• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN PRODUK LOCKER YANG ERGONOMIS.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN PRODUK LOCKER YANG ERGONOMIS."

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN PRODUK LOCKER YANG ERGONOMIS

SKRIPSI

Disusun Oleh :

RESANDHY HANUNG CR.

0832010095

J URUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN “ J AWA TIMUR

(2)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

“PENGEMBANGAN PRODUK LOKER YANG ERGONOMIS”

Oleh :

RESANDHY HANUNG CRISTYANTO NPM : 0832010095

Telah Disetujui untuk Mengikuti Ujian Negara Lisan Gelombang V Tahun Ajar an 2012-2013

Mengetahui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Akmal Sur yadi. MT Enny Ariyani, ST. MT

Mengetahui

Ketua J ur usan Teknik Industri UPN “Veteran” J awa Timur

Dr. Ir. Minto Waluyo,MM NIP 1961130199031001

(3)

SKRIPSI

PENGEMBANGAN PRODUK LOKER YANG ERGONOMIS

Disusun Oleh :

RESANDHY HANUNG CRISTYANTO NPM. 0832010095

Telah diper taha nkan dihada pan dan diter ima oleh Tim Penguji Skr ipsi jur usan Teknik Industr i Fa kulta s :Teknologi Industr i Universitas Pemba ngunan Nasional “VETERAN”

J awa Timur pada tangga l 31 J uli 2013

Tim Penguji : Dosen Pembimbing :

1. 1.

Ir . Yustina Ngatilah, MT Ir . Akmal Sur yadi, MT NIP. 19570306 198803 2 001 NIP . 19650112 199003 1 001

2.

Ir . Budi Santoso, MMT NIP. 19561205 198703 1 001

3.

Ir . Akmal Sur yadi, MT NIP . 19650112 199003 1 001

Mengeta hui,

Dekan Fakultas Teknologi Industr i

Univwr sita s Pembangunan “ Veter a n ” J awa Timur

(4)

i

KATA PENGANTAR

Assalamu’alikum Wr. Wb.

Segala puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga dapat terselesaikan Tugas Akhir/Skripsi dengan judul “Pengembangan Produk Locker Inovasi (Lemari Besi) Yang Ergonomi”.

Tugas Akhir/Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh

oleh mahasiswa jenjang pendidikan Strata-1 (Sarjana) Jurusan Teknik Industri,

Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa

Timur guna meraih gelar kesarjanaan.

Dalam penyusunan Tugas Akhir/Skripsi ini penulis ingin mengucapkan

rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. R. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Ir. Sutiyono, MT selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri

UPN “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak DR. Ir. Minto Waluyo, MM selaku Ketua Jurusan Teknik Indutri

UPN “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Drs. Pailan, MPd selaku Sekretaris Jurusan Teknik Indutri

UPN “Veteran” Jawa Timur.

5. Ibu Ir. Akmal Suryadi, MT selaku Dosen Pembimbing I Skripsi.

6. Ibu Enny Ariyani, ST, MT selaku Dosen Pembimbing II Skipsi.

7. Bapak Ir. Hari Purwadi,MM, dan Suseno Budi P, ST,MT selaku Dosen

(5)

ii

8. Segenap staff Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama

masa perkuliahan.

9. Seluruh Keluargaku (Papa, Mama, Kakak, dan Kekasih Kaloka Kusumaning Ayu) Makasi banyak atas Doa, Semangat, dan Support yang uda diberikan buat aku. 10. Teman-temanku (Pararrel D Dan Yanuar), terima kasih banyak.

11. Pihak – pihak terkait yang membantu dalam penyelesaian Tugas

Akhir/Skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih

banyak.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir/Skripsi ini terdapat

kesalahan dan kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu sebagai penulis,

kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna

kesempurnaan Tugas Akhir/Skripsi ini. Akhir kata, semoga Tugas Akhir/Skripsi

ini bermanfaat bagi semua pihak.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surabaya, 14 Juni 2013

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

ABSTRAKSI ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Batasan Masalah... 2

1.4 Asumsi ... 3

1.5 Tujuan ... 3

1.6 Manfaat ... 3

1.7 Sistematika Penulisan ... 4

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk ... 6

2.1.1 Perancangan Produk ... 6

2.1.2 Pengembangan Produk ... 9

(7)

2.2 Ergonomi ... 13

2.2.1 Sejarah dan Perkembangan Ergonomi ... 13

2.2.2 Definisi Ergonomi ... 15

2.2.3 Bidang Kajian Ergonomi ... 17

2.2.4 Sikap Kerja ... 19

2.3 Anthropometri ... 22

2.3.1 Definisi Anthropometri ... 22

2.3.2 Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya ... 23

2.3.3 Aplikasi Distribusi Normal dan Persentil Dalam Penetapan Data Anthropometri ... 28

2.4 loker informasi... 34

2.4.1 Definisi loker informasi ... 34

2.4.2 Komponen loker informasi ... 34

2.5 Kuisioner ... 35

2.6 Pengujian Data ... 37

2.6.1 Uji Keseragaman Data ... 37

2.6.2 Uji Kecukupan Data ... 39

2.7 Penelitian Terdahulu ... 40

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 42

3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel ... 42

(8)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengumpulan Data ... 47

4.2 Pengolahan Data ... 48

4.2.1 Desain loker informasiAwal ... 48

4.2.2 Desain loker informasi yang Dilengkapi 12 Rak dan laci ... 49

4.2.2.1 Uji Keseragaman Data ... 49

4.2.2.2 Uji Kecukupan Data ... 60

4.2.2.3 Menentukan Persentil ... 63

4.2.2.4 Perancangan loker informasi yang dilengkapi 12 rak dan laci.. 66 4.2.2.5 Uji Coba Pemakaian loker informasi yang dilengkapi 12 rak dan laci ... 67

4.2.2.6 Perbandingan Desain loker informasi Awal dengan yang dilengkapi 12 rak dan laci ... 68

4.3 Hasil dan Pembahasan ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 73

5.2 Saran ... 74

(9)

ABSTRAKSI

Kenyamanan dalam sebuah aktifitas adalah sebuah kebutuhan mutlak yang sangat dicari dan dioptimalkan oleh setiap creator maupun innovator di bidang human comfortable. Berbagai macam bentuk model perlindungan maupun peralatan yang menunjang sebuah nilai keamanan pada diri manusia, seperti halnya pakaian yang melindungi manusia dari kondisi alam di sekitar tubuh yang dibalutnya, dan sudah tentu hal ini membutuhkan campur tangan seorang desaigner sebagai pencipta sekaligus pemberi nilai lebih dibidang estetika dan daya persuasive.

Loker merupakan tempat penyimpanan yang digunakan oleh banyak kalangan. loker pada umumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan tas atau data–data yang diperlukan. Dalam kehidupan sehari–hari kita sering menmukan banyak sekali loker yang kurang ergonomis atau bentuknya terlalu monoton dimana loker hanya bisa digunakan untuk menyimpan tas dan barang-barang yang kecil, disamping itu juga kalau membuka loker terasa ruang yang ada di dalam loker terlalu sempit dan gelap jadi kurang nyaman.

Dari permasalahan di atas dimana loker yang digunakan di masyarakat penggunanya masih sangat kurang ergonomis dan terlalu sederhana. sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk merancang loker yang sudah ada saat ini menjadi lebih ergonomis sesuai dengan kebutuhan konsumen sehingga memberi kenyamanan pada penggunanya dan memberikan kelebihan terhadap loker yang sudah ada dengan menambah fungsi penerangan bagi penggunanya dan menambah luas kapasitas dari loker tersebut.

Metode Pahl & Beitz dapat membantu proses perancangan loker yang ergonomis, sehingga di dapat hasil perhitungan penentuan ukuran adalah panjang loker informasi adalah 66 cm, lebar loker informasi adalah 183 cm, lebar masing-masing box loker informasi adalah 46cm, tinggi loker informasi adalah 183 cm. rancangan loker informasi usulan saat ini mempunyai beberapa kelebihan disbandingkan dengan loker awal, selain luas tempat penyimpanan yang lebih besar, loker informasi ini mempunyai kotak besar yang di tutupi oleh kaca sehingga barang-barang yang tersimpan disana dapat terjaga baik dan rapi. Selain itu loker informasi ini menggunakan kayu yang sagat ringan yaitu kayu multiplex yang juga dapat bertahan lebih lama dan tahan karat. Hal tersebut juga di perkuat oleh hasil kuisioner indikator Antropometri loker informasi bahwa, sangat sesuai sebanyak 76 jawaban, sesuai sebanyak 178 jawaban, cukup sebanyak 44 jawaban, tidak sesuai sebanyak 2 jawaban, sangat tidak sesuai sebanyak 0 jawaban dan kuisioner indikator Ergonomi loker informasi bahwa sangat layak sebanyak 187 jawaban, layak sebanyak 204 jawaban, cukup sebanyak 19 jawaban, tidak layak sebanyak 10 jawaban, sangat tidak layak sebanyak 0 jawaban.

(10)

ABSTRAKSI

Comfort in an activity is an absolute necessity are very sought after and optimized by each creator and innovator in the field of human comfortable. Various kinds of models and tools that support the protection of a security value on human beings, as well as clothing that protects humans from the natural environment around the body dibalutnya, and of course this requires the intervention of a desaigner as the creator and giver of more value in the field of aesthetic and persuasive power.

Storage lockers are used by many people. lockers are generally used as a storage bag or data required. In everyday life we often menmukan lot of lockers or less ergonomic shape too monotonous where lockers can only be used to store bags and small goods, and also it feels that open locker room there in the locker too narrow and dark be less comfortable

Pahl & Beitz method can help the process of designing an ergonomic locker, so it can result in the determination of the calculation is a measure of the length lockers information is 66 cm, width is 183 cm lockers information, the width of each box lockers information is 46cm, height is 183 cm lockers information . locker design information current proposal has several advantages disbandingkan with lockers earlier, in addition to extensive bigger storage, lockers information has a big box on the cover by the glass so that the items stored there can be well maintained and tidy. Additionally locker this information using light Sagat wood is wood multiplex can also last longer and corrosion resistance. It is also strengthened by the results of questionnaires locker Anthropometry indicators that information, it is appropriate answers as many as 76, according to as many as 178 answers, just answer as many as 44, does not match the answer by 2, so is not suitable as an indicator 0 answer questionnaires Ergonomics and locker information that is very worth as much as 187 answers, worth as much as 204 answers, just answer as many as 19, not worth as much as 10 answer, it is not worth as much as 0 answers

(11)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam era kemajuan teknologi yang sudah semakin berkembang sekarang

ini, tentunya akan membuat banyak orang untuk berlomba-lomba menciptakan

suatu benda atau produk yang lebih bermanfaat atau mempunyai kegunaan yang

lebih banyak dari pada produk yang sudah ada di pasaran. Tentunya produk yang

bagus adalah produk yang bisa digunakan secara maksimal.

Di zaman sekarang ini banyak sekali orang membutuhkan produk yang

mempunyai banyak fungsi dari suatu perancangan produk (man made objact),

tidak terkecuali perancangan produk berupa loker. Loker biasanya digunakan

untuk menyimpan buku, dokumen atau arsip, dan kertas. Ada pula yang

menggunakan loker untuk menyimpan kertas kerja. Namun, dengan terbatasnya

ukuran loker membuat barang-barang tersebut tidak rapi dan tidak enak dipandang

mata, tercampur jadi satu dan sulit untuk membedakan mana kertas yang penting

atau kertas kerja. Melihat kebutuhan tersebut maka penulis membuat

pengembangan dari loker pada umumnya.

Dengan adanya permasalahan tersebut maka dilakukan penelitian

pengembangan produk loker yang ergonomis. Loker ini dibuat untuk memenuhi

kebutuhan menyimpan tas, dokumen dan kertas-kertas kerja agar tidak tercampur

(12)

Untuk dokumen dan arsip penting dibuat 12 sekat yang berbentuk persegi. Agar

terlihat lebih rapi dan tidak bercampur dengan dokumen penting, peneliti

menambahkan 3 box untuk tempat kertas kerja agar memudahkan akses

mengambil dan mencari dokumen maka box berada di bawah loker. Materialnya

terbuat dari bahan plat baja sehingga lebih tahan lama dengan warna yang

menarik. Loker ini akan memudahkan pengguna menyimpan dan mengambil

dokumen dengan rapi sehingga lebih mudah dalam mencari dokumen. Di sisi lain,

kertas kerja tetap rapi tersimpan dalam loker dan tidak bercampur dengan

dokumen penting.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang

dihadapi, yaitu :

“Bagaimana Mengembangkan desain produk Locker Inovasi yang

ergonomis?”.

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah:

1. Data pengukuran Anthropometri didapatkan dari ukuran masyarakat Indonesia

dengan usia 19 - 35 tahun (Laki-laki maupun perempuan).

2. Pengukuran Anthropometri yang didapatkan hanya digunakan pada tinggi

(13)

3. Persentil yang digunakan Persentil 5, Persentil 50 dan Persentil 95.

4. Tingkat keyakinan 95 % dan tingkat ketelitian 5 %.

1.4 Asumsi

Dalam penelitian ini asumsi yang digunakan sebagai berikut :

1. Kondisi penggunaan diukur dalam keadaan baik (tidak cacat) dan dalam

kondisi sehat.

2. Dimensi tubuh orang yang digunakan sebagai sampel dapat mewakili seluruh

pengguna loker.

3. Hasil rancangan “Loker” yang didesain bisa digunakan untuk semua

kalangan (remaja dan dewasa).

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

Melakukan pengembangan desain produk Loker yang ergonomis.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah :

1. Bagi Peneliti :

Sebagai latihan untuk menerapkan teori yang sudah didapatkan di bangku

(14)

2. Bagi Pengguna :

Memberikan kemudahan dalam melakukan kegiatan khususnya dalam

berjualan.

3. Bagi Ilmu Pengetahuan :

Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memecahkan masalah

pembuatan produk sehingga dapat dikembangkan dalam penelitian-penelitian

selanjutnya. Dan studi banding bagi mahasiswa di masa yang akan datang.

1.7 Sistematika Penelitian

Sistematika yang digunakan dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan

pihak fakultas untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian tersebut, yaitu :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah,

batasan masalah, asumsi-asumsi, tujuan penelitian, manfaat

penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJ AUAN PUSTAKA

Bab ini berisi teori dan konsep yang dijadikan dasar atau landasan

didalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini berisikan langkah-langkah pemecahan yang diperlukan

dalam penelitian ini, yang meliputi tempat, waktu penelitian,

identifikasi dan definisi variabel, langkah-langkah pemecahan

(15)

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi pengumpulan data, pengolahan data dan

pembahasan data-data hasil penelitian.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi uraian mengenai kesimpulan dari pembahasan serta

beberapa saran untuk perbaikan.

DAFTAR PUSTAKA

(16)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk.

2.1.1 Perancangan Pr oduk.

Perancangan adalah kegiatan awal dari suatu rangkaian kegiatan dalam

proses pembuatan produk. Dalam tahap perancangan tersebut dibuat

keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan lain yang menyusulnya.

Diantara keputusan penting tersebut, termasuk keputusan yang membawa akibat

apakah industri dalam negeri dapat berpartisipasi atau tidak dalam suatu

pembangunan proyek.

Kesejahteraan dan kualitas hidup manusia yang telah mencapai tingkat

yang tinggi saat ini, sebagian besar adalah akibat diciptakan, dibuat dan

dimanfaatkannya berbagai produk dan jasa yang tak terhitung macam dan

jumlahnya oleh para insinyur dan ahli-ahli teknik lainnya. Kontribusi para ahli

teknik dalam meningkatkan kesejahteraan manusia tersebut adalah dalam kegiatan

mencipta, merancang dan membuat produk dan jasa yang berguna bagi manusia

karena meringankan beban hidupnya dan membuat hidup lebih nyaman. Produk

dan jasa tersebut juga harus memenuhi beberapa persyaratan modern seperti tidak

merusak lingkungan, hemat energi dan lain sebagainya.

Perancangan dan pembuatan produk merupakan bagian yang sangat besar

dari kegiatan teknik yang ada. Kegiatan perancangan dimulai dengan

(17)

perancangan konsep produk, disusul kemudian dengan perancangan,

pengembangan dan penyempurnaan produk.

Dalam bentuk yang paling sederhana, hasil rancangan dapat berupa sebuah

sketsa atau gambar sederhana dari produk yang akan dibuat. Dalam hal si pembuat

produk adalah si perancang sendiri, maka sketsa atau gambar yang dibuat cukup

sederhana saja asalkan dapat dimengertinya sendiri.

Menurut Pressman (2010), perancangan adalah langkah pertama dalam

fase pengembangan rekayasa produk atau sistem. Perancangan itu adalah proses

penerapan berbagai teknik dan prinsip yang bertujuan untuk mendefinisikan

sebuah peralatan, satu proses atau satu sistem secara detail yang membolehkan

dilakukan realisasi fisik (Taylor dalam Pressman,2008).

1. Langkah - langkah Perancangan Produk

a. Fase Inovasi.

Fase yang bertujuan untuk memahami seluruh aspek yang berkaitan dengan

produk yang hendak dikembangkan dengan cara mengumpulkan seluruh

informasi yang dibutuhkan secara akurat diantaranya (Imam Djati 2001) :

- Gambar produk awal dan spesifikasi.

- Kriteria keinginan konsumen terhadap produk.

- Kriteria keinginan relatif konsumen.

- Kriteria manufaktur yang mencakup diagram mekanisme pembuatan

struktur dan fungsi.

- Kriteria buying. Dasar Kemampuan pembelian produk dengan

(18)

- Kriteria finance produk awal.

b. Fase kreatif.

Fase yang bertujuan untuk menampilkan alternatif yang dapat memenuhi

fungsi yang dibutuhkan diantaranya :

- Penentuan kriteria atribut yang menggunakan diagram pohon.

- Penentuan prioritas perancangan.

- Pembuatan alternatif model produk.

c. Fase analisa.

Fase yang bertujuan untuk menganalisa alternatif yang dihasilkan pada fase

kreatif dan memberikan rekomendasi terhadap alternatif terbaik dan analisa

yang dilakukan antara lain :

-Analisa kriteria atribut yang akan dikembangkan.

-Penilaian kriteria atribut antar model.

-Pembobotan kriteria atribut produk.

-Value analysis.

d. Fase pengembangan.

Fase yang bertujuan memilih salah satu alternatif tunggal dari beberapa

alternatif yang ada yang merupakan alternatif terbaik dan merupakan output

dari fase analisa. Data data tentang alternatif yang digunakan adalah :

- Alternatif terpilih.

(19)

e. Fase rekomendasi.

Fase yang bertujuan untuk mengkomunikasikan secara baik dan menarik

terhadap hasil pengembangan produk.

2. Model Perancangan Produk.

Dalam model perancangan produk terdefinisikan menjadi dua jenis model

yang sangat dominan dalam awal perancangan produk yaitu model deskriptif

dan model perspektif (Ginting R, 2009).

a. Model deskriptif.

Dalam model ini pentingnya menghasilkan suatu konsep solusi sejak

dini dalam proses perancangan dan berfokus pada solusi heuristic

(pengalaman sebelumnya bersifat umum).

b. Model perspektif.

Model yang bersifat sistematik dan penekanan berada pada semakin

meningkatnya kebutuhan yang lebih analitik sebelum aktifitas

pembangkitan alternatif alternatif solusi.

2.1.2 Pengembangan Pr oduk.

Pengembangan produk merupakan usaha meningkatkan mutu dari barang

atau jasa dan penemuan barang atau jasa baru yang akan menambah kepuasan

konsumen. Dari pengertian pengembangan produk tersebut tampak sekali bahwa

segala bentuk barang dan jasa yang dihasilkan selalu berkaitan dengan kepuasan

konsumen. Agar proses pengembangan produk dapat berjalan secara tepat dan

(20)

usaha pada perusahaan maka diperlukan suatu biaya yang maksimal, sehingga ada

pemisahan yang jelas antara biaya pengembangan produk dengan biaya volume

penjualan.

Tujuan perusahaan dalam mengembangkan produk adalah agar dapat

memenangkan persaingan terhadap barang sejenis, sehingga volume penjualan

dan laba perusahaan dapat meningkat serta perusahaan dapat mempertahankan

kelangsungan hidupnya dan dapat memperluas usahanya. Pengembangan produk

dapat pula dilakukan dengan cara memperbaiki produk yang sudah ada

(modifikasi produk), perbaikan produk yang sudah ada dilakukan dengan cara:

perbaikan mutu/kualitas, perbaikan segi/feature baru, dan perbaikan corak/motif.

Disamping menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan

konsumen, perusahaan juga menciptakan suatu strategi pengembangan produk.

Usaha strategi pengembangan produk diharapkan dapat mengikuti

perubahan teknologi yang dipakai dalam perusahaan. Hal ini bagi perusahaan

sangat penting karena suatu saat akan mengalami peralihan teknologi. Pada

peralihan teknologi perusahaan akan menggunakan teknologi lebih maju guna

menjaga kedinamisan perusahaan. Oleh karena itu diperlukan strategi bagi

perusahaan agar dapat menciptakan suatu produk baru.

Menurut Urlich (2001, pengembangan produk merupakan serangkaian

aktivitas yang dimulai dari analisis persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri

dengan tahap produksi, penjualan, dan pengiriman produk.

Sedangkan menurut Yamit (1996) pengembangan produk merupakan

(21)

Keharusan ini dikarenakan tidak ada satupun produk yang dapat bertahan untuk

selamanya.

1. Tahap-Tahap Dalam Pengembangan Produk.

Menurut Swastha (1997), ada beberapa tahap dalam pengembangan produk,

yaitu :

a. Tahap Penyaringan.

Tahap Penyaringan dilakukan setelah berbagai macam ide tentang produk

telah tersedia, Dalam tahap ini merupakan pemilihan sejumlah ide dari

berbagai macam sumber. Adapun informasi atau ide berasal dari manager

perusahaan, pesaing, para ahli termasuk konsultan, para penyalur,

langganan, atau lembaga lain.

b. Tahap Analisa Bisnis.

Pada tahap ini msing-masing ide dianalisa dari segi bisnis untuk mengetahui

seberapa jauh kemampuan ide tersebut dapat menghasilkan laba.

c. Tahap Pengembangan.

Pada tahap ini, ide yang telah dianalisa perlu dikembangkan karena

ide-ide tersebut lebih menguntungkan. Pengembangan ini tentunya harus sesuai

dengan kemampuan perusahaan.

d. Tahap Pengujian.

Tahap pengujian merupakan kelanjutan dari tahap pengembangan, meliputi :

- Pengujian tentang konsep produk.

- Pengujian terhadap kesukaan konsumen.

(22)

- Test penggunaan.

- Operasi pabrik percontohan.

- Tahap Komersialisasi.

2.1.3 Inovasi Pr oduk.

Menurut etimologi, inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna

‘pembaharuan, perubahan (secara) baru’. Inovasi adakalanya diartikan sebagai

penemuan, tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri atau

invensi. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu yang sesuatu itu telah

ada sebelumnya, tetapi belum diketahui orang; contohnya penemuan benua

Amerika. Sebenarnya, benua Amerika sudah ada sejak dahulu, tetapi baru

ditemukan pada tahun 1492 oleh orang Eropa yang bernama Columbus. Invensi

adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia; contohnya

teori belajar, mode busana, dan sebagainya. Inovasi adalah suatu ide, produk,

metode, dan seterusnya yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru, baik berupa

hasil diskoveri atau invensi yang digunakan untuk tujuan tertentu.

Effendi sanusi (2011) mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru,

praktik-praktik baru, atau objek-objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru

oleh individu atau masyarakat sasaran. Pengertian baru di sini, mengandung

makna bukan sekadar baru diketahui oleh pikiran (cognitive), melainkan juga

baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat

dalam arti sikap (attitude) dan juga baru dalam pengertian belum diterima dan

(23)

Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil

produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan

menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Jadi,

secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk, informasi teknologi,

kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang belum banyak

diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga

masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong

terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi

terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang

bersangkutan.

Fullan mengemukakan bahwa tahun 1960-an adalah era banyak inovasi

pendidikan kontemporer diadopsi, seperti matematika, kimia, fisika baru, mesin

belajar (teaching machine), pendidikan terbuka, pembelajaran individu,

pengajaran secara tim (team teaching), termasuk sistem belajar mandiri.

2.2 Ergonomi.

2.2.1 Sejar ah dan Per kembangan Er gonomi.

Di dalam buku Eko Nurmianto, Istilah "ergonomi" mulai dicetuskan pada

tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan

puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai

(24)

1. C.T. Thackrah, England, 1831.

Thackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang meneruskan

pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzuu, dalam serangkaian kegiatan

yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan

oleh para operator ditempat kerjanya. la mengamati postur tubuh pada saat

bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Thackrah

mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi,

meja yang kurang sesuai secara anthropometri, serta pencahayaan yang tidak

ergonomis sehingga mengakibatkan membungkuknya badan dan iritasi indera

penglihatan. Disamping itu juga mengamati para pekerja yang berada pada

lingkungan kerja dengan temperatur tinggi, kurangnya ventilasi, jam kerja yang

panjang, dan gerakan kerja yang berulang-ulang (repetitive work).

2. F. W. Taylor, U.S.A., 1898.

Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan

metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu

pekerjaan. Beberapa metodanya merupakan konsep ergonomi dan manajemen

modern.

3. F .B. Gilberth, U.S.A., 1911.

Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih

mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam

bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan

bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem

(25)

4. Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatigue Research

Board), England, 1918.

Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik

amunisi pada Perang Dunia Pertama. Mereka menunjukkan bagaimana output

setiap harinya meningkat dengan jam kerja per hari-nya yang menurun.

Disamping itu mereka juga mengamati waktu siklus optimum untuk sistem

kerja berulang (repetitive work systems) dan menyarankan adanya variasi dan

rotasi pekerjaan.

2.2.2 Definisi Ergonomi.

Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan

informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia

merancang suatu sistem kerja, sehingga manusia dapat hidup dan bekerja pada

sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan

itu dengan efektif, aman, dan nyaman. Fokus dari ergonomi adalah manusia dan

interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dan

pekerja serta kehidupan sehari-hari dimana penekanannya adalah pada faktor

manusia.

Menurut Pulat (1992) ergonomi merupakan studi tentang interaksi antara

manusia dengan objek yang mereka gunakan, dan lingkungan di mana mereka

bekerja. Beberapa hal yang penting dalam pengertian tersebut adalah komponen

(26)

Sedangkan menurut Sritomo Wignjosoebroto adalah Ergonomi atau

ergonomics (bahasa Inggrisnya) sebenarnya berasal dari kata yunani yaitu Ergo

yang berarti kerja dan Nomos yang berarti hukum. Ergonomi dapat didefinisikan

sebagai suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan

informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang

suatu sistem kerja. Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas

rancang bangun (design) ataupun rancang ulang (re-design). Hal ini dapat

meliputi perangkat keras misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja (benches,

platform, kursi, pegangan alat kerja (workholders), sistem pengendali (controls),

alat peraga (display), jalan/lorong (acces ways), pintu (doors), jendela (windows),

dan lain-lain. Masih dalam kaitan dengan hal yang ada di atas adalah bahasan

tentang rancang bangun lingkungan kerja (working environment), karena jika

sistem perangkat keras berubah maka akan berubah pula lingkungan kerjanya.

Tujuan ergonomi adalah menambah efektifitas penggunaan objek fisik dan

fasilitas yang digunakan oleh manusia dan merawat atau menambah nilai tertentu,

misalnya kesehatan, kenyamanan dan kepuasan pada proses penggunaan tersebut.

Ergonomi dapat pula berperan sebagai desain pekerjaan pada suatu

organisasi, misalnya: penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian

waktu kerja atau shift kerja, meningkatkan variasi pekerjaan dan lain-lain.

Ergonomi dapat pula berfungsi sebagai desain perangkat lunak karena dengan

semakin banyaknya pekerjaan yang berkaitan erat dengan komputer. Penyampaian

informasi dalam suatu sistem komputer harus pula diusahakan sekompatibel

(27)

Ilmu ergonomi ini secara khusus akan mempelajari tentang keterbatasan dan

kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk

buatannya. Disiplin ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki

batas-batas kemampuan, baik di dalam jangka pendek maupun panjang. Pada saat

berhadapan dengan keadaan lingkungan kerja yang berupa perangkat keras

(hardware mesin, peralatan kerja, dan sebagainya) dan perangkat lunak (metode

kerja, sistem, dan prosedur).

Prinsip penting yang harus selalu diterapkan pada setiap perancangan

adalah fitting the job to the man rather than the man to the job, dalam hal ini

pekerjaan harus disesuaikan agar selalu berada dalam jangkauan kemampuan serta

keterbatasan manusia. Dengan demikian, setiap perancangan kerja harus

disesuaikan dengan faktor manusianya dimana dimensi fisik dan fungsi harus

mengikuti karakteristik dari manusia yang akan menggunakan sistem kerja

tersebut.

2.2.3 Bidang Kajian Ergonomi.

Pada berbagai sumber literatur, bidang kajian Ergonomi tidak berbeda

secara signifikan, perbedaan hanya menyangkut pengelompokan bidang kajian.

Pengelompokan bidang kajian yang lengkap dan mencakup seluruh prilaku

manusia dalam bekerja adalah kajian Ergonomi yang dikelompokkan oleh Iftikar

(28)

1. Anthropometri.

Anthropometri adalah cabang ergonomi yang mengkaji masalah dimensi tubuh

manusia, Informansi dimensi tubuh manusia diperlukan untuk merancang

sistem kerja yang ergonomis. Data Anthropometri selalu berbeda untuk setiap

individu. Perbedaan itu merupakan suatu kodrat bahwa tidak ada manusia yang

sama dalam segala hal.

2. Faal Kerja.

Perilaku manusia yang dibahas dalam Faal kerja adalah reaksi tubuh selama

bekerja, khususnya mengenai energi yang dikeluarkannya. Hal-hal yang

banyak dibahas dalam Faal kerja manusia adalah kelelahan (fatique) kerja otot.

3. Biomekanika Kerja.

Biomekanika kerja mengkaji perilaku manusia dalam aspek-aspek mekanika

gerakan. Objek penelitian sehubungan dengan masalah biomekanika ini adalah

kekuatan kerja otot, kecepatan dan ketelitian gerak anggota badan, serta daya

tahan jaringan-jaringan tubuh terhadap beban.

4. Penginderaan.

Manusia pada dasarnya memiliki lima indera utama, yaitu indera penglihatan

(mata), indera pendengaran (telinga), indera penciuman (hidung), indera perasa

(kulit), serta indera perasa (lidah). Dalam ergonomi, penglihatan dan

pendengaran dikaji untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan indera tersebut

(29)

5. Psikologi Kerja.

Psikologi kerja membahas masalah-masalah kejiwaan yang ditemukan

ditempat kerja, yakni menyangkut faktor diri manusia, termasuk didalamnya:

kebiasaan, jenis kelamin, usia, sifat dan kepribadian dan sebagainya. Masalah

faktor diri ini dikaji sebagai bagian dari ergonomi Karena pada setiap individu

manusia terdapat faktor diri yang khas sebagai bawaan lahir. Ketidakcocokan

dapat menimbulkan tekanan (stress) dan rendahnya motivasi untuk bekerja,

sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas yang dihasilkan.

2.2.4 Sikap Kerja.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan sikap tubuh

dalam melakukan pekerjaan, yaitu :

1. Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau sikap berdiri

secara bergantian.

2. Semua sikap tubuh yang tidak alami harus dihindarkan. Seandainya hal ini

tidak memungkinkan, hendaknya diusahakan agar beban statis diperkecil.

3. Tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak membebani

melainkan dapat memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang tidak

dipakai untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh

(paha). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya gangguan sirkulasi

darah dan juga untuk mencegah keluhan kesemutan yang dapat mengganggu

(30)

Sikap tubuh dalam bekerja terdiri dari :

Sikap kerja duduk merupakan sikap kerja yang kaki tidak terbebani dengan

berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Duduk memerlukan lebih sedikit

energi daripada berdiri karena hal itu dapat mengurangi banyaknya beban otot

statis pada kaki. Kegiatan bekerja sambil duduk harus dilakukan secara ergonomi

sehingga dapat memberikan kenyamanan dalam bekerja. Sikap duduk yang keliru

merupakan penyebab adanya masalah-masalah punggung. Hal ini dapat terjadi

karena tekanan pada bagian tulang belakang akan meningkat pada saat duduk

dibandingkan dengan saat berdiri ataupun berbaring. Jika diasumsikan tekanan

tersebut sekitar 100% ; maka cara duduk yang tegang atau kaku (erect posture)

dapat menyebabkan tekanan 1 tersebut mencapai 140% dan cara duduk yang

dilakukan dengan membungkuk ke depan menyebabkan tekanan tersebut sampai

190% (Nurmianto, 2004). Sikap duduk paling baik yang tidak berpengaruh buruk

terhadap sikap badan dan tulang belakang adalah sikap duduk dengan sedikit

lardosa pada pinggang dan sedikit mungkin kifosa pada punggung. Sikap duduk

yang benar yaitu sebaiknya duduk dengan punggung lurus dan bahu berada

dibelakang serta bokong menyentuh belakang kursi. Selain itu, duduklah dengan

lutut tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul (gunakan penyangga kaki)

dan sebaiknya kedua tungkai tidak saling menyilang. Jaga agar kedua kaki tidak

menggantung dan hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari 20-30 menit.

(31)

Gambar 2.1 Sikap kerja pada Visual Display Terminal (VDT)

Keuntungan bekerja sambil duduk adalah sebagai berikut :

a. Kurangnya kelelahan pada kaki.

b. Terhindarnya sikap-sikap yang tidak alamiah.

c. Berkurangnya pemakaian energi dalam bekerja.

d. Kurangnya tingkat keperluan sirkulasi darah.

Namun, kegiatan bekerja sambil duduk juga dapat menimbulkan

kerugian/ masalah bila dilakukan secara tidak ergonomis. Kerugian tersebut

antara lain :

a. Melembeknya otot-otot perut.

b. Melengkungnya punggung.

c. Tidak baik bagi organ dalam tubuh, khususnya pada organ pada sistem

(32)

2.3 Anthropometri.

2.3.1 Definisi Anthropometr i.

Menurut Sritomo Wignjosoebroto dalam bukunya istilah antropometri

berasal dari "anthro" yang berarti manusia dan "metri" yang berarti ukuran.

Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan

dengan pengukurandimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki

bentuk, ukuran (tinggi, lebar dsb.) berat dan lain-lain. Yang berbeda satu dengan

yang lainnya. Antropometri secara luasakan digunakan sebagai

pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam proses perancangan (desain) produk maupun

sistem kerja yang akan memerlukan interaksimanusia. Data antropometri yang

berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luasantara lain dalam hal :

1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll ).

2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan

sebagainya.

3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja komputer

dll.

4. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan

menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk

yangdirancang dan manusia yang akan mengoperasikan / menggunakan produk

tersebut.Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu

mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan

(33)

95 % dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk

haruslah mampu menggunakannya dengan selayaknya.

2.3.2 Data Anthropometr i dan Cara Pengukurannya.

Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi

ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh

manusia , yaitu (Nurmianto, 2003) :

1. Umur.

Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar

seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahiran sampai dengan

umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian ysng dilakukan oleh A. F.

Roche dan G. H. Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki

akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun,

sedangkan wanita 17,3 tahun. Meskipun ada 10 % yang masih terus

bertambah tinggi sampai usia 23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita).

Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung

berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai

sekitar umur 40 tahunan (Wignjosoebroto, 1995).

2. Jenis kelamin (sex).

dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan

dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti

(34)

3. Suku bangsa (etnic).

Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnic akan memiliki karakteristik fisik

yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa Negara

Barat pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih besar daripada dimensi

tubuh suku bangsa negara Timur.

4. Keacakan / Random.

Hal ini menjelaskan bahwa walaupun telah terdapat dalam satu kelompok

populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku atau bangsa, kelompok

usia dan pekerjaannya, namun masih akan ada perbedaan yang cukup signifikan antara berbagai macam masyarakat.

5. Jenis Pekerjaan.

Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi

karyawan. Misalnya, buruh dermaga harus mempunyai postur tubuh yang

relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada

umumnya. Apalagi jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan militer.

6. Pakaian.

Tebal tipisnya pakaian yang dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda

akan memberikan varisi berbeda-beda pula dalam bentuk rancangan dan

spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orangpun akan berbeda

(35)

7. Faktor Kehamilan.

Kondisi semacam ini akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh

khususnya bagi perempuan. Hal tersebut jelas memerlukan perhatian khusus

terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmen seperti ini.

8. Tubuh Cacat.

Hal ini jelas menyebabkan perbedaan antara yang cacat dengan yang tidak

terhadap ukuran dimensi tubuh manusia.

9. Posisi tubuh (posture).

Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh

karena itu harus posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei

pengukuran.

Berkaitan dengan posisi tubuh manusia dikenal dua cara pengukuran, yaitu:

a. Antropometri Statis (Structural Body Dimensions).

Disini tubuh diukur dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak

(tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur meliputi berat badan,

tinggi tubuh, dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala,

tinggi/panjang lutut, pada saat berdiri/duduk, panjang lengan, dan

sebagainya.

b. Antropometri Dinamis (Functional Body Dimensions).

Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi

melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang

(36)

Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data antropometri yang tepat

diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, diperlukan

pengambilan ukuran dimensi anggota tubuh. Penjelasan mengenai pengukuran

dimensi antropometri tubuh yang diperlukan dalam perancangan dijelaskan pada

gambar 2.6.

Gambar 2.2 Antropometri untuk Perancangan Produk

Sumber: Wignjosoebroto, 2003

Gambar 2.3 Antropometri Tinggi Badan Berdiri dan Duduk

(37)

Keterangan gambar 2.6. di atas, yaitu:

1 : Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai dengan ujung

kepala).

2 : Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak.

3 : Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak.

4 : Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus).

5 : Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam

gambar tidak ditunjukkan).

6 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk (di ukur dari alas tempat duduk pantat

sampai dengan kepala).

7 : Tinggi mata dalam posisi duduk.

8 : Tinggi bahu dalam posisi duduk.

9 : Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus).

10 : Tebal atau lebar paha.

11 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan. ujung lutut.

12 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari

lutut betis.

13 : Tinggi lutut yang bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk.

14 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang di ukur dari lantai sampai dengan

paha.

15 : Lebar dari bahu (bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk).

(38)

17 : Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukkan dalam

gambar).

18 : Lebar perut.

19 : Panjang siku yang di ukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam

posisi siku tegak lurus.

20 : Lebar kepala.

21 : Panjang tangan di ukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari.

22 : Lebar telapak tangan.

23 : Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar kesamping kiri kanan

(tidak ditunjukkan dalam gambar).

24 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak.

25 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak.

26 : Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan di ukur dari bahu sampai

dengan ujung jari tangan.

2.3.3 Aplikasi Distribusi Normal, allowance dan Persentil Dalam Penetapan

Data Anthropometr i.

Data anthropometri diperlukan agar supaya rancangan suatu produk bisa

sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Ukuran tubuh yang

diperlukan pada hakekatnya tidak sulit diperoleh dari pengukuran secara

individual. Adanya variansi ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana

kita mampu merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat “mampu

(39)

Pada tabel dibawa ini dapat dilihat ukuran dimensi tubuh manusia dengan

persentil 5%, 50%, dan 95% yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1. Data Antropometri Masyarakat Indonesia

(40)

Pada penetapan data anthropometri, pemakaian distribusi normal akan

umum diterapkan. Distribusi normal dapat diformulasikan berdasarkan harga

ratarata dan simpangan standarnya dari data yang ada. Berdasarkan nilai yang ada

tersebut, maka persentil (nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari orang

yang memiliki ukuran pada atau di bawah nilai tersebut) bisa ditetapkan sesuai

tabel probabilitas distribusi normal. Bilamana diharapkan ukuran yang mampu

mengakomodasikan 95% dari populasi yang ada, maka diambil rentang 2,5th dan

97,5th percentile sebagai batas-batasnya (Wignjosoebroto, 1995).

Gambar 2.4 Distribusi Normal Yang Mengakomodasi 95% Dari Populasi.

Sumber: Wignjosoebroto, 2003

Menurut Panero dan Zelnik (2003) disamping berbagai variasi, pola umum

dari suatu distribusi data anthopometrik, seperti juga data-data lain, biasanya

dapat diduga dan diperkirakan seperti pada distribusi Gaussian. Distribusi

semacam itu, bila disajikan melalui grafik dengan membandingkan kejadian yang

muncul terhadap besaran, biasanya berbentuk kurva simetris atau berbentuk

lonceng. Ciri umum kurva berbentuk lonceng tersebut adalah besarnya prosentase

pada bagian tengah dengan sediki saja perbedaan yang mencolok pada bagian

(41)

Secara statistik sudah diperlihatkan bahwa data hasil pengukuran tubuh

manusia pada berbagai populasi akan terdistribusi dalam grafik sedemikian rupa

sehingga data-data yang bernilai kurang lebih sama akan terkumpul di bagian

tengah grafik. Sedangkan data-data dengan nilai penyimpangan yang ekstrim akan

terletak pada ujung-ujung grafik. Telah disebutkan pula bahwa merancang untuk

kepentingan keseluruhan populasi sekaligus merupakan hal yang tidak praktis.

Oleh karena itu sebaiknya dilakukan perancangan dengan tujuan dan data yang

berasal dari segmen populasi dibagian tengah grafik. Jadi merupakan hal logis

untuk mengesampingkan perbedaan yang ekstrim pada bagian ujung grafik dan

hanya menggunakan segmen terbesar yaitu 95% dari kelompok populasi tersebut.

Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean (rata-rata)

dan SD (standar deviasi). Sedangkan persentil adalah suatu nilai yang menyatakan

bahwa persentase dari sekelompok orang yang dimensinya sama atau lebih rendah

dari nilai persentil yang digunakan. Misalnya: persentil 95% adalah mewakili

sama dengan atau lebih rendah dari 95% jumlah populasi; persentil 5% adalah

mewakili sama dengan atau lebih rendah dari 5% jumlah populasi (Nurmianto,

2004).

Persentil ke-50 memberi gambaran yang mendekati nilai rata-rata dari

suatu kelompok tertentu, namun demikian pengertian ini jangan disalah artikan

sama dengan mengatakan bahwa rata-rata orang pada kelompok tersebut memiliki

ukuran tubuh yang dimaksudkan tadi. Ada dua hal penting yang harus selalu

diingat bila menggunakan persentil. Pertama, persentil anthropometrik dari tiap

(42)

dikatakan seseorang memilki persentil yang sama, ke-95 atau ke-90 atau ke-5,

untuk keseluruhan dimensi tubuhnya (Panero dan Zelnik, 2003).

Pemakaian nilai-nilai persentil yang umum diaplikasikan dalam

perhitungan data anthropometri, ditunjukan dalam tabel 2.2.

Tabel 2.2. Macam Persentil Dan Cara Perhitungan Dalam Distribusi Normal.

Persentil Perhitungan

1 – St 2.5 – th

5 – th 10 – th 50 – th 90 – th 95 – th 97.5 – th

99 – th

Sumber: Wignjosoebroto, 1995

Keterangan tabel 2.2. di atas, yaitu:

x = mean data

σ = standar deviasi dari data x

Pada pengolahan data anthropometri yang digunakan adalah data anthropometri hasil pengukuran dimensi tubuh manusia yang berkaitan dengan dimensi dari perancangan fasilitas kerja.

Sedangkan pada penentuan dimensi rancangan fasilitas kerja perakitan

dibutuhkan beberapa persamaan berdasarkan pendekatan anthropometri. Ini

(43)

Perhitungan nilai persentil 5 dan persentil 95 dari setiap jenis data yang

diperoleh, dilanjutkan dengan perhitungan untuk penentuan ukuran rancangan dan

pembuatan rancangan berdasarkan ukuran hasil rancangan. Menurut

Wignjosoebroto (2003), untuk menghitung persentil 5 dan persentil 95

menggunakan rumus pehitungan yang terdapat pada tabel 2.2. sebelumnya.

P5 = x - 1,645 σ x ... Persamaan 2.1.

P50 = x ... Persamaan 2.2.

P95 = x + 1,645 σ x ... Persamaan 2.3.

Allowance

Allowance adalah faktor kelonggaran yang dibutuhkan dalam sebuah

pengukuran seperti halnya penambahan ukuran pada dimensi suatu produk untuk

memberikan kelonggaran.

Penentuan kelonggaran (allowance) ditentukan sesuai kebutuhan dalam

pembuatan suatu produk dengan acuan memberikan kenyamanan untuk mendapat

suatu produk yang ergonomis. Kelonggaran setiap dimensi yang digunakan tidak

selalu sama karena masing-masing dimensi memiliki ukuran yang berbeda dan

membutukan kelonggaran (allowance) yang berbeda juga. Perhitungan allowance

dapat dilihat pada persamaan 2.4, 2.5, 2.6 :

P5 = x - 1,645 σ x + allowance ... Persamaan 2.4.

P50 = x+ allowance ... Persamaan 2.5.

(44)

2.4 Loker Inovasi

2.4.1 Definisi Loker Inovasi

Loker Inovasi merupakan salah satu alat atau tempat untuk untuk

menyimpan buku, dokumen atau arsip, dan kertas. Pada dasarnya Loker Inovasi

hanya dimanfaatkan sebagai untuk untuk menyimpan buku, dokumen atau arsip,

dan kertas saja namun sebenarnya jika dilakukan inovasi sedikit maka akan

memberikan nilai fungsi dan guna yang lebih.

Berikut adalah gambar dari Loker Inovasi.

2.4.2 Komponen Loker Inovasi.

Komponen utama pembuatan Loker Inovasi umumnya adalah :

1. Plat Besi

Plat Besi yang sudah dipotong menurut ukuran misaanya pada bagian kerangka

(45)

box dengan tinggi 46,5cm lebar 62cm dan terdapat 12 box masing-masing

tinggi 46,5cm dan lebar 46,5cm.

2. Roda

Dengan tambahan roda pada setiap sisinya supaya lebih mudah saat

memindahkan loker tersebut.

2.5 Kuisioner.

Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang

memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan

karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh

oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.

Dengan menggunakan kuesioner, analis berupaya mengukur apa yang

ditemukan dalam wawancara, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau

terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam suatu wawancara.Penggunaan

kuesioner tepat bila :

1. Responden (orang yang merenpons atau menjawab pertanyaan) saling

berjauhan.

2. Melibatkan sejumlah orang di dalam proyek sistem, dan berguna bila

mengetahui berapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau

tidak menyetujui suatu fitur khusu dari sistem yang diajukan.

3. Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat

(46)

4. Ingin yakin bahwa masalah-masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasi

dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut.

J enis Per tanyaan Pada Kuisioner

Perbedaaan pertanyaan dalam wawancara dengan pertanyaan dalam

kuesioner adalah dalam wawancara memungkinkan adanya interaksi antara

pertanyaan dan artinya. Dalam wawancara analis memiliki peluang untuk

menyaring suatu pertanyaan, menetapkan istilah-istilah yang belum jelas,

mengubah arus pertanyaan, memberi respons terhadap pandanmgan yang rumit

dan umumnya bisa mengontrol agar sesuai dengan konteksnya. Beberapa diantara

peluang-peluang diatas juga dimungkinkan dalam kuesioner. Jadi bagi

penganalisis pertanyaan-pertanyaan harus benar-benar jelas, arus pertanyaan

masuk akal, pertanyaan-pertanyaan dari responden diantisipasi dan susunan

pertanyaan direncanakan secara mendetail.Jenis-jenis pertanyaan dalam kuesioner

adalah :

1. Pertanyaan Terbuka : pertanyaan-pertanyaan yang memberi pilihan-pilihan

respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah

jenis respons yang muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa

diterjemahkan dengan benar.

2. Pertanyaan Tertutup : pertanyaan-pertanyaan yang membatasi atau menutup

pilihan-pilihan respons yang tersedia bagi responden.

Petunjuk-petunjuk yang harus diikuti saat memilih bahasa untuk kuesioner adalah

(47)

1. Gunakan bahasa responden kapanpun bila mungkin. Usahakan agar

kata-katanya tetap sederhana.

2. Bekerja dengan lebih spesifik lebih baik daripada ketidak-jelasan dalam

pilihan kata-kata. Hindari menggunakan pertanyaan-pertanyaan spesifik.

3. Pertanyaan harus singkat.

4. Jangan memihak responden dengan berbicara kapada mereka dengan pilihan

bahasa tingkat bawah.

5. Hindari bias dalam pilihan kata-katanya. Hindari juga bias dalam

pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan.

6. Berikan pertanyaan kepada responden yang tepat (maksudnya orang-orang

yang mampu merespons). Jangan berasumsi mereka tahu banyak.

7. Pastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut secara teknis cukup akurat

sebelum menggunakannya.

8. Gunakan perangkat lunak untuk memeriksa apakah level bacaannya sudah

tepat bagi responden.

2.6 Pengujian Data.

2.6.1 Uji Keseragaman Data.

Tes keseragaman data secara visual dilakukan secara sederhana mudah dan

cepat. Di sini kita hanya sekedar melihat data yang terkumpul dan seterusnya

mengidentifikasikan data yang telalu “ekstrim”. Yang dimaksudkan dengan data

ekstrim disini ialah data yang terlalu besar atau terlalu kecil dan jauh menyimpang

(48)

jauh-jauh dan tidak dimasukkan dalam perhitungan selanjutnya. Langkah pertama

dalam uji keseragaman data yaitu menghitung besarnya rata-rata dari setiap hasil

pengamatan, dengan persamaan berikut :

x = n

xi

... Persamaan 2.7.

Dimana:

x = Rata-rata data hasil pengamatan.

x = Data hasil pengukuran.

Langkah kedua adalah menghitung deviasi standar dengan persamaan 2.8

berikut:

σ = Standar deviasi dari populasi.

n = Banyaknya jumlah pengamatan.

x = Data hasil pengukuran.

Langkah ketiga adalah menentukan batas kontrol atas (BKA) dan batas

kontrol bawah (BKB) yang digunakan sebagai pembatas dibuangnya data ektrim

dengan menggunakan persamaan 2.9 dan 2.10 berikut :

BKA = X + kσ ... Persamaan 2.9.

BKB = X - kσ ... ... Persamaan 2.10.

Dimana:

(49)

σ = Standar deviasi dari populasi.

k = Koefisien indeks tingkat kepercayaan, yaitu:

Tingkat kepercayaan 0 % - 68 % harga k adalah 1.

Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2.

Tingkat kepercayaan 96 % - 100 % harga k adalah 3.

2.6.2 Uji Kecukupan Data.

Analisis kecukupan data dilakukan dengan tujuan untuk menguji apakah

data yang diambil sudah mencukupi denganmengetahui besarnya nilai N’. Apabila

N’ < N maka data pengukuran dianggap cukup sehingga tidak perlu dilakukan

pengambilan data lagi. Sedangkan jika N’ > N maka data dianggap masih kurang

sehingga diperlukan pengambilan data kembali. Adapun tahapan dalam uji

kecukupan data adalah sebagai berikut :

1. Menentukan Tingkat Ketelitian dan Tingkat Keyakinan.

Tingkat ketelitian menunjukan penyimpangan maksimum hasil pengukuran

dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan dalam

persen. Sedangkan tingkat keyakinan atau kepercayaan menunjukan besarnya

keyakinan atau kepercayaan pengukuran bahwa hasil yang diperoleh

memenuhi syarat tadi. Ini pun dinyatakan dalam persen. Jadi tingkat ketelitian

5% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti bahwa pengukuran

membolehkan rata hasil pengukuranya menyimpang sejauh 5% dari

rata-rata sebenarnya dan kemungkinan berhasil mendapatkan hal ini adalah 95%.

(50)

rata-rata dari sesuatu yang diukur akan memiliki peyimpangan tidak lebih

dari 5%.

2. Pengujian Kecukupan Data.

... Persamaan 2.11.

Dimana:

N’ = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan.

x = Data hasil pengukuran.

s = Tingkat ketelitian yang dikehendaki (dinyatakan dalam desimal).

k = Harga indeks tingkat kepercayaan, yaitu:

Tingkat kepercayaan 0 % - 68 % harga k adalah 1.

Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2.

Tingkat kepercayaan 96 % - 100 % harga k adalah 3.

Setelah mendapatkan nilai N’ maka dapat diambil kesimpulan apabila N’≤ N

maka data dianggap cukup dan tidak perlu dilakukan pengambilan data

kembali, tetapi apabila N’ > N maka data belum mencukupi dan perlu

dilakukan pengambilan data lagi.

2.7 Penelitian Terdahulu.

Yang dijadikan landasan pada penelitian ini adalah :

1. ”Perancangan Kursi pada Stasiun Kerja Gerinda” oleh : Triwulandari S.

(51)

merancang fasilitas kerja berupa kursi yang dapat diatur ketinggiannya/

posisinya sesuai dengan posisi tubuh pekerja pada stasiun kerja untuk

aktifitas menggerinda.

2. “Perancangan Tempat Tidur Balita dengan Pendekatan secara Ergonomi”

oleh : Yoanda Dwi Prasetyo, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”

Jawa Timur, 2012. Pada penelitian tersebut diketahui desain tempat tidur

balita terkait dengan dimensi-dimensi meliputi: stabilitas produk, kekuatan

produk, fungsional dan bahan material.

3. ”Pengembangan Produk Ditinjau dari Segi Perancangan Ulang Meja dan Kursi

Komputer dengan Pendekatan Ergonomi” oleh : Nyoto Pawenang,

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, 2011. Pada

penelitian tersebut diketahui bahwa meja dan kursi komputer diperlukan

penambahan spesifikasi antara lain : Pada bagian atas meja dapat disesuaikan

putar 360 sesuai dengan keinginan. Dengan menggunakan desain autoCAD

2011, diharapkan alat rancangan yang baru dapat mengurangi beban kerja

(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Teknologi Industri UPN “VETERAN”

Jawa Timur yang dimulai pada bulan November 2012 sampai data yang

diperlukan terpenuhi.

3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Var iabel

Variabel dapat diartikan sebagai faktor yang mempunyai besaran dan variasi

dalam penelitian. Jenis variabel dalam penelitian ada dua yaitu :

1. Variabel terikat adalah variabel yang perubahannya dipengaruhi oleh variabel

lain, dalam hal ini adalah : Loker yang ergonomis.

2. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat. Adapun

variabel bebas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak (TJT).

b. Jarak jangkauan tangan yang menjulur kedepan di ukur dari bahu sampai

(53)

3.3 Langkah-langkah Pemecahan Masalah

Langkah-langkah yang digunakan dalam pemecahan masalah dapat

digambarkan dalam flowchart sebagai berikut :

Tidak

Ya Mulai

Studi Lapangan Perumusan Masalah Studi Pustaka

Tujuan Penelitian

Identifikasi Variabel

Pengumpulan Data

- Tinggi jangkauan tangan keatas (TJT)

- Jarak jangkauan tangan yang menjulur

kedepan (JJT)

Desain Loker Awal Desain inovasi Usulan

Gambar Desain loker Aw al Uji Keseragaman

Dat a Seragam

Buang Dat a Ekstrem

Sisa Dat a Ekstrim Uji Kecekupan

Dat a

(54)

Gambar 3.1 Langkah-langkah Pemecahan Masalah

A B

Perancangan Desain Loker usulan

Gambar Desain Loker usulan Menentukan

Persentil

Uji coba pemakaian Loker usulan

Membandingkan Desain Loker yang telah ada dengan

Loker usulan

Desain Ergonomis

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

(55)

Penjelasan langkah-langkah pemecahan masalah :

1. Mulai

Mulai ini meliputi kegiatan seperti : pembuatan proposal, konfirmasi pada

pihak personalia, penyerahan judul permasalahan pada pihak jurusan sampai

pembuatan surat keterangan penelitian.

2. Studi Pustaka

Studi kepustakaan yang dilakukan sebagai sarana pembantu pengumpulan

informasi yang berkaitan dengan permasalahan. Studi kepustakaan ini

diperoleh dari literatur-literatur seperti text books, jurnal maupun dari

penelitian-penelitian yang pernah dilakukan yang relevan dengan

permasalahan yang diteliti. Dari studi kepustakaan ini akan diperoleh

landasan metode-metode untuk pengolahan data, dan literatur mengenai

objek pengamatan Loker serta acuan-acuan yang akan dipergunakan dalam

penelitian.

3. Studi Lapangan

Melakukan survei terhadap penjualan, mencari permasalahan yang terjadi

pada permasalahan yang diteliti sehingga mendapat gambaran umum untuk

memulai suatu penelitian. Pada kasus ini, penulis melakukan wawancara

kepada pihak yang bersangkutan untuk mengetahui tingkat jumlah

pelanggan.

4. Perumusan Masalah

Suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan

(56)

5. Tujuan Penelitian

Membuat uraian yang menyebutkan secara spesifikasi maksud atau tujuan

yang hendak dicapai dari penelitian yang dilakukan. Maksud – maksud yang

terkandung di dalam kegiatan tersebut baik maksud utama maupun

tambahan, harus dikemukakan dengan jelas.

6. Identifikasi Variabel

Mengidentifikasdi masalah secara lebih terinci, pada permasalahn kali ini

penulis memberikan identifikasi terhadap pokok permasalahan dalam

mengetahui masalah apa saja yang terikat dengan permasalahan.

7. Uji Keseragaman Data

Dilakukan untuk menetapkan data yang seragam untuk mengaplikasikannya

dapat digunakan peta kontrol. Melalui peta kontrol dapat terlihat apakah data

seragam atau tidak ada data ekstrim. Jika ada data yang tidak seragam atau

ada data ekstrim , data tersebut dibuang. Perhitungan pengujian ini meliputi :

a. Perhitungan nilai rata-rata tiap dimensi.

x =

c. Perhitungan batas control atas dan bawah.

BKA = X + kσ

(57)

8. Uji kecukupan data

Dilakukan perhitungan dimensi pada Loker yang dilengkapi dengan tempat

buku sesuai dengan presentil 5%, 50% dan 90%.

Rumus uji kecukupan data :

9. Desain Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan 3 Box.

Dilakukan desain Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan 3 Box dengan

ukuran yang telah dihitung berdasarkan presntil.

10.Pembuatan Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan Laci

Pembuatan produk jadi sesuai desain dan ukuran yang berdasarkan

perhitungan presentil.

11.Uji Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan 3 Box

Kegiatan uji hasil dari desain dan rancangan Loker yang dilengkapi dengan

12 Box dan 3 Box.

12.Hasil dan Pembahasan

Membahas hasil dari perancangan produk Loker yang dilengkapi dengan 12

Box dan 3 Box dan pengujian keergonomisan yang telah dilakukan.

13.Kesimpulan dan Saran

Menuangkan hasil pembahasan kedalam kesimpulan yang menjawab dari

(58)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengumpulan Data

4.1.1 Data Antr opometr i Pengguna

Ukuran untuk pembuatan dan perancangan loker ini diambil dari data

Antropometri yang disesuaikan dengan pengguna dalam hal ini yang dimaksud pengguna pada umumnya khususnya yang ada di lingkungan FTI

Adapun dimensi tubuh yang diukur adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Pengukuran Dimensi Tubuh dalam Cm

(59)

48 195 70

• Tjt = Tinggi jangkauan tangan ke atas di ukur dari kaki hingga jagkauan

tangan ke atas

• Jjt = Jarak jangkauan tangan yang menjulur kedepan di ukur dari bahu sampai

Gambar

Gambar 2.1 Sikap kerja pada Visual Display Terminal (VDT)
gambar 2.6.
Tabel 2.1. Data Antropometri Masyarakat Indonesia
Gambar 2.4  Distribusi Normal Yang Mengakomodasi 95% Dari Populasi. Sumber: Wignjosoebroto, 2003
+7

Referensi

Dokumen terkait

Data anthropometri yang digunakan adalah data dimensi tubuh operator yang akan memakai fasilitas kerja yang dirancang pada PT.. Adapun asumsi-asumsi yang digunakan dalam

Perancangan kursi dan meja yang digunakan Sekolah Dasar Negeri 060798 menunjukan bahwa ukuran dimensi kursi dan meja yang digunakan disekolah tidak sesuai dengan ukuran tubuh

Data anthropometri yang diperlukan untuk perancangan produk..

Dengan adanya variabilitas dimensi tubuh manusia, maka terdapat tiga prinsip dalam pemakaian data anthropometri agar produk yang dirancang dapat mengakomodasi

Data anthropometri didapat dengan cara pengukuran dimensi tubuh yang diperlukan dalam pembuatan alat pencetak pempek kriting secara langsung kepada 3 pekerja yang

Data anthropometri didapat dengan cara pengukuran dimensi tubuh yang diperlukan dalam pembuatan alat pencetak pempek kriting secara langsung kepada 3 pekerja yang

a) Cacat tubuh, dimana data Anthropometri disini akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang-orang cacat. b) Tebal / tipisnya pakaian yang harus dikenakan,

Anthropometri ialahlah keilmu yang berhubungan dengan pengukuran dimensi serta cara untuk mengaplikasikan karakteristik tertentu dari badan manusia. Anthropometri berasal dari