• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Berbagai bidang dalam kehidupan kita penuh dengan resiko. Pengertian resiko menurut Hillson dan Murray-Webster (2008) adalah “uncertain situation that matter”. Dimana menurut pengertian tersebut, didalam sebuah resiko pasti terdapat dua unsur, yaitu ketidakpastian dan matter. Setiap keputusan yang diambil selalu harus mempertimbangkan dua unsur tersebut, yaitu probabilitas resiko yang mungkin terjadi dan seberapa besar impact (baik impact postif dan impact negatif) yang dihasilkan ketika keputusan tersebut dilakukan.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau membuat keputusan yang beresiko dan penuh ketidakpastian. Perbedaan tersebut seringkali dikaitkan dengan perbedaan risk attitude yang dimiliki oleh seseorang. Dalam banyak hal, orang-orang dipilih berdasarkan preferensi risk attitude yang mereka miliki. Misalnya saja, perusahaan start up akan mencari pegawai baru yang lebih cenderung risk loving dalam hal menggunakan gaji mereka, atau penasihat investasi mungkin akan lebih memilih memberikan prioritasnya untuk client yang memiliki risk attitude yang sesuai dengan kriterianya (Weber et al., 2002).

Perbedaan preferensi seseorang terhadap resiko ataupun risk attitude seseorang tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Hillson dan Murray-Webster (2008) mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi, risk attitude, kemampuan dalam membuat keputusan baik secara individu ataupun berkelompok ke dalam tiga kelompok besar, yaitu conscious factor (situational dan rational), subconscious factors (heuristics or mental short-cuts), dan affective factors (emosi dan perasaan). Salah satu sub-faktor dari faktor utama tersebut adalah faktor kepribadian. Sebagai contoh, kesulitan dalam membuat keputusan

(2)

untuk memilih jenis karir di masa depan dipengaruhi oleh beberapa tipe kepribadian. Seseorang yang memiliki kepribadian extraversion yang kuat atau kepribadian neuroticism yang rendah dalam dirinya cenderung mengalami tingkat kesulitan yang lebih rendah untuk memilih karir masa depan apabila dibandingkan dengan seseorang yang memiliki jenis kepribadian lainnya (Fabio et al., 2014).

Pengambilan keputusan tidak selamanya dilakukan seseorang secara individu, namun juga dilakukan dalam berkelompok. Pekerjaan yang dilakukan dalam tim menyediakan pengalaman nyata dalam bekerja sama, membuat keputusan dalam grup, dan komunikasi yang menuntut anggota tim bisa menyelesaikan task yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individual task dan meningkatkan kemampuan anggota tim terhadap berbagai disiplin ilmu (McCorkle et al., 1999; McKinney & Graham-Buxton, 1993; Rau & Heyl, 1990). Disamping benefit yang bisa didapatkan dari proses pengambilan keputusan yang dilakukan dalam tim tersebut, terdapat beberapa problem yang tidak jarang terjadi didalam sebuah tim, seperti tujuan tim yang belum jelas, konflik yang tidak bisa diatasi, dan partisipasi individu terhadap keputusan tim yang tidak merata antara satu individu dengan individu lainnya (Cox & Bobrowski, 2000; McCorkle et al., 1999; Rau & Heyl, 1990).

Sebagai contoh, dalam kasus pengambilan keputusan untuk menentukan status Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan) yang diketuai oleh Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, serta Dewan Gubernur Bank Indonesia berperan sebagai group decision making yang harus menentukan keputusan sebagai langkah penyelamatan Bank Century. Karena terdiri dari berbagai bidang ilmu yang berbeda, maka masing-masing anggota dalam group tersebut dapat saling bertukar pikiran dalam menentukan keputusan terbaik untuk menyelamatkan Bank Century dengan mempertimbangkan dampak yang akan terjadi ketika keputusan tersebut dilaksanakan. Meskipun dalam proses penentuan keputusan tersebut sempat terjadi perbedaan pandangan dimana Dewan Gubernur BI tidak menginginkan Bank Century ditetapkan sebagai bank gagal, namun pada akhirnya dengan adanya

(3)

kegiatan check and balancing terhadap data-data yang ada, semua anggota group decision making termasuk Dewan Gubernur BI menyetujui penetapan status Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Sehingga dengan demikian, Bank Century dapat diselamatkan dengan menggunakan Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) dimana bank tersebut mendapatkan dana talangan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Walaupun keputusan dalam penetapan status Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik tersebut sudah tepat untuk menyelamatkan Bank Century dan menjadi langkah pencegahan agar tidak terjadi krisis seperti tahun 1997/1998, ternyata beberapa anggota group decision making terkait kasus Century belum memiliki pandangan yang sama atau tujuan yang sama dengan tujuan yang ingin dicapai oleh group decision making tersebut. Hal ini terlihat dari skandal penyalahgunaan bail out (dana talangan) yang diberikan untuk menangani bank gagal (Bank Century) oleh beberapa mantan Deputi Gubernur BI. Padahal, tujuan sebenarnya yang ingin dicapai group decision making dalam penetapan Bank Century sebagai bank gagal dan pemberian FPJP adalah untuk menyelamatkan Bank Century dan menghindari krisis ekonomi di dalam negara, namun justru digunakan demi kepentingan pribadi sehingga menyebabkan kerugian negara.

Selain benefit dan problem yang telah dijabarkan sebelumnya, dalam sebuah group decision making ada kecenderungan untuk terjadi sebuah fenomena yang disebut dengan “risky shift”. Dion, Baron, & Miller (1970) membuktikan bahwa seseorang cenderung mengambil resiko yang lebih besar dalam kelompok bila dibandingkan ketika mengambil keputusan secara individu dalam permasalahan “choice-dillema”. Myers & Arenson (1972) menjelaskan perbedaan pada risk taking tergantung pada nilai distribusi awal risk taking sebuah kelompok atau dengan kata lain, perbedaan yang terjadi merupakan hasil dari sebuah extremity atau proses “polarization”. Hal ini berarti groups’ risk taking akan semakin lebih berhati dalam pengambilan keputusan ketika semua anggotanya bersikap hati-hati dan lebih berani ketika semua anggotanya bersikap pemberani. Di lain hal,

(4)

Dahlback (2003) menyebutkan bahwa fenomena “risky shift” ini lebih tepat disebut sebagai “choice shift” untuk mendeskripsikan perubahan pada group risk taking.

Melihat banyaknya keputusan yang beresiko dalam kehidupan nyata yang ditentukan secara berkelompok serta adanya kecenderungan perubahan yang terjadi pada keputusan kelompok ketika berbagai pengaruh faktor bawaan/faktor yang melekat pada beberapa individu dikombinasikan menjadi satu dalam sebuah kelompok, maka penelitian ini akan mencoba untuk melihat apakah faktor kepribadian dan faktor risk attitude individu dapat mempengaruhi pergeseran keputusan kelompok. Dalam hal ini, pengaruh yang dilihat adalah pengaruh yang terkait dengan risk attitude group yang terbentuk ketika anggota kelompok dengan risk attitude yang berbeda atau tipe kepribadian yang berbeda dikomposisikan dalam sebuah kelompok. Adanya pergeseran keputusan kelompok tersebut ditentukan dengan membandingkan risk attitude ketika responden melakukan task secara individu dan risk attitude ketika responden melakukan task dalam kelompok. Pada tahap lebih lanjut, akan dilakukan perbandingan nilai mean dan median individual risk attitude anggota di dalam komposisi sebuah kelompok terhadap group risk attitude yang terbentuk untuk menentukan perlu mengembangkan group utility function atau tidak.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan sebelumnya, maka penelitian ini akan berfokus untuk mengetahui pengaruh faktor kepribadian dan faktor risk attitude individu yang dikomposisikan di dalam sebuah grup terhadap risk attitude grup yang terbentuk dalam proses pengambilan keputusan.

1.3. Asumsi dan Batasan Masalah

Asumsi dan batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(5)

1. Objek penelitian ini hanya berupa sampel dari populasi Mahasiswa Sarjana Program Studi Teknik Industri UGM angkatan 2012.

2. Risk attitude yang diukur adalah risk attitude secara umum, bukan domain specific.

3. Interaksi antara basic preferensi dari keempat dikotomi tipe kepribadian MBTI tidak diperhitungkan.

4. Pengambilan keputusan dalam kelompok hanya dilakukan sekali dan hanya melalui konsensus.

5. Proses pembentukan grup dilakukan berdasarkan kombinasi risk attitude individu dan tipe kepribadian seseorang.

6. Interaksi antara risk attitude dan tipe kepribadian belum dipertimbangkan. 7. Metode eksperimen yang digunakan untuk mengidentifikasi risk attitude

belum mempertimbangkan unsur “loss”.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan utama pada penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui pengaruh risk attitude individu dan tipe kepribadian seseorang terhadap pergeseran group risk attitude dalam membuat suatu keputusan.

Adapun tujuan utama tersebut dapat dijabarkan lagi menjadi beberapa bagian, yaitu.

1. Mengukur risk attitude individu dan tipe kepribadian seseorang menggunakan instrumen yang sudah digunakan pada penelitian-penelitian sebelumnya.

2. Mengukur group risk attitude berdasarkan hasil konsensus yang telah disepakati.

3. Menganalisis pengaruh komposisi individual risk attitude atau tipe kepribadian tertentu di dalam kelompok terhadap group risk attitude yang terbentuk.

(6)

4. Menganalisis pengaruh insentif yang diberikan secara real dan hypothetical terhadap group risk attitude yang terbentuk.

5. Menganalisis pergeseran group risk attitude dalam menentukan keputusan, dimana pergeseran tersebut dilihat dari perbandingan antara individual risk attitude ketika responden melakukan task secara individu dan group risk attitude yang terbentuk ketika responden melakukan task di dalam kelompok.

6. Menganalisis apakah pergeseran keputusan kelompok yang terjadi dapat ditentukan hanya dengan merata-ratakan atau mengambil nilai tengah individual risk attitude anggota yang ada di dalam kelompok.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik individu mana yang relevan dengan tingkat pengaruhnya dalam group decision making sehingga diharapkan untuk selanjutnya bisa digunakan dalam tahap pengembangan kualitas pengambilan keputusan di dalam kelompok.

Referensi

Dokumen terkait

Salah satunya penelitian terhadap situs berita radar malang yang penulis lakukan yang bertujuan untuk mengklasifikasikan jenis berita yang sesuai dengan konten berita pada

Program GERNAS ini adalah suatu terobosan yang inovatif dan berpotensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao, khususnya petani di Kawasan Timur Indonesia..

We describe a method for measuring sap flow through lateral roots using constant temperature heat balance gauges, and the application of this method in a study of complementarity

[r]

Pengaruh audit internal ditunjukkan oleh R 2 (koefisien determinasi) dari analisis regresi, R 2 ini menunjukkan proporsi atau presentase variasi total dalam

Pada komponen penafsiran, tidak ada subjek yang mampu mencari hubungan perintah soal dengan jawaban contoh soal untuk dapat menggunakan kaitan konsep tersebut dalam

Hasil dari penelitian menunjukan bahwa ukuran Pemda tidak berpangaruh terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten /Kota di Provinsi Jambi, hal itu disebabkan

[r]