47
Bab III
Metodologi Penelitian
III.1 Umum
Agar penelitian ini dapat dilakukan secara terstruktur dan sistematis, maka penelitian ini dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Identifikasi masalah
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini berkaitan dengan sistem distribusi air, terutama dalam hal network flow analysis. Kompleksitas dari suatu jaringan perpipaan menimbulkan masalah dalam distribusi debit di setiap pipa dan tekanan di setiap node. Hal ini terkait dengan kriteria hidrolis yang harus terpenuhi dalam suatu sistem distribusi air.
2. Studi literatur
Studi literatur dilakukan untuk memperoleh sumber-sumber pustaka yang terkait dan dapat menunjang penelitian ini. Sumber acuan/literatur tentang pemodelan sistem distribusi air, metode numerik, dan metode optimasi dapat berupa buku, modul, jurnal, dan situs internet. Selain itu, dalam studi literatur ini dilakukan pula pengumpulan data yang akan digunakan dalam simulasi model yang dibangun.
3. Pengembangan model
Membangun suatu model jaringan perpipaan distribusi air pada kondisi tunak (steady state) berdasarkan persamaan node (H) dengan menggunakan persamaan hidrolis Hazen-Williams dan persamaan kontinuitas.
4. Penyelesaian model
Membuat solusi model dengan menggunakan metode numerik dan metode
optimasi. Penyelesaian metode numerik yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah metode Newton. Sedangkan, metode optimasi yang akan
digunakan adalah Algoritma Genetika. Penyelesaian model dilakukan dengan
membuat suatu program komputer menggunakan MATLAB. Program
dimodelkan dengan menyusun kode-kode pemrograman dalam MATLAB
berdasarkan algoritma program yang telah dirancang.
48 5. Simulasi, validasi, dan analisis model
Simulasi dilakukan menggunakan data yang diperoleh dari literatur. Hasil simulasi model selanjutnya divalidasi dengan program network flow analysis yang umum digunakan, contohnya EPANET 2.0. Hasil simulasi dan validasi tersebut kemudian dianalisis sehingga akan diperoleh suatu kesimpulan dari penelitian ini.
Gambar III.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian
III.2 Permasalahan Aliran Air dalam Jaringan Pipa
Pada penelitian ini, permasalahan yang dibahas adalah masalah network flow
analysis. Dalam suatu sistem jaringan pipa distribusi air yang sudah terpasang
(panjang, diameter, dan kekasaran pipa diketahui), maka akan terdapat variabel
hidrolika yang berperan penting dalam menunjukkan terpenuhinya permintaan
konsumen, yaitu variabel debit dan headloss. Permasalahan jaringan pipa
dikatakan dapat terpecahkan jika debit di setiap pipa dan head di tiap node telah
diketahui dengan tingkat akurasi yang memadai.
49 Untuk menyelesaikan masalah network flow analysis ini perlu dibangun suatu model yang menggambarkan aliran dalam suatu jaringan perpipaan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan dari model yang akan dibangun, yaitu:
1. Aliran air dalam model yang dibangun diasumsikan berupa aliran steady state.
Pada kondisi di lapangan, aliran pada sistem distribusi air dalam keadaan transien sehingga analisis masalahnya tidaklah sederhana. Untuk itu, model jaringan sistem distribusi air yang akan dikembangkan pada penelitian ini dibatasi hanya pada kondisi tunak (steady state). Model ini masih banyak dipakai sebagai pendekatan untuk menggambarkan sistem distribusi air karena analisinya yang lebih sederhana. Pada kondisi tunak tidak terjadi perubahan parameter hidrolika (debit, kecepatan, dll) terhadap waktu.
2. Topologi model sistem jaringan berupa gabungan sistem loop dan cabang.
Topologi ini sesuai dengan keadaan dilapangan, dimana sistem jaringan pipa distribusi air yang dibangun merupakan suatu sistem kompleks yang terdiri dari sistem cabang dan loop. Sehingga model yang dibangun dari penelitian ini dapat diaplikasikan.
3. Persamaan head (H) digunakan untuk membangun persamaan model sistem.
Dalam membangun persamaan sistem jaringan distribusi air, terdapat beberapa cara yang bisa digunakan, yaitu persamaan debit (Q), persamaaan head (H), dan persamaan loop (∆Q). Dalam persamaan head digunakan metode kesetimbangan aliran air pada tiap-tiap node (persamaan kontinuitas).
Selanjutnya, dengan mensubtitusi aliran air di dalam pipa menggunakan persamaan headloss maka akan diperoleh suatu persamaan tak linear dalam variabel head di tiap-tiap node.
Untuk membangun suatu persamaan model, penggunaan persamaan head ini relatif lebih mudah dibandingkan dengan persamaan yang lain. Selain itu, persamaan head cocok digunakan untuk sistem yang dilengkapi dengan peralatan pengontrol (contoh Pressure Reducer Valve dan Check Valve).
Namun, dengan menggunakan persamaan head akan diperoleh suatu sistem
persamaan tak linear sehingga teknik penyelesaiannya berbeda dengan sistem
persamaan yang dibangun dengan persamaan debit (Q).
50 4. Headloss yang diperhitungkan hanya headloss mayor Hazen-Williams.
Hal ini dilakukan atas dasar pertimbangan untuk menyederhanakan penyelesaian masalah model. Persamaan headloss mayor yang digunakan adalah persamaan Hazen-Williams. Walaupun persamaan ini dikembangkan atas dasar empiris dan umumnya hanya digunakan pada kondisi aliran turbulen, namun persamaan ini banyak diterapkan dalam pemodelan distribusi air minum terutama di Amerika Serikat karena relatif lebih mudah digunakan.
5. Penyelesaian model dengan mengkombinasikan Algoritma Genetika dan Metode Newton.
Untuk menyelesaikan persamaan model yang dibangun, merupakan sistem persamaan tak linear, maka digunakan penyelesaian menggunakan metode Newton. Metode Newton merupakan metode numerik yang sangat baik karena tingkat konvergensinya kuadratis. Namun, metode ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan suatu tebakan awal yang bagus agar tercapainya suatu konvergensi. Untuk itu, dalam mencari nilai tebakan awal yang bagus akan digunakan suatu teknik Algoritma Genetika. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penyelesaian model dilakukan dengan mengkombinasikan Algoritma Genetika dan Metode Newton.
III.3 Pengembangan Model
Jaringan pipa distribusi air terdiri atas sejumlah pipa yang menghubungkan N titik simpul/node. Pada model jaringan yang akan dibangun digunakan metode kesetimbangan pada tiap-tiap node. Model ini menggabungkan persamaan energi untuk tiap pipa dan persamaan kontinuitas, sehingga akan diperoleh suatu persamaan kontinuitas pada tiap-tiap node. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut: Dalam suatu segmen pipa yang menghubungkan dua node dan , memiliki panjang (m) dan diameter pipa (m), maka untuk model aliran yang menggunakan persamaan Hazen-Williams (untuk satuan SI) dapat ditulis menjadi:
( )
54 . 0
54 . 63 0
.
2
.
. . 2785 , 0
L
H H D C S
Q
ij ij ij i−
j= (III.1)
51 dimana menyatakan besarnya laju aliran air pada segmen pipa yang menghubungkan node dan . adalah koefisien kekasaran pipa Hazen-Williams.
menyatakan arah dari aliran, dapat dirumuskan:
( )
± 1
− =
= −
j i
j i
ij
H H
H S H
(III.2)
Apabila 1 , maka air mengalir dari node ke , dan apabila 1 maka air mengalir dari node ke .
Karena head di tiap node diasumsikan menyatakan hydraulic grade line (HGL), yang terdiri dari komponen head tekanan ( ) P γ dan head elevasi ( ) Z , maka persamaan di atas dapat ditulis kembali menjadi:
54 . 0 63
.
2
1
. . 2785 . 0
. ⎟ ⎟
⎠
⎞
⎜ ⎜
⎝
⎛
⎟ ⎟
⎠
⎞
⎜ ⎜
⎝
⎛ − + −
=
i j i jij ij ij
ij
P P Z Z
D L C S
Q γ (III.3)
( γ ) adalah berat spesifik atau berat jenis. Berat spesifik air pada tekanan dan temperatur standar adalah 62.4 lb/ft
3(9,806 N/m
3).
Dengan menerapkan persamaan kontinuitas pada tiap node, contoh untuk sebuah node m yang bertetangga dengan node dan , maka diperoleh:
= 0 +
+
=
jm mk mm
Q Q QN
f (III.4)
dimana adalah debit yang keluar atau masuk ke dalam jaringan distribusi melalui node m. Untuk jaringan perpipaan yang memiliki N node maka terdapat n persamaan serupa dengan persamaan di atas. Kemudian, dengan menggabungkan kedua persamaan di atas (persamaan headloss dan kontinuitas) maka akan diperoleh suatu sistem persamaan tak linear untuk keadaan tunak pada jaringan distribusi air. Sistem persamaan tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
f(x) = 0 (III.5)
dengan f = (f
1(x), f
2(x), …, f
N(x))
Tx = (x
1, x
2, …, x
N)
TJika nilai tiap peubah bebas pada sistem persamaan tersebut adalah sedemikian
rupa sehingga nilainya masing-masing menjadi (atau dekat) nol, maka sistem
jaringan pipa distribusi tersebut berada dalam keseimbangan.
52 Sistem persamaan yang dibangun memuat peubah yang terdiri dari tekanan pada tiap node , elevasi pada masing-masing node , debit air yang keluar/masuk ke dalam jaringan melalui node , diameter pipa , panjang segmen pipa , dan koefisien kekasaran segmen pipa . Pada jaringan pipa distribusi yang sudah terpasang maka diameter, panjang, dan koefisien kekasaran segmen pipa, serta ketinggian elevasi tiap node besarnya sudah tertentu.
Oleh karenanya, jika terdapat sejumlah N node, maka sistem persamaan akan memiliki 2N peubah ( dan , i =1, 2, ..., N). Dengan demikian dimungkinkan untuk menggunakan N persamaan yang dimiliki untuk menghitung nilai N peubah dari 2N yang dimiliki. N peubah yang nilainya dihitung ini dikenal sebagai peubah bebas (state variables), sedangkan sisanya yang juga sebanyak N diberi nilai tertentu (decision variables) sehingga sistem persamaan tersebut dapat diselesaikan. Sistem ini sudah dalam bentuk sistem persamaan tak linear dengan N persamaan dan N peubah. Selanjutnya, paling tidak satu dari berupa peubah bebas dan satu dari nilainya diketahui sebagai tekanan referensi untuk sistem jaringan tersebut.
III.4 Penyelesaian Model
Sebagaimana dijelaskan di atas, dalam penelitian ini akan digunakan hibridisasi
Algoritma Genetika dan metode Newton untuk menyelesaikan model sistem
jaringan perpipaan yang dibangun. Metode Newton memiliki kelemahan dalam
penentuan tebakan awal sehingga untuk mengatasinya pada penelitian ini akan
memanfaatkan Algoritma Genetika dalam memperoleh tebakan awal bagi akar
sistem persamaan tak linear yang dihadapi. Diagram alir pemodelan menggunakan
Algoritma Genetika dan metode Newton dapat dilihat pada Gambar III.2.
53 Gambar III.2 Diagram Alir Program Simulasi
Proses penyelesaian model sistem diawali memasukkan data jaringan distribusi
air, yang meliputi data node (tekanan, elevasi, debit) dan data link (panjang dan
diameter pipa, koefisien kekasaran pipa). Selanjutnya, menggunakan persamaan
headloss Hazen-Williams dan persamaan kontinuitas dibangun model sistem yang
menggambarkan sistem jaringan distribusi air. Algoritma Genetika digunakan
untuk mencari nilai tebakan awal yang baik untuk metode Newton.
54 Pada dasarnya, Algoritma Genetika digunakan dalam masalah optimisasi. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan sistem persamaan tak linear dari jaringan perpipaan, masalah menentukan akar persamaan diubah dahulu menjadi suatu bentuk masalah optimisasi:
( )
( )
) ( f ...
) ( f ) ( f )
( dengan
x f norm F
function Fitness
n
x
x x
x f
) x ( f )
x (
:
2 2
2 2
1
+ + +
=
=
=
Sehingga didekat akar dari f (x) = 0 diharapkan nilai fitness akan dekat dengan nol; dan akan merupakan suatu bilangan positif yang cukup besar bila x jauh dari akar. Dengan demikian masalah mencari akar f(x) = 0 mula-mula dibawa menjadi masalah mencari x yang meminimumkan fungsi F(x). Individu terbaik (mempunyai fitness tinggi) yang dihasilkan oleh Algoritma Genetika hanya merupakan kandidat solusi. Selanjutnya hasil yang diperoleh dengan Algoritma Genetika digunakan sebagai tebakan awal untuk menyelesaikan sistem persamaan tak linear dengan metode Newton. Gambar III.3 menunjukkan diagram alir Algoritma Genetika yang akan digunakan dalam penyusunan kode script program.
Hasil dari Algoritma Genetika selanjutnya digunakan oleh metode Newton untuk mencari solusi eksak dari model sistem yang dibangun. Dengan memanfaatkan hasil dari Algoritma Genetika maka kelemahan metode Newton, yaitu membutuhkan tebakan awal yang baik, akan tertutupi. Diagram alir metode Newton yang akan digunakan dalam penyusunan program dapat dilihat pada Gambar III.4.
Solusi model dari metode Newton kemudian di validasi dengan program lain yang
umum digunakan dalam pemodelan sistem distribusi air minum. Pada penelitian
ini, program pembanding yang digunakan adalah program EPANET 2.0. Jika
terdapat hasil validasi yang sangat buruk/kurang memuaskan maka dilakukan
koreksi ulang dimulai dari proses membangun model sistem jaringan distribusi
air. Jika diperoleh hasil validasi yang baik, maka hasil solusi metode Newton
dapat dianalisis untuk perhitungan paramater lainnya, seperti debit pada setiap
pipa, kecepatan pada pipa, dll.
55 ( )
(
f x)
norm F(x)=