9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Covid-19 2.1.1 Definisi Covid-19
Virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (sars-cov-2) adalah virus yang menyerang system pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut covid-19. Virus corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian (m. Cristy pane, 2020).
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (sars-cov-2) yang lebih dikenal dengan virus corona jenis baru yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia, orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui (M. Cristy Pane, 2020).
Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia) (M. Cristy Pane, 2020).
2.1.2 Manifestasi Klinis Covid-19
Gejala awal infeksi virus corona atau covid-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala.
Setelah itu gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Secara umum, ada 3 gejala yang bisa menandakan seseorang terinfeksi covid-19, yaitu:
1. Demam 2. Batuk kering 3. Sesak napas
Ada beberapa gejala lain yang juga bisa muncul pada infeksi covid-19 meskipun jarang, yaitu :
1. Diare 2. Sakit kepala 3. Konjungtivitis
4. Hilangnya kemampuan mengecap rasa
5. Hilangnya kemampuan untuk mencium bau (anosmia) 6. Ruam di kulit
Gejala-gejala covid-19 ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah penderita terpapar virus. Sebagian pasien mengalami penurunan oksigen tanpa adanya gejala apapun. Kondisi ini disebut happy hypoxia (M. Cristy Pane, 2020)
2.1.3 Penularan Covid-19
Virus corona merupakan zoonosis, sehingga terdapat kemungkinan virus berasal dari hewan dan ditularkan ke manusia. Pada covid-19 belum diketahui dengan pasti proses penularan dari hewan ke manusia, tetap data filogenetik memungkinkan covid-19 juga merupakan zoonosis. Perkembangan data selanjutnya menunjukkan penularan antar manusia (human to human), yaitu diprediksi melalui droplet dan kontak dengan virus yang dikeluarkan dalam droplet. Hal ini sesuai dengan kejadian penularan kepada petugas kesehatan yang merawat pasien covid-19, disertai bukti lain penularan di luar cina dari seorang yang dating dari shanghai, cina ke jerman dan diiringi penemuan hasil positif pada orang yang ditemui dalam ruangan. Pada laporan kasus ini bahkan dikatakan penularan terjadi pada saat kasus indeks belum mengalami gejala (asimtomatik) atau masih dalam masa inkubasi. Laporan lain
mendukung penularan antar manusia adalah laporan 9 kasus penularan langsung antar manusia di luar cina dari index ke orang kontak erat yang tidak memiliki riwayat perjalanan manapun (Liu et al., 2020)
Penularan ini terjadi umumnya melalui droplet dan kontak dengan virus kemudian virus dapat masuk ke dalam mukosa yang terbuka. Suatu analisis mencoba mengukur laju penularan berdasrkan masa inkubasi, gejala dan durasi antara gejala dengan pasien yang di isolasi. Analisis tersebut mendapatkan hasil penularan dari 1 pasien ke sekitar 3 orang di sekitarnya, tetapi kemungkinan penularan di masa inkubasi menyebabkan masa kontak pasien ke orang sekitar lebih lama sehingga resiko jumlah kontak tertular dari 1 pasien mungkin dapat lebih besar (Liu et al., 2020)
2.1.4 Konsep Penularan Covid-19 2.1.4.1 Definisi Penularan
Penyakit menular merupakan penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain, baik secara langsung maupun melalui perantara atau tidak langsung). Penyakit menular (comunicable diseasse) adalah penyakit yang disebabkan oleh transmisi infectius agent/produk toksinnya dari seseorang/reservoir ke orang lain/susceptable host (Putra et al., 2020).
Sumber utama infeksi adalah para pasien covid-19 pembawa (carrier) ncov-2019 baik bergejala ataupun tidak bergejala (asimptomatik) juga berpotensi menjadi sumber infeksi (Edy, 2020). Akan tetapi pada saaat ini ada bukti terbaru mengenai transmisi sars-cov-2 bahkan dengan gejala minimal atau individu tanpa gejala (Germas et al., 2020). Sampai saaat ini jalan penularan transmisi sarscov-2 tampaknya beragam (Putra et al., 2020).
2.1.4.2 Macam-Macam Transmisi Penularan Covid-19 a. Transmisi kontak dan droplet
Transmisi sars-cov-2 dapat terjadi melalui kontak langsung, kontak tidak langsung, atau kontak erat dengan orang yang terinfeksi melalui sekresi seperti air liur dan sekresi saluran pernapasan atau droplet saluran napas yang keluar saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau menyanyi.
Transmisi droplet saluran napas dapat terjadi ketika seseorang melakukan kontak erat (berada dalam jarak 1 meter) dengan orang terinfeksi yang mengalami gejala-gejala pernapasan (seperti batuk atau bersin) atau yang sedang berbicara atau menyanyi; dalam keadaankeadaan ini, droplet saluran napas yang mengandung virus dapat mencapai mulut, hidung, mata orang yang rentan dan dapat menimbulkan infeksi.
b. Transmisi melalui udara
Transmisi melalui udara didefinisikan sebagai penyebaran agen infeksius yang diakibatkan oleh penyebaran droplet nuclei (aerosol) yang tetap infeksius saat melayang di udara dan bergerak hingga jarak yang jauh.
Transmisi sars-cov-2 melalui udara dapat terjadi selama pelaksanaan prosedur medis yang menghasilkan aerosol (prosedur yang menghasilkan aerosol).
Proses normal bernapas dan berbicara menghasilkan aerosol yang diembuskan. Oleh karena itu, orang lain rentan menghirup aerosol dan dapat menjadi terinfeksi jika aerosol tersebut mengandung virus dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan infeksi pada orang yang menghirupnya. Sebuah model eksperimen lain menemukan bahwa orang yang sehat dapat menghasilkan aerosol dengan cara batuk dan berbicara, dalam ruangan yang padat mengindikasikan kemungkinan transmisi aerosol, yang disertai transmisi droplet, misalnya pada saat latihan paduan suara , di restoran, atau kelas kebugaran.
dalam kejadian-kejadian ini, kemungkinan terjadinya transmisi aerosol dalam jarak dekat, terutama di lokasilokasi dalam ruangan tertentu seperti ruang yang padat dan tidak berventilasi cukup di mana orang yang terinfeksi berada dalam waktu yang lama.
c. Transmisi fomit
Sekresi saluran pernapasan atau droplet yang dikeluarkan oleh orang yang terinfeksi dapat mengontaminasi permukaan dan benda, sehingga terbentuk fomit (permukaan yang terkontaminasi). Virus dan/atau sars-cov-2 yang hidup dapat ditemui di permukaanpermukaan tersebut selama berjam-jam hingga berhari-hari, tergantung lingkungan sekitarnya (termasuk suhu dan kelembapan) dan jenis permukaan (Germas et al., 2020) Kemudian sesorang dapat terpapar virus covid-19 ini dari orang lain yang sudah terinfeksi virus. Virus penyakit ini menyebar dari orang ke orang melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut yang dikeluarkan ketika orang yang sudah terpapar virus covid-19 batuk, bersin atau berbicara.
Orang lain dapat terkena covid-19 jika mereka menghirup tetesan-tetesan ini dari seseorang yang terinfeksi virus._tetesan ini dapat mendarat di benda dan permukaan di sekitar orang seperti meja, gagang pintu, dan pegangan tangan. Orang dapat terinfeksi dengan menyentuh benda atau permukaan ini, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut mereka. Inilah sebabnya mengapa penting untuk mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air atau membersihkannya dengan mengguanakan alkohol (Germas et al., 2020).
2.1.4.3 Akibat Tertular Covid-19
Akibat terpapar virus covid-19 ini pada awal penularan lebih menunnjukkan gejala yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah gejala yang sangat ringan seperti demam yang lebih dari 38 derajat celcius, kemudian disertai dengan batuk dan sesak nafas, bahkan bisa menyebabkan kematian
karena virus corona dapat meybabkan infeksi pada saluran pernapasan. Dalam hal ini yang menjadi sorotan utama dalam pemnularan ini yaitu pada kelompok- kelompok yang sangat bersiko tinggi terinfeksi virus corona antar lain kelompok lansia, penderita penyakit kronis, perokok danpenghisap vape, kemudian kaum pria yang memiliki golongan darah a (Germas et al., 2020).
2.1.5 Anamnesis dan Pemeriksaan Penunjang Covid-19
Untuk menentukan apakah pasien terinfeksi virus corona, perlu ditanyakan gejala yang dialami pasien dan apakah pasien baru saja bepergian atau tingal di daerah yang memiliki kasus infeksi virus corona sebelum gejala muncul, dan apakah pasien pernah kontak dengan orang yang menderita atau diduga covid-19. Guna memastikan diagnosis covid-19, pasien akan dilakukan pemeriksaan sebagai berikut (M. Cristy Pane, 2020) :
1. Rapid test untuk mendeteksi antibody (igm dan igg) yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus corona.
2. Swab test atau tes pcr (polymerasi chain reaction) untuk mendeteksi virus corona didalam dahak.
3. Ct scan atau rontgen dada untuk mendeteksi infiltrate atau cairan di paru - paru.
2.1.6 Penatalaksanaan Covid-19
Prinsip tatalaksana secara keseluruhan menurut rekomendasi who yaitu:
triase: identifikasi pasien segera dan pisahkan pasien dengan severe acute respiratory infection (sari) dan dilakukan dengan memperhatikan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (ppi) yang sesuai, terapi suportif dan monitor pasien, pengembalian contoh uji untuk diagnosis laboratorium, tata laksana secepatnya pasien dengan hipoksemia atau gagal nafas dan acute respiratory distress syndrome (ards), syok sepsis dan kondisi kritis lainnya (World Health Organization, 2020)
Hingga saat ini tidak ada terapi spesifik anti virus ncov 2019 dan anti virus corona lainnya. Tatalaksana utama pada pasien adalah terapi suportif disesuaikan kondisi pasien, terapi cairan adekuat sesuai kebutuhan, terapi oksigen yang sesuai derajat penyakit mulai dari penggunaan kanul oksigen, masker oksigen. Bila dicurigai terjadi infeksi ganda diberikan antibiotika spectrum luas. Bila terdapat perburukan klinis atau penurunan kesadaran pasien akan dirawat di ruang isolasi intensif (icu) (World Health Organization, 2020)
Salah satu yang harus diperhatikan pada tatalaksana adalah pengendalian komorbid. Dari gambaran klinis pasien covid-19 diketahui komorbid berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas. Komorbid yang diketahui berhubungan dengan luaran pasien adalah usia lanjut, hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular dan penyakit serebrovaskular (World Health Organization, 2020)
2.1.7 Pencegahan Covid-19
Pencegahan utama adalah membatasi mobilisasi orang yang beresiko hingga masa inkubasi. Pencegahan lain adalah meningkatkan daya tahan tubuh melalui asupan makanan sehat, memperbanyak cuci tangan, menggunakan masker bila berada di daerah beresiko atau padat, melakukan olahrga, istirahat cukup serta makanan yang dimasak hingga matang dan bila sakit segera ke rs rujukan untuk dievaluasi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020)
Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk pencegahan primer.
Pencegahan sekunder adalah menghentikan proses pertumbuhan virus, sehingga pasien tidak lagi menjadi sumber infeksi. Upaya pencegahan yang penting termasuk berhenti merokok untuk mencegah kelainan parenkim paru (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020)
Pencegahan pada petugas kesehatan juga harus dilakukan dengan cara memperhatikan penempatan pasien di ruang rawat atau ruang intensif isolasi.
Pengendalian infeksi di tempat layanan kesehatan pasien terduga di ruang instalasi gawat darurat (igd) isolasi serta mengatur alur pasien masuk dan
keluar. Pencegahan terhadap petugas kesehatan dimulai dari pintu pertama pasien termasuk triase. Pada pasien yang mungkin mengalami infeksi covid-19 petugas kesehatan perlu menggunakan apd standar untuk penyakit menular.
Kewaspadaan standar dilakukan rutin menggunakan apd termasuk masker untuk tenaga medis (n95), proteksi mata, sarung tangan dan gaun panjang (gown) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020)
2.1.8 Patofisiologi Covid-19
Virus dapat melewati membran mukosa, terutama mukosa nasal dan laring, kemudian memasuki paru-paru melalui traktus respiratorius.
Selanjutnya, virus akan menyerang organ target yang mengekspresikan angiotensin converting enzyme 2 (ace2), seperti paru-paru, jantung, system renal dan traktus gastrointestinal (Germas et al., 2020)
Protein s pada sars-cov-2 memfasilitasi masuknya virus corona ke dalam sel target. Masuknya virus bergantung pada kemampuan virus untuk berikatan dengan ace2, yaitu reseptor membrane ekstraseluler yang diekspresikan pada sel epitel, dan bergantung pada priming protein s ke protease selular (Susilo et al., 2020).
Protein s pada sars-cov-2 dan sars-cov memiliki struktur tiga dimensi yang hampir identik pada domain receptor-binding. Protein s pada sars-cov memiliki afinitas ikatan yang kuat dengan ace2 pada manusia. Pada analisis lebih lanjut, ditemukan bahwa sars-cov-2 memiliki pengenalan yang lebih baik terhadap ace2 pada manusia dibandingkan dengan sars-cov (Germas et al., 2020)
Periode inkubasi untuk covid19 antara 3-14 hari. Ditandai dengan kadar leukosit dan limfosit yang masih normal atau sedikit menurun, serta pasien belum merasakan gejala. Selanjutnya, virus mulai menyebar melalui aliran darah, terutama menuju ke organ yang mengekspresikan ace2 dan pasien mulai merasakan gejala ringan. Empat sampai tujuh hari dari gejala awal, kondisi pasien mulai memburuk dengan ditandai oleh timbulnya sesak, menurunnya
limfosit, dan perburukan lesi di paru. Jika fase ini tidak teratasi, dapat terjadi acute respiratory distress syndrome(arsd), sepsis, dan komplikasi lain. Tingkat keparahan klinis berhubungan dengan usia (di atas 70 tahun), komorbiditas seperti diabetes, penyakit paru obstruktif kronis (ppok), hipertensi, dan obesitas (Germas et al., 2020).
Sistem imun innate dapat mendeteksi rna virus melalui rig-ilike receptors, nod-like receptors, dan toll-like receptors. Hal ini selanjutnya akan menstimulasi produksi interferon (ifn), serta memicu munculnya efektor anti viral seperti sel cd8+, sel natural killer (nk), dan makrofag. Infeksi dari betacoronavirus lain, yaitu sars-cov dan mers-cov, dicirikan dengan replikasi virus yang cepat dan produksi ifn yang terlambat, terutama oleh sel dendritik, makrofag, dan sel epitel respirasi yang selanjutnya diikuti oleh peningkatan kadar sitokin proinflamasi seiring dengan progres penyakit (Germas et al., 2020).
Infeksi dari virus mampu memproduksi reaksi imun yang berlebihan pada inang. Pada beberapa kasus, terjadi reaksi yang secara keseluruhan disebut
“badai sitokin”. Badai sitokin merupakan peristiwa reaksi inflamasi berlebihan dimana terjadi produksi sitokin yang cepat dan dalam jumlah yang banyak sebagai respon dari suatu infeksi. Dalam kaitannya dengan covid-19, ditemukan adanya penundaan sekresi sitokin dan kemokin oleh sel imun innate dikarenakan blokade oleh protein non-struktural virus. Selanjutnya, hal ini menyebabkan terjadinya lonjakan sitokin proinflamasi dan kemokin (il-6, tnfα, il-8, mcp-1, il-1 β, ccl2, ccl5, dan interferon) melalui aktivasi makrofag dan limfosit. Pelepasan sitokin ini memicu aktivasi sel imun adaptif seperti sel t, neutrofil, dan sel nk, bersamaan dengan terus terproduksinya sitokin proinflamasi. Lonjakan sitokin proinflamasi yang cepat ini memicu terjadinya infiltrasi inflamasi oleh jaringan paru yang menyebabkan kerusakan paru pada bagian epitel dan endotel. Kerusakan ini dapat berakibat pada terjadinya ards dan kegagalan multi organ yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (Germas et al., 2020)
Seperti diketahui bahwa transmisi utama dari sars-cov-2 adalah melalui droplet. Akan tetapi, ada kemungkinan terjadinya transmisi melalui fekal-oral.
Penelitian oleh (Edy, 2020) menunjukkan bahwa dari 73 pasien yang dirawat karena covid19, terdapat 53,42% pasien yang diteliti positif rna sars- cov-2 pada fesesnya. Bahkan, 23,29% dari pasien tersebut tetap terkonfirmasi positif rna sars- cov-2 pada fesesnya meskipun pada sampel pernafasan sudah menunjukkan hasil negatif. Lebih lanjut, penelitian juga membuktikan bahwa terdapat ekspresi ace2 yang berlimpah pada sel glandular gaster, duodenum, dan epitel rektum, serta ditemukan protein nukleokapsid virus pada epitel gaster, duodenum, dan rektum. Hal ini menunjukkan bahwa sars-cov-2 juga dapat menginfeksi saluran pencernaan dan berkemungkinan untuk terjadi transmisi melalui fekal-oral (Taylor et al., 2020).
2.1.9 Faktor-Faktor yang Memperberat Kondisi Covid-19
Ada sederet faktor yang bisa memperparah infeksi virus corona bahkan hingga berkakibat fatal menurut (Germas et al., 2020). Salah satu yang menjadi faktor kondisi pasien covid-19 semakin parah adalah kondisi medis yang mendasari pasien sebelum terinfeksi virus corona. Beberapa kondisi yang bisa beresiko parah saat terinfeksi virus corona :
1. Hipertensi
2. Asma (sedang hingga berat)
3. Keadaan immunocompromised (sistem kekebalan tubuh yang lemah) 4. Kondisi neurologis, seperti demensia
5. Penyakit hati 6. Kehamilan
7. Fibrosis paru (jaringan paru yang rusak atau terluka) 8. Merokok
9. Diabetes melitus 10. Thalassemia
2.1.10 Konsep Asuhan Keperawatan Covid-19 1. Pengkajian
Pada pasien yang dicurigai covid-19 (memiliki 3 gejala utama seperti demam, batuk dan sesak napas) perlu dilakukan pengkajian sebagai berikut menurut (Germas et al., 2020):
a. Riwayat perjalanan: petugas kesehatan wajib mendapat secara rinci riwayat perjalanan pasien saat ditemukan pasien demam dan penyakit pernapasan akut.
b. Pemeriksaan fisik: pasien yang mengalami demam, batuk dan sesak napas dan telah melakukan perjalanan ke negara atau daerah yang telah ditemukan covid-19 perlu dilakukan isolasi kurang lebih 14 hari.
2. Diagnosis keperawatan
Hasil pengkajian dan respon yang diberikan pasien, paling banyak diagnosis keperawatan yang diangkat pada covid-19 adalah, menurut (Ranggo et al., 2020):
a. Pola napas tidak efektif
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif c. Hipertermia
d. Ansietas
3. Intervensi Keperawatan
Berikut intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien dengan covid-19 menurut (Ranggo et al., 2020):
a. Monitor vital sign: pantau suhu pasien; infeksi biasanya dimulai dengan suhu tinggi; monitor juga status pernapasan pasien karena sesak napas adalah gejala umum covid-19. Perlu juga untuk dipantau saturasi oksigen pasien karena sesak napas berhubungan dengan kejadian hipoksia
b. Maintain respiratory isolation: simpan tisu di samping tempat tidur pasien; buang sekret dengan benar; menginstruksikan pasien untuk
menutup mulut saat batuk atau bersin (menggunakan masker) dan menyarankan pengujung (siapa saja yang memasuki ruang perawatan) tetap menggunakan masker atau batasi/hindari kontak langsung pasien dengan pengunjung.
c. Terapkan hand hygiene: ajari pasien dan orang yang telah kontak dengan pasien cuci tangan pakai sabun dengan benar.
d. Manage hyperthermi: gunakan terapi yang tepat untuk suhu tinggi untuk mempertahankan normotermia dan mengurangi kebutuhan metabolisme.
e. Edukasi: berikan informasi tentang penularan penyakit, pengujian diagnostik, proses penyakit, komplikasi, dan perlindungan dari virus (m. Cristy pane, 2020).
2.1.11 Konsep Pencegahan dan Pengendalian Penularan Covid -19 2.1.11.1 Definisi Pencegahan dan Pengendalian
Pencegahan dan pengendalian adalah segala bentuk tindakan yang dilakukan untuk menghindari sebuah penyakit yang sangat beresiko yang dapat menimbulkan kerugian terhadap diri sendiri dan juga terhadap orang lain, oleh karena itu dalam konsep pencegahan dan pengendalian di harapkan aturan yang sudaah di buat dalam bentuk wujud pencegahan supaya bisa di taati (Germas et al., 2020).
2.1.11.2 Bentuk-Bentuk Pencegahan dan Pengendalian
Pada 27 januari 2020, kebijakan yang pertama dilakukan oleh indonesia yaitu mengeluarkan pembatasan perjalanan dari pusat covid-19 yaitu provinsi hubei. Pada saat yang sama indonesia juga mengevakuasi 238 orang indonesia dari wuhan. Setelah ada laporan awal kasus yang terinfeksi, indonesia mulai menyadari bahwa situasi saat itu sangat berbahaya kemudian pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan dan tindakan untuk mengatasi
pandemi covid-19, termasuk menunjuk 100 rumah sakit umum dalam negeri yang akan menjadi rumah sakit rujukan pada 3 maret 2020. Sedangkan pada 8 maret 2020, indonesia meningkatkan kembali jumlah rumah sakit rujukan menjadi 227 untuk mengatasi jumlah pasien covid-19 yang terus meningkat di berbagai daerah. Akan tetapi, upaya tersebut tidak dapat mengatasi permasalahan pandemi covid-19, dikarenakan jumlah korban terus meningkat dengan cepat (Germas et al., 2020).
Cuci tangan/hand sanitizer, jaga jarak/hindari kerumunan, meningkatkan daya tahan tubuh, konsumsi gizi seimbang dalam mencegah penularan virus corona, seorang dokter umum menyampaikan bahwa semua orang harus menjaga gaya hidup bersih dan sehat, makanan yang seimbang, istrahat yang cukup, rutin olahraga, jangan panik dan stres agar daya tahan tubuh tidak menurun dan melakukan banyak kegiatan positif didalam rumah.
Dalam keseharian perlu memperhatikan kelompok rentan serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (Germas et al., 2020).
Kemudian ditegasakan lagi oleh (Burke et al., 2020), Mengenai beberapa usaha yang dilakukan dalam mencegah penularan covid-19 ialah dengan mengkonsumsi vitamin, olah raga rutin, berdoa, lebih sering konsumsi makanan bergizi dan minum air putih, konsumsi sayur dan buah, mayoritas responden telah melakukan bentuk usaha peningkatan kesehatan tubuh untuk menghindari covid-19.
Menurut (Burke et al., 2020), pembatasan sosial (social distancing) berarti menciptakan jarak antara diri sendiri dengan orang lain untuk mencegah penularan penyakit tertentu, social distancing bertujuan menekan potensi penyebaran penyakit menular, di mana social distancing bertujuan untuk membatasi kegiatan sosial orang untuk menjauh dari kontak fisik dan keramaian. Dalam penerapan social distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta senantiasa memperhatikan dan menjaga jarak setidaknya 1-2 meter saat berinteraksi dengan orang lain,
terutama dengan seseorang yang sedang sakit atau beresiko tinggi menderita covid-19.
Kemudian dalam pengendalian infeksi coronavirus terdapat beberapa cara pencegahan dan pengendalian antara lain :
1. Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi berkaitan dengan pelayanan kesehatan.
Mencegah dan membatasi penularan di tempat laynan keshatan seperti: menjalankan langkah-langkah untuk mencegah standar untuk semua pasien, memastikan identifikasi awal dan pengendalian sumber, menerapkan pengendalian administratif, menggunakan pengendalian lingkunagan dan rekayasa, menerapkan langkahlangakah pencegahan tambahan atas kasus pasien dalam pengawasan konfirmasi covid-19.
2. Pencegahan dan pengendalian untuk isolasi di rumah (perawtan di rumah) Isolasi di rumah atau perawatan di rumah dilakukan terhadap orang yang bergejala ringan seperti orang dalam pemantauan dan kontak erat risiko tinggi yang bergejala dengan tetap memperhatikan kemungkinan terjadinya perburukan.
3. Pencegahan dan pengendalian infeksi untuk observasi (karantina).
Dilakukan terhadap kontak erat dalam mewaspadai munculnya gejala sesuai definisi operasional. Lokasi observasi dapat dilakukan di rumah, fasilitas umum, atau alat angkut dengan mempertimbangkan kondisi dan situasi setempat. Penting untuk memastikan bahwa lingkungan tempat pemantauan kondusif untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan medis yang diperlukan orang tersebut.
4. Pencegahan dan pengendalian infeksi di fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) pra rujukan.
Isolasi dan penanganan kasus awal yang sudah dilakukan wawancara dan anamnesa dan dinyatakan sebagai pasien dalam
pengawasan segera dilakukan isolasi di rs rujukan untuk mendapatkan tatalaksana lebih lanjut.
5. Pencegahan dan pengendalian infeksi untuk pemulasaran jenazah petugas kesehatan
Harus menjalankan kewaspadaan standar ketika menangani pasien yang meninggal akibat penyakit menular dan tetap menaati aturan yang sudah di buat guna menanggulangi penularan virus (Burke et al., 2020).
24
Gambar 3. 1 Web Of Caution (WOC) Resistensi insulin
Osmotik diuresis
Dehidrasi Hiperglikemia
Glikosuria Obesitas, kurangnya aktivitas penuaan
Hemokonsentrasi
Mempengaruhi proses sirkulasi darah dalam tubuh
Perfusi perifer tidak efektif
gaya hidup
Hipertensi
Kerusakan vaskuler pembuluh darah
Perubahan struktur
Penyumbatan pembuluh darah
Vasokonstriksi
Gangguan sirkulasi
Penurunan curah jantung Penurunan sistem imun
Virus corona
Mukosa nasal Laring
Virus menyerang organ target yang mengekspresikan Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2)
Paru-paru Gastrointestinal Jantung
Sesak napas,batuk, sakit tenggorokan
Miokarditis
Terganggunya fungsi jantung dalam memompa darah Nyeri dada, sesak napas dan gangguan irama jantung Sakit perut
dan diare
Diare Gangguan
pertukaran gas
2.2 Konsep Keluarga 2.2.1 Definisi Keluarga
Menurut (Widagdo, 2017) keluarga ialah sebuah kelompok kecil yang terdiri dari beberapa individu yang memiliki hubungan erat satu sama lain, saling ketergantungan serta diorganisir dalam satu unit tunggal untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Keluarga adalah kumpulan dua individu atau lebih yang terikat oleh hubungan darah, perkawinan maupun adopsi, serta pada tiap-tiap anggota keluarga selalu saling berinteraksi satu dengan yang lainnya (Widagdo, 2017).
Menurut Duval dalam (Widagdo, 2017), keluarga yaitu kumpulan orang yang terhubung oleh ikatan perkawinan, adaptasi dan kelahiran yang bertujuan untuk menciptakan serta mempertahankan budaya umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental dan emosional, serta sosial individu yang ada di dalam, ditinjau dari interaksi yang regular ditandai dengan adanya ketergantungan serta hubungan untuk mencapai suatu tujuan umum.
2.2.2 Struktur Keluarga
Struktur keluarga menjelskan bagaimana suatu keluarga melaksanakan fungsi keluarga di lingkungan masyarakat. terdapat beberapa macam struktur keluarga yang ada di indonesia yaitu (Widagdo, 2017):
1. Patrilineal
Keluarga sedarah terdiri dari sanak saudara sedarah dibeberapa generasi, dimana hubungan itu terbangun melalui Ayah.
2. Matrineal
Keluarga sedarah terdiri dari sanak saudara sedarah dibeberapa generasi, dimana hubungan itu terbangun melalui Ibu.
3. Matrilokal
Sepasang suami-istri tinggal bersama keluarga sedarah dengan Ibu..
4. Patrilokal
Sepasang suami-istri tinggal bersama keluarga sedarah dengan Ayah.
5. Keluarga kawin
Hubungan antara suami dan istri yang menjadi dasar bagi pembinaan keluarga, serta beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena terdapat hubungan dengan suami maupun istri (Widagdo, 2017).
2.2.3 Ciri-Ciri Struktur Keluarga
1. Terorganisasi yaitu saling berhubungan, antar anggota keluarga saling ketergantungan.
2. Keterbatasan yaitu setiap anggota keluarga mempunyai kebebasan, tetapi mereka mempunyai keterbatasan untuk menjalankan fungsi dan tugas keluarga masing-masing anggota keluarga.
3. Perbedaan dan kekhususan yaitu setiap anggota keluarga memiliki peran dan fungsi masing-masing anggota keluarga.
Pendekatan dalam asuhan keperawatan keluarga salah satunya yaitu struktural fungsional. Struktur keluarga menjelaskan bagaimana sebuah keluarga disusun atau bagaimana unit-unit ditata serta saling terkait satu dengan yang lain (Widagdo, 2017)
2.2.4 Tipe Keluarga
Pada sosiologi keluarga bentuk-bentuk keluarga tergolong sebagai tipe keluarga tradisional dan non-tradisional atau bentuk normatif dan nonnormatif, berikut ini tipe-tipe keluarga menurut (Widagdo, 2017):
1. Keluarga Tradisional
1) The Nuclear Family (Keluarga Inti), adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
2) The Dyad Family adalah pasangan suami-istri yang tinggal bersama tanpa ada anak, atau tidak ada anak yang tinggal bersama.
3) The Single Parent Family (duda atau janda) adalah keluarga yang terdiri dari 1 orang tua tunggal antara ayah atau ibu. Hal ini karena bercerai, kematian atau ditinggalkan
4) The Extended Family (keluarga besar) adalah keluarga yang terdiri dari keluarga inti dan orang yang berhubungan. Bisa terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti keluarga inti disertai paman, bibi, orang-tua (kakek dan nenek), keponakan dan lyang lain.
5) The Single adult living alone / single adult family adalah keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang memilih hidup sendiri (separasi) seperti perceraian atau di tinggal mati.
6) Pasangan usia lanjut adalah keluarga inti dimana suami-istri yang sudah tua dan sudah berpisah dengan anak-anaknya.
7) The Childless Family adalah keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan terlambat untuk mendapatkan anak. Hal ini karena mengejar karir atau pendidikan yang wanita.
8) Commuter Family adalah keluarga dengan kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, namun setiap akhir pekan semua anggota berkumpul bersama di suatu kota yang menjadi tempat tinggal.
9) Multigenerational Family adalah keluarga dengan generasi yang berbeda atau kelompok usia yang tinggal bersama dalam satu rumah.
10) Kin-network Family adalah keluarga dengan beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan menggunakan barang-barang serta pelayanan bersama. Seperti, menggunakan dapur, kamar mandi, ruang keluarga, maupun telepon bersama.
11) Blended Family adalah keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah lagi dan membesarkan anak dari pernikahan sebelumnya.
2. Keluarga non tradisional
1) The unmarried teenage mother adalah keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak, seperti ibu dengan anak dari hubungan tanpa adanya pernikhan.
2) Pasangan yang yang tinggal bersama dan memiliki anak tetapi tidak menikah, karena didasarkan pada hukum tertentu.
3) Menikah kumpul kebo adalah kumpul bersama tanpa menikah dan tinggal bersama.
4) Gay dan Lesbian family adalah pasangan dengan jenis kelamin yang sama hidup bersama selayaknya pasangan suami-istri.
5) Commune Family adalah keluarga dengan beberapa pasang keluarga dan anaknya yang tidak memiliki hubungan saudara, hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang digunakan sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak melalui aktivitas kelompok atau cara membesarkan anak bersama.
6) The stepparent family adalah keluarga dengan orangtua tiri.
7) The nonmarital heterosexual cohabiting family adalah keluarga yang hidup bersama dan berganti-ganti pasangan tanpa adanya pernikahan.
8) Cohabiting couple adalah keluarga dengan orang dewasa yang hidup bersama tanpa adanya pernikahan karena alasan tertentu.
9) Group-marriage family adalah keluarga dengan beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagai sesuatu, termasuk seksual dan membesarkan anaknya.
10) Group network family adalah keluarga inti yang dibatasi oleh aturan dan nilai-nilai yang hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunkan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya bersama.
11) Foster family adalah keluarga yang menerima anak yang tidak memiliki hubungan keluarga atau saudara dalam waktu sementara.
12) Homeless family adalah keluarga yang terbentuk tanpa suatu perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan masalah kesehatan mental.
13) Gang adalah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kehidupan dengan kekerasan dan kriminal.
2.2.5 Tugas dan Fungsi Keluarga Terdapat 5 fungsi keluarga yaitu :
1. Fungsi Afektif
Fungsi yang berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang menjadi basis kekuatan keluarga. Fungsi ini berguna dalam pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif akan tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari anggota keluarga. Berikut ini komponen yang perlu dipenuhi keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif menurut (Widagdo, 2017) :
1) Saling mengasuh dengan memberikan cinta kasih, kehangatan, saling menerima, serta saling mendukung antar anggota keluarga.
2) Saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga dan selalu mempertahankan iklim positif.
3) Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga di mulai sejak pasangan sepakat memulai hidup bersama.
2. Fungsi Sosialisasi
Fungsi ini di mulai sejak lahir. Keluarga menjadi tempat individu untuk belajar sosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu dan orang-orang disekitarnya. Dalam hal ini keluarga dapat Membina hubungan sosial anak, Membentuk norma-norma dan tingkah laku sesuai
dengan tingkat perkembangan anak, serta menaruh nilai-nilai budaya keluarga.
3. Fungsi Reproduksi
Fungsi ini untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Sehingga dilakukan dengan ikatan suatu pernikahan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pasangan, tujuan membentuk keluarga adalah meneruskan keturunan.
4. Fungsi Ekonomi
Fungsi ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan makan, pakaian, serta tempat tinggal.
5. Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga berperan untuk melaksanakan praktik asuhan keperawatan, yaitu untuk mencegah gangguan kesehatan atau untuk merawat anggota keluarga yang sakit. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.
2.2.6 Tahap Perkembangan Keluarga
Delapan tahap siklus kehidupan keluarga dari Duvall paling banyak digunakan sebagai formulasi tahap-tahap perkembangan keluarga inti dengan dua orang tua.
Tabel 3. 1 Tahap Perkembangan Siklus Keluarga Menurut (Widagdo, 2017) : No. Tahapan Keterangan
1. Tahap I Keluarga pemula (juga menunjuk pasangan menikah atau tahap pernikahan)
2. Tahap II Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua adalah bayi sampai umur 0-30 bulan)
3. Tahap III Keluarga dengan usia anak prasekolah (anak tertua berumur 2 hingga 6 tahun)
4. Tahap IV Keluarga dengan usia anak sekolah (anak tertua berumur 6 sampai 13 tahun)
5. Tahap V Keluarga dengan anak usia remaja (anak tertua berumur 13 sampai 20 tahun)
6. Tahap VI Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah )
7. Tahap VII Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan, pensiun) 8. Tahap VIII Keluarga dalam masa pension dan lansia (Juga termasuk
anggota keluarga yang berusia lanjut dan pension hingga pasangan meninggal dunia)
2.2.7 Tugas Kesehatan Keluarga
Berikut ini tugas keluarga dalam bidang kesehatan menurut (Widagdo, 2017) : 1. Keluarga dapat memahami dan mengenal masalah kesehatan
2. Keluarga dapat mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan 3. Keluarga dapat melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang
sedang sakit
4. Keluarga dapat menciptakan lingkungan untuk meningkatkan kesehatan 5. Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di
lingkungan sekitar
2.3 Konsep Dasar Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif 2.3.1 Definisi
Bersihan jalan nafas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan secret atau obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten (SDKI PPNI, 2016). Bersihan jalan nafas tidak efektif merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami ancaman yang nyata atau potensial berhubungan dengan ketidakmampuan untuk batuk secara efektif (Ninla et al., 2019). Bersihan jalan tidak efektif adalah obstruksi jalan nafas secara anatomis atau psikologis pada jalan nafas mengganggu ventilasi normal dengan di tandai adanya radang pada paru-paru yang mengenai salah satu atau beberapa di lobus paru-paru karena adanya bercak-bercak infiltrate yang
disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan benda asing yang masuk ke saluran pernafasan sehingga dengan adanya infiltrate (virus, bakteri, jamur dan benda asing) menyebabkan inflamasi pada bronkus, alveolus dan organ lainnya di sekitar jaringan tersebut (Susilo et al., 2020). Ketika muncul inflamasi pada bronkus tersebut karena penumpukkan secret akan timbul adanya demam, batuk produktif, ronchi positif dan perasaan ingin mual disertai muntah (Susilo et al., 2020). Jadi, bersihan jalan nafas tidak efektif bisa di sebut juga dengan bronkopneumonia merupakan suatu masalah keperawatan yang di tandai dengan ketidakmampuan batuk secara efektif atau adanya obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten pada pasien yang mengalami peradangan parenkim paru.
2.3.2 Penyebab Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
Penyebab bersihan jalan nafas tidak efektif di kategorikan menjadi fisiologis dan situasional. Penyebab fisiologis meliputi: spasme jalan nafas, hipersekresi jalan nafas, disfungsi neuromuskuler, benda asing dalam jalan nafas, adanya jalan nafas buatan, sekresi yang tertahan, hyperplasia dinding jalan nafas, proses infeksi, respon alergi dan efek agen farmakologis (misalnya anastesi). Sedangkan penyebab situasionalnya meliputi: merokok pasif dan terpajan polusi.
Secara umum, individu yang terkena bersihan jalan nafas tidak efektif mengalami penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme pathogen (SDKI PPNI, 2016). Orang dengan keadaan normal mempunyai mekanisme pertahanan tubuh seperti reflek glottis dan batuk dan adanya lapisan mucus, serta silia, organ-organ tersebut akan mengeluarkan kuman dengan sendirinya dari sekresi humoral.
Inflamasi tersebut di sebabkan oleh beberapa hal, (Eka et al., 2019):
a. Bakteri :
Bakteri gram positif seperti streptococcus pneumonia, s. aerous dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negative seperti klebsiella pneumonia, haemophilus influenza dan p.aeruginosa.
b. Virus :
Virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Dalam hal ini cytomegalovirus di kenal sebagai penyebab utama pneumonia oleh virus, menurut (Eka et al., 2019) menjelaskan bahwa bersihan jalan nafas tidak efektif di sebabkan karena virus lain yang di namakan dengan respiratory syntical virus, virus influenza dan virus sitomegalik.
c. Jamur :
Infeksi oleh jamur di sebabkan oleg histoplasmosis yang menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya terdapat pada kotoran burung, tanah dan kompos, (Edy, 2020)menyebutkan contohnya yaitu:
sitoplasma capsulatum, criptococcus nepromas, blastomices dermatides, aspergilus, candinda albicus, mycoplasma pneumonia dan benda asing.
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya pneumocystis carini pneumonia (CPS).
Biasanya menjangkit pasien dengan imunosupresi. (Edy, 2020) menyebutkan contohnya yaitu: citoplasma capsulatum, criptococcus nepromas, blastomices dermatides dan benda asing.
2.3.3 Proses Terjadinya Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Pada Pasien Covid-19
Virus penyebab covid-19 masuk kedalam jaringan paru-paru melalui saluran pernafasan atas ke bronchioles, lalu masuk ke alveolus ke alveolus lainnya dengan melalui poros kohn yang kemudian menyebabkan peradangan pada dinding bronchus atau bronchioles dan alveoli (Edy, 2020). Setelahnya
mikoorganisme tiba di alveoli dan membentuk proses peradangan yang terdiri dari 4 macam jenisnya:
a. Stadium I kongesti (4-12 jam)
Stadium ini terjadi hyperemia yang mengacu pada respon peradangan di daerah yang baru terinfkesi, di tandai dengan peningkatan aliran darah kapiler ke tempat yang telah terinfeksi, kemudian terjadinya hyperemia karena di sebabkan karena adanya pelepasan mediator-mediator peradangan tersebut dari sel-sel mast, mediator tersebut memunculkan senyawa yang di namakan dengan histamine dan prostalglandin, sel-sel mast tersebut berubah menjadi degranulasi yang menyebabkan timbulnya pengaktifan jalur komplemen.
Komplemen ini lalu berkerja dengan histamine dan prostalglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan meningkatkan permeabilitas kapiler paru. Hal ini menyebakan perpindahan eksudat plasmake dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Terjadinya penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus menyebakan meningkat jarak yang harus di tempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas dalam darah berpengaruh dan mengakibatkan penurunan saturasi oksigen.
b. Stadium II hepatisasi (48 jam)
Stadium ini terjadi di alveolus yang terisi sel darah merah, eksudat dan fibrin yang di hasilkan oleh host sebagian bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena akan memadat oleh karena adanya penumpukkan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah. Pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau minim sehingga akan bertambah sesak.
c. Stadium III hepatisasi kelabu (3-8 hari)
Stadium ini terjadi di saat sel-sel darah putih berada di daerah paru-paru yang terinfeksi. Pada tahap ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Eritrosit di alveoli mulai di resorpsi, lobus tetap pada karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler tidak lagi mengalami kongesti.
d. Stadium IV resolusi (7-12 hari)
Stadium ini muncul jika respon imun dan peradangan mulai mereda, sisa sel fibrin dan eksudat lisis mengabsorbsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula. Inflamasi pada bronkus di tandai dengan adanya penumpukkan secret, demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual.
Dampak yang dapat di timbulkan dari bersihan jalan nafas tidak efektif.
2.3.4 Tanda dan Gejala
Gejala virus covid dengan bersihan jalan nafas tidak efektif muncul timbulnya menginfeksi bagian pernafasan atas selama beberapa hari. Selain itu gejala di dapatkan demam, menggigil suhu tubuh meningkat dapat mencapi 40 derajat, sesak nafas, nyeri dada dan batuk dengan dahak dan adapun yang tidak bisa mengeluarkan dahak, terkadang dahak yang bisa keluar berwrna kuning atau hijau. Pada sebagian penderita juga di temui gejala lain yaitu, nyeri pada perut, diare kurang nafsu makan dan sakit kepala. Ada pun retraksi pada dada bagian bawah ke dalam saat bernafas dengan peningkatan frekuensi nafas.
Pemeriksaa perkusi pekak, fremitus melemah, suara nafas melemah, dan adanya ronchi (Edy, 2020).
Tabel 3. 2 Tanda Gejala Mayor Minor Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Tanda dan Gejala
Data Mayor Minor
Subjektif - - dyspnea
- sulit bicara - ortopnea Objektif - batuk tidak efektif
- tidak mampu batuk - sputum berlebih - mengi, wheezing dan
ronchi kering
- gelisah - sianosis
- bunyi nafas menurun - frekuensi nafas
berubah
- pola nafas berubah (Germas et al., 2020)
2.3.5 Teori Asuhan Keperawatan Dengan Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
a. Pengkajian
Pengkajian meliputi data saat ini dan di waktu yang lalu, perawat mengkaji pasien atau keluarga untuk menggali informasi dan berfokus kepada manifestasi klinik dari keluhan utama, kejadian yang menyebabkan kondisi saat ini, riwayat perawatan terdahulu, riwayat keluarga dan riwayat psikososial. Riwayat kesehatan bisa di mulai dari biografi dengan adanya aspek biografi dapat berhubungan dengan status oksigenasi yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan (terutama yang berhubungan dengan kondisi tempat kerja) dan tempat tinggal. Keadaan tempat tinggal mencakup kondisi tempat yang di tinggali dengan orang lain. Pengkajian keperawatan menurut (Putra et al., 2020) pada system pernafasan meliputi :
1 Batuk: gejala utama pada pasien dengan system pernafasan. Tanyakan berapa lama pasien mulai batuk, waktu batuk, menentukan batuk produktif atau nonproduktif.
2 Produksi sputum: sputum tersebut di definisikan adanya benda yang keluar bersama dengan batuk, sputum di produksi oleh trakeobronkial tree yang memproduksi 3 ons mucus sehari jika system nafas normal.
Pengkajian di mulai dengan menanyakan dan catat karakterisitiknya (warna, konsistensi, bau, serta jumlah dari sputum. Warna sputum tersebut berbagai makna di mulai dari warna kuning dan hijau jika berarti karena infeksi, sputum juga ada yang berwarna putih jernih dan kelabu itu juga bermakna adanya infeksi, jika sputum berwarna merah muda mengandung darah.
3 Dispnea: kesulitan bernafas atau nafas pendek, setelah itu perawat mengkaji tentang kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas.
4 Hemoptisis: darah yang keluar dari mulut dengan di batukkan, jika saat batuk dan mengeluarkan segumpal darah, darah tersebut berasal dari paru-paru, darah kekuningan yang di keluarkan dari hidung telinga
berasal dari pendarahan perut. Darah yang berwarna merah terang karena adanya dalam paru di stimulasi segera oleh reflex batuk, hemoptasis biasanya di sebabkan oleh penyakit: bronchitis kronik, bronchiectasis, tb paru, cyctic fibrosis, upper airway necrotizing granuloma, emboli paru, abses paru, kanker paru dan pneumonia.
5 Chest pain: berhubungan dengan jantung dan paru-paru, pengkajian di mulai dengan mengidentifikasi letak nyeri dan kualiasnya, guna sebagai perawat untuk membedakan nyeri pada pleura, musculoskeletal, cardiac dan gastrointestinal. Paru-paru tidak memiliki saraf yang peka terhadap nyeri.
b. Riwayat kesehatan masa lalu
Perawat menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan pasien menurut (Putra et al., 2020) dan (Germas et al., 2020). Secara umum perawat menanyakan:
1. Riwayat merokok
2. Pengobatan saat ini dan masa lalu 3. Alergi
4. Tempat tinggal
c. Pemeriksaan fisik menurut (Germas et al., 2020) :
1. Inspeksi : melakukan pengamatan atau observasi pada bagian dada, bentuk dada simetris atau tidak, pergerakkan dinding dada, pola nafas, frekuensi nafas, irama nafas, observasi frekuensi ekspirasi
2. Palpasi : meletakkan tumit tangan pemeriksa mendatar di atas dada pasien, sewaktu pemeriksaan palpasi pemeriksan menilai adanya fremitus taktil pada dada dan punggung dengan meminta pasien menyebutkan tujuh puluh tujuh secara berulang
3. Perkusi: menentukan ukuran dan bentuk organ dalam serta untuk mengkaji adanya abnormalitas, cairan, atau udara di dalam paru. Perkusi sendiri di lakukan dengan menekankan jari tengah (pemeriksaan mendatar diatas dada pasien). Kemudian jari di ketuk-ketuk. Normalnya
dada menghasilkan bunyi resoonan atau gaung perkusi, jika terdengar bunyi hipersonan atau bunyi drum adanya udara di paru-paru, jika terdengar pekak mengalami atelectasis.
4. Auskultasi: proses mendengarkan suara yang di hasilkan dengan menggunakan stetoskop. Bunyi nafas terdengar vesicular, bronkial, bronkovesikuler, rales, ronchi.
d. Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan penelitian klinis dari pengalaman respon individu, keluarga, serta komunitas terhadap masalah kesehatan, pada risiko masalah kesehatan atau pada proses kehidupan, perumusan diagnosis actual keperawatan terdiri dari struktur masalah, penyebab serta tanda gejala.
Masalah pada keperawatan yang utama diambil saat ini yaitu bersihan jalan nafas tidak efektik yang artinya ketidakmampuan membersihkan secret atau obstruksi dari jalan nafas untuk mempertahankan jalan nafas yang paten.
Bersihan jala nafas tidak efekti merupakan kategori fisiologi dan masuk ke dalam sub kategori respirasi (Germas et al., 2020).
Penyebab bersihan jalan nafas tidak efektif di kategorikan menjad fisiologis dan sitasional. Penyebab fisiologi meliputi: spasme jalan nafas, hipersekresi jalan nafas, disfungsi neuromuskuler, benda asing dalam jalan nafas, adanya jalan nafas buatan, sekresi yang tertahan, hyperplasia dinding jalan nafas, proses infeksi, respon alergi dan efek agen farmakologis.
Sedangkan pada penyebab situasionalnya meliputi merokok pasif dan terpajan polutan (Germas et al., 2020).
Tanda dan gejala di klasifikasikan menjadi mayor dan minor, tanda dan gejala mayor bersihan jalan nafas tidak efektif berupa batuk tidak efektif, tidak mampu batuk, sputum berlebih, mengi, wheezing, ronkhi, gejala minor berupa dyspnea, sulit bicara, ortopnea, gelisah, sianosis, bunyi nafas menurun, frekuensi nafas berubah, pola nafas berubah (Germas et al., 2020).
e. Perencanaan keperawatan
Perencanaan intervensi merupakan fungsi pemilihan berbagai alternative, tujuan pemberian tindakan guna untuk mencegah, mengurangi masalah yang telah di identifikasi pada diagnose keperawatan.
Tabel 3. 3 Intervensi Keperawatan untuk Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
Bersihan jalan nafas meningkat, dengan kriteria hasil :
1 Batuk efektif meningkat 2 Produksi sputum menurun 3 Mengi menurun
4 Wheezing menurun 5 Dyspnea menurun 6 Orthopnea menurun 7 Sulit bicara menurun 8 Sianosis menurun
1) Latihan batuk efektif - Identifikasi
kemampuan batuk - Monitor adanya retensi
sputum
- Atur posisi semi fowler atau fowler
- Pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien
- Buang secret pada tempat sputum - Jelasan tujuan dan
prosedur batuk efektif 2) Manajemen jalan nafas
- Monitor bunyi nafas tambahan
- Monitor sputim 3) Pemantauan respirasi
- Monitor kemampuan batuk efektif
- Monitor adanya produksi sputum - Monitor adanya
sumbatan jalan nafas (Germas et al., 2020)
f. Pelaksanaan keperawatan
Implementasi merupakan fase di mana pemeriksan mengimplementasikan intervensi keperawatan, fase ini memberikan tindakan secara actual dan kaji respon pasien hingga ke fase akhir, dan setelah itu pemeriksa mengevaluasi setelah di lakukan tindakan tersebut.
Pemeriksa atau perawata melaksanakan tindakan keperawatan untuk intervensi yang di susun dalam tahap perencanaan yaitu seperti contohnya mengajarkan latihan batuk efektif dan mengevaluasi manajemen jalan nafas serta pemantauan respirasi. Kemudian perawat mengakhiri dengan mencatat hasil tindakan dan mencatat repons pasien setelah tindakan (Ranggo et al., 2020).
g. Tahap evaluasi
Kegiatan mengukur pencapaian tujuan pasien dan menentukan keputusan dengan membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan (Ranggo et al., 2020). Evaluasi adalah fase akhri dari proses keperawatan, evaluasi merupakan aspek penting karena dengan evaluasi dapat menentukan pengakhiran intervensi, dilanjutkan mapupun bisa di rubah (Ranggo et al., 2020). Kriteria hasil yang di harapka setelah tindakan yang diberkan untuk bersihan jalan nafas tidak efektif yaitu:
1. Batuk efektif meningkat 2. Produksi sputum menurun 3. Mengi menurun
4. Wheezing menurun 5. Dyspnea menurun 6. Ortopnea menurun 7. Sulit bicara menurun 8. Sianosis menurun