BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
A. Sejarah Ringkas PT. Agung Sumatera Samudera Abadi
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi secara legalitas berdiri pada tanggal 25 Januari 1997 sesuai dengan akta pendirian perseroan Terbatas No. 12 dihadapan Purnama, SH Notaris di Sibolga. Namun Usaha ini berjalan secara komersil sejak tahun 1987 dimulai dari usaha perorangan yang dirintis langsung oleh Bapak Ali Udin Pohan yang saat ini menjabat sebagai Direktur perusahaan dan pemegang saham mayoritas.
Usaha ini bergerak dalam bidang usaha perdagangan ikan sekaligus cold storage. PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan berkedudukan di Jl. Sei
Padang No. 58 Medan. Lokasi usaha berada di Jl. Gatot Subroto No. 110 Sarudik Tapanauli Tengah, menempati luas lahan 13.867 dimana luas lahan tersebut berdiri bangunan kantor, bangunan cold storage, lespon, tangkapan, tempat pendaratan ikan yang mampu menampung 25 unit kapal penangkapan ikan, kapasitas cold storage yang ada saat ini untuk pembekuan ikan.
Disamping lokasi yang ada di Tapteng perusahaan juga memiliki lokasi usaha yang berada dikomplek pergudangan Kosambi/Jakarta berupa cold room dan saat ini telah dilengkapi fasilitas pembekuan dengan kapasitas 24 ton ikan beku per hari.
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi telah berkembang dari sebuah perusahaan perdagangan menjadi rumah perdagangan internasional yang berdiri
kokoh. Setelah pengembangan dan pembangunan selama bertahun-tahun, kelompok kami yang terdiri-dari tim manajemen dan staf produksi profesional dan berpengalaman menjamin pelayanan yang sangat efisien, produk bermutu tinggi dan tentu saja harga yang kompetitif.
• Kelompok kerja yang berkomitmen dan berpengalaman tahu benar "Mutu dan Nilai".
• Penyalur utama bagi perdangangan grosir, supermarket, hotel, toko eceran, jasa makanan.
• Mengekspor kointainer penih dan gabungan keseluruhan bagian dunia.
1. Visi PT. Agung Sumatera Samudera Abadi
Menjadi rekan bisnis dalam industri perikanan yang paling berharga serta senantiasa mampu bersaing dan tumbuh berkembang dengan sehat.
2. Misi PT. Agung Sumatera Samudera Abadi
Misi PT. Agung Sumatera Samudera Abadi adalah sebagai berikut :
a. Memperluas usaha dan jaringan penjualan ekspor serta bakat dalam bisnis perikanan.
b. Menghasilkan laba yang pantas untuk mendukung pengembangan perusahaan.
c. Meningkatkan mutu produk yang lebih baik dan efisien
d. Menjalin kemitraan dan kerjasama dengan pemasok dan penyalur yang saling menguntungkan
e. Memberikan perhatian yang tulus kepada masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, dukungan pembinaan sosial dan lingkungan.
B. Struktur Organisasi dan Personalia
Untuk menjalankan perusahaan pada umumnya diperlukan struktur organisasi yang nantinya terdapat pembagian tanggungjawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan perusahaan, sehingga nantinya tercipta suatu kerjasama yang baik dalam pencapaian tujuan organisasi. Tanpa adanya struktur organisasi yang baik maka tujuan perusahaan akan sulit dicapai. Struktur organisasi perusahaan ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. Agung Sumatera Samudera Abadi DIREKTUR
SEKRETARIS G. MANAJER
1. Pembelian 2. Penjualan
1. Akuntansi 2. Kasir
3. Administrasi
1. Unit Pengiriman
PERDAGANGAN KEUANGAN TRANSPORTASI
MANAJER CABANG
10
C. Uraian Tugas
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi memiliki pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab sesuai dengan bagiannya masing-masing.
1. Direktur
Tugas dari direktur adalah memberikan saran-saran dan masukan yang berarti kepada manajer dan mengawasi jalannya aktifitas perusahaan secara keseluruhan.
2. Manajer
Bertanggung jawab kepada direktur, membina hubungan kerja yang baik dengan koordinasi optimum dan berkelanjutan baik keatas maupun kebawah, memecahkan masalah-masalah yang timbul pada tugas-tugas operasi yang diselesaikan dengan tuntas, memimpin dan mengawasi seluruh tugas operasional yang dilaksanakan oleh departemen
3. Manajer Cabang
a. Mewakili Direksi Pusat menjalankan perusahaan dicabang itu
b. Memberikan laporan kemajuan cabang kepada Direksi Pusat termasuk keuangannya
c. Menjalankan program perusahaan untuk cabang itu / mengejar target 4. Sekretaris
Bertanggungjawab kepada direktur, memberikan pelayanan kesekretariatan kepada para personil perusahaan maupun kepada pihak-pihak luar yang memiliki kepentingan secara keseluruhan.
5. Bagian Perdagangan
Pada bagian ini, ada dua bagian lagi, yaitu : a. Bagian Pembelian :
1) Trading : pembelian karung, tali, kotak untuk pengepakan-pengepakan ikan yang akan diekspor.
2) Lokal : bertugas untuk menentukan segala keperluan-keperluan yang dibutuhkan oleh kantor dan disamping itu ada juga yang ditugaskan untuk membeli ikan-ikan lokal yang akan diekspor.
3) Internasional : bertugas untuk menentukan pembelian-pembelian ikan yang akan diimpor dari luar negeri dengan mengadakan kontrak penawaran setelah disetujui maka pembelian ikan akan segera dikirim dengan waktu yang ditentukan.
b. Bagian Penjualan
Bertanggungjawab dalam melakukan penjualan-penjualan terutama penjualanikan-ikan lokal.
1) Lokal : bertugas melakukan penjualan ikan-ikan lokal didalam negeri 2) Internasional : melakukan penjualan ikan diluar negeri yang disebut
ekspor yang pembayarannya dilakukan dengan Letter of Credit pada bank-bank yang sudah ditentukan
6. Bagian Keuangan
Adalah bagian-bagian yang bertugas dan mengawasi setiap bagian-bagian yang berhubungan dengan bagian penjualan dan bagian pembelian. Bagian
umum ini adalah bagian yang sangat penting dan berpengaruh. Bagian umum ini memiliki 3 bagian, yaitu :
a. Akuntan : menginput, membuat laporan harian, membuat neraca dan membuat buku besar.
b. Kasir : bertanggung jawab atas penerimaan dan pengeluaran keuangan, bertanggung jawab atas administrasi keuangan
c. Administrasi : bertugas untuk memeriksa segala bukti-bukti transaksi yang sudah dibeli dan kemudian pembayaran dilakukan dengan Giro jika jumlah hutang terlalu banyak dan sebaliknya jika hutang tidak terlalu banyak pembayaran dilakukan secara tunai.
7. Bagian Transportasi
Bertugas untuk mengirimkan pesanan konsumen, baik didalam kota maupun diluar kota.
D. Kinerja Usaha Terkini
Di bidang agribisnis dan agroindustri, sektor perikanan termasuk salah satu penyumbang devisa negara non migas cukup besar bersama sektor kehutanan dan perkebunan. Sesuai dengan sasaran yang diharapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Pembangunan Kelautan dan Perikanan tahun 2005 – 2009, kontribusi sektor perikanan terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2009 diharapkan mencapai 5,10%. Sasaran lain yang ingin dicapai adalah total produksi perikanan sebanyak 9,7 juta ton, nilai ekspor perikanan US$5 miliar, konsumsi
ikan penduduk 32,29 kg/kapita/tahun, dan penyediaan kesempatan kerja kumulatif sebanyak 10,24 juta orang.
Untuk mencapai sasaran tersebut, program yang diintensifkan pemerintah antara lain pengembangan industri perikanan terpadu, yang meliputi:
1) Pengembangan industri perikanan tuna terpadu, termasuk inisiasi dan pengembangan awal budidaya tuna untuk menghasilkan tuna segar
2) Pengembangan industri tambak udang terpadu, termasuk pembangunan broodstock, balai benih, revitalisasi backyard hatchery, pabrik pakan, dan pos kesehatan ikan; dan
3) Pengembangan pabrik industri rumput laut terpadu dan massal di daerah produsen di seluruh Indonesia, serta pabrik pengolahan bahan kering menjadi semi-refined products di pusat-pusat industri. Untuk mendukung kontinuitas bahan baku, akan dibangun kebun bibit rumput laut.
Sementara itu, volume ekspor produk perikanan Indonesia sepanjang 2007 mencapai 831.000 ton. Jumlah tersebut mengalami penurunan 1,15%
dibandingkan dengan volume 2006 sebesar 926.478 ton. Namun, nilai ekspornya mengalami kenaikan dari US$2,1 miliar pada 2006 menjadi US$2,3 miliar.
Penurunan itu disebabkan oleh melemahnya ekspor udang yang hanya mencapai 87.917 ton atau turun 2% dibandingkan dengan volume ekspor 2006, sedangkan nilai transaksi ekspor 2007 itu mencapai US$545,88 juta. Menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP),
penurunan volume ekspor akibat perdagangan udang yang berkurang selama 2007 diharapkan tidak terjadi lagi pada tahun 2008 ini. Produksi udang yang hanya mencapai 352.000 ton pada 2007 harus ditingkatkan dengan memfokuskan perkuatan modal pada tambak skala kecil dan menengah dan memasukkan rencana produksi tambak-tambak skala besar.
Untuk tahun 2008 ini, pemerintah optimistis Indonesia akan meraup US$2,6 miliar dari ekspor perikanan, naik dari US$2,3 miliar pada tahun lalu, karena ada nota kesepahaman antara Indonesia dan negara tujuan ekspor, terutama mengenai ketentuan kualitas produksi dengan Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE). Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk membantu ekspor komoditas perikanan, antara lain dengan meningkatkan kemampuan laboratorium uji mutu, baik peralatan maupun petugasnya, serta perbaikan sistem aturan standard mutu produk perikanan.
Pemerintah juga mempertahankan tiga pasar utama tujuan ekspor hasil perikanan dengan menjaga harmonisasi dengan otoritas di negara itu, di samping memperluas pasar ke China, Korea Selatan, Taiwan, dan Timur Tengah.Pasar utama ekspor hasil perikanan Indonesia masih ditujukan ke Jepang, Uni Eropa dan AS dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 26%, 14% dan 34%. Untuk negara-negara kawasan Asia Timur dengan pangsa pasar sekitar 20%, negara tujuan utama ekspor produk perikanan antara lain ke Korea Selatan, Thailand, Singapura, Hongkong dan Taiwan.
Tahun 2007, udang dan tuna, masih mendominasi ekspor hasil perikanan Indonesia. Ekspor udang sebesar 154.747 ton dan tuna 121.316 ton atau masing- masing senilai US$1,021 miliar dan US$304,3 juta.
Pada 31 Januari 2008, terbit Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER.05/MEN/2008 tentang Usaha Perikanan Tangkap dengan tujuan mempercepat pengembangan industri pengolahan hasil perikanan di Indonesia melalui pengembangan usaha penangkapan ikan secara terpadu. Dengan terbitnya Peraturan Menteri tersebut, maka prospek dan peluang investasi di sektor budidaya, perikanan tangkap, dan industri pengolahan produk perikanan bertambah luas. Selain itu, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) akan memproses kembali pengajuan izin usaha perikanan terpadu yang tertunda sejak Agustus 2007. Hingga Januari 2008, rencana investasi perikanan terpadu tersebut diketahui telah mencapai Rp5,14 triliun yang diajukan oleh 35 perusahaan.