PENGEMBANGAN PRODUK LOCKER YANG ERGONOMIS
SKRIPSI
Disusun Oleh :
RESANDHY HANUNG CR.
0832010095
J URUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN “ J AWA TIMUR
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
“PENGEMBANGAN PRODUK LOKER YANG ERGONOMIS”
Oleh :
RESANDHY HANUNG CRISTYANTO NPM : 0832010095
Telah Disetujui untuk Mengikuti Ujian Negara Lisan Gelombang V Tahun Ajar an 2012-2013
Mengetahui
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Ir. Akmal Sur yadi. MT Enny Ariyani, ST. MT
Mengetahui
Ketua J ur usan Teknik Industri UPN “Veteran” J awa Timur
Dr. Ir. Minto Waluyo,MM NIP 1961130199031001
SKRIPSI
PENGEMBANGAN PRODUK LOKER YANG ERGONOMIS
Disusun Oleh :
RESANDHY HANUNG CRISTYANTO NPM. 0832010095
Telah diper taha nkan dihada pan dan diter ima oleh Tim Penguji Skr ipsi jur usan Teknik Industr i Fa kulta s :Teknologi Industr i Universitas Pemba ngunan Nasional “VETERAN”
J awa Timur pada tangga l 31 J uli 2013
Tim Penguji : Dosen Pembimbing :
1. 1.
Ir . Yustina Ngatilah, MT Ir . Akmal Sur yadi, MT NIP. 19570306 198803 2 001 NIP . 19650112 199003 1 001
2.
Ir . Budi Santoso, MMT NIP. 19561205 198703 1 001
3.
Ir . Akmal Sur yadi, MT NIP . 19650112 199003 1 001
Mengeta hui,
Dekan Fakultas Teknologi Industr i
Univwr sita s Pembangunan “ Veter a n ” J awa Timur
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alikum Wr. Wb.
Segala puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga dapat terselesaikan Tugas Akhir/Skripsi dengan judul “Pengembangan Produk Locker Inovasi (Lemari Besi) Yang Ergonomi”.
Tugas Akhir/Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh
oleh mahasiswa jenjang pendidikan Strata-1 (Sarjana) Jurusan Teknik Industri,
Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa
Timur guna meraih gelar kesarjanaan.
Dalam penyusunan Tugas Akhir/Skripsi ini penulis ingin mengucapkan
rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. R. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Ir. Sutiyono, MT selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri
UPN “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak DR. Ir. Minto Waluyo, MM selaku Ketua Jurusan Teknik Indutri
UPN “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak Drs. Pailan, MPd selaku Sekretaris Jurusan Teknik Indutri
UPN “Veteran” Jawa Timur.
5. Ibu Ir. Akmal Suryadi, MT selaku Dosen Pembimbing I Skripsi.
6. Ibu Enny Ariyani, ST, MT selaku Dosen Pembimbing II Skipsi.
7. Bapak Ir. Hari Purwadi,MM, dan Suseno Budi P, ST,MT selaku Dosen
ii
8. Segenap staff Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama
masa perkuliahan.
9. Seluruh Keluargaku (Papa, Mama, Kakak, dan Kekasih Kaloka Kusumaning Ayu) Makasi banyak atas Doa, Semangat, dan Support yang uda diberikan buat aku. 10. Teman-temanku (Pararrel D Dan Yanuar), terima kasih banyak.
11. Pihak – pihak terkait yang membantu dalam penyelesaian Tugas
Akhir/Skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih
banyak.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir/Skripsi ini terdapat
kesalahan dan kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu sebagai penulis,
kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
kesempurnaan Tugas Akhir/Skripsi ini. Akhir kata, semoga Tugas Akhir/Skripsi
ini bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Surabaya, 14 Juni 2013
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
ABSTRAKSI ... viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 2
1.3 Batasan Masalah... 2
1.4 Asumsi ... 3
1.5 Tujuan ... 3
1.6 Manfaat ... 3
1.7 Sistematika Penulisan ... 4
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk ... 6
2.1.1 Perancangan Produk ... 6
2.1.2 Pengembangan Produk ... 9
2.2 Ergonomi ... 13
2.2.1 Sejarah dan Perkembangan Ergonomi ... 13
2.2.2 Definisi Ergonomi ... 15
2.2.3 Bidang Kajian Ergonomi ... 17
2.2.4 Sikap Kerja ... 19
2.3 Anthropometri ... 22
2.3.1 Definisi Anthropometri ... 22
2.3.2 Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya ... 23
2.3.3 Aplikasi Distribusi Normal dan Persentil Dalam Penetapan Data Anthropometri ... 28
2.4 loker informasi... 34
2.4.1 Definisi loker informasi ... 34
2.4.2 Komponen loker informasi ... 34
2.5 Kuisioner ... 35
2.6 Pengujian Data ... 37
2.6.1 Uji Keseragaman Data ... 37
2.6.2 Uji Kecukupan Data ... 39
2.7 Penelitian Terdahulu ... 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 42
3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan Data ... 47
4.2 Pengolahan Data ... 48
4.2.1 Desain loker informasiAwal ... 48
4.2.2 Desain loker informasi yang Dilengkapi 12 Rak dan laci ... 49
4.2.2.1 Uji Keseragaman Data ... 49
4.2.2.2 Uji Kecukupan Data ... 60
4.2.2.3 Menentukan Persentil ... 63
4.2.2.4 Perancangan loker informasi yang dilengkapi 12 rak dan laci.. 66 4.2.2.5 Uji Coba Pemakaian loker informasi yang dilengkapi 12 rak dan laci ... 67
4.2.2.6 Perbandingan Desain loker informasi Awal dengan yang dilengkapi 12 rak dan laci ... 68
4.3 Hasil dan Pembahasan ... 71
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 73
5.2 Saran ... 74
ABSTRAKSI
Kenyamanan dalam sebuah aktifitas adalah sebuah kebutuhan mutlak yang sangat dicari dan dioptimalkan oleh setiap creator maupun innovator di bidang human comfortable. Berbagai macam bentuk model perlindungan maupun peralatan yang menunjang sebuah nilai keamanan pada diri manusia, seperti halnya pakaian yang melindungi manusia dari kondisi alam di sekitar tubuh yang dibalutnya, dan sudah tentu hal ini membutuhkan campur tangan seorang desaigner sebagai pencipta sekaligus pemberi nilai lebih dibidang estetika dan daya persuasive.
Loker merupakan tempat penyimpanan yang digunakan oleh banyak kalangan. loker pada umumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan tas atau data–data yang diperlukan. Dalam kehidupan sehari–hari kita sering menmukan banyak sekali loker yang kurang ergonomis atau bentuknya terlalu monoton dimana loker hanya bisa digunakan untuk menyimpan tas dan barang-barang yang kecil, disamping itu juga kalau membuka loker terasa ruang yang ada di dalam loker terlalu sempit dan gelap jadi kurang nyaman.
Dari permasalahan di atas dimana loker yang digunakan di masyarakat penggunanya masih sangat kurang ergonomis dan terlalu sederhana. sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk merancang loker yang sudah ada saat ini menjadi lebih ergonomis sesuai dengan kebutuhan konsumen sehingga memberi kenyamanan pada penggunanya dan memberikan kelebihan terhadap loker yang sudah ada dengan menambah fungsi penerangan bagi penggunanya dan menambah luas kapasitas dari loker tersebut.
Metode Pahl & Beitz dapat membantu proses perancangan loker yang ergonomis, sehingga di dapat hasil perhitungan penentuan ukuran adalah panjang loker informasi adalah 66 cm, lebar loker informasi adalah 183 cm, lebar masing-masing box loker informasi adalah 46cm, tinggi loker informasi adalah 183 cm. rancangan loker informasi usulan saat ini mempunyai beberapa kelebihan disbandingkan dengan loker awal, selain luas tempat penyimpanan yang lebih besar, loker informasi ini mempunyai kotak besar yang di tutupi oleh kaca sehingga barang-barang yang tersimpan disana dapat terjaga baik dan rapi. Selain itu loker informasi ini menggunakan kayu yang sagat ringan yaitu kayu multiplex yang juga dapat bertahan lebih lama dan tahan karat. Hal tersebut juga di perkuat oleh hasil kuisioner indikator Antropometri loker informasi bahwa, sangat sesuai sebanyak 76 jawaban, sesuai sebanyak 178 jawaban, cukup sebanyak 44 jawaban, tidak sesuai sebanyak 2 jawaban, sangat tidak sesuai sebanyak 0 jawaban dan kuisioner indikator Ergonomi loker informasi bahwa sangat layak sebanyak 187 jawaban, layak sebanyak 204 jawaban, cukup sebanyak 19 jawaban, tidak layak sebanyak 10 jawaban, sangat tidak layak sebanyak 0 jawaban.
ABSTRAKSI
Comfort in an activity is an absolute necessity are very sought after and optimized by each creator and innovator in the field of human comfortable. Various kinds of models and tools that support the protection of a security value on human beings, as well as clothing that protects humans from the natural environment around the body dibalutnya, and of course this requires the intervention of a desaigner as the creator and giver of more value in the field of aesthetic and persuasive power.
Storage lockers are used by many people. lockers are generally used as a storage bag or data required. In everyday life we often menmukan lot of lockers or less ergonomic shape too monotonous where lockers can only be used to store bags and small goods, and also it feels that open locker room there in the locker too narrow and dark be less comfortable
Pahl & Beitz method can help the process of designing an ergonomic locker, so it can result in the determination of the calculation is a measure of the length lockers information is 66 cm, width is 183 cm lockers information, the width of each box lockers information is 46cm, height is 183 cm lockers information . locker design information current proposal has several advantages disbandingkan with lockers earlier, in addition to extensive bigger storage, lockers information has a big box on the cover by the glass so that the items stored there can be well maintained and tidy. Additionally locker this information using light Sagat wood is wood multiplex can also last longer and corrosion resistance. It is also strengthened by the results of questionnaires locker Anthropometry indicators that information, it is appropriate answers as many as 76, according to as many as 178 answers, just answer as many as 44, does not match the answer by 2, so is not suitable as an indicator 0 answer questionnaires Ergonomics and locker information that is very worth as much as 187 answers, worth as much as 204 answers, just answer as many as 19, not worth as much as 10 answer, it is not worth as much as 0 answers
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam era kemajuan teknologi yang sudah semakin berkembang sekarang
ini, tentunya akan membuat banyak orang untuk berlomba-lomba menciptakan
suatu benda atau produk yang lebih bermanfaat atau mempunyai kegunaan yang
lebih banyak dari pada produk yang sudah ada di pasaran. Tentunya produk yang
bagus adalah produk yang bisa digunakan secara maksimal.
Di zaman sekarang ini banyak sekali orang membutuhkan produk yang
mempunyai banyak fungsi dari suatu perancangan produk (man made objact),
tidak terkecuali perancangan produk berupa loker. Loker biasanya digunakan
untuk menyimpan buku, dokumen atau arsip, dan kertas. Ada pula yang
menggunakan loker untuk menyimpan kertas kerja. Namun, dengan terbatasnya
ukuran loker membuat barang-barang tersebut tidak rapi dan tidak enak dipandang
mata, tercampur jadi satu dan sulit untuk membedakan mana kertas yang penting
atau kertas kerja. Melihat kebutuhan tersebut maka penulis membuat
pengembangan dari loker pada umumnya.
Dengan adanya permasalahan tersebut maka dilakukan penelitian
pengembangan produk loker yang ergonomis. Loker ini dibuat untuk memenuhi
kebutuhan menyimpan tas, dokumen dan kertas-kertas kerja agar tidak tercampur
Untuk dokumen dan arsip penting dibuat 12 sekat yang berbentuk persegi. Agar
terlihat lebih rapi dan tidak bercampur dengan dokumen penting, peneliti
menambahkan 3 box untuk tempat kertas kerja agar memudahkan akses
mengambil dan mencari dokumen maka box berada di bawah loker. Materialnya
terbuat dari bahan plat baja sehingga lebih tahan lama dengan warna yang
menarik. Loker ini akan memudahkan pengguna menyimpan dan mengambil
dokumen dengan rapi sehingga lebih mudah dalam mencari dokumen. Di sisi lain,
kertas kerja tetap rapi tersimpan dalam loker dan tidak bercampur dengan
dokumen penting.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang
dihadapi, yaitu :
“Bagaimana Mengembangkan desain produk Locker Inovasi yang
ergonomis?”.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah:
1. Data pengukuran Anthropometri didapatkan dari ukuran masyarakat Indonesia
dengan usia 19 - 35 tahun (Laki-laki maupun perempuan).
2. Pengukuran Anthropometri yang didapatkan hanya digunakan pada tinggi
3. Persentil yang digunakan Persentil 5, Persentil 50 dan Persentil 95.
4. Tingkat keyakinan 95 % dan tingkat ketelitian 5 %.
1.4 Asumsi
Dalam penelitian ini asumsi yang digunakan sebagai berikut :
1. Kondisi penggunaan diukur dalam keadaan baik (tidak cacat) dan dalam
kondisi sehat.
2. Dimensi tubuh orang yang digunakan sebagai sampel dapat mewakili seluruh
pengguna loker.
3. Hasil rancangan “Loker” yang didesain bisa digunakan untuk semua
kalangan (remaja dan dewasa).
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
Melakukan pengembangan desain produk Loker yang ergonomis.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah :
1. Bagi Peneliti :
Sebagai latihan untuk menerapkan teori yang sudah didapatkan di bangku
2. Bagi Pengguna :
Memberikan kemudahan dalam melakukan kegiatan khususnya dalam
berjualan.
3. Bagi Ilmu Pengetahuan :
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memecahkan masalah
pembuatan produk sehingga dapat dikembangkan dalam penelitian-penelitian
selanjutnya. Dan studi banding bagi mahasiswa di masa yang akan datang.
1.7 Sistematika Penelitian
Sistematika yang digunakan dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan
pihak fakultas untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian tersebut, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah,
batasan masalah, asumsi-asumsi, tujuan penelitian, manfaat
penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJ AUAN PUSTAKA
Bab ini berisi teori dan konsep yang dijadikan dasar atau landasan
didalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan langkah-langkah pemecahan yang diperlukan
dalam penelitian ini, yang meliputi tempat, waktu penelitian,
identifikasi dan definisi variabel, langkah-langkah pemecahan
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi pengumpulan data, pengolahan data dan
pembahasan data-data hasil penelitian.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi uraian mengenai kesimpulan dari pembahasan serta
beberapa saran untuk perbaikan.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk.
2.1.1 Perancangan Pr oduk.
Perancangan adalah kegiatan awal dari suatu rangkaian kegiatan dalam
proses pembuatan produk. Dalam tahap perancangan tersebut dibuat
keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan lain yang menyusulnya.
Diantara keputusan penting tersebut, termasuk keputusan yang membawa akibat
apakah industri dalam negeri dapat berpartisipasi atau tidak dalam suatu
pembangunan proyek.
Kesejahteraan dan kualitas hidup manusia yang telah mencapai tingkat
yang tinggi saat ini, sebagian besar adalah akibat diciptakan, dibuat dan
dimanfaatkannya berbagai produk dan jasa yang tak terhitung macam dan
jumlahnya oleh para insinyur dan ahli-ahli teknik lainnya. Kontribusi para ahli
teknik dalam meningkatkan kesejahteraan manusia tersebut adalah dalam kegiatan
mencipta, merancang dan membuat produk dan jasa yang berguna bagi manusia
karena meringankan beban hidupnya dan membuat hidup lebih nyaman. Produk
dan jasa tersebut juga harus memenuhi beberapa persyaratan modern seperti tidak
merusak lingkungan, hemat energi dan lain sebagainya.
Perancangan dan pembuatan produk merupakan bagian yang sangat besar
dari kegiatan teknik yang ada. Kegiatan perancangan dimulai dengan
perancangan konsep produk, disusul kemudian dengan perancangan,
pengembangan dan penyempurnaan produk.
Dalam bentuk yang paling sederhana, hasil rancangan dapat berupa sebuah
sketsa atau gambar sederhana dari produk yang akan dibuat. Dalam hal si pembuat
produk adalah si perancang sendiri, maka sketsa atau gambar yang dibuat cukup
sederhana saja asalkan dapat dimengertinya sendiri.
Menurut Pressman (2010), perancangan adalah langkah pertama dalam
fase pengembangan rekayasa produk atau sistem. Perancangan itu adalah proses
penerapan berbagai teknik dan prinsip yang bertujuan untuk mendefinisikan
sebuah peralatan, satu proses atau satu sistem secara detail yang membolehkan
dilakukan realisasi fisik (Taylor dalam Pressman,2008).
1. Langkah - langkah Perancangan Produk
a. Fase Inovasi.
Fase yang bertujuan untuk memahami seluruh aspek yang berkaitan dengan
produk yang hendak dikembangkan dengan cara mengumpulkan seluruh
informasi yang dibutuhkan secara akurat diantaranya (Imam Djati 2001) :
- Gambar produk awal dan spesifikasi.
- Kriteria keinginan konsumen terhadap produk.
- Kriteria keinginan relatif konsumen.
- Kriteria manufaktur yang mencakup diagram mekanisme pembuatan
struktur dan fungsi.
- Kriteria buying. Dasar Kemampuan pembelian produk dengan
- Kriteria finance produk awal.
b. Fase kreatif.
Fase yang bertujuan untuk menampilkan alternatif yang dapat memenuhi
fungsi yang dibutuhkan diantaranya :
- Penentuan kriteria atribut yang menggunakan diagram pohon.
- Penentuan prioritas perancangan.
- Pembuatan alternatif model produk.
c. Fase analisa.
Fase yang bertujuan untuk menganalisa alternatif yang dihasilkan pada fase
kreatif dan memberikan rekomendasi terhadap alternatif terbaik dan analisa
yang dilakukan antara lain :
-Analisa kriteria atribut yang akan dikembangkan.
-Penilaian kriteria atribut antar model.
-Pembobotan kriteria atribut produk.
-Value analysis.
d. Fase pengembangan.
Fase yang bertujuan memilih salah satu alternatif tunggal dari beberapa
alternatif yang ada yang merupakan alternatif terbaik dan merupakan output
dari fase analisa. Data data tentang alternatif yang digunakan adalah :
- Alternatif terpilih.
e. Fase rekomendasi.
Fase yang bertujuan untuk mengkomunikasikan secara baik dan menarik
terhadap hasil pengembangan produk.
2. Model Perancangan Produk.
Dalam model perancangan produk terdefinisikan menjadi dua jenis model
yang sangat dominan dalam awal perancangan produk yaitu model deskriptif
dan model perspektif (Ginting R, 2009).
a. Model deskriptif.
Dalam model ini pentingnya menghasilkan suatu konsep solusi sejak
dini dalam proses perancangan dan berfokus pada solusi heuristic
(pengalaman sebelumnya bersifat umum).
b. Model perspektif.
Model yang bersifat sistematik dan penekanan berada pada semakin
meningkatnya kebutuhan yang lebih analitik sebelum aktifitas
pembangkitan alternatif alternatif solusi.
2.1.2 Pengembangan Pr oduk.
Pengembangan produk merupakan usaha meningkatkan mutu dari barang
atau jasa dan penemuan barang atau jasa baru yang akan menambah kepuasan
konsumen. Dari pengertian pengembangan produk tersebut tampak sekali bahwa
segala bentuk barang dan jasa yang dihasilkan selalu berkaitan dengan kepuasan
konsumen. Agar proses pengembangan produk dapat berjalan secara tepat dan
usaha pada perusahaan maka diperlukan suatu biaya yang maksimal, sehingga ada
pemisahan yang jelas antara biaya pengembangan produk dengan biaya volume
penjualan.
Tujuan perusahaan dalam mengembangkan produk adalah agar dapat
memenangkan persaingan terhadap barang sejenis, sehingga volume penjualan
dan laba perusahaan dapat meningkat serta perusahaan dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan dapat memperluas usahanya. Pengembangan produk
dapat pula dilakukan dengan cara memperbaiki produk yang sudah ada
(modifikasi produk), perbaikan produk yang sudah ada dilakukan dengan cara:
perbaikan mutu/kualitas, perbaikan segi/feature baru, dan perbaikan corak/motif.
Disamping menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
konsumen, perusahaan juga menciptakan suatu strategi pengembangan produk.
Usaha strategi pengembangan produk diharapkan dapat mengikuti
perubahan teknologi yang dipakai dalam perusahaan. Hal ini bagi perusahaan
sangat penting karena suatu saat akan mengalami peralihan teknologi. Pada
peralihan teknologi perusahaan akan menggunakan teknologi lebih maju guna
menjaga kedinamisan perusahaan. Oleh karena itu diperlukan strategi bagi
perusahaan agar dapat menciptakan suatu produk baru.
Menurut Urlich (2001, pengembangan produk merupakan serangkaian
aktivitas yang dimulai dari analisis persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri
dengan tahap produksi, penjualan, dan pengiriman produk.
Sedangkan menurut Yamit (1996) pengembangan produk merupakan
Keharusan ini dikarenakan tidak ada satupun produk yang dapat bertahan untuk
selamanya.
1. Tahap-Tahap Dalam Pengembangan Produk.
Menurut Swastha (1997), ada beberapa tahap dalam pengembangan produk,
yaitu :
a. Tahap Penyaringan.
Tahap Penyaringan dilakukan setelah berbagai macam ide tentang produk
telah tersedia, Dalam tahap ini merupakan pemilihan sejumlah ide dari
berbagai macam sumber. Adapun informasi atau ide berasal dari manager
perusahaan, pesaing, para ahli termasuk konsultan, para penyalur,
langganan, atau lembaga lain.
b. Tahap Analisa Bisnis.
Pada tahap ini msing-masing ide dianalisa dari segi bisnis untuk mengetahui
seberapa jauh kemampuan ide tersebut dapat menghasilkan laba.
c. Tahap Pengembangan.
Pada tahap ini, ide yang telah dianalisa perlu dikembangkan karena
ide-ide tersebut lebih menguntungkan. Pengembangan ini tentunya harus sesuai
dengan kemampuan perusahaan.
d. Tahap Pengujian.
Tahap pengujian merupakan kelanjutan dari tahap pengembangan, meliputi :
- Pengujian tentang konsep produk.
- Pengujian terhadap kesukaan konsumen.
- Test penggunaan.
- Operasi pabrik percontohan.
- Tahap Komersialisasi.
2.1.3 Inovasi Pr oduk.
Menurut etimologi, inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna
‘pembaharuan, perubahan (secara) baru’. Inovasi adakalanya diartikan sebagai
penemuan, tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri atau
invensi. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu yang sesuatu itu telah
ada sebelumnya, tetapi belum diketahui orang; contohnya penemuan benua
Amerika. Sebenarnya, benua Amerika sudah ada sejak dahulu, tetapi baru
ditemukan pada tahun 1492 oleh orang Eropa yang bernama Columbus. Invensi
adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia; contohnya
teori belajar, mode busana, dan sebagainya. Inovasi adalah suatu ide, produk,
metode, dan seterusnya yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru, baik berupa
hasil diskoveri atau invensi yang digunakan untuk tujuan tertentu.
Effendi sanusi (2011) mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru,
praktik-praktik baru, atau objek-objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru
oleh individu atau masyarakat sasaran. Pengertian baru di sini, mengandung
makna bukan sekadar baru diketahui oleh pikiran (cognitive), melainkan juga
baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat
dalam arti sikap (attitude) dan juga baru dalam pengertian belum diterima dan
Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil
produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan
menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Jadi,
secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk, informasi teknologi,
kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang belum banyak
diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga
masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong
terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi
terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang
bersangkutan.
Fullan mengemukakan bahwa tahun 1960-an adalah era banyak inovasi
pendidikan kontemporer diadopsi, seperti matematika, kimia, fisika baru, mesin
belajar (teaching machine), pendidikan terbuka, pembelajaran individu,
pengajaran secara tim (team teaching), termasuk sistem belajar mandiri.
2.2 Ergonomi.
2.2.1 Sejar ah dan Per kembangan Er gonomi.
Di dalam buku Eko Nurmianto, Istilah "ergonomi" mulai dicetuskan pada
tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan
puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai
1. C.T. Thackrah, England, 1831.
Thackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang meneruskan
pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzuu, dalam serangkaian kegiatan
yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan
oleh para operator ditempat kerjanya. la mengamati postur tubuh pada saat
bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Thackrah
mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi,
meja yang kurang sesuai secara anthropometri, serta pencahayaan yang tidak
ergonomis sehingga mengakibatkan membungkuknya badan dan iritasi indera
penglihatan. Disamping itu juga mengamati para pekerja yang berada pada
lingkungan kerja dengan temperatur tinggi, kurangnya ventilasi, jam kerja yang
panjang, dan gerakan kerja yang berulang-ulang (repetitive work).
2. F. W. Taylor, U.S.A., 1898.
Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan
metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu
pekerjaan. Beberapa metodanya merupakan konsep ergonomi dan manajemen
modern.
3. F .B. Gilberth, U.S.A., 1911.
Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih
mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam
bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan
bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem
4. Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatigue Research
Board), England, 1918.
Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik
amunisi pada Perang Dunia Pertama. Mereka menunjukkan bagaimana output
setiap harinya meningkat dengan jam kerja per hari-nya yang menurun.
Disamping itu mereka juga mengamati waktu siklus optimum untuk sistem
kerja berulang (repetitive work systems) dan menyarankan adanya variasi dan
rotasi pekerjaan.
2.2.2 Definisi Ergonomi.
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan
informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia
merancang suatu sistem kerja, sehingga manusia dapat hidup dan bekerja pada
sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan
itu dengan efektif, aman, dan nyaman. Fokus dari ergonomi adalah manusia dan
interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dan
pekerja serta kehidupan sehari-hari dimana penekanannya adalah pada faktor
manusia.
Menurut Pulat (1992) ergonomi merupakan studi tentang interaksi antara
manusia dengan objek yang mereka gunakan, dan lingkungan di mana mereka
bekerja. Beberapa hal yang penting dalam pengertian tersebut adalah komponen
Sedangkan menurut Sritomo Wignjosoebroto adalah Ergonomi atau
ergonomics (bahasa Inggrisnya) sebenarnya berasal dari kata yunani yaitu Ergo
yang berarti kerja dan Nomos yang berarti hukum. Ergonomi dapat didefinisikan
sebagai suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan
informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang
suatu sistem kerja. Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas
rancang bangun (design) ataupun rancang ulang (re-design). Hal ini dapat
meliputi perangkat keras misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja (benches,
platform, kursi, pegangan alat kerja (workholders), sistem pengendali (controls),
alat peraga (display), jalan/lorong (acces ways), pintu (doors), jendela (windows),
dan lain-lain. Masih dalam kaitan dengan hal yang ada di atas adalah bahasan
tentang rancang bangun lingkungan kerja (working environment), karena jika
sistem perangkat keras berubah maka akan berubah pula lingkungan kerjanya.
Tujuan ergonomi adalah menambah efektifitas penggunaan objek fisik dan
fasilitas yang digunakan oleh manusia dan merawat atau menambah nilai tertentu,
misalnya kesehatan, kenyamanan dan kepuasan pada proses penggunaan tersebut.
Ergonomi dapat pula berperan sebagai desain pekerjaan pada suatu
organisasi, misalnya: penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian
waktu kerja atau shift kerja, meningkatkan variasi pekerjaan dan lain-lain.
Ergonomi dapat pula berfungsi sebagai desain perangkat lunak karena dengan
semakin banyaknya pekerjaan yang berkaitan erat dengan komputer. Penyampaian
informasi dalam suatu sistem komputer harus pula diusahakan sekompatibel
Ilmu ergonomi ini secara khusus akan mempelajari tentang keterbatasan dan
kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk
buatannya. Disiplin ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki
batas-batas kemampuan, baik di dalam jangka pendek maupun panjang. Pada saat
berhadapan dengan keadaan lingkungan kerja yang berupa perangkat keras
(hardware mesin, peralatan kerja, dan sebagainya) dan perangkat lunak (metode
kerja, sistem, dan prosedur).
Prinsip penting yang harus selalu diterapkan pada setiap perancangan
adalah fitting the job to the man rather than the man to the job, dalam hal ini
pekerjaan harus disesuaikan agar selalu berada dalam jangkauan kemampuan serta
keterbatasan manusia. Dengan demikian, setiap perancangan kerja harus
disesuaikan dengan faktor manusianya dimana dimensi fisik dan fungsi harus
mengikuti karakteristik dari manusia yang akan menggunakan sistem kerja
tersebut.
2.2.3 Bidang Kajian Ergonomi.
Pada berbagai sumber literatur, bidang kajian Ergonomi tidak berbeda
secara signifikan, perbedaan hanya menyangkut pengelompokan bidang kajian.
Pengelompokan bidang kajian yang lengkap dan mencakup seluruh prilaku
manusia dalam bekerja adalah kajian Ergonomi yang dikelompokkan oleh Iftikar
1. Anthropometri.
Anthropometri adalah cabang ergonomi yang mengkaji masalah dimensi tubuh
manusia, Informansi dimensi tubuh manusia diperlukan untuk merancang
sistem kerja yang ergonomis. Data Anthropometri selalu berbeda untuk setiap
individu. Perbedaan itu merupakan suatu kodrat bahwa tidak ada manusia yang
sama dalam segala hal.
2. Faal Kerja.
Perilaku manusia yang dibahas dalam Faal kerja adalah reaksi tubuh selama
bekerja, khususnya mengenai energi yang dikeluarkannya. Hal-hal yang
banyak dibahas dalam Faal kerja manusia adalah kelelahan (fatique) kerja otot.
3. Biomekanika Kerja.
Biomekanika kerja mengkaji perilaku manusia dalam aspek-aspek mekanika
gerakan. Objek penelitian sehubungan dengan masalah biomekanika ini adalah
kekuatan kerja otot, kecepatan dan ketelitian gerak anggota badan, serta daya
tahan jaringan-jaringan tubuh terhadap beban.
4. Penginderaan.
Manusia pada dasarnya memiliki lima indera utama, yaitu indera penglihatan
(mata), indera pendengaran (telinga), indera penciuman (hidung), indera perasa
(kulit), serta indera perasa (lidah). Dalam ergonomi, penglihatan dan
pendengaran dikaji untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan indera tersebut
5. Psikologi Kerja.
Psikologi kerja membahas masalah-masalah kejiwaan yang ditemukan
ditempat kerja, yakni menyangkut faktor diri manusia, termasuk didalamnya:
kebiasaan, jenis kelamin, usia, sifat dan kepribadian dan sebagainya. Masalah
faktor diri ini dikaji sebagai bagian dari ergonomi Karena pada setiap individu
manusia terdapat faktor diri yang khas sebagai bawaan lahir. Ketidakcocokan
dapat menimbulkan tekanan (stress) dan rendahnya motivasi untuk bekerja,
sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas yang dihasilkan.
2.2.4 Sikap Kerja.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan sikap tubuh
dalam melakukan pekerjaan, yaitu :
1. Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau sikap berdiri
secara bergantian.
2. Semua sikap tubuh yang tidak alami harus dihindarkan. Seandainya hal ini
tidak memungkinkan, hendaknya diusahakan agar beban statis diperkecil.
3. Tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak membebani
melainkan dapat memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang tidak
dipakai untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh
(paha). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya gangguan sirkulasi
darah dan juga untuk mencegah keluhan kesemutan yang dapat mengganggu
Sikap tubuh dalam bekerja terdiri dari :
Sikap kerja duduk merupakan sikap kerja yang kaki tidak terbebani dengan
berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Duduk memerlukan lebih sedikit
energi daripada berdiri karena hal itu dapat mengurangi banyaknya beban otot
statis pada kaki. Kegiatan bekerja sambil duduk harus dilakukan secara ergonomi
sehingga dapat memberikan kenyamanan dalam bekerja. Sikap duduk yang keliru
merupakan penyebab adanya masalah-masalah punggung. Hal ini dapat terjadi
karena tekanan pada bagian tulang belakang akan meningkat pada saat duduk
dibandingkan dengan saat berdiri ataupun berbaring. Jika diasumsikan tekanan
tersebut sekitar 100% ; maka cara duduk yang tegang atau kaku (erect posture)
dapat menyebabkan tekanan 1 tersebut mencapai 140% dan cara duduk yang
dilakukan dengan membungkuk ke depan menyebabkan tekanan tersebut sampai
190% (Nurmianto, 2004). Sikap duduk paling baik yang tidak berpengaruh buruk
terhadap sikap badan dan tulang belakang adalah sikap duduk dengan sedikit
lardosa pada pinggang dan sedikit mungkin kifosa pada punggung. Sikap duduk
yang benar yaitu sebaiknya duduk dengan punggung lurus dan bahu berada
dibelakang serta bokong menyentuh belakang kursi. Selain itu, duduklah dengan
lutut tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul (gunakan penyangga kaki)
dan sebaiknya kedua tungkai tidak saling menyilang. Jaga agar kedua kaki tidak
menggantung dan hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari 20-30 menit.
Gambar 2.1 Sikap kerja pada Visual Display Terminal (VDT)
Keuntungan bekerja sambil duduk adalah sebagai berikut :
a. Kurangnya kelelahan pada kaki.
b. Terhindarnya sikap-sikap yang tidak alamiah.
c. Berkurangnya pemakaian energi dalam bekerja.
d. Kurangnya tingkat keperluan sirkulasi darah.
Namun, kegiatan bekerja sambil duduk juga dapat menimbulkan
kerugian/ masalah bila dilakukan secara tidak ergonomis. Kerugian tersebut
antara lain :
a. Melembeknya otot-otot perut.
b. Melengkungnya punggung.
c. Tidak baik bagi organ dalam tubuh, khususnya pada organ pada sistem
2.3 Anthropometri.
2.3.1 Definisi Anthropometr i.
Menurut Sritomo Wignjosoebroto dalam bukunya istilah antropometri
berasal dari "anthro" yang berarti manusia dan "metri" yang berarti ukuran.
Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan
dengan pengukurandimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki
bentuk, ukuran (tinggi, lebar dsb.) berat dan lain-lain. Yang berbeda satu dengan
yang lainnya. Antropometri secara luasakan digunakan sebagai
pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam proses perancangan (desain) produk maupun
sistem kerja yang akan memerlukan interaksimanusia. Data antropometri yang
berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luasantara lain dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll ).
2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan
sebagainya.
3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja komputer
dll.
4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan
menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk
yangdirancang dan manusia yang akan mengoperasikan / menggunakan produk
tersebut.Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu
mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan
95 % dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk
haruslah mampu menggunakannya dengan selayaknya.
2.3.2 Data Anthropometr i dan Cara Pengukurannya.
Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi
ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh
manusia , yaitu (Nurmianto, 2003) :
1. Umur.
Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar
seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahiran sampai dengan
umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian ysng dilakukan oleh A. F.
Roche dan G. H. Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki
akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun,
sedangkan wanita 17,3 tahun. Meskipun ada 10 % yang masih terus
bertambah tinggi sampai usia 23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita).
Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung
berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai
sekitar umur 40 tahunan (Wignjosoebroto, 1995).
2. Jenis kelamin (sex).
dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan
dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti
3. Suku bangsa (etnic).
Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnic akan memiliki karakteristik fisik
yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa Negara
Barat pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih besar daripada dimensi
tubuh suku bangsa negara Timur.
4. Keacakan / Random.
Hal ini menjelaskan bahwa walaupun telah terdapat dalam satu kelompok
populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku atau bangsa, kelompok
usia dan pekerjaannya, namun masih akan ada perbedaan yang cukup signifikan antara berbagai macam masyarakat.
5. Jenis Pekerjaan.
Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi
karyawan. Misalnya, buruh dermaga harus mempunyai postur tubuh yang
relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada
umumnya. Apalagi jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan militer.
6. Pakaian.
Tebal tipisnya pakaian yang dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda
akan memberikan varisi berbeda-beda pula dalam bentuk rancangan dan
spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orangpun akan berbeda
7. Faktor Kehamilan.
Kondisi semacam ini akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh
khususnya bagi perempuan. Hal tersebut jelas memerlukan perhatian khusus
terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmen seperti ini.
8. Tubuh Cacat.
Hal ini jelas menyebabkan perbedaan antara yang cacat dengan yang tidak
terhadap ukuran dimensi tubuh manusia.
9. Posisi tubuh (posture).
Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh
karena itu harus posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei
pengukuran.
Berkaitan dengan posisi tubuh manusia dikenal dua cara pengukuran, yaitu:
a. Antropometri Statis (Structural Body Dimensions).
Disini tubuh diukur dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak
(tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur meliputi berat badan,
tinggi tubuh, dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala,
tinggi/panjang lutut, pada saat berdiri/duduk, panjang lengan, dan
sebagainya.
b. Antropometri Dinamis (Functional Body Dimensions).
Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi
melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang
Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data antropometri yang tepat
diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, diperlukan
pengambilan ukuran dimensi anggota tubuh. Penjelasan mengenai pengukuran
dimensi antropometri tubuh yang diperlukan dalam perancangan dijelaskan pada
gambar 2.6.
Gambar 2.2 Antropometri untuk Perancangan Produk
Sumber: Wignjosoebroto, 2003
Gambar 2.3 Antropometri Tinggi Badan Berdiri dan Duduk
Keterangan gambar 2.6. di atas, yaitu:
1 : Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai dengan ujung
kepala).
2 : Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak.
3 : Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak.
4 : Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus).
5 : Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam
gambar tidak ditunjukkan).
6 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk (di ukur dari alas tempat duduk pantat
sampai dengan kepala).
7 : Tinggi mata dalam posisi duduk.
8 : Tinggi bahu dalam posisi duduk.
9 : Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus).
10 : Tebal atau lebar paha.
11 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan. ujung lutut.
12 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari
lutut betis.
13 : Tinggi lutut yang bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk.
14 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang di ukur dari lantai sampai dengan
paha.
15 : Lebar dari bahu (bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk).
17 : Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukkan dalam
gambar).
18 : Lebar perut.
19 : Panjang siku yang di ukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam
posisi siku tegak lurus.
20 : Lebar kepala.
21 : Panjang tangan di ukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari.
22 : Lebar telapak tangan.
23 : Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar kesamping kiri kanan
(tidak ditunjukkan dalam gambar).
24 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak.
25 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak.
26 : Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan di ukur dari bahu sampai
dengan ujung jari tangan.
2.3.3 Aplikasi Distribusi Normal, allowance dan Persentil Dalam Penetapan
Data Anthropometr i.
Data anthropometri diperlukan agar supaya rancangan suatu produk bisa
sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Ukuran tubuh yang
diperlukan pada hakekatnya tidak sulit diperoleh dari pengukuran secara
individual. Adanya variansi ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana
kita mampu merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat “mampu
Pada tabel dibawa ini dapat dilihat ukuran dimensi tubuh manusia dengan
persentil 5%, 50%, dan 95% yaitu sebagai berikut :
Tabel 2.1. Data Antropometri Masyarakat Indonesia
Pada penetapan data anthropometri, pemakaian distribusi normal akan
umum diterapkan. Distribusi normal dapat diformulasikan berdasarkan harga
ratarata dan simpangan standarnya dari data yang ada. Berdasarkan nilai yang ada
tersebut, maka persentil (nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari orang
yang memiliki ukuran pada atau di bawah nilai tersebut) bisa ditetapkan sesuai
tabel probabilitas distribusi normal. Bilamana diharapkan ukuran yang mampu
mengakomodasikan 95% dari populasi yang ada, maka diambil rentang 2,5th dan
97,5th percentile sebagai batas-batasnya (Wignjosoebroto, 1995).
Gambar 2.4 Distribusi Normal Yang Mengakomodasi 95% Dari Populasi.
Sumber: Wignjosoebroto, 2003
Menurut Panero dan Zelnik (2003) disamping berbagai variasi, pola umum
dari suatu distribusi data anthopometrik, seperti juga data-data lain, biasanya
dapat diduga dan diperkirakan seperti pada distribusi Gaussian. Distribusi
semacam itu, bila disajikan melalui grafik dengan membandingkan kejadian yang
muncul terhadap besaran, biasanya berbentuk kurva simetris atau berbentuk
lonceng. Ciri umum kurva berbentuk lonceng tersebut adalah besarnya prosentase
pada bagian tengah dengan sediki saja perbedaan yang mencolok pada bagian
Secara statistik sudah diperlihatkan bahwa data hasil pengukuran tubuh
manusia pada berbagai populasi akan terdistribusi dalam grafik sedemikian rupa
sehingga data-data yang bernilai kurang lebih sama akan terkumpul di bagian
tengah grafik. Sedangkan data-data dengan nilai penyimpangan yang ekstrim akan
terletak pada ujung-ujung grafik. Telah disebutkan pula bahwa merancang untuk
kepentingan keseluruhan populasi sekaligus merupakan hal yang tidak praktis.
Oleh karena itu sebaiknya dilakukan perancangan dengan tujuan dan data yang
berasal dari segmen populasi dibagian tengah grafik. Jadi merupakan hal logis
untuk mengesampingkan perbedaan yang ekstrim pada bagian ujung grafik dan
hanya menggunakan segmen terbesar yaitu 95% dari kelompok populasi tersebut.
Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean (rata-rata)
dan SD (standar deviasi). Sedangkan persentil adalah suatu nilai yang menyatakan
bahwa persentase dari sekelompok orang yang dimensinya sama atau lebih rendah
dari nilai persentil yang digunakan. Misalnya: persentil 95% adalah mewakili
sama dengan atau lebih rendah dari 95% jumlah populasi; persentil 5% adalah
mewakili sama dengan atau lebih rendah dari 5% jumlah populasi (Nurmianto,
2004).
Persentil ke-50 memberi gambaran yang mendekati nilai rata-rata dari
suatu kelompok tertentu, namun demikian pengertian ini jangan disalah artikan
sama dengan mengatakan bahwa rata-rata orang pada kelompok tersebut memiliki
ukuran tubuh yang dimaksudkan tadi. Ada dua hal penting yang harus selalu
diingat bila menggunakan persentil. Pertama, persentil anthropometrik dari tiap
dikatakan seseorang memilki persentil yang sama, ke-95 atau ke-90 atau ke-5,
untuk keseluruhan dimensi tubuhnya (Panero dan Zelnik, 2003).
Pemakaian nilai-nilai persentil yang umum diaplikasikan dalam
perhitungan data anthropometri, ditunjukan dalam tabel 2.2.
Tabel 2.2. Macam Persentil Dan Cara Perhitungan Dalam Distribusi Normal.
Persentil Perhitungan
1 – St 2.5 – th
5 – th 10 – th 50 – th 90 – th 95 – th 97.5 – th
99 – th
Sumber: Wignjosoebroto, 1995
Keterangan tabel 2.2. di atas, yaitu:
x = mean data
σ = standar deviasi dari data x
Pada pengolahan data anthropometri yang digunakan adalah data anthropometri hasil pengukuran dimensi tubuh manusia yang berkaitan dengan dimensi dari perancangan fasilitas kerja.
Sedangkan pada penentuan dimensi rancangan fasilitas kerja perakitan
dibutuhkan beberapa persamaan berdasarkan pendekatan anthropometri. Ini
Perhitungan nilai persentil 5 dan persentil 95 dari setiap jenis data yang
diperoleh, dilanjutkan dengan perhitungan untuk penentuan ukuran rancangan dan
pembuatan rancangan berdasarkan ukuran hasil rancangan. Menurut
Wignjosoebroto (2003), untuk menghitung persentil 5 dan persentil 95
menggunakan rumus pehitungan yang terdapat pada tabel 2.2. sebelumnya.
P5 = x - 1,645 σ x ... Persamaan 2.1.
P50 = x ... Persamaan 2.2.
P95 = x + 1,645 σ x ... Persamaan 2.3.
Allowance
Allowance adalah faktor kelonggaran yang dibutuhkan dalam sebuah
pengukuran seperti halnya penambahan ukuran pada dimensi suatu produk untuk
memberikan kelonggaran.
Penentuan kelonggaran (allowance) ditentukan sesuai kebutuhan dalam
pembuatan suatu produk dengan acuan memberikan kenyamanan untuk mendapat
suatu produk yang ergonomis. Kelonggaran setiap dimensi yang digunakan tidak
selalu sama karena masing-masing dimensi memiliki ukuran yang berbeda dan
membutukan kelonggaran (allowance) yang berbeda juga. Perhitungan allowance
dapat dilihat pada persamaan 2.4, 2.5, 2.6 :
P5 = x - 1,645 σ x + allowance ... Persamaan 2.4.
P50 = x+ allowance ... Persamaan 2.5.
2.4 Loker Inovasi
2.4.1 Definisi Loker Inovasi
Loker Inovasi merupakan salah satu alat atau tempat untuk untuk
menyimpan buku, dokumen atau arsip, dan kertas. Pada dasarnya Loker Inovasi
hanya dimanfaatkan sebagai untuk untuk menyimpan buku, dokumen atau arsip,
dan kertas saja namun sebenarnya jika dilakukan inovasi sedikit maka akan
memberikan nilai fungsi dan guna yang lebih.
Berikut adalah gambar dari Loker Inovasi.
2.4.2 Komponen Loker Inovasi.
Komponen utama pembuatan Loker Inovasi umumnya adalah :
1. Plat Besi
Plat Besi yang sudah dipotong menurut ukuran misaanya pada bagian kerangka
box dengan tinggi 46,5cm lebar 62cm dan terdapat 12 box masing-masing
tinggi 46,5cm dan lebar 46,5cm.
2. Roda
Dengan tambahan roda pada setiap sisinya supaya lebih mudah saat
memindahkan loker tersebut.
2.5 Kuisioner.
Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang
memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan
karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh
oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.
Dengan menggunakan kuesioner, analis berupaya mengukur apa yang
ditemukan dalam wawancara, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau
terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam suatu wawancara.Penggunaan
kuesioner tepat bila :
1. Responden (orang yang merenpons atau menjawab pertanyaan) saling
berjauhan.
2. Melibatkan sejumlah orang di dalam proyek sistem, dan berguna bila
mengetahui berapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau
tidak menyetujui suatu fitur khusu dari sistem yang diajukan.
3. Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat
4. Ingin yakin bahwa masalah-masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasi
dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut.
J enis Per tanyaan Pada Kuisioner
Perbedaaan pertanyaan dalam wawancara dengan pertanyaan dalam
kuesioner adalah dalam wawancara memungkinkan adanya interaksi antara
pertanyaan dan artinya. Dalam wawancara analis memiliki peluang untuk
menyaring suatu pertanyaan, menetapkan istilah-istilah yang belum jelas,
mengubah arus pertanyaan, memberi respons terhadap pandanmgan yang rumit
dan umumnya bisa mengontrol agar sesuai dengan konteksnya. Beberapa diantara
peluang-peluang diatas juga dimungkinkan dalam kuesioner. Jadi bagi
penganalisis pertanyaan-pertanyaan harus benar-benar jelas, arus pertanyaan
masuk akal, pertanyaan-pertanyaan dari responden diantisipasi dan susunan
pertanyaan direncanakan secara mendetail.Jenis-jenis pertanyaan dalam kuesioner
adalah :
1. Pertanyaan Terbuka : pertanyaan-pertanyaan yang memberi pilihan-pilihan
respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah
jenis respons yang muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa
diterjemahkan dengan benar.
2. Pertanyaan Tertutup : pertanyaan-pertanyaan yang membatasi atau menutup
pilihan-pilihan respons yang tersedia bagi responden.
Petunjuk-petunjuk yang harus diikuti saat memilih bahasa untuk kuesioner adalah
1. Gunakan bahasa responden kapanpun bila mungkin. Usahakan agar
kata-katanya tetap sederhana.
2. Bekerja dengan lebih spesifik lebih baik daripada ketidak-jelasan dalam
pilihan kata-kata. Hindari menggunakan pertanyaan-pertanyaan spesifik.
3. Pertanyaan harus singkat.
4. Jangan memihak responden dengan berbicara kapada mereka dengan pilihan
bahasa tingkat bawah.
5. Hindari bias dalam pilihan kata-katanya. Hindari juga bias dalam
pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan.
6. Berikan pertanyaan kepada responden yang tepat (maksudnya orang-orang
yang mampu merespons). Jangan berasumsi mereka tahu banyak.
7. Pastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut secara teknis cukup akurat
sebelum menggunakannya.
8. Gunakan perangkat lunak untuk memeriksa apakah level bacaannya sudah
tepat bagi responden.
2.6 Pengujian Data.
2.6.1 Uji Keseragaman Data.
Tes keseragaman data secara visual dilakukan secara sederhana mudah dan
cepat. Di sini kita hanya sekedar melihat data yang terkumpul dan seterusnya
mengidentifikasikan data yang telalu “ekstrim”. Yang dimaksudkan dengan data
ekstrim disini ialah data yang terlalu besar atau terlalu kecil dan jauh menyimpang
jauh-jauh dan tidak dimasukkan dalam perhitungan selanjutnya. Langkah pertama
dalam uji keseragaman data yaitu menghitung besarnya rata-rata dari setiap hasil
pengamatan, dengan persamaan berikut :
x = n
xi
∑
... Persamaan 2.7.Dimana:
x = Rata-rata data hasil pengamatan.
x = Data hasil pengukuran.
Langkah kedua adalah menghitung deviasi standar dengan persamaan 2.8
berikut:
σ = Standar deviasi dari populasi.
n = Banyaknya jumlah pengamatan.
x = Data hasil pengukuran.
Langkah ketiga adalah menentukan batas kontrol atas (BKA) dan batas
kontrol bawah (BKB) yang digunakan sebagai pembatas dibuangnya data ektrim
dengan menggunakan persamaan 2.9 dan 2.10 berikut :
BKA = X + kσ ... Persamaan 2.9.
BKB = X - kσ ... ... Persamaan 2.10.
Dimana:
σ = Standar deviasi dari populasi.
k = Koefisien indeks tingkat kepercayaan, yaitu:
Tingkat kepercayaan 0 % - 68 % harga k adalah 1.
Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2.
Tingkat kepercayaan 96 % - 100 % harga k adalah 3.
2.6.2 Uji Kecukupan Data.
Analisis kecukupan data dilakukan dengan tujuan untuk menguji apakah
data yang diambil sudah mencukupi denganmengetahui besarnya nilai N’. Apabila
N’ < N maka data pengukuran dianggap cukup sehingga tidak perlu dilakukan
pengambilan data lagi. Sedangkan jika N’ > N maka data dianggap masih kurang
sehingga diperlukan pengambilan data kembali. Adapun tahapan dalam uji
kecukupan data adalah sebagai berikut :
1. Menentukan Tingkat Ketelitian dan Tingkat Keyakinan.
Tingkat ketelitian menunjukan penyimpangan maksimum hasil pengukuran
dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan dalam
persen. Sedangkan tingkat keyakinan atau kepercayaan menunjukan besarnya
keyakinan atau kepercayaan pengukuran bahwa hasil yang diperoleh
memenuhi syarat tadi. Ini pun dinyatakan dalam persen. Jadi tingkat ketelitian
5% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti bahwa pengukuran
membolehkan rata hasil pengukuranya menyimpang sejauh 5% dari
rata-rata sebenarnya dan kemungkinan berhasil mendapatkan hal ini adalah 95%.
rata-rata dari sesuatu yang diukur akan memiliki peyimpangan tidak lebih
dari 5%.
2. Pengujian Kecukupan Data.
... Persamaan 2.11.
Dimana:
N’ = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan.
x = Data hasil pengukuran.
s = Tingkat ketelitian yang dikehendaki (dinyatakan dalam desimal).
k = Harga indeks tingkat kepercayaan, yaitu:
Tingkat kepercayaan 0 % - 68 % harga k adalah 1.
Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2.
Tingkat kepercayaan 96 % - 100 % harga k adalah 3.
Setelah mendapatkan nilai N’ maka dapat diambil kesimpulan apabila N’≤ N
maka data dianggap cukup dan tidak perlu dilakukan pengambilan data
kembali, tetapi apabila N’ > N maka data belum mencukupi dan perlu
dilakukan pengambilan data lagi.
2.7 Penelitian Terdahulu.
Yang dijadikan landasan pada penelitian ini adalah :
1. ”Perancangan Kursi pada Stasiun Kerja Gerinda” oleh : Triwulandari S.
merancang fasilitas kerja berupa kursi yang dapat diatur ketinggiannya/
posisinya sesuai dengan posisi tubuh pekerja pada stasiun kerja untuk
aktifitas menggerinda.
2. “Perancangan Tempat Tidur Balita dengan Pendekatan secara Ergonomi”
oleh : Yoanda Dwi Prasetyo, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Jawa Timur, 2012. Pada penelitian tersebut diketahui desain tempat tidur
balita terkait dengan dimensi-dimensi meliputi: stabilitas produk, kekuatan
produk, fungsional dan bahan material.
3. ”Pengembangan Produk Ditinjau dari Segi Perancangan Ulang Meja dan Kursi
Komputer dengan Pendekatan Ergonomi” oleh : Nyoto Pawenang,
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, 2011. Pada
penelitian tersebut diketahui bahwa meja dan kursi komputer diperlukan
penambahan spesifikasi antara lain : Pada bagian atas meja dapat disesuaikan
putar 360 sesuai dengan keinginan. Dengan menggunakan desain autoCAD
2011, diharapkan alat rancangan yang baru dapat mengurangi beban kerja
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Teknologi Industri UPN “VETERAN”
Jawa Timur yang dimulai pada bulan November 2012 sampai data yang
diperlukan terpenuhi.
3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Var iabel
Variabel dapat diartikan sebagai faktor yang mempunyai besaran dan variasi
dalam penelitian. Jenis variabel dalam penelitian ada dua yaitu :
1. Variabel terikat adalah variabel yang perubahannya dipengaruhi oleh variabel
lain, dalam hal ini adalah : Loker yang ergonomis.
2. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat. Adapun
variabel bebas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak (TJT).
b. Jarak jangkauan tangan yang menjulur kedepan di ukur dari bahu sampai
3.3 Langkah-langkah Pemecahan Masalah
Langkah-langkah yang digunakan dalam pemecahan masalah dapat
digambarkan dalam flowchart sebagai berikut :
Tidak
Ya Mulai
Studi Lapangan Perumusan Masalah Studi Pustaka
Tujuan Penelitian
Identifikasi Variabel
Pengumpulan Data
- Tinggi jangkauan tangan keatas (TJT)
- Jarak jangkauan tangan yang menjulur
kedepan (JJT)
Desain Loker Awal Desain inovasi Usulan
Gambar Desain loker Aw al Uji Keseragaman
Dat a Seragam
Buang Dat a Ekstrem
Sisa Dat a Ekstrim Uji Kecekupan
Dat a
Gambar 3.1 Langkah-langkah Pemecahan Masalah
A B
Perancangan Desain Loker usulan
Gambar Desain Loker usulan Menentukan
Persentil
Uji coba pemakaian Loker usulan
Membandingkan Desain Loker yang telah ada dengan
Loker usulan
Desain Ergonomis
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
Penjelasan langkah-langkah pemecahan masalah :
1. Mulai
Mulai ini meliputi kegiatan seperti : pembuatan proposal, konfirmasi pada
pihak personalia, penyerahan judul permasalahan pada pihak jurusan sampai
pembuatan surat keterangan penelitian.
2. Studi Pustaka
Studi kepustakaan yang dilakukan sebagai sarana pembantu pengumpulan
informasi yang berkaitan dengan permasalahan. Studi kepustakaan ini
diperoleh dari literatur-literatur seperti text books, jurnal maupun dari
penelitian-penelitian yang pernah dilakukan yang relevan dengan
permasalahan yang diteliti. Dari studi kepustakaan ini akan diperoleh
landasan metode-metode untuk pengolahan data, dan literatur mengenai
objek pengamatan Loker serta acuan-acuan yang akan dipergunakan dalam
penelitian.
3. Studi Lapangan
Melakukan survei terhadap penjualan, mencari permasalahan yang terjadi
pada permasalahan yang diteliti sehingga mendapat gambaran umum untuk
memulai suatu penelitian. Pada kasus ini, penulis melakukan wawancara
kepada pihak yang bersangkutan untuk mengetahui tingkat jumlah
pelanggan.
4. Perumusan Masalah
Suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan
5. Tujuan Penelitian
Membuat uraian yang menyebutkan secara spesifikasi maksud atau tujuan
yang hendak dicapai dari penelitian yang dilakukan. Maksud – maksud yang
terkandung di dalam kegiatan tersebut baik maksud utama maupun
tambahan, harus dikemukakan dengan jelas.
6. Identifikasi Variabel
Mengidentifikasdi masalah secara lebih terinci, pada permasalahn kali ini
penulis memberikan identifikasi terhadap pokok permasalahan dalam
mengetahui masalah apa saja yang terikat dengan permasalahan.
7. Uji Keseragaman Data
Dilakukan untuk menetapkan data yang seragam untuk mengaplikasikannya
dapat digunakan peta kontrol. Melalui peta kontrol dapat terlihat apakah data
seragam atau tidak ada data ekstrim. Jika ada data yang tidak seragam atau
ada data ekstrim , data tersebut dibuang. Perhitungan pengujian ini meliputi :
a. Perhitungan nilai rata-rata tiap dimensi.
x =
c. Perhitungan batas control atas dan bawah.
BKA = X + kσ
8. Uji kecukupan data
Dilakukan perhitungan dimensi pada Loker yang dilengkapi dengan tempat
buku sesuai dengan presentil 5%, 50% dan 90%.
Rumus uji kecukupan data :
9. Desain Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan 3 Box.
Dilakukan desain Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan 3 Box dengan
ukuran yang telah dihitung berdasarkan presntil.
10.Pembuatan Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan Laci
Pembuatan produk jadi sesuai desain dan ukuran yang berdasarkan
perhitungan presentil.
11.Uji Loker yang dilengkapi dengan 12 Box dan 3 Box
Kegiatan uji hasil dari desain dan rancangan Loker yang dilengkapi dengan
12 Box dan 3 Box.
12.Hasil dan Pembahasan
Membahas hasil dari perancangan produk Loker yang dilengkapi dengan 12
Box dan 3 Box dan pengujian keergonomisan yang telah dilakukan.
13.Kesimpulan dan Saran
Menuangkan hasil pembahasan kedalam kesimpulan yang menjawab dari
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan Data
4.1.1 Data Antr opometr i Pengguna
Ukuran untuk pembuatan dan perancangan loker ini diambil dari data
Antropometri yang disesuaikan dengan pengguna dalam hal ini yang dimaksud pengguna pada umumnya khususnya yang ada di lingkungan FTI
Adapun dimensi tubuh yang diukur adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Pengukuran Dimensi Tubuh dalam Cm
48 195 70
• Tjt = Tinggi jangkauan tangan ke atas di ukur dari kaki hingga jagkauan
tangan ke atas
• Jjt = Jarak jangkauan tangan yang menjulur kedepan di ukur dari bahu sampai