• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG"

Copied!
166
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG

TAHUN ANGGARAN 2018

(2)

DAFTAR ISI ... i

REPRESENTASI MANAJEMEN PERNYATAAN TANGGUNGJAWAB ... LAPORAN REALISASI ANGGARAN ... LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH ... NERACA ... LAPORAN OPERASIONAL ... LAPORAN ARUS KAS ... LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS ... CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN ... BAB I : PENDAHULUAN ... 1

BAB II : EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBD... 9

BAB III : IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA FISKAL PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG... 19

BAB IV : IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA PROGRAM PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG... 26

BAB V : KEBIJAKAN AKUNTANSI... 29

BAB VI : PENJELASAN POS-POS LAPORAN KEUANGAN... 42

BAB VII : PENUTUP... 164 LAMPIRAN

LAPORAN KEUANGAN BLUD LAPORAN KEUANGAN BUMD

(3)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TAHUN ANGGARAN 2018

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan

Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kota Pangkalpinang menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2018.

Laporan keuangan yang disusun ini meliputi: Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan keuangan dimaksud disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan khususnya Lampiran I SAP basis akrual.

Pada dasarnya LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 disusun dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan informasi dari stakeholders (antara lain masyarakat, DPRD, lembaga pengawas, lembaga pemeriksa, dan Pemerintah Pusat) yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang selama Tahun anggaran 2018 serta menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan dengan menyediakan informasi mengenai pendapatan LRA, Pendapatan LO, belanja, beban, transfer, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas dan arus kas. Informasi ini disajikan agar pengguna memiliki pengetahuan mengenai : 1. Kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran;

2. Kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan;

3. Jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan Pemerintah Kota Pangkalpinang serta hasil-hasil yang dicapai;

4. Usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang dalam mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kas;

5. Posisi keuangan dan kondisi Pemerintah Kota Pangkalpinang berkaitan dengan sumber- sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman; dan

(4)

6. Perubahan posisi keuangan Pemerintah Kota Pangkalpinang sebagai akibat pelaksanaan kegiatan selama Tahun Anggaran 2018.

I.2. Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan

1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);

2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);

3. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389);

4. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400);

5. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4368);

6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5587);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4614);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 5165);

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah;

12. Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 07 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 10 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

13. Peraturan Walikota Nomor 51 Tahun 2015 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 51);

(5)

14. Peraturan Walikota Nomor 56 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (Berita Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 56)

15. Peraturan Walikota Nomor 47 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir Kebijakan Akuntansi Nomor 74 Tahun 2018 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 47 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Pangkalpinang;

I.3. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan I.3.1. Unsur Laporan Keuangan

LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh seluruh entitas dalam Pemerintah Kota Pangkalpinang, yang terdiri dari PPKD (BUD), OPD, dan BLUD. LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 terdiri dari:

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

LRA memuat informasi mengenai Pendapatan, Belanja, Transfer, dan Pembiayaan Daerah. Data/informasi keuangan mengenai Pendapatan Asli Daerah, Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, dan Belanja Modal didasarkan pada LRA OPD dan data/informasi keuangan mengenai Pendapatan Transfer, Lain-lain Pendapatan yang Sah, Belanja Bunga, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Tak Terduga, Transfer dan Pembiayaan (penerimaan dan pengeluaran) didasarkan pada LRA PPKD (BUD).

2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LP SAL)

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih adalah laporan yang menyajikan informasi kenaikan dan penurunan SAL tahun pelaporan yang terdiri dari SAL awal, SiLPA/SiKPA, koreksi dan SAL akhir.

3. Laporan Operasional (LO)

Laporan Operasional menyajikan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan entitas yang tercermin dalam pendapatan-LO, beban dan surplus/defisit operasional dari suatu entitas yang penyajiannya disandingkan dengan periode sebelumnya.

4. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)

Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi mengenai perubahan ekuitas yang terdiri dari ekuitas awal, surplus/defisit-LO, koreksi dan ekuitas akhir.

5. Neraca

Neraca memuat informasi mengenai Aset, Kewajiban, dan Ekuitas. Pada Neraca OPD disajikan mengenai Aset Lancar, Aset Tetap, Aset Lainnya, Kewajiban, dan Ekuitas. Neraca BLUD menyajikan Aset Lancar, Investasi, Aset Tetap, Kewajiban dan Ekuitas. Neraca PPKD (BUD) menyajikan Aset Lancar, Investasi, Aset Tetap, Kewajiban dan Ekuitas.

6. Laporan Arus Kas (LAK)

(6)

Laporan Arus Kas disusun berdasarkan data penerimaan dan pengeluaran kas yang dikelola oleh PPKD sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD) selama Tahun Anggaran 2018.

7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)

Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan penjelasan dan daftar mengenai nilai suatu akun yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih dalam rangka pengungkapan yang memadai.

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 disusun berdasarkan penggabungan antara laporan keuangan OPD, Laporan BLUD dengan Laporan keuangan BUD. Laporan keuangan OPD terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan, Laporan keuangan BLUD terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Laporan Operasional sedangkan Laporan keuangan BUD terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, dan Catatan atas Laporan Keuangan.

I.3.2 Entitas

Untuk Tahun Anggaran 2018, entitas Akuntansi di lingkungan Pemerintah Kota Pangkalpinang yang dicakup dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kota Pangkalpinang mengalami perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kelola dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah dan Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kota Pangkalpinang yaitu:

1. Entitas Akuntansi:

a. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

b. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana c. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Pangkalpinang

d. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang e. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil f. Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman

g. Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah h. Dinas Perhubungan

i. Dinas Komunikasi dan Informatika j. Dinas Pangan dan Pertanian

k. Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

(7)

m. Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan

n. Dinas Penanaman Modal, Pelayanan terpadu satu Pintu dan Tenaga Kerja o. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan

p. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik q. Satuan Polisi Pamong Praja

r. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah s. KDH dan Wakil Kepala Daerah t. Sekretariat Daerah

u. Sekretariat DPRD v. Badan Keuangan Daerah

w. Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Daerah x. Inspektorat Kota

y. Kecamatan Bukit Intan z. Kecamatan Rangkui aa. Kecamatan Gerunggang bb. Kecamatan Taman Sari cc. Kecamatan Pangkalbalam dd. Kecamatan Girimaya ee. Kecamatan Gabek

ff. Badan Penanggulangan Bencana Daerah gg. Dinas Lingkungan Hidup

2. Entitas BLUD: RSUD Depati Hamzah Kota Pangkalpinang LKPD ini tidak mencakup entitas:

1. Pemerintah Pusat; dan

2. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

I.3.3. Kebijakan Konversi

Mengingat penyusunan dan penyajian APBD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 dan pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, maka untuk memenuhi amanat Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, serta Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 bahwa LKPD sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, maka penyusunan dan penyajian Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Kota Pangkalpinang

(8)

Tahun Anggaran 2018 dilakukan dengan melakukan konversi kepada Standar Akuntansi Pemerintahan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 dan kebijakan akuntansi Pemerintah Kota Pangkalpinang sebagaimana termuat dalam Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 47 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 51 Tahun 2016 tentang Revisi Kebijakan Akuntansi.

Konversi yang dilakukan mencakup struktur APBD (pendapatan, belanja, dan pembiayaan), klasifikasi anggaran (pendapatan, belanja, dan pembiayaan) dalam LRA.

Konversi dilakukan dengan cara mentrasir kembali (trace back) pos-pos dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 dengan akun-akun LRA menurut Peraturan Pemerintah 71 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 serta khusus untuk penyajian belanja daerah didasarkan pada Buletin Teknis Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah.

I.3.4. Perubahan Kebijakan Akuntansi

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Pangkalpinang Tahun 2018 disusun dan disajikan berdasarkan basis akrual, yang merupakan tahun keempat penerapan basis akrual dalam penyusunan LKPD.Sedangkan di tahun-tahun sebelumnya disusun dan disajikan berdasarkan basis kas menuju akrual. Perubahan basis akuntansi ini sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013, dan Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 47 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Walikota Nomor 63 Tahun 2015 tentang Revisi Kebijakan Akuntansi dan terakhir diubah dengan peraturan Walikota Nomor 51 tahun 2016 tentang revisi Kebijakan Akuntansi.

Di tengah keberhasilan Pemerintah Kota Pangkalpinang menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2018 berdasarkan basis akrual, perlu diakui bahwa dalam penyusunan dan penyajian LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 masih ditemui kendala antara lain perbedaan dalam struktur anggaran dengan struktur pelaporan, dan perbedaan penamaan dan format laporan keuangan berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 yang mengakibatkan masih diperlukannya proses konversi dalam penyajian laporan keuangan terutama dalam penyajian akun-akun LRA.

I.4. Sistematika Penyajian Catatan Atas LaporanKeuangan

Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Pangkalpinang 2018 disajikan dengan urutan sebagai berikut:

(9)

I.1. Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan I.2. Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan I.3. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan

I.4. Sistematika Penyajian Catatan atas Laporan Keuangan Bab II Ekonomi Makro

II.1. Ekonomi Makro

II.2. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah

II.3. Indikator Pencapaian Kinerja Fiskal Pemerintah Kota Pangkalpinang II.4. Indikator Pencapaian Kinerja Program Pemerintah Kota Pangkalpinang Bab III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Fiskal

III.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Sasaran Kinerja Fiskal III.2. Faktor Pendukung dan Penghambat pencapaian kinerja Bab IV Ikhtisar Pencapaian Kinerja Program Pemerintah Kota Pangkalpinang

IV.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Sasaran Kinerja Program Pemerintah Kota Pangkalpinang

IV.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pencapaian Kinerja Bab V Kebijakan Akuntansi

V.1. Entitas Pelaporan

V.2. Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan V.3. Kebijakan Akuntansi

Bab VI Penjelasan Pos-pos Laporan Keuangan VI.1. Pendapatan – LRA

VI.2. Belanja VI.3. Surplus/Defisit VI.4. Pembiayaan

VI.5. Komponen-komponen Perubahan Saldo Anggaran Lebih VI.6. Pendapatan – LO

VI.7. Beban

VI.8. Surplus/Defisit Kegiatan Operasional VI.9. Surplus/Defisit Kegiatan Non Operasional VI.10. Pos Luar Biasa

VI.11. Surplus/Defisit Laporan Operasional VI.12. Komponen Perubahan Ekuitas

(10)

VI.13. Aset VI.14. Kewajiban VI.15. Ekuitas

VI.16. Komponen-komponen Arus Kas Bab VII Penutup

BAB II

EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBD

(11)

II.1. Ekonomi Makro

Ekonomi makro daerah dapat menjadi reflektor kinerja makro perekonomian daerah sebagai bagian dari proses pembangunan secara umum di daerah tersebut. Gambaran ekonomi tersebut dicapai dengan kebijakan dan prioritas pembangunan serta langkah operasional yang ditempuh untuk menghadapi tantangan pembangunan dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan tahun 2018.

Kerangka makro ekonomi disusun berdasarkan prediksi beberapa indikator makro ekonomi seperti laju pertumbuhan ekonomi, investasi, pendapatan perkapita, produktivitas, penyerapan tenaga kerja dan faktor-faktor lain seperti proyeksi penduduk dan lain-lain.

1. Perkembangan PDRB

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator makro untuk menggambarkan kondisi perekonomian suatu wilayah dalam satu periode tertentu, biasanya satu tahun. Angka PDRB dihitung berdasarkan dua pendekatan yaitu produksi dan pengeluaran.

Mulai tahun 2015 PDRB harga konstan tahun dasar 2000 tidak digunakan lagi, diganti dengan harga konstan tahun dasar 2010 dan dalam penghitungannya mengimplementasikan System of Nasional Account (SNA) 2008.

Apabila dilihat berdasarkan nilai nominalnya, PDRB Pangkalpinang pada tahun 2010 senilai 5,80 trilyun rupiah mampu meningkat menjadi senilai 9,36 trilyun rupiah pada tahun 2014. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (PDRBADHB) Kota Pangkalpinang tahun 2015 adalah senilai 10.234.632 juta rupiah meningkat dibandingkan tahun 2014.

Demikian juga dengan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (PDRBADHK) tahun 2014 senilai dari 7.247.497 juta rupiah,mengalami peningkatan pada tahun 2015 menjadi senilai 7.555.016 juta rupiah.Secara absolut, PDRBADHB Kota Pangkalpinang mengalami pertambahan secara rata-rata senilai 882 milyar rupiah setiap tahunnya.

Untuk tahun 2016 PDRBADHB Kota Pangkalpinang adalah senilai 11.116.233 juta rupiah, sedangkan PDRBADHB tahun 2015 senilai 10.234.632 juta rupiah atau mengalami kenaikan senilai 8,61%. Demikian juga dengan PDRB ADHK juga mengalami peningkatan dari senilai7.555.016 juta rupiah di tahun 2015, menjadi senilai 7.945.986 juta rupiah di tahun 2016 atau mengalami kenaikan senilai 5,17 %.

PDRBADHB Kota Pangkalpinang tahun 2017 adalah senilai 12.113.977 juta rupiah, meningkat dibandingkan tahun 2016 senilai 8,98%. Demikian juga dengan PDRBADHK juga mengalami peningkatan dari senilai 7.945.986 juta rupiah di tahun 2016, menjadi senilai 8.358.482 juta rupiah di tahun 2017. Hal ini mengidentifikasikan bahwa telah terjadi peningkatan produktivitas yang diiringi dengan peningkatan harga komoditas sektoral dari tahun ke tahun.

Peningkatan yang signifikan ini merupakan suatu indikator cukup berhasilnya upaya pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan sehingga aktifitas kegiatan ekonomi di sektor riil mampu menghasilkan pertambahan nilai PDRB sejumlah tersebut di atas.

(12)

2. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil pembangunan. Pola pertumbuhan ekonomi dari tahun 2013 s/d 2017 memperlihatkan pola perkembangan yang dinamis (naik-turun).

Pertumbuhan ekonomi Kota Pangkalpinang tahun 2014 melambat dibandingkan tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi tahun 2013 adalah 5,78%, sementara di tahun 2014, pertumbuhan ekonomi adalah 4,27%, dan di tahun 2015 pertumbuhan ekonomi menurun sebesar 4,24 %, sementara di tahun 2016 meningkat sebesar 5,17 % dan di tahun 2017 juga mengalami peningkatan sebesar 5,19%.

Dari sisi PDRB dengan pendekatan produksi, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, yaitu perdagangan mobil dan motor, juga toko grosir kebutuhan sehari-hari memberikan kontribusi terbesar bagi perekonomian Kota Pangkalpinang pada tahun 2017 yaitu sebesar 27,52% diikuti industri pengolahan sebesar 17,22 %.

3. Struktur Perekonomian

Struktur perekonomian mencerminkan peran lapangan usaha terhadap pembentukan PDRB, juga dapat menggambarkan sektor-sektor unggulan yang menggerakkan perekonomian dalam suatu wilayah.

Bila dilihat berdasarkan lapangan usaha, maka dapat disimpulkan bahwa Perekonomian Kota Pangkalpinang tahun 2017 ditopang oleh perdagangan besar dan eceran dan industri pengolahan. Kedua kategori lapangan usaha ini memberikan kontribusi masing-masing sebesar 27,52 persen dan 17,22 persen. Sebagai ibu kota Provinsi, Pangkalpinang menjadi pusat perdagangan di pulau Bangka. Sebagian besar kantor pusat penjualan mobil dan motor berlokasi di Kota Pangkalpinang. Begitu juga dengan toko grosir berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari yang banyak tersebar di Kota Pangkalpinang, sehingga wajar apabila lapangan usaha perdagangan besar dan eceran memberi kontribusi terbesar pada PDRB Kota Pangkalpinang.

Dalam perekonomian, faktor harga sangat menentukan bagi dunia bisnis maupun konsumen. Daya beli masyarakat dapat dipengaruhi oleh perubahan indeks harga konsumen, inflasi. Inflasi yang tinggi akan membatasi gerak investor dan akan mengurangi daya beli masyarakat, sebaliknya bila tingkat inflasi rendah akan merangsang dunia usaha untuk melakukan investasi.

Inflasi Kota Pangkalpinang tahun 2016 sebesar 7,78 persen, lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 4,66 persen . Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar adalah kelompok bahan makanan sebesar 13,49 persen.

Sedangkan inflasi di tahun 2017 mengalami penurunan secara signifikan yakni sebesar 2,66 %.

II.1.1. Letak Geografis

(13)

Kota Pangkalpinang dibentuk dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II dan Kota Praja di Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821 dan merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.

Pembentukan Batas Wilayah dan Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diatur dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Luas wilayah Kota Pangkalpinang sekitar 147,4 Km2 (berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Daerah Kota Pangkalpinang dengan Kabupaten Bangka Tengah). Secara geografis Kota Pangkalpinang terletak pada posisi antara 20 4’ LS – 20 10’ LS dan 1060 4’ BT – 1060 7’ dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : berbatasan dengan Desa Pagarawan, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.

2. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Desa Dul, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah.

3. Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

4. Sebelah Timur : berbatasan dengan Laut Cina Selatan.

Daerah Kota Pangkalpinang merupakan daerah yang strategis ditinjau dari sudut geografisnya, dalam kaitannya dengan pembangunan nasional dan pembangunan daerah di provinsi yang baru. Hal ini dikarenakan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pembangunan di Provinsi Kepulauam Bangka Belitung yang meliputi ;

1. Pusat Pemerintahan dan pemukiman penduduk 2. Pusat Perdagangan dan Industri

3. Pusat Pelayanan Sosial (Pendidikan dan Kesehatan ) serta distribusi Barang dan Jasa 4. Pusat Administrasi Penambangan Timah

5. Pusat Lembaga Keuangan

II.1.2. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kota Pangkalpinang pada tahun 2017 berdasarkan data BPS sebanyak 204.392 orang dengan komposisi 104.927 laki-laki dan 99.465 perempuan. Rasio jenis kelamin pada tahun 2017 adalah sebesar 105,49 artinya diantara 100 penduduk perempuan kota Pangkalpinang terdapat 105 penduduk laki-laki. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2015 – 2017 sebesar 4,17 persen.

Kecamatan Rangkui memiliki jumlah penduduk paling banyak dibandingkan dengan kecamatan lain di Pangkalpinang. Kecamatan Rangkui juga memiliki angka kepadatan penduduk paling tinggi, yaitu mencapai 7.831 penduduk per km. Secara umum , Kepadatan penduduk di Kota Pangkalpinang adalah 1.726 orang per km.

(14)

Pada tahun 2010 Kota Pangkalpinang terjadi pemekaran wilayah dari 5 kecamatan dan 36 Kelurahan menjadi 7 Kecamatan dan 42 kelurahanPemekaran dan pembentukan kecamatan sesuai perkembangan dan tuntutan masyarakat, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2011 dan Lembaran Daerah Kota Pangkalpinang Tahun 2011 Nomor 2.

Yaitu terdiri dari :

1. Kecamatan Pangkalbalam;

a. Kelurahan Pasir Garam b. Kelurahan Lontong Pancur c. Kelurahan Ketapang d. Kelurahan Ampui e. Kelurahan Rejosari 2. Kecamatan Bukit Intan;

a. Kelurahan Semabung Lama b. Kelurahan Bacang

c. Kelurahan Air Itam d. Kelurahan Pasir Putih e. Kelurahan Temberan f. Kelurahan Sinar Bulan g. Kelurahan Air Mawar 3. Kecamatan Rangkui;

a. Kelurahan Pintu Air b. Kelurahan Bintang c. Kelurahan Masjid Jamik d. Kelurahan Asam e. Kelurahan Melintang f. Kelurahan Parit Lalang g. Kelurahan Keramat h. Kelurahan Gajah Mada 4. Kecamatan Gerunggang;

a. Kelurahan Taman Bunga b. Kelurahan Bukit Merapin c. Kelurahan Bukit Sari

(15)

e. Kelurahan Kacang Pedang f. Kelurahan Air Kepala Tujuh 5. Kecamatan Taman Sari;

a. Kelurahan Opas Indah b. Kelurahan Gedung Nasional c. Kelurahan Batin Tikal d. Kelurahan Rawa Bangun e. Kelurahan Kejaksaan 6. Kecamatan Gabek;

a. Kelurahan Selindung b. Kelurahan Selindung Baru c. Kelurahan Gabek Satu d. Kelurahan Gabek Dua e. Kelurahan Air Salemba f. Kelurahan Jerambah Gantung 7. Kecamatan Girimaya;

a. Kelurahan Pasar Padi b. Kelurahan Batu Intan c. Kelurahan Bukit Besar d. Kelurahan Sriwijaya e. Kelurahan Semabung Baru

II.2. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah

Kebijakan pengelolaan keuangan daerah yang baik menghasilkan keseimbangan antara optimalisasi pendapatan daerah, efisiensi dan efektivitas belanja daerah, serta ketepatan dalam memanfaatkan potensi pembiayaan daerah.

II.2.1. Kebijakan Pengelolaan Pendapatan Daerah

Pengelolaan pendapatan daerah dilakukan dengan menggali potensi sumber-sumber pendapatan daerah, baik itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) ataupun Dana Perimbangan.

Upaya peningkatan, perluasan basis PAD dan mengupayakan optimalisasi Dana Perimbangan agar bagian daerah dapat diperoleh secara proporsional, oleh karena dilakukan peningkatan dalam hal pengawasan, koordinasi dan upaya penyederhanaan proses administrasi pemungutan. Upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan Pendapatan Daerah antara lain:

(16)

1. Mengoptimalkan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari sumber-sumber PAD dan Dana Perimbangan;

2. Meningkatkan peran serta masyarakat dan sektor swasta baik dalam pembiayaan maupun kegiatan pembangunan;

3. Meningkatkan efisiensi pengelolaan APBD;

4. Mengutamakan secara optimal perolehan Dana Perimbangan yang lebih proporsional.

Pajak daerah sebagai salah satu komponen penting dari Pendapatan Asli Daerah merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya mengoptimalkan peningkatan PAD Kota Pangkalpinang dari tahun ke tahun, dimana upaya-upaya yang dilakukan bisa dengan cara meningkatkan pengawasan dan pembenahan sistem pendapatan daerah atau lebih dikenal dengan Intensifikasi pajak daerah dan dari segi ekstensifikasi pajak daerah, secara terus menerus dilakukan penggalian potensi-potensi baru dengan cara survey atau pendataan untuk mendapatkan wajib pajak baru.

Upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan penerimaan pajak daerah antara lain :

1. Intensifikasi Pajak Daerah

a. Melakukan evaluasi terhadap penerimaan yang dibandingkan dengan ketersediaan potensi wajib pajak;

b. Melakukan pengawasan berkala terhadap wajib pajak;

c. Membenahi sitem administrasi pajak daerah secara berkala;

d. Memperketat aturan-aturan pajak daerah;

e. Pengenaan sanksi terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang terlambat maupun menunggak pembayaran;

f. Rapat koordinasi dan evaluasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemungut setiap bulannya, yang dipimpin langsung oleh Walikota/Wakil Walikota/Sekretaris Daerah;

g. Melakukan evaluasi dan koordinasi bidang;

h. Peningkatan pelayanan melalui peningkatan sarana dan prasarana;

i. Meningkatkan koordinasi dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang Mengelola pajak pusat sebagai upaya mencegah terjadinya pengenaan pajak ganda;

j. Sosialisasi kepada Wajib Pajak dan Wajib Retribusi untuk melakukan pembayaran langsung ke Rekening Kas Umum Daerah sebagai bagian dari upaya tindakan pencegahan pengawasan hasil pungutan; dan

k. Melakukan pendekatan terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang potensial untuk membayar kewajibannya tepat waktu.

l. Membentuk sistem pajak yang berbasis parsial (peta) 2. Ekstensifikasi Pajak Daerah

(17)

Ekstensifikasi dilakukan dengan cara menggali sumber-sumber PAD yang baru sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008 dan peraturan-peraturan daerah yang berlaku, yaitu:

1) Bersifat pajak dan bukan retribusi;

2) Obyek pajak terletak di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan;

3) Obyek dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum;

4) Obyek pajak bukan merupakan obyek pajak provinsi atau obyek pajak pusat;

5) Potensinya memadai;

6) Tidak memberikan dampak ekonomi negatif;

7) Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; dan 8) Menjaga kelestarian lingkungan.

Upaya Nyata yang harus dilakukan adalah :

a. Melakukan pendataan dan survey berkala untuk menjaring wajib pajak baru;

b. Mencari dan mengenali jenis atau sifat pajak baru yang disesuaikan dengan peraturan daerah yang ada.

II.2.2. Kebijakan Belanja Daerah

Belanja daerah digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Pangkalpinang terdiri dari urusan wajib pelayanan dasar, urusan wajib bukan pelayanan dasar, urusan pilihan dan urusan pemerintahan fungsi penunjang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum, ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat serta mengembangkansistem jaminan sosial sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan.

Kebijakan pengelolaan belanja daerah ditekankan pada peningkatan kualitas pelayanan masyarakat dan upaya memenuhi kebutuhan dasar sarana dan prasarana pelayanan, yaitu : 1. Prioritas kepada upaya melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat

dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan ke dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta pengembangan sistem jaminan sosial;

2. Menyelaraskan alokasi belanja seiring dengan pendelegasian wewenang;

3. Meningkatkan alokasi anggaran pada bidang-bidang yang menjadi pusat perhatian masyarakat (public interest); dan

(18)

4. Pemberian bantuan kepada organisasi kemasyarakatan didasarkan pada tingkat kebutuhan dan urgensitas tanpa melupakan aspek pemerataan dan keadilan dalam mendukung upaya-upaya penanggulangan dan penanganan permasalahan sosial, antara lain:

kemiskinan, pengangguran, ketenagakerjaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

II.2.3. Kebijakan Pembiayaan

Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daerah dan belanja daerah, ketika terjadi defisit anggaran. Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun lalu, penerimaan pinjaman obligasi, transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan. Sedangkan pengeluaran dalam pembiayaan itu sendiri dapat berupa anggaran hutang, bantuan modal dan transfer ke dana cadangan.

Pengeluaran pembiayaan dialokasikan guna menganggarkan pengeluaran daerah yang tidak bersifat belanja. Komponen pengeluaran pembiayaan adalah pembentukan dana cadangan, penyertaan modal (investasi) daerah, pembayaran pokok utang, pemberian pinjaman daerah.

Struktur pembiayaan daerah untuk sumber penerimaan tidak hanya berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu namun diupayakan untuk mendapatkan sumber-sumber lain, sedangkan pengeluaran pembiayaan direncanakan dari pembayaran pokok utang.

II.3. Indikator PencapaianKinerja Fiskal Pemerintah Kota Pangkalpinang

Kebijakan Keuangan Daerah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, dijabarkan lebih lanjut dalam indikator pencapaian kinerja fiskal daerah, sehingga Pemerintah Kota Pangkalpinang memiliki sasaran dan tujuan yang pasti mengenai apa yang ingin dicapai dalam Tahun Anggaran 2018. Penetapan capaian kinerja fiskal untuk Tahun Anggaran 2018 dilaksanakan sebanyak 2 (dua) kali, yang pertama adalah melalui penetapan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2017 tanggal 25 Desember 2017 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2018 dan yang kedua adalah melalui penetapan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2018 tanggal 02 Oktober 2018 tentang APBD Perubahan Tahun Anggaran 2018.

Tabel berikut ini menyajikan Indikator Kinerja Fiskal Daerah Tahun Anggaran 2018:

Tabel II.1. Indikator Kinerja Fiskal Daerah Tahun Anggaran 2018

(dalam milyar rupiah)

Target Selisih

(19)

I. Pendapatan 912.450 915.529 3.079 100,34 I.1. Pendapatan Asli Daerah 167.193 167.131 (62) 99,96 I.2. Pendapatan Transfer 745.256 748.397 3.141 100,42 I.3. Lain-lain Pendapatan yang

Sah

0,00 0,00 0.00 0,00

II. Belanja 1.061.621 883.544 (178.077) 83,23

II.1 Belanja Tidak Langsung 391.972 357.859 (34.113) 91,30 II.2 Belanja Langsung 669.649 525.684 (143.965) 78,50 Surplus/Defisit (149.171) 31.985 (181.156) (21,44) III. Pembiayaan

III.1 Penerimaan 150.671 150.617 54,00 99,96

III.2 Pengeluaran 1.500 1.500 0,00 100,00

SiLPA Tahun Berjalan 0,000 181.102 0,00 0,00

II.4. Indikator Pencapaian Kinerja Program Pemerintah Kota Pangkalpinang

Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Walikota terpilih pada akhir periode masa jabatan. Hal ini ditunjukkan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.

Indikator kinerja daerah pada RPJMD Tahun 2013-2018 dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan. Penetapan indikator kinerja daerah terhadap capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan Kota Pangkalpinang Tahun 2013-2018 adalah sebagai berikut:

1. Aspek Kesejahteraan masyarakat, yang meliputi: 1) fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi; 2) fokus kesejahteraan sosial; 3) fokus seni budaya dan olah raga.

2. Aspek Pelayanan Umum, yang meliputi : 1) fokus layanan urusan wajib pendidikan, kesehatan, perumahan, penataan ruang, perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, Keluarga Berencana, sosial, ketenagakerjaan, kepemudaan dan olah raga, otonomi daerah dan pemerintahan umum, ketahanan pangan, statistik, kearsipan, komunikasi dan informatika, perpustakaan; dan 2) pelayanan urusan pilihan yang terdiri dari pertanian, energi dan sumber daya manusia, pariwisata, kelautan dan perikanan, perdagangan dan perindustrian.

3. Aspek Daya Saing Daerah, yang difokuskan kepada : kemampuan ekonomi daerah, Pertanian, Penataan Ruang, Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Keuangan, kepegawaian, Lingkungan Hidup, Komunikasi dan Informatika, Iklim Berinvestasi dan Sumber Daya Manusia.

Berdasarkan isu-isu pembangunan di atas, maka ditetapkanlah prioritas pembangunan pada Tahun Anggaran 2018 yang terdiri dari:

(20)

1. Meningkatkan kualitas pembangunan yang menjamin keberlanjutan daya dukung lingkungan;

2. Mendorong pertumbuhan sektor unggulan yang berbasis sumberdaya lokal;

3. Meningkatkan penyediaan dan pelayanan infrastruktur untuk meningkatkan kualitas permukiman dan perkotaan;

4. Mewujudkan sumber daya manusia Kota Pangkalpinang yang unggul, berkualitas dan sejahtera;

5. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, partisipatif dan inovatif; dan

6. Menciptakan pemerintahan yang efektif dan efisien.

Isi prioritas pembangunan tahun 2018 masih sama dengan prioritas pembangunan tahun 2017, hal ini dikarenakan rentang waktu RPJMD Kota Pangkalpinang adalah dari 2013 s/d 2018.

(21)

BAB III

IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA FISKAL PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG

III.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Sasaran Kinerja Fiskal

Anggaran Daerah pada hakikatnya merupakan salah satu alat untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemenuhan sumber-sumber keuangan daerah. Pada Tahun Anggaran 2018 Anggaran Belanja Daerah Kota Pangkalpinang ditetapkan senilai Rp1.061.621.919.706,30 dan direncanakan didanai melalui penerimaan pendapatan yang bersumber pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) senilai Rp167.193.967.367,00 dan Pendapatan Dana Perimbangan senilai Rp745.256.563.524,00 sehingga akan menghasilkan defisit anggaran senilai (Rp149.171.388.815,30) yang ditutup melalui SiLPA tahun anggaran sebelumnya.

Realisasi sasaran kinerja fiskal Pemerintah Kota Pangkalpinang selama Tahun Anggaran 2018 dapat dilihat secara ringkas pada tabel III.1 berikut ini:

Tabel III.1. Ikhtisar Target dan Realisasi Kinerja Fiskal Pemerintah Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018

(dalam milyar rupiah)

Uraian Target

(Anggaran) Realisasi

Selisih

Rp %

I. Pendapatan 912.450 915.529 3.079 100,34

I.1. Pendapatan Asli Daerah 167.193 167.131 (62) 99,96 I.2. Pendapatan Transfer 745.256 748.397 3.141 100,42 I.3. Lain-lain Pendapatan yang

Sah

0,00 0,00 0.00 0,00

II. Belanja 1.061.621 883.544 (178.077) 83,23

II.1 Belanja Tidak Langsung 391.972 357.859 (34.113) 91,30 II.2 Belanja Langsung 669.649 525.684 (143.965) 78,50 Surplus/Defisit (149.171) 31.985 (181.156) (21,44) III. Pembiayaan

III.1 Penerimaan 150.671 150.617 54,00 99,96

III.2 Pengeluaran 1.500 1.500 0,00 100,00

SiLPA Tahun Berjalan 0,000 181.102 0,00 0,00

(22)

Tabel III.1 di atas memperlihatkan bahwa realisasi Pendapatan Daerah senilai Rp915.529.305.584,73 melebihi target yang telah ditetapkan, yaitu senilai Rp912.450.530.891,00 atau sebesar 100,34%. Pencapaian tertinggi realisasi terhadap target terdapat pada pos penerimaan Dana Perimbangan dengan realisasi senilai Rp748.397.313.918,75 atau sebesar 100,42% dari target yang telah ditetapkan.

Untuk melihat perkembangan target dan realisasi penerimaan PAD dari tahun 2014 sampai dengan 2018 secara jelas dapat dilihat pada Tabel III.2 berikut ini:

Tabel III.2. Perkembangan PAD Tahun Anggaran 2013 – 2018

(dalam milyar rupiah)

Anggaran Target Realisasi

Tahun Target Realisasi Persentase Perkembangan

2013 81,554 92,106 36,47 23,57

2014 111,294 113,817 21,74 18,88

2015 113,817 135,305 (4,13) 0,71

2016 129,898 136,269 29,58 27,65

2017 168,322 173,947 (0,67) (3,92)

2018 167,193 167,131 0,00 0,00

Secara Keseluruhan dari tahun anggaran 2013 sampai dengan tahun anggaran 2018 baik target maupun realisasi PAD Kota Pangkalpinang terus menerus mengalami kenaikan.Dilihat dari sisi target anggaran, dari tahun anggaran 2013 sampai dengan tahun anggaran 2014 mengalami kenaikan senilai Rp29,74 milyar atau sebesar 36,47%, dari tahun anggaran 2014sampai dengan tahun anggaran 2015 mengalami kenaikan senilai Rp24,148 milyar atau sebesar 21,74%, dari tahun anggaran 2015 sampai dengan tahun anggaran 2016 mengalami penurunan senilai (Rp5,594) milyar atau sebesar (4,13%), tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2017 mengalami kenaikan anggaran senilai Rp38,424 milyar atau sebesar 29,38%, dan dari tahun anggaran2017 sampai dengan tahun anggaran 2018 mengalami penurunan senilai (Rp1,129) milyar atau sebesar (0,67)%.

Dilihat dari sisi target realisasi 2013 sampai dengan tahun anggaran 2014 mengalami kenaikan senilai Rp21,711 milyar atau sebesar 23,17%, dari tahun anggaran 2014 sampai tahun anggaran 2015 terjadi kenaikansenilai Rp21,488 milyar atau sebesar 18,88%, pada tahun anggaran 2015 sampai tahun anggaran 2016. Kemudian apabila dilihat dari sisi realisasi penerimaan PAD, pada tahun anggaran mengalami kenaikan senilai Rp0,964 milyar atau sebesar 0,71%, kemudian tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2017 mengalami kenaikan senilai Rp37,677 milyar atau sebesar 27,65% dan yang terakhir tahun anggaran 2017 sampai dengan tahun 2018 mengalami penurunan senilai Rp (6,816) milyar atau sebesar (3,92)%.

(23)

Untuk Dana Transfer, realisasi penerimaan adalah senilai Rp748.397.313.918,75 (100,42%) dari target yang ditetapkan senilai Rp745.256.563.524,00.

Perkembangan target dan realisasi penerimaan yang berasal dari Dana Perimbangan dari tahun 2013 sampai dengan 2018 secara jelas dapat dilihat pada Tabel III.3 dan Grafik III.1 berikut ini:

Tabel III.3. Perkembangan Dana PerimbanganTahun Anggaran 2013 – 2018

(dalam milyar rupiah)

Tahun Target Realisasi Persentase Perkembangan

Anggaran Target Realisasi

2013 470,485 469,708 7,20 6,72

2014 504,369 501,293 13,96 7,36

2015 574,789 538,208 36,22 37,83

2016 782,955 741,810 (25,50) (22,95)

2017 583,337 571,588 27,76 30,93

2018 745,256 748,397 0,00 0,00

Grafik III.1. Perkembangan Dana PerimbanganTahun Anggaran 2013– 2018 (dalam milyar rupiah)

Apabila dibandingkan dengan tahun anggaran 2017, terjadi kenaikan realisasi senilai Rp 176,809 milyar atau sebesar 30,93%.

Untuk pos Lain-lain Pendapatan yang Sah dari target penerimaan senilai Rp0,00dapat direalisasikan senilai Rp0,00 atau sebesar 0,00%. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900

2013 2014 2015 2016 2017 2018

Target Realisasi

(24)

Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 lain- lain pendapatan yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang mencakup:

1. Hibah berasal dari pemerintah, pemerintah daerah lainnya, badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri, kelompok masyarakat/perorangan, dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat;

2. Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibat bencana alam;

3. Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota;

4. Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah; dan 5. Bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya.

Grafik III.2. Persentase Alokasi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung

Dalam kaitannya dengan anggaran dan realisasi belanja daerah, pada Tahun Anggaran 2018 belanja daerah dialokasikan senilai Rp1.061.621.919.706,30 dan direalisasikan senilai Rp883.544.427.973,98 atau sebesar 83,23% sehingga masih terdapat sisa anggaran belanja daerah senilai Rp178.077.491.732,32 atau sebesar 16,77%. Berdasarkan tabel III.2 di atas tampak bahwa belanja langsung mendapatkan alokasi dana yang lebih besar dibandingkan dengan belanja tidak langsung, yaitu sebesar 36,92% sedangkan belanja langsung mendapatkan alokasi dana sebesar 61,08% dari total APBD tahun anggaran 2018.

Berdasarkan kebijakan belanja daerah serta proporsi masing-masing belanja dapat dilihat bahwa komitmen Pemerintah Kota Pangkalpinang terhadap pelayanan publik sangat besar. Hal ini terlihat dari persentase belanja langsung yang cukup besar dibandingkan dengan belanja tidak langsung. Hal ini juga membuktikan bahwa penyusunan anggaran berbasis

Belanja Langsung Belanja tidak langsung 61,08

36,92

%

(25)

kinerja guna pencapaian standar pelayanan minimum kepada masyarakat cukup dapat dipertanggungjawabkan.

Belanja Tidak Langsung dianggarkan senilai Rp391.972.782.037,29 dan dana yang direalisasikan senilai Rp357.859.645.666,30 atau sebesar 91,30%. Anggaran dan realisasi Belanja Tidak Langsung ini terdiri atas:

Tabel III.4. Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Tidak Langsung TA 2018

No Jenis Belanja Anggaran Realisasi %

1. Belanja Pegawai 344.737.036.954,29 321.323.686.127,30 93,21 2. Belanja Hibah 39.729.425.400,00 33.606.072.432,00 84,59 3. Belanja Bantuan Sosial 2.141.360.000,00 2.065.928.000,00 96,45 4. Belanja Bantuan Keuangan

Kepada Provinsi/Kab/Kota dan Pemerintah Desa

1.195.255.917,00 883.237.107,00 73,90

5. Belanja Tidak Terduga 4.189.063.766,00 0,00 0,00 Jumlah 391.972.782.037,29 357.859.645.666,30 91,30

Grafik III.3. Perbandingan Alokasi dan Realisasi Belanja Tidak Langsung TA 2018 (dalam juta rupiah)

Belanja langsung diperuntukkan membiayai pelaksanaan kegiatan-kegiatan dan program. Pada tahun anggaran 2018, Belanja Langsung mendapat alokasi anggaran senilai Rp669.649.137.669,01 dan terealisasi senilai Rp525.684.782.307,68 atau sebesar 78,50%, dengan rincian sebagai berikut:

- 50.000,00 100.000,00 150.000,00 200.000,00 250.000,00 300.000,00 350.000,00 400.000,00

Belanja Pegawai

Belanja Hibah

Belanja Bantuan Sosial

Belanja Bantuan Keuangan

Belanja Tidak Terduga

Anggaran Realisasi

(26)

Tabel III.5.Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Langsung TA 2018

No. Jenis Belanja Anggaran Realisasi %

1. Belanja Pegawai 117.166.933.798,00 98.389.177.734,00 83,97 2. Belanja Barang dan Jasa 301.831.021.228,47 199.466.934.738,68 66,09 3. Belanja Modal 250.651.182.642,54 227.828.669.835,00 90,89 Jumlah 669.649.137.669,01 525.684.784.307,68 78,50

Grafik III.4. Perbandingan Alokasi dan Realisasi Belanja Langsung TA 2018 (dalam juta rupiah)

Dalam hal Pembiayaan Daerah sebagai pos untuk menutup defisit anggaran dan memanfaatkan surplus anggaran, dari target Penerimaan Pembiayaan senilai Rp150.671.388.815,30 dapat direalisasikan senilai Rp150.617.501.793,30 atau sebesar 99,96%, realisasi penerimaan ini seluruhnya berasal dari SILPA tahun anggaran sebelumnya.

Dan untuk tahun anggaran 2018, Pemerintah Kota Pangkalpinang menganggarkan Pengeluaran Pembiayaan senilai Rp1.500.000.000,00 dan direalisasikan senilai Rp1.500.000.000,00 atau sebesar 100%.

III.2. Faktor Pendukung dan Penghambat PencapaianKinerja

Secara umum faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam pencapaian kinerja keuangan Tahun Anggaran 2018, yaitu:

1. Belum optimalnya kinerja pelaksanaan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH dalam menyusun Analisis Beban Kerja dan target OPD;

- 50.000,00 100.000,00 150.000,00 200.000,00 250.000,00 300.000,00 350.000,00

Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa

Belanja Modal

Anggaran Realisasi

(27)

2. Belum optimalnya kinerja Kerjasama Informasi dan Media Massa dalam jumlah kerjasama bidang informasi dan komunikasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dengan media cetak dengan kecenderungan masyarakat lebih menyukai informasi yang berasal dari media elektronik dibandingkan dengan media cetak;

3. Kualitas dan profesionalisme SDM aparatur belum memadai;

4. Kelembagaan perangkat daerah yang belum ramping struktur dan kaya fungsi;

5. Kapasitas keuangan daerah yang belum optimal;

6. Belum optimalnya pengelolan aset;

7. Belum optimalnya penyusunan produk hukum daerah;

8. Belum optimalnya tindak lanjut hasil pemeriksaan.

Sedangkan faktor-faktor penunjang pencapaian kinerja adalah:

1. Adanya perbaikan sistem kerja dan sarana prasarana yang mendukung pencapaian target kinerja;

2. Adanya peningkatan kapasitas sumber daya aparatur baik melalui pembinaan dan pelatihan internal, ataupun melalui peningkatan jenjang pendidikan;

3. Semakin meningkatnya koordinasi antara dinas/kantor/badan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi;

4. Semakin meningkatnya koordinasi dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan instansi vertikal lainnya; dan

5. Dengan meningkatnya penyebarluasan informasi/sosialisasi mengenai pentingnya membayar pajak dan retribusi daerah telah terjadi peningkatan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan retribusi daerah.

(28)

BAB IV

IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA PROGRAM PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG

IV.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Kinerja Program

Pencapaian kinerja program merupakan gambaran tentang ketercapaian serangkaian aktivitas dalam bentuk pelaksanaan kegiatan, sebagai implikasi dari kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan kegiatan merupakan representasi dari peran OPD terhadap pencapaian sasaran pembangunan melalui kontribusi terhadap indikasi kegiatan yang didefinisikan dalam dokumen rencana sebagai wujud sinergitas peran.

Pelaksanaan program dan kegiatan ini disesuaikan dengan urusan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang pada Tahun Anggaran 2018, alokasi Belanja Daerah yang terbesar adalah untuk menunjang pelaksanaan urusan pekerjaan umum dan penataan ruang dengan alokasi anggaran senilai Rp261.037.499.724,00 atau sebesar 24,59% dari total anggaran Belanja Daerah. Tabel IV.1 di bawah ini menggambarkan secara rinci alokasi Belanja Daerah untuk setiap urusan.

Tabel IV.1. Alokasi Belanja Daerah per Urusan Tahun Anggaran 2018

No. Urusan Anggaran Realisasi

I Wajib Pelayanan Dasar 703.564.914.861,00 577.221.207.713,18

1 Pendidikan 194.216.006.312,80 179.989.872.531,00

2 Kesehatan 165.602.554.066,20 136.821.235.328,22

3 Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 261.037.499.724,00 185.335.587.389,00 4 Perumahan Rakyat dan Kawasan

Pemukiman 37.799.088.116,00 34.343.327.205,96

5 Ketentraman dan Ketertiban Umum

Serta Perlindungan Masyarakat 35.641.074.123,00 32.462.459.595,00 6 Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak 9.268.692.519,00 8.268.725.664,00 II Wajib Bukan Pelayanan Dasar 26.603.274.036,30 54.130.622.984,30 1 Lingkungan Hidup 21.341.183.959,00 19.405.574.227,00 2 Administrasi Kependudukan dan

Capil 5.881.965.043,00 5.324.955.309,00

3 Perhubungan 18.166.969.855,00 14.641.504.561,00

4 Komunikasi dan Informasi 5.269.759.462,00 4.632.792.980,00 5 Penanaman Modal, Pelayanan

Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja 6.184.743.430,30 5.588.929.154,30 6 Perpustakaan dan Kearsipan 4.758.652.287,00 4.536.866.753,00

(29)

No. Urusan Anggaran Realisasi

1 Pariwisata 8.851.811.530,00 7.007.639.549,00

2 Pangan dan Pertanian 13.943.296.431,00 12.153.773.424,50 3 Koperasi, UMKM dan Perdagangan 8.144.073.526,00 7.524.242.268,00 IV Pemerintahan Fungsi Penunjang 265.514.549.322,00 225.506.942.035,00 1 Administrasi Pemerintahan 167.253.034.991,00 143.104.762.524,00

2 Pengawasan 6.865.264.867,00 6.297.159.991,00

3 Perencanan 8.570.721.488,00 7.348.974.107,00

4 Keuangan 76.936.211.234,00 63.909.862.644,00

5 Kepegawaian 5.889.316.742,00 4.846.182.769,00

Jumlah 1.061.621.919.706,30 883.544.427.973,98

Secara umum hasil yang dicapai dari pelaksanaan berbagai program dan kegiatan diantaranya adalah terlaksananya pembangunan dan rehabilitasi gedung (kantor, gedung sekolah, puskesmas, posyandu), pengadaan buku dan alat tulis sekolah, tersedianya meubelair dan alat kantor (termasuk sekolah), terlaksananya penyediaan alat angkutan (kendaraan dinas dan alat berat), terlaksananya pembangunan dan rehabilitasi jalan dan jembatan, pembangunan dan rehabilitasi saluran drainase, terlaksananya penyediaan alat-alat kedokteran untuk kebutuhan puskesmas, terlaksananya pembangunan dan rehabilitasi PJU, dan rehabilitasi taman.

Penjelasan secara rinci mengenai hasil pencapaian dari kinerja pelaksanaan program dan kegiatan dapat ditemui pada Laporan Keuangan Pertanggungjawaban Walikota Tahun Anggaran 2018.

IV.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pencapaian Kinerja

Dalam pelaksanaan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan yang telah ditetapkan terdapat beberapa faktor penghambat yang mempengaruhi kinerja, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Pencapaian tujuan dan sasaran program seringkali menjadi tidak maksimal, hal tersebut disebabkan proporsi anggaran terhadap kegiatan utama dan kegiatan penunjang yang kurang didefinisikan secara memadai;

2. Efektivitas program dan kegiatan seringkali kurang terarah, hal tersebut disebabkan masih kurang tersedianya petunjuk teknis pelaksanaan sebagai instrumen kendali;

3. Dalam menyusun skenario pencapaian tujuan dan sasaran program dan kegiatan, seringkali kurang mempertimbangkan faktor eksternalitas yang dapat mempengaruhi kinerja.

Disamping penghambat juga tentunya terdapat faktor-faktor pendukung pencapaian kinerja program, antara lain:

(30)

1. Tersedianya pendanaan yang memadai yang sesuai dengan alokasi anggaran yang telah ditetapkan;

2. Meningkatnya pemahaman dari para Panitia Pengelola Kegiatan dalam melaksanakan kegiatan yang diembannya;

3. Tersedia media baik bagi masyarakat dan OPD dalam menyalurkan aspirasi baik saran maupun kebutuhan akan pelaksanaan program dalam bentuk Forum Musrenbang mulai dari tingkat Kelurahan hingga tingkat OPD; dan

4. Tersedianya media dalam rangka pemantauan pelaksanaan kegiatan dan program melalui laporan dan rapat evaluasi bulanan.

(31)

BAB V

KEBIJAKAN AKUNTANSI

V.1. Entitas Pelaporan

Entitas Pelaporan dalam LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 adalah Pemerintah Kota Pangkalpinang. Selain itu Pemerintah Pangkalpinang memiliki entitas akuntansi yang terdiri dari OPD dan PPKD (BUD) yang menyampaikan laporan keuangan sehubungan dengan anggaran/barang yang dikelolanya.

V.2. Basis Akuntansi

Basis akuntansi yang digunakan dalam penyusunan dan penyajian LKPD Kota Pangkalpinang tahun Anggaran 2018 adalah basis akrual untuk pengakuan pendapatan-LO dan beban, maupun pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas. Basis kas untuk pengakuan Pendapatan-LRA, Belanja, Transfer, dan Pembiayaan.

Tahun 2018 merupakan tahun keempat pemberlakuan basis akrual dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Penerapan SAP Berbasis Akrual (sesuai Lampiran I PP Nomor 71 Tahun 2010) untuk tahun buku yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2015 menyebabkan SAP Berbasis Kas menuju Akrual tidak berlaku lagi.

V.3. Kebijakan Akuntansi

Penyusunan dan penyajian LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 telah mengacu kepada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 47 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 63 Tahun 2015 tentang Revisi Kebijakan Akuntansi dan terakhir diubah dengan Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 74 Tahun 2018. Dengan demikian, dalam penyusunan LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan Pemerintah Kota Pangkalpinang.

Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan LKPD Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018 sesuai dengan Peraturan Walikota Pangkalpinang Nomor 74 Tahun 2018 tentang Kebijakan Akuntansi adalah:

1. Pendapatan

a. Pendapatan-LO adalah hak Pemerintah Kota Pangkalpinang yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali. Laporan Operasional melaporkan pendapatan yang menjadi tanggung jawab dan wewenang entitas pelaporan dan entitas akuntansi, baik yang dihasilkan oleh transaksi operasional, nonoperasional dan pos luar biasa yang meningkatkan ekuitas entitas pelaporan dan entitas akuntansi. Pendapatan operasional dikelompokkan dari dua sumber, yaitu transaksi pertukaran (exchange

(32)

transactions) dan transaksi non-pertukaran (non-exchange transactions). Pendapatan Operasional yang berasal dari transaksi non pertukaran pada umumnya timbul dari pelaksanaan kewenangan Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk meminta pembayaran kepada masyarakat, seperti pajak, bea, denda, dan penalti, serta penerimaan hibah. Sebaliknya, masyarakat tidak menerima manfaat secara langsung dari pembayaran tersebut. Di samping itu ada kalanya Pemerintah Kota Pangkalpinang menyediakan barang dan jasa ke masyarakat atau entitas pemerintah lainnya dengan harga tertentu, misalnya menyediakan layanan kesehatan dengan imbalan sebagai pendapatan.

Dalam kebijakan ini, pendapatan dimaksud dikelompokkan sebagai pendapatan pertukaran. Pendapatan Pemerintah Kota Pangkalpinang dapat dikelola oleh berbagai entitas pengelola seperti unit pengelola pajak, dan unit pengumpul pendapatan lainnya. Akan tetapi, secara akuntansi pendapatan tersebut adalah pendapatan entitas perbendaharaan umum (Bendahara Umum Daerah), kecuali pendapatan yang ditetapkan lain. Pada umumnya pendapatan operasional dikelola oleh Bendahara Umum Daerah selaku pengelola pendapatan secara terpusat. Pendapatan yang dikelola oleh entitas akuntansi OPD adalah berupa pendapatan yang berasal dari dana limpahan yang ditetapkan dalam anggaran. Dikecualikan dari ketentuan umum sentralisasi pendapatan ini adalah pendapatan dari dana yang disisihkan untuk dikelola oleh entitas akuntansi secara mandiri, seperti misalnya badan layanan umum daerah. Pendapatan Operasional yang diperoleh dari transaksi non-pertukaran timbul dari:

1) pelaksanaan kewenangan Pemerintah Daerah untuk memaksakan pembayaran oleh publik (seperti pajak daerah, denda, dan sanksi);

2) perimbangan keuangan, berbentuk kas atau non kas, dari entitas pelaporan yang lebih tinggi (Pemerintah dan Pemerintah Provinsi) untuk Pemerintah Daerah;

3) hibah yang diterima dari pemerintah asing, dan atau lembaga internasional;

4) penghapusan utang;

5) sumbangan dari masyarakat dan/atau lembaga masyarakat;

6) dana limpahan yang ditetapkan dalam anggaran untuk entitas akuntansi.

Pendapatan-LO dari jenis transaksi pertukaran tertentu harus diakui sebagai berikut:

1) Bila barang ataupun jasa tertentu yang dibuat atau dihasilkan untuk memenuhi kontrak (jangka pendek ataupun jangkapanjang), pendapatan harus diakui secara proporsional dengan total biaya yang diperkirakan dapat menghasilkan/menyelesaikan barang atau jasa tersebut guna memenuhi kontrak yang ada. Jika diperkirakan adanya kerugian, pendapatan harus tetap diakui mengikuti proporsi dengan perkiraan total biaya dan biaya harus tetap diakui sampai dengan barang ataupun jasa tersebut dapat memenuhi kontrak yang ada.

2) Bila uang muka diterima, seperti pada kegiatan yang berskala besar dan berjangka panjang, pendapatan tidak boleh diakui sampai biaya-biaya yang

Gambar

Tabel III.1. Ikhtisar Target dan Realisasi Kinerja Fiskal Pemerintah Kota   Pangkalpinang Tahun Anggaran 2018
Grafik III.2. Persentase Alokasi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung
Grafik III.3. Perbandingan Alokasi dan Realisasi Belanja Tidak Langsung TA 2018    (dalam juta rupiah)
Tabel VI.5 Anggaran dan Realisasi Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang  Dipisahkan TA 2018 dan 2017
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pembatasan ini dimaksudkan agar lebih fokus dan agar lebih mudah dimengerti, bukan untuk membedakan kurban yang ada dalam agama Hindu di dunia, karena sebenarnya

Beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh bahan baku yang akan masuk ke dalam gudang pabrik makanan ternak antara lain harus ada sampel saat pihak produsen bahan baku

Telah dilakukan penelitian dengan membuat lapisan tipis TiO 2 menggunakan titanium (III) chloride (TiCl 3 ) sebagai prekursor dan urea (NH 2 CONH 2 ) untuk

Sebelumnya telah dilakukan penelitian untuk mengklasifikasikan 514 kabupaten/kota di Indonesia menjadi daerah yang memiliki nilai indikator IPM rendah, sedang,

Sistem akan membaca data history permintaan produk timba cor untuk kemudian menjalankan fungsi pelatihan menggunakan metode improved elman. Setelah data bobot (W1, W2, W3, dan

Hal ini dibuktikan dengan adanya kepuasan pekerjaan yang sesuai dengan harapan, upah yang didapatkan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari setiap karyawan, mendapatkan

Setelah terbentuk Analysis Services Project, lanjutkan dengan membuat Data Source, fungsi Data Source adalah sebagai sumber data yang akan digunakan untuk melakukan analisis

Dikarenakan sulitnya ilmu faraidh ini maka hanya sedikit orang yang mempelajari serta mampu memahaminya, sehingga untuk menyelesaikan permasalah pembagian waris,