This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah Export date: Sun Sep 3 4:27:50 2017 / +0000 GMT
PARASIT DAN PENGARUHNYA TERHADAP DARAH
dr. Wita PribadiBagian Parasitologi dan Ilmu Penyakit UmumFakultas Kedokteran, Universitas Indonesia,
JakartaPENDAHULUANDi negara-negara yang beriklim panas yang sedang giat membangun, masih banyak penduduk yang dihinggapi parasit. Faktor-faktor yang menguntungkan untuk berkembangnya parasit adalah :(I) kurang pengetahuan tentang kebersihan (2) keadaan sosiaI ekonomi rendah. Parasit yang mengambil makanannya dari manusia secara langsung maupun tidak langsung dapat mengakibatkan kelainan pada tubuh manusia sebagai hospes, termasuk kelainan pada darah. Berat ringannya kelainan darah ini tergantung pada : (1) species parasit; (2) jumlah parasit yang masuk dalam tubuh; (3) lamanya infeksi, dan (4) respons daripada hospes. Gangguan darah antara lain dapat dilihat pada leukosit dan pada eritrosit.PENGARUH PADA
LEUKOSITInfeksi cacing kadang-kadang menyebabkan leukositosisringan. Sering-sering leukositosis ini tidak bersifat
absolut.Peninggian jumlah leukosit pada infeksi cacing disebabkanoleh meningkatnya salah satu komponen daripada sel darahputih yaitu sel eosinofil. Parasit cacing, terutama yang terdapatdalamjaringan tubuh,antara lain Trichinella spiralis,Strongyloides
stercoralis, Toxocara (yang menyebabkan vis-ceral larva migrans), Ancylostoma braziliense (yang menyebab-kan cutaneous larva migrans), Filaria, Schistosoma, mempu-nyai kutikula dan ekskreta yang bersifat antigenik dan mem-bentuk zat anti dari golongan IgE. Zat anti ini dapat dihubung-kan dengan meningkatnya jumlah sel eosinofil dalam darah.Kelainan inilah yang disebut eosinofilia atau hipereosinofiliaseperti yang terdapat pada sindrom Loeffler dan eosinofiliatropis.Sindrom LoefflerSindrom ini adalah
sekumpulan gejala yang terdiri dariinfiltrasi sel eosinofil dalam paru-paru yang bersifat sementara,batuk, sesak napas menyerupai asma dan jumlah sel eosinofildalam darah dan sputum meningkat.Etiologi. -- Dalam tahun 1932 Loeffler menghubungkansindrom ini dengan infeksi cacing Ascaris. Kemudian penyakitinfeksi parasit lain, poliarteritis nodosa, eosinofilia tropis,reaksi alergi terhadap penisilin, sulfonamida, PAS, preparatarsen organik, infeksi jamur, dan lain-lain telah dilaporkan se-bagai penyebab sindrom ini (Knowles, 1970). Istilah "PIEsyndrome" (Pulmonary Infiltration with Eosinophilia) diguna-kan untuk gejala infiltrasi paru-paru dan eosinofilia dalam da-rah yang dihubungkan dengan penyakit-penyakit lain.Patogenesis yang pasti masih belum jelas. Sindrom ini me-rupakan suatu fenomen hipersensitivitas yang dapat disebab-kan oleh migrasi larva Ascaris dalam paru-paru atau migrasilarva dari kulit ke paru-paru dan kemudian mati dan tidakberhasil mencapai usus. Sering tidak ditemukan telur dalamtinja, tetapi kadang-kadang terdapat larva dalam sputum pen-derita. Walaupun larva cacing tetap berada dalam kulit ataupundalam paru-paru, reaksinya tetap sama. Infiltrat dalam paru-paru dan eosinofilia dalam darah merupakan suatu reaksialergik terhadap larva; ini sesuai dengan meningginya kadarIgE dalam serum. Bercak-bercak tidak teratur dengan diameterbeberapa milimeter sampai 5 cm tersebar di seluruh paru-paru,terdiri dari jaringan kolagen yang di antara sel-selnya terdapatsel eosinofil, sel plasma, limfosit dan sel raksasa.? Gejalanya pada umumnya ringan, akan tetapi pada banyakkasus dilaporkan adanya asma bronkial.? Diagnosis sindrom Loeffler sulit ditegakkan dengan pasti.Gambaran klasik menunjukkan gambaran Rontgen dengan ba-yangan infiltrat dalam paru-paru yang cepat meluas untukkemudian menghilang dalam waktu kurang lebih tiga minggu.Jumlah sel eosinofil dalam darah meninggi, dalam sputum di-temukan sel eosinofiI dan kadang-kadang ditemukan larvacacing, bila penyebabnya adalah cacing. Disamping itu reaksiserologi dapat menunjang diagnosis ini.Penyakit ini biasanya sembuh dengan sendirinya dalamwaktu kurang lebih tiga minggu.Eosinofilia tropisEosinofilia tropis adalah suatu sindrom yang menyerupaisindrom Loeffler, tetapi gejalanya lebih berat dan berlangsunglebih lama. Sindrom ini juga bersifat alergik, ditandai denganhipereosinofilia antara 20 -- 90% (4000 per mm3atau lebih),batuk keras dan serangan asma. Pada 50% kasus terdapatsplenomegali (Fine, 1979).Eosinofilia tropis merupakan suatu respons alergik terhadapberbagai parasit cacing yang berhubungan erat dengan jaringanhospes. Telah dibuktikan bahwa satu macam eosinofilia tropisdisebabkan oleh cacing filaria manusia atau binatang yangtersembunyi dalam tubuh hospes. Keadaan ini disebut fila-riasis occult, karena mikrofilarianya tidak dapat ditemukandalam darah tepi (Lie dan Sandosham, 1969)Filariasis occult (tersembunyi). -- Filariasis occult untuk perta-ma kali dilaporkan oleh Meyers dan Kouwenaar (I939) danBonne (I939) di Indonesia. Kemudian dilaporkan dari Afrika,Brazil, India, Filipina, Muangthai, Vietnam, Singapore danCuracao.Gejala kliniknya terutama adalah hipereosinofilia, pembe-saran kelenjar limfe, batuk-batuk dan asma. Hipereosinofiliayang hampir selalu ditemukan pada penyakit ini sangat tinggi(2000 -- 4000 per mm3). Sebaliknya, kelenjar limfe tidak se-lalu membesar. Batuk-batuk kronis dapat dihubungkan denganserangan asma yang biasanya pada malam hari. GambaranRontgen paru-paru menunjukkan bercak-bercak milier yangkhas untuk eosinofilia tropis.Kelainan patologik sangat khas. Kelenjar limfe yang mem-besar menunjukkan suatu hiperplasia folikel limfe dan sel re-tikular. Benjolan-benjolan kecil berwarna kuning-kelabu de-ngan diameter 1 -- 2 mm tersebar di seluruh jaringan kelenjardan mengandung gumpalan sel eosinofil. Di tengah gumpalantersebut kadang-kadang tampak mikrofilaria atau sisa-sisamikrofilaria yang diliputi sel hialin. Gambaran ini disebut ben-da Meyers-Kouwenaar. Bila limpa, paru-paru atau hati terkena,benjolan-benjolannya lebih besar (sampai 5 mm).Hipereosinofilia dan serangan asma merupakan gejala alergiyang timbul pada orang-orang yang hipersensitif. Reaksi alergipada filariasis occult ditujukan pada mikrofilaria -- bukan pa-da larva atau cacing
This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah Export date: Sun Sep 3 4:27:50 2017 / +0000 GMT
dewasanya -- sehingga mikrofilaria dihan-curkan dalam alat-alat dalam (limpa, paru-paru atau kelenjarlimfe). Menurut Ottisen (1979) eosinofilia tropis pada filaria-sis occult merupakan reaksi imunologik hiperresponsif terha-dap cacing tersebut. Zat antifilaria dari semua jenis dan kelasmeninggi, kadar IgE dan jumlah sel eosinofil meningkat. Ge-jala klinik dan hasil Iaboratorium
menunjukkan adanya peran-an respons hipersensitivitas segera (immediate hypersensiti-vity): Penderita ini -- melihat spesifitas zat anti IgE -- telahdisensitisasi secara alergik terhadap semua antigen filaria, teru-tama yang berasal dari mikrofilaria yang memegang perananpenting dalam etiologi filariasis occult.? Diagnosis pasti filariasis occult dapat dibuat bila ditemukanmikrofilaria dalam benda Meyers-Kouwenaar di alat-alat da-lam. Titer IgE yang tinggl dan penyembuhan dengan obat di-etilkarbamazin terhadap cacing filarianya merupakan indikasikuat bahwa ini adalah suatu filariasis occult.PENGARUH PADA ERITROSITBeberapa parasit mempunyai peranan penting sebagai pe-nyebab kelainan darah yang berupa anemia. Anemia dapat di-sebabkan antara lain oleh (I) defisiensi zat besi karena kehi-angan darah menahun yang terjadi pada infeksi cacing tam-bang, dan (2) penghancuran eritrosit pada penyakit malaria.Infeksi cacing tambangPenyakit cacing tambang disebabkan oleh infeksi cacinglncylostoma duodenale atau Necator americanus. Walaupunacing-cacing ini panjangnya hanya 1 cm dan halusnya sepertibenang jahit, tiap cacing dapat mengisap darah dari mukosasus halus sebanyak 0,05 -- 0,5 ml setiap hari untuk mengam-bil oksigen yang dibutuhkannya. Cacing dewasa berpindah-pin-dah tempat di daerah usus halus dan tempat lama yang diting-galkan mengalami perdarahan lokal. Jumlah darah yang hi-Iang setiap hari tergantung pada (1) jumlah cacing, terutamayang secara kebetulan melekat pada mukosa yang berdekatandengan kapiler arteri; (2) species cacing : seekor A. duodenaleyang lebih besar daripada N. americanus mengisap 5xlebihbanyak darah; (3) lamanya infeksi.Gejala klinik penyakit cacing tambang berupa anemia yangdiakibatkan oleh kehilangan darah pada usus halus secara kro-nik. Terjadinya anemia tergantung pada keseimbangan zat besidan protein yang hilang dalam usus dan yang diserap dari ma-kanan. Kekurangan gizi dapat menurunkan daya tahan terha-dap infeksi parasit. Beratnya penyakit cacing tambang tergan-tung pada beberapa faktor, antaza lain umur,"wormload,"lamanya penyakit dan keadaan gizi penderita.Penyakit cacing tambang menahun dapat dibagi dalam tigagolongan :(I).Infeksi ringan dengan kehilangan darahyangdapat di-atasi tanpa gejala, walaupun penderita mempunyai dayatahan yang menurun terhadap penyakit lain.(II). infeksi sedang dengan kehilangan darah yang tidak dapatdikompensasi dan penderita kekurangan gizi, mempu-nyai keluhan pencernaan, anemia, lemah, fisik dan men-taI kurang baik.(III). infeksi berat yang dapat menyebabkan keadaan fisikburuk dan payah jantung dengan segala
akibatnya.Penyelidikan terhadap infeksi cacing tambang pada peker-ja-pekerja di beberapa tempat di Jawa Barat dan di pinggir ko-ta Jakarta, menunjukkan bahwa mereka semua tennasuk go-Iongan I(Kazyadi dkk., 1973). Reksodipoetro dkk., (1973)telah memeriksa 20 penderita cacing tambang dengan infeksiberat; hemoglobin berkisar antara 2,5 -- 10,Og % pada 17 pen-derita, defisiensi zat besi terdapat pada semua penderita yanganemia. Disamping itu terdapat kelainan pada leukosit yaituhipersegmentasi sel neutrofil pada sebagian besar penderitayang diperiksa. Perubahan tersebut disebabkan oleh defisiensivit. B12dan/atau asam folat.? Diagnosis penyakit cacing tambang dapat dilakukan denganmenemukan telur cacing tambang dalam tinja.? Pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan de-ngan berbagai macam anthelmintik, antara lainbefeniumhidroksinaftoat, tetraldoretilen, pirantel pamoat dan meben-dazol. Bila cacing tambang telah dikeluarkan, perdarahan akanberhenti, tetapi pengobatan dengan preparat besi
(sulfasferrosus) per os dalam jangka waktu panjang dibutuhkan un-tuk memulihkan kekurangan zat besinya. Di samping itu ke-adaan gizi diperbaiki dengan diet protein tinggi.MalariaMalaria adalah penyaklt protozoa yang ditularkan melaluitusukan nyamuk Anopheles, ditandai dengan menggigil, panas,anemia dan splenomegali.Penyakit malaria disebabkan oleh protozoa dari genusPlasmodium. Diketahui empat species yang dapat menginfek-si manusia, P. vfvax menyebabkan malaria vivax atau tertiana;P. falciparum menyebabkan malaria falciparum atau tropica;P. malariae menyebabkan malaria malariae atau quartana;P. ovale
menyebabkan malaria ovale yang ringan dan jazang di-jumpai. Akhir-akhir ini dilaporkan bahwa beberapa speciesmalaria pada kera dapat ditularkan kepada manusia dan sebalik-nya parasit malaria pada manusia dapat ditularkan kepada ke-ra.Parasit malaria hidup dalam-sel di sel hati dan di dalameritrosit. Eritrosit dihancurkan pada saat sporulasi, yaitu padasaat schizont malaria pecah dan merozoit keluar dari eritrosituntuk menyerang eritrosit lain. Eritrosit yang dihinggapi pa-rasit dapat dihancurkan oleh fagosit yang berusaha untukmengatasi infeksi pazasit ini. P. vivax lebih suka menyerangeritrosit muda (retikulosit), sedangkan P. falciparum dapatmenyerang eritrosit muda maupun tua. Oleh karena penghan-curan ini maka timbul anemia. Derajat anemia pada malariatidak sesuai dengan derajat parasitemianya (WHO, 1968).Eritrosit yang dihinggapi parasit dan eritrosit nonnal dihancur-kan.
Mekanismenya belum jelas. Ada tiga hipotesa yang dike-mukakan oleh WHO (1968) :(1) adanya zat hemolitik yang di-hasilkan oleh parasit sendiri atau yang dikeluazkan oleh ja-ringan; (2) hipersplenisme yang menyertai malaria menyebab-kan meningkatnya eritrofagositosis dan (3) peranan zat anti.Hipotesa ketiga rupanya memegang peranan penting. Mung-kin zat anti bereaksi tidak hanya dengan eritrosit yang dihing-gapi pazasit, tetapi juga dengan eritrosit normal sehingga ter-jadi hemolisis. Di samping itu, auto-antibodi eritrosit juga ter-libat dalam proses ini (WHO, 1975).Blackwater fever (febris icterohemoglobinuria).
--Blackwaterfever merupakan komplikasi malaria falciparum yang berba-haya. Gejalanya ialah menggigil , panas, hemolisis
This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah Export date: Sun Sep 3 4:27:50 2017 / +0000 GMT
intravaskularhebat, ikterus, hemoglobinuria, kolaps dan kadang-kadanginsufisiensi ginjal dan uremia.Patogenesis hemolisis intravaskular ini masih belum jelas.Kemungkinan pazasit P. falciparum sendiri dan obat kina me-rupakan faktor utama. Peranan kompleks-imun yang beredardalam darah dan reaksi hipersensitivitas yang berhubungandengan obat (kina) yang dapat
menghancurkan eritrosit perludiselidiki lebih lanjirt (WH0,1975).Diagnosis penyakit malaria dilakukan dengan pemeriksaandazah tepi untuk menemukan pazasitnya dalam eritrosit.Penyakit malaria dapat diobati dengan klorokuin, amodia-kuin, proguanil, klorproguanil , pirimetamin, primakuin, danlain-lain. Hingga sekarang di Indonesia klorokuin tetap meru-pakan obat pilihan pertama. Penggunaan obat kombinasisulfadoksin dan pirimetamin (Fansidaz) sebaiknya terbataspada malaria falciparum yang resisten terhadap klorokuin.Pembatasan ini perlu untuk mencegah timbulnya resistensiP. falciparum terhadap obat kombinasi ini yang masih diperlu-kan sebagai pertahanan kedua bila terjadi resistensi terhadapobat klorokuin.