• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Perkembangan industri pertambangan yang dahulu dan sampai sekarang menjadi primadona di beberapa daerah di Indonesia merupakan salah satu pilar pembangunan ekonomi nasional. Kegiatan pertambangan di mulai dengan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang terkadang dilakukan sampai puluhan tahun, hal tersebut menyebabkan indutri pertambangan adalah industri yang padat modal dan berbeda dengan industri – industri lainnya.

Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi,migas). Menurut UU No.11 Tahun 1967, bahan tambang tergolong menjadi 3 jenis, yakni Golongan A (yang disebut sebagai bahan strategis), Golongan B (bahan vital), dan Golongan C (bahan tidak strategis dan tidak vital). Bahan Golongan A merupakan barang yang penting bagi pertahanan, keamanan dan strategis untuk menjamin perekonomian negara dan sebagian besar hanya diizinkan untuk dimiliki oleh pihak pemerintah, contohnya minyak, uranium dan plutonium. Sementara, Bahan Golongan B dapat menjamin hayat hidup orang banyak, contohnya emas, perak, besi dan tembaga. Bahan Golongan C adalah bahan yang tidak dianggap langsung mempengaruhi hayat hidup orang banyak, contohnya garam, pasir, marmer, batu kapur dan asbes).

Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah perusahaan tambang, karena perusahaan tambang merupakan perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam. Sebelum tahun 2005 saham perusahaan pertambangan bukanlah komoditas yang menarik di lantai bursa. Para pemain saham cenderung mengincar untung besar dalam jangka pendek dengan risiko yang minim.

Sedangkan pertambangan merupakan investasi besar jangka panjang yang berisiko

(2)

2

besar dikarenakan kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam dan bergantung kepada faktor alam dan lingkungan. Namun setelah tahun 2005 pandangan itu berbalik 180 derajat, seperti yang tertera pada gambar 1.1.

Gambar 1.1

Pergerakan indeks sektor pertambangan tahun 1997-2009

sumber: http://www.idx.co.id

Seiring melonjaknya harga komoditas pertambangan, saham perusahaan tambang yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami peningkatan yang tertera pada gambar 1.1. Selain itu, perusahaan tambang diminati oleh para investor dikarenakan semakin membaiknya perusahaan tambang di Indonesia dari tahun ke tahun. Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan. Terdapat 36 perusahaan pertambangan yang ada di Indonesia dan telah listing di Bursa Efek Indonesia, yaitu:

Tabel 1.1

Daftar Perusahaan Tambang

No. Kode Nama Perusahaan

1 ADRO PT. Adaro Energy Tbk.

2 ARII PT. Atlas Resources Tbk.

3 ATPK PT. ATPK Resources Tbk.

(bersambung)

(3)

3 (sambungan)

4 BORN PT. Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk.

5 BRAU PT. Berau Coal Energy Tbk.

6 BSSR PT. Baramulti Suksessarana TBk 7 BUMI PT. Bumi Resources Tbk.

8 BYAN PT. Bayan Resources Tbk.

9 DEWA PT. Darma Henwa Tbk.

10 DOID PT. Delta Dunia Makmur Tbk.

11 GEMS PT. Golden Energy Mines Tbk.

12 GTBO PT. Garda Tujuh Buana Tbk.

13 HRUM PT. Harum Energy Tbk.

14 ITMG PT. Indo Tambangraya Megah Tbk.

15 KKGI PT. Resource Alam Indonesia Tbk.

16 MYOH PT. Samindo Resources Tbk.

17 PKPK PT. Perdana Karya Perkasa Tbk.

18 PTBA PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) 19 PTRO PT. Petrosea Tbk.

20 TOBA PT. Toba Bara Sejahtera Tbk.

21 ARTI PT. Ratu Prabu Energi Tbk.

22 BIPI PT. Benakat Petroleum Energy Tbk.

23 ELSA PT. Elnusa Tbk.

24 ENRG PT. Energi Mega Persada Tbk.

25 ESSA PT. Surya Esa Perkasa Tbk.

26 MEDC PT. Medco Energi International Tbk.

27 ANTM PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk.

28 CITA PT. Cita Mineral Investindo Tbk.

29 DKFT PT. Central Omega Resources Tbk.

(bersambung)

(4)

4

(sambungan)

30 INCO PT. Vale Indonesia Tbk.

31 PSAB PT. J Resources Asia Pasifik Tbk.

32 SMRU PT. SMR Utama Tbk.

33 TINS PT. Timah (Persero) Tbk.

34 CTTH PT. Citatah Tbk.

35 MITI PT. Mitra Investindo Tbk.

36 RUIS PT. Radiant Utama Interinsco Tbk.

Sumber : http://www.idx.co.id

1.2 Latar Belakang Penelitian

Dalam mendirikan sebuah perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa hal yang mengemukakan tentang tujuan pendirian suatu perusahaan. Tujuan perusahaan yang pertama adalah untuk mencapai keuntungan maksimal atau laba yang sebesar-besarnya. Tujuan perusahaan yang kedua adalah ingin memakmurkan pemilik perusahaan atau para pemilik saham. Sedangkan tujuan perusahaan yang ketiga adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya.

Ketiga tujuan perusahaan tersebut sebenarnya secara substansial tidak banyak berbeda. Hanya saja penekanan yang ingin dicapai oleh masing-masing perusahaan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya (Susanti, 2010).

Penilaian suatu perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan itu untuk menghasilkan laba. Laba perusahaan selain merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban bagi para pemilik saham juga merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan yang menunjukkan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Selain itu, nilai perusahaan dapat mencerminkan nilai asset yang dimiliki perusahaan seperti surat-surat berharga. Saham merupakan salah satu surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan (Hermawati, 2011).

(5)

5 Menurut Rika dan Ishlahuddin (2008), nilai perusahaan didefinisikan sebagai nilai pasar. Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang- peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Meningkatkan nilai perusahaan sangatlah penting bagi perusahaan, karena dapat mencerminkan kinerja perusahaan yang dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap perusahaan dan memberikan kemakmuran bagi para pemegang saham secara maksimum apabila harga saham meningkat. Semakin tinggi harga saham suatu perusahaan maka makin tinggi kemakmuran pemegang saham.

Menurut Mardiyanto (2009:182) nilai perusahaan adalah nilai sekarang dari arus kas masuk yang akan dihasilkan perusahaan pada masa yang akan datang. Menurut Brigham & Daves dalam (Pakpahan, 2010) nilai perusahaan adalah persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang tercermin pada harga saham. Semakin tinggi nilai perusahaan maka semakin besar kemakmuran yang diterima oleh pemilik saham. Sedangkan menurut Nurlela dan Ishaluddin (2008) menyebutkan bahwa nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli jika perusahaan itu dijual.

Dalam penelitian ini rasio yang digunakan untuk mengukur nilai perusahaan adalah Tobin’s Q. Rasio ini dinilai bisa memberikan informasi yang baik dalam mengukur nilai perusahaan. Menurut Sukamulja dalam (Permanasari, 2010) Tobin’s Q memasukkan semua unsur hutang, modal saham dan seluruh asset perusahaan.

Semakin besar nilai Tobin’s Q menunjukkan bahwa semakin baik nilai perusahaan tersebut.

(6)

6

Sejumlah emiten tambang yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010 merasakan dampak negatif dari menurunnya harga komoditas yang mengakibatkan penurunan perolehan laba perusahaan. Hal ini disebabkan permintaan global yang dipicu oleh krisis Eropa dan perlambatan ekonomi China. Karena berkurangnya permintaan ekspor, stok melimpah, maka harga turun. Data kementerian perdagangan menunjukkan ekspor batubara turun sembilan belas persen. Dampak negatif juga dirasakan oleh emiten tambang mineral lain seperti nikel dan timah mengalami penurunan harga jual. Menurut data kementerian perdagangan ekspor nikel Indonesia menurun delapan puluh persen dan harga saham sektor pertambangan pun juga menurun (http://market.bisnis.com).

Salah satu perusahaan tambang yang mengalami penurunan laba bersih akibat dari krisis Eropa dan perlambatan ekonomi China adalah PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA). Tercatat pada semester I tahun 2010 laba perusahaan PTBA mengalamai penurunan sebesar 43% menjadi Rp 908,11 miliar dari posisi yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,592 triliun meskipun penjualan PTBA meningkat 10%. Selain itu, meningkatnya harga pokok penjualan juga menjadi salah satu faktor menurunnya laba bersih perusahaan (http://finance.detik.com).

Dalam kondisi tersebut membuat harga saham PTBA ditransaksi perdagangan bursa pada bulan juli 2010 melorot, mencatatkan saham PTBA menurun 0,3% menjadi Rp 16.450 dari harga pembukaan Rp 16.600 (http://investasi.kontan.co.id). Hal ini mengakibatkan pandangan buruk bagi para investor terhadap perusahaan tambang.

Informasi keuangan juga wajib diungkapkan oleh perusahaan yang dengan informasi tentang kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh calon investor untuk menentukan investasi saham. Bagi sebuah perusahaan, menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu keharusan agar saham tersebut tetap eksis dan tetap diminati oleh investor.

(7)

7 Laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan cerminan dari kinerja keuangan perusahaan. Laporan keuangan adalah akhir dari proses akuntansi dengan tujuan untuk memberikan infomasi keuangan yang dapat menjelaskan kondisi perusahaan dalam suatu periode. Informasi keuangan tersebut mempunyai fungsi sebagai sarana informasi, alat pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik perusahaan, penggambaran terhadap indikator keberhasilan perusahaan dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Harahap, 2004). Para investor seringkali menggunakan informasi tersebut sebagai ukuran atau pedoman dalam melakukan keputusan investasi.

Pengukuran kinerja perusahaan merupakan salah satu indikator yang dipergunakan oleh investor untuk menilai suatu perusahaan. Dalam penelitian ini, kinerja keuangan diproksikan dengan rasio ROA dan ROE yang merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas. Hal ini dikarenakan semakin tinggi nilai ROA dan ROE maka semakin besar nilai profitabilitas perusahaan yang pada akhirnya dapat menjadi sinyal positif bagi investor dalam melakukan investasi untuk mendapatkan return tertentu (Hermawati, 2011).

Return On Asset (ROA) adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan total asset yang dimiliki perusahaan tersebut. ROA merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan atas keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktivitas yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan dengan tujuan untuk menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimikinya. Semakin tinggi ROA, maka kinerja perusahaan semakin baik dan investor merespon dengan positif, sehingga nilai perusahaan bisa semakin meningkat.

Return on Equity (ROE) adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. ROE merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri. Semakin tinggi ROE menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat

(8)

8

pengembalian terhadap investasi yang dilakukan dan semakin rendah ROE suatu perusahaan maka tingkat pengembaliannya akan semakin rendah pula. Semakin baik kinerja perusahaan maka akan semakin tinggi return yang akan diperoleh oleh investor. Umumnya investor akan mencari perusahaan yang mempunyai kinerja terbaik dan menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang mempunyai kinerja yang baik akan berdampak pada perolehan modal dan peningkatan nilai perusahaan (Suwarti, 2013).

Penelitian tentang kinerja keuangan yang dilakukan Carningsih (2010) menyatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan ROA terbukti berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan sedangkan ROE terbukti tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Namun hasil penelitian tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yuniasih dan Wirakusuma (2008) menunjukkan hasil penelitian bahwa kinerja keuangan return on asset terbukti berpengaruh positif secara staistis terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan uraian di atas telah menunjukkan hasil penelitian yang berbeda-beda.

Keberagaman penggunaan metode dan analisis membuat beberapa penelitian tidak sama dengan penelitian lainnya. Oleh karena itu, penulis akan memilih penelitian judul skripsi “Pengaruh Return On Asset Dan Return On Equity Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Pertambangan yang Listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2012)”.

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuaraikan diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana return on asset, return on equity dan nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2012?

(9)

9 2. Bagaimana pengaruh return on asset dan return on equity secara bersama-

sama (simultan) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2012?

3. Bagaimana pengaruh return on asset dan return on equity secara individual (parsial) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2012?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan maka tujuan penelitian dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui return on asset, return on equity dan nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2012.

2. Untuk mengetahui pengaruh return on asset dan return on equity secara bersama-sama (simultan) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2012.

3. Untuk mengetahui pengaruh return on asset dan return on equity secara individual (parsial) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2012.

1.5 Kegunaan Penelitian

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat meberikan kegunaan bagi berbagai pihak, diantaranya yaitu:

1. Bagi akademis

Sebagai bahan kajian dalam penelitian sejenis di masa yang akan datang dan dapat menjadi rujukan pengembangan ilmu mengenai kajian nilai perusahaan.

(10)

10

2. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dasar perluasan penelitian dan penambahan wawasan untuk pengembangannya.

3. Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi.

1.6 Sistematika Penulisan

Pembahasan dalam skripsi ini akan dibagi dalam lima bab yang terdiri dari beberapa sub-bab. Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini memberikan penjelasan mengenai gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian yang mengangkat fenomena yang menjadi isu penting sehingga layak untuk diteliti disertai dengan argumentasi teoritis yang ada, perumusan masalah yang didasarkan pada latar belakang penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi uraian mengenai pustaka, teori-teori yang berkaitan dengan penelitian dan mendukung pemecahan permasalahan, dan kerangka pemikiran.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi tentang jenis penelitian yang digunakan, operasionalisasi variabel dan skala pengukuran, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik pengolahan data.

(11)

11 BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan menjelaskan secara rinci tentang pembahasan dan analisis-analisis yang dilakukan sehingga akan jelas gambaran permasalahan yang terjadi dan hasil dari analisis pemecahan masalah.

BAB V : KESIMPULAN

Bab ini berisi kesimpulan akhir dari analisa dan pembahasan pada bab sebelumnya serta saran-saran yang dapat dimanfaatkan oleh para investor ataupun oleh peneliti selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa pada materi energi bunyi dan sifatnya, (a) guru kurang sabar dalam menyampaikan konsep kepada siswa, (b) guru

Hasil temuan studi ini mengindikasikan bahwa evaluasi dan penelitian lebih lanjut mungkin diperlukan dalam sejumlah bidang guna memandu dan menginformasikan perkembangan

Genetic evaluation by mixed models becomes the basis for its genetic improvement in livestock. The most widespread methodology accounts for direct polygenic additive genetic

Teknik budidaya green butterhead secara hidroponik sistem NFT dengan media tanam rockwool yang dilakukan yakni dimulai dari pemilihan lokasi, pembersihan instalasi

Gambar 4.2 Kerangka operasional pengaruh pijat oksitosin terhadap Percepatan Pengeluaran ASI Ibu Postpartum di RSUD Sunan Kalijaga Demak

itu, akan disusun tabel ringkasan matriks RPIJM seperti terlihat pada Tabel-11.2. MEMORANDUM PROGRAM JANGKA MENENGAH BIDANG

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu http://www.sibleyfineart.com http://www.wikiart.org https://id.pinterest.com

Sejak saat itu, berbagai kerja sama dengan SMERU banyak dilakukan dalam bentuk penelitian, kajian, kertas kebijakan, maupun evaluasi terkait dengan isu-isu kemiskinan dengan hasil