• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII LOGIKA DAN PENALARAN ILMIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "VII LOGIKA DAN PENALARAN ILMIAH"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

VII LOGIKA DAN PENALARAN ILMIAH

A. Pendahuluan

Logika dapat dikaji sebagai seni (art) dan ilmu (science). Sebagai seni, Sullivan mengutip Thomas Aquinas yang menyatakan, ”Logic has been defined as the art that enables us to proceed with order, ease, and correctness in the act of reason itself”

(Sillivan, 1963: 5). Sesuai dengan batasan tersebut, logika menentukan aturan- aturan yang harus diikuti dalam melakukan kegiatan menalar secara benar. Dalam hal ini logika terkait erat dengan tata bahasa dan retorika.

Sebagai seni, logika dikelompokkan menjadi logika formal atau logika minor, dan logika material atau logika mayor. Logika formal ialah cabang logika yang mengkaji bentuk yaitu aspek formal pada pikiran (the form of thought) dalam menalar.

Logika material mengkaji isi atau substansi pikiran yang digunakan dalam menalar untuk mendapatkan kebenaran (truth), yaitu kesesuaian atau konformitas antara pernyataan dan realitas atau fakta.

Sebagai sarana penalaran, logika berorientasi pada pengetahuan tentang kebenaran. Fungsinya yang pertama ialah menemukan hukum atau aturan-aturan yang harus dipatuhi untuk mencapai ketepatan dalam berpikir. Hal ini sangat diperlukan terutama dalam proses pemikiran tingkat tinggi dan kompleks; sebab semakin tinggi dan kompleks, pemikiran menjadi semakin abstrak dan semakin jauh dari kebenaran yang dapat dibuktikan secara langsung, sehingga semakin mudah tergelincir pada kekeliruan’error’.

Sebagai seni, logika dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sesuai dengan dasar pengelompokannya. Menurut dasar dan proses yang terjadi di dalam minda

‘mind’, logika dibedakan sebagai logika deduktif dan logika induktif seperti yang akan diuraikan pada bagian berikut ini.

B. Logika Deduktif

(2)

Pada bagian awal tulisan ini telah dikemukakan batasan mengenai logika.

Sebagai seni logika mengkaji kriteria untuk menentukan kebenaran pernyataan atau argumen.

Berdasarkan proses dan arahnya, logika dibedakan sebagai logika deduktif dan induktif. Pada bagian berikut akan diuraikan berbagai hal mengenai logika deduktif.

Logika deduktif khususnya logika tradisional bermula dari zaman Yunani Kuno sekitar abad ketiga sebelum Masehi (SM). Logika ini memproses pikiran baik secara langsung maupun tidak langsung berdasarkan atas pernyataan umum yang sudah lebih dahulu diketahui. Pernyataan yang berisi sesuatu yang sudah diketahui disebut antesiden (premis) yang merupakan pernyataan dasar, dan pernyataan yang berisi pengetahuan baru yang ditarik dari pernyataan dasar itu disebut konsekuen (kesimpulan). Untuk selanjutnya, dalam tulisan ini digunakan istilah premis dan kesimpulan.

Penarikan pengetahuan baru secara langsung dilakukan berdasarkan satu premis saja. Dari premis tersebut ditarik kesimpulan yang merupakan implikasinya.

Contoh: Dari premis ”Bujur sangkar adalah bidang datar yang merupakan kurva tertutup yang diapit oleh empat sisi sama panjang dan memiliki empat sudut siku-siku”, secara langsung dapat ditarik kesimpulan “Jika pada sebuah bujur sangkar ditarik garis diagonal, akan terjadi dua segitiga sama kaki yang sama dan sebangun” yang merupakan implikasi atau konsekuensi logis dari pernyataan pertama. Dari premis di atas, dapat pula ditarik pernyataan-pernyataan lain yang merupakan implikasinya, seperti:

1. Suatu segiempat yang sisi-sisi horizontalnya tidak sama panjang dengan sisi- sisi tegak lurusnya adalah bukan bujur sangkar.

2. Jumlah sudut bujur sangkar 360 derajat.

3. Jika pada sebuah bujur sangkar ditarik dua buah garis diagonal, akan terjadi empat segitiga sama kaki yang sama dan sebangun.

4. Segitiga sama kaki yang terbentuk masing-masing mempunyai satu sudut siku-siku dan dua sudut lancip yang besarnya masing-masing 45 derajat.

(3)

Dengan demikian, implikasi merupakan pernyataan yang secara tersirat telah ada dalam premis. Tentu saja, dalam hal ini kebenaran implikasi tergantung kepada kebenaran pernyataan dasar atau premisnya.

Penarikan pengetahuan baru secara tidak langsung dilakukan berdasarkan dua premis atau lebih; yang didasarkan atas dua premis disebut silogisme. Jadi, dapat dikatakan, silogisme merupakan bentuk formal sebagai sarana untuk menarik kesimpulan yang baru. Silogisme selalu terdiri atas tiga proposisi yaitu dua premis dan kesimpulan. Premis yang pertama disebut premis mayor yang bersifat lebih umum, dan yang kedua yang lebih khusus disebut premis minor. Dalam logika deduktif arah pemikiran bergerak dari pernyataan-pernyataan umum kepada kesimpulan yang lebih khusus.

C. Logika Induktif

Berbeda dengan logika deduktif, logika induktif memproses pengetahuan berdasarkan fakta-fakta khusus yang diperoleh dari pengetahuan indrawi/ yang diperoleh melalui pengamatan. Dari sejumlah fakta atau gejala khusus itu ditarik kesimpulan umum berupa pengetahuan yang baru yang berlaku untuk sebagian atau keseluruhan gejala tersebut. Jadi, arah pemikiran bergerak dari data yang bersifat khusus kepada kesimpulan yang bersifat lebih umum. Logika induktif seperti itu di antaranya dilakukan dalam analisis statistik yang menggunakan data kuantitatif sebagai dasar penarikan kesimpulan dan dalam analisis data kualitatif yang menggunakan data yang bersifat verbal.

Pengembangan teori berdasarkan hasil pengamatan di lapangan menerapkan logika induktif dalam analisisnya. Dari analisis tersebut diperoleh proposisi-proposisi yang merupakan teori substantif. Proposisi-proposisi itu mengungkapkan hubungan sebab akibat, analogi induktif, dan generalisasi. (Sullivan, 1963; Copi, 1976;

Suriasumantri, 1998; Akhadiah, Arsyad, Ridwan, 2003).

D. Proposisi

Intelek manusia beroperasi dalam tiga wujud, yaitu pemahaman sederhana (simple apprehension), pembenaran dan pengingkaran (affimation/negation), dan

(4)

penalaran (reasoning). Operasi pertama, pemahaman sederhana, menghasilkan definisi yang diungkapkan dalam bentuk term. Operasi kedua, pembenaran dan pengingkaran menghasilkan keputusan/kesimpulan/penilaian/pernyataan (judgement) yang diungkapkan dalam bentuk proposisi; sedangkan, operasi ketiga menghasilkan argumen (argument) induktif dan deduktif yang dinyatakan dalam bentuk rangkaian/urutan induktif (inductive sequence) dan silogisme. Operasi yang pertama yang menghasilkan definisi term sebagai pemahaman tertinggi pada tingkat tersebut tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tantang term tersebut.

Padahal, pengetahuan/proses mengetahui/knowing baru lengkap jika diberi penjelasan tentang bagaimana, mengapa, dalam kondisi apa, apakah sesuatu itu ada atau tidak, baik sebagai kenyataan maupun baru merupakan kemungkinan. Hal ini dilakukan melalui pernyataan (judgement yang selanjutnya diterjemahkan sebagai pernyataan). Pernyataan dalam kajian ini dibatasi sebagai kegiatan intelek dalam menyatukan konsep melalui pembenaran dan memisahkan melalui pengingkaran (Sulivan, 1963: 77).

Dengan demikian, dikenal dua jenis pernyataan. Pernyataan adalah afirmatif/positif jika konsep-konsep disatukan sehingga intelek dapat memahami adanya hubungan antara hal-hal yang dinyatakan oleh konsep itu masing-masing dalam eksistensinya. Sebaliknya, suatu pernyataan adalah negatif jika intelek menghubungkan konsep-konsep sehingga jelas bahwa konsep-konsep itu berbeda.

Pernyataan “Manusia adalah makhluk hidup rasional” membenarkan hubungan antara manusia dan rasionalitas: sedangkan pernyataan “Tidak ada manusia yang abadi” atau “Manusia tidak abadi” meniadakan hubungan antara manusia dan keabadian; artinya, tidak terdapat konformitas antara manusia dan keabadian.

E. Kebenaran dan Kesalahan/Kepalsuan (falsity) dalam Pernyataan

Dalam uraian tentang jenis pernyataan pada bagian terdahulu, tersirat pengertian kebenaran dan kesalahan. Dalam hal ini perlu diingat definisi kebenaran yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa kebenaran adalah konformitas antara intelek dan benda atau hal (yang dinyatakan dalam term) berkaitan dengan apa yang memang berhubungan dan apa yang tidak berhubungan.

(5)

Suatu pernyataan berhubungan dengan struktur pikiran yang kompleks yang disebut proposisi, yaitu pernyataan atau kalimat pernyataan yang menyatakan pembenaran atau pengingkaran. Definisi tersebut menyatakan juga bahwa proposisi selalu merupakan kalimat pernyataan yang dapat dinilai benar atau salah (Sullivan, 1963, Suriasumantri, 2005). Sebagai suatu pernyataan, proposisi menyajikan makna yang lengkap, berbeda dengan definisi yang memaparkan makna term yang tidak lengkap sehingga “membiarkan minda dalam ketidakjelasan”. Properti proposisi yang menyatakan pembenaran dan pengingkaran membedakannya dari bentuk kalimat lainnya, seperti kalimat tanya dan kalimat perintah.

Dalam pemahaman sederhana baik yang indrawi maupun mental sebagaimana telah diuraikan pada bahasan tentang operasi intelek pertama tidak ada persoalan eror (KBBI, 2007:307) dan kesalahan/kepalsuan (falsity). Hal ini terjadi karena pengetahuan kita pada taraf ini hanya sekedar menerima kesan indrawi dan mental sesuai dengan kekuatan pengetahuan (seperti kesehatan dan kekuatan fisik) dan kondisi operasi ketika proses pengetahuan terjadi (seperti media resepsi, tingkat perhatian). Masalah kebenaran dan kesalahan baru timbul dalam kaitan pernyataan ketika kita memberikan pembenaran atau pengingkaran tentang apa yang diterima itu. Eror dapat terjadi karena kita tahu bahwa berbagai benda atau hal dapat dihubungkan atau dipisahkan sesuai dengan realitas. Hal ini sesuai dengan pernyataan St. Thomas yang mengutip Aristoteles bahwa kebenaran intelek adalah

“conformity of the intellect and the thing, according as the intellect says of what is that it is, of what is not that it is not” (Sullivan, 1963: 79).

1. Struktur Proposisi

Secara tradisional, proposisi merupakan konstruksi yang menggabungkan dua konsep atau term. Di dalam berbagai bahasa hubungan ini ditandai dengan kopula, yaitu verba yang menghubungkan subjek dengan komplemen (KBBI, 2007: 594) seperti to be, sein, ếtre dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis. (Di dalam bahasa Indonesia biasanya dinyatakan dengan “adalah”: namun, sesuai dengan struktur kalimat bahasa Indonesia, kopula ini sering tidak digunakan). Jadi, suatu proposisi terdiri atas subjek (S), predikat (P) dan kopula (K). Dalam proposisi

“Lumba-lumba adalah mamalia yang hidup di laut”, lumba-lumba merupakan S,

(6)

mamalia yang hidup di laut adalah P, dan adalah merupakan K. Subjek/S merupakan topik proposisi dan predikat/P menyatakan sesuatu tentang subjek.

Karena term menurut logika tradisional selalu merupakan kata benda atau yang bermakna benda dan suatu proposisi selalu menghubungkan dua term, maka baik subjek maupun predikat dalam proposisi standar menurut logika tradisional harus merupakan kata/frasa benda/nomina.

Proposisi “Lumba-lumba tidak bertelur” diubah menjadi “Lumba-lumba adalah hewan yang tidak bertelur” sebagai proposisi standar. Namun, dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam proposisi, P kerap kali merupakan adjektiva seperti pada proposisi “Every circle is round” (Sulivan, 1963: 83) “round” tidak merupakan nomina.

2. Bentuk Logis Proposisi

Dalam ekspresinya melalui bahasa sehari-hari, proposisi tidak selalu dinyatakan dalam bentuk standar yang tersusun dalam urutan S, K, dan P. Elemen- elemen itu kerap kali dinyatakan secara implisit. Namun, terkait dengan kajian logika, proposisi yang tidak standar itu kerap kali perlu diubah ke dalam bentuk standar, terutama bagi yang baru mulai belajar logika. Poposisi “Musang tidak bertelur” yang bersifat negatif dapat diubah menjadi “Musang adalah hewan yang tidak bertelur” Pengubahan proposisi ke dalam bentuk standar ini terutama dilakukan jika kita menghadapi kalimat pernyataan atau proposisi yang tidak jelas sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

3. Kuantitas dan Kualitas Proposisi

Kuantitas suatu proposisi mengacu pada term S, apakah proposisi menyatakan sesuatu mengenai keseluruhan cakupan makna term atau hanya mengenai sebagian dari keseluruhan makna term tersebut. Dalam hal ini kita membedakan proposisi sebagai berikut.

Universal : Semua manusia adalah makhluk rasional.

Partikular : Beberapa manusia jenius.

Tunggal/singular : Kuda ini belang.

(7)

Tak tentu/indefinite : Buku-buku berguna.

Kuantitas dalam proposisi itu ditandai dengan penggunaan kata-kata tertentu.

Pada proposisi universal yang ditandai dengan pemakaian kata semua, setiap, dan tidak satu pun (tidak ada) predikat terkait dengan keseluruhan ekstensi subjek (dengan kata lain, subjek distributif). Dalam proposisi partikular yang ditandai dengan pemakaian kata seperti beberapa, sebagian, dan kebanyakan predikat hanya terkait dengan sebagian subjek (dengan kata lain subjek tidak distributif).

Proposisi tunggal hanya terkait dengan individu tertentu.

Kualitas proposisi terkait dengan hubungan S dan P yang mungkin dinyatakan dengan kopula. Jika kopula membenarkan hubungan S dan P, maka proposisi bersifat afirmatif/positif; sebaliknya, jika kopula memisahkan S dengan P, maka proposisi bersifat negatif.

Berdasarkan uraian tentang kuantitas dan kualitas proposisi, maka jika kedua kriteria itu digabungkan dapat dibedakan empat tipe dasar proposisi, yaitu universal positif (A dari kata Latin affirmo), universal negatif (E dari nego), partikular positif (I dari affirmo), dan partikular negatif (O dari nego).

A : Manusia adalah makhluk rasional E : Semua makhluk tidak kekal

I : Beberapa manusia jenius

O : Beberapa jenis mamalia tidak hidup di laut

F. Ekstensi Predikat

Ekstensi subjek seperti telah diuraikan di atas ditandai dengan semua, setiap, tidak satu pun, atau ini, yang kemudian menentukan proposisi. Berbeda halnya dengan ekstensi subjek, ekstensi predikat tidak ada penandanya melainkan ditentukan oleh fungsi proposisi.

Di dalam proposisi positif kelas yang merupakan predikat diterapkan terhadap subjek oleh kopula. Sebagai ilustrasi, dalam proposisi “Setiap manusia adalah mortal”, kelas “Manusia” terdapat di dalam kelas “semua makhluk yang mortal”.

Akan tetapi hal itu tidak membatasi kelas yang merupakan predikat terhadap subjek.

(8)

Makhluk lain di luar manusia juga bisa termasuk “makhluk mortal”. Aspek kuantitas

dan kualitas pada proposisi dapat dijelaskan melalui diagram Euler berikut.

Diagram 5: Diagram Euler

Diagram pertama, menggambarkan proposisi A, “Semua S adalah P”. Pada diagram tersebut seluruh S terletak dalam ekstensi P, tidak melingkupi seluruh ekstensi kelas P, sehingga masih mungkin ada yang lain selain S itu yang masuk ke dalam kelas P. Dengan kata lain, P mengenai keseluruhan ekstensi S atau term S distributif, sedangkan P tidak distributif. Diagram kedua menggambarkan proposisi

“Beberapa S adalah P”; diagram itu menunjukkan bahwa hubungan S dan P hanya berlaku untuk sebagian dari keduanya; dengan kata lain, baik S maupun P dalam proposisi itu tidak distributif. Diagram ketiga menggambarkan proposisi “Tak satu pun S adalah P”. Dalam proposisi itu kelas S dan P terpisah secara keseluruhan; atau, dengan kata lain baik S maupun P distributif. Akhirnya, diagram keempat menggambarkan proposisi “Sebagian S bukan P”. Pada proposisi itu term P mengacu kepada keseluruhan ekstensinya, sedangkan term S hanya mengenai sebagian ekstensinya. Dengan kata lain, dalam proposisi itu term P distributif, dan term S tidak distributif.

(9)

Pengacuan terhadap ekstensi term dalam proposisi seperti di atas disebut distribusi term. Distribusi term S dan P dalam berbagai proposisi dapat diringkas sebagai berikut, dengan catatan bahwa A = proposisi universal positif/afirmatif, E = proposisi universal negatif, I proposisi partikular positif, dan O = proposisi partikular negatif.

Tabel Ringkasan Distribusi Term Term Predikat Term Subjek Term Subjek

Disributif Tidak distributif

Nondistributif A I

Distributif E O

G. Oposisi Proposisi/Hubungan Oposisional

Yang dimaksud dengan opsisi proposisi ialah afirmasi dan negasi P yang sama terhadap S yang sama pula; yaitu S dan P yang sama digunakan dalam proposisi afirmatif/positif atau negatif, universal dan partikular sehingga membentuk berbagai hubungan di antara proposisi A, E, I, O. Hubungan itu digambarkan dalam bujur sangkar oposisi berikut.

(10)

Semua S=P A

Beberapa S=P I

Kontradiktori Kontrari

Subalternas i

Subkontrari

Subalternasi

Beberapa S Bukan P

O Tidak Ada S=P

E Positif

Universal

Negatif

Pertikular

Hubungan yang terjadi di antara proposisi pada bujur sangkar di atas yang disebut hubungan oposisional adalah sebagai berikut.

(1) Kontradiktori/kontradiksi, hubungan antara dua proposisi yang saling berlawanan, sehingga kebenaran yang satu menghapuskan kebenaran yang lain. Oposisi ini terdapat antara proposisi A dan O, dan antara E dan I. Jika A benar, maka O harus salah dan sebaliknya. Jika I benar, E harus salah dan sebaliknya. Dengan kata lain, jika proposisi “Setiap S adalah P” benar, maka sebagai implikasinya “Beberapa S bukan P” tidak mungkin benar pada waktu yang sama. Jadi, proposisi-proposisi kontradiktoris tidak mungkin benar dan salah pada secara bersamaan. Kaidah penyimpulan dalam hubungan kontradiktoris adalah:

(a) Jika A benar, O salah (b) Jika O benar, A salah (c) Jika I benar, E salah (d) Jika E benar, I salah (e) Jika A salah, O benar (f) Jika O salah, A benar (g) Jika E salah, I benar

(11)

(h) Jika I salah E benar.

(2) Kontrari adalah hubungan antara proposisi-proposisi yang berlawanan dalam kebenaran, tetapi belum tentu berlawanan dalam kesalahan. Ini adalah oposisi antara A dan E. Jika “Setiap S = P” benar, maka “Tidak ada S = P” tidak mungkin benar secara bersamaan. Tetapi, jika salah satu di antara kedua proposisi itu salah, maka tidak dapat dikatakan bahwa proposisi yang satu lagi benar. Jadi, proposisi-proposisi kontraris tidak mungkin sama-sama benar pada waktu yang sama, meskipun keduanya mungkin salah pada waktu yang sama. Kaidah penyimpulan pada hubungan kontraris adalah:

(a) Jika A benar, E salah (b) Jika E benar, A salah

(c) Jika A salah, E mungkin benar, mungkin pula salah (d) Jika E salah, E mungkin benar, mungkin pula salah

(3) Subkontrari merupakan hubungan antara proposisi-proposisi yang dapat berlawanan dalam kesalahan, tetapi tidak dalam kebenaran. Artinya, kedua proposisi itu tidak mungkin sama-sama salah secara bersamaan, meskipun mungkin keduanya sama-sama benar. Ini adalah oposisi antara proposisi partikular I dan O. Misalnya, hubungan proposisi “Beberapa linguis adalah dosen”(I) dan proposisi “Beberapa linguis bukan dosen” (O) merupakan hubungan subkontraris. Kaidah penyimpulannya ialah:

(a) Jika I salah, O benar (b) Jika O salah, I benar

(c) Jika I benar, O mungkin benar, mungkin salah (d) Jika O benar, I mungkin benar, mungkin salah.

(4) Subalternasi adalah hubungan proposisi universal dengan proposisi partikular pada kualitas yang sama, universal positif dengan partikular positif (A – I) dan universal negatif dengan partikular negatif (E - O). Sebenarnya hubungan itu tidak merupakan hubungan oposisi karena proposisi subalternasi memberikan

(12)

pernyataan yang sama berdasarkan proposisi universalnya dengan ketegasan yang lebih lemah. Kaidah penyimpulan subalternasi adalah:

(a) Jika A benar, I benar (b) Jika I benar, A tidak pasti (c) Jika E benar, O benar (d) Jika O benar, E tidak pasti (e) Jika I salah, A salah (f) Jika A salah, I tidak pasti (g) Jika O salah, E salah (h) Jika E salah, O tidak pasti.

(Sullivan, 1963; Copi, 1978; Mehra, 1972).

H. Konversi Proposisi

Konversi adalah proses pengubahan proposisi dengan mempertukarkan kedudukan subjek dan predikat tanpa mengubah kebenarannya. Proposisi “Tak ada fisikawan adalah tumbuhan” dapat dikonversi menjadi “Tak ada tumbuhan adalah fisikawan” tanpa mengubah kebenarannya.

Jika proposisi yang benar dikonversi dengan benar, sesuai dengan aturan, maka proposisi baru yang dihasilkan akan benar pula meskipun mungkin maknanya tidak sekuat proposisi asal. Namun, dalam hal ini, perlu diingat bahwa proposisi baru yang dihasilkan tidak melebihi proposisi asalnya.

Ada dua jenis konversi. Pertama, konversi sederhana yang dihasilkan dengan mempertukarkan tempat S dan P, dengan kuantitas/ekstensi yang tetap sama. Ini adalah konversi proposisi universal negative (E) dan proposisi partikular positif (I).

(1) Tak ada binatang yang rasional > Tak ada (makhluk) yang rasional adalah binatang (E).

(2) Beberapa fisikawan adalah jenius > Beberapa (orang) jenius adalah fisikawan (I).

(13)

Kedua term S dan P memiliki ekstensi yang sama dalam kedua proposisi itu;

dengan demikian keduanya dapat dikonversi tanpa mengubah hubungan kelas-kelas yang dinyatakan dalam proposisi tersebut.

Jenis konversi yang kedua ialah konversi aksidental. Ini merupakan cara konversi proposisi-proposisi universal positif (A). Dalam proposisi ini S distributif, sedangkan P nondistributif. Karena itu dalam memindahkan posisi term P ke posisi term S, harus dilakukan pengubahan penanda ekstensi “setiap” atau “semua”

menjadi “beberapa” atau “sebagian”.

(1) Semua linguis adalah ilmuwan > Beberapa ilmuwan adalah linguis.

(2) Setiap manusia adalah makhluk hidup > Beberapa makhluk hidup adalah manusia.

Dengan pengubahan penanda ekstensi itu term S yang baru tidak melampaui ekstensi term P pada proposisi asalnya. Dalam hal ini perlu diingat bahwa apa yang benar untuk sebagian kelas belum tentu benar untuk setiap anggota kelas; kegagalan membatasi ekstensi term S pada proposisi yang baru dibentuk akan menyebabkan terjadinya kesesatan logika (logical fallacy).

(1) Setiap manusia mempunyai mata > *Setiap yang mempunyai mata adalah manusia.

(2) Semua pelukis adalah artis > *Semua artis adalah pelukis.

Kedua hasil konversi proposisi di atas seharusnya diubah menjadi proposisi partikular.

(Tanda * manyatakan bentuk yang salah).

Perlu diketahui bahwa proposisi partikular negatif (O) tidak dapat dikonversi, karena tidak mungkin kita menyepadankan ekstensi term-term S dan P pada proposisi itu. Dalam proposisi “Sebagian manusia tidak jenius” term S tidak distributif, hanya mengacu pada sebagian ekstensinya, sedangkan term P distributif, mengenai seluruh ekstensinya. Kalau term S dan P ditranposisikan (dipertukartempatkan) menjadi “Sebagian yang jenius adalah bukan manusia” maka makna proposisi itu

(14)

menyimpang dari makna asalnya. Karena itu proposisi partikular negatif tidak dapat dikonversi.

Jenis konversi ketiga ialah dengan kontraposisi sebagai konversi untuk proposisi O dan A Konversi ini dilakukan dengan menegatifkan S dan P tanpa mengubah makna proposisi asal.

Proposisi “Setiap manusia adalah makhluk mortal” dikonversi menjadi “Setiap makhluk nonmortal adalah nonmanusia” dan proposisi “Beberapa ilmuwan adalah bukan fisikawan” dikonversi menjadi “Beberapa nonfisikawan adalah bukan nonilmuwan”. Tentu saja transposisi seperti itu menjadikan pernyataan lebih rumit dan lebih sulit dipahami dan memang bukan merupakan konversi yang benar karena perubahan tidak mengenai hubungan formal melainkan mengenai makna term S dan P.

Akhirnya, secara ringkas dapat disimpulkan:

(1) Proposisi universal (A) dikonversi secara aksidental.

(2) Proposisi partikular positif (I) dikonversi secara sederhana.

(3) Proposisi universal negatif (E) dikonversi secara sederhana.

(4) Proposisi partikular negatif (O) tidak dapat dikonversi.

Konversi yang dilakukan dengan benar pada proposisi yang benar akan menghasilkan proposisi yang benar. Namun, konversi terhadap proposisi E dan I yang salah akan menghasilkan proposisi yang salah pula. (edit, tanggal 14 maret 2016)

I. Obversi

Dalam melakukan obversi perlu diperhatikan dua kaidah berikut. Dalam komunikasi, baik secara lisan maupun tertulis kerap kali kita menemukan pernyataan atau proposisi positif atau negatif yang sulit dipahami. Untuk memudahkan pemahaman ada kalanya kita harus mengubah bentuk positif menjadi negatif atau sebaliknya; tentu saja tanpa mengubah makna proposisi asalnya. Misalnya, proposisi “GuruTK tidak boleh tidak harus bertanggung jawab penuh tentang keselamatan anak didiknya di sekolah” akan lebih mudah dipahami jika diubah ke

(15)

dalam bentuk positif “Guru TK harus bertanggung jawab penuh tentang keselamatan anak didiknya di sekolah”. Proses pengubahan itu disebut obversi. Jadi, obversi adalah prosedur menegatifkan atau mempositifkan kopula maupun predikat suatu proposisi tanpa mengubah makna semula.

1. Kualitas proposisi diubah dari positif menjadi negatif atau sebaliknya 2. Term predikat diubah dari term positif menjadi term negatif atau

sebaliknya.

Contoh obversi terhadap proposisi kategoris dasar adalah sebagai berikut:

A Setiap manusia adalah makhluk rasional > Tidak ada manusia yang nonrasional.

I Beberapa ilmuwan adalah linguis > Beberapa ilmuwan adalah bukan nonlinguis

E Tidak ada pembohong yang jujur > Setiap pembohong adalah tidak jujur O Sebagian pribumi adalah bukan penutur bahasa Sunda > Sebagian pribumi

adalah nonpenutur bahasa Sunda.

Pengubahan term predikat dari positif menjadi negatif atau sebaliknya harus dilakukan dengan cermat sebab jika tidak, mungkin sekali akan terjadi perbedaan makna pada hasil obversi. Di dalam bahasa Inggris cara aman untuk menegatifkan term predikat ialah dengan menambahkan partikel non-. Misalnya proposisi “Some man is just > Some man is not non-just”. Dalam hal penegatifan ini memang ada cara lain seperti dengan menggunakan prefiks un-, in-,dis, dan sufiks –less; tetapi, bentuk ini sering kali memberikan elemen makna tambahan sehingga berbeda dengan makna asalnya. (Sullivan, 1963). Di dalam bahasa Indonesia mungkin kita dapat menggunakan bentuk kata bukan, tak-, tan-, atau partikel serapan non-.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa dari proposisi yang benar diperoleh hasil obversi yang benar; tetapi, jika proposisi asalnya salah, maka hasil obversinya juga salah. (Sullivan, 1963; Mehra, 1972; Copi, 1978;)

J. Proposisi Majemuk

(16)

Pada bagian terdahulu proposisi yang dibahas adalah proposisi kategoris tunggal baik yang positif maupun negatif. Uraian berikut berisi pembahasan tentang proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi tunggal atau lebih. Proposisi majemuk dapat dibedakan berdasarkan atas hubungan ketergantungan yang terdapat antara proposisi tunggal yang membentuknya sebagai proposisi majemuk tersebut. Proposisi majemuk semacam ini juga disebut proposisi implikatif atau sekuensial. Proposisi jenis ini di antaranya mencakupi jenis proposi seperti berikut.

1. Proposisi kondisional terjadi bila dua proposisi digabungkan dalam hubungan ketergantungan. Misalnya, “Jika suatu segi empat adalah bujur sangkar, maka keempat sudut dalamnya adalah sudut siku-siku”. Juga dalam proposisi seperti

“Jika dalam pemelajaran bahasa di kelas satu SD diterapkan teknik permainan kata sesuai dengan aturan, maka penguasaan kosakata siswa akan meningkat”.

Dengan singkat, penyataan proposisi ini adalah “Jika X, maka Y”.

Proposisi pertama dalam proposisi majemuk seperti itu merupakan antesiden, sedangkan yang kedua disebut konsekuen. Kebenaran proposisi kondisional dibangun oleh kepentingan urutan antara antesiden dan konsekuen the necessity of the sequence between antecedent and consequent (Sullivan, 1963:104). Artinya, jika ada antesiden, maka konsekuennya harus mengikuti.

Dengan demikian, maka proposisi pembentuknya dapat saja salah, tetapi kondisi yang diperoleh benar. Contohnya, “Jika bulan lebih besar daripada bumi, maka gaya tarik gravitasinya lebih kuat daripada bumi”. Kedua proposisi pembentuk proposisi majemuk itu salah. Tetapi secara logika kondisinya benar. Keadaan seperti itu sering kali terdapat dalam bahasa, yaitu dalam pernyataan pengandaian. “Seandainya kapal itu tidak terlalu kelebihan penumpang, ia tidak tenggelam.” Kenyataannya memang kapal itu terlalu kelebihan penumpang, dan kapal itu tenggelam. Jadi, baik anteseden maupun konsekuen pada proposisi itu salah, namun kondisinya benar.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa karakteristik proposisi kondisional didasarkan pada sifat hubungan S dengan P. Jika hubungan itu disertai persyaratan (kondisi) maka proposisi merupakan proposisi kondisional;

jika hubungan itu tanpa persyaratan proposisi merupakan proposisi kategoris.

(17)

(Mehra, 1972; Keraf,1994; Akhadiah, Arsyad,dan Ridwan, 2003). Kondisional:

Jika keadilan terlaksana dengan baik, akan lebih banyak manusia yang hidup makmur.

Kategoris: Sebagian manusia hidup makmur. Proposisi kondisional seperti di atas disebut juga proposisi kondisional hipotetis, yang dinyatakan dengan pola”Jika…, maka…”

2. Proposisi disjungtif adalah proposisi majemuk yang diperoleh dengan alternatif.

Contoh: “Pelakunya ahli kimia atau tukang las” Kebenaran pada yang satu, akan menyatakan kesalahan pada yang lain; tidak mungkin keduanya benar. Contoh di atas adalah contoh proposisi disjungtif yang kuat. Proposisi disjungtif termasuk lemah jika kedua bagian secara bersama-sama mempunyai kemungkinan benar.

Proposisi ini sering ditandai dengan gabungan kata dan/atau, misalnya pada proposisi “Tenaga pengajar yang dibutuhkan lembaga pendidikan itu adalah doktor dan/atau magister pendidikan”.

Proposisi konjungtif adalah proposisi majemuk berbentuk negatif yang menyatakan hubungan ketergantungan: ”Orang tidak dapat berkulit putih dan berkulit hitam”. Proposisi itu merupakan proposisi konjungtif kuat dan menyatakan bahwa salah satu bagian proposisi itu pasti salah, tetapi tidak kedua- duanya. Jika kedua bagian proposisi itu mungkin salah, maka proposisi itu merupakan proposisi konjungtif lemah, seperti proposisi “Anda tidak bisa bermain kartu dan bergunjing”.

Proposisi kopulatif adalah proposisi majemuk yang digabungkan dengan kata “dan”, Proposisi ini dibedakan sebagai proposisi kopulatif eksplisit (tersurat) dan proposisi kopulatif implisit (tersirat).

Proposisi kopulatif tersurat: “Manusia adalah makhluk dan Allah adalah Khalik”. Proposisi itu merupakan gabungan proposisi kategoris tunggal.

Kebenaran proposisi itu tergantung pada kebenaran setiap proposisi bagiannya.

Jika salah satu atau beberapa bagian proposisi itu salah, maka keseluruhan proposisi itu menjadi salah. Misalnya: “Manusia adalah makhluk rasional dan batu adalah benda hidup dan air adalah gas” sebagai proposisi majemuk, secara keseluruhan salah karena dua bagian pada proposisi itu salah.

(18)

Proposisi kopulatif tersirat lebih lanjut dibedakan sebagai proposisi eksklusif, pengecualian, dan reduplikatif.

Tersirat eksklusif: “Hanya manusia di antara makhluk hidup yang dapat berbahasa”. Proposisi itu ditandai dengan pemakaian kata hanya atau saja dan dapat diurai menjadi:

Manusia adalah makhluk hidup yang dapat berbahasa.

Tidak ada makhluk hidup selain manusia yang dapat berbahasa.

Tersirat dengan pengecualian (exceptive): “Semua mahasiswa kecuali Obi lulus dalam ujian Filsafat Ilmu”. Proposisi itu dapat diurai menjadi:

Semua mahasiswa yang bukan Obi lulus dalam ujian FI Obi adalah mahasisiwa.

Obi tidak lulus dalam ujian FI.

Perlu diingat agar proposisi itu benar, maka semua proposisi pembentuknya harus benar.

Proposisi tersirat reduplikatif adalah proposisi yang ditandai dengan pemakaian kata sebagai. Proposisi iini menyatakan aspek khusus sudut pandang yang ditekankan terkait dengan predikatnya. Misalnya, proposisi

“Manusia sebagai makhluk rasional mempunyai kemampuan bernalar”.

Proposisi ini dapat diurai menjadi:

Manusia adalah makhluk rasional.

Setiap makhluk rasional mempunyai kemampuan bernalar.

Dengan rasionalitas yang dimiliki itu manusia dapat bernalar

Selain proposisi majemuk yang telah dipaparkan masih ada jenis-jenis proposisi majemuk lainnya seperti yang menyatakan hubungan waktu dan sebab akibat.

K. Penalaran

(19)

Penalaran merupakan operasi intelek ketiga. Dalam operasi ketiga ini intelek tidak hanya berhenti pada konsep, proposisi, dan penilaian atau keputusan, melainkan juga menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan atas pengetahuan yang telah dicapai.

Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa pengetahuan baru. Proses tersebut dilakukan secara teratur atau mungkin juga tidak teratur. Proses yang teratur mungkin dilakukan dengan menerapkan logika deduktif atau induktif atau gabungan antara keduanya. Penalaran yang menerapkan logika deduktif disebut penalaran deduktif, sedangkan yang menerapkan logika induktif merupakan penalaran induktif. Penalaran ilmiah merupakan gabungan kedua penalaran itu (Suriasumantri, 1998, Akhadiah, Arsyad, Ridwan, 2003). Mengenai penalaran, Sullivan mengidentifikasinya sebagai berikut:

Tabel Ringkasan Penalaran

ACT OF REASONING MENTAL OR VERBAL EXPRESSION

Reasoning Argument or argumaentation

Inference Sequence

Deduction Syllogism

Induction Inductive sequence

(Sullivan, 1963:115)

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa kegiatan intelek yang ketiga mencakupi penalaran yang menghasilkan ekspresi verbal berupa argumen atau argumentasi, inferensi yang menghasilkan inferensi atau sekuensi, deduksi yang menghasilkan silogisme, dan induksi yang menghasilkan sekuensi induktif.

1. Kebenaran dan Kesalahan dalam Penalaran/Argumentasi

Secara formal, berdasarkan atas bentuknya saja, penalaran dinilai valid atau tak valid bukan benar atau salah karena kebenaran pada dasarnya merupakan properti suatu pernyataan. Akan tetapi, kebenaran atau kesalahan suatu pernyataan yang merupakan kesimpulan dipengaruhi oleh kebenaran atau kesalahan anteseden yang menurunkannya. Dalam hal ini logika terkait dengan

(20)

penyusunan kaidah-kaidah yang mengatur relasi kebenaran antara antesiden dan konsekuen. Kaidah tersebut adalah

1) Jika antesiden benar, konsekuen benar: dengan asumsi bahwa inferensi dari antesiden ke konsekuen valid, maka konsekuen akan mencerminkan kebenaran anteseden, karena sesungguhnya konsekuen itu hanya mengungkapkan kembali apa yang secara implisit dinyatakan dalam anteseden.

2) Jika antesiden salah, konsekuen mungkin benar mungkin pula salah:

meskipun inferensi yang dilakukan valid, kesimpulan yang benar mungkin ditarik dari premis-premis yang salah, seperti pada silogisme berikut:

Semua kepala negara adalah politikus Semua kepala negara adalah komunis

Jadi, beberapa kepala negara adalah komunis.

Tentu saja penalaran di atas merupakan penalaran yang salah.

L. Penalaran Deduktif

Dalam penalaran deduktif kesimpulan ditarik dari pernyataan berisi pengetahuan yang telah dimiliki. Pengetahuan tersebut dapat berupa prinsip, teori, dalil, atau pernyataan umum lainnya mengenai suatu hal atau gejala. Dengan demikian, penalaran deduktif bergerak dari pernyataan dasar yang umum ke kesimpulan khusus.

Seperti tercantum pada tabel ringkasan Sullivan, penalaran deduktif menghasilkan silogisme dengan beberapa variasinya yang termasuk ke dalam kelompok penalaran deduktif formal. Selain itu, penalaran ini juga berwujud entimem yang merupakan ekspresi takformal dan banyak dipakai dalam komunikasi sehari- hari.

M. Silogisme

Silogisme merupakan wujud penalaran formal yang terdiri atas tiga proposisi.

Proposisi yang pertama dan kedua merupakan proposisi dasar penarikan kesimpulan dan disebut premis atau merupakan antesiden. Premis yang pertama merupakan

(21)

premis mayor dan premis kedua merupakan premis minor. Proposisi ketiga adalah kesimpulan (konsekuen) yang ditarik dari kedua premisnya. Subjek pada kesimpulan merupakan term minor (t) dan predikatnya merupakan term mayor (T).

Term yang ketiga dalam silogisme ialah term tengah (M) yang muncul dua kali, yaitu dalam premis mayor dan premis minor. Term ini menghubungkan kedua premis itu sehingga kesimpulan dapat ditarik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa silogisme pada dasarnya dibangun oleh tiga term tersebut di atas. Kekurangan atau kelebihan term akan menyebabkan kesalahan logika.

Perlu diingat pula, premis mayor pada suatu silogisme selalu merupakan pernyataan yang lebih umum daripada premis minor. Demikian pula kesimpulannya selalu mengenai sesuatu yang khusus. Jadi alur penalaran melalui silogisme dimulai dari pernyataan umum , melalui pernyataan khusus, sampai pada kesimpulan khusus.

Sebagai ilustrasi kita lihat kembali diagram Euler berikut.

Semua manusia (M) berhak mendapat pendidikan (T) = premis mayor Suku terasing (t) adalah manusia (M) = premis minor

Maka suku terasing(t) berhak mendapat pendidikan (T) = kesimpulan

Jika setiap manusia berhak mendapat pendidikan, dan kita tahu bahwa suku terasing adalah manusia, maka dapat disimpulkan bahwa suku tersing memiliki hak mendapat pendidikan. Apa yang disimpulkan sebenarnya sudah dinyatakan dalam premis secara implisit. Kesimpulan hanya menegaskannya secara eksplisit.

Jadi, sebenarnya pengetahuan yang ditarik melalui proses itu tidak sungguh- sungguh baru. Hal inilah yang juga membedakannya dengan penalaran induktif.

(22)

1. Prinsip-prinsip Silogisme

Hukum pemikiran (laws of thought) yang menjadi pijakan silogisme ialah prinsip identitas dan nonidentitas, yaitu:

1. Dua hal yang identik dengan hal ketiga yang sama adalah identik satu sama lain.

2. Dua hal, yang satu identik dengan hal ketiga yang sama, dan yang satu lagi tidak identik, adalah tidak identik satu sama lain.

Menyangkal, prinsip-prinsip tersebut berarti menyangkal prinsip kontradiksi.

Di samping kedua prinsip itu dapat ditambahlkan dua aksioma yang menyatakan secara eksplisit hubungan antara konsep universal dengan kelas- kelas bawahannya.

1. Apa pun yang dinyatakan secara universal tentang subjek, berlaku juga untuk kelas bawahannya (dictum de omni).

2. Apa pun sangkalan yang dinyatakan secara universal tentang subjek, berlaku juga untuk kelas bawahannya (dictum de nullo).

Aksioma di atas menekankan kebenaran bahwa konsep universal merupakan inti dalam proses penalaran. Dalam silogisme pemikiran bergerak dari sesuatu yang lebih universal kepada yang kurang universal, seperti terlihat

pada silogisme berikut.

Setiap planet adalah benda langit Mars adalah planet

Mars adalah benda langit

Hubungan itu terlihat dalam diagram Euler berikut:

Keterangan B = Benda Langit P = Planet

M = Mars

(23)

2. Kaidah Silogisme

Prinsip-prinsip yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu diterapkan melalui kaidah-kaidah berikut.

(1) Di dalam silogisme hanya ada tiga term: term mayor, minor, dan tengah.

(2) Term-term di dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas daripada term-term di dalam premisnya.

(3) Term tengah tidak boleh terdapat di dalam kesimpulan.

(4) Term tengah sekurang-kurangnya satu kali harus distributif.

(5) Dari dua premis negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.

(6) Jika kedua premisnya positif kesimpulan harus positif, tidak mungkin negatif.

(7) Kesimpulan mengikuti premis yang lebih sempit.

(8) Dari dua premis partikular tidak dapat ditarik kesimpulan.

Penyimpangan dari kaidah tersebut akan menimbulkan kesalahan/kesesatan logika.

3. Jenis Silogisme

Sesuai dengan proposisi yang membangunnya, silogisme dapat juga dibedakan di antaranya sebagai silogisme kategoris dan silogisme hipotetis.

Silogisme kategoris terdiri atas proposisi kategoris yang mengkategorikan sesuatu. Silogisme hipotetis terdiri atas proposisi kondisional hipotetis yang berisi hubungan antesiden-kosekuen; cara berpikir silogistis jenis ini digunakan dalam penyusunan hipotesis.

Bentuk penalaran silogistis yang lebih sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari ialah entimem (enthymeme) yang merupakan bentuk singkat silogisme.

Salah satu premisnya tidak dinyatakan karena sama-sama telah diketahui.

(1) Ondel dihukum karena memalsukan uang.

(2) Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.

(24)

(3) Anak-anak yang berumur 11 tahun telah mampu berpikir formal; maka anak kelas VI SD telah mampu berpikir formal.

Pernyataan (1) dapat diuraikan menjadi dua kalimat tunggal, yaitu:

(1) Ondel dihukum.

(2) Ondel memalsukan uang.

Kalimat 1 merupakan kesimpulan, sedangkan kalimat 2 merupakan premis minor. Jadi, proposisi (1) sebenarnya dapat dikembalikan pada bentuk silogisme berikut.

Mayor :

Minor : Ondel memalsukan uang Kesimpulan : Ondel dihukum

Karena premis mayor harus selalu lebih umum daripada premis lainnya, maka subjeknya tidak mungkin Ondel , melainkan suatu term yang lebih luas dari Ondel, yaitu setiap orang atau barang siapa. Jadi silogisme yang lengkap:

Mayor : Barang siapa memalsukan uang dihukum.

Minor : Ondel memalsukan uang.

Kesimpulan : Ondel dihukum

Demikian pula proposisi (2) dapat dikembalikan pada bentuk silogisme:

P My : Semua perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa.

P Mn : Menipu merugikan orang lain.

Kesimpulan : Menipu adalah dosa

Proposisi (3) agak berbeda. Bagian yang tidak disebutkan ialah premis minornya. Silogismenya adalah:

P My : Anak-anak yang sudah berumur 11 tahun sudah mampu berpikir formal.

P Mn : Anak kelas VI SD sudah berumur 11 tahun.

(25)

Kesimpula : Anak kelas VI SD sudah mampu berpikir formal.

Sebagai wujud penalaran deduktif, entimem tidak terhindar dari kekeliruan seperti pada silogisme. Akan tetapi dengan kecermatan yang memadai, bentuk ini dapat diterima seperti yang banyak ditemukan di berbagai cabang ilmu serta dalam komunikasi mengenai berbagai bidang.

Untuk memeriksa apakah suatu entimem benar secara logika, kita dapat mengembalikannya ke dalam bentuk silogisme dengan cara berikut.

1. Menemukan proposisi yang dihilangkan. Hal ini dapat dilakukan pertama dengan menentukan kesimpulan. Biasanya kesimpulan ditandai dengan kata- kata seperti jadi, maka, karena itu, dan sehingga.

2. Setelah kesimpulan ditemukan, proposisi yang ada pasti merupakan antesiden. Proposisi ini biasanya ditandai dengan kata-kata seperti karena, sebab, oleh karena.

3. Langkah berikutnya ialah mencermati apakah proposisi yang dihilangkan dari antesiden adalah premis minor atau premis mayor. Perlu diingat, bahwa subjek kesimpulan adalah term minor dan predikatnya adalah term mayor.

Premis yang mengandung term minor adalah premis minor dan yang mengandung term mayor adalah premis mayor.

4. Mengidentifikasi semua termnya. Karena dua di antara ketiga propoosisi sudah ada, maka ketiga termnya tentu dapat ditemukan. Jika term mayor, minor, dan tengah sudah teridentifikasi maka selanjutnya kita perlu menggabungkan term-term yang tepat dengan cara yang benar ke dalam proposisi yang hilang.

5. Langkah selanjutnya ialah menyusun silogisme. Jika entimem dapat diwujudkan dalam dua bentuk silogisme, kita perlu memilih salah satu yang memenuhi persyaratan. Akhirnya harus kita uji kembali apakah silogisme itu tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang dipersyaratkan.

(Sullivan, 1963; Mehra, 1972; Copi, !976; Keraf,1998; Akhadiah, Arsyad, Ridwan, 2003).

(26)

N. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah proses berpikir berdasarkan seperangkat gejala atau data yang diamati dengan menerapkan logika induktif untuk menarik kesimpulan yang berlaku umum maupun khusus. Ini berarti bahwa dalam penalaran ini kita menggunakan hasil kegiatan indrawi mengenai sesuatu yang bersifat khusus ke arah kesimpulan yang berlaku umum untuk keseluruhan atau sebagian gejala yang diamati (Sullivan, 1963; Mehra, 1972; Copi, 1976;Keraf, 1998, Akhadiah, Arsyad, Ridwan,2003). Itu berarti juga bahwa kesimpulan yang ditarik akan mengenai suatu hal yang lebih luas dari individu-individu yang diamati karena kesimpulan itu mengenai keseluruhan atau sebagian dari keseluruhan gejala yang diamati. Hal itu dapat dijelaskan dengan gambar berikut.

G= Gejala

K= kesimpulan Umum

Dari paparan di atas jelas bahwa terdapat perbedaan nyata antara penalaran deduktif dan penalaran induktif. Dalam penalaran deduktif kesimpulan ditarik berdasarkan pernyataan yang yang bersifat umum dan telah diketahui lebih dahulu sebagai sesuatu yang benar, misalnya yang bwewujud proposisi teori. Dengan demikian, sebenarnya isi kesimpulan telah tersirat di dalam premis atau premis- premis yang menjadi dasar penerikan kesimpulan. Sebaliknya, dalam penalaran induktif proses dimulai dengan pengamatan terhadap gelala-gejala khusus.

G1 G2 G3 G4 G5 dst

K

(27)

Berdasarkan pengamatan itu kita melakukan abstraksi, yaitu dengan melihat persamaan-persaman di antara gejala-gejala yang berbeda, lalu menarik kesimpulan yang berlaku untuk keselutuhan atau sebagian gejala yang telah diamati.

Dengan demikian, proses ini menghasilkan kesimpulan yang belum ada secara sendiri-sendiri pada gejala-gejala yang diamati. Jadi, penalaran induktif dimulai dengan pengamatan terhadap gejala khusus, dan menghasilkan suatu kesimpulan yang isinya tidak tersirat pada masing masing gejala yang diamati.

Proses penarikan kesimpulan secara induktif disebut induksi. Karena proses induksi ini didasarkan atas sejumlah gejala yang diamati, maka kebenaran/keabsahan kesimpulan tergantung pada ketepatan dan jumlah gejala yang diamati, kecermatan pengamatan, dan cara penarikan kesimpulan.

Dalam pelaksanaannya ada beberapa jenis induksi yang biasa diterapkan, yaitu generalisasi, hubungan sebab akibat, dan analogi induktif.

O. Generalisasi

Generalisasi adalah proses penarikan kesimpulan berdasarkan pengamatan terhadap keseluruhan atau sebagian gejala yang merupakan sampel suatu keseluruhan. Generalisasi yang didasarkan pada pegamatan terhadap keseluruhan gejala dilakukan dalam penelitian sensus. Namun, penelitian seperti ini tidak selalu mungkin dilakukan. Dalam kenyataan, yang lebih banyak dilakukan di masyarakat adalah generalisasi berdasarkan sampel, yaitu bagian dari keseluruhan gejala atau hal yang akan dikenai generalisasi.

1. Keabsahan Generalisasi

Seperti telah disinggung pada bagian terdahulu, keabsahan generalisasi sangat tergantung pada kecermatan dalam menentukan data yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Karena itu, untuk penghindari kesalahan/kesesatan induktif, ada persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses ini.

(1) Kecukupan gejala/data yang diamati yang diamati sebagai dasar penarikan kesimpulan. Ketidakcukupan data dalam penarikan generalisasi akan menghasilkan generalisasi terlalu luas; seperti pada penyimpulan tentang watak

(28)

suatu masyarakat tertentu hanya berdasarkan atas pengetahuan tentang beberapa anggota masyarakat itu.

(2) Ketepatan karakteristik data yang diamati sebagai sampel yang dikenai generalisasi (populasi). Dengan kata lain, kerepresentatifan sampel untuk populasi yang dikenai generalisasi.

(3) Tidak adanya kekecualian di antara data yang diamati terkait dengan karakteristik populasi yang dikenai generalisasi.

Dalam penelitian ilmiah proses generalisasi dilakukan sesuai dengan paradigma penelitian yang dipilih. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menggunakan satistik sebagai sarana untuk menganalisis data guna mencapai kesimpulan. Dalam penelitian kualitatif digunakan berbagai teknik analisis data yang sesuai dengan macam penelitian kualitatif yang dilakukan; namun, perlu diingat bahwa di dalam penelitian kualitatif kesimpulan berupa generalisasi yang diperoleh melalui pengamatan terhadap sejumlah data yang mungkin dikumpulkan selama beberapa tahun, tidak digeneralisasikan kepada suatu populasi seperti dalam penelitian kuantitatif. Hal ini terkait dengan karakteristik kedua jenis penelitian itu.

2. Hubungan Sebab Akibat

Hubungan sebab akibat adalah hubungan ketergantungan antara dua atau beberapa hal, kejadian, atau variabel yang menyatakan bahwa yang satu merupakan penyebab yang lain, dan yang lain merupakan akibatnya. Hal ini sesuai dengan prinsip sebab-akibat yang menyatakan bahwa segala sesuatu ada penyebabnya. Penalaran sebab-akibat dapat mengikuti alur pemikiran dari sebab ke akibat atau dari akibat ke sebab. Dalam kejadian sehari-hari hubungan sebab itu sering kali tidak bersifat tunggal, melainlan dapat merupakan rangkaian sebab- akibat, bahkan juga lingkaran sebab-akibat yang rumit yang sulit dirunut penyebab awalnya.

A > B > C > D > E , dan seterusnya yang merupakan rangkaian sebab-akibat. Atau:

(29)

A > B > C > D>A yang merupakan lingkaran sebab-akibat.

Penalaran sebab-akibat sering kali perlu dilakukan karena kita perlu mengetahui apa penyebab suatu gejala atau peristiwa. Ada beberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hubungan sebab akibat.

(1) Apa pun penyebabnya, penyebab itu harus berada dalm situasi yang sama dan merupakan hal yang paling mungkin untuk dapat menimbulkan akibat.

Hal ini menuntut kita untuk mengkaji apa saja yang mungkin menjadi

penyebab dan mempertimbangkan mana di antaranya yang paling mungkin menjadi penyebab (sufficient cause).

(2) Jika penyebab yang paling mungkin itu dihilangkan, maka akibat tidak terjadi, kecuali jika ada penyebab lain.

(3) Jika penyebab dipajankan kembali pada suatu situasi yang sama, akan terjadi akibat yang sama pula.

Dalam kenyataanya, kita sering dihadapkan dengan peristiwa atau

permasalahan yang harus dipecahkan. Dalam hal ini, kita menghadapi suatu akibat. Untuk memecahkannya kita perlu mengetahui penyebabnya karena itu pemecahan masalah memerlukan penalaran dari akibat ke sebab. Dalam penelitian hal ini termasuk dalam penelitian eksposfakto.

3. Analogi

(30)

Analogi adalah proses penalaran dalam menarik kesimpulan berdasarkan persamaan pada aspek-aspek yang penting antara dua hal atau gejala. Ini biasanya dilakukan dengan mengangkat karakteristik suatu hal/peristiwa/objek yang sudah dikenal dan menyimpulkan sesuatu tentang hal/peristiwa/objek lain yang memiliki persamaan karakteristik penting dengan yang ada pada hal/peristiwa/objek yang sudah dikenal. Misalnya menyimpulkan kemungkinan adanya kehidupan di Mars berdasarkan persamaan dengan karakteristik- karakteristik bumi.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam proses analogi ialah bahwa karakteristik yang dipakai sebagai dasar penarikan kesimpulan harus merupakan karakteristik esensial yang berhubungan erat dengan kesimpulan. Menarik kesimpulan bahwa Ondel yang belajar di Uniersitas X akan menjadi negarawan berdasarkan kenyataan bahwa universitas tersebut meluluskan Barong yang merupakan negarawan terkenal merupakan contoh analogi yang tidak benar.

Dalam komunikasi sehari-hari dan dalam tulisan, terutama dalam karya sastra kita sering kali menemukan pemakaian analogi. Dalam hal ini perlu diperhatikan perbedaannya dengan analogi induktif yang kita bahas di atas.. Kebanyakan analogi yang digunakan di dalam komunikasi tersebut merupakan analogi deklaratif yang berfungsi untuk menjelaskan sesuatu yang “baru” dengan membandingkannya dengan yang sudah dikenal. Ungkapan seperti “sesejuk angin pegunungan”, “setinggi tugu Monas”, “sebesar zarah” merupakan contoh analogi deklaratif. Analogi tersebut tidak merupakan kesimpulan.

P. Kesesatan dalam Penalaran

Di dalam komunikasi lisan maupun tulis, kerap kali kita temukan kesalahan logika yang terkait dengan pemakaian bahasa atau materi dan cara penarikan kesimpulan. Kesesatan yang terjadi karena pemakaian bahasa disebut kesesatan informal, sedangkan yang disebabkan oleh materi dan cara penarikan kesimpulan merupakan kesesatan formal.

1. Kesesatan Informal

(31)

Seperti telah dikemukakan pada bagian lain, sebagai sarana penalaran ilmiah, bahasa mengandung banyak kelemahan. Kata-kata kerap kali bersifat majemuk dalam makna dan bentuknya, kabur maknanya, dan dapat dimaknai dengan beberapa cara. Kalimat kerap kali taksa/ambigu, sehingga menimpulkan kesalahpahaman. Secara tradisional kesesatan informal dikelompokkan sebagai kesesatan relevansi yang mencakupi kesesatan sebagai berikut:

(1) Argumentum ad hominem, secara harfiah kesalahan itu berarti “argumentasi ditujukan kepada diri orang”. Kesalahan itu terjadi apabila suatu keputusan atau kesimpulan diambil tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan diri pengambil keputusan. dengan mengemukakan alasan yang tidak sebenarnya. Misalnya, pejabat daerah menolak upaya pembaharuan dengan alasan bahwa pembaharuan itu akan menimbulkan kekacauan di masyarakat (Alasan yang sebenarnya ialah karena pemerataan itu merugikan dirinya).

(2) Argumentum ad bacculum, Baculum berarti “tongkat”. Yang dimaksud ialah suatu kesalahan yang terjadi apabila suatu keputusan diterima atau ditolak karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan. Misalnya jika seorang mengakui kesalahan yang dituduhkan kepadanya (yang sebenarnya tidak dilakukan) karena ia diancam dengan kekerasan.

(3) Argumentum ad verucundiam/argumentum adictoritatis, kesalahan ini terjadi bila seseorang menerima pendapat atau keputusan bukan dengan alasan penalaran melainkan karena yang menyatakan pendapat atau keputusan itu adalah yang memiliki kekuasaan.

(4) Argumentum ad populum, secara harfiahnya ialah “argumetasi ditujukan kepada rakyat”. Argumentasi yang dikemukakan tidak mementingkan kelogisan yang penting agar orang banyak tergugah. Hal ini sering dilakukan dalam propaganda.

(5) Argumentum ad misericordiam, argumentasi dikemukakan untuk membangkitkan belas kasihan. Biasanya argumentasi semacam ini dikemukakan bila seseorang ingin agar kesalahannya dimaaafkan. Misalnya seorang siswa yang mendapat nilai buruk mengatakan bahwa ia tidak

(32)

mempunyai cukup waktu untuk belajar karena membantu orang tua mencari nafkah.

(6) Non-causa pro-causa, kesalahan ini terjadi jika seseorang mengemukakan suatu sebab yang sebenarnya bukan merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap. Contohnya, seorang laki-laki dinyatakan meninggal akibat jatuh dari tangga. Akan tetapi, pemeriksaan dokter menyatakan bahwa orang itu meninggal bukan karena jatuh. Ia mendapat serangan jantung ketika sedang menuruni tangga.

(7) Aksidensi, yang dimaksud dengan kesalahan aksidensi adalah kesalahan yang terjadi akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan khusus yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan, yang tidak seharusnya, atau yang tidak cocok. Misalnya, susu adalah minuman sehat. Tetapi jika seorang ibu memberikan susu kepada anaknya yang alergi terhadap lemak hewani karena ia menganggap bahwa susu adalah minuman yang menyehatkan, ia telah melakukan kesalahan aksidensi. Keadaan umum bahwa susu itu sehat tidak cocok dengan kondisi aksidental bahwa anak alergi terhadap lemak hewani.

(8) Petitio principii, kesalahan ini terjadi jika argumen yang diberikan telah tercantum di dalam premisnya. Misalnya kalimat “ular itu mengandung racun karena ia berbisa; kedua hal itu sama saja, karena tidak berbeda” Kesalahan itu merupakan contoh petitio principii. Tentu saja kesalahan itu akan mudah dikenali jika pernyataan dan argumennya berdekatan atau sama pernyataannya. Tetapi kedua hal itu mungkin dipisahkan oleh puluhan bahkan ratusan halaman pada suatu buku. Misalnya saja pada wal tulisannya seseorang pengarang mengemukakan bahwa pola-pola kalimat bahasa Melayu Riau sama dengan pola kalimat bahasa Malaysia. Pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa pola kalimat bahasa Malaysia tidak memperlihatkan hal- hal yang berbeda dengan pola kalimat bahasa Melayu.

Kadang-kadang petitio Principil ini berwujud sebagai argumentasi berlingkar: A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, dan D disebabkan A.

(33)

(9) Komposisi dan Divisi. Kesalahan komposisi terjadi jika kita menerapkan predikat individu kepada kelompoknya. Misalnya, Oni adalah mahasiswa dan ia suka berdansa. Jadi, mahasiswa suka berdansa. Sebaliknya, jika predikat yang benar bagi kelompok kemudian dikenakan kepada individu anggotanya, maka akan terjadi kesalahan divisi. Misalnya saja pada mobil yang besar, baut- baut yang digunakan besar-besar juga. Jika sebuah sekolah dinilai baik maka setiap gurunya dinilai baik.

(10) Kesesatan karena pertanyaan kompleks, pernyataan yang kompleks di sini bukan hanya yang dinyatakan dengan kalimat kompleks saja, melainkan juga dapat menimbulkan banyak jawaban. Misalnya pertanyaan, “Apakah benda itu?” akan menghasilkan berbagai jawaban misalnya sebagai istilah ekonomi, fisika, hukum, dan sebagainya.

(11) Non-sequitur/kesesatan konsekuesi; kesalahan ini terjadi jika dalam suatu proposisi kondisional terjadi pertukaran antara anteseden dan konsekuen.

Misalnya, “Jika Anda seorang pencuri, maka Anda bekerja pada malam hari”, disamakan dengan “Jika Anda bekerja pada malam hari, Anda seorang pencuri”.

(12) Ignoratio elenchi, kesalahan ini sama/sejenis dengan Argumentum ad Hominen, ad Verucundiam, ad Baculum dan Populum yaitu karena tidak ada relevansi antara premis dan kesimpulannya. Tetapi, ignoratio elencbi tidak disebabkan oleh bahasa, melainkan karena isi argumentasinya tidak relevan dengan pernyataannya, misalnya seoreang ketua RT mengemukakan kesimpulan tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis sebenarnya. Misalnya, orang menolak pemerataan dengan alasan bahwa pemerataan itu tdiak merupakan yang dituntut orang kimunis, sedangkan komunisme adalah aliran yang dilarang di sini (alasan yang sebenarnya ialah karena pemerataan yang merugikan dirinya).

(34)

2. Kesesatan Formal

Kesesatan ini disebabkan oleh ketidaktepatan materi dan kesalahan dalam proses penarikan kesimpulan. Kesesatan formal ini meliputi kesesatan deduksi dan kesesatan induksi yang dipaparkan pada bagian berikut.

3. Kesesatan Deduksi

Kesesatan deduksi terjadi karena adanya pelanggaran atau penyimpangan kaidah deduksi yang berlaku. Kesesatan yang termasuk kelompok ini di

antaranya ialah:

(1) Premis mayor yang tidak dibatasi. Misalnya, kesimpulan “Semua pelaku kejahatan adalah orang miskin.

(2) Kesesatan term keempat yang menyebabkan tidak ada hubungan antara kedua premis.

(3) Kesimpulan lebih luas daripada premis.

(4) Penarikan kesimpulan dari dua premis negatif.

(5) Penarikan kesimpulan dari dua premis partikular.

4. Kesesatan Induksi

Kesesatan induksi yang mungkin terjadi ialah:

(1) Generalisasi terlalu luas.

(2) Hubungan sebab-akibat yang tidak memadai.

(3) Kesesatan analogi.

(4) Kesesatan induktif

Q. Penalaran Ilmiah

Ilmu merupakan bangunan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan diperoleh melalui penalaran ilmiah. Penalaran ilmiah ini merupakan sintesis antara penalaran deduktif dan induktif dengan karakteristik utama: (1) dilakukan dengan sadar, (2) bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah, (3) bersifat rasional/empiris, (4) sistematis/analitis, (5) kesimpulan yang dihasilkan tidak mempunyai kebenaran mutlak.

(35)

John Dewey (1964) menyatakan bahwa proses penalaran tersebut mencakupi lima langkah pokok, yaitu (1) mengenali dan merumuskan masalah, (2) menyusun kerangka berpikir, (3) perumusan hipotesis, (4) menguji hipotesis, dan (5) menarik kesimpulan.

Langkah tersebut terutama dilakukan dalam proses penelitian kuantitatif, khususnya yang bertujuan menguji hipotesis yang dikembangkan berdasarkan teori dalam konteks justifikasi (context of justification) teori. Proses ilmiah dalam penelitian kualitatif yang lebih bersifat induktif menempuh langkah yang agak berbeda karena dilaksanakan dalam konteks penemuan teori (context of discovery). Penelitian kuantitatif bersifat apriori: kesimpulan sementara telah disusun lebih dahulu berdasarkan teori sebelum data empiris dikumpulkan. Penelitian kualitatif bersifat aposteriori: teori digunakan untuk membahas dan memaknai data empiris yang telah dikumpulkan dari lapangan.

Kebenaran kesimpulan penalaran ilmiah tidak pernah sempurna/mutlak. Pada setiap proses penalaran tersebut, betapa pun canggihnya metode serta instrumen yang digunakan, selalu ada kemungkinan keliru atau sesat. Hal ini terkait dengan dengan beberapa faktor, yaitu

(1) manusia yang tidak sempurna: selalu ada kemungkinan keliru dalam mengamati fakta serta dalam melaksanakan proses rasional dan empiris;

(2) Instrumen yang digunakan mungkin tidak memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai;

(3) proses analisis data yang keliru atau tidak tepat;

(4) bidang kajian yang kompleks dan terus berubah.

Kekeliruan yang terjadi dalam proses penalaran tentu saja akan memengaruhi tingkat kebenaran/kesahihan kesimpulan yang dicapai. Adapun kebenaran ilmiah sesuai dengan yang dikemukakan pada awal tulisan, mengacu kepada aspek formal dan materinya. Dalam hal ini sekurang-kurangnya berlaku dua kriteria utama untuk menilai kebenaran kesimpulan penalaran ilmiah, yaitu kriteria koherensi dan korespondensi.

Kriteria koherensi menilai koherensi kesimpulan dengan teori yang telah dan masih dinilai benar. Untuk menjamin kebenaran pada dimensi ini, maka hipotesis

(36)

yang disusun sebagai jawaban harus dikembangkan berdasarkan teori yang dinilai benar dan masih berlaku (tidak usang). Melalui proses sintesis, dari teori yang telah dikaji diturunkan proposisi yang terkait dengan konsep-konsep yang diteliti untuk dijadikan premis mayor dan premis minor sesuai dengan permasalahan. Materi dalam proposisi-proposisi yang menjadi premisnya juga harus benar. Dengan menggunakan cara berpikir silogistis, berdasarkan premis-premis itu ditarik kesimpulan yang kemudian dijadikan kerangka pemikiran. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, hipotesis dirumuskan. Dengan proses seperti itu diharapkan bahwa hipotesis memiliki kebenaran sesuai dengan kriteria koherensi. Hipotesis dapat dinilai benar sebagai kesimpulan penalaran secara silogistis karena penarikan kesimpulan dilakukan sesuai dengan kaidah (keabsahan=kebenaran formal) dan materi dalam proposisi benar (kebenaran materi). Selanjutnya, untuk menjaga kebenaran menurut kriteria korespondensi yang mengacu kepada data empiris, maka perlu diperhatikan teknik dan instumen pengumpulan data. Langkah pertama ialah menentukan data yang diperlukan untuk memecahkan masalah penelitian. Data tersebut terkait dengan cakupan konsep yang diteliti sesuai dengan teori yang digunakan. Data tersebut tercantum di dalam definisi konseptual yang merupakan sintesis dari teori-teori yang dikaji, baik secara tersurat maupun tersirat.

Berdasarkan definisi konseptual, dikembangkan definisi operasional yang mengacu pada apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya terkait dengan penelitian yang dilakukan. Dari definisi itu kemudian dikembangkan kisi-kisi instrumen yang digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan instrumen pengumpul data. Instrumen tersebut perlu divalidasi sebelum digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Dengan melakukan hal-hal di atas secara cermat, dapat diharapkan diperoleh data yang memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai.

Selanjutnya, data empiris yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan teknik tertentu sesuai dengan prosedur yang dipersyaratkan. Dalam penelitian kuantitatif, jika analisis data dilakukan dengan statistik, sebelum data dianalisis terlebih dahulu harus dilakukan uji persyaratan analisis.

(37)

Dalam penelitian kualitatif yang bertumpu pada data yang terkumpul melalui observasi, kesimpulan penalaran ilmiah dinilai di antaranya melalui proses pemeriksaan keabsahan data. Tentu saja kecermatan observasi, kelayakan sumber dalam proses pengumpulan data, dan ketepatan teknik analisis data memengaruhi kesimpulan yang dicapai.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penalaran ilmiah yang menerapkan logika deduktif dan induktif dalam prosesnya menuntut pemenuhan sejumlah persyaratan agar kesimpulan yang dicapai memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai. Dalam kaitan inilah pemenuhan persyaratan dan kaidah serta penerapan prinsip ilmiah perlu dicermati dalam penulisan tesis/disertasi sebagai perwujudan penalaran ilmiah yang sahih dan benar.

R. Penalaran dalam Karya Tulis Ilmiah

Menulis merupakan kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dari proses berpikir dan bernalar atau proses mental lainnya karena pada dasarnya menulis adalah menuangkan hasil kegiatan mental itu. Jenis tulisan yang digarap menuntut penulis melakukan pemikiran atau penalaran yang sesuai dengan jenis tulisan itu. Penulisan karya nonilmiah seperti karya fiksi misalnya, lebih banyak menuntut penulis melakukan pemikiran nonilmiah. Namun, ada kalanya untuk menulis karya fiksi misalnya, penulis terlebih dahulu melakukan studi ilmiah yang melibatkan pemikiran ilmiah. Hal ini misalnya dilakukan oleh berbagai penulis novel dan fiksi ilmiah yang terkenal.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penulisan karya tulis ilmiah tidak dapat dipisahkan dari proses berpikir atau bernalar secara ilmiah. Penulisan karya tulis ilmiah adalah perwujudan pengomunikasian hasil kegiatan ilmiah dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, suatu karya tulis ilmiah merupakan gambaran proses penalaran ilmiah. Secara umum, proses itu terwujud melalui stuktur tulisan mulai dari pendahuluan yang memunculkan masalah yang diidentifikasikan berdasarkan pengamatan secara empiris sampai pada kesimpulan yang ditarik berdasarkan analisis deduktif dan induktif. Secara rinci, proses penalaran terjadi pada setiap langkah penulisan. Sepanjang proses penulisan berbagai proses pemikiran terjadi,

(38)

seperti mengamati, mengingat, menghubungkan, membandingkan, menganalisis, mensitesis, menafsikan, meyimpulkan secara deduktif dan/atau induktif, memprediksi, berhipotesis, menafsirkan, dan sebagainya.

Namun, untuk mewujudkan penalaran itu dalam tulisan, penulis dituntut menguasai bahasa dan segala komponen, serta unsur-unsur bahasa secara baik dan benar. Di sini penulis memerlukan kemampuan menggunakankan bahasa dalam fungsinya sebagai sarana penalaran ilmiah.

RINGKASAN

1. Logika dapat dikaji sebagai ilmu dan seni (art).

2. Sebagai seni, logika memberikan arah dalam berpikir dan bernalar secara teratur, mudah, dan benar.

3. Sebagai sarana bernalar logika berorientasi pada pengetahuan tentang kebenaran dan berfungsi sebagai alat untuk menemukan aturan-aturan dalam berpikir secara tepat dengan menggunakan bahasa.

4. Menurut arahnya, logika dapat dibedakan sebagai logika deduktif dan induktif.

5. Dalam operasinya logika menggunakan proposisi, yaitu kalimat pernyataan yang menurut logika dapat dinilai benar atau salah. Proposisi menurut kuantitas dan kualitasnya, digolongkan sebagai proposisi universal positif (A), proposisi universal negatif (E), proposisi partikular positif (I), dan proposisi partikular negatif (O).

6. Secara formal logika deduktif diantaranya diwujudkan dalam bentuk silogisme;

secara tidak formal diantaranya diwujudkan secara entimem.

7. Penalaran ilmiah dilakukan melalui sintesis antara logika deduktif dan logika induktif.

8. Dalam praktiknya, Penulisan KTI merupakan penerapan penalaran ilmiah dengan menggunakan bahasa sebagai sarana utamanya. Penalaran tersebut tercermin dalam setiap langkah pengembangan karya tersebut.

TUGAS DAN LATIHAN

A. Nilailah definisi-definisi berikut menurut aturan definisi formal.

1. Ikan adalah Pises

Gambar

Diagram 5:  Diagram Euler
Tabel Ringkasan Distribusi Term  Term Predikat  Term Subjek  Term Subjek
Tabel Ringkasan Penalaran

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahap ini dibuat suatu konsep yang diterjemahkan dalam pengembangan ruang dan jalur sirkulasi wisata untuk memenuhi tujuan studi ini yaitu pelestarian dan pengembangan

Pada percobaan gelombang penuh dengan beban resistor kapasitor didapatkan efisiensi rata rata 81% dan ripple factor rata rata adalah 52% dengan ripple

Tahap pertama adalah kegiatan penerimaan BBM dilakukan dari mobil tangki pengangkut BBM ke dalam Tangki Timbun, pada proses pengisian ini yang perlu

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) yang disebabkan oleh Bovine herpesvirus-1 (BHV-1) diketahui telah menyerang ternak sapi di Indonesia dengan sebaran penyakit

Untuk menduga nilai manfaat ekonomi TWA Gunung Tangkuban Parahu didasarkan atas analisis regresi sederhana antara jumlah kunjungan per 1000 penduduk per tahun (Y) dengan

Bobot Berangkasan Kering Tanaman Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa, perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh berpengaruh tidak nyata terhadap bobot berangkasan

Majikan secara khusus, harus memastikan bahwa mereka telah menyediakan sarana kerja lingkungan tempat kerja yang baik dan menyenangkan kepada karyawan agar mereka

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji faktor-faktor penentu yang menentukan ”value” produk Telkom Flexi yang ditawarkan dari perusahaan kepada pelanggan, Bagaimana strategi