HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Sekolah Ragunan adalah satu dari lima sekolah khusus atlet di Indonesia yang didirikan pada tanggal 15 Januari 1977. Sekolah Ragunan ini sebenarnya terdiri atas SMP Negeri dan SMA Negeri Ragunan. SMP/SMA Negeri Ragunan atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Atlet, berada di dalam area Gelanggang Olahraga Ragunan, Jalan H.M. Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. SMA Negeri Ragunan dikepalai oleh Drs. Didih Hartaya dengan staf dan guru berjumlah 20 orang. Jumlah siswa di SMA Negeri Ragunan sebanyak 323 orang. Tabel 2 menunjukkan bahwa lebih dari separuh jumlah siswa berjenis kelamin laki-laki (55.1%) dan siswa perempuan sekitar 44.9 persen.
Tabel 2 Sebaran siswa SMA Negeri Ragunan Jakarta berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin n %
Laki-laki 178 55.1
Perempuan 145 44.9
Total 323 100.0
Sumber: Profil SMA Negeri Ragunan. 2009/2010.
Luas kompleks SMP/SMA Ragunan dan fasilitas olahraga mencapai 17 hektar yang merupakan aset Pemda DKI. Kompleks SMP/SMA Ragunan terdiri dari gedung sekolah, gedung asrama putra dan putri, ruang makan dan dapur, ruang fitnes, dan perumahan guru serta pelatih. Secara keseluruhan, SMA Negeri Ragunan terdiri dari delapan kelas, yaitu dua kelas untuk kelas X dan untuk kelas XI, XII masing-masing tiga kelas (IPA, IPS1 dan IPS2). Fasilitas olahraga mencakup lapangan bulutangkis, tenis meja, bola voli, gulat dan judo, kolam renang, gedung senam, lapangan basket, sepak bola, lapangan tenis, angkat besi, panahan, dan track atau lapangan untuk cabang atletik. Fasilitas lain yang berada di komplek Gelanggang Olahraga Ragunan berupa gedung serbaguna, gedung auditorium, poliklinik, masjid, aula, kantin, wisma tamu, serta perkantoran dan Graha Wisma Pemuda.
SMA Negeri Ragunan yang merupakan sekolah umum formal untuk para atlet menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar layaknya SMA pada umumnya. Beban belajar yang diberikan oleh pihak sekolah terdiri dari pelajaran inti, muatan lokal dan pengembangan diri dengan alokasi waktu satu jam
pelajaran adalah 40 menit. Pengembangan diri adalah pelajaran utama bagi siswa SMA Negeri Ragunan Jakarta, sedangkan pelajaran inti dan muatan lokal merupakan pelajaran tambahan. Hal ini menyebabkan SMA Negeri Ragunan berbeda dengan SMA pada umumnya. Pelajaran inti di SMA Ragunan tidak jauh berbeda dengan SMA pada umumnya. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang materinya tidak dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Mata pelajaran muatan lokal kelas X, XI dan XII adalah English for Special Purpose. Pengembangan diri adalah beban belajar terjadwal utama yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minatnya. Dengan kata lain, pengembangan diri adalah jadwal latihan terpadu sesuai dengan cabang olahraga yang digeluti siswa. Rincian alokasi waktu pembelajaran dan beban pelajaran yang diberikan oleh SMAN Ragunan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Beban belajar per minggu siswa SMA Negeri Ragunan Jakarta
Kelas Beban Belajar (jam)
Inti Muatan Lokal Pengembangan diri Jumlah
X 36 2 34 72
XI 37 2 34 73
XII 41 2 34 77
Sumber: Profil SMA Negeri Ragunan. 2009/2010.
Karakteristik Contoh Usia dan Jenis Kelamin
Contoh dalam penelitian ini berjumlah 85 orang. Persentase terbesar contoh berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 50,6 persen dan sisanya adalah laki-laki sebesar 49,4 persen (Tabel 5).
Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan usia dan jenis kelamin, rata-rata, dan standar deviasi usia contoh
Usia
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Total
n % n % n % 15 tahun 0 0.0 3 3.5 3 3.5 16 tahun 3 3.5 14 16.5 17 20.0 17 tahun 14 16.5 17 20.0 31 36.5 18 tahun 23 27.1 8 9.4 31 36.5 19 tahun 2 2.3 1 1.2 3 3.5 Total 42 49.4 43 50.6 85 100 Rata-rata±SD 17.6±0.7 16.8±0.9 17.2±16 p-value 0.00
Menurut Hurlock (1980), periode masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu remaja awal pada umur (10-14 tahun), remaja tengah (14-17 tahun), dan remaja akhir pada umur 17-21 tahun. Secara keseluruhan usia contoh pada penelitian ini dapat dikategorikan sebagai remaja tengah dan akhir, yaitu antara 15-19 dengan persentase terbesar adalah usia 17 dan 18 tahun, masing-masing sebesar 36.5 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase usia tertinggi contoh laki-laki adalah 17 dan 18 tahun (16.5% dan 27.1%). Sementara itu, persentase usia tertinggi contoh perempuan adalah 16 dan 17 tahun (16.5% dan 20.0%) (Tabel 4). Hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa ada perbedaan usia contoh laki-laki dan perempuan (p<0.05) yang mana rata-rata usia contoh laki-laki lebih tinggi daripada contoh perempuan.
Urutan Kelahiran
Penelitian terhadap anak-anak, remaja, dan orang dewasa dari berbagai urutan kelahiran, menunjukkan urutan kelahiran dapat menjadi faktor yang kuat dalam menentukan jenis penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang harus dilakukan individu sepanjang rentang kehidupan (Hurlock 1980). Schiller (2006) menyebutkan bahwa urutan kelahiran berhubungan erat dengan kepribadian seseorang. Gambar 3 menunjukkan bahwa persentase terbesar contoh adalah anak tengah dan anak sulung (37.6% dan 32.9%), sedangkan persentase terendah adalah anak tunggal sebesar 4.7 persen.
Gambar 3 Sebaran contoh berdasarkan urutan kelahiran
Menurut Santrock (2007), anak kedua (anak tengah) akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan lebih percaya diri bila dibandingkan dengan anak pertama atau anak tunggal. Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Schiller (2006) menunjukkan bahwa anak kedua
Tunggal
Menurut Hurlock (1980), periode masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu remaja awal pada umur (10-14 tahun), remaja tengah (14-17 tahun), dan remaja akhir pada umur 17-21 tahun. Secara keseluruhan usia contoh pada penelitian ini dapat dikategorikan sebagai remaja tengah dan akhir, yaitu antara 15-19 dengan persentase terbesar adalah usia 17 dan 18 tahun, masing-masing sebesar 36.5 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase usia tertinggi contoh laki-laki adalah 17 dan 18 tahun (16.5% dan 27.1%). Sementara itu, persentase usia tertinggi contoh perempuan adalah 16 dan 17 tahun (16.5% dan 20.0%) (Tabel 4). Hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa ada perbedaan usia contoh laki-laki dan perempuan (p<0.05) yang mana rata-rata usia contoh laki-laki lebih tinggi daripada contoh perempuan.
Urutan Kelahiran
Penelitian terhadap anak-anak, remaja, dan orang dewasa dari berbagai urutan kelahiran, menunjukkan urutan kelahiran dapat menjadi faktor yang kuat dalam menentukan jenis penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang harus dilakukan individu sepanjang rentang kehidupan (Hurlock 1980). Schiller (2006) menyebutkan bahwa urutan kelahiran berhubungan erat dengan kepribadian seseorang. Gambar 3 menunjukkan bahwa persentase terbesar contoh adalah anak tengah dan anak sulung (37.6% dan 32.9%), sedangkan persentase terendah adalah anak tunggal sebesar 4.7 persen.
Gambar 3 Sebaran contoh berdasarkan urutan kelahiran
Menurut Santrock (2007), anak kedua (anak tengah) akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan lebih percaya diri bila dibandingkan dengan anak pertama atau anak tunggal. Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Schiller (2006) menunjukkan bahwa anak kedua
4,7%
32,9% 36,7%
24,8%
Tunggal Sulung Tengah Bungsu
Menurut Hurlock (1980), periode masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu remaja awal pada umur (10-14 tahun), remaja tengah (14-17 tahun), dan remaja akhir pada umur 17-21 tahun. Secara keseluruhan usia contoh pada penelitian ini dapat dikategorikan sebagai remaja tengah dan akhir, yaitu antara 15-19 dengan persentase terbesar adalah usia 17 dan 18 tahun, masing-masing sebesar 36.5 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase usia tertinggi contoh laki-laki adalah 17 dan 18 tahun (16.5% dan 27.1%). Sementara itu, persentase usia tertinggi contoh perempuan adalah 16 dan 17 tahun (16.5% dan 20.0%) (Tabel 4). Hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa ada perbedaan usia contoh laki-laki dan perempuan (p<0.05) yang mana rata-rata usia contoh laki-laki lebih tinggi daripada contoh perempuan.
Urutan Kelahiran
Penelitian terhadap anak-anak, remaja, dan orang dewasa dari berbagai urutan kelahiran, menunjukkan urutan kelahiran dapat menjadi faktor yang kuat dalam menentukan jenis penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang harus dilakukan individu sepanjang rentang kehidupan (Hurlock 1980). Schiller (2006) menyebutkan bahwa urutan kelahiran berhubungan erat dengan kepribadian seseorang. Gambar 3 menunjukkan bahwa persentase terbesar contoh adalah anak tengah dan anak sulung (37.6% dan 32.9%), sedangkan persentase terendah adalah anak tunggal sebesar 4.7 persen.
Gambar 3 Sebaran contoh berdasarkan urutan kelahiran
Menurut Santrock (2007), anak kedua (anak tengah) akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan lebih percaya diri bila dibandingkan dengan anak pertama atau anak tunggal. Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Schiller (2006) menunjukkan bahwa anak kedua
cenderung lebih tenang, lebih mudah bersosialisasi dan lebih sedikit mengalami masalah dibandingkan anak sulung dan bungsu. Namun, anak kedua juga memiliki rasa iri yang lebih besar terhadap saudaranya.
Anak sulung sering dikenal sebagai ”experimental child” yang disebabkan kurangnya pengetahuan dan pengalaman orangtua dalam merawat anak sehingga mengakibatkan orangtua cenderung terlalu cemas dan melindungi berlebihan (Gunarsa S & Gunarsa Y 2009). Menurut Santrock (2007), orangtua memiliki harapan yang besar kepada anak pertama dibanding adik-adiknya, tuntutan orangtua dan standar yang tinggi membuat anak pertama diliputi kecemasan dan rasa bersalah. Berdasarkan beberapa literatur yang telah dibahas tersebut, dapat digambarkan bahwa sebagian besar contoh penelitian ini merupakan kelompok anak-anak yang lebih mudah bersosialisasi (anak kedua).
Cabang olahraga dan Tipe olahraga
Menurut Moelok (1984), cabang olahraga dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu cabang olahraga ringan, sedang, berat, dan berat sekali. Cabang olahraga yang paling banyak digeluti oleh contoh adalah olahraga sedang yang terdiri dari bulutangkis, senam, atletik, selancar, squash, tenis lapangan, tenis meja, sepak takraw, dan sepak bola. Sementara itu, jenis olahraga individu yang paling banyak digeluti oleh contoh penelitian adalah renang, bulu tangkis, squash, dan senam.
Tabel 5 menunjukkan bahwa lebih dari separuh contoh menggeluti cabang olahraga sedang (70.6%) dan hanya sekitar 1,2 persen contoh yang menggeluti olahraga berat sekali, yaitu jenis olahraga angkat besi. Sementara itu, sebagian besar contoh menggeluti tipe olahraga individu (88.2%) seperti tenis meja, tenis lapangan, squash, bulutangkis, senam, dan atletik.
Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan cabang olahraga dan tipe olahraga
Karakteristik n %
Cabang Olahraga
Olahraga ringan 5 5.9
Olahraga sedang 60 70.6
Olahraga berat 19 22.3
Olahraga berat sekali 1 1.2
Total 85 100.0
Tipe Olahraga
Individu 75 88.2
Beregu 10 11.8
Karakteristik Keluarga Usia dan Status Orangtua
Tingkat umur dapat mempengaruhi cara berpikir serta bertindak dan emosi seseorang, karena seseorang yang mempunyai umur lebih dewasa relatif lebih stabil emosinya dibanding dengan orang yang lebih muda (Hurlock 1980). Usia orangtua contoh dikelompokkan ke dalam usia dewasa muda (20-40 tahun), dewasa madya (41-60 tahun), dan dewasa akhir atau usia lanjut (>60 tahun).
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan kategori usia orangtua
Usia Ayah Ibu
n % N %
Dewasa muda (20-40 tahun) 9 10.5 33 38.8
Dewasa madya (41-60 tahun) 72 84.7 49 57.7
Dewasa akhir atau usia lanjut
(>60 tahun) 2 2.4 0 0.0
Almarhum 2 2.4 3 3.5
Total 85 100.0 85 100.0
Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar ayah contoh berada pada kategori dewasa madya (84.7%). Persentase ayah contoh yang berada dalam tahapan dewasa akhir dan sudah meninggal masing-masing sebesar 2.4 persen. Sama halnya dengan ayah, lebih dari setengah ibu contoh (57.7%) juga berusia 40-60 tahun (dewasa madya). Sementara itu, sekitar 3.5 persen ibu contoh sudah meninggal.
Berdasarkan Gambar 4, sebagian besar status orangtua contoh adalah utuh (92.9%) dan hanya sekitar 7.1 persen orangtua contoh yang berstatus sebagai orangtua tunggal (single parent) karena salah satu orangtua telah meninggal dunia. Menurut Eccles dan Kalil (1994), ibu yang berstatus sebagai orangtua tunggal menghabiskan waktu yang lebih sedikit dengan anak remaja dibanding ibu yang masih terikat hubungan perkawinan.
Gambar 4 Sebaran contoh berdasarkan status orangtua Karakteristik Keluarga
Usia dan Status Orangtua
Tingkat umur dapat mempengaruhi cara berpikir serta bertindak dan emosi seseorang, karena seseorang yang mempunyai umur lebih dewasa relatif lebih stabil emosinya dibanding dengan orang yang lebih muda (Hurlock 1980). Usia orangtua contoh dikelompokkan ke dalam usia dewasa muda (20-40 tahun), dewasa madya (41-60 tahun), dan dewasa akhir atau usia lanjut (>60 tahun).
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan kategori usia orangtua
Usia Ayah Ibu
n % N %
Dewasa muda (20-40 tahun) 9 10.5 33 38.8
Dewasa madya (41-60 tahun) 72 84.7 49 57.7
Dewasa akhir atau usia lanjut
(>60 tahun) 2 2.4 0 0.0
Almarhum 2 2.4 3 3.5
Total 85 100.0 85 100.0
Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar ayah contoh berada pada kategori dewasa madya (84.7%). Persentase ayah contoh yang berada dalam tahapan dewasa akhir dan sudah meninggal masing-masing sebesar 2.4 persen. Sama halnya dengan ayah, lebih dari setengah ibu contoh (57.7%) juga berusia 40-60 tahun (dewasa madya). Sementara itu, sekitar 3.5 persen ibu contoh sudah meninggal.
Berdasarkan Gambar 4, sebagian besar status orangtua contoh adalah utuh (92.9%) dan hanya sekitar 7.1 persen orangtua contoh yang berstatus sebagai orangtua tunggal (single parent) karena salah satu orangtua telah meninggal dunia. Menurut Eccles dan Kalil (1994), ibu yang berstatus sebagai orangtua tunggal menghabiskan waktu yang lebih sedikit dengan anak remaja dibanding ibu yang masih terikat hubungan perkawinan.
Gambar 4 Sebaran contoh berdasarkan status orangtua 92,9%
7,1%
Utuh Tunggal Karakteristik Keluarga Usia dan Status Orangtua
Tingkat umur dapat mempengaruhi cara berpikir serta bertindak dan emosi seseorang, karena seseorang yang mempunyai umur lebih dewasa relatif lebih stabil emosinya dibanding dengan orang yang lebih muda (Hurlock 1980). Usia orangtua contoh dikelompokkan ke dalam usia dewasa muda (20-40 tahun), dewasa madya (41-60 tahun), dan dewasa akhir atau usia lanjut (>60 tahun).
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan kategori usia orangtua
Usia Ayah Ibu
n % N %
Dewasa muda (20-40 tahun) 9 10.5 33 38.8
Dewasa madya (41-60 tahun) 72 84.7 49 57.7
Dewasa akhir atau usia lanjut
(>60 tahun) 2 2.4 0 0.0
Almarhum 2 2.4 3 3.5
Total 85 100.0 85 100.0
Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar ayah contoh berada pada kategori dewasa madya (84.7%). Persentase ayah contoh yang berada dalam tahapan dewasa akhir dan sudah meninggal masing-masing sebesar 2.4 persen. Sama halnya dengan ayah, lebih dari setengah ibu contoh (57.7%) juga berusia 40-60 tahun (dewasa madya). Sementara itu, sekitar 3.5 persen ibu contoh sudah meninggal.
Berdasarkan Gambar 4, sebagian besar status orangtua contoh adalah utuh (92.9%) dan hanya sekitar 7.1 persen orangtua contoh yang berstatus sebagai orangtua tunggal (single parent) karena salah satu orangtua telah meninggal dunia. Menurut Eccles dan Kalil (1994), ibu yang berstatus sebagai orangtua tunggal menghabiskan waktu yang lebih sedikit dengan anak remaja dibanding ibu yang masih terikat hubungan perkawinan.
Suku Bangsa
Suku bangsa orangtua contoh cukup bervariasi. Tabel 7 menunjukkan bahwa persentase suku bangsa orangtua contoh yang terbesar adalah suku Jawa dan kemudian diikuti dengan suku Sunda, Betawi, Minang dan suku lain (Makasar, Bugis, Batak, Bima, Papua, Tionghoa, Arab, Melayu, Manado, Bali, Palembang, Ambon, Banjar, Lampung dan Timor). Persentase terbesar suku ayah adalah Jawa sebanyak 37.7 persen dan persentase terendah adalah suku Betawi sebanyak 7.1 persen. Seperti halnya suku bangsa ayah, persentase suku bangsa ibu contoh yang terbesar adalah suku Jawa (40.0%), sedangkan persentase terendah adalah suku Minang sebanyak 5,9 persen.
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan suku bangsa
Suku Bangsa Ayah Ibu
n % n % Jawa 32 37.7 34 40.0 Sunda 15 17.6 15 17.6 Betawi 6 7.1 6 7.1 Minang 8 9.4 5 5.9 Lain-lain 24 28.2 25 29.4 Total 85 100.0 85 100.0
Meskipun lokasi penelitian berada di daerah Jakarta dengan suku Betawi sebagai suku aslinya, suku orangtua contoh yang paling banyak adalah suku Jawa. Hal ini disebabkan oleh suku Jawa memang merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia (41.7%) yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, Sumatera Utara, dan Jawa Barat (Kazenov 2010).
Pendidikan dan Pekerjaan Orangtua
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan orangtua cukup bervariasi. Berdasarkan Tabel 8, persentase terbesar pendidikan ayah dan ibu adalah pada kelompok Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat yaitu sebesar 50.6 persen untuk ayah dan 52.9 persen untuk ibu. Akan tetapi, masih terdapat 1.2 persen ayah contoh yang memiliki pendidikan tidak tamat SD dan masing-masing 1.2 persen ibu contoh yang memiliki tingkat pendidikan tidak tamat SD dan tamat SD.
Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan pendidikan orangtua
Karakteristik Ayah Ibu
n % n % Tidak tamat SD 1 1.2 1 1.2 SD/sederajat 2 2.4 1 1.2 SMP/sederajat 3 3.5 6 7.1 SMA/sederajat 43 50.6 45 52.9 D3 8 9.4 8 9.4 S1/S2/S3 26 30.5 21 24.7 Almarhum 2 2.4 3 3.5 Total 85 100.0 85 100.0
Apabila ditinjau dari sisi pekerjaan orangtua, ayah contoh paling banyak berprofesi sebagai wiraswasta (37.7%), PNS (20.0%), dan pegawai swasta (16.5%). Sementara itu, lebih dari separuh ibu contoh tidak bekerja (ibu rumah tangga) (54.1%), PNS (18.8%) dan wiraswasta (15.3%).
Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orangtua
Karakteristik Ayah Ibu
n % n % Almarhum 2 2.3 3 3.5 Tidak bekerja 2 2.3 46 54.1 Buruh 6 7.1 1 1.2 Petani 2 2.3 0 0.0 Wiraswasta 32 37.7 13 15.3 Pensiunan 1 1.2 0 0.0 BUMN 3 3.5 0 0.0 PNS 17 20.0 16 18.8 TNI/POLRI 5 5.9 0 0.0 Pegawai swasta 14 16.5 5 5.9 Rohaniawan 1 1.2 1 1.2 Total 85 100.0 85 100.0 Pendapatan Orangtua
Keadaan ekonomi keluarga mempunyai peranan terhadap tingkah laku anak. Keadaan ekonomi yang baik tentunya akan memberi kesempatan luas pada anak untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan dan kesempatan pendidikan yang lebih baik (Gerungan 1999). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orangtua contoh memiliki pendapatan yang cukup tinggi yaitu berkisar antara Rp 2 500 000-Rp 5 000 000 (45.9%). Hanya sekitar 7.1 persen yang memiliki pendapatan terendah yaitu pada kelompok <Rp 500 000. Sementara itu, persentase terendah pendapatan orangtua contoh berada pada kelompok Rp 500 000-Rp 1 000 000 (4.7%) (Tabel 10).
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan kategori pendapatan orangtua Pendapatan orangtua n % < Rp 500 000 6 7.1 Rp 500 000-Rp 1 000 000 4 4.7 Rp 1 000 000-Rp 2 500 000 12 14.1 Rp 2 500 000-Rp 5 000 000 39 45.9 Rp 5 000 000-Rp 7 500 000 10 11.8 Rp 7 500 000-Rp 10 000 000 7 8.2 > Rp 10 000 000 7 8.2 Total 85 100.0
Karakteristik Teman Sebaya Jumlah Teman Sebaya
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di setiap lokasi pertemanan yang dianalisis (sekolah, asrama, dan tempat lain), rata-rata jumlah teman sebaya yang dimiliki oleh contoh baik laki-laki maupun perempuan adalah antara 4 sampai 7 orang. Jumlah ini lebih besar apabila dibandingkan dengan pendapat Hurlock (1980) yang menyebutkan bahwa remaja biasanya mempunyai 2-3 orang teman dekat atau sahabat karib. Contoh memiliki teman sebaya paling banyak di sekolah dan di asrama. Hal ini ditunjukkan dengan sebanyak 42.4 persen contoh tidak memiliki teman sebaya di tempat lain (Tabel 11). Banyaknya jumlah contoh yang tidak memiliki teman sebaya di ketiga lokasi pertemanan yang diuji disebabkan oleh kesibukan contoh sebagai atlet dan remaja yang selalu harus mempersiapkan diri untuk pertandingan dan juga belajar.
Persentase contoh laki-laki yang memiliki teman sebaya lebih dari 10 orang di tempat lain adalah sebesar 11.8 persen dan contoh perempuan 8.2 persen. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1980) yang menyebutkan bahwa pada usia remaja, anak laki-laki cenderung memiliki kelompok yang lebih besar daripada perempuan. Namun, pendapat ini tidak terbukti pada teman sebaya di sekolah dan asrama karena persentase contoh perempuan yang memiliki teman sebaya lebih dari 10 orang di sekolah dan asrama cukup tinggi (12.9% dan 14.1%). Hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan jumlah teman sebaya di sekolah dan asrama antara contoh laki-laki dan perempuan (p>0.05). Sementara itu, untuk teman sebaya yang berada di tempat lain, terdapat perbedaan yang nyata antara contoh perempuan dan laki-laki (p<0.05) yang mana rata-rata jumlah teman sebaya contoh laki-laki-laki-laki lebih banyak jika dibandingkan dengan contoh perempuan.
Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan kategori jumlah teman sebaya dan jenis kelamin, rata-rata, dan standar deviasi jumlah teman sebaya
Jumlah teman sebaya
Laki-laki Perempuan Total
n (%) n (%) n (%) Sekolah 1-3 orang 13 15.3 10 11.8 23 27.1 4-6 orang 7 8.2 11 12.9 18 21.2 7-9 orang 5 5.9 4 4.7 9 10.6 >10 orang 14 16.5 11 12.9 25 29.4 Tidak ada 3 3.5 7 8.2 10 11.8 Total 42 49.4 43 50.6 85 100.0 Rata-rata±SD 7.9±7.4 6.0±5.7 7.0±6.6 p-value 0.58 Asrama 1-3 orang 11 12.9 10 11.8 21 24.7 4-6 orang 8 9.4 9 10.6 17 20.0 7-9 orang 2 2.4 4 4.7 6 7.1 >10 orang 14 16.5 12 14.1 26 30.6 Tidak ada 7 8.2 8 9.4 15 17.6 Total 42 49.4 43 50.6 85 100.0 Rata-rata±SD 6.4±5.8 6.6±5.9 6.5±5.9 p-value 0.94 Tempat lain 1-3 orang 5 5.9 14 16.5 19 22.4 4-6 orang 6 7.1 3 3.5 9 10.6 7-9 orang 0 0.0 4 4.7 4 4.7 >10 orang 10 11.8 7 8.2 17 20.0 Tidak ada 21 24.7 15 17,6 36 42.4 Total 42 49.4 43 50.6 85 100.0 Rata-rata±SD 5.4±8.7 4.3±5.6 4.8±7.3 p-value 0.04
Usia Teman Sebaya
Berdasarkan hasil penelitian, usia teman sebaya contoh yang tersebar di sekolah, asrama, maupun tempat lain cukup bervariasi. Tabel 12 menunjukkan bahwa lebih dari separuh contoh memiliki teman sebaya yang seusia dengan contoh di sekolah (56.0%). Sementara itu, di asrama persentase usia teman sebaya yang terbesar bervariasi mulai dari yang lebih muda, seusia hingga yang lebih tua (42.9%). Hal ini disebabkan oleh latar belakang contoh yang tinggal di asrama dimana setiap kamar asrama diisi oleh tiga sampai empat siswa mulai dari siswa kelas VII hingga siswa kelas XII.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sekolah dan asrama, persentase teman sebaya yang berusia lebih tua cenderung rendah bila dibandingkan dengan kelompok usia lainnya (8.0% untuk teman sebaya di sekolah dan 11.6% untuk teman sebaya di asrama) (Tabel 12).
Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan usia teman sebaya menurut lokasi pertemanan
Usia teman sebaya Sekolah Asrama Tempat lain
n % n % n % Lebih muda 8 9.4 12 14.1 4 4.7 Seusia 44 51.8 22 25.9 15 17.6 Lebih tua 5 5.9 7 8.2 9 10.6 Campuran 18 21.2 29 34.1 21 24.7 Tidak ada 10 11.8 15 17.6 36 42.4 Total 85 100.0 85 100.0 85 100.0
Ciri utama dan Alasan Pertemanan
Tabel 13 menunjukkan bahwa ciri utama pertemanan contoh dengan kelompok teman sebaya di sekolah adalah sebagai kelompok teman sebaya untuk belajar bersama (54.7%), sama-sama melakukan aktivitas di luar sekolah (36.0%), dan sama-sama memiliki prestasi olahraga atau akademik (38.7%). Sementara itu di asrama, ciri utama pertemanan contoh adalah sebagai kelompok teman sebaya untuk belajar bersama (27.1%) dan untuk bersama-sama melakukan aktivitas di luar sekolah (20.0%). Ciri utama pertemanan contoh dengan kelompok teman sebaya di tempat lain adalah sebagai kelompok teman sebaya untuk bersama-sama melakukan aktivitas di luar sekolah (32.7%), seperti jalan-jalan ke mal.
Apabila dikaitkan dengan pengelompokkan teman sebaya menurut Martin dan Stendler dalam Ruhidawati (2005) maka, kelompok teman sebaya yang dimiliki oleh contoh bisa dimasukkan dalam kelompok elite. Bentuk elite adalah kelompok teman sebaya yang selain melakukan kegiatan sekolah juga melakukan kegiatan di luar sekolah dan terkadang dipimpin oleh orang yang berusia lebih tua. Pengelompokkan contoh menjadi kelompok elite dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, diantaranya: 1) diketiga lokasi pertemanan yang dianalisis, ciri utama pertemanan contoh dengan teman sebaya adalah bersama-sama melakukan aktivitas di luar sekolah; 2) jika ditinjau dari segi usia teman sebaya diketiga lokasi pertemanan, persentase contoh yang memiliki teman sebaya berusia campuran cukup besar; 3) kebijakan dari pihak sekolah yang lebih mengutamakan bidang olahraga (pengembangan diri) dibandingkan dengan bidang akademik sehingga siswa diijinkan untuk tidak datang kesekolah dengan alasan latihan. Kondisi ini menyebabkan hilangnya minat belajar siswa
Persentase terbesar alasan pertemanan contoh dengan teman sebaya baik di sekolah, asrama, maupun tempat lain adalah karena alasan prinsip, gaya hidup (26.7% untuk teman sebaya di sekolah, 31.4% untuk teman sebaya di
asrama dan 42.9% untuk teman sebaya di tempat lain). Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1980) yang menyebutkan bahwa alasan pertemanan dengan teman sebaya bukan lagi hanya karena alasan kemudahan dalam bertemu, hobi atau alasan mendasar lainnya melainkan lebih karena persamaan minat, prinsip, dan gaya hidup. Alasan pertemanan dengan teman sebaya yang berada di asrama selain karena alasan prinsip juga dilandasi alasan hobi (15.7%), bahasa (10.0%), dan cabang olahraga (18.6%).
Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan ciri utama dan alasan pertemanan
Karakterisitik teman sebaya Sekolah (%) Asrama (%) Tempat Lain (%) Ciri Utama Belajar bersama 54.7 27.1 8.2
Salah satu anggota berusia lebih muda/seusia/lebih tua 16.0 7.1 6.1 Bersama melakukan aktivitas luar sekolah 36.0 20.0 32.7 Sama-sama memiliki prestasi olahraga dan akademik 38.7 12.9 10.2 Alasan Pertemanan Suku 5.3 8.6 6.1 Hobi 6.7 15.7 16.3 Agama 2.7 5.7 8.2 Ras 1.3 5.7 4.1 Pakaian 2.7 2.9 4.1 Bahasa 5.3 10.0 14.3 Status orangtua 1.3 0.0 4.1
Status sosial ekonomi 1.3 1.4 4.1
Cabang olahraga 8.0 18.6 10.2
Prinsip dan gaya hidup 26.7 31.4 42.9
Pola Hubungan Pertemanan dengan Teman Sebaya Frekuensi Pertemuan dan Lama Usia Pertemanan
Berdasarkan hasil penelitian, frekuensi pertemuan contoh dengan kelompok teman sebayanya cukup bervariasi (Tabel 14). Persentase terbesar contoh bertemu setiap hari dengan teman sebaya yang berada di sekolah (44.0%) dan untuk teman sebaya yang berada di asrama (77.1%). Hal ini sesuai dengan pendapat Desmita (2009) yang menyebutkan bahwa sebagian waktu pada usia remaja akan dihabiskan untuk melakukan interaksi sosial dengan teman-teman sebayanya. Sementara itu, untuk kelompok teman sebaya yang berada di tempat lain, frekuensi pertemuan dengan responden cukup jarang yaitu sekitar 1-2 kali seminggu (38.7%). Frekuensi pertemuan yang cukup jarang ini dilatarbelakangi aturan yang mengharuskan siswa tinggal di asrama dan juga kesibukan sebagai atlet dan pelajar yang digeluti oleh contoh.
Menurut lama usia pertemanan, sebagian besar contoh telah berteman dengan kelompok teman sebaya selama lebih dari 12 bulan untuk setiap lokasi pertemanan (69.4% di sekolah, 80.0% di asrama dan 75.5% di tempat lain). Usia pertemanan contoh dengan teman sebaya yang cukup lama di sekolah dan di asrama disebabkan karena contoh telah bersekolah di sekolah Ragunan sejak SMP.
Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan frekuensi pertemuan dan lama usia pertemanan dengan teman sebaya menurut lokasi pertemanan
Sekolah (%) Asrama (%) Tempat lain (%) Frekuensi pertemuan 1-2 kali seminggu 4.0 4.3 38.7 3-4 kali seminggu 17.3 4.3 6.1 5-6 kali seminggu 34.7 14.3 8.2 Setiap hari 44.0 77.1 14.3 Lain-lain 0.0 0.0 32.7 Total 100.0 100.0 100.0
Lama Usia Pertemanan
< 6 bulan 13.3 10.0 8.2
6-12 bulan 17.3 10.0 16.3
>12 bulan 69.4 80.0 75.5
Total 100.0 100.0 100.0
Kualitas Hubungan Pertemanan Contoh dengan Teman Sebaya Masa remaja merupakan masa dimana seseorang belajar bersosialisasi dengan sebayanya secara lebih mendalam dan melepaskan diri dari pengaruh orang dewasa sebagai salah satu cara untuk mencari jati diri4. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan hanya 1.2 persen contoh yang memiliki kualitas hubungan pertemanan pada kategori rendah dengan teman sebayanya. Sementara itu, 57.7 persen contoh memiliki kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya pada kategori cukup (Tabel 15).
Menurut Tanen dalam Santrock (2007) terdapat perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan dalam hubungan antar teman sebaya. Perempuan memiliki ketertarikan yang lebih dengan hubungan interpersonal dan mengutamakan keintiman dibanding laki-laki. Keintiman yang dimaksud adalah keinginan untuk membangun hubungan yang dekat dan akrab dengan orang lain. Lebih lanjut, Santrock (2007) menjelaskan bahwa pada usia remaja, perempuan memiliki ketertarikan yang besar terhadap perilaku sosioemosional. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak ada contoh
4
Anonim. 2009. Perilaku Hubungan Sosial dan Solidaritas Antar Teman pada Perilaku Gaya Hidup Remaja.[terhubung berkala]. http://www.ubb.ac.id.html. [28 Oktober 2010].
perempuan yang memiliki kualitas hubungan pertemanan pada kategori rendah dan sebesar 23.5 persen contoh perempuan memiliki kualitas hubungan pertemanan pada kategori tinggi dengan teman sebaya. Hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa ada perbedaan antara contoh laki-laki dan perempuan dalam hal kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya (p<0.05).
Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan kategori kualitas hubungan pertemanan dan jenis kelamin, rata-rata skor serta standar deviasi
Kategori kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya
Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Rendah 1 1.2 0 0.0 1 1.2 Cukup 26 30.6 23 27.1 49 57.7 Tinggi 15 17.6 20 23.5 35 41.1 Rata-rata skor±SD 45.9±4.8 48.1±4.6 47.1±4.7 p-value 0.037
Berdasarkan Tabel 16, sebanyak 62.3 persen contoh mengaku tidak setuju jika diajak melakukan hal yang bertentangan dengan aturan oleh teman sebayanya, 51.8 persen contoh sangat tidak setuju melakukan apapun hanya untuk diterima oleh teman sebaya dan sebesar 83.5 persen contoh tetap merasa membutuhkan teman lain meskipun telah memiliki teman sebaya. Hal ini sesuai dengan pendapat Papalia, Olds dan Feldman (2009) yang menyebutkan bahwa interaksi dengan teman sebaya cenderung meningkat pada masa remaja dan akan menurun pada masa remaja tengah dan akhir. Berdasarkan literatur tersebut, contoh yang berada pada rentang remaja tengah dan akhir memiliki interaksi yang cenderung menurun dengan teman sebaya terutama interaksi yang berhubungan dengan hal-hal negatif. Sementara itu, sebanyak 83.5 persen contoh mengaku mau berteman dengan siapa saja tanpa membedakan agama, ras, suku, status sosial ekonomi, dan sebagainya.
Interaksi dengan teman sebaya dapat membawa remaja pada arah yang positif maupun negatif. Desmita (2009) menyebutkan bahwa, teman sebaya dapat membantu remaja mengurangi sikap agresif, memberikan dorongan emosional dan sosial, membantu remaja dalam menempatkan diri sesuai dengan jenis kelamin, dan meningkatkan self-esteem karena penerimaan yang positif dari teman sebaya. Kuatnya dorongan dari teman sebaya dapat terlihat dari pernyataan contoh yang menyebutkan bahwa teman sebaya mendukung
prestasi contoh (61.2%) dan contoh lebih toleran dengan pendapat lain setelah memiliki teman sebaya (83.5%).
Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan jawaban tehadap pertanyaan kualitas hubungan pertemanan contoh dengan teman sebaya
No Pernyataan 1 2 3 4
1. Saya bersedia jika diajak melakukan hal-hal yang
bertentangan dengan aturan.* 24.7 62.3 10.6 2.4 2. Saya merasa takut jika diasingkan dari kelompok
teman sebaya saya. 27.1 36.5 23.5 12.9
3. Saya lebih senang menceritakan masalah kepada
kelompok teman sebaya daripada orang tua. 14.1 30.6 40.0 15.3 4. Saya rela melakukan apa saja asal bisa diterima
kelompok teman baik saya.* 51.8 32.9 10.6 4.7 5. Pengaruh teman sebaya saya sangat besar terhadap
diri saya. 12.9 32.9 37.6 16.6
6. Sejak memiliki kelompok teman sebaya saya menjadi
lebih ekspresif. 2.4 31.8 41.2 24.7
7. Saya merasa memperoleh dorongan sosial dan emosional dari kelompok teman sebaya saya (mis: selalu memberikan dukungan saat saya sedih atau kalah dalam pertandingan)
9.5 8.2 38.8 43.5
8. Jika teman dalam kelompok teman baik saya berkelahi,
maka saya akan ikut berkelahi* 16.5 17.6 30.6 35.3 9. Kelompok teman sebaya sangat perduli dengan saya 3.5 17.6 42.4 36.5 10. Saya lebih memilih nasihat orang tua daripada
kelompok teman sebaya.* 10.6 22.4 27.1 40.0 11. Saya mau berteman dengan siapa saja tanpa
memandang agama, ras, suku, status sosial ekonomi,dan sebagainya
1.2 5.9 9.4 83.5 12. Saya lebih suka menghabiskan waktu dengan
kelompok teman sebaya saya 2.4 37.6 32.9 27.1 13. Kelompok teman sebaya membuat saya lebih mandiri 1.2 21.2 49.4 28.2 14. Saya menjadi lebih toleran dengan pendapat atau
pikiran yang berbeda setelah bergaul dengan kelompok teman sebaya saya.
0.0 21.2 51.7 27.1 15. Teman sebaya saya selalu mendukung prestasi saya. 1.2 10.6 27.1 61.2 16. Setelah memiliki kelompok teman sebaya, saya tidak
memerlukan teman yang lain.* 83.5 11.8 1.2 3.5 Keterangan: 1= sangat tidak setuju, 2= tidak setuju, 3= setuju, 4= sangat setuju
*) pertanyaan negatif, skor dibalik
Karakteristik dan Pola Hubungan dengan Media Massa Jenis, Lama Penggunaan, dan Frekuensi Penggunaan Media Massa
Berdasarkan hasil penelitian, persentase contoh yang menggunakan televisi tidak berbeda jauh dengan persentase contoh yang menggunakan
internet (40.0% untuk televisi dan 41.2% untuk internet). Sementara itu, jumlah persentase contoh yang menggunakan kedua media massa (televisi dan internet) secara bersamaan sebesar 18.8 persen.
Dalam satu hari, sebagian besar contoh menggunakan media massa 4-5 jam (42.4%) dengan frekuensi penggunaan setiap hari (71.8%). Hal ini perlu menjadi perhatian lebih lanjut karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Brook et al. (2002), penggunaan televisi yang tergolong sering pada masa remaja berhubungan positif dengan perilaku agresif. Sementara itu, menurut Louge (2006) penggunaan internet yang semakin sering akan menyebabkan remaja terpapar berbagai perilaku seksual dan bentuk-bentuk kejahatan seksual (sex trafficking dan sex crimes).
Tabel 17 Sebaran contoh bedasarkan jenis, lama penggunaan dan frekuensi penggunaan media massa
Karakteristik media massa n %
Jenis media massa
Televisi 34 40.0
Internet 35 41.2
Televisi dan internet 16 18.8
Total 85 100.0
Pola hubungan dengan media massa n % Lama Penggunaan dalam sehari
< 1 jam 6 7.1 2-3 jam 26 30.6 4-5 jam 36 42.4 6-7 jam 8 9.4 >7 jam 9 10.6 Total 85 100.0 Frekuensi penggunaan Setiap hari 61 71.8 4-6 kali seminggu 16 18.8 2-3 kali seminggu 8 9.4 Total 85 100.0
Banyaknya contoh yang menggunakan internet disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh internet seperti, search engines yang dapat menambah pengetahuan tanpa harus membeli buku, facebook yang menawarkan forum diskusi yang melintasi antar negara, antar benua. Adanya televisi online yang ditawarkan internet juga menjadi alasan tingginya jumlah peminat pengguna internet (Bungin, 2009). Hal senada juga disampaikan oleh Louge (2006) yang menyebutkan bahwa internet telah menyediakan kemudahan dalam proses sosialisasi remaja yang memungkinkan remaja untuk berhubungan dengan teman sebaya dari berbagai belahan dunia. Sumber informasi yang berlimpah dari internet juga dapat dimanfaatkan oleh remaja di Accra, Ghana
sebagai sumber informasi mengenai kesehatan dan informasi mengenai seks yang tidak dapat diperoleh dari lingkungan sosial lain (Cassell et al. dalam Louge 2006). Sementara itu, tingginya penggunaan televisi pada contoh penelitian dilatarbelakangi oleh fasilitas televisi untuk setiap kamar yang disediakan asrama.
Pemanfaatan Media Massa
Media massa memegang peranan yang sangat penting di tengah arus globalisasi seperti saat ini. Berdasarkan hasil-hasil studi kontemporer diketahui bahwa interaksi remaja dan media massa cenderung meningkat seiring dengan kemajuan teknologi yang ditawarkan (Santock 2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (80.0%) pemanfaatan media massa oleh contoh berada pada kategori cukup dan sebesar 1.2 persen berada pada kategori (Tabel 18).
Hasil uji beda t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan pemanfaatan media massa antar jenis kelamin. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa baik contoh laki-laki dan perempuan memiliki interaksi dengan media pada kategori cukup dan tinggi. Tingginya pemanfaatan media massa oleh contoh juga dapat dilihat dari pernyataan contoh yang menyebutkan bahwa contoh tidak membatasi waktunya dalam menggunakan televisi (47.1%) (Tabel 19).
Tabel 18 Sebaran contoh berdasarkan kategori pemanfaatan media massa dan jenis kelamin, rata-rata skor serta standar deviasi
Kategori interaksi dengan media massa
Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Rendah 0 0.0 1 1.2 1 1.2 Cukup 35 41.2 33 38.8 68 80.0 Tinggi 7 8.2 9 10.6 16 18.8 Rata-rata skor±SD 47.4±4.3 46.6±5.9 47.0±5.1 p-value 0.48
Pemanfaatan media massa yang cukup tinggi disebabkan oleh kesibukan contoh sebagai atlet dan pelajar sehingga tidak memungkinkan untuk selalu bertemu dengan teman sebaya setiap saat. Oleh karena itu, media massa kemudian dianggap sebagai alternatif lain yang dapat membantu remaja agar dapat membangun hubungan sosial dengan teman sebaya. Menurut Greenfield
dan Yan (2006) media massa telah menyediakan ruang baru bagi remaja untuk dapat besosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Remaja yang pemalu dapat bersosialisasi dengan orang lain tanpa harus bertatap muka dengan lawan bicaranya (face to face). Selain untuk bersosialisasi, remaja juga dapat memanfaatkan internet sebagai sumber informasi mengenai hal-hal yang tidak dapat diperoleh dari lingkungan sosial (keluarga dan sekolah).
Tabel 19 Sebaran contoh berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan contoh mengenai pemanfaatan media massa
No Pernyataan 1 2 3 4
% % % %
1. Melalui televisi saya memperoleh banyak pengetahuan.
1.2 22.4 49.4 27.0 2. Saya menggunakan internet di waktu senggang. 1.2 15.2 42.4 41.2 3. Saya memiliki banyak teman di dunia maya. 4.7 23.5 34.1 37.6 4. Saya membatasi waktu saya dalam menggunakan
televisi.
4.7 34.1 47.1 14.1 5. Saya suka diam-diam membuka situs porno di
internet.*
7.1 12.9 29.4 50.6 6. Saya tidak dapat hidup tanpa internet 22.4 28.2 24.7 24.7 7. Acara televisi yang saya saksikan biasanya
berhubungan dengan bidang saya.
7.1 50.6 29.4 12.9 8. Saya mengetahui banyak perkembangan olah
raga dari internet
5.9 40.0 23.5 30.6 9. Dalam sehari, saya harus menyisihkan waktu
untuk membuka internet
9.4 41.2 25.9 23.5 10. Saya tidak dapat hidup tanpa televisi 30.6 42.4 18.8 8.2 11. Saya membatasi waktu saya dalam menggunakan
internet
10.6 31.8 40.0 17.6 12. Situs Internet yang saya saksikan biasanya
berhubungan dengan bidang saya.
4.7 41.2 31.8 22.3 13. Melalui internet saya memperoleh banyak
pengetahuan.
1.2 17.6 47.1 34.1 14. Saya menonton televisi di waktu senggang saya. 3.5 22.4 41.2 32.9 15. Saya suka melihat adegan kekerasan yang
dipertontonkan di televisi.*
10.6 30.6 48.2 10.6 16. Internet mempermudah saya dalam mengerjakan
tugas-tugas
3.5 24.7 43.5 28.3 17. Saya lebih suka berhubungan dengan teman lewat
dunia maya dari teman sebenarnya.
23.5 45.9 16.5 14.1 Keterangan: 1= sangat tidak setuju, 2= tidak setuju, 3= setuju, 4= sangat setuju
*) pertanyaan negatif, skor dibalik.
Berdasarkan Tabel 19, sebanyak 42.4 persen contoh menyatakan bahwa mereka menggunakan internet di waktu senggang, membatasi waktu penggunaan (40.0%) dan dalam sehari tidak harus menyisihkan waktu untuk membuka internet (41.2%). Namun, sebanyak 40.0 persen contoh menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui perkembangan olahraga dari internet, tidak
membuka situs internet yang berhubungan dengan bidangnya sebagai pelajar maupun atlet (41.2%). Sama halnya dengan interaksi dengan internet, contoh juga mampu memanfaatkan penggunaan televisi dengan baik yang tercemin dari penggunaan televisi di waktu senggang (41.2%), membatasi penggunaan (47.1%) dan bisa hidup tanpa televisi (42.4%). Namun, sebanyak 50.6 persen contoh menyatakan tidak menonton acara televisi yang berhubungan dengan bidang yang digeluti. Selain itu, sebanyak 45.9 persen contoh juga mengaku tidak setuju jika lebih menyukai pertemanan dunia maya. Hal ini berarti bahwa contoh lebih menyukai jenis pertemanan yang nyata dengan teman sebaya.
Keterampilan Sosial
Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu, setiap individu dituntut untuk menguasai keterampilan-keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya (Mu’tadin 2002).
Pada masa remaja, individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan perkembangan seseorang. Oleh karena itu, keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting dan krusial manakala anak sudah menginjak masa remaja. Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan-keterampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal serta tindakan kekerasan (Mu’tadin 2002). Pada masa remaja, ada delapan aspek yang menuntut keterampilan sosial, yaitu keluarga, lingkungan, kepribadian, rekreasi, pergaulan dengan lawan jenis, pendidikan atau sekolah, persahabatan dan solidaritas kelompok, serta lapangan kerja (Davis dan Forsythe dalam Mu’tadin 2002). Keterampilan sosial dalam penelitian ini meliputi kesadaran sosial dan fasilitas sosial.
Lebih dari separuh contoh memiliki keterampilan sosial dengan kategori cukup (56.4%) dan 43.6 persen contoh memiliki keterampilan sosial pada
kategori tinggi. Tidak ada contoh yang memiliki keterampilan sosial pada kategori rendah (Tabel 20). Hasil uji t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) antara contoh laki-laki dan perempuan pada keterampilan sosial. Berdasarkan persentasenya, contoh perempuan yang berada pada kategori tinggi lebih besar (22.4%) daripada laki-laki (21.2%). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2009) yang menyebutkan bahwa perempuan memiliki keterampilan sosial yang lebih baik dari laki-laki. Saputri (2010) juga menyebutkan bahwa perempuan memiliki seni membina hubungan yang sedikit lebih baik dari laki-laki.
Tabel 20 Sebaran contoh berdasarkan kategori keterampilan sosial dan jenis kelamin, rata-rata skor serta standar deviasi
Kategori keterampilan sosial
Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Rendah 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Cukup 24 28.2 24 28.2 48 56.4 Tinggi 18 21.2 19 22.4 37 43.6 Rata-rata skor±SD 122.5±10.6 122.6±10.3 122.5±10.4 p-value 0.971 Kesadaran Sosial
Kesadaran sosial merupakan dimensi pertama dari keterampilan sosial. Kesadaran sosial adalah apa yang kita rasakan mengenai orang lain. Berdasarkan Tabel 21, sebagian besar contoh (67.1%) memiliki kesadaran sosial pada kategori tinggi. Kemampuan untuk menyadari perasaan orang lain juga tercermin dari pernyataan contoh yang menyebutkan bahwa bersama teman adalah saat yang menyenangkan (64.7%) dan merasa bahwa teman sebaya juga terlihat nyaman bersama contoh (68.2%) (Tabel 22).
Hasil uji beda t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara contoh laki-laki dan perempuan dalam hal kesadaran sosial. Sama halnya dengan keterampilan sosial, berdasarkan persentasenya contoh perempuan yang memiliki kesadaran sosial pada kategori tinggi lebih besar (37.7%) dari pada contoh laki-laki (29.4%). Tidak adanya perbedaan antara contoh laki-laki maupun perempuan dalam hal kesadaran sosial sesuai dengan hasil penelitian Cavins (2005) yang menyebutkan bahwa pada remaja akhir, perempuan dan laki-laki tidak memiliki perbedaan dalam hal empati. Namun, dalam hal tanggung jawab sosial, perempuan jauh lebih baik daripada laki-laki.
Goleman (2007) dalam bukunya yang berjudul Social Intelligence menyebutkan bahwa kesadaran sosial meliputi empati, penyelarasan, ketepatan empatik dan pengertian sosial. Empati berhubungan dengan perasaan dan isyarat non verbal orang lain. Berdasarkan empati yang dimiliki, maka seseorang dituntut untuk dapat menempatkan diri sama dengan orang lain dan mampu mendengarkan orang lain (penyelarasan). Kemampuan untuk menyelaraskan diri dengan kondisi orang lain akan mengakibatkan timbulnya ketepatan empatik dalam diri yang tercermin dari kemampuan untuk mengerti perasaan, pikiran dan maksud orang lain. Pada akhirnya, empati, penyelarasan dan ketepatan empatik akan mengantarkan seseorang pada satu bentuk kesadaran sosial yang paling kompleks berupa kemampuan untuk menerima lingkungan sosial beserta segala aspek yang ada didalamnya (pengertian sosial).
Tabel 21 Sebaran contoh berdasarkan kategori dimensi kesadaran sosial dan jenis kelamin, rata-rata skor serta standar deviasi
Kategori kesadaran sosial
Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Rendah 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Cukup 17 20.0 11 12.9 28 32.9 Tinggi 25 29.4 32 37.7 57 67.1 Rata-rata skor±SD 62.3±5.1 63.3±4.8 62.8±4.9 p-value 0.360
Selain berdasarkan persentase, kesadaran sosial yang baik juga dapat diamati dari keempat sub dimensi kesadaran sosial (empati, penyelarasan, ketepatan empatik dan pengertian sosial) yang terangkum dalam jawaban pernyataan kuesioner contoh. Kemampuan untuk berempati sekaligus penyelarasan tercemin dari pernyataan contoh yang menyebutkan bahwa contoh merasa sedih saat teman sebaya sedih (67.1%). Penyelarasan yang baik juga tercermin dari pernyataan contoh yang mengaku dapat menjadi pendengar yang baik (70.5%), senang menjadi tempat curahan hati saat teman sebayanya menghadapi masalah (54.1%), dan mampu mendengarkan curahan hati teman dengan fokus (64.7%).
Ketepatan empatik contoh tercermin dari pernyataan yang menyebutkan bahwa contoh mengetahui jika teman sebaya sedang marah (76.5%) dan dapat menduga apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh teman sebaya (69.4%). Sementara itu, kesadaran bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda
(70.6%), memiliki banyak teman (55.3%), senang mendapatkan teman baru (57.6%), dapat berteman dengan siapa saja (65.9%), dan bersedia menerima keputusan yang tidak sesuai dengan keinginannya (68.2%) mencerminkan tingginya pengertian sosial contoh.
Tabel 22 Sebaran contoh berdasarkan beberapa pertanyaan dimensi kesadaran sosial
No Pernyataan 1 2 3 4
% % % %
1. Saya merasa sedih jika teman saya sedih 7,1 16,5 67,1 9,3 2. Saya mampu menjadi pendengar yang baik bagi
orang disekitar saya. 1,2 2,4 70,5 25,9
3. Saya dapat menduga apa yang
dipikirkan/dirasakan teman bicara saya 1,2 17,6 69,4 11,8 5. Saya dapat berteman dengan siapa saja 2,4 1,2 30,6 65,9 6. Saya memahami bahwa setiap orang memiliki
karakter yang berbeda 2,4 2,4 24,7 70,6
7. Bersama teman-teman adalah saat yang
membosankan bagi saya*. 64,7 31,8 3,5 0,0 10. Saya senang bisa menjadi tempat curhat teman. 1,2 3,5 54,1 41,2 14. Saya merasa senang jika mendapat teman baru 0,0 1,2 57,6 41,2 15. Saya mengetahui jika teman saya marah 0,0 7,1 76,5 16,5 16. Saya dapat mendengarkan curhat teman dengan
fokus. 2,4 10,6 64,7 22,4
17. Saya memiliki banyak teman 1,2 2,4 41,2 55,3 19. Teman-teman terlihat nyaman bersama saya 2,4 8,2 68,2 21,2 20. Saya bersedia menerima suatu keputusan yang
tidak sesuai dengan keinginan saya 2,4 8,2 68,2 21,2 (Keterangan: 1= sangat tidak setuju, 2= tidak setuju, 3= setuju, 4= sangat setuju)
Fasilitas Sosial
Dimensi kedua dari keterampilan sosial adalah fasilitas sosial. Fasilitas sosial adalah tindakan dan perilaku yang kita berikan kepada orang lain sehubungan dengan kesadaran sosial yang kita miliki. Fasilitas sosial meliputi sinkroni, presentasi diri, pengaruh dan kepedulian.
Tabel 23 Sebaran contoh berdasarkan dimensi fasilitas sosial dan jenis kelamin, rata-rata skor serta standar deviasi
Kategori fasilitas sosial
Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Rendah 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Cukup 25 29.4 27 31.8 52 61.2 Tinggi 25 17 16 18.8 33 38.8 Rata-rata skor±SD 60.2±6.8 59.3±8.0 59.8±7.5 p-value 0.576
Berdasarkan hasil penelitian, lebih dari separuh contoh memiliki fasilitas sosial pada ketegori cukup (61.2%) dengan persentase contoh perempuan lebih besar (31.8%) daripada laki-laki (29.4%). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Cavins (2005) yang menyebutkan bahwa perempuan lebih mampu membangun hubungan interpersonal yang lebih baik daripada laki-laki. Namun, berdasarkan hasil uji beda t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan antara contoh perempuan dan laki-laki dalam hal fasilitas sosial (Tabel 23).
Sinkroni adalah kemampuan untuk menyampaikan perasaan secara nonverbal. Sementara presentasi diri adalah kemampuan mempresentasikan diri secara efektif. Sinkroni dan presentasi diri kemudian akan menimbulkan pengaruh dalam dunia sosial. Pengaruh ini kemudian akan menciptakan kepedulian sosial dalam diri seseorang (Goleman 2007).
Tabel 24 Sebaran contoh berdasarkan jawaban pada beberapa pertanyaan dimensi fasilitas sosial
No Pernyataan 1 2 3 4
% % % %
2. Saya mampu menahan emosi saya 4.7 17.6 60.0 17.6 3. Saya mampu mendengarkan keluh kesah teman 1.2 2.4 75.3 21.2 5. Saya siap membantu ketika teman membutuhkan
bantuan.
1.2 3.5 65.9 29.4 6. Saya selalu menjaga perasaan teman 2.4 4.7 67.1 25.9 8. Saya merasa mudah untuk bekerja sama dengan
orang lain.
0.0 9.4 63.5 27.1 9. Saya berupaya memahami orang lain. 1.2 9.4 61.2 28.2 10. Saya mampu membawa diri untuk menunjukkan
jati diri saya secara efektif
2.4 4.7 71.7 21.2 16. Saya selalu berbagi makanan dengan teman
saya.
2.4 11.8 64.7 21.2 17. Saya sering mendamaikan teman yang
bermusuhan
4.7 22.4 56.4 16.5 18. Saya berusaha membantu teman yang sedang
kesulitan.
2.4 17.6 55.3 24.7 (Keterangan: 1= sangat tidak setuju, 2= tidak setuju, 3= setuju, 4= sangat setuju)
Keterkaitan antara keempat sub dimensi fasilitas sosial tersebut dapat diamati melalui jawaban contoh mengenai beberapa pertanyaan mengenai fasilitas sosial yang disajikan pada Tabel 24. Kemampuan untuk menahan emosi (60.0%), memahami orang lain (61.2%), dan menjaga perasaan teman (67.1%) menunjukkan telah munculnya sinkroni dalam keterampilan sosial contoh. Presentasi diri contoh yang efektif terlihat dari pernyataan contoh yang menyebutkan bahwa contoh mampu menunjukkan jati diri secara efektif (71.7%).
Pengaruh sosial yang muncul akibat adanya sinkroni dan presentasi diri yang efektif tercermin dari pengakuan bahwa contoh sering mendamaikan teman yang bermusuhan (56.4%) dan mudah dalam bekerja sama dengan orang lain (63.5%). Sementara itu, tingakat kepedulian terhadap orang lain akibat adanya pengaruh sosial tercermin dari pernyataan yang menyebutkan bahwa contoh berusaha membantu teman yang sedang kesulitan (55.3%), berbagi makanan dengan teman (64.7%), mendengarkan keluh kesah teman (75.3%) dan siap membantu teman yang membutuhkan bantuan (65.9%) (Tabel 24).
Hubungan antara Karakteristik Contoh, Karakteristik Keluarga, Teman Sebaya dan Media Massa
Karakteristik Contoh, Teman Sebaya dan Media Massa
Jenis kelamin, usia, urutan kelahiran, cabang olahraga dan tipe olahraga tidak memiliki hubungan yang nyata dengan pola hubungan dan kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya (Lampiran 4 dan 5). Hal ini berarti jenis kelamin tidak berhubungan dengan pemilihan maupun dalam melakukan interaksi dengan teman sebaya. Hasil temuan ini bebrbeda dengan pendapat Bester (2007) yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal hubungan dengan teman sebaya. Perempuan lebih mengutamakan masalah emosi dalam membangun hubungan pertemanan dengan teman sebaya. Pada laki-laki, hubungan dengan teman sebaya berhubungan positif dengan kestabilan emosional (kematangan emosi, realistis, dan dapat dipercaya). Pada perempuan, hubungan dengan teman sebaya berhubungan dengan partisipasi, kegembiraan diri dan kegembiraan teman sebaya.
Sementara itu, urutan kelahiran (sulung, tengah, bungsu, tunggal) dan usia contoh juga tidak berhubungan dengan pola hubungan dan kualitas hubungan pertemanan (Lampiran 5). Hal ini disebabkan karena latar belakang siswa SMA Negeri Ragunan yang sangat beragam baik dari segi suku, usia (seluruh contoh penelitian tidak memiliki kategori usia yang sama), dan latar belakang keluarga. Latar belakang sekolah yang merupakan sekolah atlet dan adanya sistem asrama yang memungkinkan siswa memiliki teman dengan beragam usia juga diduga melatarbelakangi hal ini. Sementara itu, banyaknya siswa SMA Negeri Ragunan yang sebelumnya juga sudah bersekolah di SMP
Negeri Ragunan juga menjadi salah satu penyebab status dan usia contoh tidak berhubungan dengan karakteristik dan kualitas hubungan dengan teman sebaya. Cabang olahraga dan tipe olahraga tidak berhubungan dengan pola hubungan maupun dengan kualitas hubungan pertemanan (Lampiran 4). Temuan ini kemungkinan karena terdapat beragam karakteristik teman sebaya dan kategori interaksi teman sebaya pada satu cabang olahraga dan tipe olahraga, mengingat sebagian besar (70.6%) contoh menggeluti cabang olahraga sedang dan menggeluti olahraga individu (88.2%).
Tipe olahraga berhubungan nyata dan positif dengan pemanfaatan media massa (Lampiran 4). Hal ini berarti contoh yang menggeluti olahraga beregu akan memiliki frekuensi penggunaan media massa yang tinggi pula. Hubungan yang positif antara tipe olahraga dengan pemanfaatan media massa mengindikasikan kuatnya pengaruh media massa bagi remaja yang berprofesi sebagai atlet. Tipe olahraga individu membuat remaja yang berprofesi sebagai atlet memilih menggunakan media massa di waktu senggangnya.
Berdasarkan hasil observasi, jenis media massa yang paling banyak digunakan oleh contoh adalah blackberry. Contoh memanfaatkan fasilitas blackberry messanger (BBM) untuk dapat berkomunikasi dengan teman sebayanya. Menurut Louge (2006), internet memberikan kesempatan untuk membangun hubungan sosial melalui berbagai jejaring sosial yang disediakan. Remaja kini masih dapat berhubungan dengan teman sebayanya tanpa perlu harus bertatap muka. Bagi remaja yang sibuk seperti remaja yang berprofesi sebagai atlet, kesempatan yang disediakan oleh internet ini merupakan alternatif yang bisa diambil agar terus dapat berhubungan dengan teman sebaya meskipun harus bertanding atau disibukkan dengan latihan.
Karakteristik Keluarga, Teman Sebaya dan Media Massa
Hasil uji korelasi Chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara karakteristik keluarga (status orangtua, status kerja ayah dan ibu), kualitas hubungan pertemanan dan media massa (Lampiran 4). Sementara itu, hasil uji korelasi Pearson antara karakteristik keluarga (usia, pendidikan, dan pendapatan orangtua) dengan pemanfaatan media massa menunjukkan adanya hubungan yang nyata dan positif antara usia ibu dengan pemanfaatan media massa (r=0.215, p<0.05).
Hubungan yang nyata dan positif antara umur ibu dengan jumlah teman sebaya di sekolah. Hal ini berarti, semakin tinggi usia ibu maka jumlah teman di
sekolah juga akan semakin banyak. Santrock (2007) menjelaskan bahwa ibu yang menghargai kemampuan sosial anak dengan baik seperti kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya akan memiliki anak yang lebih asertif, prososial dan mampu memecahkan masalah dibandingkan dengan ibu yang kurang menghargai kemampuan sosial anak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ibu berhubungan dengan pemanfaatan media massa. Hal ini berarti semakin tinggi usia ibu maka pemanfaatan media massa juga akan semakin tinggi. Santrock (2007) mengemukakan bahwa bersamaan dengan berkembangnya aspek kognitif, sering muncul perbedaan pendapat antara remaja dengan orang tuanya atau orang dewasa lainnya. Mereka tidak lagi memandang orang tua sebagai sosok manusia yang mengetahui segalanya, sehingga banyak orang berpikir bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh dengan pertentangan dan menolak nilai-nilai yang digariskan oleh orang tuanya. Selain itu, kebanyakan dari remaja juga tidak ingin diperintah, dicampuri dan mendengarkan banyak nasehat.
Kerenggangan hubungan dengan orangtua akan menyebabkan anak memanfaatkan fungsi social learning dan penyampaian informasi dari media massa (Bungin 2009). Menurut Greenfield dan Yan (2006) media massa telah menyediakan ruang baru bagi remaja untuk dapat besosialisasi dan sebagai sumber informasi mengenai hal-hal yang tidak dapat diperoleh dari lingkungan sosial (keluarga dan sekolah).
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keterampilan Sosial Usia Ibu
Hasil uji korelasi Pearson pada Lampiran 6 menunjukkan bahwa usia ibu berhubungan nyata dan positif dengan keterampilan sosial pada taraf 0.05 dengan koefisien korelasi 0.264. Hal ini menggambarkan bahwa semakin tinggi usia ibu maka keterampilan sosial remaja akan semakin tinggi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebanyak 67.6 persen contoh memiliki keterampilan sosial pada kategori tinggi dengan ibu yang berusia dewasa madya (41-60 tahun)(Tabel 25).
Sayogyo dalam Harisudin (1997) mengatakan bahwa ibu memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengalokasikan sumberdaya waktunya untuk urusan keluarga terutama dalam hal pengasuhan. Menurut Gunarsa S dan Gunarsa Y (2009), pertambahan usia akan seiring dengan kedewasaan seseorang. Dengan
semakin tingginya usia ibu diduga ibu akan semakin menghargai kemampuan sosial anak. Santrock (2007) menjelaskan bahwa terdapat hubungan sosialisasi timbal balik antara anak dan orangtua khususnya ibu. Ibu yang menghargai kemampuan sosial anak dengan baik seperti kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya akan memiliki anak yang lebih asertif, prososial dan mampu memecahkan masalah dibandingkan dengan ibu yang kurang menghargai kemampuan sosial anak.
Tabel 25 Sebaran contoh berdasarkan usia ibu dan keterampilan sosial
Usia ibu Keterampilan Sosial
Rendah (%) Cukup (%) Tinggi (%)
Dewasa muda (20-40 tahun) 0.0 43.7 32.4
Dewasa madya (41-60 tahun) 0.0 50.0 67.6
Dewasa akhir atau usia lanjut (>60 tahun) 0.0 0.0 0.0
Almarhum 0.0 6.3 0.0
Total 0.0 100.0 100.0
Jumlah Teman Sebaya di Sekolah
Data yang tersaji ada Tabel 26 menunjukkan bahwa sebanyak 35.5 persen contoh memiliki keterampilan sosial pada kategori cukup dengan jumlah teman sebaya berjumlah antara 1-3 orang. Sementara itu, sebanyak 35.1 persen contoh yang memiliki teman sebaya berjumlah lebih dari 10 orang dengan keterampilan sosial berada pada kategori tinggi. Hasil uji korelasi Pearson juga menunjukkan bahwa adanya hubungan yang nyata dan positif (r=0.254, pada taraf 0.05) antara jumlah teman sebaya di sekolah dan keterampilan sosial (Lampiran 7). Hal ini berarti semakin banyak jumlah teman sebaya di sekolah maka keterampilan sosial remaja juga akan semakin tinggi.
Tabel 26 Sebaran contoh berdasarkan jumlah teman sebaya di sekolah dan keterampilan sosial
Jumlah teman sebaya di sekolah Keterampilan Sosial
Rendah (%) Cukup (%) Tinggi (%)
1-3 orang 0.0 35.5 16.2 4-6 orang 0.0 20.8 21.7 7-9 orang 0.0 8.3 13.5 >10 orang 0.0 25.0 35.1 Tidak ada 0.0 10.4 13.5 Total 0.0 100.0 100.0
Sekolah merupakan salah satu tempat sosialisasi bagi remaja karena di sekolah remaja bisa bertemu dengan teman sebayanya. Menurut Papalia et. al (2008) teman sebaya merupakan model perilaku bagi remaja yang menjadi sumber afeksi, simpati, pemahaman dan panduan moral. Hurlock (1980)
menyebutkan bahwa remaja akan memiliki kecenderungan untuk membentuk kelompok dan melakukan interaksi bersama teman-temannya, sehingga akan berusaha melepaskan diri dari ketergantungan dengan keluarganya. Kelompok teman sebaya ini biasanya akan berjumlah 1-3 orang dimana kelompok laki-laki akan lebih besar dari pada perempuan.
Kelompok teman sebaya memiliki peran yang sangat besar bagi penyesuaian diri remaja dan sebagai persiapan bagi kehidupan di masa yang akan datang. Kelompok teman sebaya menjadi tempat latihan untuk membangun hubungan yang intim dengan orang lain. Jumlah teman sebaya yang semakin banyak akan membantu remaja untuk lebih mengasah keterampilan sosial agar dapat diterima oleh kelompok teman sebayanya.
Kualitas Hubungan Pertemanan dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock (2007) kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya akan memberikan umpan balik bagi remaja mengenai bagaimana seharusnya bersikap dan mengevaluasi diri dan orang lain. Hal ini sulit dilakukan di rumah karena saudara biasanya berusia lebih tua atau lebih muda. Hal ini didukung pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meijs et al. (2010) mengenai keterampilan sosial dan prestasi akademik sebagai prediktor popularitas remaja, yang menunjukkan bahwa keterlibatan remaja dalam aktivitas peer group dan dapat diterima di dalamnya akan membantu remaja dalam membangun perasaan menjadi anak yang populer. Menjadi anak yang populer dapat membantu anak dalam melakukan tindakan prososial dan menciptakan kebiasaan membantu kelompok teman sebayanya. Tindakan prososial yang dimaksud seperti kemampuan untuk memecahkan masalah sosial, perilaku sosial yang positif, dan membantu mereka dalam menjalin hubungan pertemanan.
Tabel 27 Sebaran contoh berdasarkan kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya dan keterampilan sosial
Kualitas Hubungan Pertemanan dengan Teman Sebaya
Keterampilan Sosial
Rendah (%) Cukup (%) Tinggi (%)
Rendah 0.0 0.0 0.0
Cukup 0.0 8.3 0.0
Tinggi 0.0 85.4 83.8
Sangat tinggi 0.0 6.3 16.2
Hasil penelitian menunjukkan bahwa contoh yang memiliki kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya yang tinggi memiliki keterampilan sosial yang tinggi (83.8%) dan sebanyak 16.2 persen contoh yang memiliki kualitas hubungan dengan teman sebaya sangat tinggi, memiliki keterampilan sosial yang tinggi pula. Sebanyak 83.8 persen contoh yang memiliki kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya yang tinggi memiliki keterampilan sosial yang cukup (Tabel 27).
Berdasarkan hasil penelitian, kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya dan keterampilan sosial memiliki hubungan nyata dan positif dengan koefisien korelasi sebesar 0.431 pada taraf 0.01 (Lampiran 7). Hal ini berarti, semakin tinggi kualitas hubungan dengan teman sebaya maka keterampilan sosial remaja juga akan semakin tinggi. Jean Piaget dan Sullivan dalam Santrock (2007) menyebutkan bahwa interaksi dengan teman sebaya akan membawa dampak bagi perkembangan sosioemosional remaja. Melalui pertemanan dengan kelompok teman sebaya, remaja akan belajar menyampaikan pendapat, menghargai sudut pandang orang lain, bernegosiasi dan mengubah perilaku sesuai standar yang diakui oleh teman sebaya sehingga keterampilan sosialnya akan terasah dengan baik. Pendapat ini didukung pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bester (2007) mengenai perkembangan kepribadian remaja dan hubungannya dengan pengaruh orang tua dan kelompok teman sebaya mengungkapkan bahwa kelompok teman sebaya akan mengajarkan anak untuk dapat bertanggung jawab secara sosial terhadap lingkungannya.
Pemanfaatan Media Massa
Menurut Santrock (2007), pengaruh media massa pada perkembangan remaja semakin meningkat dari tahun ke tahun, terutama televisi dan internet. Televisi dapat mengajarkan anak untuk berperilaku sosial yang positif. Acara televisi yang mencerminkan hubungan sosial yang positif dengan menggunakan keterampilan sosial akan menjadi model perilaku prososial bagi remaja yang menonton dan selanjutnya akan menerapkannya dalam kehidupan.
Sementara itu, menurut Calzo dan Suzuki (2004), pada masa remaja, individu cenderung lebih kritis dan sering memunculkan banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh keluarga, sekolah atau lingkungan sosial terdekat lainnya karena keterbatasan pengetahuan atau karena adanya batasan norma yang mengikatnya. Internet sebagai penyedia informasi tanpa batas mampu menjawab
dan menampung semua pertanyaan tersebut. Hal ini mengakibatkan remaja tidak dapat lepas dari internet.
Hasil uji korelasi menunjukkan terdapat hubungan yang nyata dan positif antara interaksi dengan media massa dan keterampilan sosial dengan koefisien korelasi sebesar 0.431 pada taraf 0.01 (Lampiran 8). Hal ini berarti, semakin tinggi interaksi remaja dengan media massa maka keterampilan sosialnya juga akan semakin tinggi. Ataupun sebaliknya, jika interaksi dengan media massa rendah maka keterampilan sosial remaja juga akan rendah. Hasil penelitian yang tersaji pada Tabel 31 menunjukkan, persentase terbesar contoh (83.8%) yang memiliki pemanfaatan media massa yang cukup memiliki keterampilan sosial yang cukup pula. Sementara itu, sebanyak 70.3 persen contoh memiliki pemanfaatan media massa pada kategori cukup dan keterampilan sosial yang tinggi.
Tabel 28 Sebaran contoh berdasarkan pemanfaatan media massa dan keterampilan sosial
Pemanfaatan Media Massa Keterampilan Sosial
Rendah (%) Cukup (%) Tinggi (%)
Rendah 0.0 16.7 5.4
Cukup 0.0 83.3 70.3
Tinggi 0.0 0.0 24.3
Sangat tinggi 0.0 0.0 0.0
Total 0.0 100.0 100.0
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Goleman (2007) yang menyebutkan bahwa media massa dapat menghambat kemampuan sosial seseorang. Media elektronik, seperti komputer, notebook, atau handphone (ponsel) juga dapat menghancurkan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial, membaca bahasa tubuh dan pengurangan aktivitas dan interaksi langsung dengan sesama. Sebagian besar remaja memanfaatkan situs jejaring sosial untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan teman sebaya diduga melatar belakangi hal ini. Fasilitas yang disediakan oleh situs jejaring sosial mempermudah remaja dalam membangun hubungan dengan teman sebayanya.
Menurut Louge (2006), meskipun interaksi yang dilakukan melalui internet bukan interaksi tatap muka, internet juga dapat dimanfaatkan untuk membina keterampilan sosial dengan memanfaatkan fasilitas web camera pada komputer yang dapat mentransfer audio maupun visual (suara dan gambar) sehingga