OBJEKTIVITAS BERITA
INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING
(Studi Deskriptif Kuantitatif Analisi Isi Objektivitas BeritaInsiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos Edisi 13 September-21 September 2010)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
oleh :
CLEVELAND RONALDO FATRIK YOMAKI 0643010156
YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
i
JUDUL PENELITIAN : OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING (Studi
Deskriptif Kuantitatif Analisi Isi Objektifitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos Edisi 13 September-21 September 2010) Nama Mahasiswa : CLEVELAND RONALDO FATRIK
YOMAKI
NPM : 0643010156
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Telah disetujui untuk mengikuti Seminar Lisan
PEMBIMBING
Dra. Sumardjijati, MSi NIP. 19620323 199309 2001
DEKAN
ii
OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING ( Studi Deskriptif Kuantitatif Analisis Isi Objektivitas Berita Insiden Jemaat
HKBP Ciketing di Jawa Pos Edisi 13 September-21 September 2010)
Disusun Oleh :
Cleveland Ronaldo Fatrik Yomaki 0643010156
Telah dipertahankan dihadapkan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Pada Tanggal 02 Desember 2010
PEMBIMBING TIM PENGUJI
1. Ketua
Dra. Sumardjijati, MSi NIP. 19620323 199309 2001
Dra. Sumardjijati, MSi NIP. 19620323 199309 2001
2. Sekretaris
Drs. Kusnarto.M.Si
NIP. 19580801 1984021001
3.Anggota
Dra. Dyva Claretta, M.Si NPT. 36601 94 00251
Mengetahui,
DEKAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH BAPA, Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat
dunia karena dengan limpahan kasih, sukacita dan penyertaan -Nya saja, penulis pada
akhirnya dapat menyelesaikan Skripsi tepat waktu.
Skripsi yang ditulis oleh penulis berjudul “OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN
JEMAAT HKBP CIKETING (STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF ANALISIS ISI
OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING DI JAWA POS
PERIODE 13 SEPTEMBER – 21 SEPTEMBER 2010)” merupakan hasil dari usaha
dan kerja keras penulis dalam menempuh kuliah serta support ilmu dari semua Dosen
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Jawa
Timur, yang telah senantiasa memberikan yang terbaik untuk mahasiswa Jurusan Ilmu
komunikasi pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Kesuksesan merupakan hasil dari kerja keras, doa serta dukungan dari orang lain
sehingga penulis-pun tidak lupa untuk mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak
yang telah membantu proses penulisan Skripsi ini :
1. Ibu Ibu Dra. EC. Hj. Suparwati ,M.Si Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Juwito, S.Sos, M.Si, Ketua Progdi Ilmu Komunikasi Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Ibu Dra. Sumardjijati ,M.Si Dosen Pembimbing sekaligus Dosen Wali yang
4. Seluruh Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah
menanamkan ilmu, paradigma dan membentuk pribadi yang kritis sebagai modal
paling berharga dimasa mendatang.
5. Papa dan Mama, yang telah mendidik,mendukung dan selalu mendoakan yang
terbaik untuk penulis sehingga dapat membanggakan keluarga. Semoga Papa
dan Mama bangga melihat anak ketiganya sedikit lagi menuju gelar sarjana.
6. Meirike Yosephine IE, yang selalu mendukung dan mendoakan penulis dan
selalu menjadi sumber inspirasiku
7. All of my friends, Handz Wahyu, Qeis, Dimas, Renato, Danang, Wedi, Kribo,
Okim, Ino, Arab, David, Fadilla, Kunto, Arief, Didiet, Evert Ie, Black Car
Community Surabaya Dan tidak lupa dukungan semua teman-teman di UPN
“Veteran” Jatim angkatan selama lebih dari 4 tahun ini.
8. Dan semua pihak yang membantu terseleseikannya Skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa manusia tidak lepas dari ketidak sempurnaan dan
kesalahan sehingga apabila ada kesalahan dalam penulisan Skripsi ini, harap maklum
kesempurnaan Skripsi ini Sehingga, dapat bermanfaat bagi semua pihak umumnya dan
Penulis khususnya
Surabaya, 22 November 2010
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………. i
HALAMAN PENGESAHAN ………. ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... . vi
DAFTAR GAMBAR ……….. viii
ABSTRAKSI ……… ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KERANGKA KONSEPTUAL ... 8
2.1 Media Massa………….. ... 8
2.1.1 Surat Kabar ... 9
2.1.2 Berita ... 10
2.1.2.1 Bagian Berita……….13
2.2 Obyektifitas Berita………… ... 14
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Definisi Operasional ... 23
vii
3.1.1 Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing... 23
3.2 Unit Analisi………… ... 24
3.3 Kategorisasi Objektifitas Pers... 25
3.4 Populasi, Sample dan Teknik Penarikan Sample……….... 30
3.4.1 Populasi………. ... 30
3.4.2 Sample dan Teknik Penarikan Sample... 30
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 31
3.6 Teknik Analisis Data ... 32
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………..33
4.1 Surat Kabar Harian Jawa Pos………...33
4.2 Penyajian Data dan Analisis Data ………...35
4.2.1 Akurasi Pemberitaan ………..………...……….41
4.2.2 Fairness ………..………47
4.2.3.Validitas Pemberitaan ……….50
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………... 57
5.1 Kesimpulan ……… 57
5.2 Saran ……….. 58
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. K o n s ep O b j e k t iv ita s W e s t e r sh a l … ………. 19 Gambar 2. Kerangka Berpikir Penelitian ………..… … … . … . . … 3 2 G a m b a r 3 . K a t eg o r i s a s i A k u ra si P e m b e ri t a a n . … …… … . . . … …… … . . . 4 1 G a m b a r 4 . A k u ra s i S u b K a t eg o r i K e s e s u a i a n J u d u l
d e n g a n Is i b e ri ta … … … . 4 2 G a m b a r 5 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i
P e n ca n tu m a n W a k t u T e r ja d i n y a … … …… … … . . . 4 3 G a m b a r 6 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i
P e n g g u n a a n Da ta P e n d u k u n g … … … …… … … . … … . … 4 4 G a m b a r 7 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i
P e n g g u n a a n Da ta P e n d u k u n g … … … …… … … . … . 4 5 G a m b a r 8 . A k u ra s i P e m b e r i ta a n S ub Ka t e g o r i
F a k tu a l i t a s B e r i ta … … … . … … … 4 6 G a m b a r 9 . K a t eg o r i s a s i F a i r n e s s … … … . . … …… … . … 4 7 G a m b a r 1 0 . Fa i rn e s S ub Ka t eg o ri
P en g g u n a a n S u mb e r B e r i ta … … … 4 8 G a m b a r 1 1 F a i r n e ss S ub Ka t eg o ri
K e t i d a k b e r p i h a k a n D a l a m Lu a s K o l o m… … … . …… … . . … 5 0 G a m b a r 1 2 . Ka t eg o r i s a s i Va l i d i ta s P e m b e r i ta a n …… … . … …… … … … . 5 1 G a m b a r 1 3 . Va li d ita s S u b K a te g o ri
ABSTRAKSI
Cleveland Ronaldo Fatrik Yomaki, OBJEKTIVITAS BERITA INSIDEN JEMAAT HKBP CIKETING (Studi Analisis Isi Kuantitatif Deskriptif Objektivitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos periode 13 September - 21 September 2010)
Pada pedoman Ilmu Jurnalistik, syarat-syarat kelayakan berita adalah: fakta, Obyektif, balance, akurat dan lengkap. Namun jurnalis bukanlah robot yang dapat diprogram senantiasa melaporkan fakta secara apa adanya, sedangkan berita sangat potensial dalam membentuk opini publik. Untuk itu objektivitas berita penting untuk diteliti melalui penelitian deskriptif dengan menggunakan metodologi Riset Kuantitatif dalam metode Analisis Isi melalui Kategorisasi Objektivitas Pers milik Rachma Ida guna mengukur Akurasi Pemberitaan, Fairness dan Validitas Pemberitaan terhadap Objektivitas Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Harian Jawa Pos periode 13 September – 21 September 2010.
Dalam penelitian ini disimpulkan, Jawa Pos dalam memberitakan Berita tentang konflik Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Harian Jawa Pos periode 13 September – 21 September meskipun telah menerapkan prinsip Objektivitas Pers dalam Kategorisasi Akurasi dan Validitas, namun dalam kategorisasi Fairness, Jawa Pos dinilai belum memenuhi pedoman Objektivitas dalam menyajikan berita konflik Insiden Jemaat HKBP Ciketing kepada publiknya
Kata Kunci : Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing Bekasi, Objektivitas
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan
dari komunikator pada khalayak. Masyarakat haus akan informasi, sehingga
media massa sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hingga saat ini, media massa
dengan mudah kita dapati. Dalam era globalisasi dimana informasi menjadi
kebutuhan, media massa menjadi solusinya. Sampai-sampai ada kelompok baru,
yaitu kelompok kognitariat, kelompok yang selalu membutuhkan informasi dari
media massa.
Media massa terdiri dari media massa cetak, dan media massa elektronik.
Media massa cetak terdiri dari majalah, surat kabar, dan buku. Sedangkan media
massa elektronik terdiri dari televisi, radio, film, internet, dan lain–lain. Media
cetak seperti, majalah, buku, surat kabar justru mampu memberikan pemahaman
yang tinggi kepada pembacanya, karena ia sarat dengan analisa yang mendalam
dibanding media lainnya (Cangara, 2005:128)
Pada konteks komunikasi, perubahan-perubahan sikap dan perilaku individu
ataupun masyakat, secara umum dipengaruhi oleh, ataupun merupakan efek dari
adanya penyebaran pesan-pesan melalui proses komunikasi (Newcomb, 1985:
2
secara umum media massa memiliki efek potensial yang sangat besar pada
khalayaknya (Muhtadi, 2008:35).
Mengutip Agus Sudibyo (2001:259), bahwa pemberitaan di media senantiasa
dirumuskan sarat dengan muatan-muatan etika, moral dan nilai-nilai. Namun bila
kembali menilik pada pedoman Ilmu Jurnalistik, syarat-syarat kelayakan berita
mengacu pada: fakta (real event, statement dan expert opinion), Obyektif (tidak
pernah lepas dari data dan fakta), balance (tidak memihak/cover both side), akurat
dan lengkap (unsur 5W+1H).
Maka menjadi pertanyaan besar, lanjut Sudibyo, bila para jurnalis sendiri
bukanlah robot yang dapat diprogram untuk senantiasa melaporkan fakta secara
apa adanya. Sehingga pada gilirannya, media bukan saja berfungsi sebagai saluran
informasi, tetapi juga berperan sebagai kekuatan sosial yang ikut menentukan
perubahan - perubahan dalam masyarakat.
Secara teoritis, terdapat lima fungsi utama Pers (Jurnal dasar-dasar Ilmu
Jurnalistik): sebagai sarana mediasi, bertujuan memberikan informasi yang aktual
dan faktual, bertujuan untuk mendidik, menghibur dan terakhir, melaksanakan
kontrol sosial antara masyarakat dengan pemerintah.
Di Indonesia, kebebasan pers dan jurnalis dalam hak serta etika profesinya,
diatur dan dilindungi oleh Kode Etik Perusahaan Pers (Soehoet, 2002: 42) dan
Kode Etik Jurnalistik dimana keduanya diatur lebih dalam melalui UU Republik
Indonesia no. 32 thn 2002 tentang Penyiaran. Berdasarkan perkembangan Ilmu
3
lebih dahulu menentukan sikap dalam memandang fakta pada media massa
sebagai cermin realita yang harus dibangun atas fakta real, media massa bersifat
netral, jurnalis dalam melaporkan peliputan tidak mencampurkan nilai dan
ideologinya, jurnalis menempatkan diri sebagai pelapor berita dengan apa adanya
dimana berita yang dilaporkan bersifat adil, cover both side, obyektif dan
menghindari penggunaan bahasa ambiguitas.
Doris Graber dalam bukunya Mass Media and American Politics (1984: 10)
menyebutkan bahwa media bukanlah ranah yang netral dimana berbagai
kepentingan dan pemaknaan dari berbagai kelompok akan mendapat perlakuan
yang sama dan seimbang. Media justru bisa menjadi subyek yang mengkonstruksi
realitas berdasarkan penafsiran dan definisinya sendiri untuk disebarkan pada
khalayak (201:55).
Sejumlah pemberitaan setiap hari menyebar kepenjuru dunia melalui
media massa. Masyarakat dunia seakan ikut terlibat dalam tiap peristiwa hanya
karena informasi serta pesan yang diserapnya melalui media massa. Belum lagi
atas pertimbangan aktualitas berita yang mampu menaikkan oplah, membuat
hampir seluruh media massa menempatkan berita-berita tersebut menjadi
Headline ataupun tajuk rencana
Dewasa ini, pemberitaan di media massa didominasi dengan tema-tema berita
yang berisikan kejahatan, masalah-masalah moral masyarakat serta kecelakaan
dan bencana alam. Yang paling hangat dan menjadi pembicaraan adalah
4
Bekasi. Secara constant, seluruh media massa mengangkat topik ini menjadi
headline atau berita utama. Kejadian yang sejatinya mematahkan arti dari Bhineka
Tunggal Ika yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia ini, mengundang banyak
perhatian masyarakat yang berasal dari berbeda-beda latarbelakang.
Disinilah arti penting dari objektifitas berita serta arah ataupun model
pemberitaan yang disajikan media massa. Karena realitas media massa mampu
membangun realitas kenyataan di benak khalayaknya. Untuk itu media massa
sangat diharapkan menjadi penyaji fakta, netral dan obyektif.
Objektif ataupun tidaknya sebuah berita di media massa sangatlah sensitif,
dampak sebuah pemberitaan di media massa bukan hal yang patut diremehkan.
Bilamana terdapat sebuah pemikiran negatif masuk kedalam nalar melalui tulisan
yang disebarluaskan melalui media massa, yang sakit, marah, atau terkena
dampaknya mampu melingkupi satu golongan masyarakat. Yang bisa angkat
senjata, lalu yang mati pun bisa mencapai ribuan. Sebuah tulisan media massa
yang berakibat fatal, antara lain sebuah artikel yang tidak sensitive ataupun
sebuah gambar pria sangar, bersorban, dan mengacungkan pedang di sebuah
koran di Indonesia, juga sempat membuat makin meruncingnya perang antar
agama di Maluku (2000).
Tulisan berita yang objektif sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk mampu
melihat fakta yang sebenarnya terjadi atas suatu peristiwa. Tulisan yang objektif
membantu masyarakat untuk mencari kesimpulan sendiri atas sebuah kejadian
5
Pemberitaan pers atas suatu konflik selalu memiliki dua dampak, mendorong
terciptanya perdamaian antara pihak yang berkonflik atau sebaliknya,
mempertajam konflik. Kebangkitan jurnalisme sejak era reformasi 1998, telah
mendorong pers Indonesia cenderung kebablasan. Pemberitaan umumnya bersifat
bombastis, dengan judul-judul profokatif dan foto-foto yang menyulut kebencian,
terutama yang berkaitan dengan suku, agama, dan ras (SARA).
Pers pula pada dasarnya memiliki idealisme yang sesuai dengan visi misinya
sendiri. Namun setiap saat pers juga diperhadapkan pada situasi pedang bermata
dua, antara fungsi idealisme yang diyakininya dengan tuntutan komersialitas atas
pemberitaan, karena bagaimanapun idealisnya sebuah lembaga pers, dia tetaplah
sebuah perusahaan yang berorientasi pada profit sehubungan tanggungjawabnya
atas kesejahteraan pekerjanya.
Insiden koflik antar agama yang terjadi pada 12 september 2010 di Ciketing,
Bekasi menjadi sangat penting dan menarik untuk diangkat menjadi topic
penelitian karena pemberitaan atas insiden ini menjadi sangat riskan karena harus
benar-benar berada disisi yang netral. Kesalahan dalam pemberitaan dengan
keberpihakan dalam tulisan di media massa memiliki kemampuan untuk memicu
meluasnya konflik ini.
Tanpa pemberitaan yang memihak pun, kejadian ini sudah cukup memiliki
kandungan konflik yang tinggi karena terdapat perselisihan antara 2 agama
6
tingkat readership tertinggi di Indonesia yang memiliki pengaruh yang besar
terhadap setiap terbitannya atas khalayak pembacanya.
Karena meski telah terdapat regulasi, teori ilmu serta kode etik yang jelas dan
tepat sasaran, bukan berarti kenyataan yang terjadi dalam media massa di
Indonesia sudah sejalan dengan aturan-aturan diatas. Melalui penelitian analisis isi
atas media massa terbesar di Indonesia dengan oplah mencapai 400.000 pada
pemberitaan insiden Jemaat HKBP di Ciketing, Bekasi dan pemanfaatan Ilmu
Komunikasi Media Massa dapat diperoleh secara tepat implementasi di lapangan
atas objektifitas pers dari harian Jawa Pos yang menjadi subyek penelitian.
1.2. Perumusan Masalah
Pokok permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimanakah Objektifitas
Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing di Jawa Pos edisi 13 September sampai
dengan 21 September 2010?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Obyektifitas Berita Insiden Jemaat
HKBP Ciketing di Jawa Pos edisi 13 September sampai dengan 21 September
7
1.4. Manfaat Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan Studi Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Jurnalistik melalui upaya mengkaji Obyektifitas
Pemberitaan pers dalam pemberitaan di media massa. Serta sebagai suatu
bukti bahwa penelitian tentang analisis isi memiliki peran penting dalam
teori dan metodologi sebagi fenomena komunikasi.
2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para jurnalis,
berkaitan dengan perannya dalam mengkonstruksi berita di media massa,
mengingat pengaruhnya dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat.
3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi
perusahaan pers pada pertimbangan dalam menyajikan berita, sehubungan
fungsinya sebagai pengawas dan kontrol sosial diantara masyarakat dan
8
BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL
2.1 Media Massa
Media massa merupakan “kependekan” dari komunikasi massa. Media
massa lahir untuk menjembatani komunikasi antar massa. Massa adalah
masyarakat luas yang heterogen, tetapi saling bergantung satu sama lain.
Ketergantungan antar massa menjadi penyebab lahirnya media yang mampu
menyalurkan hasrat, gagasan dan kepentingan masing - masing agar diketahui dan
dipahami oleh yang lain. Penyaluran hasrat, gagasan dan kepentingan tersebut
dinamai pesan (message). Dengan demikian, pada hakikatnya media massa adalah
saling-silang pesan antar massa. Oleh karena itu, kita patut memahami posisi
(kedudukan) media massa dan saling - silang pesan. (Pareno: 2005,7). Media
massa yang kita kenal saat ini adalah:
a. Media cetak, terdiri dari surat kabar, tabloid, majalah.
b. Media elektronik, terdiri dari radio siaran, televisi siaran (Abdullah: 2001, 9)
Menurut Pareno (2005:7) dalam berbagai wacana tentang fungsi media
massa, disebutkan empat fungsi media massa yaitu : penyalur informasi, fungsi
mendidik, fungsi menghibur, dan fungsi mempengaruhi. Keempat fungsi tersebut
melekat dalam media massa secara utuh, dalam arti luas harus dilaksanakan secara
bersama-sama, tidak boleh mengutamakan satu atau dua fungsi tapi mengabaikan
9
Media juga mengubah bentuk kontrol sosial. Paul Lazarsfeld dan Robert
K. Merton (Rivers dan Peterson, 2003:39) juga melihat media dapat
menghaluskan paksaan sehingga tampak sebagai bujukan. Mereka mengatakan
bahwa kelompok-kelompok kuat kian mengandalkan teknik manipulasi melalui
media untuk mencapai apa yang diinginkannya, termasuk agar mereka bisa
mengontrol secara lebih halus.
Sebagai suatu sistem, media massa berinteraksi dengan system-system
sosial, politik, dan ekonomi. Sistem media massa dengan sistem tersebut saling
mempengaruhi dan saling bergantung. Artinya, sistem media massa tidak dapat
berjalan apabila system-system lainnya itu juga tidak dapat berjalan sebagaimana
mestinya. Demikian juga sebaliknya, sistem sosial ataupun sistem politik atau
juga system ekonomi tidak berfungsi manakala sistem media massa juga tidak
berfungsi. (Pareno: 2005, 69)
2.1.1 Surat Kabar
Salah satu komunikasi massa dalam bentuk media cetak adalah surat
kabar. Dengan sendirinya surat kabar juga mempunyai fungsi-fungsi komunikasi
massa. Hal ini dapat diketahui batasan ataupun kriteria standard surat kabar.
Menurut Assegaf (1991: 140) surat kabar adalah penerbitan yang berupa
lembaran yang berisi berita-berita, karangan-karangan dan iklan yang dicetak dan
10
mempunyai beberapa karakteristik. Menurut Pareno (2005 : 24) karakteristik surat
kabar adalah sebagai berikut :
a. Berita merupakan unsur utama yang dominan.
b. Memiliki ruang yang relatif lebih leluasa.
c. Memiliki waktu untuk “dibaca ulang” lebih lama.
d. Umpan balik relatif lebih lamban.
e. Kesegaran (immediately) relatif lebih lamban.
f. Dalam hal kenyataan relatif kurang kredibel.
g. Ditentukan oleh jalur distribusi.
Ada beberapa alasan orang membaca surat kabar. Seseorang ingin tahu
sesuatu karena berbagai alasan : untuk meraih prestise, menghilangkan
kebosanan, agar merasa lebih dekat dengan lingkungannya, atau untuk
menyesuaikan perannya di masyarakat. Bagi sebagian orang, koran merupakan
sumber informasi dan gagasan tentang berbagai masalah publik yang seruis. Bagi
sebagian yang lain, koran bukan untuk mencari informasi, melainkan untuk
mengisi rutinitas. Sebagian pembaca juga menjadikan koran sebagai alat kontak
sosial. Ada pula yang menjadikan koran untuk membuang kejenuhan dari
kehidupan sehari-hari. (Rivers dan Peterson, 2003: 313).
2.1.2 Berita
Berita berasal dari bahsa sansekerta Vrit yang dalam bahasa Inggris
disebut Write yang arti sebenarnya adalah ada atau terjadi .Ada juga yang
11
kamus besar ,berita berarti laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang
hangat. Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang
benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media
berkala seperti surat kabar, radio, televisi,atau media on-line internet.
News (berita) mengandung kata new yang berarti baru. Secara singkat
sebuah berita adalah sesuatu yang baru yang diketengahkan bagi khalayak
pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, news adalah apa yang surat kabar atau
majalah cetak atau apa yang para penyiar beberkan. Menurut Dean M. Lyle
Spencer Berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik
perhatian sebagian besar dari pembaca.
Menurut Willard C. Bleyer : Berita adalah sesuatu yang termasa ( baru )
yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar. Karena itu berita
dapat menarik atau mempunyai makanan bagi pembaca surat kabar, atau karena
itu dapat menarik pembaca-pembaca tersebut.
Menurut William S Maulsby : Berita adalah suatu penuturan secara benar
dan tidak memihak dari fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang
dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.
Menurut Eric C. Hepwood : Berita adalah laporan pertama dari kejadian yang
penting yang dapat menarik perhatian umum.
Sedangkan Dja’far H Assegaf mengungkapkan bahwa berita adalah
laporan tentang fakta atau ide yang termasa (baru), yang dipilih oleh staff redaksi
12
karena luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena
mencakup segi–segi human interest seperti humor, emosi dan ketegangan.
Menurut J.B. Wahyudi : Berita adalah laporan tentang peristiwa atau
pendapat yang memilki nilai penting, menarik bagi sebagian khalayak, masih baru
dan dipublikasikan melalui media massa periodic. Definisi berita yang lainnya
juga dating dari Amak Syarifuddin : yang menyatakan berita sebagai suatu
laporan kejadian yang ditimbulkan sebagai bahan yang menarik perhatian publik
media massa.
Dari sekian definisi atau batasan tentang berita itu, pada prinsipnya ada
beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dari definisi tersebut. Yakni:
Laporan kejadian atau peristiwa atau pendapat yang menarik dan penting
disajikan secepat mungkin kepada khalayak luas.
Dalam berita juga terdapat jenis-jenis berita yaitu:
1. Straight News: berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas.
Sebagian besar halaman depan surat kabar berisi berita jenis ini,
jenis berita Straight News dipilih lagi menjadi dua macam:
a) Hard News: yakni berita yang memiliki nilai lebih dari segi aktualitas dan
kepentingan atau amat penting segera diketahui pembaca.
Berisi informasi peristiwa khusus (special event) yang terjadi secara
tiba-tiba.
b) Soft News, nilai beritanya di bawah Hard News dan lebih merupakan berita
13
2. Depth News: berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal
yang ada di bawah suatu permukaan.
3. Investigation News: berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau
penyelidikan dari berbagai sumber.
4. Interpretative News: berita yang dikembangkan dengan pendapat atau
penelitian penulisnya/reporter.
5. Opinion News: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para
cendekiawan, sarjana, ahli, atau pejabat, mengenai suatu hal, peristiwa,
kondisi poleksosbudhankam, dan sebagainya.
2.1.2.1. Bagian Berita
Secara umum, berita mempunyai bagian-bagian dalam susunannya yaitu:
a) Headline.
Biasa disebut judul. Sering juga dilengkapi dengan anak judul. Ia berguna
untuk:
(1) Menolong pembaca agar segera mengetahui peristiwa yang akan
diberitakan.
(2) Menonjolkan satu berita dengan dukungan teknik grafika.
b) Dateline
Ada yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan tanggal
kejadian. Ada pula yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan
tanggal kejadian. Tujuannya adalah untuk menunjukkan tempat kejadian dan
14
c) Lead
Lazim disebut teras berita. Biasanya ditulis pada paragraph pertama sebuah
berita. Ia merupakan unsur yang paling penting dari sebuah berita, yang
menentukan apakah isi berita akan dibaca atau tidak. Ia merupakan sari pati
sebuah berita, yang melukiskan seluruh berita secara singkat.
d) Body
Atau tubuh berita. Isinya menceritakan peristiwa yang dilaporkan dengan
bahasa yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian body merupakan
perkembangan berita. Dalam Berita Harus terdapat unsur-unsur 5W 1H yaitu :
(1) What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
(2) Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
(3) Where - di mana terjadinya peristiwa itu?
(4) When - kapan terjadinya?
(5) Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
(6) How - bagaimana terjadinya?
(7) What next - terus bagaimana?
2.2. Objektivitas Berita
Berita sebagai alat kontrol social. Maksud berita sebagai alat kontrol sosial
adalah: memberitakan peristiwa yang buruk, keadaan yang tidak pada tempatnya
dan ihwal yang menyalahi aturan, supaya peristiwa buruk tidak terulang lagi dan
kesadaran berbuat baik serta mentaati peraturan makin tinggi. Makanya berita
15
Selama ini ada pendapat yang dianut oleh banyak orang bahwa berita buruk
akan melahirkan hal yang buruk pula. Misalnya: berita menyeluruh tentang
gerakan Papua Merdeka dikhawatirkan akan mengancam persatuan nasional.
Tetapi, akhir-akhir ini, di negara maju, berkembang pendapat bahwa berita buruk
justru melahirkan pelajaran yang baik untuk memperkuat nilai dan identitas
kolektif yang sudah dimiliki (Ericson, Baranek dan Chan 1987: 65). Sebab,
khalayak cenderung memproyeksikan keadaan yang mereka lihat pada diri
mereka. Begitu mereka melihat kehidupan gerakan Papua Merdeka yang tidak
enak dan tidak tentram, saat itu pula mereka tidak ingin meniru mereka.
Pada sisi yan lain, penyiaran berita buruk tentang sebuah lembaga pemerintah
bisa melahirkan opini publik yang baru dan citra yang baru pula tentang lembaga
pemerintah tersebut. Biarpun begitu, ia bisa merangsang gagasan-gagasan dari
khalayak untuk ikut membantu memperbaiki lembaga pemerintah tersebut. Kalau
berita itu tidak disiarkan, bukan mustahil gagasan-gagasan khalayak untuk
memperbaiki lembaga tersebut tidak muncul.
Bagi individu yang terlibat langsung dalam sebuah berita buruk penyiaran
beritanya akan membuat ia selalu ingat bahwa khalayak tahu ia pernah teledor dan
khilaf. Ingatan ini akan membuatnya berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan
yang sama. Ini dimungkinkan karena sesungguhnya seorang individu akan merasa
gundah dan resah bila khalayak tahu ia pernah berbuat salah.
Kalau selama ini ada kekhawatiran bahwa berita sebagai kontrol sosial akan
16
menimbulkan pendapat bahwa berita sebagai kontrol sosial lebih banyak
mendatangkan keuntungan daripada kerugian. Salah satu keuntungan itu adalah
merangsang timbulnya gagasan-gagasan khalayak.
Sesungguhnya yang menjadi batas pemberitaan resmi di Indonesia ada tiga,
yaitu Undang-Undang, Kode Etik Jurnalistik dan Code of Conduct yang dimiliki
media pers. Undang-Undang membatasi media pers dari hal-hal yang boleh
diberitakan melalui pasal-pasalnya. Ia merupakan hukum positif. Bila ada media
pers yang melanggar, maka ia akan dituntut di pengadilan. Sebuah
Undang-Undang yang harus dipatuhi media pers sekarang adalah Undang-Undang-Undang-Undang No. 40
Tahun 1999.
Kode Etik Jurnalistik membatasi wartawan tentang apa yang baik dan tidak
baik diberitakan. Peraturan ini dikeluarkan oleh asosiasi profesi wartawan. Karena
itu, sanksi bagi pelanggarnya diberikan oleh asosiasi profesi wartawan
bersangkutan. Sanksi ini lebih bersifat moral. Wartawan yang melanggarnya akan
disebut tidak bermoral, dikucilkan dari kehidupan media pers atau diskors.
Sekarang, siapa pun wartawan Indonesia harus mematuhi Kode Etik
Wartawan Indonesia (KEWI) yang sudah disusun bersama-sama oleh berbagai
asosiasi profesi wartawan Indonesia di Bandung, 6 Agustus 1999. KEWI terdiri
atas tujuh pasal, yaitu:
i. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat utnuk memperoleh
17
ii. Wartawan Indonesia menempuh cara yang etis untuk memperoleh dan
menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber
informasi
iii. Wartawan Indonesia menghormati azas praduga tak bersalah, tidak
mencampurkan fakta dan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran
informasi, serta tidak melakukan plagiat.
iv. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta,
fitnah, sadis dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan
susila.
v. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan
profesi.
vi. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan embargo,
informasi latar belakang dan off the record sesuai kesepakatan.
vii. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam
pemberitaan serta melayani hak jawab.
Code of Conduct, dalam pada itu, merupakan peraturan yang dikeluarkan oleh
sebuah media pers tentang apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Ia
mengikat wartawan sebagai pekerja di sebuah media pers. Karena itu, sanksi bagi
pelanggarnya diberikan oleh media pers yang menerbitkan Code of Conduct itu.
Tidak jarang sanksi itu lebih keras dari sanksi yang diberikan oleh asosiasi profesi
18
Dengan ketiga batas pemberitaan di atas terlihat bahwa media pers tidak
bebas begitu saja menyiarkan berita. Ada peraturan-peraturan yan membatasinya
menyiarkan berita kepada khalayak. Kalau ada pihak yang mengatakan bahwa
media pers sangat bebas, itu tidak benar. Media pers memiliki berbagai batasan
pemberitaan. Justru karena batasan pemberitaan itulah diaeksis sebagai kekuatan
keempat (fourth estate), setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Media massa senantiasa dituntut mempunyai kesesuaian dengan realitas
dunia yang benar-benar terjadi, agar gambar realitas yang ada dibenak khalayak –
the world outside and the pictures in our head, tidaklah bias dikarenakan
informasi media massa tidak kontekstual dengan realitas.
Media massa yang sarat dengan informasi adalah pers. Pers merupakan
cermin realitas karena pers pada dasarnya lebih menekankan fungsi sebagai sarana
pemberitaan. Isi pers yang utama adalah berita. Fakta dan realitas adalah bagian
yang tidak dapat dipisahkan dari konsep objektivitas. Oleh karena itu, jika
terdapat sebuah paradigma yang berkaitan dengan ilmu jurnalistik, pasti
ditemukan sebuah paradigma yang mensyaratkan adanya konsep obyektvitas
dalam penyajian berita.
Pers senantiasa dituntut mengembangkan pemberitaan yang objektiv, yaitu
“reporting format that generally sepates fact from pinion presents an emosionally
detached view of the news, and strives for fairness and ballanced” ( DeFleur,
1994: 635).
Dalam jurnalisme, kebenaran tidaklah bisa diklaim oleh satu pihak, namun
19
pemberitaan disurat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan kebenaran secara
fairness. Yaitu salah satu syarat objektivitas yang juga sering disebut sebagai
pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang terlibat
sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran (Siebert,
1986:100). Menyajikan semua pihak disini berarti memiliki data sumber berita
serta luas kolom yang seimbang, barulah sebuah berita memenuhi sebuah
pemberitaan yang objektiv .
Selain fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat,
tidak bohong, menyatakan fakta bila itu memang fakta, dan pendapat bila itu
memang pendapat (Siebert, 1986: 100).
Jurgen Westerstahl menjabarkan konsep objektivitas pada bagan berikut :
Objectivity
Faktuality Impartiality
Truth Relevance Ballance/non - partisanship
Neutral presentation
20
Westerstahl mengajukan komponen utama obyektivitas berita dalam
observasinya “ Maintaining objectivity in the dissemination of news can, it seems
to me, most easily be defined as “adherence to certain norms or
standards”(Westerståhl, 1983:403).
Kefaktualan dikaitkan dengan bentuk penyajian laporan tentang peristiwa
atau pernyataan yang dapat di cek kebenarannya pada sumber dan disajikan tanpa
komentar. Impartialitas dihubungkan dengan sikap netral wartawan/reporter, suatu
sikap yang menjauhkan setiap penilaian pribadi dan subyektif demi pencapaian
sasaran yang diinginkan.
Ada jurnalis yang hanya saja menempatkan objektivitas sebagai simbol
keyakinan didalam pekerjaannya, dan ada pula jurnalis yang
mengoperasionalisasikan objektivitas dalam rutinitas tugas serta
tanggungjawabnya sehari-hari ( charllote, 2006: 3).
Unsur lain dalam objektivitas adalah akurasi. Dalam akurasi dituntut
adanya kesesuaian judul berita dengan isi berita itu sendiri. Akurasi juga
mencakup adanya pencantuman waktu peristiwa dan kejadian yang jelas serta
yang menambah nilai keakuratan sebuah berita adalah adanya data pendukung
berita yang berupa table, graphic ataupun foto. Yang terutama dalam nilai akurasi,
sebuah berita tidak boleh mencampurkan antara fakta dengan opini yang ada
dalam sebuah penulisan berita (kriyantono, 2009:247)
Yang tidak kalah penting dan menjadi bagian dari objektivitas berita
21
seharusnya memiliki keterangan atribut sumber berita yang jelas dan juga berasal
dari pelaku yang terkait langsung dengan kejadian pemberitaan.
Objektivitas, betapapun sulitnya harus diupayakan oleh insan pers.
Objektivitas berkaitan erat dengan kemandirian pers sebagai institusi sosial, hal
ini penting mengingat signifikasi efek media terhadap khalayak.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional
Penelitian ini menggunakan metodologi riset kuantitatif yang
mengharuskan peneliti bersikap obyektif dan memisahkan diri dari data, karena
riset ini menggambarkan suatu masalah yang hasilnya dapat digeneralisasikan.
Berdasarkan metodologi diatas, penelitian ini menggunakan metode
analisis isi yang digunakan untuk menganalisis isi pesan yang tampak, dengan
cara sistematik dan obyektif. Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian
deskriptif yang bertujuan membuat deskripsi secara sistimatik, factual dan akurat
atas fakta serta sifat yang dimiliki suatu populasi yang diteliti.
3.1.1. Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing
Subyek pada penelitian ini adalah surat kabar nasional, Jawa Pos, dengan
kantor penerbitan yang bertempat di kota Surabaya, Jawa Timur. Harian Jawa Pos
hingga kini memiliki tiras tidak kurang dari 400.000 eksemplar yang menjadikan
media ini menjadi surat kabar dengan oplah nomor 1 di Indonesia. Dengan
pertimbangan tiras sebesar itu, menunjukkan bahwasannya Jawa Pos memiliki
jumlah pembaca yang besar, meluas di masyarakat khususnya di Jawa Timur
dengan tingkat readership mencapai 96% (Nielsen 2009) dari masyarakat
mayoritas memeluk agama muslim sehingga sangat mampu memunculkan opini
publik yang cukup signifikan.
23
24
Sedangkan Obyek penelitian ini adalah seluruh berita insiden jemaat
HKBP Ciketing yang berawal dari kejadian penyerangan pada Minggu 12
September 2010 dan muncul menjadi headline di Jawa Pos pada 13 September
2010, pemberitaan insiden ini terus menjadi topik bahasan utama dan tulisan news
in depth di media ini lebih dari satu pekan. Batasan ini berdasarkan pertimbangan
aktualitas dari fenomena konflik yang termassa bagi masyarakat Indonesia, yakni
insiden jemaat HKBP Ciketing, Bekasi.
Mengingat insiden ini menyangkut nilai SARA yang sangat rentan serta
performance kinerja kepolisian dalam menangani kasus khusus seperti ini,
menjadikan berita insiden ini mampu memiliki daya tarik pembaca yang besar,
memiliki nilai berita yang tinggi dan sesuai dengan khalayak harian Jawa Pos
yang besar dan luas.
3.2. Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini menggunakan unit referens, yaitu rangkaian
kata, kalimat atau paragraf yang menunjukkan sesuatu yang mempunyai arti
sesuai dengan kategori yang digunakan. Unit Referens ini digunakan untuk
menganalisis penggunaan data pendukung, ketidakberpihakan pemberitaan serta
validitas keabsahan pemberitaan, akurasi melalui pencampuran antara fakta
ataupun opini, maka baru dapat diketahui objektifitas pemberitaan pers yang
25
3.3. Kategorisasi Objektifitas Pers
Dari berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing yang dianalisa, kemudian penulis
mengklasifikasikannya berdasarkan kategori yang telah dibuat dan disesuaikan
agar diperoleh hasil akurat, karena validitas metode dan hasil-hasilnya sangat
bergantung dari kategori-kategorinya. Dengan demikian penelitian menggunakan
kategorisasi yang digunakan oleh Rachmah Ida, PhD untuk menganalisis
objektivitas berita insiden jemaat HKBP Ciketing, Bekasi dengan skala nasional
dari surat kabar Jawa Pos dengan tiras minimal 400.000 eksemplar.
a. Kategori akurasi pemberitaan, yaitu menyangkut aspek relevansi, apakah
kalimat judul merupakan bagian dari kalimat yang sama pada isi berita
atau kutipan yang jelas-jelas ada dalam isi berita. Ketepatan mengacu pada
judul utama headline, bukan sub judul. Dengan demikian, konsep ini
dibagi dalam:
1) Kesesuaian judul berita dengan isi berita. Ini menyangkut aspek
relevansi, yakni apakah kalimat judul merupakan bagian dari kalimat
yang sama pada isi berita. Selain itu dalam judul atau isi berita itu,
apakah terdapat penggunaan kata atau kalimat denotatif serta
penggunaan tanda baca yang mengesankan makna ganda. Ketepatan
mengacu pada judul utama headline, bukan sub judul. Dengan
26
a) Sesuai, yaitu apabila judul merupakan bagian dari kalimat yang
sama pada isi berita atau kutipan yang jelas-jelas ada dalam isi
berita.
b) Tidak sesuai, yaitu apabila judul bukan merupakan bagian dari
kalimat yang sama pada isis berita, atau bukan merupakan kutipan
yang jelas-jelas ada.
2) Pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa. Konsep ini untuk
melihat akurasi fakta atau opini, yaitu apakah mencantumkan tanggal
atau adanya kata-kata yang menunjukkan waktu terjadinya peristiwa
atau wawancara. Terdapat dua kategori dalam dua konsep ini, yaitu:
a) Dicantumkan waktu, yaitu apabila dalam tulisan mencantumkan
tanggal, pencantuman kata-kata atau pernyataan tentang waktu
atau keduanya, yaitu mencantumkan tanggal dan kata-kata.
b) Tidak dicantumkan waktu, yaitu jika dalam tulisan itu tidak
mencantumkan baik tanggal ataupun kata-kata yang menunjukkan
waktu.
3) Penggunaan data pendukung atau kelengkapan informasi atas kejadian
yang ditampilkan. Kelengkapan data pendukung antara lain
menggunakan: tabel, statistik, foto, ilustrasi gambar dan lain-lain.
27
a) Ada data pendukung, yaitu apabila tulisan itu dilengkapi dengan
salah satu data pendukung, seperti foto peristiwa, tabel, statistik
(angka-angka) dan data referensi (buku, UU, Peraturan
Pemerintah dan lain-lain).
b) Tidak ada data pendukung, yaitu apabila tulisan itu sama sekali
tidak dilengkapi dengan data pendukung, seperti foto peristiwa,
tabel, statistik (angka-angka) dan dat referensi (buku, UU,
Peraturan Pemerintah dan lain-lain).
4) Faktualitas berita, yaitu menyangkut ada tidaknya pencampuran fakta
dengan opini wartawan yang menulis berita. Konsep ini dibagi atas
dua kategori, yaitu:
a) Ada pencampuran fakta dan opini, yaitu apabila dalam artikel
berita itu terdapat kata-kata opinionative, seperti: tampaknya,
diperkirakan, seakan-akan, terkesan, kesannya, seolah, agaknya,
diperkirakan, diramalkan, kontroversi, mengejutkan, manuver,
sayangnya, dan kata-kata opinionative lainnya.
b) Tidak mencampur fakta dan opini, yaitu apabila dalam artikel
berita itu tidak terdapat kata-kata opinionative, seperti:
tampaknya, diperkirakan, seakan-akan, terkesan, kesannya,
seolah, agaknya, diperkirakan, diramalkan, kontroversi,
mengejutkan, manuver, sayangnya, dan kata-kata opinionative
28
b. Fairness atau ketidakberpihakan pemberitaan, yaitu yang menyangkut
keseimbangan penulisan berita yang meliputi:
1) Ketidakberpihakan, dilihat dari sumber berita yang digunakan, yaitu:
a) Seimbang, yaitu apabila masing-masing pihak yang diberitakan
diberi porsi yang sama sebagai sumber berita, dilihat dari jumlah
sumber beritanya.
b) Tidak seimbang, yaitu jika masing-masing pihak yang diberitakan
tidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita, dilihat dari
jumlah sumber beritanya.
2) Ketidakberpihakan dilihat dari ukuran fisik luas kolom (centimeters
kolom) yangdipakai, yaitu:
a) Seimbang, yaitu jika luas kolom yang dipakai antara pihak-pihak
yang terlibat dalam pemberitaan memiliki jumlah kesamaan.
b) Tidak seimbang, yaitu jika luas kolom yang dipakai antara
pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah
kesamaan.
c. Untuk mengetahui bagaimana validitas keabsahan pemberitaan, diukur
29
1) Atribusi, yaitu pencantuman sumber berita secara jelas (baik identitas
maupun dalam upaya konfirmasi atau chek dan re chek). Konsep ini
dibagi menjadi:
a) Sumber berita jelas, apabila dalam berita itu sumber berita yang
dipakai dicantumkan identitasnya seperti nama, pekerjaan, atau
sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi.
b) Sumber berita tidak jelas, apabila dalam berita itu tidak
dicantumkan identitas sumber berita seperti nama, pekerjaan, atau
sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi.
2) Kompetensi pihak yang dijadikan sumber berita yang mendapatkan
informasi yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu kronologi
peristiwa (berita yang menyangkut peristiwa dengan kronologi
kejadiannya), apakah berasal dari apa yang dilihat, atau hanya sekedar
kedekatannya dengan media yang bersangkuttan atau karena
jabatannya. Kategori ini dibagi dalam:
a) Wartawan, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil
pengamatan wartawan secara langsung, yaitu mengungkap
informasi sesuai dengan apa yang dilihat, didengar dan diketahui
oleh wartawan itu sendiri.
b) Pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan
hasil wartawan dengan sumber berita yang mengalami peristiwa
30
saksi korban, atau orang yang memang langsung terlibat dengan
peristiwa itu sendiri atau memang ada dilokasi ketika peristiwa itu
terjadi.
c) Bukan pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan
merupakan hasil wawancara dengan sumber berita yang tidak
mengalami langsung peristiwa tersebut. Hanya karena jabatan
atau memiliki akses informasi lalu menjadi sumber berita.
Misalnya petugas humas, juru bicara, kapuspen, atau juga pejabat
yang berwenang tetapi tidak berada dilokasi ketika peristiwa itu
terjadi.
3.5. Populasi, Sample dan Teknik Penarikan Sample 3.5.1. Populasi
Penentuan populasi dalam suatu penelitian merupakan upaya bagi peneliti
untuk membatasi ruang lingkup analisisnya. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh berita insiden Jemaat HKBP Ciketing, Bekasi pada harian Jawa Pos
periode 13 September 2010 – 21 September 2010. Selama kurun waktu tersebut,
diperoleh jumlah sebanyak 9 terbitan, Dimana dengan 9 terbitan, terdapat 13 unit
berita insiden Jemaat HKBP Ciketing.
3.5.2. Sample dan Teknik Penarikan Sample
Dalam penarikan sample, tidak ada ketentuan pasti mengenai jumlah
31
representatif atau mampu mewakili secara keseluruhan. Henry Subiakto,
menyatakan, dalam makalah content analysis jika jumlah populasi penelitian
cukup besar, maka untuk mempermudah penelitian, dapat mengambil sample
dengan jumlah 50%, 25%, atau minimal 10% dari keseluruhan populasi (Suyanto,
1995:173).
Dalam kurun periode 13 September 2010 sampai 21 September 2010,
didapatkan populasi sebanyak 9 terbitan dan didalamnya terdapat 13 unit berita
insiden jemaat HKBP. Dalam penelitian ini, diambil sample sebesar 100% atau
seluruh populasi (total sampling) yang berjumlah 13 unit berita.
Selanjutnya penelitian ini dimulai dengan terlebih dahulu memasukkan
semua unit berita insiden jemaat HKBP Ciketing dari tiap terbitan Jawa Pos sesuai
masa periode yang telah ditentukan terlebih dahulu oleh peneliti, dengan secara
sistematis dan berurutan, dilakukan pencatatan kode pada tiap unit berita.
3.6. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini merupakan data primer, yaitu
data yang diambil secara langsung dari harian Jawa Pos yang berupa unit berita
insiden Jemaat HKBP, baik di halaman headlines Jawa Pos, berita utama serta
News in Depth pada periode 13 September 2010 sampai 21 September 2010 yang
terlebih dahulu telah didokumentasikan. Prosedur yang digunakan dalam
penelitian ini adalah: Pertama, dengan melakukan pencatatan terhadap setiap unit
32
Kedua, setiap data dikumpulkan dengan menggunakan lembar koding
untuk memasukkan data-data berdasarkan kategori-kategori yang telah ditentukan
sebelumnya. Dengan metode analisis data yang selanjutnya akan dilakukan proses
penghitungan dan analisis, diinterpertasikan guna memperoleh jawaban dari
permasalahan yang telah dirumuskan, serta untuk mengetahui tujuan penelitian.
3.7. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data, terlebih dahulu data yang terkumpul akan
diuraikan dengan menggunakan lembar koding. Selanjutnya teknik analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi. Data dianalisis dengan
menggunakan tabulasi silang dalam tabel frekuensi. Dari tabulasi tersebut, akan
dilakukan analisis dan perhitungan prosentase atas akurasi, fairness dan validitas
yang diungkapkan dalam berita insiden Jemaat HKBP Ciketing di harian Jawa
33
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Surat Kabar Harian Jawa Pos
Dalam Sejarahnya, Jawa Pos sebagai salah satu harian tertua di Indonesia
mulanya bernama Java Post. Pendiri sekaligus pemilik pertama Jawa Pos adalah
The Chung sen (Soeseno Tejo), sebagai surat kabar harian yang terbit pagi hari
dengan berita-berita umum sebagai ciri utama. Harian ini awal mulanya dikenal
sebagai harian Melayu –TiongHoa Java Post.
Dalam perkembangannya, the Chung Sen pada tahun 1950an memiliki 3 surat
kabar.Satu berbahasa Indonesia serta masing-masing dua yang lainnya berbahasa
Tionghoa dan Belanda.Yang terahkir ini kemudian berubah menjadi Indonesian
Daily News yang berbahasa inggris. Koran yang berbahasa Tionghoa kemudian
berhenti terbit dan ahkirnya tinggallah Jawa Pos sekarang.
Pada 1 April 1982, pengelola Jawa Pos diserahkan pada Dahlan Iskan yang
saat itu menjabat sebagai biro mingguan Tempo di Surabaya. Sejak itu
perkembangan Jawa Pos dengan SIUPP no.069/SK/Mempen/SIUPP/A.7/1986
berkembang hingga kini mencapai oplah 400.000 eksemplar.
Dahlan Iskan, sebagai penemu pertama koran dengan ukuran compact, yang
lebih mudah dibawa oleh pembacanya disaat ukuran koran lainnya di seluruh
34
dinilai oleh Dahlan Iskan lebih menyulitkan pembaca. Ia juga menemukan gaya
bahasa yang sangat dekat, kental dan khas Surabaya dalam menyajikan berita di
Jawa Pos sehingga menjadikan media ini sangat dekat dengan pembacanya,
mudah dipahami sehingga menjadi reverensi bacaan yang baik untuk karakteristik
pembaca koran di Surabaya. Hingga saat ini, gaya bahasa inilah yang
dipertahankan dan dilanjutkan kepada wartawan generasi penerus Jawa Pos.
Dalam pemuatan berita, terdapat penyeleksian dengan melihat
situasi,toleransi,pandangan,jangkauan dan kondisi. Jadi tidak terdapat berdasarkan
tema politik berapa, tema olahraga berapa dan seterusnya. Pemuatan berita
tergantung dari bobotnya. Jawa Pos dalam hal pemberitaan politik memiliki
prinsip bahwa yang diberitakan adalah benar, namun tak semua kebenaran harus
diberitakan.
Dari jumlah oplah yang beredar saat ini, yakni 400.000 eksemplar,
peredarannya meliputi di Surabaya dan sekitarnya sebesar 96,4% dan 60% lainnya
beredar di kota-kota hampir diseluruh Indonesia bagian Timur serta Jawa Tengah
sebesar 10,89%.
Dari segi usia pembaca Jawa Pos terbanyak adalah berusia antara 20-29 tahun
sebanyak 35%. Selanjutnya adalah pembaca berusia 30-39 tahun sebesar 27%
sedangkan kurang dari 19 tahun adalah 15%. (Nielsen)
Dengan daerah penyebaran atau sirkulasi surat kabar yang mencakup jumlah
pembaca sebanyak ini membuat Jawa Pos sangat berperan dalam pembentukan
35
sarat dengan penduduk memeluk agama muslim, ditambah dengan latar belakang
umur dan pembaca yang diatas tadi mendasari digunakannya surat Kabar Jawa
Pos sebagai subjek penelitian dalam analisis isi objektivitas pemberitaan berita
Insiden Jemaat HKBP Ciketing, Bekasi.
Pertimbangan penulis, bahwa latar belakang pembaca pada daerah Jawa
Timur dan dengan kota Surabaya sebagai ibu kotanya yang sangat memenuhi
digunakannya Jawa Pos sebagai media untuk menganalisis teori objektivitasnya
yang didapatkan dari pemberitaan seputar Insiden Jemaat HKBP Ciketing yang
sarat dengan nuansa konflik antar agama ini.
4.2 Penyajian Data dan Analisis Data
Objektivitas dalam penyajian berita merupakan salah satu nilai yang harus di
penuhi oleh jurnalis dalam rangka pemenuhan informasi serta penyampaian
informasi yang benar kepada khalayak ataupun masyarakat. Teori ini didasari atas
pandangan bahwa sebuah kebenaran di media massa tidaklah bisa diklaim oleh
satu pihak saja namun harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak lain.
Inilah mengapa pemberitaan disurat kabar selalu dituntut untuk
mengungkapkan kebenaran secara fairness. Objektivitas yang juga sering disebut
sebagai pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang
terlibat sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran. Selain
fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat, tidak bohong,
36
Hanya belakangan ini, muncul suatu wacana yang memandang objektivitas
sebagai teori yang dikuduskan oleh praktisi jurnalis dan dikristalkan sehingga
aplikasi dalam profesinya sudah sangat jarang ditemui lagi di media massa.
Sesuatu yang ditulis oleh wartawan dan di terbitkan oleh media yang memiliki
prestige akan lebih dipercaya oleh khalayak sebagai fakta sehingga memiliki
kekuatan untuk menimbulkan opini public di mayarakat.
Keyakinan untuk menyajikan berita yang objektiv disampaikan juga oleh
Denis McQuail seorang pakar komunikasi yang mengembangkan konsep
objektivitas ini dari pola objektivitas pemberitaan milik Jurgen Westerthal dengan
membagi dimensi objektivitas kedalam impartial dan factual. Wien Charllote,
seorang dosen komunikasi dari Denmark juga memiliki ketertarikan yang sama
terhadap teori objektivitas ini
Dalam disertasinya dinyatakan bahwa jurnalis saat ini hanya memandang
objektivitas sebagai kepercayaan yang ada namun kurang berperan dalam
tindakan praktis sebagai jurnalis dalam menulis berita. Tidak hanya pakar
komunikasi dari luar saja yang memiliki ketertarikan terhadap Objektivitas
pemberitaan, Ashadi Siregar, Henry Subiakto dan Rachma Ida adalah beberapa
diantara ahli komunikasi di Indonesia yang mengangkat teori objektivitas
pemberitaan sebagai alat ukur untuk memahami media surat kabar harian nasional
yang ada di Indonesia,
Henry Subiakto melakukan analisi isi kuantitatif terhadap 8 surat kabar
37
objektivitaspemberitaan yakni aktualitas,fairness dan validitas pemberitaan. Hasil
temuan data menyimpulkan surat kabar Suara Pembaruan, Kompas, suara
Merdeka, Media Indonesia adalah media massa di Indonesia yang cenderung
objektiv dibandingkan media massa yang lain dalam hal keakurasian pemberitaan,
Validitas Nara Sumbernya dan ketidakberpihakan pada pihak manapun.
Walaupun tidak ada salah satu media yang benar-benar telah menerapkan
prinsip-prinsip jurnalisme obyektif, tapi paling tidak media tersebut dianggap
mampu untuk memisahkan fakta daripada oponi dan dinilai cenderung untuk tidak
melakukan provokasi massa dan sebagainya.
Sementara itu surat kabar Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, dan Surya
masih mengalami persoalan dengan objektivitas. Artinya keempat surat kabar ini
terlihat sekali berpihak pada pihak-pihak tertentu dan berkecenderungan
menggunakan opini wartawan daripada fakta-fakta akan realitas yang se-nyatanya
(library of Airlangga University,2001)
Berangkat dari pertimbangan yang didasari pada pandangan atau paradigma
klasik dimana para jurnalis dalam menyajikan berita selalu mengacu pada fakta
dan selalu bersifat objektif dalam menyajikan liputan menjadi sebuah berita,
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kategorisasi yang dibuat dan
digunakan oleh Rachma Ida.Dosen Komunikasi ini menggunakan prinsip
objektifitas dalam meneliti berita poitik di harian surat kabar nasional yang
38
Rencana pendirian rumah ibadah di tengah-tengah masyarakat Betawi yang
mayoritas muslim menjadi awal sengketa. Peraturan Bersama Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri mensyaratkan sejumlah ketentuan untuk mendirikan rumah
ibadah. Salah satu di antaranya persetujuan lingkungan dengan jumlah minimal
masyarakat sekitarnya.
Sengketa muncul ketika izin lingkungan diberlakukan. Masyarakat
memandang peraturan bersama menteri perlu ditaati sebagai prasyarat dasar.
Sedang dari pihak lain menyadari kesulitan kesulitan untuk mendapatkan izin
lingkungan. Dilakukanlah berbagai cara, termasuk kemungkinan membujuk dan
memberikan berbagai kemudahan kepada masyarakat Semua dilakukan untuk
mendapatkan izin prinsip dari masyarakat guna mendirikan tempat ibadah.
Masyarakat Ciketing Asem kemudian merasa terusik dan ketenteramannya
terganggu. Muncullah berbagai bentuk keberatan, mulai dari pernyataan sikap
sampai demontrasi. Puncuk permasalahannya terjadi penganiayaan yang menuai
protes dari berbagai kalangan. Tidak kurang pejabat negara perlu terlibat dalam
menyelesaikan permasalahan yang muncul. Negara mendapat amanah untuk
memberikan jaminan kepada seluruh warganya dari rasa aman, ketertiban
termasuk dalam menjalankan kehidupan beragama.
Kebebasan beragama memperoleh jaminan pasti dari konstitusi. Para pendiri
Republik Indonesia menyadari benar kemajemukan masyarakat dan bangsa
Indonesia yang dibangun dari berbagai latar belakang suku, ras dan agama. Harus
39
harus dijaga perasaan umat beragama yang lain. Kebebasan dalam beragama,
bukan berarti bebas tanpa batas. Kebebasan beragama harus tetap dalam bingkai
kebersamaan sebagai warga bangsa yang majemuk. Kebebasan beragama
hendaknya tetap dalam kerangka kebhinekatunggalikaan.
Melalui latar belakang diatas, penulis merasa perlu diadakannya sebuah
penelitian yang dapat menggambarkan isi pesan yang Nampak dari
pemberitaan-pemberitaan yang ada di media massa. Terlebih lagi berita yang mengandung
unsur pertikaian 2 agama selalu mengundang banyak perhatian dimasyarakat
manapun di Indonesia.
Dengan mengunakan metode analisis isi kuantitatif terhadap pemberitaan
seputar Insiden Jemaat HKBP di Ciketing Bekasi, mengingat nilainya yang sangat
signifikan dalam mempengaruhi opini public terhadap masing-masing agama
yang bertikai. Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis dimensi-dimensi yang
ada pada objektifitas pemberitaan yakni akurasi pemberitaan, fairness atau ketidak
berpihakan dalam menyajikan sumber berita dalam sebuah pemberitaan serta
validitas pemberitaan pada berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing yang berada
pada terbitan harian Jawa Pos edisi 13 September-21 September 2010.
Melalui dimensi akurasi didapatkan sub dimensi kesesuaian judul berita
dengan isi berita. Dikatakan bahwa sebuah judul berita sesuai dengan isi beritanya
bilamana dalam isi pemberitaan ditemukan kata-kata yang sama seperti judul
40
Ada tidaknya pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa yang diberitakan
yang dapat berupa angka maupun kata-kata yang menunjuk pada tanggal
peristiwa. Penggunaan data pendukung yang dapat berbentuk daftar table, foto
pendukung, berita, ilustrasi gambar serta data-data lain dari sumber yang terkait
dengan peristiwa yang diberitakan. Yang terakhir adalah ada tidaknya
pencampuran antara fakta dan opini.
Melalui dimensi fairness atau ketidak berpihakan didapatkan sub dimensi sisi
ketidak berpihakan yang dilihat dari jumlah sumber berita yang digunakan dan sisi
ketidak berpihakan yang dilihat dari penggunaan luas kolom pemberitaan.
Melalui dimensi validitas didapatkan sub dimensi atribusi yakni kejelasan
data dan identitas terhadap sumber berita yang digunakan sebagai sumber
pemberitaan dan sub dimensi tingkat kompetensi sumber berita yang digunakan.
Berikut ini adalah data yang diperoleh penulis dari sampel berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing, Bekasi di Harian Jawa Pos Periode 13 September-21
September 2010 yang diukur dengan menggunakan kategorisasi Objektivitas
41
4.2.1.1 Akurasi Pemberitaan
Tabel. 2
HKBP Ciketing Bekasi di Jawa Pos sudah memenuhi kategori yang akurat. Ini
ditarik dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebanyak 100% sudah
menggunakan pola harus adanya kesesuaian antara judul berita dengan isi berita
dimana relevansi yang tinggi antara keduanya telah dirasa penting oleh jurnalis
dalam menyusun berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing Bekasi di Jawa Pos.
Pada seluruh sampel dari total sampel 13 telah menyadari akan nilai kejujuran
para jurnalis yang tidak hanya mengejar sebuah judul yang bombastis agar
menarik pembaca. Dengan prinsip kesesuaian antara judul berita dengan isi berita,
wartawan harian Jawa Pos dalam menyajikan sebuah berita seputar Insiden
Jemaat HKBP Ciketing, agar pemberitaannya dapat dinilai berhasil, wartawan
menjadi terpacu untuk mencari pemberitaan yang bermutu dan memang memiliki
news value. Bukannya melalui jalan pintas yang melanggar sendiri kode etik
42
Tabel. 3
Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Kesesuaian Judul Dengan Isi Berita Kesesuaian Judul Dengan Isi
Berita Jumlah
Kesesuaian judul yang ada pada berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing telah
mengacu pada aspek relevansi, yakni kalimat judul yang ada merupakan bagian
dari kalimat yang sama pada isi berita atau bagian isi terdapat penjelasan dari
judul dengan inti yang sama, sebagi contoh dari judul.
“ Polisi Temui Rizieq “
Berbagai cara dilakukan oleh polisi untuk mengusut kasus penganiyaan pendeta dan pengurus majelis HKBP minggu lalu (12/9). Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos perkara tersebut menjadi perhatian serius Mabes Polri. Kemarin sore (13/9) “ petugas Baintelkam Mabes Polri menemui tokoh FPI (Front Pembela Islam) Habib Rizieq Shihab untuk meminta bantuan dalam pengusutan kasus tersebut (kode 002,14-09-2010).
Selain itu dalam judul atau isi berita itu apakah terdapat penggunaan kata atau
kalimat denotative serta penggunaan tanda baca yang mengesankan makna ganda
ketetapan mengacu pada judul utama headline, bukan sub judul.
Pada pencantuman waktu terjadinya peristiwa, sebanyak 100% telah
mengikuti teori objektifitas dengan mensyaratkan pentingnya adanya pencatatan
waktu kejadian dalam berita insiden Jemaat HKBP Ciketing yang ada di Jawa
43
format penunjuk waktu kejadian dengan angka “(15/9),(16/9)” namun tetap
terdapat jurnalis Jawa Pos yang memilih menggunakan kata-kata dalam
mendisekripsikan keterangan tanggal.
Tabel. 4
Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Pencantuman Waktu Terjadinya Peristiwa
Pencantuman waktu kejadian adalah konsep untuk melihat akurasi, yaitu
apakah mencantumkan tanggal atau adanya kata-kata yang menunjukan waktu
terjadinya peristiwa atau wawancara.
Dicantumkan waktu, yaitu apabila dalam tulisan mencantumkan tanggal
pencantuman kata-kata atau pernyataan tentang waktu atau keduanya, yaitu
mencantumkan tanggal atau dengan kata-kata menunjukan adanya tanggal
kejadian dan peristiwa.
Penggunaan data pendukung dalam berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing
juga telah menampilkan adanya bentuk penyajian berita yang objektif dengan
61,5% berita yang menjadi sampel penelitian telah menggunakan foto, table, dan
44
lainya belum menggunakan data pendukung dalam menyajikan pemberitaan
seputar insiden Jemaat HKBP Ciketing.
Tabel. 5
Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Penggunaan Data Pendukung, Kelengkapan Informasi Atas Kejadian Yang Ditampilkan
Penggunaan Data Pendukung Jumlah
Akurasi
Pemberitaan Ada Data
Pendukung
Tidak Ada Data
Pendukung F %
Akurat 8 - 8 61,5
Tidak Akurat - 5 5 38,5
Jumlah 13 100
Sumber: Data Primer
Mayoritas Jawa Pos memilih menggunakan foto-foto dimana terdapat korban
dari pihak HKBP maupun foto penolakan dari warga Bekasi. Selain foto Jawa Pos
juga menggunakan table untuk mendeskripsikan data-data urutan kejadian
45
Tabel. 6
Akurasi Pemberitaan Dalam Sub Kategori Penggunaan Data Pendukung
Berita Insiden Jemaat HKBP Ciketing Data Pendukung
Kode Judul Berita Ada Tidak Ada
001 Tiga Pendeta Dianiaya Ilustrasi 002 Polisi Temui Rizieq Tabel 003 Polisi Pelototi 9 Tersangka Foto 004 Luspida: Saya Sudah Maafkan Mereka Tabel 005 SBY Dorong Cari Solusi Untuk Gereja
Bekasi Foto
006 Warga Anggap Bandel Meski Sudah Disegel Foto
007 Ketua FPI Bekasi Jadi Tersangka v 008 Walikota Bekasi Harus Tegur Ketua FPI Foto
009 Mendagri Tak Revisi SKB Tempat Ibadah v 010 Hkbp Dilarang Ibadah Di Ciketing v 011 Jemaat HKBP Ngotot Beribadah Di Ciketing v
012 Jemaat HKBP Gagal Beribadah Tabel
013 Tak Lagi Gelar Kebaktian Di Ciketing v
Frekuensi 8 5
Jumlah
% 61,5 38,5
Sumber: Data Primer
Dalam dimensi faktualitas berita, yaitu menyangkut ada tidaknya
pencampuran fakta dan opini wartawan dalam menulis berita Insiden Jemaat
HKBP Ciketing indikatornya pencampuran fakta dan opini yaitu apabila dalam
artikel berita itu terdapat kata-kata opinionative seperti : tampaknya,diperkirakan,
seakan–akan, terkesan, kesannya, seolah, agaknya, diperkirakan, diramalkan,
kontoversi, mengejutkan, manuver, sayangnya dan kata-kata opinionative
lainnya.Kalimat opinionative ditemukan penulis pada sampel penelitian pada kode