BERITA DAERAH
KOTA TANGERANG SELATAN
No. 31,2018 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.
Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak.
PROVINSI BANTEN
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN
NOMOR 31 TAHUN 2018 TENTANG
RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA TANGERANG SELATAN,
Menimbang : a. bahwa sebagai bentuk perlindungan dan pemenuhan hak anak agar dapat hidup lebih layak dan sejahtera diwujudkan melalui pengintegrasian program pembangunan Daerah yang responsif terhadap kebutuhan anak;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan pembangunan Daerah yang responsif terhadap kebutuhan anak sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Pemerintah Daerah menetapkan Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia;
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 297, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 5606);
SALINAN
Pembentukan Kota Tangerang Selatan Di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang–Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 168);
6. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 169);
7. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 13 Tahun 2011 tentang Panduan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 170);
8. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 14 Tahun 2011 tentang Panduan Evaluasi Kabupaten/Kota Layak Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 171);
Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 72);
10. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 9 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 73);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.
2. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah otonom.
3. Walikota adalah Walikota Tangerang Selatan.
4. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
5. Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
6. Hak Anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh Orang Tua, Keluarga, masyarakat, negara, pemerintah, dan pemerintah daerah.
7. Kota Layak Anak yang selanjutnya disingkat KLA adalah kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak.
kota yang mengkoordinasikan upaya kebijakan, program dan kegiatan untuk mewujudkan KLA.
9. Rencana Aksi Daerah Pengembangan KLA yang selanjutnya disingkat RAD KLA adalah dokumen yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan untuk mewujudkan KLA.
BAB II
RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK Pasal 2
RAD KLA disusun bertujuan untuk memberikan pedoman bagi Gugus Tugas KLA dalam melaksanakan:
a. percepatan upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak; dan
b. peningkatan efektifitas pengembangan KLA secara terkoordinasi, terencana dan berkesinambungan.
Pasal 3 (1) Sistematika RAD KLA terdiri dari:
a. Pendahuluan;
b. Kota Layak Anak;
c. Grand Design Kota Layak Anak;
d. Visi, Misi, dan Strategi Kota Layak Anak;
e. Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak;
f. Penutup.
(2) Sistematika RAD KLA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.
BAB III PEMBIAYAAN
Pasal 4
Pembiayaan pelaksanaan RAD KLA bersumber dari:
a. anggaran pendapatan dan belanja negara;
b. anggaran pendapatan dan belanja daerah; dan/atau c. sumber dana lain yang sah dan tidak mengikat.
TENTANG
RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK KOTA TANGERANG SELATAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Konvensi Hak Anak adalah perjanjian internasional pertama yang merupakan bagian dari hukum internasional di bidang Hak Asasi Manusia yang instrumennya bertujuan untuk menjamin dan melindungi hak-hak anak di dunia dan bersifat mengikat secara hukum. Konvensi Hak Anak tersebut merupakan hasil dari Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang
dituangkan dalam Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa 44/25 tanggal 20 November 1989.
Kewajiban negara yang dimaksud, yaitu: (1) kewajiban untuk melindungi (to protect), yaitu negara harus melindungi agar hak- hak anak tidak dilanggar oleh pihak lain; (2) kewajiban untuk menghormati (to respect), yaitu negara harus menghormati dan menjamin hak-hak anak yang dinyatakan dan diakui dalam Konvensi tanpa diskriminasi; (3) kewajiban untuk memenuhi (to fulfill), yaitu negara menjamin pemenuhan hak anak yang mencakup pemenuhan kebutuhan dasar yang mendukung kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan anak; dan (4) kewajiban untuk memajukan (to advance), yaitu Negara wajib memastikan kemajuan pelaksanaan Konvensi yang efektif.
Grand Design RAD KLA ini diharapkan menjadi acuan Pemerintah Kota Tangerang Selatan bersama pemangku
kepentingan terkait mampu bersinergi untuk mewujudkan Kota Tangerang Selatan sebagai KLA secara terpadu dan holistik.
Diharapkan Kota Tangerang Selatan dapat menjadi acuan pembelajaran/Center of Excellence untuk kota/kabupaten Layak Anak di Indonesia.
Tahun 2016-2021 adalah:
a. Mewadahi komitmen pemangku kepentingan dalam menjalankan upaya transformasi Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) bagi Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak di Kota Tangerang Selatan.
b. Memberikan kerangka acuan bagi seluruh pemangku
kepentingan untuk bersinergi bersama mewujudkan Kota Tangerang selatan sebagai KLA.
c. Memberikan masukan kepada perencanaan pembangunan di Kota Tangerang Selatan, dari tingkat Rukun Warga
hingga tingkat Kota, melalui internalisasi muatan Grand Design RAD KLA Kota Tangerang Selatan ke dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 atau Rencana Strategis (Renstra) Perangkat Daerah Kota Tangerang Selatan atau Rencana Kerja Perangkat
Daerah (RKPD).
1.3 RUANG LINGKUP
1.3.1 Ruang Lingkup Geografis
Ruang lingkup geografis yang menjadi sasaran dari Grand Design adalah Kota Tangerang Selatan KLA.
1.3.2 Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup substansi dari Grand Design Kota Tangerang Selatan KLA merupakan hasil dari proses
dan kegiatan kolaboratif, yang dituangkan ke dalam Visi Kota Tangerang Selatan menuju KLA, Misi Kota Tangerang Selatan menuju KLA, Strategi Kota Tangerang Selatan menuju KLA, Target Pencapaian
Indikator KLA di Setiap Tingkatan Pemerintahan, Peta
Jalan Jakarta Menuju KLA, dan Rencana Aksi Kota Tangerang Selatan menuju KLA.
sebuah dokumen acuan bagi berbagai pemangku kepentingan terkait dalam pengembangan KLA di Kota Tangerang Selatan.
Grand Design ini juga merupakan perwujudan hasil kesepakatan dan komitmen bersama Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan pemangku kepentingan terkait untuk bersama mewujudkan Kota Tangerang Selatan sebagai KLA. Grand Design dibuat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yakni Tahun 2016-2021 dan memuat visi, misi, strategi, peta jalan, dan RAD dalam rangka mewujudkan Kota Tangerang Selatan sebagai KLA.
Grand Design ini juga menjadi salah satu rujukan bagi para
pemangku kepentingan, khususnya Perangkat Daerah di Kota Tangerang Selatan, dalam membuat rencana program 5
(lima) tahunan dan rencana kerja tahunan. Penggunaan Grand Design tersebut dalam perencanaan jangka menengah 5 (lima) dan tahunan ialah sebagai berikut:
1. Bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD), Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan menjadi masukan basis data dan
target 5 (lima) tahunan, penetapan strategi, dan sinkronisasi program lintas sektor. Kemudian, rencana dalam RPJMD tersebut diterjemahkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Perangkat Daerah masing-masing yang terkait dengan pelaksanaan KLA.
2. Bagi penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), rencana pembangunan yang bersifat tahunan,
Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 menjadi masukan penyusunan program,
kegiatan, dan alokasi anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kemudian, rencana dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) diterjemahkan dalam Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah masing-masing yang terkait dengan pelaksanaan KLA.
Kota Tangerang Selatan dalam pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), pencapaian Misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Tangerang Selatan, serta perwujudan Kota Tangerang Selatan sebagai KLA.
1.5 SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika Pembahasan RAD KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 terdiri dari:
1. Bab I
Pendahuluan membahas tentang Latar Belakang, Tujuan, Ruang Lingkup, Ruang Lingkup Geografis, Ruang Lingkup Substansi, Kedudukan Rencana Aksi Daerah dan Sistematika Pembahasan.
2. Bab II
Kota Layak Anak membahas tentang Klaster Kota Layak Anak, Indikator Kota Layak Anak, Dasar Hukum Kota Layak Anak, Pencapaian Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan dengan sub pembahasan Internalisasi Konsep Kota Layak Anak, Penguatan Kelembagaan, Penetapan Kota Administrasi sebagai Lokasi Pengembangan Kota Layak Anak, Penyediaan Data, Upaya Percepatan Pencapaian Kota Layak Anak, dan Penghargaan Terkait Kota Layak Anak.
3. Bab III
Grand Design Kota Layak Anak membahas tentang Metode Penyusunan Grand Design, Kegiatan Penyusunan, Identifikasi dan Pengumpulan Data, Diskusi Kelompok Terfokus/Focus Group Discussion (FGD), Lokakarya Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan, Peluncuran Awal Grand Design Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan dan Pihak yang Terlibat.
Visi Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan, Misi Kota
Layak Anak Kota Tangerang Selatan, dan Strategi Kota Tangerang Selatan Menuju Kota Layak Anak.
5. Bab V
Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak membahas tentang Alur Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak, Indikator Kota Layak Anak Dan Target Pencapaiannya Di Setiap Tingkatan, Kerangka Pencapaian Kota Tangerang Selatan Kota Layak
Anak, Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan.
6. Bab VI
Penutup membahas tentang Kesimpulan dan Rekomendasi.
Pembahasan per bab sebagaimana dapat dilihat pada tabel 1.1.
sebagai berikut.
Tabel 1.1. Sistematika pembahasan
BAB URAIAN
Bab I Pendahuluan membahas tentang Latar Belakang, Tujuan, Ruang Lingkup, Ruang Lingkup Geografis, Ruang Lingkup Substansi, Kedudukan Rencana Aksi Daerah dan Sistematika Pembahasan.
Bab II Kota Layak Anak membahas tentang Klaster Kota Layak Anak, Indikator Kota Layak Anak, Dasar Hukum Kota Layak Anak, Pencapaian Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan dengan sub pembahasan Internalisasi Konsep Kota Layak Anak, Penguatan Kelembagaan, Penetapan Kota Administrasi sebagai Lokasi Pengembangan Kota Layak Anak, Penyediaan Data, Upaya Percepatan Pencapaian Kota Layak Anak, dan Penghargaan Terkait Kota Layak Anak.
Penyusunan, Identifikasi dan Pengumpulan Data, Diskusi Kelompok Terfokus/Focus Group Discussion (FGD), Lokakarya Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan, Peluncuran Awal Grand Design Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan dan Pihak yang Terlibat.
Bab IV Visi, Misi, dan Strategi Kota Layak Anak membahas tentang Visi Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan, Misi Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan, dan Strategi Kota Tangerang Selatan Menuju Kota Layak Anak.
Bab V Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak membahas tentang Alur Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak, Indikator Kota Layak Anak Dan Target Pencapaiannya Di Setiap Tingkatan, Kerangka Pencapaian Kota Tangerang Selatan Kota Layak Anak, Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak Kota Tangerang Selatan.
Bab VI Penutup membahas tentang Kesimpulan dan Rekomendasi.
BAB II
KOTA LAYAK ANAK 2.1. KLASTER KOTA LAYAK ANAK
Konvensi Hak Anak memuat 5 (lima) hal pokok terkait Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak yang kemudian diadopsi menjadi 5 (lima) Klaster KLA yaitu: (1) hak sipil dan kebebasan; (2) lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif;
(3) kesehatan dasar dan kesejahteraan; (4) pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya; dan (5) perlindungan khusus.
Untuk dapat menjamin pelaksanaan dan pengembangan KLA dengan baik, maka 5 (lima) Klaster tersebut didukung oleh penguatan Kelembagaan. Kelembagaan mencakup upaya penguatan kelembagaan KLA melalui peraturan/kebijakan, pembentukan lembaga/gugus tugas, dan pelibatan pemangku kepentingan terkait.
Penjelasan masing-masing Klaster KLA mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak dan Peraturan Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak,
sebagai berikut:
1. Hak Sipil dan Kebebasan (Klaster 1).
Mencakup pemenuhan hak anak, yaitu:
a. hak atas identitas;
b. hak perlindungan identitas;
c. hak berekspresi dan mengeluarkan pendapat;
d. hak berpikir, berhati nurani, dan beragama;
e. hak berorganisasi dan berkumpul secara damai;
f. hak atas perlindungan kehidupan pribadi;
g. hak akses informasi yang layak; dan
h. hak bebas dari penyiksaan dan penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia.
2. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif (Klaster 2).
Meliputi beberapa aspek, yaitu:
a. bimbingan dan tanggungjawab orang tua;
b. anak yang terpisah dari orang tua;
c. reunifikasi (pertemuan kembali anak dengan orang tua setelah terpisahkan);
d. pemindahan anak secara illegal;
e. dukungan kesejahteraan bagi anak;
f. anak yang terpaksa dipisahkan dari lingkungan keluarga; pengangkatan/adopsi anak; dan
g. tinjauan penempatan secara berkala; serta kekerasan dan penelantaran.
3. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan (Klaster 3) Meliputi beberapa aspek, yaitu:
a. anak penyandang disabilitas;
b. kesehatan dan layanan kesehatan;
c. jaminan sosial layanan dan fasilitasi kesehatan; dan d. standar hidup.
4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya (Klaster 4)
Meliputi beberapa aspek, yaitu:
a. pendidikan;
b. tujuan pendidikan; dan
c. kegiatan liburan dan kegiatan seni dan budaya.
5. Perlindungan Khusus (Klaster 5) Meliputi beberapa aspek, yaitu:
a. anak dalam situasi darurat;
b. anak yang berhadapan dengan hukum;
c. anak dalam situasi eksploitasi; dan
d. anak yang masuk dalam kelompok minoritas dan terisolasi.
Gambar. 2.1. Klaster KLA
RAD merupakan muatan inti dari Desain Besar Kota Tangerang Selatan KLA Tahun 2016-2021. Bab ini
memberikan kerangka acuan kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan pemangku kepentingan terkait untuk
mencapai target sesuai indikator KLA, dalam rangka mewujudkan Kota Tangerang Selatan sebagai KLA.
Adapun prinsip pengembangan KLA yang harus menyertai pelaksanaan penguatan kelembagaan dan 5 (lima) klaster hak anak yang sesuai dengan Konvensi Hak Anak, yaitu:
1. Non-Diskriminasi
Prinsip pemenuhan hak anak yang tidak membedakan suku, ras, agama, jenis kelamin, bahasa, paham politik, asal kebangsaan, status ekonomi, kondisi fisik maupun psikis anak, atau faktor lainnya.
2. Kepentingan Terbaik bagi Anak
Menjadikan hal yang paling baik bagi anak sebagai pertimbangan utama dalam setiap kebijakan, program, dan kegiatan.
3. Hak untuk Hidup, Kelangsungan Hidup, dan Perkembangan Anak, Menjamin hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan anak semaksimal mungkin.
4. Penghargaan terhadap Pandangan Anak
Mengakui dan memastikan bahwa setiap anak yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pendapatnya, diberikan kesempatan untuk mengekspresikan pandangannya secara bebas terhadap segala sesuatu hal yang mempengaruhi dirinya.
KLASTER 1 KLASTER 2 KLASTER 3
KLASTER 4 KLASTER 5
PEMENUHAN HAK ANAK
PERLINDUNGAN KHUSUS ANAK
PERLINDUNGAN ANAK
2.2. INDIKATOR KOTA LAYAK ANAK Indikator KLA adalah:
• Merupakan variabel yang digunakan untuk mengukur pelaksanaan pemenuhan hak anak di daerah dalam upaya mewujudkan KLA.
• Merupakan acuan bagi pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan, program dan kegiatan pemenuhan hak anak untuk mewujudkan KLA.
• Terdiri dari 6 (enam) indikator kelembagaan dan 25 (dua puluh lima) indikator subtansi yang dikelompokkan
dalam 5 (lima) klaster hak anak yaitu:
- Hak Sipil dan Kebebasan.
- Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif.
- Kesehatan dan Kesejahteraan Dasar.
- Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya.
- Perlindungan khusus.
Indikator pencapaian KLA sebagaimana tabel terlampir pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Indikator Pencapaian KLA No Indikator
Pencapaian Penjelasan
1 Peraturan/Kebijakan
Daerah tentang KLA Adanya payung hukum yang bisa dijadikan patokan dalam pelaksanaan KLA
2 Kelembagaan KLA Lembaga yang menaungi KLA 3 Keterlibatan
Masyarakat, Dunia Usaha dan Media Masa
Peran serta semua atas tercapainya KLA
4 Persentase Anak yang Teregistrasi dan Mendapatkan Kutipan Akta Kelahiran
Indikator ini mencakup segala kebijakan, strategi, program dan kegiatan yang dilakukan daerah dalam 2 (dua) tahun terakhir dalam upaya peningkatan cakupan registrasi dan kepemilikan Akta Kelahiran hingga mencapai target 100%
Jumlah anak yang tercatat dan memiliki Akta adalah jumlah dari seluruh anak umur 0 – < 18 tahun per tanggal 1 Januari tahun berjalan yang sudah dicatatkan dalam buku register
akta yang resmi dan sekaligus sudah diberikan Kutipan Akta Kelahirannya.
Anak yang baru dicatatkan namun belum dibuatkan Akta Kelahirannya, atau yang sudah dibuatkan Kutipan Akta Kelahiran namun belum dimasukkan ke dalam buku register, keduanya tidak boleh dimasukkan dalam data. Anak berkebutuhan khusus dan anak dari kelompok rentan administrasi kependudukan lainnya juga harus tercakup dalam data.
5 Tersedia Fasilitas Informasi Layak Anak (ILA)
Fasilitas informasi layak anak dapat berupa pojok baca, taman cerdas, rumah pintar, perpustakaan, perpustakaan keliling, layanan informasi daerah, dan sebagainya, yang menyediakan informasi sesuai kebutuhan dan usia anak, termasuk informasi penanggulangan bencana dan lainlain. Adapun penyebarluasan informasi meliputi penyebarluasan materimateri cetak, video, audio yang bermanfaat bagi Anak dan termasuk perlindungan anak dari publikasi identitas Anak untuk menghindari labelisasi dan stigmatisasi.
6 Terlembaganya Partisipasi Anak
Partisipasi Anak adalah keterlibatan anak dalam proses pengambilan keputusan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan dilaksanakan atas kesadaran, pemahaman serta kemauan bersama sehingga anak dapat menikmati hasil atau mendapatkan manfaat dari keputusan tersebut.
Oleh karena itu, Pemerintah wajib mengupayakan dan membantu Anak, agar anak dapat berpartisipasi dan bebas berserikat dan berkumpul. Peran Masyarakat dalam penyelenggaraan Perlindungan Anak juga dapat dilakukan dengan cara memberikan ruang kepada Anak untuk dapat berpartisipasi dan menyampaikan pendapat
7 Persentase
Perkawinan Anak Perkawinan pada usia anak merupakan sebuah bentuk praktik berbahaya dan pelanggaran terhadap hak asasi anak.
Perkawinan dapat dicegah, apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat- syarat untuk melangsungkan perkawinan, yaitu: (i) perkawinan harus didasarkan atas persetujuan
kedua calon mempelai; (ii) untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua; (iii) dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya; dan (iv) dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan, lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya. Pihak yang dapat mencegah perkawinan ialah para keluarga dalam keturunan lurus ke atas dan ke bawah, saudara, wali nikah, pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang berkepentingan.
8 Lembaga Konsultasi Penyedia Layanan Pengasuhan Anak
Pusat Pembelajaran Keluarga atau (Puspaga) adalah tempat pembelajaran untuk meningkatkan kualitas kehidupan menuju keluarga sejahtera melalui peningkatan kapasitas orang tua/keluarga atau orang yang bertanggungjawab terhadap anak dalam menjalankan tanggungjawab mengasuh dan melindungi anak agar tercipta kebutuhan akan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, dan kesejahteraan yang menetap dan berkelanjutan demi kepentingan terbaik anak, termasuk perlindungan dari kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah dan penelantaran.
9 Persentase Lembaga Pengasuhan
Alternatif
Terstandarisasi
Untuk menjamin terpenuhi hak-hak anak diperlukan pengasuhan dalam keluarga atau pengasuhan alternatif yang memadai, maka diperlukan adanya Standar Pengasuhan Anak di lembaga pengasuhan alternatif.
Kementerian Sosial menerbitkan Standar Nasional Pengasuhan untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor
30/HUK/2011 Tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak.
Tujuan standar ini adalah:
a. memperkuat pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pengasuhan dalam keluarganya;
b. memberikan pedoman bagi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dalam melaksanakan perannya sebagai alternatif terakhir dalam pengasuhan anak;
c. mengembangkan pelayanan langsung untuk mendukung keluarga yang menghadapi tantangan-tantangan dalam pengasuhan anak;
d. mendukung pengasuhan alternatif berbasis keluarga melalui orang tua asuh, perwalian, dan adopsi; dan memfasilitasi instansi yang berwenang untuk mengembangkan sistem pengeloaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarganya; dan
e. pengambilan keputusan tentang pengasuhan, perijinan pendirian Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak, monitoring dan evaluasi kinerja Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak.
10 Infrastruktur di Ruang Publik yang Ramah Anak
Tersedianya infrastruktur (sarana dan prasana) di ruang publik yang ramah anak mencakup ketersediaan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) dan Rute Aman dan Selamat ke dan dari Sekolah (RASS).
Rute Aman dan Selamat ke dan dari Sekolah (RASS) merupakan salah satu konsep yang dimaksudkan untuk memfasilitasi anak pergi dan pulang sekolah secara aman dan selamat.
Dengan kata lain, RASS adalah penciptaan jalur perjalanan ke dan dari sekolah bagi anak secara aman dan selamat. Aman dalam artian terlepas dari gangguan kriminalitas dan pelecehan serta kejahatan seksual, sedangkan selamat dalam arti terlepas dari ancaman kecelakaan lalu lintas selama dalam perjalanan menuju ke dan dari sekolah.
11 Persentase Persalinan di
Fasilitas Kesehatan
Persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah jumlah persalinan di semua fasilitas pelayanan baik pemerintah maupun swasta di Kabupaten/Kota dibagi jumlah kelahiran hidup selama 1 (satu) tahun dikali 100%.
12 Prevalensi Status
Gizi Balita Program perbaikan gizi masyarakat dilakukan melalui promosi keluarga sadar gizi dengan dipraktikkannya norma keluarga sadar gizi bagi seluruh keluarga di Indonesia untuk mencegah terjadinya masalah kurang gizi, khususnya gizi buruk. Kegiatan promosi keluarga sadar gizi dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek sosial budaya.
Mekanisme penanganan status gizi sangat kurus, kurus, dan gemuk lebih dilakukan melalui upaya pencegahan dan penanggulangan, antara lain melalui: penyuluhan gizi, peningkatan penggunaan ASI dan Makanan Pendamping ASI, penjaringan kasus, optimalisasi potensi pangan lokal dan pemberian makanan tambahan.
13 Persentase Cakupan Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) Usia di Bawah 2 Tahun
Pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) usia di bawah 2 tahun meliputi pemberian ASI Eksklusif dan Makanan Pendamping ASI. ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain selain ASI. Makanan Pendamping ASI memberikan makanan pendamping ASI kepada bayi menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah saat bayi berusia 6 (enam) bulan. WHO juga merekomendasikan makanan yang diberikan harus memadai dengan porsi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi pada usia tersebut.
14 Persentase Fasilitas Kesehatan dengan Pelayanan Ramah Anak
Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Pelayanan Ramah Anak adalah upaya yang dilakukan Fasilitas Pelayanan Kesehatan kepada anak berdasarkan pemenuhan, perlindungan dan penghargaan atas hak-hak anak sesuai 4 (empat) prinsip perlindungan anak, yaitu: non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghargaan
terhadap pendapat anak. Fasilitas Kesehatan seperti Puskesmas ditetapkan sebagai Puskesmas dengan Pelayanan Ramah Anak bila memenuhi 8 (delapan) indikator. Indikator Rumah Sakit dengan Pelayanan Ramah Anak:
a. Minimal 10 % petugas rumah sakit terlatih konvensi hak anak (KHA);
b. Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD);
c. Tersedia media dan materi KIE terkait kesehatan anak;
d. Tersedia ruang pelayanan dan konseling bagi anak;
e. Tersedia ruang tunggu/bermain bagi anak yang berjarak aman dari risiko tertular penyakit;
f. Tersedia Ruang ASI;
g. Terdapat tanda peringatan
“Dilarang Merokok” dan sebagai Kawasan Tanpa Rokok;
h. Tersedia sanitasi lingkungan Rumah Sakit sesuai standar;
i. Tersedia sarana dan prasarana bagi anak penyandang disabilitas;
j. Menerima rujukan kasus kekerasan terhadap anak; dan k. Tersedia data anak yang
memperoleh pelayanan kesehatan anak.
15 Persentase Rumah Tangga dengan Akses Air Minum dan Sanitasi yang Layak
Rumah tangga yang memiliki akses air bersih (individu/komunal) yang dimaksud adalah yang melalui jaringan pipa dan/atau non pipa. Air bersih merupakan air yang memenuhi persyaratan kesehatan untuk diolah menjadi air minum. Rumah tangga yang memiliki akses sanitasi yang layak (individu/komunal) yang dimaksud adalah sanitasi yang sesuai dengan standard an berfungsi dengan baik, tidak bocor, dan disedot secara berkala sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan wabah penyakit.
16 Tersedia Kawasan
Tanpa Rokok Kawasan tanpa rokok merupakan suatu ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok, menjual, mengiklankan dan/atau mempromosikan produk tembakau. Kawasan tanpa rokok ditetapkan di gedung pemerintahan, fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar (pendidikan), tempat anak bermain, tempat ibadah,
angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.
17 Persentase
Pengembangan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUD-HI)
Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif (PAUD-HI) adalah upaya pengembangan anak usia dini yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi. Tujuan umum Pengembangan Anak Usia Dini Holistik- Integratif adalah terselenggaranya layanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif menuju terwujudnya anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia. Sedangkan tujuan khusus Pengembangan Anak Usia Dini HolistikIntegratif adalah:
a. terpenuhinya kebutuhan esensial anak usia dini secara utuh meliputi kesehatan dan gizi, rangsangan pendidikan, pembinaan moralemosional dan pengasuhan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai kelompok umur;
b. terlindunginya anak dari segala bentuk kekerasan, penelantaran, perlakuan yang salah, dan eksploitasi di manapun anak berada;
c. terselenggaranya pelayanan anak usia dini secara terintegrasi dan selaras antar lembaga layanan terkait, sesuai kondisi wilayah; dan d. terwujudnya komitmen seluruh
unsur terkait yaitu orang tua, keluarga, masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dalam upaya Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif.
18 Persentase Wajib Belajar 12 Tahun
Program Wajib Belajar 12 (dua belas) Tahun merupakan Program yang mewajibkan setiap warga negara Indonesia untuk bersekolah selama 12 (dua belas) tahun pada pendidikan dasar dan menengah, yaitu dari tingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga kelas 12 Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan Dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
19 Persentase Sekolah
Ramah Anak (SRA) Sekolah Ramah Anak adalah satuan pendidikan formal, nonformal dan informal yang mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak, dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan. Sekolah Ramah Anak didefinisikan sebagai program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, selama anak berada di satuan pendidikan, serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran dan pengawasan. Sekolah Ramah Anak di dukung oleh program berbasis sekolah yaitu Sekolah Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup, Unit Kesehatan Sekolah, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Kawasan Tanpa Asap Rokok, Kantin Sehat, Pangan Jajan Sehat dari Kemenkes dan Badan Pom, Sekolah Anti Napza dari Badan Narkotika Nasional, Sekolah Aman Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sekolah Insan Cendikia untuk pembentukan karakter mulia dari Kemenag, Sekolah Aman yang memfokuskan pada pencegahan dan penanganan kekerasan serta Sekolah Karakter dan
Sekolah Keren dari Kemendikbud, Kantin Kejujuran Komisi Pemberantasan Korupsi, koordinasi perencanaan dan pelaksanaannya dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Komisi Pelindungan Anak Indonesia, Standar Bangunan Ramah Anak dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Penerapan Sekolah Ramah Anak dilaksanakan dengan merujuk 6 (enam) komponen penting di bawah ini:
a. Adanya komitmen tertulis yang dapat dianggap kebijakan tentang Sekolah Ramah Anak;
b. Pelaksanaan Proses Pembelajaran yang ramah anak;
c. Pendidik dan Tenaga Kependidikan Terlatih Hak-Hak Anak;
d. Sarana dan Prasarana yang ramah anak;
e. Partisipasi Anak; dan
f. Partisipasi Orang Tua, Lembaga Masyarakat, Dunia Usaha, Pemangku Kepentingan Lainnya, dan Alumni.
20 Tersedia Fasilitas untuk Kegiatan Budaya, Kreativitas, dan Rekreatif yang Ramah Anak
Fasilitas kreatif dan rekreatif adalah sarana dan prasarana yang disediakan untuk mengembangkan minat bakat anak, memanfaatkan waktu luang serta menjadi media ekspresi yang berada di luar sekolah, baik yang disediakan oleh pemerintah, masyarakat maupun dunia usaha. Contohnya adalah sanggar, kegiatan seni budaya, taman kota, taman cerdas, taman teknologi, museum, pedestrian, dan fasilitas olah raga. Sedangkan kegiatan/pertunjukan kreatifitas anak, antara lain Jambore Anak atau Lomba Kreatifitas Anak.
Pemanfaatan waktu luang dan aktif dalam kegiatan budaya merupakan hak anak.
Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus menghormati dan memajukan hak anak untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan budaya dan seni, dan harus mendorong pengaturan yang layak dan kesempatan yang sama untuk kegiatan-kegiatan budaya, seni,
rekreasi, dan santai. Hal penting yang harus dilihat untuk Pusat Kreatifitas Anak adalah bahwa pusat kreatifitas tersebut harus berada di tempat umum, dapat diakses oleh semua anak dan tidak berbayar. Kontribusi pemerintah daerah dalam pengelolaan Pusat Kreatifitas Anak menjadi sangat penting dan perlu mendapatkan apresiasi.
21.a Anak Korban Kekerasan dan Penelantaran yang Terlayani
Anak korban kekerasan adalah anak yang mengalami kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, eksploitasi dan/atau kekerasan lainnya sebagaimana dijelaskan dalam Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, sebagai contohnya:
anak korban perdagangan orang dan anak korban kekerasan dalam rumah tangga. Jenis pelayanan yang diberikan bagi Anak Korban Kekerasan adalah bantuan medis, psikologis dan psikososial, hukum (medikolegal), konsultasi, rehabilitasi, sarana dan prasarana penunjang bagi anak berkebutuhan khusus, pendidikan khusus, pemulangan, dan reintegrasi sosial.
Program/kegiatan pencegahan yang difokuskan pada deteksi dini tindak kekerasan terutama berbasis keluarga dan masyarakat. Yang dimaksud dengan lembaga penyedia layanan antara lain adalah Hotline Pengaduan, Pusat Pelayanan Terpadu (PPT), Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA), sarana layanan kesehatan, Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA), Rumah Aman, Lembaga Bantuan Hukum, dll. Upaya untuk penangan kekerasan terhadap anak:
a. Penanganan yang cepat, termasuk pengobatan dan/atau rehabilitasi secara fisik, psikis, dan sosial, serta pencegahan penyakit dan gangguan;
b. Kesehatan lainnya;
c. Pendampingan psikososial pada saat pengobatan sampai pemulihan;
d. Pemberian bantuan sosial bagi anak yang berasal dari keluarga tidak mampu; dan
e. Pemberian perlindungan dan pendampingan pada setiap proses peradilan.
21.b Persentase Anak yang Dibebaskan dari Pekerja Anak
Program pencegahan agar anak-anak tidak bekerja, antara lain berupa:
pemberdayaan ekonomi keluarga, pencegahan perkawinan usia anak, dan advokasi ke dunia usaha dan masyarakat untuk tidak mempekerjakan anak. Program penanganan antara lain melalui Program Penarikan Pekerja Anak dan Program Pelatihan Keterampilan Anak.
22.a Anak Korban
Pornografi, NAPZA, dan Terinfeksi HIV/AIDS yang Terlayani
Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban pornografi, penyalahgunaan Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) dan anak yang terlibat dalam produksi dan distribusinya dilaksanakan melalui upaya pembinaan, pendampingan, serta pemulihan sosial, kesehatan fisik dan mental. Sedangkan perlindungan khusus bagi anak dengan Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, pengobatan, perawatan, dan rehabilitasi.
22.b Anak Korban
Bencana dan Konflik yang Terlayani
Upaya untuk penanganan Perlindungan Khusus bagi Anak Korban Bencana dan Konflik, antara lain:
a. Penanganan yang cepat, termasuk pengobatan dan / atau rehabilitasi secara fisik, psikis, dan sosial, serta pencegahan penyakit dan gangguan;
b. Kesehatan lainnya;
c. Pendampingan psikososial pada saat pengobatan sampai pemulihan;
d. Pemberian bantuan sosial bagi anak yang berasal dari keluarga tidak mampu; dan
e. Pemberian perlindungan dan pendampingan pada setiap proses peradilan.
23 Anak Penyandang Disabilitas, dan Anak dari Kelompok Minoritas dan
Terisolasi yang Terlayani
Perlindungan Khusus bagi Anak Penyandang Disabilitas dilakukan melalui upaya:
a. Perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan Hak Anak;
b. Pemenuhan kebutuhan khusus;
c. Perlakuan yang sama dengan anak lainnya untuk mencapai integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan individu; dan
d. Pendampingan sosial.
Sedangkan untuk anak dari kelompok minoritas dan terisolasi dilakukan melalui upaya:
a. Penyediaan akses pendidikan;
b. Penyediaan akses kesehatan; dan c. Penyediaan akses untuk
pengembangan budaya.
24.a Kasus Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH)
(khusus pelaku) yang Terselesaikan melalui Diversi
Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
Pendekatan Keadilan Restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan. Mekanisme diversi adalah mekanisme pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar pengadilan anak.
24.b Anak Korban
Jaringan Terorisme yang Terlayani
Perlindungan Khusus bagi Anak Korban Jaringan Terorisme dilakukan melalui upaya:
a. Edukasi tentang pendidikan, ideologi, dan nilai nasionalisme;
b. Konseling tentang bahaya terorisme;
c. Rehabilitasi sosial; dan d. Pendampingan sosial.
24.c Anak Korban
Stigmatisasi Akibat dari Pelabelan terkait dengan Kondisi Orang Tuanya yang Terlayani
Perlindungan Anak Korban Stigmatisasi akibat dari pelabelan terkait dengan kondisi orang tuanya, diupayakan melalui:
a. bantuan psikologis dan psikososial, hukum (medikolegal);
b. bantuan konsultasi;
c. bantuan rehabilitasi, sarana dan prasarana; dan
d. program/kegiatan pencegahan yang difokuskan pada deteksi dini untuk menghindari stigmatisasi terhadap anak berbasis keluarga dan masyarakat.
2.3. DASAR HUKUM KOTA LAYAK ANAK
Dasar hukum KLA adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Guna mempercepat terwujudnya Kabupaten/Kota Layak Anak di seluruh Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menerbitkan 4 (empat) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 4 (empat) Peraturan atau landasan hukum yang dimaksud adalah:
1. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak.
2. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak.
3. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 13 Tahun 2011 tentang Panduan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak.
4. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 14 Tahun 2011 tentang Panduan Evaluasi Kabupaten/Kota Layak Anak.
2.4. PENCAPAIAN KOTA LAYAK ANAK KOTA TANGERANG SELATAN
Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan
Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Kota Tangerang Selatan menyelenggarakan deklarasi KLA dan
Pengarusutamaan Gender berlangsung di Lapangan Cilenggang Kecamatan Serpong Kota Tangerang Selatan pada Senin 05 Februari 2018.
Kepala Plt. DPMP3AKB Kota Tangerang Selatan menjelaskan, deklarasi Kota Tangerang Selatan menuju Kota Layak Anak ini bertujuan untuk memenuhi hak anak dan melindungi anak.
“Deklarasi ini ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Kota Tangerang Selatan dan seluruh Perangkat Daerah serta
disaksikan langsung oleh Walikota Kota Tangerang Selatan dan Wakil Walikota Kota Tangerang Selatan.
Dalam komitmen tersebut kepala perangkat daerah berkomitmen untuk mewujudkan Kota Tangerang Selatan sebagai KLA, mewujudkan Kota Tangerang Selatan sebagai kota yang peduli terhadap pembangunan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Komitmen tersebut akan kami realisasikan dalam program dan kegiatan
sesuai dengan tugas dan fungsi perangkat daerah di Kota Tangerang Selatan.
Dalam deklarasi tersebut dengan melakukan senam three ends yang isinya yakni stop kekerasan terhadap anak dan perempuan, stop perdagangan orang, kesenjangan siswa dan perempuan serta stop perkawinan anak.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Tangerang Selatan, menjelaskan target di 2018 untuk Kota Tangerang Selatan KLA tingkat madya, berbagai indikator
terus dilaksanakan seperti halnya Peraturan Daerah tentang Kota Layak Anak, terlembaga KLA, Keterlibatan masyarakat, dunia usaha dan media, partisipasi anak, akta kelahiran, informasi layak anak. “Semua indikator tersebut telah
dijalankan oleh petugas yang berada di Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
2.4.1. Internalisasi Konsep Kota Layak Anak
Pemerintah Kota Tangerang Selatan menunjukkan
komitmen perwujudan KLA melalui Keputusan Walikota Tangerang Selatan Nomor
463/Kep.75-Huk/2017 tentang Gugus Tugas Kota Layak Anak. Perlindungan terhadap perempuan dan anak, yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari konsep
KLA, Konsep KLA juga tercakup dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah Kota Tangerang Selatan yang tertuang dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2016-2021.
2.4.2. Penguatan Kelembagaan
Upaya pelaksanaan dan pengembangan KLA Kota Tangerang Selatan dimulai pada tahun 2017 dengan
berdasar pada Keputusan Walikota Tangerang Selatan Nomor 463/Kep.75-Huk/2017 tentang Gugus Tugas Kota Layak Anak. Pembentukan lembaga yang bertanggungjawab secara khusus terkait upaya Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak.
2.4.3. Penetapan Kota Administrasi Sebagai Lokasi Pengembangan Kota Layak Anak
Setelah melakukan penguatan kelembagaan melalui
pembentukan lembaga atau dinas Pemerintah Kota Tangerang Selatan beberapa Gugus Tugas terkait
Kota Layak Anak dengan berdasarkan pada Keputusan
Walikota Tangerang Selatan Nomor 463/Kep.75-Huk/2017 tentang Gugus Tugas Kota Layak
Anak, pencapaian KLA juga perlu dilaksanakan dan
dikembangkan secara nyata di Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
2.4.4. Upaya Percepatan Pencapaian Kota Layak Anak
Disamping menginternalisasikan konsep KLA ke dalam
kebijakan dan regulasi Pemerintah Kota Tangerang Selatan, berbagai inisiatif dalam rangka
mempercepat pencapaian KLA juga dilaksanakan. Salah satu inisiatif yang sudah secara baik dikenal oleh publik adalah dibangunnya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga
membangun komunikasi semua pihak (Stakeholder dan Perangkat Daerah) guna mempercepat pencapaian KLA.
2.4.5. Penghargaan Terkait Kota Layak Anak
Pada tahun 2017 Pemerintah Kota Tangerang Selatan memperoleh dua penghargaan sekaligus yang berhasil diraih adalah Penghargaan Kota Layak Anak Tingkat Pratama dan Pengembangan Forum Anak Tingkat Nasional. Penghargaan tersebut diserahkan langsung dalam acara malam puncak penganugerahan Kabupaten/Kota Layak Anak tahun 2017 dalam rangka Hari Anak Nasional 2017 di Pekanbaru.
3.1. METODE PENYUSUNAN GRAND DESIGN
Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan disusun menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada proses dan dampak dari hasil yang akan dicapai. Disamping menggunakan metode kualitatif, penyusunan Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan dilandasi dan menggunakan teori Perencanaan Kolaboratif.
Perencanaan kolaboratif adalah sebuah proses interaktif dari perwujudan konsensus, penyusunan rencana, dan implementasinya sebagai sebuah cara untuk membangun jaringan dan untuk meningkatkan penyampaian pemahaman diantara para pemangku kepentingan terkait. Perencanaan kolaboratif diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan pemangku kepentingan terkait yang meliputi unsur Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Organisasi Non Pemerintah, Forum Masyarakat Tangsel, Sektor Swasta, dan Media.
Salah satu perwujudan perencanaan kolaboratif dituangkan ke dalam kegiatan interaktif yaiitu Diskusi Kelompok Terfokus/Focus Group Discussion (FGD), yang akan dijelaskan bersama kegiatan penyusunan Grand Design lainnya pada Sub Bab berikut.
3.2. KEGIATAN PENYUSUNAN
Kegiatan penyusunan Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 merupakan pengejawantahan dari metode kualitatif dan perencanaan kolaboratif yang dimulai yakni deklarasi Kota Tangerang Selatan menuju KLA. Kegiatan perdana ditandai dengan diselenggarakannya Rapat Perdana Pembahasan Deklarasi Kota Layak Anak. Kegiatan kolaboratif yang telah dilakukan, yaitu:
Rapat Koordinasi, Deklarasi KLA yang meliputi kegiatan dan diskusi bersama Forum Masyarakat Tangerang Selatan. Adapun alur waktu kegiatan penyusunan Grand Design KLA Tahun 2016- 2021 dapat dilihat pada 3.1.
Sumber: Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) Konsultan KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021.
Gambar 3.1 Alur Waktu Kegiatan Penyusunan Grand Design KLA 3.3. IDENTIFIKASI DAN PENGUMPULAN DATA
Identifikasi dan pengumpulan data dari beberapa perangkat daerah, non perangkat daerah, Pihak Swasta, dan Forum Mayarakat Tangerang Selatan di Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengenai program KLA, laporan pelaksanaan kegiatan KLA, serta data mitra yang bekerjasama dengan perangkat daerah terkait pelaksanaan kegiatan KLA.
3.4. DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS/FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)
Diskusi Kelompok Terfokus/Focus Group Discussion (FGD) merupakan kegiatan yang menjadi bagian penting dalam penyusuan draf Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan serta Lokakarya 1 dan Lokakarya 2 KLA. Pada diskusi tersebut difokuskan pemangku kepentingan terkait yang dikelompokkan berdasar 5 (lima) klaster utama dari konsep KLA, yaitu:
• Kelembagaan
• Klaster 1: Hak Sipil dan Kebebasan
• Klaster 2: Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif
• Klaster 3: Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan
oleh Walikota Tangerang Selatan
Lokakarya 1, tentang Grand Design Tangerang Selatan Menuju Kota Layak
Anak.
pada tahun 2017-2021.
Oleh konsultan (LSIN) Swasta, dan
Farum Masyarakat Tangsel dan Media
Lokakarya 2, tentang Draff Grand Design
Tangerang Selatan Menuju Kota Layak
Anak.
Peluncuran Grand Design Tangerang Selatan Sebagai Kota
Layak Anak 2017- 2021 Oleh Wali Kota
Tangerang Selatan.
Identifikasi & Pengumpulan Data Grand Design Tangsel KLA 22-07-2017
April 2018 Juli 2018
Jan 2018
Maret- Mei 2018 Des 2017
• Klaster 5: Perlindungan Khusus Focus Group Discussion (FGD) tersebut dilakukan untuk memverifikasi dan mengevaluasi capaian indikator KLA, sebagai bahan untuk merumuskan Desain Besar.
Mengingat pentingnya peranan dan partisipasi anak dalam rangka mewujudkan Kota Tangerang Selatan yang Layak Anak, selain Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan pada Lokakarya, juga dilakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama Forum Masyarakat Tangerang Selatan untuk memberikan masukan pada draft Grand design yang sedang disusun oleh Lembaga Survei Independen
Nusantara (LSIN) selaku konsultan pembuatan dokumen Kota Tangerang Selatan KLA tahun 2016-2021.
3.5. LOKAKARYA KOTA LAYAK ANAK KOTA TANGERANG SELATAN
Penyusunan Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021, tim penyusun juga melakukan kegiatan
Lokakarya sebanyak 2 (dua) kali. Lokakarya 1 menyamakan persepsi para pihak yang berkompeten, menggali data, dan mencari masukan
tentang Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021. Sedangkan Lokarkarya 2 untuk memverifikasi
dan menfinalisasi Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021.
3.6. PELUNCURAN AWAL GRAND DESIGN KOTA LAYAK ANAK KOTA TANGERANG SELATAN
Peluncuran Awal Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 yang dikemas dalam bentuk kegiatan deklarasi
launching yang akan dilaksanakan pada Tahun 2018.
3.7. PIHAK YANG TERLIBAT
Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan ini diinisiasi Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Dalam proses penyusunan draft Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 melibatkan konsultan yaitu Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) dan beberapa pemangku kepentingan, diantaranya sebagaimana yang terdapat dalam tabel 3.1 berikut.
NO KATEGORI UNSUR
1 Instansi Vertikal Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Kementerian Dalam Negeri.
Kepolisian Resort Tangerang Selatan.
2 Pemerintah Kota Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan.
Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang Selatan.
Dinas Pemberdayaan Masyarakat,
Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Tangerang
Selatan.
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tangerang Selatan.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan .
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan.
Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Selatan.
Dinas Bangunan dan Penataan Ruang Kota Tangerang Selatan.
Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kota Tangerang Selatan.
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang Selatan.
Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan.
Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Tangerang Selatan.
Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan.
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tangerang Selatan.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangerang Selatan
3 Organisasi Masa Forum Kerukunan Umat Beragama Islam
Kristen Katolik Hindu Budha Konghucu 4 Kelompok
Anak/Remaja
Forum Anak Kota Tangerang Selatan
5 Dunia Usaha Pengusaha yang berada di Kota Tangerang Selatan
6 Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi Negeri Perguruan Tinggi Swasta
7 Media Media elektronik Media Cetak Media Online
8 Konsultan Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN)
BAB IV
VISI, MISI, DAN STRATEGI KOTA LAYAK ANAK
4.1 VISI KOTA LAYAK ANAK KOTA TANGERANG SELATAN
Visi KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 adalah:
“Tangerang Selatan Aman dan Nyaman Kota Layak Anak”.
Visi tersebut menunjukkan bahwa Kota Tangerang Selatan berkomitmen untuk mewujudkan KLA sehingga dapat menjadi contoh yang baik bagi Kota/Kabupaten lainnya di Indonesia.
4.2 MISI KOTA LAYAK ANAK KOTA TANGERANG SELATAN
Visi KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 kemudian dijabarkan ke dalam beberapa misi yang mewakili setiap klaster KLA. Misi tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Misi KLA Kota Tangerang Selatan
NO KLASTER MISI Stakeholder
Terkait 1 Kelembagaan • Gerakan KLA
sebagai gerakan masyarakat yang dimulai dari keluarga yang aman dan nyaman
• Pemerintah Kota Tangerang Selatan
• Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah
• Forum Anak Kota Tangerang Selatan
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
• Rukun Warga, Kelurahan, Kecamatan, dan Kota Tangerang Selatan
berkomitmen untuk KLA
• Pemerintah Kota Tangerang Selatan
• Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah
• Kecamatan
• Kelurahan
2 Klaster I: Hak Sipil dan Kebebasan
• Setiap anak teregistrasi dan mendapatkan akta kelahiran usia 0-18 tahun.
• Pembebasan biaya pengurusan Akte Kelahiran anak
• Larangan
memperkerjakan anak dibawah umur
• Kebebasan anak dalam
berekspresi menyalurkan ide dan aspirasi.
• Kebebasan anak dalam berpikir dan memeluk agama
• Kemudahan akses informasi yang layak bagi anak
• Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil
• Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit
• Kecamatan
• Kelurahan
• Dinas
Ketenagakerjaan
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
• Forum Anak Kota Tangerang Selatan
• Pusat Pelayanan Terpadu
Perlindungan Perempuan dan Anak
• Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan
• Forum
Kerukunan Umat Beragama
• Dinas
Komunikasi dan Informatika 3 Klaster II:
Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif
• Mengurangi angka
pernikahan dini
• Layanan konseling pra nikah
• Pendampingan dan konseling pengasuhan dan perawatan anak di lingkungan keluarga.
• Pendampingan dan konseling pengasuhan dan perawatan anak
• Kantor Urusan Agama di Kota Tangerang Selatan
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
• Forum Anak Kota Tangerang Selatan
di luar lingkungan keluarga.
• Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan
• Perguruan Tinggi Negeri dan
Perguruan Tinggi Swasta
• Menggerakan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam pendidikan anak pada usia golden age.
• Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil
• Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
• Forum Anak Kota Tangerang Selatan
• Perguruan Tinggi Negeri dan
Perguruan Tinggi Swasta
• Membuat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang aman dan
nyaman sebagai wadah untuk memfasilitasi anak, partisipasi anak, dan
membentuk
akhlakul karimah anak.
• Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan
• Dinas Pekerjaan Umum
• Dinas Kesehatan
• Dinas Bangunan dan Penataan Ruang Kota Tangerang Selatan
• Dinas Lingkungan Hidup
4 Klaster III:
Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan
• Mengurangi angka kematian ibu, bayi, balita dan anak.
• Asupan Gizi bayi dan balita yang baik dan
seimbang
• Asi eksklusif dan pojok Asi
• Dinas Kesehatan
• Dinas
Lingkungan Hidup
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan
• Akses terhadap imunisasi anak
• Pelayanan kesehatan reproduksi dan mental bagi anak seperti Pusat Informasi Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK2R2)
• Akses
Peningkatan Kesejahteraan anak dan
keluarga miskin.
• Menciptakan setiap layanan kesehatan ramah pada anak
dengan aman dan nyaman
• Kawasan bebeas rokok
• Rumah tangga yang bersih.
Anak dan Keluarga Berencana
• Pos Pelayanan Terpadu
5 Klaster IV:
Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya
• Peningkatan angka partisipasi pendidikan usia dini
• Akses pendidikan untuk wajib belajar 12 tahun.
• Fasilitas sekolah ramah anak
• Menciptakan sarana kreatif untuk tumbuh kembang anak seperti sarana bermain dan olahraga.
• Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
• Dinas Kesehatan
• Dinas Bangunan dan Penataan Ruang Kota Tangerang Selatan
6 Klaster V:
Perlindungan Khusus
• Mencegah kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.
• Perlindungan hukum kasus anak.
• Dinas Sosial
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
• Forum Anak Kota Tangerang Selatan
• Dinas
Ketenagakerjaan
• Mencegah
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba
• Dinas Sosial
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
• Forum Anak Kota Tangerang Selatan
• Badan Narkotika Nasional Kota Tangerang Selatan
• Perlindungan anak pada situasi darurat bencana dan kebakaran
• Dinas Sosial
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
• Meningkatkan layanan prima yang aman dan nyaman untuk anak dengan perlindungan khusus
• Dinas Sosial
• Dinas
Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
4.3 STRATEGI KOTA TANGERANG SELATAN MENUJU KOTA LAYAK ANAK
Untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan, diperlukan strategi KLA Kota Tangerang Selatan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Gambar 4.1 dibawah ini:
Gambar 4.1 Strategi KLA Kota Tangerang Selatan
Dalam menggapai Kota Tangerang Selatan menuju KLA maka 4 (empat) hal pokok ini harus dijalankan, yaitu:
1. Komitmen, yaitu Pemerintah Kota Tangerang Selatan,
Stakeholder, Pihak Swasta, dan masyarakat Kota Tangerang Selatan harus komitmen mewujudkan KLA
sehingga citra dan brand Kota Tangerang Selatan sebagai KLA menjadi salah satu kota pengembang KLA.
2. Organisasi, yaitu Pemerintah Kota Tangerang Selatan harus mampu mengorganisir seluruh komponen yang ada dan motor penggerak bagi terwujudnya Kota Tangerang Selatan menjadi KLA.
3. Inovasi, yaitu penginisiasian terobosan berupa konsep, model atau teknologi yang dapat mendukung perwujudan dan pengembangan Kota Tangerang Selatan menjadi KLA.
KOMITMEN
INTERNALISASI
ORGANISASI
INOVASI PENGELOLAAN
4. Pengelolaan (Manajemen), yaitu pengumpulan dan pendiseminasian informasi terkait dengan KLA yang dapat
diakses oleh setiap pemangku kepentingan dan warga Kota Tangerang Selatan.
5. Internalisasi, yaitu pengintegrasian Grand Design KLA Kota Tangerang Selatan Tahun 2016-2021 ke dalam
dokumen Kebijakan Pembangunan Pemerintah Kota Tangerang selatan, diantaranya RPJMD, Rencana Strategis Perangkat Daerah, dan RKPD.
BAB V
RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK
5.1. ALUR RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK
Alur perwujudan Kota Tangerang Selatan sebagai KLA diawali dengan terjalinnya komitmen para pemangku kepentingan yang meliputi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media.
Dengan terjalinnya komitmen yang kuat, maka masing-masing pemangku kepentingan, terutama pemerintah, dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya yang terkait dengan perwujudan KLA. Sebagai bentuk perwujudan dari komitmen tersebut, yang berkesesuaian dengan visi dan misi Kota Tangerang Selatan Menuju KLA, ditetapkan peta alur/road map yang meliputi:
1. Indikator KLA yang terdapat di tingkat Rukun Warga, Kelurahan, Kecamatan, dan Kota.
2. Target pencapaian indikator KLA yang terdapat di tingkat Rukun Warga, Kelurahan, Kecamatan, dan Kota, untuk jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan.
3. Uji coba KLA mulai tingkat Rukun Warga, Kelurahan, Kecamatan dan Kota, yang dilanjutkan dengan implementasinya hingga 5 (lima) tahun ke depan hingga mencapai Kota Tangerang Selatan menjadi KLA di tahun 2021.
Gambar 5.1
Alur Kota Tangerang Selatan Menuju KLA Tahun 2016-2021
Kelurahan Layak Anak di 14 Kelurahan
terpenuhi
Kecamatan Layak Anak 17 kelurahan
Harus terpenuhi
Kota Layak Anak di 19 kelurahan Harus terpenuhi
Deklarasi Tangsel Kota Layak Anak
Layak Anak di 11 Kelurahan
terpenuhi Pemilihan Lokasi Uji Coba
Implementasi di Lokasi Uji Coba