1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gambaran proses yang berkelanjutan dengan memperhatikan pertumbuhan penduduk juga sistem perekonomian dalam meningkatkan pendapatan nasional disebut dengan pembangunan ekonomi. Dalam hal melihat terjadinya peningkatan pendapatan nasional maka bisa diperoleh dengan mengetahui adanya di suatu wilayah dalam negara yang menghasilkan banyaknya kenaikan output total. Output total yang meningkat didasarkan dari banyaknya sumber daya alam yang bervariasi. Kayanya sumber daya alam dimanfaatkan oleh sumber daya manusia. Kemudian diseimbangkan dengan kuantitas angkatan kerja serta kegiatan sarana dan prasarana produksi yang mendukung. Dalam rangka meningkatkan produksi produk dan jasa yang lebih baik tanpa meningkatkan biaya produksi, maka perlu menjaga keseimbangan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. Hal ini berdampak pada peningkatan efisiensi produksi.
Yuliathinerda, (2019)
Faktor tenaga kerja tidak dapat terpisahkan dari pembangunan ekonomi, hal ini disebabkan karena yang merupakan komponen pada sumber daya manusia.
Dalam tujuan untuk mengembangkan sektor ekonomi serta meningkatkan total produksi oleh pembangunan ekonomi. Maka, hal tersebutlah sebagai maksud bahwa sumber daya manusia memiliki keterikan selama dalam proses periode pembangunan ekonomi. Berdasarkan karena hal tersebutlah sehingga pemerintah
2 memilih kebijakan pada ketenagakerjaan sebagai elemen kunci utama dasar dalam pemerintah mengambil kebijakan untuk menjamin keberhasilan pembangunan ekonomi dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Jika jumlah angkatan kerja terserap dengan banyak mengikuti seiring dengan pertambahan penduduk, ini menunjukkan perkembangan ekonomi yang baik ketika pertumbuhan penduduk diimbangi oleh adanya penyerapan tenaga kerja.
Penyerapan tenaga kerja merupakan banyaknya lapangan pekerjaan yang sudah terisi yang tercermin dari banyaknya jumlah penduduk bekerja yang terserap dan tersebar diberbagai sektor perekonomian. Terserapnya penduduk bekerja disebabkan adanya permintaan tenaga kerja. Oleh karena itu, penyerapan tenaga kerja dapat dikatakan sebagai permintaan tenaga kerja. Namun hal ini bisa menimbulkan masalah apabila penawaran tenaga kerja peningkatannya melampaui dari tersedianya permintaan tenaga kerja maka akan menimbulkan masalah dalam bidang ketenagakerjaan. Widiastuti, (2014)
Masalah ketenagakerjaan dapat menjadi suatu kendala dalam pembangunan ekonomi disuatu negara. Di Indonesia salah satunya sebagai negara berkembang tidak terlepas dari masalah-masalah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Masalah ketenagakerjaan yang dihadapi oleh Indonesia adalah pesatnya peningkatan jumlah angkatan kerja. BPS mencatat jumlah penduduk indonesia tahun 2016-2020 rata-rata mencapai 264.545 jiwa, dimana BPS menerangkan pada tahun 2016 jumlah penduduk Indonesia sebesar 258.705 jiwa, lalu di tahun 2017 penduduk meningkat menjadi 261.891 jiwa (naik 1,23%), kejadian yang sama di tahun 2018 penduduk meningkat kembali yakni sebesar
3 265.015 jiwa (naik 1,19%), tahun 2019 penduduk terus meningkat hingga tahun 2020, yaitu di tahun 2019 sebesar 266.912 jiwa (naik 0,17%) dan di tahun 2020 sebesar 270.204 jiwa (naik 1,23%). Angkatan kerja menjadi bagian diantaranya.
Angkatan kerja di Indonesia terus mengalami perkembangan tiap tahunnya, dari data BPS jumlah angkatan kerja tahun 2016 menunjukkan sebesar 125.443.748.00 jiwa, kemudian meningkat pada tahun 2017 sebesar 128.062.746.00 jiwa (naik sebesar 2,08 %), peningkatan kembali terjadi lagi ditahun 2018 yakni sebesar 133.355.571.00 jiwa (naik sebesar 4,13%), begitu juga di tahun 2019 terjadi peningkatan sebesar 135.859.695.00 jiwa (naik sebesar 1,87%), hingga tahun 2020 juga meningkat menjadi 138.221.938.00 jiwa (naik sebesar 1,73%).
Peningkatan angkatan kerja menunjukkan penawaran tenaga kerja didalam pasar bertambah. Namun penawaran tenaga kerja yang bertambah tidak selalu diiringi dengan permintaan tenaga kerja yang mampu menyerap angkatan kerja.
Hal tersebut ditunjukkan dengan masih tingginya angka pengangguran di Indonesia. Berdasarkan data BPS memperlihatkan bahwa pada tahun 2016 sebesar 7.031.775.00 jiwa, lalu meningkat di tahun 2017 sebesar 7.040.323.00 jiwa (naik 0,12%), kemudian di tahun 2018 meningkat lagi yakni sebesar 7.073.385.00 jiwa (naik 0,46%), kemudian angka pengangguran terus meningkat ditahun 2019 hingga 2020, yaitu tahun 2019 sebesar 7.104.424.00 jiwa (naik 0,43%) dan penganguran tertinggi terjadi ditahun 2020 yaitu sebesar 9.767.754.00 jiwa (naik 37,48%). Hal ini didukung oleh Pangastuti, (2017) yang mengatakan bahwa apabila penawaran tenaga kerja lebih tinggi dari pada permintaan tenaga kerja, maka dapat menimbulkan permasalahan ketenagakerjaan yaitu pengangguran.
4
2016 2017 2018 2019 2020
Penduduk Usia Kerja 39.426.578 40.153.905 40.856.783 41.589.068 43.272.091 Angkatan Kerja 26.709.794 27.036.466 28.628.334 28.787.596 29.476.031 Penduduk Bekerja 25.258.225 25.629.600 27.166.672 27.337.764 27.665.526
Pengangguran Terbuka(%) 5,43 5,20 5,11 5,03 6,14
Jenis Kegiatan Tahun
Pengangguran merupakan suatu permasalahan yang begitu kompleks karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya yang saling berinteraksi.
Pengangguran yang terus menerus akan menimbulkan keresahan sosial dan dapat menyebabkan kemiskinan. Karena tingkat pengangguran merupakan indikator tingkat kemakmuran setelah pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu pesatnya laju pertumbuhan angkatan kerja mesti diseimbangi dengan penyerapan tenaga kerja.
Maka pemerintah negara mesti menyediakan lapangan pekerjaan yang mampu menyerapan angkatan kerja yang tinggi tersebut. Mohammad Ilham, (2018)
Keadaan pasar tenaga kerja di Indonesia juga hampir sama terjadi di Pulau Sumatera, meskipun dengan proporsi yang berbeda. Berikut adalah data kondisi ketenagakerjaan di Pulau Sumatera Tahun 2016-2020.
Tabel 1.1 Data Kondisi Ketenagakerjaan di Pulau Sumatera Tahun 2016-2020 (Juta Jiwa).
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2021
Dari tabel 1.1 tersebut memperlihatkan kondisi ketenagakerjaan pada Pulau Sumatera menunjukkan bahwa penduduk usia kerja di pulau sumatera tahun 2016-2020 mengalami peningkatan ditiap tahunnya. Begitu pun juga dengan angkatan kerja, dari data tersebut memperlihatkan adanya peningkatan disetiap tahun 2016-2020. Serta penduduk bekerja juga terus terjadinya kenaikan di selama tahun 2016-2020. Namun dari pernyataan tersebut penduduk bekerja jumlahnya nya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja, maka dari
5 hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka di Pulau Sumatera ditahun 2016-2019 cenderung mengalami penurunan, tapi ditahun 2020 mengalami peningkatan yaitu sebesar 6,14 persen. Penurunan tingkat pengangguran terbuka ini belum bisa dikatakan sebagai kondisi ketenagakerjaan di Sumatera yang membaik. Pengangguran masyarakat tampaknya rendah dikarenakan seseorang akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Permasalahannya adalah dengan orang-orang terkesan bekerja yang menjalankan pekerjaan yang dibawah jam kerja 35 jam per minggu, padahal mereka melakukannya dengan produktivitas yang rendah, medapatkan upah yang rendah, dan adapun juga dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang atau keahlian mereka, maka hal itu dikatakan setengah menganggur.
Berdasarkan data BPS yang menunjukkan bahwa tingkat setengah pengangguran di Pulau Sumatera dalam kurun waktu 2016-2020 cenderung mengalami peningkatan, kecuali tahun 2018 yang menurun, dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat setengah pengangguran tahun 2016 sebesar 9,14%, tahun 2017 mengalami kenaikkan sebesar 9,28%, tahun 2018 sebesar 8,11% lalu meningkat kembali di tahun 2019 sebesar 8,34% hingga tahun 2020 tingkat setengah pengangguran meningkat menjadi sebesar 11,68%. Persentase data tersebut menujukkan bahwa tingkat setengah pengangguran di Pulau Sumatera rata-rata mencapai 9,31 persen selama tahun 2016-2020. Jika dibandingkan dengan tiga Pulau jumlah penduduk tertinggi di Indonesia, Pulau Jawa memiliki tingkat pengangguran tertinggi pertama sebesar 6,33 persen, Pulau Sumatera berada di peringkat kedua sebesar 5,32 persen, dan Pulau Sulawesi berada
6 diurutan ke tiga sebesar 4,30 persen. Dan apabila dibandingkan sama semua pulau di Indonesia, Pulau Sumatera menduduki peringkat ke tiga tingkat pengangguran terbuka tertinggi.
Namun jika dilihat berdasarkan tingkat setengah pengangguran, Pulau Sumatera mendapat peringkat pertama tertinggi sebesar 9,31 persen, sedangkan Pulau Jawa berada diurutan ketiga sebesar 5,69 persen, dan Pulau Sulawesi diurutan ke kedua sebesar 9,22 persen, Hal ini menunjukkan bahwa Jawa dan Sulawesi memiliki tingkat setengah pengangguran yang lebih baik daripada Sumatera. Mengingat tingkat setengah pengangguran dan pengangguran terbuka di Pulau Sumatera pada 2016-2020, tingkat setengah pengangguran lebih tinggi dari tingkat pengangguran terbuka yang hanya 5,32%. Artinya, masalah pengangguran di Sumatera bukan hanya pengangguran terbuka, tetapi juga masalah setengah pengangguran. Hal tersebut dapat menjelaskan bahwa di Pulau Sumatera tingkat kesejahteraan dan taraf hidup masyarakatnya Sumatera masih tergolong ke dalam tingkat yang rendah. Maka berdasarkan hal tersebutlah untuk dapat mengatasinya perlu adanya langkah-langkah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan yang bertujuan dalam mengatasi hal tersebut.
Dari permasalahan tersebut adapun upaya kebijakan yang pemerintah lakukan guna mengatasi permasalahan ketenagakerjaan tersebut. Menurut Ziyadaturrofiqoh, dkk (2018) Secara makro, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja seperti PDRB, UMP, pengeluaran pemerintah, inflasi, IPM dan investasi. Sari, (2019) Sedangkan menurut Handoko dalam Rahmadani, dkk (2021) penyerapan tenaga kerja dipengaruhi oleh dua
7 faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal, Secara eksternal dipengaruhi oleh tingkat PDRB, tingkat Inflasi, Pengangguran, dan tingkat bunga dan secara internal dipengaruhi oleh tingkat upah, produktivitas tenaga kerja, kepuasan kerja dan modal. Tapi, penelitian ini hanya menganalisis 4 faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja yaitu PDRB, UMP, Inflasi dan IPM.
Menurut teori yang dikemukakan Keynes dalam Moch Yefri Firmansah, (2019) bahwa untuk mengurangi pengangguran tenaga kerja di suatu wilayah diperlukan peningkatan pengeluaran agregat (output) melalui pertumbuhan PDRB di wilayah tersebut. PDRB dapat mempengaruhi jumlah tenaga kerja apabila nilai PDRB mengalami peningkatan, peningkatan penjualan produk barang dan jasa yang di hasilkan dari semua wilayah disetiap unit ekonomi. Semakin besar output atau penjualan yang dilakukan perusahaan maka akan mendorong perusahaan untuk menambah permintaan tenaga kerja agar produksinya dapat ditingkatkan untuk mengejar peningkatan penjualan yang terjadi. Feriyanto, (2014)
Hal ini berarti bahwa seiring dengan terjadinya peningkatan pertumbuhan PDRB, penyerapan tenaga kerja juga meningkat dan sebaliknya. Pernyataan tersebut diperkuat oleh temuan Indradeva dan Natha (2015) bahwa besaran PDRB merupakan faktor penting yang secara positif mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat.
Berdasarkan data BPS (2021a) tahun 2016-2020 , perkembangan PDRB di Pulau Sumatera di tahun 2016-2019 memperlihatkan adanya kenaikkan dan mengalami satu kali perlambatan perkembangan yaitu di tahun 2020. Namun dari total PDRB di Pulau Sumatera mengalami peningkatan dari tahun 2016 hingga
8 tahun 2020, tetapi jika dilihat dari masing-masing provinsi di Pulau Sumatera rata-rata PDRB meningkat dari dari tahun 2016-2019 dan hanya di tahun 2020 rata-rata mengalami penurunan. Diketahui total PDRB tahun 2016 di Pulau Sumatera adalah senilai Rp38.591.985, kemudian PDRB di Pulau Sumatera pada tahun 2017 meningkat menjadi sebesar Rp39.353.638 (naik 1,97%), selanjutnya PDRB Pulau Sumatera meningkat lagi pada tahun 2018 yakni sebesar Rp40.367.654 (naik 2,58%), di tahun 2019 PDRB di Pulau Sumatera kembali meningkat lagi menjadi sebesar Rp41,528.111 (naik 2,87%) dan begitu juga pada tahun 2020 PDRB di Pulau Sumatera meningkat menjadi sebesar Rp41.921.203 , namun dengan perkembangan yang cukup lambat (naik 0,95%). Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB pada tahun 2016 hingga 2019 meningkat, akan tetapi dapat diketahui bahwa pertumbuhan PDRB di Pulau Sumatera mengalami perlambatan, yang mana di tahun 2020 terjadi penurun PDRB.
Selain PDRB, UMP merupakan indikator dalam mengatasi permasalahan ketenagakerjaan dengan cara pemerintah melakukan pembenahan pada sistem pengupahan yang disesuaikan dengan penetapan pemerintah mengenai kebijakan upah minimum. Penerapan kebijakan tersebut menjadi solusi pemerintah dalam menaikkan upah bagi para pekerja jadi upah rata-rata pekerja bisa dinaikkan.
BPS, (2021b) UMP di Pulau Sumatera dari tahun 2016-2020 total UMP di Pulau Sumatera mengalami peningkatan disetiap tahunnya. Begitu juga dengan UMP di masing-masing provinsi yang ada di Pulau Sumatera tiap tahunnya selalu mengalami peningkatan, hanya saja perkembangan UMP di Pulau Sumatera
9 berfluktuatif dari tahun 2016 hingga tahun 2020. Pada periode tahun 2016 rata- rata UMP di Pulau Sumatera senilai Rp1.982.696. Kemudian di tahun 2017 UMP di Pulau Sumatera meningkat menjadi senilai Rp2.166.735 (naik 9,28%). Lalu peningkatan tersebut kembali meningkat lagi pada tahun 2018 yakni menjadi senilai Rp2.353.876 (naik 8,63%). Di tahun 2019 UMP di Pulau Sumatera meningkat lagi sebesar Rp2.556.005 (naik 8,58%), dan di tahun 2020 tetap meningkat, di tahun ini merupakan pertumbuhan UMP terbesar yang terjadi di Pulau Sumatera yaitu sebesar Rp2.759.142 (naik 7,94%).
Data tersebut menjelaskan bahwa UMP di Provinsi-provinsi Pulau Sumatera tiap tahunnya mengalami peningkatan. Meningkat nya upah tersebut diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi ditemukan didalam sebuah kasus, terjadinya dampak yang negatif yang mana apabila upah mengalami peningkatan terhadap penyerapan tenaga kerja, hal tersebut dibuktikan dari sebuah penelitian oleh Rahayu (2019) yang menunjukkan bahwa dengan adanya peningkatan upah dapat mengurangi penyerapan tenaga kerja, terutama di kalangan pekerja dengan produktivitas rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk setiap 1% kenaikan UMP, penyerapan tenaga kerja berkurang sebesar 0,144%. Penelitian ini serupa dengan pendapat Haryo Kuncoro (2001) dalam Dientje Rumerung, (2015) mengatakan bahwa kuantitas tenaga kerja yang diminta menurun sebagai akibat dari kenaikan upah yang merupakan reaksi pengusaha guna memperta-hankan keuntungan maksimum. Hal ini disebabkan apabila tingkat upah naik sedangkan harga input lain tetap, maka harga tenaga kerja relatif lebih mahal dari input lain. Hal tersebut mendorong pengusaha untuk
10 mengganti tenaga kerja yang relatif mahal dengan input-input lain yang harganya lebih murah.
Selain itu, Inflasi juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan berpengaruhnya terhadap tingginya penyerapan tingginya. Berdasarkan data dari BPS, (2021c) perkembangan inflasi yang terjadi di setiap provinsi Pulau Sumatera selama periode tahun 2016-2020 inflasi menurun. Jika dilihat inflasi di Pulau Sumatera tahun 2016-2020 perkembangan menurun dengan rata-ratanya sebesar 2,92 persen. Dimana tahun 2016 sebesar 4,54 persen, kemudian tahun 2017 menurun sebesar 3,30 persen (turun 27,31%), tahun 2018 Inflasi menurun kembali sebesar 2,56 persen (turun 22,42%), dan tahun 2019 turun lagi sebesar 2,24 persen (turun 12,50%), dan tahun 2020 inflasi turun lagi sebesar 1,98 persen (turun 11,61%). Rata-rata perkembangan Inflasi di Pulau Sumatera adalah 2,92 persen. Inflasi ini tergolong ke dalam Inflasi ringan.
Menurut Nanga dalam Anamathofani, (2019) Apabila inflasi yang terjadi dalam perekonomian masih tergolong ringan perusahaaan seharusnya berusaha akan menambah jumlah output atau produksi karena inflasi yang ringan dapat mendorong semangat kerja produsen dari naiknya harga yang mana masih dapat dijangkau oleh produsen. Keinginan perusahaan untuk menambah output tentu juga dibarengi oleh pertambahan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja. Pada kondisi tersebut permintaan tenaga kerja akan meningkat, yang selanjutnya meningkatkan penyerapan tenaga kerja yang ada dan pada akhirnya mendorong laju perekonomian melalui peningkatan pendapatan nasional.
Penelitian Prasetya dan Ida Nuraini (2016a) menemukan bahwa kenaikan
11 1% pada variabel inflasi mengakibatkan penurunan penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur. Artinya adalah apabila inflasi semakin tinggi tingkatnya maka peluang terserapnya tenaga kerja makin sedikit. Begitupun sebaliknya, Studi Haug dan King oleh I. Indradeva dan Natha (2015) menjelaskan bahwa inflasi sebesar di Amerika Serikat selama periode 1952-2010 mempunyai dampak yang positif pada jumlah pengangguran. Kesimpulannya, dari teori dan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa inflasi berhubungan negatif dengan penyerapan tenaga kerja. Inflasi di Sumatera kurang dari 10% per tahun pada , sehingga inflasi ini dapat tergolong ringan. Akan tetapi ditemukan didalam sebuah kasus, terjadinya dampak yang positif yang mana apabila inflasi mengalami peningkatan terhadap penyerapan tenaga kerja, hal ini dibuktikan dari penelitian oleh Kumalasari, (2019) Inflasi naik 1% maka akan mengalami kenaikan sebesar 2216,815 jiwa pada Provinsi Jawa Tengah tahun 2014- 2017, begitu juga sebaliknya.
Indikator selanjutnya yang berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja adalah IPM. Berdasarkan data (BPS, 2021d) memperlihatkan bahwa IPM di Pulau Sumatera tahun 2016-2020 mengalami peningkatan . Yang mana pada tahun 2016 IPM di Pulau Sumatera sebesar 70,03 satuan, kemudian di tahun 2017 IPM Pulau Sumatera mengalami peningkatan yaitu sebesar 70,56 satuan (naik 0,76%), ditahun 2018 juga kembali meningkat sebesar 71,17 satuan (naik 0,86%), di tahun 2019 IPM mengalami peningkatan lagi sebesar 71,83 satuan ( naik 0,93%) dan pada tahun 2020 IPM tetap meningkat menjadi sebesar 72,12 satuan (naik 0,40%). Rata-rata IPM Provinsi-provinsi di Pulau Sumatera tahun 2016 hingga
12 tahun 2020 adalah sebesar 71,14 satuan. IPM di Pulau Sumatera dalam periode penelitian ini tergolong ke dalam kategori tinggi.
Menurut Mulyadi dalam Shafira (2020), orang yang berpendidikan meningkatkan kualitas SDM bisa melakukan dengan cara mengasah keterampilan lalu mereka mengembangkannya dengan ide dan kekreatifan masing-masing yang dimiliki. Meningkatkan tingkat pendidikan mempengaruhi dan menumbuhkan tingkat berfikir, mengembangkan keterampilan, hal ini dimaksud sebagai peningkatan produktivitas diri yang tinggi. Apabila tenaga kerja sudah memiliki produktivitas tinggi maka ia mampu menciptakan barang produksi yang semakin melimpah. Ketika mendapatkan lebih banyak output, produksi meningkat, pendapatan meningkat, dan konsumsi juga meningkat. Teori ini didukung oleh penelitian Rahmadani dkk (2021), yang menyatakan bahwa kenaikan 1% dalam IPM meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Sehingga maksudnya apabila IPM semakin meningkat tinggi maka penyerapan tenaga kerja semakin banyak juga.
Begitupun juga sebaliknya.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah peneliti kemukakan tersebut, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi yaitu : 1). Tidak seimbangnya peningkatan angkatan kerja dengan permintaan tenaga kerja, dimana peningkatan angkatan kerja lebih besar dari pada permintaan tenaga kerja. 2).
Tingkat pengangguran masih tinggi. 3). Persentase setengah pengangguran masih tinggi. 4). Pertumbuhan PDRB provinsi-provinsi di Pulau Sumatera mengalami perlambatan. 5). UMP mengalami peningkatan tiap tahunnya, kenaikan upah dapat meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja, namun hal tersebut juga dapat
13 menurunkan penyerapan tenaga kerja. 6). Inflasi di Pulau Sumatera tergolong ke Inflasi yang rendah, Inflasi yang rendah dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja, ini artinya dapat menurunkan pengangguran. Tetapi tingkat pengangguran dan setengah pengangguran di Pulau Sumatera masih tinggi, yang mana tingkat pengangguran terbuka menempati peringkat ketiga dan peringkat kesatu untuk setengah pengangguran. 7). IPM meningkat setiap tahun, IPM tersebut tergolong kategori tinggi, IPM tinggi menggambarkan pembangunan kualitas hidup yang baik. Keadaan ini seharusnya menempatkan posisi tingkat pengangguran dan setengah pengagguran yang rendah, tetapi kenyataannya tidak.
Dengan demikian atas dasar apa yang telah peneliti paparkan, maka peneliti tertarik untuk meneliti penelitian yang berjudul “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera”.
1.2 Rumusan Masalah
Berikut adalah rumusan masalah penelitian yakni:
1) Bagaimana perkembangan PDRB, UMP, Inflasi, IPM dan penyerapan tenaga kerja yang terjadi di Pulau Sumatera tahun 2016-2020?
2) Bagaimana pengaruh PDRB, UMP, Inflasi dan IPM terhadap penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera tahun 2016-2020?
1.3 Tujuan Penelitian
Berikut adalah tujuan dari penelitian yakni :
1) Untuk megetahui dan menganalisis perkembangan PDRB, UMP, Inflasi, IPM dan Penyerapan Tenaga Kerja di Pulau Sumatera tahun 2016-2020
14 2) Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh PDRB, UMP, Inflasi dan IPM terhadap penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera tahun 2016-2020
1.4 Manfaat Penelitian
Berikut adalah manfaat penelitian yakni : 1. Manfaat Akademis
Harapan dari peneliti agar hendaknya hasil penelitian yang dilakukan bisa berguna juga bermanfaat kepada pembaca sebagai sarana untuk mengetahui sumber informasi dalam menambah, memperluas dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang bidang sumber daya manusia khususnya mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di Pulau Sumatera tahun 2016-2020.
2. Manfaat Praktis
Harapan dari penelitian dalam penelitian ini agar bisa untuk dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah untuk berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan dalam mengatasi masalah penyerapan tenaga kerja di Sumatera. Serta harapannya buat peneliti-peneliti berikutnya bisa dijadikan acuan di dalam penelitian mereka.