B
AB26
P
ENINGKATANA
KSESM
ASYARAKATB
AB
26
P
ENINGKATAN
A
KSES
M
ASYARAKAT
TERHADAP
P
ENDIDIKAN YANG
L
EBIH
B
ERKUALITAS
A. K
ONDISIU
MUMUndang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara
berhak mendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas dan kesejahteraan
hidupnya. Para pendiri bangsa meyakini bahwa peningkatan taraf pendidikan
merupakan salah satu kunci utama mencapai tujuan negara yakni bukan saja
mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menciptakan kesejahteraan umum dan
melaksanakan ketertiban dunia. Pendidikan mempunyai peranan penting dan strategis
dalam pembangunan bangsa serta memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi dan transformasi sosial. Pendidikan akan menciptakan masyarakat terpelajar
(educated people) yang menjadi prasyarat terbentuknya masyarakat yang maju, mandiri,
demokratis, sejahtera, dan bebas dari kemiskinan.
Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2003
menyimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia sangat berperan dalam
pertumbuhan ekonomi. Kenaikan 1,0 persen rata-rata pendidikan tenaga kerja
menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB) atau ekonomi riil per kapita sebesar 0,29
persen dengan asumsi yang lain tetap (ceteris paribus). Sementara itu kenaikan 1,0
persen rata-rata jam kerja tenaga kerja akan menaikkan PDB sebesar 0,18 persen dan
kenaikan 1,0 persen rata-rata pendidikan penduduk akan menaikkan PDB sebesar 0,19
persen. Di lain pihak kenaikan 1,0 persen modal fisik per tenaga kerja hanya menaikkan
PDB sebesar 0,04 persen. Dari informasi di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan
ekonomi Indonesia tidak saja dipengaruhi oleh meningkatnya pendidikan tenaga kerja
tetapi juga oleh pendidikan penduduk secara keseluruhan. Hasil penelitian tersebut
diatas memberi dasar yang kuat untuk membangun pendidikan di Indonesia secara lebih
cepat dengan tetap memperhatikan peningkatan kualitasnya.
Dari data longitudinal seluruh provinsi di Indonesia diketahui pula bahwa selain
berkorelasi positif terhadap status ekonomi penduduk yang diukur dengan purchasing
power parity (PPP), tingkat pendidikan penduduk juga berkorelasi positif terhadap
menurunnya laju pertumbuhan penduduk dan derajat kesehatan penduduk. Hal
tersebut tercermin pada korelasi positif antara tingkat pendidikan penduduk dengan
umur harapan hidup saat lahir. Sejalan dengan itu tingkat pendidikan penduduk
perempuan berkorelasi positif terhadap turunnya angka kematian bayi, angka kematian
balita dan angka fertilitas total. Hal tersebut terjadi karena semakin tinggi pendidikan
perempuan semakin tinggi pula usia menikah pertama sehingga secara fisik lebih siap
untuk melahirkan yang berpengaruh pada menurunnya angka kematian bayi dan angka
kematian balita. Dengan semakin sempitnya masa usia subur, rata-rata jumlah anak
yang dilahirkan juga berkurang. Disamping itu dengan pengetahuan kesehatan dan gizi
yang lebih baik semakin tinggi kesadarannya untuk memberikan imunisasi lengkap dan
makanan yang bergizi pada anak.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan taraf
pendidikan penduduk Indonesia termasuk pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Sembilan Tahun yang diharapkan tuntas pada tahun 2008 yang dapat diukur antara lain
dengan peningkatan angka partisipasi kasar jenjang pendidikan sekolah menengah
pertama dan yang sederajat menjadi 95 persen. Namun demikian sampai dengan tahun
2003 belum seluruh rakyat dapat menyelesaikan jenjang pendidikan dasar. Jumlah
penduduk usia 15 tahun keatas yang telah menyelesaikan jenjang sekolah menengah
pertama atau jenjang yang lebih tinggi baru mencapai 45,8 persen dan rata-rata lama
sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas baru mencapai 7,1 tahun. Meskipun angka
partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7–12 tahun sudah hampir 100 persen,
partisipasi sekolah penduduk 13–15 tahun dan penduduk usia 16–18 tahun
berturut-turut baru mencapai 81,0 persen
dan 51,0 persen. Dengan berbagai upaya yang
dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, pencapaian APS sampai tahun 2005
diperkirakan masih sebesar 83,2 persen untuk kelompok usia 13–15 tahun
dan 56,0
persen
untuk kelompok usia 16–18 tahun.
Kemampuan keaksaraan penduduk Indonesia makin meningkat yang antara lain
ditunjukkan oleh meningkatnya angka melek aksara. Perbaikan tingkat keaksaraan
terutama terjadi pada kelompok usia muda yaitu usia 15–24 tahun yang terutama
disebabkan oleh meningkatnya partisipasi pendidikan dasar serta meningkatnya
proporsi siswa SD/MI yang dapat menyelesaikan sekolahnya sampai kelas V. Hal yang
cukup menggembirakan adalah bahwa pada tahun 2003 tingkat keaksaraan kelompok
penduduk usia muda (15–24 tahun) sudah sangat tinggi yaitu dengan angka buta aksara
hanya sebesar 1,45 persen. Pada kelompok tersebut kesenjangan antara penduduk
perkotaan dan perdesaan serta antarjenis kelamin juga tidak tampak nyata. Namun
demikian jika rentang usia diperluas menjadi 15 tahun keatas, tampak bahwa angka buta
aksara masih cukup tinggi yaitu sebesar 10,12 persen. Angka buta aksara tertinggi
terjadi pada kelompok usia 45 tahun keatas yaitu sebesar 74,57 persen. Mengingat
pelayanan pendidikan harus diberikan kepada setiap warga negara tanpa
dibeda-bedakan, maka penduduk usia 25 tahun keatas yang buta aksara juga perlu ditingkatkan
kemampuan keaksaraannya.
Sampai dengan tahun 2004 pelayanan pendidikan anak usia dini (PAUD) masih
rendah. Dari sekitar 28,12 juta anak usia 0–6 tahun baru sekitar 7,31 juta anak atau
25,99 persen yang terlayani PAUD. Khusus anak usia 4–6 tahun dari 11,86 juta anak
baru sekitar 4,49 juta anak atau 37,77 persen yang telah mempunyai akses di taman
kanak-kanak (TK)/Raudhatul Atfal (RA) dan Sekolah Dasar (SD). Sementara itu dari
sekitar 16,26 juta anak usia 0–3 tahun yang telah memperoleh pelayanan PAUD melalui
berbagai kegiatan seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Kelompok Bermain (KB),
Tempat Penitipan Anak (TPA), dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) baru sekitar
2,82 juta anak atau 17,36 persen. Rendahnya partisipasi pendidikan anak usia dini
terutama disebabkan oleh rendahnya jangkauan pelayanan PAUD. Jumlah lembaga
yang memberikan pelayanan PAUD masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan
jumlah anak usia 0-6 tahun yang perlu dilayani. Selain itu sebagian besar anak usia dini
tinggal di wilayah pedesaan sementara lembaga-lembaga penyelenggara PAUD
sebagian terbesar terdapat di wilayah perkotaan. Oleh karena itu pelaksanaan PAUD
perlu terus ditingkatkan dan diperluas jangkauan serta kualitas pelayanannya dengan
tetap menumbuhkan partisipasi masyarakat termasuk lembaga tradisional keagamaan
dan organisasi sosial masyarakat. Perluasan PAUD diharapkan dapat menunjang
keberhasilan pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun karena
peranannya dalam mempersiapkan anak untuk memasuki bangku sekolah.
Upaya meningkatkan secara signifikan jumlah penduduk yang menyelesaikan
pendidikan dasar menghadapi permasalahan masih banyaknya peserta didik
jenjang pendidikan dasar yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan.
Angka putus sekolah di semua jenjang pendidikan terus ditekan terutama setelah
terjadinya krisis moneter yang dimulai tahun 1997 melalui penyediaan bantuan khusus
sekolah (BKS) dan bantuan khusus murid (BKM) atau beasiswa. Namun demikian
sampai tahun ajaran 2003/04 angka putus sekolah masih cukup tinggi. Untuk jenjang
sekolah dasar (SD) termasuk sekolah dasar luar biasa (SDLB) dan madrasah ibtidaiyah
(MI) angka putus sekolah masih sebesar 2,42 persen dari siswa yang terdaftar pada
tahun yang sama atau sekitar 702,1 ribu siswa selama satu tahun ajaran. Sementara
untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs)
angkanya masih sebesar 2,74 persen atau 271,9 ribu orang dalam satu tahun ajaran.
Pada tahun yang sama lulusan SD/MI yang melanjutkan ke jenjang SMP/MTs baru
mencapai 86,7 persen. Dengan demikian dalam satu tahun ajaran jumlah lulusan yang
tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya mencapai 542,2 ribu orang. Hal tersebut
menyebabkan sampai dengan tahun 2003 Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang
SMP/MTs baru sekitar 81,1 persen, masih cukup jauh dari sasaran penuntasan tahun
2008 sebesar 95 persen. Dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam tahun 2005,
diperkirakan APK SMP/MTs dapat ditingkatkan menjadi 82,89 persen. Disparitas
partisipasi pendidikan dasar khususnya jenjang SMP/MTs pada tahun 2003 juga masih
tampak nyata antara penduduk perkotaan dengan APK sebesar 93,7 persen dengan
penduduk perdesaan dengan APK 72,9 persen. Disparitas antardaerah juga masih cukup
nyata dengan rentang APK tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100,57 persen) dan
terendah di provinsi Nusa Tenggara Timur (56,82 persen). Meskipun demikian dilihat
dari aspek pemerataan pendidikan tampak bahwa pada jenjang pendidikan dasar sudah
tidak tampak kesenjangan gender kecuali untuk beberapa daerah di Indonesia terutama
karena pengaruh sosial budaya masyarakatnya. APK penduduk perempuan untuk
jenjang SD/MI dan SMP/MTs berturut-turut sebesar 105,6 persen dan 82,4 persen
sementara APK penduduk laki-laki berturut-turut sebesar 106,0 persen dan 79,9 persen.
Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin rendah angka partisipasinya. Pada
tahun 2003 APK jenjang pendidikan menengah yang mencakup sekolah menengah atas
(SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK) dan madrasah aliyah (MA) baru mencapai
50,9 persen yang diperkirakan meningkat menjadi 54,32 persen pada tahun 2005.
Ketersediaan pelayanan pendidikan menengah yang sebagian besar baru mencapai
daerah perkotaan berdampak pada rendahnya angka melanjutkan lulusan SMP/MTs ke
jenjang menengah. Dengan jumlah SMA/SMK/MA pada tahun 2003 secara nasional
sekitar 17 ribu lembaga dan jumlah kecamatan sebanyak 17.853, dapat disimpulkan
bahwa belum seluruh kecamatan di Indonesia mampu memberikan pelayanan
pendidikan menengah. Kondisi tersebut menyebabkan disparitas partisipasi pendidikan
antara wilayah perkotaan dan perdesaan yang sangat lebar yang ditunjukkan oleh APK
penduduk perkotaan pada tahun 2003 sebesar 70,6 persen dan APK penduduk
perdesaan sebesar 35,8 persen. Selain itu meningkatnya opportunity cost juga sangat
berpengaruh pada rendahnya partisipasi pendidikan menengah. Lulusan SMP/MTs yang
sebagian besar sudah berusia lebih dari 15 tahun ke atas sudah berhak untuk bekerja
sehingga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi belum menjadi
pilihan utama. Kesenjangan gender pada jenjang pendidikan menengah sudah mulai
menyempit dengan APK penduduk perempuan sebesar 50,4 persen sementara APK
penduduk laki-laki sebesar 51,3 persen. Namun demikian kesenjangan gender pada
jenjang pendidikan menengah tampak nyata apabila dilihat dari bidang studi yang
dipilih siswa khususnya untuk jalur pendidikan kejuruan. Siswa perempuan lebih
memilih bidang-bidang sosial sementara siswa laki-laki lebih memilih bidang teknik.
Dengan melihat kecenderungan menurunnya partisipasi pendidikan dengan
meningkatnya jenjang pendidikan, dapat dipastikan partisipasi pendidikan jenjang
pendidikan tinggi jauh lebih rendah lagi. Pada tahun ajaran 2003/04 APK jenjang
pendidikan tinggi baru mencapai 14,25 persen dan dengan berbagai upaya yang
dilakukan diperkirakan jumlah tersebut hanya meningkat menjadi 15,0 persen pada
tahun ajaran 2005/06. Tingginya biaya untuk dapat belajar di perguruan tinggi yang
mencakup biaya langsung dan tidak langsung merupakan faktor utama rendahnya
partisipasi pendidikan pada jenjang tersebut.
Dilihat dari aspek pemerataan pendidikan pada semua jenjang pendidikan tampak
bahwa pelayanan pendidikan khusus bagi anak-anak yang membutuhkan
perhatian khusus (children with special needs) seperti yang kelainan fisik,
emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa juga belum tersedia secara memadai.
Di samping menghadapi permasalahan dalam meningkatkan akses dan pemerataan
pendidikan di jalur formal seperti di atas, pembangunan pendidikan juga
menghadapi permasalahan dalam peningkatan akses dan pemerataan pendidikan
non formal. Sampai dengan tahun 2004 pendidikan non formal yang berfungsi baik
sebagai transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja (transition from school to work)
maupun sebagai bentuk pendidikan sepanjang hayat belum dapat diakses secara luas
oleh masyarakat. Pada saat yang sama kesadaran masyarakat khususnya yang berusia
dewasa untuk terus menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya masih
sangat rendah. Data Susenas 2003 menunjukkan bahwa partisipasi kursus penduduk
usia sampai dengan 39 tahun yang belum/tidak pernah sekolah dan yang tidak sekolah
lagi masih sangat rendah yaitu hanya sekitar 3,2 persen dengan partisipasi kursus
penduduk perkotaan (5,06 persen) lebih tinggi dibanding penduduk perdesaan (1,88
persen). Informasi tersebut menyimpulkan bahwa pendidikan sepanjang hayat masih
belum banyak dilakukan oleh masyarakat. Menghadapi bonus demografi yang
ditunjukkan oleh lebih tingginya proporsi penduduk usia produktif dibanding usia
non produktif peran pendidikan non formal menjadi sangat vital. Penyediaan
pendidikan non formal harus diupayakan mampu meningkatkan penciptaan lapangan
kerja sehingga peluang yang diperoleh dengan adanya tambahan penduduk usia
produktif dapat dimanfaatkan secara optimal.
Kualitas pendidikan sampai dengan tahun 2004 juga dinilai masih rendah
karena belum sepenuhnya mampu memberikan kompetensi sesuai dengan tahap
pendidikan yang dijalani peserta didik. Hal tersebut terutama disebabkan oleh: (1)
ketersediaan pendidik yang belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas, (2)
kesejahteraan pendidik yang masih rendah, (3) fasilitas belajar belum tersedia secara
mencukupi, dan (4) biaya operasional pendidikan belum disediakan secara memadai.
Data terakhir menunjukkan masih banyak guru yang belum memiliki kualifikasi
pendidikan seperti yang disyaratkan. Untuk jenjang SD/MI/SDLB yang
mensyaratkan guru memiliki kualifisikasi minimal lulus Diploma II ternyata baru
memiliki sekitar 60 persen guru dengan kualifikasi tersebut. Untuk jenjang SMP/MTs
keadaannya lebih baik dengan 75 persen guru lulus Diploma III atau lebih. Sementara
itu jenjang sekolah menengah telah memiliki 82 persen guru yang memiliki pendidikan
sarjana atau lebih.
Apabila ditelaah lebih lanjut diketahui bahwa masih cukup banyak guru yang
mengajar tidak sesuai dengan latar belakang bidang ilmu yang dimiliki. Untuk
jenjang SMP/MTs masih terdapat 16,6 persen guru yang tidak sesuai latar belakang
pendidikannya. Sementara itu untuk jenjang sekolah menengah masih terdapat
ketidaksesuaian sebanyak 12,7 persen untuk SMA/MA dan 15,2 persen untuk SMK.
Kondisi tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap kualitas proses dan hasil belajar
mengajar. Guru yang memiliki latar belakang ilmu sosial tentu tidak dapat mengajar
mata pelajaran IPA secara optimal, dan sebaliknya.
Data yang diperoleh dari Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama
memberi informasi bahwa secara kuantitatif fasilitas layanan pendidikan sudah cukup
baik dengan rasio murid per ruang kelas sebesar 26 untuk SD/MI, 37 untuk SMP/MTs
dan 39 untuk SMA/SMK/MA. Pada saat yang sama rasio murid per guru adalah 20
untuk SD/MI, 14 untuk SMP/MTs dan 13 untuk SMA/SMK/MA. Namun jika dilihat
kualitasnya dapat disimpulkan bahwa fasilitas layanan pendidikan masih jauh dari
memadai.
Pada tahun 2004 sekitar 57,2 persen gedung SD/MI dan sekitar 27,3 persen
gedung SMP/MTs mengalami rusak ringan dan rusak berat. Gedung SD/MI yang
dibangun secara besar-besaran pada saat dimulainya Program Inpres SD tahun 1970an
dan Program Wajib Belajar Enam Tahun pada tahun 1980an sudah banyak yang rusak
berat yang diperburuk dengan terbatasnya biaya perawatan dan perbaikan.
Rehabilitasi/revitalisasi bangunan SD/MI yang rusak melalui dana dekonsentrasi
maupun Dana Alokasi Khusus (DAK) ternyata belum dapat mengimbangi peningkatan
jumlah bangunan yang rusak. Agar tidak semakin banyak lagi sekolah-sekolah yang
rubuh perlu dilakukan tindakan affirmatif dalam menangani kerusakan sekolah. Alokasi
anggaran untuk rehabilitasi sekolah harus ditingkatkan yang diikuti dengan monitoring
dan evaluasi yang ketat sehingga dana yang dialokasikan benar-benar dimanfaatkan
secara efektif dan efisien.
Pada saat yang sama sebagian besar sekolah belum memiliki prasarana
penunjang mutu pendidikan seperti perpustakaan dan laboratorium. Dari seluruh
sekolah yang terjaring dalam survei yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan
Nasional tahun 2003 sebanyak 159.132 SD/MI, hanya 30,78 persen sekolah yang
memiliki perpustakaan. Disamping itu kondisi prasarana penunjang yang adapun cukup
banyak yang telah rusak. Ruang laboratorium pada jenjang SMP/MTs yang mengalami
kerusakan ringan dan berat berkisar antara 8,4 persen untuk lab komputer dan 22,3
untuk lab IPS. Sementara itu ruang laboratorium pada jenjang SMA/MA sekitar 30
persen mengalami kerusakan.
Kepemilikan komputer dan akses internet sebagai bentuk pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi di bidang pendidikan masih sangat terbatas. Sampai dengan
tahun 2004 baru sebagian kecil sekolah/madrasah yang memiliki akses internet.
Untuk jenjang SMP/MTs baru 29,6 persen institusi yang memiliki komputer dan hanya
3,3 persen yang memiliki akses internet. Kondisi untuk jenjang SMA/MA/SMLB masih
lebih baik dengan 44,8 persen institusi yang memiliki komputer dan 9,4 persen institusi
memiliki akses internet.
Terbatasnya ketersediaan buku juga merupakan salah satu faktor terpenting
penyelenggaraan pembelajaran yang berkualitas. Namun demikian berbagai sumber
data termasuk SUSENAS 2003 mengungkapkan bahwa tidak semua peserta didik
dapat mengakses buku pelajaran baik dengan membeli sendiri maupun disediakan
oleh sekolah. Keterbatasan buku tersebut secara langsung berdampak pada sulitnya anak
menguasai ilmu pengetahuan yang dipelajari. Kecenderungan sekolah untuk mengganti
buku setiap tahun ajaran baru selain semakin memberatkan orangtua juga menyebabkan
inefisiensi karena buku-buku yang dimiliki sekolah tidak dapat lagi dimanfaatkan oleh
siswa.
Di samping itu pembangunan pendidikan masih menghadapi masalah belum
mantapnya sistem evaluasi untuk mengukur kinerja satuan pendidikan dan sistem
pengujian untuk mengukur kinerja setiap peserta didik yang dapat diperbandingkan
antardaerah dan antarsatuan pendidikan sebagai landasan perencanaan lebih lanjut.
Sampai dengan tahun 2004 pengelolaan pendidikan formal dan non formal
masih terlihat eksklusif dan belum saling mendukung. Format dan kualitas
pendidikan non formal belum memungkinkan untuk digunakan sebagai pengganti
pelajaran yang relevan di satuan pendidikan formal. Sementara itu fasilitas pelayanan
pendidikan formal yang sudah lebih baik secara kuantitas maupun kualitas belum dapat
dimanfaatkan secara optimal untuk menyelenggarakan pendidikan non formal.
Pada saat yang sama pendidikan tinggi masih menghadapi kendala dalam
mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan
penelitian dan pengembangan serta penyebarluasan hasilnya masih sangat terbatas.
Disamping itu proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi juga mengalami
hambatan karena masih terbatasnya buku-buku teks dan jurnal-jurnal internasional yang
dapat diakses. Dengan kualitas dan kuantitas hasil penelitian dan pengembangan yang
belum memadai, belum banyak hasil penelitian dan pengembangan yang dapat
diterapkan oleh masyarakat dan masih sedikit pula yang sudah dipatenkan dan/atau
mendapat pengesahan hak kekayaan intelektual.
Upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi dilakukan melalui otonomi perguruan
tinggi (PT), yang memberi PT tanggung jawab lebih besar dengan tetap berdasar pada
prinsip akuntabilitas publik. Perguruan tinggi juga diberi keleluasaan untuk mengelola
sumber daya yang dimiliki. Otonomi perguruan tinggi sangat penting untuk membangun
iklim kebebasan akademik serta menumbuhkan kreativitas dan inovasi dalam
kegiatan-kegiatan ilmiah. Sampai dengan tahun 2004 telah ditetapkan enam PTN (ITB, UI, IPB,
UGM, UPI, dan USU) yang mengalami perubahan status menjadi Perguruan Tinggi
Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN) dan dalam masa transisi dapat memperoleh
mandat untuk beroperasi sebagai badan layanan umum menuju badan hukum
pendidikan. Namun, pelaksanaan PT-BHMN belum berjalan dengan baik antara lain
karena belum tersedianya perangkat hukum berupa undang-undang badan hukum
pendidikan yang menjadi dasar bagi pengelolaan keuangan dan manajemen sumber
daya lainnya yang dimiliki perguruan tinggi.
Dalam rangka melaksanakan amanat amandemen UUD 1945 dan Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sejak tahun 2004
pembiayaan pendidikan terus diupayakan ditingkatkan secara signifikan untuk secara
bertahap mencapai 20 persen dari APBN dan minimal 20 persen dari APBD. Namun
demikian dengan beban anggaran yang sangat berat sampai dengan tahun 2005
anggaran tersebut baru mencapai 9,8 persen
1dari APBN yang dibelanjakan oleh
pemerintah pusat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak dilaksanakan desentralisasi terdapat
penurunan secara signifikan biaya operasional sekolah. Banyak sekolah hanya
menerima biaya operasional sekolah 50 persen atau kurang dibanding biaya yang
mereka terima sebelum desentralisasi
2. Selain itu terdapat variasi yang sangat besar
antardaerah dalam mengalokasikan anggaran per siswa untuk rutin dan pembangunan.
Keadaan tersebut tentu akan memunculkan permasalahan lain seperti terhambatnya
penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, meningkatnya
kesenjangan partisipasi pendidikan antara yang miskin dan yang kaya, serta
kesenjangan kinerja pendidikan antardaerah.
Manajemen pendidikan juga masih belum berjalan secara efektif dan efisien.
Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi pendidikan belum sepenuhnya dapat
dilaksanakan karena belum mantapnya pembagian peran dan tanggungjawab
masing-masing tingkat pemerintahan termasuk kontribusinya dalam penyediaan anggaran
pendidikan, belum terlaksananya standar pelayanan minimal yang seharusnya
ditetapkan oleh masing-masing kabupaten/kota serta kurang efektif dan belum
optimalnya peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan termasuk peran dan
fungsi dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah.
B. SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2006
Berdasarkan berbagai tantangan dan permasalahan di atas, sasaran pembangunan
pendidikan yang akan dicapai pada tahun 2006 adalah:
1. Meningkatnya taraf pendidikan penduduk Indonesia melalui:
a. Meningkatnya secara nyata persentase penduduk yang dapat menyelesaikan
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, yang antara lain
diukur dengan:
1 Angka sementara 2 Mc. Mahon
Meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) jenjang SD/MI/SDLB/Paket A
sebesar 114,81 persen dengan jumlah siswa menjadi sekitar 28,533 juta dan
APK jenjang SMP/MTs/Paket B sebesar 86,69 persen dengan jumlah siswa
menjadi sebanyak 11,238 juta;
Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SD/MI/SDLB/Paket A ke jenjang
SMP/MTs/Paket B menjadi 91,00 persen sehingga jumlah siswa baru kelas I
dapat ditingkatkan dari 3,785 juta siswa pada tahun ajaran 2005/06 menjadi
3,905 juta siswa pada tahun ajaran 2006/07;
Meningkatnya angka penyelesaian pendidikan dengan menurunkan angka
putus sekolah pada jenjang SD/MI/SDLB/Paket A menjadi 2,24 persen dan
jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 2,32 persen;
Menurunnya rata-rata lama penyelesaian pendidikan pada semua jenjang
dengan menurunkan angka mengulang kelas pada jenjang SD/MI/SDLB/
Paket A menjadi 2,11 persen dan jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 0,38
persen;
Meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun
menjadi 99,41 persen dan penduduk usia 13-15 tahun menjadi 85,68 persen,
sehingga anak usia 7-12 tahun yang bersekolah menjadi 23,354 juta orang
dan anak usia 13-15 tahun yang bersekolah menjadi 8,637 juta orang;
b. Meningkatnya secara signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti
pendidikan menengah yang antara lain diukur dengan:
Meningkatnya APK jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA/Paket
C) menjadi 57,20 persen dengan jumlah siswa menjadi sekitar 7,279 juta;
Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SMP/MTs/Paket B ke jenjang
pendidikan menengah menjadi 81,18 persen sehingga jumlah siswa baru
kelas I dapat ditingkatkan dari sekitar 2,471 juta siswa pada tahun ajaran
2005/06 menjadi 2,659 juta siswa pada tahun ajaran 2006/07;
Menurunnya rata-rata lama penyelesaian pendidikan dengan menurunkan
angka mengulang kelas jenjang pendidikan menengah menjadi menjadi 0,25
persen;
c. Meningkatnya secara signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti
pendidikan tinggi yang antara lain diukur dengan meningkatnya APK jenjang
pendidikan tinggi menjadi 15,56 persen dengan jumlah mahasiswa menjadi
sekitar 3,940 juta;
d. Meningkatnya proporsi anak yang terlayani pada pendidikan anak usia dini;
e. Menurunnya angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun keatas menjadi 7,58
persen pada tahun 2006;
f. Meningkatnya akses orang dewasa untuk mendapatkan pendidikan kecakapan
hidup; dan
g. Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat
termasuk antara wilayah maju dan tertinggal, antara perkotaan dan perdesaan,
antara daerah maju dan daerah tertinggal, antara penduduk kaya dan penduduk
miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan.
2. Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan:
a. Tersedianya standar pendidikan nasional serta standar pelayanan minimal untuk
tingkat kabupaten/kota;
b. Tersedianya sistem rekrutmen pendidik dan tenaga kependidikan yang berbasis
merit system;
c. Meningkatnya proporsi pendidik pada jalur pendidikan formal maupun non
formal yang memiliki kualifikasi minimun dan sertifikasi sesuai dengan jenjang
kewenangan mengajar;
d. Meningkatnya proporsi satuan pendidikan baik negeri maupun swasta yang
terakreditasi baik;
e. Meningkatkan persentase siswa yang lulus ujian akhir pada setiap jenjang
pendidikan; dan
f. Meningkatnya minat baca penduduk Indonesia.
3. Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan yang antara
lain diukur dengan:
a. Meningkatnya efektivitas pendidikan kecakapan hidup pada semua jalur dan
jenjang pendidikan; dan
b. Meningkatnya hasil penelitian, pengembangan dan penciptaan ilmu pengetahuan
dan teknologi oleh perguruan tinggi serta penyebarluasan dan penerapannya
pada masyarakat.
4. Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan yang
antara lain diukur dengan:
a. Efektifnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah;
b. Meningkatnya anggaran pendidikan baik yang bersumber dari APBN maupun
APBD sebagai prioritas nasional yang tinggi didukung oleh terwujudnya sistem
pembiayaan yang adil, efisien, efektif, transparan dan akuntabel;
c. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan; dan
d. Meningkatnya efektivitas pelaksanaan otonomi dan desentralisasi pendidikan
termasuk otonomi keilmuan.
C. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TAHUN 2006
Dalam rangka mencapai sasaran tersebut di atas, pembangunan pendidikan
dibedakan dalam dua kerangka arah kebijakan yaitu kerangka anggaran dan kerangka
regulasi dengan tetap mempertimbangkan kesepakatan-kesepakatan internasional seperti
Pendidikan Untuk Semua (Education For All), Konvensi Hak Anak (Convention on the
right of child) dan Millenium Development Goals (MDGs) serta World Summit on
Sustainable Development.
1. Meningkatkan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan pendidikan dengan:
a. Menyelenggarakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang bebas
biaya bagi penduduk miskin yang didukung dengan upaya penarikan kembali
siswa putus sekolah dan yang tidak melanjutkan ke dalam sistem pendidikan,
pemberian perhatian pada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, dan
penyediaan sarana dan prasarana terutama untuk wilayah-wilayah yang
partisipasi pendidikan dasarnya masih rendah;
b. Meningkatkan intensitas dan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan
fungsional untuk dapat menarik minat penduduk dewasa mengikuti pendidikan
keaksaraan melalui pengembangan materi belajar mengajar yang sesuai dengan
kebutuhan fungsional masyarakat dan meningkatkan jumlah kelompok sasaran;
c. Meningkatkan pemerataan dan keterjangkauan pendidikan menengah jalur
formal dan non formal baik umum maupun kejuruan terutama di wilayah
perdesaan melalui penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan
meningkatkan relevansinya dengan kebutuhan dunia kerja;
d. Meningkatkan pemerataan dan keterjangkauan pendidikan tinggi termasuk
menyeimbangkan dan menyerasikan jumlah dan jenis program studi yang
disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan pembangunan dan untuk menghasilkan
lulusan yang memenuhi kebutuhan pasar kerja;
e. Meningkatkan pemerataan dan keterjangkauan pendidikan anak usia dini melalui
penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan didukung dengan sinkronisasi
penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yang dilakukan oleh sektor-sektor
pembangunan terkait dan peningkatan peran serta masyarakat;
f. Menurunkan kesenjangan partisipasi pendidikan antarkelompok masyarakat
dengan memberikan akses yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang
selama ini kurang dapat terjangkau oleh layanan pendidikan seperti masyarakat
miskin, masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan, terpencil dan kepulauan,
masyarakat di daerah konflik, serta masyarakat penyandang cacat; dan
g. Menyelenggarakan pendidikan alternatif di wilayah konflik dan bencana alam
yang diikuti dengan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana dan prasarana yang
rusak termasuk penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan, serta penyiapan
peserta didik untuk dapat mengikuti proses belajar mengajar;
2. Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan dengan:
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidik dan tenaga kependidikan melalui
rekrutmen, pendidikan dan pelatihan, serta penyiapan sistem rekrutmen pendidik
dan tenaga kependidikan dengan menerapkan merit-system;
b. Mengembangkan kurikulum pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan
multikultural termasuk penyiapan materi belajar mengajar dan metode
pembelajarannya yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, budaya dan seni serta perkembangan global, regional, nasional dan
lokal; dan
c. Menyiapkan sistem evaluasi, akreditasi dan sertifikasi termasuk sistem
pengujian dan penilaian pendidikan dalam rangka mengendalikan mutu
pendidikan nasional pada satuan pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas
penyelenggara pendidikan, serta evaluasi terhadap penyelenggara pendidikan di
tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional;
3. Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan melalui:
a. Menyeimbangkan dan penyerasian jumlah dan jenis program studi pendidikan yang
disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan pembangunan dan untuk menghasilkan
lulusan yang memenuhi kebutuhan pasar kerja;
b. Meningkatkan intensitas pendidikan non formal dalam rangka mendukung
upaya penurunan jumlah pengangguran dan peningkatan produktivitas tenaga
kerja termasuk dengan memanfaatkan secara optimal fasilitas pelayanan
pendidikan formal;
c. Meningkatkan intensitas penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tepat guna oleh perguruan tinggi terutama untuk mendukung
pemanfaatan sumberdaya alam yang diikuti dengan upaya penerapannya pada
masyarakat;
4. Memperkuat manajemen pelayanan pendidikan melalui:
a. Menyiapkan sistem pembiayaan pendidikan yang berbasis siswa (student-based
financing) atau berbasis formula (formula-based financing) yang didukung
dengan upaya meningkatkan komitmen pemerintah daerah dalam pembiayaan
pendidikan melalui penetapan kontribusi pembiayaan pendidikan oleh setiap
tingkatan pemerintahan;
b. Mendorong pelaksanaan otonomi dan desentralisasi pengelolaan pendidikan
kepada satuan pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan secara efektif
dan efisien, transparan, bertanggung jawab, akuntabel serta partisipatif melalui
penetapan secara tegas tanggungjawab setiap tingkatan penyelenggara
pendidikan dan memfasilitasi penyiapan standar pelayanan minimal oleh setiap
provinsi dan kabupaten/kota; serta
c. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan termasuk
dalam pembiayaan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan berbasis
masyarakat serta dalam peningkatan mutu layanan pendidikan yang meliputi
perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.
D. M
ATRIKSP
ROGRAMP
EMBANGUNANT
AHUN2006
No. Program/ Kegiatan Pokok RPJM
Program/
Kegiatan Pokok RKP 2006 Sasaran Program Instansi Pelaksana
Pagu Indikatif (Juta Rupiah)
1. PENDIDIKAN ANAK USIA DINI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Dep. Pendidikan
Nasional, Dep. Agama
260.543,6 1. Penyediaan sarana dan
prasarana pendidikan, termasuk optimalisasi pemanfaatan fasilitas yang ada seperti ruang kelas SD/MI untuk
menyelenggarakan PAUD yang disesuaikan dengan kondisi daerah/wilayah, dukungan penyelenggaraan pendidikan, dukungan pendidik dan tenaga kependidikan, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, penyediaan biaya operasional pendidikan dan/atau dukungan
operasional/subsidi/hibah dalam bentuk block grant atau imbal swadaya, serta menumbuhkan partisipasi dan memberdayakan masyarakat termasuk lembaga keagamaan dan organisasi sosial
masyarakat untuk menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan anak usia dini;
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan termasuk rintisan model-model pembelajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) yang disesuaikan dengan kondisi daerah/wilayah antara lain melalui pembangunan pusat PAUD percontohan di tingkat provinsi dan kab/kota, dukungan
penyelenggaraan pendidikan, dukungan pendidik dan tenaga kependidikan, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan secara memadai, menumbuhkan partisipasi dan memberdayakan masyarakat termasuk lembaga tradisional keagamaan dan organisasi sosial masyarakat untuk menyelenggarakan dan
mengembangkan pendidikan anak usia dini, serta mengembangkan taman bacaan PAUD;
2. Optimalisasi pemanfaatan fasilitas yang ada seperti ruang kelas SD/MI untuk menyelenggarakan PAUD; dan
3. Penyediaan biaya operasional pendidikan dan/atau dukungan operasional/subsidi/ hibah dalam bentuk block grant atau imbal swadaya bagi satuan pendidikan anak usia dini, antara lain dengan
1. Meningkatnya proporsi anak yang terlayani pada pendidikan anak usia dini;
2. Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara wilayah maju dan tertinggal, antara perkotaan dan perdesaan, antara daerah maju dan daerah tertinggal, antara penduduk kaya dan penduduk miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan; dan
3. Tersedianya standar pendidikan nasional serta standar pelayanan minimal pendidikan anak usia dini untuk tingkat kabupaten/kota
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
pemberian bantuan rintisan program PAUD dan bantuan kelembagaan PAUD yang memiliki sasaran masyarakat menengah kebawah.
2. Pengembangan kurikulum
dan bahan ajar yang bermutu serta perintisan model-model pembelajaran PAUD, yang mengacu pada tahap-tahap perkembangan anak, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya dan seni;
Pengembangan acuan nasional kurikulum, materi bahan ajar, dan model-model pembelajaran PAUD yang mengacu pada tahap-tahap perkembangan anak, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya dan seni.
3. Peningkatan pemahaman
mengenai pentingnya pendidikan PAUD kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah daerah, sebagai upaya membantu
pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan lebih lanjut;
1. Upaya pembudayaan,
pemasyarakatan/sosialisasi dan advokasi mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah daerah; dan
2. Penyediaan data dan informasi yang memadai mengenai pendidikan anak usia dini yang memungkinkan masyarakat untuk
menyelenggarakan atau memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan.
4. Pengembangan kebijakan,
melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan anak usia dini sejalan dengan prinsip-prinsip transparansi,
1. Mengembangkan kebijakan, melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan
pembangunan pendidikan anak usia dini sejalan dengan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas,
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
akuntabilitas, partisipasi, dan demokratisasi
partisipatif, dan demokratisasi di tingkat pusat, provinsi dan kab/kota yang melibatkan stakeholders terkait
2. WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN
DASAR SEMBILAN TAHUN
WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR
SEMBILAN TAHUN
Dep. Pendidikan
Nasional, Dep. Agama
13.425.022,0
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas termasuk pembangunan unit sekolah baru (USB), ruang kelas baru (RKB), laboratorium, perpustakaan, buku pelajaran dan peralatan peraga
pendidikan, yang disertai dengan penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan secara lebih merata, bermutu, tepat lokasi, terutama untuk daerah perdesaan, wilayah terpencil dan kepulauan, disertai rehabilitasi dan revitalisasi sarana dan prasarana yang rusak termasuk yang berada diwilayah konflik dan bencana alam, serta
penyediaan biaya operasional pendidikan secara memadai, dan/atau subsidi/hibah dalam bentuk block grant atau imbal swadaya bagi satuan
pendidikan dasar untuk meningkatkan mutu
1. Pembangunan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas baru (RKB) untuk meningkatkan jangkauan pelayanan pendidikan dasar khususnya jenjang pendidikan SMP/MTs di daerah-daerah yang angka partisipasi pendidikannya lebih rendah dari rata-rata nasional termasuk melalui penyediaan satuan pendidikan berasrama khususnya untuk wilayah kepulauan atau terpencil;
2. Rehabilitasi dan revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan dasar yang rusak;
3. Penyediaan sarana dan prasarana pendukung peningkatan kualitas pendidikan seperti perpustakaan dan laboratorium;
4. Penyediaan subsidi/hibah bagi satuan pendidikan dasar yang dapat dipergunakan untuk peningkatan mutu pendidikan dasar melalui penyediaan buku pelajaran, peralatan peraga pendidikan, dan pengembangan dan pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana
Meningkatnya secara nyata persentase penduduk yang dapat menyelesaikan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, yang antara lain diukur dengan :
1. Meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) jenjang
SD/MI/SDLB/Paket A sebesar 114,81 dengan jumlah peserta didik menjadi sekitar 28,533 juta dan APK jenjang SMP/MTs/Paket B sebesar 86,69 persen dengan jumlah peserta didik menjadi sebanyak 11,238 juta;
2. Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SD/MI/SDLB/Paket A ke jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 91,00 persen sehingga jumlah peserta didik baru kelas I dapat ditingkatkan dari 3,785 juta peserta didik pada tahun ajaran 2005/06 menjadi 3,905 juta peserta didik pada tahun ajaran 2006/07; 3. Meningkatnya angka penyelesaian
pendidikan dengan menurunkan angka putus sekolah pada jenjang SD/MI/SDLB/Paket A menjadi 2,24 persen dan jenjang SMP/MTs/Paket
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
pelayanan pendidikan; pendukung lainnya;
5. Penyediaan biaya operasional pendidikan untuk madrasah; 6. Pembebasan iuran sekolah bagi
anak miskin dan pemberian tambahan beasiswa untuk membantu anak miskin dalam menyediakan kebutuhan sekolah seperti seragam, peralatan sekolah dan biaya transportasi; dan 7. Pengembangan sekolah dengan
standar nasional dan internasioal di setiap daerah secara bertahap 2. Penyediaan berbagai
alternatif layanan pendidikan dasar baik melalui jalur formal maupun non formal untuk memenuhi kebutuhan, kondisi, dan potensi anak termasuk anak dari keluarga miskin dan yang tinggal di wilayah perdesaan, terpencil dan kepulauan serta
pemberian perhatian bagi peserta didik yang memiliki kesulitan mengikuti proses pembelajaran dan yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa;
1. Penyediaan berbagai alternatif layanan pendidikan dasar seperti SMP Kecil, SD/SMP Satu Atap, SMP Terbuka, MTs Terbuka, Paket A Setara SD dan Paket B Setara SMP, Madrasah Kecil di daerah terpencil, untuk memberikan pelayanan secara lebih variatif termasuk bagi peserta didik yang tidak dapat mengikuti pendidikan reguler;
2. Pemberian perhatian dan bimbingan bagi siswa yang memiliki kesulitan mengikuti proses pembelajaran;
3. Peningkatan upaya penarikan kembali peserta didik putus sekolah jenjang SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/ Paket B dan lulusan SD/MI/Paket A
1. Penyediaan beasiswa retrieval yang ditujukan bagi anak putus sekolah agar dapat kembali bersekolah; 2. Penyediaan beasiswa transisi agar
lulusan SD/MI/Paket A yang tidak
B menjadi 2,32 persen; 4. Menurunnya rata-rata lama
penyelesaian pendidikan pada semua jenjang dengan menurunkan angka mengulang kelas pada jenjang SD/MI/SDLB/ Paket A menjadi 2,11 persen dan jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 0,38 persen;
5. Meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99,41 persen dan penduduk usia 13-15 tahun menjadi 85,68 persen, sehingga anak usia 7-12 tahun yang bersekolah menjadi 23,354 juta orang dan anak usia 13-15 tahun yang bersekolah menjadi 8,637 juta orang; dan
6. Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara wilayah maju dan tertinggal, antara perkotaan dan perdesaan, antara daerah maju dan daerah tertinggal, antara penduduk kaya dan penduduk miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan.
Meningkatnya kualitas pendidikan dasar yang ditandai dengan: 1. Tersedianya standar pendidikan
nasional serta standar pelayanan minimal pendidikan dasar untuk tingkat kabupaten/kota;
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
yang tidak melanjutkan ke dalam sistem pendidikan serta mengoptimalkan upaya menurunkan angka putus sekolah tanpa diskriminasi gender dengan antara lain menerapkan sistem informasi pendidikan yang berbasis masyarakat, menyediakan bantuan biaya pendidikan dalam bentuk beasiswa atau voucher pendidikan, dan perluasan perbaikan gizi anak sekolah khususnya untuk jenjang SD/MI/Paket A;
melanjutkan dapat kembali melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP/MTs/Paket B; dan 3. Penyediaan beasiswa bagi anak-anak yang belum pernah sekolah untuk masuk dan bersekolah di SD/MI/Paket A;
pendidikan dasar baik negeri maupun swasta yang terakreditasi baik; dan
4. Pengembangan kurikulum nasional dan lokal yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan seni termasuk pengembangan pendidikan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat dan industri serta kecakapan untuk hidup dalam masyarakat yang majemuk dan dasar-dasar kecakapan vokasi sesuai tuntutan masyarakat dan industri bagi peserta didik yang tidak akan melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah;
1. Pengembangan kurikulum, bahan ajar, dan model-model
pembelajaran yang mengacu pada standar nasional sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, seni, dan kebutuhan pembangunan nasional, wilayah, kawasan dan daerah. 2. Pengembangan pendidikan
kecakapan hidup yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik termasuk kecakapan vokasi untuk peserta didik yang tidak akan melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
5. Penyediaan materi
pendidikan, media pengajaran dan teknologi pendidikan termasuk peralatan peraga pendidikan, buku pelajaran, buku bacaan dan buku ilmu pengetahuan dan teknologi serta materi pelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi termasuk internet dan alam sekitar guna meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap ilmu pengetahuan yang
dipelajarinya;
Pengembangan materi belajar mengajar dan metode pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang mencakup antara lain pengembangan infrastruktur dan pembinaan SDM yang diperlukan.
6. Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik dengan memberi perhatian pada anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa;
Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik dengan memberi
perhatian pada anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, melalui antara lain lomba karya ilmiah, lomba karya tulis, dan olimpiade mata pelajaran.
7. Penerapan manajemen berbasis sekolah yang memberi wewenang dan tanggungjawab pada satuan pendidikan untuk mengelola sumberdaya yang dimiliki dalam mengembangkan institusinya dan meningkatkan relevansi pembelajaran dengan lingkungan setempat;
1. Memfasilitasi penyusunan standar pelayanan pendidikan dasar di semua kabupaten/kota; dan 2. Pendampingan penerapan
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di setiap satuan pendidikan dasar.
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
8. Penyediaan informasi pendidikan yang memadai yang memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan;
Penyediaan informasi pendidikan dasar yang memadai yang memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan.
9. Peningkatan partisipasi masyarakat baik dalam penyelenggaraan,
pembiayaan, maupun dalam pengelolaan pembangunan pendidikan dasar, dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pendidikan dasar bagi anak laki-laki maupun anak perempuan; dan
1. Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pendidikan dasar baik bagi anak laki-laki maupun anak perempuan; dan
2. Peningkatan partisipasi masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan dasar maupun dalam pengelolaan pembangunan pendidikan dasar.
10. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan dasar sejalan dengan prinsip-prinsip transparansi,
akuntabilitas, partisipasi, dan demokratisasi
Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun sejalan dengan prinsip-prinsip
transparansi, akuntabilitas, partisipatif, dan demokratisasi di tingkat pusat, provinsi dan kab/kota yang melibatkan
stakeholders terkait.
3. PENDIDIKAN MENENGAH PENDIDIKAN MENENGAH Dep. Pendidikan
Nasional, Dep. Agama
3.319.017,6 1. Penyediaan sarana dan
prasarana pendidikan
termasuk pembangunan USB, RKB, laboratorium,
perpustakaan, buku pelajaran
1. Pembangunan unit sekolah baru (USB), ruang kelas baru (RKB), laboratorium, dan perpustakaan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan pendidikan menengah
Meningkatnya secara signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan menengah yang antara lain diukur dengan:
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
dan peralatan peraga pendidikan, disertai rehabilitasi dan revitalisasi sarana dan prasarana yang rusak termasuk yang berada diwilayah konflik dan bencana alam, yang disertai dengan penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan secara lebih merata, bermutu, tepat lokasi, serta penyediaan biaya operasional pendidikan dan/atau subsidi/hibah dalam bentuk block grant atau imbal swadaya bagi satuan
pendidikan menengah untuk meningkatkan mutu
pelayanan pendidikan termasuk subsidi atau beasiswa bagi peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu dan peserta didik yang berprestasi;
secara lebih merata, bermutu, dan tepat lokasi, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya, terutama di daerah-daerah yang angka partisipasi pendidikannya lebih rendah dari rata-rata nasional; 2. Rehabilitasi dan revitalisasi sarana
dan prasarana pendidikan menengah yang rusak;
3. Penyediaan subsidi/hibah bagi satuan pendidikan menengah yang dapat dipergunakan untuk
peningkatan mutu pendidikan menengah melelui penyediaan buku pelajaran, peralatan peraga
pendidikan, dan pengembangan dan pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya; 4. Penyediaan biaya operasional
pendidikan untuk madrasah; dan 5. Penyediaan beasiswa bagi peserta
didik yang berasal dari keluarga tidak mampu;
2. Pengembangan kurikulum
nasional dan lokal, bahan ajar, dan model-model pembelajaran yang mengacu pada standar nasional dan mempertimbangkan standar internasional sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan seni termasuk kurikulum pendidikan
1. Pengembangan kurikulum, bahan ajar, dan model-model pembelajaran yang mengacu pada standar nasional dan mempertimbangkan standar internasional sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, seni, dan kebutuhan pembangunan nasional, wilayah, kawasan dan daerah; dan khusus untuk pendidikan kejuruan mengacu pula pada standar
pendidikan menengah
(SMA/SMK/MA/Paket C) menjadi 57,20 persen dengan jumlah peserta didik menjadi sekitar 7,279 juta; 2. Meningkatnya angka melanjutkan
lulusan SMP/MTs/Paket B ke jenjang pendidikan menengah menjadi 81,18 persen sehingga jumlah peserta didik baru kelas I dapat ditingkatkan dari sekitar 2,471 juta peserta didik pada tahun ajaran 2005/06 menjadi 2,659 juta peserta didik pada tahun ajaran 2006/07;
3. Menurunnya rata-rata lama penyelesaian pendidikan dengan menurunkan angka mengulang kelas jenjang pendidikan menengah menjadi menjadi 0,25 persen; 4. Meningkatnya keadilan dan
kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara wilayah maju dan tertinggal, antara perkotaan dan perdesaan, antara daerah maju dan tertinggal, antara penduduk kaya dan miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan.
Meningkatnya kualitas pendidikan menengah yang ditandai dengan: 1. Tersedianya standar pendidikan
nasional serta standar pelayanan minimal pendidikan menengah untuk tingkat kabupaten/kota; 2. Meningkatnya proporsi satuan
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
kecakapan hidup sesuai kebutuhan peserta didik, masyarakat dan industri, termasuk untuk meningkatkan kecakapan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat yang majemuk dan kecakapan vokasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri untuk peserta didik yang tidak akan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Khusus untuk pendidikan kejuruan, kurikulum yang
dikembangkan juga mengacu pula pada standar kompetensi kerja nasional, internasional dan industri;
kompetensi kerja nasional dan internasional/industri; dan 2. Peningkatan kerjasama dengan
dunia usaha dan dunia industri.
pendidikan menengah baik negeri maupun swasta yang terakreditasi baik;
3. Meningkatkan persentase peserta didik yang lulus ujian akhir di jenjang pendidikan menengah;
3. Penataan bidang keahlian pada pendidikan menengah kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja, yang didukung oleh upaya meningkatkan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri dalam dan luar negeri;
Penataan bidang keahlian pada pendidikan menengah kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja, yang didukung dengan meningkatkan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri.
4. Penyediaan materi
pendidikan, media pengajaran dan teknologi pendidikan termasuk peralatan peraga pendidikan, buku pelajaran, buku bacaan dan buku ilmu
Pengembangan materi belajar mengajar dan metode pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang mencakup antara lain pengembangan infrastruktur dan SDM pendidikan bidang teknologi informasi
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
pengetahuan dan teknologi serta materi pelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi termasuk internet dan alam sekitar guna meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap ilmu pengetahuan yang
dipelajarinya;
dan komunikasi, pengembangan jaringan informasi sekolah, dan pengembangan ICT-Center yang secara keseluruhan dilaksanakan terpadu antara sekolah/madrasah umum dan kejuruan.
5. Penyediaan layanan
pendidikan baik umum maupun kejuruan bagi peserta didik SMA/SMK/MA sesuai dengan kebutuhan peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi atau untuk bekerja melalui penyediaan tambahan fasilitas dan program antara (bridging
program) pada
sekolah/madrasah yang ada dan/atau melalui kerjasama antarsatuan pendidikan baik formal maupun nonformal, dan mengembangkan sekolah/madrasah dengan standar nasional dan
internasional secara bertahap;
1. Penyediaan layanan pendidikan menengah terpadu dan penyediaan program antara (bridging program) pada sekolah/madrasah yang ada; dan
2. Pengembangan sekolah dengan standar nasional dan internasioal di setiap daerah secara bertahap.
6. Penyediaan berbagai
alternatif layanan pendidikan menengah baik formal maupan non formal untuk menampung kebutuhan penduduk miskin, dan
Penyediaan berbagai alternatif layanan pendidikan menengah baik formal maupan non formal (seperti sekolah/madrasah kecil dan paket C Setara SMA) untuk menampung kebutuhan penduduk miskin, dan
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
penduduk yang tinggal di wilayah perdesaan, terpencil dan kepulauan;
penduduk yang tinggal di wilayah perdesaan, terpencil dan kepulauan.
7. Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik dengan memberi perhatian pada anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa;
Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik dengan memberi
perhatian pada anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa melalui berbagai lomba karya ilmiah, lomba karya tulis, dan olimpiade mata pelajaran.
8. Penerapan manajemen
berbasis sekolah dan masyarakat yang memberi wewenang dan
tanggungjawab pada satuan pendidikan untuk mengelola sumberdaya yang dimiliki dalam mengembangkan institusinya dan meningkatkan relevansi pembelajaran dengan lingkungan setempat;
1. Memfasilitasi penyusunan standar pelayanan pendidikan menengah di semua kabupaten/kota; dan 2. Pendampingan penerapan
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di setiap satuan pendidikan menengah.
9. Penyediaan informasi
pendidikan yang memadai yang memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan;
Penyediaan informasi pendidikan menengah yang memadai yang memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan.
10. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan, pembiayaan, dan pengelolaan
1. Peningkatan pemahaman
masyarakat mengenai pentingnya pendidikan menengah baik bagi anak laki-laki maupun anak
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
pembangunan pendidikan menengah, dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pendidikan menengah baik umum maupun kejuruan bagi anak laki-laki maupun anak perempuan;
perempuan; dan
2. Peningkatan partisipasi masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan menengah maupun dalam pengelolaan pembangunan pendidikan menengah.
11. Penyiapan pelaksanaan Program Pendidikan 12 Tahun terutama untuk daerah-daerah yang APK
SMP/MTs/Paket B telah mencapai 95% atau lebih; dan
Penyiapan pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun terutama untuk daerah-daerah yang APK SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat telah mencapai 95% atau lebih.
12. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan menengah sejalan dengan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipasi, dan demokratisasi
Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan menengah sejalan dengan prinsip-prinsip transparansi,
akuntabilitas, partisipatif, dan
demokratisasi di tingkat pusat, provinsi dan kab/kota yang melibatkan
stakeholders terkait.
4. PENDIDIKAN TINGGI PENDIDIKAN TINGGI Dep. Pendidikan
Nasional, Dep. Agama
10.088.729,4 1. Percepatan transformasi
perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) menjadi perguruan tinggi otonom dan akuntabel dengan penyediaan dan pengembangan infrastruktur hukum guna meningkatkan
Pelaksanaan sosialisasi dan advokasi UU tentang Badan Hukum Pendidikan sebagai acuan bagi PT sebagai kekuatan moral dan intelektual dalam penemuan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat.
1. Meningkatnya secara signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan menengah yang antara lain diukur dengan: 2. Meningkatnya secara signifikan
partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan tinggi yang antara lain diukur dengan
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
efektivitas, transparansi, akuntabilitas dan transformasi, sehingga tercipta suasana inovatif dan kreatif;
2. Penyediaan dan
pengembangan instrumen hukum berupa peraturan perundang-undangan mengenai perguruan tinggi sebagai badan hukum pendidikan yang bersifat nirlaba dan mempunyai kewenangan mengelola sumber daya secara mandiri untuk menyelenggarakan pendidikan;
Penyusunan RPP tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan PT-BHMN sebagai badan hukum pendidikan yang bertugas
menyelenggarakan layanan Tridarma perguruan tinggi secara mandiri.
3. Penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan dalam jumlah dan mutu yang sesuai untuk mendukung
keberhasilan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun;
Penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan dalam jumlah dan mutu yang sesuai untuk mendukung
keberhasilan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun melalui pelaksanaan kerjasama antar LPTK dengan sekolah dan instansi terkait lainnya dan penyegaran pengalaman mengajar untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
4. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai sesuai dengan kebutuhan belajar mengajar termasuk pendidik dan tenaga kependidikan dengan
Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai melalui: 1. Pembangunan infrastruktur
lingkungan kampus dan perbaikan prasarana lingkungan; perbaikan dan pengadaan peralatan
meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 15,56 persen dengan jumlah mahasiswa menjadi sekitar 3,940 juta 3. Meningkatnya keadilan dan
kesetaraan pendidikan antarkelompok masyarakat termasuk antara wilayah maju dan tertinggal, antara perkotaan dan perdesaan, antara daerah maju dan daerah tertinggal, antara penduduk kaya dan penduduk miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan
Meningkatnya kualitas pendidikan tinggi yang ditandai dengan: 1. Tersedianya standar pendidikan
nasional serta standar pelayanan minimal pendidikan tinggi; 2. Meningkatnya proporsi satuan
pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta yang terakreditasi baik;
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
kualifikasi yang sesuai dengan bidang yang
dibutuhkan hingga mencapai keadaan yang memungkinkan meningkatnya kualitas proses pembelajaran dan lulusan perguruan tinggi secara berkelanjutan;
laboratorium, pengadaan perabot pendidikan, dan pemanfaatan fasilitas bersama, baik internal maupun antar perguruan tinggi; 2. Peningkatan kemampuan pendidik
dan tenaga kependidikan lainnya di perguruan tinggi melalui
penyelenggaraan pendidikan S2 dan S3, serta penyelenggaraan berbagai jenis pelatihan; dan
3. Perawatan gedung pendidikan dan penyelesaian/lanjutan pekerjaan yang sedang berjalan, serta pembangunan gedung baru secara terbatas dan selektif.
5. Pengembangan kurikulum
yang mengacu pada standar nasional dan internasional serta mengembangkan bahan ajar yang disesuaikan dengan perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan seni;
Penataan dan penyempurnaan
kurikulum berbasis kompetensi dengan memberikan pengayaan bidang sains dan teknologi dalam rangka kerjasama dengan industri, pembukaan dan perluasan bidang studi unggulan, serta mengupayakan sumber daya penunjang pendidikan lainnya, serta pelaksanaan program data sharing/pertukaran dosen antar perguruan tinggi.
6. Penyediaan materi pendidikan dan media pengajaran
termasuk buku pelajaran dan jurnal ilmiah dalam dan luar negeri serta materi pelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi;
Penyediaan materi pendidikan dan media pengajaran melalui pengadaan buku teks, buku perpustakaan dan jurnal ilmiah untuk memperkaya materi bahan ajar dan wawasan mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi.
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
7. Penyediaan biaya operasional pendidikan dalam bentuk
block grant atau imbal
swadaya bagi satuan pendidikan tinggi termasuk subsidi bagi peserta didik yang kurang beruntung tetapi mempunyai prestasi akademis yang baik;
Pemberian block grant baru bagi program studi S1, diploma politeknik negeri, dan program SP4 dengan sistem kompetisi dan penyediaan beasiswa peningkatan prestasi akademis, program student equity
scheme, penyediaan beasiswa bagi
mahasiswa yang terkena dampak kerusuhan dan bencana alam, dan penerapan SPP secara proporsional (subsidi silang) terutama pada
perguruan tinggi sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN).
8. Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat yang antara lain ditujukan untuk
peningkatan kesesuaian pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat baik di perdesaan maupun di
perkotaan, penerapan otonomi keilmuan yang mendorong perguruan tinggi melaksanakan tugasnya sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas serta
diversifikasi bidang penelitian di lingkungan perguruan tinggi;
1. Pelaksanaan berbagai program penelitian di perguruan tinggi termasuk pelaksanaan research andalan perguruan tinggi dan industri (RAPID);
2. Peningkatan kegiatan pengabdian pada masyarakat melalui
pengembangan sistem budaya kewirausahaan dan penerapan
voucer multi tahun di perguruan
tinggi; dan
3. Penerapan iptek untuk
pengembangan usaha kecil dan menengah, pengembangan unit usaha jasa dan industri serta publikasi hasil penelitian dan pengabdian pada masyarakat
Program/ Program/ Pagu Indikatif No. Sasaran Program Instansi Pelaksana
Kegiatan Pokok RPJM Kegiatan Pokok RKP 2006 (Juta Rupiah)
9. Peningkatan kerjasama perguruan tinggi dengan dunia usaha, industri dan pemerintah daerah untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan pengembangan wilayah, termasuk kerjasama dalam pendidikan dan penelitian yang menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan seni, dan pemanfaatan hasil penelitian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bangsa;
1. Pelaksanaan kerjasama penelitian dan pengembangan hasil penelitian antar perguruan tinggi;
2. Pelaksanaan kerjasama penelitian antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja dunia usaha;
3. Pengembangan kerjasama penelitian antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah khususnya untuk mendukung pengembangan sumber daya lokal; dan
4. Peningkatan kerjasama pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat antara perguruan tinggi dengan badan bilateral dan
multirateral luar negeri terutama berupa bantuan teknis (technical
assistance).
10. Penyediaan informasi pendidikan yang memadai yang memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan; dan
Pengayaan informasi yang memadai tentang perguruan tingi melalui
webside dan media lainnya yang
memungkinkan masyarakat memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan; dan
11. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan tinggi sejalan dengan prinsip-prinsip transparansi,
1. Peningkatan perencanaan program pembangunan dan pembiayaan pendidikan tinggi melalui mekanisme proposal base dan pemberian block grant, baik program lanjutan maupun baru bagi program S1, Diploma Politeknik