A. Latar Belakang Masalah
Bahasa selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Demikian pula bahasa Jawa juga mengalami perkembangan. Dari bahasa Jawa Kuna berkembang menjadi bahasa Jawa Tengahan, dan kemudian menjadi bahasa Jawa Baru, perubahan itu dapat terjadi pada struktur, kosakata, dan juga pada maknanya, (Sumarlam, 2005: 92). Bahasa Jawa dipakai sebagai bahasa pertama atau bahasa ibu bagi sebagian besar masyarakat beretnik Jawa. Etnik pendukung bahasa Jawa adalah masyarakat yang tinggal di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur serta sebagian kecil wilayah di Jawa Barat, tepatnya di daerah Balareja, Serang, Jawa Barat. Batas paling timur penutur bahasa Jawa adalah Kabupaten Banyuwangi dan batas paling barat adalah kabupaten Tegal. Bahasa Jawa memiliki beberapa dialek, antara lain dialek Bagelen (di daerah Jawa Tengah bagian selatan), dialek Solo-Yogya, dialek Jawa Timur (Surabaya, Malang, Mojokerto, Pasuruan), dialek Osing (Banyuwangi) (Sumarsono, 2007: 22 – 23). Dialek bahasa Jawa menurut Unlenbeck (1972: 75) dibagi menjadi empat dan beberapa subdialek, yaitu dialek Surakarta, dialek Banyumasan, dialek Pesisir, dan dialek Jawa Timur. Subdialeknya meliputi, Purwokerta, Kebumen, Pemalang, Banten Utara, Tegal, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, dan Banyuwangi. Bahasa Jawa dialek Surakarta dianggap sebagai bahasa Bahasa Jawa Standar, begitu juga bahasa Jawa dialek Yogyakarta.
Bahasa Jawa yang digunakan di beberapa daerah memiliki perbedaan baik dari segi leksikal, morfologi, fonologi, maupun semantik. Adanya perbedaan-perbedaan itu dipengaruhi oleh: (1) keadaan alam mempengaruhi ruang gerak penduduk setempat, baik mempermudah maupun mengurangi penduduk berkomunikasi dengan luar, (2) adanya batas-batas politik yang menjadi jembatan terjadinya pertukaran budaya yang menjadi salah satu sarana terjadinya pertukaran budaya, (3) adanya keunggulan dan hubungan bahasa-bahasa yang terbawa ketika terjadi perpindahan penduduk, atau penyebaran atau bahasa yang bertetangga, sehingga masuklah anasir-anasir kosakata, struktur, dan cara pengucapan atau lafal (Guiraud dalam Ayatrohaedi, 1938: 6).
Secara umum, bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi manusia dalam mengungkapkan ide, gagasan, isi, pikiran, maksud, realitas, dan sebagainya (Sumarlam, 2003: 1). Begitu pula bahasa Jawa memiliki fungsi yang sama sebagai sarana komunikasi bagi masyarakat penuturnya. Di samping itu, bahasa Jawa juga mempunyai peranan sebagai (1) pengembangan sastra dan budaya Jawa, (2) aset nasional, (3) sarana komunikasi intraetnik, (4) identitas atau jati diri bagi penuturnya, (5) sebagai alat pemersatu bagi penuturnya, (6) alat dalam proses belajar mengajar di tingkat Jawa sekolah dasar di wilayah Jawa, (7) alat dalam kegiatan surat menyurat dalam keluarga, (8) bahasa pengantar dalam kegiatan seni pertunjukan tradisional (Padmaningsih, 2000: 1).
Bahasa Jawa di Ponorogo adalah bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Ponorogo untuk berkomunikasi. Walapun begitu bahasa Jawa yang digunakan di Kabupaten Ponorogo tetaplah memiliki suatu ciri-ciri berbeda
berbatasan dengan Kabupaten Madiun, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pacitan, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri.
Data 1
Kata gilir [ gilIr ] yang artinya ‘mati lampu’, mempunyai variasi dialektal
gilir [ gilIr ], giliran [giliran], dan oglangan [oglaGan].
Kata lungguh [luGgUh] yang artinya ‘duduk’ memiliki variasi dialektal
ndhorong [ nDOrOG ], ndhodhok [ nDODO? ], dan lungguh [luGgUh].
Dari data di atas dapat dilihat bagaimanakah variasi fonemis, morfemis, dan leksikal bahasa Jawa Ponorogo?. Ditemukan variasi fonemis, morfemis, dan leksikal bahasa Jawa Ponorogo yang berbeda dari data 1 di depan?
Data selanjutnya yaitu contoh leksikon khas Bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo.
Data 2
No. Gloss BJP
1 Sejengkal sakkecak [sa?k|ca?] (TP 4) 2 Senja sanggae [saGgae] (TP 3) 3 rambut ikal dhawul [DawUl] (TP 7)
Dari data di atas dapat dilihat bagaimanakah leksikon khas Bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo yang berbeda dari daerah lain.
Variasi tersebut terdapat dalam titik pengamatan disebabkan karena beberapa hal yaitu (1) letak geografis yang bersebelahan dengan desa tetangga, (2)
masuknya warga pendatang, (3) mobilitas penduduk sendiri, dan (4) status sosial yang berbeda antarpenduduk.
Sejauh pengamatan peneliti bahasa Jawa di Ponorogo, dengan kajian geografi dialek belum dilakukan secara khusus,. Adapun penelitian mengenai bahasa Jawa di wilayah Jawa Timur antara lain:
1. Studi Diakronis: Bahasa Jawa di Kabupaten Ngawi Kajian Geografi Dialek (Sri Supiyarno dan Wakit, 2001), di dalam penelitian ini berisi tentang pendeskripsian pemakaian bahasa Jawa Ngawi yang masih menyimpan unsur relik (kuna) baik dari etinom pewarisan PAN, PJM, dan BJK dan juga membahas tentang unsur relik yang muncul dalam bahasa JawaNgawi yaitu bentuk yang menunjukkan rehensi dan inovasi dari PAN, PJM dan BJK. Hasil penelitian menyebutkan bahwa secara geografis menculnya di seluruh titik pengamatan yang ada. Dari penelitian ini terdapat banyak unsur inovasinya dari unsur BJK.
2. Studi Diakronis: Bahasa Jawa di Kabupaten Madiun (Kajian Geografi
Dialek) oleh Dian Novriana Sari (2003), di dalam skripsi ini dideskripsikan
masalam etinom pewarisan bentuk relik yang terdapat dalam BJM baik dari BJK, PJM, maupun PAN, etinom pewaris bentuk relik baik berbentuk rehensi dan inovasi serta pemetaan terhadap relik yang terdapat dalam wilayah pemakaian BJM.
3. Studi Diakronis: Bahasa Jawa di Kabupaten Magetan (Kajian Geografi
Dialek) oleh Ken Purbayani Diah Palupi (2006) di dalam skripsi ini
BJM baik dari BJK, PJM, maupun PAN, etinom pewaris bentuk relik baik berbentuk rehensi dan inovasi serta pemetaan terhadap relik yang terdapat dalam wilayah pemakaian BJM.
4. Geografi Dialek Banyuwangi (Soetoko, dkk, 1981) dalam penelitian tersebut kata dijadikan bahan utama. Untuk memetakan ragam-ragam bentuk tertentu yang terlihat dalam perbedaan kosakata, perbedaan morfologis, dan perbedaan fonologis. Dalam penelitian ini juga dipetakan persebaran penggunaan kata-kata tertentu ditinjau dari segi kosakata-kata dan morfologi untuk mengetahui keragaman DB menurut lokasi wilayahnya.
5. Bahasa Jawa di Kabupaten Madiun (Kajian Geografi Dialek) oleh Wakit Abdulah (1997) hasilnya menunjukkan bahwa unsur fonologi (fonetis) bahasa Jawa Madiun bagian barat masih menunjukkan variasi yang sama dengan dialek Surakarta. Sementara daerah Madiun yang bagian timur telah Nampak adanya pengaruh dialek Jawa Timur, terutama unsur leksikal bahasa jawa Madiun. Adanya peta geografi Bahasa Jawa dialek Madiun menunjukkan bahwa Kecamatan Jiwan yang ada di sebelah barat Sungai Madiun mempunyai variasi leksikal yang berbeda dengan Bahasa Jawa Madiun yang ada di sebelah timur Sungai Madiun akibat di Kecamatan Jiwan ada komunitas bahasa Samin.
Penelitian ini pada dasarnya akan membahas hal yang sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Namun sejauh pengamatan penulis, kajian secara khusus terhadap Bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. Selain itu bahasa Jawa Ponorogo sudah dikenal baik oleh penulis karena dipakai dalam berkomunikasi sehari-hari di mana penulis
berasal dan peneliti ingin mengetahui geografi dialek bahasa daerah yang ada di Kabupaten Ponorogo dilihat dari struktur kosakata dan juga letak dialeknya karena bahasa Jawa Ponorogo mempunyai variasi dialektal yang berbeda walaupun satu kabupaten.
B. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada kajian geografi dialek yang berkaitan dengan kajian secara sinkronis terhadap BJP, terutama untuk mendeskripsikan ciri-ciri variasi dialektal dari bahasa Jawa Ponorogo secara fonemis, morfemis, leksikal, leksikon khas BJP, dan peta variasi dialektal bahasa Jawa Ponorogo.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, peneliti merumuskan masalah pokok yang akan diteliti dalam penelitian ini. Permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagamainakah variasi fonemis, morfemis, dan leksikal bahasa Jawa Ponorogo?
2. Bagaimanakah leksikon khas bahasa Jawa Ponorogo?
3. Bagaimanakah pemetaan unsur leksikal bahasa Jawa Ponorogo?
D. Tujuan Penelitian
Dalam suatu penelitian pada dasarnya memiliki suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk:
2. mendeskripsikan unsur leksikon khas bahasa Jawa Ponorogo; dan 3. mendeskripsikan pemetaan unsur leksikal bahasa Jawa Ponorogo.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat TeoretisSecara teoretis hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah teori linguistik khususnya dialektologi bahasa Jawa.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan petunjuk pagi pemakai bahasa Jawa Ponorogo untuk mengetahui adanya variasi bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo pada khususnya dan memberikan sumbangan berupa perbendaharaan bahasa nasional pada umumnya. Selain itu dapat dijadikan model acuan untuk dijadikan penelitian geografi dialek diakronis selanjutnya serta dapat dimanfaatkan oleh para guru bahasa Jawa untuk menambah wawasan dan materi pengajaran bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo.
F. Landasan Teori
Landasan teori merupakan landasan yang bersifat teoritis dan relevan dengan pokok permasalahan yang diangkat dalam penelilitian ini. Adapun landasan teori yang digunakan sebagai kerangka pikir untuk mendekati permasalahan dan bekal untuk menganalisis objek kajian.
1. Variasi Bahasa
Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk dalam suatu bahasa yang masing-masing memliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya (Poedjosoedarmo dalam Maryono, 2001: 36). Variasi bahasa dimiliki oleh semua bahasa yang dipergunakan dalam suatu masyarakat. Variasi itu ditentukan oleh profesi masing-masing kelompok penutur dalam batas-batas saling mengerti (Parera, 1991: 26). Variasi bahasa secara garis besar menjelaskan tentang adanya perbedaan bahasa antar kelompok sosial yang satu dengan kelompok sosial yang lainnya.
Menurut Poedjosoedarmo ada lima wujud variasi bahasa yaitu:
1) Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat individual, maksudnya sifat khas tuturan seseorang berbeda dengan tuturan orang lain.
2) Dialek merupakan variasi bahasa yang disebabkan adanya perbedaan daerah asal penutur dan perbedaan kelas sosial penutur. Oeh karena itu, maka dikenal adanya geografi dialek.
3) Ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang disebabkan adanya perbedaan dari sudut penutur, tempat, pokok tuturan, dan situasi sehubungan dengan raga kini dikenal dengan adanya raga bahasa resmi dan ragam bahasa tidak resmi.
4) Register merupakan variasi bahasa yang disebabkan adanya sfat-sifat khas kebutuhan pemakainya, misalnya dalam bahasa tulis dikenal dengan bahasa khotbah, bahasa pidato, bahasa doa, bahasa lawak, dan sebagainya.
5) Tingkat tutur merupakan variasi bahasa yang disebabkan adanya perbedaan anggapan penutur tentang relasinya atau hubungannya dengan mitra tuturnya. Relasi tersebut dapat bersikap akrab, sedang, berjarak, menarik, dan menurun (Dwiharjo, 2001: 36 – 37).
2. Leksikon Bahasa Jawa
Leksikon menurut Kridalaksana (1993: 98) adalah komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa. Bahasa Jawa kaya akan perbendaharaan kata atau leksikon. Hal ini disebabkan karena tingkat tutur yang beragam dan wilayah pemakain bahasa Jawa yang luas sehingga menyebabkan leksikon yang ada bertambah variatif. Suatu perbedaan disebut perbedaan dalam leksikon, jika leksem-leksem yang disunakan untuk merealisasikan suatu makna yang sama tidak berasal dari satu etymon prabahasa. Semua perbedaan bidang leksem selalu berupa variasi.
Variasi leksikon terjadi karena adanya pergeseran bentuk, perubahan fonologi dan geseran makna (Ayatrohaedi, 1979: 3). Variasi leksikon juga terjadi karena adanya perbedaan onomasiologis dan semasiologis.
3. Pengertian Dialektologi
Dialektologi adalah cabang linguistik yang mepelajari variasi-variasi bahasa yang memperlakukannya sebagai struktur yang utuh (Kridalaksana, 2001: 21). Sementara itu Mahsun berpendapat, dialektologi merupakan ilmu tentang dialek atau cabang linguistik yang mengkaji perbedaan-perbedaan isolek dengan memperlakukan perbedaan tersebut secara utuh (1995: 11).
Secara umum, dialektologi dapat disebut sebagai studi tentang dialek tertentu atau dialek-dialek suatu bahasa (Fernandes dalam Wakit, 1996: 3). Selain itu, dalam arti luas penelitan dialektologi berupaya memberikan pola linguistik, baik secara horizontal (diatopis) yang mencakup variasi geografis maupun vertikal (sintopis) yang mencakup variasi disuatu tempat (Grins dalam Wakit, 1996: 4).
Dialektologi mengkaji variasi bahasa atau dialek-dialek terutama dialek geografi atau dialek regional yang bersendikan pada fonetik atau fonemik atau morfologi beserta fonologi (kosakata, kata lesikal, atau leksem). Timbulnya dialek tidak lepas dari adanya kecenderungan yang wajar daripada bahasa, yaitu bahasa cenderung terpecah-pecah menjadi jenis-jenis lokal setiap kali kesatuan politik tidak lagi melaksanakan tarkan ke arah pusat. Kemudian perhatian para ahli bahasa diarahkan kepada variasi bahasa akibat adanya lapisan masyarakat dan pola-pola kemasyarakat lainnya. Dialek-dialek juga dapat mengarah kepada suatu bahasa jika antara dialek-dialek membentuk sebuah bahasa tidak terdapat lagi persamaan yang besar serta banyak, dan saling paham dan mengerti makin hari makin kurang (Parera, 1991: 27). Walaupun demikian, suatu dialek tetap berusaha untuk dipertahankan sebagai sebuah bentuk variasi bahasa yang berfungsi sebagai identitas suatu kelompok masyarakat.
Ciri utama dialek adalah perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan, maksudnya bahasa yang digunakan oleh penduduk masing-masing tidak menyebabkan merasa mempuyai bahasa yang berbeda, namun
secara keseluruhan merasa memliki bahasa yang sama (Meillet dalam Ayatrohaedi, 1983: 1 - 2).
4. Macam-macam Dialek
Macam-macam dialek atau bahasa ditentukan oleh faktor waktu, tempat, sosio-budaya, situasi, dan sarana pengungkapannya (Kridalaksana dalam Ayatrohaedi, 1983: 1). Berdasarkan faktor tersebut, pembagian macam dialek digolongkan menjadi dialek regional, dialek sosial, dan dialek temporal (Kridalaksana, 2001: 42).
a. Dialek Sosial
Dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh golongan tertentu (Nandra dan Reniwati, 2009: 2). Dialek sosial adalah dialek yang dipakai kelompok sosial tertentu, yang dengan demikian membedakannya dari kelompok masyarakat lainnya. Faktor penentu dialek sosial ialah latar belakang tingkal sosial dimana seorang penutur itu berasal. Dalam masyarakat dapat di bedakan dialek kelas sosial tinggi, menengah, dan rendah.
b. Dialek Temporal
Dialek temporal adalah ragam bahasa yang berbeda-beda dari waktu-waktu (Kridalaksana, 1993: 43). Di dalam dialek temporal pembahasan ditekankan ada perkembangan bahasa dari waktu ke waktu, misalnya dialek bahasa Jawa Kuna, dialek bahasa Jawa Tengahan, dan dialek bahasa Jawa Baru.
c. Dialek Regional
Dialek geografi adalah cabang dialektologi yang mempelajari tentang hubungan yeng terjadi di dalam ragam bahasa, dengan bertumpu pada satuan ruang dan waktu atau tempat terwujudnya ragam tersebut (Dubois dalam Ayatrohaedi, 1983: 29). Dialek regional, yaitu variasi bahasa berdasarkan perbedaan local (tempat) dalam suatu wilayah bahasa (Nandra dan Reniwati, 2009: 2). Kajian geografi dialek berusaha menemukan ciri khas bahasa yang digunakan di suatu tempat. Di dalam dialek geografi, variasi-variasi bahasa yang muncul dibatasi oleh satuan ruang atau tempat dan variasi bahasa tersebut merupakan ciri khas dari bahasa yang digunakan oleh masyarakat disuatu tempat.
Dari ketiga macam dialek di atas, penelitian ini mengacu pada dialek geografis atau lebih tepatnya geografi dialek. Kedua istilah tersebut memiliki perbedaan tetapi juga memiliki persamaan, antara dialek geografi dengan geografi dialek sama-sama dibatasi oleh ruang dan tempat, serta variasi bahasa yang mencul merupakan ciri khas dari bahasa yang digunakan masyarakat di wilayah tertentu.
Adapun perbedaannya yaitu: (1) pada dialek geografi memfokuskan pada penggunaa kata-kata yang bervariasi di daerah tertentu, dan mengacu pada variasi bahasa yang muncul, (2) untuk geografi dialek memfokuskan pada tempat atau daerah-daerah pemakai variasi kebahasaan, dan mengacu pada langkah-langkah dalam memetakan variasi-variasi bahasa yang terdapat di titik pengamatan.
5. Kajian Dialektologis
Kajian dialektologis merupakan kajian mengenai unsur-unsur kebahasaan diakronis (historis) dan sinkronis (deskripstif). Secara diakronis maksudnya adalah kajian yang mempersoalkan fase-fase perkembangan atau evolusi bahasa dari zaman ke zaman, dari satu waktu ke waktu yang lain. Adapun secara sinkronis adalah mengkaji bahasa berdasarkan gejala-gejala bahasa berdasarkan ujaran-ujaran pembicaraan tanpa mempersolakan urutan waktu (Parera, 1991: 69). Dalam penelitian ini lebih menitik beratkan pada kajian sinkronis. Secara sinkronis pengkajiannya disasarkan pada upaya-upaya berikut ini.
1) Pendeskripsian perbedaan unsur-unsur kebahasaan yang terdapat dalam bahasa yang diteliti. Perbedaan itu mencakup bidang fonologi, morfologi, leksikal, dan semantik; dan pula perbedaan unsur kebahasaan dari aspek sosiolinguistik, khususnya yang berkaitan dengan undha-usuk (tingkatan bahasa).
2) Pemetaan unsur-unsur kebahasaan yang berbeda.
3) Penentuan isolek sebagai dialek atau subdialek dengan berpijak pada unsur-unsur kebahasaan yang berbeda, yang telah dideskripsikan dan dipetakan itu.
4) Membuat deskripsi yang berkaitan dengan pengenalan dialek atau subdialek melalui pendeskripsian ciri-ciri fonologi, morfologi, leksikal, dan semantik yang menandai atau membedakan antara dialek dan
subdialek yang satu dengan yang lainnya dalam bahasa yang diteliti (Mahsun, 1995: 13 – 14).
Kajian secara sinkronis merupakan hal pertama yang dilakukan dalam peneltian geografi dialek. Dengan unsur-unsur kebahasaan yang dibahas dalam geografi dialek adalah meliputi unsur fonologi, unsur morfologi, dan unsur leksikal.
a. Fonologi
Fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi bahasa menurut fungsinya (Kridalaksana, 2001: 57). Fonologi mengkaji dan menganalisis pemanfaatan bunyi bahasa dan system bunyi bahasa untuk mengotraskan ciri-ciri bunyi yang terdapat dalam suatu bahasa. Dengan kata lain fonologi mempelajari bunyi bahasa berdasarkan fungsinya, yaitu, fungsinya sebagai pembeda antara bunyi yang satu dan bunyi yang lain dalam satu bahasa.
Dalam tataran fonologi membicarakan tentang perubahan fonem yang meliputi variasi fonem vokal, variasi fonem konsonan, dan variasi campuran antara keduanya. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna (Kridalaksana, 2001: 55). Pada dasarnya, perbedaan yang terdapat pada leksem-leksem yang menyatakan makna sama itu yang dianggap sebagai perbedaan fonologi.
b. Morfologi
kata dan bagian-bagian kata yakni morfem. Morfem sendiri merupakan satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relative stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Kridalaksana, 2001: 142). Kajian ini juga membahas tentang proses morfologis, yaitu bagaimana kata-kata dibentuk dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lainnya, atau membahas tentang struktur kata. Proses morfologis dapat ditentukan sebagai proses pembentukan kata dengan pengubahan bentuk dasar tertentu yang berstatus morfem bermakna leksikal dengan alat pembentuk yang juga berstatus morfem, tetapi berkecenderungan bermakna gramatikal dan bersifat terikat (Sudaryanto, 1992: 18). Menurut Sopomo Poedjosoedarmo proses morfologis dalam bahasa Jawa dapat berbentuk morfem bebas dan dapat dibentuk dengan mengalami pengimbuhan (afiksasi) pengulangan (reduplikasi) pengubahan bunyi baik dengan bunyi vocal (vowel change) pemajemukan (conconant), maupun perubahan bunyi konsonan (compounding) dan penyingkatan secara akronim.
c. Leksikal
Leksikal adalah suatu yang bersangkutan dengan leksem, kata atau leksikon dan bukan gramatikal. Kridalaksana menyatakan leksem adalah kata atau leksem yang merupakan satuan bermakna, satuan terkecil dari leksikon, sedangkan leksikon merupakan suatu komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa (2001: 126). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa leksikal adalah kata atau kosakata yang memiliki makna.
6. Geografi Dialek
Dalam variasi bahasa secara geografi dikenal dua istilah yaitu istilah dialek geografi dan geografi dialek, maka dalam penelitian ini lebih diutamakan pada geografi dialek. Geografi dialek merupakan kajian linguistik yang berobjek doalek regional atau dialek geografi. Dalam geografi dialek akan memetakan unsur-unsur bahasa yang berbeda yang terdapat di titik pengamatan yang telah ditentukan oleh peneliti. Peneliti menggunakan geografi dialek karena dalam penelitian ini difokuskan pada daerah pemakaian variasi kebahasaan yang ditentukan dengan menggunkan titik pengamatan.
Dialek geografi merupakan cabang dari ‘pembagian’ dialek secara umum, yakni dialek geografi dan social geografi. Jika social geografi merupakan variasi pemakaian bahasa yang disebakan olehperbedaan kelompok social penutur. Dialek geografi adalah variasi pemakaian bahasa yang ditentukan oleh perbedaan wiayah pemakaian, misalnyadialek social bahasa Jawa terlihat pada pemakaian tingkat tutur. Sedangkan dialek geografi bahasa Jawa, tercermi melalui perbedaan pemakaian bahasa jawa diwilayah Yogyakarta-Surakarta dengan pemakaian di Banyumas atau wilayah lain (Wedhawati dan Arifin, http;//books.google.co.id).
Dialek geografi adalah cabang dialektologi yang mempelajari tentang hubungan yang terjadi di dalam ragam bahasa, dengan bertumpu pada satu satuan ruang atau terwujudnya ragam tersebut (Dubois dalam Ayatrohaedi, 1983: 29). Geografi dialek adalah kajian terhadap beraneka ragam bentuk tuturan dalam suatu bahasa. Para ahli geografi dialek biasanya mengumpulkan
berkaitandengan beragam variasi ciri-ciri linguistik yang ada (Lehmann, 1972: 112). Geografi dialek adalah merupakan cabang kajian linguistik yang bertujuan mengkaji semua gejala kebahasaan secara cermat yang disajikan berdasarkan peta bahasa yang ada. Karena itu salah satu tujuan umum dalam kajian ini yaitu memetakan gejala kebahasaan dari semua data yang diperoleh dalam daerah penelitian (Ayatrohaedi, 1985: 58; Francis, 1983: 110; Chambers, 1980: 103).
Untuk lebih khususnya geografi dialek adalah suatu bentuk kajian terhadap ragam bahasa baru disebut dialek, utamanya dialek geografi. Gegrafi dialek adalah nama lain dari dialektologi yang disebut juga dialek regional. Geografi dialek memperlajari variasi-variasi bahasa berdasarkan perbedaan lokal (tempat) dalam wilayah bahasa (Nandra dan Reniwati 2009: 20). Geografi dialek mempelajari variasi-variasi bahasa berdasarkan perbedaan lokal dalam suatu wilayah bahasa geografi dialek sebenarnya merupakan bagian dari linguistik historis secara khusus berbicara mengenai dialek-dialek atau perbedaan lokal.
Kajian geografi dialek berusaha menemukan ciri khas bahasa yang digunakan di suatu tempat. Penelitian geografi dialek diarahkan untuk menetapkan ruang lingkup gejala-gejala kebahasaan dengan jalan mengelompokkan dan memaparkan ciri-ciri dialek. Dalam menentukan kekhasan tersebut digunakan kriteria yang dikemukakan oleh Guiraud yaitu perbedaan fonetik, perbedaan semantik, perbedaan onomasiologis, perbedaan semasilogis, dan perebedaan morfologis dengan penjelasan sebagai berikut:
1) Perbedaan fonetik yaitu si pemakai dialek atau bahasa yang bersangkutan tidak menyadari adanya perbedaan.
2) Perbedaan semantik yaitu dengan terciptanya kata baru, berdasarkan perubahan fonologi dan gerakan tubuh.
3) Perbedaan onomasiologis. Perbedaan yang berdasarkan satu konsep yang diberikan di beberapa tempat berbeda.
4) Perbedaan semasiologis. Perbedaan yang menunjukkan pada pemberian nama yang satu untuk konsep yang berbeda.
5) Perbedaan mofologis yaitu perbedaan yang dibatasi oleh adanya sistem tata bahasa yang bersangkutan oleh frekuensi morfem-morfem yang berbeda oleh kegunaannya dan oleh sejumlah faktor lainnya (Ayatrohaedi, 1983: 3-5).
7. Dialektometri
Dialektometri adalah ukuran secara stasistik yang dipergunakan untuk melihat seberapa jauh perbedaan dan persaman yang terdapat di tempat-tempat yang diteliti dengan membandingkan sejumlah bahasa yang terkumpul dari tempat yang diteliti tersebut (Revier dalam Ayatrohaedi, 1983: 32). Metode ini menggunakan rumus perhitungan segitiga antardaerah pengamatan, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut;
d : jarak
100 : jumlah persen
Presentase jarak unsur-unsur kebahasaan diantara daerah pengamatan itu, selanjutnya digunakan untuk menentukan hubungan antardaerah pengamatan yang ada dengan kriteria sebagai berikut:
80% ke atas : dianggap perbedaan bahasa. 51% -- 80 % : dianggap perbedaan dialek. 31% -- 51% : dianggap perbedaan subdialek 20% -- 30% : dianggap perbedaan wicara. 0% -- 20% : dianggap tidak ada perbedaan. 8. Peta Bahasa
Gambaran umum mengenai jumlah dialek atau bahasa itu baru akan tampak jelas jika semua gejala kebahasaan yang ditampilkan dari bahan yang terkumpul selama peneltian itu dipetakan. Oleh karena itu kedudukan dan peranan peta bahasa dalam kajian gegrafi dialek atau lokabahasa merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan (Ayatrohaedi, 2002: 9). Dengan peta-peta tersebut, perbedaan atau persamaan dialek yang terkumpul dapat dikaji atau ditafsirkan lebih lanjut. Mahsun (1995: 58) sebelumnya juga mengatakan bahwa peran peta bahasa dalam dialek geografis cukup penting, karena berkaitan dengan upaya memvisualisasikan data lapngan ke dalam bentuk peta, agar data tergambar dalam prespektif yang bersifat geografis serta memvisualisasikan pernyataan umum yang dihsilkan berdasarkan distribusi
geofrafis perbedaan unsur unsur kebahasaan yang lebih dominan dari wilayah ke wilayah yang dipetakan.
Peta bahasa digunakan untuk memuat berian yang diperoleh dan dibuat berdasarkan data yang diperoleh. Peta-peta yang dipelukan dan dibuat itu meliputi, (1) peta dasar, adalah peta daerah peelitian yang merupakan peta buta, (2) peta mandiri, adalah peta yang dibuat sebanyak data mandiri yang akan dimasukkan ke dalam peta, (3) peta rekonstruksi, adalah peta gabungan yang sengaja dibuat berdasarkan rekonstruksi sejumlah berian yang diperoleh (Ayatrohaedi, 2002: 47 - 51).
Dalam pemetaan bahasa diperlukan alat bantu yang disebut isoglos atau garis watas kata. Menurut Dubois, isolglos adalah garis yang memisahkan dua lingkungan dialek atau bahasa berdasakan wujud atau sistem kedua lingkungan yang berbeda, yang dinyatakan dalam peta bahasa (dalam Ayatrohaedi, 1983: 5). Istilah isoglos terkadang juga disebut heteroglos, yaitu sebuah garis imajiner yang diterapkan di atas sebuah peta bahasa untuk memisakan munculnya setiap gejala bahasa berdasarkan wujud atau sistem yang berbeda (Kurath dalam Lauder,1993: 88).
Menurut Kurath, pada dasarnya garis isoglos dan heteroglos adalah sama, hanya sudut pandang pembuatan dan fungsi garis itu yang berbeda. Garis isoglos berfungsi untuk menyatukan titik-titik pengamatan yang menampilkan gejala kebahasaan yang serupa. Garis heteroglos berfungsi untuk memisahkan titik-titik pengamatan yang menampilkan gejala kebahasaan yang berbeda (dalam Lauder, 1993: 28).
Berdasarkan uaraian di atas, dapat dikatakan bahwa pemetaan bahasa itu penting dilakukan karena untuk mengetahui persebaran pemakaian unsur-unsur kebahasaan yang meliputi unsur-unsur fonologis, morfologis, dan leksikal. Di samping itu, pemetaan bahasa tersebut juga dipakai untuk mengetahui variasi dari unsur-unsur kebahasaan tersebut.
G. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran pengkajian. Berkaitan dengan metode penelitian, pada bagian ini akan dikemukakan hal-hal sebagai berikut: (1) jenis penelitian, (2) lokasi penelitian, (3) data penelitian dan sumber data, (4) alat penelitian, (5) populasi dan sampel, (6) metode pengumpulan data, (7) analisis data, (8) metode pemaparan hasil analisis data.
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif artinya studi kasusnya mengarah pada pendeskripsian secara rinci, mendalam, dan benar-benar potret kondisi tentang apa yang sebenar-benarnya terjadi menurut apa adanya di lapangan (Sutopo, 2002: 111). Sedangkan penelitian kualitatif artinya teknik penentuan sampelnya dengan cuplikan (nukilan) yang lazim juga disebut purposive sampling. Teknik nukilan maksudnya sampel ditentukan secara selektif berdasarkan teori yang dipakai, tujuan penelitian, dan permasalahan penelitian. Sumber datanya diarahkan pada sumber data yang memiliki data penting, produktif, sesuai dengan permasalahan penelitian teori dan tujuan penelitian (Sutopo, 2002: 36).
Oleh karena itu penelitian ini mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena kebahasaan serta sosial secara rinci dan mendalam sesuai dengan fakta di lapangan. Data yang terkumpul adalah bahasa komunikasi yang berupa kata-kata dan atau kalimat yang dianggap penting sesuai permasalahan yang akan diteliti, tujuan penelitian, dan teori yang digunakan.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah Kabupaten Ponorogo. Wilayah Kabupaten Ponorogo terdiri dari 21 kecamatan dan 304 desa. Dari 21 kecamatan ditentukan 10 kecamatan sebagai titik pengamatan dengan masing-masing diwakili oleh satu desa. Pemilihan titik pengamatan ini dipilih secara menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Ponorogo yaitu sebelah utara, selatan, timur, dan barat.
Penentuan titik pengamatan untuk Kabupaten Ponorogo diwakili oleh lima kecamatan dan setiap kecamatan diwakili oleh satu desa yang ditetapkan sebagai desa sampel yaitu: Desa Pintu, Desa Kedung Banteng, Desa Karangjoho, Desa Balon, Desa Mlarak, Kelurahan Cokromengalan, Desa Sawoo, Desa Sooko, dan Baosankidul dan Desa Ngebel.
3. Data dan Sumber Data a) Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data lisan dan data tulis. Data lisan dalam penelitian ini merupakan data primer, karena dalam kajian dialektologis terutama kajian secara sinkronis yang
variasi-variasi kata dari tuturan pengguna bahasa di daerah yang diteliti. Sedangkan data tulis diperoleh melalui penyebaran daftar pertanyaan, dan data statistik kependudukan sebagai data sekunder yang berguna untuk mencocokkan pada saat klasifikasi data dan sebagai penjelasan dalam deskripsi wilayah.
b) Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari narasumber atau informan. Narasumber adalah pemberi informasi yang membantu peneliti dalam tahap pemerolehan data yang disediakan untuk dianalisis yang biasa disebut ‘informan’, ‘pembahan’, atau ‘pembantu bahasa (Sudaryanto, 1993: 183). Sumber data lisan dalam penelitian ini berasal dari infoman yang sudah dipilih di daerah titik pengamatan, yaitu berupa tuturan bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo. Dalam penelitian lapangan informan itu penting adapun kriteria infoman menurut Lauder (dalam Laksonodan Savitri, 2009: 33) adalah: (1) berjenis kelamin laki-laki atau wanita, (2) berusia 20-60 tahun (tidak pikun), (3) baik informan suami atau istrinya dan orang tuanya lahir dan dibesarkan di daerah pengamatan, (4) pendidikan relatif rendah, (5) status sosial menengah ke bawah dengan mobilitas keluar rendah, (6) diutamakan petani, nelayan, buruh, (7) dapat berbahasa Indonesia, (8) bangga terhadap isoleknya, (9) sehat rohani dan jasmani dalam arti tidak cacat organ bicaranya.
Pada prinsipnya dalam penentuan jenis kelamin laki-laki dan perempuan berdasarkan fakta di lapangan ada beberapa instrumen yang kurang difahami informan laki-laki dan lebih dipahami informan
perempuan terutama alat dapur dan bumbu dapur. Informan berjumlah tiga orang di setiap titik pengamatan. Lokasi penelitian ada 10 titik pengamatan, informan keseluruhan berjumlah 30. Alasan menentukan jumlah informan berjumlah tiga orang disetiap titik pengamatan adalah jika terjadi perselisihan jawaban antara informan ke-1 dengan informan ke-2 tentunya informan ke-3 menengahi perbedaan pendapat ini. Kriteria informan umur 20 – 60 tahun, usia ini merupakan usia informan yag ideal (Mahsun, 1995: 106). Informan yang berusia 20 tahun sudah memilki kemampuan kebahasaan dan kematangan hidup sampai ada tatanan bermasyarakat. Informan berusia maksimal 60 tahun dengan catatan tidak pikun. Nandra dan Reniwati (2009: 37 – 38) menyatakan informan dengan usia lebih dari 60 ada kemungkinan mulai pikun dan akan menyulitkan penelitian.
Laksono dan Savitri (2009: 33-34) penentuan informan berdasarkan pendidikan rendah dapat ditentukan oleh peneliti berdasarkan daerah penelitian. Petani, nelayan, buruh dijadikan informan karena mereka jarang melakukan interaksi dengan banyak orang. Penutur yang tidak memiliki gigi lengkap, bibir sumbing, dan pelat merupakan penutur yang memiliki cacat organ bicara. Penutur bangga dengan isoleknya, maksudnya sikap yang mendorong seseorang menjadikan bahasanya sebagai lambang identitas pribadi untuk membedakan dari orang lain. 4. Alat Penelitian
sedangkan alat bantu berguna untuk membantu jalannya penelitian. Alat utama merupakan peneliti sendiri artinya kelenturan sikap peneliti mampu menggapai makna dari berbagai interaksi (Sutopo, 2002: 35-36). Selain itu, dengan ketajaman intuisi kebahasaan (lingual) peneliti mampu membagi data secara baik menjadi beberapa unsur (Sudaryanto, 1993 31-32). Peneliti sendiri dengan instuisi lingual (kebahasaan) peneliti bisa bekerja secara serta merta menghayati terhadap bahasa yang diteliti secara utuh (Edi Subroto, 1992: 23).
Alat bantu dalam penelitian ini meliputi alat elektronik dan alat tulis-menulis, alat elektonik berupa laptop, handphone (alat perekam), dan
flashdisk. Alat tulis berupa pensil, bolpoin, stabile, kertas dan buku tulis.
5. Populasi dan Sampel
Populasi adalah objek penelitian (Subroto, 1992: 32). Sementara itu, Sudaryanto berpendapat populasi adalah semua bentuk tuturan yang sudah ada maupun yang sudah diadakan, baik bentuk tuturan itu yang kemudian terpilih menjadi sampel maupun tidak terpilih, dan semuanya merupakan satu kesatuan tuturan (1993: 21). Populasi dalam penelitian ini adalah semua tuturan bahasa Jawa dengan segala aspeknya yang digunakan oleh penutur bahasa Jawa di daerah titik pengamatan di Kabupaten Ponorogo.
Sampel penelitian adalah data yang disahkan untuk dikaji, yang dijadikan objek penelitian sesuai dengan teori dan rumusan masalah yang digunakan dan tujuan penelitian. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pada teknik purposive sampling pilihan sampel ditentukan secara selektif berdasarkan teori yang dipakai,
tujuan penelitian, dan permasalahan penelitian. Sumber datanya diarahkan pada sumber data yang memiliki data penting, produktif, sesuai dengan permasalahan penelitian. (Sutopo, 2002: 36). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah tuturan yang sudah ditetapan dalam instrument pelitian, titk penelitian, dan informannya.
Instrumen meliputi daftar pertanyaan dengan bahasa Indonesia yang berupa data dan berhubungan dengan variasi fonologis, morfologis, dan leksikal BJPN. Daftar petanyaan tersebut meliputi: (1) bilangan, (2) urutan, (3) waktu, (4) musim, (5) ukuran, (6) bagian tubuh manusia, (7) istilah kekerabatan, (8) pakaian dan pehiasan, (9) jabatan pemerintahan, (10) binatang, (11) bagian tubuh binatang, (12) bagian-bagian tumbuhan dan hasil olahannya, (13) alat, (14) penyakit dan obat, (15) alam, (16) rumah dan bagian-bagiannya, (17) arah dan petunjuk, (18) aktivitas, (19) sifat dan sapaan, (20) warna, (21) bau, (22) rasa.
Penentuan titik pengamatan dari 21 kecamatan dan 304 desa diambil 10 kecamatan. Setiap kecamatan diambil satu desa sebagai sampel, yaitu: Desa Pintu, Desa Kedung Banteng, Desa Karangjoho, Desa Balon, Desa Mlarak, Kel Cokromengalan, Desa Sawoo, Desa Sooko, dan Baosankidul dan Desa Ngebel.
6. Metode Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini berupa data kebahasaan bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo dengan konteks geografis kebahasaan yang berwujud segi-segi yang diteliti. Data diperoleh dari informan yang sudah dipilih di
daerah titik pengamatan masing-masing. Sedangkan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu metode simak dan metode cakap (Sudaryanto, 1993: 133).
a. Metode Simak
Metode simak adalah menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133). Penyimakkan tidak hanya dikaitkan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis. Metode ini menggunakan teknik dasar sadap, dan teknik lanjutannya menggunakan teknik simak libat cakap dan teknik simak bebas libat cakap.
Teknik sadap adalah teknik untuk mendapatkan data dengan cara menyadap penggunaan bahasa oleh para penutur yang telah ditunjuk di wilayah Kabupaten Ponorogo.
Teknik simak libat cakap (SLC) dilakukan dengan cara menyimak dan berpartisipasi dalam pembicaraan dengan informan. Teknik ini digunakan terutama untuk menggali data dari informan pelengkap yang ditemui di tempat-tempat umum.
Teknik simak bebas libat cakap (SBLC), yaitu menyimak pemakaian bahasa, dalam hal ini bahasa Jawa di Kabupaten Ponorogo oleh penutur dengan tidak berpartisipasi dalam tuturan.
b. Metode Cakap
Metode cakap adalah percakapan, yang terjadi kontak antara peneliti dan penutur selaku narasumber (Sudaryanto, 1993: 133). Percakapan berarti menunjukkan adanya kontak antara peneliti dengan
informan pada setiap daerah pengamatan yang telah ditentukan dalam penelitian ini. Teknik dasar yang digunakan berupa teknik pancing, dan teknik lanjutan yang berupa teknik cakap semuka, teknik rekam, dan teknik catat.
Teknik pancing digunakan untuk memancing data dari informan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang berisi kata-kata dalam bahasa Indonesia yang mencakup unsur fonologis, morfologis, dan leksikal yang harus diterjemahkan oleh informan BJP.
Teknik cakap semuka (TCS), yaitu percakapan langsung untuk memancing data dengan mengarahkan jawaban informan sesuai dengan kepentingan peneliti. Teknik ini digunakan pada informan utama, karena untuk menghindari kurang paham infoman terhadap pertanyaan dalam daftar pertanyaan. Hal ini dapat terjadi karena tingkat pendidikan informan yang tidak terlalu tinggi. Teknik rekam dilaksanakan dengan merekam penggunaan bahasa oleh para penutur bahasa Jawa dengan menggunakan alat rekam dengan tujuan agar transkripsi fonetisnyalebih tepat. Di samping itu, untuk menjaga bila terjadi kelupaan pada waktu mencatat.Teknik catat dilakukan dengan cara mencatat data yang muncul sekaligus dengan mencatat secara fonetis untuk mempermudah pengklasifikasian data.
7. Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam peta penelitian ini meliputi analisis satuan lingual yang pada hakikatnya sama dengan menentukan aspek-aspek satuan
lingual itu berdasarkan pada teknik-teknik tertentu sebagai penjabaran dari metode yang digunakan dengan membedakan data-data yang digunakan untuk tujuan itu (Sudaryanto, 1993: 2). Penentuan variasi dialektal ini menggunakan metode padan dan metode agih (Sudaryanto, 1993: 13).
a. Metode Padan
Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993: 13). Teknik dasar yang digunakan berupa teknik pilih unsur penentu (PUP). Teknik lanjutannya berupa teknik hubung banding menyamakan, teknik hubung banding memperbedakan, dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok.
Metode padan ini digunakan untuk menganalisis adanya variasi-variasi unsur kebahasaan bahasa Jawa Ponorogo yaitu untuk mendeskripsikan perbedaan variasi dialek yang dilihat dari segi fonologis, morfologis, dan leksikal yang terdapat dalam bahasa Jawa Ponorogo. Penerapannya misalnya terdapat pada contoh berikut.
1) Variasi fonologi
Di dalamnya terdapat perubahan vokal dan konsonan. Kata ‘brengos’ yang mempunyai arti ‘kumis’ mempunyai variasi fonologi
brengos [br|GOs] dan brengos [ breGOs ]. Kata ‘cilik’ yang
mempunyai arti ‘kecil’ mempunyai variasi cilik [ cili? ] dan cilik [ cilI? ].
2) Variasi morfologis
Kata ‘sek-seken’ yang mempunyai makna tersedu-sedu mempunyai variasi morfologis sek-seken [s|k - s|kk|n] dan
misek-misek [mis|k -mis|k].
3) Variasi leksikal
Kata ‘lar’ yang mempunyai arti bulu mempunyai variasi leksikal ulu [ulu] dan wulu [wulu]. Kata ‘centhong’ mempunyai variasi
enthong [enTOG] dan centhong [ cenTOG ]. Kata ‘diijoli’ yang artinya
‘digantikan’ mempunyai variasi diijoli [ diijOli ], digajuli [ digajuli ] dan digenteni [ dig|ntEni ].
b. Metode Agih
Metode agih adalah metode analisis data yang alat bantu penentunya bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto, 1993: 15). Teknik dasar yang digunakan berupa teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik ini digunakan untuk membagi satual lingual data menjadi unsur-unsur data. Penerapan teknik ini dapat dijelaskan pada teknik lanjutannya yaitu teknik ganti.
Teknik ganti digunakan untuk mendeskripsikan variasi dialektal unsur morfologis BJP yang meliputi afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan), komposisi (pemajemukan), dan akronimisasi (penyingkatan).
H. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri atas tiga bab yang disajikan dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan peneitian, pembatasan masalah, manfaat penelitian, teori, data dan sumber data, meode dan teknik, dan sistematika penulisan.
Bab II Analisis Data, berisi tentang variasi fonologi, morfologi, dan leksikal bahasa Jawa Ponorogo, Unsur leksikon khas bahasa Jawa Ponorogo, Pemetaan unsur leksikal bahasa Jawa Ponorogo.
Bab III Penutup, berisi tentang simpulan dan saran.