BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting di dalam perekonomian Indonesia. Peranan penting dari UMKM ini adalah mampu memberikan manfaat dengan membuka lapangan pekerjaan baru yang selama ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu UMKM juga berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya dapat mengurangi jumlah pengangguran sehingga tingkat kemiskinan juga akan menurun. Perusahaan/badan usaha yang bergerak dalam Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tentunya berkeinginan dalam mendirikan usaha mengalami kemajuan dan perkembangan. Keberhasilan usaha mikro, kecil dan menengah tidak terlepas dari kerja keras pemilik dalam mengelola usahanya beserta kebijakan- kebijakan manajemen yang diterapkan pemilik usaha, dengan kebijakan-kebijakan ini usaha yang didirikan akan semakin mengalami kemajuan dan berkembang.
Berdasarkan Sensus Ekonomi 2016, perkembangan UMKM tercatat sebanyak 26.422.256 unit UMKM di Indonesia. Bahkan tiga provinsi di Pulau Jawa, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur masih didominasi oleh pelaku usaha, yaitu 50%
dari total perusahaan di Indonesia, dengan 834.766 unit UMKM di Provinsi Jambi saja. . Pada tahun 2020, tercatat sebanyak 10.763 unit UMKM di Kota Jambi.
Permasalahan yang sering dihadapi UMKM terkait dengan pengelolaan keuangan, kualitas sumber daya manusia, pemasaran produk dan permodalan. Salah satu permasalahan di atas yang sering diabaikan oleh pelaku UMKM adalah pengelolaan keuangan. Penerapan informasi akuntansi dalam pengelolaan keuangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dilihat masih kurang dipahami oleh para pelaku UMKM. Hal ini dikarenakan masih banyak pengusaha kecil yang belum melakukan pencatatan akuntansi dengan baik. Para pengusaha kecil dan menengah biasanya hanya melakukan pencatatan pembukuan tradisional yaitu sebatas
pencatatan penjualan atau pendapatan saja. Efek dari pengabaian manajemen keuangan belum tentu begitu jelas. Namun, tanpa praktik akuntansi yang efektif, perusahaan dengan prospek keberhasilan atau pertumbuhan bisa bangkrut. Informasi yang dicatat untuk akuntansi berguna untuk memandu keputusan bisnis yang dibuat oleh pelaku UMKM untuk meningkatkan manajemen bisnis. Dengan informasi tersebut, pelaku UMKM dapat mengidentifikasi dan memprediksi potensi masalah untuk kemudian mengambil keputusan yang tepat. Tanpa informasi akuntansi, masalah yang sebenarnya dapat dihindari atau diselesaikan akan menyebabkan perusahaan bangkrut. Oleh karena itu, sangat penting bagi pelaku UMKM untuk dapat membaca dan memahami informasi akuntansi. Setidaknya setiap pengusaha UMKM mengetahui bagaimana perhitungan untung rugi, namun yang terpenting adalah memahami arti untung rugi bagi usaha yang dijalankannya.
Penggunaan informasi akuntansi pada usaha mikro, kecil dan menengah merupakan salah satu upaya untuk memprediksi kegagalan suatu usaha yang sedang berjalan. Selain itu, informasi akuntansi juga dapat digunakan untuk menyajikan informasi yang relevan dan tepat waktu untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan sesuai dengan harapan atau tidak, dan yang lebih penting lagi, penggunaan informasi akuntansi dalam usaha kecil membantu manajemen untuk merencanakan, mengendalikan dan mengelola keputusan. Evaluasi Produksi dan Kinerja. Variabel yang digunakan dalam analisis ini adalah tingkat pendidikan, informasi akuntansi dan ukuran perusahaan.
Kesulitan yang dihadapi UMKM disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
tingkat pendidikan yang rendah dan keterampilan akuntansi yang kurang, sehingga pemahaman mereka tentang bagaimana menggunakan informasi akuntansi dalam manajemen bisnis masih sangat terbatas, sedangkan informasi akuntansi sangat dibutuhkan. untuk melihat bisnis saat ini dan rencana yang akan diimplementasikan ke depan untuk pengembangan bisnis UMKM. Banyak atau tidaknya jumlah karyawan dalam perusahaan juga berperan dalam kenyataan bahwa para pelaku bisnis menggunakan informasi akuntansi karena merasa belum membutuhkannya, mis. B.
dilihat dari jumlah pegawai yang sedikit, hanya 1 atau 2 pegawai (Novianti et al., 2018).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hudha (2017), pada penelitiannya yang berisi bahwa ilmu akuntansi berpengaruh signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi. Penelitian yang dilakukan oleh Yasa et al., (2017), menyimpulkan bahwa skala usaha dan pengetahuan akuntansi berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati &
Martika (2015), menyimpulkan bahwa secara parsial pengetahuan akuntansi dan skala usaha berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi.
Selain itu, pemerintah juga mempertegas UU UKM No 9/9/1995. Keputusan pemerintah yang tertuang dalam undang-undang tersebut harus dijadikan dasar tersendiri dan mengubah persepsi pelaku UMKM dalam menggunakan data akuntansi. Apabila diimplementasikan dengan baik, salah satu keuntungan dari undang-undang ini adalah ketika melakukan pemeriksaan pajak UMKM, informasi akuntansi juga dapat digunakan sebagai pembelaan dengan dasar hukum yang sangat kuat. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki informasi akuntansi.
Karena usaha kecil pun menghadapi variabel yang lebih kompleks, diharapkan akuntansi dapat dilakukan di berbagai organisasi (Setiawan, 2019)
Pelaku UMKM masih merasa sulit dengan penerapan pembukuan akuntansi dalam menyediakan laporan keuangan yang informatif. Hal ini disebabkan lemahnya kemampuan pemangku kepentingan bisnis, terutama yang memiliki pengetahuan akuntansi, untuk mengelola keuangan perusahaan dengan memberikan informasi akuntansi yang informatif (Rudiantoro & Siregar, 2012). Penyebab diatas menurut Hutagaol, (2012), disebabkan oleh tingkat pendidikan yang masih rendah, kurangnya pengetahuan dan keterampilan pada bidang akuntansi, tidak memiliki keahlian dalam melakukan pembukuan sesuai standar, ada yang berpendapat bahwa pembukuan tidak penting dalam sebuah usaha yang dijalankan, dan banyak juga yang berpendapat bahwa akuntansi terlalu sulit untuk dilakukan.
Cukup banyak dampak yang tidak menyediakan informasi akuntansi, salah satunya kapasitas usaha cukup sulit didapatkan karna akses permodalan yang cukup
tinggi. Haryadi (2017), menyatakan bahwa kesulitan untuk mendapatkan modal dan akses pasar itu dapat menyulitkan UMKM untuk berkembang. Kepercayaan perusahaan dalam menyelenggarakan akuntansi tidak sebesar perbankan dalam memberikan modal disebabkan karna tidak adanya pengelolaan secara professional dan akuntabilitas yang baik dari pengelola usaha tersebut. Apabila pelaku UMKM bersedia dan sanggup dalam mengajukan kredit dengan memasukkan laporan keuangan dalam proses pengajuan tersebut, maka salah satu manfaat yang sangat besar adalah dapat memenuhi persyaratan dengan baik (Warsono, 2019).
Dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa masalah yang sering dihadapi para pelaku UMKM di Kota Jambi kemungkinan masih kurangnya pengusaha UMKM dengan latar belakang pendidikan Strata 1 ke atas, pengusaha tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, mereka memilih Memulai usaha daripada melanjutkan.
pelatihan Sehingga UKM tidak memiliki pemahaman akuntansi yang utuh. Selain itu, pelaku UMKM masih belum diakui memiliki pemahaman manajemen keuangan.
Masih banyak pemilik usaha kecil yang belum menjaga laporan keuangannya dengan baik. Bahkan, ada juga yang tidak melakukan pencatatan. Pemilik usaha kecil dan menengah biasanya hanya menyimpan rekening, sebatas mencatat pemasukan dan pengeluaran.
Jumlah UMKM di Kota Jambi terbagi menjadi 11 kecamatan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Kota Jambi, total 10.763 UMKM pada tahun 2020, dengan jumlah UMKM dapat bertambah atau berkurang setiap tahunnya.
Tabel 1.1
Jumlah UMKM di Kecamatan Kota Jambi Tahun 2020
No Kecamatan Jumlah UMKM
1. Telanaipura 1.195
2. Jambi Selatan 1.031
3. Jambi Timur 1.423
4. Pasar Jambi 929
5. Pelayangan 615
6. Danau Teluk 656
7. Kota Baru 736
8. Jelutung 553
9. Alam Barajo 932
10. Danau Sipin 1.578
11. Paal Merah 1.115
Jumlah 10.763
Sumber : DISNAKER Kota Jambi Tahun 2020
Selain itu, mereka juga tidak terlalu mengetahui perkembangan usaha yang mereka jalankan atau bahkan mengalami kegagalan karena tidak adanya informasi yang akurat untuk memandu, sehingga dalam hal ini informasi tersebut berdampak dan tindakan yang berarti dari perusahaan yang dikelola. Karena informasi akuntansi dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengetahui bagaimana struktur modal dan berapa laba yang diperoleh perusahaan dalam suatu periode tertentu dan dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan yang sangat bermanfaat (Handayani, 2015).
Ada beberapa penelitian yang meneliti tentang informasi akuntansi pada UMKM. Dewi & Purwatiningsih (2021), menyimpulkan bahwa jenjang pendidikan berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi dan Nirwana & Purnama, (2019) menyimpulkan bahwa jenjang pendidikan, skala usaha dan lama usaha mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi. Berbeda dengan Fithoriah &
Pranaditya, (2019) yang mengemukakan tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi, sedangkan Novianti, Mustika dan Eka (2018) meneliti bahwa skala usaha tidak berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi.
Dari hasil penelitian diatas, menerangkan bahwa ada perbedaan dari hasil penelitian terdahulu baik dari tingkat pendidikan, pengetahuan akuntansi, dan skala usaha terhadap penggunaan informasi akuntansi. Oleh karena itu, berdasarkan masalah yang ada dan ketidakefektifan dalam penelitian terdahulu peneliti kembali
meneliti faktor-faktor tersebut untuk menguatkan penelitian yang ada. Dan juga untuk mengetahui seberapa besarnya peran UMKM bagi kehidupan pemilik, karyawan, masyarakat dan bagi negara sebagai penggerak perekonomian menjadi maju dan berkembang. Maka dari itu peneliti mengangkat penelitian ini yang berjudul
“PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN, PENGETAHUAN AKUNTANSI, DAN SKALA USAHA TERHADAP PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA UMKM DI KOTA JAMBI”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah terdapat pengaruh tingkat pendidikan terhadap penggunaan informasi akuntansi?
2. Apakah terdapat pengaruh pengetahuan akuntansi terhadap penggunaan informasi akuntansi?
3. Apakah terdapat pengaruh skala usaha terhadap penggunaan informasi akuntansi?
4. Apakah terdapat pengaruh tingkat pendidikan, pengetahuan akuntansi, dan skala usaha secara bersama-sama mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan pemilik terhadap penggunaan informasi akuntansi.
2. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan akuntansi terhadap penggunaan informasi akuntansi.
3. Untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap penggunaan informasi akuntansi.
4. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan, pengetahuan akuntansi, dan skala usaha secara bersama-sama mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Penulis
Pada penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana agar bisa menerapkan teori yang telah diperoleh di masa perkuliahan serta menambah wawasan penulis dengan memberikan pengetahuan tentang pengaruh atau faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi.
2. Bagi Pelaku Usaha
Dari hasil penelitian ini diharapakn agar dapat memberikan pemahaman pengetahuan akuntansi bagi pelaku UMKM dan pentingnya informasi akuntansi dalam melakukan usaha yang dibangun dan juga dalam pengambilan keputusan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan bisa dijadikan referensi dan menambah pengetahuan, wawasan dan juga dapat bermanfaat untuk penelitian selanjutnya mengenai pengaruh tingkat pendidikan, pengetahuan akuntansi, dan skala usaha terhadap penggunaan informasi akuntansi.