Sikap Kiai Terhadap Politik
Era Reformasi
Sikap Kiai Terhadap Politik Era Reformasi
Penulis: Dr. Abdul Wahid Hasyim, MA.
Penerbit:
Lembaga Penerbitan Pascasarjana Universitas Islam “45” Bekasi Jl. Cut Meutia No. 83 Bekasi 17113 Telp. (021) 71685361
Fax. (021) 8801192
e-mail: [email protected]
Hak Cipta dilindungi Undang-undang Copyright @ Abdul Wahid Hasyim
Editor Naskah: Siti Asiah Perancang Sampul: Suswoyo Cetakan Pertama: Maret 2009 ISBN: 978-979-19414-6-4
HALAMAN JUDUL - i KATA PENGANTAR - iii DAFTAR ISI - viii
BAB I PENDAHULUAN - 1
A. Latar Belakang Masalah - 1 B. Identifikasi Masalah - 24
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah - 26 D. Kajian Pustaka Terdahulu - 27
E. Metodologi Penelitian - 37
BAB II KIAI, PESANTREN DAN POLITIK - 51 A. Peran dan Fungsi Kiai Pesantren - 51
1. Bidang Sosial Keagamaan - 51 2. Bidang Sosial Budaya - 59 3. Tipologi Kiai dan Pesantren – 64
a. Tipologi Kiai – 64 b. Tipologi Pesantren - 82 B. Pesantren dan Perubahan Sosial - 89
1. Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Keagamaan - 89
2. Pesantren Sebagai Lembaga Pencetak Ulama - 105
3. Pesantren Sebagai Lembaga Transmisi Nilai Tradisi Keagamaan - 109
4. Pesantren Sebagai Lembaga Sosial Ekonomi - 112
C. Pesantren dan Politik - 116
2. Pesantren dan Partai Politik - 122 3. Sikap Politik Kiai Pesantren - 160
BAB III PESANTREN DAN DINAMIKA
POLITIK NASIONAL ERA REFORMASI 1998-2004 - 165
A. Era Reformasi dan Kebijakan Politik Menuju Demokrasi - 165
B. Bangkitnya Ragam Partai Politik Dalam Bingkai Kekuasaan Era Reformasi - 208
C. Pesantren dan Pembentukan Partai Politik Nasional - 228
1. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) - 228 2. Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)
- 256
3. Implikasi Kebangkitan PKB dan PKNU Terhadap Dunia Pesantren - 282
BAB IV KIAI PESANTREN DI JAWA TIMUR DALAM ARENA SOSIAL POLITIK 1998-2004 - 289
A. Biografi Sosial-Intelektual Kiai Pesantren – 289 1. Kiai Abdullah Faqih - 289 2. Kiai Muhammad Yusuf Hasyim - 309 3. Kiai Alawy Muhammad - 318
4. Kiai Muhammad As’ad Umar - 326 5. Kiai Muhammad Hasib Wahab - 341
B. Motif dan Konteks Sosial-Politik Kiai Pesantren - 354
1998-2004 - 369
A. Kendaraan Politik Kiai Pesantren - 369 B. Peran Politik Kiai Pesantren pada Lembaga
Negara - 378
1. Lembaga Legislatif - 378 2. Lembaga Eksekutif - 390 3. Lembaga Yudikatif - 412
C. Peran Politik Kiai Pesantren pada Organisasi
Sosial Keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) - 416 D. Implikasi Keterlibatan Politik Kiai bagi Dunia
Pesantren - 550
BAB VI KESIMPULAN - 563
DAFTAR PUSTAKA – 568
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada penghujung akhir abad XX, tepatnya tahun 1998, perpolitikan di Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, mengalami perubahan yang sangat dramatis. Krisis multidimensi, demonstrasi mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah menuntut reformasi struktural di bidang ekonomi, hukum dan politik serta berbagai persoalah yang tidak terselesaikan, telah memaksa Presiden Soeharto yang telah memerintah negara berpenduduk lebih dari dua ratus juta jiwa, secara
otoriter dan represif, untuk periode yang ketujuh dalam waktu 76 hari, meletakkan jabatan. Dalam pidatonya, antara lain ia menyatakan sebagai berikut:
Bahwa karena rencana pembentukan komite reformasi tidak terwujud, maka rencana perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi, sehingga sulit bagi saya untuk dapat menjalankan pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhati- kan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, maka saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998. Selanjutnya, sesuai Pasal 8 UUD 1945, Wapres Prof. Dr. B.J. Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/
Mandataris MPR periode 1998-2003.1
Dengan demikian, Prof. Dr. B.J. Habibie (nama selanjutnya penulis sebut B.J. Habibie), seorang teknokrat lulusan Jerman, kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, mengucapkan sumpah jabatan Presiden/Mandataris MPR yang dilaksana- kan oleh Ketua Mahkamah Agung di hadapan para
1 Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik Yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, (Jakarta: THC Mandiri, 2006), h.
65-66.
Anggota Mahkamah Agung lainnya.2 Sejak itu, B.J.
Habibie resmi menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3, menggantikan mentornya. Orde Baru tumbang dan digantikan dengan Era Reformasi,3 sebuah jargon populer yang sering diperbicangkan dan dikumandangkan dalam diskusi-diskusi di kampus- kampus di seluruh Indonesia. Tetapi, gonjang-ganjing mengenai perpolitikan di Indonesia belum juga reda dan surut, bahkan memanas. Pada tingkat tertentu, B.J. Habibie yang melanjutkan sisa waktu jabatan presiden yang ditinggalkan oleh gurunya memang sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, tetapi, bagi para demonstran, justru melukai hati mahasiswa.
Pengangkatannya tidak mempunyai legitimasi.
Dalihnya, ia tidak dipilih oleh wakil rakyat yang terpilih lewat pemilu yang jujur dan adil,4 sehingga
2 Karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR/MPR dan untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam pemerintahan Negara, maka pengucapan sumpah dilaksanakan di Istana Negara. Lihat Diro Aritonang, Runtuhnya Rezim dari pada Soeharto, Rekaman Perjuangan Mahasiswa Indonesia 1998, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), Cet. Ke-1, h. 206- 207.
3 Reformasi berasal dari bahasa Inggris Reform yang berarti memperbaiki atau memperbaharui. Kemudian, pengertian kata Reformation memiliki arti perubahan ke arah perbaikan sesuatu yang baru. Perubahan itu dapat meliputi segala hal, entah itu sistem, mekanisme, aturan, kebijakan, tingkah laku, kebiasaan, cara-cara atau praktik-praktik yang selama ini dinilai tidak baik dan diubah menjadi baik.
4 Agung Supriyo, Menimbang Keterlibatan Tiga Aktor Politik Dalam Pemilu Transisional, dalam Yopie Renyaan, Theodure B. dan Daniel P. Junaedi, (ed.), Transisi Demokrasi, Evaluasi Kritis Penyelenggaraan Pemilu 1999, (Jakarta: KIPP, 1999), h. 175.
jalan keluar dari krisis adalah “suksesi dua pintu”: di tingkat presiden dan wakil presiden sekaligus.5 Oleh karena itu, ada anggapan bahwa B.J. Habibie yang juga dianggap sebagai bagian dari Orde Baru tidak mampu bertahan lebih dari 100 jam. Ada pula yang sedikit optimistis meramalkan bahwa pemerintahan- nya tidak akan bertahan lebih dari 100 hari.6 Tetapi kenyataannya, pemerintahan B.J. Habibie mampu bertahan dalam waktu 512 hari, dan meskipun kekuasaannya sendiri dikategorikan sebagai pemerintahan transisi, ia bersama kabinet reformasi yang dibentuknya selama kurun waktu 17 bulan mampu membidani kelahiran reformasi bagi bangsa ini.7 Oleh karena itu, masanya dikenal sebagai awal Orde Reformasi, sebuah orde transisi menuju demokrasi berdasarkan ketentuan UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai pemerintahan transisi, B.J. Habibie yang berperilaku, karakter dan sifat yang sangat bebas, terbuka dan transparan, tidak ragu-ragu untuk menindaklanjuti tuntutan reformasi yang diteriakkan
5 Musa Kazhim & Alfian Hamzah, 5 Partai Dalam Timbangan, Analisis dan Prospek, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), Cet. Ke-1, h.
32.
6 Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, (Jakarta: THC Mandiri, 2006), Cet. Ke-1, h. 76-77.
7 Ketika Teknokrat Memimpin Negara, Republika, (Jakarta), 22 September 2006, h. 24.
oleh masyarakat, cendikiawan dan mahasiswa.8 Dalam tulisannya, B.J. Habibie antara lain menyatakan sebagai berikut:
Saya memperhatikan dengan sungguh- sungguh dinamika aspirasi yang berkembang dalam pelaksanaan reformasi secara menyeluruh, baik yang disampaikan oleh mahasiswa dan kaum cendekiawan, maupun yang berkembang di masyarakat dan kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Peningkatan kehidupan politik yang sesuai dengan tuntutan zaman dan generasinya, kepemimpinan yang bersih dan bebas dari inefisiensi dan praktik-praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, serta kehidupan ekonomi yang lebih memberi peluang berusaha secara adil, telah saya tangkap sebagai aspirasi rakyat.9
Sebagai realisasi dan jawaban atas pernyataannya itu, B.J. Habibie melakukan pembongkaran terhadap ketamakan negara, antara lain dengan memperkenalkan sebuah aura yang
8 Rumusan mahasiswa tentang reformasi politik dan ekonomi itu sangat gamblang dan tegas. Dalam bidang politik, mereka menuntut penghapusan paket lima UU politik, menuntut pengembalian peran MPR sebagai pemegang kedaulatan rakyat dan lain sebagainya, sedangkan dalam bidang ekonomi, mereka menuntut pelaksanaan ekonomi yang berpijak pada Pasal 33 UUD 1945 yang menjamin hak kesejahteraan rakyat, menuntut dihapuskannya kebijakan monopoli, serta menuntut penghapusan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.
9 Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, (Jakarta: THC Mandiri, 2006), Cet. Ke-1, h. 70.
menjadikan kepresidenan sebuah jabatan yang bisa dijabat oleh siapa saja yang dipercaya oleh rakyat, melepaskan tahanan politik, memberikan kebebasan berbicara, mengeluarkan pendapat, kebebasan pers dan kebebasan unjuk rasa, membuka kesempatan untuk mendirikan partai politik asal tidak melanggar UUD 1945 dan Ketetapan MPR, menyelenggarakan Sidang Umum MPR dan Pemilu, membubarkan BP7, menghentikan P4 dan menandatangani Undang- Undang Perimbangan Keuangan dan Otonomi Daerah, memperlihatkan sikap demokratis dan tidak bereaksi negatif terhadap kritik yang disampaikan oleh lawan politiknya10
Dengan demikian, menurut M.C. Ricklefs dari lima isu terbesar yang dihadapinya, B.J. Habibie hanya berhasil merealisasikan isu tentang masa depan reformasi, sedangkan keempat isu lainnya, yakni tentang masa depan ABRI, masa depan daerah- daerah yang ingin melepaskan diri dari Indonesia, masa depan Soeharto, keluarganya, kekayaannya, kroni-kroninya, serta masa depan perekonomian dan
10 Taufik Abdullah, Nasionalisme & Sejarah, (Bandung: Setya Historika, 2001), Cet. Ke-1, h. 166-167. Lihat pula Suharko, Merajut Demokrasi, Hubungan NGO, Pemerintah dan Pengembangan Tata Pemerintahan Demokratis 1966-2001, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), Cet. Ke-1, h. 187. Juga lihat Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik- Detik yang Menentukan, jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, (Jakarta: THC Mandiri, 2006), Cet. Ke-1, h. 57-58.
kesejahteraan rakyat belum terselesaikan,11 dan jika bisa dilaksanakan salah satu di antara keempat isu lainnya, khususnya terkait masalah Timor Timur, justru menimbulkan kecaman dan bom waktu baginya.12 R. William Liddle menguatkan keberhasil- an satu isu, antara lain menyatakan sebagai berikut:
Selepas jatuhnya rezim Orde Baru, terjadi banyak perubahan yang patut disimak, antara lain liberalisasi politik berlangsung cukup signifikan, pembatasan terhadap kebebasan berbicara, berekspresi, berserikat dan berkumpul serta hak-hak sipil lainnya dicabut. Partai-partai politik dengan beragam ideologi diperbolehkan berdiri. Kebijakan depolitisasi dan pendekatan warisan Orde Baru diakhiri dan digantikan dengan pluralisme politik yang mengarah pada kompetisi dan representasi demokrasi.13
Meskipun hanya satu isu yang berhasil dilaksakanan, capaian itu tergolong luar biasa, mengingat krisis yang terjadi saat itu demikian parah.
11 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, (Jakarta:
Serambi, 2005), Cet. Ke-1, h. 655-656.
12 Referendum yang menawarkan kepada penduduk Timor Timur pilihan antara otonomi dalam Indonesia atau kemerdekaan, berakhir dengan kemerdekaan Timor Timur. Masalah ini merupakan salah satu noda B.J. Habibie, sehingga laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR, di samping noda-noda lainnya.
13 R. William Liddle, “Indonesia’s Unexpected Failure of Leadership” dalam Adam Schwarz & Jonathan Paris (ed.), The Politics of Post Soeharto Indonesia, (New York: The Council on Foreign Relation, 1999), h. 21.
Salahuddin Wahid menyebut bahwa capaian itu dimungkinkan karena kecerdasan B.J. Habibie, kesediaannya untuk bekerja sampai jauh larut malam, kesehatannya yang bagus, tidak menghindar dari masalah detail, sikapnya dalam berkomunikasi yang terlihat demokratis, bahkan mentolelir huu … dalam pembukaan Sidang Umum MPR adalah tambahan nilai plus bagi B.J. Habibie.14 Bahkan keberhasilan menelorkan satu isu yang diikuti dengan diterbitkannya beberapa perundang-undangan baru, misalnya dalam bidang politik, tiga undang-undang baru diberlakukan, yakni undang-undang tentang pemilu, tentang partai politik dan tentang struktur lembaga legislatif, yang oleh Suharko dapat dipandang menjadi jaminan formal bagi kompetisi politik dan partisispasi dalam penyelenggaraan pemilu 7 Juni 1999,15 ditanggapi dan disambut secara sukaria dan positif oleh berbagai kalangan, dengan mendirikan beragam partai politik.
Dari kalangan nasionalis, misalnya Ny. Supeni, Usep Ranuwijaya, IM. Sunakha dan lain-lain mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI);
Soenardi, Dharmono, Anton R. Hutomo dan lain-lain
14 Salahuddin Wahid, Negeri Di Balik Kabut Sejarah, Catatan- Catatan Pendek Salahuddin Wahid, (Jakarta: Pustaka Indonesia Satu, 2000), h. 66-67.
15 Suharko, Merajut Demokrasi, Hubungan NGO, Pemerintah dan Pengembangan Tata Pemerintahan Demokrasi 1966-2001, (Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2005), Cet. Ke-1, h. 186.
mendirikan Partai Rakyat Marhaen; Hadidjojo Nitimihardjo, Zulfikar Tan dan lain-lain mendirikan Partai Murba; dan Sri Bintang Pamungkas mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI).16 Dari kaum modernis, misalnya Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah dan tokoh reformasi, mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN); Yusril Ihza Mahendra mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB); dan Deliar Noer mendirikan Partai Umat Islam (PUI).17 Dari kaum tradisionalis, misalnya para kiai pesantren dan politisi lainnya melalui Ormas NU mendirikan PKB, namun, karena dianggap diskriminatif, kiai Muhammad Yusuf Hasyim dan kiai Salahuddin Wahid mendirikan Partai Kebangkitan Ummat (PKU), kiai Syukron Makmun mendirikan Partai Nahdhatul Ummah (PNU) dan Abu Hasan, rival kiai Abdurrahman Wahid dalam memperebutkan jabatan Ketua Umum NU, mendirikan Partai Serikat Uni Nasional Indonesia (Partai Suni).18 Sementara kiai Alawy Muhammad
16 Lihat al-Chaidar, Pemilu 1999, Pertarungan Ideologis Partai- Partai Islam Versus Partai-Partai Sekuler, (Jakarta: Darul Falah, 1999), Cet. Ke-1, h. 120-121.
17 Musa Kazhim & Alfian Hamzah, 5 Partai Dalam Timbangan, Analisis dan Prospek, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 29-151.
Lihat pula al-Chaidar, Pemilu 1999, Pertarungan Ideologis Partai- Partai Islam versus Partai-Partai Sekuler, (Jakarta: Darul Falah, 1999), Cet. Ke-1, h. 122 dan 141.
18 Bahrul ‘Ulum, “Bodohnya NU” apa “NU Dibodohi?”, Jejak Langkah NU Era Reformasi: Menguji Khittah, Meneropong Paradigma Politik, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Press, 2002), Cet. Ke-1, h. 110. Lihat
tetap bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kiai As’ad Umar bergabung dengan Partai Golkar, gus Saifullah Yusuf dan kiai Hasib Wahab bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kiai-kiai tersebut baik yang membentuk partai baru maupun yang menggabungkan diri dengan partai lain, umumnya merupakan warga dan ulama NU, karena mereka pernah menduduki jabatan sebagai pengurus NU, baik tingkat Pusat maupun Cabang. Selain itu, mereka juga pengasuh pesantren kenamaan, yang materi pelajaran yang diberikan kepada para santrinya, memakai kitab-kitab menurut faham Aswaja, sedangkan faham Aswaja merupakan aqidah Jam’iyah Dīniyah Islāmiyah NU.19
Dengan demikian, situasi politik tahun 1998 yang diiringi dengan diterbitkannya tiga undang-undang baru dalam bidang politik oleh pemerintahan B.J.
Habibie di atas, secara tidak langsung mempunyai hubungan dan pengaruh terhadap sikap politik kiai pesantren, karena dari sayap NU, sebuah Ormas Islam yang didirikan oleh para kiai pesantren, berdiri beragam partai yang kebanyakan dibidani pendiriannya oleh para kiai pesantren, di samping
pula Zainal Abidin Amir, Peta Islam Politik Pasca-Soeharto, (Jakarta:
LP3ES, 2003), Cet. Ke-1, h. 106-131.
19 Lihat Anggaran Dasar NU, Pasal 3 Tentang Aqidah. Mahbub Djunaidi, Nahdlatul Ulama Kembali Ke Khittah 1926, (Bandung:
Risalah, 1985), Cet. Ke-1, h. 126-127.
ada pula kiai pesantren yang tetap menyalurkan aspirasinya pada partai yang telah mapan sebelumnya, seperti PPP, Golkar atau bahkan PDI.
Kiai pesantren yang menyikapi kondisi perpolitikan tahun 1998 tersebut adalah kiai pesantren yang berada di wilayah Jawa Timur, sebuah wilayah yang warganya menjadi basis pendukung dan pengawal Ormas NU, tetapi, tidak berarti dengan adanya sikap20 politik kiai pesantren tersebut, NU berubah menjadi partai politik. NU sesuai keputusan Muktamar ke-27 tahun 1984 di Situbondo,21 tetap pada Khittah/Garis Perjuangan 1926, sebagai sebuah
20 Sikap adalah kecenderungan individu untuk menanggapi situasi, benda, ide, orang dan isu dengan cara tertentu. Sikap seseorang terhadap sesuatu biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengalaman, pengetahuan, perasaan, emosi, cara berfikir, kebutuhan dan tujuan yang inging dicapai. Lihat Lau & James B. Shani, A.B., Behaviour in Organizations: An Experiential Approach, (Homewood: Richard Irwin Inc, 1992), h. 98. Dalam konteks perpolitikan di Indonesia 1998-2004, disikapi oleh kiai pesantren di Jawa Timur, salah satunya, dengan mendirikan partai politik, di samping tetap bergabung dengan partai yang telah mapan atau menjadi anggota parlemen dan anggota kabinet dan lain sebagainya, guna mencapai ‘izz al-Islam wa al-Muslimin, melalui institusi pendidikan pesantren dan lain sebagainya.
21 Mahbub Djunaidi, Ketua Tanfidziyah NU, mewakili KH. As’ad Syamsul Arifin, menegaskan bahwa dalam Pemilu 1987 nanti warga NU wajib menyukseskan pesta demokrasi, tetapi tidak wajib berkampanye untuk PPP. Sekali lagi NU bukan PPP dan PPP bukan NU, karena keduanya punya dunia sendiri-sendiri. Keduanya tidak punya ikatan organisasi. Ini merupakan keputusan Muktamar PPP sendiri dan keputusan Muktamar NU. NU tidak melarang warga NU atau anggotanya termasuk para kiai yang menjadi pendukung dan pengawal NU untuk berpolitik, tetapi melarang semua jabatan rangkap para pengurusnya. Mereka diharuskan memilih antara karier politik atau sosial keagamaan. Lihat Kacung Marijan, Quo Vadis NU Setelah Kembali ke Khittah 1926, (Jakarta: Erlangga, 1992), h. 2.
Jam’iyah yang memusatkan perhatiannya pada kegiatan bidang agama, pendidikan, pengajaran dan kebudayaan serta bidang sosial dan ekonomi.
Sikap politik kiai pesantren di Jawa Timur tersebut, kemungkinan dimotivasi oleh besarnya jumlah pesantren di wilayah itu.22 Secara kuantitatif, jumlah santri dan pesantren di Jawa Timur, sebagaimana dikatakan Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, merupakan yang terbesar di antara pesantren yang ada di Indonesia.23
22 Kiai Achmad Taufiqurrohman, Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur dalam kesempatan wawancara dengan penulis tanggal 27 Pebruari 2007, antara lain menyatakan bahwa argumen yang bisa menjadi pertimbangan mengapa kiai pesantren melakukan kegiatan politik, selain karena wilayah Jawa Timur,memiliki banyak pesantren dengan jumlah santri yang besar pula, juga karena kiainya mempunyai naluri sebagai pejuang, sebagaimana telah ditunjukkan oleh kiai Hasyim Asy’ari, kiai A. Wahid Hasyim, kiai Wahab Hasbullah dan lain-lain. Selain itu, pada Pemilu Pertama, tanggal 29 September 1955 dan menjadi symbol eksperimentasi Islam politik jilid I, NU muncul sebagai empat partai besar dengan perimbangan kekuatan Parlemen PNI 57 kursi, Masyumi 57 kursi, NU 45 kursi dan PKI 39 kursi. Juga pada Pemilu Kedua tahun 1971 dan menjadi symbol ekperimentasi Islam politik jilid II, NU memperoleh suara terbanyak di antara Parpol Islam yang lain, sekitar 18,67 % (lebih tinggi dibandingkan 18,4 % suara yang diperoleh pada Pemilu tahun 1955), setara dengan 58 kursi DPR. Perolehan suara sebesar itu, baik pada Pemilu 1955 maupun Pemilu 1971, terbanyak diperoleh di Jawa Timur, daerah kantong pesantren, sehingga tidak bisa diabaikan betapa besar peran kiai pesantren dalam mempengaruhi kontituennya. Lihat Alfian, Hasil Pemilihan Umum 1955 untuk Dewan Perwakilan Rakyat, (Jakarta: Leknas, 1971), h. 9-13. Juga lihat Martin Van Bruinessen, NU, Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, (Yogyakarta: LKiS, 1994), Cet. Ke-1, h. 103.
23 Pernyataan itu, ia sampaikan dalam kunjungannya ke sejumlah ponpes untuk menghadiri istighotsah atau acara resmi lainnya. Hampir di
Berdasarkan data statistik Ditjen Kelembagaan Islam, Departemen Agama Republik Indonesia tahun 1980, jumlah pesantren di Indonesia mencapai 5.373 buah dengan jumlah santri 1.238.967 orang. Dari jumlah tersebut, 1.344 buah terdapat di Jawa Timur dengan santri berjumlah 427.517 orang.24 Pada tahun 2005 jumlah institusi tersebut meningkat menjadi 14.798 buah dengan santri berjumlah 3.464.334 orang. Dari jumlah tersebut, 3.582 buah terdapat di Jawa Timur dengan santri mencapai 1.169.256 orang.25 Jadi, melalui pemilihan umum, mereka berharap dapat mendulang suara dari para santri dan orang tua beserta para keluarganya, bahkan dari para alumni
setiap acara yang diikuti, ribuan masyarakat turut hadir. Mereka larut dalam do’a serta mendengarkan seksama wejangan dari para kiai. Oleh karena itu, “Ini sangat luar biasa, jika pesantren juga dapat menyebarkan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat. Rencananya ia akan membangun Poskestren di 200 pesantren yang tersebar di Jawa Timur.
Jadi, diawali dari Jawa Timur. Peresmian program ini dilakukan di Ponpes Langitan Widang Tuban, sebagai salah satu dari lima pesantren yang mengawali program ini. Keempat ponpes lainnya adalah Darul Ulum, Peterongan Jombang, Bachrul Ulum, Tambak Beras Jombang, al- Tanwir, Bojonegoro dan Raudhatul Muta’allimin, Babat Lamongan.
Lihat “Pesan Kesehatan Dari Pesantren”, Dialog Jum’at Tabloid Republika, (Jakarta), 15 September 2006.
24 Statistik Pendidikan Islam (1979-1980), Ditjen Pembinaan Kelembagaan Islam, Departemen Agama Republik Indonesia.
25 Statistik Pendidikan Agama & Keagamaan (2004-2005), Ditjen Kelembagaan Islam, Departemen Agama Republik Indonesia. Lihat pula Yahya Umar, “Jawa Barat Tuan Rumah Jambore Pramuka Santri 2009”, Republika, (Jakarta), 15 September 2006.
dan keluarganya. Dalam hangar-bingar politik, mereka berebut posisi kaum santri.26
Dengan demikian, suara dari pesantren mempunyai daya jual yang tinggi, sehingga sebagai pemilik, pengasuh dan elite,27 setidak-tidaknya elite pesantren atau bahkan elite agama di tengah-tengah masyarakat sekitarnya, kiai dapat melakukan bargaining position dengan pihak-pihak yang punya kepentingan. Jadi, pantas bila pesantren dan warganya diperebutkan oleh banyak kalangan. Pada era Orde Baru, para politisi Golkar biasa melakukan kunjungan ke beberapa pesantren di berbagai wilayah di Indonesia: Jawa dan luar Jawa, apalagi saat menjelang pelaksanaan pemilu lima tahunan tiba. Mereka datang selain meminta restu dan dukungan atas pencalonan seseorang menjadi presiden dan jabatan lainnya, juga tak jarang menawarkan berbagai jabatan, baik jabatan pada lembaga legislatif maupun eksekutif atau bahkan
26 Parpol Berebut Posisi Kaum Santri, Republika, (Jakarta), 12 Nopember 2007, h. 3.
27 Secara umum berarti sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi, sedangkan secara khusus, berarti sekelompok orang terkemuka pada bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan. Bahkan diartikan sebagai posisi di dalam masyarakat, di pucak struktur-struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi dalam ekonomi, pemerintahan, kemiliteran, politik, pekerjaan dinas, pengajaran dan agama dan lain sebagainya. Dari pengertian ini, terdapatlah beragam sebutan elite, di antaranya adalah elite politik, ekonomi, militer, diplomatik, cendikiawan, filsuf, pendidik dan pemuka masyarakat serta elite agama dan lain sebagainya.
menawarkan bantuan dana dan lainnya untuk perbaikan sarana dan prasarana dalam rangka kemajuan institusi pesantren, asalkan kiai dan warga pesantren lainnya memberikan dukungan pada Golkar. Kiai Karim Hasyim, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, yang juga putra pendiri Ormas NU dan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng KH.
Hasyim Asy’ari misalnya, pada tahun 1971, awal Orde Baru, merupakan salah seorang di antara sekian banyak kiai yang berhasil direkrut oleh Golkar untuk menjadi juru kampanyenya.28 Begitu pula, kiai Musta’in Romly, tokoh kharismatik, mursyid dan Ketua Umum Tarekat Qodiriyah-Naqsabandiyah, Rektor Universitas Darul Ulum dan Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang adalah kiai pesantren yang secara terang- terangan menyeberang dan menjadi pendukung Golkar pada tahun 1978,29 padahal sebelumnya, ia
28 Ketika penulis menjadi santri Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1969-1974, ia pernah berkunjung ke Gontor untuk bersilaturahmi kepada KH. Ahmad Salah, salah seorang dari tiga pengasuh (Trimurti) pondok. Kepadanya, ia memohon agar berkenan memberikan dukungan kepada Golkar pada Pemilu yang akan diselenggarakan pada 1971, tetapi, ia menolaknya dengan berbagai pertimbangan dan alasan.
29 Kiai Musta’in Romly dengan institusi pendidikan dan keagamaan yang dipimpinnya tidak sepantasnya meninggalkan NU, sedangkan di pihak lain, Rejoso sebagai salah satu dari 4 pesantren di Jombang yang paling berpengaruh dan memiliki sistem pendidikan yang paling modern -ada SMP, SMA, Fisipol dan Fakultas Hukum- ternyata alumninya belum semujur alumni 3 pesantren lainnya. Dari keempat pesantren
“bibit NU” di Jombang itu, Rejoso adalah satu-satunya yang belum memperoleh kedudukan tertinggi dalam tubuh NU, maupun dalam pemerintahan melalui NU. Rais ‘Am NU yang pernah menjabat sampai
merupakan pendukung utama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), satu-satunya partai yang dianggap mewakili aspirasi ummat Islam. Terlepas dari interes pribadi, keduanya akhirnya dikucilkan dan diasingkan bahkan kiai Musta’in Romly hampir dibuang dari komunitasnya.
Dua contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya pesantren dan warganya – pada dasawarsa tujuh puluhan – bagi Golkar sebagai pengawal rezim yang berkuasa saat itu, untuk mendulang suara pemilih, suatu kenyataan yang juga diamini dan dilanjutkan oleh para ketua dan pengurus Golkar periode berikutnya. Harmoko, Ketua Umum Golkar 1992-1997 dan Menteri Penerangan RI, sebagaimana pengurus sebelumnya,
saat itu berturut adalah KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, KH. Abdul Wahab Hasbullah dari Tambak Beras dan KH. Moh. Bisri Syansuri dari Dinanyar. Sedangkan dua Menteri Agama dari Jombang yang pernah ada adalah KH. Abd. Wahid Hasyim dari Tebuireng dan KH. Wahib Wahab dari Tambak Beras. Sedangkan Rejoso, tampaknya tidak pernah melahirkan tokoh dalam bidang politik maupun pemerintahan yang mampu mencapai jabatan setinggi itu. “Saya toh tidak dapat menitipkan amanat pesantren Rejoso kepada orang-orang Tambak Beras atau Tebuireng yang ada di pusat itu! Maka saya harus berjalan sendiri, menembus ke pusat sendiri. Sikap politik kiai Musta’in Romly selain menghasilkan keuntungan yang sifatnya materiil bagi pengembangan dan kemajuan institusinya, juga mengubah pandangan sebagian besar politisi yang berpredikat kiai pesantren terhadap Orde Baru yang berkeinginan memisahkan Islam sebagai agama dengan Islam sebagai ideology. Lihat Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997), Cet. Ke-1, h. 80-81. Lihat pula Sukamto, Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1999), Cet. Ke-1, h. 304-309.
juga melakukan hal yang sama, bahkan ia mencanangkan “Safari Ramadhan”, semacam kegiatan mengunjungi pesantren pada bulan puasa.
Demikian juga Siti Hardiyanti Rukmana (selanjutnya disebut Tutut), Ketua Golkar, saat ayahnya, Presiden Soeharto berada di puncak kewibawaan, menggandeng Gus Dur, Ketua Umum PBNU dan tokoh masyarakat yang sangat populer, dalam kampanye pemilu 1997, keliling pesantren.30 Tak lupa Gus Dur, ketika itu mengucapkan sejenis “Pesan Sponsor” dengan menyatakan “Tutut adalah calon pemimpin nasional masa depan. Para kiai dan santri, banyak yang mengamini pernyataan Gus Dur.”31
Sebagaimana Golkar, politisi PPP, partai yang merupakan fusi dari Parmusi, Partai NU, PSII dan Partai Perti, juga melakukan strategi yang sama. PPP bahkan menempatkan kiai-kiai pesantren kharismatik dalam struktur organisasi kepengurusan PPP, antara lain kiai Moh. Bisri Syansuri, Rais ‘Am NU dan pendiri pesantren Denanyar, dipilih menjadi Rais
‘Am Majelis Syuro PPP, kiai Maimun Zubeir dari Ponpes Sarang, dipilih menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai, kiai Alawy Muhammad,
30 Musa Kazhim & Alfian Hamzah, 5 Partai Dalam Timbangan, Analisis dan Prospek, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), Cet. Ke-1, h.
232.
31 Fransiskus Surdiasis, (ed.), Opini Denny J.A. Harian Suara Pembaharuan, Jalan Panjang Reformasi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006), 178.
Pengasuh Ponpes al-Taroqqy, Sampang Madura, dipilih menjadi Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Partai, sedangkan kiai Muhammad Yusuf Hasyim, Direktur Ponpes Tebuireng dipilih menjadi Ketua PPP. Penempatannya dalam struktur kepengurusan partai, selain untuk membangun citra PPP sebagai satu-satunya partai Islam, juga dalam rangka merebut hati dan suara warga pesantren dan ummat Islam yang tersebar di berbagai penjuru negeri ini, khususnya Pulau Jawa. Tetapi, aliansi kiai pesantren dengan PPP mengalami hambatan sejalan dengan diserahkannya jabatan Ketua Umum PPP kepada H.J.
Naro tanpa melalui rapat partai, apalagi muktamar, oleh H.M.S. Mintaredja, Ketua Umum PPP 1973-1978.
Konflik antara keduanya ini semakin meruncing, ketika H.J. Naro, yang memegang kendali kepemimpinan partai sampai tahun 1989, secara sepihak menyerahkan kepada pemerintah, daftar calon anggota legislatif untuk pemilu 1982, dengan mengurangi proporsi anggota NU secara drastis, dan bila ada kiai pesantren didaftar maka kiai pesantren yang vokal seperti kiai Muhammad Yusuf Hasyim, kiai Saifuddin Zuhri dan Imron Rosjadi diletakkan pada urutan paling bawah, sehingga tidak mungkin terpilih. Dampaknya, kiai pesantren beserta NU yang dikawalnya keluar dari PPP dan meninggalkan politik praktis. Keputusan itu, dua tahun kemudian
diformalkan dalam Muktamar NU di Situbondo tahun 1984.32
Dalam pada itu, sikap politik kiai pesantren yang mendirikan beragam partai atau dengan bergabung pada partai yang telah established tersebut, barangkali juga dipicu oleh tujuan politiknya, yakni ‘izz al-Islām wa al-Muslimīn. Mereka berpandangan bahwa warga NU, yang juga warga pesantren, secara ekonomi merupakan masyarakat yang lemah, sedang secara intelektual, merupakan komunitas yang rendah dan tertinggal. Jadi, berbeda dengan Muhammadiyah, secara ekonomi, warganya merupakan masyarakat yang berada, sedang secara intelektual, merupakan komunitas yang maju, yang ditandai dengan banyaknya warga Muhammadiyah yang mengenyam pendidikan tinggi, sehingga mereka dikategorikan sebagai kelompok rasional dan modernis.33 Sebaliknya, warga NU dikategorikan sebagai kelompok tradisionalis dan ortodok. Oleh karena itu, untuk mengentaskan mereka dari kedua kondisi di atas, maka kiai pesantren merasa perlu untuk melakukan kegiatan politik, dengan target utama lembaga legilatif dan eksekutif atau bila mungkin
32 Lihat Mahbub Djunaidi, Nahdlatul Ulama Kembali Ke Khittah 1926, (Bandung: Risalah, 1985), Cet. Ke-1, h. 27-28.
33 M.M. Billah, “Muhammadiyah Dan Nahdlatul Ulama: Reorientasi Wawasan Pergerakan”, dalam Yunahar Ilyas, M. Masyhur Amin dan M Daru Lalito (ed.), Muhammadiyah dan NU Reorientasi Wawasan KeIslaman, (Yogyakarta: Kerjasama LPPI UMY, LKPSM NU dan PP al-Muhsin, 1993), Cet. Ke-1, h. 18-22.
lembaga yudikatif dan lembaga non pemerintah lainnya.
Lewat kedua lembaga negara yang bergengsi itu khususnya dan umumnya, lembaga-lembaga non pemerintah lainnya, kiai pesantren dan mereka yang duduk mewakili kepentingan kiai pesantren dan Ormas NU,34 dapat memainkan peran-peran politiknya, misalnya peran dalam pengambilan berbagai keputusan, peran dalam melaksanakan fungsi-fungsi DPR, yakni bersama-sama Presiden membentuk undang-undang, membentuk undang- undang tentang APBN, melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, pelaksanaan APBN dan kebijakan pemerintah serta berperan sebagai forum komunikasi antara rakyat dengan
34 Organisasi ini didirikan oleh kiai Hasyim Asy’ari bersama ulama terkemuka lainnya, pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Jika kiai Hasyim Asy’ari dikenal sebagai tokoh pembentuk isi Nahdlatul Ulama, maka kiai Wahab Hasbullah adalah tokoh yang mewujudkannya menjadi organisasi. Jadi, keduanya, baik kiai Hasyim Asy’ari, Rais Akbar maupun kiai Wahab Hasbullah, Rais ‘Am adalah Bapak dan Pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Adapun faktor yang melatarbelakangi didirikannya ormas ini antara lain adalah dua peristiwa besar yang menyangkut agama Islam yang terjadi setelah tahun 1924, yakni dihapuskannya khalifah oleh Turki dan serbuan Kaum Wahabi ke Mekkah. Kepada yang terakhir, para kiai pengusulkan agar tata cara ibadah keagamaan yang dipertanyakan oleh Kaum Wahabi puritan seperti membangun kuburan, berziarah, membaca do’a Dalāil al- Khairāt, ajaran mazhab Syafi’I yang kebanyakan dianut oleh umat Islam Indonesia dan kepercayaan terhadap para wali tetap dipertahankan. Lihat Lothrop Stoddard, the New World of Islam, (Jakarta: Panitia Penerbit, 1966), h. 323. Lihat pula Deliar Noer, the Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942, (Singapore: Oxford University Press, 1973), h.
243.
pemerintah dan DPR.35 Tentu, untuk sampai pada lembaga negara dan non negara tersebut, perlu ada sarana yang mengantarkannya, sedangkan kendaraan yang dipandang sangat efektif adalah partai politik.
Oleh karena itu, pada tempatnya, bila para elite politik, elite agama, elite pesantren dan elite-elite lainnya, sebagaimana dijelaskan terdahulu, kemudian mendirikan partai yang sangat variatif. Khusus untuk elite pesantren, pendirian beragam partai itu, bisa direalisasikan karena NU telah kembali ke khittah 1926, dari organisasi politik menjadi organisasi atau Jam’iyah yang memusatkan perhatiannya pada kegiatan bidang agama, pendidikan, pengajaran dan kebudayaan serta bidang sosial ekonomi, sehingga membuka kesempatan kepada kiai pesantren untuk berkiprah di partai politik, baik baru maupun lama.
Dalam hal ini, kiai Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa kiai khususnya dan NU pada umumnya, kini sebaiknya berusaha masuk ke segala lingkungan dan semua partai. Mereka harus berada di semua tempat, di dalam angkatan bersenjata, PDI, Golkar dan PPP.
Kita harus berada di semua tempat.36 Jadi, kiai dan NU sedikit banyak mengikuti contoh Muhammadiyah yang sudah berada di tiga partai
35 Kiai As’ad Umar, Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum dan Anggota DPR Dari Golkar, Wawancara Pribadi, Peterongan, Jombang, 21 Pebruari 2007.
36 Andree Feillard, NU vis-à-vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, (Yogyakarta: LKiS, 1999), Cet. Ke-1, h. 265.
politik,37 lantaran Muhammadiyah merupakan Jam’iyah dan persyarikatan yang berorientasi pada gerakan dakwah, amar makruf nahi munkar, pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya,38 sehingga memungkinkan anggotanya berada di semua tempat, Partai Politik, ABRI, LSM dan lain sebagainya.
Dengan demikian, sikap politik kiai di atas, nampak dipicu oleh banyak faktor dan untuk melengkapi faktor tersebut, berikut argumen- argumen yang barangkali bisa dikategorikan sebagai factor pemacu. Pertama, bahwa sumber ajaran Islam memiliki lingkup tidak terbatas pada aspek ritual dan bimbingan moral, tetapi juga memberikan nilai-nilai pada semua sisi kehidupan, baik dalam ilmu ekonomi, hukum dan sosial maupun dalam persoalan
37 Pada periode 1987-1992, Muhammadiyah memiliki 9 wakil di DPR dari PPP, 3 dari Golkar dan 1 dari PDI. Di pemerintahan juga terwakili dengan diangkatnya Munawir Sjadzali menjadi Menteri Agama. Meskipun begitu, Muhammadiyah tidak bisa menyetujui semua usulan Menteri Munawir, misalnya dalam masalah pembagian warisan yang diusulkan sama bagi anak laki-laki dan perempuan.
38 Sikap menarik garis pemisah yang jelas antara kegiatan sosial keagamaan dengan dunia politik telah lama dilakukan oleh Muhammadiyah, terutama setelah kegagalan beberapa pemimpinnya mengambil alih pimpinan partai baru, Parmusi, pada tahun 1968. Sejak itu, ia menyatakan diri tidak mempunyai ikatan apapun dengan partai politik pada tahun 1971, sehingga ia dikritik dan dicap sebagai kelompok Islam radikal. Lihat Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Muhammadiyah, (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1962), h. 3-4. Lihat pula Andree Feillard, NU vis-à-vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, (Yogyakarta: LKiS, 1999), Cet. Ke-1, h. 338.
politik dan Negara.39 Kedua, dengan posisinya sebagai pemuka (elite) agama, kiai pesantren memiliki pengikut dan pengaruh yang luas di tengah-tengah santri dan masyarakat di sekitar pesantren, sehingga menyebabkannya terlibat dalam persoalan peng- ambilan keputusan bersama, proses kepemimpinan, penyelesaian problem-problem sosial, pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.40 Ketiga, dari segi sejarah, ulama, baik wali maupun kiai pesantren memiliki peran yang cukup besar dalam politik, yang bisa dilihat dalam pengambilan keputusan sepanjang sejarah Islam di Indonesia.41
Fenomena sikap politik kiai pesantren terhadap perpolitikan di Indonesia, khususnya pada era reformasi, sejauh pengamatan penulis menarik untuk dicermati, diteliti, dikaji dan dijadikan sebagai bahasan dalam sebuah tulisan, mengingat masa itu merupakan bagian yang menentukan dari demo- kratisasi di Indonesia yang ditandai oleh pelaksanaan pemilu multi partai yang bebas, rahasia, jujur dan adil, pada 7 Juni 1999.
39 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), Cet. Ke-1, h. 8.
40 Ali Maschan Musa, Kiai & Politik Dalam Wacana Civil Society, (Surabaya: LEPKISS, 1999), 116-124.
41 Lihat Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam Di Indonesia Abad Ke-19, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), Cet. Ke-1. Juga lihat Laporan-Laporan Tentang Gerakan Protes Di Jawa Pada Abad XX, (Jakarta: Arsip Nasional RI, 1981).
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka penulis meneliti pesantren dan politik, studi tentang sikap politik kiai pesantren di Jawa Timur 1998-2004. Untuk meneliti masalah tersebut, maka dapat dikemukakan identifikasi masalah sebagai berikut:
Pertama, pesantren dan politik merupakan dua hal yang berbeda. Politik merupakan usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama melalui penyelenggaraan negara dan pemerintahan, sehingga menimbulkan kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat yang terkadang dibarengi dengan konflik, di samping kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum.
Sedangkan pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam, tempat murid-murid belajar mengaji dan mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam kepada seorang guru, pemilik pesantren itu sendiri yang dikenal dengan sebutan kiai. Dengan demikian, kiai pesantren merupakan kiai yang memusatkan perhatiannya pada pengajaran di pesantren untuk mencerdaskan sumber daya masyarakat melalui pendidikan. Tetapi, kenyataannya mereka mengambil garapan para negarawan dan politisi, dengan menyikapi perpolitikan era reformasi melalui pendirian partai.
Persoalannya, apakah perpolitikan era reformasi berhubungan dengan sikap politik kiai pesantren pesantren?
Kedua, manusia selain disebut sebagai homo social juga dikenal sebagai homo politicus. Artinya bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan sangat tergantung pada yang lain, di samping ia juga saling mempengaruhi satu sama lainnya. Kiai pesantren adalah manusia. Oleh karena itu, kiai pesantren juga punya kepentingan politik, dan untuk mencapainya, kiai pesantren menyikapi kebijakan politik pemerintah era reformasi dengan mendirikan partai.
Persoalannya, apakah kebijakan pemerintah berhubungan dengan sikap politik kiai pesantren?
Ketiga, seseorang melakukan berbagai macam aktivitas, terutama politik, karena adanya kekuatan yang mendorong. Kekuatan pendorong itu ada yang datang dari dalam diri orang itu sendiri atau kekuatan internal dan ada pula yang datang dari luar diri orang itu sendiri atau kekuatan eksternal.
sehingga tujuan yang dicita-citakan bisa tercapai.
Dalam konteks kiai pesantren persoalannya adalah apakah tujuan dan motivasi politiknya berhubungan dengan sikap politik kiai pesantren?
Keempat, dalam mencapai tujuan yang diinginkan tentu diperlukan sarana dan tempat berupa lembaga yang menjadi target politiknya.
Persoalannya, apakah sarana yang menjadi target politiknya berhubungan dengan sikap politik kiai pesantren?
Kelima, bila sarana dan tempat berupa lembaga telah dapat direalisasikan dan didapat, maka melalui lembaga itu, diharapkan dapat dimainkan peran- peran strategisnya, sehingga motif dan tujuannya tercapai. Dalam konteks kiai pesantren, masalahnya adalah apakah peran-peran strategis yang dimainkan pada lembaga berhubungan dengan sikap politik kiai pesantren?
Keenam, aktivitas kiai pesantren dalam politik, seringkali banyak menyita waktu, tenaga dan pikiran dan lain sebagainya, sehingga kegiatan pokonya sebagai pengasuh sekaligus pengajar di pesantren untuk mencerdaskan sumber daya manusia melalui pendidikan menjadi terabaikan. Oleh karena itu, muncul permasalahan, apakah dampak bagi dunia pesantren berhubungan dengan sikap politik kiai pesantren?
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Mengingat luasnya masalah yang akan dikaji sebagaimana dikemukakan di atas, maka penulis hanya akan membatasi permasalahan pada sikap politik kiai pesantren di Jawa Timur tahun 1998-2004
saja, sehingga permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah terdapat hubungan antara perpolitikan era reformasi dengan sikap politik kiai pesantren?
2. Apakah terdapat hubungan antara kebijakan politik pemerintah era reformasi dengan sikap politik kiai pesantren?
3. Apakah terdapat hubungan antara tujuan dan motivasi politik kiai pesantren dengan sikap politiknya?
4. Apakah terdapat hubungan antara lembaga, tempat kiai pesantren memainkan peran politiknya dengan sikap politik kiai pesantren?
5. Apakah terdapat hubungan antara dampak bagi dunia pesantren dengan sikap politik kiai pesantren?
D. Kajian Pustaka Terdahulu
Kajian tentang pesantren dan warganya, baik kiai maupun santri dalam hubungannya dengan kehidupan di dalam dan luar pesantren sebenarnya telah banyak dilakukan orang. Kajian itu ada yang sudah dibukukan dan tersebar luas dan ada yang hanya dipublikasikan secara terbatas. Di antaranya
ada yang berupa kumpulan makalah dari hasil studi literatur dan ada pula yang berupa refleksi pengalaman penulis yang bersangkutan bahkan ada yang berupa hasil penelitian yang sederhana. Selain itu, ada beberapa kajian mendalam berupa disertasi yang ditulis sebagai bagian untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar doktor.
Kajian yang bersifat mendalam yang ditulis dalam bentuk disertai ditulis oleh Imam Suprayogo,42 berjudul Kiai dan Politik Di Pedesaan, Suatu Kajian Tentang Variasi dan Bentuk Keterlibatan Politik Kiai.
Dalam disertasi ini, penulis mencoba mengkaji kiai dari sisi variasi dan bentuk keterlibatan politiknya di Kecamatan Tebon, daerah penghasil tebu terbesar di wilayah Kabupaten Malang. Mulanya diduga bahwa variasi dan bentuk keterlibatan politik kiai tunggal, tetapi kenyataaanya tidaklah demikian, sangat variatif. Begitu pula bentuk keterlibatan kiai bervariatif dalam politik pada masyarakat yang berada di lapis bawah sangat beragam, terutama dalam memandang pemerintah sebagai rival baik dalam afiliasi politik dan pemilihan kepala desa maupun dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ekonomi umat. Terdapat kiai yang berekonomi kuat, sehingga memiliki independensi
42 Imam Suprayogo, “Kiai dan Politik di Pedesaan, Suatu Kajian Tentang Variasi dan Bentuk Keterlibatan Politik Kiai,” Disertasi Doktor Ilmu Sosial, (Surabaya: Perpustakaan Pascasarjana Universitas Airlangga, 1998). td.
kuat dan mengambil jarak dengan pemerintah, tetapi ada pula kiai yang lemah secara ekonomi, sehingga tidak memiliki independensi. Akibatnya, ia selalu tergantung pada pihak-pihak lain, dan secara politik dekat dengan penguasa. Oleh karena itu, kiai seringkali diperebutkan oleh berbagai kelompok kepentingan. Kiai yang berada pada kategori pertama, biasanya menjadi mitra kritis terhadap penguasa, sebaliknya kiai berada pada kategori kedua, mengambil sikap politik adaptif dan akomodatif.
Mahmud Suyuthi43 dalam karyanya berjudul Politik Tarekat, mencoba menjelaskan bahwa penataan politik yang dikembangkan Orde Baru mempunyai dampak politis yang terelakkan oleh kaum tarekat.
Akibatnya tarekat Qidīriyah wa Naqsyabandiyah di Jombang pecah menjadi tiga kelompok: Tarekat Rejo (akomodasional), Tarekat Cukir (fundamentalis) dan Tarekat Kedinding Lor (reformis). Perbedaan pola perilaku kaum tarekat tersebut disebabkan oleh perbedaan pandangan atau pendapat mereka terhadap pemerintah Orde Baru, serta perbedaan pemaknaan dan penafsiran terhadap kepentingan Islam.
Meskipun secara kategoris perilaku politik Tarekat Rejoso akomodasionis, Tarekat Cukir
43 Mahmud Suyuthi, Politik Tarekat, (Yogyakarta: Gilang, 2002), Cet. Ke-1.
fundamentalis dan Tarekat Kedinding Lor reformis, namun tidak berarti bahwa perilaku politik murid pada masing-masing tarekat itu sama dengan perilaku politik mursyidnya, meskipun masih dalam satu payung tarekat yang sama: Qodīriyah wa Naqsyabandiyah. Selain itu, hubungan tarekat dan politik Orde Baru tidak dapat dilepaskan dari kerangka besar yang membingkainya, yaitu hubungan Islam dan negara di Indonesia. Hubungan Islam dan negara di Indonesia mengalami beberapa fase perkembangan yaitu fase ketegangan (sejak menjelang kemerdekaan sampai masa awal Orde Baru), fase pencarian dan penyesuaian hubungan (sejak tahun 1970-an sampai ditetapkannya Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi politik dan sosial kemasyarakatan tahun 1985) dan fase akomodatif (sejak tahun 1985 sampai sekarang).
Sementara sejak tahun 1970-an telah terjadi pembaharuan pemikiran di kalangan umat Islam.
Akibatnya terdapat pola pemikiran, sikap dan perilaku politik dalam memberikan respon terhadap politik pemerintah Orde Baru. Perbedaan pola-pola pemikiran, sikap dan perilaku politik tersebut tidak hanya berlaku bagi organisasi dalam skala besar, tetapi dalam suatu organisasi Islam terdapat kelompok-kelompok yang mempunyai pola perilaku politik yang berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, pluralitas pemikiran di kalangan umat Islam
telah memasuki segmen-segmen yang lebih kecil, termasuk di kalangan kaum tarekat. Jadi, komunitas Islam yang majemuk menjadi semakin majemuk.
Dalam pada itu, komunitas tarekat sebagai komunitas keagamaan tidak berdaya dalam menghadapi kekuasaan pemerintah Orde Baru.
Namun sebagai gerakan keagamaan, tarekat dapat menjadi saluran dari proses santrinisasi priyayi atau birokrasi, dengan semakin banyaknya elite birokrasi yang masuk menjadi penganut atau pengamal tarekat. Sementara, tarekat sebagai salah satu dimensi ajaran Islam yang bersifat esoteris (batiniyah) semakin menarik minat dalam kehidupan modern yang kehilangan dimensi spiritual dan transedental.
Zamakhsyari Dhofier,44 dalam bukunya The Pesantren Tradition, The Role of Kiai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, mencoba mengkritik studi tentang Islam di Jawa yang terpaku oleh pola pendekatan dikotomi tradisionalisme dan modernisme yang tidak dapat dipertemukan, yang kemudian menghasilkan penyederhanaan dan penyifatan yang kasar sebagai dua kutub yang saling berlawanan.
Pendekatan seperti ini menurutnya dianggap tidak akan membuahkan pengetahuan yang baru. Oleh karena itu, ia menawarkan alternatif pendekatan lain
44 Zamakhsyari Dhofier, The Pesantren tradition, The Role of the Kiai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, op. cit., h. xx-xxii dan xxx.
yang disebutnya “Kesinambungan di tengah-tengah perubahan” – continuity and change. Lewat pendekatan ini, ia menyimpulkan bahwa dalam membangun masa depannya, pesantren berdiri dengan teguh di atas tradisi masa lampaunya.
Bahkan, pada pesantren telah terjadi perubahan- perubahan yang mendasar tanpa kehilangan jati diri kiai atau pesantren yang bersangkutan. Pendekatan dikotomis tradisionalis dan modernis hanya akan memberikan gambaran yang tidak tepat, yaitu seolah- olah pada suatu ketika kelompok tradisionalis akan hilang setelah kelompok modernis mencapai keberhasilan secara penuh, padahal yang demikian menurutnya tidak akan pernah terjadi.
Tampaknya, Zamakhsyari Dhofier ingin menunjukan pada dunia luar, bahwa pada dunia kiai telah terjadi perubahan dan adaptasi sesuai dengan tuntutan masyarakat, dimana kiai telah berhasil memperbaharui penafsiran mereka terhadap Islam tradisional untuk disesuaikan dengan dimensi kehidupan yang baru. Begitu pula, dalam lapangan sosial dan politik, para kiai dan anak cucunya telah menjadi bagian dari kehidupan politik nasional, tidak kalah moderen dibandingkan dengan kelompok- kelompok sosial politik lainnya. Di antara kiai ada yang memiliki kemampuan berpartisipasi dengan memberikan alternatif pemikiran dalam rangka pembangunan bangsa dalam skala yang lebih luas.
Keterlibatan kiai dalam merumuskan dasar Negara Republik Indonesia dapat menjadi contoh betapa peran strategis yang diambil oleh para kiai dalam bidang politik.
Martin Van Bruinessen,45 dalam karyanya berjudul Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, banyak berbicara tentang tradisi keilmuan pesantren, kitab kuning dan hubungan pesantren dengan tarekat.
Buku ini memang tidak banyak menyinggung posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi banyak menyinggung mengenai asal usul pesantren, metode dan materi pelajaran yang diajarkan di seluruh pesantren di Indonesia, termasuk di pulau Jawa, bahkan juga dibahas mengenai gerakan tarekat di pesantren dalam hubungannya dengan proses pertumbuhan dan perkembangan wacana keagamaan dan semangatnya dalam perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Jadi, persoalan politik dibicarakan secara sederhana dan eksplisit.
Manfred Ziemek,46 dalam karyanya berjudul Pesantren dalam Perubahan Sosial memberikan penjelasan ala kadarnya tentang asal usul pesantren, tetapi unsur-unsur lembaga pendidikan pesantren yang mengalami perkembangan pada abad XX dan
45 Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), Cet. Ke1.
46 Manfred Ziemek, Pesantren dalam Perubahan Sosial, alih bahasa oleh Butche B. Soendjojo dari Pesantren Islamische Bildung in Sozialen Wandel, (Jakarta: P3M, 1983).
peranannya terhadap perubahan sosial banyak mendapatkan porsi penjelasan yang memadai. Tetapi, Karel A. Steenbrink,47 dalam karyanya berjudul Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen banyak menyinggung masalah asal usul sistem pendidikan di pesantren. Oleh karena tulisannya banyak difokuskan pada pembahasan pendidikan Islam era modern, maka uraiannya mengenai pesantren hanya sekilas dan tidak membahas sejarah lembaga pesantren, apalagi soal pesantren dan politik tidak disinggung sama sekali
Abdul Munir Mulkhan,48 dalam karyanya berjudul Runtuhnya Mitos Politik Santri banyak menguraikan tentang betapa para santri secara terbuka mulai memasuki seluruh golongan dan kekuatan politik yang ada. Sebagian besar santri yang aktif dalam kegiatan politik praktis mewakili PPP dalam lembaga legislative dan hampir separo dari mereka secara aktif memberikan dukungan kepada Golkan bahkan ada di antaranya yang berada dalam PDI. Fenomena ini menunjukkan satu kecenderungan baru yang mematahkan mitos santri sebagai oposan dan pembangkang. Sedangkan Ali Maschan Moesa,49
47 Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1974).
48 Abdul Munir Mulkhan, Runtuhnya Mitos Politik Santri, (Yogyakarta: Sipress, 1992), Cet. ke-1.
49 H. Ali Maschan Moesa, Kiai Politik dalam Wacana Civil Society, (Surabaya: LEPKISS, 1999), Cet.ke-1.
dalam karyanya berjudul Kiyai dan Politik dalam Wacana Civil Society menjelaskan mengenai cara-cara para kiai tradisional melestarikan kelembagaan mereka sebagai society berhadapan dengan Negara.
Kiai sebagai pemimpin kharismatik dalam bidang agama dan kemasyarakatan, bagi masyarakat Islam perdesaan memegang peranan penting untuk membentengi ummat dan cita-cita Islam terhadap ancaman kekuatan struktural dari luar. Oleh karena itu, dalam wacana yang berkaitan dengan pembangunan, paradigma yang berorientasi dari atas (top down), seharusnya diubah menjadi paradigma yang berorientasi dari bawah (bottom up), dalam arti para kiai tidak hanya sekedar dijadikan selender yang berfungsi meratakan dan meluruskan jalan dan setelah itu mereka ditinggalkan, tetapi mereka berharap dapat turut ambil bagian dalam proses pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan masyrakat. Mereka tidak hanya pasif melihat proses perubahan, tetapi juga ikut menentukan arah perubahan. Uraian Ali Maschan Moesa jelas mengenai gerakan politik kiai, tidak seluruh daerah Provinsi Jawa Timur, tetapi hanya terbatas pada masyarakat di pulau Madura, sebuah daerah yang terletak di sebelah timur Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Dari beberapa kajian para sarjana yang telah diuraikan dalam sub bab ini, sejauh pengamatan
penulis, belum memberikan informasi yang banyak tentang pesantren dan politik, terutama mengenai sikap politik kiai pesantren di Jawa Timur. Oleh karena itu, melalui penelitian ini, penulis akan mencoba mengkaji bahwa kiai sesuai dengan habitatnya sebagai penyebab adanya pesantren, pemilik, pengasuh dan tokoh sentral di pesantren seharusnya mengajarkan pengetahuan agama kepada para santrinya, tetapi, mengapa ia cenderung melakukan aktivitas politik yang semestinya dilakukan oleh politisi dan negarawan. Aktivitas itu justru banyak dilakukan oleh kiai pesantren di Jawa Timur, Propinsi yang menurut data statistik Ditjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI tahun 2004-2005, memiliki jumlah kiai dan pesantren jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah kiai dan pesantren yang ada di daerah lain di Indonesia.
Sedangkan tahun 1998 dipandang sebagai Era Reformasi, yang selain ditandai oleh mundurnya Soeharto dari jabatannya sebagai presiden, juga ditandai oleh bangkitnya Islam politik, yang tecermin dengan munculnya beragam partai politik, di antaranya ada yang dibidani pendiriannya oleh kiai pesantren dan bahkan menjadi salah satu kendaraan politiknya.
E. Metodologi Penelitian
Penelitian akan mencoba mengkaji Pesantren dan politik, Studi Tentang Sikap Politik Kiai Pesantren di Jawa Timur 1998-2004. Oleh karena itu, data yang digunakan, selain data yang diperoleh langsung dari lapangan baik dengan mengadakan interview maupun survey lapangan, juga memanfaatkan informasi yang telah terdokumentasi baik berupa buku, hasil penelitian, makalah ilmiah, artikel pada surat kabar, majalah dan jurnal ilmiah maupun dokumen yang tersedia dan lain sebagainya.
Penelitian tentang Pesantren dan Politik; Studi Tentang Sikap Politik Kiai Pesantren di Jawa Timur 1998-2004 akan dilihat dalam beberapa aspek, terkait dengan kondisi sosial, ekonomi dan politik pada era reformasi, latar belakang, motif dan sikap politik kiai pesantren, kendaraan politiknya, peran-perannya di lembaga negara dan non negara serta dampak keterlibatan politiknya bagi dunia pesantren. Aspek- aspek ini dinilai menarik, karena meskipun memiliki misi yang sama, para kiai ternyata mengambil posisi yang berlainan dalam menjaga eksistensi dirinya dan mempertahankan institusi yang dipimpin dan diasuhnya.
Sikap politik kiai pesantren, khususnya di Jawa Timur tersebut barangkali disebabkan oleh beberapa faktor, bisa karena faktor ajaran Islam, ‘izz al-Islām wa
al-Muslimīn dan karena faktor kebijakan pemerintah.
Dua faktor pertama merupakan faktor internal terkait dengan pandangan hidup kiai, nilai, persepsi dan pertimbangan-pertimbangan etik terhadap ummat pendukungnya, sedangkan faktor terakhir bisa disebut sebagai faktor eksternal terkait dengan masalah kepentingan-kepentingan material atau ekonomi,50 kebijakan politik penguasa dan pengaruh kekuatan politik yang berkembang saat itu. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan pendekatan sejarah, sosial dan politik. Pendekatan sejarah dimaksud sebagai upaya melihat kejadian- kejadian masa lampau yang berhubungan dengan kelembagaan pesantren baik kiai, santri dan warga masyarakat, kedudukan dan peran kiai baik di pesantren maupun di tengah-tengah masyarakat.
Dengan demikian, penggalian data dilakukan melalui penyelidikan dan pengkajian terhadap naskah- naskah lama yang menjelaskannya.
Selain studi pustaka, penelitian ini juga dilengkapi dengan penelitian lapangan. Observasi dilakukan pada beberapa pesantren di Jawa Timur, seperti Pesantren Langitan, Widang, Tuban;
Pesantren Tebuireng, Jombang; Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang; Pesantren Darul
50 Marcus Mietzner, “Between Pesantren and Palace: Nahdlatul Ulama and Its Role in The Tradition”, dalam Geoff Forrester & RJ May (ed.), The Fall of Soeharto, (Bathurst, NSW: Crawford House Publishing, 1998), h. 176 dan 198-199.