 2.036 2.037 2.038 2.039 2.040 2.041 2.042 2.043 2.044 2.045

0,03 14,47 27,96 40,56 52,36 63,40 73,75 83,39 92,08 100,07 107,42 114,21 120,51 126,35 131,80 136,88 141,63 146,09 150,27 154,20 157,91 161,40 164,71 167,83 170,79 173,60 176,27 178,80 181,22 183,51 183,38 183,53 183,40 183,55 183,42 183,57

80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,54 1,08 1,61 2,15 2,69 2,75 2,80 2,86 2,91 2,97 3,03 3,10 3,16 3,22 3,28 3,35 3,42 3,49 3,56 3,63 4,46 5,29 6,12 6,95 7,78 7,72 7,66 7,60 7,55 7,49

Non-commercial use only!

(12)

Tahun Jumlah Pasir laut (ton) eposit pasir laut (ton ngurangan (ton/Daya Dukung 2.010

2.011 2.012 2.013 2.014 2.015 2.016 2.017 2.018 2.019 2.020 2.021 2.022 2.023 2.024 2.025 2.026 2.027 2.028 2.029 2.030 2.031 2.032 2.033 2.034 2.035 2.036 2.037 2.038 2.039 2.040 2.041 2.042 2.043 2.044 2.045

1.000.000,00 1.061.329,04 1.125.792,45 1.193.550,42 1.264.771,34 1.339.632,18 1.418.318,98 1.500.357,12 1.582.963,28 1.667.236,09 1.753.209,18 1.840.916,85 1.930.394,10 2.021.676,63 2.114.800,87 2.209.803,97 2.306.723,85 2.405.599,16 2.506.469,38 2.609.374,73 2.714.356,30 2.821.455,95 2.930.716,44 3.042.181,36 3.155.895,17 3.271.903,27 3.390.251,92 3.510.988,37 3.634.160,78 3.759.818,30 3.751.992,28 3.760.866,14 3.753.166,37 3.761.880,18 3.754.304,64 3.762.861,28

3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00 3.750.000,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2.532,56 2.583,66 2.635,78 2.688,96 2.743,21 2.798,56 2.855,02 2.912,63 2.971,39 3.031,34 3.092,50 3.154,90 3.218,55 3.283,49 3.349,73 3.417,32 3.486,26 3.556,60 3.628,36 3.701,57 3.776,25 3.852,44 7.860,33 7.782,07 7.733,51 7.656,52 7.608,75 7.532,99 7.485,99

0,27 0,28 0,30 0,32 0,34 0,36 0,38 0,40 0,42 0,44 0,47 0,49 0,51 0,54 0,56 0,59 0,62 0,64 0,67 0,70 0,72 0,75 0,78 0,81 0,84 0,87 0,90 0,94 0,97 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 Non-commercial use only!

(13)

7. VALIDASI MODEL

Validasi model dilakukan untuk mengetahui apakah suatu model yang dibentuk mendekati atau menirukan model yang sesungguhnya. Validasi model ini dilakukan dengan cara membandingkan model data referensi aktual dengan model data hasil simulasi dalam bentuk visual dan perhitungan AME (Absolute Mean Error). Validuasi visual dilakukan dengan cara membandingkan kecenderungan antara data referensi dan simulasi. Validasi dengan menggunakan AME adalah membandingkan rataan antara referensi dan simualsi dengan menggunakan rumus AME. Apabila AME < 0.3 maka dianggap model simulasi sudah dianggap valid (Soesilo & Karuniasa, 2014).

Tahun Tingkat pencemaran Baku Mutu Air Laut (mg/L Pencabutan IUP OP (iup/Ta 2.010

2.011 2.012 2.013 2.014 2.015 2.016 2.017 2.018 2.019 2.020 2.021 2.022 2.023 2.024 2.025 2.026 2.027 2.028 2.029 2.030 2.031 2.032 2.033 2.034 2.035 2.036 2.037 2.038 2.039 2.040 2.041 2.042 2.043 2.044 2.045

0,03 14,47 27,96 40,56 52,36 63,40 73,75 83,39 92,08 100,07 107,42 114,21 120,51 126,35 131,80 136,88 141,63 146,09 150,27 154,20 157,91 161,40 164,71 167,83 170,79 173,60 176,27 178,80 181,22 183,51 183,38 183,53 183,40 183,55 183,42 183,57

80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,54 1,08 1,61 2,15 2,69 2,75 2,80 2,86 2,91 2,97 3,03 3,10 3,16 3,22 3,28 3,35 3,42 3,49 3,56 3,63 4,46 5,29 6,12 6,95 7,78 7,72 7,66 7,60 7,55 7,49

Non-commercial use only!

(14)

Validasi hasil simulasi penduduk dengan menggunakan absolute mean square error juga menunjukkan nilai yang sangat baik sesuai dengan data yang dimiliki oleh BPS dimana nilai mean square error hanya di bawah 1% dan korelasi hingga 0.9 yang menunjukkan bahwa model ini valid untuk digunakan.

Rata-rata antara hasil simulasi dan referensi untuk masing-masing data akan digunakan dalam perhitungan nilai AME untuk keperluan validasi ditunjukkan pada table 7.1 dan 7.2:

Tabel 7.1 Validasi Jumlah Penduduk Pulau Tunda

Tahun Aktual (BPS) Prediksi AME

2012 868.090 868.090 0,0000

2013 871.991 871.302 -0,0008

2014 875.615 874.526 -0,0012

2015 879.027 877.762 -0,0014

2016 882.090 881.009 -0,0012

Tabel 7.2 Validasi Jumlah IUP OP

Tahun Jumlah IUP

OP Referensi Jumlah IUP OP Simulasi

2010 60,00 60,00

2011 63,00 63,07

2012 67,00 66,29

Rata-

rata 63,33 63,12

AME 0,34%

8. SIMULASI BUSINESS AS USUAL (BAU)

Pada scenario ini pemerintah tidak memberikan kebijakan apa-apa terkait penambangan pasir.

Akibatnya jumlah IUP terus naik secara signifikan sehingga kualitas air semakin tercemar dengan meningkatnya sedimentasi. Pembatas hanya dilakukan pada jumlah pasir yang boleh ditambang yaitu 15%. Hasil simulasi sebagai berikut:

(15)

Tabel 7.2 Simulasi BAU

Tahun IUP OP (iup) ngkat pencemarumlah Pasir laut (ton 2.010

2.011 2.012 2.013 2.014 2.015 2.016 2.017 2.018 2.019 2.020 2.021 2.022 2.023 2.024 2.025 2.026 2.027 2.028 2.029 2.030 2.031 2.032 2.033 2.034 2.035 2.036 2.037 2.038 2.039 2.040 2.041 2.042 2.043 2.044 2.045

60,00 63,07 66,29 69,68 73,24 76,98 80,92 85,05 89,40 93,97 98,77 103,82 109,12 114,70 120,56 126,72 133,20 140,01 147,16 154,68 162,59 170,90 179,63 188,81 198,46 208,61 219,27 230,48 242,25 254,64 267,65 281,33 295,71 310,82 326,70 343,40

0,03 14,47 27,96 40,56 52,36 63,40 73,75 83,46 92,58 101,15 109,20 116,78 123,91 130,62 136,95 142,92 148,55 153,86 158,88 163,61 168,09 172,32 176,32 180,10 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68 183,68

1.000.000,00 1.061.329,04 1.125.792,45 1.193.550,42 1.264.771,34 1.339.632,18 1.418.318,98 1.501.027,27 1.587.962,57 1.679.340,92 1.775.389,39 1.876.346,66 1.982.463,61 2.094.003,93 2.211.244,80 2.334.477,56 2.464.008,45 2.600.159,34 2.743.268,57 2.893.691,75 3.051.802,69 3.217.994,29 3.392.679,54 3.576.292,51 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 3.769.289,49 Non-commercial use only!

(16)

Dengan pola perilaku untuk simulasi BAU pada gambar 8.1 sebagai berikut

Gambar 8.1 Simulasi BAU

2.010 2.020 2.030 2.040 100

150 200 250 300 350 iup

IUP OP

Non-commercial use only!

2.010 2.020 2.030 2.040 1.000.000

1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 3.500.000 ton

Jumlah Pasir laut

Non-commercial use only!

2.0100 2.020 2.030 2.040

50 100 150

Tingkat pencemaran Baku Mutu Air Laut (mg/L)

Non-commercial use only!

(17)

9. SIMULASI SKENARIO KE DEPAN Skenario 1

Jika kualitas perairan tercemar dimana sedimentasi diatas 80 mg/L dan jumlah penambangan pasir telah melebihi kapasitas 15% dari jumlah deposit maka pemerintah Daerah dalam hal ini melakukan pencabutan izin sebanyak 50%. Berikut Gambar 9.1 Simulasi untuk skenario 1

2.0100 2.020 2.030 2.040 30

60 iup

IUP OP

Non-commercial use only!

2.010 2.020 2.030 2.040 1.000.000

1.100.000 1.200.000 1.300.000 1.400.000 1.500.000 ton

Jumlah Pasir laut

Non-commercial use only!

2.0100 2.020 2.030 2.040

20 40 60 80

Tingkat pencemaran Baku Mutu Air Laut (mg/L)

(18)

Dapat dilihat bahwa pencabutan izin belum siginifikan memperbaiki kualitas air laut Skenario 2

Dengan menetapkan pengurangan kapasitas pasir yang dapat ditambang menjadi 8,5% dari deposit dan mencabut izin 50% IUP maka kualitas lingkungan dalam hal ini kulitas air laut dapat kembali pulih

Gambar 9.2 Simulasi Skenario 2

2.0100 2.020 2.030 2.040 50

100 iup

IUP OP

Non-commercial use only!

2.010 2.020 2.030 2.040 1.000.000

1.500.000 2.000.000 ton

Jumlah Pasir laut

Non-commercial use only!

2.0100 2.020 2.030 2.040

30 60

Tingkat pencemaran Baku Mutu Air Laut (mg/L)

Non-commercial use only!

(19)

10. KESIMPULAN

a. Berdasarkan hasil permodelan yang telah disusun dalam tulisan maka diperoleh kesimpulan bahwa pemberian izin usaha (IUP OP) terhadap penambangan pasir akan meningkatkan jumlah kekeruhan (TSS) yang menyebabkan kualitas air tercemar.

b. Perlu skenario kebijakan yang paling tepat dengan membatasi jumlah pasir yang dapat ditambang dan mencabut izin usaha bagi yang melanggar baku mutu kualitas air laut untuk perusahaan yang telah memiliki IUP OP.

11. KEPUSTAKAAN

Wahyudi, W., Riani, E., & Anwar, S. (2018). Strategi Pengelolaan Penambangan Pasir Laut Yang Berkelanjutan (Studi Kasus Pulau Tunda, Provinsi Banten). Jurnal Ilmu Dan Teknologi Kelautan Tropis, 10(2), 277–289.

Ernas, Z., Thayib, M., & Pranowo, W. (2018). Pengaruh Penambangan Pasir Laut Terhadap Kekeruhan Perairan Teluk Banten Serang. Jurnal SEGARA, 12(1), 1–63.

Fauzi, Akhmad. 2006. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Teori dan Aplikasi.

Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Rahmawan, G., Husrin, S., & Prihantono, J. (2017). Analisa Perubahan B athimetri Di Perairan Kabupaten Serang Akibat Penambangan Pasir Laut. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Kelautan Tropis, 9(1), 45–55.

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Inhibitory Concentration dan Minimum Bactericidal Concentration Ekstrak Polyphenol Biji Kakao (Theobrema cacao L) Terhadap Streptococcus mutans”.. adalah benar hasil

Maka dari itu, dilakukannya penelitian yang berlokasi di Selat Makassar, dimana Selat Makasar menjadi lintasan arus laut dari Samudra Pasifik Barat (utara) ke Samudra

Analisis data dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh sumber belajar ( variabel X ) terhadap minat belajar siswa ( variabel Y ) pada mata pelajaran Bahasa

Problem Based Learning dengan pendekatan Active Knowledge Sharing adalah gabungan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa lebih banyak aktif dalam

Rumah sakit secara rutin memberikan pendidikan pada area yang berisiko tinggi bagi pasien Pasien dan keluarga didorong untuk berpartisipasi dalam proses pelayanan dengan memberi

dan tranplantasi paru merupakan opsi bedah yang dapat dipertimbangkan pada pasien dengan PPOK yang sangat berat. 6u#ukan kepada spesialis bedah thora2 diindikasikan untuk

Sebuah film yang berbau illuminati dapat dilihat dari perusahaan yang memproduksi film tersebut, sekilas memang rumah produksi atau production house

Pada pengujian diketahui bahwa penerapan skenario variasi jumlah node berpengaruh terhadap kinerja protokol routing yang digunakan yaitu average throughput, average