• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

233 JSBPSDM 1(1)(2020), 233-243.

Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan

https://ojs.bpsdmsulsel.id/

Evaluasi context, input, process, dan product Pelatihan Administrasi Dasar

Metode E-Learning

Harini Setijowati

Widyaiswara BPDSMD Provinsi Jawa Tengah Email: [email protected]

ABSTRAK

Pelatihan dengan metode e-learning merupakan pelatihan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Pada 2019, baru pertama kalinya Pelatihan Administrasi Dasar diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Jawa Tengah. Peserta adalah alumni peserta Latsar Provinsi Jawa Tengah. Pelatihan ini mengimplementasikan metode blended learning. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyampaikan hasil evaluasi pada

context, input, process, dan product. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya kesesuaian dengan peraturan perundangan

dan kebutuhan peserta. Kemudian penetapan metode e-learning dan pemilihan waktu yang tepat turut berkontribusi terhadap keberhasilan penyelenggaraan pelatihan secara utuh. Evaluasi input dan process menunjukkan hasil yang baik. Produk yang dihasilkan adalah 40 peserta telah dinyatakan lulus pelatihan.

Kata kunci: Pelatihan, Evaluasi

© 2020 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sulawesi Selatan

PENDAHULUAN

Metode pelatihan e-learning adalah pengembangan kompetensi yang dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, untuk mencapai tujuan pembelajaran dan peningkatan kinerja (Lembaga Administrasi Negara RI, 2018b). Pengembangan pegawai termasuk salah satu hak pegawai negeri sipil (Republik Indonesia, 2017). Pengembangan pegawai merupakan upaya untuk memenuhi kemampuan pegawai sesuai dengan kebutuhan unit kerja (Kaswan, 2013). Hasil pelatihan tersebut diharapkan dipergunakan oleh peserta pelatihan dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari, sehingga meningkatkan kinerja organisasi (Suprapti, 2016). Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang pegawai untuk diusulkan mengikuti pelatihan sesuai dengan kebutuhan pengembangan kariernya untuk meningkatkan kualitas organisasi.

Memperhatikan Undang-undang nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara bahwa semua pegawai harus memenuhi pengembangan profesinya (Lembaga Administrasi Negara RI, 2014). Sementara mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil disebutkan bahwa setiap PNS memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk diikutsertakan dalam pengembangan kompetensi, dengan memerhatikan hasil penilaian kinerja dan penilaian kompetensi PNS yang bersangkutan. Adapun keikutsertaannya dilakukan paling sedikit 20 (dua puluh) jam pelajaran dalam 1 (satu) tahun (Republik Indonesia, 2017). Padahal, jumlah PNS Provinsi Jawa Tengah per 20 Juli 2020, sebanyak 40.396 (Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Tengah, 2020). Jika angka ini dikonversikan pada penyelenggaraan pelatihan konvensional, dibutuhkan waktu, dan tentu saja berdampak pada biaya yang sangat tinggi. Hal ini dapat memunculkan kondisi tidak efisien dan efektif penyelenggaraan pelatihan.

Di satu sisi, tren globalisasi, bersama dengan perkembangan teknologi yang semakin kompleks, telah memasuki Indonesia dalam skala besar. Era Revolusi Industri 4.0 mengedepankan model ekonomi digital, mesin, robot atau model kreatif lainnya. Menghadapi tantangan ini, perlu

(2)

234 mengantisipasi langkah-langkah dalam bentuk inovasi dengan meningkatkan daya saing di semua aspek, termasuk penyelenggaran pelatihan. (Lembaga Administrasi Negara RI, 2018a).

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 84 tahun 2016 melaksanakan fungsi urusan pemerintahan dalam pengelolaan sumber daya manusia Aparatur Sipil Negara yaitu sebagai lembaga penyelenggara pelatihan terakreditasi (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2016c). Mencermati semua kondisi diatas, maka mulai 2019, telah dilaksanakan Pelatihan dengan metode

e-learning secara blended. Pemanfaatan infrastruktur, infostruktur, dan suprastruktur terkait dengan

teknologi kekinian yang ada di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah dioptimalkan. Pelatihan Administrasi Dasar diprioritaskan bagi CPNS yang telah lulus Latsar guna mendukung pemenuhan kompetensi bidang administrasi umum.

Pelatihan dengan metode ini baru pertama kali diselenggarakan dengan peserta dari luar. Peserta tetap masuk kerja seperti biasa, tanpa hadir penuh di BPSDMD. Oleh karena itu, banyak hal yang dapat dipelajari dari Pelatihan ini, baik dari sisi konteks, input, proses, dan produk. Hal ini sangat penting untuk perbaikan program pelatihan berikutnya maupun yang lain.

Pelatihan Administrasi Dasar

Sumber daya manusia termasuk modal utama untuk menjalankan roda organisasi. Mulai dari pimpinan tertinggi sampai pelaksana harus memenuhi kualifikasi atau persyaratan agar pekerjaan dapat rampung dan tujuan organisasi tercapai. Kompetensi yang diperlukan ketika menyelesaikan suatu pekerjaan berupa pengetahuan, sikap, dan kemampuan agar dapat mencapai target yang ditentukan (Wibowo, 2011).

Michael Zwell dalam Widodo (Wibowo, 2011) menyatakan ada lima kategori kompetensi. (1)

Task Achievement. Sama seperti task skill. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil kinerja. (2) Relationship. Merupakan kemampuan menjalin hubungan kerja atau komunikasi. (3) Personal attribute. Menunjukkan kepribadian dan kemampuan seseorang. Misalnya berintegritas, jujur,

bertanggung jawab, kerja keras, disiplin, dan lain-lain. (4) Manajerial. Adalah seni dan kemampuan dalam mengelola mulai merencanakan sampai dengan evaluasi. (5) Leadership. Kepemimpinan strategis, visioner, dan transformasional penting sekali dalam mengendalikan atau memastikan pencapaian visi dan misi organisasi.

Berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PNS), kompetensi PNS terdiri atas kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan

kompetensi sosial kultural. Kompetensi teknis adalah pengetahuan, keterampilan, dan

sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dikembangkan yang spesifik berkaitan dengan bidang teknis Jabatan. Kompetensi manajerial adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dikembangkan untuk memimpin dan/atau mengelola unit organisasi. Kompetensi sosial kultural adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dikembangkan terkait dengan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku dan budaya, perilaku, wawasan kebangsaan, etika, nilai-nilai, moral, emosi, dan prinsip, yang harus dipenuhi oleh setiap pemegang Jabatan untuk memperoleh hasil kerja sesuai dengan peran, fungsi, dan Jabatan. (Republik Indonesia, 2017).

PNS diwajibkan memenuhi kompetensi teknis administratif, yang merupakan bagian dari kompetensi teknis bidang tugas (Lembaga Administrasi Negara RI, 2018a). Salah satu upaya agar kompetensi sumberdaya terpenuhi, dilakukanlah pelatihan. Berdasar Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 16 tahun 2016 tentang Pendidikan dan Pelatihan Administrasi Dasar, diselenggarakanlah Pelatihan Administrasi Dasar (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2016b).

Konsep model pembelajaran e-learning di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah mengadopsi

blended learning. Yaitu model pembelajaran yang mengkombinasikan pembelajaran online dan tatap

muka. Materi yang disampaikan oleh widyaiswara dalam pelatihan diunggah ke sebuah sistem online, kemudian pada saat seminar berkesempatan bertanya atau berdiskusi dengan widyaiswara. (BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Beberapa hal yang perlu disiapkan pada penyelenggaraan pelatihan metode e-learning adalah dari segi software, hardware, dan brainware. Persiapan perangkat keras/ hardware yang dibutuhkan dapat berupa: server, perangkat jaringan, koneksi internet dan media koneksi. Sedangkan software

(3)

235

atau perangkat lunak dapat berupa perangkat lunak pengelola pembelajaran (learning management

system/LMS), database, aplikasi server web (LMS yang terinstal dan dikonfigurasi). Brainware adalah bagian buatan dari pengguna. Pengguna yang harus siap menggunakan LMS (mie) dapat terdiri dari administrator, course creator, teacher, non-editing teacher, student/ peserta. (Wiyoso, 2016)

Evaluasi Context, Input, Process, dan Product

Suatu pelatihan perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi program pelatihan dapat disimpulkan merupakan upaya untuk memberikan informasi secara deskriptif terkait penyelenggaraan pelatihan dan penilaian untuk memastikan apakah program yang diselenggarakan bermanfaat atau tidak (Kaswan, 2013, pp. 215-216). Maka secara sederhana, pelatihan perlu dievaluasi dengan mengkaji kesesuaian penyelenggaraan dengan perencanaannya.

Evaluasi pelatihan merupakan serangkaian kegiatan secara teratur dan sistematis untuk menentukan tingkat penerapan hasil pelatihan oleh peserta. Evaluasi mencermati mulai dengan pengembangan alat, pengumpulan data, analisis, dan interpretasi hasil guna mendapatkan umpan balik dan diketahui efektivitas dari pelatihan (Ratna, 2016). Sehingga, manfaat evaluasi program pelatihan dapat memberikan masukan untuk perencanaan yang akan datang. Hal ini penting guna memperbaiki kualitas program diklat, masukan modifikasi program pelatihan, memperoleh informasi tentang faktor pendukung, dan penghambat dalam implementasi hasil pelatihan. (Ratna, 2016).

Beberapa prinsip–prinsip evaluasi yang perlu diperhatikan berikut ini. (1) Tepat waktu dan obyektivitas. Tepat waktu akan sangat mempengaruhi keefektifan pekerjaan. Jika evaluasi dilakukan untuk waktu yang lama, akan mempengaruhi objektivitas evaluator dan sumber informasi. (2) Informatif yaitu menyediakan informasi balikan bagi pengembangan suatu organisasi, program, atau kegiatan. (3) Kontinyu, yaitu melihat masa lalu dan memprediksi perkembangkannya guna menjamin peningkatan kualitas proses maupun hasilnya. (4) Manfaat, terkait dengan hasil evaluasi disampaikan kepada stakeholders, agar dimanfaatkan untuk perbaikan program pelatihan. Hasil evaluasi bukan sekedar membuktikan tetapi juga memperbaiki. (Ratna, 2016).

Salah satu model evaluasi pelatihan yaitu modifikasi CIPP: Context, Input, Process dan Product. (Kaswan, 2013). Context yaitu untuk memperoleh informasi tentang situasi yang memutuskan tentang kebutuhan pelatihan. Situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis, tujuan dan strategi pelatihan untuk dikembangkan dalam sistem yang relevan. Misalnya masalah pendidikan yang dirasakan, masalah kinerja, dan tujuan yang tidak terpenuhi.

Input yaitu sarana dan prasarana diklat, peserta, tujuan, kurikulum, metode widyaiswara, dan

bahan pelatihan. Process yaitu menilai implementasi program pelatihan. Bisa dikaji dari penyelenggaraan diklat, aktivitas peserta, pelaksanaan strategi pembelajaran dan penggunaan sarana/bahan/modal di dalam diklat. Product yaitu berupa hasil yang dicapai, baik selama maupun pada akhir pelatihan. Misalnya kompetensi yang dicapai dan kinerja peserta setelah kembali ke unit kerjanya masing-masing.

Evaluasi Program Model CIPP pernah dilaksanakan pada Pelatihan Menjahit Di LKP Kartika Bawen. Diperoleh hasil pada evaluasi Konteks, memenuhi kebutuhan dan tujuan komunitas pembelajaran. Evaluasi input, termasuk warga belajar, dosen, kursus, materi pelatihan, pendanaan, komponen fasilitas dan infrastruktur, sesuai dengan harapan. Evaluasi proses, termasuk kegiatan belajar warga, kegiatan pembinaan, strategi belajar dan partisipasi warga belajar, semuanya berjalan lancar selama proses pelatihan menjahit di LKP Kartika. Evaluasi produk dalam pelatihan ini mencakup pencapaian tujuan, hasil belajar, dan dampak yang diharapkan oleh peserta dan lembaga pelatihan. (Istiyani, 2019).

Hal yang sama dilakukan bagi karyawan PT. Gramedia Asri Media Pandanaran Semarang. Disimpulkan bahwa CIPP diduga efektif dalam pra-penilaian dalam metode pelatihan on the job training. (Ciptananta, Fathoni, & Budi, 2018). Demikian juga bagi dosen Universitas Terbuka, hasilnya menunjukkan bahwa komponen konteks memenuhi kebutuhan lembaga dan peserta. Meskipun masih ada perbaikan pada komponen input pelatihan sudah cukup baik. Evaluasi komponen proses menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran sesuai dengan apa yang dibutuhkan

(4)

236 oleh peserta. Evaluasi produk menghasilkan produk desain pembelajaran yang cukup berdasarkan kompetensi yang dihasilkan. (Saputra, 2019). Maka secara konseptual, dapat diilustrasikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Konsep Evaluasi CIPP pada Pelatihan Admindas Metode E-Learning. METODE

Penelitian menggunakan metode survei (Field Studies) secara cross sectional yaitu metode penelitian kuantitatif dengan melihat obyek penelitian apa adanya, tanpa perlakuan khusus, pada satu periode penelitian berjangka pendek, dan menghimpun data pada suatu masa yang sama (Indrawan, R., & Yaniawati, 2014).

Sumber data adalah peserta pelatihan Administrasi Dasar 2019, Angkatan I-V dan Panitia Penyelenggara BPSDMD Provinsi Jawa Tengah. Ukuran sampel mengacu tabel Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan/ significansi 5% (Indrawan, R., & Yaniawati, 2014). Teknik sampling secara nonprobabilitas purposis sampling, yaitu semua peserta diberikan link kuesioner, namun yang diambil minimal 20 orang (Indrawan, R., & Yaniawati, 2014). Jumlah peserta 175 orang, diperoleh perhitungan sampel sebesar 117. Dari sumber yang sama, pakar menyarankan besar sampel minimum untuk penelitian deskriptif sebanyak 100. Sehingga secara proporsional setiap angkatan diambil minimal 20 peserta.

Jenis data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif terkait kualitas Program, Fasilitas Akademik dan Kualitas Widyaiswara dengan skala ukur ordinal (Indrawan, R., & Yaniawati, 2014). Alat bantu yang digunakan adalah kuesioner dengan pertanyaan tertutup yang disebarluaskan dengan fasilitas Google form. Kemudian data diilakukan analisis kuantitatif dengan teknik deskriptif. (Indrawan, R., & Yaniawati, 2014). Perhitungan dilakukan menggunakan paket statistik program komputer SPSS (Statistical Package for Social Science).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejumlah 35 peserta pada setiap angkatan (total sebanyak 175 peserta) berasal dari berbagai SKPD Provinsi Jawa Tengah telah menyelesaikan Pelatihan Administrasi Dasar dengan metode

E-learning. Jadwal pelatihan Admindas berikut ini.

Tabel 1. Jadwal Pelatihan Admindas Metode E-learning 2019

No. Angkatan Pelaksanaan

Kompetensi Teknis Pelatihan Admindas Metode E-Learning Evaluasi CIPP:

(5)

237

On Class

(Tatap Muka) Online Class (Seminar) On Class 1. I 21-22 Okt 2019 23-25 Okt 2019, 28-31 Okt 2019 1 Nov 2019 2. II dan III 11-12 Nov 2019 13-15 Nov 2019, 28-31 Okt 2019 22 Nov 2019 3. IV dan V 25-26 Nov 2019 13-15 Nov 2019, 2-5 Des 2019 6 Des 2019

Waktu pengisian kuesioner mulai 27 November 2019 – 25 Januari 2020, diperoleh 110 sampel. Hal ini telah memenuhi kriteria jumlah sample sebagaimana disampaikan oleh pakar, minimal 100 sampel untuk penelitian kuantitatif. Adapun jumlah sampel tiap angkatan 20-24 alumni dan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan (Grafik 1). (Indrawan, R., & Yaniawati, 2014)

Grafik 1. Proporsi Sampel Jenis kelamin Peserta pada Tiap Angkatan Pelatihan Admindas 2019.

Proporsi sampel jenis kelamin paling banyak adalah perempuan. Kecuali pada pada angkatan I, jumlah responden laki-laki dan perempuan sama. Berikut hasil evaluasi context, input, process, dan

output.

Evaluasi Context

Berdasar Peraturan Gubernur Jawa Tengah nomor 16 ahun 2016 tentang Diklat Administrasi Dasar, nyata sekali bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah merespon Pemerintah dan Kepala Lembaga Administrasi Negara untuk memenuhi kompetensi teknis PNS (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2016a). Sehingga Pelatihan Administrasi Dasar adalah salah satu pilihan yang tepat untuk segera diselenggarakan, dengan tujuan difokuskan pada pembentukan PNS yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan teknis bidang administrasi dasar (Lembaga Administrasi Negara RI, 2018a). Juga menyiapkan PNS yang mempunyai kompetensi untuk menjalankan tugas secara tertib administrasi, tertib hukum dan tertib pelayanan. Sekaligus mempunyai wawasan dan karakteristik sesuai dengan budaya Jawa Tengah.

Pada 2019 merupakan booming pelatihan dasar (Latsar) PNS yang sangat membutuhkan banyak sekali sumberdaya. Di satu sisi menyikapi era industry 4.0 dan sumberdaya yang memadai di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, maka penyelenggaraan pelatihan dengan metode e-learning adalah sangat tepat (BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, 2018). Penempatan jadual di akhir tahun juga tepat karena Latsar sudah banyak berkurang.

Pendapat peserta terkait kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta pelatihan sebagaimana pada Grafik 4, sebagian besar (69 peserta atau 63%) menyatakan sesuai, bahkan ada yang menyatakan sangat sesuai (29 peserta atau 26%). Tetapi ada yang menyatakan kurang sesuai sebanyak 11 peserta (10%) dan tidak sesuai hanya 1 peserta. Rerata 3,15.

0% 20% 40% 60% 80% 100% I II III IV V 12 11 17 12 13 12 11 4 11 7 Perempuan Laki-laki

(6)

238

Grafik 2. Pendapat Peserta Tentang Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Peserta Pelatihan.

Maka dapat disimpulkan bahwa Pelatihan Admindas secara konteks sudah tepat.

Evaluasi Inputs

BPSDMD Provinsi Jawa Tengah telah memenuhi tiga faktor utama dalam penerapan

e-learning yakni: Infrastruktur, infostruktur dan suprastruktur. Infrastruktur teknologi informasi di

BPSDMD Provinsi Jawa Tengah (tabel 1.1). Hardware meliputi fasilitas laboratorium komputer, wifi di beberapa titik wilayah kampus, asrama, perpustakaan, secretariat, dan di titik lainnya. Wifi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran dengan jaringan fiber optik untuk kestabilan jaringan internet dan intranet.

Tabel 2. Data Laboratorium di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah

No Jenis Laboratorum Jumlah PC LAN Internet Keterangan

1. Laboratorium

Komputer 40 V V LCD Projector, sound system, screen

2. Laboratorium Bahasa 30 V V LCD Projector, sound

system, screen

Hardware tersebut semua dalam kondisi layak untuk mendukung kelancaran pelatihan dengan

metode e-learning.

Infostruktur yang termasuk dalam software metode pelatihan e-learning di BPSMD juga cukup

lengkap dimana telah tersedia kurang lebih 22 aplikasi sebagai tools dalam menunjang pembelajaran maupun menunjang kegiatan perkantoran. (BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Terkait kesiapan software yang digali dari pendapat responden yaitu berbagai hal mengenai fasilitas akademis yang disajikan dalam LMS. Terdapat 5 (Lima) pertanyaan, antara lain materi, modul, video/ PPT, penugasan/ kuis dan evaluasi pre-post test.

Grafik 3. Prosentase Pendapat Peserta tentang Ketersediaan Fasilitas Akademis Pelatihan

Admindas 2019. 1; 1% 11; 10% 69; 63% 29; 26% 1.0 2.0 3.0 4.0 1 1 1 5 4 6 13 5 59 61 63 66 69 35 35 31 20 26 0 10 20 30 40 50 60 70 80

13. Ketersediaan dan kualitas konten/ isi materi 14. Ketersediaan dan kualitas modul 15. Ketersediaan dan kualitas media PPT/ video

16. Ketersediaan dan kualitas penugasan/ kuis latihan

17. Ketersediaan dan kualitas evaluasi berupa pre-post test

Prosentase

(7)

239 Adapun untuk kualitas software (fasilitas akademis), pada grafik 4. prosentase terbesar adalah 76 peserta (69%) yaitu ketersediaan dan kualitas evaluasi berupa pre-post test dan ujian menyatakan baik (skor 3). Sedangkan prosentase terendah (0 untuk skor 1) juga pada bagian ini dan ketersediaan dan kualitas media PPT/ video. Perhitungan SPSS sebagai berikut.

Tabel 3. Perhitungan SPSS Kesiapan Software Pelatihan

Pada 5 (lima) item ketersediaan dan kualitas fasilitas akademis, peserta paling sering memberikan skor 3, dengan rerata keseluruhan skor fasilitas adalah 3,22 yang berarti di atas baik

atau memuaskan.

Grafik 4. Prosentase Pendapat Peserta Tentang Kualitas Software/ Program Pelatihan,

Pelatihan Admindas 2019

Prosentasi terbesar hasil survey kualitas program adalah 77 peserta (70%) menyatakan sangat

mudah (skor 4) untuk mendaftar sebagai peserta (syarat administrasi). Kemudian pada pertanyaan

yang sama dan penampilan menu program e-learning tidak ada yang memberikan skor 1. Artinya

4 5 1 1 5 6 35 10 29 55 48 49 67 70 36 45 11 22 0 10 20 30 40 50 60 70 80

5. Kemudahan pendaftaran peserta (syarat administrasi)

6. Informasi tentang penyelenggaraan program pelatihan (Latar Belakang, tujuan, panitia, pengampu, akses, jadwal dan evaluasi pembelajaran)

7. Penampilan Menu Program E-Learning 10. Kecukupan waktu dengan materi (waktu terlalu

singkat, sedangkan materi banyak) 11. Penyelesaian keluhan peserta

Prosentase 4.0 3.0 2.0 1.0 @13Ketersedi aandankualita skontenisimat eri @14Keterse diaandanku alitasmodul @15Ketersed iaandankualit asmediaPPTv ideo @16Ketersedi aandankualita spenugasanku islatihan @17Keterse diaandanku alitasevalua siberupapre posttestdan N Valid 110 110 110 110 110 Missing 0 0 0 0 0 Mean 3.291 3.291 3.245 3.055 3.218 Std. Error of Mean .0568 .0553 .0535 .0575 .0490 Median 3.317a 3.314a 3.262a 3.074a 3.229a Mode 3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 Std. Deviation .5958 .5802 .5616 .6033 .5137 Minimum 1.0 1.0 2.0 1.0 2.0 Maximum 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 Sum 362.0 362.0 357.0 336.0 354.0

(8)

240 peserta tidak ada yang kesulitan memenuhi syarat administrasi maupun memahami penampilan menu program e-learning. Berikut tabel SPSS kualitas program.

Tabel 4. Perhitungan SPSS Pendapat Peserta tentang Kualitas Program

Statistics @5Kemudaha npendaftaranpe sertasyaratadm inistrasi @6Informasite ntangpenyeleng garaanprogram pelatihanLatar Be @7Penampil anMenuProg ramELearnin g @10Kecukupa nwaktudengan materiwaktuter lalusingkatseda ng @11Penyele saiankeluha npeserta N Valid 110 110 110 110 110 Missing 0 0 0 0 0 Mean 3.691 3.245 3.391 2.664 3.100 Std. Error of Mean .0461 .0673 .0579 .0699 .0562 Median 3.697a 3.307a 3.417a 2.656a 3.122a Mode 4.0 3.0 3.0 3.0 3.0 Std. Deviation .4836 .7063 .6072 .7329 .5897 Minimum 2.0 1.0 2.0 1.0 1.0 Maximum 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 Sum 406.0 357.0 373.0 293.0 341.0

a. Calculated from grouped data.

Dari 5 (lima) item pertanyaan, rerata paling tinggi juga kemudahan pendaftaran peserta (3,691), sedangkan yang terendah terkait kecukupan waktu dengan materi yang terlalu banyak (2,664). Adapun rerata 3,218. Maka dapat disimpulkan bahwa kualitas program pelatihan termasuk katagori diatas baik/ memuaskan.

Secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa inputs yang terdiri dari hardware dan software pelatihan Admindas metode e-learning memenuhi kriteria baik.

Evaluasi Proses

Pada evaluasi proses, dapat diketahui dari sisi brainware. Brainware yang dikaji pada Pelatihan Admindas dengan metode E-learning adalah administrator, course creator, teacher (widyaiswara) dan student (peserta). Untuk administrator dan course creator, adalah pengelola yang berasal Sekretariat (beserta PPID – Pejabat Pengelola Informasi dan Data), Bidang Sertifikasi dan Penjaminan Mutu, dan Bidang Peningkatan Kompetensi Teknis. Secara utuh termasuk dalam unsur Suprastruktur BPSDMD Provisi Jawa Tengah adalah komitmen yang tinggi dari unsur pimpinan sampai dengan tingkat pelaksana dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi. (BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, 2018). Maka dapat disimpulkan bahwa pengelola telah melaksanakan tugasnya dan fungsinya dengan baik.

Proses pelatihan telah dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh Panitia Penyelenggara. Berdasar pendapat peserta diperoleh hasil kualitas pembelajaran online yang diampu oleh para widyaiswara. Berikut Grafiknya.

(9)

241

Grafik 5. Pendapat Peserta tentang Kualitas Widyaiswara Pelatihan Admindas 2019

Terdapat 2 (dua) item dengan prosentase terbesar terkait kualitas widyaiswara yatu 76 peserta (69%) menyatakan widyaiswara mampu (skor 3) menguasai materi dan berkomunikasi (cara menjawab pertanyaan dan penguasaan Bahasa sehingga mudah dipahami pada saat merespon diskusi kelas online). Sedangkan prosentase terkecil 0 (0%) adalah tidak ada masalah (skor 1) dalam kemampuan keteladanan pada saat merespon diskus online, berkomunikasi, penguasaan materi, dan membuka serta menutup kelas online. Sedangkan yang berpendapat masih tidak baik hanya 2 peserta (2%) dalam hal kemampuan memotivasi dan mengelola waktu (ketuntasan merespon pada saat diskusi kelas online).

Maka ini menjadi perhatian para widyaiswara, mengingat pembelajaran tatap muka di kelas berbeda dengan pembelajaran secara online. Keaktifan, kecepatan, dan ketepatan dalam menjawab pertanyaan adalah menjadi perhatian utama dalam pembelajaran online. Inilah kewajiban utama widyaiswara (BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, 2018). Perhitungan statistik berikut ini.

Tabel 5. Perhitungan SPSS Pendapat Peserta tentang Kualitas Widyaiswara

Statistics @18Kemam puanmembu kadanmenut updiskusikel asonline @19Kemamp uanpenguasaa nmaterisaatm erespondiskus ikelasonli @20Kema mpuanmen gelolawaktu ketuntasan meresponpa dasaatdis @21Kemamp uanberkomun ikasicaramenj awabpertanya andanpenggu @22Kema mpuanmem otivasipada saatmeresp ondiskusion line @23Kemam puanketelad ananpadasaa tmerespondi skusikelason lin N Valid 110 110 110 110 110 110 Missing 0 0 0 0 0 0 Mean 2.855 3.036 2.691 3.164 2.891 3.000 Std. Error of Mean .0590 .0531 .0655 .0509 .0675 .0548 Median 2.833a 3.042a 2.667a 3.176a 2.886a 3.000a Mode 3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 Std. Deviation .6183 .5573 .6873 .5338 .7083 .5747 Minimum 2.0 2.0 1.0 2.0 1.0 2.0 Maximum 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 Sum 314.0 334.0 296.0 348.0 318.0 330.0

a. Calculated from grouped data.

Dari 6 (enam) item kualitas widyaiswara, peserta paling sering memberikan skor 3. Namun rerata adalah 2,939. Artinya sangat mendekati baik/ memuaskan.

2 2 27 14 38 7 25 16 60 69 49 69 55 67 13 17 11 24 18 16 0 20 40 60 80 100 120

18. Kemampuan membuka dan menutup diskusi kelas online

19. Kemampuan penguasaan materi saat merespon diskusi kelas online

20. Kemampuan mengelola waktu (ketuntasan merespon pada saat diskusi kelas online)

21. Kemampuan berkomunikasi (cara menjawab pertanyaan dan penggunaan bahasa sehingga mudah… 22. Kemampuan memotivasi pada saat merespon diskusi

online

23. Kemampuan keteladanan pada saat merespon diskusi kelas online

Prosentase

(10)

242

Evaluasi Produk

Evaluasi peserta diperoleh dari skor pre dan post test dengan hasil sebagaimana Grafik 6.

Grafik 6. Grafik Pre dan Post Test

Pada Grafik 6. Semua angkatan menunjukkan peningkatan dari pre ke post test rerata 26% (14 angka). Paling rendah peningkatannya adalah pada Angkatan IV sebesar 13% (6 angka), paling tinggi adalah angkatan II sebesar 38% (24 angka). Peserta juga sudah memenuhi kewajibannya menyelesaikan seminar makalah dengan baik. Semua peserta telah memenuhi kewajibannya dan dinyatakan lulus. Berarti mereka telah memenuhi kompetensi teknis administrasi dasar (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2016b). Maka, produk dari pelatihan Admindas telah didapatkan yaitu 40 peserta lulus dan diharapkan dapat mengimplementasikan hasil pelatihannya (Suprapti, 2016).

SIMPULAN

Pelatihan Admindas dengan metode blended learning 2019 telah terlaksana dan memenuhi

context yaitu kesesuaian dengan peraturan perundangan, tepat waktu, dan sesuai dengan kebutuhan

peserta. Sedangkan hasil analisis input dan process termasuk katagori baik. Maka, sudah semestinya didapat output yang baik, berupa 40 peserta dinyatakan lulus.

Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan program pelatihan dengan metode blended learning. Hal ini memungkinkan karena pelatihan metode ini baru pertama kali diselenggarakan di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah. Demikian juga bisa dilakukan treasure study bagi alumni untuk mendapatkan informasi tentang manfaat pascapelatihan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Tengah. (2020). Buku Saku Kepegawaian. Semarang. BPSDMD Provinsi Jawa Tengah. (2018). PEDOMAN PENYELENGGARAAN (NASKAH

KERANGKA AKADEMIK) PELATIHAN JALUR E-LEARNING. Semarang.

Ciptananta, S. D., Fathoni, A., & Budi, L. (2018). CIPP EVALUATION MODEL DALAM

ANALISA EVALUASI PELAKSANAAN ON JOB TRAINING BAGI KARYAWAN DI PT. GRAMEDIA ASRI MEDIA PANDANARAN SEMARANG. (Studi Kasus Pada Karyawan PT. Gramedia Asri Media Pandanaran Semarang). 1–8.

Indrawan, R., & Yaniawati, P. (2014). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Campuran

untuk Manajemen, Pembangunan, dan Pendidikan. Bandung: PT. Refika Aditama.

Istiyani, N. M. (2019). Evaluasi Program Model CIPP Pada Pelatihan Menjahit Di LKP Kartika Bawen

Evaluation of the CIPP Model Program in Tailoring Training At LKP Kartika Bawen. 3(2), 6–13.

Kaswan. (2013). Pelatihan dan Pengembangan untuk Meningkatkan Kinerja SDM. Retrieved from www.cvalfabeta.com

Lembaga Administrasi Negara RI. Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil

Negara. , (2014). Angkatan I; 38 Angkatan I; 46 Angkatan II; 39 Angkatan II; 63 Angkatan II; 41 Angkatan II; 65 Angkatan IV; 40 Angkatan IV; 46 Angkatan V; 41 Angkatan V; 48 0 50 100 150 200 250 300 P R E - P O S T P O S T - T E S T

(11)

243 Lembaga Administrasi Negara RI. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 12 Tahun

2018 Tentang Pelatihan Dasar Pegawai Negeri Sipil. , (2018).

Lembaga Administrasi Negara RI. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara nomor 8 Tahun

2018 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi Pegawai Negari Sipil melalui E-Learning. , (2018).

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 16 ahun 2016 tentang

Diklat Administrasi Dasar. , (2016).

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 16 tahun 2016 tentang

Pendidikan dan Pelatihan Administrasi Dasar. , (2016).

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 84 Tahun 2016 tentang

Organisasi dan Tata Kerja BPSDMD Provinsi Jawa Tengah. , (2016).

Ratna, S. (2016). Modul: Evaluasi Pasca Diklat. LAN RI.

Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen Pegawai Negeri

Sipil. , (2017).

Saputra, H. (2019). Evaluasi Program Pelatihan Desain Pembelajaran Bagi Dosen Universitas Terbuka. JURNAL SeMaRaK, 2(2). https://doi.org/10.32493/smk.v2i2.2933

Suprapti, W. (2016). Modul Pelatihan Penjenjangan Kewidyaiswaraan Tingkat Menengah, Ragam

Strategi Diklat. Jakarta: LAN RI.

Wibowo. (2011). Manajeman Kinerja (Ketiga). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Wiyoso, B. (2016). Modul Teknologi Informasi dalam Pelatihan. Jakarta.

BIODATA PENULIS

Harini Setijowati, lahir di Kota Magelang, 9 November 1968. Lulus Sarjana Kesehatan

Masyarakat (SKM) pada tahun 1992, dari Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Pada tahun 2000, menyelesaikan pendidikan S2 di Queensland University of Technology (QUT) Brisbane, Australia, dan memperoleh gelar Master of

Health Science (MHSc.). Saat ini, aktif sebagai pejabat fungsional Widyaiswara Ahli Madya di

Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah. Dapat dihubungi melalui [email protected].

Gambar

Gambar 1. Kerangka Konsep Evaluasi CIPP pada Pelatihan Admindas Metode E-Learning.
Grafik 1. Proporsi Sampel Jenis kelamin Peserta pada Tiap Angkatan Pelatihan Admindas 2019
Tabel 2. Data Laboratorium di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah  No  Jenis Laboratorum  Jumlah PC  LAN  Internet  Keterangan  1
Grafik 4. Prosentase Pendapat Peserta Tentang Kualitas Software/ Program Pelatihan,  Pelatihan Admindas 2019
+4

Referensi

Dokumen terkait

1) Mudah dibawa kemana-mana: yakni dengan ukuran yang kecil kartu pintar dapat disimpan di tas bahkan di saku, sehingga tidak membutuhkan ruang yang luas, dapat digunakan di mana

Culture shock atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan gegar budaya adalah istilah psikologis yang menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang dalam menghadapi kondisi

Pengakuan personal yang dimaksudkan disini adalah pengakuan terhadap ciri personal yang harus dimiliki oleh guru pembimbing diantaranya adalah : Berwawasan luas,

Penyebab munculnya tindak kekerasan guru terhadap siswa menurut survey diantaranya adalah karena kesalahan yang dilakukan siswa, temperamen guru, dan berbagai alasan lain

Analisis inferesial yang digunakan untuk menguji kepentingan pengaruh kompetensi pedagogi guru terhadp motivasi belajar Siswa, adalah analisis regresi dengan persamaan: Y = 

Pada dasarnya hakikat widyaiswara terkait tugas dan tanggungjawab, serta hak dan kewenangan untuk melakukan Dikjartih, serta evaluasi pengembangan kediklatan di

Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa pemahaman nasionalisme nilai tertinggi 67.24 % (paham, aktualisasi adalah 67.67 % (dapat mengaktualisasi), dampak baik

Penanaman mengenai nilai-nilai budaya pada anak Bugis Makassar merupakan hal yang penting agar mereka dapat selalu mengingat pappasang turiolo atau dalam artian