• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Nagan Raya Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (secara sengaja) (Sugiarto, dkk., 2001). Pemilihan lokasi Kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu wilayah potensial untuk pengembangan industri kelapa sawit ditinjau dari segi luas areal dan jumlah produksi TBS.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Data dan informasi dikumpulkan untuk keperluan analisis aspek-aspek yang berkaitan dengan proses pembangunan PMKS. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung melalui observasi di daerah penelitian. Data sekunder diperoleh dari informasi dan data yang telah ada, penelusuran melalui internet, buku, jurnal, balaipenelitian, instansi-instansi pemerintah, dan literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian.

3.3 Metode Analisis Data

Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa analisis kelayakan secara finansial dan non finansial. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aspek-aspek kelayakan pembangunan PMKS yang dilakukan di Kabupaten Nagan Raya

(2)

38

Excel dan kalkulator kemudian ditampilkan dalam bentuk tabulasi untuk

memudahkan pembacaan dan interpretasi secara deskriptif. Analisis kuantitatif meliputi analisis finansial pembangunan pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) dengan menggunakan kriteria-kriteria kelayakan investasi yaitu; Net

present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net

B/C), Payback Period dan analisis sensitivitas. 3.4 Kriteria Kelayakan Investasi

a. Net Present Value (NPV)

NPV suatu proyek adalah manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek. Didapat dari selisih antara total PV(Present Value) manfaat dan biaya pada setiap tahun kegiatan usaha dimasa yang akan datang. Kriteria dan keputusan dalam analisis ini adalah layak jika NPV>0 sedangkan bila NPV<0, usaha tersebut tidak layak untuk di usahakan (Kadariah,1978). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

NPV

1

keterangan:

Bt = Manfaat pada tahun t Ct = Biaya pada tahun t i = Tingkat suku bunga n = Umur ekonomis proyek

t = Waktu

b. IRR (Internal Rate of Return)

IRR adalah tingkat pengembalian internal selama umur proyek. IRR merupakan

discount rate yang menjadikan manfaat bersih sekarang sama dengan nol. Nilai

(3)

telah ditentukan, maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan (Kadariah, 1978). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

IRR

Dimana :

i1 = Discountrate yang menghasilkan NPV positif I2 = Discountrate yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV yang bernilai positif

NPV2 = NPV yang bernilai negatif c. Net B/C (Net Benefit Cost Ratio)

Net B/C merupakan perbandingan antara NPV total dari manfaat bersih terhadaptotaldaribiayabersih (Kadariah, 1978). Metode ini digunakan untuk melihat berapa besar maanfaat bersih yang dapat diterima suatu proyek untuk setiap investasi yang dikeluarkan. Bila Net B/C lebih besar sama dengan 1 usaha dianggap layak untuk dilaksanakan dan jika B/C kurang dari 1 maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

/ 1 1 0 0 Dimana, Bt = totalpenerimaanpadatahunke-t Ct = totalbiayapadatahunke-t i = tingkatdiskontoyangberlaku n = umurekonomiproyek d. Payback Period

(4)

40

pengembalian investasinya, maka usaha tersebut semakin baik untuk dilaksanakan (Kasmir, 2003). Payback period dapat dirumuskan sebagai berikut:

e. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat dampak yang ditimbulkan dari perubahan-perubahan kondisi di luar jangkauan asumsi yang telah dibuat pada saat perencanaan. Pada penelitian ini analisis sensitivitas dilakukan dengan pendekatan perubahan akibat kenaikan biaya produksi dan penurunan harga produksi sebesar 20 persen. Penentuan kenaikan biaya produksi sebesar 20 persen merujuk pada komponen PMKS ada sebagian besar dibeli dari luar. Sedangkan penentuan penurunan harga produksi sebesar 20 persen merupakan tingkat toleransi yang dianggap wajar untuk kebutuhan pasokan bahan baku yang disebabkan oleh faktor-faktor non teknis yang mungkin terjadi.

3.5. Defenisi dan Batasan Operasional 3.5.1. Definisi

Berbagai definisi yang ada dibawah ini bertujuan menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penafsiran, yakni sebagai berikut :

1. Investasi dapat diartikan sebagai penanaman modal dalam suatu kegiatan yang memiliki jangka waktu relatif panjang dalam berbagai bidang usaha 2. NPVsuatu proyek adalah manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek. 3. Internal Rate Return (IRR) adalah tingkat pengembalian internal selama

(5)

4. NetB/C merupakan perbandingan antara NPV total dari manfaat bersih terhadap total dari biaya bersih.

5. Payback Period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu investasi, yang digunakan untuk mengukur periode pengembalian modal. 3.5.2. Batasan Operasional

Sebagai dasar perhitungan finansial dalam studi kelayakan investasi, asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai beriku:

1. Umur ekonomis proyek 15 tahun, ditentukan berdasarkan umur teknis bangunan pabrik.

2. Kapasitas terpasang pabrik, yaitu 30 ton TBS/Jam.

3. Jumlah jam kerja maksimal 20 jam/hari, ditentukan berdasarkan jam operasional rata-rata pabrik kelapa sawit di Sumatra Utara dan Riau pada kondisi normal. Sedangkan di Provinsi NAD dalam satu dekade terakhir kondisinya tidak normal karena faktor keamanan sehingga tidak dijadikan sebagai tolok ukur.

4. Jumlah hari kerja, 25 hari per bulan, 300 hari per tahun, dengan asumsi hari minggu libur serta hari libur nasional dan hari besar keagamaan.

5. Kebutuhan bahan baku TBS akan dipenuhi dari kebun sendiri, kebun rakyat dan kebun swasta yang ada di Kabupaten Nagan Raya dan daerah sekitarnya berdasarkan proyeksi ketersedian bahan baku per tahun.

(6)

42

7. Jangka waktu pinjaman kredit selama 10 tahun.

8. Tingkat suku bunga kredit investasi 15 persen per tahun, berdasarkan suku bunga kredit investasi yang berlaku pada Bank di Wilayah Kabupaten Nagan Raya untuk kredit investasi, yaitu sebesar 15 persen.

9. Rendemen CPO 19 persen dan Kernel 5 persen. Asumsi ini berdasarkan potensi rata-rata rendemen CPO dan Kernel di Provinsi NAD.

10. Asumsi harga TBS, CPO dan Kernel sebagai berikut: a. Harga TBS Rp. 1.026

b Harga CPO Rp. 5.700 c Harga Kernel Rp. 2.633

11. Biaya modal (faktor diskonto) untuk skenario I (dana sendiri), 1 persen. Skenario II (pinjaman), 15 persen.

12. Asumsi biaya-biaya lain:

a Biaya penyusutan dihitung dengan metode garis lurus.

b Biaya asuransi sebesar 1,5 persen dihitung dari total biaya investasi pabrik (proyeksi).

c Biaya pemeliharaan pabrik 2,0 persen dihitung dari total biaya investasi pabrik (proyeksi).

d. Perhitungan pajak penghasilan berdasarkan Undang-Undang No. 17 tahun 2000 tentang pajak penghasilan badan usaha.

e Perhitungan pajak perolehan hak guna usaha (HGU) berdasarkan Undang- undang No. 12 tahun 1994.

f. Nilai sisa dari hasil penjualan asset dikenai pajak penjualan sebesar 10 persen.

(7)
(8)

44

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN

KARAKTERISTIK SAMPEL

4.1. Geografis

Kabupaten Nagan Raya secara geografis terletak pada lokasi 030 40’– 04038’ Lintang Utara dan 960 11’ – 960 48’ Bujur Timur dengan luas

wilayah 3.544,90 Km2 (berdasarkan hasil RTRW Nagan Raya). Kabupaten Nagan Raya berbatasan dengan Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Tengah di sebelah Utara, Kabupaten Gayo Luwes dan Aceh Barat Daya di Sebelah Timur, Kabupaten Aceh Barat di sebelah Barat dan di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Berdasarkan Qanun Kabupaten Nagan Raya Nomor 2 dan Nomor 3 Tahun 2011, maka secara definitif pada tahun 2011 terdapat 2 (dua) kecamatan yang mengalami pemekaran wilayah. Sehingga jumlah kecamatan bertambah dari 8 (delapan) kecamatan menjadi 10 (sepuluh) kecamatan. Dua kecamatan yang mengalami pemekaran wilayah adalah Kecamatan Beutong dan Kecamatan Darul Makmur. Kecamatan Beutong mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Beutong dan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Sedangkan Kecamatan Darul Makmur mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Darul Makmur dan Kecamatan Tripa Makmur.

Darul Makmur mempunyai luas wilayah terluas yaitu 1.027,93 Km2 atau 29,00 persen dari luas wilayah kabupaten. Kemudian diikuti oleh Kecamatan Beutong dengan luas wilayah 1 017,32 Km2 atau 28,70 persen. Sedangkan 8 (delapan)

(9)

Seunagan Makmur m persen, 5, keseluruha Gamb Sumber : BP Secara top merupakan lembah/DA empat kec dan Tadu Wilayah K budidaya Salah satu Timur, Tr mempunyai 34 persen, an luas wila bar 3. Perse Keca PS Kabupaten pografis, se n wilayah AS dan lere camatan, ya Raya. Kabupaten berbagai k u faktor ya ripa Makm luas wilaya 3,41 persen ayah Kabup entase Luas amatan Tah n Nagan Raya, bagian besa dataran. Si eng. Terdap aitu Kecama Nagan Ray omoditi per ang menentu mur, Kuala, ah masing-m n, 2,15 per paten Nagan s Wilayah K hun 2011 (T , 2012 ar desa-des isanya meru pat 17 desa y atan Darul M ya merupak rtanian kar tukan untuk , Kuala Pe masing 11,4 rsen, 1,60 p n Raya. Kabupaten Total Luas a yang ada upakan des yang berbat Makmur, Tr kan daerah rena diduku k budidaya esisir, Seun 45 persen, 9 persen dan n Nagan Ra Wilayah 3 di Kabupa sa yang me tasan dengan ripa Makmu h yang sang ung oleh ikl komoditi p nagan dan 9,79 persen, 1,45 persen aya Menuru .544,90 km aten Nagan emiliki topo an laut terseb ur, Kuala P gat cocok u klim yang b pertanian a Suka , 7,10 n dari ut m2 ) Raya ografi bar di Pesisir untuk bagus. adalah

(10)

46

51,51 persen dari jumlah hari dalam setahun. Jika dilihat kecendrungan hujan dalam setahun, maka pada sepanjang tahun 2011 memiliki jumlah hari hujan yang relative stabil. Jumlah curah hujan mengalami fluktuatif dalam satu tahun, pada Agustus terdapat curah hujan tertinggi, yaitu 774 mm, sedangkan pada bulan mei hanya 136 mm.

Suhu udara dan kelembaban udara sepanjang tahun tidak terlalu berfluktuasi, dengan suhu udara dan kelembaban udara rata-rata per bulan 26,2 0c dan 88 persen. Suhu udara minimum rata-rata berkisar antara 20,5 s/d 23,0 0c dan suhu udara maksimum rata-rata berkisar antara 29,6 s/d 32,0 0c. Rata-rata penyinaran matahari adalah sebesar 5,2 persen per hari.

4.2. Pemerintahan

Kabupaten Nagan Raya yang terbentuk pada tahun 2002 yaitu pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat, terdiri dari 10 wilayah kecamatan, 30 mukim dan 222 desa definitif, dengan ibukota kabupaten terletak di Suka Makmue.

Lembaga eksekutif yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten Nagan Raya, secara susunan organisasi pada tahun 2011 terdiri dari 16 dinas, 12 lembaga teknis (badan dan kantor) dan 10 sekretariat kecamatan. Instansi berupa dinas dan badan dikepalai oleh pejabat eselon II, sementara kantor dikepalai oleh pejabat eselon III.

Jumlah keseluruhan pegawai negeri sipil (PNS) daerah yang bertugas di jajaran pemerintahan Kabupaten Nagan Raya pada oktober 2011 sebanyak 3.836 orang, atau kenaikan sebesar 10,04 persen dibandingkan dengan tahun 2009 (januari) yang berjumlah 3.486 orang. Hal ini disebabkan adanya penerimaan pegawai negeri sipil daerah yang setiap tahun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan

(11)

aparatur pemerintah daerah sejak terbentuknya kabupaten ini pada tahun 2002. Selain itu, juga terdapat penambahan 2 instansi baru dan 2 Sekretariat Kecamatan pada tahun 2011, yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kantor Pelayanan Perizinan Satu Pintu dan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kecamatan Tripa Makmur.

4.3. Penduduk

Berdasarkan hasil estimasi BPS, pada tahun 2011 jumlah penduduk Nagan Raya adalah sebanyak 142.861 jiwa dengan rincian jumlah laki-laki sebanyak 72.223 jiwa dan perempuan sebanyak 70.638 jiwa. Distribusi penduduk menurut kecamatan pada tahun 2010 mengalami perubahan seiring dengan pemekaran wilayah kecamatan seperti dapat dilihat pada Grafik. 2. Distribusi jumlah penduduk kecamatan Darul Makmur menempati urutan pertama yaitu 27,96 persen dari jumlah penduduk keseluruhan, diikuti oleh Kecamatan Kuala sebanyak 13,28 persen.

Distribusi penduduk pada Kecamatan Seunagan dan Kecamatan Kuala Pesisir secara berurutan adalah sebesar 10,36 persen dan 10,10 persen. Sedangkan distribusi jumlah penduduk pada Kecamatan Beutong, Kecamatan Senagan Timur dan Kecamatan Tadu Raya adalah sebesar 8,98 persen, 8,71 persen dan 8,01 persen. Kecamatan Suka Makmue dan Kecamatan Tripa Makmur memiliki distribusi sebesar 5,74 persen dan 5,66 persen. Sedangkan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang memiliki distribusi terkecil yaitu sebesar 1,21 persen.

(12)

Gambar Sumber : BP Komposis pada Gra semakin b Kondisi sebelumny Nagan Ra remaja, ya berbagai m kesehatan pendidikan dapat men 4. Distribu Menurut PS Kabupaten si penduduk afik.3. Gra berkurang p ini juga t ya. Dari gr aya saat ini ang pada su masalah kep dan lain-n, kesehatan nampung ten usi/Persenta t Kecamata nNagan Raya, k menurut afik berupa pada kelomp tidak jauh rafik terseb i mempuny uatu saat aka

pendudukan -lain, jika n, transport naga kerja. ase Jumlah an Tahun 2 2012 kelompok a piramida pok umur t h berbeda but dapat d yai pendudu an berada p n akan timb tidak dipe tasi juga me h Penduduk 2011 (Total umur dan j menggam tua, baik lak

dengan k ditarik kesi uk yang ba pada posisi u bul seperti ersiapkan d empersiapka k Kabupate l 142.861 Ji jenis kelam mbarkan jum ki-laki mau keadaan pa impulan ba anyak pada usia produk pendidikan dari awal an lapangan en Nagan R iwa) min dapat d umlah pend upun perem ada tahun-ahwa Kabu a usia balita ktif. Pada sa n, pengangg seperti fas n pekerjaan 48 Raya dilihat duduk mpuan. tahun upaten a dan aat itu guran, silitas yang

(13)

Gambar Sumber : BP Komposis tahun 201 SLTP (13 19-24 tahu Berdasark berstatus b laki-laki d pada tahun angkatan Terbuka a r 5. Kompo Kelom PS Kabupaten si jumlah p 1 terdapat -15 tahun) un (Perguru kan angka e bekerja pad dan 21.665 n 2011 ada kerja pada adalah sebes sisi Jumlah mpok Umur nNagan Raya, penduduk m 17.603 jiwa dan 7.563 uan Tinggi). estimasi, ju da tahun 20 perempuan alah sebesar a tahun 201 sar 4.74 pers h Pendudu r dan Jenis 2012 menurut usi a usia sekol jiwa usia S . umlah pendu 011 terdapa n. Sementar r 66.339 ora 11 sebesar sen. k Kabupat s Kelamin T a sekolah lah dasar (7 SLTA (16-1 uduk berum at sebanyak ra itu estim ang, sehingg 66,44 pers ten Nagan R Tahun 2011 di Kabupat 7-12 tahun), 18 tahun), 1 mur 15 tahu 61.607 ora masi jumlah ga angka ti sen. Tingka Raya Menu 1. ten Nagan , 8.388 jiwa 14.953 jiwa un ke atas ang yaitu 3 h angkatan ingkat parti at Pengangg urut Raya a usia a usia yang 9.942 kerja sipasi guran

(14)

Gam Sumber : BP Pada tahu sebanyak (25,49 pe Keluarga Plus seban Keluarga 2011 terda KK atau kabupaten sebelumny tahun 200 4.4. Sosia mbar 6. Kom Tingka PS Kabupaten un 2011 ter 6.903 KK ersen), kelu Sejahtera II nyak 2.161 Sejahtera I apat jumlah sebanyak n ini. Angk ya, yaitu se 9. l mposisi Pen tan Keluar n Nagan Raya, rdapat pend (11,99 per uarga sejah II sebanyak kk (5,63 pe I dikategori h keluarga m 43,49 pers a ini meng ebesar 43,85 nduduk Ka rga Sejahte , 2012 duduk deng rsen), Kelu htera II se k 6.069 KK ersen). Jika ikan sebaga miskin di Ka sen dari ju galami penr 5 persen pa abupaten N era Tahun 2 gan klasifik uarga Sejah ebanyak 13 (15,82 pers kelompok ai penduduk abupaten Na umlah selur runan diban ada tahun 2 Nagan Raya 2011 (Perse kasi keluarg tera I seba 3.450 KK sen) dan Ke Keluarga P k miskin, m agan Raya s ruh keluarg ndingkan de 010 dan 54 a Menurut en) ga pra seja anyak 9.779 (35,06 per eluarga Seja Pra Sejahter maka pada sebanyak 1 ga yang ad engan dua 4,50 persen 50 ahtera 9 KK rsen), ahtera ra dan tahun 6.682 da di tahun pada

(15)

Pada tahun 2010 sarana pendidikan yang ada di Kabupaten Nagan Raya sudah tersedia baik mulai pada tingkat pendidikan dasar sampai pada tingkat pendidikan menengah atas, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta. Disamping sekolah umum juga terdapat sekolah agama atau madrasah yang tersedia mulai dari tingkat dasar yaitu Madrasah Ibtida’iayah sampai pada tingkat Madrasah Aliayah.

Jumlah Sekolah Dasar pada tahun 2011 terdapat 129 unit berstatus negeri dan 3 swasta; SLTP sebanyak 31 unit dengan status negeri dan 2 swasta; SMA sebanyak 17 unit negeri dan 1 unit swasta; serta SMK negeri dan swasta masing-masing 1 unit. Sementara itu untuk madrasah terdapat MI sebanyak 14 unit berstatus negeri dan 5 swasta; MTs sebanyak 2 unit negeri dan 7 unit swasta; serta MA sebanyak 1 unit negeri dan 2 unit swasta.

Untuk melihat ketersediaan tenaga pendidik dibanding dengan jumlah murid yang harus dididik, terutama untuk sekolah yang dikelola oleh pemerintah (berstatus negeri), dapat dilihat dari angka rasio murid-guru. Pada tahun 2011, rata-rata perbandingan guru dan murid untuk tingkat SD sebesar 1:9; tingkat SLTP sebesar 1:11 dan pada tingkat SMA sebesar 1:12 ; tingkat SMK 1:8. sedangkan untuk sekolah madrasah, tingkat MI sebesar 1:14 ; tingkat MTs 1:13 ; tingkat MA 1:14 (lihat Gambar 7).

(16)

Gamb Sumber : BP Sementara sekolah y dengan ju sebesar 1: madrasah, Penduduk sebanyak peribadata tersedia ju santri dipe sebanyak Untuk sar Puskesma yang terse bar 7. Rasio Nege PS Kabupaten a itu untuk yang dikelo umlah murid 29 dan SMA , tingkat MI k Nagan R 222 masjid an. Selain m uga pondok erkirakan ad 150 teungku rana kesehat as Pembantu ebar di selu o Antara M eri di Kabu nNagan Raya, k menilai k ola oleh pe d yaitu untu A sebesar 1 I sebesar 1:2 aya adalah d telah tela masjid, juga k pesantren dalah seban u. tan, pada ta u (PUSTU) uruh kecama Murid Deng upaten Nag 2012 kewajaran j emerintah d uk sekolah t 1:36; tingka 25 ; tingkat h mayoritas ah tersebar a terdapat m n yaitu seb nyak 5.333 ahun 2012 t yang masin atan. Disam gan Guru d gan Raya T jumlah mur dapat diliha tingkat SD at SMK 1:20 MTs 1:28 ; s memeluk r di semua meunasah, banyak 50 santri deng terdapat sar ng-masing s mping puske an Kelas P Tahun 2011 rid dalam at dari rasi sebesar 1:1 0. Sedangka ; tingkat MA Islam. pa kecamatan yaitu seban pondok pe an tenaga p rana berupa ebanyak 12 esmas juga Pada Sekola 1 satu kelas io jumlah 19; tingkat S an untuk se A 1:30. ada tahun n sebagai s nyak 250. T esantren. Ju pengajar/teu a Puskesma 2 unit dan 44 terdapat R 52 ah pada kelas SLTP kolah 2011, sarana Telah umlah ungku as dan 4 unit umah

(17)

Sakit Umum daerah yang berlokasi di Kecamatan Kuala (tepatnya di desa Ujung Fatihah).

Jumlah tenaga medis yang berada di puskesmas maupun pustu di Kabupaten Nagan Raya pada tahun 2011 adalah sebanyak 449 orang dengan rincian 35 orang dokter, 304 orang bidan dan 110 orang tenaga perawat. sementara itu pada RSUD terdapat 20 orang dokter dengan rincian 3 orang dokter spesialis (spesialis kandungan, spesialis bedah dan spesialis penyakit dalam) dan 15 orang dokter umum serta 2 orang dokter gigi.

4.5. Pertanian

Kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu daerah yang menjadi sentra produksi berbagai jenis komoditi pertanian, baik jenis tanaman pangan seperti padi, palawija, buah-buahan, dan sayuran, maupun jenis tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, karet dan kelapa. Disamping itu lahan yang tersedia untuk budidaya pertanian masih cukup luas. Sub sektor peternakan juga sangat menjanjikan untuk lebih ditingkatkan di daerah ini mengingat wilayah berupa padang rumput yang masih luas tersedia. untuk perikanan laut juga menjadi andalan daerah ini dengan adanya empat kecamatan yang berbatasan langsung dengan samudera Indonesia, yaitu kecamatan Kuala Pesisir, Tadu Raya dan Darul Makmur serta Tripa Makmur.

(18)

Gam Sumber : BP Pada tahu ini menga yang men menurunn menjadi 5 mengalam (Gambar 8 Sementara bagi pemb daerah in dengan te mentah (C Disamping perkebuna mbar 8. Per di K PS Kabupaten un 2011 pro alami penur ncapai 100 nya tingkat 5,77 ton/hek mi kenaikan 8). a itu sub se bangunan m i sudah ter etap eksisny CPO) yaitu d g perusahaa an rakyat rkembanga Kabupaten nNagan Raya, oduksi padi runan sebe .282 ton g produktivi ktar pada ta dari 16.69 ektor perkeb masyarakat rkenal seba ya tiga peru di Kecamata an berskala yang meng an Produks Nagan Ray 2012 sawah terc sar 3,60 pe gabah. Penu itas padi d ahun 2011. 8 hektar pa bunan telah di kabupa agai pengha usahaan bes an Darul M a besar, di gusahakan i dan Prod ya Tahun 2 catat sebesa ersen diban urunan ini dari 6,01 to Sedangkan ada tahun 2 h memberik aten ini dim

asil kelapa sar pengola Makmur, Kua Kabupaten berbagai j uktivitas P 2007-2011 ar 96.670 to nding produ disebabkan on/hektar p luas tanam 2010 menjad kan andil ya mana sejak sawit. Ha ahan sawit ala Pesisir d Nagan Ray jenis tanam Padi Sawah on gabah. A uksi tahun n oleh sem pada tahun m dan luas p di 16.744 h ang sangat zaman Be al ini dibuk menjadi m dan Tadu Ra ya juga ter man perkeb 54 h Angka 2009 makin 2010 panen hektar besar elanda ktikan inyak aya. rdapat bunan

(19)

diantaranya kelapa sawit, karet, coklat, kelapa dalam, pinang, kopi, kemiri dan lain-lain.

Tabel 3. Luas Area, Produksi dan Produktivitas Kelapa Sawit Dari Perkebunan Rakyat Menurut Kecamatan di Kabupaten Nagan Raya Tahun 2011 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi TM (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) TM TBM 1. Darul Makmur 18.762 1.335 101.440 5,4 2. Tripa Makmur 2.266 544 10.000 4,4 3. Kuala 1.073 2.144 2.697 2,5 4. Kuala Pesisir 916 2344 2.419 2,6 5. Tadu Raya 3.029 3.366 30.356 10,0 6. Beutong 1.119 1.054 3.029 2,7

7. Beuton Ateuh Banggalang - - - -

8. Seunagan 109 160 161 1,5

9. Suka Makmue 91 20 10 0,1

10. Seunagan Timur 179 138 449 2,5

Jumlah 27.544 11.105 150.561 5,5

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Nagan Raya, 2012

Pada tahun 2011 produksi tanaman kelapa sawit dari perkebunan rakyat mencapai 150.561 ton dengan produktivitas 5,5 Ton/Ha. Berdasrkan hasil produktivitas TBS, menunjukkan produksi yang rendah. Produksi karet 3.304 ton, coklat/kakao sebesar 1.415 ton, kelapa dalam sebesar 670 ton juga terdapat pinang dengan produksi sebesar 220 ton. Lima jenis tanaman perkebunan tersebut merupakan komoditi andalan yang banyak dibudidayakan pada perkebunan rakyat sebagai sumber penghasilan masyarakat di Nagan Raya.

(20)

56

bangunan. pada tahun 2011 jumlah industri tradisional di nagan raya adalah sebanyak 391 unit, mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 366 unit. penyumbang terbanyak pada industri ini adalah tukang jahit bordir, yaitu sebanyak 205 unit.

Jumlah industri makanan dan minuman adalah sebanyak 295 unit, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 239 unit. penyumbang terbanyak pada industri ini adalah industri tempe dan industri tahu, yaitu sebanyak 118 unit dan 137 unit. sedangkan jumlah industri jasa pada tahun 2011 adalah sebanyak 295 unit, mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 304 unit. Penyumbang terbanyak pada jenis industri ini adalah reparasi sepeda motor dan tambal ban, yaitu sebanyak 127 unit dan 45 unit. Industri bahan bangunan pada tahun 2011 adalah sebanyak 135 unit. Industri ini didominasi oleh industri batu bata, yaitu sebanyak 134 unit.

4.7. Perhubungan dan Komunikasi

Pada tahun 2010 panjang jalan yang melintasi Nagan Raya diperkirakan adalah sepanjang 592,35 Kilometer (Km), yaitu terdiri dari 82,00 Km jalan negara, 117,60 Km jalan provinsi dan 392,75 km jalan kabupaten. Mengalami kenaikan sebesar 2,60 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 577,35 km. Dengan kondisi jalan 69 persen dalam keadaan baik, sedangkan sisanya, yaitu sebanyak 31 persen masih dalam kondisi rusak.

(21)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Kelayakan Investasi Pembangunan PMKS yang Dibutuhkan Untuk Mengolah TBS

Berdasarkan identifikasi masalah yang kedua, yaitu bagaimana kelayakan investasi pembangunan pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) yang dibutuhkan untuk mengolah TBS di Kabupaten Nagan Raya diuraikan sebagai berikut:

Kabupaten Nagan Raya saat ini memiliki 3 unit PMKS, yaitu PT. Socfindo Seunagan, PT. Socfindo Seumayam, dan PT. Fajar Baizury dengan total kapasitas 105 ton TBS per jam. Keberadaan PMKS ini selama ini telah memberikan dampak terhadap kelancaran proses pengolahan TBS yang bersumber dari perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta yang belum memiliki PMKS. Namun pasokan TBS sebagai bahan baku PMKS jauh lebih besar dari kapasitas olah PMKS yang ada sekarang. Untuk mengantisipasi melimpahnya produksi TBS seiring dengan bertambahnya luas areal perkebunan dan produksi TBS karena terkait dengan bertambahnya umur tanaman menghasilkan serta beralihnya tanaman TBM menjadi TM (tanaman menghasilkan), maka perlu membangun PMKS baru secara bertahap sesuai dengan yang dibutuhkan agar sisa TBS menjadi minim. Kebutuhan PMKS sesaui dengan yang dibutuhkan, yaitu PMKS dengan kapasitas 30 ton TBS/jam. Mengingat investasi PMKS kapasitas 30 ton TBS/jam memerlukan dana dalam jumlah besar, yaitu sekitar Rp.60.126.307 milyar dan sumber bahan baku berupa

(22)

58

(Lampiran 2).

5.1.1. Ruang Lingkup Analisis

Ruang lingkup analisis pembangunan PMKS dengan kapasitas 30 ton TBS/jam meliputi penyediaan bahan baku, bahan pembantu proses produksi beserta sarana dan prasarana penunjang. Dasar perhitungan harga adalah harga yang berlaku sekarang dan dilakukan per tahun. Jangka waktu analisis dilakukan selama 10 tahun dengan masa pembangunan proyek selama 1,5 tahun (18 bulan). Analisis finansial yang akan dilakukan meliputi analisis investasi pembangunan proyek, pembiayaan proyek, proyeksi laba-rugi dan proyeksi arus dana pada proyek beserta penilaian terhadap sensitivitas proyeksi apabila ada perubahan yang mendasar pada variabel yang sangat menentukan seperti penurunan jumlah produksi dan kenaikan biaya produksi.

5.1.2. Proyeksi Arus Kas

Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Aliran arus kas diproyeksikan selama 10 tahun sesuai dengan umur ekonomis pabrik. Selisih antara arus penerimaan dan arus pengeluaran merupakan manfaat atau biaya yang diterima dari kegiatan bisnis PMKS.

5.1.3. Outflow (Pengeluaran)

Arus pengeluaran atau arus biaya dalam analisis kelayakan investasi pembangunan PMKS dengan kapasitas 30 ton TBS per jam, terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Outflow ini menggambarkan pengeluaran–pengeluaran yang akan terjadi selama umur ekonomis pabrik.

(23)

5.1.4. Biaya Investasi

Biaya investasi merupakan biaya awal yang dibutuhan untuk pembangunan PMKS dengan kapasitas 30 ton TBS per jam yang akan dilaksanakan di Kabupaten Nagan Raya. Biaya investasi ini meliputi bangunan pabrik, instalasi listrik, peralatan laboratorium, kolam limbah dan instalasi pendukung, peralatan bengkel, mekanikal,

over head (perumahan, gudang, kendaraan dan jalan beserta sarana dan prasarana

penunjang lainnya). Keseluruhan jumlah biaya investasi sebesar Rp. 60.126.327.000 (Lampiran 1). Rekapitulasi biaya investasi PMKS disajikan

pada Tabel 9.

Tabel 9. Rekapitulasi Biaya Investasi PMKS

No Uraian Nilai (Rp.000)

1 Bangunan 8.324.095

2 Instalasi dan kelistrikan 2.279.554

3 Laboratorium dan peralatan 488.310

4 Kolam limbah dan instalasi pendukung 13.75.750

5 Bengkel dan peralatan 428.189

6 Mekanikal 43.697.958

7 Over head 3.532.471

Total 60.126.327

Pembangunan PMKS kapasitas 30 ton TBS per jam dilaksanakan selama 18 bulan dengan umur ekonomis proyek di tetapkan berdasarkan umur ekonomis pabrik, yaitu selama 10 tahun. Kebutuhan lahan menggunakan HGU (hak guna lahan) seluas 10 hektar dengan masa pemakaian 25 tahun dan dapat diperpanjang untuk periode berikutnya. Biaya perolehan hak atas HGU mengacu pada Undang-undang No.12 tahun 1994 tentang pajak perolehan atas pengelolaan tanah dan bangunan. 5.1.5. Biaya Operasional

(24)

60

Biaya tetap merupakan biaya rutin yang harus dibebankan sehubungan dengan pengoperasian pabrik meliputi biaya administrasi, pemeliharaan pabrik, biaya pemeliharaan aktiva lain dan asuransi. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang timbul karena proses dan penggunaan input produksi yang terdiri dari gaji, pembelian bahan baku dan biaya bahan pembantu proses produksi. Rekapitulasi biaya operasional disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Biaya Operasional Pabrik Minyak Kelapa Sawit

Uraian Tahun (Rp.000)

0 1 2 3-10

Upah langsung 416.975 1.993.141 2.491.426

Gaji dan upah karyawan kantor 74.544 298.175 396.870 Biaya pembelian TBS 21.721.698 130.017.416 243.021.514 Biaya pemeliharaan pabrik 31.215 655.469 819.337 Biaya pemakaian bahan kimia 48.874 1.170.157 2.003.391 Biaya Bahan Pembantu 54.304 1.300.174 2.308.430

Asuransi 163.867 848.908 1.061.135

Total 22.611.478 136.283.439 252.407.690

Berdasarkan Tabel 10. dapat diketahui bahwa biaya operasional tahun ke-0 merupakan tahun masa pembangunan PMKS sampai dengan semester I tahun ke-1 sehingga belum terlihat beban biaya operasional. Setelah pembangunan pabrik selesai, pada semester ke II tahun ke-1 pabrik mulai berproduksi secara komersial dengan kapasitas produksi awal diperkirakan sekitar 70 % tahun ke-1 dan 80 % pada tahun ke-2 serta 85% pada tahun ke 3 dari kapasitas terpasang PMKS, hal ini disebabkan karena belum maksimal pasokan TBS masuk ke PMKS. Total biaya operasional pada tahun ke-1 adalah Rp. 22.611.478.000 dan Rp. 136.283.439.000 pada tahun ke-2. Selanjutnya tahun ke-3 sampai dengan tahun ke-10 pabrik sudah dapat beroperasi secara optimal sesuai dengan kapasitas terpasang mesin seiring dengan stabilnya pasokan TBS ke PMKS. Jumlah total biaya operasional per tahun sekitar Rp. 252.407.690.000. Dari seluruh biaya operasi PMKS 96,4% didominasi

(25)

oleh biaya pembelian TBS. (Lampiran 3) 5.1.6. Inflow (Penerimaan)

Arus penerimaan atau pendapatan dalam analisis kelayakan investasi pembangunan PMKS dengan kapasitas 30 ton TBS per jam, terdiri dari pendapatan hasil penjualan dari CPO dan PKO. Pendapatan yang diterima dari penjualan sangat dipengaruhi oleh kemampuan produksi PMKS dan harga penjualan produk. Produksi CPO dan PKO yang dihasilkan oleh pabrik tergantung dari rendemen CPO, rendemen PKO dan penerimaan TBS di PMKS. Penerimaan TBS di PMKS per hari merupakan dasar penentuan kemampuan pengoperasian PMKS per hari.

Kapasitas PMKS terpasang adalah 30 ton TBS per jam, proyeksi rendemen CPO

22%, rendemen PKO 5,0%, harga jual CPO Rp. 7.980 per kg, Kernel Rp. 3.146 per kg serta waktu pengoperasian pabrik minimal 20 jam per hari atau 80

persen dari kemampuan maksimal per hari. Pada tahun pertama dan ke dua pasokan bahan baku TBS ke pabrik diperkirakan sekitar 70% dan 85% dari kapasitas rencana, setelah itu pada tahun ke tiga pasokan TBS di perkirakan normal. PMKS ini diproyeksikan pada tahun I telah menerima hasil penjualan CPO dan PKO. Kondisi ini tentu saja berpengaruh pada hasil produksi dan penerimaan hasil penjualan CPO dan PKO. Gambaran rekapitulasi penerimaan (inflow), produksi dan hasil penjualan selama umur proyek disajikan pada Tabel 11.

(26)

62

Tabel 11. Rekapitulasi Penerimaan dan Produksi PMKS Tahun TBS Produks i CPO (ton) Penjualan (Rp.000) Produk si PKO (ton) Penjualan (Rp.000) Jumlah (Rp.000) 0 1 20.160 4.032 23.667.452 1.008 2.721.757 26.389.209 2 115.200 24.192 149.253.009 5.760 16.349.420 165.602.429 3 137.700 30.294 197.807.966 6.885 20.695.106 218.503.072 4 137.700 30.294 207.210.960 6.885 21.662.964 228.873.924 5 137.700 30.294 215.844.750 6.885 21.662.964 237.507.714 6 137.700 30.294 224.478.540 6.885 21.662.964 246.141.504 7 145.350 31.977 245.813.963 7.268 22.843.318 268.657.281 8 145.350 31.977 255.176.460 7.268 22.866.462 278.042.922 9 153.000 33.660 268.348.524 7.650 24.046.816 292.395.340 10 153.000 33.660 268.606.800 7.650 24.069.960 292.676.760 11 153.000 33.660 268.606.800 7.650 24.069.960 292.676.760 Jumla h 1.435.860 314.334 2.324.815.224 71.793 222.651.691 2.547.466.915 5.1.7. Analisis Laba-Rugi

Proyeksi laba-rugi didasarkan pada besarnya volume penjualan dan harga jual produk yang dihasilkan oleh PMKS, serta selisihnya terhadap biaya produksi setiap tahun. Analisis laba-rugi digunakan untuk mengetahui perkembangan profit dari tahun ke tahun selama PMKS beroperasi secara komersial. Selain itu laporan laba-rugi juga digunakan sebagai instrumen untuk menghitung besar kecilnya pajak penghasilan badan usaha yang harus dibayarkan kepada pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Berdasarkan kondisi-kondisi yang diasumsikan, berikut ini disajikan rekapitulasi proyeksi laba-rugi dan pajak yang dihasilkan selama 10 tahun berturut-turut sesuai dengan umur ekonomis pabrik disajikan pada Tabel 12.

(27)

Tabel 12. Proyeksi Laba-Rugi PMKS Tahun Skenario 1 Skenario 2 Laba bersih Rp (000) Pajak Rp (000) Laba bersih Rp (000) Pajak Rp (000) 0 1 1.572.285 671.337 -2.265.853 0 2 15.285.809 6.548.561 9.461.789 4.030.052 3 26.547.649 11.375.064 21.354.956 9.127.124 4 15.558.160 6.665.283 10.996.793 4.687.911 5 15.420.343 6.606.218 11.490.302 4.899.415 6 16.238.458 6.956.839 12.939.744 5.520.605 7 17.827.487 7.637.852 15.160.100 6.472.186 8 18.158.581 7.779.749 16.122.520 6.884.651 9 19.260.831 8.252.142 17.856.097 7.627.613 10 19.284.661 8.262.355 18.511.253 7.908.394 11 19.284.661 8.262.355 19.142.580 8.178.963 Total 184.438.925 79.017.755 150.770.281 65.336.914 Pada semester kedua tahun ke-1 PMKS mulai beroperasi secara komersial sehingga pabrik kelapa sawit memperoleh pendapatan atas hasil penjualan CPO dan PKO. Pada tahun pertama dan kedua proyeksi produksi diperkirakan sebesar 70 persen dan 85 persen dari kapasitas normal. Pendapatan yang diperoleh dari total hasil penjualan setelah dikurangi biaya-biaya untuk skenario I memperoleh laba bersih sebesar Rp. 1.572.285.000 pada tahun pertama dan Rp. 15.285.809.000 pada

tahun kedua. Pada tahun berikutnya proyeksi laba bersih meningkat menjadi Rp. 26.547.649.000 dan konstan untuk setiap tahunnya, setelah kapasitas produksi

pabrik beroperasi secara optimal (kapasitas terpasang) total akumulasi laba bersih dari kegiatan usaha selama umur ekonomis pabrik untuk skenario I adalah sebesar Rp. 184.438.925.000.

(28)

64

pada kapasitas normal serta diikuti dengan beban biaya yang secara berangsur terus berkurang. Kemudian pada tahun ke-11 dan seterusnya proyeksi laba bersih mulai stabil seiring dengan berakhirnya pelunasan hutang investasi pada tahun ke-10. Total akumulasi laba bersih selama umur ekonomis PMKS untuk skenario II adalah sebesar Rp. 150.770.281.000.

Sedangkan beban pajak yang diterima oleh pemerintah dihitung berdasarkan besar kecilnya laba yang diperoleh dari kegiatan komersial PMKS. Perhitungan pajak dilakukan berdasarkan Undang Undang No.17 Tahun 2000 dengan ketentuan sebagai berikut : 0 – 50 juta dikenakan pajak 10 persen, 50 – 100 juta dikenakan pajak 15 persen dan 100 juta ke atas dikenakan pajak 30 persen. Total akumulasi pajak selama umur proyek untuk skenario I sebesar Rp. 79.017.755.000 dan skenario II sebesar Rp. 65.336.914.000.

5.1.8. Kriteria Kelayakan Investasi

Penilaian kelayakan suatu investasi ditinjau dari aspek finansial dilakukan dengan menggunakan beberapa kriteria investasi. Setiap kriteria yang digunakan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semakin banyak kriteria yang digunakan, maka semakin memberikan gambaran yang lengkap dan hasil yang lebih baik. Adapun kriteria yang digunakan secara umum untuk dianalisis dalam pengambilan keputusan penilaian investasi adalah: NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), Net B/C (Net Benefit Cost Ratio) dan PP (Payback

period). Berikut ini ringkasan hasil analisis kriteria investasi untuk kedua skenario

(29)

Tabel 13. Ringkasan Analisis Kriteria Investasi Pabrik Minyak Kelapa Sawit

No Kriteria Investasi Skenario I (dana sendiri) Skenario II (pinjaman) 1 NPV 167.518.061.000 - 21.547.710.000 2 IRR 25,94 4,82 3 B/C 1,07 1,02

4 PP 3 tahun, 1 bulan 8 tahun, 1 bulan

5.1.9. NPV (Net Present Value)

Net present value merupakan selisih antara manfaat bersih yang diperoleh dengan

biaya yang dipergunakan dalam proyek, dihitung dengan menggunakan discount rate 1 persen untuk skenario I dan 15 persen untuk skenario II. Discount rate tersebut merupakan cost of capital sebagai opportunity cost dari suatu investasi berdasarkan skenario yang digunakan. Penggunaan discount rate tersebut (7 % dan 15 %) dikarenakan biaya modal yang diinvestasikan ke dalam proyek berasal dari sumber yang berbeda, sehingga biaya yang ditimbulkan oleh setiap keputusan investasi tidak sama.

Hasil analisis menunjukkan NPV bernilai positif pada discount rate 1 persen untuk skenario I, sebesar Rp. 167.518.061.000 dan skenario II pada discount rate 15 persen bernilai negatif sebesar Rp. 21.547.710.000 selama 10 tahun. Nilai NPV positif pada skenario I merupakan indikasi bahwa rencana investasi pembangunan pabrik kelapa sawit layak untuk dilaksanakan karena hasil yang diperoleh lebih besar dari nol. Sementara nilai NPV negatif pada skenario II mengindikasikan bahwa pembangunan PMKS tidak layak dilaksanakan secara finansial.

5.1.10. IRR (Internal Rate of Return)

(30)

66

menghasilkan jumlah kas yang sama dengan jumlah investasi proyek.

Hasil analisis menunjukkan nilai IRR 25,94% pada skenario I dan 4,82% pada skenario II. Hal ini menunjukkan bahwa rencana pembangunan PMKS mampu menghasilkan opportunity cost yang lebih besar daripada cost of capital yang diinginkan pada skenario I, sehingga layak untuk dilaksanakan. Sedangkan pada skenario II nilai IRR lebih rendah dari cost of capital yang telah ditentukan, sehingga tidak layak untuk dilaksanakan ditinjau dari aspek finansial.

5.1.11. Net B/C (Net Benefit Cost Ratio)

Net benefit cost Ratio merupakan seberapa besar manfaat yang dapat diterima dari

setiap investasi yang dikeluarkan. Hasil analisis rencana pembangunan PMKS menghasilkan nilai B/C Ratio 1,07 pada skenario I dan 1,02 pada skenario II. Artinya keuntungan yang dihasilkan dari proyek ini pada skenario I, lebih besar dibandingkan skenario II, sehingga pembangunan PMS dipilih yang layak untuk dilaksanakan adalah skenario I. Sedangkan pada skenario II manfaat yang dihasilkan lebih kecil dari biaya yang diinvestasikan.

5.1.12. PP (Payback Period)

Analisa payback period dilakukan bertujuan untuk mengetahui jangka waktu pengembalian investasi. Hasil analisis proyek pembangunan PMKS ini akan mencapai titik pengembalian pada saat proyek berumur 3 tahun 1 bulan pada skenario I dan 8 tahun 6 bulan pada skenario II. Bila ditinjau dari umur proyek pabrik kelapa sawit yang mencapai 10 tahun, maka pembangunan pabrik memungkinkan dan layak untuk dilaksanakan karena jangka waktu pengembalian investasi lebih kecil dari umur proyek.

5.2. Analisis Sensitivitas

(31)

dibutuhkan terhadap perubahan biaya produksi dan harga penjualan diuarikan sebagai berikut:

Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat tingkat kepekaan PMKS terhadap perubahan kondisi diluar asumsi yang telah dibuat pada waktu pembuatan rencana pembangunan PMKS. Analisis sensitivitas yang dilakukan pada dua indikator, yaitu bila terjadi kenaikan biaya dan penurunan harga produksi sebesar 20%. Penetapan kenaikan biaya produksi sebesar 20% ini dilakukan mengantisipasi sebagian komponen alat atau sparepart PMKS harus dibeli dari luar sebesar 30% dan lokal 70%. Sedangkan penurunan harga produksi sebesar 20% merupakan tingkat toleransi yang dianggap wajar disebabkan oleh faktor-faktor non teknis yang mungkin terjadi di lapangan.

a. Kenaikan Biaya Produksi (20 %)

Pada indikator kenaikan biaya produksi, analisis sensitivitas dilakukan dengan asumsi terjadinya kenaikan biaya produksi sebesar 20%. Semua variabel biaya produksi diproyeksikan mengalami kenaikan kecuali biaya pembelian TBS, dan biaya asuransi. Pengecualian dilakukan karena harga TBS memiliki korelasi dengan kenaikan dan penurunan harga CPO dan Kernel. Sedangkan biaya asuransi sifatnya relatif tetap. Hasil analisis sensitivitas kenaikan biaya produksi sebesar 20% disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14. Ringkasan Hasil Analisis Sensitivitas pada Kenaikan Biay Produksi Sebesar 20 %

Kriteria Investasi Skenario I (dana sendiri) Skenario II (pinjaman)

NPV 105.155.244.000 - 37.527.614.000

IRR 23,07 -0,5

(32)

68

dan masih memberikan manfaat dan layak untuk dilaksanakan. Sedangkan pada skenario II tidak layak untuk dilaksanakan, hal ini dapat dilihat melalui nilai NPV yang negatif, IRR di bawah cost of capital dan B/C rasio yang lebih kecil dari B/C rasio skenario I.

b. Penurunan Harga Produksi (20 %)

Analisis sensitivitas dengan dengan asumsi penurunan harga produksi sebesar 20 persen. Penurunan harga akan berdampak terhadap harga pembelian bahan baku dan biaya bahan pembantu dalam proses produksi serta pendapatan dari penjualan CPO dan PKO. Hasil analisis sensitivitas penurunan harga produksi sebesar 20% disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Ringkasan Hasil Analisis Sensitivitas pada Penurunan Harga Produksi Sebesar 20%

Kriteria Investasi Skenario I (Dana Sendiri) Skenario II (Pinjaman)

NPV 240.051.590.000 - 19.259.087.000

IRR 25,29 10,82

B/C 1,15 1,08

PP 6 tahun, 3 bulan 9 tahun, 6 bulan

Dari hasil analisis yang dilakukan jika terjadi penurunan harga produksi sebesar 20%, pembangunan PMKS pada skenario I masih layak untuk dilaksanakan berdasarkan kriteria-kriteria investasi yang digunakan. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan harga pada tingkat toleransi 20% pada skenario I masih dapat memberikan manfaat dan tidak mengganggu aktivitas PMKS, namun tingkat pengembaliannya (PP) lebih lama. Sementara pada skenario II tidak layak untuk dilaksanakan.

Berdasarkan hasil analisis kelayakan di atas maka hipotesis penelitian yang diajukan bahwa investasi pembangunan PMKS kapsitas 30 ton TBS/Jam layak untuk dilaksanakan diterima.

(33)

5.3. Analisis Kelayakan Aspek Non Finansial

Analisis Kelayakan Investasi berdasarkan aspek non finansial meliputi aspek teknis, sosial, manajemen, dan pasar diuraikan sebagai berikut:

5.3.1. Aspek Teknis

Aspek teknis dalam penelitian ini merupakan aspek non finansial terkait dengan aspek operasi dalam menjalankan PMKS setelah proyek pembangunan selesai dibangun, sehingga jika tidak dianalisis dengan baik akan berakibat fatal bagi proyek dikemudian hari. Kelengkapan kajian aspek teknis sangat tergantung dari jenis usaha yang dijalankan, karena setiap usaha memiliki karakteristik dan prioritas tersendiri. Aspek teknis dilakukan untuk melihat kesiapan pelaksana proyek dalam menjalankan usaha dalam hal ketepatan lokasi, bahan baku, proses produksi dan mutu produk yang dihasilkan.

5.3.1.1 Lokasi Pabrik

Secara administrasi lokasi PMKS terletak di Desa Panton, Ujung Krueng Mon Dua, Neubok Yee PP, Neubok Yee Peutua K, Pasi Keubeu Dom dan Drien 7, Kecamatan Tadu Raya da Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya Provinsi NAD. Untuk mencapai lokasi Kebun dapat ditempuh dari Kota Meulaboh arah Kota Tapak Tuan. Setelah tiba di Desa Alue Bata berbelok ke arah Selatan. Lokasi Kebun berada di tepi jalan Meulaboh-Tapaktuan. Dari Kota Meulaboh keLokasi Kebun berjarak ± 10 Kmdengan waktu tempuh ± 90 menit menggunakan kenderaan bermotor dengan konstruksi jalan aspal sedangkan konstruksi jalan ke lokasi kebun adalah perkerasan

(34)

70

secara umum meliputi: (1) Stasiun Penerimaan TBS

Jembatan timbangan (weighbridge) dengan kapasitas 30.000 kg. Loading

Ramp (tempat penimbun TBS) dengan 8 pintu digerakkan secara hydraulic

dengan kapasitas ±12,5 ton TBS per pintu dipasang berdekatan dengan

loading ramp.

(2) Stasiun perebusan (Sterilizer)

Sterilizer sebanyak 2 (dua) unit ukuran diameter 2.700 mm, dengan panjang

± 22.000 mm yang memuat 7 (tujuh) lori sekali merebus TBS. Lori (fruit

cages) mempunyai kapasitas 5 ton TBS unit dengan memakai “bronze bushing” dan Roller Bearing. Sterilizer dioperasikan secara automatis.

Dengan sistem automatis bisa melaksanakan perebusan “triple peak” yang banyak digunakan di beberapa PMKS di Sumatera Utara.

(3) Stasiun Penebah (Threshing Station)

Hoisting Crane (satu) unit yang dioperasikan di atas lantai dengan

ketinggian ± 7 m untuk mengangkat fruit cages. Fruit Cages diangkat ± 50 cm diatas lantai dan 1 (satu) unit Bunch Conveyor serta 1 (satu) unit mesin penebah (Thresher).

(4) Stasiun Kempa (Pressing Station)

Kempa (screw press) sebanyak 2 (dua) unit dengan kapasitas 15 ton TBS/jam dan sebanyak 2 (dua) unit mesin pelumat (Digester) dengan kapasitas 3.500 L.

(5) Stasiun Pemurnian (Clarification Station)

(35)

(dua) unit mesin Purifier dan 1 (satu) unit mesin pengering Vacuum Dryer merupakan mesin-mesin pemurnian termasuk perlengkapannya, seperti pompa vakum, pompa transfer dan lain-lain. Pemurnian secara terus-menerus (continue) melalui sistem ini 5 (lima) unit tangki, yaitu :

1. Continuous Settling Tank (C.S.T) 2. Sludge Oil Tank (S.O.T)

3. Hot Water Tank (H.W.T) 4. Pure Oil Tank (P.O.T) 5. Sludge Drain Tank (S.D.T) (6) Stasiun Kernel (Kernel Recovery Plant)

Cracked mixture akan diproses dengan memakai proses kering yaitu “Dry Separation Coloumn”, dimana kernel utuh dikirim langsung ke kernel silo

kemudian kernel dan sebagian cangkang (shell) akan dikirim ke

hydrocyclone untuk pemisahan selanjutnya melalui LTDS dan

hydrocyclone. Kernel yang kering akan ditimbun di Bulk Silo.

(7) Water Supply

Yang termasuk dalam water supply adalah : 1. Raw Water Treatment Plant

2. Boiler Feed Water Treatment Plant (8) Steam Boiler

(36)

72

(9) Pembangkit Tenaga Listrik (Generator)

Turbin kapasitas 900 KW 1 (satu) unit dan 2 (dua) unit diesel generator set 350 KW (400 KVA) dan 200 KW untuk start up/shut down boiler.

(10) Pengendalian Air Limbah (Effluent Treatment Plant)

Pengendalian air limbah PMKS melalui kolam limbah menggunakan

cooling tower, pompa recirculation, surface aerator dan pipa-pipa termasuk

pipa untuk pembuatan kolam limbah. (Lampiran 1). 5.3.1.3 Proses Produksi

Proses pengolahan TBS menjadi minyak sawit dan minyak inti sawit, terdiri dari proses ekstraksi secara mekanis dilanjutkan dengan proses pemurnian. Dimana pentahapan pengolahan atau diagram alir proses produksi dari TBS sampai menjadi CPO/PKO. Adapun beberapa Stasiun Proses Pengolahan TBS menjadi CPO dan PKO di PT. Beurata Subur Persada secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

(1) Stasiun Penerimaan TBS

Tandan buah segar (TBS) yang diterima dari kebun di angkut dengan truk atau trailer kemudian di timbang. Penimbangan dilakukan untuk mengetahui volume TBS yang masuk ke pabrik dan lain-lain. Setelah dilakukan penimbangan, kemudian dilakukan penyortiran untuk menentukan berapa persen TBS yang layak diterima untuk diproses. Kemudian disimpan di Loading Ramp sebelum dapat diproses pada proses pengolahan pertama (sterilisasi). Sebaiknya dari proses penerimaan, penimbangan sampai penyimpanan, waktu yang dipergunakan harus sependek mungkin, untuk dapat menghindari penurunan kualitas.

(37)

Tahapan pertama dalam proses ekstraksi minyak dan kernel dari TBS setelah ditimbang adalah proses perebusan. Keberhasilan dalam proses perebusan akan sangat mempengaruhi effisiensi dari proses ekstraksi.

(3) Stasiun Penebah (Threshing Station)

Selanjutnya TBS yang sudah direbus dilanjutkan pada stasiun penebah untuk memisahkan berondolan dan janjangan agar berondolan saja yang dipress untuk mendapatkan CPO dan PKO.

(4) Stasiun Kempa (Pressing Station)

Berondolan yang sudah terpisah dari janjangan dilakukan pelumatan dan proses kempa/pengepresan. Kemudian minyak yang masih bercampur air keluar melalui dinding press cage yang mempunyai perforasi untuk dimurnikan serta ampas + biji keluar dari Cylinder press cake untuk dipisahkan. Proses pengepressan merupakan dasar perhitungan kapasitas pabrik, oleh sebab itu harus dioperasikan secara optimal.

(5) Stasiun Pemurnian (Clarification Station)

Crude Oil dan air yang keluar dari screw press pada proses pengepressan di

pompakan ke crude oil gutter sebelum masuk ke sand trap tank. Kemudian dari

sand trap dialirkan ke vibrating screen (saringan getar), untuk memisahkan serabut

fiber yang terbawa. Saringan getar ini adalah saringan berganda yang berfungsi untuk menyaring minyak (crude oil) yang masih mengandung kotoran. Minyak kemudian ditampung dalam separating tank. Minyak yang keluar dari separating tank dimurnikan dalam purifier (oil purifier) secara sentrifugal untuk menurunkan

(38)

74

selama penyimpanan dalam storage tank. (6) Stasiun Kernel (Kernel Recovery Plant)

Setelah selesai pemisahan ampas dan nuts yang keluar dari screw press masuk ke dalam depericarper. Selanjutnya nuts diolah pada satasium kernel untuk mendapat PKO. Biji-biji tersebut dikeringkan dengan udara panas dalam silo untuk menurunkan kadar air yang ada pada inti (kernel) dan pada cangkang (shell) supaya mudah pemisahan inti dengan cangkang. Pemisahan dilakukan dengan dry separator system, Sebelum dipisahkan terlebih dahulu biji dipecahkan dengan nut cracker. Inti (kernel) yang sudah terpisah dikeringkan lagi dalam silo (Kernel Silo), kemudian kernel yang sudah kering sebagian diolah di kernel plan dengan sistim press.

(7) Water Supply

Stasiun ini mendistribusikan air untuk keperluan pabrik, perumahan dan kantor. (8) Steam Boiler

Stasiun ini mendistribusikan steam untuk turbin sebagai penggerak generator untuk keperluan pabrik, perumahan dan kantor.

(9) Pembangkit Tenaga Listrik (Generator)

Stasiun ini menditribusikan listrik untuk keperluan pabrik, perumahan dan kantor ketika turbine tidak beroperasi.

5.3.1.4 Mutu Produk

Kualitas CPO terutama ditentukan oleh kadar asam lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA), dan Kadar Kotoran. Biasanya TBS yang dipanen menurut kriteria matang yang normal mengandung kadar FFA = 1,2 persen. Pada saat memanen, kemudian ditumpuk dan menunggu transportasi ke pabrik akan naik 0,75 persen dan selama pengolahan FFA akan naik sekitar 0,3 persen. Jadi CPO yang baik

(39)

2003).

Mutu minyak kelapa sawit yang baik, umumnya mempunyai: 1. Kadar air < 0,1%

2. Kadar kotoran < 0,01%

3. Kandungan asam lemak bebas, serendah mungkin. yaitu < 2% 4. Bilangan peroksida < 2

5. Bebas dari warna merah & kuning, tidak berwarna hijau, harus berwarna pucat dan jernih.

6. Kandungan logam berat serendah mungkin, bahkan bebas dari ion logam. Berdasarkan aspek teknis secara umum tidak di temukan hambatan yang berarti aktivitas proses produksi dan operasional pabrik minyak kelapa sawit terutama menyangkut ketersediaan bahan baku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembangunan pabrik minyak kelapa sawit dengan kapasitas produksi 30 ton TBS per jam dari segi aspek teknis sangat mendukung dan layak untuk dilaksanakan. 5.3.2 Aspek Sosial

Kegiatan pabrik minyak kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton TBS/jam dapat digolongkan ke dalam kegiatan investasi berskala besar yang dilaksanakan dan diharapakan akan memebrikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar dan ketersedian man power lokal lebih baik melalui penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kawasan perkebunan telah menyebabkan munculnya sumber-sumber pendapatan baru yang bervariasi. Sebelum dibukanya kawasan perkebunan di pedesaan, pendapatan masyarakat relatif homogen, yakni menggantungkan hidupnya pada sektor primer, memanfaatkan sumberdaya alam

(40)

76

berkaitan dengan tenaga kerja langsung serta tenaga teknis di lapangan memiliki porsi yang cukup besar. Berdasarkan hal tersebut, perputaran uang yang terjadi di lokasi dalam jangka panjang diperkirakan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di wilayah ini dengan tumbuhnya perdagangan dan jasa. Hal ini memberikan arti bahwa kegiatan perkebunan kelapa sawit di pedesaan menciptakan multiplier effect, terutama dalam lapangan pekerjaan dan peluang berusaha. Hasil dari pengusahaan perkebunan kelapa sawit diproses di PMKS.

Aktivitas pembangunan perkebunan kelapa sawit yang melibatkan banyak tenaga kerja dan investasi yang relatif besar untuk industri hilirnya, diperkirakan secara positif merangsang, menumbuhkan dan menciptakan lapangan kerja serta lapangan berusaha. Melalui kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan selama proses kegiatan perkebunan kelapa sawit dan pembangunan industri hilirnya akan mempunyai keterkaitan ke belakang (backward linkages). Pada proses kegiatan ini akan muncul antara lain jasa kontruksi, jasa buruh tani, jasa angkutan, perdagangan pangan dan sandang, perdagangan peralatan kerja serta bahan dan material yang dibutuhkan selama proses tersebut. Kegiatan ekonomi waktu pascapanen dan proses produksi akan mempunyai keterkaitan ke depan (foreward linkages). Proses foreward linkages yang diperkirakan akan muncul adalah sektor jasa, antara lain: angkutan, perhotelan, koperasi, perbankan, perdagangan, industri kecil di pedesaan yang memproduksi alat produksi pertanian (alsintan).

Perkebunan yang diusahakan secara swadaya sepertinya jalan sendiri tanpa bergantung kepada inti. Untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit ke depan dirancang berbentuk kemitraan antara petani dengan perusahaan inti, dimana petani memiliki kebun kelapa sawit dan ikut pemilikan modal pada PMKS. Untuk merangsang investor melakukan investasi yang berbasis pedesaan, maka harus ada

(41)

kebijakan pemerintah daerah terhadap kegiatan investasi tersebut. Kebijakan itu antara lain; memperpendek rantai birokrasi perizinan; membebaskan PPN dalam jangka waktu tertentu; atau pengurangan pemotongan pajak penghasilan. Sehingga biaya produksi dapat ditekan. Dampak lain dengan adanya proyek PMKS adalah penanganan limbah PMKS, yakni menghindari buangan limbah tidak langsung dilakukan ke perairan bebas misalnya sungai, sehingga perusahaan dinilai memiliki tanggung jawab di dalam menjaga kelestarian lingkungan.

5.3.3. Aspek Manajemen

5.3.3.1 Bentuk dan Struktur Organisasi

Bentuk badan usaha yang digunakan adalah perusahaan terbatas (PT). Struktur organisasi yang merupakan keseluruhan dari organisasi manajemen proyek pembangunan PMKS disajikan pada Gambar 3

Manager KTU Asisten Krani Produksi Pembukuan Mandor Pabrik Bagian Pembelian/Penjual Mandor Bengkel Krani Bagian Laboratorium Security Operator Proses

(42)

78

Struktur organisasi yang merupakan keseluruhan dari organisasi manajemen proyek pembangunan PMKS. Pembangunan dan segala aktivitas yang berkaitan dengan pengoperasian secara sentralistik dikendalikan oleh top manajemen. Sedangkan pelaksanaan kegiatan produksi dan operasional PMKS didelegasikan langsung kepada manajer pabrik.

Berdasarkan hasil analisis aspek manajemen menunjukkan bahwa dari aspek organisasi manajerial dan ketersediaan kebutuhan tenaga kerja cukup mendukung untuk pengelolaan dan pengoperasian pabrik, sehingga pembangunan PMKS layak untuk dilaksanakan.

5.3.3.2 Penyerapan Tenaga Kerja

Penyerapan dan rekruitmen tenaga kerja mulai dilakukan pada saat masa kontruksi tetapi dalam jumlah terbatas. Pada umumnya merupakan tenaga kerja kontraktor pelaksana pembangunan pabrik. Rekruitmen tenaga kerja dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Pada tahap pertama dilakukan untuk keperluan pengawasan dan alih teknologi pabrikasi pabrik kelapa sawit. Tahap berikutnya dilakukan untuk kebutuhan tenaga kerja pada saat pabrik beroperasi secara komersial. Komposisi penggunaan tenaga kerja untuk pengoperasian pabrik minyak kelapa sawit, terdiri dari tenaga kerja staf dan non staf.

Komposisi penggunaan tenaga kerja untuk pengoperasian pabrik di bagi menurut tugas, wewenang dan fungsi dari pekerjaan yang ada sesuai dengan tingkat kebutuhan. Sebelum ditempatkan, semua tenaga kerja terlebih dahulu di berikan pelatihan dan training. Jumlah kebutuhan tenaga kerja pabrik seluruhnya diperkirakan 113 orang dengan komposisi; tenaga kerja proses sebanyak 49 orang, tenaga kerja kantor sebanyak 18 orang, laboratorium sebanyak 11 orang, security 12

(43)

orang, tenaga kerja bengkel 20 orang, office boy 1 orang, tukang kebun 1 orang, supir 1 orang.

Tabel 17. Komposisi Pengunaaan Tenaga Kerja PMKS Kapasitas 30 ton TBS/Jam

Jabatan Jumlah (orang)

Manajer

Asisten Manager

KTU (Adm & keuangan) Kepala Departemen Proses Kantor Keamanan Laboratorium Sopir Bengkel/workshop office boy Tukang Kebun 1 3 1 2 49 11 12 11 1 20 1 1 Jumlah 113

Berdasarkan analisis aspek manajemen menunjukkan bahwa dari aspek organisasi manajerial dan ketersediaan kebutuhan tenaga kerja cukup mendukung untuk pengelolaan dan pengoperasian pabrik, sehingga pembangunan pabrik kelapa sawit layak untuk dilaksanakan.

5.3.4. Aspek Pasar

Analisis aspek pasar berkaitan dengan seberapa besar pasar merespon terhadap barang atau jasa yang diproduksi baik dari sisi permintaan, penawaran, harga, dan cara pemasaran, sehingga produk dapat memberikan manfaat bagi konsumen yang mengkonsumsi dan menggunakan produk. Minyak CPO merupakan salah satu produk perkebunan yang memiliki nilai tinggi dan banyak diperdagangkan di

(44)

80

energi terbarukan.

Minyak CPO merupakan salah satu produk perkebunan yang memiliki nilai tinggi dan banyak diperdagangkan di pasar dunia. Cerahnya prospek CPO di masa yang akan datang, merupakan peluang pasar yang sangat menjanjikan bagi produsen minyak kelapa sawit termasuk Indonesia. Meningkatnya permintaan dunia terhadap CPO setiap tahunnya menyebabkan perkembangan harga CPO cenderung mengalami kenaikan rata-rata 6,7% per tahun. Di sisi lain, pertumbuhan pasokan CPO dunia terbatas, karena daerah ekologi yang cocok untuk penanaman (perkebunan kelapa sawit), terletak pada beberapa daerah tertentu di Afrika Barat, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Dari semua daerah tersebut, hanya Indonesia dan Malaysia yang menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama dari segi luas areal yang ditanam maupun tingkat produksi minyak kelapa sawit yang dihasilkan.

Kebutuhan dunia akan CPO diproyeksikan akan terus meningkat diikuti dengan peningkatan ekspor yang tentunya masih memiliki peluang besar. Perkembangan yang signifikan dalam penggunaan bahan bakar bio, menjadikan sebagai salah satu sumber minyak nabati yang prospektif.

Permasalahan yang menjadi hambatan terhadap produksi CPO di Indonesia ada 2, yaitu ; (1) hambatan internal yaitu : (a) rendahnya produktivitas tanaman; (b) dengan bertambahnya luas areal perkebunan kelapa sawit dan meningkatnya produksi CPO, maka diperlukan peran pemerintah dalam promosi dan sosialisasi kepada negara-negara importir; (c) kurang berkembangnya industri hilir, sehingga yang diekspor bukan hanya CPO tetapi juga dalam bentuk turunan CPO

(45)

(Republika, 2008), (d) kebijakan pemerintah dalam penetapan bea keluar sebesar 3% bagi eksportir sehingga membuat harga CPO Indonesia menjadi lebih mahal di pasaran internasional; dan (e) Indonesia masih memberlakukan pajak ekspor dengan kebijakan yang berubah-ubah, hal ini akan berdampak terhadap segi penawaran dan permintaan CPO. (2) hambatan eksternal adalah : (a) adanya fluktuasi harga CPO yang tidak stabil yang sangat dipengaruhi oleh nilai tukar kurs terhadap dollar.

(46)

82

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Besar kapasitas PMKS yang dibutuhkan di Kabupaten Nagan Raya pada saat ini berdasarkan jumlah TBS yang tersedia seharusnya adalah 135 ton TBS/jam (kapasitas 105 ton TBS/jam yang sekarang sudah ada dan yang diproyeksikan untuk dibangun kapasitas 30 ton TBS/jam). PMKS yang ada selama ini dijalankan belum optimal karena dioperasikan selama 14 jam kerja (2 shift) yang seharusnya 21 jam kerja (3 shift), sehingga perlu mengoptimalkan jam kerja PMKS agar sisa TBS yang tidak terproses minim. Namun untuk 2 atau 3 tahun ke depan dengan adanya TBM menjadi TM perlu di estimasi pembangunan PMKS baru dengan kapasitas 120 ton TBS/jam. 2. Investasi pembangunan PMKS sesuai dengan yang dibutuhkan didaerah

penelitian pada saat ini berdasarkan jumlah TBS yang tersedia adalah pembangunan PMKS kapasitas 30 ton TBS/jam. Secara finansial berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, kegiatan investasi pembangunan PMKS kapasitas 30 ton TBS/jam saat ini layak untuk dilaksanakan. Hal ini ditunjukkan hasil studi kelayakan dengan skenario I (modal sendiri) diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 167.518.061.000; IRR sebesar 25,94%; Net B/C sebesar 1,07; dan payback period selama 3 tahun 1 bulan. Sedangkan dengan skenario II (pinjaman) kegiatan investasi pembangunan PMKS tidak layak

(47)

Rp. 21.547.710.000; IRR sebesar 4,82%; Net B/C sebesar 1,02; dan payback

period selama 8 tahun 1 bulan. Total keseluruhan investasi yang dibutuhkan

adalah sebesar Rp. 60.126.327.000.

3. Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pembangunan PMKS kapasitas 30 ton TBS per jam, pada indikator kenaikan biaya produksi sebesar 20 persen masih layak dilaksanakan. Sedangkan berdasarkan indikator penurunan harga produksi sebesar 20 persen pada skenario I masih layak dilaksanakan namun namun tingkat pengembaliannya (payback period) lebih lama. Sementara pada skenario II tidak layak untuk dilaksanakan.

4. Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, aspek pasar, aspek organisasi manajemen dan aspek sosial terhadap pembangunan PMKS kapasitas 30 ton TBS/jam layak untuk dilaksanakan.

6.2 Saran

Berdasarkan hasil analisis dari penelitian maka sebagai saran dalam penelitian ini antara lain :

1 Kepada pengelola PMKS mengupayakan pengoperasian kapasitas optimal PMKS yang layak secara ekonomis di Kabupaten Nagan Raya, yaitu 21 jam kerja (3 shift) untuk meminimalkan sisa TBS yang tidak terproses dan perlu mempertimbangkan pengembangan lebih lanjut CPO menjadi produk turunan seperti minyak goreng, mentega dan yang lainnya dalam rangka menambah pendapatan PMKS.

(48)

84

3. Kepada investor untuk 2-3 tahun ke depan masih berpeluang untuk membangun PMKS kapasitas 120 ton TBS/jam di wilayah Kabupaten Nagan Raya, hal ini terkait dengan hasil kajian tentang luas areal perkebunan dan total produksi TBS di wilayah Kabupaten Nagan Raya.

Gambar

Gambar  Sumber : BP Komposis pada Gra semakin  b Kondisi  sebelumny Nagan Ra remaja, ya berbagai  m kesehatan  pendidikan dapat men 4
Tabel 17.  Komposisi  Pengunaaan  Tenaga Kerja PMKS Kapasitas 30 ton  TBS/Jam

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Membuat program menggunakan Visual Basic 2008 digunakan toolbox yang berisi komponen yang akan digunakan untuk membuat program, kemudian komponen yang sudah

[r]

Hal ini karena proses yang tercipta dalam setiap tahapan Pengelolaan Alokasi Dana Desa tersebut belwn sesuai dengan prinsip pengelolaan dan tujuan Alokasi Dana Desa yang

Anak-anak menjadi penonton segala acara, dari sisi yang positif anak-anak secara tidak sadar akan mencoba dan belajar untuk mengikuti apa yang dilihat pada film

Berikut ini akan disajikan hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada subjek S-2 terkait kemampuan melaksanakan rencana pemecahan masalah,

Untuk aktivitas yang berbentuk penugasan, langkah pertama yang harus dikerjakan adalah meng-klik tugas yang terdapat dihalaman kolom tiap pertemuan (perhatikan gambar diatas).

Peneliti memfokuskan penelitian ini yaitu bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan podcaster dalam membuat konten audio podcast di platform digital Spotify dengan

Ketiga novel itu adalah Pasar (P), Mantra Pejinak Ular (MPU), serta Wasripin dan Satinah (WdS).Novel-novel Kuntowijoyo ini merupakan gambaran bagi orang yang tidak