Modul 8
Perubahan Sosial pada Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Dr. Cucu Nurhayati, M.Si.
Dr. Joharotul Jamilah, M.Si.
ada modul sebelumnya sudah dibahas tentang definisitentang perubahan sosial serta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial.
Perubahan sosial akan terjadi dimana saja, baik di kota maupun desa karena masyarakatnya yang terus berinteraksi dengan masyarakat luar atau mengalami modernisasi karena adanya pengaruh-pengaruh dari masyarakat luar. Tidak ada satu pun masyarakat yang statis, pasti akan mengalami perubahan baik cepat maupun lambat (dinamis), termasuk masyarakat pedesaan yang paling sederhanapun.Perubahan yang besar maupun yang kecil, yang cepat maupun lambat sudah barang tentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat bersangkutan. Coba Saudara tunjukkan sebutkan masyarakat mana yang tidak mengalami perubahan?
Desa dan masyarakat pedesaan yang dianggap tidak memiliki kemajuan atau tertinggal, sudah barang tentu mengalami perubahan sosial, meskipun perubahannya tidak akan sama antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Masyarakat pedesaan pada dasarnya masih terikat kuat dengan nilai- nilai dan norma yang membuat mereka tetap hidup rukun dan menjaga kebersamaan serta keharmonisan. Ini salah satu sebab mengapa masyarakat pedesaan lambat dalam menerima perubahan atau inovasi dari luar masyarakatnya. Meskipun demikian bukan berarti masyarakat pedesaan itu tidak mengalami perubahan akan tetapi perubahannya lambat.
Dalam peta kompetensi, Modul 8 terdapat pada TIK 8dengan tujuan pembelajaran “Mahasiswa mampu menjelaskan Perubahan Sosial pada Masyarakat Desa dan Kota”. Setiap TIK akan memiliki peta kompetensinya masing-masing sehingga Saudara dapat mengetahui materi-materi yang akan dijelaskan. Saudara mahasiswa, pembahasan dalam modul 8 akan terbagi
P
PENDA HU LUAN
dalam dua kegiatan belajar, yaitu tentang kehidupan sosial masyarakat pedesaan di Indonesia dan perubahan dalam masyarakat perkotaan dengan karakteristik masing-masing.. Setelah mempelajari Modul 8 ini, diharapkan saudara akan memiliki kemampuan untuk menjelaskan perubahan yang terjadi dalammasyarakat pedesaan dan perkotaan. Secara khusus, setelah mempelajari Modul 8 ini, maka para mahasiwa diharapkan mampu menjelaskan:
1. pengertian desa
2. pembangunan fasilitas layanan publik 3. karakteristik masyarakat perkotaan 4. pola perubahan masyarakat perkotaan 5. perubahan fungsi ruang publik 6. permasalahan perkotaan 7. pembangunan perkotaan
Selamat belajar! Semoga sukses
Kegiatan Belajar 1
Perubahan Pada Masyarakat Pedesaan
Saudara mahasiswa, sebelum berbicara mengenai masyarakat pedesaan sebagai penghuni sebuah desa, serta kondisi sosial kehidupan masyarakat pedesaan, di sini akan di bahas dahulu tentang kata desa asal kata dari pedesaan serta pengertian desa. Kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan
sejarah lahirnya dan perkembangan desa serta bentuk-bentuk desa yang ada di Indonesia.
A. PENGERTIAN DESA
Apakah yang disebut desa itu? Sulit untuk merumuskan secara gamblang (pasti) tentang pengertian desa karena keanekaragaman desa dilihat dari bentuk, besaran dan sifat masyarakat desa (Kartohadikoesoemo 1965;
Koentjaraningrat 1964). Di Indonesia untuk bentuk masyarakat kecil di daerah pedesaan yang luas dinamakan desa, dusun, kampong, dusun, dati dan lain-lain. Semua istilah inipun masih dipertanyakan kesamaan ciri-cirinya.
Begitupun masyarakat yang menempati lokasi alamiah yang berbeda-beda seperti pertanian, peladang maupun nelayan akan memiliki pengertian tentang desa yang berbeda-beda.
Desa merupakan bentukan dan pengembangan konsep asli bangsa Indonesia. Kata desa atau dusun berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran. Penyebutan kata desa terhadap suatu wilayah hukum terbawah hanya digunakan di pulau Jawa, Madura dan Bali, sedangkan di daerah lain di luar itu berbeda-beda. Di Batak kata desa memakai kata huta, uta atau kuta, sedang di Aceh memakai istilah gampong.
Lain halnyadengan Minangkabau yang memakai istilah nagari untuk daerah hukum terendah. Di Palembang, Kerinci dan Bengkulu dusun merupakan sebutan untuk daerah hukum, sedangkan daerah gabungan disebut mendapo.
(Kartohadikoesoemo, 1965).
Desa secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan hukum, tempat tinggal suatu masyarakat yang memiliki pemerintahan sendiri. Desa bisa terdiri dari hanya satu tempat kediaman masyarakat sajajuga bisa terdiri dari beberapa tempat kediaman yang terpisah, yang merupakan kesatuan-kesatuan tempat tinggal sendiri yang disebut pedukuhan atau kampung. Di pedukuhan atau kampung juga biasanya memiliki tanah pekarangan, tanah pertanian, tanah darat atau ladang, hutan serta tanah-tanah lainnya.
Kesatuan masyarakat desa itu terbagi menjadi dua bagian yaitu desa dengan bentuk masyarakatteritorial (territorial society), kesatuan masyarakat geneologis (geneology society) serta campuran keduanya. Desa-desa diJawa, Bali dan Madura serta beberapa wilayah di sebagian besar pulau lainnya di Indonesia, masyarakatnya dibentuk berdasarkan kedekatan tempat tinggal
bersama atau disebut kesatuan masyarakat teritorial. Bentuk teritorial merupakan daerah kesatuan hukum yang berdasar atas kerelaan warga masyarakatnya untuk bertempat tinggal pada suatu tempat atas dasar kepentingan bersama. Bentuk desa-desa dengan kesatuan hukum teritorial seperti ini terdapat di hampir desa-desa di Jawa, Bali dan Madura serta desa- desa di sebagian besar pulau lainnya di Indonesia. Desa-desa di luar Jawa seperti suku Minangkabau di Sumatra Barat, pedalaman Kalimantan, Papua, Minahasa di Sulawesi Utara, Batak, sebagian daerah Lampung, Maluku serta Nusa Tenggara Timur, merupakan kesatuan masyarakat desa yang dibentuk berdasarkan kesukuan atau kekerabatan disebut masyarakat desa geneologis.
Dalam desa geneologis kepentingan perseorangan tidak diperkenankan dengan alasan kepentingan suku, tetapi hak milik pribadi masih diakui meskipun terdapat hak milik suku (bersama). Meskipun memiliki kesamaan ikatan geneologis, tetapi ada perbedaan antara satu kesatuan hukum wilayah yang satu dengan yang lainnya, seperti antara hukum adat Minangkabau yang matriarchal (garis keturunan ibu) dengan Batak di Sumatra Utara yangmatriarchal(garis keturunan bapak).
Di Jawa sebagian besar desa merupakan komunitas teritorial yang memiliki pemerintahan yang relatif lebih maju dibanding desa luar Jawa.
Desa di Jawa sudah menetap dengan jumlah penduduk berkisar antara ratusan dan ribuan jiwa (Kartohadikoesoemo, 1965). Mayoritas desa di Jawa sudah berkedudukan sebagai daerah hukum yang berhak memiliki pemerintahan sendiri dengan batas-batas yang jelas, berhak mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri, berhak memilih dan mengangkat kepala pemerintahan sendiri, behak mempunyai harta benda sendiri dan memungut pajak. Hal inilah yang disebut desa yang otonom mengatur rumahtangganya sendiri.
Di luar Jawa,sebagian desa memiliki ciri yang berbeda dengan desa di pulau Jawa. Hal ini disebabkan karena sistem pertaniannya masih berladang yang berpindah-pindah tempat sehingga landasan territorial belum ada, serta keterkaitan hubungan kekerabatan yang masih kuat (geneologis). Oleh karena itu, pemerintahan desa yang otonom di luar Jawa belum jelas, maka urusan desa diserahkan kepada peraturan adat setempat.
Pada umumnya masyarakat dengan pola pertanian ladang yang berpindah-pindah tempat memiliki desa atau kampung yang menetap dan memunyai rumah tinggal permanen, terdapat pasar, dan agak ramai pada masa panen sampai musim kemarau. Setelah musim itu, keluarga yang masih bertenaga kuat berpencar mencari ladang-ladang baru dan tinggal di “talang”
sampai musim panen berikutnya, pemukiman yang berpencar dan mengerjakan ladang berpindah-pindah tempat, jauh dari jangkauan pusat pemerintahan sehingga warga desanya masih lebih bebas (Tjondronegoro, 2008: 47).
Desa yang terbentuk dari kesatuan masyarakat geneologis dan territorial (desa campuran) memiliki sifat pokok yaitu terdapat daerah hukum berbentuk territorial yang memiliki pemerintahan, kekayaan dan kekuasaan sendiri, akan tetapi di bawahnya terdapat masyarakat hukum yang berdasarkan hubungan darah (kekerabatan) yang juga memiliki kekuasaan dan aturan sendiri. Bentuk desa campuran terdapat di daerah Minangkabau, Minahasa, Ternate dan sebagian Ambon. Nagari (istilah dusun di Minangkabau) yang berbentuk territorial adalah gabungan dari dua suku atau lebih yang sebagian merupakan satu keturunan (geneologis) yang disebut Parui’, dan di atasnya terdapat gabungan beberapa nagari (dusun) yang membentuk sebuah desa.
B. SEJARAH PERKEMBANGAN DESA
Saudara mahasiswa, manusia sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup berdiri sendiri, membutuhkan orang lain untuk bisa berkumpul dan berinteraksi serta membentuk keluarga inti/batih (terdiri ayah, ibu dan anak) dan extend family (keluarga luas). Adanya naluri kebersamaan inilah yang kemudian membutuhkan suatu tempat kediaman bersama. Tempat kediaman ini bisa berupa suatu wilayah yang memungkinkan dapat berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya yang masih bisa ditanami atau dijadikan tempat tinggal seperti wilayah hutan yang terdapat di wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTT dan Papua.
Seiring dengan pertambahan penduduk, wilayah yang tadinya dapat dipilih kapan saja dan dimana saja untuk dijadikan tempat tinggal baru, disebabkan wilayah sebelumnya sudah tidak memungkinkan untuk ditempati lagi, maka akan semakin terbatas atau sempitareal perpindahan tempat tinggal keluarga mereka. Rotasi perpindahannyapun mengalami perpendekan yang tadinya bisa pindah dalam jangka waktu relatif lama, maka lama- kelamaan semakin menurun sampai akhirnya sudah tidak memungkinkan untuk pindah lagi, karena perkembangan penduduk yang terus bertambah tersebut. Oleh karena itu mereka butuh tempat tinggal menetap terutama wilayah yang memiliki tanah yang subur dan dekat dengan sungai atau
lembah yang bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari. Ada tiga hal utama yang menjadi alasan orang-orang yang berpindah-pindah kemudian berkumpul membentuk masyarakat adalah untuk: 1) mencari makan, pakaian dan perumahan, 2) bertahan hidup terhadap serangan dari luar, 3) mencapai kemajuan dalam hidupnya (Kartohadikoesoemo, 1964).
Desa terbentuk pada awalnya ketika orang-orang yang sudah mulai menetap dan membutuhkan tempat yang subur untuk bercocok tanam agar dapat memenuhi kebutuhan pangannya. Desa ini biasanya berada di sekitar sungai atau lembah yang subur. Terdapat beberapa bentuk desa berdasarkan latar belakang kelahiran dan perkembangannya serta matapencaharian penduduknya. Desa pertanian adalah desa yang pertama kali dibentuk melalui pembukaan hutan dan pengolahan lahan untuk ditanami tumbuhan yang menghasilkan makanan dan bahan kebutuhan lainnya. Desa nelayan (masyarakat pesisir) adalah desa yang berada di sekitar tepi laut dan sungai- sungai besar dan bermata pencaharian dari menangkap ikan, tambak dan pelayaran. Sedangkan desa pasar terbentuk karena pertemuan orang-orang satu sama lainnya untuk bertransaksi jual beli - pada desa yang belum mengenal ekonomi uang mereka bertransaksi melalui barter antar barang yang berbeda- sehingga terbentuklah sebuah pasar dari masyarakat sekelilingnya. Dari desa pasar tersebut berkembanglah menjadi desa perdagangan termasuk jasa. Desa juga dapat terbentuk karena ada hubungannya dengan sumber air atau sumber pencaharian lainnya, maka menjadi desa pertambangan, pertambakan dan lain-lain (Kartohadikoesoemo, dalam Sumardjo 2010: 11).
Pesawahan dan sungai Pemukiman warga desa di sekitar lembah
Sumber:
https://www.google.co.id/search?
q=gambar+pemandangan+desa+yan g+indah&tbm
Sumber:
https://www.google.co.id/search?
q=gambar+pemukiman+desa&tbm Gambar 8.1
C. DESA PADA MASA ORBA SAMPAI MASA REFORMASI
Pada masa pemerintahan orde baru, setelah tahun 1966, desa-desa di Indonesia pemerintahan dan rumahtangganya dibenahi melalui adanya Inpres Desa. Inpres Desa berpengaruh terhadap pembentukan desa-desa baru terutama di luar Jawa, karena desa dapat menerima bantuan atau subsidi uang inpres yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan. Kemudian sejak Sensus Penduduk 1971 setiap penduduk harus menggunakan kartu pengenal dalam kepengurusan berbagai kepentingan. Ada kecenderungan Desa semakin seragam (Formalisasi Desa). Sejak diberlakukan UU PemerintahanDesa No 5/1979 setiap kegiatan di daerah pedesaan harus sepengetahuan dan izin dari pamong desa. Untuk memperkuat pemerintahan desa juga dibentuk Rukun Kampang (RK) dan Rukun Tetangga (RT) sebagai unit-unit yang lebih kecil daripada desa dan kelurahan di wilayah perkotaan (Tjondronegoro, 2010: 47- 48).
Desa memiliki dasar aturan yang lebih jelas lagi sejak dikeluarkan UU No 5/1979, yaitu:
1. Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum termasukdi dalamnya keatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat, dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Republik Indonesia
2. Pemerintah desa terdiri atas kepala desa dan Lembaga Musyawarah Desa 3. Dalam menjalankan tugasnya kepala desa dibantu oleh perangkat desa
yang terdiri atas unsur staf dan unsur pelaksana skretariat desa sebagai unsur staf dan kepala dusun sebagai unsur pelaksana.
4. Sekretaris desa memimpin sekretariat desa,yang terdiri atas kepala- kepala urusan
5. Desa bukanlah daerah otonom sebagaimana daerah otonom dalam pengertian Daerah Tingkat I/Daerah Tingkat II.
6. Desa bukanlah suatu satuan wilayah, desa hanya bagian dari wilayah kecamatan
7. Desa adalah satuan ketatanegaraan yang berkedudukan langsung di bawah kecamatan.
Semenjak pemerintahan Orde Baru berakhir pada tahun 1998, pemerintahan yang awalnya bercorak sentralistik militeristik, berubah menjadi pemerintahan reformasi yang demokratis. UUD 1945 diamandemen, pada Pasal 18 UUD 1945 menjadi Pasal 18; 18A dan 18B. Pada pasal 18B berbunyi:
1. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang ditur dengan undang- undang.
2. Negara mengakui kesatuan-kesatuan masyarakat hokum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.
Dengan amandemen tersebut maka kedudukan desa termasuk sebagaikesatuan hukum adat. Sebelum UUD 1945 diamandemen, dikeluarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah juga mengatur tentang desa dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam UU No 22/1999 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan Desa adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten.
Pada tahun 2004, UU No 22/1999 diganti dengan UU No 32/2004 dan UU No 25/1999 diganti dengan UU No 33/2004. Dalam UU tersebut mengandung prinsip-prinsip demokrasi, partisipasi masyarakat, pemerataan dan keadilan, dan keanekaragaman. Oleh karena itu desa dikembalikan sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang berwenang mengatur dan mengurus urusan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat. Nomenklaturdesa bisa menggunakan nama lain sesuai dengan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat setempat. Di desa dibentuk lembaga perwakilan rakyat yang berfungsi sebagai pengayom adat istiadat, legislasi dan pengawasan. Kedudukan desa pun berubah yang tadinya berada di bawah pemerintah wilayah kecamatan, menurut UU No 32/2004 menjadi berada di bawah pemerintah kabupaten/kota. Dengan demikian desa memiliki otonomi berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang telah dimiliki sejak dulu kala dan telah menjadi adat istiadat yang melekat dalam masyarakat desa yang bersangkutan (Nurkholis, 2011: 63-64).
Berdasarkan sejarah pertumbuhan desa tersebut, terdapat empat tipe desa di Indonesia sejak awal pertumbuhannya sampai sekarang (Nurkholis, 2011:
65-66)
1. desa adat yang merupakan bentuk desa asli dan tertua di Indonesia. Desa adat ini mengatur dan mengelola pemerintahannya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Contohnya desa Pakraman di Bali
2. desa administrasi adalah desa yang merupakan satuan wilayah administrasi yaitu satuan pemerintahan terendah untuk memberikan pelayanan administrasi dari pemerintah pusat.
3. desa otonomi adalah desa yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dengan undang-undang. Desa otonomi mempunyai kewenangan yang jelas karena diatur dalam Undang undang pembentukannya.
4. desa campuran (adat dan semiotonom), yaitu desa yang mempunyai kewenangan campuran antara otonomi asli dan semi otonomi formal.
Otonomi aslinya diakui oleh undang-unang dan juga diberi kewenangan dari kabupaten/kota. Disebut semi otonom karena model penyerahan urusan pemerintahan dari daerah otonom kepada satuan pemerintahan di bawahnya ini tidak dikenal dalam teori desentralisasi. Desa dibawah UU No 22/1999 dan UU no 32/2004 ini adalah tipe desa campuran.
Sedangkan jenis desa secara administratif dapat dijumpai dengan kriteria sebagai berikut :
Tabel 8.1 Jenis Desa
Topografi Desa pegunungan
Desa dataran rendah Desa dataran tinggi Desa pantai
Pola pertanian (atau usaha) Desa petani sawah menetap (perairan atau tadah hujan) Kampong peladang berpindah-pindah
Desa perkebunan rakyat Desa nelayan
Sumber: Tjondronegoro, 2011:35
Jenis desa di atas dapat berbeda sesuai dengan kriteria yang diterapkan berdasarkantingkat keterbukaan, ikatan teritorial, atau kekeluargaan dan lain- lain. Ada juga jenis desa dengan usaha spesifik seperti desa penghasil buah- buahan, desa industri batik, desa kerajinan tangan, dan sebagainya.
D. KARAKTERISTIK DESA DI INDONESIA
Berbicara tentang desa yang beraneka ragam, terdapat beberapa ciri yang sama sebagai ciri yang mudah kita bedakan dengan perkotaan, seperti keakraban, tolong menolong, dan keterikatan pada tempat pemukiman.
Masyarakat yang tumbuh dengan adat istiadatnya secara sosiologis memang tidak dapat diperlakukan dengan seragam. Kehidupan mandiri yang sudah berakar perlu dituntun menjadi masyarakat desa modern yang cukup membutuhkan waktu.
Sebagian masyarakat kita masih beranggapan bahwa orang di pedesaan hidup tenang dan rukun, dengan semangat gotong royong dan tolong
Saudara mahasiswa, coba jelaskan kembali perbedaan kesatuan masyarakat desa territorial,
desa genegeologis dan desa campuran serta contohnya
menolong yang mencerminkan kerukunan tadi. Dalam realitasnya gejala- gejala tadi tidak ditemukan lagi secara keseluruhan, tetapi dalam lingkungan dukuh atau rukun kampung yang lebih kecil hal itu masih terjadi.Pada masa sekarang ini masyarakat desa yang sudah semakin modern telah menunjukkan pelapisan dan perbedaan. Seperti perbedaan pemilikan tanah dan atau penguasaan modal lain.
Di daerah pedesaan nama atau istilah untuk pemilikan tanah berbeda- beda, namun secara umum dapat diterapkan tolok ukur luas tanah yang dimiliki. Pada lapisan atas adalah penduduk yang memiliki tanah paling luas dan tidak perlu menggarap sendiri, tetapi digarap oleh petani lain atau buruh tani, lapisan tengah adalah mereka yang berkecukupan tetapi mewah dalam kehidupannya. Dan lapisan bawah ditempati oleh petani yang mengerjakan tanah orang lain, dan menerima imbalan sebagian hasil panen atau upah uang, karena tidak memiliki tanah sendiri. Dalam hubungan inilah menimbulkan ketergantungan lapisan bawah dengan lapisan lebih atas yang sering disebut hubungan patron klien (Tjondronegoro, 2010).
Bertambahnya penduduk dengan cepat membuat luasan tanah untuk lahan pertanian semakin menyempit. Jutaan petani kecil yang menggarap tanah sepetak tanah kurang dari 0,5 ha tanah tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, sehingga mencari tambahan nafkah di luar bidang pertanian (strategi nafkah ganda), dan tidak sedikit yang pergi ke kota.
Bahkan tidak jarang petani yang masih memilki sedikit tanah tersebut, karena kebutuhan akan keuangan yang mendesak, mereka menjual tanahnya dan mencari pekerjaan di luar pertanian atau menjadi penggarap di atas tanah yang sudah menjadi milik orang lain.
Bukan hanya di Indonesia, hampir di seluruh dunia penduduk desa kurang dapat menikmati kemakmuran dibanding dengan daerah perkotaan.
Meskipun penduduk desa mempunyai kegiatan di bidang pertanian akan tetapi kekurangan pangan dan kemiskinan sering merundung warga pedesaan.
Kemiskinan di pedesaan tahun 2017 masih mencapai 13,93%, sedangkan di kota 7,72% (BPS.2017). Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pedesaan terutama di negara-negara sedang berkembang masih menjadi masalah utama dalam pembangunan. Kemiskinan ini selain terkait erat dengan krisis pangan juga berhubungan dengan krisis lainnya seperti krisis energi dankrisis ekologi.
Berbicara mengenai masyarakat pedesaan di Indonesia tidak mudah untuk menyimpulkan ciri khusus yang dimiliki secara seragam disebabkan
perbedaan atau kebhinekaan desa yang ada di negara kita. Ciri yang paling mudah dan hampir semua ada pada masyarakat pedesaan di Indonesia adalah masalah mata pencaharian yang sebagian besar adalah pertanian baik sawah maupun ladang serta solidaritasnya yang masih kuat (gotong royong).
Meskipun dalam perkembangannya masyarakat desa sekarang itu tidak hanya menggantungkan kehidupannya pada pertanian (termasuk di dalamnya nelayan), tetapi pada kerajinan, perdagangan dan industri. Menurut Roucek dan Warren masyararakat pedesaan memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. kuatnya peranan kelompok primer;
2. hubungan yang berlangsung bersifat akrab;
3. homogen;
4. keluarga dipandang sebagai unit ekonomi.
Sedangkan menurut Paul H Landis ciri-ciri masyarakat desa adalah : 1. mempunyai pergaulan hidup yang saling mengenalantar ribuan jiwa 2. ada tali perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan 3. cara berusaha (ekonomi) adalah agraris, yang dipengaruhi oleh iklim,
keadaan alam, kekayaan alam, sedang pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sampingan
E. PEMBANGUNAN FASILITAS LAYANAN PUBLIK
Saudara mahasiswa, seperti sudah dijelaskan di atas, desa di Indonesia berada pada kondisi yang sangat beragam, sehingga diperlukan pendekatan partisipatif sebagai alternatif dari pendekatan pembangunan yang sentralistik dantop down. Kehidupan masyarakat desa yang masih terikat pada nilai-nilai budaya asli yang sudah diwariskan secara turun-temurun dan melalui proses adaptasi yang sangat panjang dari interaksi intensif dengan perubahan lingkungan biofisik masyarakat. Kearifan lokal merupakan salah satu aspek karakteristik masyarakat yang terbentuk melalui proses adaptasi yang kondusif bagi kehidupan masyarakat, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seyogyanya di pahami dan berperan penting sebagai dasar dalam pembangunan pertanian dan pedesaan ke depan. Meskipun masyarakat pedesaan yang masih terikat kuat dengan nilai-nilai tradisi, tetapi dalam perkembangannya mengalami perubahan atau pergeseran. Ada yang berubah cepat dan ada juga yang berubah dengan lambat. Cepat dan lambatnya suatu
perubahan masyarakat tergantung dari kuat dan tidaknya terikat pada kebudayaan.
Menurut Landis (dalam Rahardjo, 2001) pada dasarnya pola kebudayaan masyarakat tradisional tergantung dengan tiga hal, yaitu
1. seberapa kuat ketergantungan masyarakat dengan alam 2. bagaimana tingkat teknologinya.
3. bagaimana sistem produksinya.
Ketiga faktor tersebut, menjadi penentu berlangsungnya kebudayaan tradisional. Pola kebudayaan tradisional akan tetap terjaga apabila masyarakat desa memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap alam, teknologinya masih sederhana dan sistem produksinya hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga (subsisten). Namun dengan masuknya teknologi modern maka ketergantungan terhadap alam semakin berkurang.
Hal ini menunjukkan adanya perubahan kebudayaan pada masyarakat desa, terutama kebudayaan materil, yang pada awalnya menggunakan alat pertanian yang sederhana, kemudian mulai berubah dengan menggunakan teknologi modern. Misalnya petani membajak sawah dengan menggunakan alat bajak sawah tradisional yang dijalankan oleh kerbau, sekarang menggunakan traktor yang dijalankan oleh mesin.
Bajak Sawah Dengan Alat
Tradisional dan Kerbau Bajak Sawah Dengan Menggunakan Alat Modern (Tractor)
Sumber:
http://www.majalahburungpas.c om
Sumber: http://www.jatengpos.com
Gambar 8.2
Menurut Landis (1948), ciri-ciri kebudayaan tradisional adalah sebagai berikut:
1. mengembangkan pola adaptasi yang kuat terhadap alam (pasif) 2. tingkat inovasinya rendah
3. kepribadaian masyarakatnya organis (satu kesatuan) sehingga kuatnya kekeluargaan dan kekerabatan
4. pola kebiasaan hidup lamban untuk ukuran gaya modern 5. tebalnya kepercayaan terhadap tahayul
6. kebudayaan materil bersahaja (sederhana) 7. rendahnya kesadaran terhadap waktu
8. lebih bersifat praktis (kegunaan), kurang mementingkan keindahan 9. standar moral kaku
Seiring dengan berkurangnya ketergantungan terhadap alam, tingkat teknologi meningkat dan sistem produksi mulai berorientasi keuntungan, masyarakat pedesaan mengalami perubahan budaya materiil maupun non materiil. Adanya inovasi-inovasi baru yang diadopsi oleh masyarakat pedesaan sebagai akibat adanya pembangunan yang direncanakan pemerintah, maupun usaha dari masyarakat sendiri, maka pedesaan juga mengalami perubahan dalam banyak hal, kebudayaan tradional berubah menjadi modern.
Perubahan sosial budaya pada masyarakat pedesaan ini pun semakin menguat dengan berbagai kebijakan dan aturan berupa undang-undangmaupun peraturan mentri (permen), seperti dikeluarkannya UU Desa.
Salah satu tujuan dari pengaturan Desa (UU Desa No. 6/2014) adalah untuk meningkatkan pelayanan publik bagi masyarakat desa. Selanjutnya Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) No.1 Tahun 2015 tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala desa, secara rinci menyebutkan bahwa kewenangan lokal berskala Desa di bidang pelayanan dasar yaitu “…
(a) pengembangan pos kesehatan Desa dan Polindes; (b) pengembangan Saudara mahasiswa, berikan contoh
untuk delapan ciri masyarakat dengan kebudayaan tradisional.
tenaga kesehatan Desa; (c) pengelolaan dan pembinaan Posyandu melalui; (d) pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan tradisional; (f) pembinaan dan pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD);..”. Kewenangan desa dalam memberi pelayanan publik tersebut, tidak mudah diimplementasikan, disebabkan terjadi kurang harmonisnya antara UU Desa no 6/2014 dengan UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, terutama menyangkut kewenangan Desa untuk menjalankan urusannya. Pembagian urusan pemerintahan menurut UU Pemerintahan Daerah hanya terbatas hingga Pemerintah Kabupaten/Kota, tidak menyentuh pada level pemerintah Desa.
Penyelenggaraan pelayanan publik untuk kesejahteraan masyarakat desa merupakan sebuah agenda nasional. Pembangunan layanan publik iniperlu dijabarkan dan dirumuskan lebih lanjut agar dapat diimplementasikan baik oleh kementerinan teknis atau lembaga nonkementerian yang berkaitan dengan desa, desa itu sendiri, maupun pihak lain yang memiliki kaitan erat dengan implementasi UU Desa.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengamanatkan kewajiban negara untuk melayani setiap warganya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pelayanan dasar publik dilakukan secara efektif untuk memperkuat demokrasi, hak asasi manusia, meningkatkan kemakmuran ekonomi, mengurangi kemiskinan, meningkatkan perlindungan lingkungan, bijak dalam pemanfaatan sumber daya alam dan menguatkan kepercayaan pada pemerintahan desa.
Upaya perbaikan harus mencakup tiga hal yakni regulasi, anggaran publik, dan gotong royong. Sebagai upaya untuk mempertegas hak dan kewajiban setiap warga negara perbaikan layanan dasar harus dilakukan.
Adanya UU Desa, perlu dimanfaatkan untuk mendorong pembaharuan paradigma pembangunan desa yang berorientasi pada penguatan tradisi, pemberdayaan ekonomi, peduli lingkungan, dan tata kelola yang demokratis dan transparan.Pendekatan pembangunan seharusnya dilakukan dengan merevitalisasi karakter lokalitas dengan memanfaatkan modal sosial yang diharapkan dapat memperkuat emansipasi warga dalam interaksi sosial secara nasional dan global. Kebutuhan desa untuk memperkuat pilar ekonomi membutuhkan terobosan alternatif, orientasi baru dengan memanfaatkan peluang UU Desa. Misalnya saja pengembangan desa wisata yang dapat membantu mengatasi persoalan kemiskinan, memperkuat semangat ketahanan desa, menumbuhkan inovasi komunitas, dan memelihara keseimbangan ekologi. Illustrasi berikut dapat dijadikan sebagai contoh
untuk ekowisata, dengan tetap memperhatikan harmonisasi dengan alam atau tanpa merusak alam sekitar.
Desa Wisata Kalibiru Yogyakarta Desa Wisata Panglipuran Bangli, Bali
Sumber:
http://www.budidayakenari.com/20 15/03/wisata-alam-di-
yogyakarta.html
Sumber:
http://bisniswisata.co.id/2017-bali- genjot-100-desa-wisata/
Gambar 8.3
Pembangunan dalam layanan publik di pedesaan bisa dilakukan dalam berbagai bidang secara menyeluruh baik di bidang infrastruktur ekonomi, pendidikan, kesehatan, transportasiseperti perbaikan jalan desa, jembatan, sarana beribadah, dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui pembedayaan kaum perempuan misalnya, pengelolaan lingkungan (akses terhadap air bersih dan perbaikan sanisasi), dan lain-lain.
Pembangunan wilayah pedesaan hendaknya dilakukan tidak hanya bertujuan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat pedesaan secara ekonomi saja, tetapi juga harus mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap berbagai sarana sosial dan lingkungan yang memadai. Karena peningkatan akses tersebut secara tidak langsung akan meningkatkan pula kesejahteraan perorangan dan mengurangi perbedaan dari keterbatasan sarana dan prasarana sosial ekonomi dan lingkungan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan. Dalam hal ini akan dibahas salah satu, contoh kasus pembangunan sarana layanan publik, yaitu akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi yang baik dan aman.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan (2004), penduduk pedesaan yang dapat akses terhadap air bersih baru mencapai 67,3% lebih tinggi sedikit
dibanding penduduk perkotaan yang hanya mencapai 55 %. Dari 67,3% itu hanya 51,4 % yang aman (memenuhi syarat bakteriologi). Data lain menurut BPS 2006, jumlah rumah tangga di wilayah pedesaan yang memiliki fasilitas air minum dengan sistem individu (milik sendiri) mencapai 48,49%
(Wisjnuprapto, 2010: 79).Begitu juga akses terhadap sanitasi dasar yang baik danaman, dirasakan sulit untuk memperolehnya. Sanitani ini meliputi pembuangan limbah baik dari limbah cair rumah tangga ( termasuk feses), maupun limbah padat yang dapat mencemari lingkungan, apabila tidak kelola dengan baik. Di wilayah perkotaan (BPS, 2008) akses terhadapsanitasi dasar pada tahun 2006 sebesar 60,3%, sedangkan di pedesaan diperkirakan kurang dari 50%. Oleh karena itu pembangunan dalam kedua bidang ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah, baik tingkat desa maupun pemerintahan di atasnya. Buruknya kondisi sanitasi dasar di Indonesia telah menyebabkan epidemik infeksi perut di banyak daerah, dan memiliki tingkat keterjangkitan tipus tertinggi di Asia Timur, kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh buruknya pembuangan limbah tesebut diperkirakan mencapai US $12atau sekitar Rp 156.000 per rumah tangga perbulan (Albert Wirght (2003) dalam Wisjnuprapto, 2010). Saudara mahasiswa, coba Anda bayangkan berapa jumlah kerugian kalau dihitung pertahun yang harus ditanggung oleh seluruh warga.
1) Jelaskan beberapa perubahan dalam masyarakat pedesaan!
2) Jelaskan karakteristik masyarakat desa sebagai proses terjadinya perubahan sosial.
Petunjuk Jawaban Latihan LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Berdasarkan contoh kasus di atas,
jelaskan bagaimana hubungan antara akses kesehatan, lingkungan danekonomi saling
mempengaruhi,meskipun secara tidak langsung.
1) Pertama, pelajari dengan seksama materi kegiatan belajar 1 mengenai perubahan sosial masyarakat desa.
2) Langkah selanjutnya silakan cermati karakteristik masyarakat desa berdasarkan materi di atas.
Desa secara umum dapat dipahami sebagai sebuah satu kesatuan hukum terendah di bawah kecamatan, tempat tinggal suatu masyarakat yang memiliki pemerintahan sendiri. Desa bisa terdiri dari hanya satu tempat kediaman masyarakat saja, tetapi juga bisa terdiri dari beberapa tempat kediaman yang terpisah, yang merupakan kesatuan-kesatuan tempat tinggal sendiri yang disebut pedukuhan atau kampung. Desa lebih banyak digunakan di Pulau Jawa dan Madura, sedangkan di wilayah lain dengan sebutan atau istilah yang berbeda-beda.Desa terdiri dari desa yang masyarakatnya merupakan satu kesatuan secara territorial dan satu kesatuan secara geneologis.
Karakteristik masyarakat pedesaan dapat terlihat dari beberapa hal yaitu sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian pertanian, kuatnya peranan kelompok primer, hubungan yang berlangsung bersifat akrab,homogen, keluarga dipandang sebagai unit ekonomi. Selain itu masyarakat pedesaan masih kuat ketergantungan terhadap alam, sehingga mempengaruhi kebudayaannya yang masih cenderung tradisional atau sederhana.
Banyak permasalahan yang ada di wilayah pedesaan, diantaranya kemiskinan, krisisekologi, krisis energi dan krisis pangan. Hal ini perlu penanggulangan yang membutuhkan semua pihak ikut terlibat, terutama pemerintah baik pusat maupun daerah. Meskipun desa sebagai penghasil pertanian tetapi masyarakat desa mengalami krisis masalah pangan akibat akses mereka terhadap ekonomi yang rendah. Selain itu, krisis ekologi atau lingkungan akibat terjadinya penggundulan hutan (deforestisasi) maupun eksploitasi lingkungan yang mengakibatkan terjadi banjir, tanah longsor dan pencemaran lingkungan. Hal inipun dapat menyebabkan krisis energy karena penggunaan energi listrik misalnya lebih banyak diakses oleh daerah perkotaan.
Berbagai permasalahan di pedesaan ini dapat ditanggulangi melalui kebijakan-kebijakan pemerintah melalui peraturan berupa Undang Undangatau PERMEN dan partisipasi masyarakatnya. Pembangunan yang berbasis masyarakat ini dapat laksanakan dengan berlandaskan
RANGKU MA N
pada UU No 24 tahun 2014 yang di dalamnya mengatur tentang pembangunan layanan publik bagi masyarakat pedesaan. Pembangunan sarana publik ini meliputi berbagai bidang seperti pembangunan infrastruktur ekonomi, pendidikan, kesehatan, keagamaan dan lain-lain.
1) Istiah desa untuk masyarakat Aceh adalah ....
A. Dusun B. Meunasah C. Gampong D. Kampung
2) Desa Geneologis adalah kesatuan masyarakat hukum berdasar ....
A. kekerabatan B. kebersamaan C. tempat tinggal D. dusun
3) UU No 32 Tahun 2004 menjelaskan bahwa desa berada di bawah ....
A. kecamatan B. kabupaten C. dusun D. provinsi
4) Karakteristik masyarakat pedesaan menurut Warren adalah, kecuali A. homogen
B. hubungan bersifat akrab
C. kuatnya peranan kelompok sekunder D. keluarga dipandang sebagai unit ekonomi
5) Menurut P H Landis, alasan masyarakat pedesaan cenderung memilki inovasi rendah dan pola kebiasaan lambat adalah,kecuali....
A. seberapa kuat ketergantungan masyarakat dengan alam B. bagaimana tingkat teknologinya.
C. bagaimana gaya hidupnya D. bagaimana sistem produksinya.
TES FORMATIF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.
Tingkat penguasaan =Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal 100%
Kegiatan Belajar 2
Perubahan Sosial pada Masyarakat Perkotaan
A. PENGERTIAN KOTA
Saudara mahasiswa sebelum kita membahas mengenai perubahan sosial pada masyarakat perkotaan, terlebih dahulu kita akan membahas tentang kota dan pengertian masyarakat kota. Kota secara singkat dapat dipahami
sebagai wilayah yang mempunyai fungsi sosial komplek terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki tingkat diferensiasi dan spesialisasi yang tinggi. Kota identik dengan bangunan-bangunan yang tinggi serta tersedianya berbagai fasilitas yang memudahkan aktifitas para penghuninya.
David dan Julia Jary (1991: 71), dalamCollins Dictionary of Sociology mengartikan kota sebagai:
“an inhabited place which is differentiated form a town or village by its greater size and by the range of activities practiced within its boundaries, usually religious, military political, economic, educational and cultural.”
Pengertian kota tidak hanya dilihat dari struktur fisik saja, secara sosiologis kota merupakan hunian yang relatif besar dengan aktifitas yang beragam secara ekonomi, budaya, agama, pendidikan, maupun politik. Ibnu Khaldun (Khaldun 2011: 429) berpendapat bahwa kota merupakan tempat berkembangnya suatu peradaban dan munculnya diferensiasi serta keahlian yang dimiliki penghuninya. Kota merupakan tempat terjadinya surplus ekonomi, penduduknya kaya raya karena dekat dengan daulah (kekuasaan) yang merupakan pusat terkumpulnya harta kekayaan rakyat. Durkheim melihat kota dalam konsep solidaritas organik seperti halnya fungsi organ tubuh manusia yang mempunyai perbedaan dan tingkat ketergantungan yang tinggi satu sama yang lain. Setiap individu dalam kota mempunyai peranan tersendiri yang tidak dapat digantikan dengan yang lain. Marx dengan prespektif kapitalisme melihat kota sebagai tempat berkembangnya ekonomi kapitalis sertapertarungan mode of productian antara kaum bourjuis dan proletar dengan berkembangnya pabrik industri. Weber dengan pemikiran rasionalitasnya, melihat kota sebagai kawasan yang berlandaskan pada sistem birokrasi dan rasionalisme tinggi. Masyarakat perkotaan dalam melakukan suatu tindakan mengedepankan rasionalitas dengan prinsip perekonomian perkotaan yang rasionalitas.
Louis Wirth (1938) merumuskan kota sebagai pemukiman yang relatif besar, padat, permanen serta dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya sehingga melahirkan hubungan sosial yang longgar dan impersonal. Simmel (Kartono, 2010) dalam karyanyaMetropolis and Mental Life mengemukakan tiga konsep yang bisa dilihat dari kota, pertama, size yaitu pemukiman masyarakat yang relatif besar. Kedua, Division of labour yaitu pembagian kerja yang berdasarkan spesialisasi dan spesisifikasi keahlian yang dimiliki oleh setiap individu. Ketiga,Money Economy yaitu
kehidupan di perkotaan yang cenderung rasional akan mengedepankan pertukaran ekonomi berdasarkan rupiah atau uang. Uang mempunyai peranan sebagai alat tukar yang digunakandalam transaksi perekonomian.Christaller (Nas: 1984, 61) dalam teoriCentral Place menyebutkan bahwa kota menjadi tempat berkumpul serta pusat pelayanan dan jasa. Kota merupakan tempat yang memberikan dan menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat terlepas dari permasalahan sosial yang ditimbulkannya. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut kota dapat dilihat dari sisi sosial, ekonomi maupundemografi. Secara sosial hubungan diperkotaan digambarkan sebagai hubungan impersonal, sepintas lalu, terkotak-kotak karena adanya staratifikasi dan diferensiasi. Secara ekonomi, sebagai pusat perekonomian perdagangan, niaga, industrialisasi yang bersifat non agraris. Secara demografi penduduk kota cendrung tinggi karena adanya daya tarik kota yang menjadikan individu mempunyai kecendrungan ke kota.
Masyarakat kota merupakan masyarakat dinamis yang mempunyai tingkat perubahan yang sangat tinggi. Perubahan ini karena adanya kontak sosial masyarakat kota dengan masyarakat luar. Selain itu, ketersediaan fasilitas dalam masyarakat perkotaan membuat mereka lebih bersifat hedonis dan menyukai suatu yang ekspres. Masyarakat perkotaan sangat terbuka pada hal-hal baru yang datang dari luar sehingga sangat mudah dalam menerima perubahan.
Sumber: http://anugrahdwis.blogspot.com/2015/01/masyarakat- perkotaan-dan-masyarakat.html
Gambar 8.4 Masyarakat Perkotaan
B. KARAKTERISTIK MASYARAKAT PERKOTAAN.
Saudara mahasiswa, masyarakat perkotaan mempunyai karakteristik yang berbeda dengan masyarakat desa. Ciri ini terbentuk karena struktur sosial kota yang memang berbeda dengan masyarakat desa sehingga membentuk kejiwaan masyarakat kota. Masyarakat kota yang cenderung mempunyai pemikiran yang rasional dan impersonal,dalam berinteraksi akan mengedepankan rasio dan lebih pada manfaat yang diperoleh dari hubungan tersebut. Selain itu, intensitas aktifitas mereka yang terikat dengan jam kerja menjadikan merekauntuk mewakilkan urusannya dengan orang yang memang ahli dibidangnya.
Struktur sosial kota merupakan aturan yang berlaku dalam pola kehidupan dalam masyarakat kota. Struktur yang ada dalam masyarakat berawal dari kebiasaan, budaya yang kemudian dapat menjadi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Lebih jelasnya kita akan uraikan struktur sosial masyarakat kota sebagai berikut (Daljoeni, 1992:51):
1. Heterogenitas sosial. Kepadatan penduduk dalam masyarakat kota telah mendorong terjadinya persaingan dalam pemanfaatan ruang, yang berimplikasi pada naiknya harga dan sewa properti. Heterogenitas dalam masyarakat perkotaan telah melahirkan spesifikasi dan spesialisasi keahlian dari penghuninya. Semua pekerjaan dan urusan diserahkan pada ahlinya sesuai dengan spesifikasi keilmuan masing-masing. Bahkan ketika seorang pasien mencari dokter, ada kecendrungan untuk mencari dokter spesialis tertentu sesuai dengan penyakit yang dideritanya.
2. Hubungan sekunder. Hubungan yang terjalin dalam masyarakat kota tidak mendalam atau bersifat sekunder. Interaksi yang terjalin diantara mereka tidak akrab karena sibuknya aktifitas diantara mereka.
Masyarakat kota dalam menjalin hubungan bersifat impersonal, mereka melakukan interaksi hanya berdasarkan kebutuhan yang diinginkannya.
3. Kontrol (Pengawasan Sekunder). Berbeda dengan desa yang memiliki kontrol kuat baik antar sesama individu maupun antara pemuka masyarakat dengan anggota masyarakat, penduduk kota cenderung acuh dan tidak perhatian terhadap perilaku individu yang lain. Kontrol sosial biasanya dilakukan oleh pejabat lingkungan (RT/RW) dengan mandat dari warga. Namun, bagi sesama warga selama tidak menggangguatau merugikan dirinya, maka perilaku orang lain cenderung ditolerir.
4. Toleransi sosial. Tingkat toleransi yang tinggi menjadikan masyarakat kota hidup secara berdampingan dengan kepentingan yang berbeda.
Masyarakat kota dapat melakukan kegiatan dan acara masing-masing tanpa saling mengganggu satu sama lain. Misalnya, nyanyian disuatu gereja bertepatan dengan kumandang adzan magrib dan waktu shalat.
Sehingga seringkali di perkotaan kita menemukan beberapa tempat ibadah yang berdiri berdekatan.
5. Mobilitas sosial. Di kota, mobilitas sosial yang terjadi berupa perubahan status sosial seseorang. Setiap penduduk berusaha untukmeningkatkan jenjang dan status sosialnya dalam masyarakat. Sebagai masyarakat dengan sistemterbuka, semua orang dapat merubah status sosialnya berdasarkan keahlian yang dimilikinya. Dengan mengedepankan profesionalitas dan keterampilan yang dimiliki semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk merubah status sosial mereka.
6. Ikatan sukarela(voluntary association) didasarkan atas profesi atau ikatan primordialitas. Ikatan ini sebagai penguat ikatan diantara mereka sebagai bentuk solidaritas yang dibangun atas dasar profesionalisme dan primordialisme. Ikatan profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI), Asosiasi Program Studi Sosiologi (APSSI)atau ikatan yang bersifat primordial seperti Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).
7. Individualisasi terjadi karena adanya pola hubungan yang sekunder dan munculnya ikatan sukarela. Setiap individu mempunyai hak untuk memutuskan kehidupannya masing-masing. Mereka bebas bersikap dan menentukan pilihan masing-masing tanpa adanya campur tangan atau desakan yang lain.
8. Segregasi keruangan timbul sebagai akibat adanya kompetisi ruang.
Segregasi ini merupakan pemisahan ruang yang terjadi dalam masyarakat.Bentuk segregasi ini dapat dilihat dari pola pemukiman yang terjadi dalam masyarakat, terdapat pemukiman kelas atas, menegah dan bawah berdasarkan tempat atau wilayah yang dihuni. Pembahasan lebih lanjut mengenai segregasi ruang dapat kita pelajari pada pembahasan ekologi sosial kota.
Mennicke (Daljoeni, 1992: 55) menyebutkan bahwa yang menjadi ciri khas masyarakat kota adalah lepasnya ikatan tradisi. Tradisi berkembang dan terus terpelihara serta mengikat individu-individu di masyarakat pedesaan
namun pada saat mereka tinggal di kota-kota besar, logika akal mendapat porsi lebih besar dalam menilai sesuatu sehingga banyak di antara mereka yang mulai mencoba membuktikan kesalahan tradisi tersebut.Mennicke selanjutnya menjelaskan beberapa akibat dari perkembangan kota sebagai berikut:
1. Atomisasi dan pembentukan massa. Dalam masyarakat perkotaan individu seperti atom didalam kumpulan masyarakat. Mereka melakukan aktifitasnya secara sendiri-sendiri secara beraturan sesuai dengan pekerjaanya masing-masing. Seorang individu dapat bekerja di sebuah perusahaan dan dapat digantikan oleh yang lain ketika tidak memenuhi spesisifikasi yang diperlukan. Masyarakat kota juga mereka berkumpul bersama dalam suatu tempat karena adaya fasilitas pelayanan publik yang disediakan seperti bioskop, stadion atau alun-alun tempat mereka berkumpul tanpa harus saling mengenal satu sama lain. Anda dapat menemukan sekumpulan orang yang menunggu bis di halte. Mereka akan duduk bersama-sama namun sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing sehingga tidak terjadi komunikasi dan interaksi satu sama lain.
2. Kepekaan stimulus dan sikap masa bodoh. Masyarakat kota seringkali mendapatkan stimulus dengan masuknya berbagai informasi yang silih berganti. Mereka dituntut untuk mengikuti perubahan setiap saat supaya bisa tetap eksis dalam komunitasnya. Namun, karena banyaknya stimulus yang masuk membuat mereka menjadi masa bodoh dengan sekitarnya. Misalnya seringkali model fesyen cepat berubah setiap saat, kondisi tersebut membuat masyarakat untuk selalu mengikutiperkembangan mode sebagai bentuk eksistensi dan tidak dikatakan ketinggalan jaman. Namun, kondisi tersebut kadang juga menimbulkan sikap masa bodoh misalnya seorang public figur yang berpenampilan cuek ditempat umum dengan menggunakan sandal jepit, celana pendek, dan kaos oblong.
3. Egalisasi dan sensasi dalam masyarakat kota mempunyai arti ingin mendapatkan kesetaraan dengan yang lain. Egalisasi dalam masyarakat kota diartikan dengan perekonomian dengan simbol uang. Maka masyarakat kota akan berupayakan untuk menghasilkan uang sehingga bisa mendapatkan tempat yang sama dengan yang lain. sifat atomisasi yang kuat menuntut seseorang untuk melakukan sensasi agar
mendapatkan perhatian dari yang lain. Fenomena bunuh diri terkadang dilakukan oleh seseorang supaya mendapatkan perhatian publik.
4. Hiburan dan mengisi waktu luang bagi masyarakat kota menjadi hal sangat bermanfaat. Mereka memanfaatkan tempat hiburan untuk tujuan relaksasi dari kepenatan kerjaan dan aktifitas yang padat. Sering kali mereka mengisi waktu luang dengan ngobrol serta kumpul bersama teman sejawat atau keluarga di pusat perbelanjaan dan ruang publik lainnya.
C. POLA PERUBAHAN MASYARAKAT PERKOTAAN.
Beberapa sosiolog seperti Ibnu Khladun, Durkehim dan Tonnies mengkategorikan masyarakat ke dalam dua bentuk. Ibnu Khaldun mempunyai nama lengkap Abdul Rahman Ibn Khaldun lahir di Tunisia 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H. Ibnu Khaldun mengkategorikan perkembangan masyarakat dari masyarakat sederhana (pedesaan) menuju kepada masyarakat yang kompleks (perkotaan). Proses ini terjadi secara terus menerus (simultan) sehingga mengakibatkan transformasi dari kultur nomaden (budaya badawi) kepada budaya menetap. Budaya yang menetap atau budaya urban memberikan tugas dari setiap anggotanya untuk menjaga kestabilan dan meningkatkan dorongan dalam ilmu pengetahuan, dan keahlian.
Masyarakat badaawah mewakili komunitas pedalaman, primitif, dan daerah gurun, yang biasa juga disebut nomadik. Masyarakat hadlaarahmewakili masyarakat perkotaan yang hidup teratur, tersedia fasilitas dan lapangan kerja sehingga masyarakat dapat membangun peradaban.Masyarakat hadhaarah atau masyarakat perkotaan mempunyai
Saudara mahasiswa, silakan Saudara cermati masyarakat perkotaan di wilayah masing-masing. Kemudian, Saudara
cocokkan dengan beberapa karakteristik masyarakat perkotaan yang sudah dijelaskan diatas.Apakah terdapat
kesamaan karakteristik tersebut dengan realitas dalam masyarakat?
Selamat mencermati.
jenis dan bentuk pekerjaan yang sangat heterogen dan sudah mempunyai kontrol sosial untuk mengatur kehidupan anggotanya. Mereka mempunyai kecenderungan untuk menikmati kemewahan dan berprilaku hedonis.
Hedonis ini karena sudah tersedianya fasilitas sehingga memudahkan mereka untuk menikmati fasilitas ada. Setiap individu mempunyai spesifikasi dan spesialisasi pekerjaan tersendiri berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya. Tersedianya fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhannya secara cepat menjadikan msyarakat perkotaan menyukai hal yang instant. Sebagai contoh, karena diwilayah perkotaan banyak tersedia makanan yang siap saji maka bagi mereka masalah konsumsi merupakan lebih pada pemilihantempat yang diinginkan. Ketika mereka menginginkan ayam goreng dapat memesan langsung secara cepat lewat telpon dengan berbagai sajian yang ditawarkan seperti KFC, McDonald dan waralaba lainnya.
Karena masyarakat kota cenderung bersifat individualis dan lebih berorientasi pada keduniaan maka hubungan kekeluargaan diantara mereka cenderung mengendur dan melemah. Masyarakat hadlaarah dapat juga disebut sebagai persekutuan inaktif dimana gaya hidup masyarakat tampak statis yang ditandai dengan pasivitas, kejenuhan dan kelambanan. Sifat ini dialami oleh masyarakat sudah lama tinggal di perkotaan dan terjangkit dengan “sifat buruk kota” (Kartono 2004: 3.10). Lebih jelasnya tabel berikut adalah beberapa ciri perubahan pola masyarakatbadawahkehadharah.
Tabel 8.2
Pembagian Masyarakat menurut Ibnu Khaldun
Masyarakat Badawah Masyarakat Hadharah
merupakan komunitas pedalaman, primitif
dan tinggal di daerah Gurun mempunyai jenis dan bentuk pekerjaan sangat heterogen dan sudah ada kontrol sosial untuk mengaturkehidupan anggotanya
pola hidup sederhana
bentuk pekerjaan masih homogen
sangat liar dan keras
mempunyai rasa sayang yang kuat
mempunyai sifat otonom dan kebebasan dalam menentukan sikap
sangat terpengaruh oleh kewibawaan syeikh atau pemuka suku
hidup mewah dan mempunyai kecenderungan hedonis
spesialisasi pekerjaan
cendrung malas dan menyukai yang instant
hubungan ashabiyah (kekerabatan) kendur dan melemah
kurang bersahaja, individualisme&
berorientasi pada keduniaan
ketergantungan pada hukum sosialdan kekuasaan
kewibawaan bersifat formal,adanya penguasa dan pemerintahan resmi
Emile Durkheim (1858-1917) seorang sosiolog asal Prancis membedakan kategori masyarakat dengan solidaritas mekanik dan organik. Solidaritas mekanik identik dengan masyarakat pedesaan sedangkansolidaritas organik identik dengan masyarakat perkotaan.
Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat yang mempunyai pembagian kerja yang jelas dan mempunyai bagian masing-masing sebagaimana organ tubuh yang mempunyai fungsi masing-masing. Dalam karyanyaThe Division of Labourmenjelaskan tentang pembagian kerja dalam masyarakat yang mengarah pada fenomena perkotaan. Pembagian kerja dalam masyarakat perkotan tidak muncul secara tiba-tiba namun berhubungan dengan fenomena yang terjadi pada saat itu, yaitu meningkatnya industri modern. Dengan meningkatnya penggunaan mesin industri mempengaruhi pada terbentuknya pembagian kerja yang ekstrim. Pembagian kerja ini tidak hanya terjadi pada dunia ekonomi, akantetapi juga tumbuh mempengaruhi bidang politik, administrasi dan hukum yang terus berkembang dan lebih spesialisasi.
Seseorang dituntut untuk mempunyai keahlian khusus dalam satu bidang dari pada dia memahami berbagai hal tapi tidak menguasainya. Pendidikan semakin tumbuh dan terspesialisasi, dengan demikian individu tidak harus dimasukan pada budaya yang seragam tapi hendaknya berbeda sehingga mempunyai fungsi yang berbeda dan menjadi ahli dibidangnya dalam satu aspek, sehingga ada asumsi “ make yourself usefully fulfill a determinate function”(Durkheim 1964:43).
Pada solidaritas organik setiap individu mempunyai peranan yang berbeda satu sama lain. Demikin juga dalam masalah hukum lebih bersifat restitutif yaitu lebih mendorong memulihkan relasi sosial yang terganggu pada keadaan semula. Hal ini dilakukan dengan cara menghukum pelaku agar bertanggung jawab terhadap tindakan kriminal yang dilakukannya. Tipe solidaritas organik lebih menekankan pada fungsi, karena masing-masing individu mempunyai fungsi yang khusus. Disini terdapat perbedaan dan keragaman fungsi dimana masing-masing mempunyai ketergantungan satu sama lain.
Tabel 8.3
Tipologi Masyarakat menurut Durkheim
Faktor Mekanik Organik Perilaku Di dominasi oleh tradisi,
keyakinan, pendapat Lebih individualitas, spesialisasi pekerjaan menyebabkan masyarakat lebih individualitas.
Hukum, Moral dan
Kontrol Sosial Hukuman yang bersifat represif Penekanan pada hukum restitutif Struktur Politik Pertemuan Publik Hubungan kontraktual
pemerintahan kepada masyarakat Ekonomi Berbagi - properti komunal Properti berdasarkan kontrak dan
milik pribadi Agama Totemic, bersifat lokal sesuai
kepercayaan suku yang bersangkutan.
Kepercayaan terhadap tuhan secara pribadi, monoteisme atau politeisme
Bunuh diri Altruistic Egoistic and anomic
Sumber: Kinloch 1977: 87
Ferdinand Tonnies (1855-1936) seorang sosiolog asal Jerman mengkategorikan masyarakat ke dalam dua bentuk yaitu gemeinschaft (desa) yang berlandaskan natural will dan gesellschaft (Kota) yang berlandaskan rasional will.Masyarakat kota identik dengan masyarakat yang memiliki interaksi secara luas, mengenal pabrik industri modern, munculnya kompetisi dalam bidang perekonomian, berhubungan satu dengan yang lain secara impersonal dan berlandaskan hubungan atas dasar manfaat secara ekonomi. Pola perubahan dari masyarakat desa ke kota berjalan secara alamiah mengikuti proses alam seiring dengan perjalanan waktu.
Masyarakat yang awalnya bersifat komunal berkelompok berdasarkan golongan atau suku pada masyarakat kota berubah menjadi masyrakat yang terbuka dan menjalin kelompok secara luas.Kondisi ini terjadi karena wilayah perkotaan merupakan wilayah yang banyak didatangi oleh individu dari berbagai wilayah sehingga kehidupan masyarakat dalam melakukan interaksi sosial dibangun lebih terbuka secara umum dengan siapapun. Masyarakat kota merupakan masyarakat industrial karena banyak kebutuhan yang diperlukan konsumen sehingga dituntut untuk dapat memproduksi barang secara massal. Situasi ini didukung dengan perkembangan mesin industri modern sehingga memungkinkan untuk terbentuknya pabrik industri yang dapat menghasilkan komoditas secara masssal. Hubungan yang dibangun diantara masyarakat perkotaan berdasarkan kepentingan ekonomi bukan
berdasarkan hubungan keluarga. Mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain karena ada kepentingan ekonomi yang ingin didapatkan sehingga hubungan yang terbentuk bersifat impersonal dan artificial. Hubungan yang dibangun lebih pada kebutuhan yang diperlukan oleh individu sehingga apabila kebutuhannya terpenuhi hubungan tersebut bisa berakhir. Seorang karyawan dengan pimpinan menjalin hubungan ketika mereka berada dalam tempat kerja atau kantor yang sama. Namun, ketika salah satu dari keduanya berhenti maka hubungan mereka akan terhenti dengan sendirinya dan mereka akan melanjutkan hubungan dengan orang baru yang menggantikan posisinya.
Motif masyarakat perkotaan dalam melakukan pekerjaan bertujuan untuk tercapainya nilai ekonomi berbeda dengan masyarakat pedesaan yang masih berlandaskan saling menolong dan melindungi. Dengan kata lain semua tidak ada yang dikerjakan cuma-cuma tapi ada upah yang didapatkan. Sehingga norma yang ada dalam masyarakat perkotaan berlandaskan pada nilai ekonomi, buruh dan konsumsi. Di kota semua barang dan jasa mempunyai nilai ekonomi sehingga banyak buruh kasar atau tukang panggul yang mencari nafkah dengan menjadi kuli angkut di pasar. Tentunya ini berbeda dengan kondisi pada masyarakat di pedesaan yang berlandaskan pada norma kekeluargaan dan tolong menolong. Masyarakat perkotaan lebih mengutamakan kontrak pertukaran ekonomi yang didapatkan bukan berlandaskan pada hubungan persaudaraan, persamaan tempat atau pemikiran.
Kekuasaan menjadi ukuran dalam menentukan otoritas. Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat tabel di bawah tentang beberapa perubahan dari masyarakat gemeinshaft(pedesaan) menuju masyarakatgesellschaft(perkotaan).
Tabel 8.4
Tipologi Masyarakat menurut Ferdinand Tonnies
Faktor-faktor Gemeinshaft Gesellschaft
Kehidupan Berkelompok Bersifat umum
Masyarakat Tradisional Industri
Hubungan Kekeluargaan, tertutup dan
mempunyai ikatan yang erat Berlandaskan ekonomi, Impersonal, buatan.
Motivasi Saling membantu dan melindungi Kompetisi ekonomi.
Norma Kasih sayang, saling pengertian,
selalu bersama Berdasarkan nilai ekonomi, pekerjaan dan konsumsi Kelompok Berdasarkan struktur keluarga Berdasarkan kelas ekonomi
kepemilikan Berkelompok Individual
Otoritas Ketua suku Kekuasaan
Ikatan Persamaan darah, tempat dan Berdasarkan kontrak ekonomi
pemikiran Sumber: Kinloch 1977: 90
D. PERUBAHAN FUNGSI RUANG PUBLIK
Ekologi berasal dari kataoikosyang berarti segala hal yang berhubungan dengan rumah atau tempat tinggal termasuk penghuni dan kegiatannya.
Neilson (1972) sebagaimana dikutip Kartono menjelaskan ekologi dibagi menjadi tiga, yaitu ekologi tumbuh-tumbuhan, ekologi binatang dan ekologi manusia. Ekologi manusia meliputi ekologi manusia dan ekologi sosial.
Ekologi manusia mempelajari hubungan manusia dengan lingkungannya sedangkan ekologi sosial mempelajari hubungan kelompok manusia dengan lingkungannya. (Kartono, 2010: 6.3).
Ekologi merupakan studi tentang penyesuaian diri dari organisme tumbuhan dan binatang dengan lingkungannya.Ekologi sosial sebagai studi tentang relasi sub-sosial antar manusia, daerah-daerah sosial budaya dan menggambarkan sebaran keruangan dalam suatu komunitas.
Ekolog di Chicago Schoolmengatakan bahwa manusia hidup dalam sebuah habitat yang dikenal dengan komunitas, yaitu suatu struktur yang meliliki unsur populasi, habitat dan kebutuhan dan berfungsi untuk memfungsikan struktur dalam suatu wilayah kota atau desa. Populasi melihat orang dalam berbagai aspek seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, kepercayaan, pendapatan, kelas sosial, kelompok atau rasial. Habitat meliputi lingkungan
Saudara mahasiswa, untuk lebih memahami perubahan masyarakat dari satu kelompok ke kelompok lainnya berdasarkan beberapa penjelasan diatas. Silahkan Saudara
amati masyarakat pedesaan dan perkotaan yang ada di wilayah Saudara masing-masing.
Kemudian, cermati mengapa masyarakat perkotaan cenderung lebih individual dan rasional.
alami seperti pegunungan atau lingkungan yang merupakan hasil kreasi manusia seperti lingkungan industri.Sedangkan kebutuhan melingkupi semua kebutuhan yang diperlukan dalam kehidupan manusia sebagai fasilitas, infrastruktur penunjang kehidupan (Daldjoeni, 1992:94).
Robert Ezra Park (1864-1944) seorang ekolog mengatakan bahwakota modern sebagai struktur komersial yang keberadaannya ditentukan oleh pasar, terdapat pembagian kerja dan sistem kemasyarakatan yang didasarkan pada kepentingan pekerjaan atau profesi. Sebuah kota mempunyai struktur formal seperti birokrasi diberbagai bidang, rasional, individual dan segmental. Kajian perkotaan harus menggunakan teknik observasi dan melihat kota sebagai organisme sosial yang didasari oleh pendekatan ekologi, dengan prinsip persaingan dan pengorganisasian komunitas yang didasarkan pada prinsip dominasi.
Tabel 8.5
Persamaan dan Perbedaan Park dengan Ekologi
Persamaan Perbedaan
mengkaji dengan pendekatan ekologis
dalam alam ada kesatuan dan saling ketergantungan antar anggota sistem
“the iron law of nature”, jika satu spesies tidak mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi akan
mendapatkan konsekuensi
tidak ada tujuan akhir pada alam, binatang, tumbuhan atau manusia
dalam masyarakat manusia terjadi pembagian kerja.
manusia mampu melakukan penemuan-penemuan
manusia menciptakan bahasa dan budaya sehingga mampu menciptakan organisasi yang lebih kompleks
Pendekatan ekologi dipelopori oleh Park dan Burgess dengan memandang kota sebagai tatanan ekologi. Di dalam kota, manusia belajar untuk bersaing satu dengan kelompok lain, tidak hanya secara individu.
Sebuah kota dapat disusun sebagai habitat tertutup, individu. dan kelompok yang saling bergantung bersaing untuk mencari sumber daya langka yang mereka perlukan. Sumber daya tersebut yaitu persediaan komoditas ekonomi yang tidak cukup (langka) dan kurangnya ruang fisik yang bernilai. Kedua bentuk tersebut dilihat sebagai hal yang saling berhubungan. Manusia membutuhkan kebutuhan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kelangkaan akan terjadi ketika banyaknya permintaan terhadap kesediaan
barang. Salah satu sumber daya yang paling penting yang dapat mendatangkan keuntungan ekonomi adalah ruang (Nurhayati, 2013).
Model konsentris yang diterapkan oleh Burgess merupakan peta Chicago yang menggambarkan sebuah kota yang berkembang dan terorganisir. Model ini merupakan model ideal yang melihat keteraturan pola penggunaan lahan dan adanya interelasi antara elemen-elemen wilayah kota yang dapat diterapkan di negara barat atau maju seperti Chicago dan Amsterdam. Burges yang terkenal dengan “concentric zone hypothesis”membaginya ke dalam 5 zona daerah pusat bisnis(central business district), zona peralihan(transition zona), zona perumahan para pekerja (zona of working men’s homes), zonz pemukiman yang lebih baik (zona of better residences) dan zona para penglaju(zona of commuters).
Gambar 8.5 Struktur Konsentris Burgess
Model Hoyt dikenal dengan The Sector Theory, model inimerupakan respon terhadap model Burgess. Model Hoyt mencerminkan pola kota yang meluas ke arah tertentu dengan berbagai bagian-bagian khusus seperti sektor pertokoan, industri, pemukiman, hiburan, rekreasi, olah raga dan sektor- sektor lain untuk memberikan kesan kenyamanan dan kesenangan penghuninya. Menurut Hoyt perdagangan dan manufaktur cendrung meluaskan sektornya keluar. Persebaran penggunaan lahan tidak monoton, pengelompokan tata guna lahan di kota menyebar dari pusat ke arah luar.
Gambar 8.6 Teori Sektor Hoty
Multiple Nuclei Theorydikemukakan oleh Harris dan Ullman, menurut mereka suatu kota terdiri dari beberapa pusat yang berkembang. Ada bagian- bagian kota dengan fungsi tertentu sehingga membentuk daerah pertokoan, pemukiman, pabrik industri, perbank-an yang membentuk kegiatan perekonomian.
Gambar 8.7 Teori Inti Ganda
Penempatan tata ruang dalam perkotaan berhubungan dengan aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat, sehingga mempunyai pertimbangan khusus dalam letak suatu kawasan. Hal ini meliputi empat kriteria dasar (Kartono, 2010: 6.18):
1. penempatan aktifitas tertentu berhubungan dengan fasilitas yang mendukung aktifitas tersebut, misalnya penempatan pusat bisnis di wilayah yang mempunyai akses mudah.
2. menempatkan beberapa aktifitas ditinjau dari manfaatnya, misalnya industri berdekatan dengan pemukiman para pekerja.
3. aktifitas yang memiliki efek negatif berjauhan dengan pemukiman kelas atas, misalnya polusi asap akan memberikan dampak bagi penghidupan di perumahan elit.
4. beberapa aktifitas yang kurang diinginkan diletakan di daerah-daerah kurang diminati, misalnya penyimpanan barang atau gudang di wilayah pinggiran atau wilayah kumuh.
Dengan demikian, wilayah dan individu berkembang sesuai dengan fungsinya dan terpisah. Satu dengan yang lain berkembang dan saling menguatkan dan terpisah secara ruang. Sebagaimana diungkapkan oleh Lefebvre(1992) dalam The Production of Space bahwa ruang sebagai produk sosial, atau konstruksi sosial yang kompleks berdasarkan nilai dan produksi sosial atas makna yang mempengaruhi praktik ruang dan persepsi atas ruang. Lefebvre berpendapat bahwa produksi sosial atas ruang kota adalah dasar bagi reproduksi masyarakat diantaranya disebabkan oleh kapitalisme. Banyak terjadinya keseragaman pola konsumsi di perkotaan merupakan reproduksi yang diciptakan oleh masyarakat terhadap produk sosial masyarakat. Disinilah perkotaan menjadi ruang yang dapat menciptakan kontradiksi dalam fungsi dengan realitas yang dialami masyarakat kota.
Konsep ruang publik dikemukakan oleh Habermas (1989) sebagai buah karya pemikirannya dalam bidang sosiologi. Pemikiran Habermas mengenai ruang publik dikemukan dalam bukunya yang berjudul “the structural transformation of the publik sphere: an inquiry into a category of bourjuis society “ (1989). Ruang publik merupakan ruang atau arena yang diciptakan oleh masyarakat sebagai tempat berkumpul dan bertukar pikiran dalam membicarakan masalah sosial dan politik yang terjadi di sekitar kehidupan masyarakat. Ruang ini bersifat bebas dan otonom
sebagaisarana individu atau kelompok berdiskusi dan bertukar pendapat.
Ruang publik dapat dikatakan sebagai jaringan untuk mengkomunikasikan informasi dan beberapa cara pandang. Informasi yang didapatkan pada prosesnya menjadi simpul opini publik yang spesifik sesuai topiknya. Dan selanjutnya, dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dalam struktur politik dan hukum yang mapan. (Sumaryanto: 2008).
Bagi Habermas (1989), ruang publik memiliki peran yang cukup berarti dalam proses berdemokrasi atau sebagai wahana diskursus masyarakat dalam menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif. Ruang publik merupakan tempat warga untuk berkomunikasi tentang ungkapan pemikiran dan penyampaian kritik terhadap politik secara bebas, terbuka, transparan dan bersifat otonom. Mereka bebas untuk menyatakan sikap dan argumen terhadap negara dan pemerintah tanpa adanya intervensi dari pemerintah. Ruang publik harus mudah diakses semua orang untuk menghimpun kekuatan solidaritas masyarakat untuk melawan mesin-mesin pasar/kapitalis dan mesin-mesin politik. (Darajati: TT)
Sumber: https://klasika.kompas.id/pemanfaatan-ruang-publik/
Gambar 8.8. Ruang Publik
E. PERMASALAHAN PERKOTAAN
Menurut Lerner, urbanisasi dan pertumbuhan kota merupakan indikator dari modernisasi dan kemajuan, akan tetapi proses urbanisasi pada saat ini seringkali menimbulkan permasalahan sosial (Chen and Evers, 1978). Permasalahan tersebut misalnya timbul perumahan kumuh, kesemrawutan dan permasalahan sosial lainya. Tidak berimbangnya jumlah yang datang dengan keterbatasan pekerjaan formal pada akhirnya banyak yang memilih sektor informal. Mereka berada pada wilayah yang dekat dengan wilayah industri dan perdagangan untuk menekan biaya transportasi.
Situasi dan kondisi ini kadang menyebakan permasalahan kota yaitu terbentuknya perkampungan kumuh atau slum area.Semakin tinggi arus urbanisasi atau migrasi yang tidak berimbang dengan ketersediaan daya tampung kota maka semakin bertambah problem sosial yang ditimbulkannya.
Saudara mahasiswa, untuk lebih jelasnya, marilah kita simak beberapa masalah perkotaan dibawah ini
Perumahan diperkotaan mempunyai ragam yang menunjukan kelas sosial masyarakat. Diferensiasi sosial penghuni perumahan dapat tercermin dari wilayah yang dihuni oleh masyarakat. Perumahan kelas elit, menengah dan bawah dapat dilihat dari lokasi dimana perumahan tersebut dibangun.
Perumahan diperkotaan masih menyimpan beberapa permasalahan yang harus diselesaikan bersama sebagai masalah sosial. Semakin banyaknya masyarakat yang datang ke wilayah perkotaan dan terbatasnya wilayah pemukiman terkadang menimbukan pemukiman kumuh atau slum area.
Kesenjangan ini dapat kita lihat secara nyata antara perumahan kumuh yang berada dipinggiran kali dengan perumahan elit dalam masyarakat.
Saudara mahasiswa, ruang publik mempunyai fungsi penting bagi masyarakat. Namun, dari beberapa ruang
publik yang ada seperti trotoar atau halte bis kadang- kadang digunakan untuk berjualan. Bagaimana pendapat Saudara menanggapi permasalahan ini?
Selamat mencermati.
Sumber: http://www.arsindo.com/umum/pemukiman-kumuh-di-jakarta/
Gambar 8.9
Pemukiman Kumuh di Perkotaan
Dalam menangani permasalahan perumahan kumuh yang tidak layak huni pemerintah berupaya memberikan solusi berupa pembangunan rumah susun untuk mensiasati keterbatasan lahan di perkotaan. Program rumah susun yang disediakan oleh Pemerintah DKI Jakarta diantaranya yaitu rusun di Kemayoran. Program terbaru dari DKI mengenai pemukiman yaitu dibentuknya kampung deret. Langkah ini dilakukan bertujuan untuk memberikan fasilitas perumahan bagi masyarakat dengan tidak mencabut penduduk dari akar hidup atau lingkungannya khas yang menjadi bagian pokok dari identitas mereka.
Sumber: http://sp.beritasatu.com/home/pembangunan-kampung-deret-di- dki-warga-diminta-
kompak/76123.http://www.tribunnews.com/metropolitan/2015/0 5/30/2017-ahok-target-bangun-7000-unit-rusun-di-kemayoran- untuk-pekerja
Gambar 8.10
Rumah Susun dan Kampung Deret
Transportasi menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat perkotaan untuk menunjang mobilitas masyarakat kota dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Masalah transportasi di kota-kota besar menyangkut beberapa faktor yang saling berkaitan erat satu sama lain yaitu; manusia (disiplin&
kebijakan lalu lintas), Prasarana (infrastruktur), alat transportasi (kendaraan pribadi & umum) dan rencana pembangunan kota (Marbun, 1979:86).
Meningkatnya jumlah kendaraan tanpa diikuti oleh pembangun jalan telah menimbulkan kemacetan. Salah satu alasan masyarakat belum menggunakan transportasi publik karena rendahnya tingkat kenyamanan yang mereka dapatkan. Kenyamanan fasilitas umum menjadi pekerjaan rumah yang utama bagi pemerintah untuk mengalihkan moda transportasi pribadi ke transpotasi umum sehingga dapat mengurangi kemacetan.
Perencanaan dan penyediaan transportasi umum yang nyaman dan memadai, pengaturan pola lalu lintas dan pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi dan kendaraan dinas merupakan strategi yang bisa dikembangkan untuk perencanaan transportasi. Kemacetan telah menimbulkan dampak lamanya jarak tempuh yang harus dicapai selain terjadinya pemboroson bahan bakar dan timbulnya polusi. Perencanaan dan pengembangan strategi transpotasi diperlukan untuk mengatasi kemacetan. Strategi ini dilakukan dengan membuat perencanaan dan pembuatan sarana jalan yang memadai untuk