BERITA DAERAH
KOTA TANGERANG SELATAN
No. 61,2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.
Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup Serta Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup.
PROVINSI BANTEN
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 61 TAHUN 2017
TENTANG
JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP SERTA SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 56 ayat (2) Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Lingkunan Hidup, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup Dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup Serta Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan Di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);
SALINAN
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5280) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 52679);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5285);
6. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 408);
7. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 990);
8. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pedoman Penerpan Sanksi Administratif Di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 02);
9. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2012 Nomor 13 Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 1312);
10. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 5 Tahun 2016 tentang Urusan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 69);
11. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 72);
MEMUTUSKAN
Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP SERTA SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.
2. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur penyelenggara Pemerintahanan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah otonom.
3. Walikota adalah Walikota Tangerang Selatan.
4. Dinas Lingkungan Hidup yang selanjutnya disingkat DLH adalah Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan.
5. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut AMDAL adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
6. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut UKL-UPL adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
7. Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut SPPL adalah pernyataan kesanggupan dari penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan yang wajib UKL-UPL.
8. Skala/Besaran adalah batas ukuran suatu jenis usaha dan/atau kegiatan yang ditentukan wajib UKL-UPL atau SPPL.
9. Pemrakarsa adalah orang atau Badan Hukum yang bertanggung-jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.
10. Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib AMDAL atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.
BAB II
JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN WAJIB MEMILIKI UKL-UPL
Pasal 2
(1) Setiap Pemrakarsa yang akan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib AMDAL, wajib memiliki UKL-UPL.
(2) Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.
Pasal 3
(1) UKL-UPL disusun oleh Pemrakarsa pada tahap perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan.
(2) Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan wajib sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.
(3) Dalam hal lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), UKL- UPL tidak dapat diperiksa dan wajib dikembalikan kepada Pemrakarsa.
(4) UKL-UPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. identitas pemrakarsa;
b. rencana usaha dan/atau kegiatan;
c. dampak lingkungan yang akan terjadi, dan program pengelolaan serta pemantauan lingkungan;
d. jumlah dan jenis izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dibutuhkan;
e. pernyataan komitmen Pemrakarsa untuk melaksanakan ketentuan yang tercantum dalam formulir UKL-UPL;
f. daftar Pustaka; dan g. lampiran.
Pasal 4
Usaha dan/atau kegiatan telah memiliki AMDAL tetapi didalamnya terdapat usaha dan/atau kegiatan lain yang tidak termasuk dalam kriteria AMDAL, maka kegiatan tersebut wajib memiliki UKL-UPL.
BAB III
JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB SPPL Pasal 5
(1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib UKL-UPL wajib menyusun SPPL.
(2) Kriteria wajib SPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila Skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil dari pada Skala/Besaran UKL-UPL.
(3) Kriteria wajib SPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diajukan usulan sebagai jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki UKL-UPL, apabila berdasarkan pertimbangan teknis mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup.
(4) SPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. identitas Pemrakarsa;
b. informasi singkat terkait dengan usaha dan/atau kegiatan;
c. keterangan singkat mengenai dampak lingkungan yang terjadi dan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilakukan;
d. penyataan kesanggupan untuk melakukan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup; dan
e. tandatangan Pemrakarsa di atas kertas bermaterai.
BAB IV
PERUBAHAN UKL-UPL Pasal 6
(1) Pemrakarsa wajib mengajukan permohonan perubahan UKL-UPL, apabila usaha dan/atau kegiatan yang telah memperoleh UKL-UPL direncanakan untuk dilakukan perubahan.
(2) Perubahan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. perubahan yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup yang memenuhi kriteria:
1. perubahan dalam penggunaan alat-alat produksi yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup;
2. penambahan kapasitas produksi;
3. perubahan spesifikasi teknik yang mempengaruhi lingkungan;
4. perubahan sarana usaha dan/atau kegiatan;
5. perluasan lahan dan bangunan usaha dan/atau kegiatan;
6. perubahan waktu atau durasi operasi usaha dan/atau kegiatan;
7. terjadinya perubahan kebijakan pemerintah yang ditujukan dalam rangka peningkatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan/atau
8. terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain, sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan.
b. terdapat perubahan dampak dan/atau risiko terhadap lingkungan hidup berdasarkan hasil kajian analisis risiko lingkungan hidup dan/atau audit lingkungan hidup yang diwajibkan; dan/atau
c. tidak dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya rekomendasi UKL-UPL.
(3) Penerbitan perubahan UKL-UPL dilakukan melalui penyusunan dan pemeriksaan UKL-UPL baru.
(4) Penerbitan perubahan UKL-UPL sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dalam hal perubahan usaha dan/atau kegiatan tidak termasuk dalam kriteria wajib AMDAL.
BAB V
PENGAWASAN DAN PELAPORAN Pasal 7
(1) Pengawasan teknis pelaksanaan UKL-UPL atau SPPL dilakukan oleh DLH.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. monitoring; dan b. evaluasi.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling sedikit 6 (enam) bulan sekali.
Pasal 8
(1) Pemrakarsa wajib melaporkan hasil pengelolaan dan pemantauan UKL- UPL setiap 6 (enam) bulan kepada DLH.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara:
a. tertulis; atau b. online.
BAB VI
SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 9
(1) Walikota berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap Pemrakarsa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), Pasal 4, Pasal 5 ayat (1), Pasal 6 ayat (1) atau Pasal 8 ayat (1).
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. teguran tertulis;
b. paksaan pemerintah;
c. pembekuan Izin Lingkungan; dan/atau d. pencabutan Izin Lingkungan.
(3) Walikota mendelegasikan pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Kepala DLH.
Pasal 10
(1) Setiap Pemrakarsa yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), Pasal 4, Pasal 5 ayat (1) Pasal 6 ayat (1) atau Pasal 8 ayat (1) dikenakan sanksi teguran tertulis pertama.
(2) Apabila dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah diberikan teguran tertulis pertama, Pemrakarsa tersebut tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka dikenakan sanksi teguran tertulis kedua.
(3) Apabila dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja setelah diberikan teguran tertulis kedua, Pemrakarsa tersebut tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka dikenakan sanksi teguran tertulis ketiga.
Pasal 11
(1) Setiap Pemrakarsa yang tidak mematuhi sanksi teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah diberikan teguran tertulis ketiga, dikenakan sanksi paksaan pemerintah.
(2) Sanksi paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat dilakukan dalam bentuk:
a. penghentian sementara kegiatan produksi;
b. pemindahan sarana produksi;
c. pembongkaran; dan/atau
d. penghentian sementara seluruh kegiatan.
Pasal 12
Setiap Pemrakarsa yang tidak mematuhi sanksi paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah diberikan sanksi paksaan pemerintah, dikenakan sanksi pembekuan Izin Lingkungan.
TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP SERTA SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP SERTA SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
I.Bidang Pertahanan
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 1. Pembangunan pusat latihan
tempur (Luas) Ha Luas < 10.000
2. Pembangunan Lapangan Tembak
TNI dan Polri Ha semua besaran
3. Pembangunan Gudang Amunisi Ha semua besaran 4. Pembangunan Rusunawa untuk
TNI dan Polri
m2 Luas bangunan < 10.000
II. Bidang Peternakan
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 1. Budidaya burung puyuh
atau burung dara ekor Populasi ≥ 2000 (terletak pada satu hamparan lokasi)
2. Budidaya sapi potong ekor campuran Populasi ≥ 80 (terletak pada satu hamparan lokasi)
3. Sapi perah ekor campuran Populasi ≥ 16 (terletak pada satu hamparan lokasi)
4. Budidaya
kambing/domba ekor campuran Populasi ≥ 240 (terletak pada satu hamparan lokasi)
5. Budidaya burung unta ekor Populasi ≥ 80 (terletak pada satu hamparan lokasi)
6. Ayam ras petelor ekor induk Populasi ≥ 8.000 7. Ayam ras pedaging ekor
produksi/siklus Populasi ≥ 12.000 8. Itik/angsa/entog ekor campuran Populasi ≥ 12.000 9. Kalkun ekor campuran Populasi ≥ 8.000 10. Burung dara ekor campuran Populasi ≥ 20.000 11. Kerbau ekor campuran Populasi ≥ 60
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran
12. Kuda ekor campuran Populasi ≥ 40
13. Kelinci ekor campuran Populasi ≥ 1.200
14. Rusa ekor campuran Populasi ≥ 240
15. Stasiun karantina hewan semua besaran
16. Klinik hewan semua besaran
17. Produsen obat hewan semua besaran
18. Rumah penitipan hewan semua besaran
19. Laboratorium kesehatan hewan dan pengayom satwa
semua besaran
20. Budidaya ternak secara terpadu (dua kegiatan / lebih) yang terdapat pada kegiatan 1 s/d 19 tersebut di atas dan terletak pada satu hamparan
semua besaran
III. Bidang Perikanan
A. Penanganan/ Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 1. Usaha penanganan/
pengolahan
a. usaha pengolahan tradisional (perebusan, penggaraman,
pengeningan,
pengasapan dan/atau fermentasi).
Ton/hari/unit Kapasitas > 5
b. usaha penanganan/
pengolahan modern/
maju seperti:
1) pembekuan/Cold Storage;
2) pengalengan ikan;
3) pengekstrasian ikan dan atau rumput laut.
Unit Pengolahan Ikan/ UPI
(Penghasil tepung ikan, minyak ikan, khitin-khitosan, gelatin, ATC- kargeenan, agar- agar, produk berbasis surimi).
semua besaran
B. Perikanan Budidaya
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 1. Budidaya perikanan air
tawar.
a. budidaya perikanan air tawar (danau) dengan menggunakan jaring apung atau pen system.
1) luas atau
2) jumlah Ha
Unit < 2,5
< 500
b. budidaya ikan air tawar menggunakan teknologi intensif.
1) luas atau
2) kapasitas produksi Ha
ton/ hari < 5
< 50
c. pembenihan udang. ekor/ tahun produksi benur > 40 juta
IV. Bidang Perhubungan A. Perhubungan Darat
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 1. Pembangunan Terminal
Angkutan Jalan.
Ha Semua besaran
2. Depo/Pool Angkutan/
Depo Angkutan/ Pool Taxi. Ha 0,25 < Luas < 2,5 3. Pembangunan Depo Peti
Kemas. Ha 0,25 < Luas < 2,5
4. Pembagunan terminal terpadu Moda dan Fungsi (Luas lahan).
Ha Luas < 2
5. Pembangunan Terminal Angkutan Barang (Luas lahan).
Ha 0,25 < Luas < 2
6. Pengujian kendaraan
bermotor. Ha 0,5 < Luas < 5
7. Pembangunan Jaringan Jalur Kereta Api.
(Panjang). Km Panjang < 25
8. Pembangunan Stasiun
Kereta Api. Ha semua besaran
9. Stasiun. Ha 0,5 < Luas < 5
10. Depo dan balai jasa kereta
api. Ha 0,5 < Luas < 5
11. Jalan rel dan fasilitasnya. m 100 < Panjang < 25.000 12. Kegiatan penempatan hasil
keruk (dumping) di darat (cut and fill).
a. Volume atau
b. Luas area dumping
m3 Ha
Volume < 200.000 Luas < 2
B. Perhubungan Udara
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 1. Pengembangan bandar
udara beserta salah satu fasilitas sebagai berikut :
a. Terminal Penumpang atau Terminal Kargo;
m Panjang < 200 b. Landasan Pacu; m2 Luas < 2.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran c. Pengambilan Air Tanah liter/detik Debit < 50 (dari 1 sumur
sampai dengan 3 sumur dalam satu area, luas < 5 ha)
2. Perluasan Bandar udara beserta salah satu fasilitasnya :
a. fasilitas sisi udara, terdiri:
1) perpanjangan
landasan pacu; m 50 ≤ Panjang < 200 2) pembangunan taxi
way; m2 50 ≤ Panjang < 200
3) pengembangan apron; m2 500 ≤ Luas < 1.000 4) pembuatan air stdp; m2 800 ≤ Luas < 900 5) pembangunan
helipad; semua besaran
6) pemotongan bukit dan pengurugan lahan
dengan volume. m3 5.000 ≤Volume ≤ 500.000 b. prasarana sisi darat,
terdiri :
1) pembangunan
terminal penumpang; m2 500 ≤ Luas ≤ 2.000 2) pembangunan
terminal kargo; m2 500 ≤ Luas ≤ 2.000 3) jasa boga; porsi/hari 500 ≤ Produksi ≤ 2.000 4) power house/ genset; kVA 500 ≤ Daya ≤ 2.000 5) pembangunan menara
pengawas lalu-lintas udara;
semua besaran
6) depot penyimpanan dan penyaluran bahan bakar untuk umum;
Liter 1.000 ≤ Volume < 50.000 c. fasilitas penunjang lain,
terdiri :
1) pembangunan
Fasilitas Pemancar/
NDB;
semua ukuran di dalam lokasi bandara
2) hanggar/ Pusat Perawatan Pesawat Udara;
semua ukuran di dalam lokasi bandara
3) bengkel kendaraan bermotor maintenance bandara;
m2 500 ≤ Luas < 10.000
4) pemindahan
penduduk; KK Jumlah < 200
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 5) pembebasan lahan. Ha Luas < 100
V. Bidang Komunikasi dan Informatika
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran
1. Pemasangan kabel
telekomunikasi bawah tanah. Km 0,5 < panjang < 5 2. Pemancar radio/televisi :
1). Luas
2). Tinggi Ha
m 0,5 < luas < 1
> 50 3. Antena Telepon seluler/ Based
Transerver Station (BTS) dengan ketinggian menara : a. kriteria Zona I
1) lokasi yang kepadatan bangunan bertingkat dan bangunan-bangunan serta kepadatan penggunaan/ pemakaian jasa telekomunikasi sangat padat;
2) penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah halnya untuk menara tunggal, kecuali untuk kepentingan bersama;
3) menara telekomunikasi yang didirikan di permukaan tanah maupun di atas
bangunan harus
diadakan kamuflase, sehingga terdapat keserasian antara bentuk dengan peruntukan lokasi di tempat menara tersebut didirikan; dan 4) menara telekomunikasi
dapat didirikan di atas bangunan dengan ketinggian rangka menara ditentukan sebagai berikut :
a) di atas bangunan 4 (empat) lantai maksimal ketinggian menara telekomunikasi;
m 20
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran b) di atas bangunan 5
(lima) sampai dengan 8 (delapan) lantai maksimum ketinggian menara telekomunikasi;
dan
c) di atas bangunan 9 (sembilan) lantai atau lebih.
m
m
15
10
b. kriteria Zona II
1) lokasi yang kepadatan bangunan bertingkat
dan bangunan-
bangunan cukup padat;
2) penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah dapat dilakukan untuk menara rangka dan menara tunggal;
3) menara telekomunikasi yang didirikan di permukaan tanah
maupun diatas
bangunan harus diadakan kamuflase sehingga terdapat keserasian antara
bentuk dengan
peruntukan lokasi ditempat menara tersebut didirikan; dan 4) menara telekomunikasi
dapat di dirikan di atas bangunan jika tidak dimungkinkan didirikan di atas permukaan
tanah dengan
ketinggian sebagai berikut :
a) di atas bangunan 4 (empat) lantai maksimal ketinggian menara
telekomunikasi;
b) di atas bangunan 5 (lima) sampai dengan 8 (delapan) lantai maksimum ketinggian menara
telekomunikasi; dan
m
m
20
15
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran c) di atas bangunan 9
(sembilan) lantai atau lebih.
m 10
c. kriteria Zona III
1) lokasi dimana kepadatan bangunan bertingkat dan bangunan-bangunan
kurang padat;
2) penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah dapat dilakukan untuk menara rangka dan menara tunggal; dan
3) menara telekomunikasi di atas bangunan bertingkat tidak diperbolehkan kecuali tidak dapat dihindarkan karena terbatasnya pekarangan tanah dengan ketentuan ketinggian disesuaikan dengan kebutuhan frekuensi telekomunikasi dengan tinggi maksimal dipermukaan tanah.
M 25
4. Papan reklame/ iklan dengan
total luas (P x L) m2 > 150
5. Papan reklame elektronik
(videotron) m2 > 50
VI. Bidang Pekerjaan Umum
Beberapa kegiatan pada bidang Pekerjaan Umum mempertimbangkan skala/pertimbangan Kota yang menggunakan ketentuan berdasarkan jumlah populasi yaitu : Kota Metropolitan : > 1.000.000 jiwa
A. Sumber Daya Air
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 1. Reservoir
a. Pembangunan Tampungan Air a. tinggi;
b. luas Genangan; dan c. volume Tampungan.
m Ha m3
5 < Tinggi < 15 50 < Luas < 200
30.000 < Volume < 500.000 b. Rehabilitasi Tampungan
Air a. tinggi;
b. luas genangan; dan c. volume tampungan.
m Ha m3
5 < Tinggi < 15 50 < Luas < 200
30.000 < Volume < 500.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 2. Daerah Irigasi
a. pembangunan baru dengan luas;
b. peningkatan dengan luas;
dan
c. percetakan sawah, luas (perkelompok).
Ha Ha Ha
500 < Luas < 2.000 500 < Luas < 1.000 100 < Luas < 500 3. Pengembangan rawa
(reklamasi rawa untuk
budidaya pertanian). Ha 500 < Luas < 1.000 4. Normalisasi sungai
(termasuk sudetan) dan pembuatan kanal banjir.
a. panjang atau
b. volume pengerukan. Km
m3 0,5 < Panjang < 5
25.000 < Volume < 500.000
B. Jalan dan Jembatan
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/Besaran 1. Pembangunan/Peningkatan
Jalan (termasuk Jalan Tol)
yang membutuhkan
pengadaan tanah di luar rumija (ruang milik jalan).
a. panjang; atau b. pengadaan tanah :
Km Ha
1 < Panjang < 5 2 < Luas < 5 2. Pembangunan subway/
underpass, terowongan/
tunnel, jalan layang/ fly over dan jembatan.
a. pembangunan subway/
underpass, terowongan/
tunnel, jalan layang/ fly over.
b. pembangunan jembatan (di atas sungai/badan air).
Km
m
0,5 < Panjang < 2
50 < Bentang utama < 500
C. Kecipta-karyaan 1. Persampahan,
a. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan system controlled landfill atau sanitary landfill termasuk instalasi penunjang.
1) luas kawasan; atau 2) kapasitas total.
Ha Ton
Luas < 10
Kapasitas < 10.000 b. TPA daerah pasang surut.
1) luas landfill atau
2) kapasitas total. Ha
Ton Luas < 5
Kapasitas < 5.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran c. Pembangunan transfer
station. Ton/hari Kapasitas < 1.000 d. Pembangunan instalasi
pengolahan sampah terpadu.
Ton Kapasitas < 500
e. Pembangunan
incinerator. Ton/hari Kapasitas < 500 f. Pembangunan instalasi
pembuatan kompos. Ton/hari Kapasitas < 100 g. Transportasi sampah
dengan kereta api. Ton/hari Kapasitas < 500 2. Pembangunan perumahan/
kavling rumah tinggal/
townhouse.
1). Luas
2). Jumlah Ha
Unit 0,5 < Luas < 25
> 15 3. Pembangunan rumah kost/
kontrakan.
1). Luas bangunan
2). Jumlah m2
Kamar 500 < luas < 10.000
> 40 4. Air limbah domestik/
permukiman.
a. pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) termasuk fasilitas penunjang.
1) Luas; atau 2) Kapasitas.
b. pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) termasuk fasilitas penunjang.
1) Luas; atau 2) beban organik.
c. pembangunan sistem perpipaan air limbah (sewerage/ off-site sanitation system) di perkotaan/ permukiman.
1) luas layanan; atau 2) debit air limbah.
Ha m3/hari
Ha
Ton/hari
Ha m3/hari
0,5 < Luas < 2 Kapasitas < 5
0,5 < Luas < 3 Beban < 2,4
Luas < 500 Debit < 5.000 5. Drainase permukiman
a. pembangunan saluran primer dan sekunder.
panjang.
Km Panjang < 5
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran b. pembangunan kolam
retensi/ polder di area/
kawasan pemukiman.
Ha 1 < Luas < 5
6. Air Minum
a. pembangunan jaringan distribusi (luas layanan):
b. pembangunan jaringan pipa transmisi.
c. pengambilan air baku dan sungai, danau dan sumber air permukaan lainnya (debit).
1) sungai/ danau;
2) mata air; dan 3) air limbah.
d. pembangunan instalasi pengolahan air dengan pengolahan lengkap.
e. pengambilan air tanah dalam untuk kebutuhan:
1) pelayanan masyarakat oleh penyelenggara SPAM; dan
2) kegiatan lain dengan tujuan komersil.
Ha Km
liter/detik liter/detik liter/detik liter/detik
liter/detik
100 < Luas < 500 5 < Panjang < 10
50 ≤ Debit < 250 2,5 ≤ Debit < 250 50 ≤ Debit < 100 1,5 ≤ Debit < 40
1 ≤ Debit < 50
7. Pembangunan Gedung
a. pembangunan gedung di atas tanah/bawah tanah.
1) fungsi usaha, meliputi bangunan gedung perkantoran,
perdagangan, perindustrian,
perhotelan, wisata dan rekreasi, terminal dan bangunan gedung tempat penyimpanan;
2) fungsi keagamaan, meliputi bangunan masjid termasuk mushola, bangunan gereja termasuk kapel, bangunan pura, bangunan vihara, dan bangunan kelenteng;
m2
m2
500 ≤ Luas < 10.000
500 ≤ Luas < 10.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 3) fungsi sosial dan
budaya, meliputi bangunan gedung pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, kebudayaan,
laboratorium, dan bangunan gedung pelayanan umum.
m2 500 ≤ Luas < 10.000
b. pembangunan gedung di bawah tanah yang melintasi prasarana dan/atau sarana umum:
1) fungsi usaha meliputi:
bangunan gedung perkantoran,
perdagangan, perindustrian,
perhotelan, wisata dan rekreasi, terminal dan bangunan gedung tempat penyimpanan;
2) fungsi keagamaan meliputi bangunan masjid termasuk mushola, bangunan gereja termasuk kapel, bangunan pura, bangunan vihara, dan bangunan kelenteng;
3) fungsi sosial.dan budaya, meliputi bangunan gedung pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, kebudayaan,
laboratorium, dan bangunan gedung pelayanan umum.
m2
m2
m2
500 ≤ Luas < 10.000
500 ≤ Luas < 10.000
500 ≤ Luas < 10.000 8. Pengembangan kawasan
permukiman baru; dan Pengembangan kawasan permukiman baru dengan pendekatan Kasiba/Lisiba (Kawasan Siap Bangun/
Lingkungan Siap Bangun). Ha 1 < luas < 5
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 9. peningkatan kualitas
permukiman. Kegiatan ini dapat berupa :
Penanganan kawasan kumuh di perkotaan dengan pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar (basic
need) pelayanan
infrastruktur, tanpa pemindahan penduduk.
Ha Luas kawasan < 10
10. Penanganan kawasan kumuh perkotaan. Kegiatan ini dapat berupa:
Penanganan menyeluruh terhadap kawasan kumuh berat di perkotaan metropolitan yang dilakukan dengan pendekatan peremajaan kota (urban renewal), disertai dengan pemindahan penduduk, dan dapat dikombinasikan dengan penyediaan bangunan rumah susun.
Ha Luas kawasan ≤ 5
11. Pertokoan/ rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan).
1). Luas
2). Jumlah m2
Unit
500 ≤ Luas < 10.000
> 15 12. Pemakaman, lahan parkir
atau tutupan yang bukan merupakan bangunan.
m2 > 5.000
13. Rumah Duka,
Creamatorium, Rumah Pengabuan.
semua besaran
14. Bangunan Pusat Pelatihan. m2 > 500 15. Jaringan utilitas bawah
tanah.
a. Galian terbuka.
b. Pengeboran horizontal dengan diameter.
c. Urugan tanah dengan volume isi.
Km m m3
0,5 ≤ Panjang < 1 20 ≤ Diameter < 100 5.000 ≤ Luas < 25.000 16. Pengerukan sedimen pada
drainase primer (channel
dredging). m3 volume < 100.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 17. Pembuangan lumpur hasil
pengerukan (dredging) ke dumping site, dengan jarak dan luas dumping site.
Km Ha
jarak < 5 luas < 1
18. Pemasangan saringan sampah di sungai/drainase primer.
M 30 ≤ x ≤ 50
VII. Bidang Energi dan Mineral
A. Bidang Sumber Daya Energi dan Mineral
No. Jenis Usaha/Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 1. Kegiatan eksplorasi detail
pada tahap IUP Eksplorasi, yang berupa kegiatan delineasi 3 dimensi yang mencakup:
a. pemboran;
b. pembuatan paritan;
c. lubang bor;
d. shaft; dan e. terowongan.
semua besaran
2. Tahap Operasi Produksi : a. panas bumi eksploitasi
dan pengembangan uap panas bumi untuk listrik.
b. pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal, sumur tanah dalam, mata air).
MW liter/
detik
Daya < 55 Debit < 50
B. Minyak dan Gas Bumi.
No. Jenis Usaha/Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 1. Pipanisasi minyak dan gas
bumi di darat. Km Semua besaran
2. Kegiatan penyimpanan BBM di darat dan/atau di perairan.
Kiloliter Semua besaran
3. Stasiun Kompresor gas. MMSCFD Semua besaran 4. Blending premix, bahan
bakar khusus. Ton/
tahun Semua besaran 5. Blending minyak pelumas. Ton/
tahun
Semua besaran 6. Stasiun pengisian aspal
curah. Semua besaran
7. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di darat dan di perairan.
Kiloliter Semua besaran
No. Jenis Usaha/Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 8. Stasiun pengisian bahan
bakar gas. Ton Semua besaran
9. Stasiun pengisian bulk
elpiji. Ton Semua besaran
10. Stasiun mini CNG. MMSCFD Semua besaran C. Listrik dan Pemanfaatan Energi.
No. Jenis Usaha/Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 1. a. Tegangan jaringan
transmisi tenaga listrik : 1) SUTT;
2) SKTT (Saluran Kabel Tegangan Tinggi bawah tanah);
Kv
kV < 150
< 150
2. Tenaga Listrik untuk
kepentingan sendiri. MW 0,5 < Daya < 10
3. Galian Kabel. kV > 100
VIII. Bidang Kebudayaan dan Pariwisata
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 1. Daya Tarik Wisata
(Buatan/Binaan) :
a. theme Park (taman bertema);
b. taman rekreasl (non theme);
c. wisata buatan Iainnya.
Ha 0,5
2. Jasa makanan dan minuman :
a. restoran;
b. rumah makan;
c. bar;
d. kafe;
e. jasa boga; dan
f. jasa makanan dan minuman lainnya :
1). Luas bangunan 2). Jumlah kursi 3). Jumlah porsi
m2 buah porsi
250 < luas < 10.000
> 75
> 1.000 3. Penyediaan akomodasi :
a. hotel;
b. villa;
c. pondok wisata;
d. bumi perkemahan;
e. persinggahan karavan;
dan
f. penyediaan akomodasi
lainnya. m2 500 < luas < 10.000 4. Industri handycraft/
kerajinan. orang tenaga kerja > 30
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 5. Museum, Gallary dan
sejenisnya. m2 500 < luas < 10.000 6. Art shop m2 500 < luas < 10.000 7. Panti uap/ spa, massage
keluarga, relaxsasi m2 500 < luas < 10.000 IX. Bidang Kesehatan
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 1. Rumah Sakit Umum dan
Rumah Sakit Khusus
Kelas A, B, C atau sejenis
Tempat tidur (sesuai kelas RS)
2. Puskesmas dengan rawat inap Rawat inap
semua besaran 3. Lab kesehatan (BLK, B/BTKL
PPM, labkesda), BPFK( (Balai Pengawasan fasilitas Kesehatan).
semua besaran
4. Industri farmasi yang memproduksi, bahan baku obat.
semua besaran
5. Klinik utama semua besaran
6. Klinik pratama Wajib SPPL
7. Puskesmas tanpa rawat inap Wajib SPPL
8. KIinik kesehatan Wajib SPPL
9. Klinik bersalin Wajib SPPL
10. Pedagang besar farmasi Wajib SPPL
11. Toko obat Wajib SPPL
12. Apotik Wajib SPPL
13. a. praktek dokter umum;
b. praktek dokter gigi;
c. praktek dokter spesialis;
dan
d. praktek bidan.
Wajib SPPL
X. Bidang Perindustrian dan Perdagangan
1. Usaha mikro, skala/besaran : 0-50 juta (mikro);
2. Usaha kecil, skala/besaran : 50 juta – 500 juta (kecil);
3. Usaha menengah, skala/besaran : 500 juta – 10 milyar (menengah);
4. Usaha besar, skala/besaran > 10 milyar (besar).
A. Bidang Perindustrian
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 1. Industri galangan kapal
dengan sistem graving dock. DWT Bobot < 50.000
2. Buah-buahan dalam
kaleng/kemasan. Ton/tahun Produksi riil > 2.000 3. Sayuran dalam botol. Ton/tahun Produksi riil > 2.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 4. Pengolahan dan Pengawetan
lainnya untuk buah-buahan 256dan sayuran.
Ton/tahun Produksi riil > 2.500
5. Air minum dalam kemasan. Ton/tahun semua besaran
6. Kecap. Ton/tahun Produksi riil > 1,5 juta 7. Ransum/pakan jadi ikan dan
biota perairan lainnya.
Ton/tahun Produksi riil > 500 8. Ransum/pakan jadl ternak
besar, ternak kecil, aneka ternak.
Ton/tahun Produksi riil > 1.500
9. Ransum/pakan jadi hewan
manis. Ton/tahun Produksi riil > 1.500 10. a. ransum/pakan setengah jadi
temak besar, ternak kecil, aneka ternak;
b. pakan lain untuk ternak;
c. tepung tulang.
Ton/tahun Produksi riil > 1.500
Produksi riil > 1.500 Produksi riil > 3.000 11. Anggur dan sejenisnya. Ton/tahun > 5.0000
12. Minuman ringan Iainnya : a. minuman ringan tidak
mengandung C02;
b. minuman ringan
mengandung C02; dan
c. minuman beralkohol kurang dari 1%.
liter/ tahun liter/ tahun liter/ tahun liter/ tahun
Produksi riil > 1,2 juta Produksi riil > 1,6 juta Produksi riil > 105.000 Produksi riil > 5.000
13. Industri aneka tenun. semua besaran
14. a. kain kelantang dan kain celup dari serat tekstil hewani, campuran serat, sintetis dan setengah sintetis, tumbuh- tumbuhan;
b. pelusuhan pencucian tekstil/ pakaian jadi, kain
hasil proses
penyempurnaan; dan c. kain cetak.
Rp
lusin/tahun
Rp
Investasi > 1 Milyar
Produksi riil > 6.000
Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
15. Penyamakan kulit Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
16. Barang dari kulit Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
17. Sepatu kulit Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 18. Hasil ikutan/sisa pembuatan
bubur kertas (pulp), jasa penunjang Industri bubur kertas (pulp).
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
19. Senyawa alkali
natrium/kalium, logam alkali, senyawa alkali lainnya, hasih ikutan/sisa dan jasa penunjang industnt kimia dasar anorganik khlor dan alkali.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
20. Gas industri gas mulia/bukan gas mulia, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri kimia dasar anorganik dan gas industri.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
21. a. elemen kimia, fosfida, karbida, air suling/mumi, udara cair/udara kempaan, asam anorganik, dan persenyawaan zat asam dan bukan logam;
b. basa anorganik dan oksida logam, hidroksida logam dan peroksida logam (tidak termasuk pigment), garam logam dan garam penoksi dari asam anorganik (fluonida, khlonida, bromide, yodida, perkhlorat, hipokhlorit, hipobromide, yodat, peryodat, sulfida, sulfit, thiosulfat, persulfat, nitrit, nitrat, fosfit, fosfat, sianida, sifikat, khromat, bikhromat, dsb.);
c. fisi elemen kimia dan isotop, elemen kimia radioaktif dan isotop radioaktif; dan
d. industri kimia dasar anorganik Iainnya, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri kimia dasar anorganik.
Ton/tahun
Rp Produksi riil > 1.000 Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
22. Terpentin, bahan pelarut lain bahan dan getah/kayu; tir kayu, minyak tir kayu, kreosot kayu dan rafta kayu.
Rp Investasi > 600 juta
23. Asam gondorukem dan asam
damar, termasuk turunannya. Rp Investasi > 1 Milyar
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 24. a. karbon aktif, arang kayu
(charcoal, briket, arang tempurung kelapa);
b. industri kimia dasar organik, bahan kimia dan kayu dan getah (gum) lainnya; dan
c. hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri kimia dasar organik, bahan kimia dan kayu dan getah (gum).
Rp Investasi > 600 juta
25. Zat aktif permukaan : Alkyi Suiphonate/ Iinier Alkylate Suiphonate (LAS), Alkyi Benzene Sulphonate (ABS)/
Alkyi Anal Sulphonat, Alkyi Olefin Sulphonate (AOS), Alkyi Sulphat/ Sodium Alkyi Sulphonate, Sodium lauryi Sulphate, Alkyi Ether Sulphate/ Alkyi adl ether Sulphate, senyawa amonium kwartener, zat aktif permukaan Iahannya.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
26. Pupuk tunggal P (posphor) atau K (kalium), pupuk buatan tunggal Iahannya, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri, pupuk buatan tunggal.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
27. Bahan Pembersih. Rp Investasi > 600 juta 28. Perekat dan bahan alami,
perekat dan damar sintetis thermoplastlk (dalam kemasan eceran kurang atau sama dengan 1kg), perekat dan damar sintetis thermoseting (dalam kemasan kurang atau sana dengan 1 kg), perekat Iahannya, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri perekat.
Rp Investasi > 600 juta
29. Crumb rubber. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
30. Barang dari fiberglass. Rp Investasi > 600 juta 31. Industri Concrete Batching
Plant. Semua besaran
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 32. Perabot rumah tangga dan
barang hiasan dan barang lainnya dan semen, hasil ikutan/ sisa dan jasa penunjang industri barang Iainnya dan semen; pot bunga dan semen.
Rp Investasi > 600 juta
33. Kapur tohor, kapur sirih kapur tembok, kapur hidrolis; kapur kembang, hasil ikutan sisa dan jasa penunjang industri kapur.
Rp Investasi > 600 juta
34. Barang dari kapur, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri barang dari kapur.
Rp Investasi > 600 juta
35. a. perlengkapan rumah tangga dan tanah flat tanpa/dengan glazur, hiasan rumah tangga dan pot bunga segala jenis dan tanah flat, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri barang dan tanah liat untuk keperluan rumah tangga;
b. piring tanah liat tanpa/dengan glazur (segala jenis), cangkir &
pisin tanah flat tanpa/dengan glazur.
Rp Investasi > 600 juta
36. a. batu bata berongga atau tidak berongga press mesin;
b. batu bata press mesin dan tangan, semen merah, kerikil tanah flat, batu bata lainnya dan tanah flat, hasil ikutan/ sisa dan jasa penunjang industri batu bata dan tanah liat.
Rp Investasi > 600 juta
37. a. genteng kodok diglazur atau tidak di glazur press mesin;
b. genteng press mesin dan tangan, genteng lainnya dan tanah liat, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri genteng dan tanah liat.
Rp Investasi > 600 juta
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 38. Bata tahan api, mortar tahan
api bata tahan api Iainnya, basil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri bata tahan api dan sejenisnya dan tanah liat.
Rp Investasi > 600 juta
39. a. barang saniter dan ubin dan tanah list tidak dikilapkan;
b. barang saniter dan ubin dan tanah liat dikilapkan, barang tanah liat untuk keperluan bahan bangunan lain; hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri barang dan tanah liat untuk keperluan bahan bangunan lain.
Rp Investasi > 600 juta
40. Barang dan batu keperluan rumah tangga, bahan bangunan dan batu, barang seni/pajangan dan batu, basil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri barang dan batu untuk keperluan rumah tangga batu pipisan.
Rp Investasi > 600 juta
41. Barang dan batu untuk keperluan industri, barang Iainnya dan batu untuk keperluan lainnya, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang industri dan batu keperluan Iainnya.
Rp Investasi > 600 juta
42. a. ornamen atau patung dan marmer/batu pualam barang pajangan dan granit dan marmen/batu pualam, barang pajangan dan onix;
b. barang granit dan marmer/batu pualam untuk keperluan rumah tangga, hasil ikutan atau sisa dan jasa penunjang industri barang dan marmer/pualam untuk keperluan rumah tangga dan pajangan.
Rp Investasi > 600 juta
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 43. Barang dari marmer/batu
pualam dan granit keperluan bangunan, hasil ikutan/sisa dan jasa penunjang Industri barang dari marmer untuk keperluan bahan bangunan.
Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
44. Barang dan marmer/batu pualam dan granit, onix untuk keperluan lainnya, hasil atau sisa dan jasa penunjang industri barang dad marmen atau batu pualam untuk keperluan lainnya.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
45. Asbes semen dalam bentuk lembaran, buih dan pipa dan alat kelengkapan buluh dan pipa dan asbes, hasil ikutan/
sisa dan jasa penunjang industri barang dan asbes untuk keperluan bahan bangunan.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
46. Serat asbes campuran, benang dan tali asbes, pakaian dan perlengkapan pakaian dan alas kaki dan tutup kepala dan serat asbes, kertas mhlbord dan bulu kempa dan serat asbes, penyambung dan serat asbes yang dikempa dalam bentuk lembaran/
untuk keperluan Industri, hasil ikutan/ sisa dan jasa penunjang industri barang dan asbes untuk keperluan industri gulungan, barang lainnya dan asbes.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
47. Perabot rumah dari asbes, banang laIn dan asbes untuk keperluan lain, hasil ikutan/
sisa dan jasa penunjang industri barang dan asbes untuk keperluan lainnya.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
48. Tepung kaolin, barang dari gips, barang dan mika, tepung talk, kertas penggosok (abrasive paper), barang gallan bukan logam lainnya, basil ikutan/ sisa dan jasa penunjang industri barang gallan bukan logam.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 49. Industri penggilingan baja :
batang dan kawat baja, baju tulangan, baja profil, lembaran dan pelat baja, termasuk paduannya.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
50. Industri penempaan baja : a. batang berongga atau
bukan dan baja paduan atau bukan paduan;
b. baja tempa bentuk lainnya.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
51. Industri penggilingan logam bukan besi :
a. pelat;
b. sheet;
c. strip;
d. foil; dan e. bar/batang.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
52. Ekstruksi logam bukan besi Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
53. Penempaan logam bukan besi : a. bar;
b. rod;
c. angle;
d. shape; dan
e. section (profit) hasil tempaan.
Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
54. Industri alat pertanian dan
logam. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
55. Industri alat pertukangan dan pemotong dan logam.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
56. Industri alat dapur dan
alumunium. Rp Investasi > 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
57. Industni alat dapur dan logam
bukan almunium. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
58. Alat pertukangan, pertanian dan dapur yang terbuat dari logam.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
59. Industri perabot rumah tangga
dan kantor dan logam. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
60. Barang dan logam bukan
almunium untuk bangunan. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 61. Barang dan almunium untuk
bangunan. Rp Investasi > 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
62. Konstruksi baja untuk
bangunan. Rp Investasi > 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
63. Pembuatan ketel dan bejana
tekan. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
64. Barang dan logam untuk
konstruksi lainnya. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
65. Industri paku, mur dan baut. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
66. Industri engsel, gerendel dan
kunci dan logam. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
67. Industri kawat logam kawat galbani/non galbani, baja stainless.
Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
68. Industri pipa dan sambungan
pipa dan logam. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
69. Industri lampu dan logam. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
70. Industri barang logam lainnya yang belum tercakup dimanapun.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
71. Industri mesin uap, turbin dan
kincir. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
72. Industri motor pembakaran dalam.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
73. Industri komponen dan suku cadang motor penggerak mula.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
74. Pemeliharaan dan perbaikan
mesin penggerak mula. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
75. Industri mesin pertanian dan
perlengkapannya. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
76. Pemeliharaan dan perbaikan
mesin pertanian. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 77. Mesin pengolah/pengerjaan
logam dan perlengkapannya. Ton/tahun Kapasitas > 100 78. Mesin pengolah/pengerjaan
kayu dan perlengkapannya. Ton/tahun Kapasitas > 100 79. Pemeliharaan dan perbaikan
mesin beam dan kayu. Ton/tahun Kapasitas > 100 80. Industri mesin tekstil. Ton/tahun Kapasitas > 100 81. Industri mesin percetakan. Ton/tahun Kapasitas > 100 82. Mesin pengolah hasil
pertanian dan perkebunan, hasil kehutanan dan mesin pengolah makanan minuman serta mesin pengolah Iainnya.
Unit/tahun Kapasitas > 100
83. Komponen dan suku cadang
mesin industri khusus. Ton/tahun Kapasitas > 100 84. Pemeliharaan dan perbaikan
mesin khusus. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
85. Mesin kantor dan akuntansi
manual. Rp Investasi > 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
86. Mesin kantor dan komputasi
akuntansi elektronika. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
87. Industri mesin jahit. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
88. Alat berat dan alat
pengangkat. Unit/tahun Kapasitas > 30 89. Mesin fluida. Unit/tahun Kapasitas > 30 90. Mesin pendingin. Unit/tahun Kapasitas > 30 91. Mesin dan perlengkapan
pemanas air, mesin yang lain.
Unit/tahun Kapasitas > 30 92. Industri komponen dan suku
cadang mesin jahit dan peralatan yang lainnyal.
Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
93. Mesin pembangkit listrik. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
94. Motor listrik. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
95. Transformator, pengubah arus
(rectifier), pengontrol tegangan. Unit/tahun Kapasitas > 10.000 96. Panel listrik dan switch gear. Rp Investasi > 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 97. Mesin las listrik. Rp Investasi > 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
98. Mesin listrik lainnya. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
99. Pemeliharaan dan perbaikan
mesin listrik. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
100. lndustri radio dan TV. Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
101. Industri alat komunikasi. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
102. Peralatan dan perlengkapan
sinar X. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
103. Sub asembly dan komponen elektronika.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
104. lndustri alat listrik untuk
keperluan rumah tangga. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
105. Industri accumulator listrik. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
106. Industri bola lampu pijar, lampu penerangan terpusat dan lampu ultraviolet.
Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
107. Industri lampu tabung gas (lampu pembuang muatan listrik).
Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
108. Industri komponen lampu listrik.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
109. Kabel listrik dan telepon. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
110. Alat listrik dan komponen
lainnya. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
111. Bangunan baru kapal. DWT 100 ≤ Kapasitas ≤ 3.000 112. Motor pembakaran dalam
untuk kapal. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
113. Peralatan dan perlengkapan
kapal. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 114. Perbaikan kapal. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
115. Pemotongan kapal. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
116. Industri perakitan kendaraan bermotor yang melakukan proses pengecatan yang didahului oleh proses degresing celup;
kendaraan roda empat atau lebih;
industri perakitan kendaraan bermotor yang melakukan proses elektroplating.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
117. Perlengkapan kendaraan roda empat :
industri komponen kendaraan bermotor yang melakukan proses pengecatan yang didahului proses degresing celup industri komponen kendaraan bermotor yang
melakukan proses
elektroplating.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
118. Kendaraan bermotor roda
dua/tiga. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
119. Komponen dan perlengkapan kendaraan bermotor roda dua/
tiga.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
120. Industri sepeda. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
121. Industri perlengkapan sepeda. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
122. Peralatan profesional ilmu pengetahuan, pengukur dan pengatur manual.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
123. lndustri alat optik untuk Ilmu pengetahuan, teropong dan alat optik untuk Ilmu pengetahuan.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
124. Kamera fotografi. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
125. Kamera sinematografi,
proyektor dan
perlengkapannya.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 126. Industri jam dan sejenisnya. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
127. Berlian perhiasan, intan perhiasan Batu mulia, batu permata, serbuk dan bubuk batu mulia, batu pemata sintetik, permata lainnya, hasil ikutan atau sisa dan jasa penunjang industri permata dan barang perhiasan.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
128. Industri barang perhiasan berharga untuk keperluan pribadi dari bahan logam mulia.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
129. Industri barang perhiasan berharga untuk keperluan pribadi dari bahan bukan logam mulia.
Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
130. Stick, bad dari sejenisnya ;
bola. Rp Investasi > 1 Milyar
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
131. Mainan anak-anak. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
132. Pena dan perlengkapannya,
pensil. Rp Investasi > 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
133. Pita mesin tulis/gambar. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
134. Payung kain. Rp Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
135. Industri kerupuk. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
136. Industri sabun. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
137. Industri rokok. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
138. Industri genteng. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
139. Furniture. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤
1.000
140. Perusahaan kosmetik. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
141. Peleburan emas. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
142. Industri barang dan semen. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 143. Perakitan barang elektronik. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤
1.000 144. Furniture dan alurnunium dan
rotan. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤
1.000
145. Industri formulasi pestisida. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
146. Penjernih air. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤ 1.000
147. Kertas box. m2/ tahun Produksi riil > 1,5 Juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
148. Farmasi. Orang 20 ≤ Tenaga kerja ≤
1.000 149. Corrugated dan offset packagin
MFG. m2/ tahun Produksi riil > 1,5 Juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
150. Keramik - mozaik. m2/ tahun Produksi riil > 1,5 Juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
151. Pipa stainless. m2/ tahun Produksi riil > 1,5 Juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
152. a. sari dan air daging, daging beku, daging olahan tanpa kedap udara, daging olahan dalam kemasan kedap udara Iainnya, daging olahan dan awetan lainnya, daging dalam kaleng; dan b. susu kelapa (whey), susu
bubuk, susu yang diawetkan, susu cair dan susu kental.
m2/ tahun Produksi riil > 1,5 Juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
153. Mentega, keju dan makanan
dan susu lainnnya. Ton/ tahun Produksi riil > 4.500 154. Es krim dan susu. Ton/ tahun Produksi riil > 5.000 155. Oleochemical,minyak
kasar/lemak hewani, minyak kasar nabati.
Ton/ tahun > 1.000
156. Margarin. Ton/ tahun > 1.000 157. Minyak goreng kelapa. Ton/ tahun > 4.500 158. Minyak goreng kelapa sawit. Ton/ tahun > 1.000 159. Minyak goreng Iainnya dan
nabati atau hewani. Ton/ tahun > 1.000 160. Olahan minyak makan dan
lemak dari nabati dan hewani. Ton/ tahun > 1.000 161. Tepung terigu. Ton/ tahun > 5.000
No. Jenis Usaha/ Kegiatan Satuan Skala/ Besaran 162. a. makanan dan tepung beras
atau tepung lainnya; dan b. makanan dan tepung
terigu.
Ton/ tahun Ton/ tahun
Produksi riil > 5.000 Produksi riil > 1.000 163. Pembuatan gula lainnya. Ton/ tahun Produksi riil > 5.000 164. Sirup dan bahan gula. Ton/ tahun Pemakaian gula > 200 165. Pengolahan gula Iainnya selain
sirup. Ton/ tahun
166. a. kembang gula mengandung kakao, kakao tahan,
makanan yang
mengandung kakao; dan b. kembang gula yang tidak
mengandung kakao.
Ton/ tahun
Ton/ tahun
Produksi riil > 1.000
Produksi riil > 1.000
167. Pati/sani ubi kayu (tepung tapioka), hasil ikutan /sisa industri pati/sari ubi kayu.
Ton/ tahun Pengolahan > 9.000
168. Sagu; pati palma, hasil ikutan/sisa industri berbagai pati palma.
Ton/ tahun Produksi riil > 6.000
169. Tahu. Ton/ tahun Jumlah kedelai > 3.000 170. Komponen bumbu masak. Ton/ tahun Produksi riil > 2.600 171. Industri penyedap masakan
kimiawi dan non kimiawi.
Ton/ tahun Produksi riil > 1.000 172. Garam meja, garam bata dan
garam lainnya. Ton/ tahun
Rp Produksi riil > 500 Investasi > 600 juta (Tidak termasuk lahan dan bangunan) Investasi
> 600 juta
(Tidak termasuk lahan dan bangunan)
173. Industri aneka tenun. Semua besaran
174. a. kain kelantang dari serat tekstil hewani, campuran serat, sintetis dan setengah sintetis, tumbuh- tumbuhan;
b. kain celup dari serat hewani, campuran serat, sintetis dan setengah sintetis, tumbuh- tumbuhan; dan
c. petusuhan/pencucian tekstil/pakaian jadi, kain
hasil proses
penyempurnaan.
Rp
lusin/
tahun
Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)
Produksi riil > 6.000
175. Kain cetak. Rp Investasi > 1 Milyar (Tidak termasuk lahan dan bangunan)