• Tidak ada hasil yang ditemukan

OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING (Studi Analisis Isi Kuantitatif Deskriptif Objektivitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos periode 13 September - 21 September 2010).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING (Studi Analisis Isi Kuantitatif Deskriptif Objektivitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos periode 13 September - 21 September 2010)."

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

OBJEKTIVITAS BERITA

INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING

(Studi Deskriptif Kuantitatif Analisi Isi Objektivitas Berita

Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos Edisi 13 September-21 September 2010)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

oleh :

CLEVELAND RONALDO FATRIK YOMAKI 0643010156

YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

(2)

i

JUDUL PENELITIAN : OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING (Studi

Deskriptif Kuantitatif Analisi Isi Objektifitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos Edisi 13 September-21 September 2010) Nama Mahasiswa : CLEVELAND RONALDO FATRIK

YOMAKI

NPM : 0643010156

Program Studi : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Telah disetujui untuk mengikuti Seminar Lisan

PEMBIMBING

Dra. Sumardjijati, MSi NIP. 19620323 199309 2001

DEKAN

(3)

ii

OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING ( Studi Deskriptif Kuantitatif Analisis Isi Objektivitas Berita Insiden Jemaat

HKBP Ciketing di Jawa Pos Edisi 13 September-21 September 2010)

Disusun Oleh :

Cleveland Ronaldo Fatrik Yomaki 0643010156

Telah dipertahankan dihadapkan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Pada Tanggal 02 Desember 2010

PEMBIMBING TIM PENGUJI

1. Ketua

Dra. Sumardjijati, MSi NIP. 19620323 199309 2001

Dra. Sumardjijati, MSi NIP. 19620323 199309 2001

2. Sekretaris

Drs. Kusnarto.M.Si

NIP. 19580801 1984021001

3.Anggota

Dra. Dyva Claretta, M.Si NPT. 36601 94 00251

Mengetahui,

DEKAN

(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH BAPA, Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat

dunia karena dengan limpahan kasih, sukacita dan penyertaan -Nya saja, penulis pada

akhirnya dapat menyelesaikan Skripsi tepat waktu.

Skripsi yang ditulis oleh penulis berjudul “OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN

JEMAAT HKBP CIKETING (STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF ANALISIS ISI

OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING DI JAWA POS

PERIODE 13 SEPTEMBER – 21 SEPTEMBER 2010)” merupakan hasil dari usaha

dan kerja keras penulis dalam menempuh kuliah serta support ilmu dari semua Dosen

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Jawa

Timur, yang telah senantiasa memberikan yang terbaik untuk mahasiswa Jurusan Ilmu

komunikasi pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Kesuksesan merupakan hasil dari kerja keras, doa serta dukungan dari orang lain

sehingga penulis-pun tidak lupa untuk mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak

yang telah membantu proses penulisan Skripsi ini :

1. Ibu Ibu Dra. EC. Hj. Suparwati ,M.Si Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Juwito, S.Sos, M.Si, Ketua Progdi Ilmu Komunikasi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Ibu Dra. Sumardjijati ,M.Si Dosen Pembimbing sekaligus Dosen Wali yang

(6)

4. Seluruh Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah

menanamkan ilmu, paradigma dan membentuk pribadi yang kritis sebagai modal

paling berharga dimasa mendatang.

5. Papa dan Mama, yang telah mendidik,mendukung dan selalu mendoakan yang

terbaik untuk penulis sehingga dapat membanggakan keluarga. Semoga Papa

dan Mama bangga melihat anak ketiganya sedikit lagi menuju gelar sarjana.

6. Meirike Yosephine IE, yang selalu mendukung dan mendoakan penulis dan

selalu menjadi sumber inspirasiku

7. All of my friends, Handz Wahyu, Qeis, Dimas, Renato, Danang, Wedi, Kribo,

Okim, Ino, Arab, David, Fadilla, Kunto, Arief, Didiet, Evert Ie, Black Car

Community Surabaya Dan tidak lupa dukungan semua teman-teman di UPN

“Veteran” Jatim angkatan selama lebih dari 4 tahun ini.

8. Dan semua pihak yang membantu terseleseikannya Skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa manusia tidak lepas dari ketidak sempurnaan dan

kesalahan sehingga apabila ada kesalahan dalam penulisan Skripsi ini, harap maklum

(7)

kesempurnaan Skripsi ini Sehingga, dapat bermanfaat bagi semua pihak umumnya dan

Penulis khususnya

Surabaya, 22 November 2010

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………. i

HALAMAN PENGESAHAN ………. ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... . vi

DAFTAR GAMBAR ……….. viii

ABSTRAKSI ……… ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KERANGKA KONSEPTUAL ... 8

2.1 Media Massa………….. ... 8

2.1.1 Surat Kabar ... 9

2.1.2 Berita ... 10

2.1.2.1 Bagian Berita……….13

2.2 Obyektifitas Berita………… ... 14

BAB III METODE PENELITIAN ... 23

3.1 Definisi Operasional ... 23

(9)

vii

3.1.1 Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing... 23

3.2 Unit Analisi………… ... 24

3.3 Kategorisasi Objektifitas Pers... 25

3.4 Populasi, Sample dan Teknik Penarikan Sample……….... 30

3.4.1 Populasi………. ... 30

3.4.2 Sample dan Teknik Penarikan Sample... 30

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 31

3.6 Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………..33

4.1 Surat Kabar Harian Jawa Pos………...33

4.2 Penyajian Data dan Analisis Data ………...35

4.2.1 Akurasi Pemberitaan ………..………...……….41

4.2.2 Fairness ………..………47

4.2.3.Validitas Pemberitaan ……….50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………... 57

5.1 Kesimpulan ……… 57

5.2 Saran ……….. 58

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. K o n s ep O b j e k t iv ita s W e s t e r sh a l … ………. 19 Gambar 2. Kerangka Berpikir Penelitian ………..… … … . … . . … 3 2 G a m b a r 3 . K a t eg o r i s a s i A k u ra si P e m b e ri t a a n . … …… … . . . … …… … . . . 4 1 G a m b a r 4 . A k u ra s i S u b K a t eg o r i K e s e s u a i a n J u d u l

d e n g a n Is i b e ri ta … … … . 4 2 G a m b a r 5 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i

P e n ca n tu m a n W a k t u T e r ja d i n y a … … …… … … . . . 4 3 G a m b a r 6 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i

P e n g g u n a a n Da ta P e n d u k u n g … … … …… … … . … … . … 4 4 G a m b a r 7 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i

P e n g g u n a a n Da ta P e n d u k u n g … … … …… … … . … . 4 5 G a m b a r 8 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i

F a k tu a l i t a s B e r i ta … … … . … … … 4 6 G a m b a r 9 . K a t eg o r i s a s i F a i r n e s s … … … . . … …… … . … 4 7 G a m b a r 1 0 . Fa i rn e s S ub Ka t eg o ri

P en g g u n a a n S u mb e r B e r i ta … … … 4 8 G a m b a r 1 1 F a i r n e ss S ub Ka t eg o ri

K e t i d a k b e r p i h a k a n D a l a m Lu a s K o l o m… … … . …… … . . … 5 0 G a m b a r 1 2 . Ka t eg o r i s a s i Va l i d i ta s P e m b e r i ta a n …… … . … …… … … … . 5 1 G a m b a r 1 3 . Va li d ita s S u b K a te g o ri

(11)

ABSTRAKSI

Cleveland Ronaldo Fatrik Yomaki, OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING (Studi Analisis Isi Kuantitatif Deskriptif Objektivitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos periode 13 September - 21 September 2010)

Pada pedoman Ilmu Jurnalistik, syarat-syarat kelayakan berita adalah: fakta, Obyektif, balance, akurat dan lengkap. Namun jurnalis bukanlah robot yang dapat diprogram senantiasa melaporkan fakta secara apa adanya, sedangkan berita sangat potensial dalam membentuk opini publik. Untuk itu objektivitas berita penting untuk diteliti melalui penelitian deskriptif dengan menggunakan metodologi Riset Kuantitatif dalam metode Analisis Isi melalui Kategorisasi Objektivitas Pers milik Rachma Ida guna mengukur Akurasi Pemberitaan, Fairness dan Validitas Pemberitaan terhadap Objektivitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Harian Jawa Pos periode 13 September – 21 September 2010.

Dalam penelitian ini disimpulkan, Jawa Pos dalam memberitakan Berita tentang konflik Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Harian Jawa Pos periode 13 September – 21 September meskipun telah menerapkan prinsip Objektivitas Pers dalam Kategorisasi Akurasi dan Validitas, namun dalam kategorisasi Fairness, Jawa Pos dinilai belum memenuhi pedoman Objektivitas dalam menyajikan berita konflik Insiden Jemaat HKBP Ciketing kepada publiknya

Kata Kunci : Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing Bekasi, Objektivitas

(12)

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan

dari komunikator pada khalayak. Masyarakat haus akan informasi, sehingga

media massa sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hingga saat ini, media massa

dengan mudah kita dapati. Dalam era globalisasi dimana informasi menjadi

kebutuhan, media massa menjadi solusinya. Sampai-sampai ada kelompok baru,

yaitu kelompok kognitariat, kelompok yang selalu membutuhkan informasi dari

media massa.

Media massa terdiri dari media massa cetak, dan media massa elektronik.

Media massa cetak terdiri dari majalah, surat kabar, dan buku. Sedangkan media

massa elektronik terdiri dari televisi, radio, film, internet, dan lain–lain. Media

cetak seperti, majalah, buku, surat kabar justru mampu memberikan pemahaman

yang tinggi kepada pembacanya, karena ia sarat dengan analisa yang mendalam

dibanding media lainnya (Cangara, 2005:128)

Pada konteks komunikasi, perubahan-perubahan sikap dan perilaku individu

ataupun masyakat, secara umum dipengaruhi oleh, ataupun merupakan efek dari

adanya penyebaran pesan-pesan melalui proses komunikasi (Newcomb, 1985:

(13)

 

secara umum media massa memiliki efek potensial yang sangat besar pada

khalayaknya (Muhtadi, 2008:35).

Mengutip Agus Sudibyo (2001:259), bahwa pemberitaan di media senantiasa

dirumuskan sarat dengan muatan-muatan etika, moral dan nilai-nilai. Namun bila

kembali menilik pada pedoman Ilmu Jurnalistik, syarat-syarat kelayakan berita

mengacu pada: fakta (real event, statement dan expert opinion), Obyektif (tidak

pernah lepas dari data dan fakta), balance (tidak memihak/cover both side), akurat

dan lengkap (unsur 5W+1H).

Maka menjadi pertanyaan besar, lanjut Sudibyo, bila para jurnalis sendiri

bukanlah robot yang dapat diprogram untuk senantiasa melaporkan fakta secara

apa adanya. Sehingga pada gilirannya, media bukan saja berfungsi sebagai saluran

informasi, tetapi juga berperan sebagai kekuatan sosial yang ikut menentukan

perubahan - perubahan dalam masyarakat.

Secara teoritis, terdapat lima fungsi utama Pers (Jurnal dasar-dasar Ilmu

Jurnalistik): sebagai sarana mediasi, bertujuan memberikan informasi yang aktual

dan faktual, bertujuan untuk mendidik, menghibur dan terakhir, melaksanakan

kontrol sosial antara masyarakat dengan pemerintah.

Di Indonesia, kebebasan pers dan jurnalis dalam hak serta etika profesinya,

diatur dan dilindungi oleh Kode Etik Perusahaan Pers (Soehoet, 2002: 42) dan

Kode Etik Jurnalistik dimana keduanya diatur lebih dalam melalui UU Republik

Indonesia no. 32 thn 2002 tentang Penyiaran. Berdasarkan perkembangan Ilmu

(14)

 

lebih dahulu menentukan sikap dalam memandang fakta pada media massa

sebagai cermin realita yang harus dibangun atas fakta real, media massa bersifat

netral, jurnalis dalam melaporkan peliputan tidak mencampurkan nilai dan

ideologinya, jurnalis menempatkan diri sebagai pelapor berita dengan apa adanya

dimana berita yang dilaporkan bersifat adil, cover both side, obyektif dan

menghindari penggunaan bahasa ambiguitas.

Doris Graber dalam bukunya Mass Media and American Politics (1984: 10)

menyebutkan bahwa media bukanlah ranah yang netral dimana berbagai

kepentingan dan pemaknaan dari berbagai kelompok akan mendapat perlakuan

yang sama dan seimbang. Media justru bisa menjadi subyek yang mengkonstruksi

realitas berdasarkan penafsiran dan definisinya sendiri untuk disebarkan pada

khalayak (201:55).

Sejumlah pemberitaan setiap hari menyebar kepenjuru dunia melalui

media massa. Masyarakat dunia seakan ikut terlibat dalam tiap peristiwa hanya

karena informasi serta pesan yang diserapnya melalui media massa. Belum lagi

atas pertimbangan aktualitas berita yang mampu menaikkan oplah, membuat

hampir seluruh media massa menempatkan berita-berita tersebut menjadi

Headline ataupun tajuk rencana

Dewasa ini, pemberitaan di media massa didominasi dengan tema-tema berita

yang berisikan kejahatan, masalah-masalah moral masyarakat serta kecelakaan

dan bencana alam. Yang paling hangat dan menjadi pembicaraan adalah

(15)

 

Bekasi. Secara constant, seluruh media massa mengangkat topik ini menjadi

headline atau berita utama. Kejadian yang sejatinya mematahkan arti dari Bhineka

Tunggal Ika yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia ini, mengundang banyak

perhatian masyarakat yang berasal dari berbeda-beda latarbelakang.

Disinilah arti penting dari objektifitas berita serta arah ataupun model

pemberitaan yang disajikan media massa. Karena realitas media massa mampu

membangun realitas kenyataan di benak khalayaknya. Untuk itu media massa

sangat diharapkan menjadi penyaji fakta, netral dan obyektif.

Objektif ataupun tidaknya sebuah berita di media massa sangatlah sensitif,

dampak sebuah pemberitaan di media massa bukan hal yang patut diremehkan.

Bilamana terdapat sebuah pemikiran negatif masuk kedalam nalar melalui tulisan

yang disebarluaskan melalui media massa, yang sakit, marah, atau terkena

dampaknya mampu melingkupi satu golongan masyarakat. Yang bisa angkat

senjata, lalu yang mati pun bisa mencapai ribuan. Sebuah tulisan media massa

yang berakibat fatal, antara lain sebuah artikel yang tidak sensitive ataupun

sebuah gambar pria sangar, bersorban, dan mengacungkan pedang di sebuah

koran di Indonesia, juga sempat membuat makin meruncingnya perang antar

agama di Maluku (2000).

Tulisan berita yang objektif sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk mampu

melihat fakta yang sebenarnya terjadi atas suatu peristiwa. Tulisan yang objektif

membantu masyarakat untuk mencari kesimpulan sendiri atas sebuah kejadian

(16)

 

Pemberitaan pers atas suatu konflik selalu memiliki dua dampak, mendorong

terciptanya perdamaian antara pihak yang berkonflik atau sebaliknya,

mempertajam konflik. Kebangkitan jurnalisme sejak era reformasi 1998, telah

mendorong pers Indonesia cenderung kebablasan. Pemberitaan umumnya bersifat

bombastis, dengan judul-judul profokatif dan foto-foto yang menyulut kebencian,

terutama yang berkaitan dengan suku, agama, dan ras (SARA).

Pers pula pada dasarnya memiliki idealisme yang sesuai dengan visi misinya

sendiri. Namun setiap saat pers juga diperhadapkan pada situasi pedang bermata

dua, antara fungsi idealisme yang diyakininya dengan tuntutan komersialitas atas

pemberitaan, karena bagaimanapun idealisnya sebuah lembaga pers, dia tetaplah

sebuah perusahaan yang berorientasi pada profit sehubungan tanggungjawabnya

atas kesejahteraan pekerjanya.

Insiden koflik antar agama yang terjadi pada 12 september 2010 di Ciketing,

Bekasi menjadi sangat penting dan menarik untuk diangkat menjadi topic

penelitian karena pemberitaan atas insiden ini menjadi sangat riskan karena harus

benar-benar berada disisi yang netral. Kesalahan dalam pemberitaan dengan

keberpihakan dalam tulisan di media massa memiliki kemampuan untuk memicu

meluasnya konflik ini.

Tanpa pemberitaan yang memihak pun, kejadian ini sudah cukup memiliki

kandungan konflik yang tinggi karena terdapat perselisihan antara 2 agama

(17)

 

tingkat readership tertinggi di Indonesia yang memiliki pengaruh yang besar

terhadap setiap terbitannya atas khalayak pembacanya.

Karena meski telah terdapat regulasi, teori ilmu serta kode etik yang jelas dan

tepat sasaran, bukan berarti kenyataan yang terjadi dalam media massa di

Indonesia sudah sejalan dengan aturan-aturan diatas. Melalui penelitian analisis isi

atas media massa terbesar di Indonesia dengan oplah mencapai 400.000 pada

pemberitaan insiden Jemaat HKBP di Ciketing, Bekasi dan pemanfaatan Ilmu

Komunikasi Media Massa dapat diperoleh secara tepat implementasi di lapangan

atas objektifitas pers dari harian Jawa Pos yang menjadi subyek penelitian.

1.2. Perumusan Masalah

Pokok permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimanakah Objektifitas

Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos edisi 13 September sampai

dengan 21 September 2010?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Obyektifitas Berita Insiden Jemaat

HKBP Ciketing di Jawa Pos edisi 13 September sampai dengan 21 September

(18)

 

1.4. Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan Studi Ilmu

Komunikasi dan Ilmu Jurnalistik melalui upaya mengkaji Obyektifitas

Pemberitaan pers dalam pemberitaan di media massa. Serta sebagai suatu

bukti bahwa penelitian tentang analisis isi memiliki peran penting dalam

teori dan metodologi sebagi fenomena komunikasi.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para jurnalis,

berkaitan dengan perannya dalam mengkonstruksi berita di media massa,

mengingat pengaruhnya dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat.

3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi

perusahaan pers pada pertimbangan dalam menyajikan berita, sehubungan

fungsinya sebagai pengawas dan kontrol sosial diantara masyarakat dan

(19)

8

 

BAB II

KERANGKA KONSEPTUAL

2.1 Media Massa

Media massa merupakan “kependekan” dari komunikasi massa. Media

massa lahir untuk menjembatani komunikasi antar massa. Massa adalah

masyarakat luas yang heterogen, tetapi saling bergantung satu sama lain.

Ketergantungan antar massa menjadi penyebab lahirnya media yang mampu

menyalurkan hasrat, gagasan dan kepentingan masing - masing agar diketahui dan

dipahami oleh yang lain. Penyaluran hasrat, gagasan dan kepentingan tersebut

dinamai pesan (message). Dengan demikian, pada hakikatnya media massa adalah

saling-silang pesan antar massa. Oleh karena itu, kita patut memahami posisi

(kedudukan) media massa dan saling - silang pesan. (Pareno: 2005,7). Media

massa yang kita kenal saat ini adalah:

a. Media cetak, terdiri dari surat kabar, tabloid, majalah.

b. Media elektronik, terdiri dari radio siaran, televisi siaran (Abdullah: 2001, 9)

Menurut Pareno (2005:7) dalam berbagai wacana tentang fungsi media

massa, disebutkan empat fungsi media massa yaitu : penyalur informasi, fungsi

mendidik, fungsi menghibur, dan fungsi mempengaruhi. Keempat fungsi tersebut

melekat dalam media massa secara utuh, dalam arti luas harus dilaksanakan secara

bersama-sama, tidak boleh mengutamakan satu atau dua fungsi tapi mengabaikan

(20)

  9

Media juga mengubah bentuk kontrol sosial. Paul Lazarsfeld dan Robert

K. Merton (Rivers dan Peterson, 2003:39) juga melihat media dapat

menghaluskan paksaan sehingga tampak sebagai bujukan. Mereka mengatakan

bahwa kelompok-kelompok kuat kian mengandalkan teknik manipulasi melalui

media untuk mencapai apa yang diinginkannya, termasuk agar mereka bisa

mengontrol secara lebih halus.

Sebagai suatu sistem, media massa berinteraksi dengan system-system

sosial, politik, dan ekonomi. Sistem media massa dengan sistem tersebut saling

mempengaruhi dan saling bergantung. Artinya, sistem media massa tidak dapat

berjalan apabila system-system lainnya itu juga tidak dapat berjalan sebagaimana

mestinya. Demikian juga sebaliknya, sistem sosial ataupun sistem politik atau

juga system ekonomi tidak berfungsi manakala sistem media massa juga tidak

berfungsi. (Pareno: 2005, 69)

2.1.1 Surat Kabar

Salah satu komunikasi massa dalam bentuk media cetak adalah surat

kabar. Dengan sendirinya surat kabar juga mempunyai fungsi-fungsi komunikasi

massa. Hal ini dapat diketahui batasan ataupun kriteria standard surat kabar.

Menurut Assegaf (1991: 140) surat kabar adalah penerbitan yang berupa

lembaran yang berisi berita-berita, karangan-karangan dan iklan yang dicetak dan

(21)

  10

mempunyai beberapa karakteristik. Menurut Pareno (2005 : 24) karakteristik surat

kabar adalah sebagai berikut :

a. Berita merupakan unsur utama yang dominan.

b. Memiliki ruang yang relatif lebih leluasa.

c. Memiliki waktu untuk “dibaca ulang” lebih lama.

d. Umpan balik relatif lebih lamban.

e. Kesegaran (immediately) relatif lebih lamban.

f. Dalam hal kenyataan relatif kurang kredibel.

g. Ditentukan oleh jalur distribusi.

Ada beberapa alasan orang membaca surat kabar. Seseorang ingin tahu

sesuatu karena berbagai alasan : untuk meraih prestise, menghilangkan

kebosanan, agar merasa lebih dekat dengan lingkungannya, atau untuk

menyesuaikan perannya di masyarakat. Bagi sebagian orang, koran merupakan

sumber informasi dan gagasan tentang berbagai masalah publik yang seruis. Bagi

sebagian yang lain, koran bukan untuk mencari informasi, melainkan untuk

mengisi rutinitas. Sebagian pembaca juga menjadikan koran sebagai alat kontak

sosial. Ada pula yang menjadikan koran untuk membuang kejenuhan dari

kehidupan sehari-hari. (Rivers dan Peterson, 2003: 313).

2.1.2 Berita

Berita berasal dari bahsa sansekerta Vrit yang dalam bahasa Inggris

disebut Write yang arti sebenarnya adalah ada atau terjadi .Ada juga yang

(22)

  11

kamus besar ,berita berarti laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang

hangat. Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang

benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media

berkala seperti surat kabar, radio, televisi,atau media on-line internet.

News (berita) mengandung kata new yang berarti baru. Secara singkat

sebuah berita adalah sesuatu yang baru yang diketengahkan bagi khalayak

pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, news adalah apa yang surat kabar atau

majalah cetak atau apa yang para penyiar beberkan. Menurut Dean M. Lyle

Spencer Berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik

perhatian sebagian besar dari pembaca.

Menurut Willard C. Bleyer : Berita adalah sesuatu yang termasa ( baru )

yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar. Karena itu berita

dapat menarik atau mempunyai makanan bagi pembaca surat kabar, atau karena

itu dapat menarik pembaca-pembaca tersebut.

Menurut William S Maulsby : Berita adalah suatu penuturan secara benar

dan tidak memihak dari fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang

dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.

Menurut Eric C. Hepwood : Berita adalah laporan pertama dari kejadian yang

penting yang dapat menarik perhatian umum.

Sedangkan Dja’far H Assegaf mengungkapkan bahwa berita adalah

laporan tentang fakta atau ide yang termasa (baru), yang dipilih oleh staff redaksi

(23)

  12

karena luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena

mencakup segi–segi human interest seperti humor, emosi dan ketegangan.

Menurut J.B. Wahyudi : Berita adalah laporan tentang peristiwa atau

pendapat yang memilki nilai penting, menarik bagi sebagian khalayak, masih baru

dan dipublikasikan melalui media massa periodic. Definisi berita yang lainnya

juga dating dari Amak Syarifuddin : yang menyatakan berita sebagai suatu

laporan kejadian yang ditimbulkan sebagai bahan yang menarik perhatian publik

media massa.

Dari sekian definisi atau batasan tentang berita itu, pada prinsipnya ada

beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dari definisi tersebut. Yakni:

Laporan kejadian atau peristiwa atau pendapat yang menarik dan penting

disajikan secepat mungkin kepada khalayak luas.

Dalam berita juga terdapat jenis-jenis berita yaitu:

1. Straight News: berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas.

Sebagian besar halaman depan surat kabar berisi berita jenis ini,

jenis berita Straight News dipilih lagi menjadi dua macam:

a) Hard News: yakni berita yang memiliki nilai lebih dari segi aktualitas dan

kepentingan atau amat penting segera diketahui pembaca.

Berisi informasi peristiwa khusus (special event) yang terjadi secara

tiba-tiba.

b) Soft News, nilai beritanya di bawah Hard News dan lebih merupakan berita

(24)

  13

2. Depth News: berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal

yang ada di bawah suatu permukaan.

3. Investigation News: berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau

penyelidikan dari berbagai sumber.

4. Interpretative News: berita yang dikembangkan dengan pendapat atau

penelitian penulisnya/reporter.

5. Opinion News: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para

cendekiawan, sarjana, ahli, atau pejabat, mengenai suatu hal, peristiwa,

kondisi poleksosbudhankam, dan sebagainya.

2.1.2.1. Bagian Berita

Secara umum, berita mempunyai bagian-bagian dalam susunannya yaitu:

a) Headline.

Biasa disebut judul. Sering juga dilengkapi dengan anak judul. Ia berguna

untuk:

(1) Menolong pembaca agar segera mengetahui peristiwa yang akan

diberitakan.

(2) Menonjolkan satu berita dengan dukungan teknik grafika.

b) Dateline

Ada yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan tanggal

kejadian. Ada pula yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan

tanggal kejadian. Tujuannya adalah untuk menunjukkan tempat kejadian dan

(25)

  14

c) Lead

Lazim disebut teras berita. Biasanya ditulis pada paragraph pertama sebuah

berita. Ia merupakan unsur yang paling penting dari sebuah berita, yang

menentukan apakah isi berita akan dibaca atau tidak. Ia merupakan sari pati

sebuah berita, yang melukiskan seluruh berita secara singkat.

d) Body

Atau tubuh berita. Isinya menceritakan peristiwa yang dilaporkan dengan

bahasa yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian body merupakan

perkembangan berita. Dalam Berita Harus terdapat unsur-unsur 5W 1H yaitu :

(1) What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?

(2) Who - siapa yang terlibat di dalamnya?

(3) Where - di mana terjadinya peristiwa itu?

(4) When - kapan terjadinya?

(5) Why - mengapa peristiwa itu terjadi?

(6) How - bagaimana terjadinya?

(7) What next - terus bagaimana?

2.2. Objektivitas Berita

Berita sebagai alat kontrol social. Maksud berita sebagai alat kontrol sosial

adalah: memberitakan peristiwa yang buruk, keadaan yang tidak pada tempatnya

dan ihwal yang menyalahi aturan, supaya peristiwa buruk tidak terulang lagi dan

kesadaran berbuat baik serta mentaati peraturan makin tinggi. Makanya berita

(26)

  15

Selama ini ada pendapat yang dianut oleh banyak orang bahwa berita buruk

akan melahirkan hal yang buruk pula. Misalnya: berita menyeluruh tentang

gerakan Papua Merdeka dikhawatirkan akan mengancam persatuan nasional.

Tetapi, akhir-akhir ini, di negara maju, berkembang pendapat bahwa berita buruk

justru melahirkan pelajaran yang baik untuk memperkuat nilai dan identitas

kolektif yang sudah dimiliki (Ericson, Baranek dan Chan 1987: 65). Sebab,

khalayak cenderung memproyeksikan keadaan yang mereka lihat pada diri

mereka. Begitu mereka melihat kehidupan gerakan Papua Merdeka yang tidak

enak dan tidak tentram, saat itu pula mereka tidak ingin meniru mereka.

Pada sisi yan lain, penyiaran berita buruk tentang sebuah lembaga pemerintah

bisa melahirkan opini publik yang baru dan citra yang baru pula tentang lembaga

pemerintah tersebut. Biarpun begitu, ia bisa merangsang gagasan-gagasan dari

khalayak untuk ikut membantu memperbaiki lembaga pemerintah tersebut. Kalau

berita itu tidak disiarkan, bukan mustahil gagasan-gagasan khalayak untuk

memperbaiki lembaga tersebut tidak muncul.

Bagi individu yang terlibat langsung dalam sebuah berita buruk penyiaran

beritanya akan membuat ia selalu ingat bahwa khalayak tahu ia pernah teledor dan

khilaf. Ingatan ini akan membuatnya berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan

yang sama. Ini dimungkinkan karena sesungguhnya seorang individu akan merasa

gundah dan resah bila khalayak tahu ia pernah berbuat salah.

Kalau selama ini ada kekhawatiran bahwa berita sebagai kontrol sosial akan

(27)

  16

menimbulkan pendapat bahwa berita sebagai kontrol sosial lebih banyak

mendatangkan keuntungan daripada kerugian. Salah satu keuntungan itu adalah

merangsang timbulnya gagasan-gagasan khalayak.

Sesungguhnya yang menjadi batas pemberitaan resmi di Indonesia ada tiga,

yaitu Undang-Undang, Kode Etik Jurnalistik dan Code of Conduct yang dimiliki

media pers. Undang-Undang membatasi media pers dari hal-hal yang boleh

diberitakan melalui pasal-pasalnya. Ia merupakan hukum positif. Bila ada media

pers yang melanggar, maka ia akan dituntut di pengadilan. Sebuah

Undang-Undang yang harus dipatuhi media pers sekarang adalah Undang-Undang-Undang-Undang No. 40

Tahun 1999.

Kode Etik Jurnalistik membatasi wartawan tentang apa yang baik dan tidak

baik diberitakan. Peraturan ini dikeluarkan oleh asosiasi profesi wartawan. Karena

itu, sanksi bagi pelanggarnya diberikan oleh asosiasi profesi wartawan

bersangkutan. Sanksi ini lebih bersifat moral. Wartawan yang melanggarnya akan

disebut tidak bermoral, dikucilkan dari kehidupan media pers atau diskors.

Sekarang, siapa pun wartawan Indonesia harus mematuhi Kode Etik

Wartawan Indonesia (KEWI) yang sudah disusun bersama-sama oleh berbagai

asosiasi profesi wartawan Indonesia di Bandung, 6 Agustus 1999. KEWI terdiri

atas tujuh pasal, yaitu:

i. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat utnuk memperoleh

(28)

  17

ii. Wartawan Indonesia menempuh cara yang etis untuk memperoleh dan

menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber

informasi

iii. Wartawan Indonesia menghormati azas praduga tak bersalah, tidak

mencampurkan fakta dan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran

informasi, serta tidak melakukan plagiat.

iv. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta,

fitnah, sadis dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan

susila.

v. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan

profesi.

vi. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan embargo,

informasi latar belakang dan off the record sesuai kesepakatan.

vii. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam

pemberitaan serta melayani hak jawab.

Code of Conduct, dalam pada itu, merupakan peraturan yang dikeluarkan oleh

sebuah media pers tentang apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Ia

mengikat wartawan sebagai pekerja di sebuah media pers. Karena itu, sanksi bagi

pelanggarnya diberikan oleh media pers yang menerbitkan Code of Conduct itu.

Tidak jarang sanksi itu lebih keras dari sanksi yang diberikan oleh asosiasi profesi

(29)

  18

Dengan ketiga batas pemberitaan di atas terlihat bahwa media pers tidak

bebas begitu saja menyiarkan berita. Ada peraturan-peraturan yan membatasinya

menyiarkan berita kepada khalayak. Kalau ada pihak yang mengatakan bahwa

media pers sangat bebas, itu tidak benar. Media pers memiliki berbagai batasan

pemberitaan. Justru karena batasan pemberitaan itulah diaeksis sebagai kekuatan

keempat (fourth estate), setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Media massa senantiasa dituntut mempunyai kesesuaian dengan realitas

dunia yang benar-benar terjadi, agar gambar realitas yang ada dibenak khalayak –

the world outside and the pictures in our head, tidaklah bias dikarenakan

informasi media massa tidak kontekstual dengan realitas.

Media massa yang sarat dengan informasi adalah pers. Pers merupakan

cermin realitas karena pers pada dasarnya lebih menekankan fungsi sebagai sarana

pemberitaan. Isi pers yang utama adalah berita. Fakta dan realitas adalah bagian

yang tidak dapat dipisahkan dari konsep objektivitas. Oleh karena itu, jika

terdapat sebuah paradigma yang berkaitan dengan ilmu jurnalistik, pasti

ditemukan sebuah paradigma yang mensyaratkan adanya konsep obyektvitas

dalam penyajian berita.

Pers senantiasa dituntut mengembangkan pemberitaan yang objektiv, yaitu

“reporting format that generally sepates fact from pinion presents an emosionally

detached view of the news, and strives for fairness and ballanced” ( DeFleur,

1994: 635).

Dalam jurnalisme, kebenaran tidaklah bisa diklaim oleh satu pihak, namun

(30)

  19

pemberitaan disurat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan kebenaran secara

fairness. Yaitu salah satu syarat objektivitas yang juga sering disebut sebagai

pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang terlibat

sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran (Siebert,

1986:100). Menyajikan semua pihak disini berarti memiliki data sumber berita

serta luas kolom yang seimbang, barulah sebuah berita memenuhi sebuah

pemberitaan yang objektiv .

Selain fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat,

tidak bohong, menyatakan fakta bila itu memang fakta, dan pendapat bila itu

memang pendapat (Siebert, 1986: 100).

Jurgen Westerstahl menjabarkan konsep objektivitas pada bagan berikut :

Objectivity

Faktuality Impartiality

Truth Relevance Ballance/non - partisanship

Neutral presentation

(31)

  20

Westerstahl mengajukan komponen utama obyektivitas berita dalam

observasinya “ Maintaining objectivity in the dissemination of news can, it seems

to me, most easily be defined as “adherence to certain norms or

standards”(Westerståhl, 1983:403).

Kefaktualan dikaitkan dengan bentuk penyajian laporan tentang peristiwa

atau pernyataan yang dapat di cek kebenarannya pada sumber dan disajikan tanpa

komentar. Impartialitas dihubungkan dengan sikap netral wartawan/reporter, suatu

sikap yang menjauhkan setiap penilaian pribadi dan subyektif demi pencapaian

sasaran yang diinginkan.

Ada jurnalis yang hanya saja menempatkan objektivitas sebagai simbol

keyakinan didalam pekerjaannya, dan ada pula jurnalis yang

mengoperasionalisasikan objektivitas dalam rutinitas tugas serta

tanggungjawabnya sehari-hari ( charllote, 2006: 3).

Unsur lain dalam objektivitas adalah akurasi. Dalam akurasi dituntut

adanya kesesuaian judul berita dengan isi berita itu sendiri. Akurasi juga

mencakup adanya pencantuman waktu peristiwa dan kejadian yang jelas serta

yang menambah nilai keakuratan sebuah berita adalah adanya data pendukung

berita yang berupa table, graphic ataupun foto. Yang terutama dalam nilai akurasi,

sebuah berita tidak boleh mencampurkan antara fakta dengan opini yang ada

dalam sebuah penulisan berita (kriyantono, 2009:247)

Yang tidak kalah penting dan menjadi bagian dari objektivitas berita

(32)

  21

seharusnya memiliki keterangan atribut sumber berita yang jelas dan juga berasal

dari pelaku yang terkait langsung dengan kejadian pemberitaan.

Objektivitas, betapapun sulitnya harus diupayakan oleh insan pers.

Objektivitas berkaitan erat dengan kemandirian pers sebagai institusi sosial, hal

ini penting mengingat signifikasi efek media terhadap khalayak.

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional

Penelitian ini menggunakan metodologi riset kuantitatif yang

mengharuskan peneliti bersikap obyektif dan memisahkan diri dari data, karena

riset ini menggambarkan suatu masalah yang hasilnya dapat digeneralisasikan.

Berdasarkan metodologi diatas, penelitian ini menggunakan metode

analisis isi yang digunakan untuk menganalisis isi pesan yang tampak, dengan

cara sistematik dan obyektif. Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian

deskriptif yang bertujuan membuat deskripsi secara sistimatik, factual dan akurat

atas fakta serta sifat yang dimiliki suatu populasi yang diteliti.

3.1.1. Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing

Subyek pada penelitian ini adalah surat kabar nasional, Jawa Pos, dengan

kantor penerbitan yang bertempat di kota Surabaya, Jawa Timur. Harian Jawa Pos

hingga kini memiliki tiras tidak kurang dari 400.000 eksemplar yang menjadikan

media ini menjadi surat kabar dengan oplah nomor 1 di Indonesia. Dengan

pertimbangan tiras sebesar itu, menunjukkan bahwasannya Jawa Pos memiliki

jumlah pembaca yang besar, meluas di masyarakat khususnya di Jawa Timur

dengan tingkat readership mencapai 96% (Nielsen 2009) dari masyarakat

mayoritas memeluk agama muslim sehingga sangat mampu memunculkan opini

publik yang cukup signifikan.

23 

(34)

24 

 

Sedangkan Obyek penelitian ini adalah seluruh berita insiden jemaat

HKBP Ciketing yang berawal dari kejadian penyerangan pada Minggu 12

September 2010 dan muncul menjadi headline di Jawa Pos pada 13 September

2010, pemberitaan insiden ini terus menjadi topik bahasan utama dan tulisan news

in depth di media ini lebih dari satu pekan. Batasan ini berdasarkan pertimbangan

aktualitas dari fenomena konflik yang termassa bagi masyarakat Indonesia, yakni

insiden jemaat HKBP Ciketing, Bekasi.

Mengingat insiden ini menyangkut nilai SARA yang sangat rentan serta

performance kinerja kepolisian dalam menangani kasus khusus seperti ini,

menjadikan berita insiden ini mampu memiliki daya tarik pembaca yang besar,

memiliki nilai berita yang tinggi dan sesuai dengan khalayak harian Jawa Pos

yang besar dan luas.

3.2. Unit Analisis

Unit analisis dalam penelitian ini menggunakan unit referens, yaitu rangkaian

kata, kalimat atau paragraf yang menunjukkan sesuatu yang mempunyai arti

sesuai dengan kategori yang digunakan. Unit Referens ini digunakan untuk

menganalisis penggunaan data pendukung, ketidakberpihakan pemberitaan serta

validitas keabsahan pemberitaan, akurasi melalui pencampuran antara fakta

ataupun opini, maka baru dapat diketahui objektifitas pemberitaan pers yang

(35)

25 

 

3.3. Kategorisasi Objektifitas Pers

Dari berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing yang dianalisa, kemudian penulis

mengklasifikasikannya berdasarkan kategori yang telah dibuat dan disesuaikan

agar diperoleh hasil akurat, karena validitas metode dan hasil-hasilnya sangat

bergantung dari kategori-kategorinya. Dengan demikian penelitian menggunakan

kategorisasi yang digunakan oleh Rachmah Ida, PhD untuk menganalisis

objektivitas berita insiden jemaat HKBP Ciketing, Bekasi dengan skala nasional

dari surat kabar Jawa Pos dengan tiras minimal 400.000 eksemplar.

a. Kategori akurasi pemberitaan, yaitu menyangkut aspek relevansi, apakah

kalimat judul merupakan bagian dari kalimat yang sama pada isi berita

atau kutipan yang jelas-jelas ada dalam isi berita. Ketepatan mengacu pada

judul utama headline, bukan sub judul. Dengan demikian, konsep ini

dibagi dalam:

1) Kesesuaian judul berita dengan isi berita. Ini menyangkut aspek

relevansi, yakni apakah kalimat judul merupakan bagian dari kalimat

yang sama pada isi berita. Selain itu dalam judul atau isi berita itu,

apakah terdapat penggunaan kata atau kalimat denotatif serta

penggunaan tanda baca yang mengesankan makna ganda. Ketepatan

mengacu pada judul utama headline, bukan sub judul. Dengan

(36)

26 

 

a) Sesuai, yaitu apabila judul merupakan bagian dari kalimat yang

sama pada isi berita atau kutipan yang jelas-jelas ada dalam isi

berita.

b) Tidak sesuai, yaitu apabila judul bukan merupakan bagian dari

kalimat yang sama pada isis berita, atau bukan merupakan kutipan

yang jelas-jelas ada.

2) Pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa. Konsep ini untuk

melihat akurasi fakta atau opini, yaitu apakah mencantumkan tanggal

atau adanya kata-kata yang menunjukkan waktu terjadinya peristiwa

atau wawancara. Terdapat dua kategori dalam dua konsep ini, yaitu:

a) Dicantumkan waktu, yaitu apabila dalam tulisan mencantumkan

tanggal, pencantuman kata-kata atau pernyataan tentang waktu

atau keduanya, yaitu mencantumkan tanggal dan kata-kata.

b) Tidak dicantumkan waktu, yaitu jika dalam tulisan itu tidak

mencantumkan baik tanggal ataupun kata-kata yang menunjukkan

waktu.

3) Penggunaan data pendukung atau kelengkapan informasi atas kejadian

yang ditampilkan. Kelengkapan data pendukung antara lain

menggunakan: tabel, statistik, foto, ilustrasi gambar dan lain-lain.

(37)

27 

 

a) Ada data pendukung, yaitu apabila tulisan itu dilengkapi dengan

salah satu data pendukung, seperti foto peristiwa, tabel, statistik

(angka-angka) dan data referensi (buku, UU, Peraturan

Pemerintah dan lain-lain).

b) Tidak ada data pendukung, yaitu apabila tulisan itu sama sekali

tidak dilengkapi dengan data pendukung, seperti foto peristiwa,

tabel, statistik (angka-angka) dan dat referensi (buku, UU,

Peraturan Pemerintah dan lain-lain).

4) Faktualitas berita, yaitu menyangkut ada tidaknya pencampuran fakta

dengan opini wartawan yang menulis berita. Konsep ini dibagi atas

dua kategori, yaitu:

a) Ada pencampuran fakta dan opini, yaitu apabila dalam artikel

berita itu terdapat kata-kata opinionative, seperti: tampaknya,

diperkirakan, seakan-akan, terkesan, kesannya, seolah, agaknya,

diperkirakan, diramalkan, kontroversi, mengejutkan, manuver,

sayangnya, dan kata-kata opinionative lainnya.

b) Tidak mencampur fakta dan opini, yaitu apabila dalam artikel

berita itu tidak terdapat kata-kata opinionative, seperti:

tampaknya, diperkirakan, seakan-akan, terkesan, kesannya,

seolah, agaknya, diperkirakan, diramalkan, kontroversi,

mengejutkan, manuver, sayangnya, dan kata-kata opinionative

(38)

28 

 

b. Fairness atau ketidakberpihakan pemberitaan, yaitu yang menyangkut

keseimbangan penulisan berita yang meliputi:

1) Ketidakberpihakan, dilihat dari sumber berita yang digunakan, yaitu:

a) Seimbang, yaitu apabila masing-masing pihak yang diberitakan

diberi porsi yang sama sebagai sumber berita, dilihat dari jumlah

sumber beritanya.

b) Tidak seimbang, yaitu jika masing-masing pihak yang diberitakan

tidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita, dilihat dari

jumlah sumber beritanya.

2) Ketidakberpihakan dilihat dari ukuran fisik luas kolom (centimeters

kolom) yangdipakai, yaitu:

a) Seimbang, yaitu jika luas kolom yang dipakai antara pihak-pihak

yang terlibat dalam pemberitaan memiliki jumlah kesamaan.

b) Tidak seimbang, yaitu jika luas kolom yang dipakai antara

pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah

kesamaan.

c. Untuk mengetahui bagaimana validitas keabsahan pemberitaan, diukur

(39)

29 

 

1) Atribusi, yaitu pencantuman sumber berita secara jelas (baik identitas

maupun dalam upaya konfirmasi atau chek dan re chek). Konsep ini

dibagi menjadi:

a) Sumber berita jelas, apabila dalam berita itu sumber berita yang

dipakai dicantumkan identitasnya seperti nama, pekerjaan, atau

sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi.

b) Sumber berita tidak jelas, apabila dalam berita itu tidak

dicantumkan identitas sumber berita seperti nama, pekerjaan, atau

sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi.

2) Kompetensi pihak yang dijadikan sumber berita yang mendapatkan

informasi yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu kronologi

peristiwa (berita yang menyangkut peristiwa dengan kronologi

kejadiannya), apakah berasal dari apa yang dilihat, atau hanya sekedar

kedekatannya dengan media yang bersangkuttan atau karena

jabatannya. Kategori ini dibagi dalam:

a) Wartawan, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil

pengamatan wartawan secara langsung, yaitu mengungkap

informasi sesuai dengan apa yang dilihat, didengar dan diketahui

oleh wartawan itu sendiri.

b) Pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan

hasil wartawan dengan sumber berita yang mengalami peristiwa

(40)

30 

 

saksi korban, atau orang yang memang langsung terlibat dengan

peristiwa itu sendiri atau memang ada dilokasi ketika peristiwa itu

terjadi.

c) Bukan pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan

merupakan hasil wawancara dengan sumber berita yang tidak

mengalami langsung peristiwa tersebut. Hanya karena jabatan

atau memiliki akses informasi lalu menjadi sumber berita.

Misalnya petugas humas, juru bicara, kapuspen, atau juga pejabat

yang berwenang tetapi tidak berada dilokasi ketika peristiwa itu

terjadi.

3.5. Populasi, Sample dan Teknik Penarikan Sample 3.5.1. Populasi

Penentuan populasi dalam suatu penelitian merupakan upaya bagi peneliti

untuk membatasi ruang lingkup analisisnya. Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh berita insiden Jemaat HKBP Ciketing, Bekasi pada harian Jawa Pos

periode 13 September 2010 – 21 September 2010. Selama kurun waktu tersebut,

diperoleh jumlah sebanyak 9 terbitan, Dimana dengan 9 terbitan, terdapat 13 unit

berita insiden Jemaat HKBP Ciketing.

3.5.2. Sample dan Teknik Penarikan Sample

Dalam penarikan sample, tidak ada ketentuan pasti mengenai jumlah

(41)

31 

 

representatif atau mampu mewakili secara keseluruhan. Henry Subiakto,

menyatakan, dalam makalah content analysis jika jumlah populasi penelitian

cukup besar, maka untuk mempermudah penelitian, dapat mengambil sample

dengan jumlah 50%, 25%, atau minimal 10% dari keseluruhan populasi (Suyanto,

1995:173).

Dalam kurun periode 13 September 2010 sampai 21 September 2010,

didapatkan populasi sebanyak 9 terbitan dan didalamnya terdapat 13 unit berita

insiden jemaat HKBP. Dalam penelitian ini, diambil sample sebesar 100% atau

seluruh populasi (total sampling) yang berjumlah 13 unit berita.

Selanjutnya penelitian ini dimulai dengan terlebih dahulu memasukkan

semua unit berita insiden jemaat HKBP Ciketing dari tiap terbitan Jawa Pos sesuai

masa periode yang telah ditentukan terlebih dahulu oleh peneliti, dengan secara

sistematis dan berurutan, dilakukan pencatatan kode pada tiap unit berita.

3.6. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini merupakan data primer, yaitu

data yang diambil secara langsung dari harian Jawa Pos yang berupa unit berita

insiden Jemaat HKBP, baik di halaman headlines Jawa Pos, berita utama serta

News in Depth pada periode 13 September 2010 sampai 21 September 2010 yang

terlebih dahulu telah didokumentasikan. Prosedur yang digunakan dalam

penelitian ini adalah: Pertama, dengan melakukan pencatatan terhadap setiap unit

(42)

32 

 

Kedua, setiap data dikumpulkan dengan menggunakan lembar koding

untuk memasukkan data-data berdasarkan kategori-kategori yang telah ditentukan

sebelumnya. Dengan metode analisis data yang selanjutnya akan dilakukan proses

penghitungan dan analisis, diinterpertasikan guna memperoleh jawaban dari

permasalahan yang telah dirumuskan, serta untuk mengetahui tujuan penelitian.

3.7. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data, terlebih dahulu data yang terkumpul akan

diuraikan dengan menggunakan lembar koding. Selanjutnya teknik analisis data

yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi. Data dianalisis dengan

menggunakan tabulasi silang dalam tabel frekuensi. Dari tabulasi tersebut, akan

dilakukan analisis dan perhitungan prosentase atas akurasi, fairness dan validitas

yang diungkapkan dalam berita insiden Jemaat HKBP Ciketing di harian Jawa

(43)

33 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Surat Kabar Harian Jawa Pos

Dalam Sejarahnya, Jawa Pos sebagai salah satu harian tertua di Indonesia

mulanya bernama Java Post. Pendiri sekaligus pemilik pertama Jawa Pos adalah

The Chung sen (Soeseno Tejo), sebagai surat kabar harian yang terbit pagi hari

dengan berita-berita umum sebagai ciri utama. Harian ini awal mulanya dikenal

sebagai harian Melayu –TiongHoa Java Post.

Dalam perkembangannya, the Chung Sen pada tahun 1950an memiliki 3 surat

kabar.Satu berbahasa Indonesia serta masing-masing dua yang lainnya berbahasa

Tionghoa dan Belanda.Yang terahkir ini kemudian berubah menjadi Indonesian

Daily News yang berbahasa inggris. Koran yang berbahasa Tionghoa kemudian

berhenti terbit dan ahkirnya tinggallah Jawa Pos sekarang.

Pada 1 April 1982, pengelola Jawa Pos diserahkan pada Dahlan Iskan yang

saat itu menjabat sebagai biro mingguan Tempo di Surabaya. Sejak itu

perkembangan Jawa Pos dengan SIUPP no.069/SK/Mempen/SIUPP/A.7/1986

berkembang hingga kini mencapai oplah 400.000 eksemplar.

Dahlan Iskan, sebagai penemu pertama koran dengan ukuran compact, yang

lebih mudah dibawa oleh pembacanya disaat ukuran koran lainnya di seluruh

(44)

34 

 

dinilai oleh Dahlan Iskan lebih menyulitkan pembaca. Ia juga menemukan gaya

bahasa yang sangat dekat, kental dan khas Surabaya dalam menyajikan berita di

Jawa Pos sehingga menjadikan media ini sangat dekat dengan pembacanya,

mudah dipahami sehingga menjadi reverensi bacaan yang baik untuk karakteristik

pembaca koran di Surabaya. Hingga saat ini, gaya bahasa inilah yang

dipertahankan dan dilanjutkan kepada wartawan generasi penerus Jawa Pos.

Dalam pemuatan berita, terdapat penyeleksian dengan melihat

situasi,toleransi,pandangan,jangkauan dan kondisi. Jadi tidak terdapat berdasarkan

tema politik berapa, tema olahraga berapa dan seterusnya. Pemuatan berita

tergantung dari bobotnya. Jawa Pos dalam hal pemberitaan politik memiliki

prinsip bahwa yang diberitakan adalah benar, namun tak semua kebenaran harus

diberitakan.

Dari jumlah oplah yang beredar saat ini, yakni 400.000 eksemplar,

peredarannya meliputi di Surabaya dan sekitarnya sebesar 96,4% dan 60% lainnya

beredar di kota-kota hampir diseluruh Indonesia bagian Timur serta Jawa Tengah

sebesar 10,89%.

Dari segi usia pembaca Jawa Pos terbanyak adalah berusia antara 20-29 tahun

sebanyak 35%. Selanjutnya adalah pembaca berusia 30-39 tahun sebesar 27%

sedangkan kurang dari 19 tahun adalah 15%. (Nielsen)

Dengan daerah penyebaran atau sirkulasi surat kabar yang mencakup jumlah

pembaca sebanyak ini membuat Jawa Pos sangat berperan dalam pembentukan

(45)

35 

 

sarat dengan penduduk memeluk agama muslim, ditambah dengan latar belakang

umur dan pembaca yang diatas tadi mendasari digunakannya surat Kabar Jawa

Pos sebagai subjek penelitian dalam analisis isi objektivitas pemberitaan berita

Insiden Jemaat HKBP Ciketing, Bekasi.

Pertimbangan penulis, bahwa latar belakang pembaca pada daerah Jawa

Timur dan dengan kota Surabaya sebagai ibu kotanya yang sangat memenuhi

digunakannya Jawa Pos sebagai media untuk menganalisis teori objektivitasnya

yang didapatkan dari pemberitaan seputar Insiden Jemaat HKBP Ciketing yang

sarat dengan nuansa konflik antar agama ini.

4.2 Penyajian Data dan Analisis Data

Objektivitas dalam penyajian berita merupakan salah satu nilai yang harus di

penuhi oleh jurnalis dalam rangka pemenuhan informasi serta penyampaian

informasi yang benar kepada khalayak ataupun masyarakat. Teori ini didasari atas

pandangan bahwa sebuah kebenaran di media massa tidaklah bisa diklaim oleh

satu pihak saja namun harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak lain.

Inilah mengapa pemberitaan disurat kabar selalu dituntut untuk

mengungkapkan kebenaran secara fairness. Objektivitas yang juga sering disebut

sebagai pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang

terlibat sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran. Selain

fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat, tidak bohong,

(46)

36 

 

Hanya belakangan ini, muncul suatu wacana yang memandang objektivitas

sebagai teori yang dikuduskan oleh praktisi jurnalis dan dikristalkan sehingga

aplikasi dalam profesinya sudah sangat jarang ditemui lagi di media massa.

Sesuatu yang ditulis oleh wartawan dan di terbitkan oleh media yang memiliki

prestige akan lebih dipercaya oleh khalayak sebagai fakta sehingga memiliki

kekuatan untuk menimbulkan opini public di mayarakat.

Keyakinan untuk menyajikan berita yang objektiv disampaikan juga oleh

Denis McQuail seorang pakar komunikasi yang mengembangkan konsep

objektivitas ini dari pola objektivitas pemberitaan milik Jurgen Westerthal dengan

membagi dimensi objektivitas kedalam impartial dan factual. Wien Charllote,

seorang dosen komunikasi dari Denmark juga memiliki ketertarikan yang sama

terhadap teori objektivitas ini

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa jurnalis saat ini hanya memandang

objektivitas sebagai kepercayaan yang ada namun kurang berperan dalam

tindakan praktis sebagai jurnalis dalam menulis berita. Tidak hanya pakar

komunikasi dari luar saja yang memiliki ketertarikan terhadap Objektivitas

pemberitaan, Ashadi Siregar, Henry Subiakto dan Rachma Ida adalah beberapa

diantara ahli komunikasi di Indonesia yang mengangkat teori objektivitas

pemberitaan sebagai alat ukur untuk memahami media surat kabar harian nasional

yang ada di Indonesia,

Henry Subiakto melakukan analisi isi kuantitatif terhadap 8 surat kabar

(47)

37 

 

objektivitaspemberitaan yakni aktualitas,fairness dan validitas pemberitaan. Hasil

temuan data menyimpulkan surat kabar Suara Pembaruan, Kompas, suara

Merdeka, Media Indonesia adalah media massa di Indonesia yang cenderung

objektiv dibandingkan media massa yang lain dalam hal keakurasian pemberitaan,

Validitas Nara Sumbernya dan ketidakberpihakan pada pihak manapun.

Walaupun tidak ada salah satu media yang benar-benar telah menerapkan

prinsip-prinsip jurnalisme obyektif, tapi paling tidak media tersebut dianggap

mampu untuk memisahkan fakta daripada oponi dan dinilai cenderung untuk tidak

melakukan provokasi massa dan sebagainya.

Sementara itu surat kabar Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, dan Surya

masih mengalami persoalan dengan objektivitas. Artinya keempat surat kabar ini

terlihat sekali berpihak pada pihak-pihak tertentu dan berkecenderungan

menggunakan opini wartawan daripada fakta-fakta akan realitas yang se-nyatanya

(library of Airlangga University,2001)

Berangkat dari pertimbangan yang didasari pada pandangan atau paradigma

klasik dimana para jurnalis dalam menyajikan berita selalu mengacu pada fakta

dan selalu bersifat objektif dalam menyajikan liputan menjadi sebuah berita,

penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kategorisasi yang dibuat dan

digunakan oleh Rachma Ida.Dosen Komunikasi ini menggunakan prinsip

objektifitas dalam meneliti berita poitik di harian surat kabar nasional yang

(48)

38 

 

Rencana pendirian rumah ibadah di tengah-tengah masyarakat Betawi yang

mayoritas muslim menjadi awal sengketa. Peraturan Bersama Menteri Agama dan

Menteri Dalam Negeri mensyaratkan sejumlah ketentuan untuk mendirikan rumah

ibadah. Salah satu di antaranya persetujuan lingkungan dengan jumlah minimal

masyarakat sekitarnya.

Sengketa muncul ketika izin lingkungan diberlakukan. Masyarakat

memandang peraturan bersama menteri perlu ditaati sebagai prasyarat dasar.

Sedang dari pihak lain menyadari kesulitan kesulitan untuk mendapatkan izin

lingkungan. Dilakukanlah berbagai cara, termasuk kemungkinan membujuk dan

memberikan berbagai kemudahan kepada masyarakat Semua dilakukan untuk

mendapatkan izin prinsip dari masyarakat guna mendirikan tempat ibadah.

Masyarakat Ciketing Asem kemudian merasa terusik dan ketenteramannya

terganggu. Muncullah berbagai bentuk keberatan, mulai dari pernyataan sikap

sampai demontrasi. Puncuk permasalahannya terjadi penganiayaan yang menuai

protes dari berbagai kalangan. Tidak kurang pejabat negara perlu terlibat dalam

menyelesaikan permasalahan yang muncul. Negara mendapat amanah untuk

memberikan jaminan kepada seluruh warganya dari rasa aman, ketertiban

termasuk dalam menjalankan kehidupan beragama.

Kebebasan beragama memperoleh jaminan pasti dari konstitusi. Para pendiri

Republik Indonesia menyadari benar kemajemukan masyarakat dan bangsa

Indonesia yang dibangun dari berbagai latar belakang suku, ras dan agama. Harus

(49)

39 

 

harus dijaga perasaan umat beragama yang lain. Kebebasan dalam beragama,

bukan berarti bebas tanpa batas. Kebebasan beragama harus tetap dalam bingkai

kebersamaan sebagai warga bangsa yang majemuk. Kebebasan beragama

hendaknya tetap dalam kerangka kebhinekatunggalikaan.

Melalui latar belakang diatas, penulis merasa perlu diadakannya sebuah

penelitian yang dapat menggambarkan isi pesan yang Nampak dari

pemberitaan-pemberitaan yang ada di media massa. Terlebih lagi berita yang mengandung

unsur pertikaian 2 agama selalu mengundang banyak perhatian dimasyarakat

manapun di Indonesia.

Dengan mengunakan metode analisis isi kuantitatif terhadap pemberitaan

seputar Insiden Jemaat HKBP di Ciketing Bekasi, mengingat nilainya yang sangat

signifikan dalam mempengaruhi opini public terhadap masing-masing agama

yang bertikai. Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis dimensi-dimensi yang

ada pada objektifitas pemberitaan yakni akurasi pemberitaan, fairness atau ketidak

berpihakan dalam menyajikan sumber berita dalam sebuah pemberitaan serta

validitas pemberitaan pada berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing yang berada

pada terbitan harian Jawa Pos edisi 13 September-21 September 2010.

Melalui dimensi akurasi didapatkan sub dimensi kesesuaian judul berita

dengan isi berita. Dikatakan bahwa sebuah judul berita sesuai dengan isi beritanya

bilamana dalam isi pemberitaan ditemukan kata-kata yang sama seperti judul

(50)

40 

 

Ada tidaknya pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa yang diberitakan

yang dapat berupa angka maupun kata-kata yang menunjuk pada tanggal

peristiwa. Penggunaan data pendukung yang dapat berbentuk daftar table, foto

pendukung, berita, ilustrasi gambar serta data-data lain dari sumber yang terkait

dengan peristiwa yang diberitakan. Yang terakhir adalah ada tidaknya

pencampuran antara fakta dan opini.

Melalui dimensi fairness atau ketidak berpihakan didapatkan sub dimensi sisi

ketidak berpihakan yang dilihat dari jumlah sumber berita yang digunakan dan sisi

ketidak berpihakan yang dilihat dari penggunaan luas kolom pemberitaan.

Melalui dimensi validitas didapatkan sub dimensi atribusi yakni kejelasan

data dan identitas terhadap sumber berita yang digunakan sebagai sumber

pemberitaan dan sub dimensi tingkat kompetensi sumber berita yang digunakan.

Berikut ini adalah data yang diperoleh penulis dari sampel berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing, Bekasi di Harian Jawa Pos Periode 13 September-21

September 2010 yang diukur dengan menggunakan kategorisasi Objektivitas

(51)

41 

 

4.2.1.1 Akurasi Pemberitaan

Tabel. 2

HKBP Ciketing Bekasi di Jawa Pos sudah memenuhi kategori yang akurat. Ini

ditarik dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebanyak 100% sudah

menggunakan pola harus adanya kesesuaian antara judul berita dengan isi berita

dimana relevansi yang tinggi antara keduanya telah dirasa penting oleh jurnalis

dalam menyusun berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing Bekasi di Jawa Pos.

Pada seluruh sampel dari total sampel 13 telah menyadari akan nilai kejujuran

para jurnalis yang tidak hanya mengejar sebuah judul yang bombastis agar

menarik pembaca. Dengan prinsip kesesuaian antara judul berita dengan isi berita,

wartawan harian Jawa Pos dalam menyajikan sebuah berita seputar Insiden

Jemaat HKBP Ciketing, agar pemberitaannya dapat dinilai berhasil, wartawan

menjadi terpacu untuk mencari pemberitaan yang bermutu dan memang memiliki

news value. Bukannya melalui jalan pintas yang melanggar sendiri kode etik

(52)

42 

 

Tabel. 3

Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Kesesuaian Judul Dengan Isi Berita Kesesuaian Judul Dengan Isi

Berita Jumlah

Kesesuaian judul yang ada pada berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing telah

mengacu pada aspek relevansi, yakni kalimat judul yang ada merupakan bagian

dari kalimat yang sama pada isi berita atau bagian isi terdapat penjelasan dari

judul dengan inti yang sama, sebagi contoh dari judul.

“ Polisi Temui Rizieq “

Berbagai cara dilakukan oleh polisi untuk mengusut kasus penganiyaan pendeta dan pengurus majelis HKBP minggu lalu (12/9). Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos perkara tersebut menjadi perhatian serius Mabes Polri. Kemarin sore (13/9) “ petugas Baintelkam Mabes Polri menemui tokoh FPI (Front Pembela Islam) Habib Rizieq Shihab untuk meminta bantuan dalam pengusutan kasus tersebut (kode 002,14-09-2010).

Selain itu dalam judul atau isi berita itu apakah terdapat penggunaan kata atau

kalimat denotative serta penggunaan tanda baca yang mengesankan makna ganda

ketetapan mengacu pada judul utama headline, bukan sub judul.

Pada pencantuman waktu terjadinya peristiwa, sebanyak 100% telah

mengikuti teori objektifitas dengan mensyaratkan pentingnya adanya pencatatan

waktu kejadian dalam berita insiden Jemaat HKBP Ciketing yang ada di Jawa

(53)

43 

 

format penunjuk waktu kejadian dengan angka “(15/9),(16/9)” namun tetap

terdapat jurnalis Jawa Pos yang memilih menggunakan kata-kata dalam

mendisekripsikan keterangan tanggal.

Tabel. 4

Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Pencantuman Waktu Terjadinya Peristiwa

Pencantuman waktu kejadian adalah konsep untuk melihat akurasi, yaitu

apakah mencantumkan tanggal atau adanya kata-kata yang menunjukan waktu

terjadinya peristiwa atau wawancara.

Dicantumkan waktu, yaitu apabila dalam tulisan mencantumkan tanggal

pencantuman kata-kata atau pernyataan tentang waktu atau keduanya, yaitu

mencantumkan tanggal atau dengan kata-kata menunjukan adanya tanggal

kejadian dan peristiwa.

Penggunaan data pendukung dalam berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing

juga telah menampilkan adanya bentuk penyajian berita yang objektif dengan

61,5% berita yang menjadi sampel penelitian telah menggunakan foto, table, dan

(54)

44 

 

lainya belum menggunakan data pendukung dalam menyajikan pemberitaan

seputar insiden Jemaat HKBP Ciketing.

Tabel. 5

Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Penggunaan Data Pendukung, Kelengkapan Informasi Atas Kejadian Yang Ditampilkan

Penggunaan Data Pendukung Jumlah

Akurasi

Pemberitaan Ada Data

Pendukung

Tidak Ada Data

Pendukung F %

Akurat 8 - 8 61,5

Tidak Akurat - 5 5 38,5

Jumlah 13 100

Sumber: Data Primer

Mayoritas Jawa Pos memilih menggunakan foto-foto dimana terdapat korban

dari pihak HKBP maupun foto penolakan dari warga Bekasi. Selain foto Jawa Pos

juga menggunakan table untuk mendeskripsikan data-data urutan kejadian

(55)

45 

 

Tabel. 6

Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Penggunaan Data Pendukung

Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing Data Pendukung

Kode Judul Berita Ada Tidak Ada

001 Tiga Pendeta Dianiaya Ilustrasi 002 Polisi Temui Rizieq Tabel 003 Polisi Pelototi 9 Tersangka Foto 004 Luspida: Saya Sudah Maafkan Mereka Tabel 005 SBY Dorong Cari Solusi Untuk Gereja

Bekasi Foto

006 Warga Anggap Bandel Meski Sudah Disegel Foto

007 Ketua FPI Bekasi Jadi Tersangka v 008 Walikota Bekasi Harus Tegur Ketua FPI Foto

009 Mendagri Tak Revisi SKB Tempat Ibadah v 010 Hkbp Dilarang Ibadah Di Ciketing v 011 Jemaat HKBP Ngotot Beribadah Di Ciketing v

012 Jemaat HKBP Gagal Beribadah Tabel

013 Tak Lagi Gelar Kebaktian Di Ciketing v

Frekuensi 8 5

Jumlah

% 61,5 38,5

Sumber: Data Primer

Dalam dimensi faktualitas berita, yaitu menyangkut ada tidaknya

pencampuran fakta dan opini wartawan dalam menulis berita Insiden Jemaat

HKBP Ciketing indikatornya pencampuran fakta dan opini yaitu apabila dalam

artikel berita itu terdapat kata-kata opinionative seperti : tampaknya,diperkirakan,

seakan–akan, terkesan, kesannya, seolah, agaknya, diperkirakan, diramalkan,

kontoversi, mengejutkan, manuver, sayangnya dan kata-kata opinionative

lainnya.Kalimat opinionative ditemukan penulis pada sampel penelitian pada kode

Gambar

Tabel. 2
Tabel. 3
Tabel. 4
Tabel. 5
+7

Referensi

Dokumen terkait

objektivitas surat kabar Jawa Pos dan Kompas dalam menyajikan berita yang ditinjau dari aspek 

Fairness (ketidakberpihakan) pemberitaan seputar berita kasus video porno mirip artis Luna Maya, Ariel, dan Cut Tari di Harian Jawa Pos masih belum tergolong objektif karena baik

Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana Jawa Pos membingkai berita Pencalonan Nurdin Halid Sebagai Ketua Umum PSSI pada Surat Kabar Harian Jawa Pos

Dalam penelitian ini, penulis ingin melihat aspek marjinalisasi terhadap politik perempuan yang diwacanakan oleh media melalui berita, dalam hal ini harian Jawa Pos

SURAT KABAR DAN PILGUB DKI JAKARTA 2012 (Studi Deskriptif Analisis Isi Objektivitas Berita Calon Gubernur Jokowi di Koran Kompas Selama Putaran ke 2 Periode 12 Juli - 30

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profesi apa saja yang muncul pada berita yang menampilkan wanita karier sebagai sumber berita utama pada berita-berita di surat kabar Jawa

Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana Jawa Pos membingkai berita Pencalonan Nurdin Halid Sebagai Ketua Umum PSSI pada Surat Kabar Harian Jawa Pos

Untuk dapat memahami ketimpangan arus informasi peneliti sengaja memilih media Jawa pos, media koran harian Jawa Pos dipilih sebagai obyek penelitian karena Jawa pos merupakan