• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN AKHIR"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

MODEL PENGEMBANGAN KLASTER AGROINDUSTRI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

UNGGULAN DALAM PENINGKATAN DAYA SAING PROVINSI JAMBI (Pendekatan Kompetensi Inti Daerah)

Tahun ke 2 dari rencana 2 tahun

Tim Peneliti:

Dr. JUNAIDI, SE, M.Si 0002066707 Prof.Dr. H. AMRI AMIR,SE,MS 0005055712 HARDIANI, SE, M.Si 0003016605

Dibiayai oleh DIPA Universitas Jambi Tahun 2014

Nomor: 023.04.2.415103/2014 tanggal 5 Desember 2013, sesuai dengan Surat Perjanjian Kontrak Penelitian Nomor: 03/UN21.6/PL/2014

Tanggal 12 Maret 2014

UNIVERSITAS JAMBI

NOVEMBER 2014

(2)

Jambi, 10 Nopember 2014

Mengetahui, Ketua Peneliti

An. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi

Wakil Dekan I

Dr. H. Zamzami, SE, M.Si (Dr. JUNAIDI, SE, M.Si)

NIP. 196410271990031002 NIP. 196706021992031003

Menyetujui : Ketua Lembaga Penelitian

Universitas Jambi

Dr. Ir. Adriani, M.Si NIP. 19670121993032001

(3)

RINGKASAN

Tujuan penelitian untuk menghasilkan model pengembangan klaster agroindustri usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) unggulan berdasarkan kompetensi inti daerah di Provinsi Jambi. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan (tahun kedua). Pada tahun pertama telah didapatkan: (1) kompetensi inti daerah yang diperlukan dalam pengembangan agroindustri UMKM; (2) kondisi saat ini dari unsur-unsur yang dibutuhkann dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM; (3) berbagai potensi, peluang, hambatan dan tantangan dalam pengembangan agroindustri UMKM; (4) jenis usaha agroindustri UMKM unggulan yang dapat dapat dikembangkan dalam klaster dari berbagai jenis usaha agroindustri yang berpotensi klaster. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tujuan spesifik tahun kedua: (1) Merumuskan unsur-unsur klaster yang masih perlu dikembangkan dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi; (2) Merumuskan struktur elemen sistem pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan yang tepat di Provinsi Jambi; (3) Merumuskan kebijakan pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan yang dapat meningkatkan daya saing Provinsi Jambi; (4) Merumuskan kelembagaan klaster agroindustri UMKM unggulan yang dapat meningkatkan kinerja klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi.

Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan pada responden pelaku usaha, pakar dan stakeholder yang terkait dengan agroindustri. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner dan wawancara terstruktur. Data sekunder bersumber dari instansi/lembaga terkait di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kecamatan. Alat analisis yang digunakan:

Interpretive Structural Modelling (ISM), Comparative Performance Index (CPI), Independent Preference Evaluation (IPE).

Hasil penelitian menemukan terdapat elemen penting yang belum terbentuk dalam mengembangkan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi yaitu asosiasi anggota klaster dan lembaga pengembangan klaster agroindustri. subelemen utama/pokok/kunci dari tujuan, kendala, perananan pemerintah, dan peranan dunia usaha dalam sistem pengembangan klaster agroindustri UMKM. Dari hasil penelitian juga telah dirumuskan kebijakan pengembangan dan kelembagaan klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi.

Kata Kunci: Daya Saing, Agroindustri, Kompetensi Inti, Asosiasi Klaster

(4)

PRAKATA

Penelitian ini berjudul “Model Pengembangan Klaster Agroindustri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Ungggulan dalam Peningkatan Daya Saing Provinsi Jambi (Pendekatan Kompetensi Inti Daerah). Penelitian bertujuan untuk menghasilkan model pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan berdasarkan kompetensi inti daerah dalam rangka meningkatkan daya saing Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan dalam dua tahun anggaran, dengan tujuan tahun kedua untuk: (1) Merumuskan unsur-unsur klaster yang masih perlu dikembangkan dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi; (2) Merumuskan struktur elemen sistem pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan yang tepat di Provinsi Jambi; (3) Merumuskan kebijakan pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan yang dapat meningkatkan daya saing Provinsi Jambi; (4) Merumuskan kelembagaan klaster agroindustri UMKM unggulan yang dapat meningkatkan kinerja klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi.

Dengan selesainya penelitian ini, penulis ucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Rektor Universitas Jambi

2. Bapak Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Jambi 3. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jambi

Atas segala bantuan baik moril maupun materil, sehingga terealisasinya penelitian ini.

Akhirnya, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan peneliti lainnya serta pihak-pihak yang berkepentingan umumnya. Kritik dan saran membangun dari semua pihak selalu diterima dengan senang hati, demi kesempurnaan laporan ini.

Jambi, November 2014 Ketua Peneliti

(5)

v DAFTAR ISI

Halaman

PRAKATA ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I. PENDAHULUAN ... 9

1.1. Latar Belakang ... 9

1.2. Perumusan Masalah ... 10

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. State of the Art ... 11

2.2. Penelitian-Penelitian Terdahulu ... 13

2.3. Kerangka Pemikiran ... 15

BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ... 17

3.1. Tujuan Penelitian ... 17

3.2. Manfaat Penelitian ... 17

BAB IV. METODE PENELITIAN ... 18

4.1. Data yang digunakan ... 18

4.2. Alat Analisis ... 18

BAB V. HASIL YANG DICAPAI ... 20

5.1. Analisis Unsur-Unsur Klaster yang Masih Perlu Dikembangkan ... 20

5.2. Strukturisasi Elemen Sistem Pengembangan ... 21

5.3. Tingkat Kepentingan Peran Pemerintah dan Aktivitas Dunia Usaha ... 40

5.4 Hubungan Struktural Elemen Sistem Pengembangan Klaster Agroindustri Unggulan Daerah ... 41

5.5. Kebijakan Pengembangan Klaster Agroindustri UMKM Unggulan di Provinsi Jambi ... 43

5.6 Rumusan Kelembagaan Klaster Agroindustri UMKM Unggulan di Provinsi Jambi ... 44

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 47

6.1 Kesimpulan ... 47

6.2. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49

LAMPIRAN ... 51

(6)

vi DAFTAR TABEL

Judul Halaman

Tabel 5.1. Matriks Reachibility Final Elemen Tujuan ... 23

Tabel 5.2. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Tujuan ... 24

Tabel 5.3. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Tujuan ... 25

Tabel 5.4. Matriks Reachibility Final Elemen Pelaku ... 26

Tabel 5.5. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Pelaku ... 27

Tabel 5.6. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Pelaku ... 28

Tabel 5.7. Matriks Reachibility Final Elemen Kendala ... 29

Tabel 5.8. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Kendala ... 30

Tabel 5.9. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Kendala ... 31

Tabel 5.10. Matriks Reachibility Final Elemen Peran Pemerintah ... 33

Tabel 5.11. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Peran Pemerintah ... 33

Tabel 5.12. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Peran Pemerintah ... 35

Tabel 5.13. Matriks Reachibility Final Elemen Aktivitas Dunia Usaha ... 36

Tabel 5.14. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Aktivitas Dunia Usaha ... 37

Tabel 5.15. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Aktivitas Dunia Usaha .... 39

Tabel 5.16. Tingkat Kepentingan Peran Pemerintah Berdasarkan Agregasi Kriteria Tujuan ... 40

Tabel 5.17. Tingkat Kepentingan Aktivitas Dunia Usaha Berdasarkan Agregasi Kriteria Tujuan ... 41

(7)

vii DAFTAR GAMBAR

Judul Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 16 Gambar 5.1. Subelemen dengan Driver Power yang Kuat pada Sistem

Pengembangan Klaster Agroindustri UMKM Unggulan di Provinsi Jambi ... 42 Gambar 5.2 Rumusan Kelembagaan Klaster Agroindustri UMKM di Provinsi

Jambi ... 46

(8)

viii DAFTAR LAMPIRAN

Judul Halaman Lampiran 1. Kuesioner Penelitian ... 52 Lampiran 2. Biodata Ketua dan Anggota Peneliti ... 64

(9)

9 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pengembangan agroindustri (industri berbasis pertanian) merupakan hal yang mutlak dilakukan dalam kerangka pengembangan sektor industri di daerah. Selain mampu menjadi leading sector industri, pengembangan agroindustri sekaligus akan mampu mengembangkan berbagai kegiatan dalam sistem agribisnis secara keseluruhan sehingga memberikan pengaruh besar bagi pencapaian berbagai tujuan pembangunan daerah.

Untuk Indonesia, dalam kerangka pengembangan agroindustri ini, maka penting memperhatikan agroindustri dalam skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hal ini disebabkan sebagian besar UMKM di Indonesia berada pada sektor ini (INDEF, 2011). Dengan kata lain, pengembangan agroindustri menjadi bagian penting untuk keberadaan UMKM di Indonesia.

Diantara berbagai pendekatan yang ada, salah satu alternatif pendekatan dalam pembangunan agroindustri UMKM adalah melalui klaster industri.

Pendekatan klaster industri diyakini merupakan pendekatan yang lebih baik karena jaringan bisnis yang terbentuk melalui klaster terbukti efektif meningkatkan daya saing usaha UMKM. Berdasarkan hal tersebut, diharapkan agroindustri UMKM dapat menjawab berbagai tantangan persaingan global.

Selanjutnya, dalam pengembangan klaster industri di daerah perlu untuk mempertimbangkan kompetensi inti daerah. Menurut Roberts dan Stimson (1998), kompetensi inti daerah merupakan sekumpulan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki daerah yang terkait dengan kekuatan ekonomi domestik di bidang industri dan investasi, orientasi perdagangan, pengembangan teknologi, sumberdaya alam dan manusia, manajemen, keuangan, pemerintahan dan infrastruktur yang dimiliki, yang dapat mendukung pengembangan ekonomi daerah. Oleh karenanya, pendekatan klaster industri yang mempertimbangkan kompetensi inti daerah, selain akan mampu menghasilkan klaster agroindustri UMKM dengan kinerja yang tinggi, sekaligus juga akan mampu meningkatkan daya saing perekonomian daerah tersebut secara keseluruhan.

(10)

10 Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan potensi yang besar dalam pengembangan agroindustri. Hal ini terlihat dari kontribusi sektor pertanian yang hampir sepertiga (32,13 persen) dari total PDRB Provinsi Jambi Tahun 2012. Selain itu, jenis komoditi pertanian yang berkembang juga relatif beragam baik di sektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan maupun peternakan.

Meskipun demikian, sampai saat ini di Provinsi Jambi belum terdapat klaster agroindustri khususnya agroindustri UMKM. Agroindustri UMKM yang ada masih tersebar pada berbagai daerah dan lokasi serta tidak saling terkait. Hal ini menyebabkan agroindustri UMKM tersebut kurang kompetitif baik dari sisi aspek bisinis, kualitas dan daya saing produknya serta sekaligus belum mampu mendukung pada peningkatan daya saing Provinsi Jambi.

Mengacu pada uraian di atas, maka perlu dikembangkan suatu model strategi pengembangan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Model strategi pengembangan tersebut menggunakan pendekatan kompetensi inti di daerah, sehingga diharapkan selain mampu menumbuhkan klaster agroindustri UMKM dengan kinerja yang tinggi, juga mampu meningkatkan daya saing perekonomian Provinsi Jambi secara keseluruhan.

1.2. Perumusan Masalah

Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan agroindustri. Usaha-usaha agroindustri khususnya pada skala UMKM juga telah berkembang, namun usaha-usaha tersebut relatif berdaya saing rendah. Relatif rendahnya daya saing agroindustri UMKM ini disebabkan agroindustri UMKM yang ada belum saling terkait baik dari sisi jenis produk maupun lokasi usaha.

Berdasarkan hal tersebut, diperlukan suatu model pengembangan agroindustri UMKM yang berbasis klaster, sehingga usaha-usaha yang ada dapat saling terkait secara produk maupun lokasi, dan pada tahap selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan daya saing agroindustri UMKM. Selain itu, model pengembangan ini juga perlu memperhatikan kompentensi inti daerah sehingga pengembangan klaster agroindustri UMKM dapat berjalan secara berkelanjutan serta sekaligus mampu meningkatkan daya saing Provinsi Jambi.

(11)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. State of the Art

Agroindustri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut. Produk agroindustri dapat merupakan produk akhir siap konsumsi ataupun produk bahan baku industri lainnya (Austin, 1981). Agroindustri merupakan bagian dari industri pertanian sejak produksi bahan pertanian primer, industri pengolahan sampai penggunaannya oleh konsumen.

Dalam kerangka pengembangan agroindustri unggulan (dalam pengertian agroindustri yang diprioritaskan pengembangannya karena berpotensi menghasilkan kinerja yang baik), perlu memperhatikan kompetensi inti daerah agar pengembangan agroindustri tersebut dapat berkelanjutan serta mampu meningkatkan daya saing daerah. Prahalad dan Hamel (1990) dan Muchdie (2000) mendefinisikan kompetensi inti sebagai pembelajaran kolektif di dalam suatu organisasi, terutama mengenai bagaimana cara mengkordinasikan berbagai keahlian di bidang produksi dan mengintegrasikan berbagai perkembangan teknologi. Kanter (2001) secara sederhana mendefinisikan kompetensi inti sebagai distinctive skill (keahlian atau keterampilan khusus) yang dimiliki perusahaan yang membedakannya dari perusahaan yang lain, sedangkan dalam konteks daerah, Roberts dan Stimson (1998) mendefinisikan kompetensi inti sebagai sekumpulan kekuatan dan kemampuan daerah yang terkait dengan kekuatan ekonomi di bidang industri dan investasi, perdagangan, teknologi, sumber daya alam, sumber daya manusia, manajemen, pengaturan dan infrastruktur.

Selanjutnya terkait dengan agroindustri usaha mikro kecil dan menengah, dapat dikemukakan bahwa salah satu pendekatan untuk mengembangkan UMKM yang dianggap berhasil adalah melalui pendekatan klaster. Pembentukan klaster merupakan hal yang penting karena secara individual UKM seringkali tidak sanggup menangkap peluang pasar yang membutuhkan volume produksi yang besar, standar yang homogen dan penyerahan yang teratur. UKM seringkali mengalami kesulitan mencapai skala ekonomis dalam pembelian input dan akses jasa-jasa keuangan dan konsultasi.

Secara umum istilah klaster mengacu pada konsentrasi geografis dan sektoral dari perusahaan-perusahaan yang menimbulkan external economies dan

(12)

12 berkembangnya jasa-jasa pelayanan khusus di bidang teknis, administratif dan keuangan (Doeringer dan Terkla, 1995; Porter, 1998a; Cooke, 2001). Porter (1998b) mengemukakan suatu klaster dapat lahir di suatu lokasi tertentu karena di lokasi tersebut terdapat bagian dari Porter’s diamond yang dapat dimanfaatkan. Enright (1999) juga menyatakan banyak klaster berawal dari kondisi faktor lokal yang spesifik, permintaan pasar lokal atau industri yang terkait.

Selain kelahiran yang secara alamiah, Bekar dan Lipsey (2001) mengemukakan bahwa klaster dapat terbentuk melalui cara-cara: (1) membangun suatu klaster yang dikaitkan dengan klaster yang sudah ada; (2) menarik suatu perusahaan ternama ke suatu daerah, dengan harapan bahwa perusahaan tersebut akan diikuti oleh perusahaan lain yang terkait dengannya; (3) mendirikan atau mengadakan suatu fasilitas tertentu sehingga daerah tersebut memiliki keunggulan komparatif, seperti: research park yang dibangun oleh Pemerintah.

Dalam konteks strategi pengembangan klaster, Enright (1999) mengemukakan berbagai strategi pengembangan klaster biasanya mengandung beberapa elemen yang sama, antara lain: (1) Melakukan upaya memperbaiki lingkungan berusaha, (2) Menyediakan informasi dan data mengenai bisnis dan trend ekonomi umum maupun yang spesifik untuk klaster, (3) Menyediakan infrastruktur yang diperlukan. (4) Membantu mengembangkan jaringan bisnis dan kerjasama antar perusahaan melalui perkenalan, pertemuan, asosiasi industri dan mekanisme lainnya, (5) Menyelenggarakan pelayanan bisnis yang mencakup penelitian dasar, penelitian pasar, pengetesan bahan-bahan, konsultasi proses bisnis, konsultasi manajemen, akuntansi dan administrasi, (6) Melaksanakan community building, yaitu membina masyarakat agar memiliki tujuan yang sama dan bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama tersebut.

Program pengembangan klaster daerah dapat berfokus pada perluasan dan pendalaman dari basis ekonomi yang dimiliki daerah, menarik investasi dari perusahaan asing atau perusahaan dari luar daerah, atau kombinasi dari kedua hal tersebut. Oleh Enright (1999), strategi yang fokus pada perluasan dan pendalaman basis industri setempat disebut sebagai organic cluster strategy, yang berfokus pada penarikan investasi asing disebut sebagai transplant cluster strategy dan kombinasi keduanya disebut sebagai hybrid cluster strategy.

(13)

13 Organic cluster strategy mengupayakan perluasan dan pendalaman dari basis ekonomi yang dimiliki daerah tersebut dengan melakukan identifikasi atas klaster yang ada di daerah dan kemudian mencoba mendorong pembangunan melalui perbaikan aliran informasi, meningkatkan interaksi antara perusahaan - perusahaan setempat, menghilangkan hambatan atas ketersediaan infrastruktur, mengembangkan kemampuan sumber daya manusia dan mengupayakan kolaborasi antara perusahaan- perusahaan. Transplant cluster strategy berusaha membangun klaster dengan menarik perusahaan besar dari luar daerah dan kemudian mengembangkan atau menarik pemasok dan perusahaan terkait. Selanjutnya, hybrid cluster strategy apabila pengembangan organic cluster juga secara aktif melakukan usaha penarikan modal asing ke daerah itu, atau apabila transplant strategy juga berhasil menciptakan critical mass dari perusahaan yang berasal dari daerah tersebut.

2.2 Penelitian-Penelitian Terdahulu

Lestari (2008) dalam kajiannya mengenai klaster bisnis UKM berbasis agribisnis menemukan bahwa faktor penumbuh sentra ke klaster agribisnis dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu (1) faktor penyedia daya penggerak, (2) faktor transmisi, (3) faktor pendukung/penumpu, dan (4) faktor perekat antar anggota klaster. Daya penggerak adalah kecukupan jumlah, waktu dan durasi dukungan keuangan dan non keuangan yang diberikan kepada sentra. Faktor transmisi dibentuk oleh kompetensi daerah dan masyarakat, kualitas SDM pelaksana dukungan, kejelasan dan kelengkapan peraturan pelaksanaan, kejelasan visi dan kesiapan aparat pemerintah daerah, serta koordinasi dan komunikasi yang efektif antar pelaku. Faktor titik tumpu ini adalah etos kerja yang kuat, pola pikir wirausaha, kemauan berinvestasi, kemampuan berinovasi, keunikan produk, ketersediaan pasar, dukungan keberadaan sarana dan prasarana industri dan keuangan di daerah, konsistensi dan keberlanjutan kebijakan, serta penegakan aturan, sedangkan faktor perekat/Modal sosial dibentuk oleh faktor perilaku: kemauan dan kebiasaan untuk bekerjasama, berkelompok. Sulaeman (2006) dalam penelitiannya mengenai pengembangan agribisnis komoditi rumput laut melalui model klaster bisnis di Sulawesi Selatan menemukan bahwa kunci sukses agribisnis rumput laut adalah apabila (1) dilakukan dengan model pengembangan kluster bisnis yang utuh, dimana UKM dan koperasi ada dan sekaligus berperan di dalamnya (2) dibantu secara serius

(14)

14 oleh pemerintah, terutama yang menyangkut izin penggunaan pantai dan akses ke sumber permodalan.

Hartmann (2002) melakukan penelitian mengenai klaster industri dan strategi pengembangannya diberbagai daerah di negara-negara di Eropa. Salah satunya adalah penelitian di wilayah Styria yang merupakan salah satu pusat industri di Austria. Di dalam perekonomian Styria terdapat 5 klaster industri yang sangat berperan, salah satunya adalah klaster agroindustri kayu dan kertas.

Klaster industri kayu dan kertas di Styria berawal pada tahun 1994, ketika suatu penelitian yang dilakukan didaerah itu mengidentifikasi suatu klaster kayu dan kertas yang memiliki potensi untuh bertumbuh yang terdiri dari industri pengolahan kayu dan industri pembuatan kertas. Pemerintah Daerah Styria memutuskan untuk memfokuskan kebijakannya pada industri pengolahan kayu, karena industri ini telah memiliki asosiasi bisnis yang kuat yang dapat digunakan sebagai landasan untuk melakukan manajemen bagi klaster tersebut.

Studi pendahuluan (Junaidi dkk, 2013; 2014) menemukan terdapat lima kelompok agroindustri UMKM di Provinsi Jambi yang berpotensi klaster. Dari lima agroindustri UMKM tersebut, industri kopra memiliki bobot kompetensi tertinggi, diikuti oleh industri kerupuk, keripik, peyek; industri anyaman dari bukan rotan dan bambu; industri tempe/tahu dan paling rendah adalah industri furnitur dari kayu.

Selanjutnya, terdapat lima kriteria kompetensi inti daerah yang paling kuat mendukung pengembangan agroindustri di Provinsi Jambi adalah pasar domestik, dukungan sumberdaya alam, ketersediaan tenaga kerja, dukungan permodalan, dan tingkat upah.

Berdasarkan serapan tenaga kerjanya, industri furnitur dari kayu memiliki tingkat serapan paling tinggi diikuti oleh industri kerupuk, keripik dan peyek, industri tempe/tahu, industri anyaman dari bukan rotan dan bambu dan yang paling rendah adalah industri kopra. Meskipun demikian, berdasarkan nilai LQ terbesar pada masing-masing kelompok agroindustri maka terlihat bahwa peringkat konsentrasi tertinggi adalah untuk industri kopra, diikuti oleh industri anyaman bukan dari rotan dan bambu, industri tempe/tahu, industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya dan peringkat terendah adalah industri furnitur dari kayu.

Dari sisi kemampuan ekspor, industri kopra memiliki kemampuan ekspor relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok agroindustri berpotensi klaster lainnya

(15)

15 di Provinsi Jambi. Industri berikutnya yang juga memiliki kemampuan ekspor relatif tinggi adalah industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya. Sebaliknya, industri dengan kemampuan ekspor yang paling rendah adalah industri tempe/tahu.

Berdasarkan keterkaitannya dengan kelompok usaha agroindustri lainnya, kelompok agroindustri berpotensi klaster yang memiliki keterkaitan paling kuat dengan kelompok agroindustri lainnya adalah industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya, diikuti oleh industri kopra. Sebaliknya kelompok agroindustri dengan keterkaitan yang paling rendah adalah industri anyaman dari bukan rotan dan bambu.

Dari sisi perkembangan usaha, UMKM di Provinsi Jambi menunjukkan perkembangan yang relatif baik, terutama jika dilihat dari perkembangan volume produksi, pendapatan usaha/omset, harga jual produk, harga bahan baku dan keuntungan usaha. Meskipun demikian, terdapat kendala utama dalam pengembangan agroindustri UMKM ini kedepan, terutama yang terkait dengan ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, pangsa pasar dan peralatan produksi.

Berdasarkan pemeringkatan berdasarkan analisis AHP, industri kopra merupakan agroindustri UMKM yang paling berpotensi untuk dikembangkan sebagai klaster agroindustri. Industri kopra ini terkait erat dengan kompetensi inti daerah, memiliki tingkat konsentrasi industri yang tinggi serta kemampuan ekspor yang tinggi dibandingkan kelompok agroindustri berpotensi klaster lainnya. Namun demikian dalam konteks keterkaitan usaha, industri kopra memiliki tingkat keterkaitan yang relatif lebih rendah dibandingkan industri kerupuk, keripik dan peyek. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kerangka pengembangan klaster industri kopra, penguatan keterkaitan usaha dari industri kopra perlu lebih ditingkatkan.

2.3. Kerangka Pemikiran

Pendekatan klaster sebagai strategi pengembangan industri khususnya agroindustri UMKM merupakan pendekatan yang diyakini lebih baik karena terbukti secara efektif mampu meningkatkan daya saing UMKM. Di sisi lain, karena keanekaragaman potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah relatif beragam, maka diperlukan strategi pengembangan klaster agroindustri dengan memperhatikan potensi agroindustri dan kompetensi inti yang dimiliki daerah untuk mendukung agroindustri.

(16)

16 Klaster agroindustri ini diharapkan dapat mengolah sumber daya alam menjadi produk agroindustri bernilai tambah tinggi yang dapat dijual di pasar dalam negeri dan luar negeri sehingga dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi setempat. Strategi pengembangan tersebut harus berlandaskan perhitungan-perhitungan yang realistis dengan memperhatikan kompetensi inti daerah dan potensi kelompok agroindustri yang ada, serta kapasitas dan kemampuan wilayah mengimplementasikan rencana, kebijakan, dan program.

Pendekatan klaster industri diharapkan akan memberikan tambahan lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah, peningkatan produktivitas, peningkatan ekspor, tumbuhnya usaha-usaha baru dan berkembangnya inovasi yang akan membantu terwujudnya masyarakat yang dicita-citakan yaitu masyarakat berdaya saing, sejahtera dan maju.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian

Potensi dan sumberdaya pertanian yang besar

Potensi Agroindustri daerah

Pengembangan Agroindustri UMKM unggulan dengan pendekatan

kompetensi inti daerah

- Bertambahnya lapangan kerja - Peningkatan pendapatan daerah - Peningkatan produktivitas - Tumbuhnya usaha-usaha baru Keanekaragaman potensi

dan sumberdaya

Keberadaan Agroindustri UMKM

Kompetensi Inti Daerah Pendekatan Klaster untuk

peningkatan daya saing

Meningkatnya daya saing daerah

Meningkatnya daya saing daerah

(17)

17 BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan berdasarkan kompetensi inti daerah di Provinsi Jambi. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan (tahun kedua).

Pada tahun pertama telah didapatkan: (1) kompetensi inti daerah dalam pengembangan agroindustri UMKM; (2) kondisi saat ini dari unsur-unsur yang dibutuhkann dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM; (3) berbagai potensi, peluang, hambatan dan tantangan dalam pengembangan agroindustri UMKM; (4) jenis usaha agroindustri UMKM unggulan yang dapat dapat dikembangkan dalam klaster dari berbagai jenis usaha agroindustri yang berpotensi klaster.

Berdasarkan hasil penelitian tahun pertama tersebut, secara spesifik tujuan untuk tahun kedua adalah sebagai berikut:

1. Merumuskan unsur-unsur klaster yang masih perlu dikembangkan dari kondisi eksisting saat ini, dalam rangka pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi

2. Merumuskan hubungan-hubungan struktural elemen sistem pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi

3. Merumuskan kebijakan yang tepat dalam pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan yang dapat meningkatkan daya saing Provinsi Jambi

4. Merumuskan kelembagaan klaster agroindustri UMKM unggulan yang dapat meningkatkan kinerja klaster agroindustri UMKM unggulan di Provinsi Jambi 3.2. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:

1. Bagi praktisi: model pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan ini diharapkan dapat dijadikan model untuk menumbuhkan klaster-klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi yang berdaya saing tinggi sehingga sekaligus dapat meningkatkan daya saing daerah

2. Bagi akademisi: sebagai bahan referensi terutama yang terkait dengan pengembangan klaster agroindustri UMKM.

(18)

18 BAB IV

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan selama dua tahun. Metode dan tahapan penelitian untuk tahun kedua diberikan sebagai berikut:

4.1. Data yang digunakan

Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan pada responden pelaku usaha, pakar dan stakeholder yang terkait dengan agroindustri. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner dan wawancara terstruktur. Data sekunder bersumber dari instansi/lembaga terkait di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kecamatan.

4.2. Alat Analisis

Alat analisis yang digunakan dalam rangka menjawab permasalahan adalah sebagai berikut:

a. Analisis unsur-unsur klaster yang masih perlu dikembangkan

Dalam menganalisis unsur-unsur klaster yang masih perlu dikembangkan dalam rangka pengembangan klaster agroindustri UMKM unggulan dijaring dari pelaku usaha dan pendapat ahli terkait dengan sistem pengembangan klaster agroindustri. Pendapat ahli ini kemudian dibandingkan kondisi riil yang ada saat ini yang diperoleh dari observasi dan pendapat dari pelaku usaha.

b. Analisis Hubungan Struktural Elemen Sistem Pengembangan Klaster Agroindustri UMKM

Strukturisasi elemen sistem pengembangan klaster agroindustri unggulan menggunakan metode Interpretive Structural Modelling (ISM), Comparative Performance Index (CPI) dan Independent Preference Evaluation (IPE).

Interpretive Structural Modelling (ISM)

Teknik ISM merupakan suatu proses pengkajian kelompok untuk mendapatkan model. Sistem pengembangan klaster dibagi menjadi elemen-elemen dan subelemen-subelemen Setelah dilakukan identifikasi semua elemen dan sub- elemen, maka ditetapkan hubungan kontekstual antar subelemen. Keterkaitan antar elemen didasarkan pendapat dari para pakar.

Hasil penilaian ini disusun dalam Structural Self Interaction Matrik (SSIM).

Setelah SSIM terbentuk dibuat tabel Reachability Matrix (RM). Berdasarkan

(19)

19 pengolahan RM ditetapkan pilihan jenjang (level partition). Berdasarkan pilihan jenjang, disusun skema elemen menurut jenjang vertikal maupun horizontal.

Untuk kepentingan analisis ISM ini, program dibagi dalam sembilan elemen, yaitu: (1) Sektor masyarakat yang terpengaruh, (2) Kebutuhan dari program, (3) Kendala utama, (4) Perubahan yang dimungkinkan, (5) Tujuan dari program, (6) Tolak ukur untuk menilai setiap tujuan, (7) Aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan, (8) Ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicap ai oleh setiap aktivitas, (9) Lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program.

Comparative Performance Index (CPI)

CPI digunakan untuk melakukan penilaian atau peringkat dari berbagai alternatif berdasarkan beberapa kriteria. Dalam teknik ini dilakukan perhitungan untuk mendapatkan indeks gabungan.

Independent Preference Evaluation (IPE)

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan pilihan terbaik dari beberapa alternatif pilihan, yang untuk semua altenatif telah ditetapkan kriteria yang akan dinilai. Penilaian dilakukan oleh beberapa pakar yang ahli di bidang tersebut.

Pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai pihak (stake holder) atau ahli. Metode komputasi dilakukan secara bertahap yaitu (1) agregasi terhadap kriteria dan (2) agregasi terhadap semua ahli. Langkah-langkah agregasi ini digunakan untuk mendapatkan tingkat preferensi seluruh pakar terhadap masing-masing alternatif.

c. Formulasi Kebijakan Pengembangan Klaster Agroindustri Unggulan dan Kelembagaannya

Berdasarkan klasifikasi elemen sistem pengembangan yang merupakan output dari proses ISM dan tingkat kepentingan subelemen yang merupakan output pendapat gabungan melalui teknik IPE, dilakukan formulasi kebijakan pengembangan dan kelembagaan klaster agroindustri UMKM.

.

(20)

20 BAB V.

HASIL YANG DICAPAI

5.1. Analisis Unsur-Unsur Klaster yang Masih Perlu Dikembangkan

Hasil penelitian terdahulu (penelitian tahun pertama) dan berdasarkan analisis Multi Sectoral Qualitative Analysis (MSQA) dan Location Quotient, menemukan bahwa terdapat lima kelompok agroindustri UMKM yang berpotensi untuk dikembangkan dalam klaster yaitu: industri tempe/tahu kedelai: industri kopra;

industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya; industri barang anyaman dari bukan rotan dan bambu serta industri furnitur dari kayu.

Selanjutnya, berdasarkan analisis AHP, industri kopra merupakan agroindustri UMKM paling berpotensi untuk dikembangkan sebagai klaster agroindustri. Diikuti secara berurutan oleh kelompok agroindustri kerupuk, keripik dan peyek; kelompok anyaman dari bukan rotan dan bambu; kelompok industri tempe/tahu dan kelompok industri furnitur dari kayu. Industri kopra terkait erat dengan kompetensi inti daerah, memiliki tingkat konsentrasi industri tinggi serta kemampuan ekspor yang tinggi, meskipun dalam konteks keterkaitan usaha, industri kopra memiliki tingkat keterkaitan yang relatif lebih rendah.

Dari analisa AHP tersebut juga dapat diketahui bahwa subelemen dari elemen tujuan yang paling berpengaruh adalah subelemen memperluas lapangan kerja dan diikuti secara berurutan oleh meningkatkan produktivitas usaha; memperluas pasar domestik dan ekspor serta meningkatkan pendapatan daerah. Selanjutnya, subelemen dari elemen Kriteria yang paling berpengaruh adalah subelemen kemampuan ekspor, dan diikuti secara berurutan oleh keterkaitan usaha; konsentrasi industri dan kompetensi inti daerah.

Menurut Keeney dan Swirski (Austrian 2000) pemetaan klaster dapat dilakukan dengan membagi anggota atas 4 komponen/unsur yaitu: Pasar (pelanggan), Produk Ekspor (produk yang dijual ke luar Kabupaten), Pemasok (pemasok bahan baku, industri terkait dan industri pendukung), Infrastruktur (fisik dan non fisik).

Mengacu pada hal tersebut maka unsur-unsur klaster agroindustri khususnya kopra sebagai komoditas paling potensial di Provinsi Jambi diberikan sebagai berikut:

1. Pasar (Pelanggan)

(21)

21 Pasar (pelanggan) dari produk agroindustri kopra terdiri dari pedagang dan distributor; peternak dan petambak (yang mengolah sendiri kopra menjadi pakan ternak dan pelet ikan); dan pabrik pengolahan kopra

2. Produk ekspor

Produk ekspor (ekspor ke luar Provinsi Jambi) dari agroindustri kopra dapat berupa kopra ataupun produk turunannnya. Pada saat ini di Provinsi Jambi sudah terdapat pabrik pengolahan kopra untuk dijadikan minyak kelapa.

3. Pemasok

Pemasok (input) untuk kopra terdiri dari kelapa segar, angkutan darat, angkutan sungai, mesin cungkil kopra, mesin pengering kopra dan plastik penjemuran

4. Infrastruktur

Infrastruktur pendukung untuk pengembangan klaster agroindustri kopra terdiri dari lembaga keuangan, lembaga litbang, jaringan transportasi darat dan sungai, lembaga pendidikan umum dan kejuruan, asosiasi produsen industri kopra dan instansi pembinaan industri

Berdasarkan penjaringan pendapat dari pelaku usaha dan pendapat ahli serta dibandingkan kondisi riil yang ada saat ini, dapat dikemukakan bahwa sebagian besar elemen/unsur yang diperlukan untuk terbentuknya suatu klaster sudah ada, namun masih perlu diupayakan keterkaitan antara elemen-elemen tersebut agar klaster tersebut dapat menjadi klaster yang operasional. Elemen penting yang belum terbentuk adalah asosiasi anggota klaster dan lembaga pengembangan klaster agroindustri.

5.2. Strukturisasi Elemen Sistem Pengembangan

Identifikasi elemen sistem dan subelemen sistem pengembangan dilakukan berdasarkan kajian pustaka, survei lapangan dan pengumpulan pendapat ahli. Sistem pengembangan diuraikan atas 5 elemen yang terdiri dari: (1) Elemen Tujuan; (2) Elemen Pelaku; (3) Elemen Kendala; (4) Elemen Peran Pemerintah; (5) Elemen Aktivitas Dunia Usaha.

Masing-masing elemen sistem pengembangan ini terdiri dari sejumlah subelemen sebagaimana yang diuraikan dalam bahasan mengenai strukturisasi setiap elemen di bawah ini :

(22)

22 1) Elemen Tujuan terdiri dari subelemen sebagai berikut :

1. Memperluas lapangan kerja.

2. Menumbuhkan usaha-usaha baru.

3. Meningkatkan produktivitas usaha klaster.

4. Memperluas pasar domestik.

5. Memperluas pasar ekspor.

6. Menurunkan biaya transaksi.

7. Meningkatkan keterkaitan antar sektor.

8. Memanfaatkan sumber daya alam daerah.

9. Meningkatkan pendapatan pemerintah daerah.

10. Meningkatkan kemampuan inovasi.

2) Elemen Pelaku terdiri dari subelemen sebagai berikut : 1. Perusahaan dan industri inti klaster.

2. Perusahaan dan industri terkait.

3. Perusahaan dan industri pendukung.

4. Pemerintah daerah.

5. Lembaga keuangan.

6. Lembaga pendidikan dan pelatihan.

7. Lembaga penelitian dan pengembangan.

8. Lembaga pengujian, standardisasi dan sertifikasi.

9. Asosiasi produsen.

10. Pedagang dan eksportir.

3) Elemen Kendala terdiri dari subelemen sebagai berikut :

1. Kekurangan pemahaman pengusaha tentang manfaat klaster.

2. Lemahnya sistem kelembagaan.

3. Belum terbentuknya jaringan dan kerjasama yang saling mendukung diantara pengusaha.

4. Kurang adanya dukungan peraturan pemerintah dalam pengembangan klaster.

5. Rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan.

6. Perbedaan budaya kerja antar perusahaan.

7. Perbedaan kepentingan antar perusahaan.

8. Belum adanya sikap saling percaya diantara pengusaha.

9. Belum terbentuknya forum komunikasi antar pengusaha.

10. Kurangnya akses permodalan.

4) Elemen Peran Pemerintah terdiri dari subelemen sebagai berikut : 1. Melakukan koordinasi antar instansi yang terkait dengan klaster.

2. Membangun komunikasi dan kerjasama antar anggota klaster.

3. Meningkatkan sistem transportasi, komunikasi dan infrastruktur lainnya.

4. Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan.

5. Menerbitkan peraturan yang mendukung terbentuknya persaingan yang sehat.

6. Melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan pada perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah.

7. Menyediakan fasilitas umum dan sosial di daerah.

(23)

23 8. Melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster.

9. Mensponsori kegiatan standardisasi, pengujian dan sertifikasi.

10. Melakukan promosi penjualan dan ekspor.

11. Melakukan kegiatan pengumpulan dan diseminasi data serta informasi.

5) Elemen Aktivitas Dunia Usaha terdiri dari subelemen sebagai berikut : 1. Membangun sikap saling percaya diantara anggota klaster.

2. Mendirikan asosiasi khusus anggota klaster.

3. Melakukan usaha pemasaran bersama anggota klaster.

4. Melakukan promosi dagang dan investasi bersama pemerintah daerah.

5. Membangun jaringan formaldan informal untuk berbagi pengetahuan dan informasi.

6. Melakukan komunikasi dengan pemerintah untuk menerbitkan dan memperbaiki peraturan.

7. Mensponsori kegiatan penelitian dan pengembangan sesuai kebutuhan spesifik klaster

8. Melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan dan kejuruan dalam menyusun kurikulum.

9. Melaksanakan kursus dan seminar untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan anggota klaster.

10. Mengumpulkan dan mendesiminasi data dan informasi yang dibutuhkan klaster melalui asosiasi.

11. Melakukan kerjasama dengan pemerintah untuk mendirikan lembaga standardisasi, pengujian dan sertifikasi.

5.2.1. Strukturisasi Elemen Tujuan

Strukturisasi elemen tujuan terdiri dari 10 subelemen. Menggunakan teknik ISM VAXO, matriks reachability dan struktur hierarki elemen tujuan disajikan pada Tabel 5.1 dan Tabel 5.2.

Tabel 5.1. Matriks Reachibility Final Elemen Tujuan

Kode T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10

T1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1

T2 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0

T3 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1

T4 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0

T5 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0

T6 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0

T7 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0

T8 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0

T9 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1

T10 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1

(24)

24 Keterangan :

T1 = Memperluas lapangan kerja T2 = Menumbuhkan usaha-usaha baru

T3 = Meningkatkan produktivitas usaha klaster T4 = Memperluas pasar domestik

T5 = Memperluas pasar ekspor T6 = Menurunkan biaya transaksi

T7 = Meningkatkan keterkaitan antar sektor T8 = Memanfaatkan sumber daya alam daerah T9 = Meningkatkan pendapatan pemerintah daerah T10 = Meningkatkan kemampuan inovasi

Selanjutnya berdasarkan matriks reachability final dapat disusun struktur hirarki driver power dan dependence elemen tujuan seperti tabel berikut:

Tabel 5.2. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Tujuan

Driver Power (DP) Dependence (D)

Kode Nilai Peringkat Kode Nilai Peringkat

T1 8 1 T9 9 1

T8, T9 7 2 T6 8 2

T3, T5, T6, T7 6 3 T2, T4 7 3

T10 5 4 T5 6 4

T2, T4 4 5 T1, T3, T8 6 5

T10 4 6

T7 3 7

Berdasarkan nilai driver power, struktur hierarki elemen tujuan menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat satu subelemen yaitu subelemen memperluas lapangan kerja (T1). Subelemen ini memiliki daya dorong yang besar (Nilai Driver Power = 8) untuk mempengaruhi subelemen lain. Ini berarti bahwa subelemen memperluas lapangan kerja yang menjadi subelemen kunci utama pada struktur elemen tujuan mengembangkan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat dua subelemen yang memiliki driver power yang tinggi juga yaitu subelemen memanfaatkan sumberdaya alam daerah (T8) dan meningkatkan pendapatan pemerintah daerah (T9).

Selanjutnya pada peringkat 3 terdapat empat subelemen yaitu meningkatkan produkvitivas usaha klaster (T3), memperluas pasar ekspor (T5), menurunkan biaya transaksi (T6), meningkatkan keterkaitan antar sektor (T7). Pada peringkat 4 terdapat satu subelemen yaitu meningkatkan kemampuan inovasi (T10), dan pada peringkat 5 terdapat satu subelemen yaitu menumbuhkan usaha-usaha baru (T2).

(25)

25 Berdasarkan nilai dependence, struktur hierarki elemen tujuan menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat satu subelemen yaitu subelemen meningkatkan pendapatan pemerintah daerah (T9). Ini berarti bahwa subelemen meningkatkan pendapatan pemerintah daerah memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap subelemen yang lain. Setiap tindakan pada subelemen lain akan berdampak besar pada subelemen meningkatkan pendapatan pemerintaha daerah ini. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat satu subelemen yang memiliki dependence yang juga tinggi yaitu subelemen menurunkan biaya transaksi (T6).

Pada peringkat 3 terdapat dua subelemen yaitu menumbuhkan usaha-usaha baru (T2), memperluas pasar domestik (T4). Pada peringkat 4 terdapat satu subelemen yaitu memperluas pasar ekspor (T5). Pada peringkat 5 terdapat subelemen-subelemen memperluas lapangan kerja (T1), meningkatkan produktivitas usaha klaster (T3) dan memanfaatkan sumberdaya alam daerah (T8). Dua subelemen dengan tingkat ketergantungan yang rendah pada peringkat ke 6 dan 7 adalah meningkatkan kemampuan inovasi (T10) dan meningkatkan keterkaitan antar sektor.

Selanjutnya, dengan menggunakan hasil perhitungan Driver Power dan Dependence sebagaimana disajikan dalam Tabel 5.2, dapat disusun suatu grafik dengan menempatkan Dependence pada sumbu-x dan Driver Power pada sumbu-y sehingga diperoleh klasifikasi elemen tujuan dalam diagram Driver Power- Dependence sebagaimana dilihat pada Tabel 5.3. berikut:

Tabel 5.3. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Tujuan Kuadran IV (Independent)

(Strong driver-weak dependent)

Kuadran III (Linkage)

(Strong driver-strongly dependent)

 T1

 T3

 T7

 T8

 T5

 T6

 T9 Kuadran I (Autonomous)

(Weak driver – weak dependent)

Kuadran II (Dependent)

(Weak driver-strongly dependent)

 T10  T2

 T4

Merujuk pada Tabel 5.3 terlihat bahwa pada kuadran I terdapat satu subelemen yaitu meningkatkan kemampuan inovasi (T10). Subelemen ini memiliki daya dorong yang rendah dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga

(26)

26 rendah. Pada kuadran II (kuadran Dependent) terdapat dua subelemen yaitu menumbuhkan usaha-usaha baru (T2) dan memperluas pasar domestik (T4).

Subelemen pada kuadran ini memiliki driver power yang relatif rendah dengan dependence yang cukup tinggi. Subelemen pada kuadran ini merupakan subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain.

Pada kuadran III (Linkage) terdapat tiga subelemen yaitu memperluas pasar ekspor (T5), menurunkan biaya transaksi (T6) dan meningkatkan pendapatan pemerintah daerah (T9). Subelemen ini memiliki daya dorong yang tinggi dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga tinggi atau subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain.

Hubungan antar subelemen pada kuadran ini adalah tidak stabil. Setiap tindakan pada subelemen tersebut akan memberikan dampak terhadap lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak. Pada kuadran 4 (kuadran Independent) terdapat empat subelemen memperluas lapangan kerja (T1), meningkatkan produktivitas usaha klaster (T3), meningkatkan keterkaitan antar sektor (T7) dan memanfaatkan sumberdaya alam daerah (T8). Keempat subelemen ini merupakan subelemen yang independen dan memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang tinggi, namun memiliki ketergantungan yang rendah terhadap subelemen lain.

5.2.2. Strukturisasi Elemen Pelaku

Strukturisasi Elemen pelaku terdiri dari 10 subelemen. Menggunakan teknik ISM VAXO, matriks reachability dan struktur hierarki dari elemen pelaku disajikan pada Tabel 5.4 dan Tabel 5.5

Tabel 5.4. Matriks Reachibility Final Elemen Pelaku

Kode P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10

P1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1

P2 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1

P3 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1

P4 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1

P5 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0

P6 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0

P7 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0

P8 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1

P9 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1

P10 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1

(27)

27 Keterangan :

P1 = Perusahaan dan industri inti klaster.

P2 = Perusahaan dan industri terkait.

P3 = Perusahaan dan industri pendukung.

P4 = Pemerintah daerah.

P5 = Lembaga keuangan.

P6 = Lembaga pendidikan dan pelatihan.

P7 = Lembaga penelitian dan pengembangan.

P8 = Lembaga pengujian, standardisasi dan sertifikasi.

P9 = Asosiasi produsen.

P10 = Pedagang dan eksportir.

Selanjutnya berdasarkan matriks reachability final dapat disusun struktur hirarki driver power dan dependence elemen pelaku seperti tabel berikut:

Tabel 5.5. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Pelaku

Driver Power (DP) Dependence (D)

Kode Nilai Peringkat Kode Nilai Peringkat

P4 9 1

P2, P3, P5,

P10 7 1

P3, P8 7 2 P6 6 2

P1, P7, P10 6 3 P1, P7, P9 5 3

P9 5 4 P4, P8 4 4

P2, P6 4 5

P5 3 6

Berdasarkan nilai driver power, struktur hierarki elemen pelaku menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat satu subelemen yaitu subelemen pemerintah darah (P4). Subelemen ini memiliki daya dorong yang besar untuk mempengaruhi subelemen lain. Ini berarti bahwa subelemen pemerintah daerah yang menjadi subelemen kunci utama pada struktur elemen pelaku untuk mengembangkan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat dua subelemen yang memiliki driver power yang tinggi juga yaitu subelemen perusahaan dan industri pendukung (P3) dan lembaga pengujian, standardisasi dan sertifikasi (P8). Pada peringkat 3 terdapat tiga subelemen yaitu perusahaan dan industri inti klaster (P1), lembaga pendidikan dan pelatihan (P7) dan pedagang dan eksportir (P10). Peringkat 4, 5, 6 adalah subelemen dengan nilai driver power rendah (=< 5) yang terdiri dari subelemen asosiasi produsen (P9), perusahaan dan industri terkait (P2), lembaga pendidikan dan pelatihan (P6) dan lembaga keuangan (P5).

(28)

28 Berdasarkan nilai dependence, struktur hierarki elemen pelaku menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat empat subelemen yaitu subelemen perusahaan dan industri terkait (P2), perusahaan dan industri pendukung (P3), lembaga keuangan (P5) dan pedagang dan eksportir (P10). Ini berarti bahwa keempat subelemen tersebut memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap subelemen yang lain. Dengan kata lain, setiap tindakan pada subelemen lain akan berdampak besar pada keempat subelemen tersebut. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat satu subelemen yang memiliki dependence yang juga tinggi yaitu lembaga pendidikan dan pelatihan (P6).

Pada peringkat 3 dan 4, dependence subelemen relatif rendah (=< 5). Terdapat lima subelemen dengan kategori dependence rendah ini yaitu perusahaan dan industri inti klaster (P1), lembaga penelitian dan pengembangan (P7), asosiasi produsen (P9), pemerintah daerah (P4) dan lembaga pengujian, standardisasi dan sertifikasi (P8).

Selanjutnya, klasifikasi elemen pelaku dalam diagram Driver Power- Dependence sebagaimana dilihat pada Tabel 5.6. berikut:

Tabel 5.6. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Pelaku Kuadran IV (Independent)

(Strong driver-weak dependent)

Kuadran III (Linkage)

(Strong driver-strongly dependent)

 P4

 P8

 P1

 P7

 P3

 P10

Kuadran I (Autonomous)

(Weak driver – weak dependent)

Kuadran II (Dependent)

(Weak driver-strongly dependent)

 P9  P2

 P6

 P5

Merujuk pada Tabel 5.6 terlihat bahwa pada kuadran I terdapat satu subelemen yaitu asosiasi produsen (P9). Subelemen ini memiliki daya dorong yang rendah dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga rendah. Pada kuadran II (kuadran Dependent) terdapat tiga subelemen yaitu perusahaan dan industri terkait (P2), lembaga pendidikan dan pelatihan (P6), dan lembaga keuangan (P5).

Subelemen pada kuadran ini memiliki driver power yang relatif rendah dengan dependence yang cukup tinggi. Subelemen pada kuadran ini merupakan subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain.

(29)

29 Pada kuadran III (Linkage) terdapat dua subelemen yaitu perusahaan dan industri pendukung (P3) dan pedagang dan eksportir (P10). Subelemen ini memiliki daya dorong yang tinggi dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga tinggi atau subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain. Subelemen pada kuadran ini harus dikaji secara hati- hati, sebab hubungan antar subelemen adalah tidak stabil. Setiap tindakan pada subelemen tersebut akan memberikan dampak terhadap lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak. Pada kuadran 4 (kuadran Independent) terdapat empat subelemen yaitu pemerintah daerah (P4), lembaga pengujian, standardisasi dan sertifikasi (P8), perusahaan dan industri klaster (P1) dan lembaga penelitian dan pengembangan (P7). Keempat subelemen ini merupakan subelemen yang independen dan memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang tinggi, namun memiliki ketergantungan yang rendah terhadap subelemen lain.

5.2.3. Strukturisasi Elemen Kendala

Strukturisasi Elemen kendala terdiri dari 10 subelemen. Menggunakan teknik ISM VAXO, matriks reachability dan struktur hierarki elemen kendala disajikan pada Tabel 5.7 dan Tabel 5.8.

Tabel 5.7. Matriks Reachibility Final Elemen Kendala

Kode K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 K10

K1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1

K2 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1

K3 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0

K4 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1

K5 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1

K6 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0

K7 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0

K8 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0

K9 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0

K10 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1

Keterangan :

K1= Kekurangan pemahaman pengusaha tentang manfaat klaster K2= Lemahnya sistem kelembagaan

K3= Belum terbentuknya jaringan dan kerjasama yang saling mendukung diantara pengusaha

(30)

30 K4= Kurang adanya dukungan peraturan pemerintah dalam pengembangan

klaster

K5= Rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan K6= Perbedaan budaya kerja antar perusahaan

K7= Perbedaan kepentingan antar perusahaan

K8= Belum adanya sikap saling percaya diantara pengusaha K9= Belum terbentuknya forum komunikasi antar pengusaha K10= Kurangnya akses permodalan

Selanjutnya berdasarkan matriks reachability final dapat disusun struktur hirarki driver power dan dependence elemen kendala seperti tabel berikut:

Tabel 5.8. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Kendala

Driver Power (DP) Dependence (D)

Kode Nilai Peringkat Kode Nilai Peringkat

K2, K4 9 1 K4, K5, K8 8 1

K10 8 2 K6 7 2

K3 7 3 K1, K7 6 3

K7, K9 6 4

K2, K3, K9,

K10 5 4

K1, K6, K8 5 5

K5 3 6

Berdasarkan nilai driver power, struktur hierarki elemen kendala menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat dua subelemen yaitu subelemen lemahnya sistem kelembagaan (K2) dan kurang adanya dukungan pemerintah dalam pengembangan klaster (K4). Subelemen ini memiliki daya dorong yang besar untuk mempengaruhi subelemen lain. Ini berarti bahwa subelemen lemahnya sistem kelembagaan dan kurang adanya dukungan peraturan pemerintah dalam pengembangan klaster menjadi subelemen kunci utama pada struktur elemen kendala untuk mengembangkan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat satu subelemen yang memiliki driver power yang tinggi juga yaitu kurangnya akses permodalan (K10). Pada peringkat tiga terdapat satu subelemen yaitu belum terbentuknya jaringan dan kerjasama yang saling mendukung diantara pengusaha (K3). Pada peringkat 4 terdapat dua subelemen yaitu perbedaan kepentingan antar perusahaan (K7) dan belum terbentuknya forum komunikasi antar pengusaha (K9). Peringkat 5 dan 6 adalah subelemen dengan nilai driver power rendah (=< 5) yang terdiri dari subelemen

(31)

31 kekurangan pemahaman pengusahan tentang manfaat klaster (K1), perbedaan budaya kerja antar perusahaan (K6), belum adanya sikap saling percaya diantara pengusaha (K8) dan rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan (K5).

Berdasarkan nilai dependence, struktur hierarki elemen kendala menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat tiga subelemen yaitu kurang adanya dukungan peraturan pemerintah dalam pengembangan klaster (K4), rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan (K5) dan belum adanya sikap saling percaya diantara pengusaha (K8). Ini berarti bahwa ketiga subelemen tersebut memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap subelemen yang lain. Dengan kata lain, setiap tindakan pada subelemen lain akan berdampak besar pada keempat subelemen tersebut. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat satu subelemen yang memiliki dependence yang juga tinggi yaitu perbedaan budaya kerja antar perusahaan (K6). Pada peringkat ketiga terdapat dua subelemen yaitu kekurangan pemahaman pengusaha tentang manfaat klaster (K1) dan perbedaan kepentingan antar perusahaan (K7)

Pada peringkat 4, dependence subelemen relatif rendah (=< 5). Terdapat empat subelemen dengan kategori dependence rendah ini yaitu lemahnya sistem kelembagaan (K2), belum terbentuknya jaringan dan kerjasama yang saling mendukung diantara pengusaha (K3), belum terbentuknya forum komunikasi antar pengusaha (K9) dan kurangnya akses permodalan (K10).

Selanjutnya klasifikasi elemen kendala dalam diagram Driver Power- Dependence sebagaimana dilihat pada Tabel 5.9. berikut:

Tabel 5.9. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Kendala Kuadran IV (Independent)

(Strong driver-weak dependent)

Kuadran III (Linkage)

(Strong driver-strongly dependent)

 K2

 K10

 K3

 K9

 K4

 K7

Kuadran I (Autonomous)

(Weak driver – weak dependent)

Kuadran II (Dependent)

(Weak driver-strongly dependent)

 K1

 K6

 K8

 K5

(32)

32 Merujuk pada Tabel 5.9 terlihat bahwa tidak terdapat satupun subelemen pada kuadran I. Dengan kata lain, tidak terdapat subelemen kendala yang memiliki daya dorong yang rendah dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga rendah. Pada kuadran II (kuadran Dependent) terdapat empat subelemen yaitu kekuangan pemahaman pengusaha tentang manfaat klaster (K1), perbedaan budaya kerja antar perusahaan (K6), belum adanya sikap saling percaya diantara pengusaha (K8) dan rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan (K5). Subelemen pada kuadran ini memiliki driver power yang relatif rendah dengan dependence yang cukup tinggi. Subelemen pada kuadran ini merupakan subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain.

Pada kuadran III (Linkage) terdapat dua subelemen yaitu kurang adanya dukungan peraturan pemerintah dalam pengembangan klaster (K4) dan perbedaan kepentingan antar perusahaan (K7). Subelemen ini memiliki daya dorong yang tinggi dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga tinggi atau subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain. Subelemen pada kuadran ini harus dikaji secara hati-hati, sebab hubungan antar subelemen adalah tidak stabil. Setiap tindakan pada subelemen tersebut akan memberikan dampak terhadap lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak. Pada kuadran 4 (kuadran Independent) terdapat empat subelemen yaitu lemahnya sistem kelembagaan (K2), kurangnya akses permodalan (K10), belum terbentuknya jaringan dan kerjasama yang saling mendukung diantara pengusaha (K3) dan belum terbentuknya forum komunikasi antar pengusaha (K9).

Keempat subelemen ini merupakan subelemen yang independen dan memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang tinggi, namun memiliki ketergantungan yang rendah terhadap subelemen lain.

5.2.4. Strukturisasi Elemen Peran Pemerintah

Strukturisasi elemen peran pemerintah yang terdiri dari 11 subelemen.

Menggunakan teknik ISM VAXO menghasilkan matriks reachability dan struktur hierarki elemen peran pemerintah disajikan pada Tabel 5.10 dan Tabel 5.11.

(33)

33 Tabel 5.10. Matriks Reachibility Final Elemen Peran Pemerintah

Kode G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7 G8 G9 G10 G11

G1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1

G2 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1

G3 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1

G4 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1

G5 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0

G6 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0

G7 0 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0

G8 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1

G9 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1

G10 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1

G11 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1

Keterangan :

G1= Melakukan koordinasi antar instansi yang terkait dengan klaster.

G2= Membangun komunikasi dan kerjasama antar anggota klaster.

G3= Meningkatkan sistem transportasi, komunikasi dan infrastruktur lainnya.

G4= Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan.

G5= Menerbitkan peraturan yang mendukung terbentuknya persaingan yang sehat.

G6= Melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan pada perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah.

G7= Menyediakan fasilitas umum dan sosial di daerah.

G8= Melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster.

G9= Mensponsori kegiatan standardisasi, pengujian dan sertifikasi.

G10= Melakukan promosi penjualan dan ekspor.

G11= Melakukan kegiatan pengumpulan dan diseminasi data serta informasi.

Selanjutnya berdasarkan matriks reachability final dapat disusun struktur hirarki driver power dan dependence elemen peran pemerintah seperti tabel berikut:

Tabel 5.11. Struktur Hirarki Driver Power dan Dependence Elemen Peran Pemerintah

Driver Power (DP) Dependence (D)

Kode Nilai Peringkat Kode Nilai Peringkat

G5 9 1 G6 9 1

G10 8 2 G2, G4, G11 8 2

G1, G2, G4, G6,

G8, G11 7 3

G7, G9

7 3

G3, G7, G9 5 4 G3, G5 6 4

G1, G8, G10 5 5

(34)

34 Berdasarkan nilai driver power, struktur hierarki elemen peran pemerintah menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat satu subelemen yaitu menerbitkan peraturan yang mendukung terbentuknya persaingan yang sehat (G5). Subelemen ini memiliki daya dorong yang besar untuk mempengaruhi subelemen lain. Ini berarti bahwa subelemen pemerintah daerah yang menjadi subelemen kunci utama pada struktur elemen pelaku untuk mengembangkan klaster agroindustri UMKM di Provinsi Jambi. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat satu subelemen yang memiliki driver power yang tinggi juga yaitu melakukan promosi penjualan dan ekspor (G10). Pada peringkat 3 terdapat enam subelemen yaitu melakukan koordinasi antar instansi yang terkait dengan klaster (G1), membangun komunikasi dan kerjasama antar anggota klaster (G2), menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan (G4), melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan pada perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah (G6), melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster (G8), dan melakukan kegiatan pengumpulan dan diseminasi data serta informasi (G11). Peringkat 4 adalah subelemen dengan nilai driver power rendah (=< 5,5) yang terdiri dari subelemen meningkatkan sistem transportasi, komunikasi dan infrastruktur lainnya (G3), menyediakan fasilitas umum dan sosial di daerah (G7) dan mensponsori kegiatan standardisasi, pengujian dan sertifikasi (G9).

Berdasarkan nilai dependence, struktur hierarki elemen peran pemerintah menunjukkan bahwa pada hierarki tertinggi (peringkat 1) terdapat satu subelemen yaitu subelemen melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan pada perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah (G6). Ini berarti bahwa subelemen tersebut memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap subelemen yang lain. Dengan kata lain, setiap tindakan pada subelemen lain akan berdampak besar pada keempat subelemen tersebut. Pada peringkat di bawahnya (peringkat 2) terdapat tiga subelemen yang memiliki dependence yang juga tinggi yaitu membangun komunikasi dan kerjasama antar anggota klaster (G2), menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan (G4), melakukan kegiatan pengumpulan dan diseminasi data serta informasi (G11). Pada peringkat ketiga terdapat dua subelemen yaitu menyediakan fasilitas umum dan sosial di daerah (G7) dan mensponsori kegiatan standardisasi, pengujian dan sertifikasi (G9). Selanjutnya pada peringkat keempat

(35)

35 terdapat dua subelemen yaitu meningkatkan sistem transportasi, komunikasi dan infrastruktur lainnya (G3) dan menerbitkan peraturan yang mendukung terbentuknya persaingan yang sehat (G5).

Pada peringkat 5, dependence subelemen relatif rendah (=< 5,5). Terdapat tiga subelemen dengan kategori dependence rendah ini yaitu melakukan koordinasi antar instansi yang terkait dengan klaster (G1), melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster (G8) dan melakukan promosi penjualan dan ekspor (G10).

Selanjutnya klasifikasi elemen peran pemerintah dalam diagram Driver Power-Dependence sebagaimana dilihat pada Tabel 5.12. berikut:

Tabel 5.12. Kuadran Dependency-Driver Power Elemen Peran Pemerintah Kuadran IV (Independent)

(Strong driver-weak dependent)

Kuadran III (Linkage)

(Strong driver-strongly dependent)

 G1

 G8

 G10

 G5

 G2

 G4

 G6

 G11 Kuadran I (Autonomous)

(Weak driver – weak dependent)

Kuadran II (Dependent)

(Weak driver-strongly dependent)

 G3

 G7

 G9

Pada Tabel 5.12 terlihat bahwa pada tidak satupun subelemen peran pemerintah yang berada pada kuadran I. Artinya, tidak terdapat peran pemerintah yang memiliki daya dorong yang rendah dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga rendah. Pada kuadran II (kuadran Dependent) terdapat tiga subelemen meningkatkan sistem transportasi, komunikasi dan infrastruktur lainnya (G3), menyediakan fasilitas umum dan sosial di daerah (G7) dan mensponsori kegiatan standardisasi, pengujian dan sertifikasi (G9). Subelemen pada kuadran ini memiliki driver power yang relatif rendah dengan dependence yang cukup tinggi. Subelemen pada kuadran ini merupakan subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain.

Pada kuadran III (Linkage) terdapat lima subelemen yaitu menerbitkan peraturan yang mendukung terbentuknya persaingan yang sehat (G5), membangun

(36)

36 komunikasi dan kerjasama antar anggota klaster (G2), menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan (G4), melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan pada perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah (G6) dan melakukan kegiatan pengumpulan dan diseminasi data serta informasi (G11). Subelemen ini memiliki daya dorong yang tinggi dan tingkat keterkaitan dengan sistem (subelemen lain) yang juga tinggi atau subelemen yang tidak bebas dan mempunyai ketergantungan yang besar kepada subelemen lain. Subelemen pada kuadran ini harus dikaji secara hati- hati, sebab hubungan antar subelemen adalah tidak stabil. Setiap tindakan pada subelemen tersebut akan memberikan dampak terhadap lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak. Pada kuadran 4 (kuadran Independent) terdapat tiga subelemen yaitu melakukan koordinasi antar instansi yang terkait dengan klaster (G1), melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster melakukan upaya menarik investor ke dalam klaster (G8) dan melakukan promosi penjualan dan ekspor (G10). Ketiga subelemen ini merupakan subelemen yang independen dan memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang tinggi, namun memiliki ketergantungan yang rendah terhadap subelemen lain.

5.2.5. Strukturisasi Elemen Aktivitas Dunia Usaha

Strukturisasi elemen dunia usaha yang terdiri dari 11 subelemen dengan menggunakan teknik ISM VAXO menghasilkan matriks reachability, struktur hierarki dan klasifikasi elemen. Hasil final matriks reachability dari elemen aktivitas dunia usaha disajikan pada Tabel 5.13 dan Tabel 5.14.

Tabel 5.13. Matriks Reachibility Final Elemen Aktivitas Dunia Usaha

Kode U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 U10 U11

U1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0

U2 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1

U3 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1

U4 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1

U5 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0

U6 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0

U7 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0

U8 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1

U9 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0

U10 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0

U11 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1

Keterangan :

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Program pengembangan ternak sapi dikenal dengan NTB-Bumi Sejuta Sapi (NTB- BSS). Target yang tercantum dalam Blueprint NTB-BSS adalah tercapainya populasi ternak sapi

Tabel 5.2 Arahan Pengembangan Sumbu/Poros Pengembangan Objek Wisata Potensial Kabupaten Pulau Morotai ... V - 11 Tabel 5.6 Strategi dan Arahan Pengembangan

Program pengembangan ternak sapi dikenal dengan NTB-Bumi Sejuta Sapi (NTB-BSS). Target yang tercantum dalam Blueprint NTB-BSS adalah tercapainya populasi ternak

LAPORAN AKHIR “REKOMENDASI PENGEMBANGAN EKOEDUWISATA BAHARI DI PULAU CEMARA BESAR, KARIMUNJAWA” TAHUN 2020 20 Tahun 2001 serta perubahan Keputusan Menteri Kelautan dan

Berdasarkan keluaran model (Tabel 9) diperoleh bahwa sub-elemen kunci yang memiliki daya dorong (driver power) paling besar dalam pencapaian tujuan pengembangan klaster adalah

Tabel 1.2Rangkuman kekuatan mooring pada kapal 6500 DWT Dari Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa antara tension pada kondisi STOKES dengan kondisi JONSWAP, tension yang paling besar ada di

Kelas sejuk nyaman adalah kelas yang sesuai untuk dijadikan sebagai pengembangan villa yang mana pada Kelurahan Balai Gadang masih cukup potensial dikembangkan karena daerahnya yang

Peraturan menteri ini dibentuk dengan tujuan untuk mencegah dan menangani segala bentuk kekerasan seksual serta menegakkan hukum dan merehabilitasi para pelaku agar tindakan kekerasan