• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

110

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Subjek Penelitian

Subyek yang diteliti oleh penulis berjumlah 3 (tiga) siswa yaitu MD, FL dan BS. Ketiga siswa ini mempunyai nilai rata-rata cukup baik. Ketiga siswa tersebut tergolong dari keluarga berkeadaan ekonomi menengah ke bawah. Ketiga siswa ini mempunyai masalah sering membolos. Gejala yang timbul dari ketiga siswa ini adalah tidak bisa menolak ajakan teman. Hal inilah yang menjadikan layanan konseling kelompok behavioral sangat dibutuhkan

B. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian adalah pelaksanaan konseling kelompok diadakan 26 September-3 Oktober 2011. Konseling kelompok dilaksanakan dalam waktu 90 menit setiap kali pertemuan. Adapun uraian kegiatan konseling kelompok sebagai berikut ini :

Pertemuan I : 26 September 2011

Konselor bertindak sebagai pemimpin kelompok, membuka pertemuan dengan doa dan memperkenalkan diri. Pemimpin kelompok mempersilahkan para konseli memperkenalkan diri, untuk mempererat dan membuat suasana menjadi akrab. Pemimpin kelompok menjelaskan pengertian, tujuan, asas-asas dalam konseling kelompok, dan manfaat dari

(2)

111 kegiatan konseling kelompok, serta menyakinkan kelompok untuk tidak merasa ragu dalam mengungkapkan masalahnya. Konselor juga memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada semua peserta akan kerahasiaan dari masalah-masalah yang akan diungkapkan nantinya. Pemimpin mengajak kelompok untuk bernyanyi. Kegiatan menyanyi ini bertujuan agar terjadi hubungan yang hangat dan lebih akrab di dalam kelompok. Pemimpin kelompk mengadakan kontrak waktu dengan anggota kelompok. Diperoleh kesepakatan dengan anggota kelompok bahwa konseling kelompok ini dilakukan selama 6 sesi, dengan durasi waktu 90 menit per sesinya. Setelah itu kegiatan diakhiri dan bersepakat untuk sesi kedua.

Pertemuan II : 27 September 2011

Pada sesi kedua ini, dilakukan identifikasi masalah. Anggota kelompok diminta untuk mengungkapka masalahnya satu persatu. Kemudian bersama-sama menentukan atau memilih salah satu permasalahan anggota kelompok untuk dibahas. Pada saat ini disepakati akan membahas permasalahan BS. BS memiliki masalah tentang BS tidak bisa menolak ajakan teman untuk merokok. Kemudian melalui konseling kelompok ini BS mengambil keputusan akan menolak ajakan teman untuk merokok dan mampu mengatakan “tidak” apabila diajak teman-temannya untuk merokok lagi. Untuk melatih sikap tegas, konselor mengajak BS untuk bermain peran bersama 2 (dua) temannya dalam 1 (satu) kelompok. BS berperan sebagai siswa yang diajak membolos sedangkan FL dan MD

(3)

112 sebagai siswa yang mengajak membolos. Konseling kelompok diakhiri dengan menentukan kegiatan kelompok sesi berikutnya.

Pertemuan III: 28 September 2011

Pada sesi ketiga ini, disepakati akan membantu menyelesaikan masalah MD. MD memiliki masalah tentang tidak dapat menolak ajakan teman untuk membolos untuk minum-minuman keras. MD sudah tahu kalau minum-minuman keras itu tidak baik untuk kesehatan. MD dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba minum-minuman keras. Masalah MD ini disebabkan karena MD “tidak” bisa menolak ajakan teman untuk minum-minuman keras. Padahal sebelum ikut teman-teman untuk minum-minumn keras MD tahu bahwa minum-minuman keras itu berbahaya untuk diri. Setelah melakukan konseling kelompok ini MD mengambil keputusan untuk mampu menolak ajakan teman-temannya untuk tidak minum-minuman keras lagi. Untuk melatih sikap tegas, konselor mengajak MD untuk bermain peran bersama 2 (dua) temannya dalam 1 (satu) kelompok. MD berperan sebagai siswa yang diajak membolos sedangkan BS dan FL sebagai siswa yang mengajak membolos. Konseling kelompok diakhiri dengan menentukan kegiatan kelompok sesi berikutnya. Konseling kelompok ini diakhiri dengan menentukan kegiata kelompok pada sesi berikutnya.

Pertemuan IV : 29 September 2011

Pada sesi keempat ini, sebelum membantu menyelesaikan masalah FL. Namun sebelumnya konselor mencoba untuk mengecek anggota kelompok

(4)

113 yang sesi sebelumnya sudah menemukan solusi. Dimulai dari BS, BS sudah ada perubahan, BS sudah mampu mengungkapkan ketegasannya dengan teman yang mengajak BS untuk membolos. Selanjutnya, sesuai kesepakatan yang telah dibuat pada sesi keempat ini, akan membantu menyelesaikan masalah FL. FL mengalami masalah tentang tidak dapat menolak ajakan teman untuk bermain playstation (PS). FL sebenarnya tidak suka bermain playstation. Setelah melakukan konseling kelompok ini, FL mengambil keputusan untuk mampu menolak ajakan temannya untuk tidak bermain playstation saat sekolah. Untuk melatih sikap tegas, konselor mengajak FL untuk bermain peran bersama 2 (dua) temannya dalam 1 (satu) kelompok. FL berperan sebagai siswa yang diajak membolos sedangkan BS dan MD sebagai siswa yang mengajak membolos. Konseling kelompok ini diakhiri dengan menentukan kegiata kelompok pada sesi berikutnya.

Pertemuan V : 1 Oktober 2011

Pada sesi kelima ini, pemimpin kelompok mencoba untuk mengecek anggota kelompok yag sesi sebelumnya sudah menemukan solusinya. Pada sesi ini dimulai dari MD. MD sudah ada perubahan dan MD sudah bisa menolak ajakan temannya untuk membolos walaupun awal-awal MD menolak banyak teman-temannya menjauhinya tetapi kelama-lamaan teman-teman MD mampu menerimanya. MD merasa senang mampu menolak dengan tegas ajakan teman-temannya untuk membolos. Selain MD, pada sesi ini, konselor juga akan menyanyakan tindakan yang sudah

(5)

114 dilakukan oleh FL. FL sudah ada perubahan dan FL sudah bisa menolak ajakan temannya untuk membolos walaupun awal-awal FL menolak banyak teman-temannya menjauhinya tetapi kelama-lamaan teman-teman FL mampu menerimanya. FL merasa senang mampu menolak dengan tegas ajakan teman-temannya

Pertemuan VI : 3 Oktober 2011

Pada sesi keenam ini, evaluasi terhadap semua anggota kelompok dari pembahasan sesi pertama sampai sesi keenam. Di sini setiap anggota kelompok akan diminta untuk mengutarakan setiap perubahan yang dialami selama proses konseling kelompok. Dimulai dari BS, secara keseluruhan BS sudah membaik. Dilanjutkan dengan MD, secara keseluruhan MD sudah mampu menolak ajakan temannya untuk membolos. Sedangkan FL, sudah mampu bersikap tegas kepada teman-temannya untuk tidak membolos lagi. Pada sesi keenam ini konselor mengumumkan bahwa konseling akan segera berakhir, selanjutnya anggota kelompok dan masing-masing anggota menyebutkan kesan-kesan dan hasil-hasil setelah mengikuti kegiatan konseling kelompok. Kemudian pemimpin kelompok mengucapkan terima kasih atas partisipasi anggota dalam kegiatan ini dan ditutup dengan doa.

Pelaksanaan konseling kelompok siklus II dilaksanakan tanggal 7 November 2011. Konseling kelompok dilaksanakan dalam waktu 90 menit setiap kali pertemuan. Adapun uraian kegiatan konseling kelompok siklus II sebagai berikut ini :

(6)

115 Pertemuan I : 7 November 2011

Pada pertemuan ini, konselor membuka pertemuan dengan berdoa. Pada kesempatan ini. Pada kesempatan ini, konselor ingin mengetahui perkembangan siswa kalau siswa sidah tidak membolos lagi. Dan siswa sudah mampu bersikap tegas dan mampu menolak apabila ada teman yang mengajak untuk membolos.

C. Analisis Data

Tabel 4.1 :Temuan Konseling Kelompok Siklus I

Sesi Tujuan Indikator Kegiatan Temuan

I

Mampu

berkomunikasi secara terbuka, jujur, tegas, terus terang dan apa adanya

Siswa mampu berkomunikasi secara terbuka, jujur, tegas, terus terang dan apa adanya Pembentukan - Konseli antusias dan semangat mengikuti konseling kelompok - Konseli mau bertanya tentang proses konseling kelompok apabila ada hal-hal yang kurang jelas II Mampu mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya dengan jujur, terbuka, apa adanya dan terus terang Siswa mampu mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya dengan jujur, terbuka, apa adanya dan terus terang Konseling (Membahas masalah BS) - Konseli mengungkap kan permasalaha n secara jujur, tegas, terbuka dan apa adanya

(7)

116

Tabel 4.1 :Temuan Konseling Kelompok Siklus I (Lanjutan 1)

III Mampu mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya dengan jujur, terbuka, apa adanya dan terus terang Siswa mampu mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya dengan jujur, terbuka, apa adanya dan terus terang Konseling (membahas masalah MD) - Konseli mengungkap kan permasalaha n secara jujur, tegas, terbuka dan apa adanya IV - Mampu mengatakan “tidak” apabila ada teman yang mengajak membolos - Mampu mengungkapk an permasalahan yang dihadapinya dengan jujur, terbuka, apa adanya dan terus terang - Siswa mampu mengatakan “tidak” apabila ada teman yang mengajak membolos - Siswa mampu mengungkapk an permasalahan yang dihadapinya dengan jujur, terbuka, apa adanya dan terus terang Konseling (membahas masalah FD) - Konseli mengungkap kan permasalaha n secara jujur, tegas, terbuka dan apa adanya

(8)

117

Tabel 4.1 :Temuan Konseling Kelompok Siklus I (Lanjutan 2)

V - Mampu mengatakan “tidak” apabila ada teman yang mengajak membolos - Siswa mampu mengatakan “tidak” apabila ada teman yang mengajak membolos Konseling (Membahas konseli yang sesi sebelumnya sudah mendapatkan solusi permasalahan nya) - Dari pengakuan konseli, bahwa konseli sudah mampu bersikap tegas dan mampu menolak ajakan teman untuk membolos - Dari pengakuan konseli, bahwa konseli sudah mampu bersikap tegas dan mampu menolak ajakan teman untuk membolos VI Komunikasi secara terbuka, jujur, tegas, terus terang dan apa adanya

Siswa mampu berkomunikasi secara terbuka, jujur, tegas, terus terang dan apa adanya Pengakhiran - Konseli mengungka pkan kesan-kesan selama mengikuti konseling kelompok

(9)

118 Pada pertemuan pertama, dapat diketahui bahwa konseli sangat antusias dalam mengikuti konseling kelompok. Konseli dengan sungguh-sungguh mengikuti proses dan jalannya konseling kelompok. Konseli juga senang dapat mengikuti konseling kelompok. Saat konselor menjelaskan tentang konseling kelompok, konseli mau bertanya tentang jalannya konseling kelompok apabila ada hal-hal yang kurang jelas.

Pada pertemuan kedua, ditemukan bahwa konseli dapat mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapinya dengan jujur, apa adanya, terbuka, dan terus terang. Saat konseling kelompok diketahui bahwa konseli tidak mampu menolak ajakan teman untuk membolos.

Pada pertemuan ketiga, ditemukan bahwa konseli dapat mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapinya dengan jujur, apa adanya, terbuka, dan terus terang. Saat konseling kelompok diketahui bahwa konseli tidak mampu menolak ajakan teman untuk membolos.

Pada pertemuan keempat, sebelum membantu menyelesaikan permasalahan konseli yang lain, konselor menanyakan perkembangan konseli yang pada sesi sebelumnya sudah menemukan jalan keluarnya. Dari pengakuan konseli bahwa konseli sudah dapat bersikap tegas dan menolak ajakan teman untuk membolos. Pada kesempatan berikutnya, konselor membantu konseli yang lainnya dan ditemukan bahwa konseli dapat mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapinya dengan jujur, apa adanya, terbuka, dan terus terang. Saat konseling kelompok diketahui bahwa konseli tidak mampu menolak ajakan teman untuk membolos.

(10)

119 Berdasarkan wawancara dengan siswa bahwa alasan siswa membolos adalah siswa tidak dapat mengatakan kata “tidak” karena siswa takut dikatakan tidak “gaul” oleh teman-temannya. Perubahan yang dialami siswa akibat dari membolos adalah nilai pelajaran siswa akan jelek, tidak naik kelas, ketinggalan pelajaran dan akan dimarahi oleh guru dan orang tua.

Pada pertemuan lima, sebelum membantu menyelesaikan permasalahan konseli yang lain, konselor menanyakan perkembangan konseli yang pada sesi sebelumnya sudah menemukan jalan keluarnya. Dari pengakuan konseli bahwa konseli sudah dapat bersikap tegas dan menolak ajakan teman untuk membolos.

Upaya yang dilakukan siswa untuk tidak membolos lagi adalah mampu menolak ajakan teman untuk membolos dengan tegas, mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif seperti ikut kelompok olahraga, mengikuti organisasi seperti OSIS, remaja masjid (remas).

Pada pertemuan keenam, konseli mengungkapkan kesan-kesan saat mengikuti kegiatan konseling kelompok. Kesan-kesan yang disampaikan oleh konseli sangat bagus. Konselor juga berterima kasih kepada konseli atas kesediaannya untuk mengikuti konseling kelompok dari awal hingga akhir pertemuan. Sebelum konseling kelompok diakhiri, konselor dan konseli berdoa bersama-sama.

Setelah mengikuti konseling kelompok, konseli mengungkapkan bahwa konseli sudah tidak takut dikatakan tidak “gaul”, tidak setia kawan dan “kuper”

(11)

120 (kurang pergaulan) oleh teman-temannya apabila ada temannya yang mengajak untuk membolos.

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis dari tanggal 10 Oktober 2011 sampai dengan 5 November 2011 diketahui konseli bahwa sudah tidak membolos lagi. Selain dari observasi, penulis juga melakukan studi dokumentasi melalui buku absensi siswa yang dilakukan dari bulan Oktober 2011 sampai bulan November 2011 diketahui kalau ketiga siswa sudah tidak membolos lagi.

Pada siklus I dilaksanakan konseling kelompok sudah berhasil, maka dari itu penulis melanjutkan ke siklus II untuk pemantapan dikarenakan pada siklus I sudah terentasnya masalah kalau siswa tidak membolos lagi. Dalam temuan penelitian terungkap bahwa setelah melakukan konseling kelompok ketiga siswa sudah mampu mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya dan mampu menyatakan “tidak” dengan tegas apabila ada teman yang mengajak siswa tersebut membolos serta mengungkapkan permasalahan dengan jujur, apa adanya dan terbuka.

Dari sebelum diadakannya konseling kelompok, ketiga siswa sering membolos. Dan setelah diadakan konseling kelompok, ketiga siswa sudah tidak membolos lagi. Dalam diri ketiga siswa tersebut sudah ada perubahan sikap untuk tidak membolos lagi.

(12)

121

Tabel 4.2 : Temuan Konseling Kelompok Siklus II

Tujuan Indikator Kegiatan Temuan

1

Mampu mengatakan “tidak” apabila ada teman yang mengajak membolos Siswa mampu mengatakan “tidak” apabila ada teman yang mengajak membolos Konseling Konseli sudah mampu mengatakan “tidak” dan mampu bersikap tegas apabila ada teman yang mengajak membolos. Pertemuan pertama siklus ke II dilaksanakan pada 7 November 2011. Dari hasil observasi ditemukan bahwa ketiga konseli sudah mampu dengan tegas menolak ajakan teman untuk membolos. Konseli juga tidak takut dikatakan tidak gaul dan kuper oleh teman-temannya. Setelah tidak membolos lagi, ketiga konseli mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif seperti mengikuti ekstrakurikuler yang diadakan di sekolah seperti olahraga dan seni musik. Dengan menggunakan latihan asertif siswa mampu bersikap tegas untuk menolak apabila ada temannya yang mengajak membolos.

D. Pembahasan

Membolos adalah suatu bentuk perbuatan melalaikan kewajiban belajar di sekolah. Perilaku tersebut tergolong perilaku yang tidak adaptif sehingga harus ditangani secara serius. Membolos termasuk dalam kenakalan remaja, di mana dapat diartikan perbuatan melanggar aturan, perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial. Membolos merupakan suatu bentuk perbuatan untuk melalaikan kewajiban belajar di sekolah. Perilaku membolos sebenarnya bukan merupakan hal yang baru lagi bagi pelajar, setidaknya bagi siswa yang pernah mengenyam pendidikan. Membolos merupakan tingkah

(13)

122 laku pergi meninggalkan sekolah tanpa alasan yang tepat pada jam pelajaran dan tanpa izin terlebih dahulu pada pihak sekolah yang dilakukan secara berulang-ulang. Tingkah laku membolos yang dilakukan para siswa di sekolah dapat dipahami sebagai tingkah laku penghindaran, dimana siswa menyelesaikan masalahnya melalui jalan pintas yang menurut siswa sebagai solusi terbaik atas masalah yang konseli alami.

Subjek membolos disebabkan karena ajakan teman. Hubungan dengan teman-teman sebaya lebih berpengaruh terhadap perilaku membolos dibandingkan keberadaan guru, orang tua. Apabila siswa tersebut menolak ajakan teman, maka siswa tersebut takut dibilang tidak gaul oleh teman-temannya. Hal senada dengan pendapat Ferry Hendra Prajaka (2009) bahwa teman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku sosial. Teman memainkan peran dalam berinteraksi dan beraktivitas. Teman menjadi perantara awal bagi anak untuk bersosialisasi secara aktif. Teman menjadi tempat pembelajaran nilai-nilai dan peraturan social yang bersifat informal yang tidak siswa dapatkan dari keluarga maupun sekolah. Teman yang baik tingkah lakunya akan memberikan dampak yang positif bagi seseorang. Sebaliknya jika bergaul dengan teman yang tingkah lakunya buruk bahkan menyimpang dapat juga memberikan pengaruh negatif bagi seseorang.

Hal senada juga yang disampaikan di Yuli Setyowati (2004) bahwa alasan siswa membolos salah satunya adalah karena ajakan teman. Siswa yang ikut-ikutan membolos karena tidak mau dikatakan tidak “gaul”, siswa tersebut tidak mau dikatakan penakut dan takut ditinggalkan oleh gengnya. Oleh karena

(14)

123 itu, siswa tersebut lebih memilih sebagai “anggota geng” dengan ikut-ikutan membolos. Siswa memilih membolos daripada mengikuti pelajaran di sekolah dikarenakan siswa tidak mempunyai teman, sering ditinggalkan atau tidak diikutsertakan oleh teman-teman di dalam suatu kegiatan. Reaksi ini seringkali terjadi pada siswa yang oleh teman-temannya dikategorikan “kuper” (kurang pergaulan). Siswa merasa tidak dibutuhkan di dalam kegiatan tersebut, padahal siswa tersebut mampu untuk mengerjakannya. Siswa yang membolos mengikuti perilaku yang tidak baik dari temannya dikarenakan siswa tersebut takut tidak mempunyai teman, takut tidak diakui dalam kelompok dan takut dikatakan pengecut dan tidak setia kawan.

Konseling behavioral sangat membantu dalam merubah perilaku siswa yang bermasalah menjadi tingkah laku yang baru yang diinginkan oleh siswa. Selain itu, konseling behavioral mendorong konseli untuk mengemukakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh konseli.

Hal ini sesuai pendapat JT Lobby Loekmono (2003) yang mengungkapkan bahwa konseling behavioral dapat merubah perilaku yang bermasalah yang dapat digantikan dengan tingkah laku yang baru yang diinginkan konseli misalnya konseli tidak membolos lagi. Konseling behavioral dapat merubah perilaku siswa dari membolos menjadi tidak membolos lagi. Konseling behavioral mendorong klien untuk mengemukakan permasalahan yang sedang dihadapinya. Konseling behavioral dapat merubah perilaku yang tidak sesuai dapat dihapuskan dan sesudah itu konseli mampu menguasai perilaku baru yang diinginkan oleh klien.

(15)

124 Dengan siswa mempunyai sikap tegas, jujur, terbuka dan apa adanya siswa mampu menolak ajakan teman untuk membolos. Dengan latihan asertif siswa mampu mengekspresikan perasaan siswa secara terbuka dan tanpa perasaan khawatir apabila ada teman yang mengajak untuk membolos. Latihan asertif mampu meningkatka perubahan sikap sehingga konseli bisa menentukan pilihan yang sesuai dengan situasi yang diinginkannya. Latihan asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar.

Dengan demikian, sependapat dengan Sunardi (2010) bahwa melalui latihan teknik asertif, siswa mampu menyatakan diri dengan tegas, jujur, terbuka dan apa adanya. Teknik asertif dapat merubah perilaku siswa dari membolos menjadi tidak membolos, karena teknik asertif mampu merubah konseli untuk bersikap tegas menolak ajakan teman yang mengajaknya membolos. Latihan asertif mampu mengekspresikan perasaan konseli secara bebas dan tanpa perasaan takut serta khawatir. Latihan asertif, konseli mampu menyatakan “tidak” pada hal-hal yang memang dianggap tidak sesuai dengan hati nuraninya. Latihan asertif mampu meningkatka perubahan sikap sehingga konseli bisa menentukan pilihan yang sesuai dengan situasi yang diinginkannya. Latihan asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini berguna diantaranya untuk membantu orang yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung dan kesulitan menyatakan

(16)

125 “tidak”. Selain itu, latihan asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk berbuat tegas. Sebelum dilakukan konseling kelompok behavioral frekuensi membolos tergolong cukup tinggi. Setelah dilakukannya konseling kelompok behavioral, bahwa konseli sudah tidak membolos.. Penggunaan konseling kelompok behavioral sangat berpengaruh terhadap berkurangnya perilaku membolos siswa. Setelah dilaksanakan konseling kelompok dengan pendekatan behavior dengan teknik latihan asertif diharapkan konseli mampu untuk menyatakan diri dengan tegas dan terbuka. Setelah melakukan konseling kelompok behavioral ini, siswa dapat mengurangi dan menghilangkan perilaku membolos yang dilakukan oleh siswa. Setelah mengikuti konseling kelompok ini diharapkan konseli mampu menolak permintaan orang lain (teman) yang dianggap oleh konseli negatif yang dapat merugikan siswa.

Dalam temuan penelitian terungkap bahwa setelah melakukan konseling kelompok ketiga siswa sudah mampu mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya dan mampu menyatakan “tidak” dengan tegas apabila ada teman yang mengajak siswa tersebut membolos serta mengungkapkan permasalahan dengan jujur, tegas apa adanya dan terbuka.

Peningkatan kemampuan untuk menyatakan “tidak” terlihat setelah menggunakan metode latihan asertif disebabkan keunggulan metode ini adalah model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship)

(17)

126 terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. Melalui latihan asertif ini siswa dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan yang selama ini siswa pendam.

Dengan demikian penelitian ini sesuai dengan pendapat yang dipaparkan oleh Happy Lailatul Fajri (2011) yang menyatakan bahwa teknik latihan asertif dapat digunakan sebagai pengentasan pelanggaran perilaku membolos siswa. Karena dengan teknik latihan asertif ini layanan dapat dipusatkan pada siswa yang bermasalah karena perilaku membolos siswa, jadi teknik latihan asrtif dapat menghilangkan tingkah laku yang salah seperti membolos dapat diubah dengan teknik latihan asertif.

Gambar

Tabel 4.1 :Temuan Konseling Kelompok Siklus I

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini membahas mengenai bentuk – bentuk pelanggaran atas prinsip kerja sama pada serial komedi situasi The Big Bang Theory, fungsi pragmatis pelanggaran prinsip

Kondisi tersebut akan mempengaruhi suhu dan kelembapan tanah, karena populasi dan biodiversitas biota tanah sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, kondisi tanah, dan juga

c. Memenuhi persyaratan teknis minimal dan berlabel. Lahan bera atau tidak ditanami dengan tanaman yang satu familli minimal satu musim tanam. Untuk tanaman rimpang lahan yang

(2) Seksi Pemerintahan mempunyai tugas membantu camat dalam menyiapkan bahan perumusan kebijakan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan urusan Tata Pemerintahan, pembinaan

Evaluasi ketepatan pemilihan dan interaksi obat pada pasien asma perlu dilakukan mengingat obat asma teofillin merupakan obat yang memiliki indeks terapi sempit yang lebih

Proyeksi stereografis dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan geometri berupa besaran arah dan sudut dalam analisa geomoetri struktur geologi karena proyeksi

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi petunjuk dan rahmat serta Rosulullah Muhammad SAW yang senantiasa memberikan syafaat kepada umatnya

1. Bahasa adalah alat berpikir dan sarana utama seseorang untuk berkomunikasi, saling menyampaikan ide atau gagasan, menyampaikan konsep dan perasaan,.. termasuk didalamnya